BOY IN LUV S2 Chapter 8 // JIN // JIMIN //
Mereka semua hanya menginginkan Jimin tidak memikirkan hal apa-apa
selain kesembuhan untuknya. Tapi Jimin ingin sekali dapat kembali mengingat
masa lalunya, mengingat bayangan-bayangan hitam yang selalu muncul dikepalanya
dan mimpinya. Sebaiknya Jimin tidak terlalu mengharapkan keluarganya dan
Hongbin lagi akan ingatannya. Bagaimanapun kegelisahan ini harus segera Jimin
hilangkan.
Waktu
terus berlalu hingga pada akhirnya keesokan yang Yoongi tunggu-tunggu datang.
Dirinya diparkiran masih menunggu Minseok disekolah. Sebuah mobil
yang Yoongi lihat terdapat Jimin disampingnya pergi setelah mengantar seorang
namja kecil yang dirinya tau bahwa dialah teman Minseok. sebaiknya Yoongi tidak
mengambil kesalahan lagi dengan membiarkan kesempatan untuk mengikuti Jimin
terlewat begitu saja. Yoongi menyalahkan mesin mobil dan pergi keluar dari
parkiran Minseok. mengejar sebuah mobil dimana temannya berada disana.
Hongbin
yang sadar akan seseorang mengikuti dirinya, mulai mempercepat kecepatan
mobilnya. Sama halnya dengan Hongbin, Min Yoongi tidak mau kalah untuk
mempercepat kecepatan mobilnya agar tidak kehilangan jejak yang diikutinya.
Jimin tidak mengerti dengan perubahan sikap Hongbin. “yaya Honbin-sshi pelankan
kecepatanmu, kau ini kenapa! ” suara Jimin tidak didengar Hongbin yang sadar
akan penguntit yang mengikuti dirinya. Dalam setiap tikungan kecepatan
masing-masing mobil tidak diturunkan. Hingga pada akhirnya Min Yoongi sudah
kehabisan kesabaran dan mensejajarkan mobil miliknya dengan mobil namja yang
membawa sahabatnya. Min Yoongi menurunkan kaca mobilnya, meminta agar segera
memberhentikan mobil yang dikendarai Hongbin. Sang kemudi menuruti keinginan
namja yang mengikutinya, namun tidak mengizinkan Jimin untuk keluar dari
mobilnya. Jimin masih sangat ingat jika namja cantik yang menghadang mobilnya
adalah namja yang pernah dirinya lihat dirumah sakit Busan. Tapi alasan apa yang
membuat namja itu memberhentikan mobilnya dan Hongbin. Apa hongbin mengenal
namja cantik itu? jimin benar-benar sangat penasaran namun tidak berani untuk
keluar dan membantah ucapan Hongbin.
“siapa
kau? Kenapa mengikuti mobilku?” pandangan namja yang mengikutinya mengarah pada
Jimin yang tidak ikut turun atau keluar dari mobil. “kenapa kau memperhatikan
calon tunanganku?”
Min
Yoongi kaget dengan kalimat yang baru saja dirinya dengarkan, “apa? calon
tunanganmu?”
“nde,
dia calon tunanganku”
“bisakah
kau meminta calon tunanganmu untuk turun dari mobilnya sebentar. Karena aku
ingin memastikan bahwa dia bukan temanku yang hilang” Hongbin mulai berifikir
cepat, mungkin namja dihadapannya sekarang adalah teman masa lalu Jimin yang
harus disingkirkannya. Hongbin mendekati tubuh Yoongi yang mulai memundurkan
langkahnya agar tidak terlalu dekat dengan namja tinggi yang sepertinya berniat
jahat padanya.
“aku
rasa itu tidak bisa, karena kami sedang terburu-buru. Bisakah kau menghentikan
tindakanmu yang mengikuti jalan mobilku? Jika kau masih mengikuti, aku akan
melaporkan polisi akan tindakanmu”
Yoongi
tidak mau kalah dan langsung menantang balik namja yang sepertinya tidak akan
ramah dalam masa pembicaraan mereka saat ini “aku yang akan melaporkan polisi
jika kau menyembunyikan temanku”
“bagaimana
bisa aku menyembunyikan temanmu? Kau lihat bukan tunangan ku sama sekali tidak
turun dari mobil itu tandanya dia tidak mengenalimu. Kau salah orang”
“aku
tidak mungkin salah mengenalinya, aku akan memaksanya turun. Aku tidak akan
salah mengenali sahabatku sendiri” Min Yoongi yang akan mendekati Jimin ditahan
dan didorong secara kasar Hongbin agar menjauhi dari mobil miliknya. “lepaskan
aku! Aku harus bertemu dengan Jimin, ini terkait kekasihnya yang masih koma
dirumah sakit. aku mohon” rintih Yoongi minta untuk dilepaskan. Hongbin masih
menatap dingin tidak melepaskan genggaman kencangnya. Dan semakin menekan
pergelangan tangan Yoongi. “sakit...” rintihnya.
