BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 8
Melihat wajah pucat
Jimin, Rapmon kembali terfokus betapa manisnya namja dihadapannya. Pantas jika
Jin begitu menyukai Jungkook. Perasaan itu memang datang begitu saja, tidak
memperdulikan jenis dan datang kepada siapa. Rapmon akui sekarang bahwa dirinya
menyukai Jimin. Namja mungil yang sedang tertidur dimobilnya.
-
Jimin membuka kedua matanya setelah penciumannya merasakan
aroma lezat dari sebuah makanan. Beberapa Maid berdiri dihadapan Jimin yang
baru saja bangun dari tidurnya. Mereka tersenyum ketika Jimin mulai
memperhatikan setiap sudut ruangan yang tidak dikenalinya.
“ini dimana?” tanya namja mungil itu pada Maid yang sedang
memegang nampan untuk makan malam Jimin. “anda sedang berada di Kediaman tuan
Kim Nam Joon, silahkan cicipi hidangan makan malam anda. Panggil kami kembali
jika anda membutuhkan sesuatu tuan” setelah meletakan nampan makanan ke meja
kamar Jimin, Maid itupun segera pergi untuk meneruskan pekerjaan mereka yang
tertunda. Melihat pintu kamar itu telah tertutup Jimin mulai berfikir seorang
namja yang mereka sebut ‘Kediaman Kim Nam Joon’. Jimin tidak ingat nama namja
itu tapi... sepertinya Nam Joon pernah disebutkan oleh seorang namja. Masih
dengan berfikir keras. Dan “Rapmon-sshi?” teriak Jimin ketika mengingat nama
asli Rapmon adalah Kim Nam Joon. Mungkinkah namja itu membantunya karena
diminta Jin? Tidak mungkin. Kenapa Jimin harus berfikiran tentang itu. kenapa
hati Jimin berharap seperti itu? Jin sudah mempunyai kekasih dimasa lalunya
yang kembali padanya. Seharusnya Jimin mendoakan kebahagiaan mereka, dan tidak
boleh Egois. Sebaiknya Jimin harus pulang ketika melihat jam dinding menunjukan
pukul 8 malam.
Jimin yang akan pergi terkejut ketika pakaian sekolahnya
telah digantikan dengan pakaian biasa. Astaga. Apa yang namja itu lakukan pada
dirinya. Sebuah ketukan pelan terdengar dan wajah Rapmon mengintip sedikit “apa
aku boleh masuk?” tanyanya polos.
Tidak menunggu jawaban sang namja mungil itu, Rapmon telah
masuk dan menutup kembali pintu kamarnya. “aku dengar dari Maid kau sudar
sadar, bagaimana keadaanmu?” tangan dingin Rapmon menyentuh kening hangatnya.
Jimin tidak mengerti mengapa namja ini begitu baik padanya. Apa benar Jin yang
memintanya?. “hmm panasmu sudah turun, sudah kuduga namja seperti mu itu punya
antibody yang kuat” lanjutnya masih dengan respon diam dari lawan bicaranya.
“pakaaian ku...?” Jimin sedikit malu ketika menanyakan
tentang pakaian pada namja dihadapannya.
“ahh.. soal itu. karena pakaianmu
sangat basah aku yang menggantinya tapi kau tidak perlu malu, kita sama-sama
namja bukan? Tidak mungkin aku meminta maid ku untuk menggantikan pakaianmu
ataupun namja lain. Aku juga tidak berniat macam-macam padamu. Aku hanya tidak
ingin panas mu semakin parah jika tetap menggunakan pakaian basah itu” ucapan
Rapmon berbeda dengan tindakan yang sebelumnya dilakukan.
Flashbackon
Rapmon telah sampai di
Kediamannya, beberapa Maid dan pelayannya kaget ketika Majikannya datang sambil
menggendong seorang namja basah kuyub. Suhu tubuh Jimin panas akibat terkena
hujan. Itu semua membuat Rapmon semakin khawatir pada keadaan namja mungil
dalam dekapannya. Langkah Rapmon dipercepat ketika dirinya sudah tidak kuat
menahan berat badan Jimin yang cukup berat. Setelah tiba dikamarnya secara
perlahan Jimin direbahkannya di tempat tidur. Melihat pakaian basah yang masih
dikenakan, Rapmon memutuskan untuk mengganti pakaian Jimin dengan baju yang
baru saja dibelinya dengan ukuran yang sesuai. Tapi dirinya ragu melihat tubuh
itu selalu menggeliat karena demam.
