Xiuhan.Lumin Love is WAR Chapter 7
Sesuai keinginan dari pembaca yang ingin Love is War dilanjutkan... Chapter pun berlanjut. mohon maaf untuk rider yang masih sulit mempost komentarnya padahal Author sudah mengubah settingannya menjadi Everyone:) Mungkin nanti akan Author perbaiki lagi sistem blognya T^T Mianheyo Chingu-deul.
Episode Sebelumnya dalam Chapter 6.
“Luhaan-sshi! Kami tau kau disini!
Bisakah kita bicara tentang Kim Minseok” baekhyun berteriak-teriak memanggil
Luhan. tapi tida direspon Luhan sedikitpun. Namja itu masih terdiam ditempat
persembunyiannya dengan tenang. “apa yang kau lakukan? Berteriak seperti itu
tidak akan menghasilkan apa-apa. mungkin luhan sudah pergi dari sini” kyungsoo
mengikuti langkah baekhyun yang berputar-putar sambil meneriaki nama ‘Luhan’.
semua kerja keras baekhyun tidak memberikan hasil apa-apa sesuai dengan apa
yang diprediksi kyungsoo. Mungkin Luhan memang hanya ingin melindungi Minseok
dengan jarak jauh tanpa memberi tahu posisi dimana dirinya berada. Kyungsoo
menarik Baekhyun yang berisik untuk kembali turun dari atap Cafe. Setelah itu
Luhan pun keluar dari persembunyiannya dan kembali keposisi semula untuk
mengamati setiap aktivitas Kim Minseok.
Masih dalam keadaan terdiam memandangi awan yang hanya
dapat dilihat dari jendela gedung rumah sakit yang tinggi. Minseok melamun
membayangkan khayalannya menjadi kenyataan secepat mungkin walau itu mustahil.
Bertemu dengan luhan dalam keadaan yang berbeda, memiliki keluarga yang biasa
saja itu adalah hal yang mustahil dalam hidupnya. Mungkin ini jalan cerita yang
memang ditakdirkan untuk dirinya.
“kemana kau Luhan?” bisiknya pada diri sendiri, kali ini
minseok sendirian dikamar. Chanyeol pergi entah kemana meninggalkan namja manis
itu dengan kedua antek-antek nya yang masih setia menjaga didepan pintu
kamarnya. ini adalah hari pertama namja itu akan terapi tangan kanannya mungkin
chanyeol sedang mengontrol semuanya.
Saat Minseok akan pergi kekamar kecil beberapa suster
memasuki kamar rawat minseok dengan kursi roda. “permisi tuan, mari kami antar
anda keruang terapi khusus untuk anda. Silahkan” suster itu mempersilahkan
minseok untuk duduk dikursi roda yang telah mereka siapkan. Sebelum itu Minseok
meminta izin untuk meminta waktu kekamar kecil terlebih dulu.
-------------------
[ Ruang Terapi ]
Tepat dugaan. Chanyeol berada dalam ruangan terapi yang
dikhususkan untuk Minseok. Benar-benar dalam penjagaan sangat ketat untuk
seorang Kim Minseok. “berbaring lah kami akan mengecek bagian dalam saraf anda yang
terjepit tuan” perintah sang namja yang terlihat seperti profesor ahli
bertuliskan Zhang Yixing. Namja ini bukan berasal dari Korea entah darimana chanyeol
mendapatkan dokter ini. Setelah selesai dalam pemeriksaan dalam, Minseok diminta
untuk mengikuti setiap struktur-struktur terapi gunanya untuk melemaskan saraf
kaku yang terjepit.
Hari demi hari pertemuan Minseok dengan dokter Zhang Yixing
memberikan mereka ke akraban yang cukup membuat chanyeol panas melihatnya. Yixing
selalu tertawa setiap Minseok menceritakan seorang namja yang dirinya panggil
‘rusa menyebalkan’.
“dia itu selalu mengikuti ku kemanapun aku pergi haha
menyebalkan bukan?” tawa itu terlihat sangat indah, keindahan sejati dari namja
yang memiliki ayah seorang Mafioso. Yixing menikmati dengan antusias setiap
cerita yang Minseok ceritakan. Tak ada kata bosan melihat bibir itu berbicara
banyak.
“kau pasti sangat merindukan si rusa menyebalkanmu itu” pertanyaan
Yixing sontak membuat Minseok memandangnya “nde?” memberikan ekspresi untuk
meminta pengulangan argumen yang diputar sebelumnya. Yixin membereskan berkas
terapi Kim Minseok “kau tidak mendengarnya? Atau pura pura?”
