Yoonmin - LOVE IS NOT OVER ft. JinJimin // ONE SHOOT







Yoongi mengeratkan pelukannya pada kekasihnya yang sedang tidur tenang ditempat tidur.Layaknya kucing yang manja seluruh tubuhnya bergerak berusaha mendapatkan perhatian dari namja yang kini dipeluknya. Namun usahanya tidak membuahkan hasil apa-apa. namja itu hanya bangkit dari tidurnya tanpa memperdulikan Yoongi yang sedari tadi meminta perhatian darinya. Yoongi hanya menghembuskan nafasnya menandakan bahwa dirinya benar-benar kesal. Namja manis yang tinggal di Apartemen Yoongi adalah kekasih yang sudah menjalin hubungan dengannya cukup lama. Tapi tanpa sepengetahuan Yoongi yang selalu saja sibuk dengan urusannya diluar, namja itu merasa bosan. Akan sikap Yoongi yang semakin hari semakin berubah. Hanya mendiaminya lah cara terbaik agar Yoongi sadar akan kesalahannya. Yoongi kembali memeluk namja manis itu yang sekarang sedang sibuk mencari sesuatu di lemari pendingin area dapurnya. Dan untuk kesekian kalinya tepisan diterima Yoongi. “kau ini kenapa Jimin-ah? Kenapa kau tidak mau aku memelukmu seperti biasa. Aku sudah cukup lelah dengan kantorku”

Jimin terdiam dengan tidak memandang Yoongi yang terus-menerus mengeraskan suaranya, “lihat aku! Jimin-ah!” tarikanpun diterima lengan Jimin yang selalu menghindari Yoongi. Jimin menolak untuk menghadap namja yang sudah bertahun-tahun menjalin hubungan dengannya itu. semakin keras genggaman Yoongi, Jimin pun tidak kuat dan mendorong namja itu untuk menjauhi dirinya. “LEPAAASKANN!”. Air mata Jimin tidak dapat tertahan lagi, kenapa Yoongi membohonginya. Jimin sangat ingin dipeluk Yoongi seperti dulu, kehangatannya, sentuhannya, hembusan nafasnya. Tapi akhir-akhir ini Yoongi selalu berbohong padanya. Jimin tidak tau alasannya.


Yang dirinya ingat sore tadi Yoongi sedang asik bersama dengan namja cantik yang terus terdiam dilengan Yoongi manja. Kenapa? Apa yang dilakukan Yoongi sebenarnya. Bukankah dia mengatakan akan melakukan meeting dan pulang sedikit larut. Apa karena ini semua? Jimin mencoba untuk menghubungi Yoongi yang sedang tidak lagi sibuk dipandangannya. Dan berhasil mendapatkan respon dari kekasihnya.



“yeoboseyo? Jimin-ah ada apa?” yoongi menjawab dengan sangat santainya. Jimin terdiam sejenak sebelum akhirnya bicara.


“kau dimana?”


“aku? Tentu saja dikantor. Dimana lagi aku berada Jimin-ah, apa kau membutuhkan sesuatu?” tanyanya lagi, “jika tidak aku harus menutup telpon dulu. Nanti aku akan menghubungimu lagi.. aku sedikit sibuk sekarang”


Sibuk?

Kau yakin mengatakan itu?

Kenapa?

Kenapa kau membohongiku Yoongi?

“nde. Aku akan menunggu mu di Apartemen”

“arraso..”

Jimin masih sangat mengingat kejadian yang telah memberikan fakta bahwa kekasihnya telah mulai mengkhianati dirinya. Tapi hati kecilnya mencoba menepis itu semua agar hubungannya tetap baik-baik saja tanpa adanya pertengkaran. Jimin mengatur emosinya dan mulai memandang kearah Yoongi yang masih setia mengeratkan genggamannya. “bisakah kau tidak pulang larut terus Min Yoongi?” suara lembut Jimin terdengar, Yoongi melonggarkan genggaman yang sebelumnya terasa erat.

“kau seperti ini karena aku sering pulang larut malam?” Yoongi tertawa kecil, lalu menggelengkan kepalanya seperti tanda ‘bukankah ini hanya sepele’ – “Jimin-ah aku kan bekerja untuk kita nantinya, kenapa kau jadi seperti ini padaku?”

