Xiuhan.Lumin Love is WAR Chapter 2





“aku tidak pura-pura tidur, aku hanya ingin ketoilet” ucapnya dengan ragu, wajah luhan yang masih menyelidik pun tidak percaya dengan alasan yang diberikan namja manis itu. “bukankah toliet kamarmu disebelah sana. Kenapa kau harus keluar”. Minseok yang kesal membalikan badan dan pergi menuju toilet kamarnya “rusa menyebalkan” gumamnya.

“kau akan kembali kesekolah besok dan aku akan menjagamu” perintah luhan pada namja manis itu.


Pagi hari yang tenang bagi Kim Minseok sudah tidak ada lagi. Kris ayahnya pun tidak ada untuknya dan menyerahkan nyawa putra satu-satunya ketangan namja yang tingginya hampir sama dengannya, mustahil jika Luhan bisa melindunginya. Bahkan minseok sendiri tidak yakin Luhan bisa menjaga dirinya sendiri. Minseok bercermin cukup lama hanya untuk membenarkan dasi pada seragamnya. Lalu bagaimana dengan Luhan? masa bodo dengan luhan itulah fikiran namja manis itu.

Selesai bersiap-siap Minseok pergi menuju mobil yang telah terparkir sempurna dihalaman yang cukup luas. Para pelayan dan maid di kediaman Kim Minseok membungkukan tubuh ketika namja itu lewat sambil mendoakan kepergian sang tuan muda yang mereka jaga sejak kecil. Luhan yang telah menunggu namja itu keluar dari rumahnya pun bersikap dingin saat membukakan pintu mobil untuknya. Dengan angkuh Minseok melewati Luhan dan hendak memasuki mobilnya namun ditahan oleh namja lain.

“chanyeollie?” minseok yang akan masukpun tertarik keluar karena genggaman kuat Chanyeol yang menyeretnya. Chanyeol adalah penjaga minseok yang dulu diperintah ayahnya untuk menemaninya bermain. Semenjak perasaanya diketahui ayah Minseok, chanyeol pun tidak diizinkan untuk mendekati anaknya lagi seperti dulu. Hanya dalam kondisi terdesaklah ayahnya meminta chanyeol untuk berada didekat anaknya dengan syarat Minseok tidak boleh tahu perasaan cinta chanyeol. “kau ikut denganku, tuan muda” chanyeol mempersilahkan tuan mudanya untuk mengikuti langkahnya dan menjauhi mobil yang telah dibukakan luhan untuknya. Satu tangan Minseok kembali ditahan, yang di sadari Luhan yang telah menahannya.

“kau ikut denganku bukan dengannya” tatapan dingin luhan menatap netra chanyeol yang sedang menatap balik pandangannya. Minseok semakin bingung harus ikut yang mana sedangkan 2 namja itu sedang adu pandang satu sama lain. “aku diminta tuan Kris untuk membawa tuan muda selamat sampai tujuan kesekolahnya, kau tau kenapa? Karena tuan kris belum  sepenuhnya percaya pada namja ingusan seperti mu” mendengar ucapan Chanyeol, mungkin minseok cukup setuju karena Luhan adalah namja baru yang belum dikenal penuh oleh dirinya. Mungkin saja Luhan berniat jahat mungkin juga tidak. Bahkan dengan tubuh kecilnya lebih terlihat aku dengan dirinya seperti kurcaci kecil jika bersanding dengan namja bertubuh tinggi seperti Chanyeol.


“lepaskan genggaman mu dari tuan muda” tegas chanyeol pada namja bernama Luhan. respon yang namja itu dapatkan hanya tatapan dingin yang masih menentang semua perintah chanyeol untuk melepaskan genggamannya pada Kim Minseok. Minseok yang mulai bosan akan aktivitas paginya saat ini pun mulai melirik jam yang menunjukan akan terlambat jika terus begini.

Tangan yang menggenggam lengan minseok pun Luhan tarik hingga memeluk tubuhnya, dengan cepat Luhan memukul chanyeol dengan beladirinya. Minseok yang terkejut menyeimbangkan dirinya dalam dekapan Luhan. chanyeol yang berusaha memberontakpun terkunci gerakannya karena luhan menekan salah satu tangan chanyeol kebelakang dengan kencang.

