Xiuhan.Lumin Love is WAR Chapter 4
“kau fikir, kau pantas untuk Minseok?” luhan membalikan kembali
kata-kata Chanyeol. “kau harus juga sadar akan posisimu Chanyeol-sshi, dan kau
tidak perlu takut aku atapun minseok tidak akan memiliki perasaan satu sama
lain. Karena aku hanya bertugas melidunginya hingga dia benar-benar berada pada
posisi aman. Kau jelas?” luhan melanjutkan langkahnya memasuki ruangan meninggalkan
chanyeol sendirian yang hanya menatapnya
dari belakang.
Sudah 1 jam lamanya
Minseok memandangi cermin yang memantulkan bayangannya sendiri. Berbagai
ekspresi namja itu bentuk meyakinkan sesuatu yang tidak dirinya percayai. ‘aku
seorang namja kan?’ gumamnya sambil membereskan kembali poni atau rambut yang
tidak berantakan sama sekali. Ketika minseok sadar akan kedatangan seseorang
menuju kamarnya namja itu langsung melompat ketempat tidur dan menutupi sebagaian
tubuhnya dengan selimut, berpura-pura tidur tepatnya.
Luhan memasuki kamar
minseok dan menemukan namja manis itu sedang tertidur. Merapikan selimut yang
minseok gunakan agar namja manis itu merasa nyaman dengan posisi tidurnya.
Wajah manis itu mencoba menggoda kembali untuk diciumnya. Mungkin tindakan
luhan sebelumnya telah kelewat batas, “harusnya aku tidak melakukan itu padamu.
Maafkan aku” sesalnya dengan suara cukup menyedihkan. Jantung minseok
bergemuruh kecewa mendengar penyesalah yang Luhan katakan pada dirinya. Rasanya
sakit. Padahal sebelumnya Minseok yakin akan perasaannya pada Luhan tapi
ternyata itu hanya kesalah pahaman yang namja itu berikan pada Minseok.
“maafkan aku Minseok-ah”
luhan memeluk minseok begitu erat, namja manis itu ingin membalas tapi... tidak
melakukannya.
-
Ahn Jaehyo tersenyum saat
mendapatkan sesuatu yang benar-benar dirinya perlukan untuk melawan Xi Luhan.
ternyata Kim Minseok berpengaruh cukup besar akan kesuksesan Block Buster,
tidak hanya mejatuhkan seorang Mafioso yang cukup terkenal tapi pembunuh sadis
yang menjadi incaran balas dendam. “pemenenang itu yang menggunakan otak bukan
otot” senyuman licik terukir diwajah Ahn Jaehyo. Park Kyung dan Lee Tae Il yang
memberikan informasi akan pengaruh besar Kim Minseok terhadap Xi Luhan maupun
Kris menunggu perintah kelajutan tugasnya. Lee Min Hyuk yang sadar sedang
menjadi pusat perhatian Ahn Jaehyo menatap kembali tatapan sang Ketua itu.
“kau masih takut pada Xi
Luhan, Min Hyuk?”
“aku tidak pernah takut
pada siapapun Jaehyo, aku hanya memberi tahumu tentang Xi Luhan agar kau tidak
menyesal nantinya”
“haha kau baik sekali Lee
Min Hyuk” Ahn Jaehyo memeluk Min Hyuk dan meminta namja itu melakukan pekerjaan
“minta bantuan pada namja bernama Park Chanyeol, kudengar namja itu menyukai
Minseok” bisik Jaehyo hanya pada Min Hyuk, “nde, aku mengerti”.
Lee Min Hyuk meninggalkan
markas Block Buster, tanpa satupun pengikut dari Ahn Jaehyo yang mengikutinya.
“Park Chanyeol” foto yang menggambarkan namja tinggi itupun dibakar Jaehyo dan
menjatuhkannya kelantai.
-
“kau tidak perlu mengkhawatirkan Xi Luhan yang dekat dengan Kim
Minseok, namja itu sudah benar-benar terlatih akan tanggung jawabnya.
Chanyeollie!” tegas seorang namja yang berada disebrang Korea tepatnya dijepang
“bagaimana keadaan putraku?” lanjutnya.
“tuan muda baik-baik saja,
tapi seandainya tuan melihat wajah Minseok saat itu anda pasti tahu dengan apa
yang saya pikirkan”
“chanyeollie kau harus ingat posisimu disana hanya mengawasi sesuai
keinginamu, jika kau mengambil tindakan sedikit saja kupatahkan lehermu”
“nde, aku mengerti”
Sambungan yang
menghubungkan mereka pun terputus, dan Chanyeol tidak mendapatkan kesempatan
untuk memisahkan Luhan dengan Minseok.
