BOY IN LUV JINJIMIN VER, Chapter 12



“Jimin aku mencintaimu”


-

Jimin membuka kedua matanya ketika seseorang memanggil namanya, hanya sebuah ruangan kosong terlihat. Tidak ada orang lain selain dirinya diruangan itu. lalu siapa yang memanggilnya? Jimin terus melihat kesekeliling ruangan yang tidak dikenalinya, dimana dirinya sekarang?

Dalam kebingungan Jimin bersyukur ada seseorang yang telah membuka pintu ruangan ini. Sosok namja yang tidak dikenali Jimin datang dengan membawakan makanan dan minuman. Namja itu tersenyum ketika melihat Jimin telah sadar dari pingsannya. “syukurlah kau baik-baik saja, kami menemukanmu pingsan dijalan, jadi aku membawamu kesini”

“terimakasih sudah mau menolongku” ucap Jimin sopan.

“nde, tapi apa yang kau lakukan sebenarnya ditengah malam seperti kemarin tanpa menggunakan jaket ataupun syal tebal? Apa kau tidak tahu suhu korea ketika malam hari?” candanya membuat Jimin mengingat kembali masalah sebelumnya. jimin melamun memikirkan kemana sebenarnya Hyungnya pergi. Ini semua karena salahnya membiarkan namja lain memeluknya tanpa memperbolehkan Taehyung memperlakukan hal yang sama padanya.

“kenapa kau melakukan ini padaku Jimin?”

“kenapa, kenapa hanya diriku yang tidak bisa bersaing untuk memilikimu! Kenapa!” air mata Taehyung menetes menyetuh setiap lekuk wajah Jimin. “kenapa harus aku yang menjadi Hyung angkatmu.. kenapa harus aku yang menyimpan perasaan ini sendirian? ”

“maafkan aku, aku akan menginap ditempat temanku untuk sementara”

Jung Ho Seok melambaikan salah satu tangannya kewajah Jimin yang masih sibuk berfikir. Mencoba untuk menyadarkan namja mungil itu bahwa ada namja lain sedang berbicara dengannya. “makanlah selagi makanan dan minuman ini masih hangat, kau itu terlalu lama dalam suhu dingin kemarin” Ho Seok menyerahkan nampan dan diterima Jimin dengan senyuman. Banyak sekali orang baik yang mau membantunya ketika kesulitan dijalan. “jika kau tidak mau menceritakan masalahmu itu hakmu, tapi alangkah baiknya jika kau tidak bertindak nekad seperti semalam. Jika kami tidak lewat dan melihatmu mungkin kau akan mati membeku” setelah menyerahkan makanan yang dibawanya, namja itu meminta izin untuk keluar. “jika kau membutuhkanku, kau bisa panggil aku dibawah” pintupun tertutup dari luar.

Jung Ho Seok menyapa setiap yeoja yang baru saja datang, dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai didapur. Seorang namja yang tertidur didapur mulai dibangunkan Ho Seok karena sudah banyak pengunjung di tempat kerjanya. “sampai kapan kau tidur?” tanyanya, membuat Taehyung bangun dari tidurnya. Taehyung yang baru saja membuka matanya, langsung mengambil segelas air putih hangat dan meminumnya. Tubuhnya sangat kedinginan karena tidur didapur selama semalam.

“salahmu sendiri harus memiliki perasaan pada dongsaeng sendiri, walaupun namja itu bukan dongsaeng kandungmu tapi setidaknya kau harus menghargainya dengan tidak meminta hubungan lebih dengannya” Jung Ho Seok memberikan nasehat pada Taehyung yang sepertinya sudah cukup stres menghadapi perasaannya. Sebenarnya Ho Seok mengenal Jimin waktu kecil tapi karena perubahan setiap tahun Ho Seok tidak bisa mengenali namja yang ditolongnya itu adalah Jimin. Taehyung tidak merespon ucapan temannya itu yang mencoba untuk menenangkan dirinya. “dengarkan aku Taehyun, kembali lah pulang dan perbaiki hubunganmu dengan Jimin. Itu akan membuat hatimu tenang nantinya” perintah Jung Ho Seok yang masih setia menghadap Taehyung.

