BOY IN LUV S2 Chapter 11 // JIN // JIMIN //
Latar
belakang lagu yang membentuk ‘BOY IN LUV SEASON 2’
- - Docter Stranger OST — Promie slow instrumental
- - Urban Zakap – My Love
- - Chen EXO — Best Luck
- - VIXX – ERROR
- - Baekhyun EXO — Beautiful (Exo Next Door OST)
- - Drakor – In memory Instrumental
- - Ost Autumn In My HeartEndless Love Drama Korea
- - Stupid in Love — SoYu x Mad Clown
- - Various Artist – In Memories (The Muster’s Sun
OST)
- - Winter Sonata – My Memory (Piano Instrumental)
- - Winter Sonata – Inside The Memories
“kita bicarakan ditempat lain, entah kenapa aku tidak berniat berada
lama ditempat orang-orang licik yang mengaku-ngaku menyayangi dongsaengku” Min
Yoongi tidak mengerti dan langsung mengejar Taehyung yang pergi duluan darinya.
Hongbin sama halnya tidak mengerti tapi sepertinya itu semua ditujukan pada
dirinya dan Eomma Jimin.
Jimin
yang berada dirumah sakit baru saja terbangun dari bius yang sebelumnya telah
diberikan sang Dokter. Kepalanya terasa berat. Dengan tetap memaksakan dirinya
Jimin mencoba mengingat hal apa yang mengakibatkan kepalanya terasa sakit. dan
lintasan kilatpun menyambar akan mimpi yang tidak selaras dengan kenyataan yang
diterimanya.
“Kim
Taehyung” Jimin mengucapkan sebuah nama, dan respon yang Jimin dapatkan adalah
rasa rindu. Jimin tidak mengenalinya. Tapi Jimin merindukan namja yang
ditemuinya lewat mimpi, walau hanya sekedar nama yang Jimin ketahui. Jimin
menurunkan kakinya dari ranjang tidurnya. Sedikit berjalan menuju jendela yang
menunjukan taman rumah sakit yang begitu ramai didatangi para pasien. Cuaca
yang cerah dan mendukung, membuat Jimin ingin pergi kesana. Tapi keinginannya
itu harus Jimin tunda mengingat tidak ada nya Hongbin atau Eommanya menemani.
Dengan lesu Jimin kembali duduk diranjang miliknya menunggu kedatangan
keluarganya yang mungkin sebentar lagi akan datang. ketukan diterima kamar
Jimin, dan senyumanpun menghiasi wajah Jimin berharap hongbin atau sojinlah
yang melakukan. Perlahan dari balik pintu kedatangan perawat serta dokter
memudarkan senyuman yang beberapa detik lalu Jimin berikan.
“Selamat
siang” sapa dokter dan perawat yang memasuki kamar Jimin untuk sekedar
memeriksa kesehatannya secara berkala. Setiap alat yang diperlukan untuk
pemeriksaan kesehatan Jimin dikeluarkan, dan pemeriksaanpun berlangsung dengan
cepat. “kau sudah tidak lagi demam tinggi, sekarang bagaimana perasaanmu?” tanya
sang Dokter untuk mengetahui keluhan apa yang masih dirasakan sang pasien.
“aku
hanya merasakan kepala ku terasa berat”
“sudah
kuduga. Aku hanya ingin memberikanmu sedikit saran, hal yang harus kau lakukan
adalah mendengarkannya dengan baik”
Jimin
mengangguk lembut. “setiap perasaanmu sedang tidak tenang, atau kau mengalami
kebingungan serta rasa takut yang teramat menyakitimu. Kau bisa menarik nafasmu
secara pelan-pelan. Lalu hembuskan secara pelan-pelan juga, fikirkan apa yang
membuatmu bahagia. Ingatanmu adalah benda berharga dan yang kau rasakan
sekarang, kau begitu kehilangannya. Tapi itu tidak jadi masalah. Sekarang aku
ingin bertanya padamu Rasa aman apa yang pernah kau dapati sekarang ini?”
Jimin
berfikir dari kalimat yang diucapkan sang dokter, Kilatan mimpi itu terjadi
lagi dan itu satu-satunya yang dapat menenangkan hati Jimin. Apakah Jimin harus
menceritakan tentang mimpinya? Ataukah Jimin sebaiknya diam saja. Seandainya
dokter dihadapannya menceritakan semua pada Eomma atau Hongbin. Jimin tidak
akan bisa mencari ingatannya lagi. Masa lalunya tidak dapat Jimin dapatkan
karena Eomma dan Hongbin selalu menutupinya dengan alasan untuk kesehatan
Jimin. semakin mereka melarang Jimin, semakin keinginan Jimin bergejolak dengan
sebuah tindakan. Tidak ada yang bisa Jimin harapkan dari Eommanya ataupun
Hongbin. Hanyalah diri sendiri yang bisa Jimin percayai bukan orang lain.
