I NEED U // JINMIN // VMIN Feat JUNGKOOK


Masih ingat Fanfic GMOD (Give Me One Day) buatan ku? Sebenarnya ini mirip-mirip latar belakangnya dengan Fanfic tersebut. Dan Ini Fanfic One Shoot feat Member BTS dengan Cast GMOD yang aku bikin dalam waktu beberapa Jam. Maaf jika mengecewakan tapi sesuai dengan Ide yang terlintas sangat ingin Fanfic ku ini dipostkan. JinMinV feat Kookie. CAUTION! No Copas My Fanfic. I love OTP JinMin and VMin. Jadi terjadilah seperti ini :D Semoga tidak mengecewakan. Soundtrack? Masih sama dengan GMOD yaitu -> The Little Prince by Ryeowook.

-

-

I NEED U

Jin Prov

Aku tidak tau perasaan apa yang kualami saat mengenalnya. Itu terasa secara tiba-tiba, dan membuatku terus memikirkannya. Setiap kali bersamanya memberikan arti kebahagiaan dalam hidupku. Mungkin kah aku merasakan apa yang dirasakan Namja lainnya? Perasaan yang menyulitkanku hidup seperti biasa. Perasaan yang begitu ambisius sulit untuk aku hilangkan. Kehidupanku terampas karenanya. Benar. Karenanya hidupku tidak seperti dulu.


CAST      :

-         Kim Seok Jin

-          Park Jimin

-          Kim Taehyung

-          Jeon Joon Kook
-

-

Jin Prov

Baru saja aku menyelesaikan pekerjaan sekolahku yang harus dikumpulkan keesokannya. Tapi dengan seenaknya Taehyung Dongsaengku masuk kamar dan menceritakan perasaan hatinya padaku tentang seseorang yang disukainya sejak kecil. tidak perlu diberitahu. Karena aku yakin seseorang yang Taehyung maksud adalah Park Jimin. teman masa kecil kami, yang aku sendiri juga mneyukainya sejak lama. aku tidak ingin Taehyung mengetahui apa yang aku rasakan terhadap Jimin. itu akan memberikan efek tebing yang akan memisahkanku dengan Taehyung nantinya. Bahkan aku juga tidak menginginkan jika Jimin akan menjauhiku nantinya. Jadi perasaan ini hanya dapat aku simpan dalam memori ingatanku dan hatiku saja.


Author Prov


Jin menyelimuti Taehyung yang sudah terlelap dikasur kamarnya. tidak tega untuk membangunkan, Jin memutuskan untuk tidur dibawah lantai dengan selimut cadangan. Sebelum itu dilakukan Jin. kebiasaan keluar kamar sekedar menghirup udara segar lebih dulu Jin mulai agar tidurnya dan perasaannya yang tidak tenang terbawa angin malam. Jin menggeser jendela kamar dan keluar sebentar. Entah apa yang Jin rasakan ini benar atau tidak, seakan Jimin tengah menunggu kedatangannya diluar. Rumah keluarga Kim dan Park bersebelahan. Bahkan kamar Jin dan Jimin hanya terpisah pagar pembatas dan tembok kecil yang memberikan jarak pada rumah Jin dan Jimin. Tatapan Jimin sangat lembut dan Jin suka itu.

“Jin hyung akhirnya kau keluar” Tuturnya dengan memegang selimut yang menutupi seluruh tubuhnya terkecuali kepalanya.

Jin melirik kearah Taehyung sejenak memastikan, Taehyung tidak mendengarkan apapun. Ataupun mengetahui pertemuannya tiap malam dengan Jimin. “kau menungguku?” Goda Jin.

Mendengar itu, Jimin menundukan kepalanya malu. “aku.. aku hanya tau.. Hyung tidak akan bisa tidur sebelum keluar kamarkan?” Jimin menjelaskan, “Jin hyung.. sudah melakukan ini sejak kita masih kecil..dan hanya aku.. yang menemani, ingat?” lanjut Jimin.

“aku hanya bercanda Jiminnie” tawa Jin kecil berhasil membuat Jimin salah tingkah saat memandangnya. Malam itu Sunyi tanpa suara diantara keduanya. Mereka menikmati setiap hembusan yang menerpa setiap helai rambut dan Kulit tubuhnya. Tidak lama merasakan ketenangan diantara keduanya yang terpisah hanya dengan tebok kecil. Jimin pun bersuara “Jin hyung setelah ujian ini, boleh tidak aku masuk ke SMA yang sama dengan Hyung? Bangtan Highschool aku ingin masuk kesana”

“bukankah kau dan Taehyung akan masuk ke SMA SM Art School? Kenapa kau merubah keinginanmu?”

