BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 17



“kalau begitu kau tidak perlu melakukan itu... aku dan Jungkook tinggal hanya berdua dan kami berniat beberapa hari lagi akan meninggalkan Korea untuk pergi ke Amerika. Jika tuan Ho Seok tidak keberetan.. aku akan membiayai sekolahmu disana atau Amerika agar anda tetap bisa menemani cucuku satu-satunya selama berada disana” Jung Ho seok terbengong ketika mendengarnya. Ini sangat mengejutkan perjalanan hidupnya. Dengan antusias Jung Ho Seok tidak menolak tawaran itu agar dirinya tetap bisa terus melanjutkan pendidikannya dan bisa selalu berada disamping Jungkook.

Flashbackoff

Mengingat itu semua membuat dirinya begitu kesal dengan nasib yang dialami namja cantik itu. seandainya rasa sakitnya bisa Ho Seok rasakan walaupun hanya sedikit. Setidaknya dirinya bisa berbagi rasa sakit itu dengan namja bernama Jungkook. Taehyung masih setia menunggu sahabatnya itu yang sedang melamun entah memikirkan hal apa. sedang asik menunggu tiba-tiba saja Jung Ho Seok memutuskan untuk pergi.

“kau mau kemana yakk Ho Seok!?” panggil Taehyung pada Ho Seok yang sedang mengenakan jaket tebalnya. Jung Ho Seok hanya diam dan berlalu pergi begitu saja. taehyung yang kesal hanya memandang kepergian sahabatnya itu yang meninggalkan dirinya sendirian.

-

-

Jimin diantar Rapmon pulang ke Apartemennya sesuai dengan permintaan dari Taehyung. sebenarnya Rapmon tau bahwa wajah murung Jimin sangat ditunjukan bahwa dirinya sangat tidak menyukai akan tindakan Taehyung yang memaksakan dirinya untuk pulang.

“gwenchana?” Rapmon memastikan keadaan Jimin yang masih mempoutkan bibir mungilnya membuat Rapmon gemas. Jimin mengangguk ragu sesekali. Namja manis ini sepertinya sedang tidak berniat untuk bicara lama dengan berita yang baru saja didengarnya.

“apa kau tidak ingin mencegah kepergian Jin?!”

“nde?” mata bulat Jimin melongo tidak mengerti dengan ucapan yang dilontarkan temannya itu.
“Jin sepertinya akan memutuskan sesuatu yang kita tidak tahu apa itu, aku sebelumnya menceritakan ini pada Taehyung ketika kau mengejar Jin”

Jimin yang tiba-tiba saja tidak bergerak dan merespon setiap perkataannya memberikan isyarat pada Rapmon bahwa namja itu sedang memikirkan sesuatu hal. Secara perlahan Rapmon menggoyangkan tubuhnya. “Jiminnie?” panggilnya.

“nde?”

“istirahatlah, kau sudah terlihat cukup lelah” perintahnya sambil mengacak rambut Jimin yang tersapu desiran angin. Rapmon masuk kembali kedalam mobil setelah memohon izin untuk pulang pada Jimin. Suara mobilnya pun terdengar ketika dinyalakan, Jimin yang langsung berdiri didepan mobil Rapmon terkejut dan menginjak rem secara mendadak. Rapmon yang merasakan keanehan Jimin langsung menghampiri namja manis itu.

“ada apa Jiminnie? Aku hampir saja menabrakmu karena kau mendadak berdiri didepan. Katakan padaku, apa kau mencemaskan sesuatu”

“nde!” jawabnya tegas dan tidak memancarkan keraguan sedikitpun. Rapmon mulai memasang  wajah penasarannya. Bibir kecil itu kembali bergerak “bisakah kau antar aku kerumah Jin sekarang?” lanjutnya membuat Rapmon terkejut akan keputusan yang tiba-tiba.

“Kediaman Jin? Malam-malam begini? Aniyo!”

“waeyo? Ayolah Rapmon-sshi.. aku mohon hanya malam ini aku bisa memberanikan diriku untuk menemui dirinya”

“kita bisa lakukan ini besok. Aku akan menjemputmu kembali dan mengantarkanmu besok pagi. Jika malam-malam begini nanti Hyungmu akan kembali membenciku” ucapnya membuat Jimin sedikit harus memberikan aegyo memohonnya ada namja besar didepannya.

“aku tau hanya ini kesempatanku untuk mengatakan bahwa sejujurnya aku—” belum sempat diselesaikan Jimin, Rapmon segera mengambil keputusannya. Namja itu menarik si manis untuk segera memasuki mobilnya sebelum pikirannya berubah. “aku akan mengantarmu” Rapmon menekan gasnya dan pergi meninggalkan Apartemen Jimin.

