BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 18
“aku merindukanmu.. mari tidur seperti
dulu, sudah lama bukan kita tidak tidur bersama” Taehyung mengeluarkan suara
dengan sedikit memohon pada Jimin. karena sudah sama-sama lelah Jiminpun lebih
memilih untuk pasrah dibandingkan mengeluarkan tenaganya yang tidak mungkin
bisa mengalahkan Taehyung. taehyung mulai merasakan ketenangan pada Jimin yang
tiba-tiba saja langsung tertidur dalam pelukannya. Semakin memberikan eratan
pada pelukannya Taehyung mencium kening Jimin dan membiarkan dirinya juga ikut
tertidur.
-
-
Tahun
demi tahun telah berlalu, Jimin sekarang telah beranjak menjadi namja yang
sangat tampan. Tubuhnya yang kecil kini telah hampir sejajar dengan Taehyung.
walaupun Taehyung sadari Jimin tetaplah menjadi namja kecil bagi dirinya. Jimin
sekarang telah lulus dari SMA, dengan dibiayai Taehyung dari hasil sebelumnya
menjadi supir dan penjaga untuk Jungkook. Rasanya kerja kerasnya selama ini
telah memuaskan Taehyung. namja kecil yang berdiri dengan pakaian kelulusan
SMAnya tersenyum diatas panggung pada dirinya. Tentu saja Taehyung membalas
dengan senyuman serta menyembunyikan air mata terharunya. Jimin telah
membuktikan bahwa dirinya telah menjadi penari terbaik disekolahnya. Seandainya
Taehyung bisa berdiri disampingnya sebagai penyanyi terbaik di SMAnya, mungkin
itu tidak akan pernah terjadi. Karena sekarang adalah sekarang bukanlah masa
lalu yang harus diselali. Melihat keberhasilan dongsaengnya sudah sangat
membuat dirinya bahagia. Setelah perayaan kelulusan, Jimin berlari menghampiri
Taehyung.
“hyuung”
teriaknya tidak dapat tertahankan. Jimin memeluk Taehyung dengan perasaan
banyak terimakasih. Gulungan ijazah SMAnya diperlihatkan Jimin dari dekat agar
Taehyung bisa percaya bahwa dirinya telah lulus dan siap untuk membantu
Taehyung bekerja nantinya. “aku sudah lulus hyung, dan ini semua berkatmu. Aku
sangat bahagia. Terimakasih atas semuanya hyung”
“jika
kau ingin berterimakasih kau harus melakukan ciuman tanda terimakasih seperti
biasanya. Maka aku akan membalasnya dengan kalimat ‘sama-sama’, ayo lakukan”
dengan memonyongkan bibirnya Taehyung terus menggoda Jimin sampai namja itu membungkam
perlakuannya dengan salah satu tangannya. “Appoooyo!” ringis Taehyung
mengelus-ngelus bibirnya yang telah dibungkam.
“hentikan!
Berhentilah hyung memperlakukanku seperti anak kecil. hyung kan tau sekarang
ini aku sudah menjadi namja utuh dan mungkin aku akan membantu hyung nanti
untuk mencari pekerjaan. Dengan begitu hyung bisa sejenak beristirahat dan mencari
kesibukan lain selain bekerja”
“seperti
apa kesibukan lain? Hyung tidak yakin kau bisa mencari pekerjaan dengan wajah
yang menggemaskan ini” Taehyung mencubit pipi Jimin dengan kedua tangannya,
“lagian semua orang yang memperkerjakanmu nantinya mereka akan lebih banyak
merasa kasihan karena membiarkan namja semanis dirimu bekerja”
“hyung
meledekku! Aku akan mendapatkan pekerjaan dengan cepat! Lihat saja nanti,
jangan meremehkanku yaa!” tunjuk-tunjuk Jimin pada hidung Taehyung yang telah
sepantaran tingginya dengan dirinya. Sedang sibuknya pertengkaran mereka
datanglah namja yang Jimin kenali sudah lama tidak bertemu dengan dirinya.
Namja itu menggandeng namja cantik yang membuat Jimin harus menelan ludahnya
dengan sedikit memaksa. “kau?” Jimin bingung dengan kedatangan Min Yoongi
bersama dengan Rapmon disampingnya. Yoongi tersenyum dan mengulurkan tangannya,
“selamat ya atas kelulusanmu”. Jimin diam tidak membalas. Rapmon memberikan
isyarat agar Jimin segera menjabat tangan Min Yoongi dengan mata yang bergerak-gerak
seperti menunjuk-nunjuk.
“nde.
Kau juga selamat yaa” akhirnya 2 namja itu berjabat tangan dan disitu Rapmon
mulai bicara. “Jimin Taehyung sudah lama bukan kita tidak bertemu, rasanya baru
kemarin aku melepas kehidupanku yang dulu dengan banyak masalah. Sekarang aku
sudah memulai hidupku yang baru, bagaimana dengan kalian”
Taehyung
mengangguk mengingat-ingat bayangan masa lalu yang penuh dengan kesulitan dalam
sebuah hubungan, “nde.. aku seperti terasa terakhir kembali” Taehyung melirik
kearah Jimin. jimin termenung sebentar dan menampilkan simpul dibibirnya. “aku
juga” singkatnya.
