BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 16
Jungkook terus
berusaha menggerakan tangannya untuk menyentuh wajah kekasihnya. Sambil menahan
rasa sakit dikepalanya, tangan itupun tiba diwajah Jin. Bibir itu kembali
bergerak membuat gerakan “....................................................................”
jin tidak mendengar apa yang diucapkan kekasihnya tapi dirinya tahu gerakan itu
menyusun sebuah kalimat “apa
kau..menyukai..Park Jimin?”
-
“apa kau..menyukai..Park Jimin?”
Jin mengerutkan keningnya tidak tahu harus menjawab apa.
kenapa? Kenapa kekasihnya harus menanyakan hal aneh seperti itu. “chagiya itu
pertanyaan aneh...kenapa kau berfikir seperti itu?”
“Jin-sshi..aku bertanya padamu..jadi jawablah..” tidak bisa.
Jin sama sekali tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Bagaimana bisa
dirinya menjawab pertanyaan dari kekasihnya. Namja tinggi itu menghela nafasnya
sebentar dan menjawab “aniyo.. aku dan Jimin hanya berteman”
“kau..tidak boleh..membohongi..perasaanmu..Jiminsshi akan
pergi...jika..kau..terus membohongi dirimu sendiri...” Jin memundurkan
wajahnya, menggiggit kecil bibirnya yang memperlihatkan wajah ragu pada
Jungkook. “Jin-sshi..sampai kapan..kau akan berpura-pura...masih..mencintaiku?”
“Jungkook-ah! Berhenti mengatakan itu! aku—“
“aku ingin..kau mengatakan..hal yang sejujurnya...Jin-sshi..”
air mata Jungkook tidak tertahan lagi. Setiap tetesan mulai membasahi bantal
yang menemani tidur Jungkook selama dirumah sakit. Jin mengeratkan genggaman
tangannya pada jas yang dikenakan dirinya. Namja itu terlihat sedang mengatur
nafas dan mempersiapkan diri untuk mengucapkan kata-kata. Sepertinya Jin tidak
yakin dengan kejujuran yang akan diperdengarkan kekasihnya. “bisakah kau tidak
membicarakan ini Jungkook-ah?”
“aniyo..aku..ingin tau..” tiba-tiba...
Jung Ho Seok datang menghancurkan suasana yang sebelumnya
tegang dengan pertanyaan Jungkook terhadap Jin. Namja itu menemani Hal-abeoji
Jungkook untuk memeriksa keadaan cucunya itu. diiringi beberapa dokter dan
suster yang menangani penyakit kanker Jungkook. Sepertinya Jungkook akan
dipindahkan keruangan lain untuk sementara. hal-abeoji memberikan sapaan pada
Jin. Dan mulai berbincang untuk sementara “Jungkook akan kembali ke Amerika
untuk kemo kembali disana, apa kau akan ikut? Aku dengar jika memang tuhan
berkehendak dan kita masih berusaha untuk menyelamatkan Jungkook. Semua bisa
saja terjadi. Aku akan menolong cucuku sekalipun harta ku habis nantinya, aku
tidak perduli”
Jin terdiam sedangkan Jungkook mengalihkan pandangannya
kearah lain. Beberapa suster mulai mengambil alih pengaturan tempat tidur
Jungkook agar bisa digerakan. Rapmon yang berada diluar kaget ketika Jungkook
dipindahkan dari kamar lamanya. Tapi kenapa Jin tidak menemaninya keluar?
“kemana namja bodoh itu?” Rapmon berjalan menuju kamar lama
Jungkook, dan berhenti diambang pintu. Namja itu melihat suasana serius dari
ketiga namja yang berada didalam ruangan kosong itu. jin sedang menundukan
kepalanya ketika sang Hal-abeoji membicarakan sesuatu. Karena penasaran Rapmon
semakin memfokuskan pendengarannya. Suara jin terdengar gelisah.
“nde.. maafkan saya karena telah mengecewakan cucu anda”
jelas Jin.
