BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 3
Senyumnya, tawanya,
setiap sentuhannya, suaranya yang indah, semua dirindukan Jin selama berpisah
dari namja itu. hanya namja itu yang mampu memberikan senyuman selama 4 tahun
lamanya. Tapi... wajah yang tidak asing menganggu ingatannya, spontan Jin dengan
cepat membuka kedua matanya. Namja asing yang tidak diketahui namanya masuk
kedalam ingatan Jin begitu saja.
“namja itu?”
mengingatnya membuat Jin tidak bisa melupakan keceriaan yang
dimiliki namja itu sama halnya dengan yang dilakukan kekasihnya dulu. Membuat
dirinya tidak mampu berhenti untuk tersenyum. Ada apa dengan perasaan yang
dirasakan Jin sebenarnya? Tanpa disadari seorang Maid datang memberi tahu Jin
bahwa kedua orang tuanya baru saja pulang untuk menemuinya. Jin hanya mendengar
namun tidak memperdulikannya. Namja itu sadar dalam jangka waktu kurang lebih
15 menit kedua orang tuanya akan lenyap dari Kediamannya lagi. Jin hanya bisa
merasakan rindu akhir-akhir ini akibat kehilangan namja yang benar-benar
dirinya cintai. Selama 4 tahun bersama dengan kekasihnya dulu Jin tidak
kekurangan kasih sayang, ramah pada siapapun serta aktif dalam kegiatan
sekolahnya. Karena hanya kekasihnya yang mampu menggerakan hatinya. Memberikan
semua perhatian yang tidak didapatkan Jin dari kedua orang tuanya. Dan semenjak
kasih sayang itu hilang Jin mulai membiarkan dirinya menyendiri, menghilangkan
sosok ramah pada siapapun serta menjadi malas melakukan apapun.
Jin menutup dirinya rapat-rapat dengan selimut ketika suara
mobil kembali terdengar dan menghilang begitu saja dari Kediamannya.
-
Keesokan paginya
Jin telah siap untuk pergi kesekolahnya hanya dengan
berjalan kaki serta ditemani earphone kesayangannya. Sebenarnya beberapa mobil
mewah telah siap mengantarnya namun Jin menolak. Baginya berjalan kaki sama
saja olahraga yang dapat menikmati suasana segar kota Seoul, terlebih lagi
alunan lagu menambah tenang hatinya.
Sesampainya disekolah Jin pergi kekelas untuk menaruh tasnya
dan pergi keluar lagi menuju lokernya. Jam masih menunjukan pukul 7 pagi
sedangkan pelajaran dimulai pukul 8 pagi, inilah kebiasaan Jin disekolah masuk
pagi buta lalu pergi menuju lokernya sambil mendengarkan musik didalam. Ukuran
loker sekolahnya sangat besar sehingga muat untuk menjadi persembunyian Jin
ketika sedang malas dikelas. Jinpun kembali tidur di dalam Lokernya. Tidak lama
dirinya memejamkan matanya wajah namja asing itu kembali menghantuinya. Rasanya
sangat tidak nyaman “apa yang terjadi pada diriku?” gumamnya dalam hati. Selama
satu jam didalam loker hatinya terus gelisah memikirkan namja yang berulang
kali menolongnya dan muncul dalam hidupnya. Pandangannya melirik arloji yang
terpasang dilengan kirinya, “pukul 8, pantas sudah ada suara berisik diluar”.
Istirahatnya hari ini terganggu karna wajah namja yang tidak bisa dirinya lupakan
barang sebentar. Jin keluar dari lokernya dan kembali kekelasnya.
Sama halnya dikelas Jin tidak mampu berkonsentrasi untuk
belajar, hatinya benar-benar gelisah. Apa yang akan terjadi sebenarnya.
