BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 7
. 10 bulan seperti 10 tahun Jin
merasakan kehilangan senyum dan ceria itu. Dan untuk pertama kalinya semenjak
kepergiannya suara itu kembali terdengar. Suara yang menenangkan hati Jin dalam
setiap keadaan gelisah.
“Jin-sshi, lama tidak bertemu”
Masih dengan sifat dinginnya Jin memberikan kardus yang
berisikan seluruh kenangan dengan namja dihadapannya. “apa ini?” tanya Jungkook
dengan senyuman cantik sama seperti dulu. Mampu membuat hati Jin melunak.
“itu adalah barang kenang-kenangan kita, aku berniat untuk
membuangnya saat kau kembali”
Mendengar itu Jungkook membulatkan bola matanya tidak
mengerti “apa maksdumu?”.
“hubungan kita sudah berakhir Jeon Joon Kook, aku ingin
melepasmu mulai sekarang” jin memberikan pandangan dingin kearah Jungkook.
Namja cantik dihadapannya meneteskan air matanya tidak percaya. Jin memutus
hubungan dengan dirinya. Tidak. jungkook tidak terima akan ini semua walaupun
dirinya sadar ini adalah kesalahannya.
“aniyo! Ini tidak mungkin. Jin-sshi apa kau tidak ingin
bertanya tentang keadaanku setelah 10 bulan ini kita tidak bertemu?” suara itu
terdengar lirih berbeda dengan sebelumnya. perkataan namja cantik itu tidak
direspon. Kardus yang diserahkan Jin terlempar kelantai akibat amukan dari
seorang Jungkook. “apa kau tidak ingin mendengar penjelasanku, mengapa aku
begitu cepat meninggalkan Amerika dan kembali ke Korea?! Mengapa aku tidak
meneruskan pendidikan ku disana!? Kau tidak ingin tahu itu semua! Selama 6
bulan aku tidak berhenti-hentinya memikirkanmu?!!! Dan 4 bulan mencarimu entah
kemana! Kau tidak mau mendengarkan aku sama sekali mengapa aku pergi ke Amerika?!”
penjelasan panjang lebar dilontarkan beriringan dengan tangisan membuat semua
pengunjung Caffetaria memandang kearah mereka.
Sebenarnya Jin tidak bisa melihat namja yang dicintainya
menangis karena dirinya. Tapi ini yang terbaik, semua perkataan Rapmon benar
adanya. Mencoba untuk tidak merespon apa yang Jungkook katakan ataupun perbuat,
Jin masih tetap diam dan beralih mengambil ancang-ancang untuk pergi.
Pandangan
Jungkook memburam seketika. Sakit kepala yang dialaminya kembali lagi setelah
10 bulan tidak dirasakannya. Tidak ingin Jin mengetahui penyakitnya, dengan
sisa kesadarannya namja cantik itu pergi meninggalkan bangku tempat dirinya
bertemu dengan Jin. Langkah demi langkah digapainya dengan susah payah menuju
mobilnya.
Jin sadar akan perubahan dari Jungkook yang seketika memucat.
Sedangkan Jungkook tanpa memperdulikan Jin yang masih memandangnya Jungkook
tetap fokus untuk sampai dimobilnya dan minum obat penenang untuknya. Semua
tekanan yang dialami Jungkook hari ini memberikan respon buruk untuk
kesehatannya. Kesadarannya pun menghilang. Jin yang sadar tubuh Jungkook akan
jatuh segera mendekapnya dalam pelukan. Jin memanggil nama Jungkook
berkali-kali untuk menyadarkan namja manis itu yang tiba-tiba saja pingsan. Tidak
ingin terjadi apa-apa pada namja yang dicintainya, dirinya segera membopong
tubuh yang lebih kecil darinya itu untuk masuk kedalam mobilnya. Jin menginjak
gas dengan kencang berharap namja yang dicintainya segera kembali sadar. Tidak
peduli akan rambu lalu lintas, klakson dari beberapa pengemudi, ataupun
gangguan lainnya. Jin tetap menginjak gas sekencang mungkin agar bisa membawa
Jungkook kerumah sakit.
Setibanya dirumah sakit jungkook langsung mendapatkan
perawatan di ruang ICU. Gelisah merasuki Jin yang sebelumnya hanya memberikan
respon dingin pada Jungkook. Tapi jika dirinya tau ini akan terjadi. Jin tidak
akan mau melakukan ini semua, rasa cintanya pada Jungkook masih tercipta
sempurna dihati Jin. Berjam-jam dokter memeriksa. Mencoba untuk menyandarkan
tubuhnya ke dinding sebuah tepukan dirasakan, dan dokterpun berada dihadapannya
sekarang.
