BOY IN LUV S2 Chapter 4 // JIN // JIMIN //




Jimin berbisik kecil dalam mimpinya dengan air mata yang sedikit berlinang ketika tertidur “hyung” gumamnya kecil. suara kecil itu tidak membuat Hongbin ataupun Sojin menoleh kearah Jimin. memang Jimin tidak sadar dalam mengatakan hyung tetapi rasa rindunya ingin sekali mengingat masa lalunya. Lalu bagaimana bisa Jimin mengingat masa lalunya jika tidak ada yang membantunya. 


Rapmon membuka jendela kamar rumah sakit dimana Jin dirawat, udara segar berlomba-lomba menyejukan ruangan Jin yang sebelumnya terisi hanya dengan suhu AC saja. taehyung yang ikutan menginap dirumah sakit mulai membuka kedua matanya saat mendapati cahaya masuk kedalam penglihatannya. “maafkan aku jika membangunkanmu dengan sedikit memaksa” ujar Rapmon terlihat meledek. Taehyung yang baru saja terbangun melirik arlojinya dan menunjukan jam sudah lewat dari waktu kerjannya. Sepertinya namja ini sudah siap untuk pemecatan yang akan diterimanya, mengingat ponsel yang sejak tadi berbunyi tanpa henti tidak ditanggapinya. Taehyung mengambil ponselnya lalu memisahkan batre ponselnya agar mati secara total. Rapmon sadar bahwa yang dibutuhkan Taehyung saat ini adalah informasi keberadaan Jimin.

“bagaimana apa polisi sudah menghubungimu?” tanya Taehyung masih tenang, Rapmon diam dan masih dalam kegiatannya membereskan selimut yang sebelumnya dirinya gunakan untuk menginap. “Kim Nam Joon aku bertanya padamu” kembali suara Taehyung terdengar.

“belum ada infromasi—” belum selesai bicara Taehyung segera beranjak dari kursinya, “kau mau kemana?” Rapmon menahan kepergian Taehyung yang terlihat tergesa-gesa.

Taehyung termenung tidak tau akan kemana, tapi hanya satu tujuan yang membuat dirinya sangat penasaran “dimana Jimin dan Jin kecelekaan. Kau sudah berjanji untuk mengatakannya padaku kan?” Rapmon mulai menyusun kata-kata untuk menunjukan lokasi dimana kecelakaan Jimin dan Jin terjadi. Tidak berfikir lama Taehyung segera pergi setelah Rapmon melepaskan genggamannya pada lengannya. Semua semakin rumit jika terus difikirkan. Rapmon sama sekali tidak tau harus berbuat apa agar semua kembali seperti semula.

Taehyung mencari taxi dan meminta taxi itu untuk membawanya kesebuah tempat dimana kecelalakaan Jin dan Jimin terjadi. Lamanya dalam perjalanan membuat Taehyung semakin penasaran hingga pada tibanya disuatu tempat. Taxi yang membawa Taehyung memakirkan mobilnya kepinggir jalan. “tempat ini yang anda maksud tuan”. Taehyung memberikan beberapa lembar won dan mulai melihat lambang garis polisi agar tidak dimasuki siapapun. Semakin ingin tahu Taehyung melewati garis polisi itu dan mulai mencari sesuatu jejak yang memungkinkan untuk menemukan Jimin. sudah sebulan lamanya kecelakaan Jin dan Jimin terjadi mengapa tidak ada satupun jejak yang dapat ditemukan polisi. Apa yang sebenarnya dilakukan polisi sebenarnya hingga tidak menghasilkan apa-apa selama pencariannya sebulan. Memutar-mutar tubuhnya mencari sesuatu yang tak pasti, dan saat pandangannya memandang kearah sungai dibawah semak-semak. Dirinya mulai berjalan menuju arah sungai dimana ada garis polisi lain disana. “Korban kedua?” tulisan tertera disana. kemungkinan ini adalah garis polisi untuk Jimin yang dikatakan terlempar dari badan mobil.

“Jiminie kau dimana?” bisiknya kecil dengan tetap fokus pada pencariannya.


