Xiuhan.Lumin Love is WAR Chapter 6
Luhan mendatangi markas
dimana Block buster biasanya berkumpul, sepasang mata itu menyaksikan banyak
namja membawa pukulan, rantai, pistol sedang mengambil posisi untuk mengepungya.
Masih terlihat tenang namja itu menatap kesetiap pasang mata yang menantang
balik pandangannya.
Luhan
yang telah selesai melemaskan ototnya mulai bergerak ketika salah satu namja
dari kelompok Block buster maju dengan melayangkan pukulan kearahnya. Tubuh
Luhan yang kecil, bergerak dengan lincah untuk menghindar dan cepat untuk
menyerang. Kemarahan yang luhan rasakan akibat mereka yang telah melukai
Minseok membuat namja itu semakin beringas dan brutal. Pukulan yang direbut
dari salah satu namja block buster membantu pembantaian yang dilakukan pembunuh
sadis bernama Xi Luhan. beberapa namja yang memiliki posisi penting di Block
buster yang menyaksikan pembantaian itu hanya bergidik ngeri jika berhadapan
langsung dengan namja itu.
Semua peluru hanya melewati tubuh Luhan tanpa
mengenainya, Luhan yang berhadapan langsung dengan salah satu namja yang
memegang pistol melumpuhkan namja itu dan berhasil mengambil alih senjata
apinya. Ditekannya pistol itu berulang kali dan mengenai beberapa namja yang
telah ditargetkan Luhan. namja sadis itu membantai seluruh isi markas dengan
senyuman yang terbesit diwajahnya.
Luhan bertanya pada salah satu namja yang telah
tumbang sambil menahan sakit karena tembakan “dimana pemimpinmu?”. “mereka...
mere...ka diatap” satu tembakan lagi mengenai kepala sang namja yang memberi
informasi ke Luhan. itu semua karena luhan tidak mau bekerja setengah-setengah,
semua harus dihabisi itu prinsipnya. Luhan menaiki tangga menuju atap untuk
bertemu dengan pemimpin yang telah memukul Kim Minseok saat penculikannya.
Setelah berada di atap, luhan melempar pistol yang
berada di genggamannya. Park Kyung, Lee Tae il, dan Lee Min Hyuk siap pada
posisinya mengelilingi Xi Luhan, Woo Ji Hoon masih setia dengan minuman
kerasnya sedangkan Ahn Jaehyo mengamati dari jarak jauh. Lalu kemana Pyo Ji
Hoon dan Kim Yukwon?
Lee Tae il yang mulai maju mendapatkan tendangan
dari Luhan dan membuat namja itu terdorong cukup kencang. Park Kyung berlari
untuk segera memukul Luhan yang sedang terfokus pada Lee Tae il tapi nihil
dengan menahan pukulan park kyung, Luhan langsung memukul namja itu terlebih
dahulu dan menarik bajunya membenturkan kepala namja itu berkali-kali ketembok.
Lee Min Hyuk berbeda hanya diam terlebih dahulu mengamati 2 tikus informannya
dihajar habis-habisan. Melihat teman informannya dipukuli lee tae il kembali
bangun mengambil balok kayu dan memukul Luhan dari belakang. luhan hanya
tertawa saat mendapatkan pukulan itu, kepala park kyung yang sedari tadi dibenturkan
terlepas dari genggamannya. Namja itu mulai mendekati lee tae il yang memegang
kayu dengan percikan darah dari kepala Luhan. park kyung menendang Luhan dari
belakang dan kembali memfokuskan luhan pada dirinya. Lee tae il dan park kyung
adalah informan bagi block buster, kematian adalah resiko pertama mereka dalam
pekerjaannya. dengan mencoba untuk menyerang luhan secara bersamaan itu tidak
membuat raut wajah tenang luhan berubah menjadi cemas, bagi luhan itu adalah
kesenangan yang memang seharusnya dilakukan. Luhan berlari kearah 2 namja itu
dan memutarkan tubuhnya siap menendang dan.....
BUGHH! BUGH!
2 namja itu tersungkur ketanah.
Belum puas dengan apa yang dirinya lihat, luhan
kembali mendekati park kyung dan lee tae il yang masih terbaring ditanah.
