BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 9




Tapi... sepertinya perasaan cintanya pada Jungkook tidak sebesar dulu mengingat seorang namja yang selalu saja menolongnya sekalipun dirinya bersikap dingin dan ketus. Jin sangat takut jika perasaan itu benar dirasakannya. Melihat Rapmon tadi mendekap tubuh kecilnya dadanya terasa sesak tiba-tiba. Dan Jin tidak suka jika itu terjadi kembali. Namja itu mencoba memejamkan kedua matanya, menenangkan fikirannya dan berharap pagi segera datang mengembalikan hari sibuknya. Agar melupakan setiap detik rasa sakit didadanya.

-

Hanya 2 jam Jin tertidur, tapi alarm pagi sudah membangunkannya untuk bersiap-siap. Malam tadi adalah malam terburuk baginya. Namja itu tidak bisa tidur sama sekali karena rasa sesak itu terus menyakitinya. Mungkin sehabis ini dirinya akan pergi ke Apotek sekedar untuk membeli obat penenang atau obat tidur agar malamnya namja itu bisa beristirahat seperti biasa. Karena tidak ingin terlambat kesekolah Jin  segera beranjak dari tempat tidurnya lalu pergi menuju kamar mandi. 15 menit dalam kamar mandi mengembalikan sedikit rasa segar pada tubuhnya yang kurang tidur. 

Seragam yang telah disiapkan Maid langsung dikenakan begitu pula dengan sepatunya. Sepertinya sikap nya semalam membuat takut beberapa Maid hingga mempersiapkan perlengkapan sekolah Jin tanpa ada kesalahan. Kunci mobilnya juga telah diletakan pelayan yang semalam namja itu lempari. 

Sepertinya Emosi Jin memang belum bisa ditangani dirinya sendiri. Beberapa Maid telah menunggu Jin diruang makan untuk menemani tuan mudanya sarapan. Tapi dengan sedikit senyuman majikannya itu menolak untuk sarapan dan lebih memilih datang kesekolah lebih awal.

20 menit kepergian Jin dari kediamannya, Jungkook datang disupiri Kim Tae Hyung untuk menjemput kekasihnya itu pergi kesekolah bersama. Tapi Maid Jin mengatakan “tuan Jin sudah lebih dulu pergi kesekolah tuan muda,sepertinya tuan Jin sedang rajin hingga berangkat lebih awal dari biasanya” jelas sang Maid. Jungkook heran dengan perubahan sikap yang kekasihnya itu berikan. Sebenarnya apa yang terjadi, semenjak kejadian ditaman bermain. Jin mulai berubah dingin padanya. Apa itu hanya perasaan Jungkook yang mulai gelisah karena rasa bersalahnya?

“jungkook apa kita kembali saja kerumah? Wajahmu terlihat pucat” tanya Tae Hyung yang melihat bibir kecil mulai membiru. Jungkook masih diam dan bergulat dengan pikirannya. “jungkook?” 
mendengar nama nya dipanggil Jungkook akhirnya memilih untuk pergi kesekolah Jin dibanding kembali kerumah.

“Tae Hyung antar aku kesekolah Jin-sshi yaa.. aku ingin memastikan sesuatu”

“tapi jungkook apa kau lupa meminum obatmu pagi ini hingga wajahmu sangat pucat seperti itu? ayolah lebih baik kau kuantar pulang untuk meminum obatmu dulu”

“aniyo! Aku tidak mau pulang, aku ingin bertemu dengan— arrghhh sakit” kepala Jungkook kembali berdengung hebat, karena melupakan obat penenang yang harus diminumnya. Melihat majikannya itu kesakitan, Tae Hyung segera mengemudikan mobilnya kembali kerumah Jungkook. Agar namja cantik itu bisa meminum obatnya.

-

Jimin berjalan kesekolahnya dalam keadaan muram, rasanya menjalani aktivitas hari ini begitu berat. Terlebih lagi tidak ada Kim Tae Hyung yang biasanya menemani dirinya berangkat sekolah. Namja itu lebih memilih bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan ekonominya dan Jimin. Hari-hari membosankan dan penuh sakit hati sepertinya akan terus dirasakan seorang Park Jimin.

