BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 13





Malam harinya tangan Jungkook dirasakan telah bergerak. Mendapatkan reflek tubuh Jungkook, Jin segera berlari keluar ruangan dan memanggil sang dokter. Hal-abeoji yang tadinya tertidur langsung bangkit bangun ketika mendengar teriakan Jin yang sedang memanggil dokter.
“ada apa Jin-sshi?” tanya Hal-abeoji yang mendekatinya.

Jin tersenyum senang dan memberikan kabar gembira ini pada sang Hal-abeoji “Jungkook telah sadar Hal-abeoji, tangannya sudah bergerak”

Hal-abeoji yang mendengar kabar gembira itu langsung masuk kedalam ruangan rawat Jungkook. Kedua mata cucunya telah terbuka sempurna, membuat senyuman tuanya terlihat bahagia. Dokter yang dipanggil Jin meminta kedua namja itu keluar sebentar agar pemeriksaan berlangsung tenang. 15 menit dalam pemeriksaan, sang dokterpun keluar ruangan Jungkook. Jin membantu Hal-abeoji berdiri untuk menghampiri sang dokter.

“bagaimana keadaan cucuku dokter?”

Dokter merapihkan peralatannya dan diserahkan salah satu suster lalu membawanya pergi. Dokter itu memberikan penjelasan “kesadarannya memang telah kembali, tapi penyebaran Kankernya tidak bisa dihentikan tuan. kemoterapi yang seharusnya dijalani cucu anda seharusnya bisa memperlambat penyebaran dari Kanker kesetiap sarafnya. tetapi yang kita ketahui, kemo tidak dijalankan cucu anda. kami sudah berusaha semampu kami untuk memberitahukan dan sekarang kita serahkan semua pada takdir.” Setelah dokter itu mencoba untuk pergi tubuh hal-abeoji Jungkook terasa berat dalam genggaman Jin. namja tua itu bersujud memohon pada sang dokter agar tidak pergi sebelum memberikan kabar baik untuk cucu kesayangannya.

"aku mohon! selamatkan cucuku! hanya dia satu-satunya yang kumiliki sekarang ini!" Hal-abeoji bersimpuh tepat di kaki sang dokter, kejadian itu membuat Dokter bingung dan berusaha untuk meminta namja tua itu untuk segera berdiri. "jangan seperti ini tuan.." tegur sang dokter.

Jin sepertinya mengerti perasaan yang dialami Hal-abeoji Jungkook. Secara perlahan namja itu membuka pintu ruangan Jungkook yang menampilkan sosok namja bertubuh lemas sedang terbaring disana. Wajahnya tidak lagi pucat seperti sebelumnya saat pertama kali masuk rumah sakit. Jin bersyukur karena bisa melihat sedikit senyum Jungkook kembali.

-

Rapmon mendatangi Jimin di Apartemennya, dirinya sudah tidak perduli akan ancaman yang Taehyun tunjukan pada dirinya. Sudah beberapa hari ini Rapmon tidak bertemu dengan Jimin disekolah. Dengan nekad namja itu siap menjenguk Jimin yang telah menjadi incaran untuk menjadi kekasihnya. Ketukan pelan dibunyikan ke pintu Apartemen milik Jimin. Tidak ada jawaban dari orang dalam, mungkinkah Taehyung tidak memperbolehkan Jimin menemui dirinya juga. Setelah ketukan berkali-kai diperdengarkan, Jimin pun membuka pintunya. Wajahnya terlihat kusut sekali seperti tidak terurus siapapun. “Jimin apa yang terjadi pada dirimu?” jimin tidak memperdulikan pertanyaan itu dan berniat menutup kembali pintu apartemennya. Dengan reflek Rapmon menahan pintu itu agar tidak kembali menutup.

“pergi dari sini, aku tidak membutuhkan siapapun! Jangan dekati aku lagi!” teriak Jimin membuat Rapmon sedikit kesal akan tindakan Taehyung yang sepertinya meminta Jimin untuk menjauhinya. Jika memang namja itu mencintai Jimin, seharusnya namja itu bersaing secara sportif untuk mendapatkan hati Jimin.