Tinjunya dilayangkan berkali-kali hingga tangan luhan lecet sendiri ke arah lee
tae il, luhan melirik kearah batu yang sedang menganggur disamping tepat
dirinya memukuli lee tae il. Dan tanpa berfikir lagi luhan berniat membanting
batu itu tepat dikepala lee tae il......
“tunggu... aku mohon luhan jangan membunuh LeeTae
Il, kau bisa membunuhku saja”
“apa untungnya bagiku?” Luhan masih menggenggam
batu bata dengan mencekik Lee Tae Il disalah satu tangannya.
“aku mohon Luhan” dengan sisa kekuatannya. Park Kyung
mendekati tubuh temannya yang sudah tidak berdaya. Senyuman lebar terukir
akibat pemandangan yang sangat indah tengah disaksikannya. Hancurlah atau
matilah namja yang berada dalam genggaman Luhan. Park kyung yang berteriak
karena kehilangan teman informannya mendapat sorotan kembali dari Luhan “kau
berikutnya”. Park kyung segera mengambil pistol yang berada di kantongnya
ditembaknya namja itu namun tidak berhasil, “brengseeekk kau Luhaaaannn!” tidak
ada satupun yang mengenai namja lincah itu. dengan cepat luhan menarik wajah
park kyung, menghantamkan wajah itu ke lututnya.
Luhan kembali tersenyum kearah Lee Min Hyuk, si
mabuk Woo Ji Hoo, serta Ahn Jaehyo namja yang telah memukul Minseok. “kalian
selanjutnya” gumamnya sambil melangkah mendekat.
-
-
Chanyeol masih menemani minseok yang tertidur
dengan manisnya, mengelus pipi chubby yang pemiliknya dirinya yakin tidak akan
menyadarinya. Inilah yang chanyeol inginkan selama ini, berada disamping Kim
Minseok selalu sama seperti dulu. Tidak lama mata kucing Minseok terbuka secara
perlahan membuat chanyeol menghentikan kegiatannya. “apa aku mengganggu
tidurmu?” tanyanya, minseok hanya menggeleng dan mngambil posisi duduk ditempat
tidurnya. “jangan paksakan dirimu minseok, kembalilah berbaring” chanyeol
membantu namja manis itu yang terlihat memaksakan dirinya.
“apa luhan datang kesini?” chanyeol yang
mendapatkan pertanyaan itu hanya bisa mengepalkan tangannya. Dengan malas
Chanyeol hanya menggeleng, “kemana dia? Apa ayah ku benar-benar memecatnya? Oh
ayolah Kim Minseok ini semua kesalahanmu” namja manis itu berbicara sendiri.
Sangat terlihat penyesalan diwajahnya. Tapi mengapa seorang putra mafioso
begitu perduli dengan kehidupan orang lain? Tidak. Minseok memang perduli
kehidupa orang lain sejak kecil tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Pengawal
adalah seseorang yang siap mati untuk melindungi majikan yang dirinya lindungi.
Minseok sangat benci jika faktanya namja itu harus melihat orang lain terluka
karena dirinya terlebih lagi sebelum Luhan, pengawal Minseok kembali mati
karena dirinya. Itu yang membuat Minseok tidak ingin memiliki pengawal lagi dan
lebih memilih diam dirumah.
Kim Minseok beranjak dari tempat tidurnya dengan
sekuat tenaga membawa alat infus yang masih terpasang ditangan mungilnya. “kau
mau kemana?” chanyeol menghalangi pintu keluar untuk namja manis itu yang
wajahnya masih terlihat pucat.
“chanyeollie aku yakin Luhan masih ada diluar
menungguku sadar, aku ingin memastikan” setiap hentakan langkah minseok
menghindari halangan Chanyeol masih berdiri kokoh dihadapannya. “minggir
chanyeol aku mohon! Biarkan aku bertemu dengan luhan!” mengapa wajah manis ini
begitu khawatir pada namja brengsek seperti Xi Luhan. “ayahmu memerintah kan
aku disini untuk melarangmu bertemu dengannya, jika kau tetap memaksakan dirimu
bertemu dengan namja itu sama saja kau akan membunuh Luhan ditangan ayahmu.