“aniyo.. aku harus tetap semangat demi Kim Tae Hyung yang rela melepaskan sekolahnya hanya untuk diriku yang bodoh ini. Aku yakin aku bisa membanggakan taehyung, Appa dan Eomma jika mendapatkan nilai bagus nantinya. Ayo semangat Park Jimin!” teriaknya sambil berlari. Jimin berlari dengan semangat menuju kelasnya dan tanpa disadari saat koridor itu memiliki tikungan. Namja itu bertabrakan dengan Jin.

“yakk! Kau tidak lihat-lihat jalan! Memang ini arena balap lari yang bisa kau pergunakan untuk berlari. Ini sekolah kau harus ingat” pernyataan Jin tidak digubris Jimin sama sekali, tatapan benci itu terpancar saat memandang Jin. “kau menatapku seperti itu? kau fikir aku yang salah? Dasar namja bodoh menyebalkan” tanpa membalasnya Jimin berjalan begitu saja melewati Jin yang sedang mengajukan banyak pertanyaan dikalimatnya. Kesal perkataannya tidak dibalasnya Jin menarik lengan Jimin hingga membuat tubuh kecil itu berbalik dan menghadapnya kembali.

“kau tuli? Aku sedang berbicara denganmu” jimin menepis tangan Jin dengan kasar dan kembali membelakangi namja itu. untuk kedua kalinya Jin mencegah kepergian Jimin yang sepertinya menghindari dirinya. “kau kenapa namja bodoh?” tanya ragu karena dirinya sadar Jimin bersikap seperti itu karena ulahnya sendiri.

Jimin memandangi mata Jin yang lebih tinggi darinya, seperti sebuah recorder Jimin mengulangi kata-kata Jin yang sepertinya dilontarkan kearahnya. “aku berjanji tidak akan memperdulikan namja itu sama sekali. Hanya namja itu” rewindnya.

“yaak kau masih saja menguping perkataanku? Dan apa maksudmu mengulangi kata-kata itu, kau fikir itu dirimu. Aku mengenal banyak namja dikorea, kenapa harus dirimu yang dimaksudkan atas kalimatku?” bohong jin agar mengembalikan keadaan menjadi baik-baik saja.

“aku tidak perduli kau mengucapkannya pada siapa! Tapi perlu kau tau aku tersinggung. Anggap kita tidak pernah berkenalan. Anggap kita tidak pernah bertemu. Jalani hidupmu sendiri.. aku ingin menjalani hidupku sendiri” tegasnya menusuk relung hati Jin yang ingin berniat baik.

“kau tidak bisa seperti itu padaku” Jin memandang wajah kecil dihadapannya sangat manis dan sangat dirindukannya. “apa saat kau berlari ditengah hujan kemarin itu juga karena perkataanku itu?” ucapan terakhir Jin diikuti suara bel sekolah mereka. Membuat Jimin mempunyai alasan untuk segera meninggalkan namja itu.

“aku harus pergi” jelas Jimin pada namja yang sekarang dibelakanginya. Jimin tidak ingin membahas apapun pada Jin bahkan untuk berbicara serius pada namja tinggi itu Jimin sudah malas. Namja mungil itu hanya ingin fokus pada pendidikannya, untuk membanggakan Tae Hyung yang sekarang telah melepas masa remajanya. Fikirannya tidak ingin dihantui akan perasaan cinta. Jin yang melihat tubuh mungil itu meninggalkannya, tidak tahu harus dengan apa memperbaiki semuanya. Mengapa Jin harus merasakan dilema seperti ini.

Mata pelajaran pertama dikelas Jimin adalah olahraga, dirinya ternyata terlambat untuk berganti pakaian karena dihadang Jin tadi. Takut Jihoo Seonsaengnim datang duluan kelapangan. Jimin pun berganti pakaian didalam kelasnya. Namja itu terlihat sangat terburu-buru. Hingga kakinya terpleset ditangga dan menyebabkan memar cukup serius. Beberapa murid yang melihat Jimin terjatuh segera membantunya, membawa namja itu segera ke ruang kesehatan. Jimin seharusnya lebih berhati-hati. “ini semua salah namja menyebalka itu, jika dia tidak mencegatku tadi. Aku tidak mungkin terburu-buru untuk pelajaran olahraga dilapangan” cibirnya dengan sedikit menahan sakit. Jimin masih mengurut-urut kakinya yang terpleset akibat terjatuh. Dirinya tidak percaya tidak sengaja melihat jadwal piket di ruang kesehatan itu nama Kim Seok Jin dicantumkan. Rasanya namja mungil ini begitu sial jika harus berhadapan lagi dengan Jin. Sebelum Jin datang Jimin berfikir untuk keluar terlebih dulu agar tidak bertemu lagi dengan namja itu. sejak kapan Jin menjadi anggota kesehatan disekolahnya. Ini seperti sebuah jebakan bagi Jimin. Pintu ruang kesehatan bergeser menampilkan sosok Jimin yang berjalan pincang dan Jin yang sedang membawa air hangat dibaskom.

