BOY IN LUV S2 Chapter 17 // JIN // JIMIN //


Seandainya Sojin bisa memilih, Ia menginginkan Jimin menjalin hubungan dengan Shin Gyu dibandingkan dengan Hongbin yang memiliki Kesamaan Gendre. Tapi janji pada Hongbin untuk merestuinya jika menemukan Jimin tidak dapat dipungkiri. Sojin tidak dapat mengingkari janji tersebut.

*************


Mobil diparkirkan di Lobby Apartemen lama Jimin dan Taehyung dulu tinggal. Mata Jimin berputar memandangi setiap detail tempat tersebut yang sepertinya tidak asing untuknya. Rasa aman dan nyaman Jimin rasakan walau untuk pertama kalinya Ia berada dilokasi tersebut. Sebelumnya tinggal bersama dengan Eommanya dan Hongbin tidak ada perasaan apapun. Lalu perasaan ini? artinya apa? sentuhan pada pundak Jimin menghentikan kegiatannya memandangi sekitar Apartemennya. Taehyung tersenyum pada Jimin, “apa kau baik-baik saja?”

“Nde” Singkat Jimin dengan Malu-malu. Ia tidak bisa mengutarakan perasaan senangnya pada Taehyung sekarang. Akan sulit jika benar Taehyung hanya memanfaatkan Hilang ingatannya untuk menjadi bagian hidupnya. Sesuai yang dikatakan Hongbin sebelum Ia memutuskan pergi dari Kediamannya. Alasan pasti apa jika memang Taehyung berbohong? Hongbin tidak mengatakan apapun. Bahkan Eommanya terlihat tidak menyukai Jimin ketika membahas tentang siapa sebenarnya Taehyung. apa hubungan Taehyung dengan masa lalunya, mengapa Ia begitu merindukan kehadiran Taehyung?

Jin ditemani Minseok memperhatikan Jimin dari jauh, Penolakan dan pukulan yang Jin terima begitu Sakit hingga tak membekas. Minseok sangat ingin turun dari mobil dan ikut membantu mengembalikan Ingatan Jimin. tapi Jin terus menahannya. “Appa ayo turun, aku ingin tau apa yang Hyung semua katakan pada Eomma” Jin menenggelamkan wajahnya yang sedih pada pundak belakang Minseok. Air matanya ingin menetes namun malu untuk diperlihatkan. “Appa. Gwenchana?”

Tok Tok. 

Ketukan dari Jendela Mobil belakang memerintahkan Minseok untuk segera membuka kaca mobilnya. Yoongi menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang didapatinya didalam mobil Rapmon. “seorang namja tinggi, kekar, dan keren berada dititik paling lemah saat kekasihnya tidak mengenali siapa dirinya. Menyedihkan sekali” sindir Yoongi. “sampai kapan kau seperti ini? Huh? Jimin sudah berada disini, bukan kesalahannya jika tidak mengingatmu. Apa bedanya kau dengannya waktu itu? waktu kau tidak mengingatnya. Kalian sama-sama berada di titik kehancuran, buatlah jembatan untuk mempertahankan jarak kalian Kim seok Jin. bukankah dulu kau yang selalu melindunginya? Lalu kenapa kau tidak bisa mengingatkan Apa yang dulu kau dan Jimin perjuangkan?” Lanjut Yoongi berhasil mendapatkan perhatian dari Jin. wajahnya yang tadi ditenggelamkan, kini terangkat. Yoongi memencet kunci pintu mobil tempat Jin duduk, “turun” perintahnya tegas.

“Aku.. tidak bisa. Tatapan Jimin tadi seakan dia tidak menginginkan keberadaanku disampingnya”

“itu karena dia tidak mengingatmu!”

“ITU MENGINGATKANKU PADA SAAT KECELAKAAN! JIMIN MARAH PADAKU!” Jin meluapkan apa yang sedari tadi dipikirkannya, “Jimin memintaku untuk membatalkan pernikahan, Ia mengeluarkan pandangan bencinya padaku!” Yoongi terkejut mendapatkan fakta lagi dari kesaksian Jin sebelum kecelakaan.

“Apa maksudmu? Kenapa Jimin menginginkan pernikahan kalian dibatalkan? Bukankah kalian saling mencintai”

“Jungkook” Keheningan tercipta. “Jungkook masih mencintaiku. Dan Jimin tidak ingin menghancurkan persahabatannya dengan Jungkook”

“Jeon Joon Kook?” Yoongi memutar kembali ingatannya tentang Jungkook, Apakah alasan ini ada sangkut pautnya dengan kecelakaan yang dialami Jin dan Jimin. semua bukti awalnya mengarahkan pada Jungkook sama dengan yang kekasihnya Rapmon pikirkan. Tapi penangkapan malah di alami Jung Ho Seok yang mengaku bahwa dirinya lah yang memutus kabel rem mobil milik Jin. dengan alasan yang masuk akal karena Jungkook masih menyimpan perasaan pada Jin diam-diam. Semakin dipikirkan Yoongi sedikit menemukan titik terang tentang siapakah pelaku yang sebenarnya. Ini semua harus segera diakhiri. Selagi Yoongi masih sibuk dengan pikirannya, Minseok meminta Jin untuk melepaskan pelukannya.