-------------------


Hongbin dan Jimin didalam sebuah mobil hendak pergi menuju rumah sakit Busan dimana dulu Jimin dirawat. Itu semua dikarenakan Jimin selalu merintih sakit akibat ingatan masa lalu yang selalu menghantuinya lewat mimpi. Jimin merasa tidak nyaman dan mengadukan itu pada Sojin, lalu meminta Hongbin agar mengantarkan Jimin pada dokter yang merawatnya. Sedang asik melihat kondisi luar Jimin memperhatikan seorang namja yang entah kenapa sepertinya pernah Jimin lihat. Tapi entah dimana? “namja itu” Jimin menyadarkan Hongbin akan suaranya yang tiba-tiba terdengar.
“ada apa Chimchim?” Hongbin bertanya dengan tetap pada kecepatan kemudinya.

“namja disana aku seperti pernah bertemu dengannya, tapi aku tidak ingat dimana”

“namja mana?” mobil yang sudah melewati keberadaan Taehyung, sudah tidak memperlihatkan kemana arah pembicaraan Jimin tertuju. Karena sosok yang dicari sudah tidak nampak dari penglihatan mereka berdua. “mungkin kau hanya salah lihat Chimchim, selama ini kan kau homeschooling mana mungkin kau mengenal seseorang selain aku, Eomma, Noona, Appa. Jangan kau fikirkan, kita akan bertemu dokter untuk memastikan pengobatanmu”

“nde” singkat Jimin setelah mendapatkan elusan diarea kepalanya.

Sesampainya dirumah sakit mereka menghubungi perawat untuk meminta konfirmasi janji dari dokter yang sebelumnya telah Hongbin hubungi. Jimin yang menunggu Hongbin diruang tunggu memandangi sekeliling rumah sakit.

Seorang namja berambut hijau tengah menggandeng seorang namja kecil yang terlihat sangat lucu berjalan menunggu lift. Pandangan Jimin ditutupi tubuh Hongbin yang tiba-tiba saja mencari perhatian akan dirinya. “apa yang kau lihat Chimchim?” tanya Hongbin.

“aku tidak melihat apapun, apa dokter sudah bisa kita temui Hongbin-sshi?”

“nde, kita sudah ditunggu dokter. Ayo masuk, mau kubantu untuk berjalan”

“aku tidak sakit Hongbin-sshi, kau tidak perlu membantuku seperti orang sakit seperti itu” candanya dengan menjauhi sedikit tubuh Hongbin yang merapat kedirinya. Jimin jalan beriringan ditemani Hongbin memasuki pintu ruangan dokter secara pribadi. Yoongi yang sedang menunggu lift mulai meninggalkan posisinya dan mengajak Minseok pergi keruang rawat Jin dilantai 2. Minseok dengan kaki kecilnya yang tidak sabaran mulai berlari lalu memasuki pintu kamar rawat tanpa mengetuk terlebih dahulu. Rapmon kaget akan kedatangan Minseok yang berteriak memanggil Jin.

“Appaaa!”

Rapmon menahan Minseok yang sepertinya akan siap melompat keranjang Jin yang masih koma, “heeh, Malaikat kecil ini sepertinya lupa memberi salam pada Rapmon Hyung” Rapmon memeluk Minseok yang terus meminta dilepaskan. “Hyung lepaskan aku, aku ingin memberikan gambar buatanku pada Appa dan...” suara itu terhenti ketika Minseok mengingat bahwa tidak ada kehadiran Eommanya diruangan itu. sadar akan kesedihan muncul kembali Rapmon mencoba mencairkan suasana hati Minseok, “eeh Minseok-ah sudah makan siang belom? Sepertinya hyung mendengar suara perut seseorang. dan itu terdengar dari sini” Rapmon menggelitiki perut Minseok. itu berhasil mengembalikan senyuman manis Minseok.

Pandangan Rapmon beralih ke arah Yoongi yang tersenyum kecil memandangi aktivitasnya menggelitiki Minseok “aku akan mengajak Minseok keluar chagi, apa kau tidak apa-apa jika kutinggalkan sebentar?”

“nde, aku tidak apa-apa”

Rapmon menggandeng Minseok keluar untuk membelikan namja kecil ini cemilan kesukaannya. Sedangkan Yoongi duduk disofa untuk mengistirahatkan badannya karena merasakan lelah sepanjang hari ini. Bunyi mesin yang terdengar mengisyaratkan jantung sahabatnya Jin, menyadarkan Yoongi bahwa ada yang kurang saat ini. Ini tidak akan mudah Jin alami tanpa ada Jimin disampingnya. Untuk pertama kalinya Yoongi menjaga orang sakit sendirian diruang rawat, cukup menegangkan untuk namja cantik ini. Yoongi menghela nafasnya, namja cantik itu mengambil majalah yang tergeletak dimeja untuk sekedar membacanya agar mengalihkan pemikirannya dari hal aneh-aneh.