“apa maksudmu aku merindukannya?” pipi merah terlihat jelas
ketika minseok mengutarakan kata rindu pada kalimatnya. “kau yakin kau tidak
merindukannya?” zhang Yixing sepertinya sedang menggoda namja manis yang berada
dihadapannya, sangat jelas rasa malu itu timbul dari kedua pipi chubbynya.
Mendengar pernyataan sang dok pribadinya Minseok hanya bisa memiringkan
kepalanya karena tidak mengerti dengan maksud sang dokter. Dirinya yakin
sekarang tidak merindukan Luhan. yixing menghentikan aktivitas nya yang
mondar-mandir membereskan berkas kesehatan Kim Minseok “kau tau Minseok, ketika
seseorang berbicara tentang sifat orang lain yang menyebalkan saat mereka sudah
tidak berada disampingnya. Itu menandakan kau sedang merindukan si rusa
menyebalkan itu” jelasnya. “kau tidak perlu malu untuk merindukan seseorang.
kau dulu sangat membencinya ketika dia pergi kau merindukannya dan saat kau
tidak mampu untuk mengutarakan rasa rindumu kau menceritakan sifat
menyebalkannya pada orang lain. Itu membuat hatimu sedikit tenang kan?” Zhang
Yixing menyentuh hidung kecil minseok lalu melanjutkan aktivitasnya kembali.
Minseok yang tidak bisa membela dirinya karena semua yang diucapkan sang dokter
benar adanya.
“apa kau seorang psikiater? Kau itu menebak cukup tepat”
bibir Minseok dipoutkan lucu seperti anak kecil yang sedang merajuk untuk
dibelikan permen. Yixing hanya tersenyum “jika benar, kau harus tetap bercerita
padaku. Jangan sungkan ya Kim Minseok”. beberapa analisis telah diterima dari
lab tentang penyempitan saraf di bagian tangan kanan Minseok. chanyeol yang
sudah diperbolehkan masuk setelah pemeriksaan selesai pun mendapatkan
penjelasan.
“terapi yang kami lakukan pada tuan muda Minseok sudah
selesai dalam jangka waktu 3 hari dia akan kembali normal, gambar ini memberi
tahu posisi saraf yang sudah lepas dari penyempitan sehingga otot lengannya
kembali seperti semula. Berikan resep obat dalam dan obat luar ini pada tuan Minseok”
“apa aku sudah boleh pulang dokter Yixing?” tanya Minseok
yang berada di belakang Park Chanyeol.
“apa kau sangat tidak betah dirumah
sakit?” balas zhang yixing.
Minseok hanya menggeleng kebingungan “aku tidak tau, aku
hanya bosan jika terus disini. Lagipula terapi sudah berakhir bukan?”.
“kau tau, kita harus memeriksa khasiat dari obat yang kau
minum selama 3 hari itu. Kau mengerti? Setelah itu masa-masa mu ditempat ini
akan berakhir” jelas sang dok Yixing. Chanyeol menangkap moment ketika sang
dokter mengelus rambut halus Minseok dengan manja. Pikirannya pun bercabang.
Baru saja dirinya telah menyingkirkan Xi Luhan apa dirinya juga harus
menyingkirkan seorang dokter yang dikirim Kris langsung dari China. Chanyeol
mengelus dadanya sendiri mencoba untuk menenangkan perasaannya yang harus
bersabar hingga 3 hari itu datang. “kalau begitu saatnya kita kembali Minseok”
ucap chanyeol menyadarkan pandangan Minseok yang terfokus pada sang dokter.
“baiklah kembali lah kekamar dan selamat istirahat Kim
Minseok” setelah melambaikan tangan pintu pun tertutup. Zhang Yixing merasakan sesuatu bergetar dalam kantung kemejanya, mengambil
ponsel nya setelah Minseok dan chanyeol pergi meninggalkan ruangannya. tertera sebuah contact nama yang dikenalinya mencoba menghubunginya.
“yeoboseyo?” ucap
seseorang disebrang sana.
“aku sudah melakukan apa yang kau minta, mungkin kau harus
membayarku mahal tentang ini” ucap Yixing sembari memainkan pulpen dimeja kerjanya.
Namja yang menerima informasi Yixing tersenyum puas
mendengarnya disuatu tempat.
-------------------
Chanyeol menyelimuti kembali Minseok di ranjang rawatnya.
