I NEED U // JINMIN // VMIN Feat JUNGKOOK
Masih
ingat Fanfic GMOD (Give Me One Day) buatan ku? Sebenarnya ini mirip-mirip latar
belakangnya dengan Fanfic tersebut. Dan Ini Fanfic One Shoot feat Member BTS
dengan Cast GMOD yang aku bikin dalam waktu beberapa Jam. Maaf jika
mengecewakan tapi sesuai dengan Ide yang terlintas sangat ingin Fanfic ku ini
dipostkan. JinMinV feat Kookie. CAUTION! No Copas My Fanfic. I love OTP JinMin and
VMin. Jadi terjadilah seperti ini :D Semoga tidak mengecewakan. Soundtrack? Masih
sama dengan GMOD yaitu -> The Little Prince by Ryeowook.
-
-
I
NEED U
Jin Prov
Aku
tidak tau perasaan apa yang kualami saat mengenalnya. Itu terasa secara
tiba-tiba, dan membuatku terus memikirkannya. Setiap kali bersamanya memberikan
arti kebahagiaan dalam hidupku. Mungkin kah aku merasakan apa yang dirasakan
Namja lainnya? Perasaan yang menyulitkanku hidup seperti biasa. Perasaan yang
begitu ambisius sulit untuk aku hilangkan. Kehidupanku terampas karenanya. Benar.
Karenanya hidupku tidak seperti dulu.
CAST :
- Kim Seok Jin
-
Park Jimin
-
Kim Taehyung
-
Jeon Joon Kook
-
-
-
Jin Prov
Baru saja aku menyelesaikan pekerjaan sekolahku yang harus dikumpulkan keesokannya. Tapi dengan seenaknya Taehyung Dongsaengku masuk kamar dan menceritakan perasaan hatinya padaku tentang seseorang yang disukainya sejak kecil. tidak perlu diberitahu. Karena aku yakin seseorang yang Taehyung maksud adalah Park Jimin. teman masa kecil kami, yang aku sendiri juga mneyukainya sejak lama. aku tidak ingin Taehyung mengetahui apa yang aku rasakan terhadap Jimin. itu akan memberikan efek tebing yang akan memisahkanku dengan Taehyung nantinya. Bahkan aku juga tidak menginginkan jika Jimin akan menjauhiku nantinya. Jadi perasaan ini hanya dapat aku simpan dalam memori ingatanku dan hatiku saja.
Author Prov
Jin Prov
Baru saja aku menyelesaikan pekerjaan sekolahku yang harus dikumpulkan keesokannya. Tapi dengan seenaknya Taehyung Dongsaengku masuk kamar dan menceritakan perasaan hatinya padaku tentang seseorang yang disukainya sejak kecil. tidak perlu diberitahu. Karena aku yakin seseorang yang Taehyung maksud adalah Park Jimin. teman masa kecil kami, yang aku sendiri juga mneyukainya sejak lama. aku tidak ingin Taehyung mengetahui apa yang aku rasakan terhadap Jimin. itu akan memberikan efek tebing yang akan memisahkanku dengan Taehyung nantinya. Bahkan aku juga tidak menginginkan jika Jimin akan menjauhiku nantinya. Jadi perasaan ini hanya dapat aku simpan dalam memori ingatanku dan hatiku saja.
Author Prov
Jin
menyelimuti Taehyung yang sudah terlelap dikasur kamarnya. tidak tega untuk
membangunkan, Jin memutuskan untuk tidur dibawah lantai dengan selimut
cadangan. Sebelum itu dilakukan Jin. kebiasaan keluar kamar sekedar
menghirup udara segar lebih dulu Jin mulai agar tidurnya dan perasaannya yang
tidak tenang terbawa angin malam. Jin menggeser jendela kamar dan keluar
sebentar. Entah apa yang Jin rasakan ini benar atau tidak, seakan Jimin tengah
menunggu kedatangannya diluar. Rumah keluarga Kim dan Park bersebelahan. Bahkan
kamar Jin dan Jimin hanya terpisah pagar pembatas dan tembok kecil yang
memberikan jarak pada rumah Jin dan Jimin. Tatapan Jimin sangat lembut dan Jin
suka itu.
“Jin
hyung akhirnya kau keluar” Tuturnya dengan memegang selimut yang menutupi
seluruh tubuhnya terkecuali kepalanya.
Jin
melirik kearah Taehyung sejenak memastikan, Taehyung tidak mendengarkan apapun.
Ataupun mengetahui pertemuannya tiap malam dengan Jimin. “kau menungguku?” Goda
Jin.
