BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 1



Main Cast            :

·         Park Jimin

·         Kim Seok Jin

The Others BTS Member              :

·         Kim Tae Hyung

·         Jeon Joon Kook

·         Min Yoo Gi

·         Jung Ho Seok

·        Kim Nam Joon



BOY IN LUV


“kita akhiri saja Hubungan ini” ucap seorang namja tinggi berwajah tampan sedang menatap langit biru. Namja tinggi itu membalikan tubuhnya, memberikan sebuah sapu tangan yang tersimpan disakunya kepada namja yang sedang menangis karena dirinya. Dilihatnya tangan mungil itu terjulur kedepan hendak mengambil pemberian sapu tangan yang sengaja diberikannya untuk membantu menghapus setiap tetesan air mata yang mengalir kearea pipinya. Air matanya tak mampu tertahan kembali. Sebuah pelukanpun diberikan untuk menenangkan tubuh mungil yang gemetar berusaha menahan air mata agar tidak menetes. Namun gagal.


“wae? Waeyo Jin-sshi? Apa kau masih belum bisa melupakan namja itu?” tanyanya melepas pelukan Jin. Jin hanya memandang namja manis itu. Hubungan yang terjalin cukup singkat dengannya dalam jangka waktu sekedar 2 minggu. Sebelumnya Jin sudah memperingatkan namja manis itu bahwa akan sulit menjalin hubungan dengannya. dan Jin tidak ingin lebih memberikan harapan kosong pada namja yang berada dihadapannya. “aku sudah mengatakan padamu sebelumnya Suga, mianhe. Ini akan sulit bagiku menjalani hubungan ketika masih ada namja lain dalam hatiku”

“kau menerimaku tapi kenapa dalam 2 minggu bersamaku perasaanmu tidak berubah? Apa kau sama sekali tidak memberikan kesempatan untukku?”

Mendengar perkataan Min Yoo Gi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Suga membuat Jin menggeleng. Min Yoo Gi sama sekali tidak menyangka bahwa perasaannya selama ini sama sekali tidak bisa terbalas. Bagi Jin hanya ada satu nama dalam hatinya dan itu bukan nama Min Yoo Gi melainkan namja lain. Tidak mendapatkan respon kembali, Min Yoo Gi berlari meninggalkan Jin dengan sedikit memberikan tamparan dipipi kanan seorang Kim Seok Jin. Rasa tamparannya sama sekali tidak sakit, namun hati Jin yang terasa sakit melihat air mata namja lain keluar karena ulahnya.
Jin yang akan melangkah meninggalkan posisinya terhenti ketika mendengar suara seseorang yang seperti sedang membicarakannya.


“kau sudah benar melakukan itu padanya” seorang namja melompat keluar dari jendela kelasnya, dia tersenyum. Namja asing itu tersenyum pada Jin. Sangat manis. “tapi seharusnya kau tidak menerimanya jika masih ragu” sebenarnya Jin tidak mengerti dengan apa yang dibahasnya, dirinya  tidak perduli akan namja yang seenaknya saja menguping pembicaraannya. Dengan sengaja Jin tidak merespon setiap kata-kata yang dikeluarkan namja asing itu dan mencibirnya dengan ketus.
“dasar tukang nguping”

Namja asing yang tidak dihiraukan Jin mengejarnya dan merentangkan kedua tangannya dihadapan Jin. Tatapan tajam diberikan pada Jin seperti siap menerkam dirinya. “kau itu tidak membalas perkataanku tapi malah bersikap ketus padaku, dingin sekali sikapmu pada orang asing sepertiku”
“aku tidak akan bersikap seperti ini kecuali pada tukang nguping sepertimu”
“yaak! Aku itu tidak sengaja mendengar pembicaraanmu didalam kelas, aku sebelumnya sedang piket dan—.”

“dan kau penasaran dengan pembicaraan yang tidak sengaja kau dengar ketika piket. Berusahalah untuk tidak perduli, untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Jalani hidupmu sendiri apa kau tidak bisa melakukannya juga? ”

Namja asing itu terdiam karena bingung harus membela dirinya dengan cara apa lagi. Memang rasanya tidak sopan mendengar atau menguping pembicaraan orang lain, tubuh mungil itu tertunduk lesu seperti telah mengakui kesalahannya “maafkan aku” ucapnya dengan melangkah pergi. Jin melihat namja asing itu pergi dengan sempoyongan membuat bibir miliknya tersenyum sinis. Mencoba untuk tidak memperdulikannya Jin hanya memasang earphone dikedua telinganya dan pergi kearah berlawanan dari jalan yang sebelumnya namja penguping itu lewati.