Pelajaran selama 4 jam berlalu begitu saja, tidak menyisakan ilmu sedikitpun di
ingatan seorang Jin. Mungkin dirinya dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh
“sebaiknya aku membeli minuman segar” dengan berharap tidak bertemu dengan
namja bodoh itu dalam perjalanan.
Berjalan menuju kantin pandangan Jin tidak sengaja melihat
sosok namja yang dirinya tidak ingin temui saat ini sedang memandangi lapangan.
Rasanya dia terlihat murung, Jin sebenarnya tidak ingin memperdulikannya. Tapi
ketika beberapa langkah meninggalkan sosok itu. perasaannya berubah tidak
tenang, akhirnya Jin mengambil napas dalam-dalam dan mendekati sosok namja bodoh
itu.
Namja bodoh itu terkejut ketika Jin dekati tapi sepertinya
dirinya malas untuk menanggapi kedatangan Jin entah untuk apa. jin hanya duduk
diam dibelakang namja bodoh itu. tidak berniat mengganggu namun cukup
membosankan jika dirinya tidak segera bertanya tentang alasan namja bodoh itu
terlihat murung. Secara berat hati Jin pun mulai mengambil beberapa batu kecil
dan melemparkannya kearah namja bodoh yang murung itu. respon yang Jin dapat
hanya dengusan kesal tanpa berbicara apa-apa. kedua kalinya lemparan batu kecil
terjadi masih tidak memiliki respon, untuk ketiga kalinya Jin akan melempar.
Namja bodoh itu menoleh dan berteriak.
“yaak seulki! Apa yang kau inginkan! Jangan ganggu aku,
pergi sana!” mendapatkan respon itu Jin kaget, amarahnya begitu besar
dirasakan. Sepertinya namja bodoh ini telah mendapatkan masalah.
“ada apa dengan dirimu, tidak biasanya kau bermuram seperti
itu” sindir Jin pada namja yang duduk membelakanginya. “apa kau habis putus
cinta?” lanjutnya beriringan dengan tawa pelan. Masih tidak menjawab namja
bodoh itu hanya berdengus kembali. Keheningan terjadi kembali selama 10 menit,
tiba-tiba wajah itu semakin muram. Jin menangkap mata namja bodoh itu
berkaca-kaca menahan air matanya. Kaki jin menendang pelan tubuh namja yang
setengah membelakanginya.
“kau baik-baik saja kan? Kenapa matamu basah, hei jangan
menangis ketika aku bermaksud baik padamu”
“aku tidak perduli padamu. Pergi sana”
Namja bodoh itu seperti tidak memperdulikan Jin yang
kebingungan harus melakukan apa untuk dirinya. Jin mendekati namja bodoh itu
dan duduk disampingnya tidak memberikan jarak sedikitpun. Mendekap pelan tubuh
mungil Jimin yang mulai gemetar karena isakan tangisnya.
“sebenarnya apa yang terjadi, kau bisa cerita padaku.
Hentikan tangisan bodohmu. Kau semakin terlihat bodoh, kau tidak sadar itu?”
“aku tidak perduli! Tidak perduli!, pergi sana. Aku tidak
membutuhkan mu sama sekali, bahkan aku tidak tau namamu. Bagiku kau orang asing
yang menyebalkan, kau yang mengatakan jangan campuri urusan orang lain. Sekarang
kau malah mencampuri urusanku!” namja bodoh itu mendorong Jin untuk sedikit
memberikan jarak jauh pada posisi duduk mereka. “lagipula seberapapun aku
menolongmu, sifat burukmu tidak akan pernah hilang untuk selalu ketus dan sinis
padaku. Pergilah.” Lanjutnya menghapus air mata selayaknya anak kecil. Namja
bodoh itu mulai bangkit dan hendak melangkah pergi meninggalkan Jin namun
langkahnya terhenti ketika Jin menyebutkan namanya “Jin, Kim Seok Jin imnida.
