BOY IN LUV S2 Chapter 7 // JIN // JIMIN //



Yoongi tersenyum manis, “gomawo Chagi.. kau selalu bisa membuat semua menjadi lebih baik” terang Yoongi yang telah tenang atas perlakuan yang memang sudah lama dilakukan Rapmon untuk menghilangkan kegelisahannya. “aku pergi ya” Rapmon menggangguk dan mengizinkan Yoongi pergi setelah merasa semua telah normal

Minseok menunggu mobil Min yoongi ditempat biasa dirinya diantar-jemput. Tetapi kali ini mobil itu tidak dirinya temukan sepulang sekolah. Biasanya Min Yoongi tidak pernah pergi untuk meninggalkan namja kecil itu sendirian selama sekolah. Kali ini berbeda. minseok berfikir bahwa ada sesuatu yang terjadi hingga membuat Hyungnya itu harus meninggalkan dirinya disekolah sendirian. Namja kecil itu memutuskan untuk menunggu dengan duduk manis didekat biasa Hyungnya itu akan parkir.

Minseok menatap langit biru seorang diri, namja kecil itu kembali mengenang saat pertama kali bertemu dengan Jin dan Jimin di Amerika. “rasanya baru kemarin aku memeluk mereka” lesu Minseok menggenggam dadanya yang mulai sesak.

Flashbackon

Seorang namja kecil berlari dengan beberapa makanan yang berhasil dicurinya, tetapi keberuntungan tidak berpihak padanya saat itu. jalan buntu mengharuskan namja kecil itu untuk ditangkap dan dibawa paksa sang pedagang Roti. Tubuh kecilnya diseret karena mencoba kabur kembali, tapi pedagang itu berteriak.

“aku akan memotong kedua tanganmu pencuri kecil!” ucapnya menggunakan bahasa inggris yang mampu dipahami Namja kecil itu walau hanya sedikit. Giginya menggigit tangan pedagang itu dan berhasil terlepas. Namun salah satu tangan pedagang itu menampar pipi putihnya hingga menyebabkan warna merah tergambar jelas.

Namja kecil itu kembali diseret pedangan roti itu untuk dibawa kepihak berwajib, “ini sangat menyakitkan. Aku mohon lepaskan aku tuan”

“aku tidak akan melepaskanmu. Kau sudah sering mencuri ditokoku dan sekarang aku berhasil menangkap pencuri kecil sepertimu”

Jimin yang sedang menunggu Jin disebuah Cafe melihat namja kecil sedang tidak diperlakukan manusiawi. Sebenarnya Jimin sangat ingin menolong namja kecil itu, tapi bahasa inggrisnya sama sekali payah. Bagaimana jika nanti Jimin melakukan kesalahan. Jimin berusaha untuk mengalihkan pandangannya agar tidak mencampuri urusan orang lain dinegara yang Asing untuknya. Semakin lama Jimin berusaha untuk tidak memperdulikannya semakin hati nuraninya ingin sekali bertindak. Teriakan namja kecil itu yang meronta membuat Jimin beranjak dari kursinya lalu menghampiri dengan sisa keberanian yang dimilikinya. Jimin tidak bisa bahasa inggris, tidak mengerti bahasa inggris dan Jin selalu menasehatinya agar tidak mencampuri urusan orang lain yang tidak dikenali. Tapi pandangan ini tidak dapat Jimin biarkan lebih lama lagi.

Jimin melepaskan genggaman yang diberikan namja tua pada sosok yang lebih kecil dari dirinya.“yaya apa yang kau lakukan, tidak seharusnya kau berlaku kasar pada namja kecil ini”

“apa yang kau katakan. Gunakan bahasa inggris disini”

Jimin diam kebingungan dengan apa yang harus dibalasnya, namja kecil yang diselamatkan Jimin langsung berlindung dibalik tubuh Jimin. “begini aku sama sekali tidak bisa bahasa inggris. Tapi kau tidak seharusnya menarik namja ini, dia masih sangat kecil” ucap Jimin dengan beberapa gerakan agar dimengerti.

