BOY IN LUV JINJIMIN VER. [ HOPEKOOK ] Special Edition
-
JEON JOON KOOK A.K.A JUNGKOOK
-
JUNG HO SEOK A.K.A JHOPE
Cerita
ini akan lebih mudah dimengerti jika sudah membaca BOY IN LUV JINJIMIN VER.
Cast bukanlah milik Author. Tapi milik Big Hit Entertaiment, Cast member dari
boyband BANGTAN BOYS alias BTS. Dengan fansclub bernama ARMY. Author salah
satunya. Author berharap kalian menyukai cerita cinta HOPEKOOK ini yang menurut
Author cukup serasi jika di Shipperkan :D hanya pendapat Fujoshi Author,
selebihnya dibebaskan untuk meng-shipperin siapa aja dimember BANGTAN. Karena
BANGTAN adalah ARMY. ARMY a dalah BANGTAN.
Jungkook
duduk dikursi roda miliknya sendirian menunggu kedatangan Jin pulang dari
Universitasnya. Jaraknya memang tidak jauh karena Rumah sakit yang dipilih
Jungkook harus berdekatan dengan Universitas dimana Jin mengambil pendidikan
lanjutannya. Tangannya menggenggam sebuah liontin yang telah menjadi saksi
hubungan mereka selama 4 tahun lamanya. Pandangannya sangat terganggu dengan
embun yang menutupi jendela agar dapat melihat kedatangan Jin dari balik
gerbang rumah sakit. dengan memaksakan tubuhnya, Jungkook berusaha untuk
menggapai jendela itu dan menghapus embun yang berada di jendela. Sebenarnya
Jungkook bisa mendekatkan kursi rodanya lewat pengaturan yang berada dikendali
tangannya. Tetapi dia jengah dan meyakinkan dirinya untuk dapat berdiri. Jung
Ho Seok yang baru saja datang tentu saja kaget karena Jungkook hampir saja
jatuh dari kursi rodanya.
“apa
yang kau lakukan?” Jungkook yang jatuh dipelukan Jung Ho Seok segera duduk
kembali kekursi roda dengan dibantu pengawalnya itu. “kau fikir dokter
mengizinkanmu untuk memaksakan diri? berhentilah seperti itu Jungkook-ah. Ada
waktunya untuk kau kembali berdiri nanti”
“aku..tidak..akan..hi..dup..lama..setidak..nya..
aku..ha..nya ingin...men..coba” wajah Jungkook tertunduk mengalihkan
pandangannya dari mata Jung Ho Seok yang mengintimidasi dirinya. Dagu Jungkook
diangkat agar wajah dan mata cantiknya menangkap mata Jung Ho Seok. Putih.
Hanya warna putih yang dapat Ho Seok lihat dari wajah cantiknya yang sebelumnya
penuh dengan keceriaan. Pipi Jungkook disentuh dan itu terasa sangat dingin.
Jung Ho Seok langsung mengambil selimut yang tergeletak ditempat tidur
Jungkook. Tetapi entah kenapa suhu dingin itu tidak mau pergi. Segera namja itu
mengambil selimut dilemari rumah sakit yang disediakan didalamnya selimut
tambahan serta pakaian menginap untuk pasien. Jung Ho Seok mengambil semua
selimut agar dapat menghangatkan tubuh Jungkook yang terasa dingin. Tidak ada
yang berubah. Jung Ho Seok baru ingat tentang vonis yang telah didapatkan
Jungkook di rumah sakit Korea. Data kesehatan milik majikannya itu menyatakan
bahwa Jungkook sudah tidak dapat diselamatkan akibat penyebaran kanker yang
telah sampai pada seluruh sarafnya dan memungkinkan untuk menyebar kebagian
yang terpenting di Organ tubuhnya. Jungkook hanya tertawa kecil ketika
pengawalnya itu memeluk tubuh dinginnya yang dirinya sendiri tidak merasakan
suhu apa-apa. “andwe!! andweeee!” teriaknya dengan terus mengusap-ngusap
tubuhnya pada tubuh Jungkook agar menciptakan kehangatan.