“aniyo, itu akan menyakitiku. Aku belum bisa bertemu dengannya Ho Seok.. mungkin untuk saat ini” mendengar itu Ho Seok hanya menggerakan kedua bahunya tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan teman lamanya itu. taehyung mencari percakapan lain agar Jung Ho Seok tidak membahas kembali tentang perasaannya pada Jimin. “kudengar tuan membantu namja asing yang ditemuinya dijalan?”

“nde, namja itu sedang beristirahat ditempat tuan Jihyun... sepertinya namja itu sangat kebingungan hingga tidak bisa cerita masalahnya padaku”

“tuan Jihyun baik sekali mau membantu namja asing yang tidak dikenalinya, Sebaiknya kau segera mengantar namja itu kembali kerumahnya. tidak enak bukan jika tuan Jihyun harus mengurusi namja asing terlalu lama” mendengar pertanyaan Taehyung, Ho Seok mengangguk tanda mengerti. Sebaiknya memulangkan namja asing itu kekeluarganya adalah cara tepat agar namja itu dirawat keluarganya saja. dirinya juga melupakan untuk bertanya nama dari namja itu. sebaiknya ketika dirinya mengambil bekas piring dan gelas nanti, semua pertanyaan itu dijawabnya.

-

-

Kamar seorang namja cantik berantakan tidak tertata rapih seperti biasanya. Itu semua dilakukan secara sengaja karena rasa sakit dikapalanya tidak kunjung hilang. Jungkook kesal dengan keadaan sakit yang membuat dirinya harus bertergantungan dengan sebuah obat. Terlebih lagi kekasihnya sudah jarang mengunjunginya, perubahan itu dirasakan Jungkook sejak lama. Tapi fikiran itu ditepis Jungkook. Dirinya yakin perasaan Jin bisa kembali seperti dulu jika Jungkook bisa bertahan bersama Jin dengan sifat aslinya. Sifat saat pertama kali mereka bertemu. Ini semua memang kesalahannya karena meninggalkan namja tampan itu selama 10 bulan tanpa ada kepastian dalam sebuah pertengkaran. Membuat perasaan benci itu kembali, memang apa salahnya Jin tahu kesehatan dirinya yang asli? Tidak. Itu akan semakin membuat Jin menjauhi dirinya. “aaarrggghhhh!” teriakan Jungkook terdengar para Maid dan Pelayan yang hanya bisa menunggu Hal-abeoji Jungkook datang menanganinya. Mereka tidak ada yang berani mendekat karena Jungkook selalu melempari barang-barangnya kearah siapa saja yang mendekatinya. tidak ada yang boleh menolongnya saat sakit seperti ini. Karena Jungkook ingin segera mati cepat dan melepas rasa sakit yang dideritannya akhir-akhir ini. Hal-abeoji hanya menginginkan Jungkook kembali tersenyum seperti dulu, saat masih bersama Jin. Saat dirinya sehat seperti dulu tapi sudah tidak bisa. Obat penenang bahkan tidak bekerja dengan baik pada rasa sakit yang dideritanya akhir-akhir ini.

Hal-abeoji yang telah tiba membuka pintu kamar Jungkook yang tergeletak pingsan karena tidak kuat menahan sakit dikepalanya. “Jungkook!” beberapa pelayan dan maid yang berada dibelakang Hal-abeoji langsung mengambil tubuh majikannya itu untuk segera dibawa kerumah sakit. Wajah tua Jihyun terlihat sangat khawatir ketika bibir Jungkook telah putih sempurna, darah segar yang mengalir di hidungnya, serta beberapa helai rambut rontok dalam genggaman cucunya “tuhan aku mohon jangan ambil cucuku satu-satunya” tubuh Jungkook dipeluk erat sang Hal-abeoji, namja tua itu tidak sedikitpun berniat untuk melepaskannya.

