BOY IN LUV S2 Chapter 10 // JIN // JIMIN //



Yoongi merasakan tubuhnya lemas, dan kepala yang sakit tiba-tiba. Kejadian pilu Jimin apakah terulang pada Jin yang baru saja selamat dari Komanya?


Taehyung yang murka menendang kursi-kursi rumah sakit yang tidak bersalah. Rambut dan pakaian yang dikenakan Taehyung berantakan. Ho Seok menyandarkan tubuhnya di tembok dengan kedua tangan yang melipat didadanya. Menunggu Rapmon yang pergi menemui dokter, memastikan kejanggalan apa yang sedang dialami Jin.


“kau kembali Jungkook-ah, kau tidak jadi pergi ke Amerika kan?” terangnya membingungkan Jungkook akan kejadian yang sudah lama menjadi bahan pembicaraan Jin lagi.

“Jin-sshi aku...”

“aku tidak ingin kau meninggalkanku dan pergi ke Amerika. Aku mohon jangan pergi Jungkook-ah” pelukan yang diterima Jungkook semakin kencang enggan untuk dilepaskan.


Jung Ho Seok mengingat setiap adegan ketika kekasihnya berada dipelukan mantannya yaitu Jin. wajah Jungkook sangat bahagia mendapati itu kembali, apa itu semua yang diinginkan Jungkook. apakah Jungkook tidak mengingat ataupun menyadari perasaan apa yang akan diberikan Jung Ho Seok saat mendapati momentnya itu? sakit. tentu saja sangat sakit, tapi Ho Seok sepertinya mulai sekarang akan merelakan keputusan apa yang akan nanti Jungkook berikan akan hubungannya. Tidak perduli akan berakhir atau berlanjut. Kebahagiaan Jungkook akan menjadi prioritas yang utama untuknya. Jung Ho Seok mendengar suara langkah kaki yang mendekati keberadaannya dan Taehyung didepan kamar rawat Jin.

“Nam Joon” ucap Jung Ho Seok yang melihat raut wajah tak menyenangkan dari Rapmon. Taehyung yang masih jenuh tidak perduli dan lebih berniat pergi dari rumah sakit untuk mencari Jimin. rapmon mencegah itu semua dengan ucapannya, “apakah kau tidak ingin tau tentang keadaan Jin, Taehyung-ah”

“aku tidak perduli dengan namja seulki itu!! dia telah melupakan Jiimiinn saat keadaan seperti ini! bagaimana bisa dia kembali pada Jungkook ketika Jimin tidak berhasil ditemukan! Namja seulki itu telah memulai dramanya dengan tidak mengenalikuu! Aiiissshhh!” geram Taehyung dengan meninju tembok rumah sakit.

“Jin terjebak dalam ingatan masalalunya karena trauma sebelum kecelakaan itu terjadi” Rapmon menciptakan keheningan pada Taehyung yang sebelumnya berteriak tidak karuan. Jung Ho Seok mendengarkan dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Rapmon menceritakan apa yang telah dijelaskan dokter dengan data kesehatan yang pihak rumah sakit Seoul dapatkan dari Busan. “kemungkinan terbesar Jin tidak dapat mengenali orang lain selain aku dan Jungkook, dan dirinya akan sulit percaya dengan keadaan yang terjadi sebenarnya. Ingatan Jin sepertinya berhenti saat Jungkook berniat ke Amerika untuk operasi dulu”

Suara tamparan yang cukup kencang memberikan respon pada ketiga namja yang berada diluar untuk segera memasuki ruangan Jin. terlihatlah Jin berdiri dengan menjadikan dirinya sebuah tameng untuk Jungkook yang berada diposisi belakangnya. Yoongi mendapatkan sebuah tamparan dari Jin, dan Rapmon tentu saja marah akan hal itu. Rapmon memeluk Yoongi yang shock dengan air mata menggantung dikedua matanya. “apa yang kau lakukan seulki!!” tangan Rapmon mendorong Jin kebelakang. “Chagi gwechana?” Rapmon mengangkat wajah Yoongi dimana sangat tampak jelas sebuah memar menghiasi wajah putihnya.

“Chagi? Kau berhubungan dengan namja, Rapmon? sejak kapan?” tanya Jin yang tidak mengerti. Rapmon memandang keras dan berniat memukul Jin namun Yoongi menarik tubuh Rapmon untuk tidak melakukan sesuatu pada Jin. Rapmon mengambil nafas secara perlahan saat wajah Yoongi mencoba menenangkan amarahnya yang tidak terima dengan tamparan yang diterima kekasihnya. “yaya jadi namja sok ini benar-benar kekasihmu?! Seulki! Ajarkan namjachingumu ini untuk tidak mengatakan hal-hal yang membuat aku dan Jungkook nantinya bertengkar. Aku bersumpah tidak akan memaafkan siapapun yang mencoba mengganggu hubunganku dengan Jungkook!”

Jung Ho Seok mencuri sedikit penglihatannya kearah Jungkook yang berada dibelakang Jin. tapi Jungkook mengurungkan niatnya untuk membalas tatapan itu.

“aku tidak mengenal namja bernama Park...siapa Park Park.. Jimin! jadi berhenti untuk mengatakan jika ada orang ketiga dihubunganku dengan Jungkook. Rapmon pergilah bawa namjachingumu dan teman-temanmu keluar, aku tidak ingin banyak orang dalam ruanganku” Jin duduk diranjangnya ditemani Jungkook yang berada disampingnya. Rapmon memandang ketus kearah Jin yang baru saja telah berani menampar Yoonginya. Mereka ber-4pun pergi meninggalkan ruangan Jin dengan tatapan penuh makna pada Jungkook. berharap namja cantik itu mengikuti langkah mereka keluar untuk membicarakan semuanya.