Seluruh antek-antek ayahmu sedang berjaga diluar kamar ini, diluar gedung
bahkan, pagar rumah sakit. Itu semua untuk apa?! hanya untukmu Minseok” setelah
penjelasan yang diberikan antek terpercaya ayahnya selesai, sakit di dada kiri
Minseok kembali menyerang. Rasanya benar-benar sakit seperti ditusuk, tubuh
mungil itupun oleng tidak seimbang. “minseok .. minseok !” chanyeol menangkap
tubuh Minseok yang hampir saja terjatuh mungkin karena tidak terlalu kuat
menahan rasa sakitnya. Dengan cepat chanyeol menekan tombol merah untuk
memanggil dokter keruangan Minseok. Tidak lama dokter yang mendapatkan tanda
darurat langsung memasuki ruangan yang memberikan sinyal padanya. Dokter itu
meminta chanyeol untuk keluar sebentar. Selama 15 menit dokter itu pun keluar.
“bagaimana keadaannya dok?” namja bertubuh tinggi
itu berlari tidak sabar untuk bertanya. “kau tenang saja, dia hanya kambuh pada
jantungnya. Sudah kutangani tidak ada yang membahayakan pada dirinya. Aku juga
sudah memberikan obat penenang dan sekarang dia sudah tertidur lagi. Jika sudah
tidak ada yang ditanyakan saya mohon pamit” jelas sang dokter. Namja tinggi
berambut hitam itupun membungkuk tanda hormat dan terimakasih atas bantuan yang
diberikan.
Setelah dokter pergi. Chanyeol masuk kembali
kekamar Minseok. Menemukan namja manis itu sedang menikmati mimpi indahnya
dengan wajah tenang. Merapikan surai poni yang menutupi wajah cantiknya “aku
tidak pernah rela jika namja itu yang memilikimu Minseok” gumam kecil chanyeol
yang mengutarakan isi hatinya.
Luhan masih setia menemani malam Minseok walaupun
tidak dalam keadaan dekat, setidaknya itu yang membuat namja itu tenang ketika
melihat Minseok sudah tertidur.
-
Hampir 2 minggu Luhan tidak mengunjungi dirinya
yang dirawat, ayah nya sudah benar-benar keterlaluan. Bagaimana pun luhan
adalah pengawalnya walaupun ayahnya yang memutuskan pemecatan itu tetap saja
ayahnya harus meminta izin padanya. Minseok menekan tombol panggilan untuk
suster ketika chanyeol sedang tidak menjaganya. Suster memasuki kamar VVIP Minseok
yang cukup dijaga ketat dari luar.
“ada apa tuan Minseok?” tanya sang suster.
“bisakah aku meminjam telpon rumah sakit....
aniyo.. maksud ku meminjam telponmu. Aku harus menghubungi ayahku” suster yang
tidak mengerti hanya menyerahkan ponselnya. Setelah menakan beberapa digit
angka, minseokpun terhubung ke nomor Seungri. Yang dirinya yakini ayahnya tidak
mau berurusan langsung dengan teman kerjanya melewati telpon. Itu semua telah
menjadi urusan Seungri dan ayahnya hanya berurusan dengan mereka jika sudah
beratatap muka langsung.
“Seungri-sshi bisa kau hubungkan aku dengan ayah?”
tanya Minseok setelah mendengar seseorang mengangkat panggilannya.
“Minseok-ah?
Darimana kau—.” Suara Seungri yang akan bertanya tertahan ketika Minseok
kembali memohon “ayolah Seungri-sshi aku tidak punya banyak waktu”
Permintaan sang putra Mafioso tidak mungkin Seungri
tolak, namja itu pun segera pergi menuju ruangan kerja Kris. Menyerahkan
ponselnya dengan membungkuk.
“yeoboseyo”
“ayah mengapa kau memutuskan seenaknya tentang
pemecatan Luhan, ayolah ayah ini tidak adil untukku” minseok yang sudah emosi
mencurahkan isi hatinya ketika mendengar suara ayahnya disebrang sana.
“apa yang kau
bicarakan? Apa hakmu berbicara seperti itu pada ayahmu?” tanya kris yang masih
tidak melepas pekerjaannya melihat berkas-berkas.