Mendengar
itu, Jimin menundukan kepalanya malu. “aku.. aku hanya tau.. Hyung tidak akan
bisa tidur sebelum keluar kamarkan?” Jimin menjelaskan, “Jin hyung.. sudah
melakukan ini sejak kita masih kecil..dan hanya aku.. yang menemani, ingat?”
lanjut Jimin.
“aku
hanya bercanda Jiminnie” tawa Jin kecil berhasil membuat Jimin salah tingkah
saat memandangnya. Malam itu Sunyi tanpa suara diantara keduanya. Mereka
menikmati setiap hembusan yang menerpa setiap helai rambut dan Kulit tubuhnya.
Tidak lama merasakan ketenangan diantara keduanya yang terpisah hanya dengan
tebok kecil. Jimin pun bersuara “Jin hyung setelah ujian ini, boleh tidak aku
masuk ke SMA yang sama dengan Hyung? Bangtan Highschool aku ingin masuk kesana”
“bukankah
kau dan Taehyung akan masuk ke SMA SM Art School? Kenapa kau merubah
keinginanmu?”
“Apa
yang hyung bicarakan? Aku tidak pernah mengatakan akan masuk kesana, apa namja
menyebalkan itu yang mengatakannya padamu hyung?” Cibir Jimin yang kesal akan
ulah Taehyung yang bicara Omong kosong tentangnya. Jin mulai berfikir keras
tentang maksud Taehyung mengatakan hal yang bukan keinginan Jimin. Ia yakin
Dongsaengnya itu sangat ingin Jimin masuk kesekolah yang sama dengannya.
Lagipula sekolah itu adalah sekolah terbaik di Seoul yang menghasilkan
Bintang-bintang terbaik di jagat hiburan. Taehyung pasti sudah memikirkannya
sebelum mengatakan ucapannya itu.
“Jiminnie
bukankah sekolah itu unggulan di Seoul? Apa kau tidak ingin masuk ke sekolah
unggulan dan menjadi bintang yang lebih terkenal? Kau menyukai musik, kau
pandai menari, bahkan suaramu sangat bagus. Sangat disayangkan masuk ke sekolah
ku yang—”
“hyung..
keinginanku bukan menjadi bintang terkenal, keinginanku hanya ingin bersama—”
-
KREEEK
(Pintu Jendela Kamar Jin terbuka)
Taehyung
yang tadi tertidur pulas kini bangun dan membuat Jin seakan terperangkap dengan
perasaann takut jika menyakiti hati Dongsaengnya itu. kegiatan yang
dilakukannya setiap malam bersama Jimin tidak boleh diketahui Taehyung. Jin
berharap Jimin tidak bersuara dibalik tembok pemisah mereka.
Dengan
setengah sadar, Taehyung berusaha untuk melihat kegiatan yang hyungnya lakukan
tengah malam diluar kamar. “hyung apa yang kau lakukan.. Hooammm.. Ini kan
sudah hampir jam 12, apa kau tidak bisa tidur?”
“aku
baru menyelesaikan pekerjaan sekolahku membuat lyrics, melihat kau tidur
nyenyak dikamarku.. aku tidak tega untuk membangunkanmu. Maka itu aku keluar
kamar sebentar untuk menghirup udara”
“Aku
fikir kau bertemu dengan Jimin tengah malam seperti ini” setelah kesadarannya
kembali, Taehyung berjalan mendekati ujung pagar kamar Jin. Mengintip singkat
Kamar Jimin dengan sisa tenaganya menahan beban tubuhnya dengan pagar.
“apa
yang kau lakukan Taehyungie? Kau bisa jatuh kebawah jika seperti itu”
“Aku
hanya ingin melihat Jiminnie ku tidur dengan nyenyak malam ini hyung”
“tapi
tidak seperti itu Taehyungie”
Taehyung
terdiam dan mulai berdiri secara normal tanpa berniat melakukan hal yang
mengkhawatirkan Jin. “aku iri dengan Jin hyung, bisa bersebelahan dengan kamar
Jiminnie. Jika aku berada dikamar ini pasti tiap malam aku akan menyuruhnya
keluar kamar sekedar membicarakan hal yang tidak penting dengannya. berbicara hal
yang membuatnya marah kepadaku. Apapun yang aku lakukan hanya akan membuatnya
membenciku”
Jin
mendengarkan. “dan setiap aku ingin mengatakan bahwa aku begitu menyukainya,
dia malah menghindariku. Bukankah dia sudah mengetahui nya sejak kecil? tapi
masih saja dia tega meghindari perkataan seriusku. Apa menurut Jin hyung,
Jiminnie menyukai orang lain?”
“aku
tidak tau, bukankah kau yang satu kelas dengannya? apa kau tidak mengetahui
yeoja yang mendekatinya?”
Taehyung
tertawa keras mendengar pertanyaan polos hyungnya itu. “Hyung?! Yang benar
saja? yeoja?”