Setalah sampai dirumah sakit Jungkook segera dirawat diruang ICU, selama berjam-jam dokter tidak kunjung keluar dari ruang rawat dimana cucunya dirawat. Jung Ho Seok dan Kim Taehyung datang ketika mendapatkan kabar dari Maid dan pelayan yang merawat namja cantik itu dirumah. Tanpa bertanya mereka dapat mengambil kesimpulan bahwa keadaannya tidak memungkinkan untuk mereka bertanya. Mereka semua menunggu dengan harap-harap cemas diruang tunggu. Taehyung membeli minuman hangat ketika melihat majikannya itu mengelus kulit tuanya yang kedinginan.
“tuan minumlah dulu” ucap Taehyung, namun direspon gelengan pelan sang majikan. “aku tidak bisa melakukan apa-apa sebelum tahu keadaan Jungkook, Taehyung-sshi. Tapi aku berterimakasih atas perhatianmu”

Tidak lama mereka menunggu diruang tunggu, sang dokter keluar dari ruang periksa Jungkook. Wajahnya terlihat seperti akan memberikan kabar buruk. Taehyung dan Jung Ho Seok memasang wajah kebingungan jika itu benar terjadi. Jeon Jihyun yang melihat dokter telah keluar dari kamar rawat segera menghampirinya dan menanyakan keadaan cucu kesayangannya.

“bagaimana keadaan Jungkook?”

 “maafkan kami tapi kanker Jungkook sudah mulai menyebar kesetiap saraf, mungkin tidak lama lagi seluruh tubuhnya akan lumpuh tuan. Kami sudah melakukan semampu kami, tapi operasi tidak akan mungkin berhasil karena sudah terlambat. kemoterapi yang harus dijalankan tidak dilakukan sesuai dengan prosedur yang diperintahkan itu mempercepat Kanker menyebar tuan”

Jeon Jihyung yang mendengar informasi itu langsung jatuh lemas kelantai. Tubuh tua itu terkulai tidak berdaya ketika mendengar pewaris satu-satunya kekayaannya tidak bisa bertahan hidup lama. Bahkan mungkin Jungkook yang akan mendahului dirinya untuk pergi selama-lamanya dari dunia ini. “Usianya masih muda mengapa harus Jungkook yang menerima ini semua, harusnya aku saja yang mendapatkan penyakit itu. aku saja!!” air mata itu tidak bisa tertahan lagi dari kedua mata seorang Jeon Jihyun. Taehyung menatap lekat namja cantik yang sedang terbaring diruang rawat dari balik kaca 2 arah, wajah itu sangat pucat. Dirinya mungkin tidak bisa berfikir dengan jernih jika Jimin yang mengalami semua ini. Keadaan Jungkook sekarang tidak sadarkan diri, entah namja itu akan koma sampai kapan dokter tidak mampu memastikannya. Hal-abeoji Jungkook memanggil sebuah kontak telpon yang bertuliskan Kim Seok Jin. Hanya namja itu yang sekarang dibutuhkan Jungkook untuk kembali sadar.