-

-

Seorang namja tertidur lemas diatas ranjang empuknya dengan kegelapan tanpa cahaya. Beberapa maid atau pelayan lain tidak ada yang berniat untuk mengganggunya. Dan membiarkan tuan mudanya itu melakukan hal sesuka hatinya. Jin merengkuhkan tubuhnya gelisah. Berharap bisa melupakan pilihan yang tidak bisa dirinya pilih sama sekali. Apapun yang dirinya pilih nantinya akan menjadi sebuah kesalahan apapun itu atas perasaannya. Namja itu menyembunyikan tangisnya didekapan bantal miliknya. Kegelapan membuat dirinya semakin tidak menemukan pilihan yang harus dipilih. Jin mendengar suara mobil yang terparkir dipekarangan halamannya, namun dirinya tidak beranjak dan mencoba untuk tidak memperdulikannya. Suara kegaduhan mulai terdengar semakin mendekati pintu kamarnya. dan hantaman keras mampu membuka pintu kamar Jin yang sebelumnya terkunci. Jin terkejut ketika mendapati sosok Rapmon sedang menggandeng Jimin disampingnya.

“aku akan mengganti semua kerusakannya, tapi izinkan namja ini untuk bicara denganmu” Rapmon mendorong tubuh Jimin untuk memasuki kamar Jin dan menutupi pembicaraan mereka dengan pintu yang sebelumnya jebol karena ulah Rapmon. Jimin kebingungan harus bicara apa karena Rapmon terlalu bertindak berlebihan. Sama halnya dengan Jimin, Jin juga kebingungan dan masih terlihat lesu. Keheningan dengan kegelapan dibantu cahaya dari sela-sela pintu yang jebol membuat kesan aneh antara keduanya. Jin beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah mendekati Jimin tiba-tiba.

Tidak memberikan waktu dan jarak. Jin mencium bibir Jimin dengan lembut, mencoba mencairkan suasana yang diberikan Rapmon sebelumnya. masih terus mencium hingga Jimin kehabisan nafas membuat namja itu harus berusaha mendorong tubuh Jin untuk menjauhi bibirnya. Jin menekan kepala Jimin agar tidak mencoba untuk memberontak karena namja manis itu telah membalas perlakuannya. Dan Jin tidak ingin kehilangan itu. ini yang dirinya butuhkan. Jin sangat menyukai sentuhan-sentuhan yang dibalas Jimin pada sikap yang diberikannya. Secara perlahan tubuh Jimin ditidurkan keatas ranjang yang sebelumnya basah karena tetesan air mata Jin. Kedua bibir itu akhirnya terlepas. Dengan posisi Jin diatas dan Jimin berbaring.

“Jin-sshi?” suara Jimin terdengar serak ketika merasakan Jin menghentikan aktivitasnya, bukan karena Jimin menginginkan lebih tetapi karena Jimin merasa ini aneh dan membutuhkan penjelasan. Jin masih diam menyembunyikan kedua matanya dengan poni miliknya. Namja itu terdiam cukup lama dengan posisi sedang membungkuk menghadap Jimin.

“aku menyukaimu” suara Jin berbisik.

“nde?” tanyanya terkejut seperti meminta pengulangan hal yang sebelumnya disebutkan.

“aku mencintaimu”

Tatapan itu terbuka lebar, Jimin yang melihatnya begitu kasian ketika air mata membasahi seluruh wajah Jin. “Jin-sshi aku...” belum berucap Jin menahan bibir itu dengan jari telunjuknya.

“aku tidak minta balasanmu, biarkan seperti ini dulu. Aku mohon padamu Jiminnie” jin memeluk Jimin yang mulai nyaman dengan posisinya. “aku menyukaimu dan tidak tahu apa alasannya. Aku hanya menyukaimu. Aku merindukanmu terus menerus. Itu membuatku hampir gila karena tak nyaman” lanjutnya. Jimin menarik nafas dalam-dalam dan mencoba memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu yang sebelumnya telah disiapkan.

“aku juga menyukaimu, Jin-sshi” Jin yang mendengar bisikan itu langsung melepaskan pelukannya dan memandangi kedua mata Jimin yang tulus ketika mengucapkannya. Tangan Jimin mengusap air mata yang menjelajahi wajah tampan ini sebelumnya. “aku yakin kau kesulitan akan hal ini bukan?”. Jin masih diam tidak mengerti. “aku sudah tahu semua, tentang dirimu yang harus memilih untuk ikut Jungkook ke Amerika atau tetap tinggal dikorea dan melupakan namja itu yang sedang berjuang” jimin mengelus-elus pipi Jin yang basah. Jimin menelan ludahnya untuk memperlancar kalimat selanjutnya “tapi dengar Jin-sshi.. kau adalah seorang Kim Seok Jin, seorang namja yang telah menjalin hubungan dengan Jeon Joon Kook selama 4 tahun. Dan setia menunggunya ketika Jungkook meninggalkan mu dengan alasan yang bukan sebenarnya” Jimin sesekali meneteskan air matanya ketika memberikan arahan pada namja yang sedang berada diatas tubuhnya. “kau harus selalu ingat atas semua kebohongan yang Jungkook lakukan semata-mata hanya agar dirimu tidak khawatir Jin-sshi. Dan sekarang apa kau tega meninggalkan namja itu yang sedang berjuang hanya untuk hidup bersamaku? Namja itu begitu mencintaimu Jin-sshi sama halnya dengan perasaan yang aku rasakan saat ini padamu”