“apa kau yakin hubungan kita akan berjalan sesuai rencana? Bagaimana dengan keluarga kita? Apa mereka akan mendukung kita?”

“tentu saja akan mendukung kita! Hubungan kita sudah cukup berlangsung lama, kau ingat!” Yoongi menatap intens netra Jimin yang sangat indah setiap kali dilihat. Begitu suka. Hingga akhirnya sangat ingin dimiliki Min Yoongi. Yoongi melepaskan tangan Jimin dan beranjak pergi untuk sejenak mengistirahatkan tubuhnya ditempat tidur. Air mata Jimin dihapus sendiri dengan tangannya, biasanya Yoongi yang siap menghapus air matanya saat tubuhnya mulai terasa gemetar. Sekarang telah berbeda. semua berbeda semenjak Jimin mengetahui alasan perubahan Yoongi selama ini. “dengan siapa kau sore tadi?” Yoongi yang baru saja memejamkan kedua matanya, terbelalak tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku dikan—”

“Cafe” Jimin berusaha untuk menyelesaikan permasalahan yang telah membelit hubungannya sekarang. “kau berada di Cafe bukan?”

“apa maksudmu?”

“kenapa kau berbohong padaku Min Yoongi?” masih sangat Lembut Jimin bertanya, Yoongi tidak akan pernah tau bahwa kekasihnya bisa saja memukul tembok Apartemennya dan menghancurkannya menjadi bagian-bagian kecil. “kenapa kau menyembunyikan bahwa kau telah bertemu dengan seorang namja uke di Cafe tadi sore?”

Yoongi yang sudah tidak bisa mencari alasan membalikan badannya, enggan untuk menatap mata Jimin yang seperti telah menyaksikannya sendiri kejadian tadi sore. Atau mungkin? “kau mengikutiku?” tanya Yoongi.

“aniyo..! aku tidak pernah mengikutimu, aku hanya kebetulan saja berada disana saat ingin mengerjakan tugas kuliahku bersama Jin”

“Seok Jin!!? Kau pergi ke Cafe bersama Seok Jin!” salah satu meja yang berada didekat Yoongi tidak luput dari amukannya. “kau kenapa masih meladeni namja yang kau tau sendiri menyukaimu!!?”

“itu hanya tugas yang memang diberikan padaku dan Jin dari kuliah! Kau jangan memutar pembicaraan dengan mengalihkannya padaku!”

“kau harusnya pulang ke Apartemen setelah selesai kuliah!! Kau bisa pergi mengerjakan tugasnya saat bersamaku! Agar namja itu tidak macam-macam kan!” Yoongi memberikan pandangan emosinya, dan itu berhasil membuat Jimin ketakutan. Pembicaraan ini semakin menyudutkan Jimin kearah tembok agar namja manis itu tidak mampu bergerak lagi. Yoongi benar-benar kesal saat ini. Tajam. Seperti telah merobek hati Jimin dengan benda yang cukup tajam. “kau tau kenapa aku bersama namja uke tadi sore?!! Itu karena kau selalu saja tidak mau aku ajak bermesraan seperti biasanya! Kau selalu pulang dari kuliah dan mengatakan dirimu lelah untuk melakukan hal yang menyenangkan bersamaku!! Kau tau bagaimana perasaanku?! Muaak! Aku muak denganmu yang kuliah terus-menerus mengikuti kegiatan hingga tidak kenal waktu!! Aku bertahan dan terus bertahan
dalam keadaan aku sangat ingin melakukannya bersamamu!?! Tapi apa yang kudapatkan penolakan darimuu!” suara Yoongi sudah tidak dapat menahan emosinya, kedua tangan Jimin dikunci pergerakannya. Dan bibir kecilnya menyentuh setiap lekuk wajah Jimin. tidak. Bukan ini yang Jimin inginkan. Ini terlalu menakutkan untuk Jimin lakukan bersama dengan Yoongi. Jimin sangat mencintai Yoongi tapi bukan cinta yang seperti ini. Setiap perhatian, kasih sayang, serta cinta yang dibutuhkan Jimin sudah tidak setulus saat dulu dirasakan bersama dengan Yoongi.

