BOY IN LUV S2 Chapter 6 // JIN // JIMIN //
Jungkook yang mendengar tentang keberadaa Jimin di Seoul seakan
memberhentikan waktu yang berada disekelilingnya. Tubuhnya kaku tidak bisa
digerakan, jika Jimin masih hidup bagaimana dengan kehidupannya nanti? Tidak
mungkin. Tidak mungkin jika Jimin masih hidup dan berada di Seoul sekarang.
Jungkook yang menguping melanjutkan perjalanan seolah-olah tidak tau
apa-apa.
Jungkook
yang sebelumnya akan pergi, menghentikan perjalanannya saat menyadari polisi
tidak mengikutinya dari belakang. Rapmon berbicara seakan-akan informasi yang
mengatakan Jimin ditemukan di Seoul adalah sebuah kebenarannya. Tidak mungkin
bagi namja yang terlempar dari badan mobil selamat sampai sekarang. Tapi jika
benar apa yang akan terjadi jika nantinya Jimin mengatakan kebenarannya. Semua
kejadian ini hanya Jimin yang mengetahui alasannya. dan Jungkook mulai merasa
kacau tidak dapat menahan kebingungan lebih lama lagi. Rapmon berjalan
mendekati Jungkook untuk mengembalikan kesadarannya yang sedari tadi sibuk berfikir.
“Jungkook-ah
aku dan Taehyung akan pergi ke Seoul tadi aku mendapatkan informasi dari Yoongi
bahwa dirinya melihat Jimin. kami akan melaporkan ini semua pada polisi disana,
titip Jin sementara kami pergi”
Jungkook
mengangguk dengan senyum memaksanya. Taehyung serta Rapmon berpamitan dan
langsung meluncur pergi meninggalkan Jungkook yang memandangnya kecut. Polisi
yang sebelumnya meminta kesaksian dari Jungkook harus menundanya karena tidak
ada lagi yang bisa menjaga pasien selain dirinya. “kalau begitu kami akan
lakukan kesaksian lain waktu”
“nde” suara Jungkook terdengar dan kembali menutup
pintu rawat Jin dari dalam setelah kepergian sang polisi. Jungkook berdiri
dibelakang pintu sambil memikirkan sesuatu yang tidak pasti. dirinya tidak tau harus senang atau sebaliknya. Seandainya Jimin
ditemukan... seandainya saja Jimin mengatakan semuanya... Jungkook akan
terpojokan nantinya. Jungkook berjalan dan memeluk Jin yang masih Koma, “apa
yang harus aku lakukan Jin-sshi” bisiknya pelan dengan menutup wajahnya dalam
dekapan dada Jin.
-------------------
Min
Yoongi menggenggam ponsel miliknya sekuat mungkin, berusaha menjauhkan
perasaannya dari kegelisahan yang merasukinya. “Siapa yang ada disamping Jimin
tadi? Lalu apa yang Jimin lakukan bersama dengan namja itu ketempat ini? Apa
Jimin lupa jika ini sekolah Minseok? apa yang terjadi sebenarnya” Yoongi
bertanya pada dirinya sendiri. tanpa memikirkan lebih jauh hal yang tidak
dimengertinya, Yoongi menyalakan mobilnya dan mengemudikannya untuk segera
kembali kerumah sakit. sekedar ingin tau apa yang terjadi disana, melihat waktu
yang masih cukup memungkinkan sebelum Minseok pulang.
2
jam perjalanan, Yoongi telah sampai dirumah sakit dan menemukan Jung Ho Seok
yang baru saja keluar dari Lift rumah sakit. Yoongi terus merasa heran pada namja yang
akhir-akhir ini jarang menemani Jungkook. Jung Ho Seok yang berpapasan dengan
Yoongi hanya memberi hormat seperlunya, tidak berniat untuk bicara sedikitpun
pada namja cantik yang sedang memanggilnya. Merasa tidak didengarkan. Min
Yoongi berdiri didepan Ho Seok agar namja itu tidak bisa pergi kemana-mana lagi
sebelum rasa penasaran Yoongi terjawab.
“kau
kenapa? Apa yang terjadi dengan hubunganmu dan Jungkook? Apa sedang tidak baik,
kenapa akhir-akhir ini aku tidak melihatmu berada disampingnya untuk menemani
Jin-sshi?”