Malam harinya Jin datang kerumah sakit memenuhi kewajibannya sebagai seorang kekasih. 
Sesampainya namja itu memberi hormat kepada sang Hal-abeoji dan kedua namja yang menemaninya, Taehyung dan Jung Ho Seok. Tidak perlu mendapatkan izin dari siapapun. Jin segera mengganti pakaian khusus untuk masuk kedalam ruang rawat Jungkook. Wajah pucat Jungkook dan berbagai alat perlengkapan untuk membuat kekasihnya tetap hidup terpasang penuh. Dirinya tidak menyangka mengapa kekasihnya harus berjuang sampai seperti ini. Setiap helaian rambut Jungkook mulai rontok dan itu membuat Jin mengecup pelan tangan dinginnya. Namja itu menangis tapi perasaanya sedikit ditahan. “jungkook sadarlah aku mohon, aku merindukanmu” panggilan itu membuat Jin sedikit tenang dan berharap kekasihnya mendengarnya dari alam bawah sadarnya. Suara detak jantung Jungkook terdengar normal. Hanya sakit dikepalanya yang membuat dirinya harus seperti ini. Jin selalu berdoa agar kekasihnya selalu diberikan umur panjang untuk bisa selalu bersamanya. apakah fikiran Jin terdengar tulus? ataukah fikiran itu sedikit Naif? hanya Jin yang tau jawabannya.

Jung Ho Seok yang masih terfokus pada kegiatan Jin yang menggenggam erat tangan Jungkook, dikejutkan sebuah perintah dari Jeon Jihyun.
“Ho Seok-sshi kembalilah ke Host Club bersama Taehyung, urus tempat itu selama aku menemani Jungkook dirumah sakit” perintah itu terdengar tegas, membuat Ho Seok segera melaksanakan perintahnya. Namja itu pergi diikuti Taehyung dari belakang. hal-abeoji masih menunggu Jungkook diruang tunggu, berharap cucunya itu sadar saat Jin menemaninya.

-

Jimin mempersiapkan dirinya untuk segera pergi mencari Taehyung lagi. Tidak lupa namja itu membersihkan kamar tidur yang telah digunakan sebelumnya. rasanya tidak enak meninggalkan tempat ini sebelum pamitan pada sang pemilik tempat. Setelah merapihkan kamarnya, Jimin keluar kamar dan menemukan banyak yeoja dan namja tampan berada disetiap sudut. Kamar namja mungil itu berada dilantai atas tentu saja dapat melihat banyak sekali namja tampan yang sedang memanjakan yeoja tua maupun muda dibawah sana. Sebuah sentuhan lembut diterima Jimin. Terlihat 2 yeoja cantik sedang memperhatikan Jimin dari ujung kaki hingga kepala sambil tertawa.

“apa kau namja baru disini? Manis sekali” pipi Jimin dielus salah satu yeoja cantik dihadapannya.
Yeoja lainnya memegang lengan Jimin yang lumayan terbentuk akibat latihan bela dirinya “waah dia memiliki lengan-lengan kuat~” gemasnya. Jimin yang tidak mengerti langsung melangkah pergi meninggalkan 2 yeoja yang menyeramkan dirinya. Dimana sebenarnya dirinya berada. Jimin terus berlari menuruni tangga melewati setiap yeoja dan namja yang sedang asik melakukan aktivitasnya. tapi langkahnya terhenti ketika tidak sengaja menabrak namja yang telah menolongnya. Yang lebih mengagetkan Jimin. Taehyung juga berada ditempat ini. “hyung?” panggil Jimin pada namja disamping Ho Seok. Mendengar namja itu memanggil Taehyung dengan sebutan Hyung tentu saja dirinya baru mengetahui namja yang dirinya tolong Park Jimin.

“kau Jimin? Jadi yang tuan Jihyung tolong adalah Jimin mu?” tanya Ho Seok memandang penuh pada Taehyung yang sama-sama kaget. Namja itu berniat untuk tidak menemui Jimin selama perasaannya belum hilang tapi ternyata itu semua tidak berhasil. Jimin langsung memeluk Taehyung dan mengucapkan perasaan menyesalnya pada namja itu. “maafkan hyung sungguh aku tidak bermaksud membuatmu membenciku..aku tidak tahu harus bagaimana agar kau mau kembali menjadi hyungku”

Tanpa memperdulikan Jimin, Taehyung melepaskan pelukan itu dan pergi meninggalkannya bersama Jung Ho Seok. Rasanya ingin menangis mendapatkan penolakan yang dirinya terima dari Taehyung. Kasihan melihat Jimin menangis sendiri, Ho Seok mencoba untuk memberikan semangat “tunggu disini, aku akan bicara dengan Taehyung”. Jung Ho Seok langsung mengejar Taehyung yang memasuki dapur.

