BOY IN LUV S2 Chapter 2 // JIN // JIMIN //
Jimin tanpa ragu tersenyum dan
menganggukan kepalanya sambil menatap Hongbin yang berdiri tegak disampingnya.
“aku mau..”. senyuman itu seperti kembali memberikan kehidupan pada Hongbin.
Semenjak dirinya kehilangan kekasih masa kecilnya. Hongbin benar-benar hancur
saat itu tapi entah kenapa saat bertemu dengan namja yang berada dihadapannya
sekarang ini. Dirinya kembali mendapatkan perasaannya seperti dulu. Ruangan itu sunyi,
dan pandangan mereka seolah memberitahu bahwa waktu adalah milik mereka berdua.
Hanya mereka berdua.
-------------------
Sudah
hampir sebulan Jimin tinggal dirumah sakit daerah busan ditemani Hongbin.
Setelah dipastikan kondisinya baik-baik saja. jimin akhirnya diizinkan dokter
untuk keluar dari rumah sakit dengan syarat dirinya tidak terlalu boleh memikirkan
masa lalunya karena akan memberikan efek pada sakit dikepalanya. Mendengar itu
Jimin hanya mengangguk patuh sang dokter dan keluar dari ruangan sang dokter. Hongbin
yang sedang menunggu Jimin diluar tersenyum dan menghampiri namja mungil itu.
“bagaimana
apa kata dokter tadi?” tanyanya penasaran pada Jimin yang sudah tidak terlihat
pucat.
“dokter
mengatakan aku sudah boleh pulang sekarang, dan... dokter menyarankan agar aku
tidak terlalu memikirkan ingatanku sebelumnya karena takut memberikan efek
sakit dikepalaku nantinya”
“kalau
begitu kau harus menurutinya. Tapi kau tenang saja, ada aku disini untuk
memberikan ingatan yang baru padamu Chimchim” suara Hongbin terdengar sangat
lembut, dan itu membuat Jimin merasa nyaman berada didekat Hongbin. Tidak mau
berlebih lama tinggal dirumah sakit, Jimin meminta Hongbin untuk segera
mengajaknya pulang kerumah. Hongbin mengenakan jaket tebalnya pada tubuh Jimin
agar tidak merasakan suhu dingin ketika keluar dari gedung rumah sakit. dalam
perjalanan di lorong rumah sakit tidak disengaja Rapmon yang sebelumnya
menemani Minseok makan Eskrim saling berpapasan namun tidak berpandangan satu
dengan yang lain. Rapmon sibuk untuk membuat Minseok kembali tersenyum dengan
keadaan yang dialami namja kecil itu. sedangkan Minseok masih menunduk dengan
wajah murung tanpa melihat kearah lain selain kebawah.
“Minseok-ah..
jangan manyun seperti itu, kita akan menemukan Eommamu secepat mungkin. Kau
jangan sedih ya” kata-kata Rapmon membuat Hongbin sedikit melirik kearah namja
yang sedang menggendong anak kecil. Tapi dirinya kembali fokus pada Jimin tanpa
memperdulikan orang lain lebih lanjut. Jimin yang mendengar suara tangisan anak
kecil hanya menoleh sebentar, dan langsung mendapatka teguran dari Hongbin.
“ada apa?”
“aniyo..
aku hanya merasa aneh ketika mendengar anak kecil menangis”
Sesampainya
di Basement Hongbin membukakan pintu mobil agar Jimin bisa masuk dengan lebih
mudah. Jimin sangat senang akan perhatian Hongbin pada dirinya, ketika
dibukakan pintu, ketika menyalahkan penghangat, ketika mengelus kepalanya.
Semua yang Hongbin lakukan untuk Jimin memberikan arti tersendiri pada dirinya.
Apakah perhatian ini menunjukan bahwa dirinya memiliki hubungan special dengan
Hongbin? Ataukah hanya persahabatan yang dimilikinya?. Jimin tidak berani untuk
menanyakannya. Dalam perjalanan pulang Jimin hanya terdiam sambil memandang
kearah luar jendela mobil. sedangkan Hongbin fokus untuk mengemudi dengan
perasaan yang begitu senang karena bertemu dengan Chimchim yang dirinya
rindukan walaupun bukan kekasihnya yang asli.
Dalam
berselang waktu 3 jam dari busan ke Seoul akhirnya tujuan mereka telah sampai.
Hongbin memperhatikan Jimin yang masih tertidur didalam mobilnya, tidak tega
untuk membangunkan istirahatnya. dirinyapun keluar dari mobil dan membuka pintu
mobil dimana Jimin berada. Mengangkat tubuh mungilnya yang terkulai lemas
akibat lelah akan perjalanan yang cukup jauh. Hongbin berjalan menuju lantai
kedua kamarnya dan merebahkan tubuh Jimin diranjang miliknya. Merapihkan helaian
poni yang begitu lembut Jimin miliki. Hongbin mengambil sesuatu yang ada
dibalik kantong celananya, sebuah kartu nama atau tanda pengenal milik Jimin.