“itu
bukan urusanmu”
“tentu
saja itu urusanku. Kita berteman bukan?” kalimat yang diberikan Yoongi pada Ho
Seok menghentakan hatinya.“Kita teman bukan?” kalimat itu kembali
terdengar. Ho Seok berusaha untuk tidak merespon pertanyaan apapun yang
diberikan namja cantik dibelakanginya itu. salah satu tangannya menggeser
sedikit tubuh Min Yoongi agar memberikan jalan pada dirinya. “semenjak
hilangnya Jimin kenapa semua berubah seperti ini? Apa yng terjadi pada
hubunganmu dengan Jungkook, katakan padaku. Bukankah kita merayakan kelulusan
bersama-sama saat itu. dengan senyuman kita membangun hubungan baru, kau ingat?
Kau aku dan yang lainnya telah berteman saat pesta kelulusan itu” Min Yoongi
mengeluarkan ponselnya dan menunjukan foto kebersamaan mereka ketika kelulusan
di SMAnya.
“itu..”
“itu
apa!? walaupun bukan kelulusanmu tapi kau menjadi bagian dari pertemanan kami
karena kau telah berhubungan dengan Jungkook. Apa aku tidak bisa mengetahui
sejauh mana hubungan temanku terjalin? Bukannya aku bermaksud ikut campur. Tapi
aku merasa ini semua sedikit aneh” Yoongi menundukan kepalanya, menyembunyikan
air matanya yang siap mengalir. “Jimin.. aku tau bagaimana Jimin... namja itu selalu
membantu hubungan kalian, namja itu selalu menjadi penengah untuk hubungan
kalian. Dan sekarang namja itu membutuhkan kalian agar bisa menemukannya. Aku
mohon jangan membuat masalah baru”
“aku
tidak pernah membuat masalah baru! Berhenti untuk bersikap baik padaku. Jika
nantinya hubunganku dengan Jungkook berakhir itu bukan lagi menjadi urusanmu.
Sekarang biarkan aku sendiri. aku malas jika harus membahas sesuatu yang
membuat hatiku tidak nyaman” Yoongi yang mematung memandangi kepergian salah
satu temannya dari rumah sakit. namja cantik itu menyeka air matanya lalu
melanjutkan perjalanannya menuju kamar Rawat Jin.
Sesampainya
dikamar rawat Jin, Yoongi tidak menemukan siapapun yang menjaga Jin. bagaimana
mungkin tidak ada yang menjaga sahabatnya ini. Kemana kekasihnya serta Taehyung
berada?
Yoongi
mencoba untuk menghubungi Rapmon. tapi tidak mendapatkan respon cepat seperti
sebelumnya. tidak lama Yoongi berada diruangan Jin, Jungkook datang dan
menemukan Yoongi didalam.
“Jungkook-ah?
Kau yang menjaga Jin sendirian?” tanya Yoongi dengan meletakan ponselnya
kembali kedalam saku kemejanya.
Jungkook
mengangguk, “nde.. Yoongi-sshi kenapa berada disini? Bukankah kau di Seoul?”
“harusnya
aku memang menunggu Minseok disekolahnya. Tapi aku tidak tenang jika belum
bertemu dengan Rapmon dan mengatakannya secara langsung dengan apa yang aku
lihat. Kemana mereka?”
“mereka
pergi ketempatmu. Mereka berangkat ke Seoul untuk melaporkan pencarian Jimin
yang hilang kepolisi disana, bukankah kau yang mengatakan jika kau melihatnya
disana?”
Yoongi
menepuk jidatnya yang begitu bodoh, “aissh lalu kenapa aku kesini. Apa kau
tidak apa-apa jika ku tinggalkan lagi?”
“aku
tidak apa-apa, aku yang akan menjaga Jin-sshi selagi kalian semua pergi”
Jungkook merapihkan Mantelnya yang tadinya digunakan saat keluar ruangan Jin.
