BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 4




“Jeon Joon Kook”.....
Pandangan Jin melihat sosok namja manis yang dikenalnya sedang memasuki sebuah Mobil. Tanpa aba-aba Jin mendorong tubuh Jimin yang sedang memeluknya, lalu berlari kearah mobil yang membawa seorang namja manis yang dikenalnya.



“kau kenapa?” tanya Jimin yang mengikuti Jin dari belakang. Jin menoleh kearah Jimin yang baru saja bertanya, namja tinggi itu mengacak rambutnya frustasi karena tidak bisa mengejar mobil yang membawa pergi Jeon Joon Kook. Tanpa berfikir lama Jin memohon pamit untuk segera pulang dan akan bertemu dengan Jimin kembali besok disekolah. Perasaannya tidak tenang ketika akan membuka hatinya kembali untuk orang lain.


[ Kediaman Kim Seok Jin ]

Sesampainya di Kediaman, Jin langsung berlari menuju kamarnya dan membuka laci meja dikamarnya. Mengambil sebuah bingkai foto yang menunjukan dirinya dengan seorang namja manis sedang berpose lucu, jin tertawa mengingat kejadian beberapa menit lalu yang dapat melihat wajah manis itu kembali secara langsung. “kau sudah kembali Jungkook” belaian pada bingkai itu terlihat lembut dalam genggaman tangan Jin. Liontin yang tergeletak begitu saja didalam laci diraih Jin lalu memandang lambang JJ yang terlukis di dalamnya.

“aku akan mengembalikan ini semua padamu Jungkook, kita akan membuang ini bersama”

-

Di depan pintu Apartemen Jimin menunggu Tae Hyung kembali dari luar. Rasa lelah namja itu terlupakan jika sudah berkaitan akan Hyung satu-satunya yang dirinya miliki. Jimin tidak perduli akan dingin yang mulai masuk kesela-sela jaket tebalnya, baginya menunggu Tae Hyung prioritas utama saat ini. Suara langkah kaki terdengar mendekati dirinya, Jimin yang memastikan itu Tae Hyung terkejut ketika mendapati Hyungnya sedang membopong namja lain yang sepertinya tengah tidur.

“nanti ku jelaskan Jiminnie, bisa kau buka kan pintunya?” wajah kesal Jimin terlihat ketika membukakan secara kasar pintu apartemennya.

Setelah merebahkan namja asing itu ke tempat tidur, Tae Hyung segera menghampiri Jimin yang sedang mempoutkan bibir nya tidak terima. Tae Hyung sadar jika keberadaannya di sekolah Jimin sadari hingga sore hari, dengan terpaksa Tae Hyung harus memutar kembali pikirannya untuk menjelaskan semua pada dongsaengnya secara tenang.

“maafkan Hyung sebelumnya tidak cerita padamu, hyung akhir-akhir ini membantu teman hyung untuk mengurusi kedai Coffe yang dikelolanya” Tae Hyung yang baru saja menjelaskan tidak mendapatkan respon apa-apa dari dongsaengnya. Pandangan Jimin hanya mengarah keluar jendela kamar Apartemen mereka, tidak melirik sedikitpun kearah Tae Hyung yang memohon maaf padanya.
 Suara namja asing terdengar ditelinga Park Jimin, dengan terpaksa dirinya menoleh kearah sumber suara seorang namja yang telah bangun dari tidurnya.

“maafkanlah Hyungmu itu, aku yang salah memaksanya untuk membantuku hingga ayahku kembali dari Prancis. Karena hanya Hyungmu yang aku kenal maka  dari itu aku meminta bantuannya. Lagipula dia bukan pegawai tetap dikedai ku Jimin-sshi” Jungkook menjelaskannya dengan hati-hati mengingat Jimin bukan namja yang mudah mengerti sesuatu. Namja itu membuat Jimin mengangkat kedua alisnya. Masih dengan kondisi kesal “kenapa harus hyungku? Kau tau kan hyungku masih sekolah, dia akan kesulitan mengatur jadwalnya. Pergilah cari namja lain untuk menjadi pegawaimu” ketus Jimin pada namja yang lebih muda darinya. Jungkook memasang wajah takut kearahnya, menyentuh salah satu telinganya untuk menghilangkan rasa gemetarnya.