“jimin dengarkan aku, aku tidak tahu apa yang Taehyung katakan padamu tapi izinkan aku menemui namja itu untuk membicarakan ini secara baik-baik”

“jika kau mencari Taehyung ditempat ini, kau tidak akan menemukannya. Hyungku sudah meninggalkan ku sendirian ditempat ini. Jadi pergilah aku tidak menginginkan siapa-siapa saat ini!” teriakan dan ucapan Jimin membaut Rapmon semakin emosi dan kesal. Namja mungil seperti Jimin memang kuat tapi dirinya yakin hatinya tidak sekuat tenaganya. Secara paksa pintu yang akan menutup didorong kencang Rapmon agar kembali membuka. Jimin yang menahannya kalah kuat dengan tenaga Rapmon yang benar-benar seorang namja sejati. Tubuh kecil itu terduduk dilantai.

“jimin maafkan aku soal Taehyung yang meninggalkanmu akibat kejadian aku memelukmu. Tapi sepertinya namja itu kelewatan karena sudah membiarkanmu tinggal sendirian seperti ini. Aku akan mencarinya”

“aniyoo...” jimin memegang kaki Rapmon agar dirinya tidak bisa melangkah keluar, jimin tidak ingin Taehyung semakin kesal jika ditemui Rapmon nantinya. “aku... tidak.. apa-apa.. aku hanya ingin tenang...” jimin menangis tanpa malu lagi. Mungkin hanya ini yang bisa dirinya lakukan, menangis dihadapan namja lain. Dihadapan namja yang sedang menyukai dirinya. Jimin tidak sedang mencari belas kasihan, kehidupannya menjadi serba salah ketika Cinta terbentuk. Namja mungil itu hanya berharap pertemuannya dengan Jin tidak pernah terjadi.

Beberapa jam kemudian Jimin masih tetap diam duduk termenung di tempat tidurnya. Sedangkan Rapmon sedang menyiapkan makan malam untuk mereka santap nanti. Sepertinya memang Jimin jarang makan akhir-akhir ini karena tidak bisa masak. Terbukti dari beberapa makanan instan yang dibelinya dan masih berantakan belum dibuang sama sekali. 20 menit menyiapkan hidangan hangatnya Rapmon akhirnya siap memanggil sang tuan rumah untuk segera beranjak dari tempat tidurnya. Panggilan Rapmon tidak digubris sedikitpun. Jimin masih saja menatap kosong pandangannya, sepertinya dirinya masih berfikir sesuatu yang menyakitinya.

“jimin kita makan dulu yaa, aku yakin tadi pagi kau belum makan. Ayo kita keruang makan” jimin tidak merespon.

Kembali Rapmon mencoba merayu namja mungil itu “Jimin aku mohon jangan seperti ini..aku minta kau makan sedikit saja untuk mengisi tenagamu”. Karena perkataannya tidak didengar Jimin, Rapmon segera mengambil makanan buatannya dan menyuapi Jimin yang masih saja diam seperti orang sakit. Suapan yang sedikit menyentuh bibir mungil itu dihindari dengan cepat oleh Jimin. Rapmon sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menyadarkan namja yang sepertinya sedang patah hati ini. Melihat Jimin seperti ini sedikit membuat khawatir Rapmon. Mungkin dirinya harus memanggil seseorang yang bisa melakukan sesuatu di saat-saat seperti ini.

“yeoboseyo?” terdengar suara seseorang diujung sebrang sana.

Rapmon sebenarnya malas mengakui ini, tapi hanya dirinya yang bisa membantu Jimin saat ini “kau dimana? Bisakah kita bertemu?”

-

-

Rapmon menunggu seseorang dibawah Apartemen Jimin, dan tidak lama namja itu datang memarkirkan mobilnya diparkiran. Namja itu keluar dari mobil lalu menghampiri namja yang sedang berdiri menunggunya. Jin terlihat heran mengapa Rapmon menghubunginya untuk datang ketempat Apartemen yang dirinya ingat tempat tinggal Jimin. Sedikit kode untuk mengikuti Rapmon dimengerti Jin langsung. Mereka menaiki lift Apartemen dan menuju kamar Jimin.

“apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya?” tanya Jin tidak mengerti dengan tindakan sahabatanya itu. tidak menjawab pertanyaan itu, Rapmon hanya langsung pada topik utama. Membuka pintu Apartemen dan membiarkan Jin melihat kondisi Jimin secara langsung. Namja tinggi itu menghampiri namja yang sedang memandang kosong  ke satu pandangannya.

“apa yang terjadi sebenarnya?” jin memandang kembali kearah Rapmon yang sedang duduk dimeja makan. “jimin?” panggilannya masih tidak dihiraukan Jimin. Rapmon bingung harus menjelaskan apa pada Jin. Dengan sedikit pengetahuannya tentang kejadian hari ini, Rapmon pun menceritakan apa yang diketahuinya.

“aku menemukan Jimin sudah seperti ini, sebenarnya tadi dia masih memiliki tenaga untuk menolak kehadiranku. Tapi mendengar dirinya tinggal sendiri aku langsung memaksa untuk masuk memastikan sesuatu. Ternyata benar dirinya sama sekali tidak terurus”

“lalu kemana Kim Taehyun?”

“aku tidak tahu, aku belum sempat menanyakan itu. jimin hanya mengatakan jika aku mencari namja itu bukan ditempat ini”

Jin kembali menepuk pipi lembut Jimin tapi masih tidak memiliki respon. Karena kesal akhirnya Jin mulai berteriak tidak sabaran. “yaak namja bodoh ! apa yang terjadi pada dirimu sebenarnya! Namja bodoh!” jimin mulai sadar akan pandangannya dan pendengarannya. Dirinya melihat namja yang dirindukannya cukup lama. Suara itupun terdengar sedikit pelan “Jin-sshi?”.

“heeee? Apa yang kau katakan? Aku tidak dengar!? Suara mu itu tidak bisa kudengar sedikitpun!”
Jimin memandang aneh pada namja tinggi yang sedang berdiri didepannya. Apa yang dilakukan Jin disini, bukankah dia sedang menemani Jungkook dirumah sakit. Jin melihat Jimin kebingungan.
“apa yang kau—.” Suara Jimin masih terdengar kecil, Jin pun semakin menaikan nada tinggi pada percakapannya. “yaak! Kau ini sebenarnya bicara apa!? aku tidak bisa mendengarnya jika kau berbisik seperti itu”

Mendengar Jin berteriak pada dirinya membuat Jimin kesal tidak karuan. Apa sih sebenarnya yang namja ini lakukan di Apartemennya. “yaak! Tidak usah berteriak seperti itu! kau fikir dirimu itu siapa!” melihat Jimin yang lebih seram meneriakinya membuat Jin harus mundur kebelakang mencari jarak dari namja mungil itu. setidaknya Jin tidak mendapatkan jurus bela diri dari namja kecil dihadapannya.

“sebenarnya kau itu kenapa namja bodoh? Selalu saja jika tidak bersamaku sebentar saja dirimu mendapatkan masalah? Apa yang terjadi ceritakan padaku?” tanya Jin mencoba untuk mengembalikan semangat Jimin yang dulu dikenalinya.

“urusanku bukan urusanmu! Jadi sekarang keluarlah dari kamarku jika kau kesini hanya untuk meneriakiku!”

“apa maksdumu!? Seharusnya aku yang memarahimu karena bersikap aneh sampai tidak mau makan seperti itu! kau fikir dirimu itu benda mati yang tidak membutuhkan makan?”

“aku tidak peduli! Lagipula aku memiliki nama! Park Jimin! Jangan memanggilku dengan sebutan namja bodoh terus!”

