BOY IN LUV S2 Chapter 17 // JIN // JIMIN //
Seandainya Sojin bisa memilih, Ia
menginginkan Jimin menjalin hubungan dengan Shin Gyu dibandingkan dengan
Hongbin yang memiliki Kesamaan Gendre. Tapi janji pada Hongbin untuk
merestuinya jika menemukan Jimin tidak dapat dipungkiri. Sojin tidak dapat
mengingkari janji tersebut.
Mobil diparkirkan di Lobby Apartemen lama Jimin dan
Taehyung dulu tinggal. Mata Jimin berputar memandangi setiap detail tempat
tersebut yang sepertinya tidak asing untuknya. Rasa aman dan nyaman Jimin
rasakan walau untuk pertama kalinya Ia berada dilokasi tersebut. Sebelumnya
tinggal bersama dengan Eommanya dan Hongbin tidak ada perasaan apapun. Lalu
perasaan ini? artinya apa? sentuhan pada pundak Jimin menghentikan kegiatannya
memandangi sekitar Apartemennya. Taehyung tersenyum pada Jimin, “apa kau
baik-baik saja?”
“Nde” Singkat Jimin dengan Malu-malu. Ia tidak bisa
mengutarakan perasaan senangnya pada Taehyung sekarang. Akan sulit jika benar
Taehyung hanya memanfaatkan Hilang ingatannya untuk menjadi bagian hidupnya.
Sesuai yang dikatakan Hongbin sebelum Ia memutuskan pergi dari Kediamannya. Alasan
pasti apa jika memang Taehyung berbohong? Hongbin tidak mengatakan apapun.
Bahkan Eommanya terlihat tidak menyukai Jimin ketika membahas tentang siapa
sebenarnya Taehyung. apa hubungan Taehyung dengan masa lalunya, mengapa Ia
begitu merindukan kehadiran Taehyung?
Jin ditemani Minseok memperhatikan Jimin dari jauh,
Penolakan dan pukulan yang Jin terima begitu Sakit hingga tak membekas. Minseok
sangat ingin turun dari mobil dan ikut membantu mengembalikan Ingatan
Jimin. tapi Jin terus menahannya. “Appa ayo turun, aku ingin tau apa yang Hyung
semua katakan pada Eomma” Jin menenggelamkan wajahnya yang sedih pada pundak
belakang Minseok. Air matanya ingin menetes namun malu untuk diperlihatkan.
“Appa. Gwenchana?”
Tok Tok.
Ketukan dari Jendela Mobil belakang memerintahkan
Minseok untuk segera membuka kaca mobilnya. Yoongi menggelengkan kepalanya
tidak percaya dengan apa yang didapatinya didalam mobil Rapmon. “seorang namja
tinggi, kekar, dan keren berada dititik paling lemah saat kekasihnya tidak
mengenali siapa dirinya. Menyedihkan sekali” sindir Yoongi. “sampai kapan kau
seperti ini? Huh? Jimin sudah berada disini, bukan kesalahannya jika tidak
mengingatmu. Apa bedanya kau dengannya waktu itu? waktu kau tidak mengingatnya.
Kalian sama-sama berada di titik kehancuran, buatlah jembatan untuk
mempertahankan jarak kalian Kim seok Jin. bukankah dulu kau yang selalu
melindunginya? Lalu kenapa kau tidak bisa mengingatkan Apa yang dulu kau dan
Jimin perjuangkan?” Lanjut Yoongi berhasil mendapatkan perhatian dari Jin.
wajahnya yang tadi ditenggelamkan, kini terangkat. Yoongi memencet kunci pintu
mobil tempat Jin duduk, “turun” perintahnya tegas.
“Aku.. tidak bisa. Tatapan Jimin tadi seakan dia tidak
menginginkan keberadaanku disampingnya”
“itu karena dia tidak mengingatmu!”
“ITU MENGINGATKANKU PADA SAAT KECELAKAAN! JIMIN MARAH
PADAKU!” Jin meluapkan apa yang sedari tadi dipikirkannya, “Jimin memintaku
untuk membatalkan pernikahan, Ia mengeluarkan pandangan bencinya padaku!”
Yoongi terkejut mendapatkan fakta lagi dari kesaksian Jin sebelum kecelakaan.
“Apa maksudmu? Kenapa Jimin menginginkan pernikahan kalian
dibatalkan? Bukankah kalian saling mencintai”
“Jungkook” Keheningan tercipta. “Jungkook masih
mencintaiku. Dan Jimin tidak ingin menghancurkan persahabatannya dengan
Jungkook”
“Jeon Joon Kook?” Yoongi memutar kembali ingatannya tentang
Jungkook, Apakah alasan ini ada sangkut pautnya dengan kecelakaan yang dialami
Jin dan Jimin. semua bukti awalnya mengarahkan pada Jungkook sama dengan yang
kekasihnya Rapmon pikirkan. Tapi penangkapan malah di alami Jung Ho Seok yang
mengaku bahwa dirinya lah yang memutus kabel rem mobil milik Jin. dengan alasan
yang masuk akal karena Jungkook masih menyimpan perasaan pada Jin diam-diam.
Semakin dipikirkan Yoongi sedikit menemukan titik terang tentang siapakah
pelaku yang sebenarnya. Ini semua harus segera diakhiri. Selagi Yoongi masih
sibuk dengan pikirannya, Minseok meminta Jin untuk melepaskan pelukannya.
