Xiuhan.Lumin Love is WAR Chapter 5
“lepaskan Minseok” perintah Luhan
yang telah dikepung banyak antek-antek Block buster. Jaehyo terlihat berjalan
kearah Minseok, berdiri tepat dibelakang namja manis itu dan mengangkat wajah
minseok untuk tetap menatap setiap gerak-gerik namja yang dia percayai bukanlah
seorang pembunuh “perhatikan” bisik Jaehyo ditelinga Minseok. Setelah mendapat
kode untuk menyerang Luhan secara bergantian, Luhan meminta Minseok untuk
menutup matanya “Minseok-ah tutup matamu” tapi tidak dilakukan namja itu. Luhan
tidak mengerti mengapa minseok tidak mengikuti perintahnya.
-
-
Minseok masih memandangi Luhan yang sedari tadi hanya menghindar,
tidak mencoba untuk melawan. Bisikan di telinga itu kembali terdengar “dia
tidak akan melawan selama kau membuka matamu, kau tau kenapa karena dia tidak
menginginkan kau tau sifat aslinya”. Tidak mungkin semua itu benar batin
Minseok, bibir kecilnya digigit kencang masih meyakinkan diri bahwa itu semua
salah. Apa yang namja asing itu katakan salah. Luhan bukan seorang pembunuh.
“Minseok-ah ini perintah! Tutup
matamu!” teriakan itu kembali terdengar, kata-kata yang selalu Luhan ucapkan
sebelum berkelahi sama seperti sebelumnya. Tidak mau. Minseok masih ingin
melihat ketika luhan melumpuhkan namja-namja itu tanpa membunuhnya. Dalam pandangan
Minseok seorang namja telah berhasil memukul Luhan dan membuat sang malaikat
maut tersungkur ditanah.
“LUHAANNN!”
Luhan memfokuskan pandangannya akibat pukulan
yang diterimanya mengenai kepala. ‘kumohon tutup matamu’ batinnya sambil
menahan sakit yang untuk pertama kali seperti dia rasakan. Air mata minseok
tertahan melihat kondisi yang Luhan terima, namja manis itu masih tidak ingin
menutup matanya. Mengapa luhan hanya bertahan tidak mencoba untuk membalas.
Berkali-kali pukulan yang mengenai luhan membuat namja itu kembali tersungkur
ketanah. Ahn Jaehyo merasa puas karena rencana yang dia persiapkan berhasil
dengan sangat sempurna. Lee Min Hyuk yang mendapatkan arahan dari Jaehyo
melangkah mendekati Luhan yang bersujud dengan berlumuran darah.
“bangun” perintah Min Hyuk pada
Luhan. “kau menyedihkan saat ini, hanya karena tidak ingin namja itu melihatmu
membunuh kau tidak membalas serangan satupun. Kemana sang malaikat maut yang
tidak perduli akan apapun!”. Luhan yang mendengar itu semua hanya memasang deathgler
ke arah namja yang berdiri angkuh dihadapannya, sambil membuang darah yang
berada dalam mulutnya luhan membalas ucapan Min Hyuk “bukan urusanmu”.
“kau menyukai namja itu Xi
Luhan?” pertanyaan itu membuat namja yang harus menjawabnya melirik kearah
object yang sedang dibicarakan. “jika kau menyukainya maka tetaplah seperti
anjing penjaganya yang bodoh!” sebuah tendangan keras menghantam wajah Luhan.
luhan yang sudah tidak berdaya hanya bisa mendengar samar-samar suara Minseok
kecil. “Luhan! bangun! Balas serangan mereka. Aku mohon! Xi Luhan”. itu semua
tidak membuat namja yang dipanggilnya bangkit dari tubuhnya yang tersungkur
ditanah.
