BOY IN LUV S2 Chapter 12 // JIN // JIMIN //
Latar belakang lagu yang membentuk ‘BOY IN LUV SEASON
2’
- - Docter Stranger
OST — Promie slow instrumental
- - Urban Zakap – My
Love
- - Chen EXO — Best
Luck
- - VIXX – ERROR
- - Baekhyun EXO —
Beautiful (Exo Next Door OST)
- - Drakor – In
memory Instrumental
- - Ost Autumn In My
HeartEndless Love Drama Korea
- - Stupid in Love —
SoYu x Mad Clown
- - Various Artist –
In Memories (The Muster’s Sun OST)
- - Winter Sonata –
My Memory (Piano Instrumental)
- - Winter Sonata –
Inside The Memories
Beberapa petugas membantu Jungkook mengangkat tubuh Jin untuk duduk
dikursi rodanya lagi. Dan petugas lainnya meminta agar Rapmon Yoongi dan
Taehyung keluar dari rumah sakit jika tidak memiliki keperluan berobat atau
berkunjung. Mereka sekarang telah menjadi musuh. Dan Yoongi benar-benar muak
setiap melihat wajah licik Jungkook.
Yoongi
mengumpat hebat saat petugas rumah sakit mengusirnya. Ini pertama kalinya
Yoongi di perlakukan secara tidak hormat dan mengancam akan melapor pada atasan
rumah sakit jika berani menyentuhnya. Ternyata ancaman itu tidak membuahkan
hasil apa-apa, tetap saja petugas menyeret paksa Yoongi keluar dari rumah
sakit. Rapmon yang tidak suka akan sikap petugas mendorongnya untuk menjauhi
dirinya dan Yoongi. Sama halnya dengan Rapmon, Taehyung menepis setiap
perlakuan petugas yang mencoba menyeretnya paksa. Mereka pergi sendiri ditemani
petugas rumah sakit yang mengantar ke 3 namja ini keluar agar tidak kembali
memancing keributan.
Jungkook
membantu Jin untuk membersihkan luka diwajahnya yang menimbulkan sedikit darah
dan memar. Perawat yang lewat dimintai bantuan agar dapat mengobati Jin yang
meringis menahan rasa sakit pada ujung bibirnya. Setelah membawa Jin kekamar
rawatnya sendiri, perawatpun menyediakan air hangat serta lap yang Jungkook
inginkan. Tidak lupa Jungkook mengucapkan terimakasih pada perawat yang berlalu
pergi setelah Jungkook memintanya untuk meninggalkan dirinya dan Jin. pintu
tertutup sempurna. Jungkook mulai menyelupkan sedikit lap bersih pada air
hangat dan menempelkannya pada ujung bibir Jin yang memar akibat ulah Rapmon.
“Apa
sakit?” tanya Jungkook yang sedari tadi berhati-hati saat mengobati kekasihnya
Jin. namja yang diajak Jungkook bicara diam dan tidak memandang kearahnya, Jin mengingat
bahwa ini pernah dialaminya dengan seseorang. tapi Jin sadari sepertinya bukan
dengan Jungkook. “Jin-sshi?”
“nde?”
“aku
bertanya padamu, apa sakit?” Jungkook mengulangi pertanyaannya dengan
sedikit cemberut. Perasaan tidak enak
yang Jungkook rasakan datang lagi dirasakannya. Apa Jin sudah bertemu dengan Jimin yang satu rumah sakit dengannya?
ucapnnya dalam hati. Ini sangat aneh. Jin selalu bengong saat memperhatikan
dirinya. Apa ikatan itu benar ada. Hingga keberadaan Jimin didekat Jin
memberikan respon Jin akan perasaannya yang ragu pada Jungkook. sepertinya ini
bukan hal yang bagus jika dibiarkan. Jungkook memutar pikirannya untuk mencari
ide yang baik agar ingatan Jin tidak kembali. Terlebih lagi mengingat namja
yang berhasil menaruh perhatian hatinya dari Jungkook berada disatu rumah sakit
yang sama. “Aku akan bertemu dokter sore ini, dipikir-pikir sepertinya
kepulanganmu akan memberikan kestabilan pada kondisimu lebih cepat Jin-sshi.
Jadi aku akan bicara pada dokter agar kau bisa segera pulang” Jin masih diam
tidak bergeming. “aku yakin kau senang” lanjut Jungkook.
Setelah
selesai membersihkan luka Jin, Jungkook menaruh baskom yang berisi air hangat
di meja. Jin yang sejak tadi melamun. Kini berbicara sesuatu yang tidak
seharusnya ditanyakan pada Jungkook, “Jungkook-ah... apa kau mengenal
teman-teman Rapmon tadi?”