“Apa yang hyung bicarakan? Aku tidak pernah mengatakan akan masuk kesana, apa namja menyebalkan itu yang mengatakannya padamu hyung?” Cibir Jimin yang kesal akan ulah Taehyung yang bicara Omong kosong tentangnya. Jin mulai berfikir keras tentang maksud Taehyung mengatakan hal yang bukan keinginan Jimin. Ia yakin Dongsaengnya itu sangat ingin Jimin masuk kesekolah yang sama dengannya. Lagipula sekolah itu adalah sekolah terbaik di Seoul yang menghasilkan Bintang-bintang terbaik di jagat hiburan. Taehyung pasti sudah memikirkannya sebelum mengatakan ucapannya itu.

“Jiminnie bukankah sekolah itu unggulan di Seoul? Apa kau tidak ingin masuk ke sekolah unggulan dan menjadi bintang yang lebih terkenal? Kau menyukai musik, kau pandai menari, bahkan suaramu sangat bagus. Sangat disayangkan masuk ke sekolah ku yang—”

“hyung.. keinginanku bukan menjadi bintang terkenal, keinginanku hanya ingin bersama—”

-

KREEEK (Pintu Jendela Kamar Jin terbuka)

Taehyung yang tadi tertidur pulas kini bangun dan membuat Jin seakan terperangkap dengan perasaann takut jika menyakiti hati Dongsaengnya itu. kegiatan yang dilakukannya setiap malam bersama Jimin tidak boleh diketahui Taehyung. Jin berharap Jimin tidak bersuara dibalik tembok pemisah mereka.

Dengan setengah sadar, Taehyung berusaha untuk melihat kegiatan yang hyungnya lakukan tengah malam diluar kamar. “hyung apa yang kau lakukan.. Hooammm.. Ini kan sudah hampir jam 12, apa kau tidak bisa tidur?”

“aku baru menyelesaikan pekerjaan sekolahku membuat lyrics, melihat kau tidur nyenyak dikamarku.. aku tidak tega untuk membangunkanmu. Maka itu aku keluar kamar sebentar untuk menghirup udara”

“Aku fikir kau bertemu dengan Jimin tengah malam seperti ini” setelah kesadarannya kembali, Taehyung berjalan mendekati ujung pagar kamar Jin. Mengintip singkat Kamar Jimin dengan sisa tenaganya menahan beban tubuhnya dengan pagar.

“apa yang kau lakukan Taehyungie? Kau bisa jatuh kebawah jika seperti itu”

“Aku hanya ingin melihat Jiminnie ku tidur dengan nyenyak malam ini hyung”

“tapi tidak seperti itu Taehyungie”

Taehyung terdiam dan mulai berdiri secara normal tanpa berniat melakukan hal yang mengkhawatirkan Jin. “aku iri dengan Jin hyung, bisa bersebelahan dengan kamar Jiminnie. Jika aku berada dikamar ini pasti tiap malam aku akan menyuruhnya keluar kamar sekedar membicarakan hal yang tidak penting dengannya. berbicara hal yang membuatnya marah kepadaku. Apapun yang aku lakukan hanya akan membuatnya membenciku”

Jin mendengarkan. “dan setiap aku ingin mengatakan bahwa aku begitu menyukainya, dia malah menghindariku. Bukankah dia sudah mengetahui nya sejak kecil? tapi masih saja dia tega meghindari perkataan seriusku. Apa menurut Jin hyung, Jiminnie menyukai orang lain?”

“aku tidak tau, bukankah kau yang satu kelas dengannya? apa kau tidak mengetahui yeoja yang mendekatinya?”

Taehyung tertawa keras mendengar pertanyaan polos hyungnya itu. “Hyung?! Yang benar saja? yeoja?”

“Nde. Yeoja?