“kau...ja..ngan..seper..ti..ini..Jung..Ho..seok..ji..ka..Jin..sshi..Me...lihatnya..kau..akan..ter..kena..ama..rah..nya”
senyumnya dengan membalas pelukan Jung Ho Seok yang berada dibelakang tubuhnya. Jungkook mendengar tangisan. Walaupun terdengar jauh tapi Jungkook yakin bahwa
tangisan itu berasal dari Jung Ho Seok yang sebenarnya berada dekat dengannya.
dengan terus menggenggam liontin yang pernah diberikan Jin, Jungkook mulai
mengelus setiap helaian pengawalnya yang terus saja menangisi dirinya. Berharap
Jung Ho Seok dapat tenang setelah diperlakukan seperti itu.
“bukan..kah..Jin..sshi..seharus..nya..su..dah...pu..lang?...ke..mana..ya..dia?”pertanyaannya
membuat namja yang memeluknya mengendurkan kegiatannya. Sebenarnya sedari tadi
Jin telah berada diambang pintu kamar rawat Jungkook. Langkahnya tertahan
karena melihat Jung Ho Seok berada didalam. Jin tidak berniat untuk mengusik
rasa rindu yang Jung Ho Seok rasakan pada Jungkook. Dan akhirnya Jin hanya bisa
menunggu diambang pintu kamar rawat Jungkook. Dalam ingatannya sebelum pergi
kekorea. Jin hanya mendengar bahwa vonis telah dijatuhkan pada namja cantik itu
yang telah menjalin hubungan dengannya selama 4 tahun. Seandainya diberikan
kesempatan Jin sangat mau menggantikan posisi Jungkook untuk menebus rasa
bersalahnya. Namja tinggi itu mengacak rambutnya yang sebelumnya ditata rapih.
Waktu
terus berlalu dan Jung Ho Seokpun telah keluar dari kamar rawat Jungkook.
Menemukan sosok namja yang tidak asing lagi untuknya sedang berdiri disamping
pintu kamar rawat Jungkook. Jung Ho Seok mengerti bahwa Jin sepertinya sudah
cukup lama berada diposisinya sekarang. Tanpa basa-basi namja yang beru saja
keluar itupun pergi tanpa berkata apa-apa pada Jin yang hanya meliriknya. Jin
masuk menggantikan Jung Ho Seok yang sudah berjam-jam menemani Jungkook selama
kepergiannya. Namja cantik itu sedang tertidur. Itu semua karena obat yang
sudah waktunya diminum memberikan effect tidur padanya. Jin meletakan tas
miliknya kesofa yang berada tidak jauh dari tempat tidur Jungkook. Sebuah
liontin masih digenggam Jungkook walaupun dirinya telah tertidur. Jin
merapihkan selimut yang tidak sempurna menutupi tubuh kurus Jungkook. Wajahnya
putih sempurna dan beberapa jam lagi vonis itu akan terjadi. Mungkinkah
Jungkook benar-benar akan meninggalkan dirinya untuk selamanya. Sejak dari
kemarin hal-abeoji tidak bisa menatap wajah pucat cucunya terus-menerus dan
menangis diluar melihat kondisi Jungkook yang masih tidak memberikan
perkembangan yang sebentar lagi vonisnya akan terjadi. “Jungkook-ah..” Jin
mendekatkan bisikannya agar terdengar ditelinganya, “kau tau.. tuhan
menciptakanmu untuk terus bersama seseorang yang selalu menemanimu sampai
sekarang. Dan kau tau itu siapa? Kau mengenalnya bukan. Kau merasakan apa yang
aku fikirkan tentang namja itu” suara Jin sangat lembut dengan sesekali
menghapus seraknya dari suaranya. “aku yakin kau mau bertahan hidup untuknya
karena kau akan menyesalinya jika membiarkan namja itu terus menerus menangisi
dirimu. Kau ingin berjuang untuknya bukan? Bangunlah dan katakan pada namja itu
bahwa kau sangat berterimakasih atas kehadirannya untuk menemanimu”
“Jin-sshi..”
suara Jungkook terdengar dan telah membuka kedua matanya lalu memandang namja
yang sedari tadi membisiki seperti suara hati baginya. “aku...ingin..hi..dup”
Jungkook memperdengarkan suara yang hampir normal.
“nde.
Kau memang harus hidup. Kau akan menjalani semua bersama-sama dengan namja itu
kan?” Jungkook mengangguk dengan sedikit tangisan yang tertahan dikedua matanya.