“daripada
itu, aku ingin kalian tau tentang hubungan ku dengan...” suaranya bergantung
lalu menarik Min Yoongi untuk lebih mendekati Rapmon. Tanpa diteruskan Jimin
dan Taehyung tentu saja mengerti, “aiisshh jinjya?! Kalian?” Jimin melongo
tidak percaya dengan ekspresi sedikit ngeri atas keputusan Rapmon sahabatnya.
“aku
mengerti kesalahan yang dimiliki Yoongie dulu tidak dapat termaafkan akibat
rasa cemburunya. Tapi setelah mengenal lebih jauh namja cantik ini aku mengerti
akan rasa sakit yang dirinya rasakan, tidak sepenuhnya ini kesalahannya. Aku
harap Jimin yang telah menjadi korbannya mau memaafkan Yoongieku” Rapmon
memegang pundak Yoongi yang cukup terlihat sangat menyesal akibat kelakuannya
yang dulu. Jimin tersenyum dan mulai mengelus pundak Min Yoongi yang sepertinya
telah banyak berubah. “aku sudah memaafkanmu, aku tau bagaimana perasaanmu.
Tapi tidak semuanya dilakukan dengan cara emosi. Aku fikir kau dan Rapmon
sangat serasi, iyakan hyung?” lengan Jimin menyenggol Taehyung. “nde..tentu
sajaa” langsung neyplos dengan senyuman lebarnya. Min Yoongi sepertinya sangat
bahagia akan hubungannya dengan Rapmon, bahkan sebaliknya. Terlihat saat mereka
telah meninggalkan Jimin dan Taehyung keceriaannya masih terasa begitu
romantis. Jimin menghapus air matanya yang tiba-tiba saja mengalir entah karena
apa. yang pasti ini bukanlah tangisan kesedihan seperti dulu, tapi ini adalah
tangisan keharuan yang mengalir saat hati Jimin terasa tersentuh. Taehyung
merangkul Jimin lalu mengajak dongsaengnya itu pergi meninggalkan perayaan
disekolahnya. Mereka berjalan ke Apartemen, dan singgah sebentar disebuah taman
yang begitu banyak anak-anak kecil berlarian.
Jimin
memperhatikan anak-anak kecil yang sedang asik bersama keluarganya, rasanya
sepertinya Taehyung merindukan masa-masa itu hingga mengajak untuk singgah
sebentar. Salah satu tangan Jimin menyentuh tangan Taehyung agar hyungnya itu
tidak melamun. Taehyung menoleh sebentar memandang Jimin yang begitu
dicintainya sejak kecil. hatinya tidak dapat berbohong bahwa dirinya
benar-benar ingin memiliki Jimin. “kau ingat masa lalu kita seperti itu dulu,
kau selalu menolak untuk jauh dari Eomma. Padahal aku sangat ingin mengajakmu
bermain bersama. Hingga akhirnya Appa menyuruhku untuk bermain dengannya saja”
Jimin tertawa kecil. “itu semua karena hyung selalu berbuat curang akan setiap
permainan yang kita mainkan”
“aku
kan sudah berjanji untuk tidak berbuat curang lagi, kau masih saja menolak”
“hyung
berjanji pastinya akan mengulangi lagi dan lagi. Sampai aku lelah untuk
mengingatkanmu, ataupun Eomma yang memarahimu tidak dapat kau dengarkan. Kau
itu menyebalkan sekali hyung”
Taehyung
mengeratkan genggaman Jimin yang sebelumnya menyadarkan dirinya agar tidak
melamun. “aku sangat merindukan Appa dan Eomma saat ini, aku mengajakmu kesini
agar per asaanku lebih tenang. Dan setiap melihatmu tersenyum perasaan rinduku
seperti telah tersampaikan pada mereka”
“hyung
maafkan aku... semuanya karena—” Jimin yang hendak berbicara menjelaskan
kesalahannya dihentikan tatapan Taehyung yang menolak akan penjelasannya. “aku
tidak pernah menyalahkanmu karena bagiku Appa dan Eomma juga tidak akan pernah
menyalahkanmu, aku hanya merindukannya Jiminnie. Aku hanya merindukannya” Jimin
mengendurkan pandangannya kearah lain dengan tetap menggenggam tangan Taehyung.
“kita
pulang” senyum Taehyung kembali dan menarik tangan Jimin agar mengikuti
langkahnya. Jimin juga ikut tersenyum. Mereka melewati taman itu dengan
gelembung-gelembung yang bertebaran ditiupi beberapa anak kecil.
-
-
Di
Amerika Hal-beoji bertemu dengan dokter yang sudah hampir satu tahun lebih ini
membantu kemoterapi cucunya. Wajah dokter itu sangat kebingungan akan mukjizat
yang diberikan tuhan pada Jungkook. Kemustahilan yang harusnya didapat, kini
berbuah sangat indah akan kanker stadium 4 yang menghilang dari otak Jungkook.