“Luhaaaan!! Aku mohon Luhaaan,
maafkan aku!” seandainya Minseok mengikuti perintah Luhan mungkin ini semua
tidak akan Luhan rasakan. Lee Min Hyuk dibantu Kim Yukwon mengangkat tubuh
Luhan yang tidak mampu berdiri tegak karena pukulan-pukulan benda yang
diterimannya. Dijatuhkan tubuh Luhan tepat di bawah kaki Kim Minseok yang
sedang diikat disebuah bangku. “luhaann! Banguun! Maafkan aku, bangun aku
mohon!”.
Ahn Jaehyo terhibur dengan
pandangan yang saat ini namja itu saksikan, karena kepolosan Minseok
benar-benar menjadi nilai plus untuk misinya. “terima kasih chagi” pipi Minseok
yang sedari tadi diam dikecup lembut oleh bibir Jaehyo. Jaehyo meminta pemukul
untuk menuntaskan membunuh Luhan sampai mati. Luhan yang sudah berlumuran darah
hanya bisa menatap langkah apa yang selanjutnya akan diambil mereka saat
dirinya tidak mampu lagi melawan.
Sebuah pemukul softball siap menjadi
saksi bisu kematian sang malaikat maut, dan yang membuat mereka terkejut bukan
Luhan yang terkena hantaman keras itu melainkan Kim Minseok. Namja itu nekat
berdiri ditemani ikatan dibangkunya untuk menutupi tubuh Luhan yang sudah tidak
bisa bergerak lagi. Luhan yang terkejut akan tindakan aksi penyelamatan Mnseok
pada dirinya hanya bisa memandang kaku ketika tubuh Minseok terkapar tak sadar
ditanah.
“min—minseok—minseok-ah“ tangan
luhan berusaha untuk membawa tubuh minseok kedalam dekapannya. Sangat shock
ketika mendapati darah segar mengalir karena benturan kepala minseok dengan
tanah, pukulan yang mengenai punggung minseok mungkin akan menjadi luka serius
yang mengakibatkan namja manis itu kehilangan kesadarannya. Seluruh antek-antek
Block buster sangat takut jika nanti Luhan kembali bangun dan membantai mereka
semua. Jaehyo merasa salah sasaran karena tidak berfikir jarak Minseok dan
Luhan yang terlalu dekat akan membuat namja manis itu berbuat nekat untuk
melindungi Luhan. “minseok-ah, bangunlah.. minseok-ah!” luhan menggoyangkan
tubuh Minseok, serta merapikan poni namja itu yang menutupi wajah manisnya.
Luhan melepaskan ikatan yang mengikat tubuh kecil Minseok, mendekap erat agar
dinginnya udara tidak menyerang tubuh namja manis itu. luhan berharap namja
manis itu membuka matanya kembali dan berkata ‘rusa menyebalkan’ pada dirinya
lagi. “minseok-ah bangguuuun!”
“bawa namja itu pergi kerumah
sakit jika terlambat mungkin dia akan mati” Jaehyo mencoba untuk memperingatkan
Luhan ketika melihat darah mengalir dari kepala Minseok. Mendengar itu Luhan
tanpa berfikir panjang langsung menggendong Minseok seperti seorang yeoja,
berlari menuju mobilnya dengan cepat dan tidak ada yang berani menghalangi
jalan namja itu. setelah memasukan Minseok kedalam mobil, Luhan melangkah
kearah jaehyo yang sedang memandangnya dihalangi beberapa antek-antek Block
buster. Semangat tempur Luhan telah kembali seperti biasa melihat Minseok
terluka. Satu persatu dari namja itu tumbang dihajar Luhan dengan sekali
pukulan tenaga Kuda. Beberapa namja yang telah tumbang merasakan perih yang
luar biasa diarea bekas pukulan Luhan, seperti terbakar. Sesampainya dihadapan
Ahn Jaehyo, Luhan memandang sinis kearah namja yang bersikap licik akan pertarungan
yang dibuatnya. “kau tidak punya nyali untuk melawanku, hingga berbuat seperti
ini. Aku berjanji akan mencarimu dan membunuh mu setelah mengetahui keadaan
Minseok” ungkap nya sambil berlari kembali kearah mobil tempat Minseok
menunggunya.