“aku sama sekali tidak melarangmu menyukai namja lain selain
Jungkook, itu semua adalah keputusanmu Kim Seok Jin. Terlebih lagi Jungkook
sudah mengetahui perasaanmu yang sekarang terhadapnya. Itu juga bukan kesalahan
dari dirimu. Keadaan ini membuat masing-masing diantara kita bingung harus
melakukan apa” Jeon Jihyun menjelaskan pada Jin yang masih setia mendengarkan. Namja tua itu sepertinya tidak akan memaksakan kehendaknya akan keputusan yang diambil Jin nantinya “jungkook memintaku agar dirinya segera dibawa ke Amerika, tanpa memberi
tahumu. Tapi setelah merundingkan ini dengan Jung Ho Seok. Sepertinya
pengobatan Jungkook akan sangat lama disana, dan kau sebagai namja yang
berstatus masih kekasih dari cucuku harus mengetahui informasi ini.mengingat hubunganmu dengan Jungkook sebelumnya telah hancur akibat kebohongan yang dibuat Jungkook. aku mencoba untuk tidak mengulangi kesalahannya. Jadi bagaimana?
Apa kau mau ikut ke Amerika atau tetap berada disini?”
Jin berfikir dengan tenang “kapan kalian akan berangkat?”
tanyanya pada Hal-abeoji Jungkook.
“kami akan berangkat 2hari lagi, kau bisa mengurusi cuti
sekolahmu atau jika kau mau aku akan mengurusi kepindahanmu ke Amerika” namja
berusia lanjut itu menepuk pelan pundak Jin dan melangka pergi meninggalkan
Jin. Jung Ho Seok mengikuti sang Hal-abeoji dan memberikan sedikit pesan pada
Jin “pikirkan baik-baik, jangan sampai kau menyesal nantinya” sambungnya.
Melihat kedua namja telah meninggalkan sahabatnya itu,
Rapmon menghampiri Jin tanpa ragu. “gwenchana?” namja itu menyadarkan Jin dari
lamunannya. Jin mengangguk setengah hati dan berjalan keluar. Tidak disengaja
dirinya menabrak Jimin dan Taehyung yang akan memasuki ruangan Jungkook.
Tatapan Jin Jimin saling bertemu. Entah kenapa pandangan namja bodoh bernama
Jimin selalu saja menenangkan hatinya jika sedang gelisah. Kepala Jin sakit
saat ini. Tentu saja itu membuat Jimin khawatir ketika melihatnya.
“yaak! Jin-sshi? Gwenchanayo?” tanya Jimin sambil menahan
tubuh namja yang lebih tinggi darinya itu yang sebentar lagi akan roboh. 2 namja yang memandang moment mereka
mulai bergulat dengan pikiran masing-masing karena kesal. “nde..gwenchana” Jin
segera mengambil posisi berdiri normalnya kembali dan meninggalkan mereka yang
baru datang “aku harus pergi”. Langkahnya sangat aneh, tidak seperti biasanya.
Jimin yang melihat keberadaan Rapmon segera mengampirinya.
“ada apa dengan Jin-sshi, Rapmonsshi?” tanyanya penasaran
dengan sekali-kali kembali melihat kearah Jin yang berjalan menuju Lift rumah
sakit. Rapmon tidak tahu harus menjelaskan apa, tapi sebaiknya Jin yang
mengatakan persoalan ini pada Jimin. Mendapatkan gelengan kepala dari Rapmon,
Jimin tidak mau berfikir lama lagi dan langsung mengejar Jin. Taehyung hanya
diam memperhatikan dongsaengnya yang mengejar Jin dari belakang. rapmon dan
taehyung saling berpandangan namun tidak melibatkan percakapan apapun.
Jimin berlari dan berhasil menyamai langkahnya dengan Jin.
Wajah Jin terlihat murung.
“yaak apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wajahmu muram
seperti itu?” tanya Jimin tapi tidak direspon. Masih berusaha Jimin kembali
bertanya “kulihat tadi Jungkook tidak ada diruangannya, apa dia pindah
ruangan?” masih sunyi tidak terbalas. Masih berfikir keras Jimin mulai
memberikan celetukan konyolnya seperti biasa dengan pukulan dikepala Jin.
