Xiuhan.Lumin Love is WAR Chapter 3




“tenangkan dirimu, jangan jadi pengecut. Kau harus ingat bahwa dirimu adalah Block Buster yang telah kupilih dari banyaknya namja terkuat” mendengar itu Lee Min Hyuk mulai kembali fokus akan Ahn Jaehyo yang berada disampingnya. “lupakan apa yang kau tentang Xi Luhan. kau adalah yang terbaik Lee Min Hyuk” lanjut Ahn Jaehyo membangun rasa percaya sebelumnya telah hilang dari diri Lee Min Hyuk.


setelah misinya gagal merekapun memutuskan untuk kembali ke Markas Block Buster tanpa membawa Kim Minseok.

“kudengar kau menghadapi 6 namja bertubuh besar di sekolah putraku?” tanya kris dengan meminum coffe kesukaannya yang masih hangat. “nde? Aku memang menghadapinya tuan karena itu sudah menjadi tugasku” balas Luhan dengan tenang.

“tidak salah jika aku memilihmu, bagaimana keadaan putraku? Apa dia terluka?”

“dia bersih tidak terluka tuan”

Kris sangat puas dengan tanggung jawab dari pekerjaan Xi Luhan. dengan begitu Kris akan lebih tenang meninggalkan Korea untuk mengurusi pekerjaannya di jepang. “mendengar pekerjaanmu aku sangat puas, besok aku akan pergi ke Jepang untuk membawa beberapa gadis dan mengurusi tanah yabakune yang belum kudapatkan”

“apa kau tidak akan menemui Minseok sebentar?” pertanyaa Luhan membuat Kris menghentikan kegiataannya meminum coffe. Jika berurusan dengan putranya namja itu tidak pernah berniat untuk serius dalam bicara.

“kau tau aku sangat ingin bermain dengan putraku, bahkan lama sekali memiliki waktu bersamanya. Tapi itu malah akan menyakiti dirinya nanti. Lebih baik Minseok membenci diriku terus-menerus dibanding aku melukai dirinya lebih lama”

“minseok mengatakan padaku bahwa dirinya tidak perduli akan perkerjaan ataupun nyawanya, dia hanya ingin memiliki waktu dengan anda”

“terimakasih sudah menyampaikan perasaan putraku. Tapi itu mustahil Luhan dan kau tau alasannya” perbincangan mereka berakhir saat kris mengizinkan Luhan untuk keluar dari ruangannya. Dengan anggukan Luhan pun mohon izin meninggalkan ruangan.

Kris yang melihat luhan telah menutup pintu ruangannya pun mulai berfikir rasa bersalah karena putranya terlahir sebagai putra seorang Mafia. Dirinya ingin sekali merasakan hal yang biasanya seorang ayah dan anaknya lakukan walaupun hanya sehari. Namun jika kris melakukan itu sama saja dirinya membahayakan Minseok lebih jauh. 

-

Luhan melihat namja manis itu yang begitu berharap akan pertemuan kedua dengan ayahnya. Mungkinkah luhan tega mengatakan bahwa ayahnya tidak akan bertemu dengannya dalam waktu yang cukup lama terlebih lagi ayah Minseok akan ppergi kejepang untuk bisnis haramnya. Mata kucing Minseok menangkap sosok Luhan yang telah keluar dari ruangan ayahnya.

“luhaan.. bagaimana??!” tanya nya penasaran dengan genggaman yang cukup kuat memegang pergelangan tangan luhan. dari wajah Luhan namja manis itu sadar bahwa ayahnya masih tidak bisa memenuhi keinginan Luhan untuk bertemu dengan putranya sendiri. “kau jangan kecewa”

“tidak apa-apa luhan, aku tidak terlalu berharap kok. Karena aku sudah tau jawaban ayah.. aku akan kembali kekamar” minseok yang memalingkan wajahnya, berlari menuju kamarnya tanpa memandang luhan sedikitpun. Luhan yang mengejar Minseok dengan cukup tenang menemukan pintu kamar namja manis itu dalam keadaan terkunci. Mungkin Minseok meminta ketenangan sesaat dan luhan pun hanya bisa menunggu diluar pintu kamar Minseok.

