BOY IN LUV S2 Chapter 1 // JIN // JIMIN //



Note : Baca BOY IN LUV JINJIMIN VER, untuk mengetahui jalan cerita BOY IN LUV Season 2 


“apa yang terjadi?”


-


 “dimana aku?”


-


“kenapa begitu ramai?”


-



Sebuah mobil menabrak mobil lain yang sedang berhenti ditengah jalan. Dilihat dari kejadian sebelumnya mobil itu tidak bisa mengendalikan kecepatan akibat Rem yang rusak. Hingga sang pengemudi itu harus mengarahkan kemudinya asal dan membuat mobil itu melayang seperti terbang. Semua masyarakat yang melihat kejadian itu langsung mengevakuasi salah seorang yang terjepit dalam badan mobil yang terbalik. Wajahnya terlihat meringis kesakitan dengan sesekali bersuara seperti memanggil seseorang. beberapa orang kebingungan apakah ada orang lain lagi yang terlempar keluar mobil. karena masyarakat memperhatikan kaca mobil yang pecah dari depan.

Tidak lama ambulance datang dengan sirine yang menyadarkan para penolong korban kecelakaan. Perawat mengeluarkan tandu. Mengangkat tubuh yang berlumuran darah itu keatas tandu. Setelah memasukan korban kedalam ambulance. Ambulance itu segera pergi meninggalkan lokasi kejadian yang masih ramai dikerumuni masyarakat akibat penasaran. Kecelakaan itu mengakibatkan kemacetan cukup panjang di busan. Dan setiap mobil yang terjebak dalam perjalanan, mereka lebih memilih keluar untuk menyaksikan evakuasi korban dan mobil yang akan segera disingkirkan agar mereka bisa melanjutkan perjalanan.

Seorang anak kecil yang telah merasa bosan didalam mobil memutuskan untuk mengikuti orang-orang keluar dari mobil mereka. Kaki kecilnya melangkah kearah pinggir jalan agar bisa melihat dari posisi samping dimana mobil itu terbalik. Jalanan yang tinggi menyembunyikan lokasi sungai yang tertutupi beberapa pohon besar dipinggir jalan. Namja kecil itu tidak sengaja terpleset dan menjatuhkan permen lolipop miliknya. Pandangannya mendapati sosok tubuh namja yang pingsan hampir menyentuh air sungai. Tidak mengerti harus melakukan apa. namja kecil itu berlari kearah mobilnya berada untuk memberi tahu namja yang telah dianggapnya sebagai hyung.

“Hongbin hyung..hyung..” ucapnya tidak sabaran untuk dapat mengajak Hyungnya kepinggir jalan. Namja tinggi itu sadar akan panggilan dari namja kecilnya yang tergesa-gesa menariknya keluar. 

“waeyo Luhannie?” balasnya dengan malas.

 “hyungie ikut aku. Ada seseorang disana” dengan menunjuk-nunjuk suatu tempat yang ingin segera ditunjukan.Hongbin yang merasa malas tidak bergeming dari kursi kemudinya,“seseorang? tapi kita harus segera kembali keseoul setelah mobil derek memindahkan mobil didepan kita ini. Sebentar lagi selesai”

“tolong dia hyung.. sepertinya dia kesakitan” tidak mau kalah Luhan berusaha agar dapat mengajak Hongbin pergi bersamanya. Tidak henti-hentinya Luhan menggoyangkan tubuhnya yang sedang menunggu, karena merasa terusik namja itu pun mengalah dan melepaskan genggaman pada kemudinya. Dibuat penasaran sang namja kecil akhirnya Hongbin mengikuti kemana dirinya akan dibawa. Setibanya dipinggir jalan dan menyingkirkan beberapa pohon yang mengganggu langkahnya. Mata Hongbin menemukan sosok namja manis dengan kemeja putih bersimba darah hampir menyentuh air sungai. Mungkinkah jika namja ini korban lain yang terlempar keluar. Tidak tega meninggalkan namja ini  sendirian, Hongbin menggendong tubuh mungil itu tanpa bantuan siapa-siapa. Lalu membawanya kedalam mobil mereka. Beberapa masyarakat yang melihat korban lain sedang dibawa kedalam sebuah mobil, meminta Hongbin untuk segera membawanya ketempat ambulance yang sebelumnya mengantar temannya. namja tinggi itu mengerti lalu pergi meninggalkan kerumunan dengan kecepatan maksimal agar tidak ketinggalan jejak ambulance. Persimpangan jalan Hongbin terjebak lampu merah dan tidak bisa menerobosnya walaupun dirinya sangat ingin mengejar ambulance. Saat itulah Hongbin kehilangan ambulance yang dikejarnya.