Guncangan yang diberikan sang dokter pada tubuh Jimin menyadarkan pertanyaan
sang dokter yang belum sempat dirinya balas.
“Jimin-ah
kau bisa mempercayaiku.. kau tidak perlu menyembunyikan apapun dari ku. Aku
adalah seorang dokter yang siap membantumu dan mengembalikan ingatanmu. Jadi
untuk sekarang aku hanya ingin kau memberi tahuku rasa aman apa yang pernah kau
dapati?”
Jimin
tidak menjawab. “kau masih ragu untuk bercerita?” tanya dokter itu lagi, dan
anggukanpun diterima dari hasil jawaban pertanyaannya. Dokter itu melirik
kearah perawat dan meminta perawat yeoja itu untuk menunggunya diluar. Menjaga
pintunya agar tidak ada yang menganggu pembicaraannya dengan Jimin. setelah
yeoja itu keluar, dokter itupun kembali bertanya pada Jimin diawali perkenalan
diri.
“namamu
Park Jimin, dan nama kecilmu Chimchim. Itu data yang kudapati dari keluargamu.
Kau tidak mau bercerita mungkin karena kau tidak mengenalku dan mengaggapku
sebagai orang asing. Kalau begitu aku akan memperkenalkan diriku. Kim Himchan
imnida, dan aku disini ingin menjadi sahabatmu Jimin-ah”
Jimin
mengedipkan kedua matanya, imut sekali. Tidak tertahankan seorang Himchan untuk
mencubit kedua pipinya yang menggantung diwajahnya. “sekarang kita hanya
berdua, dan aku berjanji sebagai sahabat aku tidak akan membocorkan rahasiamu
pada siapapun termasuk keluargamu. Ingatanmu akan kembali jadi kau bisa
mempercayai keberadaanku”
“Mimpi”
suara Jimin mulai terdengar, bukan anggukan atau gelengan yang diterima sebagai
jawaban lagi. Kini suara dari bibir mungil Jimin mulai terdengar ditelinga Kim
Himchan. “aku bermimpi seseorang. dan mimpi itu menjadikan perasaanku tenang”
“sebuah
mimpi menjadikan perasaanmu tenang, kau tidak mengenalinya?”
“aniyo.
Tapi dia mengatakan Kim Taehyung” Himchan yang telah menangkap cerita dari
Jimin mulai menganalisis arti dibalik mimpi namja yang mengalami amnesia. “dia
memperkenalkan diri sebagai namja bernama Kim Taehyung”
“kau
tau terkadang mimpi hanyalah sebuah kebohongan belaka, sebuah khayalan yang kau
berharap dapat menjadi kenyataan dan itu terwujud lewat mimpi. Tapi ada juga
masa lalu yang melintas lewat mimpi karena sebuah pemberontakan. Kau bisa
tenang untuk sementara waktu, aku akan membantumu sebisa mungkin. Kau tidak
perlu cemas untuk mempercayai apakah mimpi itu benar atau tidak sebagai masa
lalumu yang memberontak. Yang perlu kau lakukan hidup seperti biasa, menjaga
kesehatanmu, minum obatmu yang teratur, dan percaya padaku”
“kau
adalah sahabatku. Benar bukan?”
Himchan
tersenyum dan meletakan salah satu tangannya pada pipi Jimin yang sejak tadi
mencuri perhatiannya, “aku adalah sahabatmu”.
“bisakah
kau tidak menceritakan apapun pada Orang lain termasuk pada keluargaku”
“jika
maumu seperti itu aku akan melakukannya”
Setelah
semua selesai, Himchan pergi meninggalkan Jimin dengan banyak data yang bisa
dipelejari untuk menemukan masa lalu Jimin. dan Jimin mematung sendirian lagi
dikamar rawatnya tanpa ditemani siapapun. Memandang setiap langit-langit
kamarnya dengan samar-samar wajah namja Kim Taehyung yang tertangkap jelas
dimimpinya.