Yoongi yang berniat pergi kembali bertanya, “tadi aku bertemu Jung Ho Seok di
lift. Apa hubungan kalian sedang tidak baik? Sepertinya namja itu sedikit
sedih”
Kedua
netra Jungkook memandang kesatu sisi. Masih tetap merapihkan mantelnya Jungkook
menjawab dengan halus “aku dan Ho Seok-sshi baik-baik saja Yoongi-sshi. Kau
tenang saja. terimakasih sudah mengkhawatirkan hubungan kami”
“aku
rasa kau harus bicara dengannya untuk menjelaskan semua. perasaan ku mengatakan
jika namja itu cemburu akan perhatian yang kau berikan pada Jin selama dirawat”
“bagaimana
bisa kau mengatakan hal seperti itu? aku tidak merasakan kecemburuan pada Ho
Seok-sshi. Mungkin hanya perasaanmu saja Yoongi-sshi”
“kau
yakin dengan ucapanmu?” Yoongi mendekati Jungkook agar dapat melihat wajah
namja yang sebelumnya tidak merasakan apa-apa yang menimpa hati kekasihnya
sendiri. “bukannya itu aneh? kau sama sekali tidak bersama Ho Seok-sshi setiap
kali menemani Jin dirumah sakit. apa kau memang sengaja tidak mengajak
kekasihmu untuk menemanimu?”
“namja
itu adalah karyawan hal-abeojiku, kegiatannya sudah cukup sibuk jika hanya
untuk menemaniku dirumah sakit. aku ingin namja itu istirahat jika sudah
menyelesaikan pekerjaan panjangnya. Hanya itu”
“ucapanmu
menggambarkan seolah-olah Jung Ho Seok tidak memiliki hubungan denganmu” Yoongi
memperhatikan Jungkook yang menggigit kecil bibirnya, “sudah cukup. Aku akan
kembali ke Seoul untuk bertemu dengan Rapmon serta Taehyung. aku harap kau mau
mendengarkan nasehatku untuk berbicara dengan Ho Seok mengenai perasaannya. Aku
merasa kasihan pada namja malang itu Jungkook-ah. Aku permisi”
Yoongi
menutup pintu dari luar.
Jungkook
menatap sendu kearah Jin, membiarkan pikirannya melayang entah kemana. Namja
cantik nan manis itu menatap wajahnya dijendela yang memantulkan sedikit
bayangannya. Bagaimana mungkin perkataan Yoongi mampu menyebabkan dirinya mual.
Ini bukanlah sebuah makanan yang masuk kedalam perut dan mendapatkan penolakan
dari lambungnya. Melainkan sebuah kata-kata yang tidak dapat diterima akal
sehat Jungkook.
-------------------
Yoongi
yang menginjak pedal gas cukup dalam membuat mobilnya melaju cukup kencang.
Dirinya tidak mau ketinggalan setiap tindakan kekasihnya dalam menemukan
sahabatnya Jimin. namja itu terus berusaha untuk menelpon Rapmon tapi tidak ada
jawaban dari setiap panggilannya. “kemana sih kau Kim Nam Joon!” teriaknya
dengan menekan pedal gas semakin dalam menandakan emosinya sudah cukup tinggi.
Belum
lama Yoongi meninggalkan ponselnya yang tidak mendapatkan respon dari namja
yang berusaha dihubunginya. Ponsel Yoongipun berdering dan namja itu langsung
mengangkat panggilan itu saat nama Rapmon tertera dilayar. “yaaak! Kau kemana
saja kenapa sulit sekali menghubungimu! Kenapa kau tidak memberi tahuku jika
akan pergi ke Seoul!”
“Chagi tenanglah. Maafkan aku jika tidak
mengabarimu, saat aku mendapatkan kabar tentang Jimin. aku dan Taehyung sepakat
untuk pergi ke Seoul. Aku lupa untuk mengabarimu, sekarang kau dimana?”
“aku
baru saja dari busan”
“untuk apa kau ke busan? Bukankah kau yang
mengatakan jika Jimin berada di Seoul”
“aku
tau! Aku memang bodoh! Perasaan khawatirku yang membuat ku berfikir tidak
sehat. Yang terpenting kata Jungkook kau sedang melaporkan ke kantor Polisi
Seoul tentang hilangnya Jimin”
“nde. Aku ada di kepolisian Daechi 2-dong,
Gangnamgu 988. Aku tunggu di Cafe terdekat”
“aku
mengerti” telpon pun terputus.
