Xiuhan.Lumin Love is WAR Chapter 3
“tenangkan dirimu,
jangan jadi pengecut. Kau harus ingat bahwa dirimu adalah Block Buster yang
telah kupilih dari banyaknya namja terkuat” mendengar itu Lee Min Hyuk mulai
kembali fokus akan Ahn Jaehyo yang berada disampingnya. “lupakan apa yang kau
tentang Xi Luhan. kau adalah yang terbaik Lee Min Hyuk” lanjut Ahn Jaehyo
membangun rasa percaya sebelumnya telah hilang dari diri Lee Min Hyuk.
setelah misinya
gagal merekapun memutuskan untuk kembali ke Markas Block Buster tanpa membawa
Kim Minseok.
“kudengar kau menghadapi 6
namja bertubuh besar di sekolah putraku?” tanya kris dengan meminum coffe
kesukaannya yang masih hangat. “nde? Aku memang menghadapinya tuan karena itu
sudah menjadi tugasku” balas Luhan dengan tenang.
“tidak salah jika aku
memilihmu, bagaimana keadaan putraku? Apa dia terluka?”
“dia bersih tidak terluka
tuan”
Kris sangat puas dengan
tanggung jawab dari pekerjaan Xi Luhan. dengan begitu Kris akan lebih tenang
meninggalkan Korea untuk mengurusi pekerjaannya di jepang. “mendengar
pekerjaanmu aku sangat puas, besok aku akan pergi ke Jepang untuk membawa
beberapa gadis dan mengurusi tanah yabakune yang belum kudapatkan”
“apa kau tidak akan
menemui Minseok sebentar?” pertanyaa Luhan membuat Kris menghentikan
kegiataannya meminum coffe. Jika berurusan dengan putranya namja itu tidak
pernah berniat untuk serius dalam bicara.
“kau tau aku sangat ingin
bermain dengan putraku, bahkan lama sekali memiliki waktu bersamanya. Tapi itu
malah akan menyakiti dirinya nanti. Lebih baik Minseok membenci diriku
terus-menerus dibanding aku melukai dirinya lebih lama”
“minseok mengatakan padaku
bahwa dirinya tidak perduli akan perkerjaan ataupun nyawanya, dia hanya ingin
memiliki waktu dengan anda”
“terimakasih sudah
menyampaikan perasaan putraku. Tapi itu mustahil Luhan dan kau tau alasannya”
perbincangan mereka berakhir saat kris mengizinkan Luhan untuk keluar dari
ruangannya. Dengan anggukan Luhan pun mohon izin meninggalkan ruangan.
Kris yang melihat luhan
telah menutup pintu ruangannya pun mulai berfikir rasa bersalah karena putranya
terlahir sebagai putra seorang Mafia. Dirinya ingin sekali merasakan hal yang
biasanya seorang ayah dan anaknya lakukan walaupun hanya sehari. Namun jika
kris melakukan itu sama saja dirinya membahayakan Minseok lebih jauh.
-
Luhan melihat namja manis
itu yang begitu berharap akan pertemuan kedua dengan ayahnya. Mungkinkah luhan
tega mengatakan bahwa ayahnya tidak akan bertemu dengannya dalam waktu yang
cukup lama terlebih lagi ayah Minseok akan ppergi kejepang untuk bisnis
haramnya. Mata kucing Minseok menangkap sosok Luhan yang telah keluar dari
ruangan ayahnya.
“luhaan.. bagaimana??!”
tanya nya penasaran dengan genggaman yang cukup kuat memegang pergelangan
tangan luhan. dari wajah Luhan namja manis itu sadar bahwa ayahnya masih tidak
bisa memenuhi keinginan Luhan untuk bertemu dengan putranya sendiri. “kau jangan
kecewa”
“tidak apa-apa luhan, aku
tidak terlalu berharap kok. Karena aku sudah tau jawaban ayah.. aku akan kembali
kekamar” minseok yang memalingkan wajahnya, berlari menuju kamarnya tanpa
memandang luhan sedikitpun. Luhan yang mengejar Minseok dengan cukup tenang
menemukan pintu kamar namja manis itu dalam keadaan terkunci. Mungkin Minseok
meminta ketenangan sesaat dan luhan pun hanya bisa menunggu diluar pintu kamar
Minseok.