“miane” suara Jin terdengar sedih dipendengaran Jimin.
Telinganya begitu dekat dengan desiran nafas seorang Kim Seok Jin. Sikap itu
membuat wajah Jimin memerah dengan sempurna. Sebenarnya apa yang terjadi? tanya Jimin dalam hati “waeyo? Jin..-sshi?” dengan memberanikan diri Jimin mulai menanyakan sesuatu yang membuat dirinya khawatir pada Jin. tubuh kecil Jimin mencoba melepaskan dirinya dari rengkuhan
tubuh Jin. Namja itu semakin mengeratkan pelukannya saat Jin merasa Jimin
berusaha untuk menolak tindakannya itu.
“biarkan seperti ini untuk sementara, aku mohon”
mendengar kata-kata Jin membuat hati Jimin melemas tidak karuan. Bagaimana
mungkin telinganya salah mendengar. Rasanya pendengarannya masih sangat
sempurna mendengarkan setiap susunan kata-kata dari orang lain dari kerumunan diluar lift. Tidak mungkin
Jimin salah mendengar. Nafas hangatnya terasa begitu dekat dengan leher Jimin.
Karena Jin sudah memohon, bagaimana mungkin Jimin menolak pelukan hangat yang
diberikan namja yang disukainya. Hampir selama di lift tidak ada orang lain yang
masuk hingga pada lantai satu rumah sakit bel berbunyi untuk menandakan mereka telah
sampai pada tujuannya. Mungkin itu semua dikarenakan keadaan rumah sakit ketika
malam hari cukup sepi. Jin melepaskan pelukannya pada Jimin. Tanpa berbasa-basi namja itu
segera meninggalkan Jimin yang tidak mengerti apa-apa selain kata “maaf”
terdengar.
Jung Ho Seok berada dilantai 2 melihat kejadian itu dengan
matanya sendiri. Pantas saja Jungkook memutuskan untuk kembali ke Amerika. Tapi
mungkin ini memang yang terbaik untuk hubungan mereka. Sejak awal Ho Seok sudah
menyadari akan perasaan Jin yang tidak seperti dulu pada majikannya itu. kedua
mata Ho Seok masih mengamati Jimin yang terdiam didepan lift. Namja itu tidak
mencoba untuk mengejar Jin, hanya diam ditempat sambil memperhatikan langkah
Jin yang semakin menghilang. Jung Ho Seok melirik arlojinya yang sudah
menunjukan pukul 2 a.m. sepertinya dirinya harus kembali kebandara Incheon pagi
ini untuk mengurusi keberangkatan Jungkook. Jung Ho Seok segera
meninggalkan Jimin yang masih setia menatap pintu utama rumah sakit yang
terlihat sepi.
Jimin kembali kelantai atas untuk menemui Kim Taehyung. Sepertinya Taehyung dan Rapmon telah memperbaiki hubungannya selama
dirinya mengejar Jin sebelumnya. taehyung serta Rapmon tersenyum ketika
kedatangan Jimin yang tadinya mengejar Jin tiba-tiba. Rapmon bertanya sambil
mengacak rambut Jimin yang rapih dengan lembut “apa kau mendapatkan jawaban
yang kau tanyakan pada Jin-sshi?”. Jimin menggeleng.
“tunggu.. bukankah sebelumnya kau berada disini Rapmon-sshi,
apa kau sungguh tidak tahu sesuatu yang terjadi?”
Bunyi ponsel dari milik Taehyung terdengar, tentu saja
Taehyung langsung mengangkatnya. Suara tua itu terdengar meminta Taehyung untuk
segera kembali ke kediaman Jeon. Membantu maid dan pelayan menyiapkan keperluan
Jungkook yang akan pergi ke Amerika mungkin untuk selamanya. Setelah beberapa
menit bicara ditelpon. Tentu saja pandangan pertama Taehyung tertuju pada Jimin dongsaengnya tersayang. Mungkinkah sikap aneh Jin ada kaitannya dengan kepergian
Jungkook ke Amerika nantinya.
“waeyo Hyung?” tanya Jimin penasaran dengan obrolan yang
Taehyung dapatkan diponsel.
