VMIN Feat. JIN // JINMIN // GIVEMEONEDAY
Lagu yang mendukung terbentuknya Fanfic ONESHOOT ini The Little Prince - Ryeowook !
Main Cast
Main Cast
- PARK JIMIN
- KIM TAEHYUNG
- KIM SEOK JIN
“aku
menyukaimu Park Jimin, apa kau mau menjadi pendampingku saat besar nanti” Tanya
Taehyung. Ditemani Jin hyungnya, Taehyung melamar Jimin yang masih berusia 5
tahun. Mereka sama-sama lahir ditahun yang sama. Pertemuan yang ditakdirkan
sebagai lingkup cinta segi tiga memenuhi takdir mereka. Disamping Taehyung
menyukai Jimin, Jimin sendiri menyukai Jin dan sebaliknya. Tetapi perasaan Taehyung
telah Jin ketahui sejak kecil. Saat mereka dewasa Jin tidak berani mengutarakan
perasaan pada Jimin yang sudah dilamar Taehyung lebih dulu. Masa kecil mereka
sangat bahagia. Saling bercanda satu dengan yang lain tanpa memikirkan perasaan
yang terjalin dengan rasa suka. Dan semua hancur ketika Taehyung mengetahui
bahwa Jin juga memiliki hati pada Jimin.
[ 15
tahun kemudian ]
Taehyung
pergi kerumah Jimin yang bersebelahan dengan rumahnya. Eomma Jimin, Park Sojin
yang sudah mengenal Taehyung tentu saja mempersilahkan namja genit itu memasuki
kamar Jimin yang berada dilantai 2. Selimut yang dikenakan Jimin tidak
beraturan menimbulkan sedikit kulit tubuhnya terlihat dalam pandangan Taehyung.
wajah Taehyung sekejap memerah mengingat tubuh itu begitu putih dan mulus. Mencoba
menutupi pandangannya Taehyung mendekati Jimin yang sedang tertidur. “yak! Park
Jimin! bangun dan segeralah bersiap untuk kesekolah” perintah Taehyung, masih
menjaga nafsunya untuk tidak menyentuh Jimin.
“sebentar
lagi.. berikan aku waktu sebentar lagi...”
Taehyung
melihat jam sudah semakin siang dan namja manis yang disukainya masih saja
tidak mau untuk bangun, dengan terpaksa Taehyung menggelitiki Jimin agar mau
membuka kedua matanya. Jimin yang tidurnya terusik berteriak dihadapan
Taehyung, “yak! Seulki apa yang kau lakukan!”
“salahmu
sendiri tidak mau mendengarkanku! Kau tidak lihat jam sudah menunjukan pintu
gerbang sekolah kita akan segera tertutup?! Aish! Kenapa wajah manismu tidak
mendukung dengan sikapmu yang manis juga!!”
“yak
Seulki! Kau minta dihajar mengatakan wajahku manis!” Jimin menimpuki Taehyung
dengan bantal yang sebelumnya digunakan untuk menemani tidurnya. Mereka berkelahi
sama seperti saat masih kecil, Jin yang usianya terpaut 4 tahun lebih jauh dari
Jimin tentu saja akan sulit jika harus berdekatan dengan Jimin. Hanya bisa
mendengarkan keakraban mereka dari balik jendela kamar, Jin menutup kedua
telinganya. Sakit hati yang sudah Jin rasakan cukup lama menjadi makanan
sehari-hari dirinya setiap Taehyung akan membangunkan Jimin dirumahnya.
Park
Sojin menyiapkan sarapan untuk Jimin dan Taehyung yang sedang bersiap-siap,
kedatangan Taehyung sudah seperti anak sendiri dikeluarga Park. Entahlah, Jimin
merasa Taehyung bagaikan kembarannya yang selalu menemani dirinya kemanapun
akan pergi. Lebih tepatnya sebuah bayangan. Jimin mengambil sehelai roti dan
mengigitnya, menarik Taehyung agar tidak berlama-lama dirumahnya. “hey Jimin-ah
biarkan Taehyung memakan sarapannya!” teriak Eomma Jimin.