-------------------


Jimin serta Hongbin yang telah selesai konsultasi pada dokter pribadinya, keluar ruangan dan berniat untuk langsung pulang. tetapi seorang suster meminta Hongbin untuk kembali masuk “tuan Lee Hongbin anda kembali dipanggil dokter”

Hongbin memandang kearah Jimin yang terus menerus memperhatikan ke area sekeliling rumah sakit. “Chimchim kau bisa tunggu sebentar disini kan? Sepertinya dokter lupa akan sesuatu yang harus dibicarakan” Jimin mengangguk, mengerti. Hongbin mengacak rambut Jimin lalu pergi kembali masuk kedalam ruangan dokter yang sebelumnya ditinggalkan. Setelah pintu ruangan dokter tertutup dari dalam, Jimin duduk menunggu diruangan tunggu dengan masih memandangi sekeliling area rumah sakit. Ada sebuah suara yang seperti sedang memanggil dirinya. Jimin yang awalnya duduk tenang mulai menggerakan kakinya cemas.

Jimin beranjak dari kursinya akibat rasa penasaran yang menghantuinya, langkahnya secara perlahan menjauhi ruangan dokter yang telah hongbin masuki. Suara ramai rumah sakit sangat menganggu pendengaran Jimin yang sedang fokus akan suara seseorang yang memanggilnya. Jimin mulai berlari agar dirinya bisa menemukan suara seseorang yang memanggil dirinya. Hingga pada sebuah tangga darurat Jimin berhenti. Pendengaran Jimin berusaha di fokuskan dengan memejamkan kedua matanya. Suara ramai rumah sakit sedikit demi sedikit menghilang dan Jimin berjalan untuk menaiki tangga darurat menuju kelantai 2.  Sebuah suara seorang namja yang sedang kesakitan terus memanggilnya. Saat berada diujung pintu darurat lantai 2, Jimin kembali mendengar suara ramai rumah sakit. kedua mata Jimin yang tadinya terpejam terpaksa harus dibuka agar dirinya tidak menabrak orang lain saat berjalan. Jimin melangkahkan kakinya lagi untuk menelusuri lorong lantai 2. Dan saat itulah Jimin melewati ruangan rawat dimana Jin berada.

Keheningan terjadi selama Jimin mengitari lorong lantai 2 dimana seluruhnya ruangan rawat inap pasien. Jimin kebingungan dengan apa yang dialaminya, suara yang sebelumnya Jimin dengar menghilang seketika.

Yoongi yang berada didalam ruangan rawat Jin kaget, saat suara mesin jantung Jin berdetak cepat. “apa yang terjadi?” karena panik Yoongi melempar majalah yang dibacanya sembarangan dan memencet tombol emergency untuk memanggil suster maupun dokter. Tubuh Jin kejang-kejang dengan suara mesin yang begitu cepat diperdengarkan. “Jin-sshi  bertahanlah” suara Yoongi gemetaran ketakutan.

Jimin yang berada dilorong lantai 2 merasa aneh dengan kegaduhan yang tiba-tiba terjadi disalah satu ruangan rawat. Banyak perawat serta dokter memasuki ruangan itu, karena penasaran Jimin berniat ikut untuk masuk kedalam ruangan yang tidak dikenalinya. Namun kedatangan seseorang mengurungkan niat Jimin untuk masuk kedalam ruangan rawat Emergency itu.

“Hongbin-sshi?”

“aku mencarimu kemana-mana Chimchim, sedang apa kau disini?” tanyanya aneh pada Jimin yang tiba-tiba berada dilantai 2. Hongbin yang melihat banyak orang masuk kedalam ruangan itu mulai tersadar dan langsung menarik Jimin untuk menjauhi pintu sebuah ruangan. “Chimchim sudah kukatakan untuk tetap tinggal di ruang tunggu selagi aku dipanggil dokter”

“miane.. aku hanya kebanyakan berfikir dan tidak sadar sudah berada disini”

“berfikir? Apa yang kau fikirkan Chimchim, bukankah sudah dokter katakan agar tidak memikirkan hal yang memberatkan dirimu? Bagaimana jika nanti kepalamu sakit lagi”

Jimin berfikir dan melihat wajah cemas dari namja yang berstatus sahabatnya serta tunangan bagi dirinya, “miane Hongbin-sshi.. sungguh aku berjanji tidak akan membuamu khawatir lagi” Hongbin yang mendengar janji Jimin langsung memeluk namja manis dihadapannya.