Pintu ditutup Rapmon, dan namja tinggi itu menuntun Yoongi untuk segera duduk dikursi bagian ruang tunggu rumah sakit. kedua tangan Rapmon mengangkat wajah Yoongi lagi untuk dapat memeriksa wajah putihnya yang merah. “hentikan Nam Joon, aku baik-baik saja. ini hanya luka kecil kau tidak perlu khawatir”

“luka kecil darimana? Tamparan ini sama saja melukai hatiku. Apa kau tau besarnya luka itu? aku akan meminta air hangat pada perawat”

Yoongi menghentikan langkah Rapmon dengan menggenggam tangannya yang baru saja siap pergi meninggalkannya, “bagaimana dengan Minseok jika mengetahui ini semua? Bagaimana jika dia ingin bertemu dengan Jin yang sama sekali tidak mengingatnya. Apa yang akan terjadi, aku tidak dapat membayangkannya Nam Joon. Kehilangan Jimin sudah menyakitinya lalu sekarang Jin—”

“Yoongi Jin tidak sepenuhnya hilang ingatan” Rapmon menjelaskan, “namja itu hanya mendapatkan trauma pada ingatannya, sebelum kecelakaan terjadi itu yang kudapatkan dari data kesehatan yang dibacakan dokter saat aku menemuinya”

“trauma? Apa maksudnya?”

“ingatan Jin berhenti pada masalalu dimana dirinya akan ditinggalkan Jungkook ke Amerika untuk Operasi. Itu kemungkinan yang aku simpulkan secara pribadi, dan pertemuan saat namja itu masuk SMA bertemu denganmu, Jimin, Taehyung, dan Ho Seok ditambah lagi Minseok sama sekali tidak dimilikinya. Yoongi untuk sekarang sebaiknya biarkan Jungkook yang menjaga Jin sampai namja itu keluar dari rumah sakit dalam keadaan yang stabil”

Yoongi mengalihkan pandangannya pada Jung Ho Seok yang masih setia memandangi ruang rawat Jin dengan membisu. Kehidupan tidak seindah yang Yoongi fikirkan sekarang, masalah terus menerus menghantui persahabatan mereka ber7. Semua hati seakan hancur menjadi serpihan abu yang tidak lagi terbentuk. Yoongi menyentuh tangan Ho Seok, dan namja itu menghentikan fokusnya pada pintu dimana kekasihnya berada. “gwenchana?”

Jung Ho Seok melihat setiap mata yang memandangnya dengan wajah yang sulit dijelaskan, Ho Seok hanya mengangguk untuk membalas pertanyaan yang Yoongi lontarkan padanya. Rapmon menimpali dengan menepuk pundak Jung Ho Seok sebagai pemberi semangat untuknya “semua akan baik-baik saja. aku yakin Jungkook akan kembali padamu, ini hanya bersifat sementara saja Jung Ho Seok. Aku memohon izin padamu untuk membiarkan Jungkook dengan Jin selama beberapa waktu”

“kau tidak memiliki hak apapun untuk meminta izin padaku Rapmon. Aku tidak akan apa-apa jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkanku”

Taehyung mengusap wajahnya.

Jung Ho Seok pergi setelah memohon izin pada ke3 namja yang masih setia menunggu Jin dirumah sakit. panggilan Ji Hyun majikannya a.k.a hal-abeoji Jungkook mengharuskan namja itu meninggalkan rumah sakit lebih awal. Dan semuanya mempersilahkan Ho Seok untuk melanjutkan pekerjaannya. Dalam perjalanannya menuju Lobby Jung Ho Seok mendapati sosok Jimin yang berada dalam dekapan namja asing yang tidak dikenalinya. “Jimin?” bisiknya terdengar dan mengikuti kemana Jimin akan dibawa namja asing tersebut. Tubuhnya putih pucat dan sebuah ruangan ICU dimasukinya, “aku tidak mungkin salah lihat, namja itu pasti Park Jimin”

Telpon Jung Ho Seok berdering, tertera sebuah nama sedang mencoba menghubunginya. “tuan Ji hyun sedang menunggu ku. Aku akan mengirimkan pesan pada Yoongi agar namja itu tau bahwa Jimin sedang berada disini” setelah mengirimkan pesannya, Jung Ho Seok pergi meninggalkan rumah sakit. Jung Ho Seok tidak tau jika Yoongi meninggalkan ponselnya dimobil dengan Powerbank yang terpasang untuk mengisi daya pada batre ponselnya. Kesempatan untuk mempertemukan Jimin dengan Jin pun sepertinya tidak akan semulus pikirannya yang telah mengetahui keberadaan Jimin dirumah sakit yang sama dengan Jin.



----------------------



Jimin yang langsung mendapatkan penanganan ICU menghilangkan kegelisahan nyonya Park akan putranya yang ditemukan sudah terkulai dilantai kamarnya. bentakanpun diberikan pada Hongbin yang sudah berani meninggalkan Jimin sendirian hingga menyebabkan namja manis itu jatuh tak sadarkan diri. “kenapa kau berada dikamar yang berbeda!? bukankah kau sudah berjanji untuk menjaga putraku! Kenapa kau tidak mengetahui kapan Jimin pingsan? Jika akan tau seperti ini aku tidak akan membiarkan putraku menginap ditempatmu lagi”

“bibi maafkan aku. Aku...fikiranku.. fikiranku saat itu sedang kacau, aku tidak ingin Jimin mendapatkan masalah saat emosiku tidak bisa terkontrol saat itu.. jadi aku menyendiri terlebih dulu hingga semuanya normal”

“aku tau kau bertengkar karena sebuah kesalah pahaman” Hongbin memicingkan matanya dan menebak bahwa Shin Gyu telah menceritakan pada Sojin.