“Appa! Jinjya aku ingin bersama Eomma. Aku.. ingin bersama
Eomma” rengek Minseok pada Jin. awalnya Jin tidak membiarkan Minseok bertemu
dengan Minseok, tapi semakin Jin menahan kepergian anak angkatnya itu. semakin
dirinya akan dianggap kejam oleh Minseok. kedua tangan Jin direntangkan dan
pelukan pada Minseokpun terlepas. Minseok langsung berlari kencang memasuki
Apartemen untuk mencari kemana Eommana pergi. Jin ingin ikut masuk kedalam tapi
melihat Yoongi tidak bergerak mengkhawatirkan Jin untuk ditinggal sendiri.
“Yoongi-ah? Gwenchana?”
....Yoongi tersadar dari alam bawah sadarnya, “Nde.
Gwenchana.”
“kau tidak ingin ikut kedalam?”
“Aku baru ingat, ada hal yang harus aku lakukan..” Yoongi
meminta Jin untuk menyampaikan pesannya pada Rapmon agar tidak
mengkhawatirkannya. Ia pergi tanpa membawa mobil yang kuncinya dipegang kekasihnya
Rapmon. sebaiknya pertemuan yang akan Ia lakukan dengan Jungkook tidak memakan
orang banyak mengetahuinya. Jin dan Taehyung harus Fokus untuk kesembuhan
Jimin. Kepergian Yoongi yang terburu-buru sepertinya tidak wajar. Jin ingin
mengikuti tapi bagaimana dengan Jimin?
-
Jin mengikuti Taxi yang Yoongi naiki dengan Taxi lain. Ia
tidak tau apa yang membuat perasaannya mengkhawatirkan namja cantik yang
berstatus kekasih dari sahabatnya. Sebaiknya Ia menghubungi Rapmon. Jin mencari
kontak Rapmon di ponselnya, setelah ditemukan. Ia pun menghubunginya langsung,
Memberik tau bahwa Yoongi pergi dan Jin mencoba mengikuti kemana kekasih Rapmon
akan pergi. Merekapun bertukar tugas untuk menjaga namja Uke yang mereka
cintai, “Aku akan mengawasi Yoongi disini. Maaf sebelumnya aku tidak
mengabarimu, karena kekasihmu bergerak cepat dan aku takut tidak bisa
mengejarnya” Kata Jin di Telpon.
...Rapmon mencoba
mengerti di sebrang Telpon, “Gwenchana. Terimakasih sudah mengkhawatirkan
kekasihku. Sebagai gantinya aku akan memberikan kabar setiap perkembangan Jimin
disini. Tolong jika terjadi sesuatu pada Yoongi langsung hubungi aku Seulki”
“Aku mengerti” Jin mengakhiri hubungannya dengan Rapmon
ketika mengetahui Taxi yang dinaiki Yoongi berhenti disebuah Cafe. Ia
menyerahkan beberapa Won dan bergegas memasuki Cafe yang dimasuki Yoongi.
Menunggu cukup lama dengan jarak yang dapat Jin pantau, datanglah seseorang
yang Jin sendiri Kenali. “Jeon Joon Kook?” bisiknya kecil. Yoongi terlihat
sinis memperhatikan senyuman Jungkook yang tertuju padanya. Dari jarak yang Jin
sendiri tau pastinya Ia tidak akan dapat mendengar pembicaraan Yoongi dan
Jungkook. tapi dari apa yang Jin perhatikan. Sepertinya mereka terlibat
pembicaraan yang sangat serius. Jungkook memberikan wajah gugup dan sedih,
sedangkan Yoongi seperti sedang memarahinya. Jin benar-benar penasaran
dibuatnya.
Mencoba untuk menguping, Jin akhirnya menemukan tempat yang
pas untuk mendengar pembicaraan Yoongi dan Jungkook.
“........lalu bagaimana Jimin bisa tau, kau masih menyukai
Jin-sshi. jika kau sendiri tidak bertemu dengannya dan mengatakannya!” teriak
Yoongi terdengar penuh amarah. “katakan padaku yang sesungguhnya. Apa aku benar
dengan tuduhanku?”
Jungkook tidak menjawab, keringat mulai mencair dari
pelupuk keningnya. “Aku..aku tidak melakukan apapun. Semua yang kau tuduhkan
tidak memiliki unsur bukti yang menguatkan!”
“Jelas-jelas Polisi datang kerumahmu untuk menangkapmu
bukan JUNG HO SEOK!” Jin membulatkan kedua matanya ketika mendengar pembelaan
Yoongi terhadap Ho Seok, “Polisi mengatakan orang yang terakhir kali bertemu
dengan Jimin sebelum kecelakaan itu terjadi adalah kau. Apa kau masih mengelak?
Kenapa kau melakukan ini pada Jin dan Jimin? Kau tau Jimin tidak bisa memilih
antara persahabatan dengan Cinta! Lalu kenapa kau mengatakan perasaanmu pada
Jimin saat pernikahan mereka!!!” lanjut Yoongi membentak Jungkook.
Jungkook mengepalkan kedua tangannya menjadi satu, Perasaan
bingung merasuk tidak tau harus membalas apa. tidak ada yang bisa membelanya.
Semua yang dikatakan Yoongi benar adanya, dan ketakutan Jungkook menghantui
dirinya lagi dan lagi. “Aku tidak melakukan apapun! Jung Ho Seok sudah mengakui
kesalahannya! Kenapa kau masih saja menuduhku yang melakukannya!” Balas
Jungkook tidak terima.