“Nde.
Yeoja? ”
“Jiminnie
dibenci yeoja satu kelasku hyung.. tidak ada yeoja yang mau mendekatinya,
karena Jimin lebih manis dibandingkan mereka. Hanya beberapa Hoobae Yeoja yang
menyukainya. Jadi mungkin itu mustahil hyung”
Keheningat
terjadi Jin rasakan lagi, padangannya tidak terfokus padapun setelah Taehyung
mengatakan hal yang mengejutkan Jin. “aku takut jika ada orang terdekatku yang
merebut Jiminnie dariku hyung” Mata Taehyung tajam melekat kerelung panca indera
Seok Jin. rasa itu sangat Jin rasakan seperti membicarakan dirinya secara tidak
langsung. Jin dan Taehyung masih berhadapan dengan tidak mengedipkan pandangan
mereka. Mendengar jam kamar Jin berbunyi ditengah malam membuyarkan suasana
yang terjadi antara 2 saudara Kim. Taehyung melepaskan cengkaraman pandangannya
pada Mata Jin yang menoleh kearah kamarnya, “sebaiknya aku kembali kekamarku
hyung. Selamat malam”
Taehyung
keluar kamar Jin, membiarkan Hyungnya itu merasakan perasaan bersalah atas
ucapan yang diberikan Taehyung padanya.
-
-
[
SMP Daegu ]
Taehyung
di hampiri salah satu Seonsaengnim kelas, tentu saja itu akan membuat Jimin
penasaran dengan apa yang terjadi. Dengan pelan-pelan Jimin berjalan mendekati
Taehyung lalu berjinjit sedikit di belakang Taehyung. sekedar mengetahui Amplop
apa yang diberikan Seonsaengnim pada Taehyung. belum dapat Jimin baca maksud Amplop yang berada ditangan
Taehyung, namja yang membuatnya penasaranpun berbalik badan. Menangkap tubuh
mungil Jimin yang tidak seimbang karena kaget dirinya bebalik tiba-tiba.
“kau
itu mau tau saja urusan orang lain ya Jimin-ah?” Ledek Taehyung yang berhasil
memergoki namja mungilnya itu mengintip aktivitasnya.
“ani.
Aku hanya ingin tau apa yang Seonsaengnim berikan padamu, hanya itu”
“apa
kau benar ingin tau?” Taehyung memberikan Amplop yang tengah membuat dirinya
tidak tau malu. Karena penasarannya tidak mau hilang, Jimin mengambil dan
membaca beberapa hangul yang terpasang diujung amplop yang tertuju pada
Taehyung. betapa kagetnya Jimin saat membaca apa yang tertulis diujung amplop
tersebut. Sesekali matanya berkedip tidak percaya, “kau! Kau langsung diterima
di SMA SM Art School? Tanpa Ujian? Jinjya?!!”
“aku
tidak tau. Tapi mungkin wajahku memberikan efek bahwa kualitas vocalku baik untuk
mereka”
Geram
dengan celotehan teman kecilnya itu Jimin melayangkan pukulannya keras dikepala
Taehyung, “Appo!!” ringisnya.
“aku
tidak percaya, tapi aku senang mengetahui ini semua Kim Taehyung”
“sekarang
tinggal kau yang menunggu. Aku tidak sabar melihat kau diterima disana juga”
Tutur Taehyung tidak sabaran. Jimin mengembalikan apa yang menjadi Hak Taehyung
dan merenungkan sesuatu. “Jiminnie kau kenapa? Apa kau tidak yakin bisa
sepertiku? Tenang saja aku yakin—”
“Maaf,
aku tidak menuliskan nama sekolah yang sama dengan mu Taehyung-ah”
“Maksudmu?”
“Aku
menuliskan nama sekolah lain, nama sekolah yang sejak dulu sudah aku inginkan
untuk melanjutkan pendidikanku”
Senyum
Taehyung menghilang seketika, “Sekolah apa yang kau tuliskan?”
“Bangtan
Highschool. Aku ingin bersekolah disana”
Amplop
yang dipegang Taehyung terjatuh kelantai karena Taehyung tidak memegangnya
dengan benar. Jimin mengambil Amplop itu dan mendapati raut wajah Taehyung yang
tidak menyenangkan, “Taehyung-ah”
“jika
kau kesana, berarti kau akan bersama dengan Jin hyung. Benar bukan?”
“Benar.
Aku akan bersama dengan Jin hyung, tapi kita akan tetap bertemu dirumah bukan?”
“Apa
kau menyukai Jin hyung?”
Kedua
mata Jimin membulat sempurna, bibir Jimin kelu untuk menjawab pertanyaan
Taehyung. “apa...apa yang kau..bicaarakan Taehyung-ah? Aku.. kesana, memang
sejak lama.. ingin melanjutkan kesana..”