Wajahnya berubah sedikit murung karena dirinya sekarang seperti seorang
penculik yang membawa lari namja yang tidak dikenalnya. Sedang sibuk-sibuknya
berfikir disamping Jimin yang sedang tertidur, sebuah gerakan membuat Hongbin
harus menyembunyikan tanda pengenal itu kembali.
“kau..
terbangun? Maaf.. apa aku membangunkanmu Chimchim”
“aniyo...”
Jimin bangun dari tidurnya, dan mulai duduk ditempat tidurnya. Namja mungil itu
tidak henti-hentinya memperhatiakn sekelilingnya yang tidak dirinya ingat sama
sekali. Yang pasti dirinya sudah sampai dirumahnya sesuai dengan ucapan Hongbin
yang akan mengantarnya kembali pulang. “apa ini kamarku? Kau tidak
membangunkanku saat tiba dirumahku sendiri”
“maafkan
aku, tapi sepertinya kau kelelahan maka dari itu aku tidak berniat sedikitpun
untuk membangunkanmu Ji...maksudku Chimchim” Hongbin menggingit bibirnya ketika
hampir saja menyebut nama namja dihadapannya dengan nama aslinya. Suara perut
terdengar berasal dari keduanya, dan itu menyimpulkan senyum bersamaan. “kau
lapar ya? Tunggu disini. Aku akan memasakan makanan untukmu”
“Hongbin-sshi..”
Jimin mencegah kepergian Hongbin yang hendak keluar kamarnya “terimakasih tapi
aku ingin memasak bersamamu boleh tidak?”
“memang
kau tidak lelah? Lebih baik kau kembali tidur nanti akan aku bangunkan jika
sudah siap semuanya”
“aniyo..
kau yang mengatakan sendiri akan membuat kenangan bersamaku kan? Jadi bisakan?”
wajah Jimin sangat manis dalam pandangan Hongbin, sama seperti dulu. Seperti
tidak ada yang berubah. Mengapa Hongbin begitu yakin namja ini adalah Chimchim
dulunya, mungkin perasaan sayangnya pada Chimchim meyakinkan kebenaran. Dengan masih memegang tangan Hongbin, Jimin
berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya. Melihat Jimin mencoba untuk
bangkit. Hongbin membalas genggaman tangan Jimin dan mereka menyatukan kedua
tangannya. Bergandengan hingga sampai pada dapur.
Hongbin
membuka kulkas, dan menyiapkan beberapa bahan makanan yang akan dimasaknya. Namja
mungil disamping Hongbin hanya memperhatikan dengan wajah manisnya. Sepertinya
di menu Hongbin kali ini dirinya tidak akan menggunakan bahan yang memberikan bumbu
pada makanannya. Karena sudah ada namja yang melebihi manisnya pemanis
membantunya memasak. Memperhatikan Jimin terus menerus membuat obyek yang
diperhatikan sadar akan pandangannya. Jimin mengambil air yang berasal dari
kran dan mencipratkan air tersebut kewajah Hongbin. Itu membuat Hongbin
mengedipkan kedua matanya berkali-kali saat terkena air. Melihatnya membuat
Jimin tertawa lepas. Tidak terima Hongbin membalas perlakuan Jimin. Namja
mungil itu berusaha untuk menghindar namun dikunci pergerakannya dengan tubuh Hongbin
yang lebih besar dari Jimin.
Bayangan-bayangan
gelap terlintas dalam ingatan Jimin yang dirinya seperti pernah merasakan
kejadian ini sebelumnya. tentu saja. ini adalah ingatannya dengan Hongbin tentu
saja Jimin bisa merasakan bahwa bayangan gelap itu adalah dirinya dengan Hongbin.
Memasak
sambil bercanda membuat energy mereka terkuras cukup banyak. Dan pada saatnya
mereka akan menyantap, makanan itu malah mereka biarkan dingin dengan tertidur
disamping makanan yang mereka buat.
OnDream
Jimin
berjalan ketempat yang dirinya tidak kenali, ada banyak sekali orang dalam
ruangan itu. tetapi tidak ada satupun yang menyapa dirinya. Jimin terus
berusaha mendapatkan perhatian dari orang-orang sekitar tetap saja nihil. Tidak
lama ada seseorang yang memanggil dirinya dengan suara yang pernah dirinya
dengar “Namja bodoh”. Siapa yang memanggilnya kenapa Jimin sama sekali tidak
bisa melihat wajah seseorang yang memanggilnya.
“siapa!?
Siapa itu? katakan padaku siapa kau?” Jimin terus menerus berteriak beraharap
ada yang dapat menjawab pertanyaannya. “siapa kau?! Aku mohon katakan padaku
siapa kau!”
“Jimin-aah”
suara lain memanggil dirinya dan itu membuat Jimin harus menutup kedua
kupingnya karena kebingungan.
“Siapa
lagi ituu! Siaaappppa kaliaannn!!”