“sudah kukatakan! Gunakan bahasa inggris dinegara ini!” namja tua itu menarik tangan namja kecil kembali namun dihalangi Jimin. “ooh aku sekarang mengerti kau berniat menolong anak ini kan?! Kau tidak usah ikut campur aku akan memotong tangan pencuri ini”

“apa yang kau lakukan jangan sentuh dia!”

“minggir! Atau aku akan melaporkan mu juga jika menolong pencuri ini” Jimin bengong mendengarkan namja tua dihadapannya menggunakan bahasa inggris terlalu banyak. Yang diharapkan Jimin saat ini adalah kehadiran Jin yang telah pulang dari Universitasnya. 

“sebaiknya kau saja yang ikut denganku!” namja tua yang sebelumnya mencoba menarik namja kecil yang berada dibelakangnya kini beralih menarik Jimin. “yaya! Lepaskan.. kau ingin bawa aku kemana!”

Namja kecil yang ditolong Jimin mencoba untuk kabur, tapi wajah Jimin yang tulus menolongnya mengurungkan niat kaki kecilnya yang siap melangkah pergi. Akhirnya dengan tangan mungil miliknya namja kecil itu membantu Jimin untuk lolos dari genggaman keras sang pedagang roti. Jimin yang kesakitan dibantu namja yang Jimin kenali sekarang telah menjalin hubungan dengannya. pedagang roti itupun melepaskan tangan Jimin saat menerima permohonan maaf dari Jin dalam bahasa inggris.

Jin menghampiri Jimin yang mengusap-ngusap tangannya yang merah, “gwenchana?” tanyanya khawatir. Jin membantu Jimin mengusir rasa sakit yang diterima salah satu tangan kekasihnya.

Pedagang roti itu langsung menanyakan pada Jin, “apa kau mengenal 2 orang ini?”

Jin membalasnya dalam bahasa inggris. “aku yang bertanggung jawab, jika boleh tau ada masalah apa yang membuatmu menarik kekasihku?”

“kekasihmu? laki-laki ini?” heran pedagang itu pada 2 laki-laki dewasa yang menyatakan hubungan special antar keduanya. “ahh... dunia sudah mulai gila sepertinya, baiklah aku tidak perduli akan hubungan mu dengan seorang... ya kau mengerti lah.. tapi aku akan tetap membawa pencuri kecil dibelakang kekasihmu itu”

“apa yang dilakukannya? Hingga kau ingin membawanya”

“pencuri kecil itu sudah sering mencuri roti ditokoku! Aku ingin memberikan pelajaran padanya agar tidak kembali mencuri ditokoku”

Jin melirik singkat kearah namja kecil yang bersembunyi dibelakang Jimin, lalu memandang kearah Jimin yang wajahnya seperti memohon. Keraguan Jin untuk menolong seorang pencuri sepertinya lemah jika sudah berhadapan dengan permohonan Jimin. dengan terpaksa Jin mengeluarkan beberapa dollar dan menyerahkannya pada pedagang Roti. “ambil saja kembaliannya. Aku atas nama anak ini meminta maaf”

“kau mengeluarkan banyak dollar hanya untuk menjamin anak ini? Bagaimana mungkin kau—”

Tangan Jin menarik kerah baju sang pedagang roti, “dollarku tidak berarti apapun dibandingkan tangan kekasihku yang sudah kau sakiti! Sekarang pergi dari pandanganku” bisik sadis Jin ditelinga laki-laki tua yang tubuhnya Jin dorong beberapa cm menjauhinya. Pedagang roti itupun pergi meninggalkan Jin dengan dollar yang diberikan.

Jimin yang telah melihat kepergian laki-laki tua itu berjongkok menghadap ke sosok kecil yang tadinya diseret. “gwenchana? Apa ada yang sakit?” tanya Jimin dalam bahasa korea, “aishh pasti kau tidak mengerti apa yang aku katakan”. Jimin memeriksa seluruh tubuh namja kecil itu yang sepertinya hanya mengalami luka ringan yang bisa disembuhkannya. “syukurlah kau tidak apa-apa”

“kenapa kau selalu bersikap bodoh, bahkan dinegara yang tidak kau mengerti masih saja kau bersikap bodoh”

“aku.. aku.. aku hanya merasa tidak bisa mengacuhkan seseorang yang membutuhkan pertolonganku, terlebih lagi namja ini masih kecil”