“Jung Ho Seok melakukan itu karena Ia mencintaimu”
Waktu sekejap berhenti dalam dunia Jungkook. Air mata yang
sedari tadi ditahan seakan meleleh begitu saja. “sampai kapan kau membutakan
cintamu terhadap Jin-sshi.. sampai kapan kau menyakiti Jimin?”
Senyuman kecil tersimpul dari balik wajah cantik Jungkook,
beriringan dengan tawa yang seperkian detik terdengar semakin keras. Air mata
yang meleleh dihapuskan dengan tawa yang terdengar menyedihkan dari
senyumannya. Yoongi tidak paham arti kebahagiaan yang sebenarnya dalam hidup,
tapi Ia sangat paham jika senyuman yang dipaksakan dari hati yang terlukai akan
sangat tampak jelas dari suara tawanya. Jungkook masih tertawa tidak berhenti,
“kau jangan menjadi orang yang sok benar Min Yoongi. Bukankah kau namja
psikopat yang begitu mencintai Seok Jin ku dulu. Kau melukaiku! Melukai orang
yang sudah sekarat sepertiku! Tidak ingatkah kau? Kau seharusnya yang patut
disalahkan. Karena mungkin saja kau yang berada dibalik ini semua. Kau
menuduhku untuk menjerumuskan ku bukan?!”
“kau mengatakan aku yang melakukannya? Apa kau gila? Aku
sudah memiliki kekasih dan itu sahabat dari Seok Jin. aku mencintainya. Dan aku
tidak akan membiarkanmu membalikan tuduhannya padaku!”
“BERISIK! AKU AKAN MELAPORKANMU—” Siraman air minum yang
Jungkook pesan membasahi seluruh tubuhnya. Kedatangan Jin seakan menjadi Bom
aktif yang dapat meledak kapan saja didepan Jungkook. Yoongi kaget saat
menyaksikan perbuatan Jin terhadap Jungkook. tidak mau bicara, Jin pun
menggenggam tangan Yoongi dan mengajaknya pergi dari Cafe tersebut. Namun
Jungkook tidak tinggal diam. Untuk memastikan bahwa Jin tidak mendengar
pembicaraannya dengan Yoongi, Ia pun mengejar kepergian Jin.
“Jin-sshi! Tunggu...Jin-sshi Tunggu!” Jungkook menarik
pakaian yang Jin kenakan untuk menghentikan kepergiannya, “apa yang kau
lakukan... lihat pakaianku jadi basah, kau.. tidak sengajakan melakukan itu
padaku” Jungkook yang tidak tau ingatan Jin sudah kembali masih terus bicara,
“kau tidak mengabariku beberapa hari ini setelah keluar dari rumah sakit,
Kemana saja kau sebenarnya Jin-sshi? Apa kau tidak tau aku sangat khawatir
ketika mengetahui kau tidak berada dirumahmu”
“Jungkook-ah..”
“Nde?”
“Aku sudah mengingat semua. Ingatan ku sudah kembali”
Jungkook melepaskan genggamannya pada pakaian yang Jin
kenakan. Harapan mendapatkan Jin kembali sudah musnah saat mendengar Jin
mengatakan bahwa ingatannya telah kembali. Senyuman hampa itu menghiasi wajah
Jungkook lagi. Jin tidak memperdulikannya, masih menggandeng Yoongi. Mereka pun
memutuskan untuk pulang ke Apartemen. Dalam perjalanan, Yoongi diam tidak enak
pada Jin yang sudah diam-diam mengikuti pertemuannya dengan Jungkook.
“kenapa kau melakukan ini? kenapa kau tidak memberi tahuku
terus terang? Aku menghormatimu sebagai kekasih dari sahabat kecilku. Sebagai
sahabat Jimin dan sahabatku, Hyung dari Minseok. tapi kenapa tuduhan yang kau
katakan pada Jungkook barusan tidak kau beritahu padaku dulu. Kita bisa
melaporkannya kepolisi dengan kesaksian yang kupunya, bukti polisi dan
analisamu.. semua bisa selesai jika kau mengatakan semua yang kau tau”
“Jin-sshi. Aku melakukan ini untuk Jimin”
Suara Yoongi lembut berbicara tentang Jimin, “Jimin sampai
ingin menghentikan pernikahannya demi memperjuangkan hubungannya dengan
Jungkook. itu artinya Jimin sangat menyayangi Jungkook sebagai sahabatnya.
Sebisa mungkin aku hanya ingin melindungi hubungan itu, melindungi apa yang
telah Jimin korbankan”
Jin kesal mengetahui apa yang Yoongi katakan menyentuh
hatinya. Sekenal itu Yoongi pada Jimin, semengerti itu Yoongi terhadap Jimin.
lalu bagaimana dengan dirinya yang tidak terima hilangnya ingatan Jimin tentang
nya. Ia dengan mudahnya menyerah dengan menghindari pandangan Jimin.
.
Hongbin menghubungi seluruh bawahannya agar secepat mungkin
menemukan keberadaan Jimin. dengan hadiah yang tidak ternilai untuk siapa saja
yang bisa menemukan kekasihnya itu. “Aku tidak akan menyerahkan Chimchimku pada
masalalunya!” tatapan tajam Hongbin menyadari papasan mobilnya dengan Taxi yang
berlawanan arah dengannya. Tanpa memberikan Rem pada mobilnya, belokan tajampun
diberikan Hongbin untuk mengejar Taxi tersebut. Kecepatan pada pedal Gas
mobilnya dalam pengejaran Taxi tidak di kurangi Hongbin sedikitpun. Dengan
menemukan Namja beramut Hijau kemungkinan besar Ia dapat menemui Jimin bersama
dengan teman-teman masalalunya. Terutama Kim Taehyung.