Air matanya ditumpahkan saat itu juga. Dan Jungkook benar-benar tidak mau untuk
pasrah lagi setelah mendengar suara hati Jin yang terdengar menyemangatinya.
Jungkook menggenggam erat liontin yang diletakan tepat dihatinya.
“aku..tidak..mau..mati..Jin-sshi. Aku tidak mau mati” ucapan itu semakin normal
dan Jin tersenyum untuk itu semua. Langit malam menemani setiap tangisan
Jungkook yang penuh harap. Hembusan angin yang meniupi serpihan-serpihan putih
kini berjatuhan dari langit. Sangat indah. Sama seperti Jungkook dalam ingatan
Jung Ho Seok. Jung Ho Seok bersamaan mengeluarkan air mata yang setiap
tetesannya mengharapkan waktu berhenti agar tidak ada hari esok. Dilain tempat
Hal-abeoji memeluk foto cucunya dalam tangisan yang membuat tubuh tuanya kelelahan.
Dengan infus terpasang disalah satu tangannya untuk memberi makan dirinya yang
malas untuk beranjak dalam ruangannya. Hal-abeoji sudah sudah seharian menangis
tanpa hentinya, maid dan beberapa pelayan hanya diam menemani majikannya itu
dari depan pintu ruangannya. “Jungkookku pasti akan selamat. Dan besok dia akan
kembali berteriak padaku mengatakan bahwa dirinya telah sehat. Itu pasti benar”
Hal-abeoji memeluk terus foto Jungkook yang berusia 5 tahun yang tersenyum
lebar sangat manis.
Dan
hari esokpun telah tiba, tidak ada satupun yang tertidur hingga matahari
bersinar menyinari California, Amerika Serikat. Jin yang sudah sejak semalam
menemani Jungkook menangis masih membuka matanya hingga pukul 7 pagi. Matahari
telah keluar dan memberikan sedikit kehangatan. Mencairkan setiap salju yang
berserakan ditaman rumah sakit. tangan Jin masih setia merengkuh tangan
Jungkook yang sudah tidak membalas genggaman itu. Jin tersenyum mengingat bahwa
Jungkook tertidur dengan pesona cantiknya. Sudah jam 7 pagi tapi Jin tidak
berniat membangunkan Jungkook yang sepertinya baru bisa tidur beberapa jam lalu
setelah menangis. Jung Ho Seok membuka pintu kamar rawat Jungkook dengan penuh
air mata yang membekas. Matanya lebam serta area kantung mata sangat terlihat
menghitam akibat begadang yang terus-menerus dilakukan Jung Ho Seok. Namja itu
berjalan perlahan dan mengelus pipi Jungkook yang masih saja memejamkan kedua
matanya. “Jungkook-ah?” Jung Ho Seok memiringkan kepalanya, berharap suaranya
didengar. Beberapa goyangan diberikan Jung Ho Seok namun tidak ada respon dari
Jungkook. Teriakanpun dilakukan hingga terdengar sampai luar ruangan.
“Jungkook-aaah!” namja itu memeluk wajah Jungkook agar masuk kedalam dekapan
dada bidangnya yang bisa menghangatkan tubuh dingin Jungkook. Jin masih terdiam
memperhatikan tangisan yang tidak lagi terbendung pada Jung Ho Seok yang sudah
sangat lama menganggumi Jungkook. Hal-abeoji pun datang setelah beberapa menit
Jung Ho Seok berteriakan tidak karuan untuk membangunkan Jungkook. Dengan sopan
Jung Ho Seok membaringkan kembali kepala Jungkook yang dipeluknya agar
Hal-abeoji bisa memandangi wajah cucunya untuk terakhir kalinya. Tubuh tua itu
dibantu beberapa pelayan agar tidak ambruk saat mendekati Jungkook yang telah
tidak merespon. Sentuhan Hal-abeoji membuat Jin dan Jung Ho Seok tidak sanggup
melihatnya lagi. Mereka memutuskan untuk keluar. Membiarkan Hal-abeoji untuk
meluapkan kesedihan tanpa ada yang memperhatikan.