“ada
apa? kenapa.. kenapa kau menanyakan hal itu?” bingung Jungkook untuk
menjawabnya.
“aku
merasa sepertinya namja yang memiliki hubungan dengan Rapmon itu selalu saja
bersih keras mengatakan tentang hubunganku dengan Ji—”
“aah..aku
harus ketoilet, tadi toiletnya penuh jadi aku belum sempat pergi ketoilet.
Jin-sshi nanti kita bahas lagi ya.. aku sudah tidak tahan” Jungkook berjalan
cepat keluar kamar Jin untuk menghindari pembicaraan yang membahas namja yang
tidak ingin Jungkook dengar namanya. Setelah menutup pintu kamar Jin, Jungkook
berdiri mematung didepan pintunya. Mengatur nafasnya yang tidak beraturan
terdengar. Tubuhnya gemetaran karena harus berbohong sendirian tanpa ada yang
bisa dimintai bantuan. Jungkook hanya ingin bahagia dengan Jin. hanya itu.
tidak ada yang mau berkenan membantu agar kebahagiaannya terwujud. Apa sekarang
Jungkook harus tetap menutupi perasaannya yang masih mengharapkan Jin kembali
padanya? Disaat Jin tidak mengingat Jimin, apakah itu kesalahannya? Jungkook
ingin menangis. Menghadapi pertanyaan yang Jin lontarkan tentang namja bernama
Jimin membuat hatinya rapuh. Kini namja yang memiliki senyum kelinci itu tidak
memiliki siapa-siapa yang dapat menemani dirinya cerita.
Suara
langkah kaki mengharuskan Jungkook menghapus air matanya, sebaiknya dirinya
mencuci muka agar tidak terlihat bersedih saat bertemu dengan Jin nanti. “kau
membutuhkan ini mungkin?” seorang namja menyerahkan sapu tangannya pada
Jungkook yang berniat pergi dari posisinya. Jungkook mendapatkan perhatian
seorang namja yang sebelumnya bersama Jimin membuat tingkahnya menjadi
gelagapan. “gunakan ini untuk menghapus air matamu” terang Hongbin yang
langsung mengambil salah satu tangan Jungkook untuk meraih sapu tangan
pemberiannya. setelah memberikan sapu tangan miliknya, Hongbin pergi
melanjutkan perjalanannya untuk menunggu lift diujung lorong. Jungkook menatap
sapu tangan yang diberikan namja yang tidak dikenalinya. Dia begitu baik dan
ramah. Itulah yang dipikirkan Jungkook tentang pertemuan pertamanya dengan
Hongbin.
----------------------
Jimin
menikmati udara segar lewat jendela kamar rawatnya. Bagaikan surga meniupi
seluruh tubuhnya menyejukan sekali. Air yang tadinya menghujani seluruh taman
rumah sakit setiap menitnya berkurang tetes demi tetes. Jimin memikirkan
ingatannya tentang mimpi yang menghantui dirinya terus-menerus. “Kim Taehyung”
Jimin merentangkan kedua tangannya menangkap beberapa tetes air hujan yang
mencoba jatuh kepermukaan. Suatu hari nanti pasti dirinya akan bisa mengingat
semuanya, walaupun sangat sulit jika berusaha sendirian. Tapi Jimin percaya
namja bernama Taehyung akan selalu menemani dalam mimpinya. Jimin memperluas
penglihatannya pada area parkiran yang cukup dekat dengan taman belakang rumah
sakit. terdapat 2 namja yang pergi kesalah satu mobil yang diparkir disana.
Namja ber-rambut hijau yang sangat Jimin kenali pernah ditemuinya beberapa
kali, di rumah sakit busan, saat di sekolah Luhan, ketika menghentikan
perjalanannya dengan Hongbin. Lalu sekarang dirumah sakit ini Jimin kembali
melihatnya.
Saat
mereka berniat memasuki mobilnya, Jimin mendapatkan penglihatan tentang namja
yang selalu berada dimimpinya. Ini bukanlah mimpi yang sering Jimin rasakan,
ini adalah kenyataannya. “Kim..Kim Taehyung?” Jimin berniat melompat untuk
segera menemui Taehyung sebelum mobil yang membawanya pergi keluar rumah sakit.
Ingin sekali berteriak untuk menghentikan kepergian Taehyung, tetapi suara pintu kamarnya yang terbuka
menghentikan keinginannya.