“jangan bicara kasar seperti itu Jiminnie, jaga sikapmu” ucapan Jimin harus membuat Tae Hyung mengeraskan suaranya. Jimin tidak mengerti dengan sikap yang Tae Hyung berikan pada dirinya saat ada orang asing ditengah-tengah perbincangan mereka. Tae Hyung tau bagaimana harus melembutkan hati seorang Park Jimin, mereka hidup bersama cukup lama. Mengapa kedatangan tamu ke Apartemennya dalam jangka waktu singkat membuat sikap Tae Hyung berubah padanya. Apa yang namja itu lakukan pada Hyungnya? Tanpa memperdulikan 2 namja memandangnya. Jimin pergi bergegas untuk meninggalkan Apartemen namun dihalangi Tae Hyung yang segera bertanya “mau kemana kau?” tegasnya.

Jimin hanya memandang balik dengan tatapan sinis pada namja yang telah berubah sikap pada dirinya. “jangan mengaturku seolah kau peduli padaku. Kau tau aku benci diperintah dan seorang pembohong” suara bantingan pintu Apartemen membuat tubuh Tae Hyung melemas seketika. Namja asing yang menyaksikan pertengkaran hyung dan dongsaengnya itu hanya mengerutkan kedua alisnya merasa bersalah. Rencana yang disusun Tae Hyung untuk membuat Jimin mengerti akan pekerjaannya tengah gagal. Jungkook meminta maaf pada Tae Hyung yang terpuruk, dan dibalas sebuah gelengan dari Tae Hyung “ini bukan salahmu” senyuman tipis menghiasi namja itu. “dia akan mengerti nanti, kau tenang saja Jungkook. Aku akan mengejarnya dulu. Aku titip rumah padamu ya” kekhawatiran terlihat diwajah Jungkook, semoga Tae Hyung dapat mengejar Jimin harapnya.  Tae Hyung yang memakai mantel dinginya diberikan nasehat sebentar dari Jungkook sebelum pergi.

“dengarkan aku Tae Hyung, Jimin-sshi hanya terkejut kau membelaku tadi. Saat kau bertemu dengannya nanti, kuharap Tae Hyung yang dirinya kenal kembali. Aku tidak apa-apa. karena aku seorang Jeon Joon Kook. Tae Hyung yang Jimin-sshi kenal, adalah hyung yang selalu membelanya kan? Bahkan dihadapanku kau harus tetap membelanya”. Tae Hyung mengangguk mengerti akan ucapan yang Jungkook katakan. Setelah membuka pintu Apartemennya Tae Hyung melambaikan salah satu tangannya sebelum menutup pintu itu dari luar. Kedua tangan Jungkook saling mengeratkan satu sama lain dan diletakan didepan dadanya yang berdegup kencang. Tatapannya berharap cemas kepada kedua saudara itu semoga cepat bertemu kembali, lalu berbaikan.

 -

Jimin meminta beberapa Vodka pada pelayan untuk menghangatkan tubuhnya ketika suhu di kota Seoul memuncak dingin. Jaket tebal namja itu tidak mampu menghilangkan dingin yang semakin menusuk seluruh kulit dalamnya. Berbotol-botol Vodka diminum Jimin hingga menghilangkan kesadaran namja itu karena Alkohol yang dikonsumsinya. Alasan lain mengapa Jimin meminum Vodka hingga mabuk itu dikarenakan sikap Kim Tae Hyung pada dirinya. Selama ini Tae hyung tidak pernah berbicara menggunakan nada tinggi senakal apapun sikap Jimin. Dan untuk kali ini seperti sebuah tamparan kecil dihati Jimin.

“halmeuni aku minta sebotol lagi” dengan suara getar Jimin memohon pada sang pemilik kedai untuk memberikan sebotol Vodka kembali.

“bukannya aku tidak mau memberimu seobotol lagi, kau akan pingsan jika terus-terusan minum disini. Lagipula kau masih dibawah umur, pergilah pulang” ucap halmeuni menasehati Jimin yang terlihat mabuk dengan rona merah dikedua pipinya. Karena tidak diberikan Vodka dari sang pemilik kedai, Jimin beranjak dan berjalan menuju lemari tempat penyimpanan Vodka. Serta tidak lupa menyerahkan beberapa lembar won untuk membayarnya. sang Halmeuni yang melihat Jimin pergi dengan sempoyongan sebenarnya khawatir jika terjadi sesuatu pada namja itu. tapi dirinya juga tidak meninggalkan kedainya hanya untuk mengantar Jimin kembali ke Apartemennya. Halmeuni membereskan meja yang sebelumnya Jimin gunakan. Perlakuan Jimin menjadi sorotan setiap pengunjung kedai.

“kau mengenalnya Halmeuni?” tanya salah satu pengunjung yang masih bisa menatap Jimin dari jauh.