“Jimin aku—”

“sadari lah bahwa cintamu memang ditakdirkan untuk Jungkook Jin-sshi, dan aku tidak seharusnya memasuki hubungan cinta kalian.. jadi yang aku harapkan sekarang Jin-sshi aku datang kesini untuk mengatakan pergilah temani Jungkook. Temani namja itu yang sedang berjuang untuk dirimu” jin memeluk Jimin yang tangisannya semakin menjadi tidak tertahan. Mereka saling berpelukan ditengah kegelapan yang diselingi dengan cahaya-cahaya kecil dari pintu kamar Jin yang rusak.

Rapmon mendengar suara tangisan Jimin yang berada didalam. Dirinya tidak berniat untuk mengganggu sama sekali. Dan masih setia untuk menunggu Jimin keluar dari balik pintu kamar Jin. Rapmon yang sedang menunggu merasakan ponselnya bergetar kencang, dan namja itu langsung melirik contact nama yang sedang mencoba untuk menghubunginya. Tertulis nama Kim Taehyung. “haa... pasti aku akan dibunuh namja itu jika mengangkatnya” bertolak belakang dengan perkataannya. Rapmon langsung mengangkat panggilan dari Taehyung.

“yeoboseyo” jawabnya.

Beberapa detik Rapmon mendengarkan sebuah suara lewat ponselnya, wajahnya langsung berubah seketika.

“NDEEE!? Aku akan kesana” tanpa berfikir panjang Rapmon segera memasuki kamar Jin yang memperlihatkan 2 namja saling berpelukan ditempat tidur. Wajah rapmon memerah karena merasa tidak enak. Dan kedua namja itu langsung melepaskan genggaman erat mereka yang mengaitkan masing-masing tubuh mereka. “maaf jika aku mengganggu acara pelepasan rindu kalian tapi sepertinya kita harus segere kerumah sakit”

Perasaan dua namja itu langsung berdegup kencang mendengar kata rumah sakit. “apa ini tentang Jungkook-ahh?” tanya Jimin dengan wajah ketakutan. Rapmon menggangguk. Jin yang mendengar itu langsung berlari keluar diikuti Jimin dan Rapmon disampingnya. Mereka mengendarai masing-masing mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. 

-

[ Rumah sakit ]

Suasana yang sebelumnya dirasakan tenang mendadak gaduh akibat sakit kepala yang Jungkook rasakan sudah tidak tertahankan. Sudah tidak ada helaian rambut yang dimilikinya. Kanker Otak yang mengrogoti seluruh saraf mulai Jungkook rasakan beberapa hari lalu. Dan sekarang sakit yang sudah tidak bisa dirinya tahan mulai membuat namja cantik itu terus menerus menjerit. Hal-abeoji, Jung Ho Seok serta Kim Taehyung yang menunggu diluar hanya bisa berdoa agar semua baik-baik saja. wajah Jungkook yang terakhir Ho Seok lihat hanya wajah putih pucat seperti tidak memiliki darah yang mengalir ke bagian kepalanya. Ho seok terus menyesali hidupnya yang tidak mampu berbuat banyak untuk mengembalikan senyuman majikannya itu “siaaalll!” teriaknya sambil memukuli tembok yang tidak bersalah. Hal-abeoji diam termenung. Taehyung tau bahwa namja tua itu begitu mengkhawatirkan cucu satu-satunya kerabat satu-satunya yang sampai sekarang bisa menemani hidupnya. Namun apa yang terjadi sekarang? “semoga tidak terjadi apa-apa pada Jungkook” bisik Taehyung pelan berharap dalam hatinya.

Para dokter yang berada didalam begitu cemas. Jungkook yang baru saja dipindahkan ke ruang gawat darurat langsung dipasangkan alat-alat yang diperlukan. Sebuah teriakan terus terdengar dari dalam menuju luar. Rasa sakit yang sudah tidak tertahankan akhirnya terjadi. Salah satu dokter memutuskan untuk keluar sebentar bicara dengan Hal-abeoji dari pasien yang sedang ditanganinya. “kemoterapi apa tidak dilakukan selama pertumbuhan kankernya?” tanya sang dokter pada Hal-abeoji yang sebelumnya termenung bisu. Jung Ho Seok yang melihat tuannya itu terdiam tak menjawab menggantikannya untuk menjawab pertanyaan dari sang dokter.