“lalu bagaimana dengan tanganmu yang merah? Apa kau tidak merasakan sakit? kenapa kau tidak mengeluarkan jurus beladirimu saat orang lain menyakitimu”

“ini hanya sedikit merah. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, yang penting namja kecil ini selamat. Aku bukannya tidak mau membela diriku tapi aku tidak mungkin memukuli namja tua kan. Dan aku sama sekali tidak tau alasan mengapa dia melakukan kekerasan pada namja kecil ini. kau tau aku tidak mengerti apa yang dikatakannya”

Jin menghela nafasnya, “namja kecil ini pencuri Namja bodoh”

Kedua bola mata Jimin membulat sempurna. Pandangan Jimin beralih pada sepotong roti yang disembunyikan tangan kecilnya. “kenapa kau mencuri? Seharusnya kau tidak mencuri. Kau tau kan mencuri itu tidak baik, selapar apapun kau. Kau harus tetap menjadi anak baik dengan tidak mencuri makanan. Apa orang tuamu meninggalkanmu sendirian?”

Namja kecil itu hanya diam tidak merespon.

“kau bodoh atau apa? sebijak apapun kau, namja kecil itu tidak akan mengerti bahasamu”

Jimin memberikan deathgler pada Jin, “berisik kau! Jangan mengganggu suasanaku yang mengharukan”

“kau berkata seperti itu padaku, pada namja yang telah menolongmu?” Jin merajuk pada Jimin yang sibuk dengan namja kecil yang kini baru saja memperdengarkan suaranya—“Miane” namja kecil itu menggunakan bahasa korea yang dimengerti Jin serta Jimin yang memang berasal dari Korea. “maafkan aku hyung karena sudah melukaimu” lanjutnya dengan meraih tangan Jimin yang merah.

“kau bisa bahasa Korea?”

“aku orang Korea hyung. Tentu saja aku bisa bahasa Korea, tentang Roti itu aku hanya tidak bisa menahan rasa laparku sudah 5 hari ini aku tidak bisa menghasilkan uang. Jadi terpaksa aku mencuri”

Jin menimpali, “bagaimana kau bisa berada di Amerika? Apa kau kehilangan keluargamu?”

“aniyo hyung. Aku dijual Eommaku saat di Korea dan ketika terbangun dari tidur aku hanya tau telah berada di negara Asing yang tidak aku mengerti ini”

“kau dijual Eommamu?” tanya lagi Jimin yang shock.

“nde hyung, semenjak Appaku meninggal keluargaku terlibat hutang yang sangat banyak sampai eomma hampir masuk rumah sakit jiwa tapi itu tidak jadi masalah untukku. Karena aku adalah namja yang kuat, itu yang dikatakan Appaku sebelum meninggal. Aku harus menjadi yang kuat dari yang terkuat untuk melindungi Eommaku. Tapi ternyata Eommaku tidak bisa mempertahankanku dan menjualku pada laki-laki asing—”

Jimin memeluk namja kecil yang ditemuinya agar dapat menyembunyikan air matanya yang menetes. Tubuh Jimin terasa memberikan getaran pada tubuh mungil yang tengah dipeluknya. Jin yang merasakan bahwa Jimin juga pernah merasakan ditinggal orang tuanya hanya bisa membisu memperhatikan kekasihnya. Jimin bangkit dan menghapus air matanya lalu bicara pada Jin, dalam pandangan namja kecil itu sepertinya ada sedikit percecokan yang merupakan perbedaan pendapat antara kedua namja. apakah itu karena kehadirannya. Namja kecil itupun memutuskan untuk pergi meninggalkan Jin dan Jimin yang sedang berdebat. Tidak jauh dari posisinya Jimin menggendong namja kecil yang kakinya sudah melangkah jauh darinya.

“kau mau ikut dengan hyung kembali kekorea?” tanya Jimin antusias dengan senyuman bodoh yang terkesan dalam benak Jin.

“nde?”

“setelah hyung disana (menunjuk Jin) selesai dengan pendidikannya kita akan terbang kekorea. Kau mau kan—hmm—namamu .. namamu siapa anak manis?”