Namja ini sebenarnya cukup perhatian pada namja manis yang selalu menolak
kehadirannya. Minseok hanya menganggap chanyeol teman kecil tanpa memberikan
kesempatan untuk membuka hatinya. Berbeda halnya dengan menatap Luhan. itu
sebabnya mengapa chanyeol begitu ingin menyingkirkan Luhan. “setelah makan
siang kau istirahat dan minum obat ini Minseok” perintah chanyeol dengan
lembut. Tanpa memandang kearah chanyeol Minseok mengangguk mengerti “nde”.
Sebenarnya ini adalah posisi canggung yang mereka alami. Minseok sedikit kesal
karena chanyeol sepertinya berada di pihak ayahnya yang menyetujui pemecatan
Luhan.
“chanyeollie apa kau berada di pihak ayahku tentang
pemecatan Luhan?” tanyanya penasaran. Chanyeol memandang kearah namja yang
memberikan pertanyaan itu pada dirinya. Kenapa Luhan dan Luhan dan Luhan lagi
yang harus namja itu dengar dari bibir mungil nan menggemaskan ini. “kenapa kau
bicara seperti itu Minseok-ah?”
“kenapa kau sama sekali tidak membahas apapun tentang Luhan
setelah pemecatan itu terjadi. Bukankah sebelumnya kau tidak ingin Luhan
dipecat karena kau kasihan akan keluarganya”
“aku hanya mengikuti perintah ayahmu, aku tidak mungkin
menentangnya hanya kau yang bisa melakukannya. Ketika kau tidak mampu. Apa yang
bisa bawahan sepertiku lakukan?” minseok terbangun dari tidurnya. Memandang
chanyeol yang sepertinya memberikan harapannya padanya “jika aku minta
bantuanmu untuk pertemukan aku dengan Luhan, bagaimana? Kau bisa, tidak
melaporkan itu pada ayahku?”. “aku tidak bisa” singkat chanyeol.
“aku tidak melakukan itu pada tuanku sendiri. Perintah nya
hanya menjagamu dari namja itu. lagipula semakin kau dekat dengan luhan itu
semakin membuat posisimu menjadi bahaya. Bukan musuh dari ayahmu saja yang akan
menyerang. Mungkin musuh dari Luhan juga akan mengincarmu. Lagipula insiden
penculikanmu sebelumnya dia gagal menyelamatkanmu dan menyebabkan dirinya
kehilangan kepercayaan dari ayahmu. Itu salahnya” mendengar penjelasan chanyeol
namja manis itu mengejar nya dan mengambil posisi dihadapan Chanyeol agar
mendapatkan perhatian dari namja tinggi itu.
“kau salah chanyeollie,dengarkan aku. Kejadian sebenarnya
Luhan tidak bisa bertarung jika aku memandangnya sedangkan aku penasaran dengan
pernyataan bahwa Luhan pembunuh sadis. Aku hanya ingin memastikan bahwa apa
yang dikatakan namja asing itu salah. Luhan terus-terusan menghindar dan tidak
melawan selama aku menatapnya, itu sudah kesalahanku chanyeollie. terlebih lagi
saat luhan telah babak belur sekali pukulan lagi mungkin dia akan mati maka
dari itu aku melindunginya”
“tidak seharusnya kau melakukan itu Minseok-ah. Lebih baik
namja itu yang mati dibandingkan dirimu terluka”
Pernyataan Chanyeol dengan tatapan dingin membuat minseok
tidak percaya dihadapannya dia bisa berkata sekasar itu. “kenapa... kenapa kau
berkata seperti itu?” ucap namja manis itu dengan ragu. “chanyeollie yang aku
kenal tidak akan sejahat itu” lanjut Minseok dengan tatapan takut.
Chanyeol menangkap tubuh mungil Minseok, menggenggamnya
seperti ular yang akan menerkam mangsanya “aku bukan chanyeollie yang kau kenal
dulu. Aku seorang Park chanyeol yang membenci kedatangan Luhan dalam hidupmu!”.
Minseok tidak mengerti “apa maksudmu?”. Pertanyaan polos Minseok membuat Park
Chanyeol memanas dan dengan lancang menyentuh bibir mungil tuan mudanya dengan
bibir miliknya. Mata bulat sang pemilik bibir mungil mulai mengendur dan
memberontak karena sesak. “leepaaashhhh....paashhh...chaan...” dorongan dengan
keras pun mengenai Chanyeol hingga mundur beberapa meter dari dirinya “Park
Chanyeol!!”. Minseok mengambil udara banyak-banyak karena sesak, tatapannya
memandang penuh benci pada apa yang Chanyeol lakukan. “apa yang kau lakukan
brengsek!” ketusnya pada chanyeol. “kenapa! Kenapa kau marah saat aku melakukan
itu padamu! Mengapa kau tidak memberikan ekspresi yang sama saat kau melakukan
itu dengan luhan?!”.