----------------------
[ Kamar rawat Kim
Seok Jin ]
Jin
memandangi wajah Jungkook yang sejak tadi sibuk dengan kegiatan merapihkan
kamar rawatnya. Rasa jenuh sudah dirasakan Jin yang masih saja tidak diizinkan
pihak rumah sakit untuk pulang kerumahnya sendiri. dengan wajah tampan yang
dimilikinya, Jin berusaha memohon pada Jungkook agar bisa keluar dari rumah
sakit secepat mungkin. Bermacam aegyo telah dilakukan, hasil yang didapatkan
Jin terus-terusan penolakan dari Jungkook.
“Chagi...
aku benar-benar merasa bosan dirumah sakit. jika aku keluar kan kita bisa pergi
kemana saja yang kita sukai. Lagi pula aku sudah sangat sehat. Jadi katakan
pada dokter agar aku dirawat jalan saja, aku mohon”
“tidak
bisa. Dokter mengatakan kau belum stabil Jin-sshi. Kesehatanmu turun-naik, kau
merasakan baik sekarang tapi nanti kau akan merasa lemaskan? Jadi aku ingin kau
tetap dirawat. Lagian ada aku disini, apa kau tidak menyukai keberadaanku!?”
Jungkook merajuk pada Jin dengan bibir yang dimanyunkan. “kau masih merasa
bosan saat aku disini? Jahat sekali kau!?”
“bukan
begitu Chagi” Jin merentangkan salah satu tangannya meminta Jungkook untuk mendekatinya.
dan Jungkook menurutinya, “aku hanya ingin pergi bersamamu, mengajakmu ketempat
yang kau sukai dan sebagainya” lanjut Jin dengan ber-aegyo.
“Jin-sshi
hentikan aegyomu itu.. sekali aku katakan tidak maka kau harus menurutinya kita
bisa lakukan lain waktu” tegas Jungkook yang menyaksikan wajah Jin berubah
semakin kesal. Ketukan kamar rawat Jin terdengar, seorang dokter dan perawat
memasuki ruangan ditengah rajukan Jin pada Jungkook. Setelah dokter dan perawat
memberi hormat, merekapun mulai memeriksa kondisi Jin yang baru saja sadar dari
Koma. Diawali dengan pemeriksaan tekanan darah yang masih rendah serta tubuh
Jin yang pucat dan lemas, Jin masih tidak diizinkan dokter untuk keluar dari
rumah sakit.
“sepertinya
obatmu telah habis, aku akan menambahkannya” ujar sang Dokter saat kedua
matanya menangkap plastik yang berisi obat-obatan Jin telah kosong.
“Ah
Jinjyaa dokter, aku sungguh ingin dirawat dirumah saja. izinkan aku pulang ya
dokter” Gelengan kepala dilakukan Jungkook melihat tingkah manja Jin pada
dokter yang sedang memeriksanya. Mengapa wajah tampan Jin harus memiliki sikap
seperti ini? sangat terlihat seperti anak-anak yang merengek untuk pulang
kerumahnya.
“sebenarnya
kau itu kenapa terburu-buru sekali untuk pulang tuan Seok Jin? apa kau kurang nyaman
dengan fasilitas kamar ini?”
“Aniyo.
Aku hanya ingin dirawat kekasihku saja, bukan yang lain” Jin menarik lengan
Jungkook agar dokter dan perawat itu tau hubungan mereka. Jungkook sedikit
risih karena pandangan aneh yang diberikan. Mencoba untuk mengerti Dokter
itupun mengalihkan pandangannya yang telah membuat Jungkook tidak nyaman.
“begitu.
Baiklah jika keinginanmu seperti itu, ada persyaratan yang harus kau penuhi”
suara Himchan menggantung sebentar. Jungkook menunggu sang dokter bername-tag
Kim Himchan melanjutkan ucapannya. “kau harus bisa menunjukan perkembanganmu
selama seminggu dirumah sakit ini. kau mengerti? Kalau aku sudah melihat ada
perkembangan pada kondisi tubuhmu, maka dengan senang hati aku mengizinkanmu
untuk dirawat kekasihmu saja” lanjutnya.
Mata
kesenangan Jin terpancar dan langsung memeluk Jungkook disampingnya “benarkah?!
Ah jinjya!? Aku diizinkan chagi” tidak mau menganggu kebahagiaan pasiennya,
Himchan dan perawat itupun pamit keluar dan meneruskan pekerjaannya. Jungkook
berniat mengantar hingga pintu tapi pelukan Jin yang tidak ingin ditinggalkan
menahan keinginan baiknya. Dan pintu itupun tertutup dari luar. Jungkook sangat
menyukai keadaan Jin yang kini sudah dapat tersenyum dengan lebar, tapi kenapa
hatinya terasa kurang nyaman. Apakah hanya perasaan buruk saja? atau akan ada
kejadian buruk yang akan menerima dirinya? Jungkook masih menerka-nerka dalam
pikirannya.