Jimin meronta atas perlakuan Yoongi yang terus saja memaksakan keinginannya bermesraan dengan dirinya. Sudah tidak sanggup. Dan ini sangat menjijikan jika terus dilanjutkan. Jimin berusaha melepaskan tangannya yang sebelumnya terkunci rapat dalam genggaman Yoongi secara kasar. Tangannya pun memukul wajah Yoongi yang langsung memundurkan tubuhnya karena kaget dengan tindakan sang kekasih. Untuk pertama kalinya Yoongi merasakan sakit dipukul Jimin sangat keras. “kau memukulku?”

“kau tidak memberikanku pilihan” air mata terus menetes disetiap pipi Jimin yang sudah tidak tau harus melakukan apa untuk menyadarkan kekasihnya itu. Yoongi terdiam. Namun Jimin sadar wajahnya sudah tidak lagi memiliki ekspresi seperti dulu. Tiba-tiba suara Yoongi yang tenang terdengar, “keluar dari Apartemenku”

“nde?”

“keluar dari Apartemenku sekarang!” tidak pernah Jimin memikirkan bahwa kekasihnya akan mengusirnya. Jimin hanya ingin Yoongi jujur bahwa dirinya telah bersama namja lain diluar sana, hanya itu. tanpa menunggu lagi tubuh Jimin bergerak untuk merapihkan semua pakaiannya yang berada dilemari Yoongi. Hatinya sakit. tidak tau dirinya akan pergi kemana setelah Yoongi mengusirnya. Yang pasti Jimin harus segera keluar dari Apartemen ini sebelum Yoongi kembali meneriaki dirinya. Setelah semua siap dibereskan namja itupun memakai sepatunya, saat itulah sentuhan Yoongi kembali dirasakan. Pelukan Yoongi diberikan dari belakang untuk mencegah kepergian kekasihnya itu. “mian.. aku sama sekali tidak sadar atas ucapanku sendiri..jeongmal mian”

Jimin tidak merespon, dengan perlahan pelukan Yoongi dilepaskan Jimin agar tidak menahannya. “kau tau apa yang membuatku begitu mencintaimu?” Yoongi menggeleng tidak tau. “kau adalah namja terdiam, kau namja yang selalu tidak ingin tau, kau namja yang selalu ingin sendiri jika aku tidak menghampirimu. Entah kenapa hanya saat itu aku rasakan kau memiliki hati. Semua berubah saat kau sudah pintar bergaul, kau berpenghasilan, kau sudah cukup dipandang. Mungkin kau sudah tidak membutuhkanku tuan Min Yoongi. Aku sadar, kalau aku hanya menumpang ditempatmu. Aku tidak bisa menuntut apapun padamu. Karena bagimu aku hanya serpihan kecil dari apa yang kau miliki!” Jimin melangkah pergi menuju pintu Apartemen dan kembali ditahan Yoongi agar tidak melewati pintu itu. “minggir”

“aku tidak mau.. Jimin-ah aku.. aku hanya emosi saat mengatakan itu. sungguh aku—!”

“kau telah mengusirku tuan Min Yoongi, aku harus pergi. Aku hanya mengatakan pelan padamu agar semua tetap baik-baik saja. jadi menyingkirlah” untuk terakhir kalinya Jimin menyentuh pundak Yoongi, agar namja itu tidak menutup jalan keluarnya. Kepergian Jimin bagaikan mimpi buruk dengan tindakan yang telah Yoongi lakukan malam ini. Namja itu benar-benar tidak habis fikir bagaimana dirinya bisa mengatakan hal yang tidak seharusnya dirinya ucapkan pada namja yang dicintainya cukup lama. Hanya Jimin yang selama ini menemaninya. Hanya Jimin yang selalu saja sabar menghadapi sikap dinginnya. Dan hanya Jimin yang mau melakukan apapun untuknya. Lalu apa yang sekarang dirinya lakukan pada Jimin. membuat tangan mungil namja itu berhasil menampar dirinya akan ulah memaksanya. Yoongi berlari keluar hendak mengejar namja mungil yang sebelumnya telah lama meninggalkan Apartemen miliknya. Suhu malam ini begitu dingin kenapa Yoongi begitu tega mengusir Jimin saat malam-malam begini. Yoongi sudah tidak
memiliki akal sehat.