“Chimchim
sedang apa kau diluar? Udara dingin tidak baik untuk kondisimu” Hongbin yang
baru datang langsung menghampiri Jimin yang berada di luar jendela rumah sakit.
ini adalah jendela yang besar dan hanya ruangan khusus lah yang memilikinya
agar pasien VIP bisa menikmati udara segar dengan ruangan khusus disisi
kamarnya. Jimin tidak ingin Hongbin mengetahui tentang Taehyung, dan Jimin
tidak mau lagi dihalangi untuk mengingat ingatannya.
“aku..
aku hanya ingin menyentuh air hujan, lihat?” gugupnya dengan menunjukan kedua
tangannya yang basah terkena air hujan.
“kau
kedinginan hingga membuatmu gugup seperti itu, masuklah. Aku akan menyalahkan
penghangat”
“nde”
Jimin melirik sekedar melihat mobil yang membawa Taehyung telah menghilang,
tidak terlihat lagi. Namja manis itu yang terus menerus menatap kebelakang
tidak mengetahui jika salah satu jendela kamarnya tidak terbuka sempurna.
Mengakibatkan dirinya harus menabrak salah satu bagian jendelanya. “Appooo!”
rintihannya terdengar Hongbin yang baru menyadari kebodohan kekasihnya itu yang
tidak hati-hati.
“kau ini melihat kemana sih Chimchim sampai menabrak jendela
seperti ini?” Hongbin yang khawatir mengusap-ngusap kening Jimin yang memerah
sempurna. Jimin terdiam dan kilatan terlintas. Ingatan bahwa moment ini pernah
dirinya miliki dimasalalu.
In memory
“yaak gwenchana yo?
Aish Pabo kau ini, tiang setinggi ini kenapa kau tabrak begitu saja?” tangan
seseorang menarik wajah mungilnya dan mengelus kening yang sebelumnya terkena
benturan dari sebuah tiang. Namja itu terus mengusap keningnya yang memerah.
“yang lebih penting
hal apa yang kau lamunkan hingga bisa menabrak tiang yang tidak bersalah itu?”
Emosi Jimin mulai merasuki dirinya, kepalanya terasa sakit
tapi nasehat yang Kim Himchan berikan tidak dilupakannya. Jimin mencoba menarik
nafas dan mengeluarkan secara perlahan dan berkali-kali dirinya melakukan hal
yang sama. hongbin merasa aneh dengan aktivitas yang tidak biasa Jimin lakukan.
“Chimchim? Gwenchana?”
“nde..Gwenchanayo” Jimin tersenyum singkat pada Hongbin.
Nasehat yang diberikan Kim Himchan benar-benar ampuh untuknya. Dan Jimin sangat
fresh setelah mengikuti arahan yang Himchan beri tahu. Merasa tidak sakit lagi,
Jimin beranjak dari posisi jongkoknya “Eomma ku dimana Hongbin-sshi?” tanya
Jimin.
“Eommamu kan sedang berada dikantornya”
“aku merindukan Luhan, Hongbin-sshi. Apa kau tidak bisa
mengajaknya kesini? Atau setidaknya aku keluar rumah sakit secepatnya”
“Jika kau menginginkan aku mengajak Luhan kesini akan aku
lakukan, tapi untuk keluar rumah sakit? sepertinya aku tidak bisa karena dokter
belum dapat mengizinkannya”
“kapan kau mengajak Luhan kesini?”
“besok jika kau mau akan aku lakukan, membawa penjahat kecil
itu mengunjungimu disini” wajah ceria Jimin terpancar saat Hongbin mengatakan
akan mengajak Luhan menjenguknya. “selain itu, apa kau sudah memakan makan
siangmu?”
“aniyo.. makan siangku masih utuh disana” tunjuk Jimin pada
makanan yang tidak disentuhnya sama sekali. “aku merasa sudah tidak sakit jadi
aku ingin kau mentraktirku di restoran bawah, bagaimana?”
Hongbin tertawa kecil saat Jimin manja padanya, “tentu saja
aku akan mentraktirmu” Jimin semakin kegirangan dan berlari dengan menggandeng
Hongbin keluar kamarnya. Mengajak kekasihnya itu untuk makan siang bersama di restoran
rumah sakit. Jimin dan Hongbin menunggu lift untuk mengantarnya kelantai dasar.
Dan saat lift itu terbuka dilantainya, sosok Jungkook yang sedang memainkan
ponselnya berada disana. Jimin dan Hongbin bersamaan tersentak. Jungkook yang
menyadari pintu lift terbuka menatap 2 namja yang dikenalinya sedang
memperhatikannya.
“kau namja kopi?” suara Jimin mengalihkan perhatian Hongbin
yang tadinya tertuju pada Jungkook.