“Jiminnie dibenci yeoja satu kelasku hyung.. tidak ada yeoja yang mau mendekatinya, karena Jimin lebih manis dibandingkan mereka. Hanya beberapa Hoobae Yeoja yang menyukainya. Jadi mungkin itu mustahil hyung”

Keheningat terjadi Jin rasakan lagi, padangannya tidak terfokus padapun setelah Taehyung mengatakan hal yang mengejutkan Jin. “aku takut jika ada orang terdekatku yang merebut Jiminnie dariku hyung” Mata Taehyung tajam melekat kerelung panca indera Seok Jin. rasa itu sangat Jin rasakan seperti membicarakan dirinya secara tidak langsung. Jin dan Taehyung masih berhadapan dengan tidak mengedipkan pandangan mereka. Mendengar jam kamar Jin berbunyi ditengah malam membuyarkan suasana yang terjadi antara 2 saudara Kim. Taehyung melepaskan cengkaraman pandangannya pada Mata Jin yang menoleh kearah kamarnya, “sebaiknya aku kembali kekamarku hyung. Selamat malam”

Taehyung keluar kamar Jin, membiarkan Hyungnya itu merasakan perasaan bersalah atas ucapan yang diberikan Taehyung padanya.

-

-

[ SMP Daegu ]

Taehyung di hampiri salah satu Seonsaengnim kelas, tentu saja itu akan membuat Jimin penasaran dengan apa yang terjadi. Dengan pelan-pelan Jimin berjalan mendekati Taehyung lalu berjinjit sedikit di belakang Taehyung. sekedar mengetahui Amplop apa yang diberikan Seonsaengnim pada Taehyung. belum dapat Jimin  baca maksud Amplop yang berada ditangan Taehyung, namja yang membuatnya penasaranpun berbalik badan. Menangkap tubuh mungil Jimin yang tidak seimbang karena kaget dirinya bebalik tiba-tiba.

“kau itu mau tau saja urusan orang lain ya Jimin-ah?” Ledek Taehyung yang berhasil memergoki namja mungilnya itu mengintip aktivitasnya.

“ani. Aku hanya ingin tau apa yang Seonsaengnim berikan padamu, hanya itu”

“apa kau benar ingin tau?” Taehyung memberikan Amplop yang tengah membuat dirinya tidak tau malu. Karena penasarannya tidak mau hilang, Jimin mengambil dan membaca beberapa hangul yang terpasang diujung amplop yang tertuju pada Taehyung. betapa kagetnya Jimin saat membaca apa yang tertulis diujung amplop tersebut. Sesekali matanya berkedip tidak percaya, “kau! Kau langsung diterima di SMA SM Art School? Tanpa Ujian? Jinjya?!!”

“aku tidak tau. Tapi mungkin wajahku memberikan efek bahwa kualitas vocalku baik untuk mereka”

Geram dengan celotehan teman kecilnya itu Jimin melayangkan pukulannya keras dikepala Taehyung, “Appo!!” ringisnya.

“aku tidak percaya, tapi aku senang mengetahui ini semua Kim Taehyung”

“sekarang tinggal kau yang menunggu. Aku tidak sabar melihat kau diterima disana juga” Tutur Taehyung tidak sabaran. Jimin mengembalikan apa yang menjadi Hak Taehyung dan merenungkan sesuatu. “Jiminnie kau kenapa? Apa kau tidak yakin bisa sepertiku? Tenang saja aku yakin—”

“Maaf, aku tidak menuliskan nama sekolah yang sama dengan mu Taehyung-ah”

“Maksudmu?”

“Aku menuliskan nama sekolah lain, nama sekolah yang sejak dulu sudah aku inginkan untuk melanjutkan pendidikanku”

Senyum Taehyung menghilang seketika, “Sekolah apa yang kau tuliskan?”

“Bangtan Highschool. Aku ingin bersekolah disana”

Amplop yang dipegang Taehyung terjatuh kelantai karena Taehyung tidak memegangnya dengan benar. Jimin mengambil Amplop itu dan mendapati raut wajah Taehyung yang tidak menyenangkan, “Taehyung-ah”

“jika kau kesana, berarti kau akan bersama dengan Jin hyung. Benar bukan?”

“Benar. Aku akan bersama dengan Jin hyung, tapi kita akan tetap bertemu dirumah bukan?”

“Apa kau menyukai Jin hyung?”

Kedua mata Jimin membulat sempurna, bibir Jimin kelu untuk menjawab pertanyaan Taehyung. “apa...apa yang kau..bicaarakan Taehyung-ah? Aku.. kesana, memang sejak lama.. ingin melanjutkan kesana..”


(Bel Berbunyi)

Sebuah Anugerah untuk Jimin ketika Bel pelajaran selanjutnya terdengar. Jimin mengajak Taehyung untuk segera masuk kekelas mereka tanpa ada satu katapun keluar lagi dari mulut Taehyung. sepertinya hati Taehyung telah mati dengan kenyataan yang telah diketahuinya.

