BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 2




“annyeong, Jeon Joon Kook imnida. ” namja manis itu memperkenalkan dirinya dengan senyuman lebar yang memperlihatkan gigi putih rata dan sangat cantik di penglihatan seorang Kim Tae Hyung.


Gigi rapihnya yang putih terlihat disana. Surai lembut setiap helai rambutnya memberikan aroma tersendiri dalam penciuman Tae Hyung. pandangan pertama membuat hati Tae Hyung berdegup kencang ketika mengenalnya. Namja itu kembali berinteraksi dengan Jung Ho Seok didepannya.
“apa anda akan kembali pulang sekarang tuan?” tanya Jung Ho Seok pada Jungkook yang telah siap pergi meninggalkan Host Club. Jungkook mengangguk sambil mempoutkan bibir kecilnya. 

Sepertinya namja cantik itu sedang dalam keadaan Badmood sekarang ini. “nde. Hal-abeoji menyuruhku untuk segera kembali dan meminum obatku. Menyebalkan”

“anda tidak membawa obat anda, tentu saja itu akan membuat tuan Jeon Ji Hyun khawatir. Sekarang biarkan tuan Tae Hyung mulai bekerja untuk mengantar anda sampai kediaman anda”

Jungkook melirik kearah Tae Hyung, dan memberikan senyum cerianya kembali. Salah satu tangannya menarik pergelangan tangan Tae Hyung. Sebenarnya Tae Hyung bingung dengan Jung Ho Seok yang sebelumnya menawarkan pekerjaan sebagai Host Club. Tapi kenapa dirinya disuruh untuk mengantar selayaknya seorang supir namja cantik bernama Jungkook. Diserahkannya sebuah kunci mobil kepada Kim Tae Hyung.

“kuserahkan padamu” Jung Ho Seok berbisik ditelinga sahabatnya dan membungkuk ketika berhadapan dengan Jungkook majikannya. “aku akan kembali pada pekerjaanku tuan” terangnya, lalu pergi. Pandangan kosong Tae Hyung tertuju pada tubuh temannya yang semakin menjauh.
Tae Hyung mengikuti langkah Jungkook yang tidak sabaran memberi tahu keberadaan dimana mobilnya. Namja cantik ini begitu ceria dan selalu memberikan senyuman termasuk pada Tae Hyung yang baru saja dikenalnya. Bahkan dalam perjalanan menuju kediamannya Jungkook tidak henti-hentinya bertanya tentang kehidupan Tae Hyung. Tidak keberatan kehidupannya diketahui Jungkook, Tae Hyung berterus terang menceritakan apa yang ingin diketahui namja cantik itu.

-

-

Jimin duduk di meja makan menunggu kedatangan Hyungnya yang sudah lama sekali meninggalkan Apartemen. Makanan yang sejak pagi dibuat telah dingin tidak tersentuh karena  sebelumnya Tae Hyung mengatakan bahwa dirinya tidak akan lama diluar. Namun sampe pukul 8 malam ini dirinya tidak kunjung pulang, hingga pukul 10 malam Jimin pun tertidur dimeja makan. Tae Hyung membuka pintu Apartemen dan melihat Jimin tertidur pulas dimeja makan. Wajah lelah Tae Hyung berubah ketika melihat malaikat mungil dongsaengnya itu sedang menikmati mimpi indahnya. Secara perlahan tubuh Jimin diangkat Tae Hyung pelan, berusaha untuk tidak membangunkan sang putri tidur. Setelah memindahkan Jimin keranjang tidur mereka, Tae Hyung kembali ke meja makan untuk sekedar membersihkan sarapan yang masih utuh dibuatkan Jimin untuknya. Rasa bersalah dirasakannya seketika. Tapi kehidupan lamanya tidak mungkin berpihak padanya lagi, Tae Hyung harus bisa mengambil keputusan sendiri. Dan inilah keputusannya.


Keesokan paginya.


Tae Hyung membangunkan Jimin untuk segera pergi sekolah, jimin yang teringat dirinya sedang menunggu Tae Hyung terlonjak kaget ketika wajah Hyungnya begitu dekat untuk sekedar membangunkannya.