Didalam kamar Minseok, namja manis itu menangis dengan menekan bantal dalam tangisannya berusaha untuk tetap tenang dalam pandangan orang lain walaupun sebenarnya Minseok sangat rapuh hatinya. Yang dirinya inginkan hanya berbicara dengan seorang ayah yang dekat dengannya namun seperti terasa jauh.

-

Luhan yang cukup lama menunggu diluar kini telah dibukakan pintu oleh Kim Minseok. Mata bengkak, pipi yang lembab seperti terkena air, serta rambut yang berantakan menunjukan namja manis itu cukup frustasi menghadapi sikap ayahnya yang sama sekali tidak mau bertemu dengannya. luhan yang mencoba untuk menyentuh pipi minseok ditepis langsung, “kau menangis?” tanya luhan. “gwenchana” balas singkat Minseok sambil kembali merebahkan tubuhnya kedalam dekapan ranjangnya. Luhan merasa bersalah karena tidak bisa mengatakan sejujurnya pada Minseok bahwa ayahnya akan berangkat kejepang besok, tapi sepertinya ini sudah cukup menyakitkan Minseok.

“tenangkan dirimu, sudah waktunya kau beristirahat. Jika tidak kau akan lelah untuk kesekolah besok” ujar Luhan pada minseok yang masih terjaga. Minseok mulai memberikan tanggapan dengan pembicaraan yang luhan berikan. “luhan kau punya keluarga? Seperti apa keluargamu?” minseok duduk manis menghadap Luhan yang berdiri di samping Jendela yang memperlihatkan kondisi halaman rumah Minseok.

“aku tidak punya keluarga” luhan membalas enteng pertanyaan yang Minseok berikan, “kemana memang keluargamu? Berarti kau sama sepertiku?”

“kau dan aku berbeda, kau masih memiliki ayah walaupun dia tidak memiliki waktu untukmu”

“apa bedanya? Memiliki ayah yang tidak ada waktu bertemu dengan tidak punya ayah? Bukan kah sama-sama tidak bertemu” kesal minseok sambil mengeratkan pegangannya dengan guling yang dipeluknya.

“kau akan bertemu dengan ayahmu nanti, tapi jika kau tidak memiliki ayah kau tidak akan bertemu dengannya selamanya” 

Minseok memandang wajah luhan yang kembali melembut tanpa ada suhu dingin disekitarnya, namja manis itu menyukai pandangan lembut yang luhan berikan ketika berbicara dengan dirinya. Tapi itu mustahil Minseok katakan pada Luhan. “kenapa kau merelakan nyawamu demi orang lain luhan?”

“aku tidak melakukan itu, itu semua hanya menjadi kesenangan yang kulakukan. Walaupun taruhannya adalah nyawamu atau nyawaku”

Jawaban luhan membuat Minseok tidak percaya dengan apa yang namja itu dengar. Namja itu melakukan pekerjaan yang mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk bersenang-senang?

“kau gila mengatakan itu? kau fikir nyawa bisa kembali jika kau kehilangannya karena bersenang-senang” luhan terkejut melihat minseok yang berlari kearahnya dengan teriakan cukup kencang. “kau fikir ini semua hanya permainan, aku semakin tidak menyukai keberadaanmu Xi Luhan! aku benci dengan orang yang seenaknya menganggap nyawanya itu tidak berharga. Jika kau ingin mati jangan mati karena aku!!” tatapan kucing dengan alis menekuk ketengah membuat mata itu sedikit tajam dalam pandangan luhan. luhan sedikit tertawa melihat wajah khawatir minseok pada dirinya.

Minseok menatap aneh kearah Luhan yang berdiri tegak didepannya “apa yang kau tertawakan!? Apa kau benar-benar gila Xi Luhan?!!”

“kau mengenal namaku cukup baik Kim Minseok, aku sudah berjanji padamu tidak akan mati karenamu. Kau ingatkan?” 