Didalam kamar Minseok,
namja manis itu menangis dengan menekan bantal dalam tangisannya berusaha untuk
tetap tenang dalam pandangan orang lain walaupun sebenarnya Minseok sangat
rapuh hatinya. Yang dirinya inginkan hanya berbicara dengan seorang ayah yang
dekat dengannya namun seperti terasa jauh.
-
Luhan yang cukup lama
menunggu diluar kini telah dibukakan pintu oleh Kim Minseok. Mata bengkak, pipi
yang lembab seperti terkena air, serta rambut yang berantakan menunjukan namja
manis itu cukup frustasi menghadapi sikap ayahnya yang sama sekali tidak mau
bertemu dengannya. luhan yang mencoba untuk menyentuh pipi minseok ditepis
langsung, “kau menangis?” tanya luhan. “gwenchana” balas singkat Minseok sambil
kembali merebahkan tubuhnya kedalam dekapan ranjangnya. Luhan merasa bersalah
karena tidak bisa mengatakan sejujurnya pada Minseok bahwa ayahnya akan
berangkat kejepang besok, tapi sepertinya ini sudah cukup menyakitkan Minseok.
“tenangkan dirimu, sudah
waktunya kau beristirahat. Jika tidak kau akan lelah untuk kesekolah besok”
ujar Luhan pada minseok yang masih terjaga. Minseok mulai memberikan tanggapan
dengan pembicaraan yang luhan berikan. “luhan kau punya keluarga? Seperti apa
keluargamu?” minseok duduk manis menghadap Luhan yang berdiri di samping
Jendela yang memperlihatkan kondisi halaman rumah Minseok.
“aku tidak punya keluarga”
luhan membalas enteng pertanyaan yang Minseok berikan, “kemana memang
keluargamu? Berarti kau sama sepertiku?”
“kau dan aku berbeda, kau
masih memiliki ayah walaupun dia tidak memiliki waktu untukmu”
“apa bedanya? Memiliki
ayah yang tidak ada waktu bertemu dengan tidak punya ayah? Bukan kah sama-sama
tidak bertemu” kesal minseok sambil mengeratkan pegangannya dengan guling yang
dipeluknya.
“kau akan bertemu dengan
ayahmu nanti, tapi jika kau tidak memiliki ayah kau tidak akan bertemu
dengannya selamanya”
Minseok memandang wajah
luhan yang kembali melembut tanpa ada suhu dingin disekitarnya, namja manis itu
menyukai pandangan lembut yang luhan berikan ketika berbicara dengan dirinya.
Tapi itu mustahil Minseok katakan pada Luhan. “kenapa kau merelakan nyawamu
demi orang lain luhan?”
“aku tidak melakukan itu,
itu semua hanya menjadi kesenangan yang kulakukan. Walaupun taruhannya adalah
nyawamu atau nyawaku”
Jawaban luhan membuat
Minseok tidak percaya dengan apa yang namja itu dengar. Namja itu melakukan
pekerjaan yang mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk bersenang-senang?
“kau gila mengatakan itu?
kau fikir nyawa bisa kembali jika kau kehilangannya karena bersenang-senang”
luhan terkejut melihat minseok yang berlari kearahnya dengan teriakan cukup
kencang. “kau fikir ini semua hanya permainan, aku semakin tidak menyukai
keberadaanmu Xi Luhan! aku benci dengan orang yang seenaknya menganggap
nyawanya itu tidak berharga. Jika kau ingin mati jangan mati karena aku!!”
tatapan kucing dengan alis menekuk ketengah membuat mata itu sedikit tajam
dalam pandangan luhan. luhan sedikit tertawa melihat wajah khawatir minseok pada
dirinya.
Minseok menatap aneh
kearah Luhan yang berdiri tegak didepannya “apa yang kau tertawakan!? Apa kau
benar-benar gila Xi Luhan?!!”
“kau mengenal namaku cukup
baik Kim Minseok, aku sudah berjanji padamu tidak akan mati karenamu. Kau
ingatkan?”