“yaak Hyung kau mengaggetkan ku!” teriak Jimin membuat Tae Hyung tertawa, surai poni Jimin dirapikan Tae Hyung dengan lembut “pergilah kesekolah dan tolong izinkan aku untuk tidak masuk dikelasku. Aku sepertinya kurang sehat untuk mengikuti mata pelajaran hari ini” perintahnya manja.
Mendengar Tae Hyung sakit Jimin segera memeriksa suhu tubuh Hyungnya itu, telapak tangan Jimin menyentuh kening Tae Hyung. Namun namja itu meminta lebih dari sekedar sebuah tangan. tangan Jimin disingkirkan dan kening Tae Hyung pun didekatkan kekening Jimin. Itu semua membuat Jimin salah tingkah hingga berdiri diatas tempat tidur mereka. Dengan cepat Jimin berlari ke kamar mandi sambil menutupi wajah merah yang telah tercipta di kedua pipinya.

Jimin yang telah siap-siap tidak merasakan suhu apapun pada kening Hyungnya. Lalu mengapa dirinya merasakan kurang sehat, ‘mungkin hanya kelelahan’ pikir Jimin positive. Setelah membersihkan diri dan mengenakan seragam sekolah, Jimin kembali mengecek keadaan Hyungnya yang kembali tidur dengan selimut menutupi tubuhnya. Tidak ingin mengganggu istirahat Tae Hyung, Jimin segera pergi meninggalkan Apartemen dan menuju kesekolahnya. Namja yang sebelumnya tertidur bangkit kembali ketika mendengar suara pintu Apartemen tertutup. Tae Hyung segera pergi bersiap-siap untuk kembali bekerja, mungkin membohongi Jimin adalah cara terbaik untuk dirinya menjalani pekerjaannya.

-

Suara bell telah berbunyi, itu menandakan pintu pagar sekolah Jimin akan segera tertutup. Jimin yang melihat gerbang akan segera ditutup berlari semakin kencang berusaha untuk memasuki sekolah sebelum pintu gerbang tertutup sempurna. “tunggguuu!” teriak Jimin berusaha menghentikan penjaga sekolah untuk menutup gerbang sekolahnya. Larian jimin semakin melambat ketika melihat gerbang sekolah nya telah tertutup rapat, sepertinya hari ini dirinya tidak bisa pergi kesekolah. Dengan lesu Jimin kembali berbalik arah dan menemukan namja menyebalkan yang sampai pertemuan keduanya Jimin tidak mengetahui namanya. Namja itu terlihat santai sambil berjalan menuju gerbang sekolah dengan earphone menutupi kedua telinganya. Jimin yang memanggilnya tentu saja tidak didengarnya dengan terpaksa namja bertubuh mungil itupun menarik salah satu earphone agar menyadarkan namja yang sedari tadi dipanggilnya.

“kau lagi?” ucap sang namja tinggi yang kaget melihat wajah bodoh Jimin telah menghiasi pagi indahnya.

“bukan kau lagi, kenapa hidup mu itu santai sekali sih. Ketika memutuskan hubungan, ketika babak belur, bahkan sekarang ketika pintu sekolah tertutup sempurna. Apa kau hidup tidak memiliki kegelisahan?”

Namja yang lebih tinggi darinya hanya melirik kearah kanan dan kirinya, memastikan jika namja cerewet yang berada dihadapannya sedang berbicara dengan dirinya. Namja itu sama sekali tidak mengerti mengapa harus bertemu dengan Jimin lagi dan lagi. Apakah tidak ada makhluk yang bisa dirinya temui selain makhluk cerewet ini? “aku harus pergi” ucapnya singkat. Tunggu tunggu apa namja yang ditolong Jimin ini hilang ingatan? Mengapa seperti tidak mengenali dirinya yang telah menolongnya.

“tunggu tunggu.. kau hilang ingatan? Apa kepalamu terbentur seperti ini” pukulan keras dirasakan sang namja tinggi dibagian belakang kepalanya. Namja itu hanya berdengus dan mengatakan “seulki yaak! Apa yang kau—.”

