BOY IN LUV S2 Chapter 1 // JIN // JIMIN //
Note : Baca BOY IN LUV JINJIMIN VER, untuk mengetahui jalan cerita BOY IN LUV Season 2
“apa yang terjadi?”
-
“dimana aku?”
-
“kenapa begitu ramai?”
-
Sebuah
mobil menabrak mobil lain yang sedang berhenti ditengah jalan. Dilihat dari
kejadian sebelumnya mobil itu tidak bisa mengendalikan kecepatan akibat Rem
yang rusak. Hingga sang pengemudi itu harus mengarahkan kemudinya asal dan
membuat mobil itu melayang seperti terbang. Semua masyarakat yang melihat
kejadian itu langsung mengevakuasi salah seorang yang terjepit dalam badan
mobil yang terbalik. Wajahnya terlihat meringis kesakitan dengan sesekali
bersuara seperti memanggil seseorang. beberapa orang kebingungan apakah ada
orang lain lagi yang terlempar keluar mobil. karena masyarakat memperhatikan
kaca mobil yang pecah dari depan.
Tidak
lama ambulance datang dengan sirine yang menyadarkan para penolong korban
kecelakaan. Perawat mengeluarkan tandu. Mengangkat tubuh yang berlumuran darah
itu keatas tandu. Setelah memasukan korban kedalam ambulance. Ambulance itu
segera pergi meninggalkan lokasi kejadian yang masih ramai dikerumuni
masyarakat akibat penasaran. Kecelakaan itu mengakibatkan kemacetan cukup
panjang di busan. Dan setiap mobil yang terjebak dalam perjalanan, mereka lebih
memilih keluar untuk menyaksikan evakuasi korban dan mobil yang akan segera
disingkirkan agar mereka bisa melanjutkan perjalanan.
Seorang
anak kecil yang telah merasa bosan didalam mobil memutuskan untuk mengikuti
orang-orang keluar dari mobil mereka. Kaki kecilnya melangkah kearah pinggir
jalan agar bisa melihat dari posisi samping dimana mobil itu terbalik. Jalanan
yang tinggi menyembunyikan lokasi sungai yang tertutupi beberapa pohon besar
dipinggir jalan. Namja kecil itu tidak sengaja terpleset dan menjatuhkan permen
lolipop miliknya. Pandangannya mendapati sosok tubuh namja yang pingsan hampir
menyentuh air sungai. Tidak mengerti harus melakukan apa. namja kecil itu
berlari kearah mobilnya berada untuk memberi tahu namja yang telah dianggapnya
sebagai hyung.
“Hongbin
hyung..hyung..” ucapnya tidak sabaran untuk dapat mengajak Hyungnya kepinggir
jalan. Namja tinggi itu sadar akan panggilan dari namja kecilnya yang tergesa-gesa
menariknya keluar.
“waeyo Luhannie?” balasnya dengan malas.
“hyungie ikut aku. Ada seseorang disana”
dengan menunjuk-nunjuk suatu tempat yang ingin segera ditunjukan.Hongbin yang
merasa malas tidak bergeming dari kursi kemudinya,“seseorang? tapi kita harus
segera kembali keseoul setelah mobil derek memindahkan mobil didepan kita ini.
Sebentar lagi selesai”
“tolong
dia hyung.. sepertinya dia kesakitan” tidak mau kalah Luhan berusaha agar dapat
mengajak Hongbin pergi bersamanya. Tidak henti-hentinya Luhan menggoyangkan
tubuhnya yang sedang menunggu, karena merasa terusik namja itu pun mengalah dan
melepaskan genggaman pada kemudinya. Dibuat penasaran sang namja kecil akhirnya
Hongbin mengikuti kemana dirinya akan dibawa. Setibanya dipinggir jalan dan
menyingkirkan beberapa pohon yang mengganggu langkahnya. Mata Hongbin menemukan
sosok namja manis dengan kemeja putih bersimba darah hampir menyentuh air
sungai. Mungkinkah jika namja ini korban lain yang terlempar keluar. Tidak tega
meninggalkan namja ini sendirian,
Hongbin menggendong tubuh mungil itu tanpa bantuan siapa-siapa. Lalu membawanya
kedalam mobil mereka. Beberapa masyarakat yang melihat korban lain sedang
dibawa kedalam sebuah mobil, meminta Hongbin untuk segera membawanya ketempat
ambulance yang sebelumnya mengantar temannya. namja tinggi itu mengerti lalu
pergi meninggalkan kerumunan dengan kecepatan maksimal agar tidak ketinggalan
jejak ambulance. Persimpangan jalan Hongbin terjebak lampu merah dan tidak bisa
menerobosnya walaupun dirinya sangat ingin mengejar ambulance. Saat itulah
Hongbin kehilangan ambulance yang dikejarnya.