“jika kau tidak mau dipanggil namja bodoh bersikaplah seperti Jimin yang kukenali! Jimin yang selalu bersemangat dan bisa menolong orang lain ataupun mengganggunya”

 Jimin menundukan kepalanya tidak bisa mampu melihat mata Jin yang menatapnya. Tapi bukankah seharusnya Jin sedang berada dirumah sakit? Lalu kenapa sekarang dirinya berada disini. Jimin mulai berbicara normal seperti biasa setelah beradu argumen dengan Jin. Namja menyebalkan yang dirinya rindukan. “sebenarnya kau itu sedang apa disini? Datang-datang kau meneriakiku seperti orang gila” kalimat Jimin membuat Jin sedikit bingung, apa namja itu bergerak secara tidak sadar. Memandang atau melakukan sesuatu secara tidak sadar. Mengapa Jimin seperti tidak menyadari kehadiran orang lain disekelilingnya.

“apa kau tidak sadar dengan kehadiran Rapmon—” saat menoleh kearah Rapmon namja itu sudah tidak ada ditempat. “tunggu..kemana namja sialan itu?” jin mencari-cari Rapmon kesekeliling kamar Jimin namun tidak ditemukan. Mengapa namja itu meninggalkan Apartemen tidak dirasakannya. Jimin sadar akan kehadiran Rapmon sebelumnya tapi mengingat masalah yang menimpa dirinya, rasanya sangat malas untuk merespon siapa saja yang berbicara dengannya. jin melihat makanan hangat yang sepertinya baru saja Rapmon buatkan untuk Jimin.

“namja bodoh makanlah agar kau bisa menjaga kesehatanmu dan kembali bertengkar denganku”
Jin menyerahkan makanan yang telah siap santap pada Jimin yang masih setia pada posisinya. Namja mungil itu tidak berniat sedikit saja untuk meninggalkan tempat tidurnya. Sambil mengambil setiap suapan untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya, Jimin penasaran dengan kemunculan Jin di apartemennya. “sebenarnya kenapa kau kesini, bukankah seharusnya kau menjaga Jungkook-ah?” jin yang masih membereskan sisa-sisa makanan Jimin kemarin mulai menghentikan kegiatannya.
“aku dihubungi Rapmon, karena kata namja itu ada seorang namja bodoh yang mogok makan. Dan sepertinya tidak ingin diganggu dirinya” mendapatkan jawaban itu Jimin sedikit menyesal dan kasihan terhadap sikapnya pada Rapmon. Dirinya tau bahwa Rapmon hanya berniat baik padanya. 

“sebenarnya kau itu kenapa? Kemana Taehyung?” lanjut Jin membuka luka Jimin kembali.

Jimin terdiam sambil menggingit pelan bibirnya. Apakah dirinya harus bercerita pada Jin yang memang selalu menjadi teman ceritanya. Wajah Jimin terlihat sendu, dan Jin tidak berniat memaksakan agar namja bodoh itu bercerita. Kehadirannya hanya bertugas untuk membangkitkan semangat Jimin kembali seperti dulu. Setelah itu Jin bisa kembali menemani kekasihnya dirumah sakit. Setelah dapur bersih dan tempat lainnya rapi, Jin memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Sebelum itu dirinya tidak sengaja melihat Jimin yang telah selesai makan dan tidur pulas ditempat tidurnya. Namja tinggi itu membereskan kembali sisa makanan Jimin yang baru saja disantapnya. “sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu namja bodoh?” bisiknya pelan pada diri sendiri. Jin kembali kekamar Jimin lalu menyelimuti namja itu agar terlindungi dari dinginnya malam. Wajah ini terlihat lelah dan sedang menanggung sesuatu yang sulit untuk dihadapinya. Seandainya dirinya bisa menemani Jimin semalam ini tapi sepertinya itu mustahil. Tanpa berfikir lama dan membuat Jimin terbangun. Secara perlahan Jin membuka pintu Apartemen dan kembali menutupnya dari luar.

Mendengar Jin telah meninggalkannya sendiri lagi di Apartemen, Jimin kembali membuka kedua matanya dan termenung. Namja mungil itu memiringkan tubuhnya dengan selimut yang diberikan Jin sebelumnya. Memikirkan sesuatu yang seharusnya dilakukan dirinya terhadap Rapmon. “aku harus minta maaf pada Rapmon-sshi” desisnya pelan mengingat perlakuan yang tidak menyenangkan yang diberikannya.