“Hongbin hyung.. kita bawa kerumah sakit lain saja jika ambulancenya tidak ketemu. Kasian hyung ini merintih terus lalu—” Luhan yang sedang menjelaskan keadaan namja asing dipangkuannya mendengar suara yang terus menerus memanggil  nama seseorang.

“berhentilah membuatku bingung Luhannie! Aku berfikir sejenak rumah sakit yang terdekat dari sini,” kesalnya pada namja kecil yang sedari tadi membuat dirinya panik.

“apa yang hyung fikirkan?! Tanya saja orang. hyuuung ayo cepat pergi... dia mengeluarkan banyak darah” Luhan begitu khawatir dengan darah yang terus menerus keluar dari area kepala namja yang ditemukannya “hyung kita bawa kerumah sakit cepat!”. Hongbin yang ikutan cemas tidak bisa diam menggerakan bibirnya. Hongbin terus-menerus membaca doa untuk menenangkan dirinya. Berkali-kali dilihat Hongbin sepertinya mengaggumi wajah manis yang dimiliki namja yang ditolongnya. Tapi tidak ada waktu untuk berfikiran macam-macam terlebih lagi soal perasaan. Sesampainya dirumah sakit, beberapa perawat langsung mengambil bagian untuk memeriksa pasien yang sekarat akibat kecelakaan yang dialaminya. Selang oksigen diberikan oleh suster dan dikencangkan dibagian pengikatnya. Hongbin dan Luhan menunggu didepan ruang gawat darurat dengan rasa entah harus mengatakan apa. Tetapi suara bunyi ponselnya mengaggetkan tubuhnya hingga terlonjak dari kursi yang didudukinya. Jung Taek Woon a.k.a Leo tertera dilayar ponselnya.

“yeoboseyo?” jawab Hongbin.

“yaak! Kau dimana?! Aku sudah menunggumu ditempat yang kita janjikan!” suaranya berteriak disebrang telpon. Terdengar emosi. Mungkin lelah menunggu.

“hyung-ah, aku sepertinya tidak bisa mengantar Luhan ketempatmu sekarang. Aku sedikit mengalami masalah dalam perjalanan” jelas Hongbin pada namja yang memiliki hubungan darah dengan namja kecil yang sedang bersamanya. 

“waeyo? Apa yang terjadi?”

“ada kecelakaan yang menghalangiku untuk menemuimu sekarang ini, dan Luhan memintaku untuk membantu salah satu korban yang ketinggalan dibawa ambulance karena terlempar dari badan mobil. sekarang aku berada dirumah sakit untuk mengurusi administrasinya”

“jinjya?  kenapa kau tidak menghubungi keluarganya saja?” suara Leo terdengar Hongbin khawatir.

“aku juga ingin melakukan itu tapi sepertinya dia tidak membawa kartu nama atau apapun, bodohnya lagi aku tidak baca nama rumah sakit ambulance yang membawa temannya”

“kenapa kau begitu bodoh Seulki! Apa kau sudah memeriksanya dengan benar tentang tanda pengenalnya? kalau begitu kau dirumah sakit mana? Biar aku yang kesana dan membawa Luhan pergi. Kau tau kan istriku Xi Hwa sudah menunggu malaikat kecilnya” Hongbin menyebutkan lokasi dirinya berada sebelum pembicaraan ditelpon itu berakhir. Mengelus-eluskan rambut sang namja kecil yang sedang tertidur lelah karena terlalu lama menunggu. Luhan memang seorang malaikat kecil yang berhasil menemukan seseorang pingsan yang tidak diketahui orang lain selain dirinya.



-------------------



Ditempat lain beberapa namja berkumpul sambil menunggu kabar sang dokter yang sedang merawat seseorang diruang gawat darurat. Salah satunya masih saja setia menunggu pintu ruangan itu terbuka.
“gwenchana Jungkook-ah” Ho Seok mencoba menenangkan kekasihnya yang sedang sangat cemas memandangi seseorang yang berada di ruang gawat darurat. Mereka yang memandang keadaan Jin begitu mengkhawatirkan. Wajahnya sangat pucat dengan darah berlumuran, dan beberapa alat dokter telah menempel ditubuhnya. Tiba-tiba beberapa suster masuk dan memindahkan Jin. Jungkook langsung menjadi orang pertama yang menghampiri tubuh Jin yang dipindahkan menuju ruang operasi.