-------------------
Jimin
yang sedang asik membaca majalah mendapatkan kejutan akan kehadiran Hongbin
yang menindih tubuhnya dari belakang. “Hongbin-sshi.. kau sangat berat” tutur
Jimin yang memberontak atas pelukan Hongbin. Namja yang lebih besar dari Jimin
itu tidak merenggangkan pelukannya malah semakin mempererat pelukannya.
Perlakuan itu membuat Jimin tersengal-sengal tak bisa bernafas. Jimin pun
terbatuk-batuk,
“gwenchana
Chimchim?” tanya Hongbin khawatir. Jimin mengangkat ujung bibirnya kesal,
“kau.. terlalu erat memelukku.. hingga aku tidak bisa bernafas”
“mianeyo..
aku hanya merindukanmu akhir-akhir ini kan kau tinggal dengan Eommamu, jadi
sebisa mungkin aku ingin memanfaatkan waktumu bersamaku sebaik mungkin”
Jimin
tersenyum jail melihat tingkah namja yang dianggap tunangannya, “kau itu aneh
sekali, kitakan selalu bertemu. Bagaimana bisa kau masih saja merindukanku. Jika
nantinya kau bosan bagaimana?”
“aku
tidak akan pernah bosan padamu Chimchim”
Pandangan
Hongbin menangkap lembut wajah Jimin yang terdiam manis, waktu seakan berhenti.
Dan itu sangat dimanfaatkan Hongbin untuk dapat menyentuh bibir kecil Jimin.
salah satu jari telunjuknya mengelus singkat bibir mungil itu. mata sipitnya
Jimin hanya berkedip-kedip tidak mengerti dengan perlakuan apa yang akan
dilakukan namja dihadapannya. Semakin lama wajah Hongbin mendekati wajahnya,
Jimin mulai merasa takut akan deru nafas Hongbin yang mulai terasa di area
pipinya. Jimin menutup kedua matanya, berharap pertolongan datang untuk
menghentikan sikap Hongbin saat ini.
Keajaiban
terjadi, ponsel Hongbin berdering.
Itu
membuat Hongbin harus mendengus kesal dan menghentikan aksinya, namja itu
membuka flip cover yang melindungi ponselnya. Panggilan dari nomor kontak Taek
Woon semakin memberikan efek kesal pada wajah Hongbin. “yeoboseyo?” Jimin yang
ditinggalkan Hongbin untuk menjawab panggilan telponnya mulai bernafas lega.
“apa
yang aku rasakan? Kenapa rasanya wajahku sangat panas? Bukankah aku tunangan
Hongbin-sshi tapi kenapa aku seakan-akan tidak ingin mendapatkan perlakuan
romantis darinya” Jimin menutup wajahnya yang merah, “kenapa aku sangat lega
saat telpon Hongbin berdering”
--bayangan hitam terlintas sebuah senyuman teringat. Jimin tidak tau
senyuman siapa tapi entah kenapa itu bukan senyuman dari Hongbin ataupun
Eommanya. Sosok namja yang dirindukan Jimin. hanya senyuman yang dapat Jimin
lihat.
Jimin
menggerakan kedua tangannya berusaha menggapai sesuatu diatas langit rumah
dengan memejamkan kedua matanya. Hongbin yang tidak mengerti menggenggam salah
satu tangannya dan berhasil menyadarkan Jimin dari mimpi sesaatnya. “ada apa?”
“aah?
Aniyo.. apa aku melakukan sesuatu?”
Hongbin
mengangguk, lalu menggerakan kedua tangannya memberikan adegan ulang akan
gerakan yang sebelumnya Jimin lakukan. “apa kau memimpikan sesuatu lagi?”
Jimin
menelan ludahnya takut-takut jika Hongbin marah nantinya jika Jimin mengatakan
‘Iya’. Hongbin membawa Jimin kedalam dada bidangnya, merengkuh tubuh mungilnya
agar namja manis itu tidak merasa ketakutan. “Chimchim kau tidak perlu takut,
jika aku memarahimu bukan karena aku membencimu atau kasar padamu. Itu rasa
khawatirku yang berlebihan, jadi mengertilah. Aku tidak ingin terjadi apa-apa
padamu. Eomma mengatakan hal itu bukan? Eomma pasti juga sudah memberi tahumu
untuk tidak memikirkan apa-apa tentang masa lalumu”
“aku
tidak pernah memikirkannya Hongbin-sshi, ini semua terjadi begitu saja. aku
juga tidak tahu bagaimana cara untuk menghentikan bayangan hitam yang selalu
saja muncul dalam isi kepalaku”
“jadi
benar kau teringat akan masa lalumu?”