“ayah aku mengikuti semua keputusan mu, hatiku
sakit setiap melihat orang-orang terluka karena diriku. Luhan berbeda dia telah
berjanji padaku tidak akan terluka karena diriku, aku mohon ayah batalkan
pemecatannya”
Mendengar
permintaan putranya membuat Kris menghentikan kegiatannya, menutup berkas yang
sedang dilihatnya. “bagaimana dengan hati ayah melihatmu terbaring dirumah
sakit karena dia tidak bisa melindungimu. Bagaimana perasaan ayah yang
melihatmu tidak bisa menggunakan salah satu tanganmu. Bagaimana perasaan ayah
padanya? Bisa kau jelaskan betapa bencinya ayah pada antek yang tidak melakukan
tugasnya dengan baik?”
Minseok terdiam. Suara ayahnya yang tegas menutup
mulutnya cukup rapat saat ini. Suara itu kembali terdengar saat dirinya
memikirkan ucapan ayahnya “Minseok-ah kau
tau, ayah sangat tidak mengizinkan dirimu terluka. Karena hanya dirimu sesuatu
yang berharga dalam hidup ayah, tidak ada yang lain. Maka ayah mengutuk
siapapun yang membuat dirimu terluka untuk segera dihancurkan sekalipun ayah
harus membayar pembunuh dari pelosok dunia untuk membunuhnya. Luhan sudah tidak
pantas untuk muncul dihadapanmu. Jika dia berani ayah bersumpah akan langsung
menghubungi pembunuh bayaran yang melebihi dirinya” mendengar semua yang
dikatakan Kris, membuat namja manis itu bergidik ngeri.
“ayah aku mohon jangan lakukan itu! aku berjanji..
aku..” ucapan itu ragu-ragu untuk dikeluarkan minseok tapi semua harus
dilakukan “aku berjanji untuk tidak bertemu dengan Luhan ayah, jangan sentuh
Luhan aku mohon padamu” air mata itu mengalir saat mengucapkan janji pada
Ayahnya sendiri. Kris yang sadar dengan tangisan tertahan disebrang sana namun
tidak meluluhkan keputusannya untuk menjauhi putranya dengan namja brengsek
bernama Luhan.
Minseokpun menutup sambungan telponnya,
mengembalikan kepada pemiliknya dengan sedikti menahan tangisnya. “terimakasih”
ucapnnya pada sang suster yang terlihat bingung saat melihat dirinya yang
kacau. Suster itupun izin pergi setelah keperluan sang pasien telah terpenuhi. Minseok
menangis sejadi-jadinya ketika melihat sang suster telah menutup pintu
kamarnya. fikiran tentang Luhan membuat dirinya begitu sakit. Dirinya sangat
ingin bertemu dengan namja itu mengulang semua kembali saat pertama kali
bertemu dengannya, memasang wajah kesal padanya, dan menciptakan
panggilan-panggilan baru untuknya seperti ‘rusa menyebalkan’. itu semua membuat
senyuman terukir diwajah manis milik Minseok. Luhan yang melihatnya tidak bisa
berbuat apa-apa jaraknya tidak memungkinkan dirinya menghapus air mata yang
mengalir deras dipipi gempal Minseok. “Minseok-ah” desisnya disertai angin yang
membawa suara itu tenggelam tak terdengar.
“aku ingin bertemu denganmu rusa mesum” memeluk
erat tubuhnya sendiri berharap namja yang dirindukan berada dihadapannya.
Minseok tidak mengerti dengan perasaannya sekarang, rindu ini begitu
menggebu-gebu ingin segera bertemu. Sakit rasanya sangat sakit tidak
tertahankan. Namja yang sebelumnya dibenci kini dirindukan kehadirannya.
Chanyeol yang melihatnya secara diam-diam. Mendengar suara tangisan dari bibir
mungil itu tidak merubah keadaannya. Rasa cinta yang dimiliki chanyeol semakin
terasa ketika dirinya tidak bisa mendapatkan apa yang dia ingin kan termasuk
Kim Minseok. sudah cukup dirinya hanya mengaggumi namja manis itu yang begitu
memabukan dirinya. Saat inilah waktu yang tepat untuk menunjukan dirinya
berarti dan berguna untuk Minseok. luhan ataupun siapapun tidak akan namja itu
biarkan memiliki hatinya walaupun dirinya sadar Minseok telah jatuh hati pada Xi
Luhan.