“tubuhku memang kecil, tapi aku lebih profesional dibanding dirimu. Jika tidak mau mati jangan mengganggu tugasku” luhan mendorong tubuh chanyeol menjauhi mobil yang akan dimasuki Kim Minseok. Dengan mulut terbuka dan mata masih membulat tidak percaya, minseok memasuki mobil yang telah dibukakan Luhan. chanyeol mengacak rambutnya kesal karena kekalahan yang diterimanya.

Dalam jarak pandang cukup jauh, Kris menikmati adegan demi adegan perlindungan yang dilakukan Luhan pada putranya. Senyumannya terukir saat mendapati luhan yang cukup bertanggung jawab akan tugasnya. Setelah kepergian mobil luhan dan minseok meninggalkan pekarangan halaman kediamannya, kris kembali pada kursi kebanggaanya. Memandangi berkas-berkas tanah yang akan menjadi target serta tempat-tempat terlarang yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.

“bagaimana tanah Yabakune di Jepang apa sudah direbut?” lirikan kris tertuju pada setiap namja terpercaya yang berada dalam ruangannya. Salah satu dari namja yang diperhatikan pun menjawab “kami belum berhasil merebutnya tuan, yabakune masih bertahan pada tanahnya”.

“bagaimana mungkin kalian mengurusi itu tidak becus, aku adalah Mafioso yang cukup berhasil. Jangan mempermalukanku dengan menjadi anak buahku”

“maafkan saya tuan, saya akan lebih cepat bertugas”

“ku anggap tugasmu telah selesai”

DORRR!

Kris sangat tidak menyukai pekerjaan yang memakan waktu lama, “jika tidak mampu melakukannya kau akan mati cepat” tatapan kris memberikan kode pada namja lain untuk membereskan mayat yang telah dirinya habisi. “ kai lanjutkan tugasnya” perintah Kris dan mendapatkan anggukan dari namja yang bernama Kai.

Sebuah foto yeoja cantik yang anggun menampilkan senyum yang mampu membuat Kris tenang disetiap kondisinya. Tidak lain dan tidak bukan dia Sohee Ibu dari Kim Minseok yang telah lama menghilang, pergi meninggalkan dirinya dan putra satu-satunya. “sohee” jari-jari manis kris mengusap bingkai foto tersebut yang menunjukan kerinduannya pada yeoja itu. dan kris telah berjanji tidak akan menampilkan kembali kesedihannya pada siapapun, kecuali pada yeoja itu termasuk Kim Minseok. Minseok hampir tidak pernah bertemu dengan dirinya. Namja yang dianggapnya ayahnya tidak pernah menemui dirinya dikamar ataupun dikediamannya. Selalu sibuk dengan setiap pekerjaan terlarangnya yang merampas setiap hak perusahaan-perusahaan lain, prostitusi, bahkan obat-obatan terlarang telah dirinya kuasai. Kekayaan itulah yang membuat Kris menjadi incaran banyak musuh dan harus menjaga jarak dengan putranya.

“aku berjanji padamu sohee, tidak akan pernah melibatkan putra kita dalam pekerjaan kotorku” kris pun meletakan bingkai foto itu kembali ketempat asalnya.

-

Mobil minseok telah memasuki area sekolahnya, setelah diparkirkan dengan rapih namja itu pun keluar dan melangkah pergi meninggalkan luhan “aku akan menunggumu tepat disini, aku yakin kau membutuhkan privasi disekolahmu” minseok hanya menoleh tanpa menghentikan langkahnya. “jika terjadi sesuatu padamu segera berlari kesini” lanjutnya.

‘dasar rusa menyebalkan. dia fikir aku akan berlari seperti yeoja jika terjadi sesuatu padaku. Teruslah bermimpi’ bisiknya cukup pelan berusaha untuk tidak terdengar sang objek yang dirinya sedang bicarakan. Luhan memperhatikan namja mungil itu melangkah pergi semakin jauh. Dirinya mencoba memberi kebebasan pada Minseok untuk tidak berada disampingnya selama disekolah.


Mobil lain terparkir disamping luhan memakirkan mobilnya. Diikuti beberapa pengendara motor yang mengenakan pakaian seragam cukup berantakan. 2 orang namja keluar dari mobil itu menatap mata luhan yang cukup dingin melihatnya, setelah melewati luhan namja itu memasuki sekolah diikuti pengemudi motor yang sebelumnya mengikutinya dari belakang.