*********
“aku sama sekali tidak mengingat apapun disini, ini semua
tidak akan berhasil” Ungkap Jimin yang menyerah dengan keadaan. Minseok
mendekati dimana Jimin duduk tidak lupa memberikan senyuman termanis yang
dimilikinya. “Eomma. Berusahalah sedikit lagi, Aku yakin Eomma akan bisa
mengingat semua”
“berhentilah memanggilku Eomma, Minseok-ah.. aku tidak
mungkin melahirkanmu. Aku seorang namja” risih Jimin menghindari kontak dengan
Minseok kecilnya. Rapmon menghampiri Minseok yang siap menangis. Meminta
Taehyung untuk mengikuti kemana Jimin akan pergi. Merasakan ada yang
mengikutinya, Jimin menghentikan langkahnya. Membalikan badannya dan menemukan
Taehyung sedang berhenti memandanginya. “Maafkan aku. Aku tidak bisa menjadi
apa yang kau inginkan. Aku tidak dapat mengingat sesuatu yang kau ceritakan”
“tidak apa-apa, ingatlah secara perlahan” Senyum Taehyung
menenangkan kegelisahan Jimin.“tempat ini adalah tempat mulainya kita hidup
hanya berdua. Tanpa orang tua, kita menjalani hidup sesederhana mungkin”
“kau mengatakan jika aku saudara angkat denganmu
terus-menerus karena Eommaku menitipkanku dengan keluargamu, Aku sama sekali
tidak mengerti Ingatan itu tidak bisa muncul dalam pikiranku. Eommaku tidak
ingin menceritakan hal yang berkaitan denganmu. apa alasannya?” Jimin dan
Taehyung berjalan menuju lantai bawah, berkeliling mengitari Apartemen yang
menjadi saksi bisu tumbuhnya mereka. “Taehyung-ah”
“Nde?”
“Sebenarnya aku tidak perduli ingatanku ini hilang atau tidak,
tapi Taehyung-ah berada disamping mu saja aku merasa ini semua sudah cukup. Aku
merasa semua baik-baik saja. kedatanganmu dimimpiku salah satu perasaanku yang
sangat merindukanmu, aku rasa kita memiliki hubungan yang lebih dari saudara.
Apa aku benar?”
Taehyung tidak bisa menjawab pertanyaan yang tertuju
untuknya. Sadar tidak didengarkan Taehyung, Jimin berlari menjauhi Taehyung
hingga membuat namja itu mengejarnya. Jimin yakin jika Taehyung mengejarnya,
itu tandanya Ia memang memiliki hubungan dengannya. pelariannya masuk kedalam
sebuah taman yang dulu Jimin dan Taehyung bermain didekat Apartemen mereka. Ia
bersembunyi agar Taehyung sulit mencarinya. Panggilan yang berkali-kali
Taehyung teriaki tidak memberikan respon pada Jimin yang menghilang. “Jiminnie
aku mohon keluarlah! Jiminnie!” taman yang cukup ramai mengharuskan Taehyung
mencari Jimin dengan fokus. Jimin bersembunyi di balik semak-semak, tertawa
geli memperhatikan Taehyung yang kesulitan mencari dirinya. Tidak sengaja
sebuah bola kaki menyentuh kaki Jimin yang tengah bersembunyi.. namja kecil
dengan hyungnya mendekati Jimin. Jimin mengambil bola itu, “ini milikmu?”
“Nde, hyung. Maaf jika hyung kena bolaku”
“tidak sakit, Ini kukembalikan” Jimin menyerahkan bola kaki
yang dipegangnya dan mengusap kepala 2 namja kecil didepannya. Mereka berdua
berlari beriringan dengan bola yang berhasil didapatkannya lagi. Memainkannya dengan
riang dan gembira. Beberapa kilatan ingatan masa kecil terlintas. Kepala Jimin
terasa sangat sakit ketika berusaha mengingatnya. Tubuhnya pun direbahkan di
atas rumput yang bergoyang terkena angin.
-
Jin memberhentikan Taxinya didepan gerbang apartemen
bersama dengan Yoongi. Diikuti mobil Hongbin yang menjaga jarak dengan Taxi
yang ditumpangi mereka. Tanpa curiga Jin dan Yoongi berjalan memasuki Apartemen
menuju kamar dimana mereka mengira Jimin berada disana. Hongbin menelpon
sekelompok bawahannya untuk berkumpul di Apartemen yang diberitahukan Hongbin.
Selama 15 menit menunggu perkumpulan kelompoknya, Hongbin memulai pergerakan.