-
Chanyeol masih bersikap biasa seperti tidak mengetahui
apa-apa tentang minseok yang menangis kemarin memikirkan Luhan. Minseok hanya terdiam memandangi luar jendela
dimana dirinya di rawat. Semua kenangan bersama Luhan hanya akan menjadi kenangan
bagi dirinya seperti burung yang lepas terbang meninggalkan sangkarnya begitu
saja. Saat asik dengan lamunannya suara ketukan membuat chanyeol dan minseok
melirik kearah sumber suara. Namja besar berjas yang minseok yakini adalah
antek ayahnya untuk menjaganya didepan kamar masuk kedalam kamar Minseok.
“ada apa?” tanya chanyeol untuk memastikan semua baik-baik
saja.
“2 orang namja yang mengaku teman sekolah tuan muda datang
menjenguk, bernama Byun Baekhyun dan Do Kyungsoo”
Minseok langsung ceria mendengar kedatangan 2 sahabatnya
yang datang berkunjung. Berbeda dengan chanyeol. “minseok tidak bisa diganggu
saat ini suruh mereka pulang” jelas chanyeol membuat minseok membulatkan
matanya tidak percaya.
“apa maksudmu! Chanyeollie aku menghormatimu karena kita
dulu teman kecil tapi aku tidak suka sikapmu yang seenaknya pada 2 sahabatku
yang hanya ingin berkunjung untuk melihatku. Mengapa kau seenaknya saja
menyuruh mereka pulang” minseok yang menatap chanyeol tajam tidak mampu dibalas
oleh chanyeol. Minseok meminta sang antek ayahnya itu untuk segera menyuruh
mereka masuk, dan meminta chanyeol untuk meninggalkan ruangannya sementara.
setelah mendengar perintah tuan mudanya sang antek tidak lupa memeriksa 2 namja
yang akan mengunjungi putra majikannya terlebih dulu. Jika keadaan terasa aman
mereka pun diizinkan untuk masuk melihat kondisi Kim Minseok.
“Baekhyun-sshi kyungie~” teriak minseok yang berubah sehat
saat mendapati sahabatnya berkunjung. Baekhyun dan kyungsoo cukup terkejut saat
melihat Minseok sudah sehat namun masih dirawat dirumah sakit.
“kau sudah terlihat sehat Minseok-ah kenapa masih dirawat?
Kau tau kan banyak tugas sekolah dan pelajaran yang kau tinggalkan. Sampai
kapan kau bermalas-malasan disini” tanya baekhyun sembari meletakan buah dimeja
kamar VVIP Kim Minseok. minseok hanya tersenyum, tapi tidak untuk kyungsoo.
Kyungsoo menjitak kepala baekhyun ketika namja itu tidak berhenti bicara hingga
membuat dirinya sakit kepala. Jitakan itu berhasil membuat baekhyun meringis
kesakitan. “kau itu harusnya senang melihat minseok-ah telah sehat kembali,
bukan mengoceh dan membuatnya kembali sakit” runtuk kyungsoo.
Baekhyun masih penasaran dengan keadaan sahabatnya itu “kau
itu sakit apa sebenarnya minseok-ah? Dan Mengapa ada 2 namja besar menjaga
kamarmu. Kau itu bukan anak presiden kan yang harus dijaga seperti itu sampai
kami diperiksa hanya untuk berkunjung”.
“maafkan aku, itu semua karena ayahku yang sangat khawatir
padaku. Padahal itu semua tidak perlu kan?” balasnya dengan ragu sambil tertawa
palsu. Kyungsoo yang sadar akan wajah sedih Minseok mencoba untuk bicara dengan
lembut padanya ketika melihat baekhyun izin untuk kekamar mandi.
“kau kenapa Minseok-ah? Apa ada yang kau khawatirkan?”
tanyanya hati-hati, Minseok memang sadar kyungsoo adalah namja yang sangat
lembut. Sifatnya begitu baik, mungkinkah minseok bisa bercerita padanya tentang
namja yang dirinya rindukan “aku tidak apa-apa” namun dirinya tidak mampu untuk
bercerita.