OffDream
Mendengar
Jimin terus berteriak membuat Hongbin bangun dari tidurnya dan menyadarkan
namja itu dari tidurnya. “Chimchim? Gwenchana?” mendapatkan sedikit tepukan
dipipinya membuat Jimin membuka kedua matanya dan langsung memeluk tubuh Hongbin
yang mencoba untuk mendekapnya. Keringat mengalir deras dari setiap lekuk
wajahnya dari ujung rambut hingga keseluruh tubuhnya. “kau pasti mimpi buruk,
tenanglah” lanjut Hongbin membalas pelukan Jimin yang mendekapnya dengan erat.
“aku..mimpi..seseorang..”
[
Keesokan harinya ]
Jimin
yang baru saja terbangun dari tidurnya merasakan cahaya yang masuk kedalam
kamarnya. kedua penglihatannya melihat sosok Hongbin yang sudah rapih dan siap
untuk pergi meninggalkan dirinya.
“kau
mau kemana Hongbin-sshi?” ucap Jimin sambil mengucek sebelah matanya yang belum
siap menerima cahaya dipagi hari. Hongbin yang menyaksikan sikap menggemaskan
Jimin itu membuat dirinya ingin mencium namja manis itu. tapi sebisa mungkin
dirinya tidak melakukan hal-hal aneh yang mengakibatkan nantinya Jimin benci
ataupun merasa takut akan dirinya. Namja tinggi itu melangkah mendekati Jimin
yang masih duduk diranjang mereka berdua. “aku akan pergi sebentar keluar, kau
jangan kemana-mana karena aku akan segera kembali” Hongbin mengecup kening
Jimin singkat. Jimin sama sekali tidak menolak, bagi dirinya itu adalah tanda
kasih sayang Hongbin pada dirinya. Mungkin jika nanti Hongbin pulang, Jimin
akan mempersiapkan diri untuk menanyakan tentang hubungan mereka.
“kalau
begitu. Kau hati hati ya” senyum Jimin pada Hongbin yang melangkah keluar
kamarnya. sesampainya dipintu kamar Hongbin tidak lupa untuk memberikan pesan
sebelum dirinya benar-benar keluar dari rumah. “Chimchim jangan buka pintu
rumah tanpa seizinku, jika ada tamu yang datang kau tidak perlu membukakannya.
Karena aku takut ada yang berbuat jahat padamu nanti. Jika kau lapar aku sudah
siapkan sarapan di dapur dan secepatnya aku akan membawakanmu makan siang.
Arraso?” nasehat Hongbin begitu banyak membuat Jimin hanya mempoutkan diri
dengan anggukan kecil, dan setelah itu Hongbin menghilang dari pintu kamarnya.
jimin hanya duduk termenung sendiri di kamar sekarang. Bingung harus melakukan
apa. lebih baik dirinya membersihkan diri karena sepulang dari rumah sakit, namja
manis itu lupa untuk mandi.
-------------------
[
Ruang rawat Kim Seok Jin ]
Jungkook
tertidur disamping Jin yang sedang koma tak sadarkan diri. sudah hampir sebulan
Jin tidak menunjukan hasil bahwa dirinya akan sadar. Semua berniat untuk saling
bergantian dalam menjaga Jin karena kedua orang tua Jin sama sekali tidak bisa
untuk kembali kekorea sekarang ini. Tetapi Jungkook lebih giat untuk terus
menunggu Jin dirumah sakit. rasanya Jungkook tidak mau untuk meninggalkan
mantan kekasihnya itu dalam keadaan seperti ini. Jung Ho Seok membuka pintu
kamar Jin dan memandang kekasihnya yang begitu setia menemani mantan kekasihnya
yaitu Jin. Sedikit rasa sakit hati pada diri Jung Ho Seok namun namja tinggi
itu menepis semuanya. Ini adalah masalah keadaan. Dirinya harus mewajarkan
perhatian kekasihnya. Bagaimanapun Jin adalah serpihan masa lalu Jungkook yang
dulu mau menemaninya saat Jungkook menderita penyakit Kanker.
Jung
Ho Seok tidak tega untuk membangunkan kekasihnya itu, tapi dirinya harus
membangunkannya karena sejak semalam Jungkook belum memasukan apa-apa kedalam
perutnya. Sentuhan lembut membangunkan Jungkook. Dan alhasil namja cantik itu
membuka kedua matanya “Jinnn-sshi... kau sudah...sada—” ucapan Jungkook
terhenti ketika mengetahui yang membangunkan dirinya bukanlah Jin melainkan
Jung Ho Seok.
“maaf
jika membuatmu kecewa karena bukan Jin yang membangunkanmu, tapi aku mohon
makanlah ini. Kau dari semalam belum makan bukan? Aku belikan makanan
kesukaanmu” Jung Ho Seok menyerahkan kotak makanan yang dirinya bawa untuk kekasihnya
santap.
“aku
tidak bisa makan HoSeok-sshi.. kau saja yang memakannya”
“bisakah
kau bersikap biasa saja dalam menjaga Jin?” kata-kata itu terdengar dingin
untuk Jungkook, “apa jika aku seperti ini kau akan melakukan hal yang sama?
Tidak makan, minum, dan terus menjagaku?” Jungkook terdiam dan tidak membalas.