Waktu
menunjukan jam makan siang bagi setiap pasien dan Jin menolak untuk makan siang
dikamarnya lagi. Bagaimana tidak? Bukankah terasa bosan jika berada diruangan
yang membatasi setiap aktivitasnya? Jin sangat tidak menyukai keberadaannya di
rumah sakit. tapi mau bagaimana lagi setidaknya dirinya harus bisa menunjukan
perkembangan kondisi tubuhnya agar dapat diizinkan pulang. Jin meminta izin
pada perawat yang mengantarkan makanan keruangan VIP nya agar dapat memakan
makan siangnya ditaman atau direstoran lantai dasar. Jungkook menaikan salah
satu alisnya heran. Awalnya perawat itu melarang namun ketika bertanya pada Kim
Himchan yang tidak sengaja melewati ruangan Jin lagi, Jin pun diizinkan.
Himchan
meminta perawat lain membawakan kursi roda agar Jungkook dapat mengantar Jin
kelantai dasar. Dan tidak lama kemudian perawat itupun datang, membantu Jin
berdiri untuk dapat duduk dikursi roda yang telah disiapkan untuknya. Jungkook
tersenyum pada Himchan lalu pergi mendorong kursi roda Jin menuju pintu lift.
Himchan yang tidak sengaja melupakan resep obat Jin yang harus diminumnya
sebelum dan setelah makan kembali memanggil Jungkook. dengan terpaksa Jungkook
harus meninggalkan Jin sebentar didepan pintu lift, “tunggu sebentar ya. Aku
akan kembali”
“nde.
Jangan lama-lama yaa” manja Jin lagi. Kedua mata Jin terasa hampa tidak tau
kenapa. Setiap memandang Jungkook seperti memandang orang lain. Tubuh Jungkook
yang menghilang setiap detiknya memberikan efek hati Jin menjadi tidak karuan.
Ingatan tentang ucapan namja cantik berambut hijau, atau yang Jin kenal sebagai
kekasih sahabatnya Rapmon menghantui telinganya. Suaranya masih sangat jelas
saat mengucapkan tentang orang ketiga yang sama sekali tidak Jin kenali.
Flashback On
Ketika Rapmon tengah pergi memastikan
kesadaran Jin yang tidak wajar dan Jung Ho seok yang tengah menenangkan
Taehyung. kini Yoongi sendirian bergelut pada hatinya yang tergores akan
pengkhianatan Jungkook pada Jimin. “Jungkook-ah, apa yang terjadi? kenapa kau
dan Seok Jin—”
“waeyo? Apa ada yang salah?” sinis Jin pada
kalimat yang mencoba melindungi kekasihnya Jungkook. “apa ada yang salah dengan
ku dan Jungkook? lagipula kau itu siapa, bagaimana bisa kau mengenal
kekasihku?”
“Seok Jin kau tidak apa, tidak mengingatku.
Tapi Jimin-ah? Apa kau tidak mengingatnya? Kenapa kau malah seperti ini
dengan—”
Jin melirik kearah Jungkook yang tertunduk
takut. “Jimin?” tanya Jin pada Yoongi. Jungkook mengeratkan pakaian yang
dikenakan Jin sekedar menyembunyikan dirinya dari tatapan tidak menyenangkan
Yoongi.
“Nde. Namja yang kau cintai adalah Park
Jimin! Park Jimin! apa kau tidak mengingatnya”
“aku tidak mengenalnya.. aku tidak mengenal
namja yang kau maksud. Sekarang lebih baik kau keluar dari ruanganku karena aku
tidak ingin kekasih ku mendengar kebohongan yang kau dan temanmu tadi buat” Jin mencoba mengusir Yoongi secara
halus. Tapi Yoongi tetap meyakinkan kesalahan yang telah Jin lakukan. Hingga
tamparan pun mendarat di area wajah putihnya.