Taehyung memberikan lirikan pada Rapmon, dan tidak lama
untuk membuat namja besar itu mengerti maksudnya. Rapmon menarik lengan Jimin
untuk segera mengejar Jin yang tidak lama ini meninggalkan rumah sakit.
Sekalipun tidak terkejar, Rapmon bisa mendatangi rumah namja sialan itu. jimin
yang tidak mengerti apa-apa menolak ajakan Rapmon, dan menepis genggaman yang
menarik lengannya. “tunggu...apa yang kau lakukan! Aku kan sedang bertanya pada
Taehyung informasi apa yang dirinya dapatkan! Kenapa kau menarikku tiba-tiba!”
“apa kau tidak ingin mencegah kepergian Jin?!”
“nde?” mata bulat Jimin melongo tidak mengerti dengan ucapan
yang dilontarkan temannya itu.
“Jin sepertinya akan memutuskan sesuatu yang kita tidak tahu
apa itu, aku sebelumnya menceritakan ini pada Taehyung ketika kau mengejar Jin”
Flashback on
Taehyung dan Rapmon
yang ditinggal Jimin untuk mengejar namja yang disukainya tidak membuka obrolan
sama sekali. Itu semua berlangsung hampir 10 menit lamanya. Sampai ketika
Rapmon membuka keheningan itu dengan deheman kecil “ehem..ehem..”
Taehyung tidak
memperdulikan dan masih tetap menatap kosong kearah lain. Tidak menyerah Rapmon
masih berusaha untuk memecah rasa canggung yang dirasakannya. “eemm...Taehyung-sshi..soal
kejadian aku memeluk Jimin iitu, kau tidak perlu salah paham...”
“aniyo..aku sudah
dengar itu semua dari Jimin.. kau tenang saja” balasnya dingin. Rapmon
mengangguk mengerti. “soal Kim Seok Jin, apa yang terjadi pada namja itu?”
tanyanya melanjutkan obrolan mereka.
“Jin?” rapmon
berfikir. Namja itu mengingat setiap detik obrolan atau kosakata yang terdengar
ketika Jeon Jihyun sedang berada didalam ruangan bersama dengan sahabatnya itu.
“Amerika” satu kata itu mengaggetkan Taehyung. bahkan Rapmon yang
mengucapkannya juga ikut kaget ketika sadar dengan apa yang dirinya dengar
sebelumnya adalah nama sebuah negara besar.
“amerika?” Taehyung
memiringkan kepalanya, berharap Rapmon melanjutkan informasi apa yang dirinya
tahu lebih banyak.
“nde. Amerika.. hanya itu yang sedikit aku dengar, sebelum hal-beoji Jungkook pergi. apa mungkinkah jika Jungkook akan pergi kesana bersama Jin?”
“jika memang benar,
bagaimana dengan sekolah Jin? Atau maksudku bagaimana dengan perasaan jimin
nantinya”
“kau sudah tahu
persaan dongsaengmu terhadap namja itu?” tanya Rapmon heran. Mengapa Taehyung
tidak over pada Jin, sedangkan pada dirinya sampai nekat keluar dari Apartemen.
“Seulki! Kenapa kau tidak melarang perasaan Jimin pada namja sialan itu,
sedangkan aku? kau sampai nekat keluar Apartemen! Kau ini pilih kasih sekali!”
protesnya sedikit manja karena ketidak adilan yang diberikan Taehyung.
“aku tidak pernah
percaya akan perasaan suka Jimin pada namja lain selain rasa sayangnya padaku,
kecuali.. aku sadar ketika Jimin berada disekolah bersama namja itu, mereka
selalu menghabiskan waktu hanya berdua. Sering aku memantau kegiatan mereka
yang cukup menyenangkan. dan untuk pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan Jimin terhadap orang lain selain diriku”
“aku tau bagaimana
perasaanmu yang tidak bisa memiliki perasaan pada dongsaengmu. Tapi mengertilah
akan perasaan Jimin yang sulit untuk menganggapmu orang lain kecuali hyung
baginya” jelas Rapmon menepuk pundaknya hingga pada Jimin yang datang kembali
pada mereka.
