BOY IN LUV S2 Chapter 18 // JIN // JIMIN //
Latar
belakang lagu yang membentuk ‘BOY IN LUV SEASON 2’
-
Docter Stranger OST — Promie slow instrumental
-
Urban Zakap – My Love
-
Drakor – In memory Instrumental
-
Ost Autumn In My HeartEndless Love Drama Korea
-
Stupid in Love — SoYu x Mad Clown
-
Chen EXO — Best Luck
-
VIXX – ERROR
-
Baekhyun EXO — Beautiful Ost Exo Next Door
-
Various Artist – In Memories (The Muster’s Sun
OST)
-
Winter Sonata – My Memory (Piano Instrumental)
-
Winter Sonata – Inside The Memories
********
“Namja itu.. Namja yang membawa Minseok bukan orang yang menculik
Jimin” suara Yoongi yang terdengar serius mulai membuat kepanikan pada suasana
di ruangan.
“LALU
SIAPA YANG MEMBAWA DONGSAENGKUU!!” Ngamuk Taehyung dengan mengacak barang
dirumahnya. “KENAPA MALAM ITU KAU TIDAK MENYELAMATKANNYA! KENAPA KAU LEMAH
UNTUK MELINDUNGINYA KIM SEOK JIN! kenapa.. Kenapa JIMINNIE KU..” Taehyung
mencaci maki Jin tanpa henti-hentinya. Rapmon mencoba menenangkan Taehyung yang
ingin pergi langsung mencari Jimin tanpa tujuan.
...Ide
terlintas dari pikiran Min Yoongi “bagaimana jika tanyakan saja pada namja
Seulki itu tentang Jimin, bukankah kemungkinan namja itu mengancam ada. Dia
membawa Minseok juga membawa Jimin, namun tetap mengirimkan pesan untuk
melakukan penukaran. Bagaimana kita penuhi keinginannya karena hanya ini yang
kita miliki untuk mengetahui penculikan Jimin”
“aku
setuju. Lebih baik kita bersiap, kabarkan padanya jika kita menginginkan
pertemuan sekarang juga tidak nanti” Ucap Rapmon.
Waktu
pertemuan akhirnya dipercepat untuk mendapatkan kepastian atas penculikan
Jimin. Rapmon memakirkan mobilnya di Pinggir taman yang pengunjungnya masih
ramai dipenuhi penduduk. Hongbin yang terlihat mencolok dengan pengawal berjas
mendampinginya tidak membuat Rapmon dan kawan-kawan sulit mencari keeradaannya.
Ia segera mendekati posisi dimana Hongbin bersama Minseok duduk.
“Appa!”
Panggil Minseok dalam genggaman Hongbin.
“diam
disana, atau kekacauan akan terjadi jika kalian berani mendekat. Banyak
pengunjung disini maka kita lakukan dengan cepat. Dimana Chimchimku!”
perdebatanpun dimulai.
Jin
maju selangkah, “kau sudah membawa Jiminku ! SEKARANG KEMBALIKAN JIMIN DAN
MINSEOKKU!” Teriakan Jin mendapatkan perhatian pada seluruh pengunjung taman. Mereka
mulai penasaran dengan apa yang terjadi tapi tidak berlangsung lama.
“kecilkan
suaramu! Aku tidak ingin ada kekacauan yang nantinya memakan korban. Aku tidak
sedang bercanda sekarang! Dimana Chimchimku?!”
“semalam
ada namja berjas seperti bawahanmu memukulku lalu menculik Jimin saat aku tidak
berdaya. Kau masih ingin mengelak bahwa bukan kau yang menculiknya!” Jelas Jin.
Hongbin menatap kesetiap anak buahnya. Lalu menanyakan kebenarannya, namun
semua menggeleng tidak mengetahui insiden yang dimaksudkan.
“aku
akan membunuh Minseokmu jika sudah marah! Aku tanya sekali lagi dimana
Chimchimku!!”
Yoongi
memberikan isyarat pada Minseok untuk menggigit tangannya yang mengunci
pergerakannya. Namja kecil itu pun melakukan hal sesuai perintah, Hongbin yang
kesakitan mengangkat tangannya dan melepaskan dekapannya dari Minseok. kaki
kecil itu berlari kearah Jin, dan sebuah pistol bersiap menghentikan
langkahnya. Rapmon yang sadar hal itu langsung menyerang bawahan yang telah
mengeker Minseok dari jauh. Mengangkat senjata tersebut dan bunyi pistolpun
berdentum keatas langit. Seluruh pengunjung histeris berlarian ketika
mendengarnya. Menjauhi Taman dan segerombolan namja berjas. Jin menggendong
Minseok dan berlindung di semak-semak. Taehyung serta Yoongi berlindung di
belakang pohon besar. Sedangkan Rapmon mencoba mengajak bicara Hongbin agar
bicara dengan kepala dingin. “ini tidak bercanda! Seulki! Kita bicara dengan
kepala dingin. Tenanglah!”