Diulang-ulang test darah ataupun scan kanker tidak ada yang menunjukan kanker
itu berkembang. Padahal tubuh namja itu telah sepenuhnya lumpuh dan seharusnya
kanker itu tidak dapat menghilang atau diangkat dengan operasi. Rasanya ini
semua mustahil jika dokter mengatakannya langsung pada hal-beoji Jungkook.
Apakah alatnya rusak atau harus melakukan test berulang kali? Dokter itu
memberikan data kesehatan yang namja tua itu tunggu sedari tadi. “ini data
kesehatan Jungkook, kami menemukan sedikit keanehan pada kankernya yang tadinya
berkembang”
“keanehan
apa itu dokter?”
“data
kesehatan yang dikirimkan rumah sakit Seoul Korea ke sini memberikan data bahwa
vonis sudah ditentukan dan kami langsung memeriksanya itu kebenaran yang ada.
Tetapi selama kemoterapi ini sebenarnya hal yang mustahil jika dilakukan dalam
stadium 4 yang kankernya sendiri telah menyebar keseluruh sarafnya. Sekarang
ini keanehan yang terjadi kami tidak menemukan kanker yang berkembang”
keterangan dokter setelah mengamati lebih detail membuat Jeon Jihyun penasaran
lalu mengambil data scan yang diserahkan dokter padanya, “jadi kemungkinan yang
terjadi Jungkook selamat dari vonis kankernya?”
“itu
yang menjadi hasil dari lab tuan, luar biasa sekali cucu anda benar-benar
melawan kankernya dengan batasan tenaga yang dimiliki. Kami akan melakukan
penelitian lebih lanjut apakah benar-benar Jungkook telah bersih dari
kankernya”
“nde!
Te.te.te.rimakasih.. terima..kasiiih!” jeon Jihyun dengan tubuh tuanya terus
melompat-lompat akan kesuksesannya menyembuhkan cucu kesayangannya. Walaupun
uangnya hampir tiris karena pengobatan setidaknya dirinya mendapatkan hasil
yang memuaskan. Namja tua itu memohon undur diri untuk keluar ruangan sang
dokter.
Di kamar rumah sakit Jungkook
menunggu Jin pulang dari kuliahnya ditemani Jung Ho Seok.
Wajahnya tidak lagi pucat seperti saat dulu dirinya meninggalkan korea. Jung Ho
Seok tidak lagi khawatir karena vonis yang dijatuhkan dokter korea pada
Jungkook sama sekali tidak terjadi. Jungkook malah terlihat sangat berubah
lebih sehat dari sebelumnya. pandangannya selalu mengarah keluar jendela setiap
menunggu Jin selesai dari kuliahnya. Namja cantik itu terdengar menghela nafas,
dan Jung Ho Seok masih setia memandangi keindahan dihadapannya. Tiba-tiba suara
itu menyadarkan Ho Seok agar fokus pada apa yang dilihatnya. “Jung Ho Seok”
“nde
Jungkook-ah? Waeyo?” Jung Ho Seok mendengarkan pembicaraan yang baru saja
dimulai tuan mudanya.
“apakah
Jin-sshi masih memikirkan Jimin-sshi? Setelah setahun lebih dirinya
meninggalkan korea. Apakah aku membuat kesalahan pada hidup Jin-sshi?”
“apa
yang kau katakan? Bukankah keinginan Jin yang menemanimu, itu kan tandanya
bahwa namja itu masih sangat mencintaimu Jungkook-ah. Kau jangan memikirkan hal
yang lalu”
“aku
merasa tidak nyaman dengan keadaanku yang telah siap mati sebentar lagi”
“Jungkook-ah!!
Jangan berbicara hal seperti itu!?” Jung Ho Seok mendekati Jungkook dan
mendekap pundak yang terasa semakin kurus dalam genggamannya, “aku tidak akan
membiarkanmu sampai berkata macam-macam seperti itu! aku yakin kau akan sembuh
dan kembali seperti biasa. Aku mohon kau harus yakin pada kesembuhanmu
sendiri!! jangan bicara hal yang menyakitkan seperti itu!”
“kau..selalu
menyemangatiku Jung Ho Seok.. terimakasih sudah menjagaku selama ini”
“hentikan!?!”
“aku
ingin sekali bisa lebih lama hidup dan membangun sebuah keluarga yang bahagia,
mengatakan pada anak-anakku nantinya bahwa aku memiliki teman terbaik yang
selalu menjagaku sampai detik ini” tatapan Jungkook basah siap untuk
mengalirkan air mata entah keberapa kali selama dirinya berada di Amerika.
Hidup bersama Jin tidak seharusnya mengekang namja itu untuk selalu berada
disampingnya. Jungkook merasa sangat bersalah karena memaksakan Jin saat berada
di Korea terakhir kalinya.