“ahhhh... kau hanya bisa berbicara dengan ketus dan kasar ya. Ternyata aku sangat kecewa selalu bertemu dengan makhluk menjijikan seperti dirimu, yang tidak tau arti kata terimakasih atau hal-hal yang patut dikatakan dengan sopan pada orang asing. Baiklah aku hanya akan memberi tahu namja ketus sepertimu bahwa pintu gerbang sekolah telah tertutup sempurna” jimin mengarahkan tangannya kearah gerbang untuk memberi tahu namja tampan dihadapannya. Masih setia memandang namja bodoh itu, Jin hanya melirik sedikit sesuatu yang ditunjukan pada dirinya. “Dan Aku bersumpah pada diriku jika bertemu untuk keempat kalinya dengan dirimu aku akan membunuh diriku sendiri!” lanjutnya dengan sedikit penekanan teriak.

Jimin pergi meninggalkan namja yang masih terbengong tidak mengerti akan setiap perkataan yang terlontarkan dari bibir mungilnya. “membunuh dirinya?” namja yang Jimin tinggalkan tertawa, membuat Jimin yang sadar akan tawanya menoleh dengan cepat. Menyaksikan tawa dari makhluk setampan dihadapannya membuat dirinya mematung sejenak. Untuk pertama kalinya namja menyebalkan itu menampilkan sisi lembutnya, terlihat sangat jelas tawanya begitu tulus. Seperti telah lama namja tampan itu menahan rasa bahagianya, seperti tertahan sesuatu yang Jimin tidak tahu apa itu. pandangan Jimin disadari sang pemilik tawa dengan cepat tawa itu dihentikannya.

“apa yang kau lihat? Tidak pernah melihat orang tertawa?” tanya namja itu pada Jimin yang memerah pipinya karena kepergok sedang memandanginya dengan tingkahnya yang terpesona akan tampannya namja yang dirinya temui. Jimin segera memalingkan dan berjalan entah kemana kakinya membawanya. Tiba-tiba...

Beberapa namja berandalan mendatangi namja asing yang hendak Jimin tinggalkan, sebenarnya Jimin dari jauh melihat namun tidak berniat ikut campur dengan namja menyebalkan itu lagi. tapi setelah dilihat-lihat namja bertubuh kekar itu terus mendorong dan memaksa namja asing itu untuk segera mengikutinya. Apa jangan-jangan namja itu akan dibuat babak belur kembali? Ada apa sebenarnya. Dengan mengendap-endap Jimin mengikuti kemana mereka membawa namja itu pergi.
Sebuah gudang bekas produksi? Ini pasti tindakan kriminal. Apa sebaiknya Jimin memanggil polisi? 

Atau..

“kau akan kembali padaku atau tidak?” suara itu mengembalikan fokus Jimin pada namja yang sedang mengambil alih suasana. Namja itu adalah mantan kekasih yang sebelumnya namja menyebalkan itu putuskan. Jangan-jangan namja yang selama ini dirinya pacari adalah seorang psikopat? Tapi itu bukan urusannya lebih baik dirinya segera pergi dari tempat itu sebelum...
BUUGGGH!

Hantaman keras membuat namja menyebalkan itu tersungkur, Jimin yang berniat pergi secara reflek berteriak untuk menghentikan pemukulan itu. “yaak hentikan!” seluruh namja yang berada disana menoleh kearah sumber suara termasuk namja menyebalkan itu.

‘apa yang namja bodoh itu lakukan’ gumam jin dalam hati.

“siapa kau?” tanya namja jahat yang terlihat manis hanya diluar. Jimin bingung harus menjawab apa pada namja yang bertanya pada dirinya, sebelum dirinya sempat menjawab namja itu kembali bertanya “oh apa kau kekasih baru Jin-sshi?”

“dia tidak ada hubungannya denganku, aku tidak mengenalinya” Min Yoo Gi atau Suga menatap Jin yang bangkit dari posisi tersungkurnya. Jin melirik kearah Jimin “yak namja bodoh. Untuk apa kau mengikutiku! Pergi sana. Jangan campuri urusanku” ketusnya dengan sombong.

“yaak ! masih saja kau bersikap sombong dan ketus padaku dengan kondisimu saat ini. Dasar namja menyebalkan kau!” teriak Jimin tidak terima.