Hal-abeoji
menundukan kepalanya agar dapat mencium seluruh wajah Jungkook yang sudah
melekat dihatinya cukup lama. Jungkook ditinggalkan kedua orang tuanya yang
telah bercerai namun tidak ada satupun yang dapat dihubungi hanya untuk
mengabarkan Jungkook sakit. sudah bertahun-tahun Jungkook ditinggalkan pada
Hal-abeoji tanpa pemberitaan kemana dan dimana anak dan menantunya itu pergi
berbisnis. Yang hal-abeoji yakini bahwa masa tuanya begitu sempurna akan
kehadiran Jeon Joon Kook cucu dari Jeon Jihyun. “kau bukanlah namja malang. Kau
adalah namja yang sangat ceria, kuat, dan selalu membuatku bangga akan prestasi
yang kau berikan. Terimakasih sudah menjadi cucu kesayanganku Jungkook-ah.
Hal-abeoji sudah merelakanmu agar kau tidak kesakitan lagi” Jihyun tidak mau
berlama-lama dan membiarkan Cucunya itu terhalang dalam perjalanannya menuju
surga. Namja tua itu beranjak dan hendak memanggil Jung Ho Seok serta Jin yang
menunggu diluar. Tapi kepergiannya ditahan tangan Jungkook yang membuat dirinya
tersentak kaget. “Jungkook-ah?!!” teriakan hal-abeoji yang terdengar seperti
memanggil, memberikan dorongan pada Jung Ho Seok dan Jin untuk segera menerobos
pintu kamar Jungkook. Dan terlihatlah bahwa namja cantik itu masih hidup dengan
kedua matanya yang masih terbuka.
“Jungkook-ah”
Jung Ho Seok ikut mengambil bagian memeluk Jungkook setelah Hal-abeoji
melepaskan pelukannya pada Jungkook. Jin sangat senang bahwa Jungkook
benar-benar mendengarkan bisikannya agar memiliki keyakinan untuk melawan
penyakitnya. Dan sekarang terbukti bahwa Jungkook bisa melawan masa vonisnya.
Hal-abeoji berlari keruangan dokter untuk menanyakan kebenaran akan vonisnya
yang diberikan. Jung Ho Seok yang masih belum melepas pelukannya pada Jungkook
mendengar deheman seseorang yang sedari tadi hanya diam.
“maafkan
aku” gumamnya menyembunyikan semu merah dipipinya karena malu. Jungkook
tersenyum dan menyindir Jin yang tidak ikut memeluknya.
“kau..tidak..memeluk..ku..juga..Jin-sshi?” Jung Ho Seok memundurkan diri
digantikan Jin yang memeluk Jungkook untuk memberikan sambutan selamat pagi.
“selamat pagi Jungkook-ah”
“nde.
Selamat pagi Jin-sshi dan.. Jung Ho Seok” namja yang dipanggilnya itu tersenyum
penuh haru. Kesadaran Jungkook benar-benar memberikan arti pada hidup Jung Ho
Seok. “kau..” suara Jung Ho Seok berhenti sebentar. “kenapa kau tidak bangun
saat aku membangunkanmu. Kenapa kau membuat semuanya khawatir, membuat semuanya
ketakutan”
“aku..tidak..tau..tapi..aku..ingin..tetap..hidup..hanya..itu..keyakinan..ku..mengingat..bahwa..hari..ini..vonis..yang..telah..dokter..berikan..padaku”
“aniyo.
Tidak ada vonis sekarang untukmu. Tidak ada yang menjatuhkan vonis apapun
padamu sekarang, besok, atau kapanpun. Tidak akan ada! Aku akan menepis semua
yang dikatakan dokter, suster, bahkan profesor sekalipun. Aku tidak akan
mempercayai, karena sekarang kau telah kembali pada kami semua Jungkook-ah”
“bisakah..aku..mendapatkan..pelukan..dari..kalian..berdua?”
minta Jungkook pada kedua namja yang berada didalam ruangannya. Jin membantu
Jungkook untuk bengun dari tidurnya dan Jung Ho Seok juga ikut membantunya.
Mereka bertiga berpelukan menyalurkan rasa bahagia yang diberikan pada
kesempatan hidup Jungkook. Dokter mengambil beberapa sampel darah Jungkook
untuk test dilaboratorium tentang kepastian kanker Jungkook. Berulangkali
dilakukan uji test, berhari-hari melakukan pengulangan test semua hasil
menyatakan negative pada Kanker Jungkook. Hal-abeoji yang mendapatkan kabar itu
menemui Jungkook dan memberikan kabar gembira itu pada Jung Ho Seok yang sudah
menemani Jungkook lama. Sedangkan Jin masih di Universitasnya untuk kuliah, dan
selama Jin tidak bisa menemani Jungkook. Jung Ho Seok lah yang menggantikannya.