“jika
itu sakit, aku akan memberikan rasa sakit yang lebih dari ini. Agar kau tidak
memaksakan kehendakmu untuk bicara dengan tunanganku. Jika kau ingin
membicarakan tentang tunanganku lebih lanjut, temui aku di Caffe Bene
Myeongdong siang ini. Saat ini aku sedang terburu-buru. Hentikan aktivitasmu
untuk mengikutiku. Jika kau masih nekat aku tidak akan segan-segan menyeretmu
kekantor polisi” Hongbin melepaskan genggamannya dan kembali kemobilnya untuk
melanjutkan perjalanan. Jimin tidak mengerti apa yang terjadi dengan namja yang
tiba-tiba saja memberhentikan perjalanan pulangnya. “apa yang terjadi?”tanya
Jimin pada Hongbin yang telah meninggalkan Yoongi sendirian ditengah jalan.
“hanya orang yang menanyakan alamat jalan kepadaku, tidak
usah terlalu dipikirkan. Arraso?”
Jimin menyatukan kedua alisnya tidak paham maksud Hongbin, “tunggu
namja itu berbuat nekat seperti itu hanya karena dia tidak tau alamat?
Bagaimana jika nanti kita menabraknya? Apa dia tidak punya fikiran?”
“apa kau tidak akan seperti itu jika tersesat? Aku yakin
kau akan melakukan hal yang sama dengannya agar kau tidak menangis sendirian
seperti saat kau masih kecil dulu” Hongbin mempraktekan gaya Jimin menangis
saat masih kecil. melihat tingkah menyebalkan Hongbin membuat Jimin harus
memukul namja tinggi itu. “Aissh! Appo Chimchim!”
“salah sendiri kau menyebalkan—aaaargh!”
“Chimchim gwenchana??” Hongbin menaruh kedua tangannya pada
kedua tangan Jimin yang menggenggam kepalanya. Sepertinya namja manis
disampingnya ini merasakan sakit kepala lagi. “Chimchim!? Kau dengar aku?”
“nde.. aku mendengarmu sangat jelas. Bisakah kita kembali
pulang Hongbin-sshi, kepalaku sepertinya sakit lagi”
“aku mengerti. Bertahanlah kita akan pulang” Hongbin
menginjak pedal gas dengan maksimal agar Jimin dapat meminum obatnya saat
sampai di kediamannya. Tidak lama dalam perjalanan, Hongbin telah sampai
dikediaman miliknya. Sepertinya sakit kepala Jimin mengharuskan namja manisnya
itu tertidur lelap. Tidak tega membangunkan Jimin. hongbin membopong tubuh
mungil Jimin sampai pada kamarnya dan Jimin. hongbin kembali mengingat saat
dulu melakukan hal yang sama ketika dirinya masih kecil.
“bukankah dulu aku pernah melakukan ini kepadamu Chimchim?
Apa kau tidak bisa mengingat saat-saat bersamaku saja?” cerita Hongbin dengan
terus melangkah menaiki tangga lantai 2 rumahnya. sesampainya dikamarnya,
Hongbin meletakan Jimin secara perlahan agar tidak membangunkan namja manisnya.
Meraih ponsel yang berada di kemejanya dan mencari sebuah nomor yang dapat
menghubungkannya kepada Park Sojin a.k.a Eomma kandung Jimin.
“yeoboseyo” terdengar
suara Sojin dari sebrang telpon.
“bibi”
“Hongbin? Waeyo? Aku sedang
menunggu klienku di kantor. Bisakah kita bicarakan saat aku sudah berada
dirumah?”
“ini tentang masa lalu Jimin”
Mendengar
tentang masa lalu putranya tentu saja membuat Sojin mendengarkan dengan sangat
baik informasi apa yang telah didapatkan Hongbin, “ada apa? ada apa dengan
masalalu Jimin?”