“yaaakk apa yang harus
akuu lakukaaan!” namja itu kebingungan dan hanya mondar mandir sambil melihat
posisi Jimin yang berubah-ubah. Dirinya tidak tega melihat namja mungil itu
berkeringat akibat demam yang dirasakannya. Bukan Jimin saja yang berkeringat
Rapmon juga berkeringat. Dirinya tidak percaya akan membuka seluruh pakaian
seorang namja yang hampir seusia dengannya sekarang. Dengan sedikit
keberaniannya kancing baju sekolah Jimin dibuka satu persatu hingga kekancing
terakhir, Rapmon kembali menghentikan aksinya. dirinya tidak kuat. Namja itu
pun keluar untuk mengambil nafas dalam-dalam. Maid dan pelayan yang melihat
majikannya tersenyum tertahan ketika melihat aksi Majikannya yang terlihat konyol
hanya sekedar membuka pakaian sesama jenisnya.
Karena merasa
diperhatikan Rapmon kembali masuk kekamarnya untuk melanjutkan hal menantang
dalam hidupnya. “baiklahh.... yang terjadii terjadiilaah!! Ayo kita lakukan
Park Jimin”
Flashbackoff
“....Mon-sshi...”
“Rapmon-sshi...”
Panggilan Jimin tidak terdengar mengingat kejadian konyol
yang Rapmon lakukan ketika membuka pakaian Jimin. Goyangan tubuh yang Jimin
berikan akhirnya membuat namja itu menoleh kearahnya. Jimin tidak mengerti apa
yang sedang Rapmon fikirkan. Yang pasti namja ini sedikit menampilkan wajah
menyeramkan.
“sebaiknya aku pulang, hyung ku bisa khawatir” rapmon
menahan tubuh Jimin yang telah menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur.
“aku sudah menghubungi Hyungmu, dia tau kau ditempatku. Dan
hyungmu percaya bahwa aku bisa mengurusmu sampai kau kembali sehat” mendengar
itu Jimin heran karena tidak biasanya Hyung mengizinkan dirinya menginap
terlebih lagi pada namja asing yang baru saja dikenalnya.
Rapmon menyerahkan nampan makanan yang diletakan Maid dimeja
kamarnya. sebuah bubur hangat dan teh khas Korea untuk mengembalikan stamina
tubuh yang baru saja terkena demam. jimin dengan senang hati menerima hidangan
lezat itu, lalu memakannya dengan lahap. Walaupun hanya sebuah bubur tapi
aromannya seperti sebuah daging Pork kesukaannya. Melihat Jimin sudah kembali
seperti biasa membuat hati Rapmon sedikit melega. Setiap suapan masuk kedalam
bibir mungil itu membuat senyuman dalam hati Rapmon. Tidak lama ponsel Rapmon
berbunyi membuat namja itu harus mengangkatnya. Agar tidak mengganggu acara
makan Jimin, Rapmon pun meminta izin untuk keluar sebentar. Setelah mendapatkan
persetujuan Rapmon melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya dari luar.
-
[ kediaman Jeon Joon Kook ]
Jin telah menepati janjinya sepulang sekolah menjenguk
kekasihnya tercinta. Namja itu bertemu dengan seorang namja yang dikenalinya
saat dirumah sakit. Jung Ho Seok menunduk hormat mengingat namja yang
ditemuinya adalah kekasih dari majikannya.
“kau sudah ditunggu tuan Jungkook didalam, silahkan”
Mendengar itu Jin membalas hormat yang diberikan oleh Jung
Ho Seok padanya. Jin berjalan mencari keberadaan Jungkook, namun ruangan yang
diberitahukan Jung Ho Seok padanya kosong. Tidak ada Jungkook disana. Karena
heran Jin masuk tanpa mengetuk terlebih dulu, tiba-tiba sebuah pelukan kecil
melingkari pinggang Jin.
“apa kau mencariku Jin-sshi?” Jin yang senang mendapatkan
pelukan dari belakang, segera membalikan badannya untuk menghadap Jungkook.
Poni namja cantik itu diacak-acak “aku mencari namja yang sepertinya belum
meminum obatnya” mendengar perkataan Jin, Jungkook berdengus kesal.
“aku hanya anemia Jin-sshi jangan memperlakukanku seperti
sakit parah, apa kau tau aku belum minum obat dari hal-abeoji? Liat saja nanti
aku akan kembali datang ke Host Club miliknya”
“shhh...kau seharusnya berterima kasih pada hal-abeoji
karena dirinya aku menjadi perhatian seperti ini padamu. Walaupun kau hanya
anemia tapi banyaknya obat ini membuat mu harus segera meminumnya agar cepat
pulih. Seperti biasa” Jungkook mengangguk mengerti saat beberapa obat telah
dibuka dan siap untuk diminumnya. Setelah meminum obatnya hingga abis Jungkook
mulai membuka percakapan setelah 10 bulan tidak bertemu.