Langkah namja asing itu sekarang telah jauh dari posisinya ketika bertemu dengan Jin. Hari ini sepertinya menjadi hari terbodoh baginya. Batu kerikil tidak luput dari rasa kesalnya, namja asing itu terus saja menendang batu kecil yang dilewatinya. “kenapa aku bodoh sekali harus muncul dengan cara seperti itu, aku fikir dirinya bisa diajak berteman. Ternyata tidak hanya ketus pada pasangannya bahkan namja yang tidak dikenalinya sepertiku dia masih ketus” namja asing itu terus meruntuki nasibnya. “tapi.. sepertinya namja itu sangat setia dengan seseorang” pandangannya kembali melihat kebelakang. Memastikan namja itu telah pergi juga setelah dirinya meninggalkannya sendirian.
Tiba-tiba tanpa sepengetahuannya sebuah tepukan dipundak mengaggetkan dirinya. “Jiminieeeee!” teriaknya sambil memeluk tubuh mungilnya. yang kita ketahui sekarang sang namja asing itu bernama Jimin dengan nama lengkapnya Park Jimin.

“kau mengaggetkan ku saja seulki!” dengan sigap tubuh besar namja yang memeluknya terdorong kuat akibat tekanan tubuh yang menolak pelukan pada dirinya. Namja yang ditolak itupun mempoutkan bibirnya dan beraegyo agar mendapatkan pelukan dari si Mungil. Jimin sangat kesal jika sudah melihat itu semua dari namja yang berstatus kaka angkatnya. Dengan terpaksa Jimin pasrah. Membiarkan kaka angkatnya memeluk dirinya dengan sepuas hati.
“ini baru dongsaeng ku tersayang~”

Jimin dan Kim tae hyung atau kaka angkatnya berjalan secara beriringan memperlihatkan persaudaraan yang begitu dekat pada orang lain. Orang yang mengenal mereka sudah biasa jika melihat itu semua tetapi orang yang tidak mengenal mereka mengaggap mereka pasangan yang sangat serasi. Walaupun mereka saudara angkat itu semua tidak membuat satu sama lain cemburu akan perhatian yang diberikan Appa dan Eomma mereka. Tae Hyung sadar hanya Park Jimin lah yang menjadi saudara satu-satunya untuk dirinya jaga, maka dari itu jika terjadi sesuatu pada dongsaeng tersayangnya Tae Hyung akan bertindak secara brutal.

Sebuah apartemen menjadi saksi hidup kedua saudara ini. Kedua orang tua mereka telah lama meninggal karena sebuah kecelakaan, yang selamat hanya Jimin adik angkatnya. Sedangkan Appa Eomma Tae Hyung mati karena melindunginya. Tapi itu semua tidak membuat Tae Hyung membenci Jimin, baginya Jimin adalah kehidupan berharga bagi kedua orang tua Tae Hyung. Maka dari itu kedua tubuh Appa Eomaa Tae Hyung terlihat mendekap tubuh kecil Jimin saat kecelakaan itu terjadi. Tae Hyung yang sedang berada disekolahnya tingkat SD terkejut saat mendapati Appa dan Eommanya terbaring kaku pucat dan hanya meninggalkan senyum Jimin adik angkatnya dirumah sakit. Sebelumnya memang tidak terima mendapati kondisi seperti ini, namun ketika melihat Jimin menangisi Appa Eommanya. Hati kecil Tae Hyung meminta untuk menenangkan tubuh mungil itu yang bergetar hebat karena tangis. Itulah mengapa sampai saat ini Tae Hyung sangat menyayangi dongsaennya.

“hyung... Kim Tae Hyung” suara Jimin terdengar begitu dekat dan membuyarkan lamunan Tae Hyung akan masalalunya. Namja itu berdengus kesal ketika Jimin tidak memanggil dirinya dengan sebutan hyung padanya.