Dilain sisi namja yang sedang menggandeng namja kecil memperhatikan dari jauh seseorang yang mungil sedang dipeluk namja yang lebih tinggi darinya. Wajah namja mungil nya tertutupi tubuh besar seseorang. tapi Bukan seorang yeoja Rapmon sadar itu, mungkin hubungan 2 namja yang sedang berpelukan sama halnya dengan dirinya. Sesuka Namja. tidak memperdulikannya Rapmon masuk kedalam ruangan Jin yang sudah ramai akan perawat serta dokter menangani Jin yang tiba-tiba saja jantungnya mengalami percepatan. Hongbin mengajak Jimin pulang menggunakan lift yang berada diujung lorong tanpa melewati kamar rawat Jin kembali. Setelah lift terbuka mereka masuk kedalam lift dan menuju Lobby untuk mengambil mobil yang sudah disiapkan Supir rumah sakit.


Masih berada diruangan Jin, Rapmon serta Yoongi diminta untuk keluar sementara mengingat Jin sedang mengalami kondisi darurat. Rapmon berteriak memohon “dokter tolong selamatkan sahabat saya. Lakukan apa saja semaksimal mungkin”. Yoongi ketakutan dan Rapmon mencoba untuk menenangkan kekasihnya itu. ini pertama kalinya Yoongi melihat sosok orang yang seperti akan meninggal dunia. Tidak mau. Yoongi tidak mau berada diruangan Jin sendirian lagi. Air mata Yoongi mengalir membasahi pipinya karena rasa takutnya saat melihat tubuh Jin kejang-kejang masih teringat. Minseok yang duduk manis hanya menunggu dengan perasaan yang tidak mau dijelaskan pada 2 namja dewasa yang masih kebingungan harus berbuat apa. dalam hati Minseok hanya menginginkan keluarga yang utuh. Hanya itu tanpa menuntu apapun lagi. “Eomma aku berharap kau baik-baik saja dimanapun kau berada, karena Appa sangat membutuhkanmu disini” bisik Minseok pelan dalam hatinya.

Sedangkan didalam ruangan seluruh perawat mengikuti setiap arahan sang dokter. Dokter yang sedang melakukan tindakan resusitasi melihat kemonitor EKG yang menunjukan garis datar, pertanda jantung Jin telah berhenti berdetak. “siapkan defibrilator” perintah dokter, dan perawat segera membawa defibrilator, sebuah alat kejut jantung.

Gel bening dioleskan kedada Jin, lalu dokter memberi aba-aba “200joule, all clear??”

“clear!!” seluruh perawat memberikan tanda secara bersamaan, pertanda tidak ada seorang pun yang menempel ke pasien maupun ranjang pasien. Dan kedua bilah alat kejut jantung yang berbentuk seperti setrika ditempelkan sang dokter ke dada Jin. Tubuh itupun terlonjak. Namun tidak ada reaksi apapun dari tubuh Jin yang masih memberikan garis datar kemonitor. “360joule,all clear?!”

“Clear!!” Jin pun menerima kejutan jantungnya untuk kedua kali. Semua perawat dan sang dokter terdiam memandang ke monitor EKG. Garis itu masih datar terlihat. Harapan Jin selamat seakan sirna. Namun beberapa saat kemudian monitor EKG mengeluarkan bunyi “beep”, garis datar itu berubah menunjukan ada aktivitas jantung. Seluruh perawat tersenyum, sang dokter langsung memberikan intruksi pada salah satu suster untuk memasukan obat lewat selang infus Jin.

Jungkook dan Jung Ho Seok datang berseling dokter masuk kedalam ruang rawat Jin. “ada apa? kenapa kalian berada diluar?” Jungkook yang tidak mendapatkan jawaban, mendekati pintu ruangan Jin lalu menemukan banyak dokter serta perawat didalam. Jungkook kembali mendekati Rapmon, “apa yang terjadi dengan Jin-sshi?! Ada apa dengannya? kenapa dokter dan perawat banyak didalam? Katakan sesuatu!!?” kemeja Rapmon dicekik genggaman tangan Jungkook yang berusaha mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.