Wajah Luhan yang terkena
sinar bulan memperlihatkan ketampanannya yang sesungguhnya, matanya bersinar,
rambut pirangnya terlihat cerah, dan senyuman tipis Luhan membuat jantung
minseok bergemuruh. Minseok memalingkan wajahnya yang pastinya saat ini berwarna
merah padam saat hatinya bergemuruh tadi. “apa yang terjadi” bisiknya pelan
berusaha untuk tidak terdengar luhan. luhan yang melihat keanehan Kim Minseok
menyentuh bahu minseok yang membelakanginya “kau kenapa?”.
“aku akan tidur” minseok
menutupi wajahnya seperti yeoja yang sedang menutupi rasa malunya. Gemuruh
hatinya membuat Minseok salah tingkah dengan sikapnya keluhan. ‘kenapa aku? Aku
namja, luhan juga namja. Perasaanku kenapa begitu terpesona akan ketampanan
luhan tadi’. ‘aku tidak mungkin menyukai luhan’ minseok merasa gelisah dan
tidak mampu untuk tidur dengan tenang. Luhan yang melihat minseok didalam
selimut tidak berhenti bergerak mencoba untuk menarik selimut yang digunakan
untuk menutupi tubuh minseok. Dan disitulah Luhan melihat rona merah yang
begitu terlihat diwajah Kim Minseok. “kau demam” tanya luhan sedikit polos.
“aniyo... aniyo.. tidak
aku tidak demam..kau jangan seenaknya menarik selimutku rusa menyebalkan!!”
Tiba-tiba tangan Luhan
mendarat di kening minseok, dan wajahnya mendekatkan kewajah manisnya. Rona
merah itu semakin tidak terkontrol dan luhan sadari itu adalah rasa malu yang
minseok tunjukan padanya. “kau malu padaku?” masih tetap dalam posisinya luhan
tesernyum menggoda minseok. “mana... mana.. mana mungkin! Aku... ish!” minseok
mengambil kembali selimutnya dan menutupi tubuh mungil itu kembali.
-
-
[ Keesokan pagi ]
Minseok mempersiapkan
dirinya untuk pergi kesekolah kembali dan telah berjanji pada luhan untuk tidak
mencoba kabur darinya seperti sebelumnya. Setelah semuanya siap, namja manis
itu pergi menuju mobilnya dimana Luhan telah menunggu. Melihat wajah Luhan pagi
ini mengingatkan ketika sinar bulan memperlihatkan ketampanan Luhan yang
sesunggunya. Dengan cuek Minseok melewati namja yang dirinya panggil ‘rusa’ dan
memasuki mobil mewahnya. Luhan mengetuk pelan kaca mobil kursi belakang, dan
Minseok tentu saja menurunkan kaca yang sebelumnya menutup.
“kau ingat janjimu Kim
Minseok”
Minseok hanya berdengus
dan mengangguk “nde, aku ingat” ucapnya dengan terpaksa. Dan luhan pun
mengemudikan mobilnya meninggalkan pekarangan Kediaman Kim Minseok.
Tidak membutuhkan waktu
lama sekitar 25 menit, minseokpun telah tiba disekolahnya. “minseok-ah”
panggilan luhan menghentikan namja manis itu yang hendak meninggalkan mobilnya.
“kau harus ingat kembali, jika kau mengulangi kesalahanmu aku tidak akan
memberikan kebebasan padamu lagi dalam keadaan apapun. Kau mengerti”. Minseok
hanya mempoutkan bibir kecilnya dan itu berhasil membuat luhan menahan tawanya.
Luhan pun memandangi punggung minseok yang semakin jauh semakin menghilang
dibalik bangunan sekolah.
-
Minseok memasuki ruangan
kelasnya, disambut beberapa teman terdekatnya Baekhyun dari keluarga Byun serta
Kyungsoo dari keluarga biasa yang mampu masuk kesekolahnya dengan beasiswa.
Semua itu tidak membuat minseok memandang status sosial temannya, karena
kehangatan keluarga mereka lebih terasa hidup dibandingkan kehangatan
keluarganya. Itu semua membuat minseok terkadang iri pada mereka.
“tuan muda Minseok” ledek
Baekhyun pada Minseok yang baru datang, “kau mau kupukul” balas minseok dengan
bengis.