“nde”
Hongbin
terduduk lemas, hanya satu yang dapat dirinya lakukan agar Jimin tidak kembali
mengingat masa lalunya. Terapi hipnotis. Itu satu-satunya terapi yang akan
mengembalikan Jimin pada masa lalunya atau menghilangkan masa lalu Jimin untuk
selama-lamanya. Hongbin akan konsultasi pada dokter Jimin yang berada di busan
nantinya. “daripada itu lebih baik kita menjemput Luhan disekolah. Leo tidak
bisa menjemputnya untuk seminggu kedepan”
“kau
tidak marah kepadaku?” sentuhan lembut diterima Hongbin pada salah satu
tangannya. Hongbin mengacak rambut Jimin membuatnya menjadi berantakan, “aku
tidak akan pernah marah padamu Chimchim, semua yang aku lakukan itu karena
khawatir padamu”
Khawatir jika kehilangmu lagi Park Jimin—bisiknya
dalam hati Hongbin. “sekarang kau siap-siap. Kita akan mengantar Luhan pada
Hal-meoninya”
“nde.
Aku akan siap siap dulu” Jimin lari kearah kamarnya untuk berganti pakaian.
Hongbin menatap kaki putih Jimin yang mengenakan celana pendek. Sangat indah
jika dipandangi terus-menerus. Jari telunjuk yang sebelumnya menyentuh bibir
mungil milik Jimin dijilat Hongbin dan itu terasa “sangat manis”
-------------------
Yoongi
memakirkan mobilnya disalah satu Cafe yang telah dijanjikannya dengan Rapmon.
dan setalah memasukinya Rapmon melambaikan salah satu tangannya agar menapatkan
perhatiannya dari Yoongi yang baru saja datang. taehyung yang menyadari
kehadiran Yoongi langsung menghampirinya dan menggenggam kedua pundak Yoongi
dengan kedua tangannya. “Yoongi-ah? Apa kau benar-benar melihat Jimin? kau
sungguh melihatnya” Yoongi yang baru saja datang hanya merespon dengan anggukan
karena wajah Taehyung sekarang ini terasa sangat dekat beda dari sebelumnya.
setelah Yoongi perhatikan Taehyung memang sangat tampan, bagaimana mungkin
Yoongi tidak bisa melihat ketampanan yang Taehyung miliki hampir sama dengan
wajah Jin. “Yoongi-ah.. Yoongi-ah” teriakan Taehyung mengembalikan kesadaran
Yoongi.
“nde?
Maafkan aku jika melamun tiba-tiba.. benar Taehyung-ah aku melihat Jimin
disekolah Minseok. tapi yang membuatku heran, bukankah Jimin harusnya sadar
jika itu adalah sekolah Minseok? tapi wajah tenang Jimin terasa sangat aneh”
“keanehan?”
Taehyung dan Yoongi yang mendengar panggilan Rapmon, langsung menghampiri meja
yang dipesan sebelumnya.
Rapmon
yang belum mendengar kembali menimpali, “bagaimana chagi?”
“keanehan
yang kulihat Jimin seperti menatap kosong, aku sama sekali tidak mengerti apa
yang terjadi dengan Jimin sebenarnya” Yoongi mulai menundukan kepalanya ke meja
sambil mengacak rambutnya frustasi.
“apa
jangan-jangan kau hanya melihat namja yang mirip dengan Jimin? bukankah jika
memang Jimin disekolah Minseok. namja itu pasti mengenalinya dan mencari
Minseok kedalam sekolah” pikiran Rapmon menjadi perhatian dari kedua namja yang
mendengarkan.
Taehyung
yang sempat memiliki harapan untuk menemukan Jimin kembali menutup wajahnya, “mungkin
saja” lesunya.
“aniyo!