(Bel
Berbunyi)
Sebuah
Anugerah untuk Jimin ketika Bel pelajaran selanjutnya terdengar. Jimin mengajak
Taehyung untuk segera masuk kekelas mereka tanpa ada satu katapun keluar lagi
dari mulut Taehyung. sepertinya hati Taehyung telah mati dengan kenyataan yang
telah diketahuinya.
Setelah
pelajaran usai, Taehyung tidak bergerak dari kursinya. Menatap kosong pada sisi
meja yang berserakan buku-buku sekolahnya. Jimin berjalan pelan kearah kursi
Taehyung yang berada 2 baris dibelakangnya. Melambaikan tangannya berharap
Taehyung merespon setiap gerakannya. Sekejap bola mata Taehyung bergerak. “apa
yang kau lamunkan? Apa kau masih marah dengan keputusanku bersekolah di Bangtan
Highschool? Kita kan sudah tidak kecil lagi, dan pasti disana aku juga bisa
menjaga diriku sendiri Taehyung-ah. Jadi berhentilah seperti ini, lebih baik
kita pulang”
“pulang
lah sendiri. kau bisa menjaga dirimu sendiri kan?” Dingin Taehyung membalas Kata-kata
Jimin. Ia beranjak dari kursinya lalu meninggalkan Jimin sendirian diruang
kelas mereka. Jimin tidak tau harus bagaimana menghadapi Taehyung yang begitu
menyukainya, tapi dirinya tidak dapat membalas perasaan tulus Taehyung. “Mianhe
Taehyung-ah”
-
Berjalan
sendirian tidak tau kearah mana Taehyung akan pergi,
“bukankah kau dan Taehyung akan masuk ke
SMA SM Art School? Kenapa kau merubah keinginanmu?”
“Apa yang hyung bicarakan? Aku tidak pernah
mengatakan akan masuk kesana, apa namja menyebalkan itu yang mengatakannya
padamu hyung?”
Kaleng
minuman kosong tidak luput dari amarah Taehyung. benda itu pun dilemparkan
kesembarang dan menyebabkan orang lain berteriak tidak jauh dari tempat
Taehyung melempar. Merasa tidak enak, Taehyung menghampirinya “Mianhe, aku
tidak sengaja melakukannya”
“gwenchana.
Aku hanya kaget saat mengetahui minuman kaleng jatuh menimpa ku” Ucapnya sambil
mengusap bagian kepalanya yang terasa memar. Taehyung melihat seragam yang
dikenakan korban amarahnya ini sama dengannya. tapi Taehyung belum pernah
melihat wajahnya di sekolah. Menyadari seragam yang dikenakannya sama, Taehyung
bertanya “kau SMP Daegu?”
“Nde.
Aku baru masuk di tingkat pertama. Kebetulan keluargaku pindah kesini, kau
Sunbae ku? Seragam kita sama”
“Namaku
Kim Taehyung. kau tidak perlu memanggilku dengan kata Sunbae. Aku kurang suka
mendengarnya”
“Baiklah.
Namaku Jeon Joon Kook. Senang berkenalan denganmu Taehyung-ah”
Taehyung
membantu Jungkook berdiri, dan menjelaskan alasan mengapa dirinya melemparkan
kaleng lalu mengenai Jungkook barusan. Jungkook mendengarkan cerita Taehyung
dengan baik. Memberikan setiap arahan disaat cerita Taehyung diberikan jeda.
Kehadiran namja yang baru dikenal Taehyung meyakinkan akan hal baru yang
nantinya bisa Taehyung miliki jika terus berusaha untuk mendapatkan Jimin.
Siang
berganti senja dan Taehyung memutuskan pulang kerumahnya, mengucapkan salam
perpisahan pada Jungkook sebelum meninggalkannya. Ternyata tidak diketahui
Taehyung, Jimin menunggu didepan pagar rumahnya. Entah sejak kapan, yang pasti
Jimin menunggu kedatangannya pulang. Jimin yang menyadari kehadiran Taehyung
berlari dan melompat kearahnya. Berfikir Jimin akan mendekapnya. Taehyungpun
membukakan kedua tangannya agar dapat dipeluk Jimin sebebas yang diinginkannya.
Tapi ketika Taehyung memejamkan, benda keras menimpanya. Sebuah buku tebal
menghasilkan kening Taehyung merah sempurna. “Apa yang kau lakukan!” rengek
Taehyung tidak terima.
“kemana
saja kau namja menyebalkan?! kau fikir dengan kau pulang terlambat, tugas kelompok
kita akan aku kerjakan sendiri? dan kau terbebas dari tugas itu. ani! Kemana
saja kau tadi, aku menunggumu terus disini!”