Jungkook tidak membalas dan memilih pergi meninggalkan lift
yang akan dimasuki Jimin dan Hongbin. “ada apa dengan namja itu?” tanya Jimin
pada Hongbin yang ikut memandangi kepergian Jungkook dari belakang.
“entahlah, ayo kita masuk Chimchim” Hongbin mengajak Jimin
masuk kedalam lift dan Jimin mematuhinya tanpa memikirkan apapun tentang namja
yang baru saja ditemuinya.
----------------------
Jungkook yang menyendiri diruang tunggu,
takut jika harus kembali keruangan Jin tanpa ada ide yang dapat dilontarkan
pada pertanyaan Jin nantinya. Ini semua kesalahan Yoongi yang terus saja
menyudutkan posisinya. “apa yang harus aku katakan pada Jin-sshi nanti”
Jungkook mengacak rambutnya yang rapih menjadi tak beraturan.
“kau terlihat sedih hari ini? apa ada yang terjadi?”
Jungkook menoleh saat mendengar suara Ho Seok yang begitu dekat menghampirinya.
Namja yang telah disakitinya sekarang bertanya tentang keadaannya. Jungkook
benci pada Ho Seok yang selalu saja mencoba ikut campur setiap dirinya memiliki
masalah. Namja cantik itu menyentuh salah satu telinganya, dan bangun dari
kursi yang didudukinya. “kau mau kemana?” tanya Ho Seok mencegah kepergiaan
Jungkook.
“jangan ikut campur. Hubungan kita sudah berakhir, aku ingin
kembali kemasa dimana aku bersama Jin-sshi bukan dirimu. Lagipula sedang apa
kau disini. Seharusnya kau dirumah bekerja dengan hal-abeoji?”
“aku tidak pernah mengatakan akan ikut campur sebagai Jung
Ho Seok, aku kesini sebagai pelayanmu” suaranya terdengar sangat menyedihkan,
dan itu bisa dirasakan Jungkook ketika mendengarnya. Sifat Ego Jungkook
berusaha untuk tidak memperdulikan kebaikan hati Ho Seok yang begitu tulus
mencintainya. “dan alasanku berada disini atas permintaan Hal-abeoji untuk
memeriksa keadaanmu. Karena akhir-akhir ini hal-abeoji sulit untuk
menghubungimu. Ternyata firasat seorang hal-abeoji pada cucu kesayangan
sepertimu, benar adanya”
“apa maksudmu?”
“aku fikir semua baik-baik saja. ternyata kau malah melamun
didepan kamar Jin sendirian seperti ini” Jung Ho Seok duduk dikursi tunggu.
Menarik tangan Jungkook untuk kembali duduk ditempat tadi dirinya beristirahat.
Jung Ho Seok menatap wajah Jungkook yang berbinar-binar seperti menahan
tangisannya, tangan Jung Ho Seok berdiam dikepala Jungkook. Mengusap-usap
layaknya kakak beradik yang saling menyayangi satu dengan yang lain. “kau bisa
cerita padaku agar semua perasaanmu dapat tenang”
Air mata Jungkook disembunyikannya. Bukan Jung Ho Seok jika
tidak memahami seorang Jungkook yang begitu ceria dan antusias dalam memenuhi
semua keinginannya. Ingin rasanya Ho Seok memeluk tubuh Jungkook seperti dulu.
Dimana tubuh itu pernah terbenam di dalam pelukannya. Jung Ho Seok mengangkat
wajah Jungkook agar dapat melihat sedalam apa kesedihannya. Wajah memerah, air
mata yang deras mengalir, sesenggukan yang terdengar di telinga Ho Seok seakan
menyayat hatinya. –kenapa kau begitu
mencintainya Jungkook-ah, Kenapa? Gumamnya pada hati kecilnya yang tidak
terima.
“WAEE???! APA SALAHKU
JIKA JIN-SSHI TIDAK MENGINGAT JIMIN-SSHI?! APA SALAHKU JIKA AKU MENGINGINKAN
HAL YANG MENJADI HAKKU?!! APA SALAHKU JIKA INGIN MEMPERBAIKI KESALAHANKU PADA
JIN-SSHI DISAAT SEPERTII INI!!?AKUU..AKUU! SEJAK AWAL KEKASIH JIN-SSHI ADALAH AKU!