“Taehyung...Taehyung” namja itu terus memanggil temannya yang menyibukan diri untuk berpura-pura tidak mendengar panggilannya. Setelah menarik salah satu lengannya, Taehyung segera menghentikan kegiatannya. “hentikan kau melakukan ini pada Jimin, namja itu sampai kapanpun tidak akan bisa mencintaimu. Namja itu sudah hidup bertahun-tahun dengan mu sebagai dongsaengmu. Hentikan sifat kekanak-kanakanmu!”

“aku tidak bisa melakukan itu semua saat ini. Aku masih butuh waktu untuk menghilangkan perasaanku padanya. Sejak kecil hatiku terus menahan perasaan sendirian, aku lelah terlebih lagi ketika Jimin sudah mengetahui perasaannku dan tidak bisa menerimaku. Rasanya...”

“aku kesal jika harus mengatakannya tapi jika memang ini pilihanmu aku akan mengatakannya pada Jimin agar tidak perlu mengkhawatirkan mu disini” ucap Ho Seok yang siap pergi menemui Jimin, “kau harus tau namja itu semalaman mencari mu tanpa menggunakan mantel penghangat, untung tuan Jihyun menemukannya dan mau membantunya, hampir saja dongsaengmu itu mati beku diluar akibat kebodohanmu” lanjutnya. Taehyung tidak bergeming membuat Jung Ho Seok pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Sangat bingung berada disituasi permasalahan antara 2 bersaudara yang memiliki perasaan seperti ini. Jung Ho Seok sebenarnya tidak tega mengatakan Jimin harus pulang tanpa Taehyung. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya sangat percuma bicara dengan Taehyung yang mempunyai sifat keras kepala. Perasaan cinta memang sulit dijelaskan. Melihat Jimin setia menunggu Taehyung di ruang tunggu, Jung Ho Seok menggigit bibirnya bingung harus memulai darimana. Jimin sadar akan kedatangan namja yang baru saja berbicara dengan Taehyung, bibir mungilnya tersenyum tipis. Tapi perasaannya mengatakan bahwa dirinya tidak akan kembali ke Apartemen tanpa Taehyung.

“maafkan aku karena tidak bisa mengajak hyung mu untuk kembali menemuimu, sepertinya namja itu membutuhkan waktu sendiri Jimin” mendengar namanya disebut, Jimin memandang wajah namja yang tidak dikenalinya itu. “bagaimana kau tahu namaku?”

“kau tidak mengingatku? Waktu kecil kita sering bermain bersama dan kau selalu saja membuatku menangis. Kau sudah ingat?”

Jimin berfikir namja yang selalu dirinya buat nangis? Apakah... “kau Jung Ho Seok? Namja menyebalkan yang selalu menjahiliku?” jung Ho Seok senang ketika dirinya masih diingat Jimin, rasanya Jung Ho Seok masih tidak percaya namja yang selalu membuatnya menangis dulu. Sekarang telah besar menjadi namja yang sangat manis sama seperti majikannya Jungkook. “sudah lama tidak bertemu” ucap Jimin menepuk pundak besar yang dimiliki Ho Seok. “dan terimakasih sudah menolongku sebelumnya”

“bukan aku yang menolongmu sebelumnya, tuan ku Jeon Jihyun yang mau membantumu. Dirinya tidak tega melihat namja yang seusia cucu kesayangannya mati beku diluar sana. Lagipula aku tidak mengenalimu sebelumnya, aku tidak berfikir kau seorang Park Jimin yang dulu selalu membuatku menangis” jimin tertawa mendengar canda yang diberikan Jung Ho Seok pada dirinya. Namja itu sepertinya mencoba menghibur perasaannya yang sedang sedih karena sifat Taehyung.