“nde.. dia memang tidak melakukan kemoterapi selama pertumbuhan kankernya”

Hal-abeoji berdiri dari tempat duduknya “cucuku melakukan kemoterapi sewaktu di Amerika, tapi selama di korea. Jungkook mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak berniat untuk melakukan kemoterapai kembali. Mungkin aku terlalu lunak ketika menyuruhnya melakukan kemoterapi dan tidak terlalu memaksakannya. Dan sekarang... ini semua salahku” hal-abeoji membungkam mulutnya dengan tangisan yang dirinya tidak bisa lagi pendam. Taehyung membantu tubuh tuannya agar tetap berdiri tegak dalam kondisi yang sudah tidak dapat tertolong lagi.

Salah satu suster juga keluar mendatangi keluarga Jungkook, “apa seseorang bernama Jin ada disini?” tanya yeoja itu.

Semua saling melirik satu dengan yang lain dan tiba-tiba suara terdengar dari belakang “saya Kim Seok Jin”. Semua mata tertuju kearah sumber suara dan Jin pun langsung mengikuti sang suster dari belakang untuk memasuki ruangan kekasihnya berada. Jimin dan Rapmon yang mengikutinya dari belakang diberikan tatapan tajam oleh Taehyung. taehyung menghampiri Jimin dan memeluk dongsaengnya itu. pukulan diberikan pelan pada namja yang berada disampingnya.

“seulki bukankah kusuruh kau mengantarkan Jiminnie ku pulang?!” ketusnya pada Rapmon.

“aku sudah mengantarkan Jimin pulang sebelumnya tapi—” belum selesai Rapmon menjelaskan Jimin segera mencubit Hyung posesifnya itu. “jangan menyalahkan Rapmon-sshi hyung, aku yang memintanya untuk mengantarku kembali kesini” balasnya membantu Rapmon yang kesulitan menanggapi Taehyung. rapmon menghela nafas ketika Taehyung mengagguk setuju untuk tidak menyalahkan dirinya. Jimin terus terfokus pada sosok Jin yang telah masuk kedalam ruang gawat darurat dimana Jungkook menjalani pengobatan. Suara Jungkook meresahkan hati Jimin yang sebelumnya berlaku seenaknya terhadap kekasihnya.

“maafkan aku Jungkook-ah” tuturnya sedikit terdengar Taehyung yang berada disampingnya. Tinggi mereka sama, umur mereka sama, kelahiran mereka sama hanya bulan yang Jimin tidak ketahui bawa dirinya lebih tua dari Taehyung. mereka tidak pernah merayakan ulang tahun. Mereka cuek akan hal itu semua. Tapi sebenarnya Taehyung selalu merayakan ulang tahun Jimin tanpa sepengetahuannya. Dan Taehyung sangat menikmati dirinya menjadi seorang Hyung bagi Park Jimin. Hal-abeoji sepertinya tidak asing dengan namja yang berada dekat dengan Taehyung. setelah di ingat-ingat namja tua itu mengenali sosok namja yang sebelumnya pernah dirinya tolong. Jung Ho Seok merasakan bahwa Hal-abeoji masih saja memandangi sosok Jimin yang terlihat  khawatir akan keadaan cucunya.

“anda pasti mengenal namja yang kita tolong sebelumya tuan” suara Ho Seok mengaggetkan hal-abeoji dari tatapannya pada Jimin.

“nde, apa dia kenalan Taehyung atau kenalan Jungkook?” tanyanya lagi.

“keduanya tuan, dia adik dari Kim Taehyung dan teman dari Jungkook dan Jin di sekolah”

“benarkah? Usianya pasti sama dengan Jungkook” tebaknya asal saat melihat wajah manisnya sama seperti wajah cantik yang dimiliki Jungkook.  Jimin yang merasakan sedang diperhatikan, tidak sengaja pandangannya bertemu dengan pandangan seorang namja tua yang sedang memperhatikannya. Jimin tersenyum dan dibalas senyuman lagi kearahnya.

Selama berjam-jam mereka menunggu diluar tidak ada tanda-tanda keluarnya dokter dari ruangan. Jimin yang terus saja menggigiti kuku-kukunya ditenangkan Taehyung dengan Coffe hangat yang dirinya beli dikantin rumah sakit. Niatnya menolak tetapi Taehyung memberikan tatapan memaksa seperti biasa. Hingga pada malam hari mereka menunggu. Jimin ketiduran dipundak Taehyung. rapmon dan Jung Ho Seok masih setia berdiri menunggu. Sedangkan hal-abeoji tubuh tuannya dipaksakan untuk tetap sadar menunggu keadaan cucunya didalam. Salah satu suster akhirnya keluar namun tidak mengatakan apa-apa, dan kembali masuk kedalam setelah mengambil sesuatu yang dibutuhkan. Pukul 11 malam akhirnya Jin keluar dari kamar rawat diikuti suster dan dokter yang berhamburan keluar. Hal-abeoji langsung berlari kearah Jin yang sudah tidak memiliki tenaga selama berada didalam.