“kenapa kau tidak memanggilku dengan sebutan Hyung, Jiminiee” manjanya dan duduk diranjang empuk tempat tidur mereka. Jimin selalu kesal jika melihat Hyungnya itu beraegyo, sangat tidak pantas jika mengingat umurnya yang sudah tidak cocok untuk manja terlebih lagi pada dirinya.
“bukankah aku sudah mengatakan Hyung pada namamu Kim Tae Hyung” Jimin menjelaskan.
Tae Hyung menyelidik lalu menggeleng “harusnya kau mengatakan Kim Tae Hyung Hyung”, jimin yang mendengar itu berdengus tidak percaya pada Tae Hyung. “kenapa namamu itu harus menggunakan dua Hyung Hyung, Appa dan Eomma pasti tau jika sikapmu akan manja seperti ini dibandingkan diriku. Lalu kenapa ada dua kata Hyung dinamamu, tidak cocok sekali” cibir Jimin.

“Appa dan Eomma memang tau aku akan manja pada dirimu, maka dari itu nama itu akan terus menjadi alasan mengapa kau harus memanjakan ku”

“alasan apa?”

“jika kau harus memanggilku dengan dua nama Hyung”

“aku kesal jika harus menyebut nama Hyung dua kali, akan aku panggil kau dengan nama tuan V hyung”

“V? V Hyung? Nama apa itu?”

“habisnya kesal jika harus memanggil nama hyung dengan dua nama hyung, sangat merepotkan. Lagipula kau ketika berfoto selalu menggerakan kedua jarimu didepan kamera.” Jimin mempraktekan gerakan yang biasa Tae Hyung lakukan ketika melihat kamera dengan sikap dingin. Ketika Jimin merajuk, Tae Hyung memeluk tubuh Jimin dengan manja dan menariknya memasuki selimut tempat tidur mereka. Itu membuat Tae Hyung puas mendapati wajah menggemaskan Jimin yang terus saja memerah ketika dirinya bersikap seperti itu.

-


Keesokan Harinya

Jimin telah bangun dari tidurnya dan melihat Tae Hyung masih terlelap menikmati mimpi indahnya. karena hari Minggu dirinya memutuskan untuk berbelanja ke mini market didekat Apartemen membeli kebutuhan untuk keseharian mereka.

“Hyung aku belanja dulu yaa, apa ada yang ingin kau titipkan?” Jimin bertanya pada Tae Hyung yang membuka sedikit kedua matanya ketika mendengar suara lembut dongsaennya. Senyuman manja itu terukir membuat Jimin bergidik dan mengambil langkah mundur. Melihat Jimin akan menjaga jarak mereka Tae Hyung mengambil lengan Jimin, menjatuhkan tubuh Jimin keatas tubuhnya. “yaak seulki! Kau itu Hyung yadong! Lepaskan, aku haruss pergi ke—.” bibir mereka bersentuhan secara tiba-tiba, dan Tae Hyung pun melepaskan tubuh mungil yang sedari tadi memberontak.
“kau lupa memberikan ciuman kecil padaku”

“ciuman kecil hanya dilakukan ketika kita masih kecil! Kau tidak sadar usiamu berapa! masih saja mencium namja sepertiku!! Bagaimana kau mau dapat seorang yeoja cantik!”

Karena kesal mendengar ocehan Jimin, tangan Tae Hyung menarik dagu Jimin hingga mendekati wajahnya kembali “kau mau lagi?” ancamnya membuat Jimin membungkam mulutnya. Tae Hyung tersenyum tampan dan membiarkan Jimin pergi ke mini market tanpa memesan apapun. Kesal karena ulah usil Tae Hyung, pintu Apartemenpun terbanting akibat amukan Jimin.

Didalam perjalanan Jimin mengumpat dirinya sendiri seperti bicara sendiri, membuat semua orang memandang aneh kearahnya. Tanpa memperdulikan pandangan orang lain Jimin masih setia dengan aktivitasnya. Mengambil setiap keperluan yang dibutuhkan di mini market tersebut. Setelah memilih dan membayar Jimin berniat kembali ke Apartemennya namun diurungkan ketika melihat sosok namja yang dirinya kenali. Jimin mendekati namja itu mencoba meyakinkan pandangannya tidak salah melihat.