Chanyeol mengambil sebuah
foto yang memperlihatkan dirinya yang masih kecil sedang bermain dengan Kim
Minseok dulu didalam dompetnya. Jari nya mengelus foto itu yang telah menjadi
kenangan kedekatan mereka. Chanyeol yang merasa lelah berada dalam Kediaman
besar yang baginya begitu menekan dirinya memutuskan untuk pergi keluar untuk
menghirup udara segar walau sebentar. Namja itu menangkap sosok yang berada di
luar gerbang sedang memperhatikan dirinya berdiri, tapi yang chanyeol
bingungkan mengapa dia seperti meminta dirinya untuk segera ketempatnya.
Akhirnya tanpa pikir panjang chanyeol segera keluar mengikuti permintaan orang
yang tidak dikenalinya.
“siapa kau?” Chanyeol yang
tidak mengenal namja didepannya langsung melemparkan pertanyaan, Min Hyuk yang
berulang kali mengamati chanyeol dan Kediaman besar itupun tersenyum. Dengan
tetap waspada Chanyeol memberikan jarak antara namja itu dengannya.
“apa Xi Luhan berada
didalam?” Min Hyuk dengan tenang menghilangkan kecurigaan namja itu akan
dirinya yang berniat jahat padanya. “aku tidak akan melakukan apa-apa, aku
hanya ingin meminta bantuanmu untuk melumpuhkan Luhan. aku yakin kau tidak
menyukai keberadaan namja itu yang selalu berada disekeliling Kim Minseok
bukan?” mata chanyeol melirik kearah jendela kamar Minseok, serta mulai memutar
otaknya mendengarkan setiap penjelasan yang namja asing itu berikan padanya.
“kau akan mendapatkan
tempat mu disekeliling Minseok, dan aku jamin kami tidak akan menyakitinya.
Kami hanya membutuhkan Minseok untuk mengambil alih kekuasaan kami dari Kris
sedangkan kau ingin menyingkirkan Luhan bukan? Kita buat itu terjadi. Bawa
minseok ketempat yang tidak dimungkinkan Luhan mencarinya. Kau mengerti?”
“kau benar berjanji tidak akan
menyakiti Minseok?” chanyeol sebenarnya ragu dengan perkataan namja asing ini,
tapi dengan tawaran yang diterimanya membuat dirinya harus benar-benar
berfikir. “akan kufikirkan” setelah mendapat perkataan yang sangat ingin Min
Hyuk dengar, namja itu segera memberikan kartu namanya jika nanti Chanyeol
menghubunginya untuk menyetujui kesepakatannya. Lee Min Hyuk yang merasa
tugasnya telah usai menaiki motor besarnya dan pergi meninggalkan Chanyeol
sendirian dengan pikirannya.
-
Luhan menemani Minseok makan
malam di ruang makan, hanya mereka berdua tanpa maid ataupun pelayan lain.
Keheningan yang mereka ciptakan membuat mereka asing dengan keadaannya. Ini
semua karena Luhan yang telah berbuat seenaknya pada namja Manis yang sebik
mengunyah makanannya. Tidak sengaja garpu yang digunakan untuk makan malam nya
terjatuh, karena Minseok terlalu sering melamun mengingat kejadian demi
kejadian yang mengingatkan dirinya pada Luhan.
“kau melamun lagi? Apa yang kau
fikirkan?” Luhan mencoba menghilangkan keheningan yang terjadi antara dirinya
dengan Minseok, dengan singkat “tidak ada” balas Minseok. Minseok melanjutkan
kegiatannya kembali saat garpu telah berada di genggaman nya kembali. Seorang
namja datang ketempat dimana Minseok sedang menikmati makan malamnya ditemani
Luhan. “chanyeollie?” mendengar namanya disebut namja itu tersenyum kearah
sumber suara.