Namja kecil itu bergantian memandangi 2 namja yang telah menolongnya dan sekarang berniat membantunya. Dirinya hanya bisa tersenyum manja pada Jimin yang memeluknya seperti seorang Eomma. “Dennis.. Kane Dennis imnida hyung”

Flashbackoff

Mata Minseok yang sebelumnya terpejam, kini perlahan membuka. Menampilkan mata Almondnya yang sangat indah mulai basah akan air matanya. Minseok tidak suka jika harus menangis. Tidak mau. Minseok mengambil buku gambar yang berada di tas sekolahnya, dibukanya buku itu lembaran demi lembaran dan terlihatlah gambar yang dirinya buat. Sosok 2 namja besar dan 1 namja kecil ditengah  sedang bergandengan tangan.

Flashbackon

Jimin menuliskan beberapa hangul lalu mencoretnya, terus menerus namja manis itu mengulangi kegiatan yang sama. Apa yang dilakukan Jimin? Jin dan Minseok yang memperhatikan kegiatan Jimin yang membuat mereka penasaran akhirnya menghampiri dan duduk disampingnya. “apa yang kau lakukan?” Minseok yang digendong dibelakang Jin hanya mendengarkan.

“aku sedang memikirkan nama untuk Kane jika kita mengadopsinya”

“kau menulis lalu mencoretnya, kau terlalu membuang-buang kertas. Kau kan bisa meletakan margaku dalam nama Kane. Kim Kane bukankah itu sangat mudah?”

“Kim Kane?? Aku tidak suka. Seharusnya nama margaku yang berada di nama Kane. Park Kane. Itu lebih terlihat gentle. Benar bukan Kane?” Jimin merayu namja kecil yang langsung memberikan anggukan setuju. “lihat? Kane menyukainya”

Jin berbalik menatap wajah namja kecil yang digendongnya, “bagaimana bisa kau menyukai nama itu, seharusnya kau ikut marga Appamu ini”

“Appa!?? Aku yang mengambil posisi Appa! Kau kan.. bisa memasak seharusnya kau yang mengambil posisi didapur dan menjadi Eomma”

“apa yang kau bicarakan!? Sejak kapan aku bisa menjadi Eomma disaat ada namja lain yang tubuhnya lebih mungil dariku!”

“yaak!!” teriak mereka bersamaan. Tidak terima dengan perbedaan argument masing-masing. namja kecil yang menjadi topik mereka hanya bisa menghela nafas. Nama untuknya belum kelar sekarang posisi Appa dan Eomma. Bagaimana mungkin seorang namja menjadi sosok Eomma? Itu yang terlintas dalam pemikirannya. Jimin yang mulai lelah dalam keheningan mulai kembali berbicara, “kalau begitu kita jadi Appa saja. kita berdua. Tidak ada Appa ataupun Eomma. Itu lebih adil”

“saat akan mengadopsi seorang anak, kita harus berperan sebagai Appa dan Eomma. Tidak mungkin saat kita membuat surat adopsi, kita menjadi Appa dan Appa. Mereka tidak akan mempercayai kita”

“kalau begitu kau yang jadi Eomma! Aku tidak mau mengenakan pakaian yeoja. Itu menggelikan”

“jika aku yang mengenakan pakaian yeoja. dalam beberapa detik akan ketahuan. Kau taukan tubuhku sangat besar, sangat gentle, dan tinggi. Satu-satunya yang harus menjadi yeoja adalah dirimu namja bodoh!”

“aniyo!”

Flashbackoff

Minseok tertawa kecil dan kembali menghapus air matanya yang tidak kunjung berhenti menetes. Kenapa hatinya sangat lemah? Bukankah namja sejati tidak akan pernah menangis.  Mengingat kenangan bersama 2 namja yang berpura-pura menjadi orangtuanya membuat Minseok tertawa geli sendiri.

Flashbackon

“bagaimana jika namaku gabungan dari nama hyung berdua saja, Jimin hyung dan Seok Jin hyung. Untuk marga aku akan menggunakan marga Appaku” saran Kane yang belum menemukan nama barunya.

