BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 13
Malam harinya
tangan Jungkook dirasakan telah bergerak. Mendapatkan reflek tubuh Jungkook,
Jin segera berlari keluar ruangan dan memanggil sang dokter. Hal-abeoji yang
tadinya tertidur langsung bangkit bangun ketika mendengar teriakan Jin yang sedang
memanggil dokter.
“ada apa Jin-sshi?”
tanya Hal-abeoji yang mendekatinya.
Jin tersenyum
senang dan memberikan kabar gembira ini pada sang Hal-abeoji “Jungkook telah
sadar Hal-abeoji, tangannya sudah bergerak”
Hal-abeoji yang mendengar kabar gembira itu langsung masuk
kedalam ruangan rawat Jungkook. Kedua mata cucunya telah terbuka sempurna,
membuat senyuman tuanya terlihat bahagia. Dokter yang dipanggil Jin meminta
kedua namja itu keluar sebentar agar pemeriksaan berlangsung tenang. 15 menit
dalam pemeriksaan, sang dokterpun keluar ruangan Jungkook. Jin membantu
Hal-abeoji berdiri untuk menghampiri sang dokter.
“bagaimana keadaan cucuku dokter?”
Dokter merapihkan peralatannya dan diserahkan salah satu
suster lalu membawanya pergi. Dokter itu memberikan penjelasan “kesadarannya
memang telah kembali, tapi penyebaran Kankernya tidak bisa dihentikan tuan. kemoterapi yang seharusnya dijalani cucu anda seharusnya bisa memperlambat penyebaran dari Kanker kesetiap sarafnya. tetapi yang kita ketahui, kemo tidak dijalankan cucu anda. kami sudah berusaha semampu kami untuk memberitahukan dan sekarang kita serahkan semua pada takdir.” Setelah
dokter itu mencoba untuk pergi tubuh hal-abeoji Jungkook terasa berat dalam genggaman Jin. namja tua itu bersujud memohon pada sang dokter agar tidak pergi sebelum memberikan kabar baik untuk cucu kesayangannya.
"aku mohon! selamatkan cucuku! hanya dia satu-satunya yang kumiliki sekarang ini!" Hal-abeoji bersimpuh tepat di kaki sang dokter, kejadian itu membuat Dokter bingung dan berusaha untuk meminta namja tua itu untuk segera berdiri. "jangan seperti ini tuan.." tegur sang dokter.
"aku mohon! selamatkan cucuku! hanya dia satu-satunya yang kumiliki sekarang ini!" Hal-abeoji bersimpuh tepat di kaki sang dokter, kejadian itu membuat Dokter bingung dan berusaha untuk meminta namja tua itu untuk segera berdiri. "jangan seperti ini tuan.." tegur sang dokter.
Jin sepertinya mengerti perasaan yang dialami Hal-abeoji
Jungkook. Secara perlahan namja itu membuka pintu ruangan Jungkook yang menampilkan sosok
namja bertubuh lemas sedang terbaring disana. Wajahnya tidak lagi pucat seperti
sebelumnya saat pertama kali masuk rumah sakit. Jin bersyukur karena bisa
melihat sedikit senyum Jungkook kembali.
-
Rapmon mendatangi Jimin di Apartemennya, dirinya sudah tidak
perduli akan ancaman yang Taehyun tunjukan pada dirinya. Sudah beberapa hari
ini Rapmon tidak bertemu dengan Jimin disekolah. Dengan nekad namja itu siap
menjenguk Jimin yang telah menjadi incaran untuk menjadi kekasihnya. Ketukan
pelan dibunyikan ke pintu Apartemen milik Jimin. Tidak ada jawaban dari orang
dalam, mungkinkah Taehyung tidak memperbolehkan Jimin menemui dirinya juga.
Setelah ketukan berkali-kai diperdengarkan, Jimin pun membuka pintunya.
Wajahnya terlihat kusut sekali seperti tidak terurus siapapun. “Jimin apa yang
terjadi pada dirimu?” jimin tidak memperdulikan pertanyaan itu dan berniat
menutup kembali pintu apartemennya. Dengan reflek Rapmon menahan pintu itu agar
tidak kembali menutup.