Mereka berteriak-teriak kegirangan sambil melompat-lompat karena seminggu ini
dokter masih memberikan informasi positive akan kesehatan Jungkook. Dan tidak
lama kesenangan itu terhenti sementara untuk memberi tahukan pada Jin yang baru
saja datang, tentang Jungkook yang telah bersih dari Kankernya. Pandangan
Jungkook beralih seperti mengisyaratkan pada Jung Ho Seok dan Hal-abeoji untuk
membiarkan dirinya berbicara dengan Jin. Tanpa disuruh dengan ucapan 2 namja
itu segera mengambil langkah untuk pergi menutup pintu kamar rawat dari luar. Cukup
lama Jin dan Jungkook berbicara, itu tidak penting. Hatinya sudah sangat lega
karena Jungkook telah sehat kembali dengan test lab yang memberikan hasil
terbaik. Hal-abeoji menepuk pundak Jung Ho Seok, “sudah kuduga cucuku itu
memang sangat kuat bukan? Kanker saja dilawannya, aku akan selalu mendoakan
kesehatanya terus menerus. Aku berjanji untuk menjaganya, dan kau Jung Ho Seok
aku memintamu untuk mengambil bagian juga dalam menjaganya”
“aku
tidak bisa tuan. Sudah ada Jin, dan aku yakin namja itu bisa menjaga cucumu
sama seperti dirimu. Bagiku melihat Jungkook sehat sudah cukup membuatku
bahagia”
“aku
tau kau menyukai Jungkook, sudah berapa lama?” selidik Hal-abeoji dan
mendapatkan keraguan akan jawaban apa yang akan Jung Ho Seok berikan, agar
dirinya tidak mendapatkan amarah dari majikannya. “aku...tidak pernah..
memiliki perasaan seperti itu tuan.. tuan tenang saja”
“hentikan
menyembunyikan itu semua dariku Jung Ho Seok, aku adalah pemilik Host Club
terbesar dikorea. Bukankah sudah keahlianku membaca karakter wajah seorang
namja yang jujur atau tidak jujur akan perasaannya”
“tuann..
akuu”
“aku
tidak pernah menyalahkanmu mengapa memiliki perasaan seperti itu, seandainya
Jin tidak bisa memilih cucuku. Aku ingin kau yang menggantikan posisinya untuk
menjaga cucuku itu” Jung Ho Seok tersenyum manis tanpa merespon kembali karena
telah diizinkan untuk masuk kedalam ruang rawat Jungkook. Mereka berbicara
dengan perasaan lega, santai, bahagia, serta nyaman dan ringan dengan kondisi
Jungkook yang semakin stabil dalam pengobatannya. Pernyataan Jungkook yang
mengejutkan dalam pembicaraan santai mereka membuat semua tersentak bingung.
Jungkook menyatakan hubungan yang berakhir dirinya dengan Jin. Dan menginginkan
Jung Ho Seok untuk menemani pergi ke Korea. Hal-abeoji menanyakan dan dijawab
Jungkook tidak ragu lagi akan keputusannya yang telah mutlak. Jungkook
menginginkan hubungan lebih akan dirinya dengan pengawal yang selalu berada
disampingnya selama masa sulit dalam hidupnya berlangsung.
Hal-abeoji
mengizinkan mereka untuk kembali kekorea dengan syarat bahwa cucunya akan
dijaga seaman mungkin disana. Namja tua itu tidak bisa ikut kembali kekorea
karena ini adalah keputusan mendadak yang dibuat cucu kesayangannya itu. dan
syarat keduanya Jungkook hanya boleh pergi jika dokter sudah mengizinkan
dirinya untuk pergi. Untuk saat ini memang dokter tidak mengizinkan Jungkook
pergi. Kemoterapi untuk saraf yang terkena Kanker Jungkook harus segera
ditangani agar bisa kembali normal. Jungkook menyetujuinya dengan berusaha agar
tubuhnya bisa dapat normal seperti sedia kala.