“Kim Seok Jin sadarlah! Aku mohhoon... Kim Seok Jin!” berusaha untuk mempercepat langkahnya hingga menyeimbangkan pada gerakan sang suster yang membawa Jin masuk kedalam Ruang operasi. Sesampainya di pintu Operasi, suster meminta Jungkook dan beberapa namja dibelakangnya untuk berhenti. Pintu Operasipun tertutup. Lampu merah berada di atas pintu ruang operasipun menyala. Rapmon memeluk MinYoongi dengan seorang namja kecil yang sedang digendong Yoongi. Namja kecil itu terlihat sangat takut jika terjadi sesuatu pada namja yang dirinya panggil “Appa” bisiknya kecil. Yoongi yang mendengar itu langsung mengelus helaian poni namja kecil itu yang mulai berkeringat karena khawatir. 

“apa Jimin sudah ditemukan?” tanya Yoongi pada Rapmon yang masih menunggu kabar dari para polisi yang masih mencari satu korban lagi. Mendapatkan pertanyaan itu tentu saja membuat Rapmon menggeleng pelan. Namja kecil itu langsung memberikan tatapan memelas dengan mencoba untuk menahan air matanya agar tidak berlinang. “Rapmon hyung, Eomma tidak ditemukan ya?” tanya nya lembut dengan sedikit isakan.

“aniyo.. Kim Minseok.. Eommamu akan segera ditemukan. Kau tenang saja” ucap Rapmon sambil mengacak rambut namja kecil yang dikenali anak angkat dari Jin dan Jimin. Yoongi juga mengelus Minseok “Minseok-ah kau tenang saja, Eommamu pasti akan kembali pulang. karena dia akan merindukanmu. Kau mengerti? Eommamu akan pulang sedikit terlambat” jelasnya untuk memberi pengertian.

“lalu Appa ku apa bisa kembali sadar? Kenapa Appa membuat semua khawatir? Kenapa Eomma juga tidak memberi kabar jika pulang terlambat? Kenapa semua seperti cemas? Yoongi hyung.. Appa dan Eomma baik-baik saja kan?”

Yoongi, Rapmon, Jung Ho Seok serta Jungkook yang mendengarnya merasa kasihan pada namja kecil dalam gendongan Min Yoongi. Namja kecil itu menggenggam pakaian yang dikenakan Yoongi dengan erat. Rapmon sadar dengan tatapan Yoongi yang sedikit meminta bantuan sang Kekasih. Rapmon segera mengambil alih tubuh Minseok dari tangan kekasihnya Min Yoongi “ayo kita beli Es Krim diluar Minseok-ah”.

“aniyo! Aku tidak mau meninggalkan Appa sendirian. Aku akan menunggu hingga Appa sadar!” pinta Minseok yang memberontak dalam dekapan Rapmon yang siap membawanya pergi menjauh dari ruangan Appanya. “hyunng! Aku tidak mau pergi!” tidak memperdulikan teriakan Minseok, Rapmon tetap melangkah pergi menjauhi ruangan Operasi. Yoongi memandang wajah Minseok yang mencoba untuk tetap tegar walaupun dirinya tau Eommanya (Jimin) entah kapan akan kembali.

Jung Ho Seok kembali fokus pada kekasihnya yang tertunduk menunggu kabar dari mantan kekasihnya itu. entah mengapa Ho Seok sedikit merasa iri pada rasa simpati kekasihnya itu pada mantan kekasihnya dulu. “kau tenang lah, tidak akan terjadi apa-apa pada Jin-sshi” Jung Ho Seok masih berusaha menenangkan Jungkook.

“bagaimana jika terjadi sesuatu pada Jin-sshi, Ho Seok-sshi? Bagaimana jika..” suara Jungkook kelu untuk terus dilanjutkan.“bagaimana apa?”