“aku bertemu dengan salah satu namja yang mengenali
Jimin, tapi aku tidak tau siapa namanya karena tidak mungkin aku meninggalkan
Jimin terlalu lama. Aku takut jika Jimin curiga nantinya”
“...”
“tapi aku sudah mengatur pertemuanku dengan namja
yang sepertinya mengenal Jimin dekat dimasa lalunya”
“apakah itu
Kim Taehyung? apa kau tau namanya?”
“aku tidak tau bibi, yang pasti jika namja itu
benar Kim Taehyung aku akan langsung memberi tahukan pada bibi. Agar bibi bisa
menemuinya”
“Hongbin aku
tidak tau.. bagaimana jika keluarga Kim tidak mau menyerahkan putraku saat aku
ingin kembali mengambilnya”
“bibi orangtua sah lah yang akan menang, kalau
mereka tetap keras kepala. Kita tinggal membawa Jimin pergi. Bukankah sekarang
Jimin bersama kita?”
“...”
“bibi tenang saja. aku Lee Hongbin akan selalu
membantu bibi”
“Hongbin
gomawo”
“itulah kenapa bibi mau menganggapku anak saat
Jimin hilang. Dan sebagai gantinya aku akan mempertahankan Jimin agar tetap
bersama bibi terus”
“aku
mengerti”
“kalau begitu aku sudahi dulu” percakapan mereka
pun terputus saat Hongbin mematikan sambungan ponselnya. Wajah Jimin yang
tertutupi rambutnya dirapihkan Hongbin agar dirinya dapat melihat sosok manis
pada calon tunangannya. Hongbin menutupi tubuh mungil Jimin dengan selimut agar
tidak kedinginan. Lalu pergi meninggalkan Jimin sendirian dikamarnya.
Mendengar pintu kamar telah tertutup dari luar,
kedua mata Jimin terbuka. Pandangannya menatap kosong kelangit-langit putih
kamarnya.
-------------------
Yoongi terduduk lemas didalam mobilnya dengan apa
yang dialaminya beberapa waktu lalu. “bukankah ini adalah sekolah Minseok tapi
kenapa Jimin sama sekali tidak mengenalinya. Bahkan saat melihat ku dia tidak
ikut turun dari mobil asing itu. sebenarnya apa yang terjadi?”
“siapa kau? Kenapa mengikuti mobilku?”
pandangan namja yang mengikutinya mengarah pada Jimin yang tidak ikut turun
atau keluar dari mobil. “kenapa kau memperhatikan calon tunanganku?”
Min Yoongi kaget dengan kalimat yang baru
saja dirinya dengarkan, “apa? calon tunanganmu?”
“nde, dia calon tunanganku”
Yoongi
memutar kembali pernyataan yang didengarnya dari namja yang bersama Jimin,
“calon tunangan?”. Namja cantik itu benar-benar pusing dalam memikirkan hal
yang sama sekali dirinya tidak mengerti. Sebaiknya Yoongi memberi tahu ini
semua pada Rapmon yang sekarang telah kembali ke Busan untuk menjaga Jin. belum
beberapa digit ditekan tangan Yoongi berhenti menekan nomor selanjutnya..
Yoongi mengurungkan niatnya memberi tahu Rapmon. keyakinan yang Yoongi dapati
adalah namja besar itu tidak akan pernah berfikir secara tenang jika emosi.
Terlebih lagi namja asing yang bersama Jimin sama sekali tidak ramah hingga
membuat tangannya memerah.
“jika itu sakit, aku akan memberikan rasa
sakit yang lebih dari ini. Agar kau tidak memaksakan kehendakmu untuk bicara
dengan tunanganku. Jika kau ingin membicarakan tentang tunanganku lebih lanjut,
temui aku di Caffe Bene Myeongdong siang ini. Saat ini aku sedang terburu-buru.
Hentikan aktivitasmu untuk mengikutiku. Jika kau masih nekat aku tidak akan
segan-segan menyeretmu kekantor polisi”
“siang ini di Caffe Myeongdong, aku harus
menghubungi supir lain untuk menjemput Kim Minseok” setelah menghubungi pelayan
rumahnya untuk mengirim supir kesekolah Minseok, Yoongi segera pergi ke sebuah
Caffe yang sebelumnya telah dijanjikan.