“Jin-sshi aku ingin sekolah di tempatmu, boleh tidak?
Sebelumnya aku sudah mengajukan ini pada hal-abeoji dan disetujui. Kau mau kan
jika aku satu sekolah denganmu sama seperti dulu, mengingat Jimin-sshi juga
bersekolah disana. Aku yakin bisa menjadi temannya nanti”
Jin kebingungan dengan perasaannya, Jimin tidak mungkin mau
berteman dengan Jungkook akibat perlakuan dirinya. Kenapa jadi begini hati Jin
sakit tidak menentu. “memang ada apa dengan sekolahmu? Apa kau tidak nyaman
dengan sekolahmu Kookie?”
“aniyo aku hanya ingin setiap hari bertemu denganmu, memang
kau tidak ingin bertemu denganku setiap harinya?”
“bukan begitu aku hanya merasa ini terlalu mendadak
Jungkook, aku tidak bisa selalu mengawasimu nanti disekolah. Jika terjadi
apa-apa padamu nanti disekolah bagaimana? Aku hanya ingin kau sekolah dirumah
seperti biasa, dan menungguku datang kerumahmu. Aku berjanji akan selalu
menjengukmu. Lagipula dirumah ada Jung Ho Seok yang akan menjagamu 24 jam”
“aku tidak membutuhkan waktu Ho Seok-sshi. Aku membutuhkan
waktu lebih lama denganmu Jin” nada itu terdengar mengeluh pada Jin yang sedang
memperatikan namja cantik dihadapannya.
Jin tidak ingin Jungkook memiliki tekanan diluar, terlebih
lagi sifat menyebalkan Jimin jika menjadi temannya nanti. Tidak. Jungkook tidak
bisa memiliki beban pikiran, sakit kepalanya akan kembali. Saat Jungkook
memandangi wajah gelisah Jin yang sepertinya memang tidak setuju akan
keputusannya bersekolah bersama, mimisan terjadi dihidungnya. Merasa sesuatu
panas diarea hidungnya Jungkook segera mengambil tisu dan mengelap darah yang
menjulur kebawah hidungnya. Jin yang sadar akan darah dihidung Jungkook
membantu namja itu untuk menggapai tisu yang berada di meja kamarnya. inilah
yang ditakuti Jin jika namja itu terlalu banyak kelelahan, Kanker bukanlah
penyakit yang bisa diremehkan. Namun sikap ceria dan tidak perduli Jungkook
membuat Jin semakin menyukai sifatnya. Jungkook sangat membutuhkan perhatian
dari dirinya, dan Jin tidak ingin kekasihnya kekurangan rasa perhatian. Dia
tersenyum lebar setelah darah itu dibersihkan.
“hihi bagaimana bisa aku tidak anemia, aku terus-terusan
mengeluarkan darah” rasanya ingin menangis ketika darah tidak berhenti-henti
keluar dari hidung kekasihnya.
Jin benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
jika diperkenankan pada Tuhan, jin rela menyerahkan nyawanya untuk menggantikan
sakit yang dirasakan kekasihnya. Jin berharap Tuhan tidak mengambil Jungkook
darinya dan hal-abeoji. Karena dirinya masih begitu ingin menjaga kekasihnya
yang dirinya cintai. Pelukan erat diberikan Jin pada Jungkook, seperti tidak
ingin melepaskan tubuh itu lebih lama. Jungkook yang heran dengan sikap Jin
padanya mulai berfikir apakan kekasihnya tau penyakit yang dideritanya bukan
sekedar anemia. Tapi hal-beoji mengatakan bahwa dirinya bercerita hanya
mengatakan bahwa Jungkook terkena anemia. Apa Jungkook dapat mempercayai
hal-beojinya saat Jin bersikap berlebihan seperti ini.
Setelah menemani Jungkook bermain, Jin membiarkan kekasihnya
itu tertidur dikamarnya. Tidak lupa selimut dirapihkan agar melindungi
kekasihnya itu dari suhu dingin yang sedang melanda Korea. Jin yang telah
keluar dari kamar Jungkook melihat seorang namja sepertinya tengah menunggu
namja itu sedari tadi. Karena mendapati sesuatu yang penting, Jin mengikuti
kemana langkah kaki Jung Ho Seok berjalan. Dan dirinya sadari sekarang namja
itu membawanya kehalaman belakang.