Berjalan-jalan, berlari-lari tidak tau arah tujuan. Kemana kekasihnya itu pergi sebenarnya. Yoongi sudah tidak sanggup untuk berdiri walau hanya sebentar sekarang ini. Dia membutuhkan Jimin. dia ingin mengembalikan keadaan tanpa mengeluarkan emosinya. “Jiminnnnnn............!” teriaknya tidak perduli siapa yang mendengarnya. Seorang namja datang menghampiri Yoongi dan membantu dirinya berdiri. Yoongi sudah tidak bisa menolak bantuan siapa-siapa. Yang dirinya inginkan saat ini
sentuhan lembut Jimin yang sebelumnya telah menampar pipi halusnya.

Setelah berhenti di sebuah Apartemen milik Yoongi, namja itu merebahkan pelan tubuh Yoongi kekasurnya. Pandangannya menangkap wajah menyedihkan Yoongi saat ini menangisi namja yang sudah tidak lagi memperdulikan dirinya. Karena tidak tega namja itu mengambil air hangat disebuah baskom, dengan Lap untuk menghapus keringat dingin yang mengalir di area wajah putih Yoongi. Tangannya secara perlahan menyentuh lembut kuliat wajah Yoongi, dan akibat sentuhan itu Yoongi
tersadar dari tidurnya. “Jimin-ah?” Yoongi menarik pergelangan tangan namja yang sedang membersihkan wajahnya agar tidak menutupi wajahnya. “Jeon JoonKook” kecewanya.

“kau terdengar kecewa saat melihatku” namja itu kembali membersihkan wajah Yoongi yang sudah tidak lagi memegangnya. “kau akan baik-baik saja. lupakan namja itu, sudah ada aku disini”

“aku ingin kau keluar dari Apartemenku”

“itukah yang kau katakan pada seseorang yang sudah membantumu Min Yoongi?” Jungkook meletakan baskom yang dipegangnya dengan kasar hingga air hangatnya bertumpahan. Namja cantik itupun pergi dengan membanting pintu Apartemen Yoongi sangat kencang. Untuk kedua kalinya Yoongi melakukan pengusiran pada 2 namja yang dirinya sukai sekaligus dalam satu hari. jungkook adalah mantan kekasih Yoongi semasih dirinya sekolah di SMA. Saat di Cafe itulah mereka mengenang masa-masa indah ketika dulu menjadi sepasang kekasih. Entah kenapa Yoongi tidak dapat mengutarakan itu semua pada kekasihnya Jimin dan malah mengeluarkan kekesalannya pada namja manis itu secara kasar. Sekarang Yoongi sendirian. Tidak ada yang menemani kegelapannya seperti dulu. Seperti namja manis yang mengisi setiap mimpi indahnya. Yoongi masih ingat Saat Jimin ada di Apartemen, namja manis itu lah yang memeluk tubuhnya ketika dingin menghampiri seisi ruangan. Tubunya merengkuk ditempat tidur berharap malam segera berganti siang agar dirinya
dapat mencari Jimin lebih lama.

Keesokan paginya Yoongi bersiap-siap dengan penghangat mantel seadanya. Tidak perduli dengan suhu dingin diluar sana yang akan dirinya rasakan nantinya. Keinginannya hanya satu bertemu dengan Jimin dan memperbaiki semuanya. Yoongi mencari keseluruh jalanan Seoul secara asal. Pandangannya sama sekali tidak menemukan sosok namja manis yang dirinya cari. Yoongi mulai lelah namun tetap memaksakan dirinya agar menemukan Jimin cepat. Selama pencarian tidak ada minum ataupun makanan dari pagi mengisi kekosongan diperutnya. Hingga jam terus berputar menunjukan waktu sudah sore menjelang malam kembali. Dan pencarian nihil. Yoongi frustasi sama sekali tidak bisa menemukan kekasihnya berada. Kini namja itu hanya bisa melangkah pelan untuk beristirahat disebuah taman, dimana dulu Yoonmin pernah berkunjung untuk sekedar menenangkan diri. hembusan angin dari mulutnya mengepul akibat suhu dingin yang sudah menjalar menguasai tubuhnya. Yoongi memandang kesetiap sudut taman, dirinya melihat dari belakang namja berambut orange yang sepertinya Yoongi dapat menebak bahwa dialah namja yang dicarinya. “Jimin-ah” suara itu berbisik. Langkahnya dipercepat untuk dapat menemui Jimin yang sedang berdiri membelakanginya.