Flashback
on
Salah satu suster juga keluar mendatangi
keluarga Jungkook, “apa seseorang bernama Jin ada disini?” tanya yeoja itu.
Semua saling melirik satu dengan yang lain
dan tiba-tiba suara terdengar dari belakang “saya Kim Seok Jin”. Semua mata
tertuju kearah sumber suara dan Jin pun langsung mengikuti sang suster dari
belakang untuk memasuki ruangan kekasihnya berada.
Jungkook yang menunggunya didalam dengan
banyak alat menempel agar dirinya tetap bisa hidup memberikan senyuman tipis
ketika Jin telah datang memenuhi permintaannya. Jin memegang tangan Jungkook
yang terpasang infusan disana, namja itu sedikit mengelus keringat Jungkook
yang berada diarea kebotakannya. “a..ku.. se..karang su..dah sangat an...eh
bu..kan? a..ku..su..dah.. sang..at me..nyusah..kan..mu Jin..sshi,
aa..ku..la..gi dan la..gi akan menyusah..kan..mu” Jungkook menarik tangan Jin
agar berada tepat didadanya. Jin merasakan jantung Jungkook yang seperti
melemah tiap hitungan detiknya. Air matanya yang seharusnya tidak Jin
perlihatkan mengalir begitu saja.
“ka..takan..ka..lau..kau..mau...mene..mani..ku..di..ame...rika Jin..sshi..”
“Jungkook-ah aku..” suara Jin segera ditepis
Jungkook agar tidak dilanjutkan.
“aa.kuu..mo..hon..pada..mu” mata Jin
berkedip-kedip menahan air matanya, “sete..lahh..kau...mene..mani..ku
di..ame..rika.. aku ber..janji pa..damuu..akan..meres..tui hubu..nganmu...
deng..an Ji..min..sshi”
“apa maksdumu! Kenapa kau berbicara seperti
itu Jungkook-ah. Aku yakin kau akan sembuh nantinya jadi berhentilah bicara
hal-hal aneh. tanpa kau meminta aku pasti akan menemanimu Jungkook-ah”
“ani..yo..aku..inginn..me..minta..pa..da...nam..ja...ya..ng..suda..h...ti..dak...men..jalin..hubu..ngan..deng..anku.”ucapan
itu terhenti sejenak dan berlanjut pada kata-kata yang tidak dipercayai Jin
akan terucap dari mulut Jungkook “ki..ta..putus..disi..ni Jin..sshi”
“apa maksudmu! Aku.. apa yang kau katakan
itu tidak benar bukan?” tanya lagi dan lagi Jin dengan tidak melepas
genggamannya. Jungkook tidak mengeluarkan air matanya, tetap tegar pada
keputusannya. “jangan mengatakan hal yang aneh Jungkook-ah aku mohon padamu”
Jin menunduk lemas dan berlutut disamping tempat tidur Jungkook. Ini semua
bukan kesalahan Jin, tapi Jungkook menyalahkan waktu yang terus menerus
menyalahkan dirinya. Dan dirinya berharap kematiannya membawa kebahagiaan pada
Jin serta Jimin nanti. Senyuman diperlihatkan Jungkook pada Jin yang masih saja
menunduk. Dengan sisa tenaga yang Jungkook miliki dirinya mengangkat wajah Jin
untuk kembali memandangnya. “kau..ak..an
se..lalu..men..jadi..teman...ter..baikku..Jin..sshi, ba..hagia..lah un..tuk
diri..ku. aku..yakin...Ji..min..sshi..bi.sa men..jaga..mu seper..ti diri..ku”
“aku tidak bisa melakukan itu, maafkan aku
karena tidak bisa menjaga perasaanku hanya untukmu. Maafkan aku karena tidak
bertanya apa-apa sampai tidak tau akan keadaanmu yang sebenarnya. Aku gagal
menjadi kekasih untukmu. Aku gagal karena tidak bisa jujur padamu, perasaan ini
salah aku rasakan dan aku ingin perbaiki semuanya. Berikan aku kesempatan”
“aku..su..dah..cu..kup.. meng..etahui..
hal..ya..ng sebe..narnya.. bagi..ku pe...rasa...anmu ti..dak lah salah..itu..ter..ja..di
kare..na Ji..min..sshi bi..sa meya..kinkan..mu akan..diri..nya ya..ng
baik..ha..ti”
“Jungkook-ah aku..aku..aku minta maaf”
“ak..uu..ing..in..kau..ti..dak..meng..atakan..apa..pun..ten..tang..hubu..ngan..kita..ya..ng..te..lah..ber..akhir..ikut..lah..ber..sa..ma..ku..seba..gai..uca..pan..ra..sa..ber..salah..mu..”
Flashback
off
Jin
menarik nafasnya dalam-dalam dikelasnya yang telah sepi akibat ditinggalkan
teman-temannya. setelah tinggal di Amerika rasanya banyak rasa yang tertinggal
dikorea. Sudah bertahun-tahun perasaannya terkunci sendiri, apakah mungkin
Jimin masih menunggunya disana. Ataukah Jimin telah menjalin hubungan dengan
Rapmon ataupun Taehyung. “bagaimana kabarmu namja bodoh?” lirihnya terdengar
seperti terperangkap dalam gedung yang tidak bisa membiarkan dirinya lari.