“aniyo, tapi sayang sekali jika namja semuda itu sudah meminum-minuman sebanyak ini. Pasti dirinya sedang banyak fikiran. Entah itu masalah keluarga ataupun kekasihnya. Aish pikiran anak jaman sekarang jika ada masalah pasti lari keminuman”

Mendengar halmeuni pemilik Kedai itu berkeluh, membuat namja yang sedang asik berkumpul dengan temannya itu memutuskan untuk mengikutinya.

Namja itu mengikuti secara diam-diam dibelakang Jimin, sebenarnya tanpa diam-diam seorang pemabuk tidak akan pernah sadar apa yang terjadi disekelilingnya. Tapi rasa penasaran namja itu hanya ingin mengetahui apa pemabuk ini akan pulang dengan selamat. Dirinya masih sangat muda untuk menjadi pemabuk itulah pikiran namja itu. tiba-tiba langkah Jimin sudah tidak seimbang dan mengakibatkan dirinya jatuh ketanah dengan cukup keras.

“gwenchana?” namja asing itu mencoba membantu Jimin untuk bangkit berdiri. Jimin memandang kesal namja yang sedang membantunya, dengan kasar Jimin mendorong namja itu untuk menjauhi dirinya. Karena mendapatkan penolakan namja itu menjauhi Jimin yang mencoba untuk bangkit berdiri sendiri. Tubuhnya tidak mampu seimbang alhasil Jimin kembali jatuh ketanah “menyebalkan” dengusnya.

“biar aku membantumu” ucap namja asing itu, masih dalam penolakan namja itu terdorong kembali.

“kau itu siapa? Aku... akuu.. tidakk butuh bantuan. Kau mengerti?” jelas Jimin sombong seakan mampu berdiri tanpa bantuan orang lain. Dengan kerja keras tubuh mungil itupun berdiri walaupun tidak terlalu sempurna. Jimin kembali melangkah dan meminum Vodkanya untuk menemani perjalanannya menuju Apartemen. Melihat kebodohan namja dibawah umur seperti Jimin membuat namja asing itu menarik minuman Vodka secara paksa dari tangan Jimin.

“yaak seulki! Apa yang kau lakukan.... kembali..kembalikaannn” Jimin bersuara dengan nada mabuk, dan aroma Alkohol menguasai bau mulutnya. “kau sudah terlalu banyak minum, ini akan kubuang” namja asing itu menumpahkan botol Vodka milik Jimin ketanah, membuat Jimin memukulnya dengan kencang. Namja asing itu terkejut pukulan namja mungil dihadapannya ini sangat sakit dirasakannya.

“kauu... tidaak tau masaalah kuu.. aku.. sudah katakan jangan ikut campur.. aku tidak mengenalmu.. dan dan dan lagi kau itu tidak mengenalku..”

“aku memang tidak mengenalmu tapi aku prihatin melihat namja seusiamu sudah mabuk sampai seperti ini, lebih baik sekarang kau kuantar pulang.” namja asing itu menarik tangan Jimin namun  tertepis. “jangan... memaksaakuu.. untukk memukul..mu. kau mengerti”

“kau terlalu manis untuk menggunakan tanganmu sebagai pemukul, gunakanlah alat jika kau punya” tanpa memikirkan pukulan atau tepisan penolakan dari Jimin, namja asing itu menarik tangan Jimin menuju mobilnya. Dan membawa Jimin yang mabuk pergi kerumahnya, namun ketika melihat namja manis disampingnya sedang tertidur pulas membuatnya mengurungkan niatnya membawa Jimin kerumah. “sebaiknya aku kerumah Jin saja, jika Appa melihat namja ini mabuk pasti dirinya akan berfikiran aneh-aneh padaku” namja asing itu mengambil ponsel dan segera memberikan pesan keponsel Jin.

“aku akan pergi kerumahmu, tolong siapkan kamar untuk aku menginap”

Jin yang membaca pesan itu hanya melempar ponselnya jauh-jauh dan kembali tidur di ranjang tidurnya ketika nama Rapmon tertulis di contact pesan tersebut.

-

Setibanya di Kediaman Kim Seok Jin, namja itu melemparkan kunci mobilnya ke penjaga gerbang rumah tersebut. Menggendong Jimin yang tidak sadarkan diri akibat Alkohol dari mobil menuju kamar yang sebelumnya telah disiapkan Jin. Rapmon disapa beberapa Maid Kediaman Jin “tuan Rapmon tumben anda kemari tidak memberikan kabar dulu”

“nde? Aku mengirim pesan ke Jin apa namja itu tidak memberi tahukannya? Apa kamar tidak disiapkan juga jika aku akan menginap?” mendengar perkataan Rapmon sahabat tuan mudanya, Maid itu hanya menggeleng tidak tahu karena tuan mudanya tidak memberi tahukan itu sebelumnya. Rapmon yang keberatan dengan beban tubuh karena menggendong Jimin membuat dirinya semakin tidak dapat menahan emosinya pada Jin. Direbahkannya tubuh Jimin di sofa, sedangkan Rapmon pergi kekamar Jin untuk membangunkan namja menyebalkan itu yang masih setia dengan mimpi indahnya. Tanpa mengetuk pintu, Rapmon mendobrak kamar Jin dan menendang tubuh Jin hingga jatuh dari tempat tidurnya.