Minseok yang baru saja keluar dari kelasnya berlari
mencari keparkiran sekolahnya untuk menemui Yoongi. Tetapi mobil namja yang
dicarinya tidak ditemukan lagi, berseling Minseok duduk dikursi taman. Luhan
menghampirinya.
“Minseok-ah apa kau menunggu jemputanmu lagi?”
tegur Luhan dengan senyuman genitnya yang mengarah ke Minseok. mengingat Jimin
bersama Luhan kemarin sepertinya Minseok memang harus berteman dengan Luhan.
agar Minseok dapat mengembalikan Jimin kepada Jin a.k.a Appanya yang sedang
Koma.
“nde.. aku sedang menunggu jemputan. Bagaimana
dengan uhmm.. kau. Lu..Han?” ragunya menyebutkan nama Luhan.
“aku juga menunggu Hongbin hyung tapi sepertinya
dia juga akan terlambat menjemputku”
“waeyo?”
“entahlah. Buktinya sampai sekarang belum ada
Hongbin hyung diparkiran” jelas Luhan. Minseok terdiam bingung harus menanyakan
dengan cara apa tentang Jimin. Minseok mulai memainkan jari-jari kecilnya yang
kebingungan. “ada apa Minseok-ah? Kenapa kau sepertinya sedih”
“aniyo Luhan.. begini kemarin itu... kemarin kau
diantar 2 hyung bukan.. mereka?” Minseok menyusun kalimatnya dengan gemetaran.
“ooh.. nde. Hongbin hyung dan Jimin hyung. Waeyo?”
Jantung Minseok berdetak tidak beraturan mendengar
nama Jimin. yoongi atau dirinya memang tidak salah dalam mengenali Jimin. sekarang kepastian itu sudah tepat namja yang
bersama Luhan adalah Eommanya. Lalu bagaimana caranya mengatakan pada Luhan
jika namja yang dipanggilnya hyung adalah Eommanya. Itu tidak akan masuk akal
dalam kehidupan manusia normal. “Jimin hyung itu...dia...”
“ada apa Minseok-ah? Suaramu besarkan sedikit aku
sama sekali tidak kedengaran. Minseok-ah”
“Eomma” bisiknya sangat kecil namun mampu terdengar
Luhan.
“Eomma? Ada apa Minseok-ah?”
“Eomma...”
“kenapa aku tidak boleh mengenali Eommaku
hyung?”
“kita harus tau alasan sebenarnya mengapa
Eommamu tidak kunjung pulang...” wajah Minseok tidak mengerti dengan penjelasan
yang Yoongi berikan padanya, “Minseok-ah dengarkan Yoongi hyung jika kau
menyayangi Eommamu pura-puralah tidak mengenalinya sampai dia yang mengenali
dirimu terlebih dulu. Kau mengerti?”
Minseok yang melamun disadarkan Luhan dengan
sentuhan, “Minseok-ah ada apa, katakan yang jelas padaku”
“Luhan-sshi bolehkah aku kerumah mu lain waktu? Aku
ingin bermain denganmu dan melihatmu main basket lagi. Aku juga ingin...”
Minseok menggantungkan kalimatnya. “aku juga ingin mengenal Jimin hyung dan
Hongbin hyung”
“tentu saja. aku akan mengajakmu kerumah ku. Kita
akan bermain bersama sampai lupa waktu” senyuman lebar Luhan terlihat sangat
bahagia saat Minseok telah menerima pertemanannya.
-------------------
Di Caffe Bene Myeongdong Min Yoongi menunggu namja yang
telah mengaku sebagai tunangan Jimin teman lamanya. Semoga keputusannya menemui
namja asing sendirian tidak salah seperti kebiasaannya. Rasa tidak sabaran
mulai terasa saat menunggu namja yang tidak kunjung datang selama sejam.
Seandainya dia mengingkari janjinya untuk menjelaskan apa yang terjadi pada
temannya, dia akan berbuat nekat mengajak Rapmon nantinya. Selama 3 jam
menunggu membuat Yoongi memutuskan untuk segera pergi dari Cafe itu “lihat saja
namja itu, aku pasti akan menemukannya lagi disekolah Minseok” cibir Yoongi
kesal. Belum sampai pada pintu Cafe namja asing yang Yoongi tunggu terlihat
memasuki Cafe dimana mereka berjanji untuk bertemu.
Hongbin melepaskan jaket tebalnya dan diserahkan kesalah
satu Maid diCafe tersebut. Namja itu memesan minuman hangat sebelum memulai
pembicaraan yang mungkin akan memakan waktu cukup lama. Yoongi duduk berhadapan
dengan namja asing yang mengaku sebagai tunangan Jimin.