Suatu
hari Jungkook terduduk dikursi roda menunggu Jung Ho Seok mengambil obatnya
yang tertinggal dikamar. Sudah lama sekali Jungkook tidak keluar rumah sakit,
bahkan untuk merasakan udara segar yang sebenarnya Jungkook tidak dapat merasakannya. Taman yang begitu luas dengan banyak pasien yang berjalan-jalan
untuk menyegarkan diri sama seperti Jungkook. Tidak disangka ada sebuah bola
yang menghampiri kursi rodanya. “Hyung bisakah kau melemparnya?” teriak namja
kecil itu dengan menggunakan bahasa inggris. jungkook yang memberikan jempol
kearah namja kecil itu mulai bergerak berusaha untuk mengambil bola yang
dimintanya. Tangannya sama sekali tidak
sampai karena merasa tidak enak namja kecil itu segera menghampiri
Jungkook yang masih saja berusaha. “maafkan aku hyung. Harusnya aku tau kau
sedang sakit” Jungkook merasa tidak enak juga, tidak dapat membantu padahal
semudah itu didekatnya. Setelah diteliti sepertinya anak kecil itu mengamati
wajah Jungkook, “ada apa?” tanyanya heran.
“hyung
apa berasal dari korea? Wajah hyung seperti orang korea”
“nde
aku memang orang Korea” mendengar Jungkook mengatakan dirinya orang Korea, anak
kecil itu langsung mengganti bahasanya dengan bahasa Korea. “jinjya? Aku juga
dari Korea hyung. Kalau begitu gunakan bahasa Korea saja”
“ndee
tentu saja” Jungkook tersenyum dan mulai menemukan keheningan dengan senyuman
yang diberikan namja kecil yang asing untuknya.
“maafkan
aku” suara Jungkook pelan terdengar. Namja kecil itu hanya tersenyum lebar
sambil mengambil bola yang berada dekat dibawah kaki Jungkook. “tidak apa-apa
hyung. Lagipula hyung kan lagi sakit, tapi sepertinya hyung tidak terlalu
terlihat sakit. pasti sudah akan sembuh,iyakan?” tanya namja kecil itu
antusias.
“bagaimana
kau tau aku ini sakit? dan aku ini akan sembuh?”
“ini
kan rumah sakit jika hyung tidak sakit tidak mungkin disini. Kenapa aku
mengatakan hyung akan sembuh karena hyung terus berusaha mengambil bolaku
dengan keinginan dapat membantuku. Itu tandanya hyung akan sembuh. Karena hyung
berhasil menahan rasa sakit saat mengambil bolaku yang berada dibawah. Bukankah
sakit hyung saat membungkuk seperti itu? aku lihat dari wajah hyung”
“kau
namja kecil yang penuh semangat, kenapa kau berada disini? Apa ada keluargamu
yang sakit?”
“aniyo.
Aku kesini hanya ingin mengenang Appaku. Dia meninggal dirumah sakit Korea,
memang bukan rumah sakit ini. Tapi aku merasa setiap melihat rumah sakit aku
seperti bertemu dengan Appaku”
“lalu
Eommamu kemana? Kau di Amerika dengan siapa?”
“aku
dijual Eommaku untuk biaya hutang hyung” suara namja kecil itu membuat Jungkook
membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. “aku tidak tau apa-apa saat bangun
dari tidur aku berada di tempat ini hhaa----chiiii!” namja kecil itu kemasukan
suhu dingin diarea hidunganya dan mengakibatkan dirinya bersin. “sepertinya udara semakin
dingin, aku harus pergi”
“tunggu”
Jungkook menahan kepergian namja kecil itu, lalu menggerakan kursi rodanya
untuk mendekati posisinya. “aku ingin kau menyimpan ini” Jungkook melilitkan
syal kesukaannya pada leher kecil dari namja mungil yang ditemuinya.
“andwe.
ini kan punya hyung. Jika hyung memberikan ini bagaimana dengan hyung?”
“kau
mengatakan jika aku akan sehat bukan? Kau mengatakan jika aku akan sembuh juga,
lalu apa salahnya aku memberikan itu pada namja yang sudah mau mendoakanku.
Padahal kita tidak saling mengenal”
“Annyeonghaseyo.
Kane Dennis imnida. Hyung?”