Wajah Luhan yang terkena sinar bulan memperlihatkan ketampanannya yang sesungguhnya, matanya bersinar, rambut pirangnya terlihat cerah, dan senyuman tipis Luhan membuat jantung minseok bergemuruh. Minseok memalingkan wajahnya yang pastinya saat ini berwarna merah padam saat hatinya bergemuruh tadi. “apa yang terjadi” bisiknya pelan berusaha untuk tidak terdengar luhan. luhan yang melihat keanehan Kim Minseok menyentuh bahu minseok yang membelakanginya “kau kenapa?”.

“aku akan tidur” minseok menutupi wajahnya seperti yeoja yang sedang menutupi rasa malunya. Gemuruh hatinya membuat Minseok salah tingkah dengan sikapnya keluhan. ‘kenapa aku? Aku namja, luhan juga namja. Perasaanku kenapa begitu terpesona akan ketampanan luhan tadi’. ‘aku tidak mungkin menyukai luhan’ minseok merasa gelisah dan tidak mampu untuk tidur dengan tenang. Luhan yang melihat minseok didalam selimut tidak berhenti bergerak mencoba untuk menarik selimut yang digunakan untuk menutupi tubuh minseok. Dan disitulah Luhan melihat rona merah yang begitu terlihat diwajah Kim Minseok. “kau demam” tanya luhan sedikit polos.

“aniyo... aniyo.. tidak aku tidak demam..kau jangan seenaknya menarik selimutku rusa menyebalkan!!”

Tiba-tiba tangan Luhan mendarat di kening minseok, dan wajahnya mendekatkan kewajah manisnya. Rona merah itu semakin tidak terkontrol dan luhan sadari itu adalah rasa malu yang minseok tunjukan padanya. “kau malu padaku?” masih tetap dalam posisinya luhan tesernyum menggoda minseok. “mana... mana.. mana mungkin! Aku... ish!” minseok mengambil kembali selimutnya dan menutupi tubuh mungil itu kembali.

-
-


[ Keesokan pagi ]

Minseok mempersiapkan dirinya untuk pergi kesekolah kembali dan telah berjanji pada luhan untuk tidak mencoba kabur darinya seperti sebelumnya. Setelah semuanya siap, namja manis itu pergi menuju mobilnya dimana Luhan telah menunggu. Melihat wajah Luhan pagi ini mengingatkan ketika sinar bulan memperlihatkan ketampanan Luhan yang sesunggunya. Dengan cuek Minseok melewati namja yang dirinya panggil ‘rusa’ dan memasuki mobil mewahnya. Luhan mengetuk pelan kaca mobil kursi belakang, dan Minseok tentu saja menurunkan kaca yang sebelumnya menutup.
“kau ingat janjimu Kim Minseok”

Minseok hanya berdengus dan mengangguk “nde, aku ingat” ucapnya dengan terpaksa. Dan luhan pun mengemudikan mobilnya meninggalkan pekarangan Kediaman Kim Minseok.

Tidak membutuhkan waktu lama sekitar 25 menit, minseokpun telah tiba disekolahnya. “minseok-ah” panggilan luhan menghentikan namja manis itu yang hendak meninggalkan mobilnya. “kau harus ingat kembali, jika kau mengulangi kesalahanmu aku tidak akan memberikan kebebasan padamu lagi dalam keadaan apapun. Kau mengerti”. Minseok hanya mempoutkan bibir kecilnya dan itu berhasil membuat luhan menahan tawanya. Luhan pun memandangi punggung minseok yang semakin jauh semakin menghilang dibalik bangunan sekolah.

-

Minseok memasuki ruangan kelasnya, disambut beberapa teman terdekatnya Baekhyun dari keluarga Byun serta Kyungsoo dari keluarga biasa yang mampu masuk kesekolahnya dengan beasiswa. Semua itu tidak membuat minseok memandang status sosial temannya, karena kehangatan keluarga mereka lebih terasa hidup dibandingkan kehangatan keluarganya. Itu semua membuat minseok terkadang iri pada mereka.

“tuan muda Minseok” ledek Baekhyun pada Minseok yang baru datang, “kau mau kupukul” balas minseok dengan bengis.