“Apa Shin Gyu mengatakan sesuatu?”

“aniyo.. Shin Gyu hanya mengatakan kau dan Jimin bertengkar akan kesalah pahaman kecil. Hongbin aku mohon” Sojin berdiri tepat di depan pintu ICU, berharap dokter segera keluar dan memberi tahu pada dirinya bahwa Jimin baik-baik saja. “Aku mohon jangan tinggalkan Jimin, sama seperti yang aku lakukan. Apa kau menginginkan kehilangan Jimin untuk kedua kalinya? Hongbin hanya kau yang bisa menjaganya. Hanya kau yang bisa diandalkan untuk semuanya. Pertemuan yang sudah kau atur antara aku dengan Taehyung membuktikan bahwa kau benar-benar siap melindungi aku dan Jimin apapun yang terjadi”

“kau dan Taehyung, pertemuan itu akan terjadi besok”

“benar. Dan saat itulah aku akan mengatakan semuanya bahwa aku akan mengambil putraku kembali, aku akan meminta keluarga Kim untuk mencabut adopsi putraku. Serta melupakan semua yang pernah terjadi, dengan tidak menceritakan apapun pada Jimin yang hilang ingatan. Aku melakukan hal yang benar bukan?”

“nde bibi. Kau melakukan sesuatu sesuai dengan nalurimu sebagai seorang Eomma” Hongbin memeluk Sojin dari belakang berusaha memberikan kekuatan pada yeoja paruh baya itu untuk Esok hari ketika pertemuannya dengan keluarga Kim terjadi.

Dalam ruang ICU Jimin mengharapkan sesuatu terjadi pada mimpinya. Sebuah Ingatan yang tidak akan pernah hilang, dan menyiksanya terus untuk dapat diingat. Apa dosanya hingga ingatan itu hilang dari isi kepalanya? Jimin yang tidak sadarkan diri meneteskan air matanya. Perawat yang mendapatkan moment itu menghapuskan air mata Jimin, “namja ini menangis”.

Dokter memeriksa kedua mata Jimin yang dibuka secara paksa. Tidak ada tanda-tanda kesadaran dari namja yang meneteskan air matanya. “dia menangis dalam keadaan tidak sadarkan diri. suhu tubuhnya tidak stabil, dia mengalami demam tinggi”


-dalam mimpi Jimin menyukai tempat yang kini sedang disinggahinya, sebuah Apartemen yang tidak dikenalinya. Kakinya berjalan-jalan di Apartemen yang kosong tidak berpenghuni. Dan langkahnya terhenti saat Jimin memasuki Kamar mandi yang terdapat bath tub dengan air yang terisi setengah. Air itu tampak bergelombang tidak tenang, seperti ada seseorang yang baru saja menggunakannya.

kedua mata Jimin menatap kosong kearah bath tub yang kini telah disentuh dengan salah satu tangannya.

“Jiminnie?” panggilan seseorang membuat kepala Jimin harus menoleh kebelakang. Sosok namja yang tidak Jimin kenali berada dihadapannya sekarang, wajahnya sangat terlihat jelas.

“kau siapa?” tanya Jimin pelan.

“kau tidak mengenaliku, apa itu alasan kau tidak kembali?”

“alasan? Tidak kembali? Apa maksudmu?” silauan cahaya mulai menutupi wajah namja asing yang sepertinya mengenali Jimin. wajah itu semakin menghilang, dan entah kenapa Jimin takut akan kehilangannya.

“apa jika aku menyebutkan namaku. Kau akan langsung mengingatku?” cahaya itu semakin memakan seluruh tubuh namja dihadapannya. Sepertinya Jimin tidak ingin ditinggal sendiri, dengan reflek Jimin menarik tangan Namja itu. tubuh Jimin dan Namja asing itu kini berdekatan, Jimin ingin menangis tidak tau apa alasannya. namja asing itu pun tersenyum, dan mengecup singkat pipi Jimin. “ingatlah.. aku mohon ingatlah. Ingatlah namaku Kim Taehyung”

“Kim.. Taehyung?”

“Nde, Kim Taehyung”


Jimin tersadar dari tidurnya diruangan ICU, perawat serta dokter kaget karena Jimin tiba-tiba saja bangun. Sepertinya Jimin kebingungan dengan banyak orang mengelilinginya. Dirinya pun berlari meninggalkan ruangan ICU. Menabrak Hongbin yang sedang menunggu didepan pintu ruangan ICU. “Chimchim gwenchana?”  Hongbin memeluk Jimin yang seperti orang linglung. Keadaannya benar-benar kacau. Jimin tidak mengerti dengan arti mimpi yang menghantuinya terus menerus. Bahkan kini Jimin mengingat nama namja yang selalu masuk keisi kepalanya.

“ARRRRGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH” Jimin berteriak histeris membuat kebisingan dilorong rumah sakit. jimin gelagapan tidak tau apa yang harus dirinya perbuat dengan mimpi dan kenyataan yang dihadapinya sekarang. Sojin membantu Hongbin menenangkan Jimin namun kuatnya Jimin menghempaskan tubuh Sojin ke lantai. Tubuh Jimin dibenturkan berkali-kali pada tembok rumah sakit, Hongbin, seluruh perawat dan dokter berusaha menghentikan kegiatan yang menyakiti Jimin. Suntikan bercampur bius telah disiapkan. Ini agar Jimin tenang dengan keadaan yang membingungkan dirinya. 2 petugas rumah sakit membantu menahan tubuh Jimin yang memberontak, dan saat itu juga dokter yang memegang suntikan menyuntikan pada bagian leher Jimin. Dalam 15 detik efek biuspun bekerja, tubuh Jimin jatuh kembali namun ditangkap Hongbin. Sojin menangis sambil menghampiri putranya yang kini telah tenang.

“dia tidak apa-apa nyonya, hanya tertidur dengan efek obatnya yang tidak akan berlangsung lama. Ini semua agar pasien tidak menyakiti dirinya terus-menerus” Perawat menjelaskan pada Sojin yang shock. Hongbin meminta ruang inap VIP secara langsung, dan perawatpun menurutinya dengan bertindak cepat.


----------------------



Jungkook mengupas apel yang akan diberikan pada Jin untuk disantapnya. Dan Jin sangat menyukai tindakan romantis kekasihnya yang begitu perhatian akan dirinya yang dirawat. “apa aku harus sakit terus seperti ini untuk mendapatkan perhatianmu?” Jin menggoda Jungkook dengan senyuman jailnya.

“apa yang kau bicarakan? Apa selama ini aku tidak pernah perhatian padamu tuan Seok Jin” balas Jungkook dengan senyuman yang menampilkan gigi kelincinya yang rapih dan putih.

“aku selalu menyukaimu, kau tau itu” suara Jin menghentikan kegiatan mengupas Jungkook untuk sekedar memandangnya. “menjadi yang terbelakang disekolah sangatlah tidak membuatku nyaman tapi kehidupanku memang seperti itu. dan semenjak kehadiranmu aku merasa kehidupanku berubah dan mulai terasa lebih hidup. Itu sebabnya aku tidak menginginkan kepergianmu ke Amerika. Aku sangat takut. Aku benar-benar takut kehilanganmu” Jungkook mengalihkan pandangannya sejenak untuk berfikir tentang masa lalunya yang telah mengecewakan Jin. semua yang Jin katakan telah terjadi, ketakutan Jin telah terjadi hingga membuat dirinya berpaling pada Jimin. tapi seakan waktu berputar kembali, mendukung akan keinginan Jungkook untuk menghapus semua kesalahannya pada Jin. tidak ingin. Jungkook tidak akan membuat kesalahan untuk kedua kalinya dengan meninggalkan Jin sendirian dan berpaling darinya lagi. Pisau yang digenggam Jungkook bergetar dan itu menyadarkan Jin akan wajah Jungkook yang terlihat muram. Namja itupun mencubit pipi namja cantik itu dengan kedua tangannya, “tapi kau akhirnya tidak meninggalkanku kan”

“Appppoooo Jin-sshi!” ringis Jungkook dengan menepuk-nepuk ringan tangan Jin yang sedang menyakiti pipinya.

“aku tau kau begitu menyukaiku, aku tau kau tidak ingin kehilanganku”

“nde, aku tidak ingin kehilanganmu. Tidak akan pernah ingin kehilanganmu” mendengar itu dari Jungkook membuat hati Jin tenang.

Pandangan mata Rapmon yang melihatnya dari balik pintu sedikit memberikan memancarkan aura sinis. Tidak tau dengan apa yang sedang diperbincangkannya tapi Rapmon memang tidak menyukai setiap moment yang mereka berikan. “ini sangat kacau, benar-benar kacau”

“sejak awal ini semua sudah sangat kacau. Aku fikir dengan sadarnya Jin akan memberikan kita sedikit ketenangan, dan tinggal mencari Jimin. tapi yang sekarang terjadi tidak sesuai apa yang aku fikirkan. Ini diluar dari pemikiranku” Curhat Yoongi dengan perasaannya.

“Chagi sebaiknya kau dan Taehyung istirahat dimobil untuk sementara, sudah pukul 2 pagi. setidaknya kau bisa tidur sebelum mengantar Minseok nanti kesekolah lagi”

“bagaimana denganmu? Kau tidak ikut istirahat?”

“aku akan tetap disini, jika aku ingin istirahat aku bisa istirahat dimana saja. pergilah” Rapmon mengacak rambut hijau Yoongi dan menepuk pundak Taehyung agar mengikuti Yoongi pergi beristirahat. Sebenarnya Taehyung ingin menolak dan menemani Rapmon untuk tetap pada posisinya tapi sepertinya tarikan Yoongi mengharuskan dirinya mengikuti langkah namja cantik kekasih Rapmon.

Rapmon kembali memperhatikan 2 namja yang berada dalam 1 ruangan sedang asik pada pembicaraan mereka. Jin terlihat sangat bahagia dengan tidak tidur dalam kondisinya yang baru saja tersadar dari komanya. Mungkin namja itu lelah jika harus kembali tidur, dan lebih memilih untuk melepas kerinduan pada Jungkook. “kau melepaskan kerinduan pada orang yang salah Seok Jin. itu sebabnya aku menganggap dirimu itu Seulki. Dan kau pantas mendapatkan julukan itu dariku”

Yoongi dan Taehyung menunggu lift untuk pergi kelantai dasar, dengan perasaan yang menggantung kedua tangan Yoongi tidak cukup tenang mendapati keadaan hanya berdua dengan Taehyung. apakah ini saatnya Yoongi cerita dengan kejadian yang dialaminya saat bersama dengan Hongbin. Tapi Hongbin menginginkan pertemuan dengan Taehyung.