“Appa! Jinjya aku ingin bersama Eomma. Aku.. ingin bersama Eomma” rengek Minseok pada Jin. awalnya Jin tidak membiarkan Minseok bertemu dengan Minseok, tapi semakin Jin menahan kepergian anak angkatnya itu. semakin dirinya akan dianggap kejam oleh Minseok. kedua tangan Jin direntangkan dan pelukan pada Minseokpun terlepas. Minseok langsung berlari kencang memasuki Apartemen untuk mencari kemana Eommana pergi. Jin ingin ikut masuk kedalam tapi melihat Yoongi tidak bergerak mengkhawatirkan Jin untuk ditinggal sendiri.

“Yoongi-ah? Gwenchana?”

....Yoongi tersadar dari alam bawah sadarnya, “Nde. Gwenchana.”

“kau tidak ingin ikut kedalam?”

“Aku baru ingat, ada hal yang harus aku lakukan..” Yoongi meminta Jin untuk menyampaikan pesannya pada Rapmon agar tidak mengkhawatirkannya. Ia pergi tanpa membawa mobil yang kuncinya dipegang kekasihnya Rapmon. sebaiknya pertemuan yang akan Ia lakukan dengan Jungkook tidak memakan orang banyak mengetahuinya. Jin dan Taehyung harus Fokus untuk kesembuhan Jimin. Kepergian Yoongi yang terburu-buru sepertinya tidak wajar. Jin ingin mengikuti tapi bagaimana dengan Jimin?

-

Jin mengikuti Taxi yang Yoongi naiki dengan Taxi lain. Ia tidak tau apa yang membuat perasaannya mengkhawatirkan namja cantik yang berstatus kekasih dari sahabatnya. Sebaiknya Ia menghubungi Rapmon. Jin mencari kontak Rapmon di ponselnya, setelah ditemukan. Ia pun menghubunginya langsung, Memberik tau bahwa Yoongi pergi dan Jin mencoba mengikuti kemana kekasih Rapmon akan pergi. Merekapun bertukar tugas untuk menjaga namja Uke yang mereka cintai, “Aku akan mengawasi Yoongi disini. Maaf sebelumnya aku tidak mengabarimu, karena kekasihmu bergerak cepat dan aku takut tidak bisa mengejarnya” Kata Jin di Telpon.

...Rapmon mencoba mengerti di sebrang Telpon, “Gwenchana. Terimakasih sudah mengkhawatirkan kekasihku. Sebagai gantinya aku akan memberikan kabar setiap perkembangan Jimin disini. Tolong jika terjadi sesuatu pada Yoongi langsung hubungi aku Seulki”

“Aku mengerti” Jin mengakhiri hubungannya dengan Rapmon ketika mengetahui Taxi yang dinaiki Yoongi berhenti disebuah Cafe. Ia menyerahkan beberapa Won dan bergegas memasuki Cafe yang dimasuki Yoongi. Menunggu cukup lama dengan jarak yang dapat Jin pantau, datanglah seseorang yang Jin sendiri Kenali. “Jeon Joon Kook?” bisiknya kecil. Yoongi terlihat sinis memperhatikan senyuman Jungkook yang tertuju padanya. Dari jarak yang Jin sendiri tau pastinya Ia tidak akan dapat mendengar pembicaraan Yoongi dan Jungkook. tapi dari apa yang Jin perhatikan. Sepertinya mereka terlibat pembicaraan yang sangat serius. Jungkook memberikan wajah gugup dan sedih, sedangkan Yoongi seperti sedang memarahinya. Jin benar-benar penasaran dibuatnya.

Mencoba untuk menguping, Jin akhirnya menemukan tempat yang pas untuk mendengar pembicaraan Yoongi dan Jungkook.

“........lalu bagaimana Jimin bisa tau, kau masih menyukai Jin-sshi. jika kau sendiri tidak bertemu dengannya dan mengatakannya!” teriak Yoongi terdengar penuh amarah. “katakan padaku yang sesungguhnya. Apa aku benar dengan tuduhanku?”

Jungkook tidak menjawab, keringat mulai mencair dari pelupuk keningnya. “Aku..aku tidak melakukan apapun. Semua yang kau tuduhkan tidak memiliki unsur bukti yang menguatkan!”

“Jelas-jelas Polisi datang kerumahmu untuk menangkapmu bukan JUNG HO SEOK!” Jin membulatkan kedua matanya ketika mendengar pembelaan Yoongi terhadap Ho Seok, “Polisi mengatakan orang yang terakhir kali bertemu dengan Jimin sebelum kecelakaan itu terjadi adalah kau. Apa kau masih mengelak? Kenapa kau melakukan ini pada Jin dan Jimin? Kau tau Jimin tidak bisa memilih antara persahabatan dengan Cinta! Lalu kenapa kau mengatakan perasaanmu pada Jimin saat pernikahan mereka!!!” lanjut Yoongi membentak Jungkook.

Jungkook mengepalkan kedua tangannya menjadi satu, Perasaan bingung merasuk tidak tau harus membalas apa. tidak ada yang bisa membelanya. Semua yang dikatakan Yoongi benar adanya, dan ketakutan Jungkook menghantui dirinya lagi dan lagi. “Aku tidak melakukan apapun! Jung Ho Seok sudah mengakui kesalahannya! Kenapa kau masih saja menuduhku yang melakukannya!” Balas Jungkook tidak terima.