“sekarang katakan padaku apa yang terjadi? Kenapa Jimin
sama sekali tidak mengenaliku” tanya Yoongi langsung pada poin utama. Hongbin
menatap mata Yoongi secara intens.
“kenapa terlalu terburu-buru, aku memiliki cukup banyak
waktu untuk pembicaraan kita. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu juga aku ingin
mengetahui namamu? Apa hubunganmu dengan Jimin?”
“aku tidak akan mengatakan apapun. Seharusnya aku yang
bertanya kau itu siapa, kenapa kau seakan-akan menyembunyikan kondisi Jimin?”
“aku tidak menyembunyikan kondisi Jimin, namaku Lee
Hongbin pertanyaanmu sudah kujawab. Sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku”
Yoongi yang ragu untuk menjawab pertanyaan namja asing
didepannya, mulai berucap secara hati-hati “namaku Min Yoongi imnida, aku teman
satu sekolah Jimin saat dibangku SMA”
“oh kau teman Jiminku saat SMA. Lalu apa kau mengenali
namja bernama Kim Taehyung? kudengar namja itu hyung angkat Jimin”
“sebenarnya kau hanya mengulur waktuku, jawab pertanyaanku
maka aku akan menjawab pertanyaanmu” gebrak Yoongi pada mejanya. “katakan
padaku!” teriaknya lagi.
“namja itu bukan Park Jimin yang dulu kau kenali, namanya
sekarang adalah Chimchim dan dia tunanganku. Park Jimin yang sekarang tidak
akan pernah mengenali siapapun, karena namja itu hilang ingatan”
“hilang ingatan?” Yoongi kembali bertanya untuk memastikan
dirinya tidak salah dengar.
Maid datang meletakan secangkir Coffe hangat yang menjadi
pesanan Hongbin. Yeoja itu segera pergi setelah menyerahkan pesanannya pada
meja Hongbin. Namja yang memesan itupun mengambil sendok kecil untuk mengaduk
isi Coffe dengan perpaduan Krim diatasnya.
Yoongi yang penasaran kembali bertanya, “apa kau sengaja
tidak melaporkan Jimin kekantor polisi? Apa kau sengaja melakukan ini agar kau
bisa menyembunyikan Jimin dari kami. Termasuk namja yang kau sebut tadi Kim
Taehyung dari mana kau mengenalnya?”
“itu memang harus kulakukan. Jimin telah menemukan
kehidupannya yang asli, aku berfikir Jimin tidak membutuhkan masa lalunya yang
nantinya akan mengecewakan dirinya. Karena Jimin telah menemukan orang tua
kandungnya, dan soal Kim Taehyung...” Hongbin meminum sedikit Coffe hangatnya
lalu melanjutkan kembali pembicaraannya. “bagaimana mungkin panti asuhan tidak
memiliki data apapun tentang orangtua yang akan mengadopsi anak. Tentu saja
Eomma kandung Jimin sudah lama mencari Jimin pada keluarga Kim. Tapi yang
ditemukan hanyalah alamat palsu keluarga Kim, dimana kediamannya sama sekali
tidak dihuni orang”
“tidak mungkin.. Jimin dan Taehyung saudara angkat?”
“kau berteman lama dengan Jimin bagaimana mungkin tidak
mengetahui ini semua. Apa salah satu dari mereka tidak ada yang menceritakannya
padamu? Mungkin saja kau tidak dianggap teman. Jadi lupakanlah apa yang kau
lihat. Anggap saja kau tidak pernah melihat Jimin lagi”
“itu tidak benar! Bagaimanapun Jimin harus mengetahui masa
lalunya, bahkan setidaknya dia harus menemui Jin sekarang ini! Kau tidak
seharusnya melakukan ini pada Jimin”
“ah.. soal namja bernama Seok Jin itu, aku lihat bahwa
Jimin menjalin hubungan dengannya lewat foto yang berada didompet milik Jimin.