Setelah pelajaran usai, Taehyung tidak bergerak dari kursinya. Menatap kosong pada sisi meja yang berserakan buku-buku sekolahnya. Jimin berjalan pelan kearah kursi Taehyung yang berada 2 baris dibelakangnya. Melambaikan tangannya berharap Taehyung merespon setiap gerakannya. Sekejap bola mata Taehyung bergerak. “apa yang kau lamunkan? Apa kau masih marah dengan keputusanku bersekolah di Bangtan Highschool? Kita kan sudah tidak kecil lagi, dan pasti disana aku juga bisa menjaga diriku sendiri Taehyung-ah. Jadi berhentilah seperti ini, lebih baik kita pulang”

“pulang lah sendiri. kau bisa menjaga dirimu sendiri kan?” Dingin Taehyung membalas Kata-kata Jimin. Ia beranjak dari kursinya lalu meninggalkan Jimin sendirian diruang kelas mereka. Jimin tidak tau harus bagaimana menghadapi Taehyung yang begitu menyukainya, tapi dirinya tidak dapat membalas perasaan tulus Taehyung. “Mianhe Taehyung-ah”

-

Berjalan sendirian tidak tau kearah mana Taehyung akan pergi,

“bukankah kau dan Taehyung akan masuk ke SMA SM Art School? Kenapa kau merubah keinginanmu?”

“Apa yang hyung bicarakan? Aku tidak pernah mengatakan akan masuk kesana, apa namja menyebalkan itu yang mengatakannya padamu hyung?”

Kaleng minuman kosong tidak luput dari amarah Taehyung. benda itu pun dilemparkan kesembarang dan menyebabkan orang lain berteriak tidak jauh dari tempat Taehyung melempar. Merasa tidak enak, Taehyung menghampirinya “Mianhe, aku tidak sengaja melakukannya”

“gwenchana. Aku hanya kaget saat mengetahui minuman kaleng jatuh menimpa ku” Ucapnya sambil mengusap bagian kepalanya yang terasa memar. Taehyung melihat seragam yang dikenakan korban amarahnya ini sama dengannya. tapi Taehyung belum pernah melihat wajahnya di sekolah. Menyadari seragam yang dikenakannya sama, Taehyung bertanya “kau SMP Daegu?”

“Nde. Aku baru masuk di tingkat pertama. Kebetulan keluargaku pindah kesini, kau Sunbae ku? Seragam kita sama”

“Namaku Kim Taehyung. kau tidak perlu memanggilku dengan kata Sunbae. Aku kurang suka mendengarnya”

“Baiklah. Namaku Jeon Joon Kook. Senang berkenalan denganmu Taehyung-ah”

Taehyung membantu Jungkook berdiri, dan menjelaskan alasan mengapa dirinya melemparkan kaleng lalu mengenai Jungkook barusan. Jungkook mendengarkan cerita Taehyung dengan baik. Memberikan setiap arahan disaat cerita Taehyung diberikan jeda. Kehadiran namja yang baru dikenal Taehyung meyakinkan akan hal baru yang nantinya bisa Taehyung miliki jika terus berusaha untuk mendapatkan Jimin.

Siang berganti senja dan Taehyung memutuskan pulang kerumahnya, mengucapkan salam perpisahan pada Jungkook sebelum meninggalkannya. Ternyata tidak diketahui Taehyung, Jimin menunggu didepan pagar rumahnya. Entah sejak kapan, yang pasti Jimin menunggu kedatangannya pulang. Jimin yang menyadari kehadiran Taehyung berlari dan melompat kearahnya. Berfikir Jimin akan mendekapnya. Taehyungpun membukakan kedua tangannya agar dapat dipeluk Jimin sebebas yang diinginkannya. Tapi ketika Taehyung memejamkan, benda keras menimpanya. Sebuah buku tebal menghasilkan kening Taehyung merah sempurna. “Apa yang kau lakukan!” rengek Taehyung tidak terima.

“kemana saja kau namja menyebalkan?! kau fikir dengan kau pulang terlambat, tugas kelompok kita akan aku kerjakan sendiri? dan kau terbebas dari tugas itu. ani! Kemana saja kau tadi, aku menunggumu terus disini!”

“kau kenapa malah menunggu disini? Kan kau bisa masuk kedalam”

“Jin hyung mengatakan kalau kau belum pulang, karena itu aku memutuskan untuk menunggumu diluar saja. soal kepindahan itu aku tidak bermaksud untuk tidak mengatakannya padamu. Tapi aku tau kau akan mengubah keputusanmu dan mimpimu hanya untuk mengikutiku ataupun menjagaku. Jadi aku tidak memberi tahumu”

“apa maksudmu?”