“kau
kenapa malah menunggu disini? Kan kau bisa masuk kedalam”
“Jin
hyung mengatakan kalau kau belum pulang, karena itu aku memutuskan untuk
menunggumu diluar saja. soal kepindahan itu aku tidak bermaksud untuk tidak
mengatakannya padamu. Tapi aku tau kau akan mengubah keputusanmu dan mimpimu
hanya untuk mengikutiku ataupun menjagaku. Jadi aku tidak memberi tahumu”
“apa
maksudmu?”
“SM
Art School adalah sekolah yang cocok untuk mu Taehyung-ah, jadi mana mungkin
aku mengatakan padamu jika aku ingin kesekolah lain. Aku tidak ingin merusak
mimpimu itu Taehyung-ah. Aku ingin kau tetap melanjutkan keinginanmu menjadi
bintang terkenal lewat sekolah itu”
Taehyung
yang sudah tidak dapat menahan emosinya, menyudutkan Jimin kearah tembok
rumahnya diluar. Dan sekarang Jimin berada ditengah-tengah antara kedua lengan
kokoh Taehyung. wajah merah mulai terlihat pada Indera penglihatan Taehyung.
“aku tidak perduli mimpiku. Yang aku inginkan hanya satu. Yaitu dirimu.
Tidakkah kau mengerti itu Park Jimin” bisiknya pelan. Jimin merasa tidak nyaman
dengan perlakuan Taehyung padanya saat ini. “sejak kecil aku mengatakan akan
menikah denganmu. Orang tua kita tertawa mendengarnya, seakan mereka menyetujui
akan keputusanku semasa itu. sejak kecil sampe sekarang kau tidak pernah
membalas apa yang aku katakan. Lalu sampai kapan?! Sampai kapan aku bisa
menunggumu menjawab apa yang ingin aku dengar”
“Taehyung-ah
aku..”
“kau
menyukai Jin hyung kan? Atau Jin hyung menyukaimu? Atau kalian berdua memang
saling MENYUKAI?!” Air mata Jimin hendak mengalir tapi Ia menghapusnya cepat.
“apa kah aku disini hanya menjadi penghalang hubungan kalian?”
“...”
“JAWAB
AKU!”
Sebuah
tangan menggenggam lengan Taehyung, dan membebaskan Jimin dari rengkuhan
Taehyung yang memarahinya. Jimin berlari pulang kerumahnya tanpa memikirkan
apapun lagi. Kedua saudara Kim memandangi dari belakang. pintu Jimin tertutup
dari dalam. Taehyung melepaskan tangannya yang digenggam hyungnya itu secara
kasar. Lalu pergi tidak menghiraukan kehadiran hyungnya itu. “apa yang kau
lakukan pada Jimin, sama saja menjauhkan dirimu dari Jimin. tidakkah kau tau
itu?”
“bukan
urusanmu”
“aku
yang menyukai Jimin. dan aku yang mendekati Jimin. Jimin tidak menyukaiku
ataupun kami saling mencintai. Kau puas dengan jawabanku”
Pukulan
dihempaskan kearah wajah Jin yang sebelumnya berbicara dengan tenang. Jin tidak
berniat membalas pukulan dongsaengnya, sampai pada akhirnya Eomma Kim keluar
rumah saat mendengar keributan terjadi dipekarangan rumahnya. sama halnya
dengan Eomma Kim. Eomma Park alias Eommanya Jimin ikut keluar dari kedai
samping rumahnya. membantu memisahkan perkelahian antara Taehyung dan Jin.
“Aigoo!
Apa yang kalian lakukan! Berkelahi sesama saudara untuk apa!?” Eomma Kim
menasehati dengan memeluk Taehyung yang sedari tadi memukuli Jin. Eomma Jimin
membangunkan Jin yang tersungkur ditanah. Membersihkan darah yang mengalir
disela-sela bibir Jin. taehyung masih ingin memukulnya namun Eommanya
melarangnya. Ia pun pergi meninggalkan lokasi dimana Ia memukuli Jin yang
berstatus hyungnya. “Taehyung-ah! Kau mau kemana! Aigoo! Taehyung-ah”
Tidak
perduli akan panggilan Eommanya, Taehyung tetap lari kencang menjauhi rumah untuk
menghindari perasaan kesalnya saat berpapasan dengan Jin dirumah. Jin meminta
izin mengejar Taehyung pada Eommanya. Sedangkan Eomma Kim hanya bisa menangis
ditemani Eomma Park didepan rumahnya.
Jin
berlari semakin kencang agar Taehyung tidak semakin jauh pergi tanpa jejak.
Mencari Taehyung dari kerumanan orang-orang pusat Daegu, tidak mudah. Jin harus
bisa segera menemukan Taehyung dan membawa dongsaengnya itu pulang kerumah.