kau tau bukan alasan kedua mengapa aku tidak menginginkan Jimin kembali
mengingat masa lalunya? Jadi mungkin namja yang kau sebut kekasihnya Jimin
sudah tidak memiliki harapan apa-apa lagi”
Yoongi menyiram Hongbin dengan minuman manis yang
dipesannya. “apa kau tidak memiliki hati sampai berkata seperti itu! Jimin
mencintai Jin! dan kau memanfaatkan keadaan hilang ingatannya Jimin. bagaimana
mungkin kau—”
Seluruh pengunjung Cafe mulai memperhatikan aksi Yoongi
yang cukup keras dalam meneriaki namja dihadapannya. Kekesalahan yang sudah
melanda hati Yoongi akan kehilangan sahabatnya berusaha sendiri menyadarkan
kesalahan apa yang namja asing dihadapannya itu lakukan. Hongbin membersihkan
pakaiannya yang basah dengan tisu seadanya. Ini sudah menjadi resiko baginya
jika akan berhadapan dengan namja yang terlihat berstatus Uke jika bertemu
dengan status Seme sepertinya mungkin pukulan akan diterima diwajahnya. Masih
dengan sifatnya yang tenang Hongbin kembali berbicara, “jika aku mengatakan
yang sebenarnya pada Jimin, aku yakin nantinya Jimin akan membenci orang tua
kandungnya yang sempat meninggalkan namja itu dipanti asuhan. Lalu mengenal
kalian serta masih ada pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak sebaiknya
diketahui Jimin” Yoongi menyerngitkan kedua alisnya, Hongbin kembali bersuara
“sejak kecil aku sudah menyukai Jimin, dan berjanji pada Eomma Jimin akan
melamar namja itu ketika dewasa. Aku tidak mengerti mengapa aku begitu menyukai
namja itu. tetapi orang tuaku dan Jimin sama sekali tidak keberatan karena
mereka rekan kerja. Jimin sangat manis ketika masih kecil. dan perasaanku
memang asli memilihnya untuk menemaniku dimasa depan.”
Hongbin memandang Coffe nya tanpa berniat menyentuhnya
lagi. Sisa-sisa minuman yang ditumpahkan Yoongi telah mencemari minuman
kesukaannya. “dan karena kesalahan Appa Jimin aku jadi berpisah dengan Jimin!
dan sejak awal kekasih Jimin adalah aku, dan sampai sekarang aku masih
kekasihnya!”
“itu hanya masa lalu saat kalian masih kecil, Jimin yang
sekarang harus kembali pada kekasihnya yang sebenarnya yaitu Jin-sshi. Aku
mohon pertemukan mereka, Jin benar-benar membutuhkan kehadiran Jimin untuk
bangkit dari Komanya” Mohon Yoongi dengan mengepalkan kedua tangannya kearah
Hongbin.
“sepertinya pembicaraan kita sudah berakhir. Aku ingin
membersihkan diriku” Hongbin beranjak dari kursinya dan Yoongi menghentikan
langkahnya dengan menutup pintu Caffe setelah Hongbin berniat menggapainya.
“apa maumu?” Hongbin kembali bertanya pada namja cantik berambut hijau.
“aku tidak akan membiarkanmu pergi sampai kau membawaku
ketempat Jimin! aku akan membawa Jimin kepada Jin!” mereka beradu tatapan,
tanpa memperdulikan pandangan aneh dari banyak pengunjung Cafe tersebut.
-------------------
Jimin berjalan mengelilingi kediaman Hongbin dimana dirinya
hanya sendirian. Setiap ruangan ditelusuri Jimin namun tidak ada satu
bayanganpun yang dapat mengingatkan dirinya akan kehidupan dulunya bersama
Hongbin. Ruangan kerja Hongbin yang terakhir Jimin singgahi juga tidak
memberikan hasil apa-apa. tidak ada satu ingatan yang terlintas pada isi
kepalanya. karena kelelahan Jimin duduk dikursi dimana Hongbin biasa bekerja.
“bagaimana mungkin aku tidak bisa mengingat apapun, seharusnya isi kepalaku ini
tidak pergi dan membuatku kebingungan seperti ini?” Jimin tidur di meja kerja
Hongbin bertatakan kedua lengannya.
Saat bermalas-malasan di meja kerja kekasihnya, Jimin
menemukan sebuah foto 2 namja kecil yang terpasang menghiasi meja Hongbin.
Sepertinya foto itu sangat lama. Jimin mengamati foto itu baik-baik untuk mencari
ingatan yang mungkin ada dalam foto lama tersebut. Semakin lama diperhatikan
ada kilasan terlihat...
-bayangan
hitam sosok 2 namja kecil sedang bermain
dengan orang tuanya. Mereka terlihat sangat bahagia dengan senyuman lebar yang
diperlihatkan.