“kau sedang makan malam? Kufikir
kau berada dikamarmu saat ini” jelas chanyeol yang memandang ketidaksukaan
Luhan akan kehadiran dirinya. Minseok yang sedang tidak ingin berdua saja
dengan Luhan pun merasa terselamatkan akan kehadiran Chanyeol. “kau sudah makan
chanyeollie? Luhan tidak mau menemaniku untuk makan malam. Mungkin kau mau
untuk menemaniku” lirikan Luhan dan Minseok bertemu. Chanyeol mengangguk
menerimanya “aku akan menemanimu makan malam jika luhan tidak mau”. Bingkisan
yang sebelumnya disembunyikan chanyeol saat memasuki ruangan diserahkan ke
namja manis yang sedang memotong steak hidangan santap malamnya. “ini untukmu
dari tuan Kris”
“nde? Ini dari ayah?” minseok
membuka bingkisan yang diberikan chanyeol dan menemukan buku bacaan yang
sangat namja itu gemarkan semasa kecil. Rasa bahagia tidak mampu Minseok pendam
karena ayahnya masih mengingat kegemaran membaca Minseok pada buku bacaan itu
walaupun umurnya tidak sesuai. Namja manis itu memeluk buku cerita yang telah
diberikan ayahnya itu “terimakasih chanyeollie, kau ingat kan buku ini yang
dulu kau bacakan untuk—ku” perkataan Minseok sedikit terpotong diakhir, mata
kucing itu melirik kearah yang sedari tadi diam memperhatikannya. Chanyeol yang
melihat Minseok canggung akan kehadiran luhan pun meminta waktu berdua pada
luhan untuk bersama Minseok saja.
“bisakah kau tinggalkan kami
sebentar Luhan” jelas chanyeol, tapi sang dibicarakan hanya diam dan tetap pada
posisinya. Minseok kembali pada kegiatannya setelah melepas hadiah dari sang
ayah. Merasa ucapannya hanya angin lalu bagi Luhan, chanyeol bangkit mendekati
dimana Luhan berdiri.
“aku sedang bicara denganmu, apa
kau tuli?” minseok melerai chanyeol yang akan memulai perkelahian dengan Luhan.
“sudah sudah, luhan kau tidak bisa keluar sebentar” mata kucing itu berubah
menjadi mata rubah yang sepertinya merasa terganggu akan kehadiran sang rusa.
“bukan kau atapun namja dibelakangmu
yang bisa memerintahku. Hanya tuan Kris yang bisa memerintahkan ku” minseok
tidak habisa pikir dengan sikap namja menyebalkan seperti Luhan. mengapa namja
ini bisa hidup seperti ini? Bertahan dengan sifat yang begitu menyebalkan. “aku
atas nama ayahku memintamu untuk keluar sebentar”. “aku tidak mau” dingin
luhan. dengan keras chanyeol yang sedari
kesal akan sikap Luhan memukul nya tepat dibagian pipinya. Luhan hanya diam
tidak membalas dan masih tetap pada posisinya. Minseok menahan chanyeol dan membawa
namja itu keluar dengan mengarahkan seluruh tenaganya karena namja tinggi besar
itu mencoba menahan dan ingin memukul kembali. Setelah sampai diambang pintu
minseok melepas pegangannya pada chanyeol.
“namja itu gila! Dia pikir
dirinya itu siapa?!” kesal chanyeol sambil menendang pintu yang tak bersalah.
Minseok memberikan ekspresi takut setiap chanyeol dan luhan bertemu. Chanyeol
yang sadar akan ketakutan minseok mencoba menenangkan si manis “kau tidak
apa-apa kan minseok? Maafkan aku membuatmu takut ya, aku benar-benar kesal
tadi”.
“aku tidak apa-apa,terimakasih
atas kado ayahku chanyeollie”
“ayahmu ingin bertemu dengan mu
besok diruangannya jika kau ada waktu Minseok-ah”
Bagaikan tersambar petir minseok
mendengarnya, sekian lama ayahnya tidak berniat sedikit pun untuk bertemu
dengannya sekarang chanyeol mengatakan bahwa ayahnya ingin menemui dirinya.
“chanyeollie, kau yakin!? Ayahku ingin aku menemuinya!!?” anggukan pun
diberikan chanyeol.
Minseok meneteskan air matanya saat pengulangan chanyeol diberikan.
Ingin rasanya minseok berlari kepelukan Luhan saat ini tapi sepertinya mustahil
jika dilakukan saat chanyeol masih bersamanya.
“tapi minseok-ah kau harus
menyimpan ini dari Luhan, kudengar namja itu akan kehilangan pekerjaannya saat
ayahmu sudah tidak sibuk dengan tugasnya lagi”
“nde?” tidak mungkin, minseok
pasti salah dengar jika ayah nya akan menghentikan pekerjaan Luhan.
“kenapa
ayah ingin luhan berhenti?” lanjtnya sambil menarik jaket yang sedang digunakan
chanyeol untuk menghangatkannya.