“pergi dari sini, aku tidak membutuhkan siapapun! Jangan
dekati aku lagi!” teriak Jimin membuat Rapmon sedikit kesal akan tindakan
Taehyung yang sepertinya meminta Jimin untuk menjauhinya. Jika memang namja itu
mencintai Jimin, seharusnya namja itu bersaing secara sportif untuk mendapatkan
hati Jimin.
“jimin dengarkan aku, aku tidak tahu apa yang Taehyung
katakan padamu tapi izinkan aku menemui namja itu untuk membicarakan ini secara
baik-baik”
“jika kau mencari Taehyung ditempat ini, kau tidak akan
menemukannya. Hyungku sudah meninggalkan ku sendirian ditempat ini. Jadi
pergilah aku tidak menginginkan siapa-siapa saat ini!” teriakan dan ucapan
Jimin membaut Rapmon semakin emosi dan kesal. Namja mungil seperti Jimin memang
kuat tapi dirinya yakin hatinya tidak sekuat tenaganya. Secara paksa pintu yang
akan menutup didorong kencang Rapmon agar kembali membuka. Jimin yang
menahannya kalah kuat dengan tenaga Rapmon yang benar-benar seorang namja
sejati. Tubuh kecil itu terduduk dilantai.
“jimin maafkan aku soal Taehyung yang meninggalkanmu akibat
kejadian aku memelukmu. Tapi sepertinya namja itu kelewatan karena sudah
membiarkanmu tinggal sendirian seperti ini. Aku akan mencarinya”
“aniyoo...” jimin memegang kaki Rapmon agar dirinya tidak
bisa melangkah keluar, jimin tidak ingin Taehyung semakin kesal jika ditemui
Rapmon nantinya. “aku... tidak.. apa-apa.. aku hanya ingin tenang...” jimin
menangis tanpa malu lagi. Mungkin hanya ini yang bisa dirinya lakukan, menangis
dihadapan namja lain. Dihadapan namja yang sedang menyukai dirinya. Jimin tidak
sedang mencari belas kasihan, kehidupannya menjadi serba salah ketika Cinta
terbentuk. Namja mungil itu hanya berharap pertemuannya dengan Jin tidak pernah
terjadi.
Beberapa jam kemudian Jimin masih tetap diam duduk termenung
di tempat tidurnya. Sedangkan Rapmon sedang menyiapkan makan malam untuk mereka
santap nanti. Sepertinya memang Jimin jarang makan akhir-akhir ini karena tidak
bisa masak. Terbukti dari beberapa makanan instan yang dibelinya dan masih
berantakan belum dibuang sama sekali. 20 menit menyiapkan hidangan hangatnya
Rapmon akhirnya siap memanggil sang tuan rumah untuk segera beranjak dari
tempat tidurnya. Panggilan Rapmon tidak digubris sedikitpun. Jimin masih saja
menatap kosong pandangannya, sepertinya dirinya masih berfikir sesuatu yang
menyakitinya.
“jimin kita makan dulu yaa, aku yakin tadi pagi kau belum
makan. Ayo kita keruang makan” jimin tidak merespon.
Kembali Rapmon mencoba merayu namja mungil itu “Jimin aku
mohon jangan seperti ini..aku minta kau makan sedikit saja untuk mengisi
tenagamu”. Karena perkataannya tidak didengar Jimin, Rapmon segera mengambil
makanan buatannya dan menyuapi Jimin yang masih saja diam seperti orang sakit.
Suapan yang sedikit menyentuh bibir mungil itu dihindari dengan cepat oleh
Jimin. Rapmon sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menyadarkan namja yang
sepertinya sedang patah hati ini. Melihat Jimin seperti ini sedikit membuat
khawatir Rapmon. Mungkin dirinya harus memanggil seseorang yang bisa melakukan
sesuatu di saat-saat seperti ini.
“yeoboseyo?” terdengar
suara seseorang diujung sebrang sana.
Rapmon sebenarnya malas mengakui ini, tapi hanya dirinya
yang bisa membantu Jimin saat ini “kau dimana? Bisakah kita bertemu?”