“aniyo.. aku hanya berfikir apa polisi belum bisa menemukan Jimin-sshi?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“belum ada kabar yang diterima Rapmon. Mungkin polisi belum berhasil menemukan Jimin dilokasi kecelakaan” Jungkook mengangguk mengerti dengan informasi yang Jung Ho Seok berikan. “apa perlu aku memberikan kabar ini pada Kim Taehyung? aku dengar sekarang namja itu sedang bekerja disebuah mini market” lanjut Jung Ho Seok bertanya pada Jungkook kembali.

“terserah kau” ucap Jungkook singkat sambil memegang salah satu telinganya menandakan dirinya begitu cemas hingga tidak mampu berfikir. Selama menjalin hubungan dengan Jungkook kebiasaan ini lah yang selalu Jung Ho Seok kenali jika kekasihnya tidak bisa tenang. Sudah 8 bulan lamanya setelah Jungkook terbebas dari kanker otak yang menguasai dirinya, hingga pada akhirnya setelah mengikuti masa kemoterapi. Entah mengapa penyakit itu hilang meninggalkan kebingungan serta keanehan dari dokter yang memeriksannya. Itu semua ketika Jungkook merelakan Jin untuk kembali kekorea dan menjalin hubungan dengan Park Jimin. Apakah mungkin Jungkook sebenarnya belum sepenuhnya merelakan Jin dengan Jimin? Ataukah? “...Seok-sshi.. Ho Seok-sshi..” panggilan Jungkook baru dirinya sadari setelah lama berfikir.

“nde? Waeyo?” Jungkook memberikan tatapan menyelidiknya pada kekasihnya yang tiba-tiba saja melamun.

“aniyo.. aku hanya aneh kenapa kau tiba-tiba saja melamun seperti itu”

Mereka menghentikan perbincangan dan kembali fokus pada Jin yang masih terbaring koma diruangan rawat.

Rapmon membawa Minseok agar menjauh dari ruangan rawat yang telah di anggapnya Appa. Masih hangat dalam ingatan Rapmon ketika Jimin menemukan namja kecil ini. Entah bagaimana mungkin 2 orang namja mengurus satu namja kecil yang sekarang telah menganggap mereka berdua orang tuanya. Terdengar aneh pertama kali tapi memang ini lah kebesaran cinta. Tidak perduli betapa anehnya dirimu menjalin hubungan dipandangan orang. Yang terpenting adalah kebahagian dari hubungan itu. sambil memikirkan kenangan masa lalu suara Rapmon terdengar lirih “aku mohon cepatlah sadar Jin” Rapmon mengusap seluruh wajahnya.

“Rapmon Hyungnim apa Appaku tidak akan sadar kembali? Apa Appaku akan seperti itu terus?” tanya Minseok polos pada namja yang lebih besar 2 kali lipat dari dirinya.

“kenapa kau berbicara begitu Minseok-ah? Bukankah sebaiknya kau berdoa agar Appamu kembali sadar besok pagi, dan bisa bermain bersama denganmu seperti biasa?”

“mungkin lebih baik Appa seperti itu”

Rapmon mengerutkan keningnya ketika mendapatkan ucapan aneh yang baru pertama kali didengarnya dari bibir kecil Kim Minseok. “Minseok-ah?apa maksudmu?”

“lebih baik Appa tidak mengetahui jika Eomma belum pulang, aku yakin itu akan membuat Appa lebih merasa tersakiti. Iya kan hyung?” fikiran Minseok ternyata lebih dewasa dibandingkan Rapmon yang usianya beda jauh dari namja kecil disampingnya itu. suara itu kembali Rapmon dengar “Hyungnim.. aku ingin eomma kembali sebelum Appa sadar. Dan bukankah sebaiknya begitu? Aku yakin jika nanti Appa sadar tanpa kehadiran eomma dia akan berkata sebaiknya aku harus mencarinya dan pergi dari rumah sakit tanpa memikirkan kondisinya. Appa dan Eomma selalu saja nekat dalam melakukan sesuatu”.

“kau tau banyak tentang orang tuamu ya Kim Minseok?” elusnya pelan pada kepala Minseok.