“apa kau keluarganya?” tanya sang dokter pada Jin yang mulai
penasaran dengan keadaan pujaan hatinya. sebenarnya Jin ragu jika mengagguk
tapi sebaiknya dokter itu mengatakan apa yang dirinya ingin tahu. “saya salah
satu dari keluarganya. Ada apa dengan Jungkook dok?”
Dokter itupun menjelaskan sakit yang dialami Jungkook,
penyakit yang hanya dapat diobati di Amerika. Sebuah Kanker otak stadium 4,
yang baru-baru ini dideritanya mulai menjalar kedalam tubuh sang pasien. Itu
semua dikarenakan peralatan disana lebih memadai dibanding di korea sendiri.
Mendengar itu Jin tercengang tidak bisa berfikir kembali akan kata-kata yang
diucapkan sang dokter. ‘Bagaimana mungkin
Jungkook memiliki riwayat penyakit kanker? Sejak kapan?’ Gumamnya dalam
hati. Kalau memang benar Jungkook memiliki sakit kenapa Hal-abeojinya tidak mengatakan
apa-apa pada Jin. Kenapa Jin harus mengetahui dari orang lain seperti ini. Tidak
bisa. Jin tidak bisa
meninggalkan jungkook dalam keadaan seperti ini. Tubuh jin
berlutut lemas dengan kabar yang baru saja didengarnya. Dokter mengerti bahwa
namja didepannya itu butuh penjelasan yang membuat dirinya mengerti lebih jauh.
Setelah diizinkan dokter untuk melihat
keadaan namja yang dicintainya. Jin langsung memasuki pintu kamar ICU. Dirinya menangkap
wajah pucat disana, tubuh lemas, serta alat-alat yang menempel pada tubuhnya.
Ini belum sempurna kata sang dokter, lalu ketika di Amerika apakah lebih dari
ini? Apakah Jungkook berjuang sendiri disana dan mengapa tidak mengatakan
tentang ini semua padanya. Jin sebelumnya telah menghubungi hal-abeoji
Jungkook, dan 45 menit menunggu diruang rawat Jungkook. Hal-abeoji Jungkook dan
satu orang namja telah datang.
“jin? Apa dokter mengatakan sesuatu padamu?” rasa takut
terlihat dari wajah sang hal-abeoji Jungkook. Jin hanya mengangguk karena telah
megetahui semuanya.
“waeyo hal-abeoji? Kenapa anda tidak memberi tahuku tentang
ini semua? WAEYO?!”
“aniyo. Harusnya kau tidak boleh mengetahui ini semua. Aku
sudah berjanji pada Jungkook untuk tidak memberi tahu ini semua padamu. Aku
juga tidak tahu bahwa Jungkook akan bertemu denganmu lagi malam ini” lanjut
sang hal-abeoji Jungkook yang mengelus helaian poni Jungkook. “apa alasannya
hal-abeoji merahasiakan ini?! Waeyo aku tidak diberitahu?”
“ini semua Jungkook yang memintanya. Dia berfikir akan
kembali ke Korea setelah penyakitnya bisa dioperasi dengan cepat. Tapi ternyata
dokter meminta dirinya untuk menjalani kemoterapi yang membutuhkan waktu lama. Jungkook
hanya tidak mau kau khawatir dan memandang sebelah mata dirinya hanya karena
penyakitnya” hal-abeoji yang telah menjelaskan menepuk-nepuk pundak Jin yang
memang sudah dikenalnya selama berhubungan dengan cucunya. Bagi hal-abeoji
perasaan Jin sangat dirinya mengerti. Karena hanya Jin lah yang selama ini
memberikan semua perhatian pada cucu tercintanya.
“padahal Jungkook kembali sehat setelah kembali kekorea.
Apakah kau mengatakan sesuatu padanya Jin-sshi? Aku Jung Ho Seok asisten tuan
Ji Hyun” tanya Ho Seok yang memandang keras pada Jin. Jin mengangguk “aku
memutus hubungan dengan Jungkook”. Tidak ada rasa benci pada wajah keduanya.
Kejadian ini memang sudah mereka ketahui sebelumnya akan terjadi. hal-abeoji
Jungkook membelai surai lembut rambut Jungkook “jungkook meminta ku agar
dirinya segera berobat ke Amerika tanpa memberi tahumu alasan yang sebenarnya.