“Jung Ho Seok melakukan itu karena Ia mencintaimu”

Waktu sekejap berhenti dalam dunia Jungkook. Air mata yang sedari tadi ditahan seakan meleleh begitu saja. “sampai kapan kau membutakan cintamu terhadap Jin-sshi.. sampai kapan kau menyakiti Jimin?”

Senyuman kecil tersimpul dari balik wajah cantik Jungkook, beriringan dengan tawa yang seperkian detik terdengar semakin keras. Air mata yang meleleh dihapuskan dengan tawa yang terdengar menyedihkan dari senyumannya. Yoongi tidak paham arti kebahagiaan yang sebenarnya dalam hidup, tapi Ia sangat paham jika senyuman yang dipaksakan dari hati yang terlukai akan sangat tampak jelas dari suara tawanya. Jungkook masih tertawa tidak berhenti, “kau jangan menjadi orang yang sok benar Min Yoongi. Bukankah kau namja psikopat yang begitu mencintai Seok Jin ku dulu. Kau melukaiku! Melukai orang yang sudah sekarat sepertiku! Tidak ingatkah kau? Kau seharusnya yang patut disalahkan. Karena mungkin saja kau yang berada dibalik ini semua. Kau menuduhku untuk menjerumuskan ku bukan?!”

“kau mengatakan aku yang melakukannya? Apa kau gila? Aku sudah memiliki kekasih dan itu sahabat dari Seok Jin. aku mencintainya. Dan aku tidak akan membiarkanmu membalikan tuduhannya padaku!”

“BERISIK! AKU AKAN MELAPORKANMU—” Siraman air minum yang Jungkook pesan membasahi seluruh tubuhnya. Kedatangan Jin seakan menjadi Bom aktif yang dapat meledak kapan saja didepan Jungkook. Yoongi kaget saat menyaksikan perbuatan Jin terhadap Jungkook. tidak mau bicara, Jin pun menggenggam tangan Yoongi dan mengajaknya pergi dari Cafe tersebut. Namun Jungkook tidak tinggal diam. Untuk memastikan bahwa Jin tidak mendengar pembicaraannya dengan Yoongi, Ia pun mengejar kepergian Jin.

“Jin-sshi! Tunggu...Jin-sshi Tunggu!” Jungkook menarik pakaian yang Jin kenakan untuk menghentikan kepergiannya, “apa yang kau lakukan... lihat pakaianku jadi basah, kau.. tidak sengajakan melakukan itu padaku” Jungkook yang tidak tau ingatan Jin sudah kembali masih terus bicara, “kau tidak mengabariku beberapa hari ini setelah keluar dari rumah sakit, Kemana saja kau sebenarnya Jin-sshi? Apa kau tidak tau aku sangat khawatir ketika mengetahui kau tidak berada dirumahmu”

“Jungkook-ah..”

“Nde?”

“Aku sudah mengingat semua. Ingatan ku sudah kembali”

Jungkook melepaskan genggamannya pada pakaian yang Jin kenakan. Harapan mendapatkan Jin kembali sudah musnah saat mendengar Jin mengatakan bahwa ingatannya telah kembali. Senyuman hampa itu menghiasi wajah Jungkook lagi. Jin tidak memperdulikannya, masih menggandeng Yoongi. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke Apartemen. Dalam perjalanan, Yoongi diam tidak enak pada Jin yang sudah diam-diam mengikuti pertemuannya dengan Jungkook.

“kenapa kau melakukan ini? kenapa kau tidak memberi tahuku terus terang? Aku menghormatimu sebagai kekasih dari sahabat kecilku. Sebagai sahabat Jimin dan sahabatku, Hyung dari Minseok. tapi kenapa tuduhan yang kau katakan pada Jungkook barusan tidak kau beritahu padaku dulu. Kita bisa melaporkannya kepolisi dengan kesaksian yang kupunya, bukti polisi dan analisamu.. semua bisa selesai jika kau mengatakan semua yang kau tau”

“Jin-sshi. Aku melakukan ini untuk Jimin”

Suara Yoongi lembut berbicara tentang Jimin, “Jimin sampai ingin menghentikan pernikahannya demi memperjuangkan hubungannya dengan Jungkook. itu artinya Jimin sangat menyayangi Jungkook sebagai sahabatnya. Sebisa mungkin aku hanya ingin melindungi hubungan itu, melindungi apa yang telah Jimin korbankan”

Jin kesal mengetahui apa yang Yoongi katakan menyentuh hatinya. Sekenal itu Yoongi pada Jimin, semengerti itu Yoongi terhadap Jimin. lalu bagaimana dengan dirinya yang tidak terima hilangnya ingatan Jimin tentang nya. Ia dengan mudahnya menyerah dengan menghindari pandangan Jimin.

.

Hongbin menghubungi seluruh bawahannya agar secepat mungkin menemukan keberadaan Jimin. dengan hadiah yang tidak ternilai untuk siapa saja yang bisa menemukan kekasihnya itu. “Aku tidak akan menyerahkan Chimchimku pada masalalunya!” tatapan tajam Hongbin menyadari papasan mobilnya dengan Taxi yang berlawanan arah dengannya. Tanpa memberikan Rem pada mobilnya, belokan tajampun diberikan Hongbin untuk mengejar Taxi tersebut. Kecepatan pada pedal Gas mobilnya dalam pengejaran Taxi tidak di kurangi Hongbin sedikitpun. Dengan menemukan Namja beramut Hijau kemungkinan besar Ia dapat menemui Jimin bersama dengan teman-teman masalalunya. Terutama Kim Taehyung.