Kenapa kalian seperti tidak mempercayaiku! Bukankah kalian jauh-jauh kesini
untuk melaporkan hilangnya Jimin adalah keputusan yang kalian anggap ucapanku
benar. Kenapa sekarang kalian seperti mengatakan jika aku salah lihat” tidak
terima Yoongi.
“chagi,
aku tidak mengatakan seperti itu. hanya saja tidak mungkin jika Jimin tidak
mengenali sekolah Minseok” jelas Rapmon. taehyung mulai berfikir akan hal yang
menjadi kemungkinan kedua mengapa Jimin tidak mengenali sekolah Minseok. “Jimin
tidak mengingat kita” suara Taehyung terdengar sangat kecil hingga harus
mengulangi perkataannya untuk kedua kali.
“apa
yang kau katakan Taehyungie?”
“apa
Jimin hilang ingatan?” tanya Taehyung pada Rapmon dan Yoongi. Mereka bertiga
membisu dengan kemungkinan kedua yang dapat saja terjadi. Berada di Cafe yang
bersebelahan dengan kantor polisi, mereka berdiskusi akan kejadian apa yang
sedang menimpa Jimin sebenarnya. Taehyung tidak ingin membuat Jimin semakin
menderita. Dan tindakan yang tepat untuk menyelamatkan Jimin adalah menemukannya.
Rapmon
kembali pada Yoongi yang duduk berhadapan dengannya, “chagi lalu bagaimana
dengan namja yang kau lihat disekolah Minseok? apa kita perlu membawa polisi
langsung untuk memeriksa seluruh sekolah itu?” Yoongi yang mendengar ide konyol
Rapmon menjitak pelan kepala bodohnya. Rapmon meringis “Appoooo!”
“kau
jangan gila! Disana sekolah SD bagaimana mungkin kau bisa membawa banyak polisi
kesekolah itu! mereka akan takut nantinya. Otakmu terkadang lebih bodoh dari
otakku ya Kim Nam Joon!” cibir Yoongi.
“hanya
itu yang sekarang bisa kita lakukan jika kita menginginkan Jimin kembali dengan
cepat”
“kita
bisa mencari jalan lain! Pokoknya aku tidak ingin menggunakan cara bodohmu dan
mengganggu kegiatan sekolah Minseok di sekolahnya. Selain itu Nam Joon-sshi ..
kau dimintai keterangan apa dari polisi?” tanya Yoongi khawatir sambil mengecek
seluruh tubuh kekasihnya yang duduk bersebrangan dengan kursinya yang terhalang
meja. Rapmon selalu senang jika mendapatkan perlakuan kekasihnya yang selalu
saja khawatir padanya. Mungkin Jin tidak menyadarinya bahwa Yoongi adalah namja
yang yang sangat sempurna untuk dicintai. “yaak—kau baik-baik saja kan? Kenapa
kau mendadak gila?” ucapannya saat mendapati Rapmon senyum-senyum sendiri,
tanpa sesuatu yang lucu.
Rapmon
meminta Yoongi untuk memajukan telinganya “aniyo.. dari mana aku bisa gila
chagi.. jika selalu ada obat penenang disampingku seperti dirimu” goda Rapmon
lewat bisikan membuatnya harus menerima cubitan kecil dari Yoongi takut-takut
Taehyung mendengar. Tidak ingin kekasihnya semakin lama penasaran Rapmon pun
menjelaskan. “aku tadi hanya dimintai keterangan polisi tentang seseorang yang
dekat atau dicurigai musuh Jin, tidak ada yang terjadi pada diriku ataupun
Taehyung. lagipula kami memiliki alibi masing-masing. itu tidak akan membuat
mereka mencurigaiku dan Taehyung. tapi ada sesuatu yang menggangguku”
“apa
itu” tanya Yoongi memiringkan kepalanya, Taehyung diam mendengarkan.
“Jungkook-ah,
tentang namja itu.. dia terlihat takut ketika mengetahui dirinya akan dimintai
keterangan oleh polisi. Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang membuatku
curiga akan dirinya” Yoongi menutup mulutnya kaget akan kecurigaan kekasihnya
hampir sama dengan yang dirasakannya, “semenjak kecelakaan yang dialami Jin dan
Jimin, namja itu sama sekali tidak terlihat dengan Jung Ho Seok. Mungkin ini
hanya perasaanku tapi aku mengatakan Jungkook ada kaitannya dengan ini semua”
“kita
tidak bisa mengatakan seperti itu jika tidak memiliki bukti chagi...
bagaimanapun Jungkook adalah teman kita, kita tidak boleh mencurigainya” Yoongi
menepis pikirannya tersebut.