“Jimiiniee” –sebuah suara mengurungkan langkah Yoongi untuk mendekati Jimin, namja yang memanggil kekasihnya dapat Yoongi kenali. Kim Seok Jin. Dia berlari tidak sabaran dengan membawakan sebuah kotak hadiah yang ditujukan pada kekasihnya Min Yoongi. Yoongi menyembunyikan dirinya dari balik pohon dan berusaha mendengarkan apa yang kekasihnya lakukan bersama dengan Jin.

“hadiah ini adalah barang yang kau minta, aku yakin kau suka” ucap Jin dengan sesekali mengacak rambut Jimin yang lebih pendek darinya. Jimin tersenyum pada Jin. Yoongi kesal dengan senyuman yang diberikan Jimin pada namja yang menyukai kekasihnya itu. harusnya Jimin tidak pernah melakukan itu pada namja lain. Dengan masih tetap mendengarkan , yoongi menangkap pembicaraan mereka.

“terimakasih sudah membantuku menemukan hadiah ini Jin-sshi.. aku tidak tau harus mengatakan apa saat kau menemukannya”

“Cheonma.. aku ingin kau menjaganya”

Jimin mengangguk dan berjalan pergi beriringan dengan langkah Jin. Yoongi yang melihatnya hanya bisa terdiam tanpa berniat mengikuti Jimin. hatinya sakit. mungkin hati Jimin yang tersakiti lebih dari ini ketika Yoongi mengusirnya malam itu. yoongi benar-benar bodoh, mengapa dirinya melepaskan namja yang dicintainya dan membiarkan kekasihnya mendapatkan perhatian dari namja lain. Yoongi
menangis. Menangis sendirian di tengah taman.

Jimin berjalan dengan Jin tidak tau akan kehadiran Yoongi, mereka tertawa dan berbicara tentang hubungan Jimin dengan Yoongi. “kau begitu mencintainya ya Jiminie? Aku sangat iri dengan namja yang bernama Yoongi itu”

“iri? Bagaimana bisa kau iri dengannya, kau sudah begitu populer dikalangan para yeoja Jin-sshi”

“karena kau tau bukan aku hanya menyukaimu. Dan Yoongi tau akan hal itu, dan sekarang kau menerima pengusiran darinya. Mianhe atas ini semua terjadi pada hubungan kalian”

Jimin menarik nafasnya, “gwenchana.. semua baik-baik saja. dia hanya mengusirku tanpa mengatakan apa-apa tentang hubungan yang berakhir. Itu hanya emosi sesaat Yoongi yang lelah, aku tau itu. karena kami tidak sebentar menjalani hubungan ini” Jimin mengeratkan pelukan pada hadiahnya yang akan ditunjutkan pada kekasihnya Yoongi besok. “syal ini sudah kubuat cukup laama untuk merayakan malam natal bersama Yoongi, sangat bodoh sampai benda ini tadi hilang. Aku bersyukur kau menemukannya. Gomawo Jin-sshi”

Jin sebenarnya merasakan sakit hati akan perasaan yang mendapatkan penolakan dari namja manis disampingnya. Tapi mau bagaimana lagi, Jimin sudah terlalu lama menjalani hubungan dengan Yoongi. Seandinya waktu mengizinkan Jin untuk bersama dengan Jimin tanpa adanya Yoongi, walau hanya sekedar mimpi. Dirinya sudah sangat bahagia. Jin tanpa sadar mencium keninga Jimin yang sedang terdiam memperhatikan dirinya melamun. Jimin mengerjapkan kedua bola matanya tidak percaya dengan perlakuan yang baru saja diterimanya. “Mian” Jin menutup bibir kecilnya yang baru saja seenaknya. 

“sebaiknya kita pulang” ucapnya tanpa memandang kearah namja tinggi bernama Jin. Jimin tidak tau harus berbuat apa karena ini diterimanya secara tiba-tiba. Memang tidak salah karena sejak awal Jin sudah sering mengatakan bahwa dirinya tertarik pada Jimin. dengan terus berusaha menjadi teman Jimin, Jin sudah sangat senang untuk menjadi partner pembuatan kado untuk kekasihnya. Syal hadian natal untuk Yoongi. Dengan warna merah kesukaannya. Jin membantu mengajarkan Jimin untuk merajut sendiri hadiahnya. Memang hanya Jin lah yang pandai membuat karya dengan tangan sendiri. dan itu terbukti hasil yang memuaskan. Itulah mengapa Jimin akhir-akhir ini sering kelelahan setiap pulang dari kuliahnya. Tanpa sepengatuhan Yoongi. Jimin hanya berharap Yoongi dapat menahan emosinya hingga malam natal datang.