“tenangkan dirimu Jungkook-ah, aku juga tidak tau apa yang terjadi. Yoongi yang berada didalam tapi..” jungkook menghampiri keberadaan Yoongi dengan cepat, namja itu melakukan sesuatu yang sama halnya dilakukan pada Rapmon. “apa yang terjadi Yoongi-ah? Katakan padaku?! Kenapa Jin sampai berada dalam kondisi Emergency didalam”

“aku...tidak tau...tiba-tibaa... suara mesin...itu terdengar cepat, dan Jin-sshi...kejang-kejang” suaranya terdengar tidak beraturan.

Cukup lama menunggu diluar, beberapa perawat yang berada didalam keluar dengan dokter yang telah selesai menangani Jin. Seluruh sahabat Jin menghampiri dokter untuk mengetahui keadaan yang dialami Jin tiba-tiba. “dokter bagaimana keadaan temanku? Apa dia baik-baik saja? apa dia selamat? Apa dia sehat-sehat saja?” tanya Jungkook bertubi-tubi membuat dokter bingung harus menjelaskannya darimana.

“untuk kesulurahannya kami hampir kehilangan sahabat kalian, sekarang ini sahabat kalian sudah tidak apa-apa. kami sudah memberikan obat bius kedalam infusannya tapi kondisinya semakin lama semakin menurun. Kami tidak tau sampai kapan sahabat kalian akan bertahan seperti ini dengan alat yang menempel pada tubuhnya. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhannya lebih lanjut” Jungkook yang mendengar itu mendadak lemas dan hampir jatuh kelantai jika tidak ditangkap Jung Ho Seok. Semua kaget ketika Jungkook akan pingsan. Rapmon membantu Jung Ho Seok untuk membangunkan Jungkook berdiri. Minseok yang diam sambil duduk manis hanya meneteskan air matanya tanpa diketahui siapapun.



-------------------



Hongbin yang sudah membawa Jimin pergi jauh dari rumah sakit hanya mengalami keheningan dalam perjalanannya. Tidak biasanya Jimin terdiam seperti ini, “kau kenapa Chimchim? Katakan padaku sesuatu yang kau fikirkan agar kau tidak kefikiran terus”

Jimin yang tadinya hanya memandang keluar jendela tersenyum kearah Hongbin disampingnya, “aku tidak apa-apa Hongbin-sshi, semua baik-baik saja seperti yang kau lihat” senyum Jimin lebar diberikan pada Hongbin.

“yang aku lihat Chimchimku tidak seperti biasanya. Katakan padaku apa yang kau fikirkan, kau tidak bisa membohongiku terus-menerus. Chimchimku tidak pandai berbohong”

Jimin tertawa kecil mendengarkan kata-kata yang Hongbin ucapkan “aku hanya merasakan perasaan aneh Hongbin-sshi selama dirumah sakit itu, aku tidak tau kenapa seperti ada seseorang yang memanggilku disuatu tempat”

“suatu tempat? Apa kau yakin? Bukankah itu hanya perasaanmu?”             
    
“aku tidak tau, tapi aku merasa dadaku sesak jika tidak memenuhi panggilannya”

Hongbin mengeratkan genggamannya pada kemudinya dengan wajah tetap pada ketenangan. Pedal gas pun diinjak hingga melancarkan kecepatan yang menakuti Jimin didalam mobilnya. “Hongbin-sshi?! Pelankan mobilnya aku takut”

“ah?! Maafkan aku” Hongbin yang tersadar dari amarahnya mulai memelankan kecepatan mobilnya, wajah Jimin terlihat takut saat Hongbin seperti sengaja dengan apa yang dilakukan sebelumnya.


-------------------


Taehyung yang telah lelah mencari jejak keberadaan Jimin mulai terbaring disebuah batu tempat dimana terpasang garis polisi. Keringat mengalir diarea wajah letihnya, kedua matanya terpejam agar bisa menikmati suara derasnya air sungai didekatnya. Taehyung mulai mengkhayal kan sesuatu yang menyimpan banyak pertanyaan pada hatinya, apakah Jimin terbaring seperti ini ketika ditemukan orang asing? Apakah Jimin mendengar suara air sungai yang sama seperti Taehyung dengar saat ini? Apakah Jimin ketakutan saat tidak ada orang yang dirinya kenali berada disampingnya? Dan yang bisa Taehyung simpulkan saat ini, “dimana kau Jiminie” Taehyung membuka kedua matanya dan menatap langit sore yang mulai menyembunyikan sinar matahari. Suara gagak terdengar mulai bertebaran disetiap pohon yang dihinggapi dan suara seseorang terdengar.