--terdengar
suara panggilan dari ponsel Hongbin berdering, Nomor yang tidak Ia kenali.
“Yeoboseyo” Jawab Hongbin.
“Yeoboseyo Tuan Muda Hongbin, mungkin kau
mengenali suara ini? ( beralih ke Suara Jimin ) HONGBIINNN! ( kembali kesuara
awal ) seseorang yang kau cintai ada bersama kami Tuan”
“Siapa
ini! SIAPA KAU!”
“aku tidak sendiri, aku bersama dengan
temanku ingin meminta tebusan yang pas untuk seseorang yang penting dalam hidup
mu ini”
“BRENGSEK!
DIMANA KAU SEKARANG! Akan aku berikan berapapun yang kau inginkan, tapi jangan
sentuh Chimchimku”
“benar tetaplah seperti itu, berikan kami apa yang kami inginkan tepat disebuah alamat yang akan aku kirimkan nanti. Jangan
berani-berani melaporkan kejadian ini pada polisi. Karena aku tidak menjamin
keselamatan kekasihmu jika semua terbongkar pada pihak berwajib. Sampai jumpa”
“TUNGGU..TUNGGU
DULUU!!” hubunganpun terputus. Rapmon yang sedari tadi mendengarkan dengan
jarak dekat mulai berbicara pada Hongbin. Lagi-lagi Hongbin menutup diri dengan
teman masalalu Jimin. suara ponselnya berdering lagi, pesan yang masuk langsung
dibukanya. Tertulis sebuah alamat yang Ia sendiri sudah mengenalinya. Hongbin
pergi meninggalkan Rapmon tanpa kata-kata membiarkan namja itu memanggil
namanya berkali-kali. tidak mau kalah, Rapmon berlari mengambil mobilnya dan
menyuruh semua teman-temannya masuk kedalam. mengikuti kemana Hongbin pergi
dengan informasi keberadaan Jimin. tapi belum setengah perjalanan mengikuti
Hongbin pergi. Jin menerima panggilan dari Hal-beoji Jungkook, Jeon Jihyun. Ia
mengabarkan akan cucunya yang siap bunuh diri jika Jin tidak datang ke
kediamannya. Mendapatkan kabar itu Jin hanya diam dan tidak dapat memilih apa
yang harus dilakukannya. Menyelamatkan Jungkook yang akan bunuh diri atau Jimin
yang diculik.
“ada
apa Jin-sshi? Siapa yang menghubungimu tadi??” Yoongi menyadarkan Jin dari
pikiran yang menjebaknya.
“Hal-beoji
Jungkook mengatakan bahwa Jungkook akan bunuh diri jika aku tidak datang, bagaimana
ini?”
“kalau
begitu kau harus datang. biarkan Taehyung dan Rapmon yang menyalamatkan Jimin
dan Minseok. kau dan aku harus bisa menghentikan Jungkook” usul Yoongi dan
didengar semua. Tapi wajah Jin enggan untuk menerima usul yang Ia sendiri tidak
dapat menyelamatkan keksihnya. Saat Taehyung tau penolakan itu secara tidak
langsung Jin berikan, Taehyung memberikan usul lain yang tidak beda jauh dengan
Yoongi berikan tapi pertukaran antara posisinya dengan Jin dibenarkan. Yoongi
tidak mengerti, “tapi jika Jin tidak berada di kediaman Jungkook. Ia bisa bunuh
diri”.
“aku
akan menghentikannya. Aku yakin bisa menghentikannya Yoongi-ah” Taehyung
mengutarakan tanpa ada keraguan dengan keyakinan yang disampaikannya. “yang aku
inginkan dari mu Jin. selamatkan dongsaengku. Buatlah dia mengingatmu lagi,
dengan waktu yang kuberikan padamu dalam masa penyelamatannya. Aku mohon, buat
Ia mengingat kita semua”
Jin
tersenyum pada Taehyung yang percaya padanya, “aku akan melakukannya”
“kalau
begitu jangan menunggu lama, Chagi turunkan kami didepan sana” pinta Yoongi
pada Rapmon yang langsung menurutinya. Mereka pun berpisah dalam penyelamatan
masing-masing, berharap semua dapat seperti dulu tanpa ada luka yang akan
melukai mereka lagi. Ini adalah pengobatan untuk memulihkan keadaan agar mereka
dapat bersatu lagi seperti dulu. Rapmon menyetir semakin kencang memberikan
ketakutan pada Minseok yang memeluk Jin dengan kuat. Setibanya di tempat
kosong, mobil Hongbin diparkirkan. Namun tidak untuk anak buahnya karena nyawa
Jimin menjadi taruhannya. Mereka melarang Hongbin memasukan para bawahannya
dalam masa transaksi berlangsung. Alhasil Rapmon dan Jin tidak dapat ikut masuk
kedalam. dengan diam-diam Jin meminta Minseok untuk tetap diam didalam mobil.