7 namja yang cukup berandalan itu membuat seisi sekolah gaduh karena kedatangannya. Lorong yang berisi kelas diperiksa satu persatu seperti mencari seseorang. 2 namja melangkah ke lantai 3, 3 namja dilantai 2, sedangkan sang tertua dan wakilnya berada dilantai utama. Matanya menyelidik kesetiap sudut. “segera temukan, sebelum namja itu sadar”. Lee Min Hyuk pun menganggukan kepalanya dan segera berpencar mencari tempat lain yang diperintahkan AhnJaehyo.

Luhan yang menyadari kegaduhan disekolah Kim Minseok mulai curiga, namja itu pun berlari memasuki gedung sekolah dan mencari Kim Minseok. Kerumunan murid membuat luhan kesulitan mencari Minseok yang entah harus dirinya cari kemana saat namja itu tidak menemukannya dikelas Minseok.

Pyo Ji Hoon, Kim Yukwon, dan Lee Tae il masih mencari dilantai 2 namun tidak menemukan namja yang mirip dengan foto yang mereka bawa. tidak beda dengan Park Kyung dan Woo Ji Hoo yang mencari di lantai 3 toilet, perpustakaan, mereka tidak menemukan Kim Minseok disana hanya menjadi bahan sorotan dari beberapa murid yang berada dilorong depan kelas masing-masing. Ahn Jaehyo dan Lee Min Hyuk bertemu dengan Luhan kembali setelah pertemuan pertama mereka diarea parkiran sebelumnya, tatapan dingin saling beradu dan... LeeMin Hyuk memulai perkelahian di depan banyak murid. Semua murid yang berada disekolah pun menjerit.

Luhan yang tidak membalas setiap serangan Lee Min Hyuk lebih memilih berlari kearea yang sepi agar tidak terkena korban yang tidak bersalah.

“kau cukup baik pada murid” ledek Lee Min Hyuk dan membiarkan Ahn Jaehyo melanjutkan pencariannya.

“...”

“tidak akan kubiarkan kau mengganggu urusanku”

Lee Min Hyuk pun mulai perkelahian kembali dan berusaha untuk menjatuhkan Xi Luhan. setiap pukulan ataupun tendangan yang namja itu berikan berhasil di tepis atau dihindari Luhan. luhan sama sekali tidak melawan, karena baginya saat ini tidak ada yang musti dilindungi. Tidak sengaja kartu nama Xi Luhan jatuh tergeletak dan membuat Lee Min Hyuk menghentikan aktivitasnya. Kedua matanya membulat saat mendapati kartu nama namja yang dilawannya bernama Xi Luhan dari Tiongkok China.

“kau... kau Xi Luhan?”

“...” luhan masih tidak menjawab.

Tidak mungkin Lee Min Hyuk berhasil mengalahkan namja sadis ini, pantas sedari tadi dia hanya menghindar dan tidak melawan. Mungkin kepalanya akan putus jika terkena hentakan dari satu pukulan Luhan. Luhan masih memandang dingin kearah Lee Min Hyuk “sudah selesai? Apa aku harus memulai”. Keringatnya mulai mengalir saat tatapan sadis itu telah terpancar dari raut wajahnya.
Dalam keadaan bertarung Luhan melihat Kim Minseok dari jauh sedang melewati tembok sekolah berusaha untuk kabur. Tapi kabur dari siapa? Tidak ada yang mengikutinya. Luhan pun berfikir jika minseok memang berniat akan cabut dari sekolahnya sejak awal “pipi tebal” gerutunya dengan senyuman tipis.

Setelah melihat ulah bodoh Kim Minseok, Luhan pun kembali fokus kepada namja yang sedang berada di hadapannya,  Lee Min Hyuk.

“aku tidak akan membunuhmu, jadi menyingkirlah” Lee Min Hyuk diam mematung mendengar kata-kata dingin dari bibir seorang pembunuh sadis seperti Xi Luhan. dengan bangga Luhan melewati Lee Min Hyuk yang hanya diam tidak menghalangi kepergiannya, tidak lupa dirinya mengambil kartu nama yang sebelumnya terjatuh. Saat mereka berpapasan luhan membisikan “kau cukup baik padaku” melontarkan ucapan yang sebelumnya Lee Min Hyuk berikan padanya.