“apa yang terjadi Kim Seok Jin, bagaimana dengan Jungkookku?” tanyanya dengan menggoyangkan tubuh Jin tidak sabaran. Jin memandang kesemua tatapan mata yang memandang penasaran kearahnya. Dan terhenti saat menatap sosok Jimin yang sedang tertidur dengan nyenyak dipundak Taehyung.

“yaak! Katakan cepat apa yang terjadi! Kenapa kau begitu lama berada didalam?” tanya Jung Ho Seok. Taehyung sedikit menepuk pipi Jimin untuk membangunkan dongsaengnya itu. itu membuat Jimin langsung sadar dan kembali pada dunia nyatanya menunggu Jungkook dirumah sakit. Tapi sepertinya semua dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Jin kembali dengan membawa liontin yang terukir JJ ditangannya. “Jungkook meminta agar keberangkatannya menuju Amerika dilakukan besok pagi. Jungkook ingin hal-abeoji tinggal bersama dengannya disana, dan dia meminta aku untuk ikut dan membantu persiapan besok pagi” terangnya dan langsung disetujui sang Hal-abeoji. Jin masih setia memandang kearah Jimin namun tidak dibalas Jimin saat itu. jimin mencari pandangan lain agar tidak memberitahukan Jin tentang kesedihannya. Ini yang terbaik dan Jimin akan tersenyum untuk Jungkook.

Didalam ruangan Jungkook merasakan hatinya yang sangat sakit. bukan dari kankernya tapi dirinya tidak tau akan alasan apa hatinya begitu sangat sakit. ketika Jungkook bertanya pada salah satu suster sakit dihatinya tidak ada hubungannya dengan kanker otaknya. Lalu mengapa sakit dihatinya begitu menyiksa. Jungkook memejamkan kedua matanya dengan oksigen yang terpasang diarea hidungnya. Namja itu menarik nafas pelan-pelan agar dirinya bisa merasakan hatinya sedikit membaik. Namun masih sama seperti sebelumnya sakitnya masih terasa menyiksa dirinya. Jungkook telah memilih egonya untuk tetap membawa Jin ke Amerika tidak perduli akan perasaan Jin yang telah jatuh hati pada namja lain. Dirinya sadar bahwa perasaannya masih sangat ingin mengikat Jin agar terus bersamanya. “aku tidak... ingin ...menyerahkan Jin....sshi pada siapa...pun.. tidak..ingin” air mata Jungkook mengalir membasahi selang oksigennya. Wajahnya memucat sempurna dengan kepala botak. Jungkook memandang kearah cahaya bulan yang memasuki ruangan lewat jendela kamar dimana dirinya dirawat VVIP. Berharap semua berjalan lancar dengan apa yang diinginkannya besok pagi.

Waktu terus berjalan haripun berganti, Semuanya telah sibuk mempersiapkan pelepasan Jungkook dan Jin sebentar lagi. Keberangkatan namja yang disukai Jimin sudah tiba. Taehyung menepuk pundak Jimin mengisyaratkan sudah waktunya mereka berangkat. Rapmon yang menunggu dibawah tidak terlihat semangat mengantar kepergian sahabatnya itu kebandara. Tentu saja itu karena Jungkook yang tidak dalam keadaan baik-baik saja. semuanya merasa khawatir akan keadaan Jungkook yang sepertinya terlalu memaksakan keberangkatannya secara mendadak.

2 jam perjalanan menuju bandara Incheon, Taehyung menelpon Ho Seok dan menanyakan keberadaan mereka. Setelah tahu. Namja itu segera berjalan mengikuti arahan yang diberi tahukan Ho Seok lewat telpon. Dilihatnya lah Jungkook dengan kursi roda, selimut dibagian kakinya, cupluk yang menutupi kebotakannya, syal dan jaket tebalnya. Tidak lupa infus yang menempel pada salah satu tangannya. Jimin langsung berlari mendekati namja cantik itu.

“Jungkook-ah” panggil Jimin pada namja yang sedang memandangi dirinya dengan lembut.

“anny...eo..ng Ji..min..-s..shi..” suara itu terdengar gemetar tapi tetap berusaha. Jimin langsung memeluk tubuh Jungkook yang sudah memucat dengan keringat mengalir dari setiap sudut wajahnya. “di..si..ni.. sang..at..pana...ss yaa...h?” jimin tidak henti-hentinya mengusap air mata yang mencoba untuk keluar. Tidak lama mereka menunggu, Jin akhirnya datang membawa koper dan ranselnya. Jungkook sangat senang melihat kekasihnya yang akhirnya datang untuk dirinya. Ho Seok langsung mengambil alih ransel dan koper yang sebelumnya dibawa Jin. Sedangkan Jin beralih menghampiri kekasihnya yang sedang bicara dengan Jimin.

“maafkan aku terlambat” senyumnya membuat Jungkook tertawa kecil.