[ Apartemen Taehyung ]
Yoongi menjelaskan kepergian mendadaknya pada Rapmon. Lagi
dan lagi wajah khawatir Rapmon diberikan atas tindakan kekasih yang
dicintainya. Bukan hal yang salah jika Yoongi bertindak, karena hanya Ia lah
yang selalu berfikir dahulu sebelum bertindak. Rapmon merengkuh tubuh yang
berbeda tinggi jauh darinya, hanya ini yang Rapmon butuhkan. Aroma parfum
Yoongi selalu menenangkan setiap pikiran Rapmon yang bermasalah. Minseok
memeluk Jin dan bercerita jika Jimin tidak lagi menyayanginya, meminta Jin
untuk memulangkan Minseok ke Amerika. Membiarkan Minseok menjadi gelandangan
seperti sebelum dirinya mengenal Jin dan Jimin. tangisan itu tidak kunjung
berhenti, “Eomma bukan tidak menyayangi minseok-ah percayalah, Eomma hanya butuh
waktu untuk mengenali Minseok-ah”
“tapi Eomma memintaku untuk tidak memanggilnya Eomma”
“kau tau Minseok-ah, Eomma bodohmu itu membutuhkan
perbaikan dibagian kepalanya. dan setelah perbaikan itu sembuh saat itulah
Eommamu akan menyesal mengatakan hal itu padamu. Jadi kau tidak perlu menangis
lagi, kita akan segera perbaiki kepala bodoh Eomma mu itu”
“Appa janji? Eomma akan sembuh dan mengingatku lagi?”
Minseok mengulurkan jari kelingkingnya, kelingking lain dan besar
menghampirinya lalu mengaitkan seperti ikatan. “Appa janji padamu” Jin mengecup
kening Minseok.
Yoongi dan Rapmon saling bertatapan, dan tidak lama dari
moment manis itu terjadilah kegaduhan di luar kamar Taehyung. Rapmon membuka
pintu Apartemen sedikit dan menemukan beberapa namja rapih berjas sedang
memeriksa setiap kamar dari celah pintu. Secara perlahan Rapmon menutup pintu
Apartemen Kamar Taehyung serta tidak lupa menguncinya.
“apa yang terjadi? Kenapa diluar ramai sekali?” tanya
Yoongi penasaran. Rapmon membuka jendela kamar Taehyung dan menemukan banyak
namja berjas sedang berjaga disekeliling Apartemen tersebut. Yoongi kembali
bertanya, “Nam Joon ada apa? katakan padaku!”
“diluar.. diluar ada banyak penjagaan. Sepertinya Eomma
Jimin bergerak dan mengetahui keberadaan kita”
“bagaimana bisa?” Bingung Yoongi. Rapmon tidak mau
mengambil resiko dengan adanya anak kecil dalam permasalahan serius ini. Ia
menyuruh Minseok masuk kedalam lemari dapur dan tidak membukanya jika tidak ada
hyung yang menyuruhnya. Ketukan keras diterima Kamar Taehyung, dan Rapmon sudah
memberikan aba-aba pada Jin dan Yoongi untuk siap menghadapinya apapun yang
terjadi. Setelah membuka kunci dari dalam, beberapa Namja langsung memasukinya
dan perkelahian pun tak terelakan. Banyaknya pasukan yang Hongbin bawa menjadi
alasan kalah jumlah atas kekalahan Jin dan kawan-kawan. Yoongi terkena pukulan
dan menghancurkan fokus Jin serta Rapmon. Mereka pun tertunduk dilantai dengan
pergerakan yang dikunci bawahan Hongbin. Puas dengan tugas anak buahnya,
Hongbin langsung mencari kesekeliling Kamar tersebut untuk menemukan Jimin.
tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Jimin ataupun Taehyung diruangan itu.
semakin kesal, Hongbin menarik kerah kemeja Jin yang menjadi bagian masa lalu
terpenting dalam ingatan Jimin. “DIMANA KAU MENYEMBUNYIKAN KEKASIHKU!! DIMANA
CHIMCHIMKU!”
“dia bukan Chimchim, dia Park Jimin kekasihku!” Malas
beragumen, bawahan Hongbin diperintahkan memukuli Jin hingga Ia mendapatkan
jawaban keberadaan Jimin. Rapmon ingin membela tapi tekanan pada 2 namja kekar
dibelakangnya tidak bisa menggerakan tubuhnya sedikitpun. Selama pukulan
dilakukan terhadap Jin, langkah Hongbin berhenti pada Yoongi dan langsung
menjambak rambut hijaunya. “kau! Ini semua berawal darimu, seandainya—”
“YAK SEULKI! TINGGALKAN DIAA! SEKALI SAJA KAU MEMBUATNYA
MENETESKAN AIR MATANYA. AKU BERSUMPAH AKAN MENGULITIMU!” Tentu saja itu
berhasil membuat Rapmon naik pitam! Hongbin semakin menjambak Yoongi hingga
ringisan terdengar dari bibir kecilnya. “Agh—”
“SEUULKIII!!” 2 orang kekar yang mengunci pergerakan Rapmon
terdorong kebelakang dan Hongbin pun dipukul nya berkali-kali. seluruh bawahan
menghentikan pergerakan Rapmon secara beramai-ramai. Hongbin yang terjatuh
berdiri kembali. Merapihkan pakaiannya dari darah yang keluar dari bibirnya.
“GELEDAH RUANGAN INI! TEMUKAN JIMIN, CEPAT!” perintahnya secara leluasa. “dan
kau..akan tau akibatnya setelah ini” balasnya pada Rapmon yang terikat pada 5
orang yang memeganginya.
“Tuan muda Hongbin, ada namja kecil disini” Lirikan Hongbin
memberikan arti tersendiri. Minseok meronta untuk dilepaskan namun Hongbin
memerintahkan bawahannya membawa Ia ke mobil. Jin bangun dan hendak
menghentikan dengan memegang kaki Hongbin dilantai. Dengan separuh kekuatannya,
“jangan..jangan bawa Minseok-ah...jangan membawanya..” Hongbin mengangkat
kepala Jin dan berbisik ketelinganya.