“kau.. si bibir ketus.. astaga kau kenapa? Kau habis berkelahi?” wajah namja yang tidak diketahui Jimin namanya babak belur seperti habis dipukuli. Sepertinya namja ini tidak mampu berkomentar ataupun melangkah lebih jauh sendiri dan memutuskan untuk diam di gang sempit yang dapat meyembunyikan dirinya. Jimin merasa iba melihat wajah babak belurnya. Tanpa berfikir lama Jimin kembali kemini market untuk membeli perban, kapas, betadine atau alat-alat p3k lainnya. Sekembalinya Jimin langsung memberikan penolongan pertama pada luka namja tinggi itu.
“tahan yaa” secara perlahan kapas yang dituangi betadine membersihkan setiap luka ditangan atau bagian tubuh namja yang tidak jimin kenali. “kau ini kenapa bisa sampai seperti ini? Aku kira kau namja baik-baik tapi sepertinya aku salah karena belum mengenalmu. Apa bagusnya berkelahi sih?” namja tampan itu memberikan pandangan aneh pada Jimin yang sedang mengobatinya. Wajah khawatir itu terlihat begitu jelas. Sebenarnya dirinya penasaran mengapa namja ini selalu saja mencampuri urusan orang lain. Jimin yang merasa dirinya sedang diperhatikan segera menatap langsung kedua bola mata tampan yang sedari tadi seperti menyelidikinya. “sakit yaa?? Salahmu sendiri kenapa berkelahi sampai seperti ini. Kau tidak tahu lukamu ini sangat beruntung karena tidak sampai robek, jangan berkelahi lagi ya. Sebisa mungkin kau harus menghindari perkelahian itu. kau mengerti?” cerewet jimin membuat namja yang dibantunya menutup kedua telinganya. Melihat sikap namja yang ditolongnya membuat Jimin sedikit menekan kapas yang berisikan betadine di bagian lukanya.

“aisshhh! Sakit.. sakit..” keluhnya, mendengar itu Jimin cukup puas.

“kau itu menyebalkan sekali! Bersihkan lukamu sendiri. Aku tidak akan membantumu! Aku pergi”
Jimin meninggalkan Jin sendirian dengan lukanya, senyuman sesaat itu kembali menghiasi wajah Jin. Kapas yang sebelumnya digunakan Jimin diambil dan diletakan kembali di luka tangannya. Rasanya Jin pernah mengalami itu semua sebelumnya ketika bersama dengan namja yang sampai sekarang dirindukannya.

-

Jimin telah kembali ke Apartemen, hari ini mengapa begitu menyebalkan bagi Jimin. Apa ini Minggu sial untuk Jimin? Tidak. Mungkin dilain waktu akan lebih dari hari ini. Tae Hyung sebagai Hyungnya tidak perduli akan pandangan orang lain atas tindakan atau perlakuan Tae Hyung pada dirinya. Sedangkan bagi Jimin itu menganggu dirinya. Prioritas sebagai namja gentleman akan pudar dalam hitungan hari jika Tae Hyung tidak menghentikan sikap berlebihannya. Tae Hyung telah siap meninggalkan Apartemennya ketika Jimin akan memasak untuk sarapan pagi mereka.

“hyung kau mau kemana? Apa tidak sarapan dulu?” jimin menggunakan celemek masak dan berteriak ketika mendapati hyungnya akan membuka pintu Apartemen untuk pergi keluar. Tae Hyung sangat suka ketika melihat Jimin mengenakan celemek saat memasak. Itu sangat manis baginya. Tapi pemandangan itu tidak bisa disaksikannya terlalu lama hari ini.

“aku akan kembali secepatnya, sepertinya aku akan sarapan diluar. Tidak apa-apakan Jiminie?”

“nde? Sarapan diluar? Memang kau akan pergi kemana Hyung??” tanya Jimin masih penasaran.

“rahasia, aku pamit ya. Jangan merindukanku itu akan menyiksamu”

“TIDAAK AKAN!” teriak Jimin ketika digoda Hyungnya itu. sebenarnya Jimin tidak mengerti, atau tidak biasanya Tae Hyung keluar di Minggu pagi. Padahal biasanya dia akan menyalakan channel kartun kesukaannya di Televisi sambil memakan cemilan yang berada dikulkas. Rasa khawatir Jimin mulai terasa setelah 10 menit kepergian Tae Hyung.