-
[ Rumah Sakit ]
Setelah mendapatkan penanganan
selama 6 jam, Luhan diperbolehkan masuk untuk menemanii Minseok yang masih
belum sadarkan diri. informasi yang namja itu terima dari suster yang
merawatnya Minseok mengalami penyempitan disaraf sebelah kanannya yang mengakibatkan
fungsi tangannya mungkin tidak akan seperti biasa untuk sementara waktu.
Kondisi namja manis itu sekarang hanya menunggu sadarnya saja,karena Asma nya
yang tidak kambuh membuat Minseok mungkin akan lebih cepat sadar. Luhan sadar
bahwa ini semua akibat kelalaiannya, tapi yang namja itu bingungkan mengapa
Minseok berada di ruangan kerja Kris. mengapa para penculik Minseok tau ruangan
yang tidak akan namja itu fikirkan ketika kehilangan keberadaan Minseok. Orang
dalam??
Luhan masih memandang wajah pucat
yang kini terbaring karena kesalahan dirinya, “Minseok-ah” genggaman tangan
yang begitu erat berusaha untuk menyadarkan namja manis yang sedang tertidur
dengan cantiknya. Namja itu tidak mengerti mengapa dirinya sangat tidak ingin
Minseok mengetahui sifat aslinya, perasaan ini salah jika Luhan bilang Cinta.
“aku...”
BRAAAK!
Suara hentakan dari pintu kamar
ruangan rawat Minseok memperlihatkan sosok namja yang memiliki kendali atas
semuanya. Kris melihat putra kesayangan terbaring lemah dengan selang yang
terpasang pada seluruh tubuhnya. Elusan lembut seorang ayah masih belum mampu
menyadarkan putranya yang terpujur kaku tak mampu merasakan apapun. Kris yang
menangis karena harus menyaksikan putra satu-satunya tak sadarkan diri
memandang kesal Luhan yang tidak bertanggung jawab atas keselamatan putranya.
“kauuu! Brengsek!” sebuah pukulan
harus kembali Luhan rasakan setelah dirinya mendapatkan perawatan dri suster
yang tidak tega melihat namja itu babak belur berlumuran darah. Luhan hanya
memandang kris dengan wajah menyesal tidak bisa mengatakan apa-apa atas
kesalahannya.
“kupercayakan putraku padamu!
Mengapa kau membuatnya terluka bajingan! Aku membayar mu mahal untuk
menyerahkan nyawamu demi keselamatan putraku, bukan ini yang aku ingin lihat.
namja brengsek kau!” kerah luhan yang
ditariknya dihempaskan kebelakang. Para antek-antek Kris yang menerima perintah
untuk membawa Xi Luhan keluar dari kamar rawat Minseok pun mengambil tubuh
Luhan yang sama sekali tidak melawan saat dirinya yakini penolakan akan
keberadaannya.
“luhan kau kupecat, jangan pernah muncul dihadapan ku dan
putraku lagi!” perintah itu yang terakhir kali Luhan dengar sebelum pintu yang
memisahkan dirinya dengan Minseok tertutup rapat. Chanyeol yang merasa puas
akan reaksi Kris terhadap Luhan, mencoba untuk bicara pada Luhan yang sudah
tidak mendapatkan posisi apa-apa untuk berada disamping sang namja manis.
Dengan berpura-pura keluar chanyeol melewati Luhan yang masih mematung dan
membisikan “bukan aku atapun minseok yang bisa memerintahmu. Hanya tuan Kris
yang bisa memerintahkan mu untuk menjauhi putranya” sedikit tawa kemenangan
membumbui bisikan pedas yang chanyeol berikan pada Luhan.
“aku berharap tidak ada orang
dalam yang melancarkan semua ini”
mendengar sindiran Luhan, Chanyeol hanya menghentikan langkahnya sejenak tanpa
merespon perkataan saingannya itu.