“hyung!” teriaknya menyadarkan Taehyung yang langsung bangkit mencari darimana suara itu berasal. Pandangannya berhenti di sebuah jalanan yang menyembunyikan keberadaan air sungai dari semak-semak liar. Sosok namja yang sangat manis Taehyung lihat sedang berusaha memanggil namja lain yang berlari kearahnya.

“sudah hampir sore kau tidak perlu menjemputku, jika terjadi apa-apa padamu aku yang kena marah Appa dan Eomma! Pabo!”

“aku khawatir padamu hyung! Makanya aku menjemputmu”

“yasudah ayo pulang, aku membawakan banyak ikan hasil pancinganku di sungai itu” tunjuk namja itu kearah dimana Taehyung berada. Sebenarnya namja itu ingin menunjuk kearah sungai tapi malah keberadaan Taehyung mengejutkan dirinya yang sebelumnya tidak namja itu lihat.

“kau bersama siapa hyung?”

“tidak tahu.. aku tadi tidak melihat namja itu saat memancing” namja yang dipanggil hyung merangkul dongsaengnya dan mengajak namja itu pergi meninggalkan Taehyung yang diam memperhatikan kepergian mereka.

Taehyung benar-benar sangat merindukan Jimin saat ini, “Jimin.. Jimin..” taehyung kembali duduk pada posisinya yang sebelumnya telah ditinggalkan. Dan memeluk kedua lututnya untuk menyembunyikan air matanya.

-

“hyung... hyung?”

Taehyung yang mendengar suara seseorang memanggilnya mengangakat wajahnya dari pelukan yang menyembunyikan air matanya. Kedua matanya telah basah dengan air mata yang tidak bisa dirinya pendam lagi saat mengetahui bahwa dirinya kehilangan Jimin. sentuhan pelan dari belakang memberikan Taehyung keterkejutan akan kehadiran namja manis yang dirindukannya.

“Jiminnie!” taehyung memeluk Jimin dengan seerat mungkin, berharap ini adalah hal yang nyata dirinya alami. Dengan antusias Taehyung menyentuh seluruh wajah, tubuh, serta kedua tangan Jimin yang telah berada dihadapannya. “ini sungguh kau! Kemana saja kau? Kenapa kau membuat semua khawatir?!” Jimin hanya tersenyum pada Taehyung. “apa kau tumbuh dengan sehat? Dimana selama ini kau tinggal? Hyung sangat mencemaskanmu” ucapnya lagi.

Jimin masih hanya tersenyum, taehyung mulai gelisah karena tidak mendapatkan respon dari Jimin “kau baik-baik saja? apa ada yang sakit? katakan pada hyung apa ada yang berbuat jahat padamu Jiminie?” kedua tangan Taehyung digenggam Jimin agar lepas dari wajah manisnya.

“gwenchana hyungie, aku tumbuh sehat selama ini”

“lalu kemana saja kau? Kenapa kau tidak kembali saat—” Taehyung baru ingat akan namja yang koma dirumah sakit. “Jin.. kita harus kembali kerumah sakit untuk menyadarkan Jin” Taehyung yang berniat mengajak Jimin tidak bisa berbuat apa-apa saat namja manis itu menahan tubuhnya agar tidak beranjak dari posisinya. “ada apa? kenapa kau—”

“aku tidak bisa pergi sekarang hyungie”

“waeyo?”

“aku kesini hanya ingin melihat hyungie baik-baik saja”

“Jiminie! Apa maksudmu!” jimin tersenyum kembali. Hembusan angin kencang mengharuskan Taehyung menutup kedua matanya. Dan saat dirinya kembali membuka kedua matanya Jimin tidak lagi berada dihadapannya. Taehyung berjalan, berteriak, mulai frustasi dengan rasa rindu yang dilandanya. “Jiminieeeeeeeeeeeeeee!”