Dirinya tidak mau kau sedih ketika tahu Jungkook harus menghadapi operasi di
sana yang kemungkinan kecil dirinya akan selamat nantinya. Tapi selama terapi yang
seharusnya dijalani selama setahun, jungkook tidak sanggup dan selalu bermimpi
ingin bertemu denganmu kembali. Maka dari itu aku memutuskan untuk kembali
dengan syarat dari dokter di Amerika Jungkook harus tetap tersenyum dan tidak
boleh memiliki tekanan sedikitpun. Itu akan sedikit menghambat perkembangan
dari kankernya”
Hal-abeoji Jungkook duduk disamping tempat tidur sang cucu
satu-satunya “hanya jungkook yang ku punya, rasa cintanya padamu sangat besar
nak Jin. Aku berharap ketika jungkook sadar nantinya, pura-puralah kau tidak
mengetahui ini semua”
Jin mengangguk, mengerti akan setiap perkataan hal-abeoji
Jungkook yang begitu mencintai cucu satu-satunya. Sekarang jin tau alasan
mengapa Jungkook sangat ingin pergi ke Amerika. Jin diminta Jung Ho Seok untuk
kembali pulang kerumahnya, dan membiarkan mereka yang menjaga Jungkook. Jika
jungkook sadar jin berada di ruangan rawat dan sedang melihatnya sakit itu akan
semakin mempengaruhi kesehatan Jungkook kembali. Permintaan Jung Ho Seok
disetujui Jin. Namja itu memohon pamit untuk kembali kerumahnya terlebih dulu,
dan kembali lagi besok hanya untuk memastikn Jungkook baik-baik saja.
Hal-abeoji Jungkook senang mendengar itu semua.
-
[ Kediaman Kim Seok Jin ]
Rapmon menunggu Jin diruang tamu, dirinya sangat gelisah dan
penasaran dengan apa yang terjadi ketika mereka bertemu. Ketika suara mobil
sahabatnya itu terdengar dengan cepat Rapmon berlari ke arah pintu utama.
Wajahnya sangat kusut terlihat. Rapmon ingin memastikan namun Jin tidak
merespon keberadaan sahabatnya itu.
“apa yang terjadi? Apa kau kembali padanya?” tanyanya namun
masih tidak mendapatkan komentar apapun, rapmon hanya dilewatinya. Terpaksa
tangan Jin ditarik hingga kembali menghadapnya. “katakan padaku apa yang
terjadi”
Saat itulah Jin meneteskan air matanya satu demi satu,
wajahnya memerah. Jin sangat kacau saat ini. Rapmon mencoba menenangkan
tangisan Jin, dirinya tidak percaya akan membuat sahabatnya sekacau ini. “namja
itu pasti mengatakan sesuatu padamu! Sialan!” rapmon yang hendak pergi ditahan
Jin. Jin menangis bukan mengingat keadaan Jungkook tapi kecewa akan dirinya
sendiri yang tidak mengetahui keadaan kekasihnya.
Jimin yang sebelumnya kembali dari kamar mandi mendengar
suara Jin yang sedang menangis. Kebiasaan mengupingnya kembali. Sejujurnya
bukan dirinya suka menguping melainkan Jimin hanya tidak ingin menganggu setiap
suasana yang sedang tidak mengenakan. Pendengarannya menangkap suara tangisan
yang dikeluarkan seorang Kim Seok Jin. ‘ada apa sebenarnya’ tanyanya dalam
hati.
“Jungkook sakit serius dan aku tidak tahu itu, harusnya aku
sebagai kekasihnya tahu semua tentang dirinya. Tapi... aku...”
Rapmon tidak percaya dengan apa yang diceritakan sahabatnya,
bahwa Jungkook mengidap penyakit. Itu terjadi secara-tiba-tiba. Dan membuat Jungkook
frustasi ketika menghadapinya. Rapmon hanya bisa menepuk-nepuk pundak
sahabatnya itu mencoba untuk mengerti setiap detail dari cerita yang
diucapkannya. “aku hanya namja bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang kekasih ku
sendiri yang berjuang untuk hidupnya” lanjutnya dengan isakan tertahan.
“aku mengenal Jungkook, Jin-sshi. Namja itu kuat dan selalu
ceria. Tenangkan dirimu”
“bagaimana aku bisa tenang! Aku benci diriku sendiri! Aku
benci ketika ada namja lain yang hampir saja membuatku berpaling dari Jungkook!
Aku benci diriku yang seenaknya saja membiarkan hatiku hampir terbuka untuknya!
Namja yang selalu membuatku kesal setiap harinya..”
“siapa yang kau maksud?” tanya Rapmon memastikan itu bukan
Jimin.