“kau jangan menyembunyikan sesuatu dari kami Minseok-ah,
kami akan membantu sebisa mungkin jika kau membutuhkan bantuan kami. Kau harus
percaya pada sahabatmu” senyum itu membentuk hati, membuat minseok tenang
ketika melihatnya. “Luhan dipecat ayahku, kyungie” bibir itu bergerak sendiri.
Air mata yang menetes memperlihatkan betapa kacaunya namja manis itu. kyungsoo
sebenarnya bingung “tunggu.. Luhan itu yang kau ceritakan rusa menyebalkan
bukan? Jika benar bukankah seharusnya kau senang karena namja itu tidak
mengikutimu terus”.
“aku merindukannya” kyungsoo untuk pertama kalinya melihat
Minseok namja manis yang manja menangis untuk orang lain, sebelumnya tidak
pernah Minseok seperti itu terlebih lagi dihadapan dirinya. Kyungsoo memeluk
tubuh mungil yang sama dengan tubuhnya. Mencoba untuk menghilangkan getaran
yang terlihat dimatanya “tenangkan dirimu Minseok-ah”. Baekhyun yang telah
kembali memandang aneh kedua namja yang sedang berpelukan dihadapannya.
“apa... apa yang kalian ...” sebuah timpukan bantal
mengenai kepala Baekhyun yang sedang berfikir tidak-tidak pada mereka “ternyataaa...Appoo!!”.
Sambil mengelus kepalanya yang sakit, bantal itu dikembalikan keposisinya “aku
hanya becanda kyungie”. Minseok masih menangis dipelukan kyungsoo. “apa yang
terjadi pada Minseok-ah?” kyungsoo hanya memberikan arahan untuk tutup mulut
sebentar pada baekhyun. Setelah melihat keadaan Minseok lebih tenang,
pertanyaan pun diberikan pada namja manis itu.
“apa yang terjadi Minseok-ah? Kenapa kau begitu sedih namja
itu dipecat, bukankah kau membencinya?” tanya Kyungsoo lagi, karena merasa
heran dan tidak mengerti dengan apa yang sahabatnya rasakan.
“aku tidak tau, aku dulu memang sangat membencinya karena dia
selalu mengikutiku. Tapi aku sekarang merindukannya sangat ingin bertemu
dengannya tapi tidak bisa. Ayahku tidak mengizinkannya sama sekali”
“kau mencintainya?” pertanyaa kyungsoo membuat mereka
terdiam untuk beberapa saat. “tidak mungkin Minseok menyukai namja seperti itu”
baekhyun memastikan memandang Kim Minseok.
“jika kau merasakan benci, tiba-tiba rindu padanya bukankah
itu cinta?” kyungsoo melirik kearah
baekhyun dan terfokus kembali pada sang pemilik jawaban Minseok. minseok yang
masih memikirkan perkataan kyungsoo tentang perasaannya pada Luhan hanya diam
mendengarkan 2 namja itu berdebat satu sama lain.
“hmm bukan kami ikut campur sepertinya kau bukan orang
biasa yaa Minseok-ah” baekhyun menyelidik ke setiap ruangan yang menjadi tempat
rawat namja itu. kyungsoo mengikuti setiap gerak gerik baekhyun yang melihat
sudut kamar sahabatnya “apa kau anak presiden Minseok-ah? Kamar mu super VVIP
pasti mahal sekali dan 2 pengawal berjaga didepan kamar. Terlebih lagi beberapa
orang yang sama persis didepan kamarmu berjaga di depan gedung serta di depan
pagar. Aku melihat mereka sedikit aneh karena rapih dan pantas menjadi pusat
perhatian setiap orang yang melihatnya. Kau itu sebenarnya siapa Kim Minseok?”
Baekhyun menjelaskan sesuatu yang membuat dirinya penasaran.
“apa kau serius bercerita tentang latar belakangmu yang
hanya menjadi orang kaya biasa?” tambah kyungsoo ketika baekhyun berhenti
bicara. Minseok bingung harus bicara apa pada mereka, memperkenalkan ayahnya
sebagai Mafioso Korea yang selalu menjadi koruptor negara mereka sendiri.
Kepala Minseok sangat pusing memikirkan jawaban apa yang harus dirinya
keluarkan agar temannya itu mengerti. Chanyeol yang cukup lama menunggu diluar
kembali masuk tanpa permisi.