“aku hanya bercanda ish..
kau sudah lama tidak kesekolah, kemana saja?” tanya baekhyun yang duduk
disamping Kim Minseok
Baekhyun ataupun Kyungsoo
tidak mengetahui asal usul keluarga Kim Minseok yang ayahnya seorang Mafioso
dan selalu berurusan dengan polisi Korea. “kau sakit?” tanya kyungsoo dengan
lembut.
“tidak.. aku tidak
apa-apa. terimakasih sudah bertanya” minseok tersenyum pada 2 sahabatnya yang
selalu perduli akan kesehatan dirinya. Minseok sebenarnya cukup penasaran
dengan aktivitas yang Luhan lakukan ketika tidak menjaganya. Seorang namja
paruh baya pun memasuki ruangan kelas dan memulai aktivitas belajarnya.
Luhan yang masih fokus
memperhatikan ruangan kelas Minseok, sedikit memandang kearah kanan kiri
parkiran. Seperti ada seseorang yang sedang mengawasi setiap gerak-geriknya
“keluarlah” perintah luhan. dan benar 12 namja bertubuh lebih besar dari Luhan
dengan senjata pemukul mengelilingi pembunuh sadis itu. luhan hanya memandang
tenang dan cukup dingin sambil menyamankan posisi kepalanya yang cukup terasa
pegal karena harus menengok kanan-kiri berulang kali.
“kau Xi Luhan!!?” teriak
salah satu namja yang hitam legam dan berotot. Luhan tidak menjawab dan hanya
menatap sinis kearah 12 namja yang mengepungnya. Dengan sekali hentakan
seseorang memukul luhan dari belakang namun tidak berhasil menjatuhkan namja
itu, luhan masih berdiri kokoh menghadapnya dari belakang. “bagaimana mungkin?!
Aku memukulnya cukup keras!” 12 namja yang menyaksikan itu mendengar suara tawa
luhan yang terdengar sedikit mengerikan. Luhan pun memulai kebrutalannya
menghabisi nyawa orang tanpa persiapan senjata. Dan alhasil namja itu berhasil
menghabisi 12 namja yang bertubuh besar dalam waktu 15 menit dengan pukulan
yang luhan rebut dari salah satu namja yang membawa senjata. Luhan masih
memukul tanpa ampun hingga kepala seluruh 12 namja itu hancur berkeping-keping
seperti diblender dengan mesin blender. Namja itu melakukannya dengan senyuman
ala psikopat, yang haus akan darah segar. Baju yang terkena darah itupun
digantinya didalam mobil. Dengan cepat Luhan kembali bersih seperti sebelum
membunuh seseorang. beberapa satpam yang menyaksikan mayat 12 namja berserakan
pun langsung menelpon polisi dan memintanya untuk segera datang kealamat yang
mereka berikan.
Ketika suara bel sekolah
Minseok berbunyi, seluruh murid pun berhamburan keluar. Semua murid yang
penasaran akan kedatangan banyak polisi disekolahnya pun menciptakan lingkaran
untuk melihat ‘apa yang sedang terjadi’. Luhan yang masih diam dengan wajah
polos menanti kedatangan Kim Minseok yang berada pada urutan terakhir dari
kerumunan murid yang berlarian keluar. Namja manis itu yang telah keluar dan
mencoba untuk mengikuti langkah teman-temannya yang penasaran akan kedatangan
polisi tertahan oleh Luhan yang tiba-tiba berdiri menghadangnya.
“kau? Minggir aku ingin
lihat apa yang terjadi disana. Kenapa banyak polisi datang kesekolah ku?”
perintah Minseok tidak digubris Luhan, “kita harus segera pulang” lengan
Minseok ditarik Luhan untuk segera menuju mobil dan menjauhi tempat terjadinya
pembunuhan. Minseok yang meronta tidak diperdulikan, Luhan masih memegang
lengan namja itu hingga memasuki mobilnya. Setelah Minseok masuk, Luhan segera
menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan sekolah Minseok.
