BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 14
Seandaninya Rapmon
bisa tertawa seperti itu tanpa memikirkan perasaannya yang dibunuh secara
langsung. Tapi mungkin ini lah yang terbaik. Untuk pertama kalinya dirinya
menyukai seorang namja dan tidak akan mau merasakannya lagi jika tau akan
sesakit ini. Tidak ada bedanya ketika dia mencintai seorang yeoja yang tidak
mencintainya. Tapi setidaknya jika dia dengan yeoja mungkin perasaannya akan
terus berusaha untuk mendapatkannya berbeda dengan Jimin, yang Rapmon sendiri
juga baru merasakan perasaan suka terhadap sesama namja. Ini akan menjadi
pengalaman pertama yang menyakitkan untuknya.
-
Min Yoongi membanting semua benda didalam kamarnya, amarah
sudah tidak bisa lagi dipendamnya. Namja itu menangis dengan kencang membuat
semua pelayan dirumahnya ketakutan. Tidak ada yang berani mendekat kekamarnya
jika majikannya yang Psiko itu sudah mulai mengamuk. Min Yoongi adalah namja
cantik yang lahir dengan kekayaan melimpah dari kedua orang tuanya yang
pengusaha. Tapi kebahagiaan itu tidak membuat namja itu puas, dirinya sejak
kecil hampir sama dengan kehidupan Jin yang tidak bisa merasakan kebahagiaan
kasih sayang. Seluruh kamarnya berisikan foto Jin yang sedang melakukan
berbagai aktivitas. Termasuk bersama dengan Jungkook kekasih Jin selama 4
tahun. Foto Jungkook telah dicoret silang, dan dirusak menggunakan silet
ataupun pisau kecil. Min Yoongi walaupun terlahir Psiko atau harus mendapatkan
apapun yang diinginkan tetapi namja cantik itu tidak berani untuk membunuh.
Baginya membunuh akan membawa dirinya ketempat neraka yang akan membatasi
setiap gerakannya.
“Jin-sshiii!” tangisnya sambil menyebut namja yang
dicintainya. Wajahnya memerah berkeringat tercampur tangisan dengan rambut
berantakan. Foto Jungkook kembali dihancurkan dirobek hingga kecil-kecil
“seharusnya kau tidak pernah kembali! Kenapa kau harus kembali kekorea!!
Seulki!”. Lampu kamar tidur terbanting pecah ketika salah satu bantal
dilemparkannya. Hampir sejam namja itu marah ketika mendapatkan kabar kekasih
Jin yang dulu menghilang kembali lagi dan masuk kedalam kehidupan Jin
lagi. Min Yoongi tidak terima. Telah
lama dirinya mengawasi setiap gerak-gerik hubungan mereka, dan ketika Jungkook
memutuskan hubungannya. Itu telah menjadi kesempatan Min Yoongi untuk masuk
kedalamnya.
“kenapa namja itu harus kembali lagi!! Aku belum bisa
mendapatkan hati Jin, kenapa harus dirusak waktu berhargaku ini! Jeon
JoonKook!!” Min Yoongi sudah hampir mendapatkan Jin sedikit lagi, bahkan
dirinya sudah bisa memiliki Jin selama seminggu. Tapi terus-menerus Jin kembali
mengingat Jungkook hingga perasaannya tidak bisa terbalas lagi dan lagi.
Mengingat kekesalannya pada Jungkook, Min Yoongi segera menghapus air matanya.
“apakah aku harus membunuhmu Jeon Joonkook?! Apakah aku harus mengotori
tanganku agar memastikan kau tidak mengganggu waktuku dengan Jin” tawanya
terdengar gila. Tapi inilah Min Yoongi. Sebuah pisau diambilnya dari laci meja
belajarnya. Jika sudah diambang batas kemampuan untuk menahan diri, dirinya
akan berbuat nekat dengan melawan rasa takutnya untuk membunuh.
“Jeon JoonKook..aku sangat ingin bertemu denganmu sekarang
ini” Min Yoongi memakai jaket tebal dengan syal melingkari lehernya. Memasukan
pisaunya kedalam kantong jaketnya. Tidak lupa dirinya meminta bantuan dan Menghubungi
beberapa kawanannya yang menjadi berandalan bayaran untuknya. Namja itu telah
keluar meninggalkan kamarnya, pelayan yang melihat itu hanya memberikan hormat
tanpa berniat menegurnya. Mereka semua sudah mengerti apa yang harus dilakukan
pada majikannya yang suatu-suatu sedang tidak Mood untuk berbicara.
“aku ingin siapa saja membawa namja bernama Jeon Joon Kook
kepadaku! Sekarang!!” ucapnya ditelpon.
-
-
Dikamar rawat Jungkook terbangun dari tidurnya, namja itu
melirik kearah samping dimana menampilkan sosok kekasihnya yang sedang tetidur
juga. Melihat wajah Jin yang kelelahan membuat Jungkook mengusap wajah itu
dengan lembut. Sedangkan Jin merasakan sesuatu menyentuhnya, namja tinggi itu
pun membuka kedua matanya. Dan melihat Jungkook sedang tersenyum kearahnya.
“kau sudah bangun? Ini kan masih jam 2 pagi, apa kau tidak
bisa tidur?” tanya Jin yang mendapatkan respon langsung sebuah gelengan pelan.
Jungkook tersenyum sangat cantik “aku hanya lelah tidur terus dirumah sakit,
apa dokter belum memutuskan untuk diriku pulang dan beraktivitas seperti biasa
chagi?” jungkook mempoutkan bibir kecilnya. Tawa kecil tercipta saat melihat
tingkah Jungkook dihadapannya “apa maksudmu? Kau itu masih butuh perawatan.
Berusahalah untuk sembuh, untuk bersamaku terus”
Tatapan Jin menusuk relung hati Jungkook ketika mengucapkan untuk bersamaku terus. Mungkinkah itu
semua bisa dirasakannya suatu hari nanti. Menemani kekasihnya dimasa tua. Jin
yang memandang Jungkook sedang melamun, mencoba membuyarkannya dengan
menggenggam tangannya.
“dengarkan aku, aku yakin kau akan sembuh. Melewati
masa-masa sulit ini bersama akan membangkitkan semangatmu untuk sembuh. Kau mau
kan seperti dulu lagi, menjalin hubungan denganku. Tinggal bersama denganku”
“ndee... aku mau” lirih Jungkook dengan tangisan, rasanya
saat ini berada disamping kekasihnya sudah cukup untuk dirinya hidup. Tetapi
entah kenapa ucapan Jin sama sekali bukan tertuju untuk dirinya. Jungkook
sangat bahagia ketika mendengar kata-kata romantis itu dari bibir kekasihnya
walaupun dirinya tau tentang perasaan kekasihnya yang sebenarnya. Mereka
berpelukan dengan erat seperti menolak untuk dipisahkan.
Jung Ho Seok yang tadinya akan masuk, memberikan persediaan
obat untuk Jungkook mengurungkan niatnya. Sedikit tidak suka harus melihat
pemandangan seperti itu. Ho Seokpun meninggalkan pintu kamar rawat Jungkook dan
tidak berniat untuk mengganggunya.
Jin melepaskan pelukannya dari Jungkook, “jika kau sudah
bisa membuktikan pada dokter bahwa tubuhmu baik-baik saja. aku berjanji akan
mengajak kau jimin dan rapmon bermain bersama ketaman bermain. Kau mau kan?”
“nde? Benarkah? Kau janji?” pertanyaan antusias membuat Jin
tertawa dan mengangguk. “tapi sekarang kau harus kembali tidur, dan besok aku
akan mengatakan pada hal-abeoji tentang ini semua” jungkook setuju dan kembali
menutupi dirinya dengan selimut rumah sakit. Matanya kembali terpejam berusaha
untuk melanjutkan tidurnya lagi. Jin menghela nafasnya saat kekasihnya telah
kembali tertidur. Namja itu mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan email
keponsel contact bertuliskan namja
bodoh.
To : namja bodoh
Aku sudah mengabulkan
permintaanmu dengan memberikan alamat rumah Rapmon. Besok kau harus temani
Jungkook bermain ditaman bermain, aku juga akan mengajak Rapmon. Kita impas
mulai besok. Kau mengerti namja bodoh?
Setelah pesan itu terkirim Jin kembali tidur disamping kekasihnya
dengan posisi duduk.
Dilain tempat ponsel Jimin berdering menerima pesan yang
telah dikirim Jin pada nomornya. Jimin belum tidur sama sekali memikirkan
Taehyung yang sampai sekarang belum mau menemui dirinya. Dengan malas Jimin
membaca isi pesan Jin walaupun hatinya sakit dirinya harus bisa memahami
keadaan. Jin adalah kekasih Jungkook dan Jungkook menginginkan untuk berteman
dengannya. sampai kapan Jimin akan menghindar? Tidak bisa. Bagaimanapun Jimin
harus menghadapi kenyataan bahwa Jin bukanlah miliknya. Lagipula mengingat
sakit yang diderita Jungkook membuat Jimin tidak tega jika harus bersaing untuk
memiliki Jin. Sejak awal Jin memang lah milik Jungkook bahkan sampai sekarang
tetap milik Jungkook. Dan Jimin tidak mungkin bisa masuk dalam lingkar cinta
mereka.
Karena lelah Jimin mulai merebahkan dirinya ketempat tidur,
dan memejamkan matanya hingga terlelap masuk kealam mimpinya. Tanpa memberikan
balasan pada pesan yang diberikan Jin untuknya.
-
[ Keesoka paginya ]
Jimin menyiapkan diri untuk menemui Jin dan Jungkook ditaman
bermain terkenal dikota Seoul. Jaket tebal dikenakannya dengan cupluk yang
menghangatkan kepalanya. Tidak lupa syal yang menutupi jenjang leher tipisnya.
Cermin memperlihatkan wajahnya yang agak malas keluar. Tapi dirinya sudah
berjanji pada Jin untuk menyetujui kesepakatannya menemani Jungkook bermain.
“haaah aku pasti sudah gila” namja itu mengeluh sambil
menatap bayangannya dari cermin. Tidak lama Jimin bersiap-siap sebuah klakson
mobil menarik perhatian Jimin untuk memandang keluar.
Rapmon terlihat turun
dari mobil itu dan langsung menatap Jimin dibalik jendela kamar lantai atas.
Namja besar itu membisikan gerakan bibir yang artinya cepatlah turun. Perasaan tidak enak dirasakan Jimin, walaupun
Rapmon sudah mengatakan bahwa diriya tidak memiliki perasaan. Tapi kenapa Jimin
merasakan hal lain. Tidak mau membuat Rapmon menunggu lama diluar dengan suhu
dingin. Jimin segera menutup jendela apartemen dan memakai sepatunya lalu
mengunci kamar Apartemennya dari luar.
Dalam waktu 7 menit Rapmon menunggu, Jimin akhirnya muncul
lalu menghampirinya.
“kau sudah siap? Sepertinya Jungkook dan Jin sudah menunggu
disana” Jimin mengangguk dan segera masuk kedalam mobil yang dibukakan Rapmon
pintu untuknya.
Dalam perjalanan Jimin hanya memandang jalanan lewat jendela
mobil Rapmon. Tidak nyaman berada disamping namja yang mengenakan parfum
sedikit menyengat tapi mau bagaimana lagi. Dirinya harus bisa menahan rasa
tidak nyamannya sampai pada tempat tujuan. Setelah bertahan pada penciumannya
yang memakan waktu cukup lama Jimin akhirnya bisa bernafas lega ketika mobil
telah diparkirakan sempurna di area Taman hiburan di Seoul. Inilah saatnya
mereka mencari 2 namja yang mengundangnya. Belum dicari ternyata Jin dan
Jungkook telah menunggu sambil melambaikan tangan mereka menandakan
keberadaannya. Jimin dan Rapmon segera menghampiri 2 namja yang telah
melambaikan tangan kearahnya.
“Jimin-sshi Rapmon-sshi annyeong” sapa Jungkook dengan kursi
roda yang didudukinya. Jimin tersenyum sedangkan Rapmon mengacak rambut teman
lamanya itu. “bukankah seharusnya kau berada dirumah sakit saat ini?” tanya
Rapmon pada Jungkook.
“memang aku sakit apa sampai selama itu dirumah sakit? Aku
hanya anemia saja kok” jelasnya membuat Jimin kaget mendengarnya. Bukankah Jungkook
sakit keras? Apa dia membohongi Jin tentang penyakitnya. Jin tidak tahu bahwa
Jimin mengetahui penyakit Jungkook juga dari Jung Ho Seok. Mendengar itu
ketiganya hanya mengangguk pura-pura mengerti. Merekapun berjalan bersama
mengelilingi taman hiburan, Jin dengan setianya mendorong kursi roda
kekasihnya. Jimin yang melihat itu sedikit tersentuh begitu besar cinta Jin
pada Jungkook yang sebelumnya melakukan kesalahan. Namja disamping Jimin
melirik gerak-geriknya, dan langsung menggenggam tangan kecil milik Jimin.
Sedikit memberikan kekuatan pada namja mungil yang berjalan disampingnya. Merasakan genggaman itu Jimin segera melepaskan, sedikit menghindari sikap
Rapmon yang mencoba untuk melindungi dari perasaan terlukanya. Jin sebanarnya
tahu bahwa Jimin dan Rapmon sedang menggenggam erat diantara kedua tangan
mereka. Tapi dirinya tidak bisa melakukan apa-apa karena harus tetap fokus pada
kesehatan kekasihnya.
“Jin-sshi aku ingin menaiki wahana itu, bisakah kita
kesana?” Jin mengangguk mendengar keinginan yang dilontarkan kekasihnya. Setiap
posisi duduk selalu diisi Jin dengan Jungkook dan Rapmon dengan Jimin. Setiap
wahana telah dinaiki mereka. Tawa mereka sangat menikmati suasana yang ada.
Kebersamaan ini untuk pertama kalinya Jimin rasakan. Jungkook sangat senang
bisa memiliki teman seperti Jimin yang selalu melucu ketika menaiki setiap
wahana karena ketakutan.
Jungkook menoleh kekanan dan kekiri seperti mencari sesuatu
tapi belum ditemukannya. Selain itu Jimin yang sudah tidak kuat lagi memohon
izin untuk ke kamar kecil sebentar. Dan mendapatkan anggukan dari 3 namja yang
setia menunggunya didepan kamar kecil yang dimasuki Jimin. Jungkook meminta Jin
untuk membelikan dirinya Es krim disebrang tempat mereka menunggu.
“Jin-sshi bisakah kau membelikan aku Es krim disana?”
tanyanya sambil menunjuk kearah tempat Es krim itu berada. Mendengar keinginan
kekasihnya, dengan siap Jin segera berjalan setelah meminta bantuan sahabatnya
untuk menjaga Jungkook selagi dirinya pergi. Jungkook menatap langkah Jin yang
setiap detik menjauhi dirinya.
“Rapmon-sshi?” panggil Jungkook pada namja yang sedang duduk
dibangku taman samping kursi rodanya.
“ada apa Jungkook-ah?”
“jika boleh aku bertanya padamu, bisakah kau mengatakan
sesuatu yang ingin aku ketahui dengan jujur” Rapmon menelan ludah ketika
Jungkook menangkap wajahnya. “aku berharap perasaanku ini salah aku rasakan
tapi...”
Rapmon mengerutkan keningnya tidak siap sepertinya untuk
menjawab pertanyaan apa yang telah berhasil ditebaknya. “Rapmon-sshi.. apakah
kau sadar jika Jin memandang lain pada pandangannya terhadap Jimin-sshi?
Bagaimana menurutmu? Apakah menurutmu
Jin menyukai Jimin-sshi?” jungkook tidak lepas memperhatikan Jin yang sedang
berbicara dengan penjual Es krim.
“aku tidak mengerti maksudmu... apa yang sebenarnya kau
katakan—” beberapa menit Rapmon membalas ucapan Jungkook, Jimin pun datang.
Melihat kedatangan Jimin sepertinya Rapmon bisa bernafas lega sekarang ini.
Tetapi setelah difikir-fikir begitu kuatnya perasaan curiga yang dimiliki
Jungkook terhadap kekasihnya Jin. Wajah Jungkook yang semulanya serius berubah
ketika semuanya telah berkumpul kembali seperti sebelumnya. Jin membawakan 2 Es
krim yang diberikan untuk Jungkook serta Jimin yang baru saja selesai dari
kamar kecil. Sebenarnya Jimin ingin menolak pemberian dari Jin tetapi senyuman
Jungkook mengharuskan dirinya untuk menerima dengan senang hati. “terimakasih”
ucap Jimin sekalian menjilat manisnya Es krim yang telah diberikan Jin. Jungkook juga menikmati Es Krim miliknya dengan sekali-kali mencuri pandang
kearah Rapmon dan sebaliknya.
Karena semakin siang
Jungkook kelelahan dan mereka memutuskan untuk istirahat dulu disalah satu
restoran yang tersedia. Rapmon dan Jin pergi memesan dan Jimin menemani
Jungkook di meja makan.
“aku senang sekali hari ini Jimin-sshi, terimakasih yaa
sudah menerima undangan Jin-sshi” senyumnya tulus.
“nde aku juga menikmatinya bahkan harusnya aku yang
berterima kasih karena sudah memberi kan liburan gratis padaku” singkatnya tapi
tidak lupa untuk memberikan senyuman manisnya. Jungkook mencoba untuk berdiri
ketika Jin sedang tidak berada disampingnya. Melihat Jungkook seperti
memaksakan dirinya Jimin sedikit menegur “kau sebaiknya duduk saja jika belum
kuat untuk berdiri. Jangan memaksakan dirimu sendiri Jungkook”.
“kau tau Jimin-sshi? Apa yang membuat Jin dulu menyukaiku?”
pertanyaan Jungkook mendapatkan respon dari Jimin dengan memiringkan kepalanya
tidak mengerti. Namja itu masih memaksakan dirinya untuk berdiri dan menolak
bantuan Jimin “itu karena aku adalah namja yang kuat, kuat dalam menjalani
kehidupan apapun. Kuat dalam membela Jin. Dan kuat untuk selalu berada
disampingnya. Jin tidak pernah menyukai namja lemah, yang selalu mengejar
dirinya seperti orang bodoh”. Jimin tidak tahu maksud penjelasan Jungkook yang
tiba-tiba saja menceritakan sifat seorang Jin yang dikenalnya. Pandangan
Jungkook sepertinya sedikit gelisah, Jimin kembali melihat tatapan Jungkook yan
sedikit menyelidik kearahnya.
“cintaku dengan Jin tidak akan pernah terpisahkan, kau tau itukan Jimin-sshi?
Tapi jika memang kami tidak ditakdirkan bersama dilain hari. Aku ingin ada
seseorang yang benar-benar bisa mengerti Jin seperti diriku.” Jungkook yang mulai
tidak seimbang hampir jatuh ketanah namun Jimin berhasil menangkapnya dengan
tubuhnya. Membawa Jungkook pada kursi rodanya.
Jimin tidak bisa membalas tatapan Jungkook pada dirinya yang
sepertinya sedang mencari tahu tentang isi hatinya. “Jimin-sshi, bagaimana
menurutmu jika suatu hari nanti aku titipkan Jin padamu? Apa kau mau
menggantikan posisiku nantinya”
“kau ini bicara apa Jungkook-ah! Kau mengatakan jika Jin
menyukai namja kuat, bagaimana mungkin kau bisa mengatakan ucapan putus asa
seperti itu padahal Jin disini. Aku yakin dia akan sedih nanti jika
mendengarnya”
Jungkook tersenyum kecil “arraso.. lalu Jimin-sshi
hubunganmu dengan Rapmon-sshi? Atau dengan Taehyung-sshi sudah sampai mana”
“nde? Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan keduannya, Rapmon-sshi
adalah temanku sedangkan namja seulki itu adalah Hyungku. Bagaimana mungkin aku
bisa memilih antara keduanya” Jimin kembali teringat Taehyung yang telah
meninggalkan Apartemen karena pertengkarannya.
“benarkah? Tapi bukankah mereka menyukaimu, kenapa
Jimin-sshi tidak memilih salah satunya atau mungkin...” keterangan Jungkook
pada kalimatnya sengaja digantungkan membuat detak jantung Jimin sedikit
terpacu “atau mungkin ada namja yang Jimin-sshi sukai?”
“HEEEE?!” jimin membulatkan kedua bola matanya dan bingung
harus membalas jawaban apa pada namja yang sedang menunggu keterangannya.
-
Ditempat lain Rapmon dan Jin memesan makanan untuk mereka
berempat. Aroma parfum yang digunakan Rapmon semakin menyengat membuat Jin
tidak nyaman dengan berada disampingnya. Apa sih yang membuat Rapmon menjadi
aneh seperti ini. Tidak biasnya namja ini menggunakan parfum yang begitu
menyengat. Sambil melihat-lihat beberapa menu yang terpajang Rapmon mulai
mengajak bicara Jin yang sedang memilih-milih.
“terimakasih sudah memperbaiki hubunganku dengan Jimin,
kufikir kau mengaggapku sainganmu” Jin yang tadinya melihat makanan matanya
sedikit melirik kearah Rapmon yang juga sedang memilih. Merasa dirinya sedang
dipandangi Rapmonpun segera menghentikan kegiatannya.
“sesuai dengan perkataanmu bahwa aku telah memiliki
Jungkook, harusnya aku tidak melirik namja lain selain kekasihku. Bukankah kau
yang mengaggapku saingan terberat, lalu mengapa kau menghubungiku bukannya Kim
Taehyung saat itu?” kembali kepada aktivitasnya membalik-balikan buku menu.
Rapmon mengangguk pelan “memang aku menganggapmu saingan terberat maka dari itu
aku membuatmu sedikit terpojok dengan alasan kau sudah memiliki Jungkook. Tapi
bagaimanapun sejak awal kita tahu bahwa Jimin memang lebih mennyukai keberadaanmu
dibanding yang lain. Kau tau itu juga aku yakin”.
“aku sudah menjauhinya jadi kau bisa tenang dan harus lebih
berusaha mendapatkan hatinya”
“kau memang yakin dengan keputusanmu atas ini semua? Aku
sudah tau semenjak melihatmu dengan Jimin perasaanmu pada Jungkook menghilang
bukan? Apa kau akan terus menyakiti hatimu dengan membiarkan Jimin jatuh
ketangan namja lain nantinya. Aku yakin kau akan menyesal” Rapmon menegaskan
pada setiap kalimat yang menjadi nasehat untuk sahabatnya. Namja disamping Rapmon
segera memandang kearah kedua namja yang sedang duduk jauh menunggu pesanan
yang mereka akan pesan. Mereka berdua saling tersenyum akrab seperti telah
berteman. Tidak mungkin Jin menghancurkan senyuman Jimin ataupun Jungkook hanya
karena perasaan ragunya. Jin belum bisa memilih mungkin suatu hari nanti
dirinya bisa mengatakan dengan jujur apa yang menjadi perasaannya. “Jin-sshi?”
panggilnya mengembalikan kesadaran Jin yang sebelumnya fokus pada hal lain.
“nde? Ayo kita segera pesan sebelum Jungkook dan Jimin
kelaparan nantinya” Jin mencari perbincangan lain sebelum Rapmon meminta
jawaban perasaan dirinya yang sebenarnya. Sedikit pukulan dari Rapmon membuat
Jin kembali memandangnya “waeyo?” tanyanya.
“kau akan menyesal nantinya aku yakin, selagi kau bisa katakanlah
perasaanmu pada Jungkook bahwa cintamu tidak seperti dulu lagi. Aku yakin namja
itu akan mengerti”
Jin mulai berfkir dengan perkataan yang sangat salah untuk
pertama kalinya. Jungkook tidak akan pernah mengerti apabila Jin mengatakan
yang sebenarnya. Sebelum Jin mengatakan itu Jungkook sudah ketakutan terlebih
dulu hingga kembali masuk rumah sakit hanya karena ditinggal Jin beberapa
menit. Mana mungkin Jin meninggalkan kekasihnya yang telah berjuang terhadap
penyakitnya. Itu bukanlah seorang pria sejati. Karena pria sejati adalah
seseorang yang tidak mungkin meninggalkan kekasihnya untuk menjalin hubungan
dengan yang lain. “aku tidak bisa meninggalkan Jungkook yang sekarang berjuang
untuk penyakitnya, aku harus menemaninya hingga dirinya kembali seperti dulu.
Penyakit Jungkook Kanker otak stadium 4 dan kemungkinan terbesar aku akan pergi
ke Amerika untuk menemaninya operasi disana”
“nde? Kanker otak? Astaga itu benar-benar berat bagimu Jin,
aku fikir hanya sakit keras yang tidak separah seperti Kanker. Maafkan aku
sebelumnya” Rapmon menyesal dengan perkataan yang sebelumnya sedikit
menyinggung hati Jin. “kau memang seorang pria sejati Jin” jelasnya terakhir.
Mereka terdiam sejenak, dan Jin pun berusaha untuk
mencairkan suasana yang disadari sudah tidak enak dengan bahasannya. “dibanding
itu, sebenarnya apa yang kau gunakan untuk mendekati Jimin. Parfummu itu
terlalu aneh dalam penciumanku”
“ooh ini parfum yang baru-baru ini aku beli padahal
menurutku ini sangat enak, apa kau tidak menyukainya? Apa menurutmu Jimin tidak
menyukainya” tanyanya membuat Jin sedikit menjauh dari posisi duduk mereka. Jin
telah memesan dan segera kembali pada kursi dimana Jimin dan Jungkook
menunggunya. Rapmon mengikutinya dari belakang, lalu duduk disamping Jimin yang
sedang berhadapan dengan kursi Jungkook. Jimin dan Jungkook yang sebelumnya
sedang tertawa langsung terdiam ketika kedua namja tinggi Jin dan Rapmon telah
datang setelah memesan. Itu membuat kedua namja yang baru datang penasaran
dengan apa yang dibicarakan “apa yang membuat kalian tertawa?” tanyanya namun
hanya dipandang sombong kedua namja manis itu. mereka saling berdebat dan
kembali tertawa. Mereka tidak sadar jika ada sepasang mata yang sedang
mengawasi kegiatan mereka ditaman bermain. Namja itu menggunakan kaca mata
hitam, topi merah kesayangannya dengan diikuti beberapa namja besar
dibelakangnya. Sebuah foto digenggam hingga tidak berbentuk lagi. Memberikan
senyum sinis pada beberapa namja yang asik tertawa dalam pandangannya.
-
-
Selesai menghabiskan makan siang mereka, Rapmon mengingatkan
Jin agar segera mengembalikan Jungkook kerumah sakit. Semua kembali tertawa
karena ucapan aneh dari Rapmon yang mengibaratkan Jungkook sebuah barang yang
harus segera dikembalikan. “kau fikir aku ini barang” celetuk Jungkook dengan
wajah merajuk kesal. Jin mengacak lembut rambut kekasihnya itu membuat Jimin
harus menundukan kepalanya setiap skinship yang diberikan Jin pada Jungkook.
Rapmon yang sadar itu segera menggenggam kembali tangan Jimin, dan harus
menerima tepisan kembali dari sang namja menggemaskan itu. jimin menelan
ludahnya dengan memaksa ketika tangannya disentuh namja disampingnya. Kembali
lagi perasaan itu tidak nyaman. Rasa bersalah akan Taehyung dirasakannya lagi
dan lagi. Merasakan gelagat aneh dari Jimin, Jungkook segera memastikannya “kau
tidak apa-apa Jimin-sshi?”
“nde? Aaah aku tidak apa-apa, tapi sepertinya aku harus
segera kembali pulang. terimakasih atas undangannya sangat menyenangkan. Aku
permisi” ujar Jimin dan langsung bergegas meninggalkan mejanya. Rapmon
mengangguk “kalau begitu aku antar kau pulang” balasnya sambil membereskan
barang-barangnya yang sebelumnya diletakan dimeja lalu mengejar Jimin. Jungkook
meminta Jin untuk mengikuti Jimin yang tiba-tiba saja pergi meninggalkan
keduanya.
Rapmon menarik Jimin yang tidak mau menunggunya sama sekali,
“kau kenapa Jimin? Kenapa kau tidak menjawab panggilanku. Kita berteman
bukan?”. Ini bukanlah pertemanan, Rapmon seperti mengambil kesempatan dalam
waktu ini untuk mendekatinya. “Jimin-sshi” teriak Jungkook memanggilnya dibantu
Jin yang mendorong kursi rodanya. “Jimin-sshi kau kenapa? Apa ada yang salah?”.
Wajah Jungkook sangat khawatir begitupun Jin yang heran dengan perubahan Jimin
yang begitu tiba-tiba. Sama halnya dengan Jungkook, Jin memberikan wajah
khawatir pada namja yang sedang gelisah dihadapannya sekarang ini. Jimin tidak
bisa memandang balik pandangan yang Jin berikan.
“aniyo aku tidak apa-apa hanya saja aku harus segera pulang”
tetap pada pendiriannya Jimin memandang ketiga namja yang menghalangi
kepergiannya.
“aku tau kau ingin pulang, tapi kau kan bisa pulang
bersama-sama kami. Kami juga akan pulang setelah ini” balas Jin yang menatapnya
masih dalam keheranan. Jimin tidak bisa membalas tatapan Jin lebih lama lagi.
Namja itu segera mengalihkan pandangannya kearah lain, karena tidak punya
alasan lagi. Jimin setuju untuk menunggu Jin dan Rapmon mengambil mobil
ditemani Jungkook disampingnya. Mereka berdua menunggu di bangku jalan dalam
keheningan. Jimin tidak bisa berbicara apa-apa lagi, hatinya entah kenapa
sedikit menolak keberadaan namja yang menemaninya saat ini. “Jimin-sshi
sebenarnya ada apa?” tanya Jungkook berharap Jimin mau menceritakan masalahnya.
Sedangkan Jimin hanya memberikan gelengan pelan dengan senyuman kepada
Jungkook. Mereka saling diam. Dan tanpa menunggu lama sebuah mobil datang
kehadapan mereka, tapi ini bukan mobil Jin ataupun Rapmon. Beberapa orang
bertubuh kekar keluar lalu mengepung 2 namja manis yang kebingungan atas
kehadiran mereka.
“siapaa kalian!” teriak Jimin yang membelakangi Jungkook
agar bisa melindunginya. Jimin bisa membanting beberapa namja tapi tidak bisa
jika harus dalam kepungan terlebih lagi ada nyawa lain yang harus
dilindunginya. Mata Jimin masih fokus kepada setiap sudut yang mulai mengambil
sedikit gerakan. Salah satu namja menarik tangannya lalu mendapatkan tendangan
dari Jimin. Beberapa namja kembali memberikan serangan dan Jimin menghindari
lalu membalas serangan itu hingga namja besar itu kembali pada posisinya atau
tersungkur ketanah. Tidak diketahui Jimin dari belakang sebuah pukulan dari
balok kayu menghantam kepalanya. Tubuh Jimin langsung jatuh sambil memegang
kepala yang mulai mengalir darah segar. Beberapa namja besar langsung
menggendong Jungkook dan membawa namja itu masuk kedalam mobil. jimin mendengar
teriakan namja yang dikenalinya, pandangan pun berusaha untuk kembali
difokuskan. Namja besar itu membawa Jungkook. Melihat Jimin masih berusaha
untuk berdiri, namja besar itu kembali memberikan pukulan hingga membuat namja
manis itu kembali merengkuk kesakitan.
“tinggalkan dia, cepat masuk” suara itu seperti dikenali
Jimin, mata yang sedikit terbuka menangkap sebuah wajah yang dikenali Jimin.
Beberapa namja besar itu meninggalkan Jimin yang berlumuran darah dikepalanya.
Mobil itupun segera pergi dengan kecepatan tinggi agar tidak terkejar. Setelah
kepergian mobil yang membawa Jungkook, 2 mobil mewah berhenti dan terkejut
melihat Jimin tersungkur ditanah dengan darah mengalir.
“Jiminn! Jimin!” Jin segera menggapai tubuh mungil Jimin dan
menahan darah yang terus menerus mengalir keluar. Namja itu tidak sadarkan
diri, kembali tubuhnya digoyangkan dan memberikan respon bibir kecilnya
bergerak.
“tolo...ng..jung..kook, mere...ka..mem..ba..wa.. jungkook”
ucapannya terbata-bata namun masih jelas terdengar 2 namja yang hawatir
melihatnya. Jin memberikan tubuh mungil Jimin pada Rapmon, namja itu segera
mencari sesuatu yang mencurigakan. Sebenarnya apa yang terjadi? Kemana
kekasihnya dibawa? Dan siapa yang membawanya!?. “aaarrgghhhh” geram Jin kesal.
To be continue....


suga bertindak.. duh kok g ada yg lhat sih tmpat seramai itu? ksihan chim mpe berdarah
ReplyDeleteudah chim hilangin prasaan lu, drpd lu skit hati. trima tae gih #maksa #ditabok author
ga ada yang berani sama namja2 kekar:v
Delete#bisikin Jimin biar mau pindah hati wks~
아주 좋은 (^-^)
ReplyDeleteGangerti Ahay:D
Deletewhat suga psikopat ? ... omg ... safe jungkook safe jungkook...
ReplyDeleteyah elu mah beraninya keroyokkan huks .. kan kasian jimin gue yang imut berdarah darah .. taehyung juga sib pake ada ada aja marah segala...
semangat thor
Hay KhArmy >< wajah suga cocok jd peran sadis jd bikin psiko deh :p hwaiting!!
Delete