Namja cantik itu tidak tau harus mengatakan apa, tapi sepertinya memang dirinya
terlalu merindukan sosok Jin dalam hidupnya. “maafkan aku, tapi sepertinya aku
tidak akan menganggumu untuk menjaga Jin. Aku per—” Ho seok yang siap pergi
ditahan Jungkook yang menggenggam salah satu lengannya. Wajah cantik itu
memandang kearahnya. Masih sangat terlihat khawatir di wajah kekasihnya itu
kepada namja yang sedang terbaring disampingnya.
“maafkan
aku HoSeok-sshi.. tapi aku sungguh tidak ingin makan sekarang ini. Aku akan
mengambil makanan yang sudah kau bawakan ini. Terimakasih. Dan ... kau tenang
saja, aku akan memakannya” Ho Seok hanya mengangguk pelan dan pergi
meninggalkan ruangan rawat Jin dengan Jungkook kekasihnya didalam.
Jungkook
duduk termenung memandangi wajah Seok Jin yang tampak putih dan pucat. Detak
jantungnya dimesin masih terdengar normal. Tangan Jungkook mengelus pipi Jin,
dirinya merasakan dinginnya suhu. Sebisa mungkin Jungkook harus bisa
menghangatkan tubuh Jin dengan cara menggosokan kedua tangannya lalu
menempelkannya ke wajah Jin.
“Jin-sshi..kau
ingat dulu pertama kali kau juga melakukan ini padaku. Saat pertama kali kita
bertemu dan selama 4 tahun itu juga kita menjalin hubungan. Kau ingat” Jungkook
menceritakan kisah-kisah masalalunya dalam keadaan Jin yang tidak mendengar.
“seandainya...seandainya aku tidak pernah meninggalkanmu..aku tidak akan
menyerahkanmu pada namja lain..” isakan demi isakan terdengar semakin keras,
akibat air mata yang tidak mampu tertahan lagi. “aku tidak tau..kenapa
penyakitku tiba-tiba saja menghilang saat aku mengizinkanmu untuk menjalin
hubungan dengan namja yang kau cintai.. aku berfikir mungkin aku akan mati saat
itu.. menyerahkanmuu.. pada namja yang berhasil membuatmu berpaling dariku..aku
benar-benar sakit ketika mengetahui itu semua Jin-sshi”
“jadi..aku
mohon.. sadarlah. Lihat aku, karena sekarang Jimin-sshi sama sekali tidak ada
dalam hidupmu.. jika kau mengatakan aku jahat. Aku memang jahat. Mengambil
kesempatan saat calon pengantinmu menghilang. Tetapi itu berarti kau memang
tidak ditakdirkan untuknya dan Jimin-sshi tidak ditakdirkan untukmu..jadi..”
Jungkook menggenggam tangan Jin yang sangat lemas. “jadi...kau seharusnya tidak
melamarnya saat itu... seharusnya kau melamarku maka kita akan hidup bahagia...
Jin-sshi.. aku mohon..sadarlah. bukan ini yang aku inginkan..”
“apa
yang tidak kau inginkan Jungkook?” suara seseorang menganggetkan Jungkook yang
sedang bicara seorang diri diruangan Jin. Sosok namja tinggi dan besar yang
Jungkook kenali sahabat Jin berdiri diambang pintu. Rapmon masuk kedalam tanpa
basa-basi lagi. Menaruh bingkisan buah-buahan untuk Jin jika nantinya sadar.
Min Yoongi dengan menggendong namja kecil anak angkat Jin dan Jimin juga datang
mengunjungi Jin.
“Appaaaa”
teriaknya tidak sabaran untuk memeluk Jin yang berstatus Appa angkatnya. Jungkook
kebingungan saat Rapmon menanyakan sesuatu yang dirinya dengar diakhir
kalimatnya.
“apa
yang tidak kau inginkan?” tanya Rapmon untuk kedua kalinya.
“aku...aku
hanya...”jungkook memutar fikirannya agar memberikan alasan yang tepat pada
Rapmon. “aku.. tidak menginginkan makanan yang diberikan Hoseok-sshi padaku..”
ucapnya sedikit ragu.
“begitu”
Rapmon mengerti tanpa curiga dengan alasan yang diberikan Jungkook padanya.
Namja tinggi itu memegangi Minseok yang sedari tadi mencoba untuk naik keatas
tempat tidur Jin. “Minseok-ah Appamu tidak bisa diganggu dulu.. nanti saja kau
memeluknya” Rapmon memeluk Minseok yang sangat rindu akan Jin dan Jimin.
“aku
hanya ingin memeluk Appaku sebentar Hyungie. Izinkan aku sebentar saja memeluk
Appaku”
Rapmon
menatap Yoongi yang mengangguk setuju untuk memberikan kesempatan Minseok
memeluk Jin. Mungkin saja perasaan namja kecil ini tersampaikan dan mampu
menyadarkan Jin dari komanya. Tubuh Minseok yang masih digendong direbahkan
Rapmon kesamping Jin. Dan saat itu juga Minseok langsung memeluk Jin sambil
menangis. Jungkook sebenarnya tidak suka tapi dirinya tidak melakukan apa-apa.
dulu saat dirinya menjalin hubungan dengan Jin bahkan mereka tidak sedikitpun
berniat untuk mengadopsi seorang anak kecil. namun Jin telah berani melamar
bahkan mengadopsi seorang anak dengan Jimin. benar-benar menyebalkan bagi
dirinya.