“kami
sudah terlambat Eomma. Annyeong!”
Taehyung
yang ditarik hanya bisa melambaikan tangannya pada Sojin yang khawatir akan
Jimin yang selalu terburu-buru disetiap paginya. “anak itu! tidak pernah
berubah” gumamnya dalam hati Sojin. Eomma Jimin yang memiliki kedai Roti,
membuka lambang Open pada kedainya. Mempersilahkan setiap pengunjung untuk
membeli setiap Roti buatannya. Sudah sangat terkenal kelezatan dari Roti
keluarga Park. Karena itu jika lambang Open sudah tergantung di pintu kedainya,
akan banyak pengunjung yang memasuki kedai kecil itu. termasuk Jin yang sebelum
bekerja pasti akan membeli Roti buatan Eomma Jimin untuk dinikmati dikantornya
saat bekerja. “kau akan bekerja sepagi ini Seok Jin” Tanya Sojin pada hyung
dari Taehyung.
“nde
bibi, aku pesan seperti biasa ya” Jin mengeluarkan beberapa lembar Won dan
menyerahkannya pada Sojin.
“biarkan
ini menjadi bonusmu ya, kau harus makan sarapanmu dibus nanti. Arraso” perintah
Sojin pada Jin. Keluarga Kim dan Park yang sudah sangat lama tinggal
bersebelahan tentu saja Sojin mengenal dekat Jin dan Taehyung yang sudah
menjadi teman kecil Jimin semasa kecil dulu. Kepindahan keluarga Park
memberikan respon baik pada keluarga Kim yang memang sudah lama meninggali
tempat tinggalnya. Jin beranjak dari kedai Roti Sojin lalu melanjutkan
perjalanannya untuk pergi bekerja. Tidak sengaja Jin bertemu dengan Jimin yang
ingin mengambil barangnya yang tertinggal, ditemani Taehyung dibelakangnya.
“Jin
hyung akan pergi bekerja? Apa tidak terlalu pagi jika bekerja sesuai dengan jam
anak sekolah?” Jimin mengeluarkan Aegyonya tidak sengaja, membuat Jin semakin
menyukai Jimin setiap kali bertemu dengannya makhluk manis dihadapannya.
“aku
tau ini terlalu pagi. tapi aku ingin menikmati udara segar Seoul makanya
berangkat jam segini”
“apa
itu Roti Eommaku? Sarapanlah yang banyak hyung. Aku harus pergi untuk mengambil
barangku yang tertinggal” Jimin tersenyum kecil, Taehyung hanya memberi hormat
lalu menarik Jimin untuk tidak bicara dengan Jin lebih lama. “yak! Kim Taehyung!
berilah hormat yang benar dengan hyungmu!” kepala Taehyung dipukulnya keras.
“Appo!”
ringis Taehyung.
“beri
hormatmu yang benar pada hyungmu sendiri!”
Dengan
terpaksa Taehyung memberikan hormat pada Jin, “Annyeong”. Hubungan Jin dan Taehyung
sudah tidak seperti dulu, semenjak Taehyung mengetahui perasaan Jin pada Jimin
yang sebenarnya. Pandangan Jin pada Jimin membuat semua jelas dalam perhatian
Taehyung yang selalu memperhatikan setiap gerak-gerik hyungnya itu. “kita harus
segera pergi, kau tidak ingin dihukum lagi kan?” tegas Taehyung mengingatkan.