“aku tidak tahu pasti minseok,
tapi aku jadi sedikit kasihan jika mengingat nasib kelurga namja itu nantinya
jika benar dipecat”
“aku akan bicara pada ayah nanti
saat pertemuan kami”
“bicaralah pada ayahmu
minseok-ah, kuharap dia tidak akan pernah mendengar ini semua. Dan setelah
pemecatan itu selesai, kau bisa membagi kebahagiaan mu dengan namja itu.”
chanyeol meyakinkan minseok untuk tidak memberitahu pertemuannya dengan sang
ayah pada Luhan. minseok mengangguk tanda mengerti, rasa bahagia yang namja itu
rasakan tidak bisa diberikan bersama Luhan. tapi mau bagaimana lagi minseok
juga tidak ingin membuat luhan sedih akan keputusan sang ayah yang selalu
seenaknya pada bawahannya. Luhan yang sedang dibicarakanpun keluar dengan
mengatakan “waktu sebentarmu sudah habis” dan langsung membawa minseok kembali
kekamarnya.
Melihat luhan membawa minseok
kekamarnya membuat senyuman sinis terukir untuk terakhir kalinya “ini akan
menjadi malam terakhirmu disini Xi Luhan”.
-
Hari minggu adalah hari bebas
Minseok dari kegiatan sekolahnya, menikmati hari liburnya minseok membaca
E-book yang sebelumnya diberikan ayahnya. Luhan tidak memperdulikan akan
kegiatan minseok yang masih mengikuti perintahnya untuk tetap diam dikamar.
“aku ingin minum teh” ucap minseok pada luhan. luhan melirik kearah telpon dan
memberikan kode pada Minseok untuk telpon kedapur jika menginginkan sesuatu.
Alasan apa yang bisa minseok berikan pada Luhan jika dia ingin keluar tanpa
diikuti. Seseorang mengetuk pintu kamar Minseok dan setelah mendapatkan izin masuk
seorang maid yeoja memberikan telpon kepada Luhan. luhan yakin itu dari ayah
Minseok, namja itu pun keluar dan mencari tempat sepi agar Minseok tidak tahu
bahwa ayahnya tidak berada di kediamannya atau bisa dikatakan berada di Jepang.
“yeoboseyo?”
Melihat Luhan yang meninggalkan
kamarnya, minseok langsung mengambil langkah kaki seribu untuk pergi ke ruangan
dimana ayahnya menunggunya. Namja manis itu sepertinya sudah tidak sabar untuk
bertemu dengan ayahnya yang telah bertahun-tahun tidak mengizinkan dirinya
menemuinya. Sesampainya di tempat tujuan, minseok cukup heran mengapa chanyeol
berada disana. “chanyeollie? kau—” yang disebut tersenyum ketika melihat namja
diambang pintu dan menutup pintunya.
“aku tadi ada sedikit kerjaan dengan tuan
besar, kau tau kan kesibukannya. Selamat ya minseok-ah, kau bisa bertemu dengan
ayahmu” chanyeol melewati minseok untuk segera pergi meninggalkan ruangan Kris
“ayahmu sedang ditoilet, tunggulah”.
“nde!” jawabnya dengan semangat,
pintupun tertutup secara perlahan.
Minseok sangat senang berada
ditempat kerja ayahnya, selama ini untuk mendekat saja sudah menjadi perhatian
bagi setiap maid dan pelayan untuk menasehati dirinya agar menjauh. Tapi
sekarang itu tidak berlaku, ayahnya yang menginginkan pertemuan ini. Dan minseok
sangat bahagia akan moment yang sebentar lagi dinantinya.
Saat berkeliling di ruangan
ayahnya, minseok melihat banyak foto-foto dirinya terpasang disana. Dan saat
dia melihat kenangan foto pertamanya ketika berusia 6 tahun bersama ayahnya,
namja itu kira semua itu akan menjadi foto terakhir untuknya. Setelah ini
sepertinya minseok berniat mengajak ayahnya untuk memanggil tukang foto agar
moment ini bisa terus diingatnya. Minseok sekarang seperti orang bodoh tidak
mampu untuk berhenti tersenyum.
Setelah puas melihat-melihat
namja itu duduk dengan manis di sofa tamu tempat dimana ayahnya sering melihat
bawahannya dari kursi kepemimpinannya. “ayah” senyum lebarnya terukir.
Tidak disangka...