*********

“aku sama sekali tidak mengingat apapun disini, ini semua tidak akan berhasil” Ungkap Jimin yang menyerah dengan keadaan. Minseok mendekati dimana Jimin duduk tidak lupa memberikan senyuman termanis yang dimilikinya. “Eomma. Berusahalah sedikit lagi, Aku yakin Eomma akan bisa mengingat semua”

“berhentilah memanggilku Eomma, Minseok-ah.. aku tidak mungkin melahirkanmu. Aku seorang namja” risih Jimin menghindari kontak dengan Minseok kecilnya. Rapmon menghampiri Minseok yang siap menangis. Meminta Taehyung untuk mengikuti kemana Jimin akan pergi. Merasakan ada yang mengikutinya, Jimin menghentikan langkahnya. Membalikan badannya dan menemukan Taehyung sedang berhenti memandanginya. “Maafkan aku. Aku tidak bisa menjadi apa yang kau inginkan. Aku tidak dapat mengingat sesuatu yang kau ceritakan”

“tidak apa-apa, ingatlah secara perlahan” Senyum Taehyung menenangkan kegelisahan Jimin.“tempat ini adalah tempat mulainya kita hidup hanya berdua. Tanpa orang tua, kita menjalani hidup sesederhana mungkin”

“kau mengatakan jika aku saudara angkat denganmu terus-menerus karena Eommaku menitipkanku dengan keluargamu, Aku sama sekali tidak mengerti Ingatan itu tidak bisa muncul dalam pikiranku. Eommaku tidak ingin menceritakan hal yang berkaitan denganmu. apa alasannya?” Jimin dan Taehyung berjalan menuju lantai bawah, berkeliling mengitari Apartemen yang menjadi saksi bisu tumbuhnya mereka. “Taehyung-ah”

“Nde?”

“Sebenarnya aku tidak perduli ingatanku ini hilang atau tidak, tapi Taehyung-ah berada disamping mu saja aku merasa ini semua sudah cukup. Aku merasa semua baik-baik saja. kedatanganmu dimimpiku salah satu perasaanku yang sangat merindukanmu, aku rasa kita memiliki hubungan yang lebih dari saudara. Apa aku benar?”

Taehyung tidak bisa menjawab pertanyaan yang tertuju untuknya. Sadar tidak didengarkan Taehyung, Jimin berlari menjauhi Taehyung hingga membuat namja itu mengejarnya. Jimin yakin jika Taehyung mengejarnya, itu tandanya Ia memang memiliki hubungan dengannya. pelariannya masuk kedalam sebuah taman yang dulu Jimin dan Taehyung bermain didekat Apartemen mereka. Ia bersembunyi agar Taehyung sulit mencarinya. Panggilan yang berkali-kali Taehyung teriaki tidak memberikan respon pada Jimin yang menghilang. “Jiminnie aku mohon keluarlah! Jiminnie!” taman yang cukup ramai mengharuskan Taehyung mencari Jimin dengan fokus. Jimin bersembunyi di balik semak-semak, tertawa geli memperhatikan Taehyung yang kesulitan mencari dirinya. Tidak sengaja sebuah bola kaki menyentuh kaki Jimin yang tengah bersembunyi.. namja kecil dengan hyungnya mendekati Jimin. Jimin mengambil bola itu, “ini milikmu?”

“Nde, hyung. Maaf jika hyung kena bolaku”

“tidak sakit, Ini kukembalikan” Jimin menyerahkan bola kaki yang dipegangnya dan mengusap kepala 2 namja kecil didepannya. Mereka berdua berlari beriringan dengan bola yang berhasil didapatkannya lagi. Memainkannya dengan riang dan gembira. Beberapa kilatan ingatan masa kecil terlintas. Kepala Jimin terasa sangat sakit ketika berusaha mengingatnya. Tubuhnya pun direbahkan di atas rumput yang bergoyang terkena angin.

-

Jin memberhentikan Taxinya didepan gerbang apartemen bersama dengan Yoongi. Diikuti mobil Hongbin yang menjaga jarak dengan Taxi yang ditumpangi mereka. Tanpa curiga Jin dan Yoongi berjalan memasuki Apartemen menuju kamar dimana mereka mengira Jimin berada disana. Hongbin menelpon sekelompok bawahannya untuk berkumpul di Apartemen yang diberitahukan Hongbin. Selama 15 menit menunggu perkumpulan kelompoknya, Hongbin memulai pergerakan.