“kalau
begitu aku harus pergi Jin hyung. Nanti kita bicara lagi ya” Jimin berlari,
Taehyung yang berniat mengejarnya terhenti langkahnya saat Jin memberikan
beberapa kalimat. “berhentilah seolah-olah aku sainganmu, aku tidak akan
mendekati Jimin dan menghormati perasaanmu. Bisakah kau menghormatiku sebagai
hyungmu”
“selama
perasaanmu masih kau miliki pada Jimin-ah, aku akan tetap seperti ini. keadaan
mungkin saja mendukungmu untuk menjadikan Jimin-ah milikmu”
“Jimin-ah
bukan milik siapa-siapa. Jika kau berlaku terus seperti ini padaku. Aku akan
memperlakukan mu benar-benar menjadi sainganku. Dan aku tidak akan segan-segan
merebut Jimin-ah darimu, tidak perduli kau dongsaengku atau saudaraku”
“Jimin-ah
akan memilihku. Aku pastikan itu” Taehyung melangkah pergi meninggalkan Jin
sendirian dengan perasaannya yang tidak menentu. Beberapa butiran salju
menyelimuti jaket tebal yang membalut Jin saat itu. Suhu dingin kota Seoul
tiba-tiba saja memuncak, air mata yang hendak mengalir membeku cepat. Hati tersakiti
rapuh bagaikan pahatan Es yang mudah untuk diukir. Seandainya Taehyung tidak
mengetahui perasaannya mungkin sekarang Jin tidak akan menjauhi Jimin dan bisa
bersama dengannya seperti dulu.
[ Kedai Roti Park ]
Jimin
mengambil beberapa buku yang tersalin tugas didalamnya, dengan sedikit nasehat
yang diberikan Eommanya. Jimin akhirnya bisa melanjutkan perjalanannya menuju
sekolahnya bersama Taehyung. “kecerobohanmu itu tidak pernah hilang ya Park
Jimin! seandainya kau tadi pagi tidak terburu-buru kita tidak akan kembali
seperti ini. melelahkan” sindir Taehyung yang merajuk sejak tidak diizinkan
sarapan dirumah Jimin.
“aku
tidak pernah memintamu untuk mengantarku! Jadi jika kau berkeluh seperti itu
aku tidak akan mendengarkan! Kau yang menginginkan ikut denganku kemanapun aku
pergi. Kau kan bisa diam dikelas saja tadi tanpa mengikuti—”
Tiiiiiinnnnnn......... Taehyung memeluk Jimin saat mobil
akan lewat. Berada dalam dekapan Taehyung membungkam setiap perkataan Jimin
yang tadinya akan siap keluar seperti bom aktif. “kau lihat! Jika kau kubiarkan
sendirian kecerobohanmu akan mencelakai dirimu! Apa kau tidak mengerti, aku ada
untuk melindungimu?”
“hentikan aku bukan seorang yeoja!”
“aku tidak mengatakan kau yeoja yang bisa kulindungi.. tapi
kecerobohanmu!”
“jika
aku tidak ceroboh kau akan berhenti mengikutiku?!! Aku sudah bosan diikuti
olehmu setiap harinya dan menitnya! Bisakah kau membiarkanku sendirian tanpa
dirimu! Aku bukan yeoja yang harus kau lindungi setiap melakukan kebodohan! Jadi
berhenti mengikutiku” Jimin berjalan cepat, dan membiarkan Taehyung terus
memanggil dirinya. Tidak memperdulikan setiap pasang mata yang memperhatikan
dirinya dikejar Taehyung. Jimin hanya menginginkan kesendirian saat ini. “aku
menyukaimu” suara Taehyung menghentikan langkah Jimin yang berada diujung lampu
merah penyebrangan. Jalanan yang sepi karena salju turun memberikan kesan
romantis pada salah satu namja yang sedang mabuk kasmaran. “aku menyukaimu Park
Jimin. itu alasaku mengapa ingin melindungimu dari kebodohanmu! Bukan karena
aku menganggapmu lemah dan mirip yeoja. tapi karena aku menyukaimu. Itu alasannya”
“Kim
Taehyung..”