“aku hanya bercanda ish.. kau sudah lama tidak kesekolah, kemana saja?” tanya baekhyun yang duduk disamping Kim Minseok

Baekhyun ataupun Kyungsoo tidak mengetahui asal usul keluarga Kim Minseok yang ayahnya seorang Mafioso dan selalu berurusan dengan polisi Korea. “kau sakit?” tanya kyungsoo dengan lembut.

“tidak.. aku tidak apa-apa. terimakasih sudah bertanya” minseok tersenyum pada 2 sahabatnya yang selalu perduli akan kesehatan dirinya. Minseok sebenarnya cukup penasaran dengan aktivitas yang Luhan lakukan ketika tidak menjaganya. Seorang namja paruh baya pun memasuki ruangan kelas dan memulai aktivitas belajarnya.

Luhan yang masih fokus memperhatikan ruangan kelas Minseok, sedikit memandang kearah kanan kiri parkiran. Seperti ada seseorang yang sedang mengawasi setiap gerak-geriknya “keluarlah” perintah luhan. dan benar 12 namja bertubuh lebih besar dari Luhan dengan senjata pemukul mengelilingi pembunuh sadis itu. luhan hanya memandang tenang dan cukup dingin sambil menyamankan posisi kepalanya yang cukup terasa pegal karena harus menengok kanan-kiri berulang kali.

“kau Xi Luhan!!?” teriak salah satu namja yang hitam legam dan berotot. Luhan tidak menjawab dan hanya menatap sinis kearah 12 namja yang mengepungnya. Dengan sekali hentakan seseorang memukul luhan dari belakang namun tidak berhasil menjatuhkan namja itu, luhan masih berdiri kokoh menghadapnya dari belakang. “bagaimana mungkin?! Aku memukulnya cukup keras!” 12 namja yang menyaksikan itu mendengar suara tawa luhan yang terdengar sedikit mengerikan. Luhan pun memulai kebrutalannya menghabisi nyawa orang tanpa persiapan senjata. Dan alhasil namja itu berhasil menghabisi 12 namja yang bertubuh besar dalam waktu 15 menit dengan pukulan yang luhan rebut dari salah satu namja yang membawa senjata. Luhan masih memukul tanpa ampun hingga kepala seluruh 12 namja itu hancur berkeping-keping seperti diblender dengan mesin blender. Namja itu melakukannya dengan senyuman ala psikopat, yang haus akan darah segar. Baju yang terkena darah itupun digantinya didalam mobil. Dengan cepat Luhan kembali bersih seperti sebelum membunuh seseorang. beberapa satpam yang menyaksikan mayat 12 namja berserakan pun langsung menelpon polisi dan memintanya untuk segera datang kealamat yang mereka berikan.

Ketika suara bel sekolah Minseok berbunyi, seluruh murid pun berhamburan keluar. Semua murid yang penasaran akan kedatangan banyak polisi disekolahnya pun menciptakan lingkaran untuk melihat ‘apa yang sedang terjadi’. Luhan yang masih diam dengan wajah polos menanti kedatangan Kim Minseok yang berada pada urutan terakhir dari kerumunan murid yang berlarian keluar. Namja manis itu yang telah keluar dan mencoba untuk mengikuti langkah teman-temannya yang penasaran akan kedatangan polisi tertahan oleh Luhan yang tiba-tiba berdiri menghadangnya.

“kau? Minggir aku ingin lihat apa yang terjadi disana. Kenapa banyak polisi datang kesekolah ku?” perintah Minseok tidak digubris Luhan, “kita harus segera pulang” lengan Minseok ditarik Luhan untuk segera menuju mobil dan menjauhi tempat terjadinya pembunuhan. Minseok yang meronta tidak diperdulikan, Luhan masih memegang lengan namja itu hingga memasuki mobilnya. Setelah Minseok masuk, Luhan segera menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan sekolah Minseok.