“Hongbin
hyung.. kita bawa kerumah sakit lain saja jika ambulancenya tidak ketemu.
Kasian hyung ini merintih terus lalu—” Luhan yang sedang menjelaskan keadaan
namja asing dipangkuannya mendengar suara yang terus menerus memanggil nama seseorang.
“berhentilah
membuatku bingung Luhannie! Aku berfikir sejenak rumah sakit yang terdekat dari
sini,” kesalnya pada namja kecil yang sedari tadi membuat dirinya panik.
“apa
yang hyung fikirkan?! Tanya saja orang. hyuuung ayo cepat pergi... dia
mengeluarkan banyak darah” Luhan begitu khawatir dengan darah yang terus
menerus keluar dari area kepala namja yang ditemukannya “hyung kita bawa
kerumah sakit cepat!”. Hongbin yang ikutan cemas tidak bisa diam menggerakan
bibirnya. Hongbin terus-menerus membaca doa untuk menenangkan dirinya. Berkali-kali
dilihat Hongbin sepertinya mengaggumi wajah manis yang dimiliki namja yang
ditolongnya. Tapi tidak ada waktu untuk berfikiran macam-macam terlebih lagi
soal perasaan. Sesampainya dirumah sakit, beberapa perawat langsung mengambil
bagian untuk memeriksa pasien yang sekarat akibat kecelakaan yang dialaminya.
Selang oksigen diberikan oleh suster dan dikencangkan dibagian pengikatnya.
Hongbin dan Luhan menunggu didepan ruang gawat darurat dengan rasa entah harus
mengatakan apa. Tetapi suara bunyi ponselnya mengaggetkan tubuhnya hingga
terlonjak dari kursi yang didudukinya. Jung Taek Woon a.k.a Leo tertera dilayar
ponselnya.
“yeoboseyo?”
jawab Hongbin.
“yaak! Kau dimana?! Aku sudah menunggumu
ditempat yang kita janjikan!” suaranya berteriak disebrang telpon. Terdengar
emosi. Mungkin lelah menunggu.
“hyung-ah,
aku sepertinya tidak bisa mengantar Luhan ketempatmu sekarang. Aku sedikit
mengalami masalah dalam perjalanan” jelas Hongbin pada namja yang memiliki
hubungan darah dengan namja kecil yang sedang bersamanya.
“waeyo? Apa yang terjadi?”
“ada
kecelakaan yang menghalangiku untuk menemuimu sekarang ini, dan Luhan memintaku
untuk membantu salah satu korban yang ketinggalan dibawa ambulance karena
terlempar dari badan mobil. sekarang aku berada dirumah sakit untuk mengurusi
administrasinya”
“jinjya?
kenapa kau tidak menghubungi keluarganya saja?” suara Leo terdengar
Hongbin khawatir.
“aku
juga ingin melakukan itu tapi sepertinya dia tidak membawa kartu nama atau
apapun, bodohnya lagi aku tidak baca nama rumah sakit ambulance yang membawa
temannya”
“kenapa kau begitu bodoh Seulki! Apa kau
sudah memeriksanya dengan benar tentang tanda pengenalnya? kalau begitu kau
dirumah sakit mana? Biar aku yang kesana dan membawa Luhan pergi. Kau tau kan
istriku Xi Hwa sudah menunggu malaikat kecilnya” Hongbin menyebutkan lokasi
dirinya berada sebelum pembicaraan ditelpon itu berakhir. Mengelus-eluskan
rambut sang namja kecil yang sedang tertidur lelah karena terlalu lama
menunggu. Luhan memang seorang malaikat kecil yang berhasil menemukan seseorang
pingsan yang tidak diketahui orang lain selain dirinya.