“kau tau siapa yang kumaksud” Jin memalingkan pandangannya,
dengan masih tetap berbicara “aku berjanji tidak akan memperdulikan namja itu
sama sekali. Hanya namja itu”
Rapmon yang mendengar itu terkejut ketika wajah Jimin
terlihat saat Jin mengatakan apa yang seharusnya tidak didengarnya. Tepat
dibelakang Jin, tubuh mungil itu terlihat. Jimin seperti merasakan haus yang
luar biasa, bibir mungil itu digigit kecil. Rasanya aneh ketika mendengar
pembicaraan ini. Mungkin seharusnya Jimin tidak berada di kediaman Jin untuk
saat ini. Bahkan mungkin untuk selama-lamanya. Jin yang melihat pandangan
Rapmon mengarah kebelakangnya, membuat dirinya penasaran dengan apa yang
dilihatnya. Dan sosok menyebalkan itu kembali terlihat. ‘apa namja itu
mendengar yang kukatakan? Tidak. Aku tidak perduli namja itu mendengarnya atau
tidak’ batinnya berbicara. Jimin yang masih mematung mulai melepas gigitan dari
bibirnya dan dengan perlahan menggerakan bibir itu hingga menciptakan suara.
“aku... kesini... hanya...ingin berterima kasih.
Nasehatmu... aku lakukan..” suara itu terpotong-potong, Rapmon sadar namja
mungil itu sakit hati ketika mendengar apa yang diucapkan Jin. “hanya itu...”
lirihnya semakin terdengar. Jin bertahan dengan tidak memperdulikan Jimin yang
mulai akan menangis. Dengan cepat mantel yang digunakan Jimin dijadikan lap
untuk menghapus air matanya yang akan menetes. “apa ini? Haha sepertinya aku
mulai kelelahan. Aku harus pulang, maaf sudah mengganggu” jimin melewati Jin
dan Rapmon yang berdiri tegak mematung.
“Park Jimin” suara Jin terdengar namun Jimin tidak berniat
menoleh. “lupakan tempat tinggalku. Jangan kemari lagi” jimin semakin sakit
ketika penolakan akan kehadirannya diutarakan Jin. Rapmon yang mendengar itu
tidak terima dengan keputusan sahabatnya itu.
“apa yang kau lakukan! Tidak seharusnya kau berkata seperti
itu padanya, kau terlalu egois dalam bersikap! Kau akan membuat namja itu
membencimu selamanya” rapmon mengejar Jimin yang berlari dengan kencang. Jin
semakin stres menghadapi ini semua. Dirinya hanya ingin mencintai seseorang
dengan tenang. Entah siapa Jungkook atau Jimin yang sekarang dicintainya.
Semenjak kehadiran Jimin masuk kedalam hati Jin, dirinya mulai gelisah. Es yang
sudah Jin siapkan meleleh begitu saja ketika mendapatkan perlakuan dari namja
menyebalkan itu. lalu sekarang apa yang dapat Jin lakukan ketika ada 2 nama
namja berada di hatinya.
“aaarrgghhhh!!” teriak Jin menghancurkan seisi ruang tamu.
-
-
Cuaca mulai mendung, Rapmon berharap dirinya dapat menemukan
Jimin sebelum hujan turun mengguyur seluruh tubuhnya. Namja itu masih berlari
mencari sosok mungil yang dikenalinya. Hujan mulai jatuh tetes demi tetes,
membuat seisi kota Seoul mulai tak terlihat akibat derasnya air yang membuat
kabut tebal. Rapmon terlambat dan tidak menemukan Jimin dimanapun. Dengan
terpaksa namja itu pergi ke Apartemen Jimin untuk memastikan Jimin telah
kembali atau belum. Rasa khawatir mulai merasukinya.
Setelah mobil terparkir di Lobby, rapmon segera pergi
ketempat kamar Jimin menggunakan Lift. Ketukan berkali-kali diberikan pintu
Apartemen namja mungil itu namun tidak ada respon dari orang dalam yang akan
segera membukanya. Berarti Jimin belum kembali dari luar, lalu kemana namja itu
pergi sebenarnya. Rapmon yang pundaknya ditepuk kaget ketika Kim Taehyung
berdiri dibelakangnya.