“kau?” Jin mengedipkan matanya berkali-kali meyakinkan ini bukan halusinasi. Namja mungil itu tidak memperdulikan Jin dan lebih mementingkan untuk segera keluar dari ruang kesehatan. Jin kesal karena Jimin sama sekali tidak tahu kondisinya.

“kau masih bisa bersikap seperti itu dengan sakit dikakimu?” jin menahan tubuh Jimin yang mencoba menghindarinya kembali dengan membawa rasa sakit dikakinya. Tidak dibiarkan Jin keluar, Jimin mendobrak berkali-kali tubuh tinggi Jin agar terdorong kebelakang. “minggir...minggir aku tidak ingin bertemu denganmu!” ucap Jimin keceplosan. Pipinya memerah saat mengucapkannya dihadapan Jin namja yang disukainya tiba-tiba. Mata Jimin tidak berani bertemu dengan netra Jin yang tajam. Lama dalam keadaan berdebat, jimin mulai lelah dengan sikap angkuhnya. Rasa sakit dikakinya mulai terasa karena terlalu lama memaksakan berdiri. Melihat Jimin yang mulai tenang dan duduk manis dilantai, membuat Jin harus meletakan baskom air hangatnya dimeja. Dan segera mengangkat tubuh kecil Jimin untuk kembali istirahat ditempat tidur, itu semuanya juga agar Jin bisa mengobati kakinya yang membiru.

Handuk kecil berwarna putih dicelupkan ke air hangat yang dibawanya, Jin dengan hati-hati menempelkan handuk itu keluka memar dikaki Jimin. Ini sama seperti ketika Jimin menolongnya dulu. Ketika dirinya dibuat babak belur bawahan Min Yoongi  yang tidak terima keputusannya terhadap majikannya. Sama halnya dengan Jin yang mengingat masa lalu. Jimin yang tenang juga sedang mengingat saat dirinya membantu Jin yang masih bersikap ketus pada dirinya.


“apa sakit?” tanya Jin hati-hati, mengingat Jimin masih membenci dirinya. Namja mungil itu hanya diam tapi menggelengkan kepalanya pelan. “maafkan aku” bisik Jin namun terdengar cukup jelas ditelinga Jimin. “maafkan aku jika aku menyakitimu” lanjutnya. Jimin tidak mengerti setan apa yang merasuki namja dihadapannya ini. Atau mungkin namja ini sedang mabuk akibat Alkohol? Tapi sepertinya tidak. Jimin masih tetap tidak bicara dan fokus akan pendengarannya.


“aku tidak pernah menyangka wajah bodohmu selalu saja menghantuiku, membuatku tidak mampu berfikir jernih. Rasanya sangat menyakitkan kau harus tau itu”

“apa maksudmu bicara seperti itu seolah-olah...”

Tatapan Jimin dan Jin bertemu. Mereka berbagi rasa rindu satu sama lain, walaupun tidak diucapkan. Selama hampir 10 menit pandangan itu tetap tenang. Wajah Jin sengaja didekatkan agar mereka tidak memiliki jarak, tapi Jimin yang tadinya diam memundurkan wajahnya dan mulai mengalihkan pandangannya kearah lain. Jin sepertinya sudah gila hampir saja mencium namja manis dihadapannya. “aku minta maaf” mereka bersamaan mengucapkan kata maaf. Senyuman kecil menghiasi wajah Jimin, sepertinya rasa bencinya sudah mulai menghilang ketika mendengar Jin mengucapkan kata maaf pada dirinya. Kecanggungan yang awalnya mereka rasakan seolah mencair karena sebuah mantra sihir dari kata ‘maaf’.

“bagaimana bisa kau jatuh sampai membuat kakimu biru seperti ini dasar namja bodoh!” ketusnya kembali membuat Jimin menendang Jin yang berjongkok didepannya. Jin meringis kesakitan.