-
Kris masih memandangi wajah
putranya yang sangat pucat, namja itu tidak ingin kehilangan untuk kedua
kalinya. Wajah yang mirip dengan yeoja yang dicintainya membuat Kris frustasi
jika terjadi apa-apa pada putra kesayangannya itu. hanya Minseok sesuatu yang
berharga dalam hidupnya setelah Sohee ibu kandung dari Kim Minseok menghilang.
Tidak lama kris melamun, Minseok
membuka kedua matanya. Melihat seorang namja yang sepertinya tidak asing dalam
ingatannya. Pandangan yang buram membuat minseok harus berusaha keras
memperjelas penglihatannya “ayah?” suara kecil itu terdengar. Minseok yang
telah yakin bahwa dihadapannya itu adalah ayahnya namja yang selama ini di
nanti dirinya untuk bertemu pun terwujud. Tubuh yang ingin segera melompat
untuk memeluk sang Ayah diurungkan akibat tangan kanannya yang tidak mampu
bergerak.
“ayah tanganku kenapa?!” minseok
mulai histeris karena tangannya tidak mau mengikuti perintahnya. Kris meminta
salah satu anteknya memanggil dokter khawatir akan keadaan putra kesayangannya.
Sang ayah memeluk putranya yang semakin menjadi tidak terima dengan kondisinya
saat ini. “ayah tanganku tidak mau bergerak! Ayah!” tangisan dan teriakan
minseok mampu terdengar luhan yang masih menunggu kesadaran namja manis itu.
dokter dan para suster yang sebelumnya merawat minseok memberikan obat penenang
bagi namja itu agar tidak terlalu histeris ketika mendengar penjelasan sang
dokter.
“ada apa dengan putraku dok?”
tanya kris sambil menidurkan Minseok yang kembali melemas akibat obat penenang
dosis rendah yang diberikan.
“sudah kujelaskan pada temannya,
apa namja itu tidak memberi tahu anda tuan?” ketika melihat keheningan itu sang
dokter mencoba untuk menjelaskan ulang. “anak anda mengalami penyempitan saraf
dibagian lengannya tuan, maka dari itu untuk beberapa waktu tangan kanan anak
anda tidak bisa berfungsi untuk sementara. dibutuhkan terapi agar penyempitan
itu kembali melunak”. Minseok menarik baju ayahnya menggunakan tangan kirinya
memberikan ekspresi memohon untuk disembuhkan.
“sembuhkan anakku secepatnya!
Masalah biaya aku akan membayar berapapun!”
“ini semua masalah waktu tuan”
Kris tidak mungkin mengeluarkan
sifat aslinya sebagai namja kasar dan rakus dihadapan Minseok, dengan fake face
kris memberikan wajah memohon dan polos pada sang dokter. Kris sangat
menyayangi putranya dan tidak menginginkan sesuatu yang membahayakan
menimpanya. Sekalipun harus kehilangan nyawanya “dokter aku mohon sembuhkan
putraku secepatnya, aku mohon”.
Minseok yang melihat ayahnya bersujud memohon
pertolongan sang dokter sangat bahagia begitu besar rasa cinta ayahnya pada
dirinya, dan dia yakin semua tindakan yang selama ini diberikan hanya untuk
membuat dirinya tidak dalam bahaya. Namja manis itu merasa bersalah akan
fikiran negative tentang ayah kandungnya.
“putra anda harus mengikuti
setiap terapi yang kami berikan agar tangannya cepat kembali normal” jelas sang
dokter yang pamit setelah memberikan penjelasan rinci pada Kris. kris memeluk Minseok
berusaha untuk menenangkan dirinya, namja itu berusaha jauh dari putranya hanya
agar sesuatu yang berbahaya manjauhi putranya. Namun itu semua terlihat gagal
dimata Kris semenjak Minseok terluka akibat kecerobohan Luhan pengawal pribadi
Minseok yang mengakibatkan putranya diculik beberapa orang. Minseok membalas
pelukan sang ayah yang menangis karena kondisinya “ayah aku tidak apa-apa,
jangan menyalahkan diri sendiri”.
“ini semua karena Ayah, maafkan
atas kebodohan ayah mencari pengawal yang tidak berguna untukmu. Sampai kau
seperti ini” tutur Kris.