-
[ Markas Block Buster ]
“sudah kukatakan namja
bernama Xi Luhan itu adalah seorang psikopat. Dia gila Jaehyo. Jika kau
menyuruhku ataupun yang lain melakukan pengepungan terus menerus sama saja kau
mengurangi pasukan mu secara perlahan” Lee Min Hyuk yang cukup tau banyak
tentang namja bernama Xi Luhan itupun mencoba untuk menasehati sang Ketua Block
Buster akan kekalahan sia-sia jika melawan Luhan. Ahn Jaehyo yang merasa
diremehkan berfikir keras untuk melawan Xi Luhan pasti ada kelemahan yang
dimiliki Luhan dan itu bisa menjatuhkannya. Beberapa namja mendekati Ahn Jaehyo
setelah mendapatkan isyarat dari sang Ketua. “ikuti mereka” titah Ahn Jaehyo
pada namja bernama Park Kyung dan Lee Tae il. Setelah mendapatkan komando untuk
segera pergi, merekapun meninggalkan rombongan dan mengambil arah berlawanan
mengikuti jejak Xi Luhan dengan motor besarnya.
Ahn Jaehyo yang sudah
tidak punya urusan di depan sekolah Kim Minseok pun pergi dan hanya tinggal
menunggu informasi apa yang akan diberikan 2 bawahan kesayangannya itu.
Park Kyung melajukan motor
besarnya cukup kencang agar bisa mengejar Xi Luhan yang telah pergi duluan
meninggalkan sekolah Minseok. Beberapa kilometer yang mereka tempuh pun
akhirnya menemukan keberadaan mobil yang Luhan bawa. luhan yang mengerti akan
penguntit dibelakangnya, tidak mengambil jalur ketempat kediaman Minseok dan
mengambil arah lain. “waeyo? Rumah ku kan belom kanan, kenapa kau kekiri?!”
minseok yang bertanya hanya mengeratkan pegangannya ketika Luhan menginjak
pedal gas cukup kencang. “yaak! Pelankan mengemudimu Xi Luhan!”.
Luhan masih terfokus pada
penguntit yang masih mengikutinya dari belakang. namja itu berusaha mencari
tempat sepi agar dirinya bisa menjatuhkan pengendara motor yang mengikutinya
dari belakang. saat menemukan sebuah lahan kosong, luhan memakirkan mobilnya ke
area dekat sungai. Sama halnya dengan Luhan sang penguntitpun mengikuti mobil
itu dan memakirkan motornya ke dekat sungai. Minseok yang masih bingung melihat
satu motor berhenti dibelakang mobilnya “apa yang terjadi? Penguntit?”
pertanyaan Minseok hanya dibalas dengan sebuah isyarat tangan Luhan yang
memegang 2 tangannya dan meletakan ke arah kedua mata Minseok “tunggu disini,
dan jangan mengintip” itulah pendengaran terakhir yang Minseok dengar setelah
pintu mobil tertutup dari luar. Minseok sebenarnya penasaran apa yang akan
luhan lakukan pada 2 penguntit yang mengikutinya. Tapi jika melawan ucapan
Luhan lagi nanti akan beresiko pada dirinya lagi entah itu dimarahi rusa
menyebalkan itu mendapat nasehat panjang lebar dan banyak hal lainnya yang
minseok tidak sukai pastinya.
Park Kyung dan Lee Tae il
yang melihat Luhan keluarpun segera membuka helmnya dan turun dari motor
besarnya. Mata dingin Luhan menatap setiap gerak gerik 2 namja yang telah
mengikutinya cukup lama. “ada urusan apa kalian mengikutiku?” mendapat
pertanyaan itu 2 namja suruhan Ahn Jaehyo menatap satu sama lain.
“namamu Xi Luhan?” tanya
Lee Tae Il kepada Luhan yang masih menjaga keamanan untuk sekeliling mobil
dimana Minseok berada. Park Kyung melemparkan beberapa berkas informasi
keluarga Xi Luhan “aku tau kau membantai seluruh keluargamu hanya untuk uang
bukan? Bagaimana jika kau bekerja sama dengan kami. Serahkan putra Kris maka
bayaran yang kau dapat dari kris akan kami bayar2x lipat” luhan memiringkan
kepalanya setelah park kyung selesai bicara. Ini sebuah sogokan.
“kau tidak perlu membunuh
lagi, cukup serahkan namja yang berada didalam mobil itu Luhan” mata luhan
melirik kearah Minseok yang masih setia mendengarkan perintah Luhan untuk tidak
mengintip dengan kegiatan yang akan Luhan lakukan. Luhan kembali mengfokuskan
diri pada 2 namja yang berada dihadapannya “jika tidak?”, lee tae il tersenyum
“ini hanya sebuah negoisasi luhan, kami tidak berniat bertarung denganmu”.