“bisakah
kau datang ke taman Namsan malam ini? aku ingin kau menjawab perasaanku yang
sudah lama aku rasakan. Aku ingin...” suara mobil menghapus beberapa kata dari suara
Taehyung, “aku akan menjauh darimu mulai sekarang sampai kau menjawab
pernyataanku Park Jimin” Taehyung beranjak dari posisinya beberapa langkah.
“aku
tidak akan datang. aku menyukai orang lain, maka dari itu aku tidak akan datang
dan menjawab pertanyaanmu Kim Taehyung. jangan menungguku” ucapnya singkat dan
pergi meninggalkan Taehyung.
“aku
tetap akan berada disana untuk menunggu perubahan jawabanmu”
.
[
Malam hari ]
Jimin
berdiam didalam kamarnya, badai salju yang menutupi setiap bagian rumah
mengingatkan Jimin akan Taehyung yang memintanya datang ke taman Namsan. Bibirnya
dipoutkan singkat, dengan sesekali melirik kearah kamar Jin yang masih menyalah
lampu kamarnya. Dengan memeluk boneka pemberian Jin, Jimin menunggu keluarnya namja yang dirinya sukai dari
kamarnya. Tidak lama suara pintu jendela bergeser dan menampilkan wajah tampan
Jin disana. “Jimin-ah?” heran Jin atas keberadaannya yang masih berada dirumah.
“ah..
Nde.. kau belum tidur?” ragunya bertanya.
Jin terdiam,
“tunggu.. kau kenapa disini? Bukankah kau akan bertemu dengan Taehyung?”
“apa
namja bodoh itu mengatakan akan bertemu denganku diluar?!!”
“nde.
Taehyung sudah pergi 2 jam yang lalu. Aku fikir kau—” mendengar Taehyung sedang
menunggunya, Jimin segera berlari tanpa menyiapkan penghangat melekat
ditubuhnya. Sojin yang khawatir hanya bisa berteriak memanggil putranya yang
ceroboh. Jin mengambil syal yang disiapkan Sojin untuk Jimin. “bibi biar aku
yang bawakan” Kata Jin yang langsung mengejar Jimin.
Jimin
berlari dengan sangat kencang menuju taman Namsan, berharap Taehyung tidak
bodoh dengan menunggunya yang sudah mengatakan tidak akan datang. Sesampainya
di taman Namsan. Jimin mencari keberadaan Taehyung namun tidak dirinya temukan.
Jin yang baru saja sampai langsung memasangkan syal pada leher Jimin yang sudah
terasa dingin. “sebaiknya kita pulang, aku yakin Taehyung tidak akan menunggu
dan pergi kerumah temannya sekarang ini” Jimin mengatur nafasnya yang tercipta
embun disetiap hembusannya.
“Namja
bodoh itu.. membuatku khawatir saja!” Jimin yang akan pulang ditemani Jin,
mendengar suara keributan dijalan raya. Perasaan Jimin yang penasaran meminta
Jin untuk menengoknya sebentar agar dirinya pulang dengan tenang, selagi Jin
menengok keributan. Pandangan Jimin tidak sengaja menangkap sebuah balon yang
bertuliskan namanya tersangkut dipohon. “Park Jimin?”
“TAEEEHYUNG-AH!!”
suara Jin mengejutkan Jimin dari fokusnya pada sebuah balon. Air mata yang
Jimin ingin keluarkan tidak tau beralasan apa rasanya akan mengalir. Jimin
berlari mendekati keramaian dan menemukan Taehyung telah berlumuran darah
tertabrak truk besar yang tergelincir akibat jalanan licin. Jimin berlutut
dihadapan Taehyung yang mengeluarkan banyak darah “Tae..Taehyung-ah” Air mata
Jimin kini mengalir sempurna. Taehyung tersenyum saat merasakan kehadiran Jimin
disampingnya.