-
Rapmon menunggu seseorang dibawah Apartemen Jimin, dan tidak
lama namja itu datang memarkirkan mobilnya diparkiran. Namja itu keluar dari
mobil lalu menghampiri namja yang sedang berdiri menunggunya. Jin terlihat
heran mengapa Rapmon menghubunginya untuk datang ketempat Apartemen yang
dirinya ingat tempat tinggal Jimin. Sedikit kode untuk mengikuti Rapmon
dimengerti Jin langsung. Mereka menaiki lift Apartemen dan menuju kamar Jimin.
“apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya?” tanya Jin tidak
mengerti dengan tindakan sahabatanya itu. tidak menjawab pertanyaan itu, Rapmon
hanya langsung pada topik utama. Membuka pintu Apartemen dan membiarkan Jin
melihat kondisi Jimin secara langsung. Namja tinggi itu menghampiri namja yang
sedang memandang kosong ke satu
pandangannya.
“apa yang terjadi sebenarnya?” jin memandang kembali kearah
Rapmon yang sedang duduk dimeja makan. “jimin?” panggilannya masih tidak
dihiraukan Jimin. Rapmon bingung harus menjelaskan apa pada Jin. Dengan sedikit
pengetahuannya tentang kejadian hari ini, Rapmon pun menceritakan apa yang
diketahuinya.
“aku menemukan Jimin sudah seperti ini, sebenarnya tadi dia
masih memiliki tenaga untuk menolak kehadiranku. Tapi mendengar dirinya tinggal
sendiri aku langsung memaksa untuk masuk memastikan sesuatu. Ternyata benar
dirinya sama sekali tidak terurus”
“lalu kemana Kim Taehyun?”
“aku tidak tahu, aku belum sempat menanyakan itu. jimin
hanya mengatakan jika aku mencari namja itu bukan ditempat ini”
Jin kembali menepuk pipi lembut Jimin tapi masih tidak
memiliki respon. Karena kesal akhirnya Jin mulai berteriak tidak sabaran. “yaak
namja bodoh ! apa yang terjadi pada dirimu sebenarnya! Namja bodoh!” jimin
mulai sadar akan pandangannya dan pendengarannya. Dirinya melihat namja yang
dirindukannya cukup lama. Suara itupun terdengar sedikit pelan “Jin-sshi?”.
“heeee? Apa yang kau katakan? Aku tidak dengar!? Suara mu
itu tidak bisa kudengar sedikitpun!”
Jimin memandang aneh pada namja tinggi yang sedang berdiri
didepannya. Apa yang dilakukan Jin disini, bukankah dia sedang menemani
Jungkook dirumah sakit. Jin melihat Jimin kebingungan.
“apa yang kau—.” Suara Jimin masih terdengar kecil, Jin pun
semakin menaikan nada tinggi pada percakapannya. “yaak! Kau ini sebenarnya
bicara apa!? aku tidak bisa mendengarnya jika kau berbisik seperti itu”
Mendengar Jin berteriak pada dirinya membuat Jimin kesal
tidak karuan. Apa sih sebenarnya yang namja ini lakukan di Apartemennya. “yaak!
Tidak usah berteriak seperti itu! kau fikir dirimu itu siapa!” melihat Jimin
yang lebih seram meneriakinya membuat Jin harus mundur kebelakang mencari jarak
dari namja mungil itu. setidaknya Jin tidak mendapatkan jurus bela diri dari
namja kecil dihadapannya.
“sebenarnya kau itu kenapa namja bodoh? Selalu saja jika
tidak bersamaku sebentar saja dirimu mendapatkan masalah? Apa yang terjadi
ceritakan padaku?” tanya Jin mencoba untuk mengembalikan semangat Jimin yang
dulu dikenalinya.
“urusanku bukan urusanmu! Jadi sekarang keluarlah dari
kamarku jika kau kesini hanya untuk meneriakiku!”
“apa maksdumu!? Seharusnya aku yang memarahimu karena
bersikap aneh sampai tidak mau makan seperti itu! kau fikir dirimu itu benda
mati yang tidak membutuhkan makan?”
“aku tidak peduli! Lagipula aku memiliki nama! Park Jimin!
Jangan memanggilku dengan sebutan namja bodoh terus!”