“memang aku menginginkannya! Lagipula ini salahmu! Kalau kau tidak mengajakku bicara tadi pagi aku tidak mungkin terburu-buru pergi kelapangan”

“kenapa salahku? Kau yang jalannya tidak hati-hati. Sekali namja bodoh kau akan tetap menjadi namja bodoh” Jimin bernyegit tidak terima dengan ucapan yang dilontarkan Jin. Dengan kasar Jimin memukuli tubuh tinggi itu yang dengan mudah menghindari setiap pukulan yang ditunjukan kepadanya. Entah kenapa wajah sendu mereka tidak lagi terlihat ketika bersama. Tawa lepas itu begitu tulus ditunjukan Jimin dan Jin.

Waktu terus berlaru. Alarm sekolah pun dibunyikan menandakan aktivitas belajar mengajar telah berakhir. Jimin merapihkan buku-bukunya kedalam tas lalu menyeret salah satu kakinya akibat tergelincir sebelumnya. jin yang sedang menuruni tangga menemukan Jimin sedang kesulitan membawa buku dengan kaki yang baru saja dirinya obati. Tentu saja namja tinggi itu segera menghampiri Jimin untuk sekedar membantunya. Tas yang digendong Jimin sebelumnya telah berpindah tempat kedalam genggaman Jin sekarang.


“apa kakimu masih sakit?” tanya Jin sambil memperhatikan langkah Jimin yang masih saja menyeretnya. Dengan senyuman Jimin berdiri tegak “gwenchanayo.. lihat aku bisa berdiri normal seperti sebelumnya kan?”

“aku akan ambil mobil diparkiran, kau tunggulah nanti di pintu gerbang” mendengar Jin begitu baik, Jimin sepertinya tidak bisa menolak. Pandangan Jimin sedikit meledek namja tinggi yang jalan bersampingan dengannya “kau sekarang sudah membawa mobil ya? Padahal dulu masih jalan sepertiku. Apa karena sudah menemukan kekasihmu?” sindir Jimin. Langkah Jin berhenti. Jimin secara reflek ikut berhenti sambil melambaikan salah satu tangannya kearah wajah Jin yang tiba-tiba melamun.

“waeyo?” Jin masih diam tidak sadar akan lambaian sang namja mungil. “Jin-sshi?”

“nde?”

“kau melamun? Ada apa?” Jimin kembali bertanya tapi sepertinya dirinya sadar jika salah bicara. Jin hanya tersenyum dan kembali melanjutkan jalannya menuju parkir mobil. wajahnya berubah sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan yang diberikan Jimin. Padahal Jimin hanya berusaha untuk membiasakan diri dengan kehadiran kekasih Jin.


-

[ keeskoan harinya ]

Jungkook mencari kesetiap sudut sekolah Bangtan School untuk menemui kekasihnya Jin. Dirinya kesal karena beberapa hari ini kekasihnya berangkat lebih awal terus tanpa mau diantarnya. Sebenarnya namja cantik itu bisa membicarakan ini semua baik-baik ketika dirumah. Tapi sepertinya Jin selalu menghindarinya jika akan membicarakan tentang perubahan sikapnya yang terjadi. Jungkook hanya ingin meyakinkan dirinya bahwa tidak ada namja lain yang mendekatinya disekolah. Kim Tae Hyung masih setia menemani majikannya itu mengelilingi sekolahnya. Namja itu tidak memberi tahu majikannya bahwa dirinya dulu bersekolah ditempat yang dikunjungi sekarang. 

“jungkook jangan berlari terus, kau harus ingat akan kesehatanmu”

Jungkook tidak perduli dengan rasa sakit dikepalanya, baginya dirinya akan tetap hidup jika Jin selalu bersamanya. Maka dari itu Jungkook terus berlari hingga dapat bertemu kekasihnya itu. tiba disebuah ruangan kelas yang sedang menjalani belajar mengajar. Nafas namja cantik itu sudah mulai tersengal-sengal, melihat tubuh majikannya itu akan jatuh. Tae Hyung segera berlari untuk menangkap tubuh Jungkook yang hampir terbentur tanah. Semua murid kaget ketika mendapati namja yang bukan dari sekolah mereka pingsan tepat didepan pintu kelasnya. Tapi namja yang menangkapnya cukup mereka kenali “Kim Tae Hyung” Lee Changnim Seonsaengnim memanggilnya.