“kita lakukan penukaran, kau akan dapatkan Minseokmu dan
aku mendapatkan Chimchimku” Hongbin pergi dengan menyandera Minseok.
Meninggalkan Jin Rapmon dan Yoongi dengan babak belur.
“SIAAAALLL!” teriak Jin tidak berdaya.
20 menit kepergian Hongbin dengan membawa Minseok, Taehyung
dan Jimin datang. Mereka terkejut dengan luka yang diterima teman-temannya
serta barang-barang yang berantakan. “apa yang terjadi?” tanya Taehyung meminta
penjelasan. Tidak ada yang menjawab dengan menatap lesu kearah Jimin yang masih
tidak mengingat apa-apa. “kalian kenapa? Katakan padaku? Apa yang terjadi
sampai seperti ini?”
Yoongi tiba-tiba memeluk Jimin, lalu menangis dalam
pelukannya. “ada apa?” tanya Jimin dengan suara heran.
Dengan berat hati Yoongi mengatakan, “Minseok-ah.. Dia
dibawa namja yang selalu bersamamu”
“Hongbin?”
Anggukan diterima Jimin. Ingin pergi tapi sebuah tangan
melarangnya, Jin yang sudah babak belur menghentikan kepergian Jimin dengan
sisa tenaganya. “jangan pergi, aku yang akan menyelamatkan Minseok-ah. Kau
tetaplah bersama Taehyung” Jimin tidak suka diperintah orang lain terlebih lagi
perintah itu dari Jin. Penolakan diberikan lagi untuk Jin, “siapa kau? Berani
memerintahku, aku tidak suka diperintah. Apalagi itu darimu”
“Ada apa denganmu! kenapa kau tidak memberikan kesan baik
padaku seperti yang lainnya? Kenapa hanya aku yang tidak kau sukai?!”
Jimin mengarahkan pandangannya kearah yang berbeda, “aku
tidak tau kenapa. Tapi perasaanku mengatakan bahwa aku hanya tidak menyukaimu
saja. aku tidak merasa nyaman berada disampingmu”
“Namja bodoh! Kau boleh tidak mengenaliku tapi setidaknya
kau mengenali Minseok-ah!”
“awalnya aku menyukai Minseok-ah tapi saat mengetahui dia
memanggimu Appa dan aku Eomma itu membuat perasaanku memburuk. Aku tidak suka
dipasangkan denganmu, karena aku menyukai—” Mata Jimin mengarah ketempat
Taehyung berdiri. Wajah merah bersemu membuat mereka mengerti tentang perasaan
yang di alami Jimin. “—yang jelas aku menyukai orang lain!” lanjutnya.
Taehyung duduk letih di sofa, Kini masalah mereka semua
bertambah lagi. Yaitu perasaan cinta Jimin berubah ke Taehyung bukan ke Jin.
berjam-jam mereka berdiskusi, mengatur strategi dan rencana untuk penyelamatan
Minseok membuahkan hasil sedikit dengan keberhasilan dan kegagalan banding 50%.
“aku ingin istirahat duluan, maaf” Ucap Jimin. Rapmon
meminta Yoongi untuk menemani Jimin tidur. Sedangkan Mereka masih fokus dan
berjaga malam diruang tamu. Jam menunjukan pukul 2 pagi, rasa lelah melarutkan
mereka pada dunia mimpi. Tidak mendengar adanya suara lagi, Jimin membuka kedua
matanya dan memastikan keadaan Mereka yang berjaga telah tertidur pulas. Ia
mengamil mantel dan berjalan keluar Apartemen. Tapi ternyata kepergiannya tidak
sendiri. Jin ikut mendampingi. “Kau?!” Sadar Jimin saat diikuti Jin.
“sudah kukatakan padamu untuk tetap tinggal dengan
Taehyung! biar aku yang menyelamatkan Minseok-ah”
“aku kesana untuk pulang, dan mengembalikan Minseokmu.
Lagipula ingatanku tidak kembali padahal kalian berjanji akan membantuku. Tapi
percuma... semua sekarang terlihat percuma. Ingatanku tidak akan kembali, dan
aku tidak ingin menambah beban—”
Jin menarik tangan Jimin dan memasukan tubuh mungil itu ke
dalam dada bidang Jin. Jimin meronta untuk dilepaskan tapi pukulan yang
diterima Jin sama sekali tidak dirasakan, “kau bukan beban. Kau sama sekali
bukan beban kami. Aku merindukanmu, tidak taukah kau hal itu?”
“aku tidak mengenal—”
“AKU TIDAK PERDULI KAU MENGENALKU ATAU TIDAK! AKU HANYA
INGIN KAU TAU BAHWA AKU SANGAT MERINDUKANMU!” pelukan itu semakin menyesakan
pernafasan Jimin. “Taehyung.. kenapa kau malah menyukai hyungmu sendiri,
seharusnya ini tidak terjadi”
“lalu apa aku harus menyukaimu—hmp” Jin kembali mengeratkan
pelukannya, “NDE! KAU HARUSNYA TERUS MENJAGA PERASAANMU UNTUKKU! Ingatlah aku
PARK JIMIN! aku mohon” Jin menguatkan pelukannya agar Jimin tidak lagi pergi
dari sisinya.