“aku senang Jungkook tersenyum kembali seperti dulu, berbeda
ketika dirinya berada di Amerika selama 6 bulan kurang”
Jin tidak mengerti dengan maksud pembicaraan yang dimulai
namja bernama Jung Ho Seok. “kau sangat dicintainya, hingga terapi Kanker
Jungkook gagal karena dirimu. Aku bingung mengapa Jungkook sangat mencintaimu,
mungkin karena sudah menjalani hubungan selama 4 tahun. Tapi..”
Perkataan itu terhenti sejenak, membuat kedua alis Jin
menyatu karena menebak pernyataan apa yang akan terlontar nantinya.
“tapi aku tidak akan memaafkanmu jika nantinya kau menyakiti
Jungkook, aku bersumpah tidak akan memaafkanmu Kim Seok Jin. Selama 6 bulan itu
aku mulai mengenal Jungkook tanpa dirimu dan jika boleh jujur aku menyukainya.
Sangat menyukainya. Dan aku sadar hatinya tidak dapat kumiliki. Jadi aku minta
padamu, jaga Jeon Joon Kook sebaik-baiknya. Setialah pada dirinya”
“tanpa kau meminta aku juga akan melakukannya” suara pelan
Jin tapi terdengar tegas.
Angin malam membuat Jin sedikit merasakan dingin, bahkan
hatinya juga membeku. Jin tidak mengerti dengan dirinya. Semua yang diinginkan
namja berhati Es itu telah didapatkannya, mengapa sedikit pun hati Esnya tidak
mencair. Mengapa perasaannya pada Jungkook jadi meragu seperti ini. Jin menepuk
kedua pipinya sambil berjalan meninggalkan kediaman Jungkook. Batinnya
menyadarkan terus akan hati yang masih membeku untuk lekas mencair ‘sadarlah
kau Jin’ bisiknya.
-
Onthephone.
......
“nde hyung aku akan baik-baik saja disini. Jangan
khawatirkan aku”
“arraso! Jangan menganggapku anak kecil Kim TaeHyungie! Aku
bisa menjaga diriku sendiri. Walau tanpa mu! Sudah ya.. aku harus menutup
telponnya untuk segera istirahat”
“aniyoo hyung.. aku akan kembali besok jadi tenang saja”
“okee...selamat istirahat”
Panggilan pun diakhiri Jimin dengan menekan sebuah tombol
yang menggambarkan ‘ponsel merah’. Udara dingin dimalam hari membuat jantung
Jimin tidak bisa berdetak secara normal. Jimin ingin sekali bicara seperti dulu
dengan Jin tanpa memikirkan perasaan yang dirasakannya. Suara jendela bergeser
terdengar, Jimin pun menoleh kearah sumber suara. Jimin tersenyum kearah namja
tinggi yang mendekatinya. “apa tidak dingin?”
“aniyo hyung.. ada apa kau kekamarku? Apa ada masalah?”
tanya heran Jimin yang tiba-tiba saja kedatangan Rapmon dikamarnya.
“tidak ada yang penting tetapi aku hanya ingin memastikan
kau sudah tidur atau belum, karena terlihat sangat jelas dari luar. Bahwa lampu
kamarmu masih menyala”
Merasa tidak enak Jimin hanya cengengesan. “aku lupa
mematikan lampu kamarku”
“apa aku mengganggumu?”
“aniyo hyung kau jangan salah paham dulu. Maksudku aku
merasa tidak enak pada dirimu karena menyalakan lampu hingga larut malam
begini. Seharusnya aku bisa menghormati tuan rumah dengan tidur cepat. Tapi
ternyata aku tidak bisa” Jimin menggosokan salah satu tangannya kebelakang
tengkuk miliknya. “dan aku ingin berterimakasih pada mu hyung karena sudah mau
menampungku disini. Menggantikan pakaianku. Lalu mengantarkan aku besok ke
apartemen. Aku sangat berterimakasih padamu hyung” lanjutnya. Rapmon mengerti
sekarang ketika melihat Jimin dalam gelapnya malam, itu adalah alasan kenapa dinding Es
sahabatnya dapat meleleh dengan sangat cepat. Memang sangat jelas. Jimin begitu
manis, sangat manis jika semakin Rapmon perhatikan. Sikap polosnya membuat
Rapmon mulai semakin menyukai namja disampingnya ini.
“gwenchana, sudah seharusnya kita saling membantu karena
sudah mengenal. Tetapi jika boleh aku bertanya... sebenarnya.. apa kau memiliki
perasaan pada Jin?”
“nde?! Apa yang hyung katakan? Aku mana mungkin menyukai
namja menyebalkan itu!! yang seenaknya saja memainkan perasaan orang lain.