-


[ Markas Block Buster ]


“sudah kukatakan namja bernama Xi Luhan itu adalah seorang psikopat. Dia gila Jaehyo. Jika kau menyuruhku ataupun yang lain melakukan pengepungan terus menerus sama saja kau mengurangi pasukan mu secara perlahan” Lee Min Hyuk yang cukup tau banyak tentang namja bernama Xi Luhan itupun mencoba untuk menasehati sang Ketua Block Buster akan kekalahan sia-sia jika melawan Luhan. Ahn Jaehyo yang merasa diremehkan berfikir keras untuk melawan Xi Luhan pasti ada kelemahan yang dimiliki Luhan dan itu bisa menjatuhkannya. Beberapa namja mendekati Ahn Jaehyo setelah mendapatkan isyarat dari sang Ketua. “ikuti mereka” titah Ahn Jaehyo pada namja bernama Park Kyung dan Lee Tae il. Setelah mendapatkan komando untuk segera pergi, merekapun meninggalkan rombongan dan mengambil arah berlawanan mengikuti jejak Xi Luhan dengan motor besarnya.

Ahn Jaehyo yang sudah tidak punya urusan di depan sekolah Kim Minseok pun pergi dan hanya tinggal menunggu informasi apa yang akan diberikan 2 bawahan kesayangannya itu.

Park Kyung melajukan motor besarnya cukup kencang agar bisa mengejar Xi Luhan yang telah pergi duluan meninggalkan sekolah Minseok. Beberapa kilometer yang mereka tempuh pun akhirnya menemukan keberadaan mobil yang Luhan bawa. luhan yang mengerti akan penguntit dibelakangnya, tidak mengambil jalur ketempat kediaman Minseok dan mengambil arah lain. “waeyo? Rumah ku kan belom kanan, kenapa kau kekiri?!” minseok yang bertanya hanya mengeratkan pegangannya ketika Luhan menginjak pedal gas cukup kencang. “yaak! Pelankan mengemudimu Xi Luhan!”.

Luhan masih terfokus pada penguntit yang masih mengikutinya dari belakang. namja itu berusaha mencari tempat sepi agar dirinya bisa menjatuhkan pengendara motor yang mengikutinya dari belakang. saat menemukan sebuah lahan kosong, luhan memakirkan mobilnya ke area dekat sungai. Sama halnya dengan Luhan sang penguntitpun mengikuti mobil itu dan memakirkan motornya ke dekat sungai. Minseok yang masih bingung melihat satu motor berhenti dibelakang mobilnya “apa yang terjadi? Penguntit?” pertanyaan Minseok hanya dibalas dengan sebuah isyarat tangan Luhan yang memegang 2 tangannya dan meletakan ke arah kedua mata Minseok “tunggu disini, dan jangan mengintip” itulah pendengaran terakhir yang Minseok dengar setelah pintu mobil tertutup dari luar. Minseok sebenarnya penasaran apa yang akan luhan lakukan pada 2 penguntit yang mengikutinya. Tapi jika melawan ucapan Luhan lagi nanti akan beresiko pada dirinya lagi entah itu dimarahi rusa menyebalkan itu mendapat nasehat panjang lebar dan banyak hal lainnya yang minseok tidak sukai pastinya.

Park Kyung dan Lee Tae il yang melihat Luhan keluarpun segera membuka helmnya dan turun dari motor besarnya. Mata dingin Luhan menatap setiap gerak gerik 2 namja yang telah mengikutinya cukup lama. “ada urusan apa kalian mengikutiku?” mendapat pertanyaan itu 2 namja suruhan Ahn Jaehyo menatap satu sama lain.

“namamu Xi Luhan?” tanya Lee Tae Il kepada Luhan yang masih menjaga keamanan untuk sekeliling mobil dimana Minseok berada. Park Kyung melemparkan beberapa berkas informasi keluarga Xi Luhan “aku tau kau membantai seluruh keluargamu hanya untuk uang bukan? Bagaimana jika kau bekerja sama dengan kami. Serahkan putra Kris maka bayaran yang kau dapat dari kris akan kami bayar2x lipat” luhan memiringkan kepalanya setelah park kyung selesai bicara. Ini sebuah sogokan.