“Jimin” ucap sang pemilik nama sambil melirik kearah Jin. sama halnya Jin menyembutkan namanya sambil melirik kearah Jimin “Seok Jin”

“Minseok” mereka bersamaan menyebutkan satu nama yang terlintas dalam pikiran mereka yang kompak. Jimin dan Jin tertawa saat perbedaan mereka dapat diatasi namja kecil yang kini bernama Minseok. “Jimin Seok Jin Minseok nama itu sangat bagus. Nama itu akan mengikatkan keberadaanmu diantara aku dan Jin-sshi. Minseok-ah”

“aku setuju” Jin mengacak rambut Jimin yang sangat senang mendapati nama untuk anak angkatnya. “lalu bagaimana dengan marganya? Yang aku yakini nama Kim lebih pantas” jelas Jin mencibir kembali Jimin yang berada disampingnya.

“jadi menurutmu nama Park tidak pantas untuk Minseokieku?”

Minseok kembali menghela nafas, Jin dan Jimin kembali berdebat atas posisi Appa dan Eomma. “bagaimana jika hyung berdua duel saja, aku punya saran siapa yang menemukan pekerjaan terlebih dahulu dan bertahan selama seminggu dipekerjaan itu. dialah yang akan mendapatkan posisi Appa. Sedangkan yang kalah atau tidak bertahan seminggu dia akan mendapatkan posisi Eomma?”

Jin tertawa kecil mendengar usul Minseok, “Minseok-ah jika seperti itu tentu saja aku yang akan menang. Perlu kau tau calon Eomma mu ini sama sekali tidak pandai dalam bekerja”

“yaya! Kau tidak boleh menggunakan perusahaan keluargamu dalam duel ini! Aku yakin akan menang jika kau tidak curang”

“jadi kau menerimanya?”

“aku terima!”

“siap-siap menjadi Uke seumur hidupmu namja bodoh” sindir Jin dan pergi dengan senang hati untuk memulai duel yang diajukan anak angkatnya. Sama halnya dengan Jin, Jimin ikut bersiap-siap dan mencari pekerjaan sesuai duel yang telah diterimanya.

Selama beberapa hari masa duel, Jimin diterima disebuah Cafe walau hanya sebagai pencuci piring didalam dapur. Setidaknya jika dia dapat bertahan dalam pekerjaannya dirinya akan dapat memenangkan duel dari kekasihnya Jin. dilain tempat Jin sebagai pencuci mobil disalah satu CarWash kecil, tidak perduli keringat atau wajahnya menjadi gelap yang terpenting sosok Jimin menjadi Uke manis telah siap digapainya.

Belum seminggu Jimin melakukan kesalahan dengan menjatuhkan piring berkali-kali hingga membuat namja manis itu terpecat dari pekerjaannya. Sedangkan Jin masih bekerja pada pekerjaannya. Itu membuktikan kemenangan yang telah diraih Jin dan kekalahan yang diraih Jimin.
“sudah mengaku saja kekalahanmu, dan aku sudah membelikan costume yeojamu namja bodoh. Lihat ini sangat manis jika kau yang mengenakannya”

Jimin yang kesal hanya mengambil kasar baju yeoja yang sengaja Jin belikan untuk mentertawai kekalahannya. Ditinggal Jimin beganti pakaian, Jin serta Minseok saling tos merayakan kemenangan yang sudah direncanakan.

“saat ini namaku adalah Kim Minseok, benarkan Appa?” tawa kecil Minseok merenyuhkan hati Jin yang kini sangat menyayangi namja kecil dihadapannya.

Flashbackoff

Minseok mengatur nafasnya agar air matanya dapat berhenti mengalir, namja mungil yang duduk sendirian itu hanya bisa mengenang. Mengenang saat dirinya tengah bahagia dengan keluarga kecilnya. Sekarang Minseok sendirian lagi sama seperti dulu. “Eomma.. dimana Eomma sebenarnya?” bisiknya dengan salah satu tangan menyentuh dadanya yang tadinya sesak.