“Appa..aku
merindukanmu” bisik Minseok yang sengaja mendekatkan dirinya kearah telinga
Jin. Berharap Jin mendengar ungkapan rindu dari anak angkatnya. “Appa tau
tidak.. mulai besok aku akan kembali kesekolah. Aku sudah terlalu lama liburan
untuk menjaga Appa.. dan kata Rapmon hyungie dia yang akan menggantikan Appa
untuk mengantarku. Appa, Eomma akan pulang cepat kan? Aku merindukan kalian
Appa Eomma. Aku bahagia diangkat sebagai
anakmu” bibir kecil Minseok mengecup pipi Jin yang tidak memberikan respon
apapun. Yoongi yang melihat itu hampir saja meneteskan air matanya. Tapi
langsung dihapus Rapmon yang menyadari hal itu sejak awal.
Yoongi
melirik kearah Jungkook yang masih saja memperhatikan Minseok “Jungkook-ah kau istirahatlah, biar aku dan
rapmon yang menggantikanmu selagi kau istirahat. Aku lihat Jung Ho Seok sudah
berada diluar menunggumu. Apa kau sudah bertemu dengannya?”
“nde.
Aku sudah bertemu dengannya. kalau begitu aku permisi” Jungkook berjalan keluar
dengan masih memperhatikan Minseok yang dengan leluasa memeluk Jin. Lalu menutup
pintu kamar Jin dari luar. Pandangannya langsung tertuju pada namja tinggi yang
masih setia menunggu diruang tunggu rumah sakit. rasanya sedikit merasa
bersalah akan perasaannya pada Jung Ho Seok tapi Jungkook tidak bisa untuk
jujur pada namja itu.
-------------------
[
Rumah Sakit Busan ]
“annyeong
tuan Lee Hongbin” panggil dokter dengan nama lengkap Hongbin. Hongbin
dipersilahkan duduk dengan dokter yang masih sibuk merapihkan beberapa dokumen
yang digunakan untuk pasiennya yang lain. Tidak mau membuat menunggu dokter itu
meminta suster untuk menyerahkan dokumen kesehatan yang bertuliskan atas nama
Park Jimin. “ini dokumen kesehatan tuan Jimin” namja itu mengenakan kacamatanya
dan menjelaskan pada Hongbin keadaan kepala Jimin yang rusak. “namja itu akan
kesulitan mendapatkan ingatan tentang masa lalunya, bahkan jika dipaksakan
ingatan itu akan permanen hilang. Saya hanya memberikan saran agar namja itu
tidak terlalu memikirkan apa yang kehilangan dari dirinya” jelas sang dokter. “bagian
sarafnya ada yang bermasalah jadi kemungkinan akan sulit mengembalikan
ingatannya”.
“lalu
bagaimana dengan mimpi yang dialaminya? Akhir-akhir ini selama kembali kerumah
namja itu selalu mimpi buruk. Dan mengatakan ada seseorang yang tidak dapat
dirinya lihat atau kenali. Apa yang terjadi dengan itu”
“kemungkinan
yang terjadi itu adalah bayangan-bayangan masa lalu yang dirinya fikirkan atau
rindukan, jika itu mengganggunya berikan obat penenang ini selama dia akan
tidur. Sebisa mungkin jangan sampai dia memaksakan untuk mengingat masa lalunya
sebelum saya mengizinkannya. Ini akan mengganggu pengobatannya.. jika tuan
Jimin memang menginginkan kembali ingatannya kami bisa memberikan terapi
hipnotis padanya”
“aku
mengerti. Aku akan mengatakannya. Jadi yang sekarang aku dapatkan bahwa namja
itu tidak akan bisa mengingat masa lalunya walaupun itu dari mimpinya”
“nde..
berikan obat yang sebelumnya saya berikan dengan tambahan obat penenang ini
jika dirinya tidak dapat tidur karena mimpinya. Kita lihat selama sebulan
bagaimana kondisinya. Bawa namja itu kepada saya untuk memastikan kondisinya
lebih lanjut. Yang terpenting pengobatan yang paling membantu saat ini adalah
rasa aman dan terjamin telah diberikan padanya” mendengar itu Hongbin tersenyum
dan memohon izin untuk keluar tetapi ada sedikit permintaan yang ingin
disampikan Hongbin sebelum benar-benar keluar dari ruangan dokter tersebut.
Meminta izin pada sang suster untuk keluar dan membiarkan dirinya berbicara
dengan dokter hanya berdua. Itu disetujui dan suster itupun meninggalkan
keduanya dengan menutup pintu dari luar.
“apa
yang anda ingin bicarakan dengan saya tuan Lee Hongbin?” Sang dokter masih
menunggu balasan dari Hongbin yang memberikan wajah kebingungan untuk bicara.