“se...sam..pai...nya...di..sa.na. ak..u.. a..kan..meng..hu..kum..mu” suara itu masih terdengar berusaha.
“aku siap jika hukumannya itu darimu” ucap Jin membuat Jimin sedikit menoleh kearahnya. Betapa romantisnya Jin ketika menghadapi Jungkook yang sangat membutuhkannya. Jimin sangat bahagia saat mendapati hubungan mereka yang terjalin telah baik-baik saja. Masing-masing dari taehyung dan rapmon menyampaikan kalimat-kalimat perpisahannya. Dalam perpisahannya dengan Jin, hatinya tiba-tiba saja sesak. Hati Jimin tidak bisa menerima rasa sakit ini walaupun dirinya mencoba untuk tetap tegar dan berpura-pura untuk bahagia. Baru beberapa hari lalu Jin telah mengecup bibir kecilnya. ‘Kenapa? Kenapa tuhan mempertemukan kita dalam keadaan seperti ini?’ gumamnya dalam hati kecilnya. Jimin merapikan syal yang Jungkook kenakan agar namja cantik itu tetap merasakan kehangatan. Tidak lama sang Hal-abeoji datang membawa 4 tiket yang telah siap mengantar mereka ke negara sebrang Amerika Serikat. Tangan Jin diletakan digagang kursi roda Jungkook, lalu mendorongnya kearah pintu masuk menuju pesawat. Taehyung Rapmon dan Jimin memberi pesan masing-masing pada Jungkook ataupun Jin.

“Jungkook-ah kami akan menunggu kesembuhanmu di Korea, setidaknya berikan kami kabarmu sesampainya disana. Jin jaga baik-baik namja cantikmu” rapmon mengelus lembut cupluk Jungkook sambil memandang Jin sahabat lamanya itu. “Jin kau adalah seorang namja sejati” lanjutnya dengan senyuman tampan Rapmon. Jungkook yang mendengar itu sebenarnya mengerti apa maksud perkataan Rapmon. Tapi rasa cintanya tidak bisa melepaskan Jin dalam hidupnya. Walaupun dirinya tau bahwa Jin telah menyukai namja lain selain dirinya.

Berganti pada Taehyung, taehyung menepuk pundak Jin yang sedang mendorong kursi roda tuan mudannya. “aku titip tuan muda padamu, aku lihat kesembuhannya bergantung pada dirimu Jin. Lupakan lah masa lalu ketika kalian sama-sama mendapatkan kesalah pahaman. Semua harus dimulai dari awal ketika kalian berada disana” bibir Jin sedikit ingin bergerak dan mengatakan pada taehyung untuk menjaga Jimin selama dirinya tidak ada. Itu mustahil untuk dilakukan rasanya. Bagaimana mungkin dirinya memikirkan namja lain ketika kekasihnya sedang bertarung antara hidup dan matinya. “aku mengerti” balas Jin singkat. Jungkook mengangguk sama halnya dengan yang dilakukan kekasihnya. Dan terakhir Jin mendorong kursi roda Jungkook kearah Jimin yang telah menunggu disamping Taehyung. jimin menunduduk setelah Jungkook berada dihadapannya.

Jimin tersenyum dengan memperlihatkan gigi putih rapihnya, “kau harus dengarkan apa kata Jin disana, jangan pernah lupa meminum obatmu dan selalu setia bersama dengan Jin. Jangan pernah melepaskan tangan Jin lagi dalam genggamanmu. Kau tau aku sangat iri padamu Jungkook-ah, aku tidak tau iri kenapa tapi...” Jimin menghentikan kata-katanya untuk menghapus air matanya. “tapi aku.. hanya ingin kau bahagia. Jadi aku mohon kembalilah dalam keadaanmu sembuh sepenuhnya. Biar kita belajar bersama lagi disekolah”

“nde....ji..min..sshi.. tuu..ng..gu..a..ku..yaa” senyumnya sangat cantik dalam embun mata Jimin. Tatapan Jimin beralih pada Jin. Tidak menatap balik pandangan Jimin, Jin hanya memandang kearah dimana pesawat mereka berada. “Jin-sshi selamat tinggal” Jin mengeratkan pegangannya pada kursi roda Jungkook. Suara itu berhenti dalam kata-kata perpisahan. Jin tidak membalasnya namun mampu mendengar isakan tangis Jimin yang tertahan. Suara penerbangan pesawat mereka pun terdengar. Jung Ho Seok dan hal-abeoji membungkukan tubuhnya pada Rapmon, Taehyung dan Jimin lalu mengikuti Jin yang mendorong kursi roda Jungkook dari belakang. pandangan Jimin kosong saat mendengar pemberitahuan bahwa pesawat Jin telah berangkat meninggalkan Korea. Tubuh Jimin dirangkul Taehyung. “sepertinya aku harus mencari pekerjaan lain” candanya berusaha membangun semangat dongsaengnya. Jimin hanya tersenyum sedikit pahit dan mengikuti gerakan tubuh Taehyung yang merangkulnya. Rapmon mengikuti 2 namja itu sampai pintu utama bandara Incheon.
“apa kalian akan pulang dengan taksi? Ayolah pulang bersamaku saja, aku sangat kesepian jika harus pulang sendirian” Rapmon memohon pada Jimin dengan Taehyung yang langsung menolak.