Rapmon yang telah pergi meninggalkan Apartemen Jimin sebenarnya tidak benar-benar pergi. Namja itu masih mengawasi gerak gerik Jimin walau hanya dalam jarak jauh. Namja bertubuh besar itu sadar bahwa perlakuan dirinya pada Jimin sebelumnya membuat namja itu takut karena tiba-tiba memeluknya. Terlebih lagi Taehyung yang sekarang sadar akan perasaan Rapmon pada Jimin. Itu akan menjadi kesulitan bagi Rapmon untuk bisa berdekatan kembali dengan Jimin. Tidak lama menunggu diluar dalam keadaan dingin, mobil Jin pun keluar meninggalkan Apartemen Jimin. 
“sepertinya kau bertugas dengan baik hari ini tuan Kim Seok Jin” Rapmon tersenyum pahit pada namja yang memang Rapmon sadari menjadi saingan terberat untuk mendapatkan hati Park Jimin. Setelah memandangi mobil Jin yang telah pergi. Rapmon kembali mengarakan penglihatannya ke arah jendela Kamar Apartemen Jimin yang sebelumnya gelap kembali menyala. Apakah Jimin terbangun lagi setelah kepergian Jin? Rapmon tidak mau mengusik. Hingga membuat Jimin berfikir bahwa dirinya hanya manusi pengangganggu dalam hidupnya. Namja itu hanya menunggu ditemani dengan sebatang rokok dicuaca yang cukup dingin malam itu.

-

-

Jungkook mempoutkan bibirnya karena Jin pergi meninggalkan dirinya dirumah sakit sangat lama. Rasanya sangat bosan jika harus mengobrol jika itu bukan dengan kekasihnya. Taehyung dan Ho Seok bingung harus bagaimana lagi agar dapat membuat Jungkook mau meminum obatnya saat tidak ada Jin disamping mereka. Tidak lama Hal-abeoji datang membawakan beberapa mainan yang bisa dimainkan Jungkook saat berada dirumah sakit. Jungkook menggeleng menolak pemberian hadian dari sang Hal-abeoji. Namja cantik itu tidak menginginkan hal lain selain Jin kekasihnya.

“hal-abeoji, kemana Jin-sshi? Katanya dia pergi hanya sebentar?” tanya Jungkook dengan memberikan wajah sedihnya. Hal-abeoji hanya tersenyum dan mengambil tempat duduk yang diberikan Jung Ho Seok padanya “jungkook kau harus segera minum obat ada atau tidak nya Jin disampingmu. Jika nanti Jin tau kau belum minum obat bagaimana nanti perasaannya, pasti akan kecewa. Lagipula Jin itu hanya sebentar keluar. Nanti akan datang menemani mu lagi. Nah sekarang” Hal-abeoji mengambil beberapa obat Jungkook dan segelas air putih “minum obatmu, Taehyung tolong bantu”

“nde tuan” Taehyung membukakan kemasan obat tablet Jungkook dan memberikannya pada Jungkook tidak lupa segelas air putihnya. Jungkook menuruti permintaan sang Hal-abeoji untuk meminum obatnya. Jung Ho Seok mendengar seseorang membuka pintu “itu dia Jin datang” tegur Ho Seok pada Jungkook yang terlihat antusias akan kedatangan kekasihnya. Jin langsung memberikan hormat pada setiap orang yang berada diruangan Jungkook. Dan pandangannya berhenti ketika melihat Taehyung.

“Jin-sshi?” panggilan Jungkook membuat pandangan Jin beralih pada dirinya yang memanggilnya. 

Hal-abeoji meminta semua selain Jin keluar, membiarkan 2 namja ini memberikan perhatian mereka satu dengan yang lain. Jungkook sangat senang ketika Hal-abeojinya mengetahui perasaannya jika Jungkook hanya ingin berdua dengan kekasihnya. Setelah semua keluar Jin mengelus kepala Jungkook yang sepertinya haus akan sentuhannya. “kemana saja? katanya hanya sebentar, kenapa lama sekali?” ucapnya membuat jin harus berbohong. “maafkan aku tapi aku sedikit memiliki masalah dengan tugas sekolahku dan sekarang semua baik-baik saja”

“aku rindu akan sekolah, aku juga rindu akan Jimin-sshi yang selalu menemaniku dikelas” bahasan Jungkook seperti membuat Jin sedikit salah tingkah.