BUKAN JIMIN-SSHI. DAN JIMIN-SSHI MEREBUT SEMUANYA. KENAPA SEMUA MALAH MEMBELA
HUBUNGAN MEREKA!!? CINTA SEJATI JIN-SSHI ITU AKU BUKAN JIMIN-SSHI!! SEANDAINYA
SAJA AKU TIDAK MELAKUKAN KESALAHANKU!! JIMIN-SSHI TIDAK AKAN MUNGKIN BERTEMU
DENGAN JIN-SSHI”
“tenangkan dirimu Jungkook-ah—”
“aku hanya menginginkan keadilanku.. kenapa semua tidak ada
yang menentang HUBUNGAN MEREKA!? Dan kenapa harus aku yang diperlakukan seperti
ini..WAEEE??!” Jungkook memeluk Ho Seok secara reflek. Hatinya terluka dan
hanya Ho Seok yang mau mendengarkan semua keluh kesah isi hatinya. Jungkook
menangis sejadi-jadinya dengan genggaman yang erat mengakibatkan pakaian yang
dikenakan Ho Seok basah dan kusut. Tapi dengan senang hati perlakuan apapun
akan Jung ho Seok terima apabila itu semua membantu Jungkook yang begitu
dicintainya. Air mata Jungkook tidak pantas untuk keluar hanya karena masalah
kecil ini. Air mata yang menggantung dikedua mata cantik Jungkook dihapus Jung
Ho Seok dengan tangannya.
“aku hanya menginginkan Jin-sshi, apa itu salah Ho
Seok-sshi? Seandainya saja...saat itu...”
“hentikan Jungkook-ah, kenapa kau jadi pengecut seperti ini?
sebelumnya kau yakin akan keputusanmu menggantikan posisi Jimin bukan? Lalu
kenapa sekarang kau seperti tidak percaya diri?” Jung Ho Seok menggoyangkan
kedua bahu Jungkook yang putus asa agar menyadarkan namja cantik itu akan
sikapnya yang sebenarnya. “ini bukan Jungkook-ah yang aku kenali, kau adalah
namja yang sangat kuat, cantik, dan sangat manis. dan kenapa kau jadi cengeng
seperti ini? kau jadi terlihat sangat jelek dimataku”
“nde?” heran Jungkook.
“ceritakan saja pada Jin hal yang sebenarnya terjadi tentang
keberadaan Jimin yang telah merebut perhatiannya darimu. Kau bisa mengatakan
apa yang ingin kau katakan bukan? Karena sejatinya sekarang Jin sama sekali
tidak mengenali siapapun kecuali dirimu dan Rapmon yang dipercayai”
“tapi dia akan membenciku jika aku menceritakan bahwa dulu
aku pernah meninggalkannya”
“katakan padanya” Jung Ho Seok menggantungkan kalimatnya,
“katakan apa?”
“katakan jika kau melakukan itu hanya karena tidak ingin
membuat dirinya khawatir akan penyakitmu yang saat itu tengah kronis. Aku yakin
hati Jin akan terbuka untuk dapat mencintaimu lagi seperti sedia kala”
“apakah itu akan berhasil?”
“kau tidak percaya padaku? Walaupun aku adalah mantanmu tapi
sekarang aku menasehatimu sebagai seorang pelayanmu. Bukan sebagai Jung Ho Seok
yang pernah menjalin hubungan dengan—”
Jungkook tiba-tiba saja berdiri, dengan menatap tajam pada
arah belakang tubuh Jung Ho Seok. Pandangan Jungkook diikuti Ho Seok yang shock
akan kehadiran Jimin sedang bersama seorang namja asing. Ho Seok masih ingat
jika namja itu yang membawa Jimin saat tidak sadarkan diri beberapa hari lalu.
Apa Yoongi sudah membaca pesannya? Jung Ho Seok sekarang bingung harus berbuat
apa. Jungkook berjalan mendekati keberadaan Jimin yang sedang menunggu lift
bersama Hongbin. Leraian yang Ho Seok lakukan pada Jungkook agar tidak
menghampiri Jimin di tepis secara kasar. Matanya yang tajam tidak terlihat
kesedihan dari beberapa menit lalu Ho Seok dapat rasakan. Seketika sosok
lembutnya menghilang saat perasaan dendam merasuki Jungkook.
Jimin dan Hongbin tertawa dengan masing-masing Es krim yang
sedang asik mereka jilati. Mereka tidak
menyadari akan kedatangan Jungkook yang sedang marah karena mereka tidak
memperdulikan sekelilingnya. Dan doronganpun diberikan pada tubuh Jimin hingga
Es krim yang sedang dinikmatinya terjatuh kelantai. Hongbin menangkap tubuh
Jimin yang ikutan tidak seimbang dengan dorongan yang diterimanya tiba-tiba.
“apa yang kau lakukan?” tanya Hongbin mengingat namja yang telah dirinya bantu
menghapus air matanya berbuat jahat pada kekasihnya. Jungkook fokus pada Jimin
dan tidak membalas pertanyaan yang diajukan Hongbin. Dan dengan tatapan
membunuh Jungkook menunjuk wajah Jimin secara tidak sopan.