Kebahagiaan minseok berubah
menjadi petaka, seseorang membekam mulut minseok dengan sapu tangan dengan bau
yang sangat menyengat. Itu semua membuat minseok mabuk akan penciumannya, dalam
beberapa detik kesadaran namja manis itu menghilang dan yang dirasakan terakhir
kalinya seseorang merengkuhnya dari belakang.
“yeoboseyo?” luhan memulai
pembicaraan dengan namja di sebrang sana setelah berada dengan jarak aman dari
kamar Minseok. Ayah minseok yang telah mendengar suara Luhan pun meresponnya
dengan nada sangat baik.
“Luhan kudengar kau membunuh 12 namja yang lebih besar dari tubuhmu
disekolah Minseok?” mendengar topik yang dibicarakan Kris, Luhan hanya menjawab
seperlunya karena memang itu sudah menjadi tugasnya untuk membunuh siapa saja
yang mengancam keselamatan Kim Minseok.
“kau memang luar biasa Xi Luhan” lanjut
Kris dengan sedikit tawa khasnya.
“itu sudah menjadi tugasku tuan”
singkat Luhan, “apa kau berurusan dengan
polisi? Kudengar ada banyak polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan yang kau
lakukan. Jika memang begitu kau tinggal menyebut namaku dan semua akan beres.
Kau mengerti?”
“nde tuan, aku mengerti”
“bagaimana Kim Minseok? Dia baik-baik saja kan dengan liburannya?”
“dia masih mengikuti perintah
saya tuan, dan sedang berada dikamarnya” mendengar keadaan putranya baik-baik
saja itu sudah menjadi nilai plus bagi pekerjaan Luhan.
“aku mengikuti semua caramu, aku ingin tau kabar selanjutnya nanti. Dan
Luhan aku minta sekali lagi padamu tolong tetap selalu berada disamping anakku,
selalu lindungi dia. Mengerti?”
“nde tuan”
Sambungan telpon itupun selesai,
Luhan kembali kekamar Kim Minseok tapi tidak menemukan keberadaan namja manis
itu. Luhan memanggil dan terus mencari kearea sekeliling kamar Minseok tapi
nihil. Setelah memastikan dikamar tidak ada, namja itu berlari keluar kediaman,
dapur, halaman, kolam renang dan masih tidak menemukan keberadaan Kim Minseok.
Beberapa maid yang namja itu lewati ditanyai, salah satu dari mereka mengatakan
“saya melihat tuan muda berlari kearah ruangan tuan besar”.
Luhan yang mendegar
itu langsung mengikuti petunjuk sang maid menuju ruangan Kris, belum sampai
pada ruangannya suara teriakan dari ruangan yang sedang dituju Luhan. maid yang
akan membersihkan ruangan Kris sangat shock ketika mendapati beberapa helai
rambut Minseok terpasang di dinding dengan surat dan tulisan besar memenuhi
dinding ruangan itu ‘7.30 malam’. kondisi ruangan yang berantakan membuat maid itu
semakin histeris dan takut sesuatu terjadi pada tuan mudanya.
Luhan yang baru sampai ruangan
itu mendapat sorotan dari mata maid dan pelayan yang bingung harus melakukan
apa.
“tuan apa kita harus laporkan ini
kepolisi?” memang semua kendali tentang tuan muda mereka dipegang Luhan karena
namja itu yang bertanggung jawab akan keselamatan sang tuan muda. “tidak perlu,
aku akan segera membawanya pulang” ucap Luhan dan pergi meninggalkan kerumanan.
Mobil yang terparkir sempurna
diambil alih Luhan dan memacu dengan kencang menuju ke alamat yang diberi
tahukan di kertas serta helaian rambut Minseok. Luhan kesal karena lengah
melindungi minseok saat penculikan terjadi, tanpa berfikir akan keselamatannya
Luhan menginjak gas semakin kencang agar cepat sampai tujuan dan membawa
minseok kembali pulang. “ini tidak akan terjadi lagi” gumamnya dalam hati.
-
Ahn Jaehyo melirik puas dengan
pekerjaan yang Lee Min Hyuk lakukan untuknya, namja manis yang masih tertidur
dengan ikatan diseluruh tubuhnya menjadi pusat perhatian bagi kelompok Block
buster. Mereka tidak menyangka bahwa namja ini adalah putra dari seorang
Mafioso korea yang rakus akan kekuasaan bernama Kris. Pyo Ji Hoon yang melihat
noda dibagian pinggir bibir Minseok merasa risih karena mengganggu akan
keindahan dari sang object yang dirinya perhatikan. Jaehyo yang melihat
tindakan Pyo Ji Hoon segera meledek namja itu “kau menyukainya p.o?”, Pyo Ji
Hoon menghentikan kegiatannya dan menjauhi Minseok.