“pasti tuan Jeon Jihyun itu sangat baik sampai mau menolong namja asing sepertiku, dan jika boleh tau tempat apa ini? Bagaimana hyungku bisa sampai menemuimu?”

“tuan Jihyun memang suka menolong seseorang yang sedang kesulitan, tapi dirinya tidak bisa menolong cucunya yang sedang kesulitan karena sakitnya. Dan tempat ini adalah sebuah Host Club..” mendengar kata Host Club Jimin sedikit risih, bagaimana mungkin pekerjaan seperti itu dibuat seseorang yang baik seperti namja yang menolongnya. “kau tidak perlu heran Jimin, pekerjaan ini hanya dilakukan kepada namja-namja yang memang membutuhkan uang untuk kebutuhannya dalam waktu cepat. Semua sesuai dengan keputusan mereka masing-masing. bekerja dengan senang hati untuk kehidupan keluarga mereka. Dan Taehyung disini hanya sebagai supir cucu dari tuan Jihyun jadi kau bisa tenang”

“kau mengatakan jika cucu tuan Jihyun kesulitan karena sakit, memang sakit apa namja itu?” jimin penasaran dengan cerita yang sebelumnya diceritakan Jung Ho Seok padanya. Sebenarnya Ho Seok tidak ingin menceritakannya tapi sepertinya karena ceritanya barusan membuat jimin harus mengorek cerita itu lebih dalam “namja itu sakit Kanker stadium 4” kedua bola mata Jimin membulat ketika mendengar seorang namja seusianya mengidap penyakit yang sangat serius untuk mempertaruhkan hidup dan matinya. “dan sekarang namja itu sedang dirawat karena dokter mengatakan kankernya sudah mulai menyebar ke sarafnya, itu membuat tuan Jihyun harus menemani cucunya dirumah sakit”

“semoga cucu tuan Jihyun bisa diselamatkan, siapa namanya? Aku ingin sekali-kali menemaninya dirumah sakit agar dia tidak kebosanan. Itupun jika tuan Jihyun tidak keberatan”

“untuk sekarang sepertinya tidak bisa karena dia masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, namanya Jeon Joon Kook”

Tidak ada angin ataupun hujan mengapa suhu tiba-tiba dingin dirasakan Jimin ketika mendengar sebuah nama lengkap Jungkook disebutkan. Mengapa seluruh tubuhnya kaku tidak bisa digerakan. Bukan hanya itu, Jimin sekarang tahu bahwa kekasih Jin mengidap penyakit yang sangat mematikan. Sebenarnya dirinya ingin menangis tapi entah kenapa tidak bisa. Jung Ho Seok yang merasakan perubahan sikap pada diri Jimin mulai memanggil agar kembali menatap dirinya. “kau baik-baik saja?”

“nde aku baik-baik saja, tapi...seperti..nya aku harus kembali..pu..lang” kata-kata Jimin terdengar aneh, membuat Jung Ho Seok bertanya kembali tentang keadaan namja mungil itu “kau sungguh baik-baik saja, hyung mu tidak bisa mengantarmu. Biar aku yang—.” Belum selesai Jimin sudah tahu maksud baik Jung Ho Seok tapi tetap ditolaknya. “aniyo.. aku.. ingin sendiri saja pulangnya. Terimakasih” namja mungil itu akhirnya pergi meninggalkan kedai Coffe tempat dimana Host Club itu terlihat.