-------------------
Ditempat
lain beberapa namja berkumpul sambil menunggu kabar sang dokter yang sedang
merawat seseorang diruang gawat darurat. Salah satunya masih saja setia
menunggu pintu ruangan itu terbuka.
“gwenchana
Jungkook-ah” Ho Seok mencoba menenangkan kekasihnya yang sedang sangat cemas
memandangi seseorang yang berada di ruang gawat darurat. Mereka yang memandang
keadaan Jin begitu mengkhawatirkan. Wajahnya sangat pucat dengan darah
berlumuran, dan beberapa alat dokter telah menempel ditubuhnya. Tiba-tiba
beberapa suster masuk dan memindahkan Jin. Jungkook langsung menjadi orang
pertama yang menghampiri tubuh Jin yang dipindahkan menuju ruang operasi.
“Kim
Seok Jin sadarlah! Aku mohhoon... Kim Seok Jin!” berusaha untuk mempercepat
langkahnya hingga menyeimbangkan pada gerakan sang suster yang membawa Jin
masuk kedalam Ruang operasi. Sesampainya di pintu Operasi, suster meminta
Jungkook dan beberapa namja dibelakangnya untuk berhenti. Pintu Operasipun
tertutup. Lampu merah berada di atas pintu ruang operasipun menyala. Rapmon
memeluk MinYoongi dengan seorang namja kecil yang sedang digendong Yoongi.
Namja kecil itu terlihat sangat takut jika terjadi sesuatu pada namja yang
dirinya panggil “Appa” bisiknya kecil. Yoongi yang mendengar itu langsung
mengelus helaian poni namja kecil itu yang mulai berkeringat karena
khawatir.
“apa
Jimin sudah ditemukan?” tanya Yoongi pada Rapmon yang masih menunggu kabar dari
para polisi yang masih mencari satu korban lagi. Mendapatkan pertanyaan itu
tentu saja membuat Rapmon menggeleng pelan. Namja kecil itu langsung memberikan
tatapan memelas dengan mencoba untuk menahan air matanya agar tidak berlinang.
“Rapmon hyung, Eomma tidak ditemukan ya?” tanya nya lembut dengan sedikit
isakan.
“aniyo..
Kim Minseok.. Eommamu akan segera ditemukan. Kau tenang saja” ucap Rapmon
sambil mengacak rambut namja kecil yang dikenali anak angkat dari Jin dan
Jimin. Yoongi juga mengelus Minseok “Minseok-ah kau tenang saja, Eommamu pasti
akan kembali pulang. karena dia akan merindukanmu. Kau mengerti? Eommamu akan
pulang sedikit terlambat” jelasnya untuk memberi pengertian.
“lalu
Appa ku apa bisa kembali sadar? Kenapa Appa membuat semua khawatir? Kenapa
Eomma juga tidak memberi kabar jika pulang terlambat? Kenapa semua seperti
cemas? Yoongi hyung.. Appa dan Eomma baik-baik saja kan?”
Yoongi,
Rapmon, Jung Ho Seok serta Jungkook yang mendengarnya merasa kasihan pada namja
kecil dalam gendongan Min Yoongi. Namja kecil itu menggenggam pakaian yang
dikenakan Yoongi dengan erat. Rapmon sadar dengan tatapan Yoongi yang sedikit
meminta bantuan sang Kekasih. Rapmon segera mengambil alih tubuh Minseok dari
tangan kekasihnya Min Yoongi “ayo kita beli Es Krim diluar Minseok-ah”.
“aniyo!
Aku tidak mau meninggalkan Appa sendirian. Aku akan menunggu hingga Appa
sadar!” pinta Minseok yang memberontak dalam dekapan Rapmon yang siap
membawanya pergi menjauh dari ruangan Appanya. “hyunng! Aku tidak mau pergi!”
tidak memperdulikan teriakan Minseok, Rapmon tetap melangkah pergi menjauhi
ruangan Operasi. Yoongi memandang wajah Minseok yang mencoba untuk tetap tegar
walaupun dirinya tau Eommanya (Jimin) entah kapan akan kembali.
Jung
Ho Seok kembali fokus pada kekasihnya yang tertunduk menunggu kabar dari mantan
kekasihnya itu. entah mengapa Ho Seok sedikit merasa iri pada rasa simpati
kekasihnya itu pada mantan kekasihnya dulu. “kau tenang lah, tidak akan terjadi
apa-apa pada Jin-sshi” Jung Ho Seok masih berusaha menenangkan Jungkook.