“sekali-kali kau harus bisa istirahat Nam Joon. Kami akan pulang dengan taksi saja. terimakasih atas tawaranmu”

“kau yakin Taehyung? kau tidak berfikir macam-macam padaku kan” sindir Rapmon membuat Taehyung berdengus pelan, Jimin tertawa kecil mendengar pertengkaran 2 namja dewasa yang seperti anak kecil sekarang ini. Taehyung mengangguk dan memanggil langsung taksi yang terparkir di dekat bandara tersebut. Rapmon memberikan lambaian tangan saat 2 bersaudara itu telah masuk kedalam taksi dan pergi meninggalkan dirinya sendirian dibandara. Menggerakan kerah dilengannya Rapmon mengintip sedikit waktu yang dibutuhkan sebelum sampai kekantornya. “aku masih memiliki banyak waktu” tuturnya singkat lalu berbalik untuk menaiki lift yang mengarahkan dirinya kearah parkiran mobil. tidak disengaja tubuhnya menabrak seorang namja yang sepertinya Rapmon kenali. Namja cantik itu jatuh karena menabrak tubuh kekar Rapmon yang lebih besar darinya. Rapmon membantu namja yang ditabraknya untuk berdiri, “ah..mianhe..gwenchanayo?” tanya Rapmon sambil memegang salah satu tangan namja yang dirinya buat jatuh.

“nde.. gwenchan—” suara namja cantik itu terhenti saat mengetahui namja yang menabraknya adalah namja yang sebelumnya ditemui bersama dengan Jin. “kau?!” kaget Min Yoongi dengan menunjuk kearah wajah Rapmon. Rapmon menatap namja yang ditabraknya seperti sedang kesakitan dibagian kakinya. Mungkin saja namja ini terkilir karenanya. “sepertinya kau terkilir. Biar kubuntau kau untuk ketempat duduk” Rapmon membawa Min Yoongi keruang tunggu bandara yang terdapat banyak deretan bangku disana. Namja tinggi itu meninggalkan Min Yoongi sebentar untuk membeli minuman air putih agar bisa menenangkan namja yang sebelumnya ditabraknya. “kau kenalan Jin kan?” tanyanya langsung setelah melihat Yoongi meminum minuman yang diberikan. Namja itu terdiam.

“sedang apa kau disini? Apa kau berniat untuk pergi jalan-jalan keluar?” lanjutnya dengan respon sebuah keheningan. “baiklah aku tidak akan bertanya banyak jika memang aku mengganggumu saat ini. Aku akan pergi saja” Rapmon mencoba meninggalkan namja cantik yang masih duduk dengan kakunya. Sepertinya Rapmon menyerah jika harus bertemu dengan namja-namja cantik setelah ini. Jin benar-benar beruntung harus diperubutkan namja-namja cantik yang tidak kalah dari yeoja. Inikah kehidupan Jin yang sebenarnya? Rapmon sepertinya telah menikmatinya. Rapmon yang berniat untuk menggeretak pergi kembali lagi menemui Min Yoongi diruang tunggu bandara. “bisa kita bicara?” Min Yoongi mengangguk tanpa suara.

Disalah satu restoran mereka bicara, Rapmon sangat penasaran dengan namja yang terkenal bagi Jin adalah psikopat. Itu hanya fikiran Jin tidak untuk Rapmon. Sangat terlihat wajah lawan bicaranya saat ini terkesan polos. Rapmon memanggil Maid dan memesan minuman untuk menemani pembicaraan mereka. “kau akan pergi keluar negeri?” tatapan Rapmon menangkap sebuah tiket pesawat menuju suatu negara lain dari genggamannya. Min Yoongi malu saat diketahui maksud namja itu berada dibandara. “tenang saja kau tidak perlu menyembunyikan maksudmu berada disini, bagaimanapun ini kan bandara pastinya kau baru datang atau akan pergi keluar negeri kan?” senyumnya berusaha sesantai mungkin.

“kau sendiri apa yang kau lakukan disini?” tanyanya dengan suara tipis.

“aku habis mengantar Jin dan Jungkook pergi ke Amerika” kedua mata Rapmon merasakan bahwa Yoongi sedikit mengeratkan genggamannya pada tiket yang dibelinya. “kau pasti masih ingat dengan Jungkook bukan?”

“nde, namja yang tidak tau diri itu berhasil mendapatkan kesempatan Jin-sshi lagi dan lagi. Aku sama sekali tidak mengerti dengan pikiran Jin-sshi mengapa mau menerima namja yang telah membuangnya”

“itu karena Jungkook sedang berjuang melawan penyakitnya?” seorang Maid datang dan meletakan dua minuman yang sebelumnya dipesan Rapmon. “terimakasih” ucapnya pada Maid yang langsung pergi dengan sopannya.