Dilain sisi Luhan melirik arloji untuk tau apakah dirinya telah dijemput atau belom. Masih ada waktu untuk dirinya sebelum pulang, Luhan lebih baik pergi ke lapangan basket sekedar untuk main dengan tangan yang lebih kecil dari bola basket miliknya. Belum dirinya beranjak Luhan melihat sosok namja mungil yang sedang termenung sendirian. Sepertinya dia juga menunggu jemputan sama seperti Luhan. malas jika bermain sendiri, Luhanpun mendekati namja kecil yang bagi dirinya terlihat sangat manis seperti yeoja. “annyeong..” sapanya pada namja manis yang duduk disampingnya sekarang. Minseok hanya diam. Minseok sama sekali tidak kenal dengan namja disampingnya yang tiba-tiba saja menyapa dirinya. Dilihat dari ukuran tubuhnya sepertinya namja disampingnya ini lebih tinggi kelasnya dibandingkan dirinya. Mungkin dia dari kelas sebelah yang sudah beranjak cukup besar.

“hey..kau tidak membalas sapaanku padamu, tapi terus melihatku. Apa kau menyelidikiku?”

“aniyo..aku hanya tidak ingin berbicara dengan orang asing. Kata Eommaku itu berbahaya untuk diriku nantinya. Karena banyak sekali orang jahat diluar” balasnya cukup panjang, mengukir tawa disenyuman Luhan.

“kau mengatakan tidak boleh bicara pada orang asing. Lalu kau mengatakan itu disebut apa? kau membalas ucapanku disebut apa? sama saja kau bicara padaku lagipula...” Luhan beranjak dari posisi duduknya dan menarik Minseok untuk berlari bersamanya.

“apa yang kau lakukan? Kau mau bawa aku kemana?”

“daripada kau menunggu sendirian diparkiran, lebih baik kau ikut dengan ku untuk bermain bola basket” ajak Luhan keruangan olahraga yang bisa disebut taman bermain untuk para anak-anak. Salah satu bola basket yang tergeletak diambil Luhan dan dimainkannya bola itu dihadapan Minseok. tubuh kecilnya yang lincah memberi gerakan-gerakan baik dalam permainannya dalam memasukan bola basket keranjangnya. “bagaimana? Jika nanti aku sudah besar seperti hyungku. Aku akan menjadi pemain bola basket yang sangat hebat. Kau mau kan menonton ku lagi?”

“kenapa aku harus menonton seseorang yang tidak aku kenali? Kau datang dan mengajakku kesini dengan tiba-tiba. Aku kan hanya menurut saja, mungkin sebaiknya aku segera pergi dari sini dan kembali keparkiran” Minseok ditahan Luhan sebelum pergi dari ruangan bermain mereka. Dan setelah saling berpandangan Luhan memperkenalkan dirinya dengan senyuman cantiknya.

“namaku Xi Luhan, dan aku berasal dari China. Aku memang tidak terlalu membuka diri disekolah koreaku. Tapi aku fikir bisa mendapatkan teman sepertimu sudah cukup”

“sejak kapan aku mau berteman denganmu? Kau memperbaiki popokmu saja pasti belum benar, jadi lebih baik tidak usah banyak berteman. Sepulang sekolah kau bisa langsung pulang kerumahmu. Kau mengerti? Aku harus pergi keparkiran untuk menunggu hyungku”

“kau diantar hyungmu? Bagaimana dengan Appa dan Eommamu?” mendengar seseorang menanyakan keluarganya Minseok tidak merespon. Namja manis itu ingin menangis dan tidur siang sekarang. Melupakan tentang kesakitan yang dialami Appa dan Eommanya. Minseok berlari meninggalkan Luhan sendirian dengan bola basket kecilnya. “tunggu...namamu?” Luhan berlari mengejar Minseok yang lupa memberikan namanya agar bisa di ingat Luhan. dan dalam perlariannya sebuah mobil yang dikenali Luhan berhenti tepat dihadapan Minseok yang hampir ditabraknya. 

CIIITTTTTTT..... 

Bunyi gesekan ban mobil yang tertahan akibat injakan rem, membuat Minseok tertunduk tepat di plat nomor Mobil yang tadinya akan menabrak tubuh kecilnya. Salah satu pengemudi menuruni mobil itu dan langsung membangunkan Minseok yang nangis karena ketakutan. Luhan ikut mendekati namja yang sedang menepuk-nepuk pundak Minseok karena Shock dengan kejadian sebelumnya. “gwenchana? tenangkan dirimu nak, maaf maaf karena aku sama sekali tidak melihatmu berlari dengan terburu-buru” ucap Hongbin pada Minseok yang masih menjerit ketakutan.