Apa kau bermuram seperti itu karena sifatku? Ternyata seperti itu. kau menyukai
ku ya?” Mendengar itu namja bodoh itu semakin terlihat bodoh tidak mampu
menoleh, hatinya berdegup kencang ketika mengetahui nama namja tampan yang
sering ditolongnya.
“kau memberi tahu namamu padaku? Tapi tunggu... untuk apa
aku menyukaimu! Apa aku segila itu?!”
“apa kau selalu bersikap bodoh seperti itu?” ledek Jin
memberikan senyuman dengan sedikit bumbu pesona. Pandangan Jin melihat rona
merah disekitar wajah namja bodoh yang sedang memandangnya. Mengingat kejadian
namja mungil itu menolong dirinya dari 3 namja bertubuh kekar membuat
pikirannya sedikit sakit. Mengapa bisa tubuh kecil itu membanting setiap tubuh
yang lebih besar darinya? “soal kemarin aku berterimakasih kau sudah
menyelamatkanku, hanya saja aku bingung bagaimana bisa kau kuat menjatuhkan 3
namja yang lebih besar darimu?” lanjut Jin.
“aku ahli bela diri Judo, Taekwondo, dan sejenisnya. Bagiku
itu dapat membantuku untuk melindungiku dan orang lain dari orang yang akan
berbuat jahat”
Mendengar itu Jin mengangguk pelan “lalu, apa kau sengaja
mengikutiku saat itu?”
“melihat kau dipaksa seperti kemarin, siapapun yang
melihatnya akan bertindak sama denganku. Jin-sshi aku tau kau sangat mencintai
namja yang selalu berada dihatimu. Kau tidak mampu melupakannya tapi aku
berharap kemarin adalah kejadian terakhir kau menyakiti hati orang lain. Jangan
menerima hati orang lain yang mencintaimu dengan kau masih memegang nama namja
lain dihatimu. Kau mengerti?”
“mereka selalu memaksaku”
“kau harus meyakinkan mereka, tetap ramah pada mereka, dan
jangan menyendiri terus. Dengan kau selalu berada disamping temanmu, aku yakin
seseorang yang akan menembakmu akan mengurungkan niatnya karena melihatmu
sedang sibuk dengan temanmu. Melihatmu selalu sendiri itulah yang membuat kau
akan semakin di injak-injak bahkan mereka akan selalu meminta lebih darimu”
Ternyata namja bodoh ini bisa menenangkan hati seorang namja
dingin bernama Kim Seok Jin. Hatinya merasakan sesuatu meleleh dalam dirinya.
Terasa tenang dan nyaman ketika bercerita dengan namja yang selama ini dirinya
anggap menyebalkan. jin ingin terus merasakan nyaman seperti ini, merasakan
tenang seperti ini. Tidak lama Jin fokus akan semua perkataan namja bodoh itu,
pandangannya menangkap simpul senyum yang sangat manis. Sama halnya dengan
namja yang dicintainya dulu ketika akan menenangkan hati Jin jika mendapatkan
masalah. Dengan paksa Jin menepis semua pikiran itu, dan tanpa sadar tangan Jin
telah melempar kasar tangan Jimin yang sedang menyentuh pundaknya.
“waeyo?” tanya Jimin pada Jin yang seketika merubah
sikapnya. Tidak mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya, jimin hanya melihat
namja itu menjauhinya tiba-tiba. Bukankah dirinya khawatir pada Jimin
sebelumya. Lalu kenapa namja itu kembali bersikap dingin pada Jimin dan meninggalkan
namja mungil itu begitu saja. “yaak! Jin-sshi” teriakan Jimin tidak dihiraukan.
Panggilan yang tidak dihiraukan Jin, tidak membuat Jimin
mengejar namja tinggi itu. jimin masih tetap ingin menunggu Tae Hyung yang
sedari tadi tidak keluar dari sekolahnya. Karena itu Jimin hanya memandang Jin
yang pergi meninggalkan dirinya.