“tuan senang bertemu anda kembali, apa anda ingin bertemu
dengan Jiminnieku?” layaknya seperti anak kucing wajah Tae Hyung. Namja itu
meminta masuk namja yang telah menolong Jimin beberapa waktu lalu. Tidak tahu
harus menjelaskan apa pada Hyungnya saat nanti Rapmon menceritakan bahwa Jimin
hilang. “anuu..” gusar Rapmon tidak membuat mulutnya berucap untuk menjelaskan
kondisi sekarang. Pintu apartemen telah terbuka dari luar, tidak ada pilihan
selain Rapmon menjelaskan ini semua saat didalam ruangan. Apartemen Jimin dan
Tae Hyung memang hanyalah sebuah petakan yang ruang tamu, ruang makan, dan
kamar tidur dapat terlihat dari pintu. Dan saat itulah Rapmon mulai menarik
nafas lega saat melihat Jimin telah tertidur dengan selimut tebal menutupi
seluruh tubuhnya.
“silahkan, akan aku panggilkan Jiminnie—“ sebelum Tae Hyung
bergerak kearah Jimin, rapmon mencegahnya.
“aniyo.. aku hanya ingin melihat keadaannya saja, aku tidak
ingin mengganggu istirahatnya. Terlebih lagi jangan memanggilku tuan terus saat
kita bertemu. Namaku Kim Nam Joon, kau bisa memanggilku Rapmon” mendengar itu
Tae Hyung tersenyum dengan tetap dalam aktivitasnya, sedang membereskan barang
belanjaan yang baru saja dibelinya.
“Kim Tae Hyung imnida, kau bisa memanggilku Tae Tae jika
tidak mau menggunakan kata Hyung padaku” mereka terlihat tertawa saat
perkenalan yang diberikan Taehyung. Rapmon sedikit janggal dengan nama marga
yang digunakan Tae Hyun dengan Jimin berbeda. Kim dan Park?
“bukankah Jimin bermarga Park Jimin kenapa kau bermarga Kim
Tae Hyung?”
“aku dan jimin bukanlah saudara kandung, kedua orang tuaku
mengangkatnya ketika Jimin berusia 3 tahun. Sebetulnya perubahan nama Park
Jimin sudah dipikirkan kedua orang tuaku, tapi Eomma ku meminta agar nama
pemberian orang tua Jimin tidak diubah. Karena itu adalah satu-satunya pemberian
dari orang tua kandung Jimin”
Rapmon mulai mengangguk mengerti. Tae Hyung memasukan
makanannya kedalam kulkas sebelum dihangatkan dan disantap nanti malam. “kau
pasti sangat menyanyangi Jimin, mengingat kedua orang tuamu sepertinya sangat
memberikan perhatian pada namja itu. kau tidak memiliki rasa iri padanya?”
Tawa kecil Tae Hyung terdengar, namja itu meletakan sebuah
jamuan Teh khas daerah busan. “apa yang harus aku iri kan? Bagiku apa yang baik
untuk Jimin itu akan menjadi sesuatu yang baik untukku juga. Hanya Jimin
satu-satunya yang aku miliki saat ini, dan aku hanya menginginkan
kebahagiaannya selalu terlihat diwajahnya. Aku tidak membiarkan siapapun
menyakitinya. Itu janjiku” saat mengucapkan kata janji dalam kalimatnya, Rapmon
melihat tatapan sendu pada wajah Tae Hyung.
“kau Hyung yang sangat bijaksana” Rapmon mengambil Teh hangat yang disiapkan Taehyung sebelumnya.
“sebenarnya...aku lebih muda 3 bulan dari Jimin, tapi aku
meminta Appa dan Eomma ku agar Jimin yang menjadi dongsaeng dan aku yang
menjadi hyung untuknya. Itu membuat kedua orang tuaku tertawa geli termasuk aku
yang menikmati nya hingga sekarang hidup bersama Jimin. Aku sangat menyukai
sikap namja manis itu. Itu membuatku lebih terlihat hidup semenjak kedua orang tua ku
meninggal” pancaran mata Taehyung berubah ketika mengatakan sesuatu yang mengarah pada perasaannya. entahlah Rapmon harus mengatakan apa, hanya ada 1 pertanyaan yang membuat dirinya penasaran.
“maaf jika aku lancang menanyakan ini padamu. Apa
perasaanmu...” Rapmon yang belum selesai bicara menangkap wajah Tae Hyung yang
sedang menampilkan senyum tipis padanya.
“perasaan ku pada dongsaengku hanya lah sebatas Hyung untuknya,
walaupun kami bukan saudara kandung. Aku tidak bisa menepis itu semua. Menepis
kenyataan bahwa dia hanya akan menganggapku hyungnya”
Pembicaraan pun terus berlanjut hingga malam, entah
membicarakan apa hanya Rapmon dan Tae Hyung yang mengetahuinya. Jimin terbangun
dari tidurnya. Matanya melihat Rapmon sedang duduk dengan minuman hangat di
meja. Sepertinya namja itu sudah cukup lama di Apartemennya. Tanpa menegurnya
Jimin berjalan pergi menuju toilet. Tae Hyung aneh melihat sikap dingin Jimin
terpancar kearah namja yang telah menolongnya.