“KAU?!” teriak Jungkook.
Jimin membulatkan kedua bola matanya tidak mengerti dengan
perlakuan yang diterimanya. Dengan menebak-nebak sepertinya Jungkook masih
marah dengan Kopi yang tidak sengaja Jimin tumpahkan pada pakaiannya.
“kau..masih marah.. dengan kopi waktu itu ya?” polos Jimin bertanya, “aku
sungguh-sungguh tidak sengaja soal kemarin. Maafkan aku ya”
“AKU AKAN MENGAMBIL SEMUA NYA DARIMU..” Jimin menoleh kearah Hongbin sejenak, dan kembali fokus pada Jungkook yang sepertinya
sangat marah pada dirinya “DAN AKU AKAN MENGAMBIL SEMUA YANG SEHARUSNYA MENJADI
HAKKU! AKU TIDAK PERDULI DENGAN SEMUA OMONGAN ORANG YANG MENDUKUNG HUBUNGANMU
DENGAN JIN-SSHI.. TAPI AKU DISINI TIDAK AKAN MENGEMBALIKAN JIN-SSHI PADAMU!!”
Hongbin tercengang mengetahui namja yang dibantunya adalah
kenalan Jimin dimasa lalunya. “apa yang kau bicarakan Seulki!” tidak terima
Hongbin membalas dorongan yang Jungkook berikan pada Jimin. Jung Ho Seok tidak
tinggal diam dan melindungi Jungkook dari dorongan yang Hongbin akan lakukan.
“jangan menyentuhnya.. atau kau akan menerima akibatnya”
geram Ho Seok marah saat Hongbin berniat tidak baik pada mantan kekasihnya
Jungkook. sesekali Ho Seok melirik Jimin yang sepertinya bingung dengan apa
yang dikatakan Jungkook padanya. “Jimin?” panggil Ho Seok pada namja manis yang
langsung menoleh kearahnya.
“AKU AKAN MENGAMBIL SEMUANYA YANG MENJADI HAKKU, PARK JIMIN”
Jungkook menekankan kalimatnya.
“apa yang kalian bicarakan” suara Jimin pelan terdengar,
“kalian itu siapa? Tiba-tiba saja mendorong dan meneriaki ku hal yang tidak aku
mengerti sama sekali. Apa yang kalian bicarakan?”
Senyuman kelinci Jungkook terpancar sinis, “sudah seharusnya
seperti ini. kau tidak perlu mengenal masa lalumu jika kau memang tidak
mengingatnya. Karena sejujurnya aku sangat membencimu! Kau merebut semua yang
seharusnya aku miliki” wajah lembut Jungkook kembali Jung Ho Seok rasakan saat
mengatakan hatinya yang tersakiti. Tidak banyak bicara lagi Jungkook meninggalkan
Jimin dan Hongbin diikuti Ho Seok dibelakangnya.
Hongbin memeluk Jimin yang kebingungan saat mendapatkan
pernyataan tidak menyenangkan dari mulut sinis namja yang tidak mereka kenali.
Tangan besar Hongbin menangkap wajah mungil Jimin memastikan tidak ada omongan
yang tersimpan dalam ingatan kekasihnya. “jangan dengarkan namja yang tidak
kita kenali itu, dia hanya emosi. Aku yakin namja itu salah orang dan mengira
kau itu temannya. kau mengerti?”
“Chimchim?”
“Chimchim?”
“Chimchim?”
Panggilan yang Hongbin berikan berulang kali tidak
mendapatkan respon apapun dari Jimin. ucapan Jungkook tidak bisa dikeluarkan
dari dalam kepala Jimin.
“AKU AKAN MENGAMBIL SEMUA NYA DARIMU.. DAN AKU
AKAN MENGAMBIL SEMUA YANG SEHARUSNYA MENJADI HAKKU! AKU TIDAK PERDULI DENGAN
SEMUA OMONGAN ORANG YANG MENDUKUNG HUBUNGANMU DENGAN JIN-SSHI.. TAPI AKU DISINI
TIDAK AKAN MENGEMBALIKAN JIN-SSHI PADAMU!!”
“AKU AKAN MENGAMBIL
SEMUANYA YANG MENJADI HAKKU, PARK JIMIN” Jungkook menekankan kalimatnya.
Senyuman kelinci
Jungkook terpancar sinis, “sudah seharusnya seperti ini. kau tidak perlu
mengenal masa lalumu jika kau memang tidak mengingatnya. Karena sejujurnya aku
sangat membencimu! Kau merebut semua yang seharusnya aku miliki”
“CHIMCHIM!”
bentak Hongbin dan berhasil mengembalikan kesadaran Jimin dari dunia khayalnya.