Luhan melangkah mendekati park kyung dan Lee tae il secara perlahan. Nafsu
membunuh Luhan mulai terlihat jika mata dingin sudah difokuskan ke sumber
objeknya. Park Kyung dan Lee Tae Il mulai memisahkan diri dengan arah yang
berbeda tanpa mau mendekati diri dengan Luhan.
“aku sedang tidak ingin
bermain lama, mendekatlah padaku maka kematian kalian tidak akan kubuat sakit”
luhan hanya diam di tengah-tengah jarak antara Park Kyung dengan Lee Tae Il.
Setelah memberikan kode, 2 namja itu berlari mendekati mobil dimana Minseok
berada. Luhan yang melihat arah lari 2 namja itu langsung mengejarnya.
Minseok yang masih menutup
kedua matanya merasakan seseorang menariknya keluar dengan kasar “luhan?”
tanyanya dengan menebak. Sebelum diizinkan untuk membuka mata, minseok tidak
berani untuk membuka kedua matanya. Park Kyung yang telah memegang pergelangan
tangan minseok mendapatkan hantaman keras dari tendangan Luhan, minseok yang
hampir terjatuh karena terlepas dari genggaman park Kyung didekap Luhan dengan
cepat. “tetap tutup matamu” printah luhan dan mendapatkan anggukan dari
Minseok. Minseok berada dalam dekapan Luhan saat ini.
Masih dengan jarak jauh
Park Kyung dan Lee Tae Il mencari cara untuk mengetahui kelemahan sang Pembunuh
sadis Luhan. secara bersamaan park kyung dan lee tae il memberikan serangan
pada luhan dan itu berhasil mengenai area belakang luhan karena namja itu fokus
melindungi Kim Minseok. Tetap dalam kondisi tenang Luhan bertahan pada setiap
serangan yang park kyung dan lee tae il arahkan pada Kim Minseok. Sekarang
mereka mengerti tentang kelemahan namja sadis ini. Park kyung dan Lee tae il
pun kembali ke motor besarnya meninggalkan luhan dan minseok disana. Luhan
cukup bingung apa sebenarnya yang mereka rencanakan dengan keanehan yang baru
saja mereka buat. Menguntit, menyerang, lalu pergi? Bukankah tujuan mereka
menangkap Kim Minseok.
Luhan yang melihat Minseok
masih menutup matanya cukup terpesona akan wajah manis yang dimiliki namja satu
ini. Tapi dalam setiap pekerjaan luhan, dirinya sudah memegang prinsip untuk
tidak menggunakan perasaannya karena akan berakibat fatal nantinya. Tangan
luhan mengelus helaian poni minseok yang sedari tadi tertiup angin dan menutupi
keindahan itu. saat perlakuan Luhan dirasakan tanpa aba-aba mata kucing itu
terbuka dan menatap kembali netra atau pandangan Luhan. minseok merasakan angin
segar mengelilingi dirinya dan luhan saat ini. Suara sungai yang mengalir
menjadi alunan indah pada pendengaran mereka. Luhan mulai mendekatkan diri,
membenturkan hidungnya dengan milik Kim Minseok.
Saat namja manis itu mulai
menutup kedua mata kucingnya kembali, sesuatu mencubit pipi chubbynya “baozi
genit” ujar Luhan. mendapatkan perlakuan licik Luhan, Minseok mempoutkan bibir
mungilnya menunjukan bahwa dirinya kesal akan tindakannya. Saat ini Minseok
sangat malu karena salah tingkah akan sikapnya pada namja dihadapannya. Dengan
cepat Minseok membuka mobilnya dan masuk meninggalkan Luhan yang terdiam diluar
mobil.
“rusa menyebalkan, rusa
menyebalkan!” runtuknya sambil memainkan ibu jarinya, ketika Luhan telah
memasuki mobil dan duduk didepan kursi mengemudi. Namja manis itu memalingkan
wajahnya menatap luar jendela Mobil tapi tiba-tiba Luhan menarik leher Minseok
dan mencium namja manis itu dengan lembut. Mata bulat Minseok tercipta namun
sentuhan Luhan membuat Minseok menikmati setiap kegiatan luhan pada dirinya.