“jika kau tidak mau dipanggil namja bodoh bersikaplah
seperti Jimin yang kukenali! Jimin yang selalu bersemangat dan bisa menolong
orang lain ataupun mengganggunya”
Jimin menundukan
kepalanya tidak bisa mampu melihat mata Jin yang menatapnya. Tapi bukankah
seharusnya Jin sedang berada dirumah sakit? Lalu kenapa sekarang dirinya berada
disini. Jimin mulai berbicara normal seperti biasa setelah beradu argumen
dengan Jin. Namja menyebalkan yang dirinya rindukan. “sebenarnya kau itu sedang
apa disini? Datang-datang kau meneriakiku seperti orang gila” kalimat Jimin
membuat Jin sedikit bingung, apa namja itu bergerak secara tidak sadar.
Memandang atau melakukan sesuatu secara tidak sadar. Mengapa Jimin seperti
tidak menyadari kehadiran orang lain disekelilingnya.
“apa kau tidak sadar dengan kehadiran Rapmon—” saat menoleh
kearah Rapmon namja itu sudah tidak ada ditempat. “tunggu..kemana namja sialan
itu?” jin mencari-cari Rapmon kesekeliling kamar Jimin namun tidak ditemukan. Mengapa
namja itu meninggalkan Apartemen tidak dirasakannya. Jimin sadar akan kehadiran
Rapmon sebelumnya tapi mengingat masalah yang menimpa dirinya, rasanya sangat
malas untuk merespon siapa saja yang berbicara dengannya. jin melihat makanan
hangat yang sepertinya baru saja Rapmon buatkan untuk Jimin.
“namja bodoh makanlah agar kau bisa menjaga kesehatanmu dan
kembali bertengkar denganku”
Jin menyerahkan makanan yang telah siap santap pada Jimin
yang masih setia pada posisinya. Namja mungil itu tidak berniat sedikit saja
untuk meninggalkan tempat tidurnya. Sambil mengambil setiap suapan untuk
memenuhi kebutuhan tubuhnya, Jimin penasaran dengan kemunculan Jin di
apartemennya. “sebenarnya kenapa kau kesini, bukankah seharusnya kau menjaga Jungkook-ah?”
jin yang masih membereskan sisa-sisa makanan Jimin kemarin mulai menghentikan
kegiatannya.
“aku dihubungi Rapmon, karena kata namja itu ada seorang
namja bodoh yang mogok makan. Dan sepertinya tidak ingin diganggu dirinya”
mendapatkan jawaban itu Jimin sedikit menyesal dan kasihan terhadap sikapnya
pada Rapmon. Dirinya tau bahwa Rapmon hanya berniat baik padanya.
“sebenarnya
kau itu kenapa? Kemana Taehyung?” lanjut Jin membuka luka Jimin kembali.
Jimin terdiam sambil menggingit pelan bibirnya. Apakah
dirinya harus bercerita pada Jin yang memang selalu menjadi teman ceritanya.
Wajah Jimin terlihat sendu, dan Jin tidak berniat memaksakan agar namja bodoh
itu bercerita. Kehadirannya hanya bertugas untuk membangkitkan semangat Jimin
kembali seperti dulu. Setelah itu Jin bisa kembali menemani kekasihnya dirumah
sakit. Setelah dapur bersih dan tempat lainnya rapi, Jin memutuskan untuk
kembali ke rumah sakit. Sebelum itu dirinya tidak sengaja melihat Jimin yang
telah selesai makan dan tidur pulas ditempat tidurnya. Namja tinggi itu
membereskan kembali sisa makanan Jimin yang baru saja disantapnya. “sebenarnya
apa yang terjadi pada dirimu namja bodoh?” bisiknya pelan pada diri sendiri.
Jin kembali kekamar Jimin lalu menyelimuti namja itu agar terlindungi dari
dinginnya malam. Wajah ini terlihat lelah dan sedang menanggung sesuatu yang
sulit untuk dihadapinya. Seandainya dirinya bisa menemani Jimin semalam ini
tapi sepertinya itu mustahil. Tanpa berfikir lama dan membuat Jimin terbangun.
Secara perlahan Jin membuka pintu Apartemen dan kembali menutupnya dari luar.
Mendengar Jin telah meninggalkannya sendiri lagi di
Apartemen, Jimin kembali membuka kedua matanya dan termenung. Namja mungil itu memiringkan
tubuhnya dengan selimut yang diberikan Jin sebelumnya. Memikirkan sesuatu yang
seharusnya dilakukan dirinya terhadap Rapmon. “aku harus minta maaf pada
Rapmon-sshi” desisnya pelan mengingat perlakuan yang tidak menyenangkan yang
diberikannya.