“kau melihatnya?” minseok terkejut saat Chanyeol mengetahui
apa yang dilakukan Luhan pada dirinya saat mereka hanya berdua dikamar. Namja
bertubuh tinggi itu sepertinya sudah keceplosan akan tindakannya, dengan cepat chanyeol
mengambil langkah untuk pergi meninggalkan Minseok. tapi minseok tidak mau
tinggal diam. Dirinya menarik lengan Chanyeol membuat tubuh itu kembali kepada
posisi semulanya. “aku bertanya padamu! Kau melihatnya?” geram Minseok tidak
sabar. “apa jangan-jangan kau memasang kamera pengintai dikamarku, benar?! Apa
ayahku yang menyuruhmu? Sejak kapan kau memasang cctv dikamarku! Yaak Park
Chanyeol!!!” teriakan itu membuat 2 antek yang berjaga didepan kamar masuk
begitu saja. Itu semua kembali membuat Minseok kesal dengan tindakan ayahnya
yang mengganggu privasinya. “sudah cukup aku muak hidup seperti ini! Katakan
pada ayahku, aku benci dengan sifatnya!!!” minseok melewati semua antek-antek
Kris yang menjaganya dan melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. 2 antek yang
menjaga Minseok didepan pintu kamar mencoba untuk menghadang namun minseok
bersih keras melawan. Mereka tidak berani menyentuh tuan mudanya jika bukan
perintah langsung dari Kris. chanyeol yang melihat pemberontakan yang dilakukan
Kim Minseok memberi arahan pada 2 antek itu untuk segera membawa kembali namja
manis itu kekamarnya dengan paksa. Sebelum
arahan itu selesai diterima, dengan cepat Minseok berlari melewati 2
namja yang lebih kekar darinya. “tuan muda!” teriak antek antek kris yang mengejar
pelarian Minseok.
Minseok berlari ke arah tangga darurat. Tangga yang Minseok
turuni ternyata menuju area parkir mobil, dirinya kehabisan akal. Namja mugil
itupun bersembunyi di sela-sela mobil yang dirinya yakini tidak akan terlihat
dari 2 orang yang mengejarnya. “tuan muda! Tuaan..!” minseok tidak perduli
dengan teriakan itu. tidak disangka sebuah pergelangan tangan menyentuh
bahunya. Hampir minseok teriak karena takut jika yang menyentuh nya adalah Chanyeol.
“apa yang kau lakukan dibelakang mobilku?” tanya seorang
namja asing padanya. Minseok memohon pada namja itu untuk segera membantunya
bersembunyi dari seseorang yang mengejarnya. Tanpa berfikir lama, namja itu
mengizinkan minseok masuk kedalam mobilnya secara diam-diam. Setelah masuk
namja itu membawa mobilnya keluar dari parkiran dan pergi meninggalkan rumah
sakit. “kau bersembunyi dari mereka yang memanggilmu tuan muda? Siapa
sebenarnya mereka, termasuk kau orang asing?” namja itu berhenti bicara ketika
melihat namja manis itu hanya termenung dengan wajah sedih menghiasi kedua matanya.
Namja yang memegang kemudi itu hanya menghela nafas ketika melihat Minseok, lalu
memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Minseok mulai sadar dari lamunannya
ketika mobil berhenti. “kau sudah sadar dari lamunanmu? Baiklah aku tidak akan
bertanya banyak tentangmu. Aku hanya ingin tau namamu siapa dan aku harus
mengantarmu kemana?” tanyanya. Minseok tersenyum ketika menyebutkan namanya
namun kembali bingung ketika harus menjawab kemana namja itu akan mengantarnya.
“kau tidak tau tujuanmu?” heran namja asing itu dengan mencari
ide agar dapat menenangkan namja manis yang baru saja memperkenalkan diri. “Bagaimana
kerumahku kalo kau mau? Namaku Kim Seok Jin. Salam kenal” mereka berjabat
tangan saat sudah mengetahui nama masing-masing.
To be Continue...
Terimakasih untuk yang sering mampir ke blogku walau tidak meninggalkan jejaknya, tapi aku yakin kalian sudah berusaha. Mohon maaf sekali karena ketidaknyamanan para rider untuk memberikan kelangsungan hidup pada Author. tapi dengan senang hati Author akan terus menghidupkan blog Main Cast Always My Bias ini ~ *aegyo brg Jimin Xiumin* Terus hadir ya dalam blog ini yang akan memberikan kalian perjalanan cinta 2 Fav Uke Author :3


Comments
Post a Comment