[ Apartemen Taehyung ]


Yoongi menjelaskan kepergian mendadaknya pada Rapmon. Lagi dan lagi wajah khawatir Rapmon diberikan atas tindakan kekasih yang dicintainya. Bukan hal yang salah jika Yoongi bertindak, karena hanya Ia lah yang selalu berfikir dahulu sebelum bertindak. Rapmon merengkuh tubuh yang berbeda tinggi jauh darinya, hanya ini yang Rapmon butuhkan. Aroma parfum Yoongi selalu menenangkan setiap pikiran Rapmon yang bermasalah. Minseok memeluk Jin dan bercerita jika Jimin tidak lagi menyayanginya, meminta Jin untuk memulangkan Minseok ke Amerika. Membiarkan Minseok menjadi gelandangan seperti sebelum dirinya mengenal Jin dan Jimin. tangisan itu tidak kunjung berhenti, “Eomma bukan tidak menyayangi minseok-ah percayalah, Eomma hanya butuh waktu untuk mengenali Minseok-ah”

“tapi Eomma memintaku untuk tidak memanggilnya Eomma”

“kau tau Minseok-ah, Eomma bodohmu itu membutuhkan perbaikan dibagian kepalanya. dan setelah perbaikan itu sembuh saat itulah Eommamu akan menyesal mengatakan hal itu padamu. Jadi kau tidak perlu menangis lagi, kita akan segera perbaiki kepala bodoh Eomma mu itu”

“Appa janji? Eomma akan sembuh dan mengingatku lagi?” Minseok mengulurkan jari kelingkingnya, kelingking lain dan besar menghampirinya lalu mengaitkan seperti ikatan. “Appa janji padamu” Jin mengecup kening Minseok.

Yoongi dan Rapmon saling bertatapan, dan tidak lama dari moment manis itu terjadilah kegaduhan di luar kamar Taehyung. Rapmon membuka pintu Apartemen sedikit dan menemukan beberapa namja rapih berjas sedang memeriksa setiap kamar dari celah pintu. Secara perlahan Rapmon menutup pintu Apartemen Kamar Taehyung serta tidak lupa menguncinya.

“apa yang terjadi? Kenapa diluar ramai sekali?” tanya Yoongi penasaran. Rapmon membuka jendela kamar Taehyung dan menemukan banyak namja berjas sedang berjaga disekeliling Apartemen tersebut. Yoongi kembali bertanya, “Nam Joon ada apa? katakan padaku!”

“diluar.. diluar ada banyak penjagaan. Sepertinya Eomma Jimin bergerak dan mengetahui keberadaan kita”

“bagaimana bisa?” Bingung Yoongi. Rapmon tidak mau mengambil resiko dengan adanya anak kecil dalam permasalahan serius ini. Ia menyuruh Minseok masuk kedalam lemari dapur dan tidak membukanya jika tidak ada hyung yang menyuruhnya. Ketukan keras diterima Kamar Taehyung, dan Rapmon sudah memberikan aba-aba pada Jin dan Yoongi untuk siap menghadapinya apapun yang terjadi. Setelah membuka kunci dari dalam, beberapa Namja langsung memasukinya dan perkelahian pun tak terelakan. Banyaknya pasukan yang Hongbin bawa menjadi alasan kalah jumlah atas kekalahan Jin dan kawan-kawan. Yoongi terkena pukulan dan menghancurkan fokus Jin serta Rapmon. Mereka pun tertunduk dilantai dengan pergerakan yang dikunci bawahan Hongbin. Puas dengan tugas anak buahnya, Hongbin langsung mencari kesekeliling Kamar tersebut untuk menemukan Jimin. tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Jimin ataupun Taehyung diruangan itu. semakin kesal, Hongbin menarik kerah kemeja Jin yang menjadi bagian masa lalu terpenting dalam ingatan Jimin. “DIMANA KAU MENYEMBUNYIKAN KEKASIHKU!! DIMANA CHIMCHIMKU!”

“dia bukan Chimchim, dia Park Jimin kekasihku!” Malas beragumen, bawahan Hongbin diperintahkan memukuli Jin hingga Ia mendapatkan jawaban keberadaan Jimin. Rapmon ingin membela tapi tekanan pada 2 namja kekar dibelakangnya tidak bisa menggerakan tubuhnya sedikitpun. Selama pukulan dilakukan terhadap Jin, langkah Hongbin berhenti pada Yoongi dan langsung menjambak rambut hijaunya. “kau! Ini semua berawal darimu, seandainya—”

“YAK SEULKI! TINGGALKAN DIAA! SEKALI SAJA KAU MEMBUATNYA MENETESKAN AIR MATANYA. AKU BERSUMPAH AKAN MENGULITIMU!” Tentu saja itu berhasil membuat Rapmon naik pitam! Hongbin semakin menjambak Yoongi hingga ringisan terdengar dari bibir kecilnya. “Agh—”

“SEUULKIII!!” 2 orang kekar yang mengunci pergerakan Rapmon terdorong kebelakang dan Hongbin pun dipukul nya berkali-kali. seluruh bawahan menghentikan pergerakan Rapmon secara beramai-ramai. Hongbin yang terjatuh berdiri kembali. Merapihkan pakaiannya dari darah yang keluar dari bibirnya. “GELEDAH RUANGAN INI! TEMUKAN JIMIN, CEPAT!” perintahnya secara leluasa. “dan kau..akan tau akibatnya setelah ini” balasnya pada Rapmon yang terikat pada 5 orang yang memeganginya.

“Tuan muda Hongbin, ada namja kecil disini” Lirikan Hongbin memberikan arti tersendiri. Minseok meronta untuk dilepaskan namun Hongbin memerintahkan bawahannya membawa Ia ke mobil. Jin bangun dan hendak menghentikan dengan memegang kaki Hongbin dilantai. Dengan separuh kekuatannya, “jangan..jangan bawa Minseok-ah...jangan membawanya..” Hongbin mengangkat kepala Jin dan berbisik ketelinganya.