“SM Art School adalah sekolah yang cocok untuk mu Taehyung-ah, jadi mana mungkin aku mengatakan padamu jika aku ingin kesekolah lain. Aku tidak ingin merusak mimpimu itu Taehyung-ah. Aku ingin kau tetap melanjutkan keinginanmu menjadi bintang terkenal lewat sekolah itu”

Taehyung yang sudah tidak dapat menahan emosinya, menyudutkan Jimin kearah tembok rumahnya diluar. Dan sekarang Jimin berada ditengah-tengah antara kedua lengan kokoh Taehyung. wajah merah mulai terlihat pada Indera penglihatan Taehyung. “aku tidak perduli mimpiku. Yang aku inginkan hanya satu. Yaitu dirimu. Tidakkah kau mengerti itu Park Jimin” bisiknya pelan. Jimin merasa tidak nyaman dengan perlakuan Taehyung padanya saat ini. “sejak kecil aku mengatakan akan menikah denganmu. Orang tua kita tertawa mendengarnya, seakan mereka menyetujui akan keputusanku semasa itu. sejak kecil sampe sekarang kau tidak pernah membalas apa yang aku katakan. Lalu sampai kapan?! Sampai kapan aku bisa menunggumu menjawab apa yang ingin aku dengar”

“Taehyung-ah aku..”

“kau menyukai Jin hyung kan? Atau Jin hyung menyukaimu? Atau kalian berdua memang saling MENYUKAI?!” Air mata Jimin hendak mengalir tapi Ia menghapusnya cepat. “apa kah aku disini hanya menjadi penghalang hubungan kalian?”

“...”

“JAWAB AKU!”

Sebuah tangan menggenggam lengan Taehyung, dan membebaskan Jimin dari rengkuhan Taehyung yang memarahinya. Jimin berlari pulang kerumahnya tanpa memikirkan apapun lagi. Kedua saudara Kim memandangi dari belakang. pintu Jimin tertutup dari dalam. Taehyung melepaskan tangannya yang digenggam hyungnya itu secara kasar. Lalu pergi tidak menghiraukan kehadiran hyungnya itu. “apa yang kau lakukan pada Jimin, sama saja menjauhkan dirimu dari Jimin. tidakkah kau tau itu?”

“bukan urusanmu”

“aku yang menyukai Jimin. dan aku yang mendekati Jimin. Jimin tidak menyukaiku ataupun kami saling mencintai. Kau puas dengan jawabanku”

Pukulan dihempaskan kearah wajah Jin yang sebelumnya berbicara dengan tenang. Jin tidak berniat membalas pukulan dongsaengnya, sampai pada akhirnya Eomma Kim keluar rumah saat mendengar keributan terjadi dipekarangan rumahnya. sama halnya dengan Eomma Kim. Eomma Park alias Eommanya Jimin ikut keluar dari kedai samping rumahnya. membantu memisahkan perkelahian antara Taehyung dan Jin.

“Aigoo! Apa yang kalian lakukan! Berkelahi sesama saudara untuk apa!?” Eomma Kim menasehati dengan memeluk Taehyung yang sedari tadi memukuli Jin. Eomma Jimin membangunkan Jin yang tersungkur ditanah. Membersihkan darah yang mengalir disela-sela bibir Jin. taehyung masih ingin memukulnya namun Eommanya melarangnya. Ia pun pergi meninggalkan lokasi dimana Ia memukuli Jin yang berstatus hyungnya. “Taehyung-ah! Kau mau kemana! Aigoo! Taehyung-ah”

Tidak perduli akan panggilan Eommanya, Taehyung tetap lari kencang menjauhi rumah untuk menghindari perasaan kesalnya saat berpapasan dengan Jin dirumah. Jin meminta izin mengejar Taehyung pada Eommanya. Sedangkan Eomma Kim hanya bisa menangis ditemani Eomma Park didepan rumahnya.

Jin berlari semakin kencang agar Taehyung tidak semakin jauh pergi tanpa jejak. Mencari Taehyung dari kerumanan orang-orang pusat Daegu, tidak mudah. Jin harus bisa segera menemukan Taehyung dan membawa dongsaengnya itu pulang kerumah. Berjam-jam mencari Taehyung, akhirnya Jin menemukan dongsaengnya itu berada di Mini Toko Pusat daegu. “ayo pulang” perintah Jin pada Taehyung.