-

Kim Tae Hyung yang telah pamit untuk keluar pada Jimin pergi kesebuah Cafe Coffe yang terkenal akan kenikmatannya. Serta namja-namja tampan yang melayaninya seperti Cafe Coffe terselubung. Cafe Coffe Prince atau sebuah Host Club yang menyamar dikedai Coffe. Tae Hyung memasuki kedai Coffe tersebut dan meminta bertemu dengan Jung Ho Seok, tidak lama Tae Hyung menikmati Coffe nya namja yang dicarinya pun datang. Jung Ho Seok tersenyum ketika mendapati Tae Hyung menemuinya di kedai Coffe tempat dirinya bekerja. Jung Ho Seok adalah temannya ketika disekolah tingkat dasar, dirinya lebih berpengalaman soal pekerjaan karena memang sejak kecil temannya itu sudah mandiri. Berbeda dengan Kim Tae Hyung yang hidup dengan kenikmatan dunia dan tidak kekurangan apapun.


“sepertinya kau tertarik bekerja sepertiku tuan Tae Hyung” sindir Ho Seok. Mendengar itu semua Tae Hyung hanya terdiam dan menjelaskan keadaannya sekarang pada teman lamanya. “keuangan ku semakin menipis, sedangkan warisan dari peninggalan Appa Eomma ku tidak bisa menutupi semuanya seperti dulu. Aku hanya tidak ingin dongsaengku hidup terlantar nantinya”

Jung Ho Seok yang mendengar penjelasan Tae Hyung terketuk hatinya, kehidupan mewah yang temannya dulu rasakan seketika lenyap begitu saja. Sudah 10 tahun lamanya semenjak Appa dan Eomma Tae Hyung tewas, namja itu sangat menyedihkan bersama dongsaennya yang ternyata keluarganya telah terkena tipu akibat rekan bisnis Appanya. Mungkin saja pembunuhan yang terjadi pada Orang tuanya disebabkan akan perebutan bisnis yang terjadi. Dan sekarang Tae Hyung harus merasakan tanggung jawab yang besar untuk menghidupi dirinya dan dongsaengnya.
“aku mengerti, tidak selamanya roda mu selalu berada di atas. Dan sekarang kau harus merasakan kerasnya hidup mencari selembaran uang, apa kau membicarakan ini pada dongsaengmu? Kuharap tidak. Karena aku tidak ingin adanya kekacauan pada tamu karena ulahnya” tanya Ho Seok meyakinkan.


“aniyo. Jimin tidak tahu soal ini” tegas suara Tae Hyung membuat lawan bicaranya yakin akan jawabannya. Jung Ho Seok berdiri dan mempersilahkan Tae Hyung untuk mengikutinya “akan ku pertemukan kau pada pemilik Coffe Host Club”. Tae Hyung segera mengikuti perintah sang sahabat dan memasuki sebuat pintu masuk yang tertutupi tirai khusus Staff.

Tidak disangka dibalik kedai kecil Coffe yang tidak ternilai terdapat sebuah istana besar didalamnya. Tae Hyung tidak berhenti mengaggumi setiap bentuk hiasan yang menghiasi ruangan. Jung Ho Seok tertawa saat melihat tingkah polos Tae Hyung, tidak disangka Ho Seok melihat perubahan pada wajah polos Tae Hyung yang kaget melihat banyak yeoja tua ataupun muda berada ditempat kerjanya. Inilah yang dinamakan Host Club tempat dimana para yeoja dipuaskan akan kasih sayang seorang namja yang mereka bayar. Saat memandang setiap sudut tempat itu Kim Tae Hyung menangkap pandangan pada namja yang tubuhnya hampir setinggi Jimin mendekatinya “siapa itu yang kau bawa Ho Seok-sshi” tanya namja muda yang terlihat sangat cantik. Mungkin namja ini juga bekerja sebagai Host Club tapi sayang sekali jika dirinya harus bekerja serendah itu dengan wajah yang tidak kalah cantik dengan dongsaengnya. Dirinya yakin usianya sama dengan Jimin.

“namanya Kim Tae Hyung, dia namja baru yang akan masuk bekerja di Host Club tuan”

Nde? Tuan? Apa pendengaran Tae Hyung sudah rusak ketika kata tuan terdapat pada kalimat yang diucapkan temannya. Benarkah jika namja secantik ini memiliki bisnis haram seperti Host Club.
“annyeong, Jeon Joon Kook imnida. ” namja kecil itu memperkenalkan dirinya dengan senyuman lebar yang memperlihatkan gigi putih rata dan sangat cantik di penglihatan seorang Kim Tae Hyung.



To be continue.....


Comments

  1. baru gabung di blok ini niiih... kelihatannya seru. Jihope oppa tidak ada kah?

    ReplyDelete
  2. Jhope itu Jung Ho Seok Chingu-deul ^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts