BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 15







“tolo...ng..jung..kook, mere...ka..mem..ba..wa.. jungkook” ucapannya terbata-bata namun masih jelas terdengar 2 namja yang hawatir melihatnya. Jin memberikan tubuh mungil Jimin pada Rapmon, namja itu segera mencari sesuatu yang mencurigakan. Sebenarnya apa yang terjadi? Kemana kekasihnya dibawa? Dan siapa yang membawanya!?. “aaarrgghhhh” geram Jin kesal.

-

“aku tidak salah dengar suara itu adalah suara namja yang sebelumnya kau putuskan hubungannya” Jimin memberikan keterangan sambil memijit-mijit kepalanya yang masih berdenyut akibat hantaman keras. Rapmon kembali memperhatikan Jin dan mengikuti namja itu saat memutuskan keluar ruangan rawat Jimin. Luka dengan darah mengalir membuat siapa saja merasa khawatir, karena itu Rapmon dan Jin segera membawa Jimin kerumah sakit. Dan syukurlah Jin tau kemana dirinya harus pergi.

“apa kau tau kekasih mu berada sekarang?” tanya Rapmon meyakinkan sahabatnya itu. jin tidak menjawab tapi kedua matanya membulat ketika kedatangan Hal-abeoji, Jung Ho Seok serta Kim Taehyung yang berdiri dibelakang Rapmon sahabatnya. “apa yang kau katakan!! Apa yang terjadi dengan Jungkook?!” Ho Seok mencekik kemeja Jin begitu kuat, membuat namja itu tidak bisa bernafas sempurna. Hal-abeoji menunggu jawaban dari kekasih cucunya itu. “Jin-sshi kemana Jungkookie ku?” wajah tuanya tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya.

“jungkook diculik” hantaman langsung mengenai pipi Jin yang berasal langsung dari tangan kekar Ho Seok. Jimin yang mendengar adanya keributan segera keluar dari kamar rawatnya. Dan melihat Jin telah jatuh ketanah akibat pukulan teman lamanya. “tunggu..tunggu.. Ho Seok apa yang kau lakukan!” teriak Jimin sambil membantu Jin berdiri. Hal-abeoji mengingat sangat jelas namja dihadapannya ini adalah namja yang sebelumnya ditolong ketika hampir mati beku dijalanan.

“aku akan mencarinya, mohon tunggu kabar dariku. Aku akan membawanya kembali tuan” jin meninggalkan kerumunan yang melingkari posisi sebelumnya. namja itu segera berlari keparkir mobil dan bergegas untuk menemui namja yang menjadi otak penculikan kekasihnya.

Jimin memandang kepergian itu dan langsung meminta Rapmon untuk segera mengejarnya. Taehyung melihat itu semua hatinya sangat sakit mendapatkan pemandangan itu. sedangkan Jimin tidak memperdulikan apapun selain memikirkan penculikan Jungkook. Hal-abeoji memerintah Jung Ho Seok untuk segera menelpon polisi serta bantuan bawahan-bawahannya lalu melacak kemana mobil Jin pergi.

-

-

Jungkook berada disebuah ruangan yang tidak dikenalinya. Dirinya bebas mengitari seluruh tempat itu karena tidak ada ikatan yang melekat pada tubuhnya. Min Yoongi sadar bahwa namja yang diculiknya ini sudah tidak berdaya. Suara langkah kaki terdengar semakin mendekati Jungkook, wajah yang asing berdiri dihadapannya.

“siapa kau? Dan apa maumu sampai menculikku seperti ini?” tanya Jungkook dengan menajamkan matanya seolah tidak takut apapun. Namja tidak kalah cantik itu tertawa kecil mendengar suara Jungkook yang tidak terdengar gemetar sedikitpun. “aku terkejut kau telah kembali lagi kekorea Jungkookie, tapi kenapa kau harus kembali? Terlebih lagi kembali kedalam percintaan lamamu”

“apa maksudmu?” Jungkook tidak mengerti dengan kalimat yang diberikan namja mengerikan dihadapannya yang masih setia mondar mandir tidak jelas untuk apa. “aku tidak akan melakukan ini lama-lama, langsung saja...” tatapan mereka saling mengadu “aku tidak akan melukaimu sedikitpun jika kau mau bekerja sama denganku untuk menjauh dari Jin kekasihku”. Mendengar namja dihadapannya menyebut bahwa Jin kekasihnya membuat Jungkook tertawa kencang. Dan namja itu tidak suka dengan tawa menyebalkan yang diarahkan kearahnya. “apa yang kau tertawakan!”

“aku tidak salah dengar Jin kekasihmu? Apa kau gila? Jika memang jin kekasihmu kenapa kau tidak mengatakan itu dihadapannya” tawa itu tidak berhenti. “jadi kau tidak mau mengikuti kata-kataku?” sinis Min Yoongi

“aku tidak akan menyerahkan kekasihku pada siapapun! Terlebih lagi namja gila seperti dirimu!” tantang Jungkook sambil meludahi namja dihadapannya. Mendapatkan prilaku tidak menyenangkan dari rivalnya, Min Yoongi segera mundur dan menyerahkan pemukulan dilakukan orang bayarannya. Berkali-kali Jungkook dipukuli tanpa perlawanan namun tidak membuat rasa kasihan terlintas dalam pemikiran seoarng Min Yoongi. “apa kau masih keras kepala? Menyerah saja dan menjauh dari kekasihku Jin” Min Yoongi meyakinkan namja yang telah babak belur dihabis bawahannya. 

“TIDAAAK AKAN! Kau bukan kekasih Jin, kau ha..nya se..orang psiko!” teriak Jungkook.

Kembali tubuh lemahnya menerima berbagai aksi pemukulan, hingga pada akhirnya Jungkook tidak bisa menjawab pertanyaan Min Yoongi lagi. Namja itupun menghentikan bawahannya yang sedang asik memukuli namja bertubuh kecil dari dirinya. Min Yoongi menjambak rambut Jungkook hingga menghadapnya “kau masih berani mengatakan diriku gila?! Inilah yang membuatku gila. Gila akan cinta seorang Kim Seok Jin. Jadi ikutilah apa mauku, kau mengerti?!”

“TI...DAAAAK A...KAN!” jawaban itu kembali terdengar membuat Min Yoongi berasap kesal. Tiba-tiba ada seorang namja yang membisikan sesuatu pada Min Yoongi dan sikap namja psiko itu langsung berubah ketakutan. Seluruh bawahannya segera diarahkan kembali kemobil untuk bergegas meninggalkan posisinya. Membiarkan Jungkook sendirian kehabisan darah ditempat itu. masih ada sisa-sisa tenaga yang membuat Jungkook mampu kembali bangkit dari tempatnya tersungkur. Wajah Jin selalu memberikan kehidupan disetiap detak jantung Jungkook. Bahkan ketika otak Jungkook sudah tidak mampu berfungsi serta tangan yang tidak bisa lagi digerakan. Dirinya masih terus memanggil nama “Jin”. Jungkook berjalan keluar gedung dan hampir saja tertabrak Jin yang tiba-tiba saja datang untuk menyelamatkannya. Kekasihnya itu tersenyum dan langsung jatuh pingsan ketika Jin berhasil menemukannya.

“Jungkook! Ireonaa! Jungkook!” panggil Jin tapi tidak ada respon dari kekasihnya. Dengan cepat namja tinggi itu segera membawa tubuh kekasihnya masuk kedalam mobil dan bergegas menuju rumah sakit. Pengawal Hal-abeoji Jungkook yang datang belakangan langsung mengikuti mobil Jin yang sepertinya akan kembali kerumah sakit karena telah menemukan tuan mudanya. Setibanya dirumah sakit Jungkook langsung mendapatkan perawatan khusus dari beberapa dokter pribadinya.

Seluruh orang yang melihat kondisi Jungkook begitu khawatir, termasuk Hal-abeoji. Jin duduk menutupi wajahnya dengan kedua lengannya, menunggu berjam-jam kembali didepan pintu kamar Jungkook.  Tidak masalah bagi dirinya jika harus menunggu selama apapun. Yang terpenting adalah keselamatan kekasihnya untuk sekarang ini. Jimin menunduk menahan tangis mengingat bahwa dirinya tidak mampu melindungi Jungkook saat itu. air mata yang mengalir mengharuskan Rapmon mendekap tubuh kecil Jimin, dan saat itulah penolakan tidak diterima Rapmon seperti biasa. Taehyung sedikit melirikan matanya kearah Rapmon yang tengah memeluk Jimin secara leluasa. Sedangkan Ho Seok meratapi nasib Jungkook yang sekarang harus kembali lagi dan lagi berada diruang rawat Emergency. Tidak menunggu dokter keluar dari ruangan Taeyung memutuskan untuk meninggalkan tempat dimana semua orang menunggu. Dan Jimin sadar akan kepergian Taehyung. Namja mungil itu langsung melepaskan pelukan Rapmon dan berlari mengejar Taehyung.

“hyung..hyung” larinya sambil menangis tidak karuan. “sampai kapan kau akan menjauhiku! Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini padaku yaak Seulki! Kenapa kau tidak memelukku seperti biasanya ketika aku menangis. Kenapa kau selalu seenaknya pada perasaanmu tanpa memikirkan perasaanku?!”

“aku belum bisa menemuimu sekarang” Taehyung kembali melangkahkan kakinya namun tertahan sebuah pelukan Jimin dari belakangnya. Tubuh mereka menyatu sama seperti dulu. Ketika mereka berada dalam satu selimut yang menghangatkan keduanya. Taehyung sangat merindukan perlakuan Jimin padanya tapi ketika mengingat perasaannya yang tidak bisa memiliki Jimin itu menyakiti dirinya. Tangan Taehyung melepaskan pelukan yang Jimin berikan padanya dan pergi meninggalkan namja mungil itu yang masih terus memanggilnya. Jin dan Rapmon yang melihat itu tidak bisa berbuat apa-apa. mereka mengerti benar bagaimana rasanya berada diposisi Taehyung. walaupun hati masing-masing namja itu merasa kasihan ketika melihat Jimin menangis dengan terus memanggil Hyungnya.

Dokter membuka pintu kamar rawat Jungkook dengan keringat yang tidak berhenti mengalir disetiap sudut wajahnya. Wajah itu tidak terlihat akan memberi kabar sesuatu yang baik pada beberapa orang yang menunggu hasil dari pemeriksaan. Hal-abeoji yang sangat antusias mendekati sang dokter dan bertanya banyak hal tentang keadaan cucu kesayangannya.

“jungkook sudah tidak bisa melakukan banyak aktivitas seperti keluar dari rumah sakit, luka dibagian luar sudah kami obati tapi kankernya menjalar kesaraf sangat cepat entah bagaimana. Yang pasti kami hanya bisa mengatakan bahwa Jungkook telah lumpuh total”

Semua namja memberikan berbagai ekspresi sedih dengan kondisi yang diterima Jungkook sepenuhnya. Termasuk Hal-abeoji yang tidak menerima keadaan cucunya itu, namja tua itu segera masuk dan menyadarkan kesadaran cucunya yang tidak memungkinkan untuk mendengar kembali.
Jin memukul tembok yang tidak bersalah berulang kali ketika kesalahan itu terasa karena kelalaiannya. Kanker itu pasti menjalar karena pukulan-pukulan yang Min Yoongi berikan pada Jungkook. Dengan emosi Jin pergi ketempat kediaman Min Yoongi diikuti Rapmon dibelakangnya. Jin benar-benar sudah lepas kontrol dan Rapmon adalah sahabat yang harus selalu menenangkan emosi Jin. Kecepatan tinggi mobil Jin meluncur, Rapmon selalu hampir kehilangan posisi dimana mobil Jin bergerak. Setibanya dikediaman Min Yoongi. Jin terus berteriak memanggil nama namja yang telah berani-beraninya menculik kekasihnya. Karena mengganggu petugas keamanan langsung memberikan teguran pada 2 namja yang sedang berdiri didepan gerbang kediaman majikannya.
“siapa kalian! Berisik, mengganggu kediaman rumah ini!” ucap sang penjaga kediaman membuat Jin menendang pintu gerbang hingga goyang.

“buka gerbang ini atau aku akan menabraknya dengan mobilku! Buka gerbangnya!” teriak Jin. Petugas itu tidak memenuhi permintaan namja yang tidak dikenalinya. Semakin kesal Jin tidak omong kosong, mobil mewahnya langsung mengancurkan gerbang kediaman Min Yoongi. Namja yang mengawasi keamanan itupun segera berlari menghalangi namja gila itu yang tiba-tiba menerobos tanpa memberi tahu keperluannya. “siapa sebenarnya anda! Tolong jangan bertindak brutal seperti ini!” Jin mendorong tubuh petugas itu yang tidak henti-hentinya mengganggu langkahnya. Pintu utama kediaman Min Yoongi berhasil dimasuki Jin dan Rapmon. Pelayan dan Maid yang ketakutan karena kedatangan mereka segera mencari aman untuk tidak mendekati 2 namja yang sepertinya tengah marah akan sikap majikannya. Salah satu yeoja ditarik Jin “dimana Suga?!” tanyanya ketus. Yeoja itu tidak bisa bicara apa-apa karena tubuhnya bergetar dengan hebat akibat ketakutan. Rapmon yang tau akan hal itu segera mengambil alih tubuh yeoja itu dari genggaman Jin yang sedang emosi.

“dimana Suga?” Rapmon menggunakan nada lembut agar yeoja itu tenang dan mau memberikan informasi keberadaan namja yang dicari mereka. Yeoja itu menggeleng “tidak...tidak..tau.. tuan” balasnya terbata-bata. “mung...kin...tuaan..di..kamar..kamarnyaa..” lanjutnya masih tidak dapat tenang tapi bisa memberikan arah kamar namja itu berada. Yeoja itu mengantar Jin dan Rapmon tepat didepan pintu kamar Min Yoongi. Setelah dibukanya, Rapmon sangat terkejut bahkan Jin tidak bisa membayangkan. Semua foto dengan aktivitas Jin tertempel penuh dikamar dinding Min Yoongi.

“ini gila” desis Rapmon tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jin mencopot semua fotonya yang terpasang didinding dan foto Jungkook yang berada diarena bermain dart. Mengapa ini semua harus dirinya temui dalam kehidupannya. Tidak disengaja saat Jin merobek setiap lembaran foto yang sudah berhasil dicopotnya. Salah satu foto dirinya sedang bersama dengan Jimin tergeletak dimeja belajar Min Yoongi. Lingkaran merah dari sebuah spidol menunjukan wajah Jimin yang sedang tersenyum manis.

“ada apa?” tanya Rapmon bingung ketika Jin tiba-tiba saja menghentikan aktivitasnya. jin memberikan foto itu pada Rapmon agar dilihat sahabatnya itu. “apa ini?” tanyanya lagi. Mereka mulai berfikir apakah mungkin Min Yoongi menargetkan lagi kecemburuannya pada Jimin. Rapmon dan Jin segera berlari keluar meninggalkan kediaman Min Yoongi lalu mencari keberadaan Jimin. “siaal!” runtuk Jin kesal.

-

-

Jimin berjalan sendirian menuju Apartemennya, rasa dingin yang dirasakannya tidak terasa sama sekali.

“aku belum bisa menemuimu sekarang”

Suara itu masih teringat jelas dalam ingatan Jimin. Dingin sekali sikapnya. Tidak memberikan kehangatan seperti dulu. Langkahnya Jimin semakin berat ketika sudah berada di ambang pintu Apartemen miliknya. Jimin memegang kepalanya kuat-kuat agar tidak pecah berkeping-keping ketika mengingat masalah yang dialaminya saat ini. Pikiran namja mungil itu berhenti saat pembicaraan yang sebelumnya dilakukan dengan Jungkook terlintas.

“kau tau Jimin-sshi? Apa yang membuat Jin dulu menyukaiku?”

“itu karena aku adalah namja yang kuat, kuat dalam menjalani kehidupan apapun. Kuat dalam membela Jin. Dan kuat untuk selalu berada disampingnya. Jin tidak pernah menyukai namja lemah, yang selalu mengejar dirinya seperti orang bodoh”

Jimin tersenyum dengan air mata mengalir. Membuka pintu Apartemen lalu menguncinya kembali dari dalam. Tidak kuat untuk berdiri lagi. Jimin terduduk didekat pintu dan menangis untuk menenangkan hatinya. Wajah yang sangat cantik dimiliki Jungkook terus membuat Jimin sakit hati. Dirinya memang menyukai Jin kekasihnya tapi sangat jahat jika Jimin memikirkan hal yang tidak-tidak dengan penyakit Jungkook. Mereka semua mencintai Jungkook sama halnya dengan Taehyung yang telah bekerja pada namja cantik itu. lalu siapa yang sekarang menemani dirinya menangis? Tidak ada. “kau memang namja kuat Jeon Joon Kook...” lirihnya pelan “maka dari itu kau harus tetap hidup untuk menemani Jin terus!” lanjutnya dengan teriakan kecil yang hanya bisa didengar dirinya sendiri. Jimin ingin hanya ingin sendiri saat ini. Tidak membutuhkan siapapun. Lampu Apartemennya dipadamkan agar menyamarkan orang lain yang melihat dari jendela kamarnya.

-

-

Jin mengendarai mobilnya dengan cepat dan Rapmon sahabatnya menyeimbangkannya dari belakang. 2 mobil mewah melaju dengan kecepatan tinggi hanya untuk memastikan tidak terjadi apa-apa pada Park Jimin. Tangan Jin menekan beberapa nomor untuk menghubungi seseorang ditempat lain.

“yeoboseyo Taehyung-sshi”jawabnya ketika panggilannya telah diterima Taehyung. Tanpa berbasi-basi atau mengulur waktu Jin langsung berteriak ditelpon “sekarang pergi ke Apartemenmu! Pastikan Jimin disana!”

“ada apa? ada apa dengan Jimin!” suara itu terdengar Jin khawatir, Taehyung memang belum bisa bertemu dengan Jimin tapi jika keadaan membahayakan untuk dongsaengnya. Namja itu akan segera bertindak.

“aku tidak yakin tapi aku rasa namja yang menyerang Jungkook, berniat menyelakai Jimin juga. Sekarang pastikan Jimin di Apartemen bersamamu. Kau mengerti”

Belum mendengar dengan jelas tapi Taehyung telah berlari menuju Apartemennya. Namja itu berlari tanpa henti, tidak memperdulikan keselamatan sendiri. Hanya satu yang Taehyung fikirkan yaitu Jimin. Jarak Apartemennya dengan rumah sakit Taehyung tidak terlalu jauh. Itu alasannya mengapa Jin meminta Taehyung untuk segera memeriksa keadaan Jimin selama dirinya dalam perjalanan. Walaupun nafasnya terasa berat tapi Taehyung memaksakan untuk tetap berlari. Namja itu telah melewati pintu gerbang Apartemen dan mengambil nafas ketika menunggu lift Apartemennya. Karena lama Taehyung kembali berputar menuju tangga darurat.

Jimin sekarang berada di kamar mandinya. Namja mungil itu merenungkan saat-saat dirinya masih ditemani Taehyung dalam keadaan apapun. Tapi sepertinya Jimin sedikit lelah dengan masalah yang akhir-akhir ini datang pada hidupnya. Rasanya ingin mengakhiri semua. Menghilangkan ingatannya tentang perasaannya pada Jin yang telah memiliki kekasih. Menghilangkan ingatannya tentang perasaan yang Taehyung beritahukan. Mengilangkan ingatan tentang apa saja yang membuat kepalanya sakit selama ini. Namja itu memejamkan kedua matanya. Menangis kedinginan dengan air yang membasahi tubuhnya. Dirinya berharap dinginnya air bisa membuat namja itu kembali pucat seperti ketika dirinya hampir mati membeku diluar. Jimin tidak ingin kembali ditolong oleh orang baik. Namja itu berharap semua berakhir dengan cepat. Air yang terus mengalir membuat kamar Apartemen miliknya dipenuhi air.

Taehyung yang telah sampai didepan pintu Apartemen lamanya merasakan becek dari sepatunya. Air yang begitu banyak mengalir keluar dari kamar Apartemen miliknya dan memasuki setiap pintu kamar milik tetangganya. Tentu saja itu membuat setiap penghuni kamar merasa aneh. “air dari mana ini?” salah satu tetangga Taehyung bertanya dan langsung mengikuti kemana arah air itu tertuju. Taehyung terus mendobrak pintu kamar Apartemen miliknya karena terkunci dari dalam. Namja itu semakin histeris ketakutan sesuatu terjadi pada saengnya. Beberapa penghuni berlari keluar untuk mencari bantuan petugas Apartemen, agar pintu yang sedang didobrak dengan mudah dibuka dari luar. Tubuh Taehyung mulai memerah karena sedari tadi memaksa untuk membuka pintu namun tidak berhasil. Tidak lama sang petugas datang dan membawa banyak kunci. Petugas itu tentu saja langsung membukakan pintu Apartemen untuk Taehyung. Tidak memperdulikan setiap pandangan aneh dari tetangganya, Taehyung segera berlari kekamar mandi dan menemukan Jimin berendam disana. Tanpa bernafas.

“Jimin!”

Tubuh Jimin diangkat agar keluar dari dalam air. Pipi gempilnya terus ditepuki tangan Taehyung dengan lembut. Namja itu berharap tidak terjadi apa-apa pada saengnya. Banyak tetangga yang kaget dengan kejadian yang terjadi di Apartemennya. Mereka terus memandangi kedua namja yang sedang berpelukan didalam kamar mandi itu. petugas mengusulkan pada Taehyung, agar namja mungil itu dibawa kerumah sakit. Taehyung mendengarkan banyak suara tapi tetap fokus untuk membangunkan Jimin. Beberapa kali tepukan, membuat Jimin menyemburkan air sedikit demi sedikit yang sebelumnya telah tertelan. Kedua mata Jimin terbuka dan senyuman menghiasi wajanya ketika menangkap sosok Taehyung telah berada dihadapannya.

“Hyung? Selamat datang kembali” senyuman itu sangat manis dan dirindukan Taehyung. Hatinya sangat merasa bersalah mendapati Jimin seperti ini. “siapa yang melakukan ini? Kau tidak mungkin mencoba melakukan—.” Jimin diam. Salah satu tangannya menyentuh wajah Taehyung. Air matanya menetes disalah satu matanya karena tidak percaya bahwa Taehyung telah kembali. Ini bukanlah mimpi. Taehyung memang telah kembali pada dirinya. “mian...” bisik Jimin kecil. Tubuhnya gemetar menahan tangis. Taehyung meminta dengan sopan pada seluruh tatapan mata yang memperhatikannya, untuk dibiarkan berdua dengan dongsaengnya terlebih dahulu. Tentu saja mereka memberikan waktu pada Taehyung. Mereka atau para penghuni Apartemen sudah lama mengenal Taehyung dan Jimin walau tidak terlalu dekat. Tapi cerita hidup kedua namja itu sudah menjadi buah bibir positive dilingkungan Apartemennya. Setelah suara pintu tertutup dari luar, Taehyung menggendong tubuh Jimin keluar dari kamar mandinya. Pakaiannya yang basah digantikan. Jimin sadar pakaiannya sedang digantikan tapi bukankah itu semua hal yang biasa bagi seorang Hyung dan Dongsaengnya? Tidak. Jimin gelisah dan malu setiap sentuhan Taehyung menyentuh kulit tubuhnya. Ingin memberontak. Tapi tidak bisa. Jimin tidak ingin masalah terjadi lagi dan membuat Taehyung harus kembali keluar lagi dari Apartemennya.

-

-

Jin menunggu lampu merah dengan Rapmon dibelakang mobilnya. Tidak disangka Jin melihat Min Yoongi sedang berada di sebuah Caffe dengan beberapa namja. jin langsung keluar dari mobil tanpa memperdulikan lampu hijau yang telah menyala. Namja itu sangat marah dengan namja psiko yang telah menyukai dirinya. Rapmon yang melihat Jin keluar, ikut keluar juga dari mobilnya dengan masih tetap menyelidiki kemana arah namja sahabatnya itu pergi. Jin mengacak beberapa kursi agar menyadarkan Min Yoongi atas kedatangannya.

“Jin-sshi—.” Tamparan mengenai pipi putih dan dingin Min Yoongi. Jin menghormati namja psiko dihadapannya, tidak perduli seberapa besar dirinya dipukuli bawahannya. Yang Jin ketahui kehidupan Min Yoongi sama seperti kehidupan Jin. Tidak diperdulikan oleh kedua orang tuanya. “kau menamparku?” tanya Min yoongi.

“aku menamparmu untuk memperingatkanmu agar tidak muncul lagi dihadapanku. Sampai kau kembali muncul dihadapanku aku tidak akan segan-segan membuatmu babak belur sama seperti ketika kau memukuli kekasihku. Dan kupastikan lagi tempat yang cocok untukmu” ketusnya pada Min Yoongi. Wajah Yoongi langsung ketakutan ketika mendengar sebuah ‘tempat yang cocok’.

“andwae! Jin-sshi jangan bawa aku kepenjara. Aku minta maaf, aku mohooon.. aku juga tidak ingin menjauhimu! Aku tidak bisa Jin-sshi”

“kalau begitu berhenti muncul dihadapanku! Sampai terjadi sesuatu pada kekasiku, aku bersumpah akan terus mencarimu Min Yoongi!” teriak Jin sembari mendorong tubuh Min Yoongi hingga tersungkur ketanah.

“satu hal lagi aku tidak perduli seberapa keras kau menghancurkan hidupku nantinya. Yang pasti jangan pernah menyentuh Jungkook ataupun Jimin! kau mengerti!”

“namja itu...”  Min Yoongi bangkit dari tempat dimana dirinya dijatuhkan, menghapus air mata yang seenaknya saja keluar. Air mata yang menjatuhkan harga dirinya dihadapan Jin. “namja itu sudah meninggalkanmu, kenapa kau masih saja mau menjalin hubungan dengannya! kenapa kau tidak melihatku sedikit saja. apa yang dia miliki dan aku tidak punya? Dan lagi namja bodoh itu juga sama halnya dengan Jungkook. Kenapa kau selalu saja membuka hati pada namja-namja yang sama sekali tidak mencintaimu seperti ku ini”

“aku ingin sekali memukulmu sama seperti apa yang kau lakukan pada Jungkook ataupun Jimin saat itu. entah kenapa aku tidak bisa melakukan itu, kau menyedihkan”

“aku..adalah bayanganmu Jin. Aku sama denganmu. Memiliki orang tua yang tidak pernah untuk menemani hidupmu. Kau itu diriku! Kita itu sama”

“jika memang kita sama, aku tidak akan pernah memilihmu karena kau sudah tau jawabannya. Aku sudah tau diriku itu berarti aku sudah tau dirimu lebih dalam. Yang tidak kau miliki adalah hati. Jadi kau mengerti kan apa mauku!” Tidak pernah Min Yoongi melihat wajah tampan Jin menyeramkan seperti ini. Rapmon tidak bisa tinggal diam, tentu saja dia menghalangi amarah Jin yang sepertinya akan mengakibatkan keributan. Setidaknya mereka tau bahwa Jimin sedang tidak dalam keadaan berbahaya. rapmon mengajak Jin kembali kemobilnya, dan pergi menuju tujuan utama mereka. Apartemen Jimin.

Tidak lama kedua mobil mewah telah berada didepan gerbang Apartemen milik Jimin. Mereka melihat lampu kamar Apartemen Jimin masih menyala. Menandakan bahwa namja itu masih belum tidur. Rapmon mendekati dimana Jin berdiri.

“apa menurutmu Taehyung masih berada disana?” tanya Rapmon dengan menggosok kedua tangan agar menghilangkan rasa dingin yang sangat menusuk tubuhnya. Jin tidak menjawab dan masih memperhatikan. “jika memang namja itu berada disana, lebih baik kita tidak mengganggunya” sarannya langsung. Jin menoleh ke arah sahabatnya sebentar, lalu kembali menatap jendela kamar Jimin.

“perasaanku mengatakan Taehyung memang berada didalam. Kau benar. Sebaiknya kita membiarkan dua saudara itu menyelesaikan masalahnya”

“lalu kemana kita sekarang?” sebuah rokok dikeluarkan Rapmon dari sakunya. Jin mengambil rokok itu yang baru beberapa detik berada di bibir Rapmon “yaak!”

“kebiasaan lamamu tidak pernah kulupakan, jadi berhentilah. Hanya karena perasaanmu gelisah kau merokok dihadapanku. Aku tidak suka itu”

Jin masuk lagi kedalam mobil dan memutuskan untuk kembali kerumah sakit, menemani kekasihnya disana. Rapmon masih diam tidak mengikuti. Pandangannya masih tertuju pada jendela kamar namja yang pertama kali disukainya. Senyumanya terukir kecil menyedihkan.

Dilain sisi Taehyung dan Jimin masih saling menikmati keheningan didalam Apartemennya. Mereka mengurungkan aktivitas untuk menegur satu dengan yang lain. Ini bukanlah sikap asli mereka. Dan sepertinya memang Taehyung harus mengembalikan suasana seperti semula. Namja itu mulai bergerak kearah dapur dan mencari sesuatu dilemari makanan. Banyak makanan instan ditemukan disana. Taehyung kembali merasakan sakit pada dadanya ketika melihat Jimin seperti tidak terurus tanpa dirinya. “apa kau selalu makan Mie instan Jiminnie?” Jimin menggigit kecil bibirnya dan hanya memberikan deheman “uhm”.

“itu tidak baik. Akan kubuatkan kau makanan yang harus kau makan sampai habis. Kau mengerti?” beberapa perlengkapan masak dikeluarkan serta bahan-bahan yang berada dilemari Es juga memenuhi meja dapur. Hanya ada telur, mie, susu, sepertinya Taehyung mulai kebingungan akan membuat apa dengan bahan seadanya. “aku akan keluar membeli bahan-bahan masakan di supermarket”

“aniyo hyung” jimin menahan kepergian Taehyung. Sepertinya dirinya tahu Jimin membutuhkan banyak waktu dengannya. taehyung kembali duduk di tempat tidur Jimin sambil menggenggam tangan dongsaengnya dengan lembut. “hyung...” Jimin mulai menggerakan bibirnya “soal pelukan Rapmon-sshi padaku kemarin maafkan aku... karena seharusnya aku menghormati perasaanmu” Taehyung menatap tenang mengontrol emosinya. “tapi.. tapi aku sudah bicara pada Rapmon-sshi dan dia mengatakan bahwa saat itu dia hanya ingin menenangkan ku saja. dirinya tidak menyukaiku hyung.. dan kau harus tau bahwa Rapmon-sshi namja normal yang tidak akan mungkin menyukai namja seperti ku...hyung percayakan padaku...sungguh.. sungguh aku minta maaf”

Taehyung memeluk tubuh Jimin yang mulai memberikan reaksi, “miane Jiminnie..” suara Taehyung mulai terdengar lembut seperti dulu. Jimin merindukannya. Sangat merindukan keberadaan Taehyung. dia tidak membutuhkan apapun lagi jika memang Taehyung mau kembali ke Apartemen bersama dengannya seperti dulu. “hyung..kau mau kan kembali tinggal disini” wajahnya sangat berharap tapi sepertinya Taehyung mengurungkan niatnya untuk kembali.

“aku tidak bisa untuk sekarang tinggal bersamamu, karena Jungkook butuh penjagaan dirumah sakit. Jika semua kembali baik-baik saja aku akan tinggal di Apartemen bersamamu lagi Jiminnie. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu” pelukan itu semakin erat dirasakan Jimin. Entah rasa bahagia atau apa tapi memang seharusnya hubungan dirinya dengan Taehyung berjalan dengan baik.

“apa hyung akan kembali kerumah sakit sekarang ini?”

“nde. Aku memang harus kembali kerumah sakit secepatnya. Karena sebelum ini aku belum meminta izin pada tuan Jihyun. Tiba-tiba saja Jin memintaku untuk memeriksa keadaanmu. Itu membuatku khawatir hingga langsung berlari keApartemen”

Jin? Jadi Taehyung ke Apartemen karena Jin yang memintanya? Apa yang dirinya khawatirkan terhadap Jimin? Aneh sekali. “aku tidak tahu pasti tapi namja itu mengatakan bahwa orang yang menyerang Jungkook kemungkinan akan menyerangmu juga. Itu yang dikatakannya” tidak tahu kenapa Taehyung selalu memperhatikan Jimin yang tersenyum ketika membicarakan namja bernama Kim Seok Jin. Dirinya berharap Jimin tidak memiliki perasaan pada namja yang sudah memiliki kekasih itu. itu hanya akan menyakiti dirinya. “Jiminnie.. apa kau menyukai namja itu?”

Mendengar pertanyaan Taehyung, kedua mata Jimin melongo. Apakah sikapnya memberi tahu semua orang bahwa dirinya menyukai Jin. “nde? A..aniyo.. geure aniyo”

“jinjjya? Aku berharap juga begitu. Karena itu akan menyakiti dirimu sendiri nantinya. Ini bukan karena aku cemburu ataupun sejenisnya. Kau pastinya tau kan Jin memiliki Jungkook” Jimin menelan ludahnya, Taehyung merengkuh pundak saengnya itu dan memandang kedua netra miliknya “Jiminnie.. lupakan perasaanku padamu, anggap saja perasaan itu tidak pernah ada. Aku ingin kembali seperti dulu”

“hyung maafkan aku... sungguh aku minta maaf” Jimin memeluk tubuh Taehyung yang lebih tinggi beberapa cm darinya. Mereka berdua memutuskan untuk kembali kerumah sakit memeriksa keadaan Jungkook yang sebelumnya telah diculik.

-

Jin dan Rapmon telah sampai dirumah sakit. Namja itu memandang kekasih yang sedang tertidur cantik ditemani Jung Ho Seok. Sepertinya Jin tidak melihat keberadaan sang Hal-abeoji dirumah sakit. Ho Seok yang merasakan sebuah bayangan didepan pintu kamar rawat Jungkook, memeriksa dan menemukan Jin dengan Rapmon diluar.

Jung Ho Seok tidak bicara apapun pada Jin, hanya melewati sekedar memandang sedikit kearah Jin. “sepertinya namja itu menyukai kekasihmu, tatapannya memandang tidak suka padamu” jelas Rapmon menyelidiki wajah Ho Seok ketika berpapasan. Jin hanya tersenyum, menepuk pelan pundak Rapmon dan pergi masuk kedalam kamar rawat kekasihnya. Rapmon tidak mengikuti sahabatnya itu. dirinya memilih menunggu diluar agar Jin memiliki waktu berdua dengan kekasihnya.

Jin duduk ditempat sebelumnya Ho Seok duduk. Membelai rambut halus kekasihnya yang semakin hari berguguran karena sakitnya. Wajahnya putih pucat membuat miris hati Jin. Serta beberapa luka yang baru saja kekasihnya dapatkan dari Min Yoongi “sampai kapan aku melihatmu seperti ini chagiya? Sampai kapan kau akan membohongiku tentang penyakitmu. Aku mohon bangun dan segera jujur padaku bahwa kau sedang kesakitan”. Jin meneteskan air matanya diwajah Jungkook yang tidak bergeming sedikitpun. Rambut kekasihnya mulai abis karena kanker yang merogoti tubuhnya. Tapi jin tidak sedikit pun merasa jijik pada kekasihnya. Sekalipun kekasihnya tidak memiliki rambut, Jin akan tetap setia menemaninya. Dan bangga memiliki kekasih yang selalu berjuang untuk dirinya. Air mata Jin tidak berhenti-henti menetes. Tidak diduga sebuah tangan menyeka air mata yang siap mengalir ke area pipi Jin.

“apa yang... kau tangisi Jin...?” suaranya terdengar pelan tidak mampu terdengar Jin, tapi dirinya tau apa yang diucapkan Jungkook dari gerakan bibirnya. Jin menggenggam langsung tangan yang berhasil digerakan kekasihnya “chagiyaa...” air matanya langsung Jin hapus seperti anak kecil.

Jungkook tersenyum cantik dan merebahkan tangannya kembali karena lelah “kau...tidak boleh menangis..ini akan..segera..berakhir..maaf..jika aku membohongimu..”. tubuh Jungkook bergetar kecil dan matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis. Jin yang menyadari air mata Jungkook mulai mengelus pipi mungil kekasihnya itu. menenangkan dengan kebiasaannya dimasa lalu. Jungkook memang sebelumnya tidak sepenuhnya tertidur, pendengarannya masih bisa mendengar keluh kesah kekasihnya yang tidak lama datang. “maaf...maafkan...aku.” lirinya semakin menjadi. Jin memeluk tubuh kekasihnya yang tidak bisa berhenti-hentinya menangis.

“aku akan melakukan apapun agar kau bisa kembali seperti dulu cagiyaa.. jadi berhenti menyembunyikan semuanya dariku..aku adalah kekasimu.. kau adalah milikku. Kau mengerti?” jungkook mengangguk mendengarkan perkataan Jin menyentuh hatinya. Padahal dirinya tahu cinta Jin tidak seperti dulu, ketika 4 tahun lalu. Dan Jungkook tau itu karena kehadiran Park Jimin.

“jika..boleh.aku..bertanya padamu..apa aku..akan..mendapatkan jawaban..jujur darimu Jin-sshi?”


“apa? apa yang kau ingin tahu dariku..aku akan menjawabnya dengan jujur” jin menatap netra Jungkook yang begitu cantik dengan air mata yang tertahan. Jungkook tersenyum senang mendengar ucapan Jin yang mau jujur untuk dirinya. Tangannya berusaha kembali digerakan tapi tidak bisa. Jungkook terus berusaha menggerakan tangannya untuk menyentuh wajah kekasihnya. Sambil menahan rasa sakit dikepalanya, tangan itupun tiba diwajah Jin. Bibir itu kembali bergerak membuat gerakan “....................................................................” jin tidak mendengar apa yang diucapkan kekasihnya tapi dirinya tahu gerakan itu menyusun sebuah kalimat “apa kau..menyukai..Park Jimin?”


To be continue...

Comments

Post a Comment

Popular Posts