Flashback Off
“Park
Jimin” bisiknya dengan pandangan menghadap kearah pintu lift. Tamparan yang Jin
sudah lakukan pada kekasih Rapmon sedikit berlebihan sepertinya. Dan kini Jin
mulai merasakan perasaan bersalah pada sahabat lamanya itu. mungkin jika Jin
bertemu kembali nanti, dirinya harus bisa meminta maaf walau itu terlihat bukan
seperti dirinya yang sebenarnya. Jin sama sekali tidak punya sifat rendah hati
jika berurusan dengan sahabat lamanya Rapmon. Disamping kursi roda Jin, seorang
namja lain juga ikut menunggu lift. Jin mengangkat wajahnya untuk melihat namja
disampingnya. Kesan pertama yang Jin dapat simpulkan. Namja yang berdiri
disampingnya sangat manis, bertubuh mungil, dan tidak kalah cantik dari
Jungkook.
Jimin
berada disamping Jin saat ini mereka dalam satu posisi yaitu menunggu lift yang
akan siap mengantar mereka kelantai bawah. Mereka tidak saling mengenal dengan
ingatan yang tidak mereka miliki. Tidak saling menyapa, dan mencoba untuk tetap
tenang pada sikapnya masing-masing.
Ting
Nong.
Lift
kini berhenti dan terbuka. Jimin tentu saja langsung masuk dan menekan tombol
agar pintu itu tetap terbuka dan menanyakan pada Jin yang berada dikursi roda.
“Apakah kau akan masuk?”
Mendengar
suara Jimin seperti mendengar suara Jungkook, membuat hati Jin terasa tidak
berdaya. “tidak, aku sedang menunggu seseorang” meneduhkan sekali.
“kalau
begitu aku akan menutupnya” Jimin tersenyum sebelum melepas tekanan jarinya
pada tombol lift. Perlahan-lahan pintu lift tertutup meninggalkan Jin yang
masih berada diluar pintu lift. Jin masih ingin bicara dengan Jimin sebenarnya
tapi tidak mungkin dirinya meninggalkan Jungkook yang meminta dirinya menunggu.
Wajah Jimin semakin sedikit terlihat. Dan Jin mencoba tetap memperhatikan namja
manis itu dalam pandangan disalah satu matanya. Setelah pintu lift tertutup
sempurna dan mengantar Jimin kelantai dasar. Jungkook datang dengan membawa
persediaan obat yang harus Jin minum.
“aku
sudah kembali, maaf ya menunggu lama Jin-sshi. Apa lift sudah tiba tadi?” kata
Jungkook dengan memencet tombol lift lagi yang bergambar panah kebawah. Jin
tidak menjawab dan masih mengkhayal akan namja yang baru saja dirinya temui
sangat mirip dengan Jungkook. “Jin-sshi?”
“nde?”
“kau
melamun? Aku sedang bicara denganmu, kau mendiamiku?” manyun Jungkook. Dan lift
yang sebelumnya mengantar Jimin kelantai dasar kini kembali terbuka dan siap
mengantar Jin.
“bukan
begitu, aku tadi sedang tidak konsen maafkan aku chagi” pintu lift tertutup.
Setibanya
dilantai dasar, Jungkook mendorong kursi roda Jin untuk keluar dari lift. Jin
yang mencari keberadaan namja yang tidak dikenalinya celingukan kesana-kemari
berharap dapat melihat sosok mungil Jimin. tapi sikap Jin terbaca akan Jungkook
yang heran, “Jin-sshi kau itu kenapa? Sepertinya kau mencari seseorang?” tanya
Jungkook dengan ikut memperhatikan sekeliling area.
“aniyo..
aku hanya mencari tau posisi restoran karena sangat lapar, ayo kita segera
pergi kerestoran Jungkook-ah” bohong Jin dan mendapatkan anggukan dari sang
kekasih yang mempercayainya.
----------------------
Jimin
berjalan kearah taman sendirian, menikmati udara segar kota Seoul yang sudah
lama tidak dirinya jamah. Menghirup setiap oksigen untuk membuat perasaannya
tenang. Ingatan tentang mimpinya akan memberikan jalan terang untuk mengetahui
masa lalu Jimin tanpa bantuan Hongbin ataupun Sojin. “Kim Taehyung” nama itu
kembali tersebut dari bibir kecil Jimin. Mimpinya seperti nyata. Dan Jimin
menginginkan pertemuannya kembali dengan namja yang berada didalam mimpi.
Seandainya mimpi itu adalah pemberontakan dari masa lalu Jimin sesuai yang
dikatakan Himchan. Jimin berharap pertemuannya secara langsung dengan Taehyung.
kedua mata Jimin dipejamkan berusaha memutar ulang mimpinya. Tapi pelukan
seseorang dari belakang mengharuskan mata Jimin terbuka untuk mengetahui siapa
yang memeluknya. Lee Hongbin. Hongbin yang memeluk Jimin dengan senyuman
tampannya seperti biasa.