“apa kau bertengkar dengan dongsaenku?”
“aniyo, hanya kesalah pahaman” setelah menjelaskan keadaan
dan meyakinkan Jimin baik-baik saja di apartemen, Rapmon meminta izin untuk
pamit pulang. Tae Hyung mengantar namja itu hingga kedepan pintu Apartemen.
Setelah bayangan Rapmon menghilang dibalik tembok-tembok kamar apartemen, Tae
Hyung kembali memandang dongsaen kesayangannya. Jimin yang kembali dari toilet
meneruskan tidurnya dan Tae Hyung tidak ingin mengganggu istirahatnya.
-
-
Pagi yang sangat cerah dengan sisa sedikit-sedikit air
menetes dari dedaunan. Tae Hyung bangun lebih awal dari Jimin. Tidak lupa namja
itu membereskan setiap sudut apartemen sebelum membangunkan dongsaengnya untuk
bersiap-siap kesekolah. Setelah semuanya rapih Tae Hyung menuju tempat tidur
dan membangunkan Jimin dengan kegiatan biasanya. Menciumi Jimin hingga
terbangun. Terdengar Ekstrim bukan.
“yaaak! Seulki apa yang kau lakukaaann! Aku sudah banguuun
hentikaaan.....gelii taau!” jimin teriak karena tidak bisa menahan geli dari
setiap kecupan-kecupan yang menyentuh tubuhnya. Tae Hyung yang melihat kedua
mata Jimin telah terbuka sempurna, mulai menghentikan aksinya. “karena kau sudah
bangun, pergilah mandi dan segera makan sarapanmu” sentilan kecil mendarat di
hidung Jimin sebelum Tae Hyung beranjak dari tempat tidurnya. Jimin yang kesal
mulai mengambil handuk dan pergi untuk mandi.
25 menit Jimin bersiap-siap pergi kesekolah, sarapan yang
telah Tae Hyung siapkan segera dimakannya sampai habis tak tersisa. Jimin
sekarang mulai menerima pekerjaan yang Tae Hyung jalani dengan syarat dirinya
harus tetap dalam keadaan baik-baik saja. Sesuai dengan nasehat yang Jin
berikan. Mengingat Jin membuat dirinya tidak bersemangat saat mengikat tali
sepatu. Tidak diduga Tae Hyung melingkarkan syal tebal keleher Jimin dan
membuat namja itu sadar untuk melanjutkan kegiatannya.
“diluar sangat dingin, jaga kesehatanmu. Dan jangan pulang
ketika hujan turun”
“aku mengerti. Jaga dirimu juga Hyung. Aku pergi”
Jimin menutup pintu apartemen setelah berpamitan dengan Tae
Hyung. Rasanya dirinya tidak punya muka jika berhadapan dengan Jin ataupun
Rapmon nantinya. Semoga saja dirinya tidak bertemu dengan siapapun yang akan
membuat buruk suasana hatinya kembali. Langkah demi langkah telah dicapai Jimin
sampai kegerbang sekolah, klakson mobil membuat dirinya harus sedikit
meminggirkan tubuhnya. Membiarkan mobil itu masuk terlebih dulu dibanding
dirinya. Seorang namja keluar dari mobil itu, namja yang membuat hatinya sesak.
Jimin melihat Jin sedang membantu seorang namja yang dirinya kenali sebagai
teman Kim Tae Hyung. Mungkinkah namja itu?
“jadi ini sekolahmu Jin-sshi?” jin mengangguk dengan
senyuman dan pesonanya yang tidak pernah diberikan oleh siapapun. Untuk pertama
kalinya Jimin melihat senyum Jin, seperti sedang menyayat hatinya menggunakan
pisau karat. Hembusan nafas terdengar berat dari Jimin, tanpa memperhatikan Jin
dan namja menyebalkan itu. Jimin melewati keduanya sebelum Jungkook
memanggilnya. “Jimin-sshi” panggil Jungkook dan membuat Jin menoleh kearah sang
pemilik nama. “kau bersekolah disini juga?” lanjut Jungkook bertanya. Jimin
ragu untuk merespon atau tidaknya panggilan itu, dengan berat hati Jimin
berpura-pura tidak mendengar mesti panggilan itu berulang kali terucap.