“kau sepertinya telah akrab dengan JiminJ , apa saja yang sudah kau lakukan dengannya?”

“saat pertama kali bersekolah Jimin-sshi menemaniku berkeliling bahkan keatap sekolah yang telah mejanjadi tempat favoritenya, aku senang sekali mendapatkan teman seperti Jimin-sshi. Namja itu terlihat sangat kuat sama seperti ku” jin tersenyum ketika mendengarkan ceriat tentang Jimin yang sama dengan dirasakannya. Jimin memang manis diluar tapi tidak ada yang tahu bahwa namja itu ahli beladiri dan telah menyelamatkannya dulu. Melihat kekasihnya itu tertawa secara tiba-tiba Jungkook mulai menegurnya “Jin-sshi? Kau tertawa” tanyanya. Jin kaget saat ditegur Jungkook, dan mengatakan dirinya tertawa seperti tidak percaya.

“maafkan aku, mendengar ceritamu tentang Jimin. Aku sangat senang dan secara tidak sengaja aku tertawa” Jungkook menimpali tawa Jin sedikit memaksa membuat isi ruangan itu dipenuhi cerita akan Jimin. Waktu terus berlalu, selama obrolan itu berlangsung efek obat Jungkookpun mulai terasa. Dan Jin menemani kekasihnya itu untuk tidur hingga pulas. Selama 10 menit genggaman Jungkook menahan Jin untuk pergi. Setelah genggaman itu dirasakannya sudah lemas. Jin melepaskan genggaman Jungkook pelan-pelan agar tidak membangunkan kekasihnya itu dari tidurnya. Taehyung dan Jung Ho Seok menemani Hal-abeoji Jungkook untuk tidur diruang tunggu rumah sakit. Sedikit tepukan pada pundak Taehyung, membuat namja itu terbangun dari tidurnya.

“bisa kita bicara?” bisiknya secara tegas lalu pergi menuju belakang tangga darurat. Taehyung yang mengikuti Jin dibelakang tidak mengerti dengan percakapan apa yang akan dibahas namja dihadapannya ini. “kenapa kau tidak pulang ke Apartemen? Kenapa kau membiarkan Jimin sendiri?” mendengar namja itu membicarakan hal yang tidak ingin dibahasnya. Taehyung berniat kembali keruang tunggu namun ditahan Jin dengan tatapan tajam.

“aku memiliki alasan yang tidak ada urusannnya denganmu” jelas Taehyung singkat dan segera bergegas pergi meninggalkan Jin. Tubuh Taehyung terdorong kebelakang ketika Jin mencekik kemeja yang digunakannya. “aku tidak peduli dengan ceritamu atau alasanmu! Lebih baik sekarang kau kembali ke Apartemen karena Jimin sudah menunggumu dan hidupnya berantakan tidak ada dirimu!”

“aku belum bisa kembali menemuinya untuk saat ini” taehyung tidak perduli sampai berapa pukulan yang akan diterimanya jika dirinya tidak memenuhi keinginan Jin. Tapi memang hatinya tidak bisa untuk menemui Jimin saat ini. “ada apa sebenarnya dengan dirimu. Apa kau memiliki masalah lagi seperti sebelumnya dengan Jimin?”

“sudah kukatakan bukan urusanmu, kenapa kau begitu memperdulikan Jimin sedangkan kekasihmu sedang berjuang hidup dan mati didalam sana” mendengar perkataan sombong Taehyung membuat Jin beringas siap memukulnya. “JAGA MULUTMU! Jangan bicara tentang hidup dan mati kekasihku. Aku peduli dengan dongsaengmu karena dia temanku, dan aku tidak ingin dirinya diperlakukan seenaknya oleh Hyung brengsek sepertimu”