Tidak akan mau!” tepis Jimin dengan menatap langit-langit malam untuk
menyembunyikan kebohongannya. “kau yakin?” tanya Rapmon lagi. “aku lihat dari
pandanganmu ketika mengatakan ‘mana mungkin’ seperti ada keraguan”
“apa yang kau bicarakan Rapmon-sshi? Aku sama sekali tidak
menyukai namja pemarah itu” sedikit menelan ludah, Jimin merenggangkan seluruh
tubuhnya yang tidak pegal. “waah sudah sangat malam, aku mulai mengantuk. Hyung
aku pamit istirahat duluan yaaa.. apa kau mau tetap diluar jendela kamarku?”
tidak menunggu Rapmon, Jimin segera merebahkan tubuhnya kedalam ranjang
empuknya dengan selimut menutupi tubuhnya sempurna. Rapmon mengikuti langkah
kaki Jimin. Lalu menutup jendela kamar Jimin agar udara malam tidak masuk
mengganggu namja mungil yang masih tidak lepas dalam perhatian tatapan Rapmon.
-
-
[ keesokan Paginya ]
“jimin bangunlah” tepukan kecil membangunkan Jimin yang
masih memejamkan kedua matanya. Masih dalam pandangan buram namja mungil itu
memfokuskan sosok namja yang kembali menepuk pipinya. “pergi mandi sekarang
juga, kita akan pergi kesuatu tempat” karena tidak mengerti apa-apa tubuh itu
ditariknya hingga sampai ke kamar mandi. Sehabis mengantar Jimin kekamar mandi,
namja itu segera menghubungi namja lain yang akan ditemuinya ditaman kota.
Sejam mereka bersiap-siap. Jimin menghampiri Rapmon yang
sedang menunggunya disamping mobil miliknya. “kita mau kemana?” tanya Jimin
pada namja itu. tanpa menjawab pertanyaan Jimin, Rapmon segera membukakan pintu
mobil dan meminta namja itu segera masuk. Perjalanan kurang lebih 45 menit
ditempuhnya. Dan namja yang diminta datang pun telah berdiri tegak di area
tiket masuk taman bermain dikota Seoul.
“Kim Tae Hyung?” matanya melirik kearah Rapmon yang memegang
kemudi. “kenapa kau membawaku untuk bertemu dengan hyungku ditempat ini? Jika
kau ingin mengantarku pulang, kau bisa mengantarkan ku ke apartemen kan?”
lanjutnya menyelidik.
“nde aku memang bisa melakukan itu tapi sepertinya hyungmu
ingin memberikanmu hiburan sedikit ditaman bermain ini. Memang salah? Jika kau
tidak mau aku akan meminta hyungmu untuk masuk kemobil dan membuang tiket yang
dibelikan hyungmu dengan hasil kerjannya” karena mendapatkan ancaman itu, Jimin
pun turun dari mobil lalu menghampiri Tae Hyung didepan pintu masuk area taman
bermain.
“selamat datang Jiminie, lihat aku membelikanmu tiket
bermain. Ayo kita bersenang-senang hingga lupa waktu. Sudah lama kan kita tidak
pergi bersama semenjak Appa dan Eomma meninggal?”
Jimin mengangguk setuju, namun namja mungil itu berlari
mengejar mobil Rapmon yang tiba-tiba saja pergi tanpa pamit. “kau mau kemana?
Kau tidak ingin bermain dengan kami?”
“aniyo, aku tidak bisa hari ini karena ada keperluan yang
harus kulakukan. Kau bersenang-senanglah dengan Hyungmu. Nikmati hari ini
bersamanya. Kau mengerti”
“apa kau akan bertemu dengan Jin-sshi?” suara Jimin bergetar
ketika menyebut nama namja yang bersahabat dengan Rapmon. “jika kau bertemu
dengannya, titip salam padanya dan katakan aku tidak ingin bertemu wajah
menyebalkannya dimanapun. Jika aku sampai bertemu dengannya akan kupukul
wajahnya sampai babak belur” setelah menyampaikan pesan pada Rapmon, Jimin
segera berlari kembali ketempat Hyungnya yang siap memasuki pintu masuk taman
bermain. Tatapan Rapmon terpaku melihat namja mungil itu berlari dengan sangat
tegar, namja itu berharap apa yang didengarnya tidak menjadikan dirinya salah
paham. Terlebih saat itu Jin tidak menyebutkan namja Jimin dalam perkataan
ketusnnya. Semoga jimin menganggapnya bahwa itu bukan dirinya.