“yaak seulki! Apa—.” jin yang ingin memaki karena tidurnya terganggu membulatkan kedua matanya ketika sosok Rapmon berada dihadapannya. Rapmon tampak marah dipandangan Jin. “apa kau tidak menerima pesanku? Apa ponselmu mati?” melihat Rapmon segera akan memukulnya membuat dirinya harus menghindari kontak jarak dekat dengan namja bertubuh lebih besar darinya. Mereka bermain kejar-kejaran didalam kamar dan tidak luput dari penghancuran sebuah kamar. Bagi Rapmon dan Jin kebiasaan ini sudah biasa mereka lakukan karena kedekatan yang mereka jalani sudah cukup lama. Sama halnya ketika Jin terpuruk karena ditinggal kekasihnya dan sebaliknya. Mereka mengetahui rahasia satu sama lain, layaknya seperti saudara kembar. Tetapi semenjak mereka memiliki kesibukan dengan sekolahnya masing-masing membuat mereka kesulitan untuk bermain bersama kembali. Dan untuk pertama kalinya mereka kembali menginap bersama.

“apa yang membuatmu akan menginap di rumahku? Kau tidak lihat ini sudah jam 1 pagi, kau seharusnya datang ketika siang hari. Apa kau sedang bertengkar dengan kekasihmu kembali?” Jin berceloteh tidak henti membuat Rapmon menimpuki dirinya dengan bantal.

“aku juga ingin pulang! tapi tidak bisa karena saat ini aku sedang membawa namja mabuk yang baru saja aku temui dikedai”

“kau sekarang mengikuti jejakku menyukai seorang namja?? Kau mengatakan jika itu menjijikan dan sekarang...ahhh~” lirikan Jin menyelidik kearah Rapmon yang terlihat malu karena salah berucap. Timpukan bantal kembali mengenai Jin “yaak! Jangan berfikiran aku seperti dirimu, aku masih menyukai yeoja cantik sexy dan mantap bermain didalam kamar dengan nikmat. Dan aku tidak mengatakan jika percintaanmu itu menjijikan, jangan mengada-ada. Aku hanya tidak tega membiarkan namja itu sendirian dan mabuk”.

“jadi kau membawa namja mabuk dan asing kerumahku?” teriaknya tidak percaya, mendengar itu Rapmon hanya mengangguk. “dia berada di Sofa ruang tamu, aku akan membawanya kekamarmu jika kau tidak segera menyiapkan kamar untukku dan namja itu. kau mengerti?” ancam Rapmon membuat Jin berjengit kesal. Rapmon memberikan serangan bantal terakhir sebelum pergi meninggalkan kamar Jin. Beberapa nama Maid dipanggil Jin setelah melihat Rapmon keluar dari kamarnya. maid yang dipanggil tuan mudanya langsung berdiri menunduk menunggu perintah sang majikan.

“tolong siapkan 2 kamar untuk Rapmon dan temannya” setelah memberikan perintah Maid itu pun bergegas menjalankan tugasnya. Suara kecil Jin berbisik ‘tidak mungkin 2 namja dalam satu kamar membuat ingatan ku dengan Jungkook kembali saja’ gumamnya. karena telah menyelesaikan tugasnya Jin memutuskan untuk kembali tidur tapi... rasanya dirinya cukup penasaran dengan namja yang ditolong seorang Rapmon. Tidak biasanya namja itu mau menolong seseorang terlebih lagi namja itu tidak dikenalnya. Dengan rasa penasarannya Jin pergi menuju ruang tamu ketempat Rapmon berada. Dan cukup terkejut ketika Jin sampai keruang tamunya, Rapmon sedang mencium namja yang ditolongnya. Wajah namja yang ditolong Rapmon tidak terlihat karena tertutupi kepala besar milik sahabatnya itu. jin pun berdehem membuat Rapmon sedikit kikuk ketika melihat Jin sedang melihat aksinya. Tidak kalah kikuknya Jin juga terlihat lebih Shock saat mengetahui namja yang ditolong Rapmon adalah namja bodoh yang selalu bertemu dengannya.