“kau tidak perlu membunuh lagi, cukup serahkan namja yang berada didalam mobil itu Luhan” mata luhan melirik kearah Minseok yang masih setia mendengarkan perintah Luhan untuk tidak mengintip dengan kegiatan yang akan Luhan lakukan. Luhan kembali mengfokuskan diri pada 2 namja yang berada dihadapannya “jika tidak?”, lee tae il tersenyum “ini hanya sebuah negoisasi luhan, kami tidak berniat bertarung denganmu”. Luhan melangkah mendekati park kyung dan Lee tae il secara perlahan. Nafsu membunuh Luhan mulai terlihat jika mata dingin sudah difokuskan ke sumber objeknya. Park Kyung dan Lee Tae Il mulai memisahkan diri dengan arah yang berbeda tanpa mau mendekati diri dengan Luhan.

“aku sedang tidak ingin bermain lama, mendekatlah padaku maka kematian kalian tidak akan kubuat sakit” luhan hanya diam di tengah-tengah jarak antara Park Kyung dengan Lee Tae Il. Setelah memberikan kode, 2 namja itu berlari mendekati mobil dimana Minseok berada. Luhan yang melihat arah lari 2 namja itu langsung mengejarnya.

Minseok yang masih menutup kedua matanya merasakan seseorang menariknya keluar dengan kasar “luhan?” tanyanya dengan menebak. Sebelum diizinkan untuk membuka mata, minseok tidak berani untuk membuka kedua matanya. Park Kyung yang telah memegang pergelangan tangan minseok mendapatkan hantaman keras dari tendangan Luhan, minseok yang hampir terjatuh karena terlepas dari genggaman park Kyung didekap Luhan dengan cepat. “tetap tutup matamu” printah luhan dan mendapatkan anggukan dari Minseok. Minseok berada dalam dekapan Luhan saat ini.


Masih dengan jarak jauh Park Kyung dan Lee Tae Il mencari cara untuk mengetahui kelemahan sang Pembunuh sadis Luhan. secara bersamaan park kyung dan lee tae il memberikan serangan pada luhan dan itu berhasil mengenai area belakang luhan karena namja itu fokus melindungi Kim Minseok. Tetap dalam kondisi tenang Luhan bertahan pada setiap serangan yang park kyung dan lee tae il arahkan pada Kim Minseok. Sekarang mereka mengerti tentang kelemahan namja sadis ini. Park kyung dan Lee tae il pun kembali ke motor besarnya meninggalkan luhan dan minseok disana. Luhan cukup bingung apa sebenarnya yang mereka rencanakan dengan keanehan yang baru saja mereka buat. Menguntit, menyerang, lalu pergi? Bukankah tujuan mereka menangkap Kim Minseok.


Luhan yang melihat Minseok masih menutup matanya cukup terpesona akan wajah manis yang dimiliki namja satu ini. Tapi dalam setiap pekerjaan luhan, dirinya sudah memegang prinsip untuk tidak menggunakan perasaannya karena akan berakibat fatal nantinya. Tangan luhan mengelus helaian poni minseok yang sedari tadi tertiup angin dan menutupi keindahan itu. saat perlakuan Luhan dirasakan tanpa aba-aba mata kucing itu terbuka dan menatap kembali netra atau pandangan Luhan. minseok merasakan angin segar mengelilingi dirinya dan luhan saat ini. Suara sungai yang mengalir menjadi alunan indah pada pendengaran mereka. Luhan mulai mendekatkan diri, membenturkan hidungnya dengan milik Kim Minseok. 

Saat namja manis itu mulai menutup kedua mata kucingnya kembali, sesuatu mencubit pipi chubbynya “baozi genit” ujar Luhan. mendapatkan perlakuan licik Luhan, Minseok mempoutkan bibir mungilnya menunjukan bahwa dirinya kesal akan tindakannya. Saat ini Minseok sangat malu karena salah tingkah akan sikapnya pada namja dihadapannya. Dengan cepat Minseok membuka mobilnya dan masuk meninggalkan Luhan yang terdiam diluar mobil.

“rusa menyebalkan, rusa menyebalkan!” runtuknya sambil memainkan ibu jarinya, ketika Luhan telah memasuki mobil dan duduk didepan kursi mengemudi. Namja manis itu memalingkan wajahnya menatap luar jendela Mobil tapi tiba-tiba Luhan menarik leher Minseok dan mencium namja manis itu dengan lembut. Mata bulat Minseok tercipta namun sentuhan Luhan membuat Minseok menikmati setiap kegiatan luhan pada dirinya. Lidah luhan mencoba untuk menerobos untuk memasuki bibir Minseok yang kecil dan itu berhasil. Setelah merasakan sesak pada pernafasan masing-masing mereka, Luhan menghentikan kegiatannya dan mulai melajukan mobilnya menuju kediaman Minseok tanpa berani memandang namja yang telah diciumnya. Mereka sibuk dengan fikirannya masing-masing.