“nde, aku memang Hyung brengsek! Aku menyukai dongsaengku sendiri itu memang pantas menjadi julukanku! Kau puas seulki! Jadi menyingkirlah dari hadapanku sekarang!” taehyung mendorong keras tubuh Jin hingga menyentuh pagar tangga darurat. “aku tidak akan menemui Jimin sampai perasaan ku hilang! Karena Aku tidak bisa memiliki Jimin lebih dari seorang dongsaeng bagiku!” lanjutnya lalu pergi dengan mendobrak pintu darurat. Mendengar alasan Taehyung mengapa menjauhi Jimin, Jin sadar bahwa perasaan cinta memang muncul dalam segi dan bentuk apa saja. dimana saja dan siapa saja. sekarang Jin tidak tahu harus bagaimana lagi membantu Jimin agar kembali ceria seperti dulu.

-

-

Sebuah kediaman tampak sepi dari luar, pagi ini sepertinya Jimin berniat untuk menemui sang pemilik Kediaman mewah ini. Tapi hatinya sedikit berat dan tidak berani untuk bertindak lebih jauh. Sebaiknya Jimin kembali lain kali saja saat hatinya sudah siap minta maaf pada Rapmon. Seorang penjaga menghampiri Jimin karena terlihat kebingungan. “apa anda mencari seseorang tuan?” tegur sang penjaga membuat Jimin sedikit gelagapan. Rapmon yang siap pergi kekantor dengan mobilnya melihat penjaganya sedang bicara dengan seseorang yang tertutupi tubuhnya. Saat dilihat secara seksama Rapmon menangkap wajah Jimin disana. Namja itu pun segera menghampiri kedua namja yang sedang berbicara didepan gerbang kediamannya.
“Jimin?” panggilnya membuat namja yang memiliki nama itu menoleh kearah sumber suara. “sedang apa kau disini?” lanjutnya namun Jimin masih diam dan bingung harus bicara apa. penjaga yang mengerti bahwa namja ini adalah kenalan majikannya akhirnya pergi meninggalkan keduannya. Jimin mematung tidak bergerak saat Rapmon berada dihadapannya sekarang. Melihat tingkah lucu Jimin ingin rasanya dirinya mencubit kedua pipi mungil miliknya. Tapi Rapmon menahan perasaannya agar tidak membuat Jimin lebih takut lagi pada dirinya. Rapmon mengajak Jimin untuk masuk kedalam kediamannya dan berbicara didalam. Beberapa Maid datang membawakan minuman segar untuk tamu sang majikan.

“ada apa Jimin kau datang ketempatku? Dan darimana kau tau tempat tinggalku? Apa jin yang mengatakannya padamu” 

“nde, Jin-sshi memberikanku alamat tempat tinggalmu saat aku bertanya lewat email. Aku kesini ingin....”

Rapmon memasang wajah penasarannya pada namja yang disukainya. Mungkinkah jika Jimin akan mengatakan bahwa dirinya menyesal karena memberikan jarak antara hubungan mereka. Kalau memang benar itu adalah sebuah kebahagiaan dalam hidup Rapmon. “Jimin?” panggilnya ketika melihat Jimin sedang terdiam berfikir. Tubuhnya digoyangkan pelan ketika panggilanya tidak digubris Jimin. Ketika pandangan Jimin kembali terfokus untuk menatap pandangan Rapmon, bibir mungilnya akhirnya bergerak.

“maafkan akuu.....!” ucapnya dengan sedikit teriakan, Rapmon yang mendengar itu tersentak memundurkan duduknya sedikit kebelakang. Rapmon melihat mata Jimin yang sedikit berkaca-kaca entah karena apa. namja mungil itu sepertinya sedang menyiapkan kata-kata “maafkan aku karena bersikap seperti kemarin, dan maaf karena tidak bisa membalas perasaan Rapmon-sshi padaku. Bukan maksudku untuk melakukan hal-hal seperti kemarin tapi hanya saja perasaanku belum bisa menerima apapun yang berkaitan soal cinta. Maaf karena tidak berlaku sopan tapi ada orang lain yang aku sukai” jimin memberikan tatapan lembut ketika mengucapkan seseorang yang dicintainya. Merasa sedang diperhatikan membuat Jimin kembali gelagapan “ma..maafkan aku”. Minuman yang tadinya tenang bertumpahan ketika Jimin tiba-tiba saja berdiri karena salah tingkah. Beberapa lembar tisu diambil Jimin untuk bisa membersihkan lantai yang basah karenanya. Rapmon tertawa melihat tingkah bodoh Jimin. “ternyata Jin benar kau namja bodoh” ucapnya sedikit menahan tawanya.