“Hyuuuung!” teriak Luhan, menyadarkan Hongbin akan kehadiran namja kecil kesayangannya.

“Lulu, ini pasti karena ulahmu ya? Namja manis ini pasti berlari terburu-buru karena dikejar olehmu? Kau ini benar-benar”

“aniyo! Bukan salahku, dia berlari karena takut membuat hyungnya menunggu diparkiran”

Minseok memeluk Hongbin sangat erat masih dengan keadaannya yang menangis begitu kencang. Pandangannya tidak dapat melihat dengan sempurna, dengan air mata yang menggantung dikedua mata Almondnya. “hey siapa namamu anak manis?” tanya Hongbin lembut.

“Minseok..Kim Minseok” Luhan mendengar nama namja manis itu sangat senang, ternyata Kim Minseok adalah namja yang merebut sedikit hati Luhan.

“baiklah Kim Minseok, kau menunggu jemputanmu ya? Apa orang tuamu masih lama menjemputmu? mau hyung antar saja kerumahmu?”

“ndee hyung kita antar saja Minseok kerumahnya” semangat Luhan bicara pada Hongbin.

Tetapi Minseok menggeleng, “tidak usah hyung, sebentar lagi Yoongi hyung akan datang menjemputku aku yakin” dengan suara serak Minseok mencoba menolak ajakan Hongbin.

“baiklah kau duduk manis disini saja yaa, maaf tidak bisa menemanimu lebih lama. Hyung masih memiliki urusan. Perlu hyung panggilkan seseorang untuk menemanimu?”

“aniyo hyung. Aku baik-baik saja” Minseok menghapus air matanya yang sudah tidak lagi mengalir agar pandangannya lebih jelas. Hongbin meninggalkan Minseok dan memasuki mobilnya, sedangkan Luhan masih berdiri memandang Minseok dengan raut wajah kecewa.

“kenapa kau tidak mau diantar hyungku? Kita kan bisa bermain bersama di mobil Minseok-ah”

“kau menguping pembicaraanku dengan hyungmu. Sampai bisa menyebut namaku” kesal Minseok pada Luhan yang membuat dirinya berlari untuk menjauhi Luhan tadi. “pergilah jangan perdulikan aku”

“kenapa kau begitu angkuh denganku, aku kan hanya berniat menjadi temanmu. Kau itu namja yang sangat manis jadi bersikaplah manis” Luhan mengacak rambut Minseok dan pergi berlari menuju mobilnya. Minseok hanya berdengus kecil sambil melambaikan tangan pada namja dibelakang kemudi dan disamping kemudi...tunggu.... disamping kemudi....

Disamping kemudi.......

Disamping kemudi.......

“Eomma” bisiknya kecil, mobil yang dikemudikan Hyung Luhan berjalan menjauhi Minseok yang masih terbengong akan pemandangannya. Minseok berniat untuk mengejar kepergian Luhan dari sekolahnya. Namun kakinya yang sakit tidak bisa berlari dengan sempurna. Mobil Luhan semakin menjauh. Minseok hanya bisa berteriak tanpa bisa didengar seseorang dari dalam mobil. “Eommaaaa!!” lagi dan lagi.  Minseok yang tidak sanggup lagi untuk berlari hanya dapat terduduk dijalanan berharap mobil itu berbalik dan mengembalikan Eommanya kekehidupannya.

Min Yoongi yang baru saja sampai segera mengangkat namja kecilnya yang terus-menerus menangis sambil memanggail Eommanya. Wajahnya berkeringat kusut sekali, karena itu Min yoongi memeluk Minseok dan menenangkan namja manis itu dalam pelukannya. “hyung..aku melihat Eomma di mobil temanku..ayo kita kejar Eomma, hyung. Aku mohon cepat”

Yoongi yang sebelumnya juga melihat Jimin segera mengikuti kemauan Minseok. namja itu mengikuti setiap arah yang diberitahukan namja kecil disampingnya. Saat ada pertigaan, Minseok sama sekali tidak tau harus kemana. Yoongi yang tadinya berniat untuk menemukan mobil Jimin mengurungkan niatnya ketika Minseok sudah terlihat kelelahan.