“apa dia membenciku ya?” wajah sedih kekasihnya terlihat,
membuat Jin merasa bersalah kembali.
Tangan besar Jin menyentuh kepala Jungkook
dan merapikan helaian rambut kekasihnya yang berantakan terkena angin. “dia
hanya tidak mendengarmu, nanti akan kupanggilkan Jimin untukmu”
“jin-sshi apa kau tidak ingin tahu kenapa aku bisa mengenal
Hyung nya Jimin-sshi?”
“aniyo, bagiku untuk sekarang itu semua tidak penting. Aku
hanya menginginkan dirimu berada disampingku dan jangan coba-coba meninggalkan
ku lagi seperti dulu” tangan Jungkook diletakan dipipi Jin, agar Jin dapat
merasakan suhu dingin tidak menguasai tubuh kekasihnya. Wajah Jungkook memerah
bahagia ketika mendapatkan perlakuan seperti itu. sama seperti dulu. Cinta
mereka tidak akan pernah terpisahkan oleh siapapun selain takdir berkata lain.
“aku akan menjemputmu kembali” pinta Jungkook.
“aniyo kau tidak boleh menjemputku. Aku yang nanti akan ke
rumahmu untuk menemanimu minum obat. Aku ingin kau tetap istirahat dirumah
tanpa memikiran sesuatu yang memberatkan dirimu. Kau mengerti?”
“ini yang tidak aku suka jika kau mengetahui sakitku. Kau
tau bukan jika aku benci jika dilarang-larang. Aku kan hanya anemia”
“akan kubawakan sesuatu untukmu jika kau menuruti kemauanku.
Bagaimana?” jungkook setuju jika kejutan diberikan padanya. Setelah membantu
Jungkook kembali masuk mobil, Jin menunggu mobil Jungkook pergi terlebih dulu
baru masuk kelasnya. Jin memandang setiap tetesan air hujan yang pagi ini
kembali turun. Sama halnya dengan Jin, Jimin juga memandang setiap tetesan
hujan ditempat lain.
Setelah kembalinya Jungkook dalam hidup Jin, ada sesuatu
yang membuat namja itu masih gelisah. Entah apa itu. rasa sesak yang Jin
rasakan saat ditinggal Jungkook masih terukir jelas dalam hatinya.
“apa yang
terjadi sebenarnya dengan diriku?” pakaian yang dikenakan Jin sebelumnya rapih
mulai berantakan seiring berjalannya waktu disekolah. Berjam-jam namja itu
berada dikelas tidak ada ilmu yang menyangkut dalam ingatannya. Pikirannya
rusak, tidak berfungsi dengan baik akhir-akhir ini.
Berbeda dengan Jimin, namja itu jadi sering mencatat
mengingat kerja keras yang Hyungnya lakukan untuknya. Setiap ada kesempatan
Jimin selalu menggunakan waktu istirahatnya untuk belajar diperpustakaan.
Baginya untuk sekarang cinta adalah nomor 2 lagipula rasa sakit yang Jimin
rasakan tidak wajar. Bagaimana mungkin dirinya menyukai namja yang selalu
bertengkar dengannya. itu hal yang mustahil dipercayai. Lebih baik sekarang
namja itu memikirkan Hyungnya saja. Waktu begitu cepat berlalu, namun hujan
masih saja turun. Sepertinya Jimin tidak bisa kembali pulang jika cuaca terus
seperti ini. Apa dirinya nekat saja. Mana mungkin. Semua isi tasnya akan basah
nantinya kalau memaksakan. Jimin menggosok-gosok tubuhnya yang sedikit terkena
basah, kebiasaan ini juga biasa namja itu lakukan untuk mengusir dingin. Saat
Jimin setia menunggu hujan berhenti tepat di area perpustakaan. Jin tiba-tiba
saja berada disampingnya. Namja mungil itu memalingkan pandangannya agar tidak
melihat namja yang tidak ingin menemui dirinya.
“aku berjanji tidak akan memperdulikan namja itu sama sekali. Hanya
namja itu”
Sebaiknya Jimin segera lenyap dari pandangan namja
disampingnya. Secara nekat Jimin menginjak genangan air dan melewati tetesan
air hujan yang begitu deras. Tidak peduli dengan apapun bahkan buku
pelajarannya yang basah tidak namja itu perdulikan. Yang terpenting rasa sakit
yang dirasakannya tidak terasa kembali. Biarkan air hujan membuat seluruh
tubuhnya memucat karena rasa dingin. Melihat jimin berlari menembus derasnya
air hujan, hanya dapat mengingatkan Jin akan perkataan kasar yang mungkin
membuat namja itu sakit hati. Jin tidak bergerak untuk mengejar langkah Jimin.