[
Rumah Hongbin ]
Jimin
masih kebingungan melakukan aktivitas didalam rumah sendirian tanpa kehadiran Hongbin
disisinya. Lalu apa yang bisa dirinya nikmati sekarang ini, bukankah ini
rumahnya dan Hongbin? Tapi kenapa pakaian dirinya lebih sedikit dari Hongbin.
Bahkan sekarang Jimin mengenakan pakaian Hongbin karena tidak memiliki pakaian
lagi. Walaupun kebesaran dirinya sama sekali tidak memiliki pilihan untuk
menggunakan pakaian apa yang bisa menutupi tubuh mulusnya itu. lebih baik
dirinya membereskan dapur yang sebelumnya digunakan untuk sarapannya. Tanpa
diduga-duga suara seorang yeoja mengagetkan dirinya yang hendak merapikan
piring.
“siapa
kau?” tanya yeoja itu yang tidak Jimin kenali ataupun mengerti darimana
kehadirannya. Bukankah pintu rumah ini dikunci Hongbin saat pergi keluar lalu
bagaimana bisa yeoja cantik ini masuk kedalam rumahnya.
“bukankah
aku yang harus bertanya, anda siapa? Bagaimana bisa masuk rumah ini padahal
dikunci” keduanya kebingungan dalam keheningan tanpa menjawab pertanyaan satu
sama lain. Yeoja itu sangat cantik apakah dirinya kekasih Hongbin? Atau saudara
Hongbin? Itu yang ada dipikiran Jimin. “aah..mungkin kau saudara Hongbin-sshi,
kenalkan namaku Chimchim.. nama anda?” barang yang dibawa yeoja itu terjatuh
saat mendengar balasan Jimin yang menyebutkan namanya. Wajahnya berubah seperti
telah melihat setan dihadapannya. Tidak menunggu Jimin untuk bertanya kembali
yeoja itu keluar begitu saja tanpa memperdulikan setiap panggilan yang
diberikan Jimin padanya. Jimin mengejar yeoja itu untuk mengembalikan bingkisan
yang sebelumnya dijatuhkan dirumah Hongbin.
“namja
itu bukan Chimchim...dia bukan Chimchim” ucapnya dalam hati, apa maksud Hongbin
melakukan ini padanya. Dirinya harus tetap berada dirumah Hongbin sampai namja
tinggi itu kembali pulang. jimin yang terus memanggilnya sekarang berada
disamping yeoja itu dan menyerahkan bingkisan yang sebelumnya tergeletak.
“ini
punya anda nyonya” Jimin melihat air mata yang sedang berlinang di setiap
pipinya. Yeoja itu menangis dipandangannya. Tapi kenapa? “maaf..kenapa anda
menangis? Apa aku menakutimu?” tingkah Jimin mulai kebingungan harus melakukan
apa. “kita tunggu Hongbin didalam saja jika memang ingin bertemu dengannya”.
Jimin
dan yeoja itu duduk terdiam hingga waktu terus berlalu. Sudah hampir 3 jam
tidak ada pembicaraan yang dilakukan keduanya, dan ketika suara mobil Hongbin
terdengar. Jimin mulai bernafas lega. Dan tidak lama menunggu akhirnya munculah
sosok yang ditunggu. Hongbin yang melihat kedatangan seorang Yeoja yang
dikenalnya membulatkan kedua bola matanya tidak percaya. Apa yang harus dirinya
jelaskan jika yeoja itu telah mengatakan sesuatu yang ditutupinya pada Jimin.
“Hongbin-sshi
yeoja ini...” belum sempat Jimin bicara, Hongbin meminta Jimin untuk pergi
kekamarnya sebentar.
“aku
mohon.. kau kekamar dulu”
“nde?”
suara Hongbin yang terdengar memerintah tidak bisa untuk Jimin bantah lebih
banyak. Jiminpun pergi kelantai 2 dan masuk kedalam kamarnya. wajah yeoja itu
mulai tidak terima dengan kebohongan yang sudah dilakukan namja dihadapannya.
“aku
harap kau bisa menjelaskan tentang Chimchim yang sebelumnya aku temui” tatapan
mereka beradu. Yeoja itu mengeluarkan air mata yang tidak bisa tertahankan.
“kenapa kau tega Hongbin, kenapa kau menganggap diri anakku ada di namja itu.
kenapa namja itu membuatmu harus menggunakan nama putraku! Siapa dia!” teriak
yeoja itu tidak tertahankan.
“bibi
dengarkan aku, aku mohon kecilkan suaramu. Namja itu kehilangan ingatannya..
aku merasa kasihan jika—”
“tapi
bukan hak mu menggunakan nama putraku!” setelah mengutarakan kekesalannya yeoja
itu berniat untuk pergi dari kediaman Hongbin. “aku sudah menganggapmu sebagai
pengganti Chimchimku sebagai pengganti putraku. Aku sudah menganggapmu anakku
sendiri Hongbin. Tapi inikah balasanmu padaku”
“bibi
aku mohon.. izinkan aku menjelaskannya sedikit lagi” Hongbin memohon pada Park
sojin agar diberikan kesempatan untuk memberi tau semuanya namun nihil. Park
Sojin hanya menutup telinganya tidak mendengarkan dan berusaha untuk pergi
keluar rumah. Hongbin mendekap tubuh yeoja yang telah menganggap dirinya anak.