jin dan Rapmon mencari ide bagaimana masuk tanpa ada yang mengetahuinya. Mereka
mendapatkan celah kosong pada belakang gedung yang memiliki lubang untuk hewan
memasukinya.
Hongbin
yang sudah berada pada lokasinya, mendapatkan kejutan pada pistol yang
diletakan di bagian kepalanya. “tuan Lee Hongbin. Anda benar-benar mengikuti
semua syarat yang aku ajukan. Gomawo. Sekarang letakan koper yang ada
ditanganmu secara perlahan kelantai” perintahnya dan langsung Hongbin ikuti.
Namja lain menarik Jimin kasar untuk keluar ruangan, dengan penutup mulut yang
dikenakan Jimin. ia sulit untuk bicara. Melihat kekasihnya seperti diseret
seperti hewan membuat Hongbin geram, “YAK! Beraninya kau—Agghhh!” pukulan
Hongbin terima dari belakang berkali-kali. jimin ingin menangis menyaksikannya.
Tidak dapat berbuat apa-apa. tapi entah kenapa kaki dan tangan Jimin ingin
sekali bergerak menghentikan kekerasan yang berada dihadapannya. Berseling
pukulan mereka hentikan Jin dan Rapmon datang. membantu Hongbin yang sudah
lemas tidak berdaya. “gwenchana?” tanya Rapmon pada Hongbin. Jimin mencari-cari
seseorang yang Ia tunggu, tapi Taehyung tidak memberikan tanda-tanda akan
muncul menolongnya.
“Namja
bodoh!” teriak Jin dan perhatian Jimin mulai memperhatikannya. “bukannya kau
bisa berkelahi?! Apa kau tidak ingat saat kau menolongku dari namja-namja kekar
sewaan Yoongi?? Kau membanting mereka tanpa ampun! Kau menghajar mereka
sendirian! Kau menyadarkan Yoongi atas kesalahannya telah melukai ku! Kau
ingat!?” kata-kata Jin mendapatkan efek sakit kepala pada Jimin yang mencoba
mengingat akan apa yang dikatakannya. “lalu kenapa kau sekarang tidak
menghabisi mereka sama seperti dulu!” Jin yang terus bicara mendapatkan pukulan
dari Hongbin yang tadi tersungkur ditanah.
“jangan
dengarkan dia Chagi!! Kau tidak dapat berkelahi! Kau tidak pernah menolong
namja ini!” balas Hongbin.
Namja
asing yang menjadi pengkhianat bawahan Hongbin mulai ikut berbincang,
“sudah-sudah... ini bukan sebuah drama yang kalian mainkan. Memperebutkan
juliet yang di dunia nyatanya adalah seorang namja. otak kalian semua sudah
rusak dengan percintaan yang menggelikan untuk kudengar!”
“lalu
kita apakan mereka bos?” namja lain menimpali. Jentikan jari diikuti sebuah
perintah “bakar mereka” dilaksanakan. Jimin memandang kearah 3 namja seme yang
berusaha menyalamatkannya kini sedang disiram menggunakan bensin. Ingatan dalam
kepala Jimin bergulat terus-menerus, siapa yang bisa Ia percayai. Jin atau
Hongbin?!