“bagaimana
jika terjadi sesuatu pada Jin-sshi, Ho Seok-sshi? Bagaimana jika..” suara
Jungkook kelu untuk terus dilanjutkan.“bagaimana apa?”
“aniyo..
aku hanya berfikir apa polisi belum bisa menemukan Jimin-sshi?” tanyanya
mengalihkan pembicaraan.
“belum
ada kabar yang diterima Rapmon. Mungkin polisi belum berhasil menemukan Jimin
dilokasi kecelakaan” Jungkook mengangguk mengerti dengan informasi yang Jung Ho
Seok berikan. “apa perlu aku memberikan kabar ini pada Kim Taehyung? aku dengar
sekarang namja itu sedang bekerja disebuah mini market” lanjut Jung Ho Seok
bertanya pada Jungkook kembali.
“terserah
kau” ucap Jungkook singkat sambil memegang salah satu telinganya menandakan
dirinya begitu cemas hingga tidak mampu berfikir. Selama menjalin hubungan
dengan Jungkook kebiasaan ini lah yang selalu Jung Ho Seok kenali jika
kekasihnya tidak bisa tenang. Sudah 8 bulan lamanya setelah Jungkook terbebas
dari kanker otak yang menguasai dirinya, hingga pada akhirnya setelah mengikuti
masa kemoterapi. Entah mengapa penyakit itu hilang meninggalkan kebingungan
serta keanehan dari dokter yang memeriksannya. Itu semua ketika Jungkook merelakan
Jin untuk kembali kekorea dan menjalin hubungan dengan Park Jimin. Apakah
mungkin Jungkook sebenarnya belum sepenuhnya merelakan Jin dengan Jimin?
Ataukah? “...Seok-sshi.. Ho Seok-sshi..” panggilan Jungkook baru dirinya sadari
setelah lama berfikir.
“nde?
Waeyo?” Jungkook memberikan tatapan menyelidiknya pada kekasihnya yang
tiba-tiba saja melamun.
“aniyo..
aku hanya aneh kenapa kau tiba-tiba saja melamun seperti itu”
Mereka
menghentikan perbincangan dan kembali fokus pada Jin yang masih terbaring koma
diruangan rawat.
Rapmon
membawa Minseok agar menjauh dari ruangan rawat yang telah di anggapnya Appa.
Masih hangat dalam ingatan Rapmon ketika Jimin menemukan namja kecil ini. Entah
bagaimana mungkin 2 orang namja mengurus satu namja kecil yang sekarang telah
menganggap mereka berdua orang tuanya. Terdengar aneh pertama kali tapi memang
ini lah kebesaran cinta. Tidak perduli betapa anehnya dirimu menjalin hubungan
dipandangan orang. Yang terpenting adalah kebahagian dari hubungan itu. sambil
memikirkan kenangan masa lalu suara Rapmon terdengar lirih “aku mohon cepatlah
sadar Jin” Rapmon mengusap seluruh wajahnya.
“Rapmon
Hyungnim apa Appaku tidak akan sadar kembali? Apa Appaku akan seperti itu
terus?” tanya Minseok polos pada namja yang lebih besar 2 kali lipat dari
dirinya.
“kenapa
kau berbicara begitu Minseok-ah? Bukankah sebaiknya kau berdoa agar Appamu
kembali sadar besok pagi, dan bisa bermain bersama denganmu seperti biasa?”
“mungkin
lebih baik Appa seperti itu”
Rapmon
mengerutkan keningnya ketika mendapatkan ucapan aneh yang baru pertama kali
didengarnya dari bibir kecil Kim Minseok. “Minseok-ah?apa maksudmu?”
“lebih
baik Appa tidak mengetahui jika Eomma belum pulang, aku yakin itu akan membuat
Appa lebih merasa tersakiti. Iya kan hyung?” fikiran Minseok ternyata lebih
dewasa dibandingkan Rapmon yang usianya beda jauh dari namja kecil disampingnya
itu. suara itu kembali Rapmon dengar “Hyungnim.. aku ingin eomma kembali
sebelum Appa sadar. Dan bukankah sebaiknya begitu? Aku yakin jika nanti Appa
sadar tanpa kehadiran eomma dia akan berkata sebaiknya aku harus mencarinya dan
pergi dari rumah sakit tanpa memikirkan kondisinya. Appa dan Eomma selalu saja
nekat dalam melakukan sesuatu”.