Jimin kembali duduk pada posisi awalnya setelah ditinggalkan
Jin sendirian lagi. Sepertinya namja yang Jimin tunggu tidak kunjung keluar
dari sekolah mereka, bukannya jimin tidak mau kekelas Tae Hyung hanya saja
dirinya lebih menyukai menunggu hyungnya itu didekat lapangan sambil
menyaksikan pertandingan bola. Tapi hari ini Tae Hyung tidak menampilkan batang
hidungnya sama sekali itulah yang menyebabkan Jimin sebelumnya menangis. Hingga
sore hari menjelang malam Jimin masih menunggu hyungnya didekat lapangan
sekolah mereka.
Penjaga sekolah yang melihat Jimin masih didalam sekolah
menegurnya sekedar memberitahukan bahwa gerbang sekolah akan segera dikunci.
Mendengar itu Jimin berlari keruang kelas Tae Hyung dan tidak menemukan namja
yang dicarinya. Jin masih memperhatikan Jimin dari jauh. Namja tampan itu tidak
bermaksud meninggalkan Jimin sendirian hanya saja dirinya ingin menepis
perasaan nyaman yang hinggap ketika bersama Jimin. Jin melihat Jimin menangis,
namja itu menendang sebuah tempat sampah hingga isinya berhamburan keluar.
Tidak lama memperhatikan Jimin, Jin akhirnya mengikuti secara tenang kemana
langkah kaki kecil namja itu melangkah.
Jin yang mengikuti jimin dari belakang hanya dapat menggaruk
tengkuknya karena kebingungan, berputar-putar sedari tadi membuat dirinya mual.
Karena lelah Jin menghentikan kegiatannya dan duduk disebuah taman di kota
Seoul. Lebih baik dirinya tidak mengikuti kegiatan namja bodoh itu yang tidak jelas
akan pergi kemana dan melakukan apa. tiba-tiba....
Tong!!
“Appppoooooo! Eottoke!” namja bodoh itu memegang keningnya
sambil berjongkok kesakitan. Mendengar suara kencang dari sebuah tiang membuat
Jin terfokus kesosok Jimin yang sedang berjongkok didekat tiang yang sebelumnya
berbunyi sangat kencang. Jin yang terkejut langsung berlari karena khawatir
akan keadaan Jimin yang sedang menyembunyikan sakitnya.
“yaak gwenchana yo? Aish Pabo kau ini, tiang setinggi ini
kenapa kau tabrak begitu saja?” tangan Jin menarik wajah namja mungil itu dan
mengelus kening yang sebelumnya terkena benturan dari sebuah tiang. Jin terus
mengusap kening Jimin yang memerah. Sebenarnya bukan karena benturan yang
sebelumnya Jimin dapatkan dari tiang, tapi dari kedatangan Jin yang mengejutkan.
“Jin-sshi?”
teguran Jimin membuat Jin sadar akan tindakan berlebihan yang
dirinya lakukan. Jin mematung. Dirinya mempermalukan diri sendiri dengan
ketahuan mengikuti namja bodoh yang memandangnya.
“rumah mu daerah sini?” namun pernyataan yang namja bodoh
itu berikan membuat Jin bisa berbohong. “nde, rumahku.... kearah sana”
bohongnya. Tanpa mau melanjutkan obrolan tentang tempat tinggal bohongannya,
Jin memberikan obrolan lain sebelum namja bodoh dihadapannya bertanya hal lain
yang tidak mungkin dibalasnya.
“yang lebih penting hal apa yang kau lamunkan hingga bisa
menabrak tiang yang tidak bersalah itu?” pertanyaan Jin membuat wajah muram
Jimin kembali terlihat. “oh ayolah ceritakan apa masalahmu, jangan seperti ini”
walaupun dirinya tidak perduli akan masalah apa yang didapatkan Jimin,
setidaknya rasa penasaran dan tidak nyamannya akan hilang ketika mendengarkan
keluh kesah namja ini. Dan wajah bodohnya dapat kembali terlihat seperti biasa.