Rapmon
mengangguk mengerti, Yoongi kembali melanjutkan penjelasannya “dan soal Jung Ho
Seok tadi aku bertemu dengannya. tapi namja itu sama sekali tidak berniat untuk
menemui Jungkook dikamar rawat Jin”
“kau kenapa? Apa yang terjadi dengan
hubunganmu dan Jungkook? Apa sedang tidak baik, kenapa akhir-akhir ini aku
tidak melihatmu berada disampingnya untuk menemani Jin-sshi?”
“itu bukan urusanmu” Jung Ho Seok mendorong
tubuh Yoongi lembut agar memberikan dirinya jalan.
“aku tidak pernah membuat masalah baru!
Berhenti untuk bersikap baik padaku. Jika nantinya hubunganku dengan Jungkook
berakhir itu bukan lagi menjadi urusanmu. Sekarang biarkan aku sendiri. aku
malas jika harus membahas sesuatu yang membuat hatiku tidak senang”
Rapmon
dan Min Yoongi terdiam saling memikirkan sesuatu yang tidak masuk akal bagi
mereka. Jin yang masih belum dapat sadar dari koma nya harus bisa menahan rasa
sakitnya sendiri. tanpa ditemani namja yang dicintainya. Rapmon berharap
perasaan yang mencurigai Jungkook adalah sebuah kesalahan bagi dirinya.
Taehyung
yang sedari tadi diam mulai beragumen pada sepasang kekasih yang sejak tadi
ribut, “soal Jimin, Yoongi-ah apa Jimin
mengantar murid juga kesekolah Minseok? jika memang Jimin mengantar murid lain.
Apa kita bisa meminta bantuan Minseok?”
“kau
ingin menggunakan anak kecil untuk menemukan Jimin?” tanya Yoongi kembali.
“kemungkinan Jimin jika berada disana pasti mengantar anak kecil yang
bersekolah disana. mungkin kita bisa mencoba—yaya! Otteoke aku telat menjemput
Minseok“ lanjut Yoongi dengan teriakan di akhir kalimatnya saat tidak sengaja
melihat jam yang terpasang di Cafe. Yoongi mengambil kunci mobilnya yang
diletakan di meja mereka dan pergi dengan tergesa-gesa. Rapmon yang merasa
khawatir dengan Yoongi mengikuti kekasihnya itu hingga pintu Cafe.
“Chagi..Chagi..”
Yoongi yang tadinya ingin membuka pintu mobilnya tertahan karena Rapmon segera
meraih tangannya yang sedang memegang kunci.
“wae??
Aku sudah sangat telat Nam Joon-sshi!”
Rapmon
hanya diam, mencoba menenangkan kekasihnya dengan kebiasaan lamanya yang selalu
saja khawatiran dan tergesa-gesa. Yoongi sangat tenang, lembut, hangat, dan
sangat manis tapi jika sudah soal perasaannya yang gelisah. Rapmon akan selalu
sadar bahwa Yoongi sedang membutuhkan dirinya untuk menenagkan sifat
cerobohnya. Dengan menggenggam kedua tangan Yoongi serta diam seribu bahasa
dihadapannya, Rapmon akan tau jika Yoongi masih gelisah atau telah berubah
menjadi sedikit tenang. Itulah yang selalu Rapmon lakukan jika Yoongi mulai
kembali pada sifat gelisahnya. “ini lebih baik?” Rapmon mengendurkan
genggamannya pada kedua tangan Yoongi.
Yoongi
tersenyum manis, “gomawo Chagi.. kau selalu bisa membuat semua menjadi lebih
baik” terang Yoongi yang telah tenang atas perlakuan yang memang sudah lama
dilakukan Rapmon untuk menghilangkan kegelisahannya. “aku pergi ya” Rapmon
menggangguk dan mengizinkan Yoongi pergi setelah merasa semua telah normal.
To becontinue...


Comments
Post a Comment