“kau
tau banyak tentang orang tuamu ya Kim Minseok?” elusnya pelan pada kepala
Minseok.
“semenjak
Jimin Eomma mengangkatku sebagai anaknya, awalnya aku bingung kenapa 2 orang
namja harus menjadi Appa dan Eommaku. Tapi selama beberapa hari tinggal bersama
mereka, sungguh aku tidak bohong, aku sangat menyukai keberadaan mereka dalam
hidupku. Mereka adalah orang tua yang sangat menyenangkan tidak ada yang mau
mengalah. Bahkan ketika berubatan menjadi sosok Appa mereka harus berduel
terlebih dulu untuk mendapatkan pekerjaan, yang lebih cepat dia yang menang.
Kebetulan sekali Jimin eomma sangat tidak bisa mencari pekerjaan dan selalu
banyak penolakan. Dan akhirnya dialah yang harus mengambil posisi eomma” tawanya
memaksa, Rapmon sadari itu. “aku...aku... apa semua ini karena aku? Apa Appa
dan Eomma seperti ini karena kehadiranku hyung?” tangisan pun mulai terjadil
lagi. Minseok benar-benar tidak dapat menahan rasa sedihnya walau hanya
sebentar.
“sshh...shh!
apa yang kau katakan Minseok-ah!? Tidak mungkin ini semua karna mu.. kau itu
adalah malaikat kecil mereka”
“buktinya
Appa ku meninggal dan Eomma kandungku menjualku ke Amerika, Eomma mengatakan
bahwa aku pembawa sial” mendengar itu Rapmon langsung segera memeluk Minseok.
dirinya kebingungan ketika harus menghadapi setiap perkataan-perkataan Minseok
yang seharusnya tidak diutarakan namja sekecil ini. Mungkin kah Minseok terlalu
pintar hingga mengerti kondisi yang dialami setiap orang dewasa. Ataukah ini
memang hanya perasaannya yang begitu terluka. Suara Minseok terus memanggil Jin
serta Jimin dengan panggilan Appa dan Eomma.
-------------------
[
Kamar Rawat Jimin ]
Hongbin
dan Luhan duduk manis disamping tempat tidur Jimin yang sedang tidak sadarkan
diri. mereka sangat khawatir dengan kondisi yang sebelumnya begitu banyak
mengeluarkan darah diarea kepala namja asing yang ditemukannya. Sekarang
keadaan telah tenang. Darahnya sudah tidak mengalir dari kepala, karena dokter
sudah memberikan perban untuk menghentikan pendarahannya. Luhan terus mengusap
kepala Jimin dengan keyakinan dirinya bisa menghilangkan sedikit rasa sakitnya.
Seperti mengkhayal memiliki kekuatan penyembuh dari kartun yang pernah
ditontonnya.
“nde?
Dia akan sadarkan diri Luhan. kau tenang saja. dokter mengatakan dia tidak
apa-apa hanya sedikit kerusakan dibagian kepalanya, tapi kita akan tau apa yang
akan terjadi ketika dia sadar. Jadi berdoalah tidak akan terjadi apa-apa. kau
mengerti?” tidak lama pembicaraan itu terjadi, Luhan merasakan gerakan dibagian
lengan Jimin yang masih memejamkan kedua matanya.
“hyung..
aku merasakan dia bergerak..sungguh aku merasakannya hyung!” teriak Luhan kaget
dan langsung berlari mendekati Hongbin. Tentu saja itu membuat Hongbin
mendekati tubuh yang sedang terbaring lemas dihadapannya. Lama kelamaan mata
Jimin terbuka sendu dan memandang kearah Hongbin yang sedang berdiri tepat
disampingnya.
“kau
baik-baik saja? syukurlah jika kau sudah sadar. Aku akan panggilkan dokter”
Hongbin langsung berlari keluar dengan sedikit pesan kepada namja kecil yang
sedang mematung kebingungan “kau jaga dia Luhan” pesannya. Jimin masih diam
tidak bergeming, memandang kosong kearah langit-langit ruangan yang hanya
memberikan warna putih kedalam ingatannya saat ini. Luhan takut jika melakukan
kesalahan karena itu dirinya hanya mau memperhatikan Jimin dari jauh. Tidak
lama Luhan menunggu cemas. Hongbin datang bersama dengan dokter dan beberapa
suster yang sebelumnya merawat Jimin. Selama pemeriksaan berlanjut Hongbin dan
Luhan diminta untuk menunggu diluar. Tiba-tiba seseorang datang menggendong
Luhan kearah pundaknya.