“aku menyukai Taehyung, dan mimpi itu menguatkan perasaanku
padanya. Sekalipun aku memiliki hubungan denganmu dimasa lalu aku yakin itu
adalah sebuah kesalahan” pelan-pelan Jimin menggerakan tangannya dan mendorong
tubuh Jin untuk melepas pelukan eratnya. Ia membalikan badannya. Membelakangi
Jin lalu meletakan kedua tangannya pada bagian tubuh yang terdengar degupan
kencang, “hatiku. Hatiku tidak merasa nyaman saat bersamamu, tapi merasa nyaman
dengan Taehyung. lagipula aku dan Taehyung hanya saudara angkat, aku yakin
hubungan ku dengan Taehyung lebih dari ini. aku merasa sangat bahagia bersama
Taehyung. tapi jika kehadiran ku membuatnya kesulitan aku lebih baik
menghilang”
“bagaimana dengan Minseok-ah? Namja kecil yang kita temukan
di Amerika, saat kau menemaniku melanjutkan pendidikanku disana”
“AKU SUDAH MENGATAKAN PADAMU. AKU TIDAK MEMILIKI INGATAN
APA-APA TENTANGMU DAN MINSEOK. YANG AKU INGINKAN HANYA MENGINGAT TAEHYUNG!
HANYA TAEHYUNG!”
Sebuah pukulan mendarat di pundak Jin. Mengakibatkan Namja
tinggi itu harus kehilangan kesadarannya. Samar-samar terlihat seseorang
menyekap Jimin dengan sapu tangan yang Jin yakini tercampur obat bius. Ingin
sekali bergerak tapi tubuhnya terasa Sulit digerakan. Darah segar mulai
mengalir dari bagian kepala yang terkena pukulan. Masih berusaha untuk tetap
sadar Jin bangkit. Mengejar mobil yang telah membawa kekasihnya pergi entah
kemana. Kepalanya terasa berat, Tenaga pun tak berhasil menahan tubuh Jin. Ia
langsung ambruk tersungkur ditanah dan pingsan ditempat.
-
[ Kediaman Jeon ]
Jungkook menghancurkan setengah dari kamarnya yang tersusun
rapih. Barang-barang ber-kaca tak luput hancur berkeping-keping dari amukannya.
Ia sudah tak mampu menahan Emosi yang kini menjatuhkan nama baiknya. Jin telah
mengingat semua, harapan untuk menyusun masa depan dengan mantan kekasihnya itu
terasa lenyap dalam hitungan waktu. Ingin kembali memperbaiki semua
kesalahannya namun tidak bisa. Semua orang telah membenci dirinya. Tanpa
terkecuali Jung Ho Seok. Namja yang mencintainya hingga mengorbankan
kebebasannya untuk menggantikan Jungkook di penjara. Apakah cinta seperti ini?
Membutuhkan pengorbanan yang sangat besar untuk mendapatkannya? Lalu Apa salah
Jungkook sampai berkorban sepenuh hati, tapi tidak nihil menemukan
kebahagiaannya.
“KIM SEEOKK JINNN!” teriaknya terdengar seluruh Maid
diluar. Pintu yang dikunci Jungkook dari dalam tidak memberikan izin masuk pada
siapapun yang mengkhawatirkannya. Jungkook gila? Mungkin benar. Ia sudah gila
karena tidak mau mendengarkan siapapun selain Jin yang mendatanginya.
.
.
[ Kediaman Jeon ]
Jeon Ji Hyun mendengar teriakan, serta hancurnya
barang-barang dari kamar Jungkook sudah tidak asing lagi. Mengelus kening
tuanya yang sudah tidak dapat berfikir apa-apa lagi bagaimana cara menenangkan
cucunya itu. Ji Hyun mengambil obat tuanya didalam laci meja kerjanya. Ia tidak
boleh mati di umur segini. Walaupun usianya sudah tidak lagi Muda, dan rentan
untuk bertemu kematian. Ji Hyun hanya berharap, menemukan kebahagiaan untuk
Jungkook sebelum Ia harus meninggalkan cucunya itu untuk selamanya. Salah satu
Maid diperintahkan memasuki ruang kerja Ji Hyun, “Tuan memanggil saya?” Tanya
Maid berpakaian lengkap dengan name tag terpasang sebagai identitas.
“Siapkan mobil, aku akan pergi”
“Baik. Tuan”
Ji Hyun pergi ke tempat dimana Hoseok ditahan pihak
kepolisian. Ia ingin memastikan bawahan setianya itu baik-baik saja ditempat
yang tidak seharusnya. Sesampainya disana Ji Hyun hanya menunggu di ruang yang
sudah disiapkan, dan pengawal yang mengurus pertemuannya dengan Hoseok. Saat
semua siap, Hoseok keluar dari balik pintu dan tersenyum kearah Ji Hyun yang
lebih dulu memberikan senyum kearahnya. “Tuan sedang apa disini? Lebih baik
anda dirumah, perbanyak istirahat dan menjaga Jungkook” Hoseok menasehati.
“kau begitu peduli pada Orang tua sepertiku Jung Hoseok.
Gomawo. Tapi aku kesini untuk menengok namja yang sudah kuanggap putra ku
sendiri. bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Apa kau makan dengan
teratur ditempat kecil ini?”