Rapmon yang telah pergi meninggalkan Apartemen Jimin
sebenarnya tidak benar-benar pergi. Namja itu masih mengawasi gerak gerik Jimin
walau hanya dalam jarak jauh. Namja bertubuh besar itu sadar bahwa perlakuan
dirinya pada Jimin sebelumnya membuat namja itu takut karena tiba-tiba
memeluknya. Terlebih lagi Taehyung yang sekarang sadar akan perasaan Rapmon
pada Jimin. Itu akan menjadi kesulitan bagi Rapmon untuk bisa berdekatan
kembali dengan Jimin. Tidak lama menunggu diluar dalam keadaan dingin, mobil
Jin pun keluar meninggalkan Apartemen Jimin.
“sepertinya kau bertugas dengan
baik hari ini tuan Kim Seok Jin” Rapmon tersenyum pahit pada namja yang memang
Rapmon sadari menjadi saingan terberat untuk mendapatkan hati Park Jimin. Setelah
memandangi mobil Jin yang telah pergi. Rapmon kembali mengarakan penglihatannya
ke arah jendela Kamar Apartemen Jimin yang sebelumnya gelap kembali menyala. Apakah
Jimin terbangun lagi setelah kepergian Jin? Rapmon tidak mau mengusik. Hingga membuat
Jimin berfikir bahwa dirinya hanya manusi pengangganggu dalam hidupnya. Namja itu
hanya menunggu ditemani dengan sebatang rokok dicuaca yang cukup dingin malam
itu.
-
-
Jungkook mempoutkan bibirnya karena Jin pergi meninggalkan
dirinya dirumah sakit sangat lama. Rasanya sangat bosan jika harus mengobrol
jika itu bukan dengan kekasihnya. Taehyung dan Ho Seok bingung harus bagaimana
lagi agar dapat membuat Jungkook mau meminum obatnya saat tidak ada Jin
disamping mereka. Tidak lama Hal-abeoji datang membawakan beberapa mainan yang
bisa dimainkan Jungkook saat berada dirumah sakit. Jungkook menggeleng menolak
pemberian hadian dari sang Hal-abeoji. Namja cantik itu tidak menginginkan hal
lain selain Jin kekasihnya.
“hal-abeoji, kemana Jin-sshi? Katanya dia pergi hanya
sebentar?” tanya Jungkook dengan memberikan wajah sedihnya. Hal-abeoji hanya
tersenyum dan mengambil tempat duduk yang diberikan Jung Ho Seok padanya
“jungkook kau harus segera minum obat ada atau tidak nya Jin disampingmu. Jika
nanti Jin tau kau belum minum obat bagaimana nanti perasaannya, pasti akan
kecewa. Lagipula Jin itu hanya sebentar keluar. Nanti akan datang menemani mu
lagi. Nah sekarang” Hal-abeoji mengambil beberapa obat Jungkook dan segelas air
putih “minum obatmu, Taehyung tolong bantu”
“nde tuan” Taehyung membukakan kemasan obat tablet Jungkook
dan memberikannya pada Jungkook tidak lupa segelas air putihnya. Jungkook
menuruti permintaan sang Hal-abeoji untuk meminum obatnya. Jung Ho Seok mendengar
seseorang membuka pintu “itu dia Jin datang” tegur Ho Seok pada Jungkook yang
terlihat antusias akan kedatangan kekasihnya. Jin langsung memberikan hormat
pada setiap orang yang berada diruangan Jungkook. Dan pandangannya berhenti
ketika melihat Taehyung.
“Jin-sshi?” panggilan Jungkook membuat pandangan Jin beralih
pada dirinya yang memanggilnya.
Hal-abeoji meminta semua selain Jin keluar,
membiarkan 2 namja ini memberikan perhatian mereka satu dengan yang lain.
Jungkook sangat senang ketika Hal-abeojinya mengetahui perasaannya jika
Jungkook hanya ingin berdua dengan kekasihnya. Setelah semua keluar Jin
mengelus kepala Jungkook yang sepertinya haus akan sentuhannya. “kemana saja?
katanya hanya sebentar, kenapa lama sekali?” ucapnya membuat jin harus berbohong.