“semenjak Jimin Eomma mengangkatku sebagai anaknya, awalnya aku bingung kenapa 2 orang namja harus menjadi Appa dan Eommaku. Tapi selama beberapa hari tinggal bersama mereka, sungguh aku tidak bohong, aku sangat menyukai keberadaan mereka dalam hidupku. Mereka adalah orang tua yang sangat menyenangkan tidak ada yang mau mengalah. Bahkan ketika berubatan menjadi sosok Appa mereka harus berduel terlebih dulu untuk mendapatkan pekerjaan, yang lebih cepat dia yang menang. Kebetulan sekali Jimin eomma sangat tidak bisa mencari pekerjaan dan selalu banyak penolakan. Dan akhirnya dialah yang harus mengambil posisi eomma” tawanya memaksa, Rapmon sadari itu. “aku...aku... apa semua ini karena aku? Apa Appa dan Eomma seperti ini karena kehadiranku hyung?” tangisan pun mulai terjadil lagi. Minseok benar-benar tidak dapat menahan rasa sedihnya walau hanya sebentar.

“sshh...shh! apa yang kau katakan Minseok-ah!? Tidak mungkin ini semua karna mu.. kau itu adalah malaikat kecil mereka”

“buktinya Appa ku meninggal dan Eomma kandungku menjualku ke Amerika, Eomma mengatakan bahwa aku pembawa sial” mendengar itu Rapmon langsung segera memeluk Minseok. dirinya kebingungan ketika harus menghadapi setiap perkataan-perkataan Minseok yang seharusnya tidak diutarakan namja sekecil ini. Mungkin kah Minseok terlalu pintar hingga mengerti kondisi yang dialami setiap orang dewasa. Ataukah ini memang hanya perasaannya yang begitu terluka. Suara Minseok terus memanggil Jin serta Jimin dengan panggilan Appa dan Eomma.




-------------------



[ Kamar Rawat Jimin ]


Hongbin dan Luhan duduk manis disamping tempat tidur Jimin yang sedang tidak sadarkan diri. mereka sangat khawatir dengan kondisi yang sebelumnya begitu banyak mengeluarkan darah diarea kepala namja asing yang ditemukannya. Sekarang keadaan telah tenang. Darahnya sudah tidak mengalir dari kepala, karena dokter sudah memberikan perban untuk menghentikan pendarahannya. Luhan terus mengusap kepala Jimin dengan keyakinan dirinya bisa menghilangkan sedikit rasa sakitnya. Seperti mengkhayal memiliki kekuatan penyembuh dari kartun yang pernah ditontonnya.

“Hongbin hyung apa dia tidak bisa sadarkan diri? kenapa sampai sekarang dia tidak membuka kedua matanya?” bisikan Luhan menyadarkan Hongbin dari pandangannya yang terfokus pada wajah manis Jimin.

“nde? Dia akan sadarkan diri Luhan. kau tenang saja. dokter mengatakan dia tidak apa-apa hanya sedikit kerusakan dibagian kepalanya, tapi kita akan tau apa yang akan terjadi ketika dia sadar. Jadi berdoalah tidak akan terjadi apa-apa. kau mengerti?” tidak lama pembicaraan itu terjadi, Luhan merasakan gerakan dibagian lengan Jimin yang masih memejamkan kedua matanya.

“hyung.. aku merasakan dia bergerak..sungguh aku merasakannya hyung!” teriak Luhan kaget dan langsung berlari mendekati Hongbin. Tentu saja itu membuat Hongbin mendekati tubuh yang sedang terbaring lemas dihadapannya. Lama kelamaan mata Jimin terbuka sendu dan memandang kearah Hongbin yang sedang berdiri tepat disampingnya.

“kau baik-baik saja? syukurlah jika kau sudah sadar. Aku akan panggilkan dokter” Hongbin langsung berlari keluar dengan sedikit pesan kepada namja kecil yang sedang mematung kebingungan “kau jaga dia Luhan” pesannya. Jimin masih diam tidak bergeming, memandang kosong kearah langit-langit ruangan yang hanya memberikan warna putih kedalam ingatannya saat ini. Luhan takut jika melakukan kesalahan karena itu dirinya hanya mau memperhatikan Jimin dari jauh. Tidak lama Luhan menunggu cemas. Hongbin datang bersama dengan dokter dan beberapa suster yang sebelumnya merawat Jimin. Selama pemeriksaan berlanjut Hongbin dan Luhan diminta untuk menunggu diluar. Tiba-tiba seseorang datang menggendong Luhan kearah pundaknya.

“Appa!” Jerit Luhan kaget ketika mengetahui jika Appanya lah yang menggendongnya hingga kepundak. Hongbin yang mendengar jeritan Luhan langsung menoleh dan mendapati Leo sedang meletakan Luhan kepundak miliknya.