Berjam-jam mencari Taehyung, akhirnya Jin menemukan dongsaengnya itu berada di
Mini Toko Pusat daegu. “ayo pulang” perintah Jin pada Taehyung.
“berhenti
bersikap seolah kau peduli padaku. Tinggalkan aku”
“Eomma
mengkhawatirkanmu, kau boleh membenciku. Bersikap sesukamu padaku. Tapi tidak
Eomma”
Pukulan
hampir mengenai Jin lagi. Namun sosok namja yang Taehyung kenali
menghentikannya. “Jungkook”
“Apa
kalian berkelahi ditempat seramai ini? itu sama saja mempermalukan dirimu
sendiri”
Jin
diam heran dengan layangan pukulan Taehyung perlahan diturunkan. Kedatangan
namja bernama Jungkook ini mematahkan amarah Taehyung. tidak biasanya terjadi. Jungkook
kembali menasehati Taehyung didepan Jin. Semua kata-kata yang Jungkook katakan
didengarkan baik oleh Taehyung. tidak sengaja memperhatikan terus gerak-gerik
Jungkook, Jin jadi salah tingak ketika namanya disebut. “Jin hyung sepertinya
Taehyung membutuhkan waktu sendiri, untuk hari ini izinkan Taehyung menginap
dirumahku bagaimana? Dia terlalu berada dititik Amarah saat ini”
“Aku..”
“Aku
Jeon Joon Kook Hoobae dari Taehyung, walaupun kami baru kenal tadi siang tapi
dia sudah mengatakan perasaannya padaku. Jadi boleh kan Taehyung-sshi menginap
sehari dirumahku?”
Memandang
Taehyung masih bersengut dengan wajahnya yang engga membalas pandangan Jin. Jin
memutuskan untuk mengizinkan Taehyung menginap dengan Jungkook. “gomawo.
Taehyung-sshi semua akan baik-baik saja. ayo kita pulang dan kau istirahat”
Jungkook mengajak Taehyung seakan bagian dari keluarganya. Semoga Jin tidak
melakukan kesalahan dengan keputusannya.
-
[
Kediaman Jeon ]
Jungkook
masuk kekamarnya yang penuh dengan foto Taehyung disana. Replika boneka
Taehyung yang dibuatnya dari pembuat boneka profesional. Serta Kaleng kosong
yang menimpanya dan membuat semua impian Jungkook menjadi nyata. Kini Taehyung
berada di kediamannya. Tapi belum sepenuhnya menjadi milik Jungkook. Namja
cantik itu menari-nari kegirangan dengan kenyataan bahwa namja yang ditaksirnya
menginap dirumahnya. “ini bukanlah mimpi Jeon Joon Kook. Kau sudah mendapatkan
apa yang kau inginkan selama ini” Ucapnya berseling dengan tawa cantiknya
terukir. “sudah lama aku menyukai mu Taehyung sunbaenim, dan aku sangat ingin
memilikimu sebelum kau terkenal di SM Art School. Bukankah kau sangat luar
biasa? Berhasil masuk sana tanpa ujian, itu semua berkat aku. Berkat Appaku”
Di
lain tempat Taehyung melamunkan sesuatu, seakan terhipnotis tidak dapat
melakukan apapun setiap perkataan Jungkook terdengar. Itu semua benar. Apa yang
dikatakan Jungkook benar adanya.
Flashback on
“mungkin saja namja yang bernama Jimin itu
menyukai hyungmu atau hyungmu yang menyukai Jimin, kemungkinan yang lebih parah
adalah mereka saling mencintai. Dan kau hanya menghalangi hubungan mereka”
–Kata Jungkook satu
“aku tidak bermaksud menyulut amarahmu
Taehyung-sshi tapi aku mengatakan dengan kemungkinan yang kau dengar
dipembicaraan mereka tengah malam, kepindahan Jimin kesekolah Hyungmu, dan
menghindarnya Jimin akan setiap pernyataan cintamu. Bukankah itu sudah
membuktikan kebenaran yang ada? Bahwa dia tidak mempunyai perasaan apapun
padamu” –Kata Jungkook dua
“memang kau yang menyatakan perasaanmu
pertama kali pada Jimin semasa kecil, tapi apakah Jimin harus membalasnya? Jika
dia ingin membalasnya sudah sejak lama seharusnya Jimin membalas perasaanmu”
–Kata Jungkook tiga
“Tenanglah. Kau tidak sendirian. Ada aku yang
siap menemanimu Taehyung-sshi” Kata Jungkook empat
Flashback off
Sejak
kapan dirinya menuruti akan ucapan orang lain selain Jimin. apa karena rasa
sakit hatinya Taehyung jadi mendengarkan ucapan orang asing yang baru
dikenalnya. Kepala Taehyung yang pusing dipijitnya menggunakan salah satu
tangannya. Dipikirkan berapa kalipun. Tidak seharusnya Taehyung berada disini.