-
Yoongi
dan Taehyung telah sampai di Kediaman Jeon Ji hyun. Kehadiran mereka telah
ditunggu tapi tidak setelah mereka sadar bahwa Jin tidak ikut serta. “dimana
Kim Seok Jin! dimana Jin!!?” tanyanya keras. Taehyung dan Yoongi menjelaskan
tentang Jin yang berada pada penyelamatan untuk kekasihnya. Wajah khawatir
Jihyun semakin terlihat ketika Ia tidak dapat membawa Jin sesuai keinginan
Jungkook. “dia akan membunuh dirinya sendiri jika mengetahui Jin tidak datang”
beberapa orang memapah Jihyun yang lunglai dengan kondisi yang tak dapat
dihadapinya. Yoongi mencoba menenangkan sedangkan Taehyung berlari kearah kamar
Jungkook dengan menutup wajahnya menggunakan topi. Ketukan berkali-kali
diberikan pada kamar Jungkook yang dikunci dari dalam. Ia merespon. Sedikit
mengintip kearah luar dan berdirilah seorang namja yang Jungkook tau itu adalah
Jin. jungkook menarik namja itu untuk masuk kedalam dan memeluknya dalam
keadaan ruangan gelap. “Jin-sshi aku tidak bisa hidup tanpamu. Kenapa kau
memilih Jimin dibandingkan aku?!! Kenapa kau memutuskan menikah dengan Jimin,
padahal dulu kau tidak pernah berfikir sedikitpun untuk menikah denganku! Ada
apa Jin-sshi?!?katakan padaku? Apa kurang dari diriku?!” Namja yang dianggap
Jin masih diam. “aku sudah tidak dapat menerima hubunganmu dengan Jimin lebih
lama! Aku tidak bisa menahan semuanya lagi setelah mendengar pernikahan mu dengan
Jimin. aku ingin menggantikan Jimin, Jin-sshi. Aku mohon!!” Jungkook mulai
tidak tenang pada pelukannya. Taehyung hanya dapat mendengarkan perasaan
Jungkook yang selama ini disembunyikan sendirian. Melihat sekitar kamar
Jungkook yang berantakan dan gelap menambah kesan depresi pada pikiran Taehyung
akan Jungkook.
“apa
kau yang memutuskan kabel rem mobil itu?” suara yang bukan milik Jin terdengar.
Jungkook menyalakan lampu kamar dan menemukan Taehyung berada didalam kamarnya.
“KAU?! Kenapa kau yang datang!! dimana Jin-sshikuu!! Dimanaaa!” Jungkook
memberantaki seluruh kamarnya lagi. Taehyung mencoba menghentikan dengan
pelukan.
“Jungkook
hentikan! Sudah cukup ini semua. Kami ingin kau kembali dengan tidak seperti
ini Jungkook-ah, aku mohon!”
“sudah
terlambat. Aku sudah tidak bisa kembali seperti Jungkook yang dulu. Aku adalah
seorang pembunuh. Aku mencoba untuk membunuh Jimin saat kepergiaannya menuju
tempat resepsi. Aku bukan seorang teman untuk kalian lagi? Aku hanya ingin Jin.
aku ingin Jin ku kembali” bisiknya terdengar tak memiliki nada. Ia mengatakan
hanya mengikuti isi hatinya bicara. Jungkook mendorong Taehyung dan lari keluar
jendela untuk melompat. Taehyung tidak ingin Jungkook mati. marah yang Taehyung
rasakan berubah menjadi keprihatinan pada nasib Jungkook yang terlalu mencintai
Jin. taehyung menangkap tangan Jungkook yang telah melompat. “lepaskan
tanganmu! Aku tidak ingin hidup lagi! Lepaskan tanganmu!” pinta Jungkook lemah
dengan nafas yang bergantung.
“Jiminnie...”
taehyung berusaha untuk bercerita. Tapi Jungkook menolak dan menggoyangkan
tubuhnya agar Taehyung semakin berat untuk menyelamatkannya. “aku tidak mau
mendengar nama itu!! aku tidak mau mendengar nama ituu!!” histeris Jungkook
membuat semua orang yang berada didalam keluar halaman. Jihyun jatuh pingsan
saat melihat Jungkook melakukan bunuh diri dengan melompat dari lantai
kamarnya. yoongi membantu para Maid dan pelayan mengangkat tuan Jihyun berharap
Taehyung bisa mengatasinya dengan membuat Jungkook mengerti.
Taehyung
tidak perduli Jungkook tidak mendengarkan tapi Ia tetap bercerita sampai
selesai, “Jiminnie meminta pernikahannya dibatalkan saat menuju resepsi. Ia
mengingatmu yang masih mencintai Jin. maka itu Ia tidak ingin merusak hubungan
pertemananmu dengannya hanya karena pernikahan ini. sekeras apapun Jin menolak,
keinginan Jimin tetap ingin membatalkan pernikahannya Jungkook-ah!”
“nde?”
“Jimin
kehilangan ingatannya tentang Jin, dan Ia mengatakan bahwa dirinya yang
sekarang menyukaiku bukan Jin! Ia tidak perduli akan Jin ataupun Minseok. apa
kau tega membiarkan Minseok dilupakan Jimin? jimin terus tidak dapat mengingat
Jin walaupun Jin sangat ingin mengembalikan ingatan itu. aku yakin itu semua
karena ada perasaan bersalah Jimin terhadapmu. Maka ia tidak dapat mengingat itu
semua sampai sekarang. Aku mohon.. kembali lah menjadi Jungkook yang dulu.”