“sebaiknya kita pulang, kau terlihat sangat lelah. Aku akan membuatkan susu hangat dirumah, setidaknya kita sudah mengetahui Jimin berada di Seoul” senyum Min Yoongi dengan memeluk Minseok yang cemberut lalu memutar arah mobilnya.

Minseok melepaskan pelukan yang diberikan Yoongi “aniyo Yoongi hyung. Aku ingin menemukan Eommaku sekarang, seandainya tadi aku ikut kemobil Luhan mungkin aku bisa membawa Eomma pulang”

“kau mengenal temanmu yang diantar Jimin?” Min Yoongi menginjak rem dengan kencang, hampir membuat namja kecil itu terlempar jika tidak mengunakan sabuk pengamannya.

“nde. Namja itu dari Sunbae ku dikelas atas hyung. Dia memang bukan orang Korea tapi lancar dalam berbahasa korea. Namanya Xi Luhan”

“kalau begitu besok kau bermain saja kerumah Luhan. tapi kau harus ingat pura-pura untuk tidak mengenali Eommamu Minseok-ah. Besok aku akan mengikuti mobil Luhan dari belakang”

“kenapa aku tidak boleh mengenali Eommaku hyung?”

“kita harus tau alasan sebenarnya mengapa Eommamu tidak kunjung pulang...” wajah Minseok tidak mengerti dengan penjelasan yang Yoongi berikan padanya, “Minseok-ah dengarkan Yoongi hyung jika kau menyayangi Eommamu pura-puralah tidak mengenalinya sampai dia yang mengenali dirimu terlebih dulu. Kau mengerti?”

Setelah melihat anggukan dari namja kecil disampingnya. Yoongipun mengemudikan mobilnya untuk pulang mengistirahatkan dirinya dan Minseok yang masih kecil. “aku berharap dapat mengembalikanmu pada Minseok dan Jin, Jimin-sshi” ujar Yoongi yang fokus pada perjalanan pulangnya.


-------------------


Jimin yang sejak tadi diam tiba-tiba saja tersedak tanpa alasan apapun. Hongbin yang khawatir langsung mengelus rambut halus Jimin dan menepuk-nepuk pelan punuk dibelakang leher Jimin. luhan yang ikut khawatir hanya dapat mencari botol minum yang biasa diletakan dibelakang mobilnya. Setelah mendapatkan apa yang Luhan cari, namja kecil itu memberikan botol minumnya pada Hongbin yang telah selesai memakirkan mobilnya dipinggir jalan.

“gwenchana? Minumlah Chimchim” Hongbin membantu Jimin untuk dapat meminum Air secara perlahan. Sangat heran tersedak tanpa diawali dengan makan atau minum terlebih dahulu. Lalu bagaimana bisa Jimin merasakan tersedak tiba-tiba. “kenapa kau tersedak tiba-tiba Chimchim?”

“aku tidak tau, tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu masuk kedalam tenggorokanku”

“apa hyung mengunyah permen?” tanya Luhan.

Jimin menggeleng, “aku tidak memakan apapun Lulu”

“yasudah, yang penting kau sudah tidak apa-apa. lulu apa kau ingin bermain video game di kediaman hyung?” Hongbin merubah suasana agar tidak terlalu Jimin pikirkan.

“aku maaauu hyuung! Ayo kerumah hyung!”

“baiklah kita akan berangkat!” Hongbin kembali menjalankan mobilnya, dan mengajak Luhan serta Jimin menuju kediamannya.

Jimin merasakan hatinya gelisah lagi dan lagi, entah karena apa. sama sekali tidak dapat dipastikan karena semuanya mengatakan baik-baik saja. jika terus seperti ini Jimin tidak akan hidup dengan tenang. Sepertinya keluarganya ataupun Hongbin belum mengatakan semuanya yang dirinya ingin ketahui. Mereka semua hanya menginginkan Jimin tidak memikirkan hal apa-apa selain kesembuhan untuknya. Tapi Jimin ingin sekali dapat kembali mengingat masa lalunya, mengingat bayangan-bayangan hitam yang selalu muncul dikepalanya dan mimpinya. Sebaiknya Jimin tidak terlalu mengharapkan keluarganya dan Hongbin lagi akan ingatannya. Bagaimanapun kegelisahan ini harus segera Jimin hilangkan.  



To becontinue...





Comments

Popular Posts