Jimin memandangi wajah Hongbin yang begitu dekat dengan wajahnya. Tidak
memberikan jarak pada nafas mereka yang bercampur menjadi satu. “kau memikirkan
apa? katakan padaku?!” Hongbin mencari tahu pada tatapan Jimin yang terlihat
kosong.
“aku..”
“JANGAN BERBOHONG PADAKU CHIMCHIM...katakan, KATAKAN APA
YANG KAU FIKIRKAN!”
Jimin memberikan ekspresi takut pada Hongbin yang
mengeluarkan nada tinggi saat bicara dengannya. untuk pertama kalinya Jimin
menerima perlakuan itu dari Hongbin yang selalu memberikan sisi lembut padanya.
Seperti sebuah tamparan dari tangan Hongbin yang menapar hatinya. Merasakan
ekspresi takut dari Jimin kekasihnya, Hongbin memeluk Jimin untuk menghilangkan
rasa takut itu. Ugh, bukan ini yang diinginkan Hongbin. Rasa takut sudah
berhasil Jimin dapatkan saat memandangnya. Hongbin sangat tidak menginginkan
itu terjadi. “mianhe..jinjya mianheyo” pelukan itu semakin erat Jimin rasakan.
Hangat dan Dingin menjadi satu. Suhu tubuhnya terasa hangat namun hatinya
terasa dingin. Jimin menenggelamkan wajahnya pada tubuh Hongbin yang mencoba
memberikan ketenangan akan pikirannya yang tidak berhenti berfikir hal yang tak
pasti. Sangat lelah. Jimin benar-benar sangat lelah harus memikirkan hal yang
begitu membingungkan dirinya.
“Hongbin-sshi, aku lelah. Bisa antarkan aku kekamarku?”
“nde” Hongbin menekan tombol lift, dan tidak lama pintu lift
terbuka setelah berbunyi ‘ting’ didepannya. Penuh kejetuhan lagi hari ini
menghancurkan semua rencana yang Hongbin atur cukup rapih. Jin menggunakan
kursi rodanya berada didalam lift yang akan dimasuki Hongbin dan Jimin. hongbin
sangat mengingat wajah namja yang duduk dikursi roda itu adalah wajah namja
yang berfoto mesra dengan Jimin. foto yang telah hangus terbakar oleh ulahnya.
apakah namja ini yang bernama Kim Seok Jin? Hongbin menggigit kecil bibirnya
dan kepala Jimin sedikit melihat namja yang berada didalam Lift. Namja yang
pernah Jimin temui dilorong yang sama saat akan menuruni lift rumah sakit.
“Hongbin-sshi? Ada apa?” Jimin mendapati sosok Hongbin yang terkejut gelisah.
Tidak mau mengambil resiko ingatan Jimin kembali, pandangan
Jimin ditutupi Hongbin dengan tubuh besarnya.
“apa kalian akan masuk? Aku sedang terburu-buru” tanya Jin
yang sedari tadi menunggu didalam lift.
“kami tidak jadi masuk” kata Hongbin dan Lift itupun
tertutup untuk melanjutkan perjalanannya kelantai atas. Jimin melepaskan
pelukan Hongbin yang membuatnya kehabisan nafas, “apa yang kau lakukan
Hongbin-sshi? Aku tidak bisa bernafas dengan baik, kau tau?”
“maafkan aku. Tapi biarkan aku memelukmu seperti ini
beberapa menit. Aku tidak mau kehilanganmu Chimchim”
“aku tidak akan meninggalkanmu, percayalah. Jadi lepaskan
aku. Aku sulit bernafas Hongbin-sshi”
Mereka berpelukan ditengah-tengah keramaian rumah sakit
disore hari. Hongbin tidak perduli akan apapun. Hanya Jimin yang dirinya
inginkan. Tidak berharap yang lain. Hanya berharap hubungannya dengan Jimin
lancar tanpa ada masa lalu yang mengusik kebahagiaannya dengan Jimin.
----------------------
Taehyung menyentuh dadanya yang tidak merasakan apa-apa
lagi. Sampai kapan dirinya akan hidup seperti ini. tanpa adanya Jimin membuat
dirinya tidak memiliki tujuan hidup. Taehyung sangat jelas mendengarkan setiap
keinginan Eomma Jimin yang tidak menginginkan dirinya menemui dongsaeng
angkatnya itu lagi. Tapi perasaan Taehyung tidak dapat tenang sebelum bertemu
dengan Jiminnya.