“Appa!”
Jerit Luhan kaget ketika mengetahui jika Appanya lah yang menggendongnya hingga
kepundak. Hongbin yang mendengar jeritan Luhan langsung menoleh dan mendapati
Leo sedang meletakan Luhan kepundak miliknya.
“Leo?
Kau sudah datang”
“tentu
saja aku sudah datang, jika aku belum datang aku tidak mungkin dihadapanmu
sekarang” Leo segera mengintip pintu ruang rawat yang sebelumnya diperhatikan
sahabatnya Hongbin. “apa didalam seseorang yang kau selamatkan seperti ceritamu
ditelpon?” tanya Leo dengan sebuah respon anggukan didapatkannya. Hongbin mengangguk
dengan tidak mengalihkan pandanganya dari ruangan Jimin. keheningan terjadi
sejenak. Leo merasa aneh akan sikap tidak tenang Hognbin ketika menunggu pada
namja asing yang tidak dikenalinya. Namja ini bukanlah kerabat ataupun orang
yang dirinya kenal. Tidak lama dokter yang merawat Jimin keluar dari ruangan.
Dan segera menghampiri Hongbin yang sedang menunggu dengan wajah penasaran.
“bagaimana
keadaan namja itu?” Hongbin antusias bertanya, tidak sabar menunggu jawaban
sang dokter.
“dia
baik-baik saja, sadar dengan kondisi yang cukup pulih tetapi...” dokter itu
menggantung perkataannya. Membuat Hongbin semakin tidak sabar dengan jawabanya
yang lebih jelas.
“dia
kehilagan ingatannya, dan kami tidak tau tentang kepastian kapan ingatannya
akan kembali” beberapa pandangan yang sedang mendengarkan saling memandang satu
dengan yang lain. “kami permisi dulu, panggil saya kembali jika terjadi
apa-apa. saya akan kembali memeriksa tentang kerusakan di kepalanya dan memberikan
kabar selanjutnya kepada kalian tentang kesehatannya” dokter meminta izin untuk
kembali keruangannya. Tidak lupa memberi hormat Hongbin segera membungkukan
tubuhnya ketika kepergian sang dokter. Tanpa menunggu perintah untuk masuk
kedalam ruangan rawat, Hongbin langsung menerobos masuk dan melihat Jimin
sedang duduk ditempat tidur sambil memandang kearah luar jendela. Wajahnya
begitu manis membuat Hongbin sedikit kebingungan dengan perasaan yang dirinya
rasakan. Tatapannya mungil menatap kosong kearah dirinya. Ini adalah efek dari
hilangnya ingatan Jimin sehingga membuat tatapannya menjadi tidak memiliki
nyawa apa-apa.
Hongbin
mendekati Jimin secara perlahan, sedangkan Jimin hanya melirik kearah suara
langkah kaki yang mendatanginya. “apa kau baik-baik saja? hmm...” suara Hongbin
menghilang ketika pandangan Jimin memperhatikan kearah netra miliknya.
“kau
siapa?” tanya Jimin tidak ada rasa takut atau keraguan dalam pertanyaannya. Leo
dan Luhan saling bertatapan menunggu jawaban apa yang akan diberikan Hongbin
pada namja asing itu. “Apa kau mengenalku?” suara itu terdengar kembali, sangat
lembut tidak ada kegelisahan seperti orang kebingungan. Hanya ada ketenangan
yang Jimin berikan pada 3 namja yang tidak dirinya kenali. Hongbin diam dan masih
berfikir, “Jika kau mengenalku bisa kah kau memberi tau siapa namaku? Akuu
sangat berterimakasih jika memang kau mengenalku” senyuman itu terukir sangat
indah. Dan jimin memberikan senyuman itu langsung pada Hongbin yang sedang
memperhatikannya tanpa mengedipkan kedua bola matanya.