Tidak lama menunggu kesadaraan
Minseok kembali, mata kucing itu terbuka dan memandang banyak namja
disekeliling nya. merasakan sesuatu pada dirinya, minseok baru sadar akan
ikatan ditubuhnya. “dimana aku! Siapa kalian!?” teriak Minseok dengan wajah
menantang. Woo Ji Hoo yang mabuk sehabis meminum banyak vodka mendekati Minseok
dan mengangkat wajah manis itu dengan kasar “temani aku tidur malam ini.
Bitch!” perintahnya dengan tawa puas mengisi keheningan yang ada. Jaehyo
memberi arahan pada Park Kyung untuk segera menyingkirkan si pemabuk Woo Ji
Hoo.
“namamu Kim Minseok kan?” tanya
Jaehyo tapi tidak direspon baik oleh Minseok, “aku hanya ingin meminta kerja
samamu untuk membunuh seorang pembunuh sadis yang sudah menjadi incaran polisi
karena telah membunuh seluruh keluarganya”.
“pembunuh sadis? Membunuh
keluarganya?” minseok mulai bicara karena tidak mengerti dengan apa yang Jaehyo
katakan. “nde. Pembunuh sadis yang sebentar lagi akan datang untuk
menyelamatkanmu.” Jaehyo mendekatkan diri pada Minseok seperti akan melakukan
Kissing tapi hanya fake kiss yang diberikan.
Mungkinkah yang dimaksud Xi
Luhan, tapi membunuh keluarga? Tidak mungkinkan. “lepaskan aku sekarang!”
minseok meronta, itu semakin membuat seluruh namja yang melihatnya tertawa akan
Minseok yang bersikap sangat menggemaskan. Pipi chubby yang terpasang di
wajahnya ditarik Jaehyo “aku yakin kau tidak percaya bahwa namja yang selama
ini bersama mu adalah mesin pembunuh manusia lain yang sangat ampuh, benar
bukan?”.
“Luhan bukan seorang pembunuh!”
tatapan mata kucing Minseok menantang netra tajam yang diberikan Jaehyo
padanya. Melihat itu sang ketua tertawa membuat para antek-anteknya ikut
tertawa. Bagaimana mungkin anak dari seorang Mafioso ini terlihat begitu polos,
mungkinkah dirinya juga tidak tau jika ayahnya sama halnya dengan Luhan. “kau
tidak mempercayai perkataan Ku nona cantik?” ledek Ahn Jaehyo pada Minseok yang
terlihat lebih pantas menjadi yeoja dibanding namja. Tangan kekar Jaehyo
mengangkat wajah Minseok dan mensejajarkan pandangan mereka “kau bisa lihat
bagaimana caranya Luhan menghabisi para antek-antek ku jika itu bisa membuat mu
yakin akan ucapanku”.
Minseok memalingkan wajahnya
mencerna ucapan namja yang tidak dirinya kenal, meyakinkan diri dengan apa yang
dirinya percayai. Ketika semuanya sedang bersantai menunggu kedatangan malaikat
maut yang mereka undang, dikejutkan sebuah mobil yang menerobos tembok gudang
tempat mereka menyandera Kim Minseok. Ahn Jaehyo tersenyum saat mendapati namja
yang mereka tunggu keluar dari mobil tersebut. Beda hal nya dengan Ahn Jaehyo,
minseok tidak ingin namja itu datang dan membuktikan kebenaran dari perkataan
yang sebelumnya dia dengar.
“lepaskan Minseok” perintah Luhan
yang telah dikepung banyak antek-antek Block buster. Jaehyo terlihat berjalan
kearah Minseok, berdiri tepat dibelakang namja manis itu dan mengangkat wajah
minseok untuk tetap menatap setiap gerak-gerik namja yang dia percayai bukanlah
seorang pembunuh “perhatikan” bisik Jaehyo ditelinga Minseok. Setelah mendapat
kode untuk menyerang Luhan secara bergantian, Luhan meminta Minseok untuk
menutup matanya “Minseok-ah tutup matamu” tapi tidak dilakukan namja itu. Luhan
tidak mengerti mengapa minseok tidak mengikuti perintahnya.
To be continue....


Comments
Post a Comment