“maafkan aku tapi aku sedikit memiliki masalah dengan tugas sekolahku dan
sekarang semua baik-baik saja”
“aku rindu akan sekolah, aku juga rindu akan Jimin-sshi yang
selalu menemaniku dikelas” bahasan Jungkook seperti membuat Jin sedikit salah
tingkah.
“kau sepertinya telah akrab dengan JiminJ , apa saja yang sudah
kau lakukan dengannya?”
“saat pertama kali bersekolah Jimin-sshi menemaniku
berkeliling bahkan keatap sekolah yang telah mejanjadi tempat favoritenya, aku
senang sekali mendapatkan teman seperti Jimin-sshi. Namja itu terlihat sangat
kuat sama seperti ku” jin tersenyum
ketika mendengarkan ceriat tentang Jimin yang sama dengan dirasakannya. Jimin
memang manis diluar tapi tidak ada yang tahu bahwa namja itu ahli beladiri dan
telah menyelamatkannya dulu. Melihat kekasihnya itu tertawa secara tiba-tiba
Jungkook mulai menegurnya “Jin-sshi? Kau tertawa” tanyanya. Jin kaget saat
ditegur Jungkook, dan mengatakan dirinya tertawa seperti tidak percaya.
“maafkan aku, mendengar ceritamu tentang Jimin. Aku sangat
senang dan secara tidak sengaja aku tertawa” Jungkook menimpali tawa Jin sedikit memaksa membuat isi ruangan itu dipenuhi cerita akan Jimin. Waktu terus berlalu, selama
obrolan itu berlangsung efek obat Jungkookpun mulai terasa. Dan Jin menemani
kekasihnya itu untuk tidur hingga pulas. Selama 10 menit genggaman Jungkook
menahan Jin untuk pergi. Setelah genggaman itu dirasakannya sudah lemas. Jin
melepaskan genggaman Jungkook pelan-pelan agar tidak membangunkan kekasihnya
itu dari tidurnya. Taehyung dan Jung Ho Seok menemani Hal-abeoji Jungkook untuk
tidur diruang tunggu rumah sakit. Sedikit tepukan pada pundak Taehyung, membuat
namja itu terbangun dari tidurnya.
“bisa kita bicara?” bisiknya secara tegas lalu pergi menuju
belakang tangga darurat. Taehyung yang mengikuti Jin dibelakang tidak mengerti
dengan percakapan apa yang akan dibahas namja dihadapannya ini. “kenapa kau
tidak pulang ke Apartemen? Kenapa kau membiarkan Jimin sendiri?” mendengar
namja itu membicarakan hal yang tidak ingin dibahasnya. Taehyung berniat
kembali keruang tunggu namun ditahan Jin dengan tatapan tajam.
“aku memiliki alasan yang tidak ada urusannnya denganmu” jelas
Taehyung singkat dan segera bergegas pergi meninggalkan Jin. Tubuh Taehyung
terdorong kebelakang ketika Jin mencekik kemeja yang digunakannya. “aku tidak
peduli dengan ceritamu atau alasanmu! Lebih baik sekarang kau kembali ke
Apartemen karena Jimin sudah menunggumu dan hidupnya berantakan tidak ada
dirimu!”
“aku belum bisa kembali menemuinya untuk saat ini” taehyung
tidak perduli sampai berapa pukulan yang akan diterimanya jika dirinya tidak
memenuhi keinginan Jin. Tapi memang hatinya tidak bisa untuk menemui Jimin saat
ini. “ada apa sebenarnya dengan dirimu. Apa kau memiliki masalah lagi seperti
sebelumnya dengan Jimin?”