“waktu berkunjung telah habis, kau harus minum obatmu dan
kembali istirahat” perintah Chanyeol pada mereka yang berada di ruangan itu
agar mengerti dengan kata-katanya. Baekhyun dan Kyungsoo pun izin pamit pada
minseok. menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan sebuah nomor telpon
didalamnya tanpa sepengetahuan Park Chanyeol. Baekhyun yang melewati namja
bertubuh tinggi yang dirinya kenali sebagai teman kecil sahabatnya itu segera
tersenyum saat pandangan mereka saling bertemu. Setalah kunjungan usai, minseok
meminum obatnya dan segera pergi tidur agar tidak berkomunikasi dengan
Chanyeol.
-
Setelah keluar dari rumah sakit dimana Minseok
dirawat,Baekhyun dan Kyungsoo memutuskan untuk minum Coffe sebentar di Caffe
seberang Rumah sakit. Memesan beberapa makanan kecil serta 2 Coffe kesukaan
mereka masing-masing. baekhyun duduk di sudut Cafe yang dapat melihat seisi
ruangan atau aktivitas setiap orang. Kyungsoo yang telah membawa pesanannya
menghampiri bangku yang telah dipilih Baekhyun.
“aku bingung kenapa namja itu seperti menyembunyikan
sesuatu tentang kehidupannya pada kita ya kyungie? Apa minseok tidak anggap
kita temannya”
“jangan bicara seperti itu, aku yakin Minseok-ah memiliki
alasan untuk tidak mengatakan kebenaran tentang keluarganya. Sebenarnya aku
berfikir ada seseorang yang mengamati kamar Minseok diatap gedung Cafe ini”
kyungsoo yang mencoba untuk meminum Coffe nya mengurungkan niatnya ketika
Baekhyun mendekatkan wajahnya penasaran akan cerita yang kyungsoo katakan.
“seseorang mengawasi Minseok? dari atap Cafe ini?” tanyanya.
“aku tidak yakin sih, tapi kalo tidak salah lihat dia namja
yang selalu mengantar Minseok kesekolah. Kau pasti tau jika itu Luhan”
“bagaimana jika kita memeriksanya kesana. Jika memang benar
yang kau lihat Luhan kita bisa meminta bantuannya kan agar Minseok tidak kacau
merindukan dirinya terus menerus” aktivitas santap burger mereka terhenti.
Saran baekhyun ada benarnya melihat sahabat yang mereka sayangi kacau balau
ketika ditinggal namja itu. dengan lekas baekhyun berlari mencari tangga menuju
atap Cafe diikuti kyungsoo dibelakangnya. Ketika berada di atas atap kyungsoo mencari
sudut tempat dirinya melihat posisi Luhan sebelumnya.
“disana” teriak kyungsoo ketika kepastiannya sudah pada
satu posisi yang dirinya yakini. Dan ketika melihat disebrang rumah sakit kamar
Kim Minseok sangat terlihat jelas disudut ini. “aku melihat Luhan disudut sini”
lanjut kyungsoo. Baekhyun masih mencari keberadaan luhan disekitar atap namun
tidak menemukannya.
“Luhaan-sshi! Kami tau kau disini! Bisakah kita bicara
tentang Kim Minseok” baekhyun berteriak-teriak memanggil Luhan. tapi tidak
direspon Luhan sedikitpun. Namja itu masih terdiam ditempat persembunyiannya
dengan tenang. “apa yang kau lakukan? Berteriak seperti itu tidak akan
menghasilkan apa-apa. mungkin luhan sudah pergi dari sini” kyungsoo mengikuti
langkah baekhyun yang berputar-putar sambil meneriaki nama ‘Luhan’. semua kerja
keras baekhyun tidak memberikan hasil apa-apa sesuai dengan apa yang diprediksi
kyungsoo. Mungkin Luhan memang hanya ingin melindungi Minseok dengan jarak jauh
tanpa memberi tahu posisi dimana dirinya berada. Kyungsoo menarik Baekhyun yang
berisik untuk kembali turun dari atap Cafe. Setelah itu Luhan pun keluar dari
persembunyiannya dan kembali keposisi semula untuk mengamati setiap aktivitas
Kim Minseok.
To becontinue...


Comments
Post a Comment