“Leo? Kau sudah datang”

“tentu saja aku sudah datang, jika aku belum datang aku tidak mungkin dihadapanmu sekarang” Leo segera mengintip pintu ruang rawat yang sebelumnya diperhatikan sahabatnya Hongbin. “apa didalam seseorang yang kau selamatkan seperti ceritamu ditelpon?” tanya Leo dengan sebuah respon anggukan didapatkannya. Hongbin mengangguk dengan tidak mengalihkan pandanganya dari ruangan Jimin. keheningan terjadi sejenak. Leo merasa aneh akan sikap tidak tenang Hognbin ketika menunggu pada namja asing yang tidak dikenalinya. Namja ini bukanlah kerabat ataupun orang yang dirinya kenal. Tidak lama dokter yang merawat Jimin keluar dari ruangan. Dan segera menghampiri Hongbin yang sedang menunggu dengan wajah penasaran.

“bagaimana keadaan namja itu?” Hongbin antusias bertanya, tidak sabar menunggu jawaban sang dokter.

“dia baik-baik saja, sadar dengan kondisi yang cukup pulih tetapi...” dokter itu menggantung perkataannya. Membuat Hongbin semakin tidak sabar dengan jawabanya yang lebih jelas.

“tetapi?”

“dia kehilagan ingatannya, dan kami tidak tau tentang kepastian kapan ingatannya akan kembali” beberapa pandangan yang sedang mendengarkan saling memandang satu dengan yang lain. “kami permisi dulu, panggil saya kembali jika terjadi apa-apa. saya akan kembali memeriksa tentang kerusakan di kepalanya dan memberikan kabar selanjutnya kepada kalian tentang kesehatannya” dokter meminta izin untuk kembali keruangannya. Tidak lupa memberi hormat Hongbin segera membungkukan tubuhnya ketika kepergian sang dokter. Tanpa menunggu perintah untuk masuk kedalam ruangan rawat, Hongbin langsung menerobos masuk dan melihat Jimin sedang duduk ditempat tidur sambil memandang kearah luar jendela. Wajahnya begitu manis membuat Hongbin sedikit kebingungan dengan perasaan yang dirinya rasakan. Tatapannya mungil menatap kosong kearah dirinya. Ini adalah efek dari hilangnya ingatan Jimin sehingga membuat tatapannya menjadi tidak memiliki nyawa apa-apa.

Hongbin mendekati Jimin secara perlahan, sedangkan Jimin hanya melirik kearah suara langkah kaki yang mendatanginya. “apa kau baik-baik saja? hmm...” suara Hongbin menghilang ketika pandangan Jimin memperhatikan kearah netra miliknya.

“kau siapa?” tanya Jimin tidak ada rasa takut atau keraguan dalam pertanyaannya. Leo dan Luhan saling bertatapan menunggu jawaban apa yang akan diberikan Hongbin pada namja asing itu. “Apa kau mengenalku?” suara itu terdengar kembali, sangat lembut tidak ada kegelisahan seperti orang kebingungan. Hanya ada ketenangan yang Jimin berikan pada 3 namja yang tidak dirinya kenali. Hongbin diam dan masih berfikir, “Jika kau mengenalku bisa kah kau memberi tau siapa namaku? Akuu sangat berterimakasih jika memang kau mengenalku” senyuman itu terukir sangat indah. Dan jimin memberikan senyuman itu langsung pada Hongbin yang sedang memperhatikannya tanpa mengedipkan kedua bola matanya.

“kau...”suara Hongbin berhenti sejenak, Leo  melirik kearah Hongbin dengan pandangan heran. Luhan pun sama halnya. Tidak mengerti apa yang teman Appanya itu fikirkan. Bukankah sangat mudah untuk mengatakan bahwa mereka juga tidak mengenal dirinya. Tapi sebuah pernyataan membuat Leo dan Luhan melongo bahwa Hongbin mengaku dirinya mengenal Jimin.

“kau adalah Chimchim” ucap Hongbin sambil mengeratkan tanda pengenal milik Jimin. Pernyataan itu memberikan respon melongo dari 2 namja lain yang berada sama didalam ruangan rawat Jimin. Leo menurunkan Luhan dari pundaknya dan menepuk pundak sahabatnya. Memberikan isyarat untuk mereka harus bicara berdua. Jimin tersenyum pada Luhan yang sedang memperhatikannya dengan malu. Tetapi karena senyum itu tulus, Luhan pun memberanikan diri untuk berbicara dengan Jimin yang dirinya kenali sekarang bernama Chimchim. Leo menutup pintu rawat Jimin setalah Hongbin keluar.