Flashback off
Jimin mendengarkan dengan baik. Wajahnya terlihat tidak
tenang mendengar Jin yang akan mengikuti langkah Jungkook nantinya untuk pergi
ke Amerika. Apakah benar Jin telah memutuskan? Belum Jimin bergerak Rapmon
langsung mendekap tangan kecil yang bisa menyadarkan sang pemilik akan
kehadiran seseorang berada disampingnya. Jimin menatap intens pandangan Rapmon
pada dirinya.
“hentikanlah namja itu sebelum terlambat. aku tau kau tidak ingin Jin pergi kan? memang sepertinya terdengar jahat tapi bukankah lebih baik jika kau mengatakan perasaanmu yang sebenarnya” jimin mengendurkan
kedua matanya kearah lain. Dirinya memikirkan akibat yang akan didapatkan jika
melakukan pencegahan dalam keputusan Jin. Jungkook adalah kekasihnya, tidak
mungkin jika dirinya menghalangi Jin untuk menemani kekasihnya berobat.
Terlebih lagi sakit keras yang dialami Jungkook mengharuskan dirinya berbohong
dan mengkhianati Jin. Jika bukan karena itu mungkin Jimin tidak akan bisa
bertemu dengan Jin seperti sekarang. Namja menyebalkan itu selalu membuat
hatinya kesal dan terkesan merindukan Jin. Air mata mengalir disalah satu mata
Jimin. “Jimin?” panggil Rapmon.
“aniyo.. aku tidak bisa menghentikan langkah Jin untuk
menemani kekasihnya Rapmon-sshi...” Jimin menundukan kepalanya tidak sanggup
memberikan ekspresi apa pada namja yang berada dihadapannya sekarang. “Jungkook
sedang berjuang dan kebohongan yang namja itu lakukan hanya tidak menginginkan
kekasihnya tau akan penyakitnya. Jika Jungkook tidak berbohong seperti itu.
mana mungkin aku bisa bertemu dengan Jin dan dirimu seperti sekarang ini”
lanjutnya.
“Jimin...? kau.. yakin?”
“aku tidak akan menghalangi Jin untuk menemani Jungkook
berada di Amerika. Sampai itu membutuhkan waktu lama.. aku tak berniat untuk menunggunya. karena aku yakin Jungkook akan sembuh nantinya, namja itu sangat kuat. benar bukan? Aku tidak akan
menganggu apapun yang Jin putuskan” air mata itu kembali berlomba dari mata
kanan dan kirinya. Rapmon tidak bisa melihat air mata itu mengalir deras
terus-menerus. dalam dekapan Rapmon, Jimin menghapus air matanya dan mulai berbohong pada namja yang sedang memeluknya "mataku perih sekali sampai basah seperti ini, debu darimana ya?" senyumnya sedikit memaksakan. Taehyung memandangi Jimin dari jauh dan menghubungi seseorang
disebrang sana.
“yeoboseyo” suara itu
terdengar
“Jung Ho Seok, kau dimana?”
Mereka melanjutkan obrolan dari telpon menuju tatap muka
disebuah Cafe Incheon.
Beberapa lama Jung Ho Seok menunggu Taehyung dicafe,
sahabatnya itupun akhirnya muncul. Sepertinya ini ada hubungan dengan keputusan
yang akan diambil oleh seorang namja bernama Kim Seok Jin. Jung Ho Seok
menyisip coffe yang dipesannya secara nikmat. tidak memperdulikan kedatangan
sahabatnya yang dirinya tahu akan membahas apa. taehyung membuka pembicaraan
terlebih dulu.
“apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa tuan Jungkook
tiba-tiba memutuskan untuk kembali ke Amerika?” tanya Taehyung langsung tanpa
berbasa-basi dan meminta jawaban dari inti persoalan.
Cangkir itu diletakan Ho Seok setalah mendengar pertanyaan
yang diberikan Taehyung, “ini semua karena dongsaengmu. Jungkook menyadari
perasaan kekasihnya yang telah mulai menyukai dongsaengmu”
“nde? Itu hanya perasaannya. Apa kau tidak bisa mengatakan
sesuatu yang membuat tuan Jungkook tetap tinggal dikorea?”