“Jeon
Joon Kook imnida. Kau bisa memanggilku Jungkook jika kita bertemu lagi” setelah
menyelesaikan pembicaraan mereka, Kane memohon izin untuk pergi dengan membawa
syal milik Jungkook. Jungkook sama sekali tidak keberatan menyerahkan syal
kesukaannya pada namja kecil yang sangat mungil itu mungkin setelah kembali
kekorea dirinya akan merindukan sosok mungilnya. Tidak lama kepergiaan Kane,
Jung Ho Seok dengan membawa obat yang diminta Jungkook. “maafkan aku jika
membuatmu lama menunggu”
“nde..
kau memang selalu terlambat, jadi aku sudah terbiasa dengan sikapmu Jung Ho
Seok” sindirnya, dan wajah Jung Ho Seok berubah cemberut. Perasaan Jung Ho Seok
sedikit ada perbedaan pada pakaian yang dikenakan Jungkook. Dan yang
disadarinya ada syal kesukaan yang hilang dari leher Jungkook. “kemana syalmu?”
“aku
berikan pada namja kecil Jung Ho Seok” suaranya terdengar senang. Bukankah itu
berarti Jungkook telah kehilangan syal yang disukainya. Suhu dingin yang Jung
Ho Seok rasakan memberikan inisiatif dirinya untuk melepas Jaket miliknya dan
memberikan kehangatan lebih pada Jungkook. “kau mau apa? udara sedingin ini kau
malah melepas—” Jungkook berhenti bicara saat Jaket telah diletakan pada kedua
pundaknya. Aroma Jung Ho Seok tercium pada hidung Jungkook. Rasanya sangat enak
untuk terus dinikmati dalam penciumannya. Tapi Jungkook sadar bahwa Jung Ho
Seok sudah tidak memiliki penghangat pada tubuhnya selain jaket tipis yang
dikenakan bagian dalam sebelum Jaket tebalnya. Jungkook melepaskan kehangatan
jaket milik Jung Ho Seok dan meminta namja itu untuk mengenakannya kembali.
“aku
tidak apa Jungkook-ah, kau gunakan lagi ya.. aku mohon”
“kau
itu siapa aku Jung Ho Seok? Kenapa kau seperti pengawalku yang selalu saja
memohon. Kau tidak menganggapku?” sindir terus menerus Jungkook dengan sedikit
menjauhi kursi rodanya dari namja tinggi yang dibelakanginya. Jung Ho Seok
hanya belum terbiasa untuk mengatakan kalimat-kalimat romantis pada Jungkook.
Tapi jika terus perasaannya ragu mungkin akan menjadi penyesalan untuk Jung Ho
Seok nantinya. Jung Ho Seok mengejar Jungkook yang menjauhinya, dan menahan
kursi rodanya agar tidak semakin menjauhinya. “maafkan aku Jungkookie, kau
jangan marah lagi ya”
“kalau
tidak ingin aku marah. Aku minta kau untuk mengenakan jaketmu lagi. Lakukanlah”
“kau
tidak merasakan kedinginan? Bagaimana jika kita tidak—”
“Lakukan!”
perintah Jungkook, dan membuat Jung Ho Seok reflek langsung mengenakan kembali
jaketnya. Jungkook tersenyum. Menahan Jung Ho Seok untuk menutup kancingnya
sendiri. karena Jungkook ingin dirinya yang menutup kancing kekasihnya
sekarang. Jung Ho Seok merasakan wajahnya seperti terbakar, padahal suhu dingin
yang harus dirasakannya. Jungkook meminta untuk Jung Ho Seok berdiri
dibelakangnya dan itu dilakukan tanpa berfikir lagi. Kedua tangan Jung Ho Seok
ditarik agar memeluk lehernya dari belakang. “bukankah ini lebih hangat
dibandingkan syal yang kuberikan?”
Jung Ho Seok sudah tidak tahan lagi, wajahnya yang memerah sudah tidak dirinya perdulikan lagi. ingin rasanya mengecup bibir kecil yang dimiliki kekasihnya itu. dimusim salju San Fransisco Medical Center Amerika Serika, merekapun berbagi kehangatan lewat ciuman manis dan lembut. jungkook menikmati kehangatan dibagian dbibirnya yang dirasakan. dan sebaliknya Jung Ho Seok merasakan wajahnya sudah seperti tidak memiliki malu lagi untuk melakukan hal seperti itu ditempat umum. Jung Ho Seok tersenyum dan tertawa bersama dengan Jungkook yang masih mengunci tangannya untuk tetap memeluk kekasihnya.


Comments
Post a Comment