“kau...”suara
Hongbin berhenti sejenak, Leo melirik
kearah Hongbin dengan pandangan heran. Luhan pun sama halnya. Tidak mengerti
apa yang teman Appanya itu fikirkan. Bukankah sangat mudah untuk mengatakan
bahwa mereka juga tidak mengenal dirinya. Tapi sebuah pernyataan membuat Leo
dan Luhan melongo bahwa Hongbin mengaku dirinya mengenal Jimin.
“kau
adalah Chimchim” ucap Hongbin sambil mengeratkan tanda pengenal milik Jimin.
Pernyataan itu memberikan respon melongo dari 2 namja lain yang berada sama
didalam ruangan rawat Jimin. Leo menurunkan Luhan dari pundaknya dan menepuk
pundak sahabatnya. Memberikan isyarat untuk mereka harus bicara berdua. Jimin
tersenyum pada Luhan yang sedang memperhatikannya dengan malu. Tetapi karena
senyum itu tulus, Luhan pun memberanikan diri untuk berbicara dengan Jimin yang
dirinya kenali sekarang bernama Chimchim. Leo menutup pintu rawat Jimin setalah
Hongbin keluar.
“apa
maksudmu dengan mengatakan namja itu Chimchim?! Apa kau sudah gila? Jika menjadikan
namja itu Chimchim?!” Leo berusaha memelankan suaranya yang ingin sekali untuk
berteriak menyadarkan Hongbin.
“aku..tidak
tau.. aku juga tidak sadar ketika mengatakan itu” ragu Hongbin, sambil menelan
ludahnya tidak menyangka dengan tindakannya. “aku...aku.. apa yang kukatakan
tadi”
“sudah
kukatakan padamu! Aku tidak pernah memperdulikan Chimchimku namja ataupun
yeoja. Jika aku sudah menyukai satu orang maka itu berlaku selamanya! Soal
tadi..” Hongbin mengambil nafasnya yang berat, setelah berhasil mengatur
nafasnya namja tinggi itu kembali berbicara “aku hanya.. merasa sosok Chimchim
terlihat pada namja itu.. aku tidak tau kenapa.. padahal saat dia pingsan aku
tidak merasakan apa-apa, namun ketika matanya terbuka aku merasa... ada hal
yang aku rindukan telah tersampaikan. Dan soal bibi Park aku berjanji tidak
akan terjadi apa-apa nantinya”
“astaga!
Hongbin! Bibi Park mengizinkanmu memiliki kekasih yeoja! Bukan namja yang bisa
menggantikan putranya dihatimu!”
“aku...”
suara Hongbin bergetar.
“kau
jangan gila! Hentikan! Jangan sampai kau melanjutkan kebohonganmu dan berbalik
menyakitimu nantinya..! aku tau kau memegang tanda pengenalnya dan kau
mengetahui nama asli namja itu, sekarang berikan! Berikan!” Leo yang kesal
langsung mencari tanda pengenal yang sengaja disembunyikan Hongbin di balik
badannya. Tidak mau memberikan, akhirnya terjadi perkelahian yang mengakibatkan
beberapa security datang untuk melerai. Luhan dan Jimin yang tadinya sedang
mengobrol dikejutkan karena ada suara ribut didepan ruangan rawat. “apa yang
terjadi?” tanya Luhan dan berjalan keluar karena penasaran, dibukanya pintu
kamar rawat Jimin. Dan terlihatlah Appanya dan Hongbin sahabat Appanya sedang
berkelahi. Jimin sebenarnya penasaran tapi tubuhnya masih lemas. Leo meminta
untuk dilepaskan dengan berjanji tidak akan membuat ribut kembali pada Security
yang mengunci pergerakannya yang hendak memukul Hongbin. Namja itu langsung
menggendong luhan dan mengajak namja kecil itu untuk lekas pulang. “kita pulang
sekarang Luhan” tegas Leo yang memandang kesal kearah Hongbin.
Hongbin
diam masih berfikir untuk terus melanjutkan kebohongan ini atau tidak. Melihat
kondisi Jimin yang sedang menunggunya mengharuskan Hongbin untuk masuk lebih
cepat kekamarnya. Hongbin membuka pintu itu dan tersenyum kearah Jimin yang
kebingungan. “ada apa? apa yang terjadi?” tanya Jimin langsung pada Hongbin
yang berdiri tegak diambang pintu.