“Eomma..eomma dengarkan aku” Hongbin akhirnya memanggil Park Sojin sebagai
Eommanya dan itu membuat hati yeoja itu sedikit melunak.
“kenapa
kau melakukan ini padaku Hongbin” air mata itu semakin mengalir membuat Hongbin
sedih tidak karuan. Hongbin memeluk ParkSojin Eomma dari Chimchim yang asli.
“kau tau nama aslinya bukan? Apa kau memegang tanda pengenalnya?” Park Sojin
meminta tanda pengenal yang disembunyikan Hongbin. Dirinya tidak mungkin
memberi tau nama asli namja itu pada Park Sojin sebelum mengetahui nama asli
dari Chimchim. Jika ada keluarga yang mengenalinya pasti Jimin akan kembali
pada keluarga aslinya.
“serahkan
padaku Hongbin! Gunakan nama aslinya dan kembalikan namja itu pada keluarganya”
“aku
tidak tau eomma.. aku tidak menemukan tanda pengenalnya saat menemukannya
bersama Luhan”
“Luhan?
dimana kau menemukannya bersama Luhan? apa dari busan? Jika benar kembali kan
namja itu kebusan. Serahkan namja itu pada polisi, biar polisi yang mencari
keluarganya. Arraso?” Park Sojin memohon pada Hongbin yang sedang sibuk
menenangkannya.
“aku
tidak bisa melakukan itu bibi... kau sudah menganggapku anakmu kan? Dan
sebaliknya aku sudah menganggapmu sebagai Eommaku.. aku mohon lihatlah sedikit
dia, perhatikan sedikit dia. Dia sangat mirip dengan Chimchim. Putra bibi..
bibi tau kan hanya aku yang selalu menemani Chimchim waktu masih kecil. dan aku
tau namja itu sangat mirip dengannya—”
“hentikan!
Dia bukan—”
“bibi!
Dia memang bukan Chimchimku atau Chimchimmu yang dulu, tapi lihat lah sebentar
saja sosok Chimchim ada didirinya”
Mereka
mulai terdiam dan saling berpandangan cukup lama. Hongbin menghapus air mata
yeoja paruh baya namun tetap cantik itu dan membawanya munuju kamar dimana
Jimin menunggu mereka berdua untuk bicara. “aku yakin bibi pasti memiliki
pemikiran yang sama denganku.. dan menganggap namja itu sebagai namja yang
sangat mirip dengan Chimchim”. Langkah demi langkah mendekati kamar dimana Jimin
berada.
“Chimchim..
aku masuk ya” Hongbin membuka pintu kamar, menemukan sosok Jimin yang sedang
setia menunggunya ditempat tidur. Yeoja itu menatap Jimin dengan antusias.
Dirinya hanya bingung bagaimana bisa Hongbin menganggap namja dihadapannya ini
sebagai pengganti ketidak hadiran Chimchim.
“Chimchim..
kau menanyakan bukan siapa yeoja disampingku ini?” Jimin memperhatikan sosok
yeoja yang tadinya hanya diam memperhatikannya saja. memang walaupun Jimin
tidak menanyakannya pasti Hongbin akan mencari sebuah cerita agar Jimin tidak
bertanya tiba-tiba nantinya. Belum menjelaskan, yeoja itu mendetaki Jimin
sedikit demi sedikit hingga pada jarak yang sudah berada cukup dekat. Yeoja itu
memperhatikan setiap lekuk wajah Jimin, memandangi mata, hidung, bibir, hingga
ujung kaki Jimin. semua diperhatikan Yeoja itu benar-benar meyakinkan ucapan Hongbin
bahwa benar adanya. Salah satu tangan Park Sojin memegang pipi kenyal Jimin,
sangat lembut mirip dengan halusnya Chimchim semasa kecil. apakah benar dirinya
akan menggantikan chimchimnya dengan namja dihadapannya.
“Anakku?”
suara itu terdengar sangat jelas ditelinga Jimin sangat dekat dengan yeoja itu.
tatapan Jimin beralih kearah hongbin yang tersenyum ada dirinya. “Chimchim
anakku” gumamnya lagi membuat jantung Jimin berdetak tidak beraturan. Hongbin
yang sedari tadi hanya diam mulai membantu Park Sojin untuk mengatakan siapakah
dirinya “yeoja itu Eommamu Chimchim”.
“Eomma?
Eom..maku?” bingung harus mengeluarkan ekspresi apa tetapi sepertinya yeoja ini
begitu menyayangi dirinya. Jimin sama sekali tidak tau siapa yeoja dihadapannya
ini. Karena ingatannya belum kembali. “maafkan aku...tapi aku tidak..ingat”
“nde
kau memang tidak ingat karena selama ini kau hanya tinggal berdua denganku.