“aku
memeriksa kamar rawat seseorang tapi tidak menemukan orang yang aku cintai
berada diruangan itu, ketika aku bertanya pada seorang perawat. Dia melihatmu
sedang berjalan sendirian ketempat ini” Ceritanya pada Jimin untuk mengetahui
dari mana Hongbin tau keberadaannya ditaman. Jimin masih berada dalam pelukan
Hongbin dengan tangan Hongbin yang menggantung dileher Jimin. kedua pipi
Hongbin ditempelkan agar merasakan suhu dari tubuh kekasihnya yang sebelumnya
dirasakan demam tinggi. “sepertinya kau sudah cukup sehat, apa kau mau kembali
pulang?” ucapnya saat tidak merasakan suhu demam pada Jimin.
“nde.
Aku ingin pulang, bisakah kau tidak memeluk ku dari belakang terlalu lama
Hongbin-sshi? Kau tau dirimu sangat besar dan berat?”
“benarkah?
Jika kau mengatakan aku sangat besar itu mungkin memang benar, tapi untuk
berat...hm” pikirnya dengan melepaskan pelukannya, “sepertinya kau yang berat”
canda Hongbin dengan menggendong Jimin pada pundaknya. Layaknya seorang putri
yang sedang diculik seorang raksasa besar. “yaaak! Turunkan aku Hongbin-sshi”
pintanya dengan wajah yang setengah matang memerah.
Hongbin
tertawa puas melihat keakrabannya kembali pada Jimin. Mungkin memang rasa
cemburu Hongbin salah saat Jimin berdekatan dengan Shin Gyu. Bukankah sebaiknya
kepercayaan Jimin menjadi prioritas utama bagi Hongbin, dan bekerja sama dengan
Shin Gyu mungkin akan menjadi pilihan terbaik. Jimin mengingat tentang kenangannya
mengenal seseorang bermarga Kim. Kebetulan sekali Kim Shin Gyu ada
dikediamannya. Ini lah langkah selanjutnya mengambil kepercayaan dari hati
Jimin. membiarkan Jimin memiliki hubungan pertemanan dengan mengarang sebuah
cerita bahwa Shin Gyu adalah teman kecil mereka bertiga. Pandangan Hongbin
melekat pada aktivitas Jimin yang manis sedang merapihkan pakaiannya sehabis
dipeluk Hongbin. Jimin yang sadar diperhatikan langsung menoleh kearah Hongbin
yang sekarang duduk disampingnya. “Eommaku kemana?” tanya Jimin yang tidak
menemukan Sojin bersama Hongbin.
“Eommamu
sedang ada keperluan bisnis dengan rekannya. Jadi dia tidak bisa datang
Chimchim” Melihat raut wajah cemberut Jimin, mengharuskan Hongbin menghiburnya
dengan candaan-candaan ketika mereka masih kecil. Menceritakan masa kecil saat
mereka bersama. Berharap Jimin bisa mengingat dirinya dan hanya dirinya.
Cuaca
yang sebelumnya cerah mulai berawan, dan sedang asik bercerita air-air
berjatuhan dari atas langit. Hongbin tidak ingin Jimin sakit lagi. Jaket yang
dikenakannya direntangkan agar menutupi kepala Jimin. Hanya mereka yang berada
diluar. Karena para pasien sadar saat cuaca mulai berawan kecuali mereka
berdua. Sesampainya di pintu belakang rumah sakit Hongbin melepaskan jaketnya
yang basah. Jimin kebasahan setengah namun Hongbin kebasahan sepenuhnya. Tapi
melihat Jimin mungilnya tidak terlalu basah memberikan senyuman terukir
diwajahnya lagi. Jimin yang juga khawatir jika Hongbin jatuh sakit, dengan
sigap melepaskan pakaian tipisnya untuk sekedar mengeringkan wajah Hongbin yang
berair. Jimin setengah telanjang. Dan itu membuat naluri Hongbin tidak kuat
jika memandangnya terlalu lama. Tidak ada orang yang berada di pintu belakang
rumah sakit. hanya mereka berdua. Hongbin bisa bertindak sesuai keinginannya,
bahkan saat dirumah. Namja itu bisa memuaskan nafsunya akan Jimin yang
dirindukannya. Tapi hati manusia Hongbin masih dimiliki. Keinginannya bisa
ditahan. Senyuman manis Jimin tidak ingin dihilangkan dengan tatapan kebencian
yang nantinya akan terpancar jika Hongbin memaksakan nafsunya. Jimin yang
merasakan rengkuhan pada tubuhnya menghentikan kegiatannya mengeringkan wajah
dan kepala Hongbin. Hongbin memeluknya dengan lembut agar tidak menakuti namja
mungilnya.