Flashback On

“sepertinya pembicaraan kita sudah berakhir. Aku ingin membersihkan diriku” Hongbin beranjak dari kursinya dan Yoongi menghentikan langkahnya dengan menutup pintu Caffe setelah Hongbin berniat menggapainya. “apa maumu?” Hongbin kembali bertanya pada namja cantik berambut hijau.

“aku tidak akan membiarkanmu pergi sampai kau membawaku ketempat Jimin! aku akan membawa Jimin kepada Jin!” mereka beradu tatapan, tanpa memperdulikan pandangan aneh dari banyak pengunjung Cafe tersebut.

“jika tidak keberatan aku ingin kau mempertemukanku dengan namja bernama Kim Taehyung, Eomma Jimin sangat menginginkan pertemuan dengan keluarga namja itu untuk mengatakan rasa terimakasihnya. Jadi bisakah kau memberi tahunya untuk ini semua?” Hongbin memberikan tanda pengenalnya pada Yoongi. “hubungi aku jika kau siap untuk mempertemukanku dengan Kim Taehyung”

Flashback Off


“Taehyung-ah?”

“nde?” suara Yoongi terdengar sangat pelan dan sulit terdengar Taehyung, namja itupun mendekati keberadaan Yoongi. “ada apa Yoongi-sshi?”

“aku.. aku telah bertemu dengan namja asing yang bersama Jimin tanpa sepengetahuan Rapmon-sshi” Taehyung yang mendengarnya langsung merengkuh pundak Yoongi, “bertemu dengan namja asing yang bersama Jiminnie? Dimana .. dimana kau bertemu dengan namja itu? apa yang namja itu katakan, kenapa kau tidak mengatakan pertemuan itu dan membawa Jiminnie ku pulang?”

Suara Lift yang berbunyi tidak dihiraukan, dan mereka masih diam pada tempatnya. Membiarkan lift itu tertutup kembali tanpa mengantar mereka turun kelantai dasar.

“namja asing itu mengatakan bahwa dirinya adalah tunangan Jimin, dan tidak kembalinya Jimin pada kita itu dikarenakan Jimin sudah menemukan kedua orang tua kandungnya” tubuh Taehyung tidak bergeming, beberapa detik kemudian tawa kecil terdengar keluar dari mulut Taehyung. “tunangan? Orang tua kandung? Itu semua pasti kebohongan”

“Taehyung-ah, Jimin telah bertemu dengan kedua orang tua kandungnya dan itu kenyataan yang sepertinya harus bisa kau pahami. Namja itu mengatakan padaku agar tidak mengatakan apapun tentang masa lalu yang kita miliki pada Jimin. dan terakhir kali dia sebelum meninggalkanku sendirian di Caffe itu, dia ingin bertemu denganmu Taehyung-ah. Aku tidak tau kebohongan atau kejujuran yang namja itu katakan, karena hanya kau yang tau. Sebelumnya bahkan aku tidak percaya bahwa kau dan Jimin adalah saudara angkat. Kau ataupun Jimin tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu. tapi aku mengerti mungkin kau punya alasan tidak mengatakan tentang itu semua”

“kalau begitu untuk apa namja itu menginginkan pertemuan denganku?” suara Taehyung tidak terdengar menyenangkan. “aku... tidak akan mengganggu hidup Jimin jika memang dongsaengku telah menemukan kebahagiaannya”

“kebahagiaan apa?! Jimin sekarang berada didalam kehidupan palsunya, dia tiak benar-benar bahagia tanpa ingatan tentang Jin, Minseok, termasuk tentangmu Hyungnya yang sudah lama sekali bersamanya. Taehyung-ah aku mohon temui namja itu dan katakan bahwa Jimin harus mengenali dirimu sebagai hyungnya. Jimin kehilangan seluruh ingatannya, dan perasaan ku mengatakan mereka memanfaatkan itu semua agar bisa merebut Jimin darimu”

“hilang ingatan seluruhnya?” Kondisi yang sama dialami Jin, mereka benar-benar memiliki kontak batin untuk tidak saling mengenal dengan menghilangkan ingatan masing-masing pikir Taehyung. Yoongi menenangkan Taehyung dengan menggenggam salah satu tangannya, tidak lupa senyuman hangat untuk menenangkan hati Taehyung diberikan, “nde... Jimin kehilangan ingatannya sama seperti yang Jin alami. Tapi namja itu sepenuhnya tidak mengingat kita semua sedangkan Jin terjebak pada ingatan masa lalunya. Jadi aku mohon padamu temui namja itu sebentar, keputusan selanjutnya aku tidak akan ikut campur. Setidaknya aku ingin namja itu tetap mengingatmu Taehyung-ah. Aku ingin kau tetap bersama Jimin walaupun Jin tidak bisa membantu kita untuk sekarang”

“kapan pertemuannya?” senyuman Yoongi mengembang saat Taehyung menanyakan sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi. “aku akan menemui namja itu sebagai hyungnya Jimin”

“Nde.. kau akan bertemu sebagai Hyung dari Jimin, sebagai perwakilan atas keluargamu atas hak Jimin. kau harus tau ikatan akan mengalahkan darah. Dan aku yakin kau dan Jimin memiliki ikatan yang sangat kuat”

“aku berharap begitu”

Jam berputar begitu cepat, tidak mengenal kondisi akan kegelisahan yang dialami Taehyung yang sebentar lagi akan bertemu dengan namja asing yang akan membawa orang tua kandung Jimin. dirinya tidak dapat tidur didalam mobil, Yoongi yang merasakan kegelisahan itu menyempatkan dirinya melihat jam dari ponselnya. Pukul 4 pagi dilihat Yoongi dan beberapa pesan belum dibacanya dari Jung Ho Seok. Penasaran dengan isi pesannya, Yoongi langsung membuka pesan itu...