“penyakit? Apa maksudmu?” bingungnya.

“namja yang kau bilang membuang Jin mengidap penyakit yang telah membuat dirinya sekarang ini sekarat” Rapmon yang menjelaskan mendapatkan pandangan penasaran dari Min Yoongi. “kanker otak stadium 4”

“apa itu semua karena diriku?” takutnya menebak-nebak.

“tidak ada penyakit kanker yang diakibatkan dari sebuah pukulan. Jungkook sudah mengidap penyakit itu cukup lama, dan itu sebabnya dirinya meninggalkan Jin ke Amerika. Lalu dia kembali kekorea dan mengatakan kebenaran yang sebenarnya pada Jin” Rapmon meminum sedikit demi sedikit minuman yang dipesannya. “selama dikorea semua berjalan seperti biasa, Jin dan Jungkook menjalin hubungan kembali ndan membuatmu patah hati benar bukan? Itu karena rasa bersalah Jin yang tidak tau apa-apa tentang kesakitan yang dialami Jungkook 4 tahun semasa pacaran dulu dan sekarang dirinya telah divonis dokter”

“namja itu kuat sekali menghadapi penyakit seserius itu tanpa kekasih seperti Jin” Min Yoongi mulai merasakan rasa bersalah pada apa yang dilakukannya. Namja cantik itu mulai tidak nyaman dengan apa yang sedang dibahasnya. “aku..sama sekali tidak tau apa-apa dan bertindak seenaknya. Aku jahat sekali”

“kau tidak jahat, kau hanya emosi karena rasa cemburu menguasai dirimu. Lagipula aku ingat-ingat kau begitu romantis membuat kamarmu sebagai planet Kim Seok Jin. Aku suka desain interiornya” Min Yoongi tersipu malu saat Rapmon memuji kamar yang dirinya rapihkan sendiri.

“kau memasuki kamarku? Kapan?”

“saat kau menculik Jungkook, Jin datang ketempatmu dan menakuti banyak Maidmu disana. Ternyata kami tidak menemukanmu dimana-mana” suara itu terhenti dan kembali meminum minumannya untuk melancarkan ceritanya “Kau bisa menemukan namja lain yang lebih baik dari Kim Seok Jin itu Min Yoongi, itu namamukan?” Min Yoongi tidak berhenti menatap mata Rapmon yang masih saja melihat dirinya. Sepertinya wajahnya sudah memerah sempurna dipandangi terus menerus. Selama pembicaraan mereka memperbaiki hubungan dan mulai menikmati obrolan secara pribadi. Min Yoongi mulai nyaman untuk menceritakan kehidupannya pada Rapmon yang baru dikenali.

-

-

Jimin yang baru saja sampai di Apartemennya mulai melakukan aktivitas seperti biasa. Itu semua untuk menutupi rasa sedihnya saat kehilangan Jin yang pergi ke Amerika. Ini akan lebih baik selama berjalannya waktu. Taehyung membuka pintu apartemen mereka dan beristirahat di ranjang empuk yang telah lama tidak dirasakannya lagi. Jimin merapihkan pakaian Taehyung yang berantakan karena dilempar asal akibat kelelahan. “hyung bisakah kau menaruh pakaianmu ketempat asalnya, kau tidak tau jika aku sudah merapihkannya sebelum pergi tadi!” bentak Jimin dengan sedikit melunak. Taehyung mempoutkan bibirnya dengan menatap kecut pada Jimin yang berdiri disamping tempat tidurnya.

“apa kau tidak lelah Jiminnie? Kemarilah dan beristirahat sebentar saja. nanti kita bereskan sama-sama” merajuknya sambil menarik-narik ringan baju Jimin dari belakang. jimin menolak dan masih setia memunguti pakaian Taehyung yang berserakan. Karena jengah ucapannya tidak didengar taehyung menarik lengan Jimin dan membuat pakaiannya berhamburan kembali kelantai. Jimin tertidur disamping Taehyung dan langsung memeluknya. “yaaak! Seulki! Lepaskan aku..kau itu tidak merubah sikap yadongmu!” bentak Jimin kelabakan tidak dapat melepaskan pelukan Taehyung.

“aku merindukanmu.. mari tidur seperti dulu, sudah lama bukan kita tidak tidur bersama” Taehyung mengeluarkan suara dengan sedikit memohon pada Jimin. karena sudah sama-sama lelah Jiminpun lebih memilih untuk pasrah dibandingkan mengeluarkan tenaganya yang tidak mungkin bisa mengalahkan Taehyung. taehyung mulai merasakan ketenangan pada Jimin yang tiba-tiba saja langsung tertidur dalam pelukannya. Semakin memberikan eratan pada pelukannya Taehyung mencium kening Jimin dan membiarkan dirinya juga ikut tertidur.


To becontinue ...





Comments

Post a Comment

Popular Posts