“kau..datang
Jimin..-ah” Jin memeluk tubuh dongsaengnya yang tidak henti-hentinya
mengeluarkan darah. Dengan sisa tenaganya Jin menggendong Taehyung untuk dapat
membawanya kerumah sakit, tapi Taehyung menolak. Tangan Taehyung menghapus air
mata Jimin yang mengalir dengan suhu dingin yang langsung membekukan setiap
tetesan air matanya. Taehyung tersenyum sekali lagi. Dan pergerakanpun tidak
dapat Jimin rasakan dari tubuh Taehyung lagi. “ANDWEEEEEE TAEHYUNG-AH!!!”
Balon
yang tersangkut bertuliskan bawalah
cintaku pergi entah kemana. Ingatan tentang Taehyung yang mengusilinya,
mengikutinya, membangunkannya terlintas dan terhapus oleh butiran salju yang
jatuh ketanah. “mianheyoo.. jeongmal mianhe! Aku datang terlambat... seandainya
aku tepat waktu.. kau tidak akan seperti ini TAEHYUNNGG-AH!!!”
Jin
memeluk Jimin untuk menghentikan tangisannya. Menghentikan air mata yang
mengalir deras tidak tertahankan atas kehilangan Taehyung.
Seluruh
keluarga, teman, dan orang-orang yang dekat dengan Taehyung datang untuk
mengucapkan keprihatinannya atas kepergian Kim Taehyung. Jimin mengurung
dirinya dikamar, berharap Taehyung kembali menerikai pintu kamarnya dan
membangunkan dirinya dari mimpi buruk ini. Jin mencoba mengetuk pintu kamar
Jimin, nihil untuk dibukakan. Sojin semakin khawatir karena semenjak membawa
Taehyung yang berlumuran darah pulang Jimin sama sekali tidak keluar dari
kamarnya. “Jimin-ah buka pintunya, kau jangan seperti ini”
Jimin
menutup dirinya rapat-rapat dengan kegelapan didalam kamarnya, dirinya tidak
akan pernah menyangka akan ditinggalkan Taehyung dengan cara seperti ini.
“bisakah kau datang ke taman Namsan
malam ini? aku ingin kau menjawab perasaanku yang sudah lama aku rasakan. Aku ingin...”
suara mobil menghapus beberapa kata dari suara Taehyung, “aku akan menjauh
darimu mulai sekarang sampai kau menjawab pernyataanku Park Jimin” Taehyung
beranjak dari posisinya beberapa langkah.
“aku
mohon kembali lah, Kim Taehyung aku mohon..” Jimin menenggelamkan wajahnya
diantara kedua lututnya. Namja yang dipanggilnya tidak kunjung datang, dan saat
Jin sudah kehabisan kesabaran akan pengurungan diri yang dilakukan Jimin. Dobrakan
dari luarpun terjadi, Jin langsung meraih wajah mungil Jimin yang bengap dengan
tangisan. “Kim Taehyung...” Air mata itu membanjiri pipinya lagi mengingat
wajah Jin yang mirip dengan Taehyung sebagai dongsaeng dari Jin. Jin memeluk
Jimin untuk masuk kedalam dekapannya. “ini semua...semuanya..semuanya salahku”
ucapnya membuat Jin semakin ingin memeluk Jimin dengan sangat erat.
“aku
mohon.. jangan seperti ini Jimin-ah.. aku mohon hentikan semua ini, Taehyung
tidak akan tenang jika namja yang dicintainya seperti ini” Jin ikut menangis
dalam diam, Sojin yang tidak kuat memandang tangisan putranya kehilangan
Taehyung memilih untuk membiarkan Jin yang menenangkannya.
“ini.semua..semuanya
salahku Jin hyung... bawa Taehyung kembali..aku mohon”
Waktu
terus berlalu, Jiminpun kelelahan dengan tangisan yang sepanjang hari dirinya
lakukan. Air mata sudah tidak dapat keluar dengan matanya yang memerah
sempurna, Jimin ketiduran hingga upacara pemakaman Taehyung selesai
dilaksanakan. Jin membawakan beberapa Roti untuk dimakan Jimin yang sudah sejak
kemarin tidak menyentuh atau mengisi perutnya dengan makanan. “Jimin-ah,
makanlah sedikit”
Jimin
hanya diam, dengan membuka setengah kedua matanya. “Kim Taehyung” suara itu
terdengar lirih.