“hyungku, akhir-akhir ini dia selalu pulang larut malam. Apa
menurutmu hyung ku pulang malam karena bekerja?”
“pertanyaan bodoh apa itu? kau melamun sejak lama hanya
karena Hyungmu bekerja atau—.” Perkataan Jin terpotong ketika merasakan gemetar
serta cengkraman erat dari Jimin. Mungkin masalahnya bukan itu Jin kembali
bertanya “begini, apa ada masalah jika Hyungmu itu memiliki pekerjaan?”
“seharusnya aku juga bekerja ketika Hyungku bekerja, jika
dia berhenti sekolah untuk bekerja. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku
tidak ingin menyusahkannya hanya karena sekolah, lagipula aku sangat bodoh jika
berada dikelas” mendengar keluh kesah Jimin, Jin hanya berkerut tidak percaya.
‘ini hanya masalah sepele’ gumamnya dalam hati. “kau tidak berfikir jika
hyungmu begitu sayang padamu maka dari itu dia bekerja untuk membiayai hidupmu
dan sekolahmu. Kau hanya perlu melakukan hal-hal yang seharusnya kau lakukan
didalam kelas. Buatlah hyungmu bangga akan hasil dari pekerjaannya”
“aku tidak mau!”
“kau itu keras kepala sekali, lalu apa yang akan kau lakukan
jika benar adanya hyungmu bekerja?”
“aku akan memintanya untuk berhenti dan pastinya aku kecewa
karena selama ini dia berbohong padaku”
ucapnya lemas menjelaskan. “lalu kau akan kabur dari rumah begitu?” tantang Jin
tegas.
“jika memang bagian itu dibutuhkan mungkin aku akan
melakukannya”
“jangan semakin bodoh” pukulan keras mengenai kepala Jimin
yang beriringan dengan dengusan kesal. “sebenanya aku tidak mengerti dengan
ceritamu yang aneh itu, begini saja untuk kali ini aku akan membantumu
menyelidiki tentang hyungmu. Dengan syarat apapun hasilnya nanti kau tidak
boleh nekat untuk kabur dari rumah terlebih lagi membenci hyungmu. Kau mau
berjanji?”
Jimin tersenyum lebar ketika mendengar ucapan sang namja
tampan yang akan membantunya, jimin memeluk Jin dengan erat “jinjya? Kau akan
membanttuku?!!” teriaknya tak percaya. Jin yang kaget mendapatkan reaksi sebuah
pelukan diam tidak bergerak. Hanya anggukan yang diberikan Jin untuk memberi
tanda setuju pada namja yang memeluknya.
Bau ini, sifat ini, rasa nyaman ini sama halnya dengan yang
dulu Jin rasakan. Rasanya ingin membalas pelukan yang saat ini Jin rasakan,
berharap pelukan hangat yang telah lama tidak dirinya dapatkan tidak
berlangsung cepat. Tidak perduli dengan pandangan setiap orang yang
membencinya. Yang jin butuhkan hanya dirinya, hanya dirinya, dan hanya dirinya.
“Jeon Joon Kook”
Pandangan Jin melihat sosok namja manis yang dikenalnya
sedang memasuki sebuah Mobil. Tanpa aba-aba Jin mendorong tubuh Jimin yang
sedang memeluknya, lalu berlari kearah mobil yang membawa pergi namja manis
yang dikenalnya.


tiap chapter komen tp ntah msuk pa g komennya T.T
ReplyDeleteterimakasih banyak Chinu atas supportnya :3 selamat mengikuti perjalanan cinta JinJimin Ver.:D
ReplyDeleteWaaaaaah..... akhirnya JinJimin momen dimulaaaaiiii... >.<
ReplyDeleteaa?? mianheyoo~ notif tnggelam ching..>< tapi makasih sudah selalu memberikan jejakmu :3
Delete