“berhenti bersikap seolah kau peduli padaku. Tinggalkan aku”

“Eomma mengkhawatirkanmu, kau boleh membenciku. Bersikap sesukamu padaku. Tapi tidak Eomma”

Pukulan hampir mengenai Jin lagi. Namun sosok namja yang Taehyung kenali menghentikannya. “Jungkook”

“Apa kalian berkelahi ditempat seramai ini? itu sama saja mempermalukan dirimu sendiri”

Jin diam heran dengan layangan pukulan Taehyung perlahan diturunkan. Kedatangan namja bernama Jungkook ini mematahkan amarah Taehyung. tidak biasanya terjadi. Jungkook kembali menasehati Taehyung didepan Jin. Semua kata-kata yang Jungkook katakan didengarkan baik oleh Taehyung. tidak sengaja memperhatikan terus gerak-gerik Jungkook, Jin jadi salah tingak ketika namanya disebut. “Jin hyung sepertinya Taehyung membutuhkan waktu sendiri, untuk hari ini izinkan Taehyung menginap dirumahku bagaimana? Dia terlalu berada dititik Amarah saat ini”

“Aku..”

“Aku Jeon Joon Kook Hoobae dari Taehyung, walaupun kami baru kenal tadi siang tapi dia sudah mengatakan perasaannya padaku. Jadi boleh kan Taehyung-sshi menginap sehari dirumahku?”

Memandang Taehyung masih bersengut dengan wajahnya yang engga membalas pandangan Jin. Jin memutuskan untuk mengizinkan Taehyung menginap dengan Jungkook. “gomawo. Taehyung-sshi semua akan baik-baik saja. ayo kita pulang dan kau istirahat” Jungkook mengajak Taehyung seakan bagian dari keluarganya. Semoga Jin tidak melakukan kesalahan dengan keputusannya.

-


[ Kediaman Jeon ]


Jungkook masuk kekamarnya yang penuh dengan foto Taehyung disana. Replika boneka Taehyung yang dibuatnya dari pembuat boneka profesional. Serta Kaleng kosong yang menimpanya dan membuat semua impian Jungkook menjadi nyata. Kini Taehyung berada di kediamannya. Tapi belum sepenuhnya menjadi milik Jungkook. Namja cantik itu menari-nari kegirangan dengan kenyataan bahwa namja yang ditaksirnya menginap dirumahnya. “ini bukanlah mimpi Jeon Joon Kook. Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini” Ucapnya berseling dengan tawa cantiknya terukir. “sudah lama aku menyukai mu Taehyung sunbaenim, dan aku sangat ingin memilikimu sebelum kau terkenal di SM Art School. Bukankah kau sangat luar biasa? Berhasil masuk sana tanpa ujian, itu semua berkat aku. Berkat Appaku”

Di lain tempat Taehyung melamunkan sesuatu, seakan terhipnotis tidak dapat melakukan apapun setiap perkataan Jungkook terdengar. Itu semua benar. Apa yang dikatakan Jungkook benar adanya.

Flashback on

“mungkin saja namja yang bernama Jimin itu menyukai hyungmu atau hyungmu yang menyukai Jimin, kemungkinan yang lebih parah adalah mereka saling mencintai. Dan kau hanya menghalangi hubungan mereka” –Kata Jungkook satu

“aku tidak bermaksud menyulut amarahmu Taehyung-sshi tapi aku mengatakan dengan kemungkinan yang kau dengar dipembicaraan mereka tengah malam, kepindahan Jimin kesekolah Hyungmu, dan menghindarnya Jimin akan setiap pernyataan cintamu. Bukankah itu sudah membuktikan kebenaran yang ada? Bahwa dia tidak mempunyai perasaan apapun padamu” –Kata Jungkook dua

“memang kau yang menyatakan perasaanmu pertama kali pada Jimin semasa kecil, tapi apakah Jimin harus membalasnya? Jika dia ingin membalasnya sudah sejak lama seharusnya Jimin membalas perasaanmu” –Kata Jungkook tiga

“Tenanglah. Kau tidak sendirian. Ada aku yang siap menemanimu Taehyung-sshi” Kata Jungkook empat

Flashback off

Sejak kapan dirinya menuruti akan ucapan orang lain selain Jimin. apa karena rasa sakit hatinya Taehyung jadi mendengarkan ucapan orang asing yang baru dikenalnya. Kepala Taehyung yang pusing dipijitnya menggunakan salah satu tangannya. Dipikirkan berapa kalipun. Tidak seharusnya Taehyung berada disini. Hendak meninggalkan kamarnya dan berpamitan dengan Jungkook. namja cantik itu muncul dibalik pintu kamar tamu tempat Taehyung istirahat. “kau mau kemana Taehyung-sshi?”