Tae Hyung memberi hormat pada mantan Seonsaengnimnya dan segera pergi membawa tubuh lemas Jungkook untuk kembali kedalam mobil. karena cemas Tae Hyung menghubungi Jung Ho Seok yang sedang berada di Host Club. Namja itu lah yang selama di Amerika menemani majikannya. Jung Ho Seok lah yang tau semua tentang penyakit Jungkook, sedangkan Tae Hyung hanya bertugas untuk menjaganya kemanapun dia pergi.

“yeoboseyo?” suara seseorang terdengar dari sebrang sana beriringan dengan teriakan dan tawa beberapa yeoja.

“nde, Ho Seok-sshi ini soal Jungkook?”

Suara namja yang berada disebrang menghilang sebentar, dan kembali dalam keadaan hening disekitarnya. Tidak ramai seperti sebelumnya. “ada apa dengan Jungkook?”

“Jungkook mencari seorang namja disekolah namja itu, aku tidak bisa melarangnya. Setiap aku melarangnya dia menjadi nekat maka dari itu aku menurutinya. Dan sekarang Jungkook kelelahan, dia pingsan dan sekarang aku sedang menuju kerumah sakit untuk mengecek keadaannya”

“aku mengerti, terimakasih atas informasinya. Akan aku kirimkan biayanya ke rekeningmu” Jung Ho Seok yang mendapatkan informasi itu segera melaporkannya pada Ji Hyun hal-abeoji. Berharap hubungan Jungkook dan Jin akan segera ditentangnya. ‘ini semua salahnya’ geram Ho Seok pada Jin.

Dilain tempat Jin bertambah akrab dengan Jimin, hanya sebatas teman bagi mereka. Jimin sangat senang dapat selalu bertengkar bersama Jin tapi terkadang ada rasa bersalah pada namja lain yang berstatus sebagai kekasih Jin. Maka dari itu dalam keadaan akrab, Jimin berusaha untuk tidak menggunakan hatinya. Suara ponsel Jin berbunyi membuat namja itu harus segera mengangkatnya.

“yeoboseyo?” sahut Jin kepada namja disebrang sana yang menghubunginya.

“kemana kau! Kenapa Jungkook harus mencarimu kesekolah? Kemana kau sampai melupakan kekasihmu Seulki! Jika terjadi sesuatu pada Jungkook aku yang akan memukulmu!” teriak Ho Seok pada Jin yang tidak mengerti apa-apa.

“tunggu.. ada apa? apa yang terjadi dengan Jungkook? Jungkook mencari ku kesekolah?” jin menekankan suaranya khawatir, sama halnya dengan Jin namja mungil disampingnya terdiam kaget.

“jungkook kesekolahmu! Dia mencarimu sampai mengelilingi sekolahmu, kemana kau sampai membuat kekasihmu sendiri khawatir seperti itu Jin! Sekarang temui aku di rumah sakit Wooridul Spine”

“nde. Aku mengerti. Aku akan langsung kesana sekarang” jin menutup percakapan diponselnya dan kembali memandang Jimin yang masih setia mendengarkan percakapannya tadi. Jin tersenyum mengacak surai rambut halus Jimin “kau sekarang sudah tidak menguping lagi, kau mendengarkan pembicaraanku secara langsung bukan?” wajah itu terlihat lesu ketika mendapatkan telpon dari seseorang.

“ada apa dengan Jungkook? Kenapa namja itu mencarimu kesekolah?” tanyanya sedikit canggung.

“aku akan menceritakan padamu nanti. Tapi aku harus pergi sekarang” tubuh tinggi itu meninggalkan Jimin sendirian di atas atap sekolah. Kenapa Jimin rasanya ingin mencegat tubuh itu agar tidak meninggalkannya ya? Jimin kembali menepis semua pikiran jahatnya pada Jungkook.

Jin mengambil mobilnya diparkiran, ketika namja itu sudah siap meninggalkan sekolahnya wajah namja yang dikenalinya berdiri didepan mobilnya. “rapmon?” namja itupun keluar dari mobil untuk bertanya apa yang Rapmon lakukan disekolahnya. “apa yang kau lakukan disekolahku?” tanya Jin tidak mengerti.

“aku kesini hanya ingin memastikan kau tidak mendekati Jimin lagi, kekasihmu sedang sakit bukan? Berhentilah untuk mendekati namja lain Jin” Rapmon memberi sedikit nasehat dan pergi melewati namja yang menjadi sahabat lamanya. Jin tidak tahu apa yang terjadi, “apa maksudmu?” namja itu kembali meminta penjelasan secara detail.