From : Jung Ho Seok

To : Min Yoongi

Aku melihat Jimin dibawa namja asing keruangan ICU tempat Jin dirawat, bisakah kau memeriksanya. Aku terburu-buru dan tidak bisa mengikutinya.

Pesannya terkirim sejak pukul 00.20 malam dan dengan bodohnya Yoongi baru membacanya, mustahil jika mereka masih berada di ICU. “ah jinjya bodohnya aku tidak membawa ponsel” runtuknya pada dirinya sendiri. taehyung yang berada dikursi belakang melirik kedepan dimana baru saja Yoongi terbangun. “ada apa?” tanyanya.

“tidak ada. Aku hanya mendapatkan pesan dari Ho Seok-sshi, katanya Jimin masuk ICU rumah sakit ini”

Taehyung terbangun dari istirahatnya yang belum cukup lama dirasakannya, “benarkah?! Aku akan memeriksanya”

“aniyo Taehyung-ah. Ini sudah terkirim dari pukul 00.20, dan aku baru saja membacanya. Maafkan aku. Aku melakukan kesalahan saat keadaan penting. tidak mungkin jika mereka masih di sana. aku yakin merka sudah pulang” wajah Yoongi menyesal karena selalu melakukan kebodohan pada situasi yang tidak menentu. Taehyung mencoba untuk menghibur kekasihnya Rapmon dengan mengacak sedikit rambut hijau miliknya. “gwenchana, kita akan bertemu dengan Jimin besok. Aku akan membawanya pulang untuk bertemu dengan Jin dan Minseok serta kau dan yang lain” medapatkan perlakuan itu, memperlihatkan rona merah pada wajah Yoongi yang putih karena malu. Yoongi membalikan badannya agar Taehyung tidak mengetahui rona merah yang sedang dialaminya.


[ Keesokan paginya ]


Yoongi baru saja mengantar Miseok kesekolahnya dan tujuan keduanya adalah menjemput Taehyung di rumah sakit Jin. sesampainya di depan halaman rumah sakit Yoongi meminta Taehyung keluar dengan menelponnya agar tidak diketahui Rapmon. Yoongi tidak mengharapkan perdebatan yang akan Rapmon dan Hongbin lakukan nantinya saat tidak bisa tenang.



----------------------


Hongbin menunggu namja yang sebelumnya telah memberikan pesan untuk bertemu dengan dirinya. Ditemani seorang yeoja cantik yang begitu tidak sabaran akan kehadiran namja yang telah menjadi hyung angkat putranya. Minuman yang dipesan telah sampai pada meja mereka yang lama menunggu. Sojin mulai habis kesabarannya dan berniat pergi dari Caffe yang telah menjadi tempat janji mereka. Sosok namja yang Hongbin kenali akhirnya datang bersama seorang namja yang dirinya yakini bernama Kim Taehyung. Hongbin memberikan kode pada Sojin akan kehadiran seseorang yang sudah ditunggunya telah hadir. Sojin tersenyum pada kedua namja yang baru saja datang, dan mempersilahkan duduk Yoongi dan Taehyung pada kursi yang berhadapan dengannya. “dimana Jimin? apa dia tidak ikut?” tanya Yoongi langsung pada inti dari pertemuan mereka.

“bukankah kau seharusnya meminta maaf pada kami dulu karena keterlambatanmu datang?” sindir Hongbin yang menatapnya tajam kearah Taehyung berada. Tidak takut, Taehyung membalas tatapan yang diberikan kepadanya. Sojin menghentikan tatapan Hongbin yang mengintimidasi Taehyung, “namaku Park Sojin. Dan aku adalah Eomma Park Jimin, bisakah aku mengenal kalian” cantiknya, begitu cantik tidak terbantahkan oleh siapapun. Apakah ini rahasia Jimin begitu manis dan menjadi favorite para hati Seme? Termasuk Jin dan Taehyung. Yoongi melirik pelan kearah Taehyung yang tidak nyaman saat mendengar perkenalan yeoja didepannya.

“Min Yoongi imnida, dan...” ragu Yoongi memperkenalkan Taehyung disebelahnya,

“kau pasti Kim Taehyung”  Sojin membuka suaranya dengan tatapan lembutnya kearah Taehyung. Taehyung masih diam tidak merespon apapun. Hongbin berdiri dan menarik Yoongi untuk mengikuti langkahnya meninggalkan kursi antara Taehyung dengan Eomma Jimin. “tunggu... kita mau kemana?” tanya Yoongi pada Hongbin. Kini Taehyung beradu pandang dengan yeoja cantik yang terlihat sangat masih muda tidak tampak kerutan dikulitnya. Sojin sama seklai tidak terlihat sebagai Eomma Jimin dalam pikiran Taehyung. Masih dalam pikirannya yang bergelut tidak percaya, yeoja itu memulai pembicaraan dengan nada yang tetap ramah. “kau dari keluarga Kim yang telah merawat putraku bertahun-tahun bukan? Aku sangat berterimakasih atas perhatianmu selama ini terhadap Jimin. aku yakin keluarga Kim sangat baik memperlakukan putraku selama ini” Taehyung masih memandangnya dengan keheningan dan hanya mendengarkan.