“rasanya seperti mayat hidup tanpa adanya dirimu Park Jimin”
jelas Taehyung terdengar Yoongi yang baru saja keluar dari kediamannya.
Taehyung tersenyum pada Yoongi, dan Yoongi membalas senyuman itu.
Taehyung bertanya, “apa Minseok-ah sudah tidur?”
“Aniyo.. dia sedang bermain dengan Rapmon didalam” Yoongi
menerangkan. Malam yang dingin mengharuskan Yoongi menutupi tubuhnya penuh
dengan selimut berlapis. “Taehyung-ah apakah tidak sebaiknya kau menemui Jimin
di rumah orang tua kandungnya? Aku rasa kau tidak cukup tenang hanya sekedar
bertemu dengan Eommanya Jimin kemarin. Apakah kau tidak memiliki keinginan
untuk bertemu dengan Jimin?”
“aku bukan siapa-siapa Jimin, jadi keinginan ku sama sekali
tidak berarti untuknya”
“kenapa kau berkata seperti itu Taehyung-ah. Apakah
persaudaraan kalian hanya sebatas ini? aku yakin jika Jimin tau hyungnya
menyerahkan dirinya begitu saja pada orang tua kandungnya. Jimin akan marah dan
memukulmu dengan sangat keras!”
Taehyung tertawa kecil saat mengetahui pikirannya sama
dengan yang Yoongi ucapkan, “aku hanya ingin Jimin baik-baik saja. dan soal dia
akan memukulku, aku juga berfikiran hal yang sama denganmu”
Yoongi memiringkan kepalanya, dan menggosokan tubuhnya yang
terkena udara dingin.
Taehyung melanjutkan kata-katanya, “jimin tidak mengingatku
itu lebih baik. Karena aku pernah bertanya pada jimin dulu tentang orang tua
kandungnya. Dia mengatakan tidak akan pernah mau menemui Eommanya yang tega
meninggalkan dirinya dipanti asuhan. Jimin sangat membenci yeoja itu. dan kini
yeoja itu ingin memperbaiki kesalahannya pada Jimin yang hilang ingatannya.
Apakah aku dapat melakukan hal yang begitu jahat dengan mengembalikan ingatan
kebencian Jimin pada Eomma kandungnya?”
“aku tidak yakin kau bicara seperti itu sesuai keinginan
hatimu”
“hatiku tidak penting Min Yoongi, tapi hati Jimin lebih
penting dari apapun”
“kalau begitu berhenti terus membantu Eommanya dengan
kebohongan yang kau lakukan?! Sadarkan Jimin untuk dapat mengingatmu
Taehyung-ah.”
Hembusan angin meniupi setiap tubuh kedua namja yang sedang
berbincang di taman belakang kediaman Yoongi. Harus ada yang dapat menyadarkan
Taehyung bahwa hatinya tidak menginginkan dirinya menyerah begitu saja.
Taehyung berdiri, dan izin untuk masuk kekamarnya untuk beristirahat lebih
awal. Yoongi menganggukan kepalanya. Mengizinkan sahabatnya itu untuk
beristirahat. Sangat berat cobaan yang dialami seorang Kim Taehyung. kehilangan
orang tua kandungnya dari kecil lalu sekarang harus kehilangan dongsaeng
angkatnya. “menyedihkan sekali hidupmu Kim Taehyung” Yoongi berdengus dengan
sikap Taehyung yang tidak mau mendengarkan perkataannya.
Rapmon yang diam dilantai atas kamar Minseok, mendengar
semua pembicaraan Yoongi dengan Taehyung lewat jendela kamar namja kecil yang
dirinya temani tidur. Hal yang tidak Rapmon mengerti mengapa hanya dirinya yang
tidak tau akan keberadaan Jimin dirumah orang tua kandungnya. Apakah Yoongi dan
Taehyung sengaja menyembunyikan ini semua darinya? Tapi dengan alasan apa?
apakah Rapmon tidak dibutuhkan dalam pencariannya selama ini sebenarnya. Rapmon
memperhatikan kekasihnya itu telah masuk kekediamannya menyusul Taehyung yang
lebih dulu masuk. Dengan pikirannya yang sehat, Rapmon harus dapat berfikir
secara normal tentang Yoongi kekasihnya dan Taehyung sahabatnya.
To be continue...
Walaupun kondisi tidak stabil, Author akan terus menghidupkan blog ini. agar tidak membuat Rider yang setia membaca menunggu lama. mohon doa untuk kesehatan Author yang kini sedang kurang stabil untuk mengontrol emosinya:) *aegyo brg Jimin*


Comments
Post a Comment