“aku sudah katakan padamu dengan sangat detail untuk tidak mendekati Jimin lagi. Biar aku dan hyung Jimin yang menjaganya, kau pikirkan lah kekasihmu yang membutuhkan dirimu dalam keadaannya yang sedang berjuang”

“apa itu artinya kau menyukai Jimin?”

Rapmon diam sebentar dan kembali menatap namja yang berdiri tepat dibelakang sebelumnya, “nde. Aku memang menyukai Park Jimin”. Tatapan mereka beradu tidak terima atas sikap satu sama lain terhadap namja manis yang disukainya Jimin. Jin memegang dadanya yang sepertinya terasa sesak mendengar perasaan sahabatnya itu. “aku sadar perasaan tidak bisa memandang status seorang yeoja atau namja, dan aku akui Jimin adalah namja pertama yang aku sukai” terangnya lanjut membuat Jin tidak bisa kembali berfikir. Tidak perduli dengan namja dihadapannya. Jin kembali masuk mobil dan mengemudikan mobilnya keluar area sekolah meninggalkan Rapmon yang telah memberi tahu isi hatinya tentang Jimin pada dirinya.

-


40 menit dalam perjalanan Jin telah sampai dengan setengah hatinya. Menghampiri seorang namja yang dirinya ingat bernama Jung Ho Seok. “Ho Seok-sshi bagai—.” Belum sempat bertanya, Jung Ho Seok sudah mencekik kemeja sekolah yang dikenakan Jin.

“apa yang kau lakukan sebagai kekasihnya! Kenapa kau sampai tidak tahu Jungkook mencarimu sampai keliling sekolahmu! Kemana kau!” keringat dingin menjalar kewajah Ho Seok yang khawatir setelah memandangi Jungkook diruangan UGD sebelumnya. Dirinya sudah tidak menahan emosi kepada Jin yang tidak tahu apa-apa tentang Jungkook yang mencarinya. Jin hanya diam bingung harus bicara apa. tapi saat ketegangan itu terjadi hal-abeoji Jungkook keluar dari kamar Jungkook dan menghentikan amarah Jung Ho Seok pada Jin.

“jungkook memanggilmu, tetap pada dirimu yang tahu Jungkook sakit anemia. Kau mengerti?” 
mendengar perintah hal-abeoji Jin langsung mengangguk mengerti. Jung Ho Seok tidak mengerti mengapa tuan Jeon Ji Hyun selalu saja membela namja menyebalkan ini. Namja yang mungkin sudah tidak mencintai cucu satu-satunya. Sebelum masuk ke kamar rumah sakit Jungkook, Jin mengenakan pakaian khusus sesuai dengan prosedur rumah sakit agar pasien tetap aman dan nyaman dalam ruangan. Jungkook yang menyadari seseorang masuk kedalam kamarnya berharap itu adalah kekasihnya. Dan wajah Jungkook kembali ceria ketika wajah tampan sang kekasih berada dibalik tirai tempat tidurnya. Jin melewati tirai dan menemukan kekasihnya tersenyum begitu cantik.

“Jin-sshi” suara itu kembali terdengung ditelinga Jin, membuat dirinya kembali bersalah. Ini semua ulahnya, jika saja Jin tidak membuat kekasihnya khawatir. Ini mungkin tidak akan terjadi. Tangan Jungkook mencoba meraih Jin yang masih berjalan kearahnya. “Jin-sshi kau kemana saja, kenapa setiap pagi kau tidak menungguku untuk mengantarmu kesekolah.. apa aku berbuat salah padamu?” 
wajah kecewa itu membuat Jin memberikan senyum tipis bingung harus berkata apa.

“jungkook aku kan selalu kerumahmu selesai sekolah, kau harusnya tau bahwa dirimu tidak bisa jika terlalu kelelahan. Nanti kau akan kembali sakit seperti ini. Dan aku tidak tahu apa yang menyebabkan sampai kau nekat mencariku disekolah. Kau bisa menghubungiku bukan?”

“nde tapi aku juga ingin mengantarmu Jin-sshi, aku tidak ingin kau merubah sikapmu hanya karena ada namja lain mendekatimu. Aku ingin selalu berada disampingmu mulai besok, seperti dulu. Kau mau kan?”