“bisakah
kau tidak melepaskan pakaianmu dan membuatku terus-terusan menahan keinginanku
menyentuhmu Chimchim”
“nde?”
sedikit takut Jimin mencoba melonggarkan pelukan yang diberikan Hongbin.
Hongbin
kembali mengeratkan pelukannya “kau tenang saja. aku tidak akan berbuat
macam-macam padamu. Sebelum kau benar-benar yakin akan posisiku yang sangat
mencintaimu. Kau masih ragu pada ingatanmu yang tidak kembali, tapi aku ingin
kau mempercayai kehadiranku adalah sesuatu yang kau tunggu-tunggu Chimchim”
netra Hongbin menatap intens mata menggemaskan Jimin. wajahnya mencoba
mendekati bibir mungil Jimin. dengan cepat Jimin memalingkan wajahnya untuk
menghindari perlakuan Hongbin. Hongbin akhirnya melepaskan pelukannya dan
membiarkan Jimin bernafas tanpa sentuhannya. Mengenakan pakaian pada tubuh Jimin
untuk menutupi kelembutan tubuh mungil namja yang dicintainya. sempat Hongbin
mengecup singkat pundak Jimin, yang mengakibatkan seluruh tubuh Jimin merinding
sempurna. “Aku mencintaimu” bisikan itu terdengar mesra.
Kedatangan
seseorang mengejutkan keduanya, petugas kebersihan membantu Hongbin dan Jimin
yang kebasahan. Mengambilkan mereka handuk bersih agar bisa mengeringkan diri
mereka. Hongbin diberikan pakaian ganti karena telah basah seluruh pakaiannya,
sedangkan Jimin menolak karena hanya basah sedikit. Dengan senang hati Hongbin
mengganti pakaiannya di toilet untuk menghargai bantuan dari petugas rumah
sakit. Jimin menunggu diluar dengan kopi dan handuk yang menggantung
dilehernya.
Jungkook
yang berjalan tidak melihat kearah depan tidak sengaja menabrak Jimin yang
sedang memegang kopi. “aiishh pakaianku jadi terkena kopi. Kenapa kau
menghalangi jalan—ku” mata Jungkook melotot dengan mulut menganga. Setengah
mati Jungkook kaget saat mengetahui namja yang ditabraknya adalah Jimin. Jimin
membantu Jungkook membersihkan pakaiannya yang terkena kopi karena ulahnya.
Jungkook seperti terkena serangan jantung. Tubuhnya menggigil. Keringat dingin
mengalir. “Pa...Park.. Ji..Jimin” katanya terbata-bata. Jimin yang dikenali
namja yang menabraknya memiringkan kepalanya bingung.
“kau
mengenalku?”
Jungkook
menutup mulutnya, saat merasakan keanehan pada Jimin yang tidak mengenali
dirinya. Mencoba untuk tetap tenang walau tidak bisa. Jungkook langsung pergi
dan mengurungkan keinginannya untuk pergi ketoilet. Nafas Jungkook tidak
beraturan. Setelah menjaga jarak dengan Jimin yang ditemuinya ditoilet.
Jungkook menepuk-nepuk wajahnya meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi. Mencubit
setiap tubuhnya berkali-kali dan sakit dirasakannya “ini bukan mimpi. Dia
memang Jimin”
Karena
penasaran Jungkook sengaja mengikuti kemana Jimin pergi dengan
sembunyi-sembunyi. Dan yang membuatnya penasaran siapa namja yang bersama
Jimin. tetap pada persembunyiannya. kini Jungkook tau dimana Jimin dirawat,
tepatnya dirumah sakit yang sama dengan Jin. “kenapa dunia begitu baik
mempertemukan mereka dalam kondisi seperti ini” kesal Jungkook menonjok tembok
rumah sakit. “Jimin tidak boleh bertemu dengan Jin, ataupun sebaliknya. Aku
yakin dengan Jimin tidak mengenaliku itu menandakan bahwa namja itu kehilangan ingatannya
sama seperti Jin-sshi. Mereka berdua sama-sama tidak memiliki ingatan tentang
hubungannya.. Dunia memang sangat baik, tapi aku tidak ingin dunia memihak
mereka lagi” Jungkook meninggalkan lorong kamar Jimin yang telah tertutup dan beralih
untuk menemui Jin yang telah ditinggalkannya cukup lama. Dengan sedikit pesan
yang tertinggal, Jungkook menajamkan pandangannya dan berkata “Maafkan aku
Jimin-sshi. Aku tidak bisa menyerahkan Jin-sshi ku pada mu lagi”
Sekembalinya
Jungkook dari toilet, Jin merasa perubahan terjadi pada sikap kekasihnya itu.