“sudah kukatakan bukan urusanmu, kenapa kau begitu
memperdulikan Jimin sedangkan kekasihmu sedang berjuang hidup dan mati didalam
sana” mendengar perkataan sombong Taehyung membuat Jin beringas siap
memukulnya. “JAGA MULUTMU! Jangan bicara tentang hidup dan mati kekasihku. Aku
peduli dengan dongsaengmu karena dia temanku, dan aku tidak ingin dirinya
diperlakukan seenaknya oleh Hyung brengsek sepertimu”
“nde, aku memang Hyung brengsek! Aku menyukai dongsaengku
sendiri itu memang pantas menjadi julukanku! Kau puas seulki! Jadi
menyingkirlah dari hadapanku sekarang!” taehyung mendorong keras tubuh Jin
hingga menyentuh pagar tangga darurat. “aku tidak akan menemui Jimin sampai perasaan ku
hilang! Karena Aku tidak bisa memiliki Jimin lebih dari seorang dongsaeng
bagiku!” lanjutnya lalu pergi dengan mendobrak pintu darurat. Mendengar alasan
Taehyung mengapa menjauhi Jimin, Jin sadar bahwa perasaan cinta memang muncul
dalam segi dan bentuk apa saja. dimana saja dan siapa saja. sekarang Jin tidak
tahu harus bagaimana lagi membantu Jimin agar kembali ceria seperti dulu.
-
-
Sebuah kediaman tampak sepi dari luar, pagi ini sepertinya
Jimin berniat untuk menemui sang pemilik Kediaman mewah ini. Tapi hatinya
sedikit berat dan tidak berani untuk bertindak lebih jauh. Sebaiknya Jimin
kembali lain kali saja saat hatinya sudah siap minta maaf pada Rapmon. Seorang
penjaga menghampiri Jimin karena terlihat kebingungan. “apa anda mencari
seseorang tuan?” tegur sang penjaga membuat Jimin sedikit gelagapan. Rapmon
yang siap pergi kekantor dengan mobilnya melihat penjaganya sedang bicara
dengan seseorang yang tertutupi tubuhnya. Saat dilihat secara seksama Rapmon
menangkap wajah Jimin disana. Namja itu pun segera menghampiri kedua namja yang
sedang berbicara didepan gerbang kediamannya.
“Jimin?” panggilnya membuat namja yang memiliki nama itu
menoleh kearah sumber suara. “sedang apa kau disini?” lanjutnya namun Jimin masih
diam dan bingung harus bicara apa. penjaga yang mengerti bahwa namja ini adalah
kenalan majikannya akhirnya pergi meninggalkan keduannya. Jimin mematung tidak
bergerak saat Rapmon berada dihadapannya sekarang. Melihat tingkah lucu Jimin
ingin rasanya dirinya mencubit kedua pipi mungil miliknya. Tapi Rapmon menahan
perasaannya agar tidak membuat Jimin lebih takut lagi pada dirinya. Rapmon
mengajak Jimin untuk masuk kedalam kediamannya dan berbicara didalam. Beberapa
Maid datang membawakan minuman segar untuk tamu sang majikan.
“ada apa Jimin kau datang ketempatku? Dan darimana kau tau
tempat tinggalku? Apa jin yang mengatakannya padamu”
Rapmon memasang wajah penasarannya pada namja yang
disukainya. Mungkinkah jika Jimin akan mengatakan bahwa dirinya menyesal karena
memberikan jarak antara hubungan mereka. Kalau memang benar itu adalah sebuah
kebahagiaan dalam hidup Rapmon. “Jimin?” panggilnya ketika melihat Jimin sedang
terdiam berfikir. Tubuhnya digoyangkan pelan ketika panggilanya tidak digubris
Jimin. Ketika pandangan Jimin kembali terfokus untuk menatap pandangan Rapmon,
bibir mungilnya akhirnya bergerak.
“maafkan akuu.....!” ucapnya dengan sedikit teriakan, Rapmon
yang mendengar itu tersentak memundurkan duduknya sedikit kebelakang. Rapmon
melihat mata Jimin yang sedikit berkaca-kaca entah karena apa. namja mungil itu
sepertinya sedang menyiapkan kata-kata “maafkan aku karena bersikap seperti kemarin,
dan maaf karena tidak bisa membalas perasaan Rapmon-sshi padaku. Bukan maksudku
untuk melakukan hal-hal seperti kemarin tapi hanya saja perasaanku belum bisa
menerima apapun yang berkaitan soal cinta. Maaf karena tidak berlaku sopan tapi
ada orang lain yang aku sukai” jimin memberikan tatapan lembut ketika
mengucapkan seseorang yang dicintainya. Merasa sedang diperhatikan membuat
Jimin kembali gelagapan “ma..maafkan aku”. Minuman yang tadinya tenang
bertumpahan ketika Jimin tiba-tiba saja berdiri karena salah tingkah. Beberapa
lembar tisu diambil Jimin untuk bisa membersihkan lantai yang basah karenanya.