-

Taehyung yang memeluk kedua lututnya tersadar dari mimpinya akan kehadiran seseorang menyentuh dirinya. “kau tidak kembali kerumah sakit, makanya aku menyusulmu kesini. Sekarang kita pulang” Rapmon meminta Taehyung untuk berdiri namun namja itu tidak mau mendengarnya. Nafas berat Rapmon dihembuskan dengan memandang kearah namja menyebalkan bernama Taehyung, “aku tau kau tidak bisa mengalihkan rasa khawatirmu pada Park Jimin. tapi bukankah sebaiknya kita hidup seperti biasanya, aku yakin Jimin pasti akan segera ditemukan”

“bagaimana jika orang jahat yang menyelamatkan Jimin tidak mau mengembalikan Jimin, bagaimana jika dirinya menahan Jimin disuatu tempat”

“berhentilah berfikir aneh-aneh. tidak ada orang jahat yang menyelamatkan orang lain yang tidak dikenali, jika dia orang jahat pasti orang itu membiarkan Jimin terbaring disini dan kehabisan darah. Tapi nyatanya orang itu membawa Jimin untuk diselamatkan”

“bagaimana kau tau Jimin diselamatkan?”

“orang-orang sini mengatakan bahwa korban lain dibawa seorang namja yang mengejar ambulance Jin, tapi mereka tidak tau apakah orang itu membawa kerumah sakit yang sama atau yang berbeda”

Taehyung berdiri untuk mensejajarkan tubuhnya pada Rapmon, “kau yakin dengan apa yang kau katakan?”

“nde, itu semua atas keterangan polisi. Sekarang polisi juga mencari keberadaan namja yang membawa Jimin”


Taehyung memeluk Rapmon dengan rasa banyak terimakasih, namja bernama Taehyung itu bisa kembali tersenyum dengan rasa sedikit ketenangan pada dirinya. “jika benar apa yang kau katakan itu, berarti tidak lama lagi Jimin kita temukan?”

Rapmon mengangguk dan kembali menerima pelukan dari Taehyung yang tidak sabar menunggu kembali Jimin dalam hidupnya. Rapmon mengajak Taehyung kembali pulang kerumah sakit agar dapat beristirahat, waktu malam juga tidak baik untuk kesehatan terlebih lagi tempat itu cukup berbahaya jika ditinggali lama. Dalam perjalanan Rapmon membicarakan kondisi yang terakhir dialami Jin, setelah kepergian Taehyung untuk mencari Jimin.

“apa? Jin hampir tidak tertolong?!”

“nde, dokter mengatakan bahwa kesehatannya semakin menurun terlebih lagi dirinya mengalami koma yang tidak bisa menyadarkan dirinya. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa pada namja mungil yang sepertinya hatinya tengah terguncang mengalami ini semua”

“maksudmu Kim Minseok?”

“namja kecil itu selalu terlihat tegar ketika berada disamping kita tapi saat berada dibelakang kita dia diam-diam menangis. Aku melihat itu semua tadi, aku tidak tau kenapa sepertinya ada ikatan antara 2 namja bodoh itu dengan malaikat kecil yang mereka temukan” Rapmon mengenang kembali ingatan saat pertama kali Jimin dengan Jin mengadopsi Minseok di Amerika. “aku tidak tau apa yang kedua namja bodoh itu lakukan di Amerika, tiba-tiba saja membawa anak kecil dari Amerika yang berbangsa sama dengan kita” lanjutnya.

“MinSeok artian Jimin dan Seok Jin, mereka membuat nama yang bagus untuk diikatkan pada namja kecil itu”

“sekarang Minseok sendirian tidak tau harus bersikap seperti apa, tapi sepertinya namja itu tidak mau memperlihatkan kesedihannya dihadapan kita lagi. Sepertinya namja kecil itu lebih memilih untuk tenang dengan menunggu kabar apa yang akan diterimanya”

“benarkah?” Taehyung termenung memandang ke luar jendela mobil. menuliskan beberapa hangul dikaca mobil yang sebelumnya ditiupkan agar tercipta embun. “Minseok”

Rapmon memandang kearah Taehyung yang sedang menuliskan nama Minseok dijendela sampingnya. “bagaimana dengan perasaanmu pada Jimin, Taehyung-ah? Sudah cukup lama hubungan Jin dengan Jimin. apakah kau masih menyimpan perasaanmu sendirian?” taehyung terdiam mendengar pertanyaan yang tertuju pada hatinya. Taehyung menoleh kearah Rapmon berada sambil menyadarkan kursi mobil untuk terlipat kebelakang.

“aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa pada Jiminie ku, kau tenang saja. aku sedikit mengantuk bisa aku istirahat sebentar” taehyung memiringkan tubuhnya agar tidak mendapatkan pertanyaan lagi dari Rapmon. Dan namja itupun berpura-pura untuk tidur selagi perjalanan menuju rumah sakit cukup memakan waktu lama. Rapmon sadar bahwa Taehyung berpura-pura tidur untuk menghindari nasehat yang akan diberikan dirinya. Tapi mungkin ini bukanlah waktu yang tepat mengingat Jimin masih belum ditemukan. Rapmon menyetel radio dimobilnya agar bisa mendengarkan lantunan musik diheningnya malam ini, sebuah lagu dari ost Autumn in my heartEndless Love. Taehyung menangis serta Rapmon sama halnya dengan Taehyung ketika mendengarkan lagu itu secara bersamaan.


-------------------


Hongbin berada dikediamannya setelah mengantar Jimin pulang kerumahnya. Namja itu mengambil sebuah barang milik Jimin yang sengaja dirinya simpan rapat-rapat dilaci kamarnya. Sebuah foto Jimin bersama dengan seorang namja tampak sangat mesra membuat dirinya terbakar cemburu setiap kali memandangnya. Foto itupun di remukan dalam genggamannya. Masih belum puas dengan apa yang dirinya lakukan, hongbin lalu membakar foto milik Jimin yang berisikan kenangan saat bersama Jin. “bukankah ini sudah tidak kau perlukan Park Jimin? karena sekarang kau sudah memiliki keluarga yang sebenarnya, cinta yang sebenarnya, dan kehidupan yang sebenarnya. Selama ini kau berada di kehidupan yang mungkin sangat sulit untuk kau hadapi” api itu pelan-pelan menghanguskan seluruh gambar dalam foto milik Jimin dan Jin.

“aku berjanji padamu untuk tidak mengembalikan ingatanmu pada namja yang bukanlah cintamu yang sebenarnya. Karena kau adalah Chimchimku, Chimchim milik Lee Hongbin” hongbin mengambil minuman miliknya di lemari es dan meminum beberapa alkohol untuk menemani malamnya yang sedikit membuat dirinya kesal. Hongbin berfikir perasaan Jimin bukanlah hanya sekedar perasaan yang dirinya rasakan. “Mungkinkah ada ikatan yang membuat Jimin mendengar suara seseorang memanggilnya” tanyanya penasaran pada diri sendiri.

“aku hanya merasakan perasaan aneh Hongbin-sshi selama dirumah sakit itu, aku tidak tau kenapa seperti ada seseorang yang memanggilku disuatu tempat”

“suatu tempat? Apa kau yakin? Bukankah itu hanya perasaanmu?”       
         
“aku tidak tau, tapi aku merasa dadaku sesak jika tidak memenuhi panggilannya”

Hongbin kembali mengeratkan genggamannya pada gelas yang sedang dipegangnya, dan membanting gelas itu hingga pecah berkeping-keping dilantai kamarnya. amarahnya sudah tidak bisa tersalurkan lagi dirinya ingin hidup normal bersama Jimin kecilnya yang baru saja ditemukan. Sudah bertahun-tahun Hongbin mencari Jimin hingga pada akhirnya putus asa dan lebih memilih untuk merelakan kehilangannya. Sekarang Jimin sudah berada dihadapannya bagaimana bisa Hongbin melepaskannya begitu saja?. tidak. Hongbin akan membuat Jimin melupakan masa lalunya untuk selama-lamanya, dan memperbaiki hubungannya sebaik mungkin agar Jimin nyaman berada disampingnya. Ini harus segera berkahir. “tidak ada yang bisa menjalani hubungan dengan Chimchimku, selain aku” tegasnya pada kalimatnya yang ditunjukan pada dirinya sendiri.




To becontinue...








Comments

  1. eeeeeee eeeeeee aku jadi rasa mahu bunuh saja si Hongbin sialan tu pulangkn jimin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah membakar suasana hati rider si visual Hongbin >//< jgn dibunuh nnti ceritanya kelar chingu :p

      Delete

Post a Comment

Popular Posts