“aniyo..” tegasnya memberikan tatapan langsung pada namja
yang duduk didepannya. “tuan jungkook tidak bisa hidup lebih lama. Maka dari
itu dirinya memutuskan untuk kembali ke Amerika sebelum semuanya terlambat”
“apa maksdumu?”
Jung Ho Seok menghela nafas dalam-dalam dan mulai
menjelaskan “kankernya sudah melumpuhkan semua tubuhnya..” salah satu tangan Ho
Seok menutup mulutnya memberikan isyarat bahwa dirinya sedang bersedih. “tuan
Jihyun tidak bisa berbuat apa-apa lagi..cucunya sudah divonis kapan namja itu
akan meninggalkan kita semua” satu kalimat membuat Taehyung shock mendengarnya.
Wajahnya mulai kebingungan. Dirinya berfikir bagaimana bisa namja semuda itu
harus berakhir dengan penyakit yang tidak pernah terbayangkan Taehyung
sebelumnya. “jungkook sadar atas semua perasaannya. Namja itu tidak mau
menunggu lebih lama akan perasaan Jin yang disembunyikan terus menerus dari
dirinya. Jungkook hanya menginginkan Jin mengakui perasaannya pada dirinya
tentang Jimin. Tidak perlu diberitahukan kau pasti sadar mereka memiliki
perasaan satu dengan yang lain”
Taehyung sebenarnya malas untuk mengakui tentang perasaan
Jimin yang sudah sejak lama dirinya rasakan “nde. Aku memang sudah tahu itu.
tapi aku yakin Jimin tidak menginginkan ini semua”
“jungkook memintaku untuk tidak memberi tahukan siapapun tentang
vonis yang diterimannya. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu 2 hari, apa
keputusan yang akan diambil Kim Seok Jin. Menemani Jungkook ke Amerika atau
tetap tinggal di korea dengan Jimin”
“tentu saja namja itu akan menemani Jungkook yang berstatus
kekasihnya, aku mohon katakan ini semua langsung pada Jimin ataupun Jin. Mereka
akan menderita jika mengetahui ini ketika Jungkook sudah tidak bisa
diselamatkan” taehyung memohon pada sahabatnya Jung Ho Seok, tapi tanpa
memperdulikan Taehyung. jung Ho Seok hanya memandang kearah lain. Memandang
betapa indah dan segarnya cuaca siang ini di kota Seoul. Terbayang akan
pertemuannya dengan Jungkook dimasa lalu.
Flashbackon
“aissh Jinjya!
Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah hanya dengan status
pelajar ku ini. Apa sebaiknya aku menghentikan sekolahku saja? tapi si Seulki
itu pasti akan memukuliku nanti jika aku keluar dari sekolah” Jung Ho Seok
meratapi nasibnya yang kesulitan mencari tambahan uang bayarannya. Appanya
memang tidak mampu membiayai namja itu sekolah tapi namja tua itu hanya tau
bahwa putranya memiliki beasiswa yang akan meringankan dirinya dalam
pembayaran. Tetapi tanpa sepengatahuan Appa Ho Seok, beasiswa dirinya dicabut
sekolah karena sebuah alasan. Dan alasannya Jung Ho Seok mendapati kepergok
sedang memukuli orang dan terlihat oleh salah satu Seongsaenim sekolahnya.
Tidak ada penjelasan apapun. Jung Ho Seok pun kebingungan akan status beasiswa
nya yang tiba-tiba saja telah dicabut dengan seenaknya dari pihak sekolah. Tentu
saja itu membuat namja itu kebingungan harus mencari kemana biaya sekolah
nantinya.
Berjalan tidak tahu
tujuan dan arah kemana, Jung Ho Seok hanya menyusuri setiap toko-toko yang
kemungkinan membutuhkan tenaga namja apapun itu nantinya. Dalam perjalanannya
Jung Ho Seok menemukan Jungkook yang tergeletak pingsan di salah satu toko yang
tidak terlalu ramai pengunjungnya. Karena kaget Ho Seok langsung saja mengambil
tubuh itu dan berusaha untuk menyadarkan namja yang tidak sadarkan diri itu.