Terlebih lagi kau hilang ingatan sekarang ini”
“tapi
kenapa sepertinya tidak mengenali ku sebelumnya?”
“itu
karena kau marah pada Eomma sebelum pergi memutuskan tinggal dengan Hongbin”
bantu Sojin untuk berbohong. Mendengar itu Hongbin senang akan perasaan Sojin
yang mulai menerima akan kehadiran namja asing ini walaupun dirinya bukan
Chimchim aslinya nanti saat menanyakan nama asli pada Park Sojin.
Yeoja
dihadapan Jimin langsung memeluk tubuh mungilnya yang sedari tadi kebingungan
dan kaku untuk berbuat sesuatu. Begitu erat tidak mampu untuk meronta bahkan
untuk melepaskan diri. tapi entah kenapa Jimin sangat merasa nyaman jika harus
mengatakan dirinya tidak mengenal yeoja dihadapannya. “aku memanggil Eommamu kesini
hanya untuk membuat kembali mengingat ku dan dirinya tapi kau tidak perlu
memaksakan dirimu. Aku dan Eommamu akan membuat kenangan baru bersamamu tanpa
membuatmu sakit kepala seperti yang dikatakan dokter sebelumnya” jelas Hongbin yang
langsung keluar tidak ingin mengganggu kedekatan antara keduanya. Hongbin
berharap kerinduan bibi Park Sojin akan Chimchim bisa terobati oleh namja yang
dirinya anggap sangat mirip dengan Park Jimin. wajahnya, senyumannya,
keluguannya, serta nama marga yang Jimin miliki sama dengan yang dimiliki bibi
Park. Seandainya jika benar Jimin ini benar Chimchimnya mungkin dirinya dengan
bibi Park akan sangat bahagia. Karena telah berhasil menemukan Chimchim mereka
berdua.
Park Sojin masih memeluk Jimin dengan erat dan
Jimin nyaman dipeluk olehnya. Tidak berniat melepaskan seperti pertama
dirasakannya. Kedua tangan Jimin yang sebelumnya hanya diam membalas pelukan
yang yeoja itu lakukan. “sangat senang merasakan ini semua saat isi otakku
pergi meninggalkan ku” bisiknya pada Park Sojin yang sadar akan pembicaraan
yang diajukan. Sojin melepaskan pelukan itu dan hendak menyuruh Jimin untuk
duduk ditempat tidurnya.
“Chimchim
kau.. memang sangat mirip dengan chimchim”
“mirip
maksudnya? Aku bukan Chimchim?” jimin mulai bingung dengan kalimat yang
dilontarkan yeoja dihadapannya ini.
“aniyo...kau
adalah Chimchimku... aku adalah Eommamu” mendengar itu Jimin tidak mengerti,
lalu maksud dari kalimat yang sebelumnya didengarnya apa. “bolehkah hari ini
Eomma tinggal disini bersamamu Chimchim. Eomma sangat merindukanmu” mohonnya
dengan mata basah penuh harap. Jimin segera menyetujuinya dengan pesona
senyuman yang dirinya miliki. Dan sekali lagi park sojin melihat sosok Chimchim
kecil ada pada diri namja dihadapannya.
Senyuman itu memang milik Chimchim kecil.
Detik
tiap detik, menit tiap menit kebersamaan Jimin dengan Sojin begitu hangat.
Sampai akhirnya Jimin tidur siang dalam pangkuan Park Sojin. Yeoja itu mengelus
setiap helaian rambut Jimin yang halus, seandainya benar dalam pandangannya ini
adalah Chimchim asli. Tuhan sangat baik pada Park Sojin jika benar itu terjadi.
Suara ketukan kecil membangunkan Jimin dari tidurnya dan datanglah Hongbin dibalik pintu kamarnya.
“maafkan
aku membangunkanmu Chimchim..dan bibi.. aku memasak masakan kesukaan kalian,
ayo turun kebawah untuk makan siang. Aku yakin kalian pasti lapar”
Sojin
tersenyum pada Hongbin dan mengajak Jimin langsung untuk pergi kedapur.
Menikmati makanan yang sudah disiapi untuk mereka berdua. Hongbin sangat senang
karena bibi Park membuka hati pada namja yang memang mirip dengan putranya. Dan
jimin juga menikmati kehidupannya yang sekarang tanpa masa lalunya. Itu lebih
baik.
To becontinue ....


hayoloh jgn2 bner lgi.. tinggal flashback ja knp bsa chim msuk pnti.
ReplyDeletenah jin masih koma aigoo dan kook berniat ngerebut jin kmbali. gmn sm hoseok? kasihan. tae jg
yeyy^^ ada Kumiko Ve lagi,, haduuh perjuangan banget psti untuk komen di blog ku ini>< maaf belum bisa diperbaiki krn masih sibuk dgn semester kuliah yg baru..
Deletemakasih banyak udh berusaha /hwaiting!:3
jangan la Sebegini. jadi kan la chimchim tu jimin semula
ReplyDeleteGomawo chingu atas jejakmu^^ makin smangat!
Delete