Tidak lama dalam perjalanan mobil yang Luhan kendarai memasuki halaman yang besar ketika pintu pagar besi terbuka. Minseok berlari memasuki rumahnya, tidak peduli dengan pandangan luhan kepada dirinya nanti. Chanyeol yang sedang mengambil berkas tertinggal milik Ayah Minseok melihat namja manis yang dia sukai berlari cukup kencang dengan wajah bersemu menuju kamarnya. Melihat itu semua chanyeol merasa sesuatu terjadi pada Minseok dan namja sombong itu.


“apa yang kau lakukan pada Minseok” chanyeol menghampiri luhan yang telah selesai memakirkan mobil yang dia gunakan untuk antar jemput Minseok kesekolah. Luhan hanya tersenyum dan bicara seperlunya pada namja tinggi yang menghalanginya memasuki rumah “aku tidak melakukan apa-apa”.

“aku tidak percaya padamu, tidak mungkin minseok berlari seperti tadi dengan wajah merah jika tidak terjadi apa-apa” tangan kekar Luhan mencengkram kemeja yang digunakan Luhan dan mengangkat namja yang lebih kecil darinya untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya “apa yang kau lakukan padanya brengsek!” teriak chanyeol. Luhan memukul tubuh chanyeol dengan lututnya, dan berhasil lepas dari cengkraman namja tinggi itu. kerah luhan yang berantakan dibenarkan Luhan keposisi semula. “kau bukan tandinganku, dan aku tidak ingin membunuhmu”. Chanyeol merasa jijik mendengar nada sombong dari mulut Luhan. pukulan yang chanyeol berikan kearah Luhan ditahan Luhan, mereka pun berada tekanan pada masing-masing tangan mereka. Chanyeol yang mulai merasa sakit pada area genggaman Luhan berusaha untuk melepaskan diri namun percuma. ‘mengapa tenaga namja kecil itu sakit sekali’ rintih chanyeol menahan sakitnya.


“aku bilang, aku tidak ingin membunuhmu” terang Luhan. luhan melepaskan genggamannya dari tangan chanyeol dengan sedikit dorongan kebelakang. Tangan chanyeol cukup merah setelah digenggam Luhan, luhan yang melirik arlojinyapun pergi meninggalkan Chanyeol yang meringis karena ulahnya.

“aku—.” Luhan terhenti dan menoleh kearah Chanyeol yang berusaha mengatakan sesuatu sambil menahan perih. “aku tidak akan membiarkan minseok menyukaimu, kau harus sadar bahwa kau adalah seorang pembunuh! Sedangkan minseok dia tidak pernah menyentuh darah sekalipun”lanjut chanyeol.

“jangan terlalu banyak bermimpi bisa bersama minseok, kau harus ingat posisi mu Xi Luhan!” lanjut Chanyeol.

Luhan sebenarnya sadar akan posisinya sangat sadar jika dirinya hanyalah seseorang yang kotor karena terlalu sering membunuh orang. Bahkan keluarganya pun dirinya yang bunuh. Dan kata-kata yang chanyeol tunjukan pada dirinya itu adalah kebenaran yang ada.


Tapi...

“kau fikir, kau pantas untuk Minseok?” luhan membalikan kembali kata-kata Chanyeol. “kau harus juga sadar akan posisimu Chanyeol-sshi, dan kau tidak perlu takut aku atapun minseok tidak akan memiliki perasaan satu sama lain. Karena aku hanya bertugas melidunginya hingga dia benar-benar berada pada posisi aman. Kau jelas?” luhan melanjutkan langkahnya memasuki ruangan meninggalkan chanyeol  sendirian yang hanya menatapnya dari belakang. 


To be continue...

Comments

Popular Posts