“namja itu?” mata Jin membulat sempurna ketika melihat wajah manis yang dikenalnya. Melihat reaksi Jin, Rapmon berfikir bahwa namja mabuk ini adalah kenalan sahabatnya. Tetapi pandangan khawatir Jin berubah mengejek ketika tatapannya mengarah ke arah Rapmon. “waeyo?” tanya Rapmon penasaran.

“kau.. tadi.. kau.. aish apa kau tadi menciumnya?” benar dugaan Rapmon pasti Jin salah mengira. Tidak ingin ada salah paham Rapmon pun menjelaskan “aniyo. Aku hanya mengambil kotoran diwajahnya, kau seharusnya melihatku dari samping bukan dari belakang seperti itu! seulki, Pabo!” runtuknya membuat Jin mengangguk tidak percaya. Jin mendekati Jimin yang masih tidak sadarkan diri.

“dia.. apa dia tidak pulang setelah aku meninggalkannya?”

“kau mengenalnya?” Rapmon memandang wajah khawatir Jin yang sekarang berjongkok disamping namja asing yang tidak sadarkan diri. “nde, tapi aku tidak tahu namanya setelah beberapa kali bertemu. Dan sebelumnya aku fikir dia telah kembali kerumahnya ketika aku meninggalkannya, ternyata dia mabuk disebuah kedai. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?”

“mungkin dia broken home atau mendapatkan masalah yang sangat rumit dipercintaan, apa kau selalu pulang bersama dengannya?”

“hanya tadi aku mengikutinya karena dirinya terlihat murung dan....” suara itu berhenti menjelaskan membuat Rapmon meliriknya sejenak. “dan?” Rapmon menegaskan bahwa penjelasan Jin menggantung “dan apa?”. sepertinya Jin tidak perlu menjelaskan bagian dirinya bertemu dengan cinta masa lalunya tapi “Jin-sshi katakan padaku dan apa?” Rapmon menggoyangkan tubuh Jin yang terdiam sejenak seperti sedang berfikir.

“aniyo, aku hanya melihat kenalanku yang tidak ingin aku temui jadi aku memutuskan untuk berpisah dengannya ditengah jalan” jelas Jin berbohong. Sebenarnya Rapmon masih ingin bertanya namun diurungkan niatnya ketika mendengar suara keluhan dari bibir namja yang sedang tertidur “hyung~” lirihnya. Mendengar itu Jin dan Rapmon saling memandang satu dengan yang lain. Mereka mengambil kesimpulan bahwa namja ini sedang memikirkan Hyungnya. Tidak lama mereka saling bercerita serius suara yeoja cantik berpakaian Maid mengejutkan mereka.

“maaf tuan jika saya mengganggu tapi saya hanya ingin memberi tahu tentang 2 kamar tamu telah siap digunakan” ucap sang yeoja yang dibalas anggukan, tetapi.... “tunggu? 2 kamar tamu untuk apa? aku dan dia kan sama-sama namja kenapa harus dipisahkan?” polos Rapmon bertanya membuat Jin hanya memandang sinis kearah wajah bodohnya. “aku tidak mengizinkan namja yadong seperti mu tinggal sekamar dengannya, pergilah kekamarku biar aku yang antarkan namja ini kekamarnya” Jin yang mencoba menggendong tubuh mungil Jimin segera disambar dorongan pelan agar menyingkir dari posisinya. “aku tidak setuju, aku yang akan membawa namja ini kekamarnya. Maid tunjukan aku jalannya” dengan tenaga besarnya Rapmon berlagak sok kuat untuk menggendong namja manis yang baru saja ditemuinya menuju kamarnya. jin hanya menghela nafas saat melihat sifat kekanak-kanakan Rapmon keluar begitu saja. Ada sedikit perasaan Jin yang tak nyaman ketika melihat namja manis yang tidak diketahui namanya itu berada di dekapan namja lain. Rasanya ingin segera mengambil alih tubuh mungil itu untuk masuk kedalam dekapannya. Tapi dirinya menepis kembali pikiran itu, pikiran yang bisa menjadikan namja itu sebagai pengganti seorang Jungkook dihatinya.





To be continue...

Comments

  1. Apaaaa!!!??? jadi kekasih Jin yang pergi ke Amerika itu Junkook??? bukannya dia udah lama ke Amerika karena kuliah? malah jadi pemilik kedai kopi terselubung. dan mana Jihope???!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaa iyaa ching,, bukan kuliah tapi sekolah^^ *aegyo horor brg Jimin* Jhope itu Jung ho seok yaa ching Juyuu:3

      Delete

Post a Comment

Popular Posts