Lee Min Hyuk benar-benar tidak berkutik jika sudah berurusan dengan Xi Luhan, perlakuan sadis yang sudah tersebar keseluruh Mafia-mafia pelosok negeri memandang luhan mengerikan. Desiran angin mengikuti langkah Luhan meninggalkan Lee Min Hyuk dalam diam karena rasa takut.

-

Minseok yang berhasil memanjat tembok dari dalam sekelohnya pun berusaha untuk menuruninya secara perlahan agar berhasil lari dari namja menyebalkan Xi Luhan.

“kau mau bolos sekolah?” suara yang minseok kenali berada di bagian bawah tembok yang sedang dirinya turuni, setelah menoleh sosok Luhan yang terlihat. “kau?!” karena terkejut hampir saja minseok terpeleset dari pegangangannya dan pastinya akan membuat tubuh mungilnya terluka nantinya.

“turun dari sana” masih dengan nada dingin dan tegas luhan berikan.

“aku tidak mau!!”

“turun cepat, sampai kapan kau berada diatas sana”

“terserah aku mau sampai kapan!! Bukan urusanmu! Pergi sana! Menyebalkan” ketus minseok tidak percaya karena keras kepala satu sama lain tidak ada yang mau mengalah.

Hampir 10 menit minseok bertahan diatas dengan posisi berdiri, karena kesal akan sikap protective ayah nya akan dirinya. “apa kau begitu membenci keberadaanku Minseok?” tanya luhan memecahkan keheningan. Minseok tidak menoleh kearah luhan dan hanya diam berpura-pura tidak mendengar.

Dengan sinis Minseok hanya sedikit melirik kearah luhan yang sudah tidak lagi bertanya “aku hanya kesal jika kau tidak percaya akan kekuatanku” luhan yang melihat wajah minseok yang sedikir murampun mengerti “aku tidak ingin diperlakukan terlalu istimewa, aku juga ingin seperti orang lain yang hidup biasa saja dan bisa bermain bersama ayah mereka” lanjut minseok dengan sedikit serak.

“minseok-ah sampai sekarang kau tidak sadar akan posisi pekerjaan ayahmu? Bukan sekedar Mafia, tidak seperti ayah-ayah orang lain. Ayahmu memegang penuh nyawa antek-anteknya dan dirimu, sekali saja ayahmu melakukan kesalahan mungkin akan berdampak besar dan—.”

“AKU TIDAAK PERDULII! YANG AKU INGINKAN HANYALAAH AYAHKUU” potong minseok dengan keras.

“banyak orang mati karena diriku, sejak kecil aku sudah menjadi incaran banyak musuh ayahku. Memiliki kondisi yang sangat lemah membuat diriku semakin menyedihkan dimata orang lain! TAPI AKU TIDAK PERDULII! Aku tau ayahku menjaga jarak dengan ku agar keberadaan ku tidak diketahui musuh-musuhnya tetapi itu membuatku sesak”

“dari kecil hanya dirawat pelayan dan maid-maidku, dan bertemu dengan ayahku untuk pertama kali saat berusia 6 tahun. Beberapa jam melihatnya, lalu sampai sekarang aku tidak melihat wajah ayahku kembali! AKU BENCII –” lanjut Minseok dengan masih bertahan pada posisinya namun menghentikan ucapaannya saat melihat pergelangan tangan Luhan yang mencoba untuk meraihnya turun. “siapa yang kau benci?” pertanyaan luhan membuat minseok kembali berfikir siapa yang dirinya benci? Gelengan kepala minseok menandakan bahwa namja itu juga bingung akan menjawab apa dengan pertanyaan itu.

Luhan berhasil menyentuh pinggang si mungil yang sebelumnya mencoba untuk turun “turunlah dulu, aku yakin kau lelah” jelasnya dan minseok pun melonggarkan pegangannya. Menerima uluran tangan Xi Luhan yang siap menangkapnya.

DOOOR!!

Sebuah tembakan mengenai tembok yang sebelumnya menjadi sanggahan Minseok, karena terkejut namja manis itu melepas secara tiba-tiba. Luhan yang melihat Minseok melepas secara tiba-tiba pun sigap menangkapnya dari bawah. Setelah minseok mendarat dalam dekapan Luhan, mata namja sadis itu mulai mencari darimana asal tembakan itu. sebuah mobil menembak kembali kearah Minseok dan Luhan berada. Luhan berlari bersama Minseok yang tertutupi jas anti peluru milik Luhan, melihat sebuah pohon besar mereka pun menyembunyikan diri dibelakang pohon itu.