Lidah luhan mencoba untuk menerobos untuk memasuki bibir Minseok yang kecil dan
itu berhasil. Setelah merasakan sesak pada pernafasan masing-masing mereka,
Luhan menghentikan kegiatannya dan mulai melajukan mobilnya menuju kediaman
Minseok tanpa berani memandang namja yang telah diciumnya. Mereka sibuk dengan
fikirannya masing-masing.
Tidak lama dalam
perjalanan mobil yang Luhan kendarai memasuki halaman yang besar ketika pintu
pagar besi terbuka. Minseok berlari memasuki rumahnya, tidak peduli dengan
pandangan luhan kepada dirinya nanti. Chanyeol yang sedang mengambil berkas tertinggal
milik Ayah Minseok melihat namja manis yang dia sukai berlari cukup kencang
dengan wajah bersemu menuju kamarnya. Melihat itu semua chanyeol merasa sesuatu
terjadi pada Minseok dan namja sombong itu.
“apa yang kau lakukan pada
Minseok” chanyeol menghampiri luhan yang telah selesai memakirkan mobil yang
dia gunakan untuk antar jemput Minseok kesekolah. Luhan hanya tersenyum dan
bicara seperlunya pada namja tinggi yang menghalanginya memasuki rumah “aku
tidak melakukan apa-apa”.
“aku tidak percaya padamu,
tidak mungkin minseok berlari seperti tadi dengan wajah merah jika tidak
terjadi apa-apa” tangan kekar Luhan mencengkram kemeja yang digunakan Luhan dan
mengangkat namja yang lebih kecil darinya untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya
“apa yang kau lakukan padanya brengsek!” teriak chanyeol. Luhan memukul tubuh
chanyeol dengan lututnya, dan berhasil lepas dari cengkraman namja tinggi itu.
kerah luhan yang berantakan dibenarkan Luhan keposisi semula. “kau bukan
tandinganku, dan aku tidak ingin membunuhmu”. Chanyeol merasa jijik mendengar
nada sombong dari mulut Luhan. pukulan yang chanyeol berikan kearah Luhan
ditahan Luhan, mereka pun berada tekanan pada masing-masing tangan mereka.
Chanyeol yang mulai merasa sakit pada area genggaman Luhan berusaha untuk
melepaskan diri namun percuma. ‘mengapa tenaga namja kecil itu sakit sekali’
rintih chanyeol menahan sakitnya.
“aku bilang, aku tidak
ingin membunuhmu” terang Luhan. luhan melepaskan genggamannya dari tangan
chanyeol dengan sedikit dorongan kebelakang. Tangan chanyeol cukup merah
setelah digenggam Luhan, luhan yang melirik arlojinyapun pergi meninggalkan
Chanyeol yang meringis karena ulahnya.
“aku—.” Luhan terhenti dan
menoleh kearah Chanyeol yang berusaha mengatakan sesuatu sambil menahan perih.
“aku tidak akan membiarkan minseok menyukaimu, kau harus sadar bahwa kau adalah
seorang pembunuh! Sedangkan minseok dia tidak pernah menyentuh darah
sekalipun”lanjut chanyeol.
“jangan terlalu banyak
bermimpi bisa bersama minseok, kau harus ingat posisi mu Xi Luhan!” lanjut
Chanyeol.
Luhan sebenarnya sadar
akan posisinya sangat sadar jika dirinya hanyalah seseorang yang kotor karena
terlalu sering membunuh orang. Bahkan keluarganya pun dirinya yang bunuh. Dan
kata-kata yang chanyeol tunjukan pada dirinya itu adalah kebenaran yang ada.
Tapi...
“kau fikir, kau pantas
untuk Minseok?” luhan membalikan kembali kata-kata Chanyeol. “kau harus juga
sadar akan posisimu Chanyeol-sshi, dan kau tidak perlu takut aku atapun minseok
tidak akan memiliki perasaan satu sama lain. Karena aku hanya bertugas
melidunginya hingga dia benar-benar berada pada posisi aman. Kau jelas?” luhan
melanjutkan langkahnya memasuki ruangan meninggalkan chanyeol sendirian yang hanya menatapnya dari
belakang.
To be continue...


Comments
Post a Comment