“kita lakukan penukaran, kau akan dapatkan Minseokmu dan aku mendapatkan Chimchimku” Hongbin pergi dengan menyandera Minseok. Meninggalkan Jin Rapmon dan Yoongi dengan babak belur.

“SIAAAALLL!” teriak Jin tidak berdaya.

20 menit kepergian Hongbin dengan membawa Minseok, Taehyung dan Jimin datang. Mereka terkejut dengan luka yang diterima teman-temannya serta barang-barang yang berantakan. “apa yang terjadi?” tanya Taehyung meminta penjelasan. Tidak ada yang menjawab dengan menatap lesu kearah Jimin yang masih tidak mengingat apa-apa. “kalian kenapa? Katakan padaku? Apa yang terjadi sampai seperti ini?”

Yoongi tiba-tiba memeluk Jimin, lalu menangis dalam pelukannya. “ada apa?” tanya Jimin dengan suara heran.

Dengan berat hati Yoongi mengatakan, “Minseok-ah.. Dia dibawa namja yang selalu bersamamu”

“Hongbin?”

Anggukan diterima Jimin. Ingin pergi tapi sebuah tangan melarangnya, Jin yang sudah babak belur menghentikan kepergian Jimin dengan sisa tenaganya. “jangan pergi, aku yang akan menyelamatkan Minseok-ah. Kau tetaplah bersama Taehyung” Jimin tidak suka diperintah orang lain terlebih lagi perintah itu dari Jin. Penolakan diberikan lagi untuk Jin, “siapa kau? Berani memerintahku, aku tidak suka diperintah. Apalagi itu darimu”

“Ada apa denganmu! kenapa kau tidak memberikan kesan baik padaku seperti yang lainnya? Kenapa hanya aku yang tidak kau sukai?!”

Jimin mengarahkan pandangannya kearah yang berbeda, “aku tidak tau kenapa. Tapi perasaanku mengatakan bahwa aku hanya tidak menyukaimu saja. aku tidak merasa nyaman berada disampingmu”

“Namja bodoh! Kau boleh tidak mengenaliku tapi setidaknya kau mengenali Minseok-ah!”

“awalnya aku menyukai Minseok-ah tapi saat mengetahui dia memanggimu Appa dan aku Eomma itu membuat perasaanku memburuk. Aku tidak suka dipasangkan denganmu, karena aku menyukai—” Mata Jimin mengarah ketempat Taehyung berdiri. Wajah merah bersemu membuat mereka mengerti tentang perasaan yang di alami Jimin. “—yang jelas aku menyukai orang lain!” lanjutnya.

Taehyung duduk letih di sofa, Kini masalah mereka semua bertambah lagi. Yaitu perasaan cinta Jimin berubah ke Taehyung bukan ke Jin. berjam-jam mereka berdiskusi, mengatur strategi dan rencana untuk penyelamatan Minseok membuahkan hasil sedikit dengan keberhasilan dan kegagalan banding 50%.

“aku ingin istirahat duluan, maaf” Ucap Jimin. Rapmon meminta Yoongi untuk menemani Jimin tidur. Sedangkan Mereka masih fokus dan berjaga malam diruang tamu. Jam menunjukan pukul 2 pagi, rasa lelah melarutkan mereka pada dunia mimpi. Tidak mendengar adanya suara lagi, Jimin membuka kedua matanya dan memastikan keadaan Mereka yang berjaga telah tertidur pulas. Ia mengamil mantel dan berjalan keluar Apartemen. Tapi ternyata kepergiannya tidak sendiri. Jin ikut mendampingi. “Kau?!” Sadar Jimin saat diikuti Jin.

“sudah kukatakan padamu untuk tetap tinggal dengan Taehyung! biar aku yang menyelamatkan Minseok-ah”

“aku kesana untuk pulang, dan mengembalikan Minseokmu. Lagipula ingatanku tidak kembali padahal kalian berjanji akan membantuku. Tapi percuma... semua sekarang terlihat percuma. Ingatanku tidak akan kembali, dan aku tidak ingin menambah beban—”

Jin menarik tangan Jimin dan memasukan tubuh mungil itu ke dalam dada bidang Jin. Jimin meronta untuk dilepaskan tapi pukulan yang diterima Jin sama sekali tidak dirasakan, “kau bukan beban. Kau sama sekali bukan beban kami. Aku merindukanmu, tidak taukah kau hal itu?”

“aku tidak mengenal—”
                                                                                                             
“AKU TIDAK PERDULI KAU MENGENALKU ATAU TIDAK! AKU HANYA INGIN KAU TAU BAHWA AKU SANGAT MERINDUKANMU!” pelukan itu semakin menyesakan pernafasan Jimin. “Taehyung.. kenapa kau malah menyukai hyungmu sendiri, seharusnya ini tidak terjadi”

“lalu apa aku harus menyukaimu—hmp” Jin kembali mengeratkan pelukannya, “NDE! KAU HARUSNYA TERUS MENJAGA PERASAANMU UNTUKKU! Ingatlah aku PARK JIMIN! aku mohon” Jin menguatkan pelukannya agar Jimin tidak lagi pergi dari sisinya.