“apa yang terjadi?” minseok menutup kedua kupingnya yang tidak kuat mendengar sebuah tembakan bertubi-tubi mengarah padanya. Luhan yang tidak membawa senjata menatap ranting pohon yang mungkin cukup kuat menahan tubuhnya “kau tunggu disini” tanpa mendapat persetujuan Kim Minseok, Luhan langsung memanjat pohon yang berdiri dengan kokohnya. “Luhan ... tunggu” minseok yang mencoba menghentikan tindakan luhan yang akan membahayakan dirinya pun mengurungkan niatnya saat mendapat gerakan jari luhan menyentuh bibirnya sendiri menyuruhnya untuk diam. Minseok sangat membenci saat semua orang melakukan sesuatu yang berbahaya untuk dirinya.

Beberapa namja bertubuh kekar mendekati tempat dimana Luhan dan Minseok mencoba untuk bersembunyi. Dengan cepat Luhan melompat kearah salah satu namja dan kaki luhan menendang ke namja lainnya. Tangan luhan mengunci pergerakan salah satu namja dan dengan lihai tubuhnya menghindari setiap tembakan yang mengarah padanya. Mata luhan memandang dingin kesetiap namja yang mencoba untuk menjatuhkannya dan....

Minseok yang masih menutup kedua mata dan telinganya pun mulai ketakutan terjadi sesuatu pada Luhan, suaranya mulai parau terdengar “Lu..Luhan”. tidak lama semua terasa begitu tenang saat angin menyentuh helaian poni yang menutupi Wajah manis Kim Minseok. Tidak ada suara lagi, suara berkelahi maupun suara tembakan. Minseok membuka matanya secara perlahan “luhan tidak kembali?”. Minseok tidak berani untuk beranjak dari tempatnya terpuruk, “bukankah... bukankah kau sudah berjanji untuk tidak mati karena ku? Lu.. luhan?”.

“aku tidak mati” minseok memandang Luhan yang berlumuran darah di pakaian dan tangannya. Kecemasan Minseok mulai merasuki tidak karuan “kau... apa kau terluka? Yang mana yang sakit?” tanya Minseok sambil memeriksa seluruh tubuh Xi Luhan yang berlumuran darah.
“aku tidak apa-apa. tenang saja” luhan cukup senang diperhatikan Minseok. Sebuah pukulan pun membuyarkan kesenangan Luhan yang dirasakannya hanya sesaat. “Apppooo! Kau kenapa memukulku?”

“kau jangan seenaknya saja melawan para namja  yang bersenjata! Kau tidak tau kemungkinan kau hidup hanya 0% karena kau tidak memegang senjata!! Bertarung dengan tangan kosong sama saja kau bunuh diri!” teriak Minseok. “kau khawatir padaku?” luhan menyentuh pipi Minseok yang mulai basah karena air matanya. “aku tidak khawatir padamu! Aku hanya tidak suka orang bodoh mati karena ku!!” dengan wajah merah minseok membuktikan bahwa Minseok berbohong akan ucapannya.

“maafkan aku membuatmu khawatir”

“aku tidak khawatir! Rusa menyebalkan!”

-

Mobil yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Luhan sekarang mengerti mengapa Lee Min Hyuk hanya mematung saat menghadapi Luhan. Ahn Jaehyo sepertinya mendapatkan kesulitan untuk membawa putra dari Kris itu karena pengawal yang berada disamping putranya. Lee Min Hyuk masih dalam rasa takut saat melihat 6 namja bawahannya yang mati tanpa senjata. Monster mungkin cocok dijuluki untuk Luhan.

“tenangkan dirimu, jangan jadi pengecut. Kau harus ingat bahwa dirimu adalah Block Buster yang telah kupilih dari banyaknya namja terkuat” mendengar itu Lee Min Hyuk mulai kembali fokus akan Ahn Jaehyo yang berada disampingnya. “lupakan apa yang kau ketahui tentang Xi Luhan. kau adalah yang terbaik Lee Min Hyuk” lanjut Ahn Jaehyo membangun rasa percaya sebelumnya telah hilang dari diri Lee Min Hyuk.


setelah misinya gagal merekapun memutuskan untuk kembali ke Markas Block Buster tanpa membawa si Mungil.



 To be continue....



Comments

Popular Posts