Jin terdiam sejenak, dan mengangguk adalah jawaban yang tepat untuk sekarang. Mengingat Rapmon telah memintanya untuk segera menjauhi Jimin. Mungkinkah ini yang terbaik? Melihat anggukan dari kekasihnya Jungkook sangat senang dan segera memeluk Jin. Rasa behagia itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata apapun. Jung Ho Seok dan Hal-abeoji Jungkook memandangi mereka dibalik kaca. Mengetahui cucunya akan baik-baik saja membuat Hal-abeoji Jungkook memilih untuk kembali kekediamannya untuk beristirahat.

“dimana Taehyung?” tanya sang Hal-abeoji.

“dia sedang mengurus administrasi dibawah tuan, saya akan memintanya segera kembali untuk menemani Jungkook” ucap Jung Ho Seok dan segera pergi untuk melaksanakan tugasnya setelah mendapatkan persetujuan sang majikan. Hal-abeoji kembali memandangi 2 namja yang sedang berpelukan didalam ruangan. Senyuman Jungkook lah yang membuat dirinya terus bertahan hidup sampai saat ini. Dan hanya Jin yang bisa membuat senyuman itu terus terlihat.

15 menit menunggu, Tae Hyung dan Ho Seok pun datang menemui Hal-abeoji Jungkook.
“taehyung, aku titip Jungkook padamu lagi” perintahnya sambil menepuk-nepuk pundak Taehyung dan pergi meninggalkan namja itu. 

“nde tuan Jeon Jihyun” sambil memberi hormat pada sang tertua yang telah meninggalkan dirinya. Taehyung melirik sedikit kearah ruangan kamar inap dan menemukan teman kelasnya sedang memeluk Jungkook. Namja itu tidak pernah bersosialisasi dikelas sampai Taehyung tidak mengenali namanya. Tapi sepertinya Jungkook memiliki hubungan lebih dari seorang teman dengan namja itu. 

“tunggu.. apa jangan-jangan namja yang dicari Jungkook disekolahnya adalah dia?” tanyanya pada diri sendiri. Sebaiknya Taehyung tidak mengganggu acara kerinduan mereka berdua dan memutuskan untuk menunggu dibangku yang terletak didepan kamar inap Jungkook.

-


[ Bangtan School ]


Jimin membereskan seluruh bukunya setelah pelajaran usai. Hari ini cukup melelahkan dirinya, bahkan kakinya yang terkilir masih terasa sakit. Lebih baik dirinya segera pulang dan beristirahat di Apartemen. Dalam perjalanan menuruni tangga, Jimin kembali berhati-hati karena tidak mau tergelincir untuk kedua kalinya. Rapmon yang menunggu diparkiran mobil menghampiri Jimin yang sedang kesulitan berjalan.


“Jimin apa yang terjadi?” tanyanya khawatir melihat kaki namja yang lebih pendek darinya. Jimin sebenarnya kaget melihat Rapmon berada disekolahnya tapi lebih baik dirinya menjawab terlebih dahulu pertanyaan yang dilontarkan. “aku kemarin kurang berhati-hati, makanya kaki ku sedikit terkilir saat menuruni tangga. Tapi sudah tidak apa-apa karena sudah diobati”

“benarkah? Syukurlah” kalimat itu terdengar sedikit lesu dari bibir Rapmon. Jimin yang tidak mendapatkan pertanyaan lagi, balik memberikan pertanyaan. “Rapmon-sshi apa berniat bertemu dengan Jin-sshi? Kalau benar sayang sekali sepertinya kau tidak bisa menemukannya disini. Jin-sshi sedang menjenguk kekasihnya yang sepertinya masuk rumah sakit”

“aku tidak mencari namja itu, tapi dirimu” jimin yang sempat berpaling kearah lain, menoleh kembali. Meyakinkan pendengarannya tidak salah menangkap sebuah kalimat. “nde? Aku?”

“nde, aku dari tadi menunggumu pulang. mau tidak kau menemaniku makan siang?” dua bola mata Jimin membulat seperti bulan purnama penuh. Namja dihadapannya mengajak makan siang bersama. 

Tidak menunggu jawaban Jimin, Rapmon segera mengambil tas sekolah Jimin dan memasukinya kedalam mobil. jimin sebenarnya memberikan sedikit alasan untuk menolak, tapi tidak bisa karena mendapatkan perlakuan memohon dari Rapmon. Dengan terpaksa Jimin pun menuruti kemana Rapmon membawanya.


To be continue ...


Comments

Post a Comment

Popular Posts