“aku menyukai Taehyung, dan mimpi itu menguatkan perasaanku padanya. Sekalipun aku memiliki hubungan denganmu dimasa lalu aku yakin itu adalah sebuah kesalahan” pelan-pelan Jimin menggerakan tangannya dan mendorong tubuh Jin untuk melepas pelukan eratnya. Ia membalikan badannya. Membelakangi Jin lalu meletakan kedua tangannya pada bagian tubuh yang terdengar degupan kencang, “hatiku. Hatiku tidak merasa nyaman saat bersamamu, tapi merasa nyaman dengan Taehyung. lagipula aku dan Taehyung hanya saudara angkat, aku yakin hubungan ku dengan Taehyung lebih dari ini. aku merasa sangat bahagia bersama Taehyung. tapi jika kehadiran ku membuatnya kesulitan aku lebih baik menghilang”

“bagaimana dengan Minseok-ah? Namja kecil yang kita temukan di Amerika, saat kau menemaniku melanjutkan pendidikanku disana”

“AKU SUDAH MENGATAKAN PADAMU. AKU TIDAK MEMILIKI INGATAN APA-APA TENTANGMU DAN MINSEOK. YANG AKU INGINKAN HANYA MENGINGAT TAEHYUNG! HANYA TAEHYUNG!”

Sebuah pukulan mendarat di pundak Jin. Mengakibatkan Namja tinggi itu harus kehilangan kesadarannya. Samar-samar terlihat seseorang menyekap Jimin dengan sapu tangan yang Jin yakini tercampur obat bius. Ingin sekali bergerak tapi tubuhnya terasa Sulit digerakan. Darah segar mulai mengalir dari bagian kepala yang terkena pukulan. Masih berusaha untuk tetap sadar Jin bangkit. Mengejar mobil yang telah membawa kekasihnya pergi entah kemana. Kepalanya terasa berat, Tenaga pun tak berhasil menahan tubuh Jin. Ia langsung ambruk tersungkur ditanah dan pingsan ditempat.

-

[ Kediaman Jeon ]


Jungkook menghancurkan setengah dari kamarnya yang tersusun rapih. Barang-barang ber-kaca tak luput hancur berkeping-keping dari amukannya. Ia sudah tak mampu menahan Emosi yang kini menjatuhkan nama baiknya. Jin telah mengingat semua, harapan untuk menyusun masa depan dengan mantan kekasihnya itu terasa lenyap dalam hitungan waktu. Ingin kembali memperbaiki semua kesalahannya namun tidak bisa. Semua orang telah membenci dirinya. Tanpa terkecuali Jung Ho Seok. Namja yang mencintainya hingga mengorbankan kebebasannya untuk menggantikan Jungkook di penjara. Apakah cinta seperti ini? Membutuhkan pengorbanan yang sangat besar untuk mendapatkannya? Lalu Apa salah Jungkook sampai berkorban sepenuh hati, tapi tidak nihil menemukan kebahagiaannya.

“KIM SEEOKK JINNN!” teriaknya terdengar seluruh Maid diluar. Pintu yang dikunci Jungkook dari dalam tidak memberikan izin masuk pada siapapun yang mengkhawatirkannya. Jungkook gila? Mungkin benar. Ia sudah gila karena tidak mau mendengarkan siapapun selain Jin yang mendatanginya.

.

.

[ Kediaman Jeon ]

Jeon Ji Hyun mendengar teriakan, serta hancurnya barang-barang dari kamar Jungkook sudah tidak asing lagi. Mengelus kening tuanya yang sudah tidak dapat berfikir apa-apa lagi bagaimana cara menenangkan cucunya itu. Ji Hyun mengambil obat tuanya didalam laci meja kerjanya. Ia tidak boleh mati di umur segini. Walaupun usianya sudah tidak lagi Muda, dan rentan untuk bertemu kematian. Ji Hyun hanya berharap, menemukan kebahagiaan untuk Jungkook sebelum Ia harus meninggalkan cucunya itu untuk selamanya. Salah satu Maid diperintahkan memasuki ruang kerja Ji Hyun, “Tuan memanggil saya?” Tanya Maid berpakaian lengkap dengan name tag terpasang sebagai identitas.

“Siapkan mobil, aku akan pergi”

“Baik. Tuan”

Ji Hyun pergi ke tempat dimana Hoseok ditahan pihak kepolisian. Ia ingin memastikan bawahan setianya itu baik-baik saja ditempat yang tidak seharusnya. Sesampainya disana Ji Hyun hanya menunggu di ruang yang sudah disiapkan, dan pengawal yang mengurus pertemuannya dengan Hoseok. Saat semua siap, Hoseok keluar dari balik pintu dan tersenyum kearah Ji Hyun yang lebih dulu memberikan senyum kearahnya. “Tuan sedang apa disini? Lebih baik anda dirumah, perbanyak istirahat dan menjaga Jungkook” Hoseok menasehati.


“kau begitu peduli pada Orang tua sepertiku Jung Hoseok. Gomawo. Tapi aku kesini untuk menengok namja yang sudah kuanggap putra ku sendiri. bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Apa kau makan dengan teratur ditempat kecil ini?”