“sepertinya kau memang namja bodoh, mana mungkin jika Jin-sshi mau menjadikanmu sebagai kekasihnya” balas Min Yoo Gi ketus menyeimbangi ucapan Jin.

“yaak kalian berdua brengsek!” jimin yang tidak terima melangkah mendekati posisi Min Yoo Gi berada. Salah satu berandalan menghalangi langkah Jimin namun berhasil dibanting namja mungil itu. Min Yoo Gi dan Kim Seok Jin tentu saja tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “jangan pernah membuatku kesal atau marah!” teriak Jimin hingga membanting kembali 2 namja kekar yang mencoba untuk menghalanginya kembali. Min Yoo Gi tidak menyangka 2 namja bertubuh kekar yang dirinya sewa kalah dengan namja mungil yang setinggi dengannya. tanpa diduga Jimin telah berada dekat didepan Yoo Gi berdiri. Sebuah tamparan kecil mengenai namja manis yang telah berani melukai orang lain hanya untuk kepentingannya sendiri.

“apa itu sakit? Katakan padaku apa itu sakit?” Jimin bertanya.

“nde?” dengan wajah shock nya namja itu hanya bisa mebulatkan kedua matanya memandang aneh pada Jimin.

“jika itu sakit, bagaimana dengan namja yang telah kau pukuli dihadapanmu?” jimin menatap tajam pada netra mata namja yang masih tidak percaya dengan apa yang diterimanya “apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan pada namja itu? namja yang kau buat babak belur karena dipukuli orang-orangmu?! Kau lihat?” Min Yoo Gi sekilas melihat kearah Jin karena perintah dari namja yang telah menamparnya. “minta maaf sekarang” lanjut Jimin.

“nde?” namja itu masih belum percaya diperlakukan seperti ini bahkan diperintah oleh namja yang tidak dikenalinya. Karena tidak memberikan respon apa-apa perintah itu kembali terdengar “minta maaf sekarang padanya!” teriakannya membuat Yoo Gi tersentak kaget dan segera meminta maaf pada Jin. Jin hanya mengangguk tidak percaya. Karena telah mendengar kata maaf dari bibir sang pelaku Jimin meminta namja itu segera pergi sebelum dirinya memanggil polisi dan mengancam untuk tidak mengulangi perbuatannya kembali. Tanpa berfikir lama Min Yoo Gi pergi meninggalkan 2 namja itu di gudang bekas produksi bersama orang-orangnya. Jimin mengacak rambutnya tidak mengerti mengapa dirinya terus membantu namja yang tidak tau diri ini, mungkinkah hati nurani masih berada dipihaknya. Tanpa menoleh kearah namja menyebalkan itu Jimin pergi melangkah keluar gedung namun sebuah suara menghentikan kepergian Jimin.

“terimakasih”

Jimin menoleh meyakinkan dengan apa yang didengarnya tidak salah “apa yang kau katakan?”. “tidak ada” balas namja itu, kembali pada sifat menyebalkannya. Jimin dibuat kesal berulang kali pada namja yang telah dirinya bantu berulang kali juga. “tunggu aku tadi mendengar sesuatu yang baik darimu... bisa kau ulangi kata-kata itu?” tanya Jimin. Tapi hanya mendapat gelengan dari namja menyebalkan yang sekali menyebalkan akan tetap menyebalkan.

-

Setelah tidak diterima dari sekolahnya karena terlambat, Jimin memutuskan untuk kembali pulang keapartemennya dan merawat Tae Hyung. Setibanya di Apartemen Jimin tidak menemukan Tae Hyung didalam. Setiap sudut Apartemen telah diperiksannya namun keberadaannya nihil ditemukan. Sampai larut malam Jimin menunggu Tae Hyung pulang kembali ke Apartemen hingga kembali tidur dimeja makan. Sekitar jam 10 malam pintu Apartemen terbuka dan sosok Tae Hyung pun terlihat disana. Jimin memasang wajah penasaran ke arah namja yang baru saja kembali ke Apartemen.
“kemana saja Hyung? Bukankah kau tidak masuk sekolah karena kurang sehat?” sinis Jimin masih dalam posisi duduk.