“ayah jangan begitu, bukan salah
luhan aku seperti ini” bicara tentang Luhan, Minseok tersadar bahwa hanya ada
beberapa antek-antek ayah yang berada dalam ruangan rawatnya. Lalu kemana
Luhan? “ayah, Luhan dimana?” tanya nya karena tidak melihat keberadaan namja
yang dipanggil minseok ‘rusa menyebalkan’. kris melepas pelukannya dan berdiri
memalingkan wajahnya dari Kim Minseok.
“ayah benar-benar memecat Luhan! aku
terluka bukan kesalahannya mengapa ayah seenaknya mengambil keputusan tanpa
bertanya padaku? Aku yang membiarkan diriku terluka bukan karena Luhan”
“itu keputusan ayah yang mutlak,
sebagai gantinya kau akan dijaga 24jam oleh Chanyeol. Harus nya namja itu
waspada akan keselamatanmu, walaupun kau melukai dirimu sendiri seharusnya
luhan bisa menghentikanmu! Tanganmu seperti ini karena dirinya!” tegas kris,
beberapa namja yang mendapatkan arahan untuk menjaga diluar kamar rawat
Minseokpun pergi dan mengambil posisi mereka. Chanyeol yang mendapatkan
perintah untuk menjaga Minseok hanya membungkuk mengerti akan tugasnya.
“ayah akan pergi keluar untuk
sementara waktu, chanyeol jika kau melakukan kesalahan pada tugasmu dan membuat
putraku terluka sedikit saja. Kusingkirkan kau sama seperti namja brengsek
itu!”
“nde. Saya mengerti”
Minseok tidak terima akan
keputusan sang ayah pada Luhan, namja manis itu berusaha bangkit dari tempat
tidurnya untuk mengejar sang Ayah. “ayah aku mohon batalkan pemecatanmu pada
Luhan, ini kesalahanku. Ayah dengarkan aku Ay—” tubuh minseok yang tidak stabil
terjatuh dalam dekapan Chanyeol yang
menahan tubuhnya. Kris yang telah meninggalkan ruangan rawat Minseok menyerahkan
semua pada Chanyeol. Genggaman Minseok mengerat ketika dadanya terasa sakit
“chanyeolli aku mohon.. kejar... kejar ayah ku” mintanya dengan memelas.
Chanyeol membawa tubuh Minseok kembali ke tempat tidur dan membaringkannya
untuk istirahat. Keringat yang mengalir dihapusnya dengan sentuhan lembut dari
tangan Chanyeol “tenangkan dirimu Minseok, nanti aku akan bicara pada ayahmu”
mendengar itu, Minseok tersenyum penuh harap dan menidurkan dirinya.
Kris yang keluar dari kamar rawat
Minseok menemukan Luhan masih berdiri tidak jauh dari pintu kamar Minseok.
Tanpa bicara namja itu melewati Luhan begitu saja. Beberapa langkah melewati
Luhan, Kris tidak menoleh namun bicara tanpa saling menatap melainkan saling
membelakangi satu sama lain.
“kukira kau sudah meninggalkan
tempat ini, apa kau mendengar semuanya” luhan tidak menjawab, hanya ingin
mendengarkan “putraku sudah sadar, kau bisa pergi setelah ini. Dan jangan
coba-coba mendekati atau bertemu dengan putraku lagi” setelah memberikan
peringatan pada Luhan, Kris melanjutkan kembali perjalanannya meninggalkan
rumah sakit.
Luhan yang mendengar Minseok
telah sadar tersenyum bahagia “syukurlah Minseok-ah”.
Luhan mendatangi markas
dimana Block buster biasanya berkumpul, sepasang mata itu menyaksikan banyak
namja membawa pukulan, rantai, pistol sedang mengambil posisi untuk mengepungya.
Masih terlihat tenang namja itu menatap kesetiap pasang mata yang menantang
balik pandangannya.
To becontinue...


Comments
Post a Comment