“semua sudah diatur Tuan. Aku hanya mengikuti setiap peraturan disini. Untuk meringankan beban pikiranku” balas Hoseok mencoba menenangkan Ji Hyun. Kaca yang menjadi pembatas obrolan mereka tidak dapat menyembunyikan kesedihan Ji Hyun dari ketelitian Hoseok. “Tuan. Apa ada masalah dengan Jungkook?”

“Jungkook.. aku tidak tau lagi harus melakukan apa padanya, Ia benar-benar sudah diluar kontrol. Beberapa hari ini Jungkook hanya mengurung diri dikamar. Tidak makan ataupun minum. Ia hanya berteriak dan menghancurkan kamarnya. Aku tidak tau dosa apa yang sudah kubuat hingga membuat cucuku seperti sekarang. Aku hanya ingin melihat Jungkook bahagia sebelum Kematian ku datang. tapi sampai sekarang aku belum mendapatkan tanda-tanda bahwa aku telah berhasil memberikan kebahagiaan pada cucu kesayanganku itu”

“Tuan Ji Hyun”

“sejak kecil Ia namja yang sangat berani, ceria, baik, dan selalu mendahulukan kebahagiaan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. tapi semua berubah. Jungkook bukanlah milikku lagi, Jungkook milik emosi nya sekarang. Emosinya yang dapat dipercayai hingga tak mau mendengarkan orang lain selain dirinya sendiri. Kanker otak menyakiti Jungkook, Cintanya menyakiti Jungkook, masa depannya pun kini hancur. Siapa yang dapat aku mintai bantuan selain kau Hoseok-sshi? Siapa lagi!?”

“temui Jin-sshi Tuan, aku yakin dia mau menolong Jungkook” permohonan yang Hoseok ajukan mengingatkan akan kemarahan Jin padanya,

“Jungkook masih mencintaimu. Dan aku tidak ingin kau membuatnya berpaling dariku”

“KAAAU!! BRENGSEK—!” Jin siap melontarkan pukulan kerasnya pada Hoseok, tapi berhasil ditahan Yoongi. “WAEE! KENAPA KAU MELAKUKAN INI!! AKU TIDAK NIAT SEDIKITPUN BERPALING DARI JIMIN! DAN SEKARANG KAU MEMBUATKU HARUS KEHILANGAN JIMINKUUU!”

Akankah Jin mau memenuhi permohonannya ini? “Tuan Ji Hyun bisa mengatakan padanya atas nama persahabatan aku memohon pada Jin untuk membuat Jungkook mengerti atas keadaannya yang tidak seperti dulu. Hanya Jin yang akan Jungkook dengarkan. Aku percaya itu” Ji Hyun mengangguk setuju. Waktu yang terus berlalu menyelesaikan pertemuan mereka di kantor kepolisian. Ji Hyun meminta diantar ke Kediaman Jin namun tidak ditemukan namja yang dicarinya. Sudah beberapa hari Jin tidak pulang kerumah itu yang dikatakan Kepala pelayan rumah Jin. Otak tua Ji Hyun buntu untuk memikirkan hal apa yang baik untuk cucunya sekarang.

-

Jin sadar dari pingsannya, dan menemukan sosok Rapmon Yoongi serta Taehyung didepannya. Kepalanya yang sangat sakit dengan pukulan keras dari batu. Mengakibatkan kepalanya berdarah cukup serius namun tidak terlalu butuh perawatan dokter. Yoongi yang memberikan berban pada kepala Jin yang terluka. Sebisa mungkin Ingatan Jin difokuskan tentang kejadian apa yang mengakibatkan pemukulan terjadi ditengah malam. “Jin kau sudah sadar?!” Teriak Yoongi, membuat perhatian Rapmon dan Taehyung tertuju pada Jin.

“Seulki! Apa kau semalam bersama Jimin? Kami tidak menemukan Jimin di Apartemen” Rapmon langsung bertanya, dan Ingatan Jin langsung memutar ular rekaman kejadian semalam dalam kepalanya.

“JIMINNIE..JIMINNIE DIBAWA SESEORANG!” pernyataan Jin mengaggetkan ketiga namja yang mulai lelah dalam menjalani hidup. “aku harus menyelamatkan Aghhh—!” Kepala Jin berdenyut, efek sebuah benturan keras yang didapatkannya semalam.  Yoongi membantu Jin untuk duduk pada Sofanya lagi. Taehyung dan Rapmon kewalahan menghadapi permasalahan yang ada. Jimin dibawa, tapi kenapa Minseok tidak dikembalikan? Apakah bukan Hongbin pelakunya atau Ini sebuah ancaman? Tidak lama mereka berfikir sebuah pesan diterima Yoongi dari ponselnya,

From : Namja Seulki

Temui aku di Taman Namsan untuk melakukan penukaran atas Chimchimku dan Minseok kalian sore ini pukul 5.

Yoongi membacanya dan tidak tau harus mengatakan apa pada ketiga namja Seme yang bersamanya, bahwa bukan Hongbin yang menculik Jimin. Ini jadi semakin tidak masuk akal. Rapmon mendekati Yoongi yang gelagapan tidak karuan. “ada apa Chagi? Pesan dari siapa?”

“Namja itu.. Namja yang membawa Minseok bukan orang yang menculik Jimin” suara Yoongi yang terdengar serius mulai membuat kepanikan pada suasana di ruangan. 



To becontinue ...

Comments

Popular Posts