“semua sudah diatur Tuan. Aku hanya mengikuti setiap
peraturan disini. Untuk meringankan beban pikiranku” balas Hoseok mencoba
menenangkan Ji Hyun. Kaca yang menjadi pembatas obrolan mereka tidak dapat
menyembunyikan kesedihan Ji Hyun dari ketelitian Hoseok. “Tuan. Apa ada masalah
dengan Jungkook?”
“Jungkook.. aku tidak tau lagi harus melakukan apa padanya,
Ia benar-benar sudah diluar kontrol. Beberapa hari ini Jungkook hanya mengurung
diri dikamar. Tidak makan ataupun minum. Ia hanya berteriak dan menghancurkan
kamarnya. Aku tidak tau dosa apa yang sudah kubuat hingga membuat cucuku
seperti sekarang. Aku hanya ingin melihat Jungkook bahagia sebelum Kematian ku
datang. tapi sampai sekarang aku belum mendapatkan tanda-tanda bahwa aku telah
berhasil memberikan kebahagiaan pada cucu kesayanganku itu”
“Tuan Ji Hyun”
“sejak kecil Ia namja yang sangat berani, ceria, baik, dan
selalu mendahulukan kebahagiaan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. tapi
semua berubah. Jungkook bukanlah milikku lagi, Jungkook milik emosi nya
sekarang. Emosinya yang dapat dipercayai hingga tak mau mendengarkan orang lain
selain dirinya sendiri. Kanker otak menyakiti Jungkook, Cintanya menyakiti
Jungkook, masa depannya pun kini hancur. Siapa yang dapat aku mintai bantuan
selain kau Hoseok-sshi? Siapa lagi!?”
“temui Jin-sshi Tuan, aku yakin dia mau menolong Jungkook”
permohonan yang Hoseok ajukan mengingatkan akan kemarahan Jin padanya,
“Jungkook masih mencintaimu. Dan aku tidak
ingin kau membuatnya berpaling dariku”
“KAAAU!! BRENGSEK—!” Jin siap melontarkan
pukulan kerasnya pada Hoseok, tapi berhasil ditahan Yoongi. “WAEE! KENAPA KAU
MELAKUKAN INI!! AKU TIDAK NIAT SEDIKITPUN BERPALING DARI JIMIN! DAN SEKARANG
KAU MEMBUATKU HARUS KEHILANGAN JIMINKUUU!”
Akankah
Jin mau memenuhi permohonannya ini? “Tuan Ji Hyun bisa mengatakan padanya atas
nama persahabatan aku memohon pada Jin untuk membuat Jungkook mengerti atas
keadaannya yang tidak seperti dulu. Hanya Jin yang akan Jungkook dengarkan. Aku
percaya itu” Ji Hyun mengangguk setuju. Waktu yang terus berlalu menyelesaikan
pertemuan mereka di kantor kepolisian. Ji Hyun meminta diantar ke Kediaman Jin
namun tidak ditemukan namja yang dicarinya. Sudah beberapa hari Jin tidak
pulang kerumah itu yang dikatakan Kepala pelayan rumah Jin. Otak tua Ji Hyun
buntu untuk memikirkan hal apa yang baik untuk cucunya sekarang.
-
Jin
sadar dari pingsannya, dan menemukan sosok Rapmon Yoongi serta Taehyung
didepannya. Kepalanya yang sangat sakit dengan pukulan keras dari batu.
Mengakibatkan kepalanya berdarah cukup serius namun tidak terlalu butuh
perawatan dokter. Yoongi yang memberikan berban pada kepala Jin yang terluka.
Sebisa mungkin Ingatan Jin difokuskan tentang kejadian apa yang mengakibatkan
pemukulan terjadi ditengah malam. “Jin kau sudah sadar?!” Teriak Yoongi,
membuat perhatian Rapmon dan Taehyung tertuju pada Jin.
“Seulki!
Apa kau semalam bersama Jimin? Kami tidak menemukan Jimin di Apartemen” Rapmon
langsung bertanya, dan Ingatan Jin langsung memutar ular rekaman kejadian
semalam dalam kepalanya.
“JIMINNIE..JIMINNIE
DIBAWA SESEORANG!” pernyataan Jin mengaggetkan ketiga namja yang mulai lelah
dalam menjalani hidup. “aku harus menyelamatkan Aghhh—!” Kepala Jin berdenyut,
efek sebuah benturan keras yang didapatkannya semalam. Yoongi membantu Jin untuk duduk pada Sofanya
lagi. Taehyung dan Rapmon kewalahan menghadapi permasalahan yang ada. Jimin
dibawa, tapi kenapa Minseok tidak dikembalikan? Apakah bukan Hongbin pelakunya
atau Ini sebuah ancaman? Tidak lama mereka berfikir sebuah pesan diterima
Yoongi dari ponselnya,
From : Namja Seulki
Temui aku di Taman Namsan untuk melakukan
penukaran atas Chimchimku dan Minseok kalian sore ini pukul 5.
Yoongi
membacanya dan tidak tau harus mengatakan apa pada ketiga namja Seme yang
bersamanya, bahwa bukan Hongbin yang menculik Jimin. Ini jadi semakin tidak
masuk akal. Rapmon mendekati Yoongi yang gelagapan tidak karuan. “ada apa
Chagi? Pesan dari siapa?”
“Namja
itu.. Namja yang membawa Minseok bukan orang yang menculik Jimin” suara Yoongi
yang terdengar serius mulai membuat kepanikan pada suasana di ruangan.
To becontinue ...


Comments
Post a Comment