Jimin berjalan bersama Tae Hyung didalam taman bermain,
wahana yang membingungkan sampai yang menyeramkan tidak luput untuk dinikamti 2
saudara ini. Mereka tertawa sangat puas ketika mendapatkan foto mereka disalah
satu wahana menyeramkan yang mereka naiki. Memakan permen kapas, memancing ikan
kecil, bahkan menembak kaleng-kaleng jatuh untuk mendapatkan Mr.J sebuah boneka
beruang yang berukuran besar. Jimin sangat senang hari ini dapat menikmati
semua permainan yang menantang bagi dirinya. Tapi cuaca Korea ini selalu
mengganggu, akhir-akhir ini hujan selalu membuat Jimin kesal. Terpaksa Tae
Hyung dan Jimin berteduh disalah satu wahana yang bisa menampung banyak orang
untuk berteduh. Jaket tebal Tae Hyung menyelimuti tubuh Jimin yang terlihat
tidak kuat dengan dinginnya suhu korea karena hujan. Sebenarnya Jimin ingin
menolak, tapi Tae Hyung tersenyum padanya seperti isyarat ‘tidak apa-apa’.
“Jiminnie kau tahu kan Eomma dan Appa sangat menyukai hujan
sama seperti ku” ucapnya sambil mengambil setiap tetesan air hujan yang jatuh
ketangannya untuk membuka perbincangan mereka, “bagiku air hujan menyontek
dirimu, lembut namun kuat hingga mampu jatuh ketanah. Tapi aku bersyukur kau
tidak menyerupai wujud hujan yang terlihat sama saja tidak bisa dibedakan.
Seandainya kau menyerupai hujan aku tetap akan mencarimu tidak perduli seberapa
banyak hujan yang jatuh, aku tetap akan menangkapmu sebelum kau jatuh ketanah.
Karena aku...” kata-kata Tae hyung berhenti, tangan Jimin mengeratkan
genggamannya pada jaket yang menghangatkan dirinya.
Jimin menepis perasaan
berdegup yang dirasakannya. Wajah Tae Hyung mendekati tatapan kecil Jimin yang
terlihat kebingungan. Semakin lama jarak mereka semakin dekat. Jimin yang
merasakan deru nafas dingin mereka telah menyatu mulai memejamkan kedua
matanya... entah kenapa Jimin merasa aneh dengan taehyung hari ini. Dalam jarak
yang sangat sangat sangat dekat Tae Hyung mengutarakan perasaanya “karena
aku...................................................................................”.
Petir menyambar membuat Jimin tidak bisa mendengar perkataan yang hyungnya
lontarkan sebelumnya. walaupun begitu Jimin tidak menginginkan pengulangan,
namja itu hanya memperhatikan wajah merah Tae Hyung setelah mengatakan sesuatu
yang tidak diketahui Jimin.
“setelah hujan reda kita akan langsung pulang dan aku akan
memasakan sesuatu untukmu Jiminnie”
Suara itu terdengar bahagia, Jimin tidak tahu harus bersikap
bagaimana sekarang. Fikirannya sedang menunggu seseorang yang mungkin tidak
akan pernah datang menemuinya kembali. Jimin berharap apa yang Tae Hyung
katakan itu bukan tentang perasaannya. Dilain sisi Jin melihat adegan yang
dilakukan Tae Hyung terhadap Jimin, dadanya terasa sesak entah kenapa. Jungkook
yang masih asik bermain mulai menarik tangan Jin untuk pergi ke wahana lain
yang berada didalam ruangan. Jin hanya menuruti kemana kekasihnya membawa
dirinya.
Hujan belum berhenti sampai wahana hampir tertutup.
Kebetulan sekali Jungkook melihat sosok Tae Hyung dari dalam mobilnya, Jin pun
diminta untuk meminggirkan mobilnya.
“Tae Hyung-sshi annyeong..” kaca mobil terbuka dan
menampilkan majikannya menyapanya dari dalam. Jimin yang terkejut mulai
memundurkan langkahnya kebelakang secara perlahan mengingat wajah ini adalah
wajah namja yang menjadi kekasih Kim Seok Jin. “kalian ternyata juga disini,
ayo pulang sama-sama kebetulan taman bermainnya akan segera tutup. Tidak
mungkin sepertinya jika kalian menunggu hujan berhenti” pintu mobilpun
dibukakan Jungkook agar mereka masuk.
“tuan sepertinya kami tidak bisa menerima bantuanmu, mungkin
nanti kami akan memanggil taxi yang lewat”
“aniyo.. kau tidak boleh menolak tawaranku, kasihan
Jimin-sshi jika terlalu lama terkena dingin bukan Tae Hyung-sshi. Ayo masuklah.