“tapi bisakah aku meminta satu hal pada keluargamu?” suara Sojin menghilang untuk meminum sedikit minuman yang sebelumnya telah lama didiamkan. “aku ingin keluargamu tidak menceriatakan apa-apa pada Jimin, ini sedikit yang aku berikan untuk menggantikan kehidupan Jimin sebelumnya. putraku tidak akan kembali pada keluargamu, jika masih kurang katakan saja. aku akan menyiapkan kekurangannya” Sojin mengeluarkan amplop yang tersimpan didalam tas. Dalam amplop itu isinya terlihat begitu tebal, Taehyung yakin didalamnya berisi lembaran won.

“apa maksud anda dengan amplop ini!? Aku tidak pernah menjual Jimin pada orang tua kandungnya!” teriak Taehyung menahan emosinya yang hampir saja menggebrak meja dihadapannya. Apakah yeoja dihadapannya sama sekali tidak perduli akan perasaan Taehyung yang sangat kehilangan Jimin.

“aku tidak bermaksud menyinggungmu dengan amplop ini Kim Taehyung, tapi aku dengar terakhir kali bahwa keluargamu jatuh bangkrut. Aku sangat mengerti keadaan itu. karena aku meninggalkan Jimin dalam kondisi seperti itu. aku hanya tidak ingin Jimin mengalami kesusahan dalam hidupnya maka dari itu aku menitipkan putraku sebentar dipanti asuhan dan berniat menjemputnya kembali. Sayangnya orang-orang panti mengatakan bahwa Jimin telah tinggal dengan orang tua angkatnya bermarga Kim, dengan putra Kim Taehyung” Sojin mengingat masa lalunya lewat genangan minumannya, tatapannya memohon pada Taehyung agar namja dihadapannya itu mau memenuhi keinginannya, “sekarang aku meminta hak atas kehidupan Jimin sepenuhnya, aku tidak ingin Jimin mengetahui keluarga angkatnya...karena Jimin telah mengalami hilang ingatan. Itu artinya tuhan masih memberikanku kesempatan untuk menebus dosaku terhadap putraku sendiri. dan sekarang aku dipertemukan Jimin dalam kondisi Jimin tidak mengenali dirinya yang dulu”


Taehyung diam kaku mendengarkan sesuatu yang sepertinya membuat kupingnya akan berdarah. Hatinya sakit mengetahui keadaan Jimin yang sama sekali tidak mengenali masa lalunya. Kenapa harus dalam kondisi seperti ini? Kenapa Taehyung harus menyerahkan Jimin kepada orang tua kandungnya? Tidak bisa. Seandainya Jimin tidak mengalami hilang ingatan, Taehyung yakin dirinya akan mendapatkan jitakan yang sakit luar biasa dari dongsaeng kesayangannya itu. sojin memperhatikan Taehyung yang sepertinya telah melemah akan pilihannya yang mulai ragu. “dengarkan aku Kim Taehyung” yeoja itu menggenggam tangan Taehyung, tentu saja namja itu berusaha melepaskan genggaman yang diberikan Eomma Jimin padanya. Namun genggaman itu begitu kuat Sojin berikan, “jika Jimin sampai mengetahui bahwa dirinya pernah dititipkan di panti asuhan olehku. Maka selamanya dia atau putraku akan membenci diriku, Kim Taehyung aku mohon. Jangan katakan apapun tentang keluargamu pada Jimin.. aku mohon Kim Taehyung” tatapan memelas Sojin meluluhkan hati Taehyung yang seperti teringat akan kasih sayang Eomma dan Appanya pada Jimin dulu. Keraguan mulai menghancurkan rencana yang sebelumnya telah dibicarakan Min Yoongi sebelum pertemuan dimulai. Seharusnya Taehyung bisa meyakinkan Eomma Jimin agar bisa mengembalikan Jimin kepada Jin dan dirinya. Tapi sekarang nyatanya Taehyung tidak bisa berbuat apa-apa, dengan tatapan memohon dari yeoja dihadapannya. “Kim Taehyung..” panggilan Sojin menyadarkan Taehyung dari pikirannya yang mulai kebingungan. Kim Taehyung melepaskan genggaman Sojin secara lembut.


“bibi, pertama kali aku bertemu dengan Jimin. aku sudah sangat menyayanginya, Appa dan Eommaku sudah menganggap bahwa Jimin adalah anak kandungnya. Bagi kami Jimin adalah kehidupan yang diberikan tuhan pada keluargaku. Aku sama sekali tidak bisa membohongi diriku bahwa aku begitu keberatan akan pilihanmu yang memintaku untuk tidak menceritakan masa lalu Jimin yang sebenarnya” Taehyung menatap Sojin dengan penuh keyakinan dan keberanian yang sepertinya Appa dan Eommanya berikan dari dunia lain. Senyuman hangat dari kedua orang tuanya dalam pikiran Taehyung membuat namja itu dapat mengatakan apa yang menjadi kegelisahannya. “banyak yang menyayangi Jimin dikehidupan masa lalunya, bagaimana kau bisa begitu egois akan keputusanmu yang membuat Jimin harus tidak mengetahui masa lalunya. Di luar sana ada seorang namja yang begitu Jimin cintai, namja itu baru sadar dari komanya yang sebulan tidak memberikan perkembangan apa-apa. serta namja kecil yang terus memanggil nama putramu membuktikan dirinya begitu merindukan Jimin, lalu kami bisa apa? apa kami harus mengatakan bahwa Jimin telah bertemu dengan orang tua kandungnya. Atau kami harus berbohong terus menerus pada namja kecil itu? Jimin dan namja itu hampir saja melangsungkan pernikahan mereka. Dan mereka sudah memiliki anak adopsi . lalu nyatanya sekarang—”