Sepertinya keadaan ini akan semakin rumit dirasakannya.
-
Rapmon yang baru saja keluar dari Cafe kecil untuk membeli
minuman hangat mendapati seorang namja mungil yang dikenalinya sedang berlari
ditengah derasnya air hujan. Namja itu ingat bahwa Cafe yang dirinya singgahi
tidak jauh dari sekolah sahabatnya Kim Seok Jin. Dan dirinya yakini
penglihatannya tidak salah bahwa namja mungil yang berlari itu adalah Park
Jimin. Rapmon memasuki mobilnya menarik pedal gas dan mengemudikannya mengikuti
arah lari namja mungil itu.
‘jika jimin terus-terusan terkena hujan dirinya
bisa sakit’ pikir Rapmon khawatir. Namja itu mencari dengan gigih mengingat
hujan yang deras ini menciptakan kabut tebal yang mengganggu pandangannya
didalam mobil. dengan terpaksa Rapmon harus sangat sabar untuk mengetahui
keberadaan Jimin saat ini. Tidak lama mencari-cari hingga matanya lelah menatap
fokus kearah setiap sudut Seoul yang tertutupi kabut. Rapmon berhasil menangkap
sosok Jimin yang masih berlari tanpa berniat untuk berteduh. Kemudi itu
diarahkan Rapmon menuju ketempat Jimin berada. Jimin tidak memperhatikan sebuah
mobil mengikutinya, dirinya hanya ingin pulang tanpa memikirkan apa-apa lagi.
Sebuah tangan menariknya untuk masuk kedalam mobil. dan Jimin melihat wajah Kim
Nam Joon atau Rapmon sedang berada tepat dihadapannya. Jimin dipaksa untuk
berteduh didalam mobilnya, karena kalah kuat Jimin pun terseret masuk kedalam.
Tubuh pucatnya sudah tidak sanggup untuk melawan ataupun menolak tawaran baik
seseorang terlebih lagi itu Rapmon.
“kenapa kau nekat seperti ini? taehyung pasti akan
memarahimu” Rapmon mengeringkan rambut Jimin yang basah menggunakan jaket yang
disimpannya dikursi belakang mobil. jimin tidak merespon ucapan Rapmon,
bibirnya membeku akibat dinginnya suhu. Penghangatpun di nyalakan semaksimal
mungkin didalam mobilnya. Melihat wajah pucat Jimin, Rapmon kembali terfokus
betapa manisnya namja dihadapannya. Pantas jika Jin begitu menyukai Jungkook.
Perasaan itu memang datang begitu saja, tidak memperdulikan jenis dan datang
kepada siapa. Rapmon akui sekarang bahwa dirinya menyukai Jimin. Namja mungil
yang sedang tertidur dimobilnya.


aku udah baca epep ini dari chap awal sampe yg terbaru dan itu udah 2 kali aku bacanya, tapi gak bosen hehehe
ReplyDeletega bosen karena bias kita samaa Chimchim:3 terimakasih yaa chingu >//<
ReplyDeleteciyeh rapmon ciyeh duh jd yaoi jg dy gegara chim wkwk duh susah mank jd uke kawaii mcem chim. diperebutin
ReplyDeletetuh kan ap aq blg, tae itu suka chim. chim jg harusnya krn dy slalu salting klo dket tae. ugh so sweet. biar jinkook bersatu ja
awww^3^ akuu juga berfikir seperti ituuu..uke kawaii wkwkwk~
ReplyDeletejinkook bersatu bagaimanaa yaa??:O ikuti kelanjutannya terusXD
Makin seru aja, nih Boy In Love. Dapet inspirasi dari mana sih? :D
ReplyDeletedapet inspirasi dari otak fujoshi Author :D
Deletehahaha, emang fujoshi imajinasinya selalu tinggi
DeleteHaaaa.... kenapa Jin jadi jatuh di dua hati begini? kasian, padahal baru aja lepas dai bayang2 Junkook
ReplyDeleteHay Jiyuu,, di 2 hati kaya judul lagu:p hehe makasih ditunggu tetus ya jejakmu><
Deleteaahh apa jin kembali membuka hatinya untuk jungkook ?
ReplyDeletetrus taetae jiminnya gimana ?
ohhh rapmon jatuh hati ya ama jimin cieeee
keren thor
Hay KhArmy.. makasih sudah memberikan kelangsungan hidup^^ Author akan terus berjuang :3
Delete