“aku akan pulang, tidak seharusnya aku disini. Tapi aku berterimakasih padamu sudah mau membantuku untuk menenangkan diri”

“ini sudah sangat malam. Aku baru saja menyiapkan teh hangat untukmu. Lagipula kau belum menanda tanganinya”

“tanda tangan?” bingung Taehyung.

Selesai meletakan teh hangat ke meja kamar Taehyung, Jungkook mendekati lemari kamar dan membukanya. Cetakan foto, poster Taehyung ada beberapa disana. “kau belum menanda tangani ini semua”

“aku bukan artis kenapa kau sampai seperti ini?”

“SM Art School akan menjadikanmu bintang besar. Appaku yang menjamin itu semua, jadi sebelum kau mendadak terkenal dan tidak memiliki banyak waktu denganku. Aku ingin mendapatkan tanda tanganmu dan menjadi fans pertama yang mendapatkan tanda tanganmu Taehyung-sshi. Kau mengerti?”

“apa kau gila? Aku baru masuk sekolahnya bukan Agency SM Art School. Itu masih sangat lama aku tempuh.  Jadi tidak perlu ini semua, lagipula aku masih harus melewati Trainee disana”

“kau tidak perlu menjalani Trainee disana. Appaku sudah menjadi bagian—” belum mendengar perkataan Jungkook selesai. Taehyung memilih meninggalkan kamar itu, membuat Jungkook memanggilnya terus menerus. Jungkook meminta Taehyung untuk menanda tangani barangnya namun Taehyung menolak. “Namja bernama Jimin itu akan menjadi milik hyungmu!! Kau hanya membutuhkanku sekarang! Menemanimu adalah tugasku!”

“aku fikir kau orang yang waras. Aku tidak tau kenapa selama ini aku selalu mendengarkan ucapan Jimin saja. tapi ternyata aku sadar orang tidak waras akan hadir jika aku banyak membuka perasaanku pada orang lain. Aku tidak percaya pada siapapun selain Jimin. hanya Jimin yang bisa menemaniku. Tidak ada kau ataupun kau yang lain!”

“aku hanya tidak ingin kau bersikap acuh setelah terkenal. Lagipula suaramu indah, aku bahkan ingin masuk ke sekolah itu sama denganmu lewat Appaku. Karena itu aku meminta Appaku meluluskanmu disana”

“aku tidak membutuhkan itu Jungkook-ah. Aku masih memiliki harga diri, dan aku yakin bisa masuk kesana dengan kemampuan ku sendiri” Taehyung mengabulkan keinginan Jungkook yang tidak hentinya menangis agar ditanda tangani Taehyung. “dan soal Jimin, hyungku sudah mengakui bahwa dirinyalah yang menyukai Jimin. aku masih bisa bersaing disana dengan masuk ke SMA yang sama dengan mereka. Katakan pada Appamu aku mengundurkan diri dari SM Art School”

“apa itu semua karena ulahku?”

“Ani. Aku sadar ini semua hanya keegoisanku saja, selagi Jimin tidak mengatakan perasaan sukanya pada siapapun. Aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkannya bukan? Terimakasih sudah menemaniku bercerita Jungkook-ah” Taehyung memberikan senyuman tampannya pada Jungkook kecil nan cantik. Senyuman yang meluluhkan hati Jungkook semakin membuat Jungkook tidak ingin membiarkan Taehyung pergi dari kediamannya.

Hujan turun mengiringi langkah Taehyung yang ingin menemui Jimin dirumahnya. Tidak mencoba berteduh, harapannya saat ini adalah meminta maaf pada kalimat yang sudah dirinya lontarkan terhadap Jimin. sesampainya dirumah Park, Taehyung memencet bel rumah itu dan Eomma Park keluar menggunakan payung. Membukakan pintu pagar untuk Taehyung, serta membiarkan Taehyung masuk menemui putranya. Dengan pakaian basah semakin menimbulkan sosok sexy pada tubuh Taehyung yang sebagaian ototnya timbul dipakaiannya. Tiba di pintu kamar Jimin, Taehyung mengetuk pelan dan tidak memberikan respon apapun dari dalam. Terpaksa Taehyung mengetuk kamar itu dengan kencang.