Jimin kembali pada dunia nyatanya, dan memandang kearah
foto yang dipegangnya. “apa ini diriku? Apa ini foto saat aku dan Hongbin masih
kecil? tapi kenapa Hongbin tidak menceritakan apapun padaku” sejak tadi
berkeliling hanya saat memandang foto 2 namja kecil bayangan hitam terlintas
dikepala Jimin. melihat jam sudah semakin sore, membuat namja manis itu
khawatir mengetahui Hongbin belum pulang. jimin kembali meletakan foto dimeja
Hongbin. Dan kakinya melangkah mendekati setiap rak buku yang ditata rapih oleh
para pelayan. Suara ketukan terdengar.. itu memberikan efek reflek pada
kegiatan Jimin yang baru saja mengambil buku milik Hongbin untuk meletakannya
lagi.
“maaf tuan saya mengejutkan anda..tapi hari ini jadwal
bersih-bersih saya untuk merapihkan ruang kerja tuan muda Hongbin”
Jimin tersenyum pada yeoja yang memegang penuh alat-alat
kebersihan pada kedua tangannya. “biar aku bantu ya”
“aniyo tuan. Nanti tangan anda kotor”
“aku kan seorang namja, bagaimana mungkin seorang namja
takut kotor. Sudah berikan saja agar pekerjaanmu cepat selesai. Cukup membosankan
jika tidak melakukan apa-apa” Jimin mengambil paksa beberapa alat kebersihan
yang dibawa pelayan yeoja. sepertinya yeoja itu menyukai keberadaan Jimin
dikediaman majikannya. “apa kau sudah lama bekerja disini?” tanya Jimin sambil
membersikan rak buku dengan kemoceng dari debu yang menempel.
“nde tuan.. saya sudah lama bekerja disini” ucapnya sangat
manis.
“berarti kau mengenalku kan, kenapa kau canggung sekali
saat berbicara denganku. Padahal kau sudah sangat lama mengenal Hongbin dan
aku. Kau kan bisa bicara seperti biasanya, agar aku tau diriku yang dulu
seperti apa”
Yeoja itu memiringkan kepalanya tidak paham dengan maksud
obrolan bahwa dirinya telah mengenal lama Jimin. “mulai sekarang kau bersikap
seperti biasanya saja ya, seperti saat aku belum hilang ingatan” jelas Jimin, Yeoja
itu mulai mengerti dengan pembicaraan ini. Tapi Yeoja ini sama sekali tidak
mengenal Jimin yang dulu. Bagaimana cara mengatakannya agar tidak menyinggung
perasaannya tuannya.
“ohya boleh aku mengenalmu lagi? Ingatan ku sampai sekarang
masih belum kembali. Aku berharap kau juga bisa membantu untuk dapat
mengembalikan ingatanku” wajah Jimin sangat terlihat jelas dalam keadaan sedih
dan penuh dengan harapan. Yeoja yang diajak bicara Jimin menghentikan
aktivitasnya, “namamu siapa?” tanya Jimin lagi.
“Kim Shin Gyu”
“Shin Gyu? Aku sepertinya pernah mengenal seseorang yang
bermarga Kim. Apa itu dirimu? Wah Jinjya.. aku sepertinya bisa mengingat masa
laluku lewat dirimu” Jimin meninggalkan posisinya dan berjalan mendekati Shin
Gyu. Jimin memeluk yeoja itu saat hatinya sangat bahagia. Ada harapan dimana
Jimin dapat kembali mengingat masa lalunya. Shin Gyu berniat membalas pelukan
Jimin namun tangannya tertahan, saat pintu ruangan kerja Hongbin terbuka. Tertampak
sangat jelas wajah Hongbin disana. “Tu..Tuan” Shin Gyu mendorong pelan tubuh
Jimin untuk menjauhinya. Hongbin sangat tidak menyukai keadaan dimana Jimin
harus memeluk orang lain termasuk seorang Yeoja. Jimin yang baru saja menoleh
kebalakang mendapati tubuh tinggi Hongbin sedang berdiri mematung.
“Hongbin kau sudah pulang?” Jimin berlari kearah Hongbin
yang tersenyum sangat kecil kearahnya. “sepertinya aku sudah hampir mengingat
masa laluku, itu semua berkat Kim Shin Gyu”
Hongbin terkejut dan membulatkan kedua bola matanya sangat
lebar, “masa lalumu?” wajah senang Jimin tidak menampilkan kebohongan tentang
rasa bahagianya. Tapi Hongbin tidak tau jika Shin Gyu adalah salah satu teman
masa lalu Jimin. bagaimana ini? Apa saja yang sudah yeoja itu katakan pada
Jimin.