Hari ini adalah hari yang begitu memberatkan bagi Jimin. Mengetahui Taehyung dan Rapmon menyukai dirinya, Jin yang disukainya telah kembali dengan kekasih lamanya, dan kekasih Jin Jungkook mengidap penyakit serius. Semua membuat Jimin sulit menerima kehidupannya yang sekarang menjadi berantakan. Ingatan-ingatan pertemuannya dengan Jin mulai melintasi seperti bayangan-bayangan gelap. Kedekatan yang mereka jalani tidak semulus kulit putihnya. Rasanya sangat berat jika harus menelusuri jalanan menuju Apartemennya. Kakinya lemas tidak mampu untuk melangkah lebih jauh lagi. Dan tubuhnya pun diistirahatkan sejenak di sebuah bangku jalanan, setiap yang melihatnya memandang aneh pada Jimin. Namun Jimin tidak memperdulikannya. Yang dirinya rasakan sekarang hanya rasa sakit dihatinya. Tidak bisa untuk menahan tangis itu lebih lama.

-

Jin memegang tangan Jungkook sangat erat, berharap tangan itu balik menggenggamnya. Bisakah dirinya kembali tersenyum tulus seperti dulu. Saat ini perasaan Jungkook tidak dirasakan Jin karena mungkin Jungkook terlalu memaksakan dirinya untuk memiliki Jin. Dirinya ketakutan jika saat kematiannya tiba Jin tidak berada disampingnya. Jungkook sangat menderita menghadapi penyakit ini sendirian, Jin sangat menyesal ketika harus mengakui bahwa dirinya telah jatuh hati pada namja lain. Dan ketika Jungkook nantinya kembali sadar dirinya berjanji untuk selalu berada disamping kekasihnya tanpa memiikirkan namja lain lagi. Mungkin jin akan mengungkapkan isi hatinya pada Jimin nanti agar dirinya tidak terus kefikiran akan bayangan wajah namja itu yang selalu menghantuinya.

Sudah 2 hari Jin tinggal dirumah sakit namun Jungkook belum sadarkan diri. hal-abeoji Jungkook sudah meminta Jin untuk kembali pulang dahulu ataupun bersekolah tapi namja itu hanya menggeleng. Dirinya masih ingin tetap menunggu Jungkook sadar dan menjadi saksi kekasihnya telah bangun dari koma nya. mendengar itu Hal-abeoji begitu senang ketika namja yang dicintai cucunya begitu mencintai balik dirinya. Dengan senang hati Hal-abeoji kembali menunggu cucunya sadar diruang tunggu rumah sakit.

Malam harinya tangan Jungkook dirasakan telah bergerak. Mendapatkan reflek tubuh Jungkook, Jin segera berlari keluar ruangan dan memanggil sang dokter. Hal-abeoji yang tadinya tertidur langsung bangkit bangun ketika mendengar teriakan Jin yang sedang memanggil dokter.

“ada apa Jin-sshi?” tanya Hal-abeoji yang mendekatinya.

Jin tersenyum senang dan memberikan kabar gembira ini pada sang Hal-abeoji “Jungkook telah sadar Hal-abeoji, tangannya sudah bergerak”


To be continue...

Comments

  1. Aku harap jiminie bisa seneng di chapter selabjutnya, hiks . hehehe ^^ hwaiting author-nim!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga endingnya bisa sesuai dengan yang chingu harapkan yaa:D hwaiting teyus~

      Delete
  2. asiik jin udah mw mulai terbuka sm perasaannya. cpt selesaiin msalah lu ma chim ya jin biar chim g baper. smoga jinkook bhagia
    dan aku berharap vmin bsa bersatu, klo rapmon? ama hoseok aja #plakk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe terimakasih sudah mengikuti chingu:D semoga cepat selesai masalahnya biar ga baper lgi Chimchimnya{} aku juga jadi galau Jinjimin atau Vmin wks~ tp... #abaikan :p :3

      Delete
  3. semoga aja jungkook sembuh karena kekuatan cintanya ama jin #eakjbahasanya...
    trus jimin yang sabar nak ... pasti nanti kau bisa sama sama ama v .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hay KhArmy..>< hwaiting htiku membara!! pngen lanjutiin fanfic lagii:3

      Delete

Post a Comment

Popular Posts