“Chagi gwenchana?” suara Jin semakin membuat tubuh Jungkook gemetaran. Semakin
Jungkook menahan rasa gemetarnya, semakin terlihat jelas jika kegelisahan
terjadi padanya.
“Kim
Seok Jin!!” teriak seseorang dari jauh, Jungkook dan Jin menoleh dan mendapati
Rapmon menghampirinya.
“Apa
yang kau lakukan disini?! Bukankah sudah kukatakan kau tidak perlu
mencemaskanku, sikapmu itu aneh sekali. Seperti kau sedang mengkhawatirkanku?
Apa kau sakit?” tanya Jin pada Rapmon yang berdiri tegak di samping meja
makannya. Rapmon adalah namja yang sangat tidak perduli pada Jin, itulah yang
menyebabkan Jin tidak mengerti akan sikap sahabat lamanya itu yang selalu cemas
padanya belakangan ini. Diikuti 2 namja yang sama sekali tidak ingin Jin temui.
“Apa-apaan lagi ini?! kenapa kau selalu mengajak namjachingu dan temanmu
kesini? Aissh Seulki!”
“kami
bertiga khawatir padamu! Dan itukah respon yang kami dapatkan dari namja yang
kami selalu khawatirkan?” bentak Rapmon kasar dengan tangan memukul meja makan
yang Jin dan Jungkook tempati. Yoongi berbisik agar kekasihnya itu tenang
menghadapi Jin, dan pandangan kecut diberikan pada Jungkook.
“Aku
mewajari jika kau yang khawatir padaku? Tapi mereka? Aku saja tidak mengenal
mereka.. bagaimana bisa mereka menkhawatirkanku?!”
Yoongi
yang sedari tadi memandangi sosok Jungkook mulai angkat bicara, “mungkin kau
bisa bertanya pada namja yang kau anggap kekasihmu itu untuk bercerita tentang
siapa kami. Dan bercerita tentang Kenyataan yang sebenarnya?”
“Kau
mengatakan kekasihku adalah seorang pembohong?!” Jin mendorong kasar Yoongi
yang langsung ditangkap Rapmon disampingnya. Rapmon sudah tidak tahan lagi
dengan tindakan Jin yang semakin seenaknya pada Yoongi. Pukulanpun Rapmon
berikan hingga Jin jatuh dari kursi rodanya. Jungkook langsung membantu Jin
yang tersungkur dilantai, “sebenarnya apa yang kalian inginkan!”bentak Jungkook
kesal.
“yang
aku inginkan kau mengatakan kebenaran tentang hubunganmu dengan Jin yang sudah
kandas! Jeon Joon Kook!!?” Yoongi membalas dengan bentakan juga. Taehyung yang
tadinya bingung dengan sifat Jungkook yang tiba-tiba menjadi semakin dekat
dengan Jin, sekarang mengerti. Jungkook memanfaatkan hilangnya Jimin untuk
kembali pada Jin. Mantan kekasihnya. Tapi ini bukanlah cinta yang sebenarnya. ‘Kenapa kau tidak sadar bahwa cintamu sudah
bertepuk sebelah tangan Jungkook-ah, bukankah kau sudah menjalin hubungan
dengan Jung Ho Seok. Tapi kenapa sekarang kau memaksakan dirimu’ Kata
Taehyung dalam hati. Seluruh petugas rumah sakit mencairkan suasana, mereka
memisahkan antara kedua kubu yang bertengkar. Para pasien, pengunjung, perawat,
serta dokter menyaksikan itu semua. Kini mereka berlima menjadi sorotan yang
kurang menyenangkan bagi setiap orang yang berobat. Beberapa petugas membantu
Jungkook mengangkat tubuh Jin untuk duduk dikursi rodanya lagi. Dan petugas
lainnya meminta agar Rapmon Yoongi dan Taehyung keluar dari rumah sakit jika
tidak memiliki keperluan berobat atau berkunjung. Mereka sekarang telah menjadi
musuh. Dan Yoongi benar-benar muak setiap melihat wajah licik Jungkook.
To be Continue...


Comments
Post a Comment