“tidak
ada apa-apa, bagaimana keadaanmu?”
“aku
baik-baik saja, hanya sedikit sakit dikepalaku dan aku sama sekali tidak ingat
sesuatu yang terjadi pada diriku sebelumnya. sebenarnya aku ini kenapa? Apa kau
tau?”
Hongbin
terdiam.
“jika kau masih melanjutkan ini semua, aku
tidak akan menanggung atau membantumu nantinya. Ingat itu. lakukan apa yang
ingin kau lakukan! Seulki! Jangan salahkan aku jika suatu saat bibi Park
membencimu!”
Kelimat
Leo menghantui isi kepalanya yang berniat untuk mempertemukan namja asing ini
dengan Park Sojin. Setidaknya rasa perasaannya yang menebak-nebak bahwa namja
asing didepannya adalah Chimchim, sudah tidak diragukan. Jika benar, janjinya
pada Sojin telah terpenuhi. Dan dirinya bisa bertunangan langsung dengan
Chimchim. Yang jadi kebimbangannya sekarang adalah nama di tanda pengenal namja
asing ini Park Jimin. apakah ini nama asli Chimchim, yang bibi Sojin sendiri
memiliki marga Park? Bodohnya mengapa dia tidak mengenali nama asli namja yang
dicintainya dari dulu. Sebaiknya Hongbin menghubungi Sojin untuk menanyakan
kebenarannya. Berkali-kali ditelpon tidak ada jawaban dari yeoja yang
dihubunginya. Apa perlu Hongbin mengirimkan pesan saja? tidak. Hongbin lebih
memutuskan untuk bertemu langsung dengan Sojin akan kepastiannya. Jimin diam
dengan manisnya, menunggu balasan dari namja yang diajaknya bicara.
“kau...”
Jimin menunggu kalimat Hongbin yang lengkap “kau mengalami kecelakaan yang
mengakibat kan ingatanmu harus pergi dulu untuk sementara, tapi kau tenang saja
Chimchim” tatapan Hongbin terlihat menyedihkan, dengan salah satu tangannya
menyentuh lembut pipi Jimin yang putih halus. “kita akan buat kenangan
bersama-sama dari ulang, kau mau kan?”
“Chimchim?
Itu namaku?” tanyanya.
“nde..
namamu Chimchim, kau mau kan untuk membuat kenangan baru bersamaku?” Hongbin
mengulangi kata-katanya, senyum tipis terukir pada bibir Hongbin. Jimin tanpa
ragu membalas senyuman itu dan menganggukan kepalanya sambil menatap Hongbin
yang berdiri tegak disampingnya. “aku mau..”. senyuman itu seperti kembali
memberikan kehidupan pada Hongbin. Semenjak dirinya kehilangan kekasih masa
kecilnya. Dirinya kembali mendapatkan
perasaannya seperti dulu. Ruangan itu sunyi, dan pandangan mereka seolah
memberitahu bahwa waktu adalah milik mereka berdua. Hanya mereka berdua.
To becontinue....


ah ini brp thn kmudian? oh jd xiu cmn anak angkat, kirain anak bneran smpet shock
ReplyDeletenah loh chim ilang ingatan trus diaku2, jgn2 bner lg chim itu chim2 anak sujin. abis chim dulu anak pnti kan trus diadopsi ortu tae
sumpah komen dsini susaaaah bgt . mgkin krna inilah g da yg komen. aq ja komen dsini perjuangan bgt
Hay Kumiko Ve,, terimakasih sudah memberi harapan pada Author. maaf atas ketidak nyamanannya dalam memberikan komentar..
ReplyDeleteini tidak lama kok hanya bbrapa bulan waktu Jinjimin hubungan dan melangsungkan pernikahan^^
akan Author perbaiki settingannya,, gomawo yaa untuk jejak kedatanganmu:))
Sebenarnya nai baca cerita author dari y s1 jinjimin.tapi tau2 saja da sampai s2. hihi. Kesian taehyung nanti nak cari jiminnya
ReplyDeleteHay Fifa ^^ gomawo udh menyempatkan waktunya di blogku dan membaca BIL Jinjimin ver. hingga s2:D terus selalu hadir dan memberikan jejakmu ya untuk kelangsungan hidup Author di blog :p
Delete