“nde.. aku. Aku. Aku tidak tau apa perasaanku ini benar
atau salah, tapi sepertinya aku mengenal seseorang yang bernama Kim. Tapi aku
sama sekali tidak ingat siapa itu. dan saat berkenalan dengan Shin Gyu lagi. Aku
yakin dia adalah bagian dari masalaluku juga sama sepertimu dan Eomma. Aku jadi
tidak ragu lagi” senyuman Jimin sebenarnya membuat Hongbin kesal. Tapi mungkin
sosok yang dimaksud kenalan Jimin bermarga Kim, antara Kim Taehyung atau Kim
Seok Jin. ini bisa Hongbin manfaatkan untuk memberikan kepercayaan lebih pada
Jimin.
Hongbin mengarahkan pandangannya kearah Shin Gyu yang sejak
tadi ketakutan. “ya Shin Gyu.. bisa kita bicara sebentar?”
“nde tuan” yeoja itu keluar diikuti Hongbin yang meminta
Jimin untuk didalam sebentar. Jimin menolak untuk mematuhi perintah Hongbin.
“kau itu kenapa? Kenapa kau sama sekali tidak senang dengan
ingatanku yang kembali. Apa yang ingin kau renacanakan Hongbin-sshi?”
“rencanakan? Apa maksudmu, tidak ada yang aku rencanakan..”
“lalu kenapa aku tidak bisa mendengarkan pembicaraanmu
dengan Shin Gyu? Kenapa kau memintaku untuk berdiam sendirian didalam ruangan”
Hongbin memutar fikirannya dan menatap netra Jimin yang
dirinya selalu sukai. “itu karena sebaiknya kau tidak mengingat masa lalumu”
Jimin membeku saat mendengarnya.
“waeyo?”
“karena aku tidak ingin menyakitimu. Dokter mengatakan jika
kau memaksakan untuk kembali mengingat masa lalumu secara tergesa-gesa. Maka kau
akan kehilangan ingatanmu sepenuhnya, isi kepalamu akan kosong tanpa jiwa. Apa kau
mau jika itu terjadi?!” bentak Hongbin pada Jimin yang tertunduk lemas. “ada
saatnya kau akan kembali mengingat masa lalumu Chimchim. Itu semua sesuai
dengan perintah dokter. Aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Kenapa tidak
kau mengerti! Malah sekarang kau mengatakan aku merencanakan sesuatu untuk
hidupmu?! Apa maksud perkataanmu Park Jimin!” salah satu tangan Hongbin
mencengkram wajah Jimin yang manis. jimin merasa tidak enak saat Hongbin selalu
mengkhawatirkannya. Sedangkan dirinya terus menerus berdiri pada keegoisannya
untuk mengingat kembali masalalunya. Hongbin pergi meninggalkan Jimin yang
mulai meneteskan air matanya. Shin Gyu ingin membantu Jimin tapi sepertinya
keberanian tidak memihak padanya untuk mendekati Jimin disaat Hongbin sedang
marah. Ini semua kesalahannya. Sebaiknya Shin Gyu bicara dengan Majikannya yang
kini terbakar api cemburu dengan tindakannya.
-------------------
Yoongi yang baru saja pulang dari pertemuannya dengan
Hongbin dihampiri Minseok yang tidak sabaran menanyakan sesuatu yang sejak tadi
membuatnya penasaran. Namja kecil itu memandangi Yoongi yang sepertinya tidak
sehat, “hyung kau baik-baik saja? apa hyung bertemu dengan Eomma?” suara
Minseok menyadarkan Yoongi atas kehadirannya. Yoongi memeluk tubuh mungil
Minseok.
“hyung ada apa? cerita padaku. Apa hyung bertemu dengan
Eomma tadi? Hyung mengikuti mobil yang mengantar Luhan kan? Bagaimana dengan
keadaan Eommaku. Aku sudah mengikuti saran hyung untuk tidak menceritakan
apa-apa pada Luhan” goyangan tubuh Minseok tertahan akan pelukan Yoongi yang
semakin mengerat. “hyung....katakan padaku! Aku mohon”


Comments
Post a Comment