Seharusnya Jin tidak berfikiran apa-apa selain Jungkook. Detak jantungnya
begitu terasa kencang jika dirinya menyebut nama Jimin dalam hatinya. Sebaiknya Jin
segera pergi mencari aktivitas lain agar tidak merasakan sakit dihatinya lagi.
Jin
menyapa setiap temannya yang bertemu dengan dirinya dilorong universitasnya.
Setelah sampai diparkir mobil, Jin mengendarai mobilnya untuk pergi menuju
rumah sakit langsung menjenguk Jungkook. Selama 1 jam perjalanan Jin telah
sampai dirumah sakit dan pergi keruang rawat Jungkook dikamar 4012 lantai 4 gedung.
Belum sampai pada pintu kamar Jungkook, Jin melihat hal-beoji dengan tidak
sabaran berlari lalu masuk secara tergesa-gesa kepintu kamar Jungkook. Jin
mempercepat langkahnya, dan ketika dirinya hampir membuka gagang pintu kamar
Jungkook sebuah berita mengejutkan didengarnya.
“kanker
Jungkook menghilang?! Kanker Jungkook menghilaang!! ” Jung Ho Seok menekankan
suaranya dengan nada kesenangan. Dirinya langsung memeluk Jungkook karena
mendapatkan berita yang begitu tidak dapat dipercayai siapapun jika mendengarnya.
Jung Ho Seok memeluk Hal-beoji Jungkook yang juga melompat kesenangan. Wajah
Jungkook yang tidak pucat lagi ternyata membuktikan pada mereka berdua bahwa
Tuhan masih menyayangi Jungkook dengan memberikan kehidupan lagi pada namja
cantik itu. Jin yang berada diluar juga merasakan kesenangan karena berita ini
begitu tiba-tiba. Dan ini semua benar-benar terbukti bahwa Tuhan masih
memberikan kesempatan untuk dirinya merubah dan mengatakan hal yang sebenarnya
pada Jungkook. Jin membuka pintu kamar Jungkook pelan-pelan, dan yang tadinya
melompat kesenangan menghentikan tingkahnya menyadari kehadiran Jin disana.
Hal-beoji membawa berkas-berkas kesehatan Jungkook lalu menunjukan pada namja yang baru saja datang. “Jin Jin... lihat ini Jungkook sudah bersih dari kanker
otaknya! Lihat-lihat” Hal-beoji membulak-balik berkas agar Jin bisa melihat
kebenaran yang terjadi.
“aku sudah mendengarnya dan aku percaya hal-beoji. Syukurlah aku sangat senang mendengar Jungkook sudah bebas
dari kankernya” Jin tersenyum kearah Jungkook yang sedari tadi melihat dirinya
yang baru datang. “kau baik-baik saja kan? Bagaimana keadaanmu hari ini? Aku
harap berita ini membuatmu semakin bisa melawan penyakitmu” Jin menasehati
disamping Ho Seok yang berdiri sedari tadi menemani Jungkook. Jungkook meminta
Jung Ho Seok dan hal-beoji untuk keluar sebentar karena dirinya akan berbicara
hal penting pada Jin. Itu dikabulkan tanpa harus berfikir. Memang sudah biasa
jika mereka akan bicara kedua namja itu harus segera keluar sementara waktu.
Setelah pintu kamar rawatnya tertutup dari luar Jungkook memandang Jin dengan
memiringkan kepalanya. Jin heran, “ada apa?” tetap tersenyum.
“apa
kau benar-benar senang mendapatkan informasi bahwa aku telah bersih dari
kankerku?” dengan wajah serius.
“apa
maksudmu?! Apa aku sejahat itu sampai menginginkanmu—” Jungkook menutup mulut
Jin dengan telunjuknya. “aku hanya bercanda” Jungkook cengengesan dengan topi
cupluk yang menutupi sedikit rambut botaknya. Jungkook menatap jendela kamar
rumah sakit dan memperhatikan burung yang sedari tadi terbang dengan bebasnya
diluar. “kau tau aku sangat tidak percaya jika kanker itu menghilang dari
otakku? Memang aku kahir-akhir ini tidak merasakan sakit pada kepalaku. Tapi
mana mungkin sampai menghilang, benar bukan?”
“itu
semua karena kau mau melawan penyakitmu dengan sisa-sisa tenagamu. Kau
memikirkan banyak orang-orang yang mencintaimu, maka dari itu kanker itu kalah
dan malas jika terus berada dikepalamu yang keras itu”
“maksudmu
aku keras kepala?” mereka tertawa dalam pembicaraan mereka bersama-sama.