“yaak! Gwenchanayo?!
ireonaaa” ucapnya terus menerus dengan sesekali menekan kedua pipi cantiknya.
Helaian rambut namja itu membuat dirinya mengingat akan seseorang yang dirinya
sukai sewaktu di bangku sekolah dasar. Dia begitu manis disetiap kali Jung Ho
Seok memandanginya. Tetapi namja taksirannya selalu diawasi Hyung posesifnya
dan namja yang berstatus Hyungnya itupun tau jika dirinya menyukai dongsaengnya.
Tapi mungkin tuhan memiliki rencana lain jika memang Ho Seok tidak bisa
memilikinya setidaknya dirinya masih memiliki namja lain yang dirinya sukai
sekarang ini. Lalu apa yang harus dirinya lakukan jika mendapatkan kesempatan
langka ini? Membawa namja cantik ini pulang? atau melaporkan ini semua
kepolisi? Jung Ho Seok menggaruk kepalanya ketika memikirkan pilihan kedua yang
harus berurusan dengan polisi. Dirinya sudah cukup mempunyai masalah dengan
biaya sekolahnya bagaimana mungkin membiayai polisi hanya untuk mencarikan
keluarga namja tidak dikenalnya. Karena tidak mau menunggu lama lagi, tubuh
Jungkook digendong kedalam dekapannya di tubuh depannya layaknya seorang putri
yang sangat cantik.
Jung Ho Seok membawa
Jungkook kekantor polisi dengan sisa uangnya yang dimiliki. Tidak perduli akan
jadi apa nanti sekolahnya yang terpenting namja yang tidak sadarkan ini
menemukan keluarganya lagi. Ho Seok yang siap beranjak meninggalkan posisinya
ditahan kepergiannya dari genggaman yang sebelumnya pingsan.
“nde?! Kau sudah
sadar? gwenchana” Jung Ho Seok tidak henti-hentinya menanyakan sesuatu yang
perlu namja itu pastikan. Jungkook hanya menahan kepalanya yang sakit dengan
memijat-mijat pelipin keningnya.
“gwenchana..gomawo
sudah membawaku kesini”
“kau sebenarnya kenapa
sampai bisa tidak sadarkan diri ditempat sepi seperti itu?” tanyanya Ho Seok
lagi. Jungkook terdiam sebentar.
“aku sebenarnya hanya
kelelahan tidak membawa uang sama sekali dan terpisah dari hal-abeoji, kepala
ku yang sakit membuatku berniat istirahat sebentar tapi ternyata aku malah
ketiduran disana” bohong Jungkook, agar tidak membuat sang penolong khawatir.
Senyum lebarnya diberikan Jungkook ketika mendapatkan respon aneh dari wajah
sang penolongnya.
“eehhh?! Jadi kau tadi
tidur? Tapi bagaimana bisa kau kubangunkan tidak bangun! Aku sangat kaget
ketika menemukan namja sepertimu pingsan ditengah jalan seperti tadi. Aish!”
“miane.. tapi aku
sangat berterima kasih atas bantuanmu. Jungkook imnida. Tuan?”
Jung Ho Seok menatap
mata pemilik uluran tangan tersebut, sesekali pikirannya selalu berfikir yang
tidak-tidak. Tidak mau mengambil banyak waktu dengan namja menyebalkan yang
berpura-pura pingsan. Jung Ho Seok segera merai uluran tangan itu. dan mereka
berjabat tangan. “Jung Ho Seok imnida. Aku harus pergi” ucapnya dengan nada
sedikit ketus.
“tunggu.. kau tidak
boleh pergi sebelum hal-abeoji datang kesini.. maksudku kau tidak bisa
meninggalkan ku ditempat ini sendiri”
“aku masih ada
keperluan” tangan Jungkook yang menghalangi kepergiannya segera ditepis pelan
Ho Seok. Wajah ceria yang sebelumnya diciptakan Jungkook langsung berubah tidak
menampilkan senyuman sedikitpun. Belum keluar dari kantor polisi seorang
Hal-abeoji datang dengan tergesa-gesa. Sang hal-abeoji bertanya pada salah satu
polisi yang berjaga dan mengarahkan posisinya dimana Jung Ho Seok dan Jungkook
berada.