“takdir tidak merestui mereka” timpal Sojin memutuskan kalimat Taehyung. “kau lihat bukan takdir sama sekali tidak memihak pernikahan mereka. Maka dari itu kecelakaan terjadi pada kehidupan mereka, sejak awal Jimin sudah memiliki jodohnya sendiri yaitu Hongbin. Teman kecilnya, aku merestui hubungan tidak wajar mereka. Bukan namja asing yang tidak kukenali”


“aniyo! Itu bukan kesimpulan yang sebenarnya, bibi kau terlalu memaksakan kehendakmu. Seandainya Jimin bertemu dengan Jin aku yakin ingatan Jimin akan kembali nantinya”

“aku tidak mengizinkan putraku bertemu dengan namja bernama Jin yang sudah menyebabkan putraku terluka hingga seperti ini. Setiap malam harus meminum obat penenang agar tidak mendapatkan mimpi buruk ditidurnya. Namja itu telah membuat Jimin tersakiti setiap malam!!” Sojin tidak mau kalah dari perdebatan yang diberikan Taehyung padanya. Taehyung mengatur nafasnya agar dapat menahan emosinya. Pandangannya beralih memperhatikan sejenak pada namja yang sedang bersama dengan Min Yoongi temannya. Dirinya merasa bahwa namja itu sangat beruntung karena bisa datang secara tiba-tiba dan langsung menjalin hubungan dengan Jimin. sedangkan dirinya bertahun-tahun bersama Jimin tidak dapat memiliki hatinya sedikitpun, selain perasaan sayang Jimin sebagai hyung untuk dirinya. Taehyung menatap kembali yeoja didepannya “bibi penyebab Jimin selalu mendapatkan mimpi buruk itu dikarenakan ingatannya yang bergejolak didalam hatinya. Jika memang bibi adalah Eomma kandung Jimin, bibi pasti akan melakukan sesuatu yang terbaik untuk kebahagiaan Jimin”

“Jimin sudah bahagia bersama dengan tunangannya sekarang, dan akan terus seperti itu. aku sudah menyerahkan amplop ini, berikanlah pada orang tuamu. Aku yakin kau terlalu egois hingga menolak pemberianku tapi orang tuamu akan membutuhkan untuk modal usaha nantinya” Sojin merapihkan tasnya dan beranjak dari tempat duduknya, beberapa langkah meninggalkan mejanya Taehyung ikut berdiri dibelakangnya. Taehyung mengembalikan amplop itu pada Eomma Jimin dan mengatakan, “maaf bibi tapi aku yakin Appa dan Eommaku tidak pernah mau menjual Jimin pada Eomma kandungnya yang ternyata sangat licik dalam bersikap. Jika bibi masih bersih keras untuk menyerahkan amplop ini pada orang tua saya. Berikanlah ke makamnya”

“Makam? Apa maksudmu aku harus menyerahkan amplop ini kemakam?” Sojin terheran dengan mengambil kembali amplop yang disodorkan Taehyung padanya.

“Appa dan Eomma ku sudah lama sekali meninggal itu semua akibat rekan Appa yang tidak menyukai kesuksesannya. Kebetulan saat itu Jimin bersama mereka sedangkan aku disekolah, kasih sayang mereka pada Jimin begitu besar seperti anak kandungnya. Hingga pada kecelakaan itu Jimin selamat karena berada dalam dekapan Appa dan Eommaku, apa itu semua tidak membuktikan bahwa Appa dan Eommaku tidak akan pernah menjual Jimin kepada siapapun termasuk orang tua kandungnya!” Taehyung menekankan kalimatnya karena merasa semua ucapannya sama sekali tidak diperdulikan Sojin. “bibi sebelumnya aku minta maaf jika berlaku tidak sopan, tapi aku hanya ingin bibi memikirkan kembali keputusan bibi untuk tidak menceritakan yang sebenarnya pada Jimin. aku permisi” Taehyung pergi meninggalkan sojin yang masih memikirkan kata-kata terakhirnya sebelum pergi. 2 namja yang menunggu dimeja lain terkejut akan kedatangan Taehyung, Min Yoongi langsung berdiri untuk menyeimbangkan tubuhnya “bagaimana Taehyung-ah?” Taehyung menatap tajam namja yang bersama Min Yoongi namun tidak memberikan komentar apa-apa.

“kita bicarakan ditempat lain, entah kenapa aku tidak berniat berada lama ditempat orang-orang licik yang mengaku-ngaku menyayangi dongsaengku” Min Yoongi tidak mengerti dan langsung mengejar Taehyung yang pergi duluan darinya. Hongbin sama halnya tidak mengerti tapi sepertinya itu semua ditujukan pada dirinya dan Eomma Jimin. 

Eomma Jimin tidak menyukai ini semua ucapan Taehyung seakan membelok dari apa yang Hongbin katakan. kenapa hati Sojin terasa seperti menghina keluarga Taehyung yang telah merawat putranya. bukan ini yang Sojin inginkan.





To becontinue...

BOY IN LUV Season 2 sudah berada dipuncak Konflik.. gimana para Rider ya kabarnya? Apa ya perasaan kalian saat membaca Fanfic ini. Aku sebagai Author berterima kasih banyak jika kalian selalu mengikuti jalan ceritanya D: enjoy terus yaa :) *Kelangsungan hidup Author ada ditangan kalian*

Comments

Popular Posts