“nde
mungkin bisa dikatakan seperti itu, dari dulu kau kan memang seperti itu. keras
kepala”
“kau
masih mengingat diriku yang dulu” Jungkook memandang Jin sangat manis dengan
tatapan menyelidik, “aku memang masih mengingat dirimu yang dulu karena
bagaimanapun kau kekasihku”
“mantan
kekasihmu tepatnya” Jin menghela nafas saat Jungkook kembali mengingat akan
perasaannya pada Jimin pastinya. “kau berharap aku tidak lupa atau sebaliknya
tentang perasaanmu pada Jimin-sshi? Jin-sshi aku sangat mengingat setiap detail
atas kesalahanku yang membiarkanmu pergi begitu saja dalam hidupku. Aku telah
membiarkan dirimu tidak mencintaiku seperti dulu, dan membuat namja lain datang
untuk merebutmu dari hidupku. Itu semua kesalahanku Jin-sshi. Aku sangat tidak
menyukai hubungan yang dipaksakan Jin-sshi. Sekarang, aku ingin kau mengatakan
padaku bagaimana perasaanmu yang sebenarnya terhadap Jimin-sshi”
“aku...memang
telah menyukai namja bodoh itu” Jin mulai jujur dengan perasaan yang sebelumnya
dipaksakan namun kalimat-kalimat itu mengalir begitu saja setelah melihat
kondisi Jungkook lebih baikan “ awalnya aku hanya menyukainya sebatas namja itu
sangat mirip dengan dirimu. Tapi semakin aku mengenalnya ternyata dia tidak
semirip denganmu, dia tidak sekeras kepala dirimu. Dia selalu menangis jika
berkaitan dengan hyungnya dia selalu menyebalkan setiap orang lain disakiti dia
selalu menjadi yang paling terbawah karena dia bodoh. Sifat bodohnya membuat
aku tertarik pada namja itu. maafkan aku sudah keterlaluan dalam menceritakan
ini semua”
“aku
senang kau menceritakannya dengan kejujuranmu Jin-sshi. Walaupun ada rasa sesak
dihatiku yang sepertinya belum bisa menerimanya. Tapi aku akan tetap pada
perjanjian kita kau bisa kembali kekorea dan menjalin hubungan dengan
Jimin-sshi. Aku sudah baik-baik saja disini ditemani Jung Ho Seok dan
hal-beojiku. Lagipula semakin lama kau disini, Jimin-sshi mungkin akan bersama
namja lain”
“namja
itu tidak mudah menyukai orang lain sama seperti diriku. Aku tidak akan
meninggalkanmu sendirian. Kau akan ikut denganku kembali kekorea setelah
dipastikan kau benar-benar telah sehat. Kau harus mengatakan ini semua pada
namja bodoh itu yang tidak akan mungkin mengerti jika aku jelaskan”
“nde..
aku mengerti. Kau akan menungguku untuk pulang kembali kekorea bersama,
Jin-sshi kau tidak boleh melupakan diriku ya setelah hubungan kita berkahir”
“kau
akan menjadi teman terbaiku Jungkook-ah” mereka berdua tersenyum setelah
pembicaraan yang cukup menegangkan antara kedua belah pihak. Tapi semua itu
sudah berhasil diselesaikan dengan fikiran tenang. Jungkook semakin hari
semakin cantik walaupun dirinya harus membutuhkan waktu untuk menumbuhkan
rambutnya yang rontok karena kanker. Tapi bagi Jin namja itu akan tetap selalu
cantik dengan sikapnya yang semakin dewasa. Jung Ho Seok dan Hal-abeoji masuk
kedalam kamar setelah diizinkan Jungkook. Mereka mulai membicarakan hal-hal
mengenai kesembuhan Jungkook. Dan dalam perayaan kesembuhannya namja cantik itu
mulai menyinggung tentang kepindahannya kekorea pada hal-abeoji. Hal-abeoji
tentu saja sedikit menentang kepindahannya karena dulu Jungkook tidak dapat
sembuh dan memiliki banyak tekanan disana.
“baru
saja kau sembuh kenapa sekarang berniat pindah lagi kekorea Jungkook-ah?” tanya
Jung Ho Seok yang sesekali melihat Jin yang diam.
“aku
ingin bermain disana lagi, bukankah Hal-eboji tau bahwa aku sudah bersih dari
kankerku. Jadi kenapa harus melarangku untuk kembali kesana. Aku sudah memiliki
banyak teman-teman disana Hal-abeoji, aku mohon izinkan aku kembali kesana”
Jungkook meminta dengan wajah memelas pada namja tua yang berada disampingnya.
Jeon Jihyun hanya diam tidak mengemonetari keinginan cucunya. Jung Ho Seok pun
bicara “aku yakin tuan Jihyun bukannya melarangmu untuk kekorea, tapi kau butuh
pengobatan disini sampai benar-benar diizinkan untuk pergi. Lagipula bukankah
lebih baik tinggal disini. Amerika negara yang cukup tenang dan menyenangkan,
banyak tempat juga yang belum kau kunjungi dulu kan.”