“Jungkook-aah”
teriaknya dari jarak yang cukup jauh dari keberadaan cucunya dan Jung Ho Seok.
“Hal-abeoji” balas
Jungkook dengan senyum lebarnya yang kembali menghiasi wajah cantiknya. Mereka
berpelukan dengan erat. Dan Ho Seok sadari dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi.
Namja itu berniat meninggalkan kedua keluarga yang telah bertemu tetapi....
Grep
Tangan Jungkook
kembali melarang kepergiannya namja asing yang tidak dikenalinya. “Hal-abeoji
Hyung ini yang menolongku ketika tidur dijalan.. dia membawaku kekantor polisi
agar hal-abeoji bisa menemukan ku disini. Namanya Jung Ho Seok” jelas Jungkook
dan dibalas senyuman sang Hal-abeoji pada Jung Ho Seok. Tentu saja Ho Seok
harus memberikan sikap ramah pada Hal-abeoji yang tersenyum padanya.
“Jung Ho Seok terima
kasih sudah menolong cucuku satu-satunya” Hal-abeoji mengambil salah satu
tangan Ho Seok dan digenggamnya dengan kuat. “nde Hal-abeoji.. aku hanya
kebetulan menemukan cucu anda dijalan. Semua orang yang melihat cucu anda
tertidur seperti orang pingsan pasti akan sangat kaget dan melakukan hal yang
sama sepertiku” Hal-abeoji dan Jungkook tertawa ketika mendengar perkataan yang
terlontar dari Jung Ho Seok. Jungkook meraih tangan Jung Ho Seok kembali.
“hyung.. maukah kau
bekerja untukku menemani ku selama aku berada di Amerika? Aku lihat hyung
membawa berkas-berkas untuk mencari pekerjaan.. apa hyung mau bekerja untukku?”
tanya Jungkook dibalas miringan 2 kepala dari masing-masing pemiliknya.
“Jungkook-aah apakah yang kau katakan itu benar..? bahwa namja ini membutuhkan
pekerjaan” lirik Hal-abeoji pada berkas yang sedang digenggam Jung Ho Seok.
“ahm... hmm.. aku jadi
tidak enak.. aku membantu sungguh tidak memerlukan imbalam apapun.. tapi
sebenarnya memang benar untuk saat ini aku membutuhkan pekerjaan untuk
membiayai sekolahku”
“kalau begitu kau tidak perlu melakukan itu... aku dan Jungkook tinggal
hanya berdua dan kami berniat beberapa hari lagi akan meninggalkan Korea untuk
pergi ke Amerika. Jika tuan Ho Seok tidak keberetan.. aku akan membiayai
sekolahmu disana atau Amerika agar anda tetap bisa menemani cucuku satu-satunya
selama berada disana” Jung Ho seok terbengong ketika mendengarnya. Ini sangat
mengejutkan perjalanan hidupnya. Dengan antusias Jung Ho Seok tidak menolak
tawaran itu agar dirinya tetap bisa terus melanjutkan pendidikannya dan bisa
selalu berada disamping Jungkook.
Flashbackoff
To becontinue...


haha ternyata hoseok jg demen chim dulunya :3
ReplyDeletenah loh kook udah tw, ksihan mkin tertekan dy
jin keknya bkal ikut ke amrik nih, pa kbar sm jimin? udah ilangin apus prasaan lu chim. klo g ktmu bkal lbih mudah kok utk mlupakan
ksihan hoseok n namjun drdlu cintanya g brhasil
begitulah :(:(
Deleteapa yang harus aku lakukan jika semua telah diketahui?
apa ini salah Author? atau salah Jungkook yang terlalu penasaran? #Author nya baper
jadi runyam sendiri kan Kookie:(
Huwaa... aku bacanya gak urut, jadi kurang ngerti, tapi LANJUTKAN!
ReplyDeleteterimakasih...{}
Deleteurutin biar ngertii Chingu-deulXD