“Taehyung
sudah dimakamkan. Kau harus makan untuk mengisi tenagamu, dari kemarin kau
tidak mau menyentuh makanan bibi bukan? Apa kau tidak kasihan melihat bibi
Sojin khawatir?”
“Kim
Taehyung” Jimin terus mengulangi nama Taehyung yang dirindukannya. “Kim
Taehyung” lagi dan lagi. Hanya nama Taehyung yang terucap dari bibir kecil
Jimin.
“jika aku tidak ceroboh kau akan
berhenti mengikutiku?!! Aku sudah bosan diikuti olehmu setiap harinya dan
menitnya! Bisakah kau membiarkanku sendirian tanpa dirimu! Aku bukan yeoja yang
harus kau lindungi setiap melakukan kebodohan! Jadi berhenti mengikutiku”
“Kim
Taehyung!!” Air mata Jimin mengalir lagi. Jin sudah tidak tahu harus melakukan
apa untuk membuat Jimin kembali ceria seperti saat bersama Taehyung. Memang
hanya Taehyung yang mengerti Jimin bukan dirinya. Jin menemani Jimin menangis
sampai namja manis itu bisa menghentikan tangisannya sendiri. Jin sudah tidak
mampu melakukan sesuatu yang biasa Taehyung lakukan untuk menghibur Jimin.
kehadiran Taehyung tidak akan mungkin bisa digantikan dirinya dalam hati Jimin.
Hujan salju semakin mendinginkan seisi ruangan kamar Jimin, Jin yang tidak
sengaja ketiduran dikamar Jimin merasakan ada seseorang sedang berada disamping
Jimin. tapi entah kenapa kedua mata Jin tidak bisa terbuka sempurna. Tubuh Jin
juga tidak dapat digerakan. Mencoba untuk terus memfokuskan pandangannya, Jin
menangkap bayangan Taehyung tengah memeluk Jimin dalam dekapannya. Suara Jin
tidak bisa dikeluarkan hanya sekedar menyebut nama dongsaengnya itu.
Sepertinya
Taehyung tidak tenang meninggalkan Jimin dalam keadaan yang seperti ini. dia
tersenyum, Taehyung tersenyum kearah Jin yang masih terdiam memperhatikan
perlakuannya atas Jimin. “jaga Jimin-ah hyung” suara Taehyung memberikan pesan
pada Jin.
Dan saat
itulah bayangan Taehyung menghilang dan Jin bisa menggerakan tubuhnya lagi. Bagaikan
waktu berhenti sejenak saat kehadiran Taehyung yang sudah meninggal. Jimin
memeluk selimut yang diberikan Taehyung padanya untuk menggantikan dekapannya. Jin
mengambil alih tubuh Jimin yang kedinginan. “hyung akan menjaga Jimin-ah
untukmu, Taehyung-ah”
- END
Selingan Fanfic ONESHOOT yang terinspirasi dari lagu The Little Prince - Ryeowook Super Junior. Vmin&Jinmin Lagi proses bikin MV nya Versi Author ^_^ ditunggu Yaa.. nanti akan ada Sequel berbarengan dengan MV buatan Author. Ini Fanfic maaf ya kalo kurang Jelas~


huksss... wae ? wae ? wae?!!! kenapa taetae mati huwee... kasihan jiminieku ... huweee .... ane gak rela thor huks ... jimin...
ReplyDeleteoke di tunggu videonya ya ... hwaiting...
Hay KhArmy,, kehadiran kamu lagi^_^ Senengnya Author !! Kelangsungan hidup yng kamu berikan sangat bermanfaat untuk Blog ini. Gomawo kehadiran&jejakmu ><
Delete