“aniyo
Jung Ho Seok. Aku ingin kita kembali kesana, karena aku merindukan suasana
disana” jelas Jungkook. Jihyun duduk diranjang Jungkook dan membelai pipi putih
cucunya, “Jungkook-ah sebenarnya Hal-abeoji harus bekerja disini. Dan tidak
bisa meninggalkannya untuk sementara waktu, jadi bisakah kau menahan
keinginanmu untuk beberapa tahun kedepan. Hal-abeoji hanya tidak ingin terjadi
apa-apa pada dirimu”
“Hal-abeoji
tidak usah khawatir. Aku memiliki Jung Ho Seok yang akan selalu menjagaku,
bisakah aku pergi kembali kekorea?”
“Jung
Ho Seok?” bingung Jihyun saat mendapati nama itu dalam kalimat Jungkook.
“bukankah kau memiliki Jin?” tanyanya agar menghapus rasa bingungnya. Jungkook
tersenyum kearah Jin dan langsung menatap Jung Ho Seok. “aku sudah mengakhiri
hubunganku dengan Jin-sshi, dan aku berharap selama aku tidak memiliki namjachingu
yang bisa menjagaku. Jung Ho Seok mau menjagaku” wajah Jung Ho Seok sedikit
memerah ketika dirinya diminta untuk selalu menjaga Jungkook. “itupun jika Jung
Ho Seok tidak menolak untuk pergi bersamaku dan meninggalkan hal-abeoji
sementara”
“tentu
saja aku tidak menolak!” ceplos Jung Ho Seok lalu menutup mulutnya reflek dengan kedua tangannya. Dirinya melirik kearah hal-abeoji yang tertawa
saat mendengar ceplosan dari dirinya yang ikut dengan Jihyun cukup lama. Namja
tua itu mengangguk, “baiklah jika kau menginginkan dirimu untuk dijaga Jung Ho
Seok, dan namja itu tidak akan menolaknya juga. Aku harus bilang apa? tapi kau
harus tetap ikut prosedur rumah sakit terlebih dahulu. Jika dokter mengizinkan baru
kau bisa kembali. Lalu..” Jihyun beralih ke Jin yang terdiam sedari tadi
memperhatikan “lalu bagaimana denganmu Jin? Apa kau juga akan ikut dengan
mereka kembali kekorea”
“nde
aku akan kembali kekorea untuk menjemput seseorang, lalu mengajaknya kesini
untuk menemaniku selama aku kuliah di Amerika”
“seseorang?”
tanya Jihyun kembali. Dan dibalas anggukan dengan senyum tipis Jin. “baiklah
jika keinginan kalian kembali kekorea. Hal-abeoji hanya akan mendoakan
keberangkatan kalian dari sini, aku minta pada kalian untuk menjaga Jungkook
selama aku tidak disana” perintah Jihyun dengan menatap wajah cantik Jungkook
yang sangat ceria.
“terimakasih
hal-abeoji” Jungkook langsung memeluk Jihyun dengan perasaan senang. “aku
berjanji akan menjaga diriku sebaik mungkin disana”
“kau
hanya diperbolehkan pergi jika dokter telah izinkan. Arraso?” namja tua itu
kembali dapat pelukan dari cucunya. “nde Hal-abeoji” ciuman Jungkook mendarat
dipipi keriput yang dimiliki namja tua itu.
Setelah
beberapa bulan masa pemulihan, sebagian rambut Jungkook telah tumbuh. Jin dan
Jung Ho Seok saling tersenyum akibat semangat yang diberikan Jungkook untuk
kesembuhannya sendiri. Jung Ho Seok sekarang telah menyandang status sebagai
kekasih Jungkook, dan Jin menerima itu dengan senang hati. Rasanya seperti
mimpi bagi Jung Ho Seok karena telah menjalin hubungan dengan namja yang selama
ini hanya berstatus majikannya. Jungkook tidak keberatan dengan status awal
yang Jung Ho Seok dapatkan. Yang terpenting namja itu telah mencintai dirinya
apa adanya dengan bersabar menemani dirinya dalam masa sesulit Jungkook
sekarang. Jungkook yang berada di dalam ruangan pemulihan melihat Jin dan Jung
Ho Seok yang sedang memperhatikan dari luar. Namja cantik itu memberikan
lambaian pada keduanya. Dan mereka langsung membalas agar namja cantik itu
tetap semangat.
Jung
Ho Seok melamun sejenak dengan membayangkan pikiran buruknya dulu tentang Jin.
Dengan sedikit perasaan tidak enak dirinya meminta maaf pada namja
disampingnya, “maafkan aku karena sebelumnya berfikiran jahat tentangmu”
“apa
yang kau fikirkan tentangku? Apa kau berfikir betapa jahatnya aku karena telah
mengkhianti Jungkook dan menyukai namja lain selain dirinya?” lirikan
mengintimidasi diberikan Jin pada namja disampingnya, “itu adalah perasaan
cintamu yang tidak ingin membuat Jungkook disakiti oleh siapapun. Padahal
dirimu sendiri bisa menjanjikan kebahagian pada dirinya”
Jung
Ho Seok berdengus kesal, “kau itu namja sok ya?”