Hendak meninggalkan kamarnya dan berpamitan dengan Jungkook. namja cantik itu
muncul dibalik pintu kamar tamu tempat Taehyung istirahat. “kau mau kemana
Taehyung-sshi?”
“aku
akan pulang, tidak seharusnya aku disini. Tapi aku berterimakasih padamu sudah
mau membantuku untuk menenangkan diri”
“ini
sudah sangat malam. Aku baru saja menyiapkan teh hangat untukmu. Lagipula kau
belum menanda tanganinya”
“tanda
tangan?” bingung Taehyung.
Selesai
meletakan teh hangat ke meja kamar Taehyung, Jungkook mendekati lemari kamar
dan membukanya. Cetakan foto, poster Taehyung ada beberapa disana. “kau belum
menanda tangani ini semua”
“aku
bukan artis kenapa kau sampai seperti ini?”
“SM
Art School akan menjadikanmu bintang besar. Appaku yang menjamin itu semua,
jadi sebelum kau mendadak terkenal dan tidak memiliki banyak waktu denganku.
Aku ingin mendapatkan tanda tanganmu dan menjadi fans pertama yang mendapatkan
tanda tanganmu Taehyung-sshi. Kau mengerti?”
“apa
kau gila? Aku baru masuk sekolahnya bukan Agency SM Art School. Itu masih
sangat lama aku tempuh. Jadi tidak perlu
ini semua, lagipula aku masih harus melewati Trainee disana”
“kau
tidak perlu menjalani Trainee disana. Appaku sudah menjadi bagian—” belum
mendengar perkataan Jungkook selesai. Taehyung memilih meninggalkan kamar itu,
membuat Jungkook memanggilnya terus menerus. Jungkook meminta Taehyung untuk
menanda tangani barangnya namun Taehyung menolak. “Namja bernama Jimin itu akan
menjadi milik hyungmu!! Kau hanya membutuhkanku sekarang! Menemanimu adalah
tugasku!”
“aku
fikir kau orang yang waras. Aku tidak tau kenapa selama ini aku selalu
mendengarkan ucapan Jimin saja. tapi ternyata aku sadar orang tidak waras akan
hadir jika aku banyak membuka perasaanku pada orang lain. Aku tidak percaya
pada siapapun selain Jimin. hanya Jimin yang bisa menemaniku. Tidak ada kau
ataupun kau yang lain!”
“aku
hanya tidak ingin kau bersikap acuh setelah terkenal. Lagipula suaramu indah,
aku bahkan ingin masuk ke sekolah itu sama denganmu lewat Appaku. Karena itu
aku meminta Appaku meluluskanmu disana”
“aku
tidak membutuhkan itu Jungkook-ah. Aku masih memiliki harga diri, dan aku yakin
bisa masuk kesana dengan kemampuan ku sendiri” Taehyung mengabulkan keinginan
Jungkook yang tidak hentinya menangis agar ditanda tangani Taehyung. “dan soal
Jimin, hyungku sudah mengakui bahwa dirinyalah yang menyukai Jimin. aku masih
bisa bersaing disana dengan masuk ke SMA yang sama dengan mereka. Katakan pada
Appamu aku mengundurkan diri dari SM Art School”
“apa
itu semua karena ulahku?”
“Ani.
Aku sadar ini semua hanya keegoisanku saja, selagi Jimin tidak mengatakan
perasaan sukanya pada siapapun. Aku masih memiliki kesempatan untuk
mendapatkannya bukan? Terimakasih sudah menemaniku bercerita Jungkook-ah” Taehyung
memberikan senyuman tampannya pada Jungkook kecil nan cantik. Senyuman yang meluluhkan
hati Jungkook semakin membuat Jungkook tidak ingin membiarkan Taehyung pergi
dari kediamannya.
Hujan
turun mengiringi langkah Taehyung yang ingin menemui Jimin dirumahnya. Tidak mencoba
berteduh, harapannya saat ini adalah meminta maaf pada kalimat yang sudah
dirinya lontarkan terhadap Jimin. sesampainya dirumah Park, Taehyung memencet
bel rumah itu dan Eomma Park keluar menggunakan payung. Membukakan pintu pagar
untuk Taehyung, serta membiarkan Taehyung masuk menemui putranya. Dengan pakaian
basah semakin menimbulkan sosok sexy pada tubuh Taehyung yang sebagaian ototnya
timbul dipakaiannya. Tiba di pintu kamar Jimin, Taehyung mengetuk pelan dan
tidak memberikan respon apapun dari dalam. Terpaksa Taehyung mengetuk kamar itu
dengan kencang.