Kami tidak keberatan mengantarmu ke Apartemen”
Jimin masih ingat apa yang dikatakannya pada Rapmon,
“jika kau bertemu dengannya, titip salam padanya dan katakan aku tidak
ingin bertemu wajah menyebalkannya dimanapun. Jika aku sampai bertemu dengannya
akan kupukul wajahnya sampai babak belur”
Tangannya mengepal secara reflek, jika benar dirinya melihat
sosok Jin dihadapannya. Jimin tidak akan segan-segan memukul namja itu. tidak
akan. Langkahnya yang semakin mundur membuat Jungkook memanggil Jimin dengan
sebuah teriakan “Jimin-sshi kau mau kemana?” tanyanya. Jimin tidak mau membalas
pertanyaan yang diarahkan pada dirinya. Masih dalam keadaan mundur kebelakang
Tae Hyung dan Jin yang berada didalam mobil pun melihat sosok namja yang
menghentikan langkah Jimin. Tentu saja itu membuat Jimin membalikan badannya
untuk melihat siapa seseorang yang berada dibelakangnya. “Rapmon-sshi?”
pergelangan tangan Jimin ditarik Rapmon untuk kembali mendekati mobil yang Jin
dan Jungkook tumpangi.
“annyeon Jungkook, Jin... kalian bisa pulang duluan.
Kebetulan aku dan Tae Hyung memiliki urusan jadi biar mereka ikut kemobilku.
Tidak apa-apakan Jungkook, Jin?”
Jin yang mendengar itu tidak mengerti dengan sikap Rapmon
yang tiba-tiba saja menjadi akrab dengan Jimin dan Hyungnya. Melihat Jin yang
terdiam membuat Jungkook harus membalas pertanyaan itu sendiri “tidak apa-apa,
kalau begitu kami pergi duluan ya.. tae hyung-sshi besok datang kerumah ya. Aku
tunggu”
“nde tuan” ucap Tae Hyung sambil membungkukan tubuhnya.
Tidak lama mobil Jin pun pergi meninggalkan ketiga namja yang sebelumnya mengobrol
dengan kekasihnya. Sikap dingin Jin pun kembali, hatinya kembali membeku. Sudah
cukup dengan ini semua Jin tidak bisa kembali seperti dulu. Cintanya,
perasaannya, semuanya tidak bisa kembali seperti dulu. Jin sadar itu dan sampai
sekarang masih memaksakan hingga hatinya sakit sendiri.
Rapmon mengemudikan mobilnya sambil memperhatikan 2 namja
yang terdiam dikursi belakang. ini salahnya. Namja itu tidak tahu jika Jungkook
dan Jin juga berada di taman bermain itu. seandainya namja itu tahu lebih cepat
mungkin tidak akan jadi seperti ini. Untung sebelumnya namja itu menghubungi
Maid Jin, karena setelah urusan pekerjaannya selesai namja itu berniat untuk
main kesana sebentar. Tapi Maid Jin mengatakan “tuan jin tidak ada dirumah tuan Rapmon-sshi dia sedang pergi ke taman
bermain di pusat Seoul bersama tuan muda Jungkook”. Dan alhasil benar
dugaannya, Jimin sedang menghadapi 2 namja yang tidak ingin ditemuinya sekarang
ini. Jimin sepertinya sangat shock dengan apa yang terjadi hari ini. Bagaimana
tidak namja itu hampir saja akan semobil dengan namja yang disukainya bersebelahan
dengan kekasihnya.
“apa kalian masih kedinginan? Aku akan menaikan
penghangatnya jika memang kalian masih kedinginan”
“ini sudah cukup Rapmon-sshi, kau sangat membantu kami.
Benarkan Jiminnie?” Tae Hyung menatap Jimin yang sedang memandangi hujan diluar
kaca mobilnya. Sepertinya tatapan itu sedang kosong.
-
[ kediaman Jungkook ]
Jin memberhentikan mobilnya di halaman kediaman Jungkook,
tubuhnya diam tidak bergeming sedikitpun. Jungkook yang merasakan keanehan pada
kekasihnya mulai menggoyangkan tubuh Jin untuk menyadarkan namja itu dari
lamunannya.
“apa yang kau fikirkan Jin-sshi? Apa ada sesuatu yang
mengganggumu?” tanya Jungkook tidak berniat turun dari mobil Jin. Jin masih
tetap diam dengan sikap dinginnya. Rasanya akhir-akhir ini dirinya sangat lelah
dan membutuhkan istirahat yang cukup. “jungkook hari ini aku tidak bisa
menemanimu sampai kamar, kau istirahat dan jangan lupa minum obat ya” ucapnya
sambil menatap wajah Jungkook yang sedang cemberut.