“nde?” Jimin kebingungan dengan maksud Rapmon yang tiba-tiba saja bersikap seperti Jin.

“tenanglah Jimin, aku tidak menyukaimu” kedua mata Jimin membulat sempurna mendengar keterangan Rapmon tentang perasaannya. Rapmon melanjutkan kembali penjelasannya yang membuat Jimin memandangnya karena penasaran “tentang kejadian kemarin kenapa aku memelukmu itu hanya karena aku ingin menenangkan mu saja. aku tau kau menyukai Jin dan saat itu kau baru saja terluka ketika Jungkook telah bergabung kesekolahmu dan Jin. Melihat wajahmu itu aku hanya ingin menenangkanmu dengan memelukmu. Tapi ternyata kau dan Taehyung menganggap aku menyukaimu. Itu tidak masalah setidaknya sekarang kau sudah tau itu semua”


“nde? Jadi kau tidak menyukaiku? Dan kau tau aku.. menyukai...?” kata-kata Jimin yang terdengar ragu mendapatkan anggukan dari Rapmon. Jimin segera memeluk namja yang sebelumnya dijauhinya. Dirinya sekarang tenang jika harus bersama dengan Rapmon. Jimin hanya menginginkan pertemanan diantara mereka bukan yang lain. Yang mengakibatkan dirinya akan saling membenci nantinya. Rapmon dan Jimin tertawa saat semua masalah telah selesai. Senyuman itu tidak terlihat bohong sama sekali, Jimin sangat tulus ketika tertawa. Seandaninya Rapmon bisa tertawa seperti itu tanpa memikirkan perasaannya yang dibunuh secara langsung. Tapi mungkin ini lah yang terbaik. Untuk pertama kalinya dirinya menyukai seorang namja dan tidak akan mau merasakannya lagi jika tau akan sesakit ini. Tidak ada bedanya ketika dia mencintai seorang yeoja yang tidak mencintainya. 
Tapi setidaknya jika dia dengan yeoja mungkin perasaannya akan terus berusaha untuk mendapatkannya berbeda dengan Jimin, yang Rapmon sendiri juga baru merasakan perasaan suka terhadap sesama namja. Ini akan menjadi pengalaman pertama yang menyakitkan untuknya. 



To be continue...





Waahh udah sampai Chapter 13 aja Fanfict Boy In Luv JinJimin Ver, ini hehe... Apa masih kurang ceritanya? atau mau tambah lagi ke Chapter 14? pastinya secepatnya akan dipostkan Author:D terlebih lagi Author cuma ingin berterima kasih banyak untuk setiap Rider yang udah mau mampir baca, komen, atau sekedar penasaran dengan cerita ini. Author sangat berterima kasih.. tanpa kalian mungkin blog ini akan sepi-sepi aja dan mungkin tidak akan berlanjut sampai sekarang~
Salam dari Main Cast Bias Author Park Jimin a.k.a Chimchim...^3^

Comments

  1. asiik udah update ^^
    duh ksihan rapmon, sbar ya nak. kmu bkal dpt penggantinya kok
    tae balik gih ksihan chim2 udah chim ma tae aja, percuma ngarepin jin. ksihan jungkook jg

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat datang kembali^^
      kisah baper-baperan ini looh>//<
      smangatin terus yaa ~hwaiting!

      Delete
  2. duhduhduh ... kasian papih momon cintanya bertepuk sebelah kaki .. ehh tangan maksudnya ...
    ahhh jim satu masalah selesai .... tinggal yang lainnya belum terselesaikan ..
    semangat thor

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hay KhArmy.. aku akan selalu semangat untuk mu dan para rider lainnya>< jadi berikan aku kritik dan saaran mu terus yaaa untuk evaluasi kuu:)))

      Delete

Post a Comment

Popular Posts