“apa maksudmu dengan mengatakan namja itu Chimchim?! Apa kau sudah gila? Jika menjadikan namja itu Chimchim?!” Leo berusaha memelankan suaranya yang ingin sekali untuk berteriak menyadarkan Hongbin.

“aku..tidak tau.. aku juga tidak sadar ketika mengatakan itu” ragu Hongbin, sambil menelan ludahnya tidak menyangka dengan tindakannya. “aku...aku.. apa yang kukatakan tadi”

“Hongbin kau sadar kan jika Chimchim yang kau kenali itu menghilang sudah bertahun-tahun itu kata bibi Park Sojin, dan sekarang bibi Park menganggap dirimu itu pengganti chimchim. Karena dirimulah yang selama ini mencintai putranya dengan setia. Bagaimana nanti menjelaskan bahwa kau menganggap namja lain sebagai putranya? Dan lagipula sampai kapan kau akan membayangi Chimchim terus. Dia cinta masa kecil dan seorang namja. itu hanya fikiran anak-anak. Hentikanlah Hongbin.”

“sudah kukatakan padamu! Aku tidak pernah memperdulikan Chimchimku namja ataupun yeoja. Jika aku sudah menyukai satu orang maka itu berlaku selamanya! Soal tadi..” Hongbin mengambil nafasnya yang berat, setelah berhasil mengatur nafasnya namja tinggi itu kembali berbicara “aku hanya.. merasa sosok Chimchim terlihat pada namja itu.. aku tidak tau kenapa.. padahal saat dia pingsan aku tidak merasakan apa-apa, namun ketika matanya terbuka aku merasa... ada hal yang aku rindukan telah tersampaikan. Dan soal bibi Park aku berjanji tidak akan terjadi apa-apa nantinya”
“astaga! Hongbin! Bibi Park mengizinkanmu memiliki kekasih yeoja! Bukan namja yang bisa menggantikan putranya dihatimu!”

“aku...” suara Hongbin bergetar.

“kau jangan gila! Hentikan! Jangan sampai kau melanjutkan kebohonganmu dan berbalik menyakitimu nantinya..! aku tau kau memegang tanda pengenalnya dan kau mengetahui nama asli namja itu, sekarang berikan! Berikan!” Leo yang kesal langsung mencari tanda pengenal yang sengaja disembunyikan Hongbin di balik badannya. Tidak mau memberikan, akhirnya terjadi perkelahian yang mengakibatkan beberapa security datang untuk melerai. Luhan dan Jimin yang tadinya sedang mengobrol dikejutkan karena ada suara ribut didepan ruangan rawat. “apa yang terjadi?” tanya Luhan dan berjalan keluar karena penasaran, dibukanya pintu kamar rawat Jimin. Dan terlihatlah Appanya dan Hongbin sahabat Appanya sedang berkelahi. Jimin sebenarnya penasaran tapi tubuhnya masih lemas. Leo meminta untuk dilepaskan dengan berjanji tidak akan membuat ribut kembali pada Security yang mengunci pergerakannya yang hendak memukul Hongbin. Namja itu langsung menggendong luhan dan mengajak namja kecil itu untuk lekas pulang. “kita pulang sekarang Luhan” tegas Leo yang memandang kesal kearah Hongbin.

“aniyo Appa! Aku masih mau mengobrol dengan hyung itu! Appa—!” teriakan Luhan yang merajuk tidak Leo perdulikan, tatapannya masih memancarkan amarah kearah Hongbin yang terdiam mematung. “jika kau masih melanjutkan ini semua, aku tidak akan menanggung atau membantumu nantinya. Ingat itu. lakukan apa yang ingin kau lakukan! Seulki! Jangan salahkan aku jika suatu saat bibi Park membencimu!” Leo pun menjauh dari posisi Hongbin, dan melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.

Hongbin diam masih berfikir untuk terus melanjutkan kebohongan ini atau tidak. Melihat kondisi Jimin yang sedang menunggunya mengharuskan Hongbin untuk masuk lebih cepat kekamarnya. Hongbin membuka pintu itu dan tersenyum kearah Jimin yang kebingungan. “ada apa? apa yang terjadi?” tanya Jimin langsung pada Hongbin yang berdiri tegak diambang pintu.