“kau sakit ya? Apa kau bisa merawat dirimu dirumah
sendirian? Aku bisa kerumahmu jika kau mau”
“masih ada Maid dan pelayan yang akan mengurusku, kau tenang
saja. Aku akan baik-baik saja”
Jungkook sebenarnya sedikit merasakan takut akan perubahan
yang dirinya rasakan atas sikap Jin. Tapi mungkin kekasihnya memang sudah cukup
lelah menemaninya bermain ditaman hiburan tadi. Setelah mengecup pipi Jin,
Jungkook keluar dari mobil namja tinggi itu dan melambaikan tangannya saat
mobil Jin meninggalkan dirinya sendirian diluar. Fikiran Jungkook mulai berlari
entah kemana. Pandangan Jungkook terasa berat rasanya dirinya sudah sangat
kelelahan hari ini. Tubuhnya yang hampir jatuh ditangkap Jung Ho Seok yang
tidak sengaja lewat dan melihat Jungkook sendirian didepan pintu utama.
“jungkook gwenchana? Dimana Jin-sshi?” Jung Ho Seok
mengeratkan genggamannya pada tubuh Jungkook yang setengah merosot dari
tubuhnya.
“aku tidak apa-apa Ho Seok-sshi, Jin kurang sehat makanya
pulang duluan. Bisakah kau membantuku masuk kedalam kamarku. Kepalaku sedikit
sakit” tanpa menunggu perintah Jungkook, Jung Ho Seok menggendong tubuh
kecilnya layaknya seorang yeoja cantik. Namja cantik itu bersembunyi didalam
dada Jung Ho Seok yang mendekapnya erat.
Jin yang telah tiba dikediamannya, melempar kunci mobilnya
asal dan ditangkap pelayan yang sedang membersihkan halaman rumahnya. namja itu
tidak memperdulikan setiap hormat yang diberikan Maid serta pelayannya. Baginya
menidurkan dirinya dikamar adalah cara ampuh untuk menghilangkan stresnya hari
ini. Pintu kamarnya dibanting membuat pekerja dirumahnya memandang takut kearah
majikannya yang sepertinya dalam keadaan Mood yang buruk. Seluruh benda yang
menjadi kenangan dirinya dan Jungkook hilang karena tertinggal disebuah
Caffetaria di itaewon saat bertemu kembali dengan Jungkook. Melihat kekasihnya
itu jatuh pingsan tidak membuat namja itu perduli akan keadaan sekitarnya.
Menyelamatkan hidup Jungkook adalah prioritas yang akan diambilnya untuk
pertama kali. Tapi... sepertinya perasaan cintanya pada Jungkook tidak sebesar
dulu mengingat seorang namja yang selalu saja menolongnya sekalipun dirinya
bersikap dingin dan ketus. Jin sangat takut jika perasaan itu benar
dirasakannya. Melihat Rapmon tadi mendekap tubuh kecilnya dadanya terasa sesak
tiba-tiba. Dan Jin tidak suka jika itu terjadi kembali. Namja itu mencoba
memejamkan kedua matanya, menenangkan fikirannya dan berharap pagi segera
datang mengembalikan hari sibuknya. Agar melupakan setiap detik rasa sakit
didadanya.
To be continue ...


asiiik vmin kencan yeeay #plakk
ReplyDelete"“baiklahh.... yang terjadii terjadiilaah!! Ayo kita lakukan Park Jimin” apaan jun? kek mw ngapain aja dsar :v
nah tae dah ungkapin perasaan tp syangnya chim g denger huwee T.T
jin cemburu nah loh gmn jungkooknya? ntar mati loh
wkwk Vmin Shipper yaa?:D ciyee mendoakan terus hubungan merekaa~ hehe ikutin terus yaaa kelanjutannya....
ReplyDeleteaww^////^ Jin-ah hayoo di komplain kamuu wks~
흥미있는!!! <3
ReplyDeleteAuthor ga ngerti chinguXD mianhe..~
Deleteitu artinya menarik.
Deletekyaaaa...!!! pengen liat muka Jin-sshi yang kesel karena namjanya direbuuut...
huweee petir sialan... kan jadi jimin gak denger si v ngomong apa sih ...
ReplyDeleteeiy lu jun kayak mau anuin jimin aja ... aha ... keren thor
Hay KhArmy ^^ hwaitingg! kau adalah obatkuu~
Delete