“sekarang
kau sudah memiliki kewajiban itu untuk membuat Jungkook bahagia. Tepatilah itu
semua”
“tanpa
kau mengatakannya. Aku pasti melakukan itu, sebaliknya aku titip Jimin padamu.
Aku adalah teman kecilnya yang sempat menyukai namja manis itu. sangat kecil
dunia ini hingga mempertemukan kita semua dalam keadaan seperti ini”
“kau
berteman dengan Jimin semasa kecil, berarti kau berteman juga dengan hyung
posesif namja itu. apa menurutmu aku mendapatkan kesempatan untuk mengambil
hati hyungnya sebelum mendekati dongsaengnya?”
“aku
rasa sudah. Kau sudah mendapatkan hati hyungnya” kata-kata Jung Ho Seok tanpa
memandang Jin terlihat begitu serius. Namun Jin tidak bisa mengambil rasa
percaya diri lebih jauh sebelum mendapatkan bukti dari pertemuan nanti
dengannya. Jungkook telah selesai menjalani masa pemulihannya. Namja cantik itu
sudah bisa menggerakan beberapa bagian tubuhnya, sesekali tubuhnya bisa berdiri
normal dengan pemulihan yang telah dilakukannya selama beberapa bulan ini.
Sudah hampir 3 tahun Jungkook berada di Amerika dan sepertinya sekarang
waktunya dia kembali kekorea.
Dokter
yang menangani Jungkook telah mengizinkan namja cantik itu untuk kembali
kenegara asalnya. Karena proses pemulihan telah semua dilaksanakan Jungkook
dengan hasil yang cukup memuaskan dirinya. Jung Ho Seok membantu Jungkook untuk
berjalan secara hati-hati. Dan namja cantik itu sangat terbantu akan kehadiran
Jung Ho Seok disampingnya. Jin hanya membantu sesaat jika memang dibutuhkan.
“aku seperti hewan pengganggu disini” sindirnya menyadarkan 2 namja yang sedang
asik merangkul satu dengan yang lain. Jungkook dan Jung Ho Seok tertawa. Dan
membiarkan Jin terus menyindirnya hingga sampai pada kamar rawat Jungkook.
Malam
harinya Jung Ho Seok membeli tiket pesawat menuju Korea dengan senyuman
tampannya. Lalu kembali kerumah sakit menemukan Jungkook telah tertidur dan Jin
tidur disofa rumah sakit. wajah namja cantik itu benar-benar dikaguminya, Jung
Ho Seok memasuki ruangan itu secara diam-diam agar tidak membangunkan keduanya
yang sedang tertidur. Tangannya merapihkan selimut yang menutupi kekasihnya
agar tidak ada sela udara dingin masuk untuk mengganggu mimpi indah Jungkook.
Melihat bibir kecil Jungkook membuat wajah Jung Ho Seok mendekatinya untuk
merasakan rasa manis yang terdapat dalam bibir kekasihnya. Bibir kecil Jung Ho
Seok menempel pada bibir kecil Jungkook, rasa manis itu mulai masuk kedalam
sela-sela lubang bibir Ho Seok. Dirinya ingin merasakan lebih rasa manis itu
dan mendorong lidahnya untuk masuk lebih jauh kedalam bibir kecil Jungkook.
Mereka berciuman dalam kegelapan ditemani sinar bulan yang masuk kedalam
ruangan lewat jendela yang belum sempat ditutup. Jungkook membuka kedua matanya
dan menatap mata Jung Ho Seok yang begitu dekat dengan dirinya. Ciuman yang
diberikan begitu lembut agar tidak mengusik sang pemilik bibir manis yang
sedang diganggunya. Jungkook membalas perlakuan Jung Ho Seok dalam keadaan
wajah memerah setiap detiknya. Dirinya akan sangat malu jika Jin yang sedang
tertidur terbangun dan memandang kejadian yang seharusnya tidak dilihat.
Sebenarnya
sejak awal Jin memang tidak bisa tertidur, dan terus berpura-pura tidur agar
tidak mengusik keromantisan 2 namja yang baru saja menjalin hubungan. Mungkin
dirinya bisa melakukan itu jika bertemu dengan Jimin nantinya. Wajah Jimin
selalu menghiasi fikirannya dan membuat kegelisahan yang tidak tertahankan.
“aku merindukanmu Park Jimin” bisiknya dalam hati agar tidak terdengar. Namja
tampan itupun tertidur dan berharap waktu bisa terus berputar dengan cepat agar
pertemuannya dengan Jimin bisa segera dilakukan.


Saran buat adminnya, nih. Jadiin novel aja... terbitin sendiri buat jadi novel pribadi. Bagus, min! B)
ReplyDeletewaadduuh jadiin novel ekek~ ini hanya sekedarr iseeng chinguu>..< lagian cerita Fujoshii mana bisa di publik:D
Delete