“aku
sudah mendengar ketukanmu sekali SEULKI!!” pukulan yang biasa mengenai kepala
Taehyung ditahan.
“jika
kau mendengarnya sekali, kenapa kau tidak membukakan pintu kamarmu cepat? Dan kau
tau aku yang mengetuk kamarmu? Apa kau sudah mengetahui kedatanganku kesini?”
Jimin
bertahan pada pandangannya yang menduduk kelantai, “seseorang yang mengetuk
sekasar itu hanya dirimu! Eommaku tidak pernah seperti itu dan Jin hyung tidak
pernah kemari! Lalu siapa lagi yang bisa aku tebak!” Tangan Jimin bergetar
sempuran, sekeras apapun Jimin menyembunyikan rasa takutnya. Taehyung pasti
bisa merasakannya. “soal tadi sore aku minta maaf” Kata Taehyung. kepala yang
sebelumnya menunduk, terangkat seketika.
“Nde?”
“aku
tersulut akan emosiku. Aku terbakar perasaan cemburu, Mianhe” Taehyung memeluk
Jimin. tidak perduli sebasah apapun tubuhnya, yang dibutuhkan Taehyung hanya
kehangatan dari tubuh Jimin. “aku ingin menjagamu terus sampai aku benar-benar
bisa mendapatkan jawabanmu. Aku akan ikut masuk ke Bangtan School, bersamamu”
Jimin
melepaskan pelukan Taehyung, “kau tidak perlu melakukan itu Taehyung-ah,
menjadi bintang terkenal adalah cita-citamu dari kecil. jangan korbankan
kesempatanmu seperti ini”
“aku
sudah mengundurkan diri dari SM Art School, dan aku ingin—” Pandangan Taehyung
berkunang-kunang, “bersamamu” tubuhnya pun ambruk bersamaan dengan kata-kata
terakhir yang terdengar ditelinga Jimin.
“TAEHYUNG—AH!
TAEHYUNG-AH IREEONA! KIM TAEHYUNNGGG”
Eomma
Jimin mengambil air hangat dibaskom dan kain kecil untuk mengompres Taehyung
yang pingsan karena demam. pakaian Taehyung yang basah telah diganti Jin dan
Eommanya yang langsung bergegas kerumah Eomma Park, saat mendapatkan Taehyung
pingsan. Jin dan Eomma Kim sangat berterimakasih atas kebaikan yang Eomma Park
lakukan untuk Taehyung. selagi para Eomma berbicara, Jimin dan Jin masih berada
dikamar menemani Taehyung.
“Min-ah...
Ji..Min...-ah” Taehyung Menginggau dan terus memanggil nama Jimin. itu
menjadikan Jimin tidak berdaya dengan perasaannya. Setulus itu Taehyung
mencintainya tapi Jimin masih tidak dapat membalasnya. Jin menyentuh pundak
Jimin, “tenanglah.. Taehyung hanya demam ringan” Ucapnya dengan merengkuh Jimin
kedalam pelukannya. Maksud pelukan itu agar Jimin tenang tanpa memikirkan hal
yang memberatkannya. Tidak ada maksud lain.
-
Keesokan
paginya Taehyung terbangun dan suhu tubuhnya telah kembali normal. Jimin tidur
di Sofa kamar miliknya sendiri dengan selimut yang menggantung hampir jatuh. Taehyung
mengamati tempatnya berada. Dan yang dirinya sadari sekarang adalah tempat ini
Kamar Jimin. ingatan semalam akan dirinya yang jatuh pingsan karena demam dalam
pelukan Jimin sangat terlihat tidak gentle. “bagaimana bisa aku jatuh pingsan
seperti semalam Aissh”. Setelah merasa puas mengingat kejadian sebelumnya,
Taehyung menghampiri Jimin yang terlelap dekat jendela. Menyelimuti namja
mungil itu dengan benar.
“terimakasih
sudah merawatku Jimin-ah” kecupan singkat diberikan pada kening Jimin. dan
kejadian yang membuatnya kesal ikut terlintas.
“aku yang menyukai Jimin. dan aku yang
mendekati Jimin. Jimin tidak menyukaiku ataupun kami saling mencintai. Kau puas
dengan jawabanku”
Taehyung
menggenggam tangan Jimin, mengecupnya kembali. “aku berjanji padamu. Akan terus
berusaha untuk mendapatkanmu. Berusaha agar kau dapat mencintaiku dan membalas
perasaanku Park Jimin”
Jin
yang tadinya akan masuk kekamar mengurungkan niatnya dan pergi meninggalkan
kamar Jimin.
-
-
-Feat Jungkook END


Comments
Post a Comment