25-12-2015


Jimin berlari ke Apartemen dimana Yoongi tinggal, dan untuk pertama kalinya suasana Apartemen begitu ramai dengan mobil pemadam kebakaran serta polisi berjaga. Tidak ada yang diizinkan masuk, lalu bagaimana Jimin bisa memberikan kado natal ini tepat waktu? Jimin mengangkat wajahnya dan menemukan jendela kamar Yoongi mengebulkan asap tebal dengan api yang menyala-nyala menghanguskan sebagian gedung “Yoongi?” Jimin menerobos, untuk memastikan kekasihnya tidak apa-apa. polisi yang tidak mengizinkan siapapun masuk segera menghentikan Jimin. jimin berteriak memanggil Yoongi dengan kado natal yang terjatuh ditanah. Dirinya berusaha untuk pergi ke lantai Apartemen kekasihnya tinggal. “Yooongggii!” sebuah ledakanpun kembali terdengar dengan terpusat dari kamar Yoongi. Jin datang untuk mendekap tubuh Jimin agar tidak melihat ledakan pada Apartemen milik Yoongi. Namja manis itu menangis untuk dapat diizinkan masuk, namun ini adalah
keadaan darurat. Jin tidak dapat mengabulkannya. Jimin terus memohon pada Jin dan namja tinggi itu hanya memberikan pelukannya.

“andweee! Min Yoongi!! Min Yoooongggii” ledakan terus-menerus terdengar, dan mengharuskan Jin untuk mengangkat tubuh Jimin agar beranjak dari lokasi yang membahayakan dirinya dan Jimin. “Yooongi.. Yoongi..Yoongi”

Kado natal itu pun dibiarkan tergeletak di tanah, beberapa masyarakat yang menonton diminta untuk menjauh karena ledakan semakin membakar gedung Apartemen keseluruhannya. Wajah Jimin memucat dengan air mata yang terus mengalir di pipi gempil miliknya, “Yooooongggi!!!” teriaknya tidak bisa menahan kesedihannya lebih lama. Percikan-percikan api mulai berjatuhan dan mengenai syal yang dibuatkan Jimin untuk kekasihnya. Syal itupun terbakar, dengan Jimin masih berteriak memanggil kekasihnya yang tidak merespon panggilannya.

Seandainya waktu dapat diulangi, Jimin tidak akan pernah mau meninggalkan kekasihnya sendirian di Apartemen. Ini semua salahnya. Ini adalah kesalahannya. Jin terus melindungi Jimin yang menangis terus-menerus.



END- ^^

Comments

  1. jd keinget i need u.. yoongi yg frustasi bakar kmar nya sdri.. huweee ini sedih thor dan msih banyaaaaak kslah pahaman. sequel pliis

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah jejakmu selalu memberikan ku semangat dalam pembuatan ff:D nnti yaa sequelnyaa nyusul ><

      Delete
  2. Cerita sedih eoh , thor ada sequel nya kan ? Gue masih penasaran sama nasib yoongi gimana ? Hubungannya sama jimin gimana? Mereka tetep gak bakal ngelakuin yang yoongi ingin lakukan ? Banyak pertanyaan diotak gue

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hay pita, gomawo sudah mampir di blogku dan menampilkan jejak kedatanganmuu>< sequel nyusul yaa.. berikan aku waktu hehe Yoonmin shipper~ :3 semua pertanyaan kamu dijawab saat sequel,^,^

      Delete
  3. Kagak terima kalo yoonmin berakhir cem beginian, sequel thor.... harus wajib malah... ayo, jan ngegantug begini, bru aja nangis eh malah habis, kan ngk enam.. :'( ahhh... harus tanggung jawab sini, beliin tisu... :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hay chimcha, gomawo sudah memberikan kelangsungan hidup author >< maafkan author yng belum siap mempost sequelnya..! maafkan author yg bikin baver tp author suka setiap komentarnya baik untuk Author!!hwaiting trs laah~^^

      Delete

Post a Comment

Popular Posts