“tidak ada apa-apa, bagaimana keadaanmu?”

“aku baik-baik saja, hanya sedikit sakit dikepalaku dan aku sama sekali tidak ingat sesuatu yang terjadi pada diriku sebelumnya. sebenarnya aku ini kenapa? Apa kau tau?”

Hongbin terdiam.

“jika kau masih melanjutkan ini semua, aku tidak akan menanggung atau membantumu nantinya. Ingat itu. lakukan apa yang ingin kau lakukan! Seulki! Jangan salahkan aku jika suatu saat bibi Park membencimu!”

Kelimat Leo menghantui isi kepalanya yang berniat untuk mempertemukan namja asing ini dengan Park Sojin. Setidaknya rasa perasaannya yang menebak-nebak bahwa namja asing didepannya adalah Chimchim, sudah tidak diragukan. Jika benar, janjinya pada Sojin telah terpenuhi. Dan dirinya bisa bertunangan langsung dengan Chimchim. Yang jadi kebimbangannya sekarang adalah nama di tanda pengenal namja asing ini Park Jimin. apakah ini nama asli Chimchim, yang bibi Sojin sendiri memiliki marga Park? Bodohnya mengapa dia tidak mengenali nama asli namja yang dicintainya dari dulu. Sebaiknya Hongbin menghubungi Sojin untuk menanyakan kebenarannya. Berkali-kali ditelpon tidak ada jawaban dari yeoja yang dihubunginya. Apa perlu Hongbin mengirimkan pesan saja? tidak. Hongbin lebih memutuskan untuk bertemu langsung dengan Sojin akan kepastiannya. Jimin diam dengan manisnya, menunggu balasan dari namja yang diajaknya bicara.

“kau...” Jimin menunggu kalimat Hongbin yang lengkap “kau mengalami kecelakaan yang mengakibat kan ingatanmu harus pergi dulu untuk sementara, tapi kau tenang saja Chimchim” tatapan Hongbin terlihat menyedihkan, dengan salah satu tangannya menyentuh lembut pipi Jimin yang putih halus. “kita akan buat kenangan bersama-sama dari ulang, kau mau kan?”

“Chimchim? Itu namaku?” tanyanya.

“nde.. namamu Chimchim, kau mau kan untuk membuat kenangan baru bersamaku?” Hongbin mengulangi kata-katanya, senyum tipis terukir pada bibir Hongbin. Jimin tanpa ragu membalas senyuman itu dan menganggukan kepalanya sambil menatap Hongbin yang berdiri tegak disampingnya. “aku mau..”. senyuman itu seperti kembali memberikan kehidupan pada Hongbin. Semenjak dirinya kehilangan kekasih masa kecilnya. Dirinya kembali mendapatkan  perasaannya seperti dulu. Ruangan itu sunyi, dan pandangan mereka seolah memberitahu bahwa waktu adalah milik mereka berdua. Hanya mereka berdua.



To becontinue....

Comments

  1. ah ini brp thn kmudian? oh jd xiu cmn anak angkat, kirain anak bneran smpet shock
    nah loh chim ilang ingatan trus diaku2, jgn2 bner lg chim itu chim2 anak sujin. abis chim dulu anak pnti kan trus diadopsi ortu tae

    sumpah komen dsini susaaaah bgt . mgkin krna inilah g da yg komen. aq ja komen dsini perjuangan bgt

    ReplyDelete
  2. Hay Kumiko Ve,, terimakasih sudah memberi harapan pada Author. maaf atas ketidak nyamanannya dalam memberikan komentar..
    ini tidak lama kok hanya bbrapa bulan waktu Jinjimin hubungan dan melangsungkan pernikahan^^
    akan Author perbaiki settingannya,, gomawo yaa untuk jejak kedatanganmu:))

    ReplyDelete
  3. Sebenarnya nai baca cerita author dari y s1 jinjimin.tapi tau2 saja da sampai s2. hihi. Kesian taehyung nanti nak cari jiminnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hay Fifa ^^ gomawo udh menyempatkan waktunya di blogku dan membaca BIL Jinjimin ver. hingga s2:D terus selalu hadir dan memberikan jejakmu ya untuk kelangsungan hidup Author di blog :p

      Delete

Post a Comment

Popular Posts