“aku sudah mendengar ketukanmu sekali SEULKI!!” pukulan yang biasa mengenai kepala Taehyung ditahan.

“jika kau mendengarnya sekali, kenapa kau tidak membukakan pintu kamarmu cepat? Dan kau tau aku yang mengetuk kamarmu? Apa kau sudah mengetahui kedatanganku kesini?”

Jimin bertahan pada pandangannya yang menduduk kelantai, “seseorang yang mengetuk sekasar itu hanya dirimu! Eommaku tidak pernah seperti itu dan Jin hyung tidak pernah kemari! Lalu siapa lagi yang bisa aku tebak!” Tangan Jimin bergetar sempuran, sekeras apapun Jimin menyembunyikan rasa takutnya. Taehyung pasti bisa merasakannya. “soal tadi sore aku minta maaf” Kata Taehyung. kepala yang sebelumnya menunduk, terangkat seketika.

“Nde?”

“aku tersulut akan emosiku. Aku terbakar perasaan cemburu, Mianhe” Taehyung memeluk Jimin. tidak perduli sebasah apapun tubuhnya, yang dibutuhkan Taehyung hanya kehangatan dari tubuh Jimin. “aku ingin menjagamu terus sampai aku benar-benar bisa mendapatkan jawabanmu. Aku akan ikut masuk ke Bangtan School, bersamamu”

Jimin melepaskan pelukan Taehyung, “kau tidak perlu melakukan itu Taehyung-ah, menjadi bintang terkenal adalah cita-citamu dari kecil. jangan korbankan kesempatanmu seperti ini”

“aku sudah mengundurkan diri dari SM Art School, dan aku ingin—” Pandangan Taehyung berkunang-kunang, “bersamamu” tubuhnya pun ambruk bersamaan dengan kata-kata terakhir yang terdengar ditelinga Jimin.

“TAEHYUNG—AH! TAEHYUNG-AH IREEONA! KIM TAEHYUNNGGG”

Eomma Jimin mengambil air hangat dibaskom dan kain kecil untuk mengompres Taehyung yang pingsan karena demam. pakaian Taehyung yang basah telah diganti Jin dan Eommanya yang langsung bergegas kerumah Eomma Park, saat mendapatkan Taehyung pingsan. Jin dan Eomma Kim sangat berterimakasih atas kebaikan yang Eomma Park lakukan untuk Taehyung. selagi para Eomma berbicara, Jimin dan Jin masih berada dikamar menemani Taehyung.

“Min-ah... Ji..Min...-ah” Taehyung Menginggau dan terus memanggil nama Jimin. itu menjadikan Jimin tidak berdaya dengan perasaannya. Setulus itu Taehyung mencintainya tapi Jimin masih tidak dapat membalasnya. Jin menyentuh pundak Jimin, “tenanglah.. Taehyung hanya demam ringan” Ucapnya dengan merengkuh Jimin kedalam pelukannya. Maksud pelukan itu agar Jimin tenang tanpa memikirkan hal yang memberatkannya. Tidak ada maksud lain.

-

Keesokan paginya Taehyung terbangun dan suhu tubuhnya telah kembali normal. Jimin tidur di Sofa kamar miliknya sendiri dengan selimut yang menggantung hampir jatuh. Taehyung mengamati tempatnya berada. Dan yang dirinya sadari sekarang adalah tempat ini Kamar Jimin. ingatan semalam akan dirinya yang jatuh pingsan karena demam dalam pelukan Jimin sangat terlihat tidak gentle. “bagaimana bisa aku jatuh pingsan seperti semalam Aissh”. Setelah merasa puas mengingat kejadian sebelumnya, Taehyung menghampiri Jimin yang terlelap dekat jendela. Menyelimuti namja mungil itu dengan benar.

“terimakasih sudah merawatku Jimin-ah” kecupan singkat diberikan pada kening Jimin. dan kejadian yang membuatnya kesal ikut terlintas.

“aku yang menyukai Jimin. dan aku yang mendekati Jimin. Jimin tidak menyukaiku ataupun kami saling mencintai. Kau puas dengan jawabanku”

Taehyung menggenggam tangan Jimin, mengecupnya kembali. “aku berjanji padamu. Akan terus berusaha untuk mendapatkanmu. Berusaha agar kau dapat mencintaiku dan membalas perasaanku Park Jimin”


Jin yang tadinya akan masuk kekamar mengurungkan niatnya dan pergi meninggalkan kamar Jimin. 

-
-

-Feat Jungkook END


Comments

Popular Posts