“aku mencari udara segar diluar Jiminnie, apa kau merindukanku? Hm?” tangan lembut itu menyentuh setiap helaian rambut Jimin, dengan tegas namja mungil itu menepis belaian tersebut. Jimin memberikan tatapan kesal karena hyungnya tidak memberi tahukan lewat memo atau email keponselnya. Melihat wajah kesal dongsaeng kesayangannya itu membuat hati Tae Hyung luluh dan tidak mampu melakukan apa-apa lagi selain kata maaf terucap “kalau begitu maafkan aku ya Jiminie, hyung yakin kau khawatir akan hyung tapi lihat hyung kembali tanpa kekurangan apapun. Hyung juga janji akan meninggalkan pesan untukmu jika pergi lagi. Oke?” Tae Hyung meyakinkan Jimin yang masih menatap sinis kearahnya.

“lebih baik sekarang kita makan malam, kau lapar bukan? Ini hyung belikan Ramyon kesukaanmu. Ayo kita makan”
Tae Hyung membukakan bungkus Ramyon yang akan mereka santap masing-masing.

-

[ Kediaman Kim Seok Jin ]


Jin yang berada dikamarnya memandang sebuah foto dirinya dengan seorang namja manis. Rasanya tidak mungkin dirinya terus menerus memikirkan namja itu yang sepertinya tidak memikirkan dirinya sama sekali. Ingatannya kembali teringat ketika dirinya dicampakan namja manis itu yang begitu antusias pergi keluar negeri tanpa memikirkan dirinya.


“apa kau harus pergi dari korea dengan cara seperti ini?” ucap Jin menghentikan langkah sang kekasih yang telah menjalin hubungan dengan dirinya selama 4 tahun lamanya.
“kadang kala perasaan bosan itu ada selama hubungan terjalin begitu lamanya bukan Jin-sshi. Aku ingin kita akhiri sementara hubungan kita ini, aku akan pergi ke Amerika untuk meneruskan sekolah ku disana. kau harus mengerti karena aku tidak akan menghubungi selama aku disana. Tapi aku janji padamu akan kembali secepat mungkin”
“kau tidak perlu kembali untukku, ketika kau kembali aku mungkin sudah kehilangan cinta untukmu”
“aku tidak yakin itu terjadi. Rasa cinta kita begitu besar—.”
“besar untuk kau buang semudah itu” tatapan 2 namja itu saling beradu, kuat akan keyakinan mereka masing-masing.


Setelah memgingat sesuatu yang menyesakan dihatinya membuat foto itu diletakan Jin kembali ketempat semula. Sebuah laci meja kamarnya adalah tempat dimana kenangan itu disembunyikannya. Inisial JJ terikat diliontin yang dulunya mereka berdua kenakan, namun sekarang hanya hiasan yang tidak ingin Jin lirik sedikitpun. Untuk membuang semua kenangan itu Jin harus bertemu dengan namja yang dicintainya terlebih dulu sekedar menyerahkan semua kenangan yang dirinya kumpulkan. Agar perasaannya terbebas dari cinta yang terikat selama 10 bulan ditinggalkan. Setelah menutup laci itu, Jin merebahkan tubuhnya ke atas ranjang empuknya. Memejamkan kedua matanya mengingat secara perlahan kenangan indah bersama namja yang dicintainya sampai sekarang. Senyumnya, tawanya, setiap sentuhannya, suaranya yang indah, semua dirindukan Jin selama berpisah dari namja itu. hanya namja itu yang mampu memberikan senyuman selama 4 tahun lamanya. 

Tapi... wajah yang tidak asing menganggu ingatannya, spontan Jin dengan cepat membuka kedua matanya. Namja asing yang tidak diketahui namanya masuk kedalam ingatan Jin begitu saja.

“namja itu?”



To be continue....





Comments

  1. bagus, min. tapi pertengkaran Jimin dan Hyung nya mending diperbanyak. masa Jimin nggak penasaran kemana Hyung nya pergi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hay Jiyuu, mianhe yaa koment ini baru aku baca..jadi bru sempet bales krn notif tenggelam^^ makasih atas sarannya yaa~ :3 akan jd koreksi utk kedepannya D:

      Delete

Post a Comment

Popular Posts