Rapmon tertawa melihat tingkah bodoh Jimin. “ternyata Jin benar kau namja
bodoh” ucapnya sedikit menahan tawanya.
“nde?” Jimin kebingungan dengan maksud Rapmon yang tiba-tiba
saja bersikap seperti Jin.
“tenanglah Jimin, aku tidak menyukaimu” kedua mata Jimin
membulat sempurna mendengar keterangan Rapmon tentang perasaannya. Rapmon
melanjutkan kembali penjelasannya yang membuat Jimin memandangnya karena penasaran
“tentang kejadian kemarin kenapa aku memelukmu itu hanya karena aku ingin
menenangkan mu saja. aku tau kau menyukai Jin dan saat itu kau baru saja
terluka ketika Jungkook telah bergabung kesekolahmu dan Jin. Melihat wajahmu
itu aku hanya ingin menenangkanmu dengan memelukmu. Tapi ternyata kau dan
Taehyung menganggap aku menyukaimu. Itu tidak masalah setidaknya sekarang kau
sudah tau itu semua”
“nde? Jadi kau tidak menyukaiku? Dan kau tau aku..
menyukai...?” kata-kata Jimin yang terdengar ragu mendapatkan anggukan dari
Rapmon. Jimin segera memeluk namja yang sebelumnya dijauhinya. Dirinya sekarang
tenang jika harus bersama dengan Rapmon. Jimin hanya menginginkan pertemanan
diantara mereka bukan yang lain. Yang mengakibatkan dirinya akan saling membenci
nantinya. Rapmon dan Jimin tertawa saat semua masalah telah selesai. Senyuman
itu tidak terlihat bohong sama sekali, Jimin sangat tulus ketika tertawa.
Seandaninya Rapmon bisa tertawa seperti itu tanpa memikirkan perasaannya yang
dibunuh secara langsung. Tapi mungkin ini lah yang terbaik. Untuk pertama
kalinya dirinya menyukai seorang namja dan tidak akan mau merasakannya lagi
jika tau akan sesakit ini. Tidak ada bedanya ketika dia mencintai seorang yeoja
yang tidak mencintainya.
Tapi setidaknya jika dia dengan yeoja mungkin
perasaannya akan terus berusaha untuk mendapatkannya berbeda dengan Jimin, yang
Rapmon sendiri juga baru merasakan perasaan suka terhadap sesama namja. Ini
akan menjadi pengalaman pertama yang menyakitkan untuknya.
To be continue...
Waahh udah sampai Chapter 13 aja Fanfict Boy In Luv JinJimin Ver, ini hehe... Apa masih kurang ceritanya? atau mau tambah lagi ke Chapter 14? pastinya secepatnya akan dipostkan Author:D terlebih lagi Author cuma ingin berterima kasih banyak untuk setiap Rider yang udah mau mampir baca, komen, atau sekedar penasaran dengan cerita ini. Author sangat berterima kasih.. tanpa kalian mungkin blog ini akan sepi-sepi aja dan mungkin tidak akan berlanjut sampai sekarang~
Salam dari Main Cast Bias Author Park Jimin a.k.a Chimchim...^3^


asiik udah update ^^
ReplyDeleteduh ksihan rapmon, sbar ya nak. kmu bkal dpt penggantinya kok
tae balik gih ksihan chim2 udah chim ma tae aja, percuma ngarepin jin. ksihan jungkook jg
selamat datang kembali^^
Deletekisah baper-baperan ini looh>//<
smangatin terus yaa ~hwaiting!
baguuus!!! lanjutkan!!!
ReplyDeleteselamat mengikuti chingu^^
Deleteduhduhduh ... kasian papih momon cintanya bertepuk sebelah kaki .. ehh tangan maksudnya ...
ReplyDeleteahhh jim satu masalah selesai .... tinggal yang lainnya belum terselesaikan ..
semangat thor
Hay KhArmy.. aku akan selalu semangat untuk mu dan para rider lainnya>< jadi berikan aku kritik dan saaran mu terus yaaa untuk evaluasi kuu:)))
Delete