Pelan-pelan Taehyung mengangkat tubuh Jungkook yang menggantung diudara.
Memeluknya dan mengembalikan Ia pada lantai kamarnya. taehyung menangis
dipelukan Jungkook yang perasaannya telah Taehyung sendiri pahami. “aku tau
bagaimana perasaanmu Jungkook-ah. Aku mengerti akan perasaanmu. Jadi
menangislah. Menangislah akan perasaan yang tidak dapat kau kuasai. Kau seperti
ini karena tidak ada yang mau mendengarkanmu. Sekarang ada aku, maka
menangislah” mendengar itu Jungkook tidak dapat membendung kesedihannya lagi.
Dalam pelukan yang berbeda dengan Jin, Jungkook merasakan kenyamanan pada
pundak Taehyung. ia menangis sekencang-kencangnya agar seluruh orang tau betapa
menderita dirinya. Pelukan mereka semakin erat seakan tidak mau berpisah satu
dengan yang lain. Yoongi tersenyum dari balik pintu kamar Jungkook, mengingat
temannya telah berhasil membuat Jungkook mengerti.
Selama
beberapa jam menangis. Jungkook mulai termenung sendirian ditemani Taehyung
disampingnya. “apa yang membuatmu kuat saat melihat orang yang kau cintai
bersama orang lain? Kau mencintai Jimin dan merawatnya sudah bertahun-tahun.
Lalu sekarang kau tidak dapat memiliki perasaannya. Apa yang membuatmu kuat?”
“cinta
itu memang menyakitkan. Aku tidak dapat mengerti mengapa kehadirannya ada hanya
untuk menyakitiku, itu yang kufikirkan. Menyukai Jimin sejak kecil adalah
sebuah kesalahan. Dan aku sudah menerima akibat dari perasaan yang aku rasakan
sejak dulu. Ia tidak menerima ku dari sisi seorang namja. ia hanya melihatku
dari sisi seorang hyung yang dulu terus menjaganya. Aku fikir bisa bertahan
tapi ada kalanya aku merasa sedih dan sakit” taehyung menjelaskan diikuti
Jungkook yang memperhatikan wajah Taehyung tanpa berkedip. “alasan yang
membuatku kuat, kehadiran Jimin dalam hidupku sudah menjadi penyempurna dari
kebahagiaanku. Kenangan dulu bersamanya adalah ingatan terindah yang kumiliki.
Senyumannya, tawanya, candanya, marahnya, usilnya, tangisannya, lucunya,
menggemaskannya,.................aku tidak tau” air mata Taehyung mengalir
tidak sengaja. “yang membuatku kuat aku tidak tau apa. tapi aku hanya tenang
saat Jimin masih menyadari keberadaanku. Hanya dengan itu. aku sudah merasa
tenang. Aku kuat walau sebenarnya aku lemah,Jungkook-ah”
Jungkook
mengusap air mata Taehyung yang mengalir diujung dagu. “kau namja yang kuat
Taehyung-ah. Kau benar-benar namja yang kuat”
Flashback On
Jimin telah bersiap dihari pernikahannya. Ia
sangat bahagia dengan bunga-bunga cantik yang mengelilinginya dari pemberian
Jin. sisi lain seorang namja tidak menyukai kebahagiaan itu dan langsung
mengatakan ketidak sukaannya terhadap pernikahan Jimin. “kau fikir akan bahagia
dengan menikah dengan Jin?” Jungkook bicara sambil menutup pintu kamar Jimin
dari dalam.
“Jungkook-ah apa yang kau bicarakan?”
bingung Jimin.
“apa yang aku bicarakan? Aku membicarakan
Jin yang seharusnya menikah denganku bukan denganmu. apa kau sadar?! Jin itu
sejak awal milikku. Kedatangan mu memisahkan kami Park Jimin. kenapa? Kenapa
kau harus datang kedalam hati Jin dan mengusirku?”
“aku tidak mengerti Jungkook-ah. Jika kau
tiidak menyukai pernikahan ini.. aku akan mengatakan pada Jin lebih baik
pernikahan ini dibatalkan”
“lakukan! Jika kau masih menganggapku teman
maka lakukan!”
Jimin menundukan kepalanya seraya berfikir.
Keseriusan Jungkook akan hal yang dikatakannya, seperti memendam rasa sakit
hati sudah cukup lama. Tapi sejak kapan Jimin tidak tau itu. ia tidak menyangka
bahwa Jungkook mencintai Jin sampai pada hari pernikahannya dengan Jin. lalu
apa arti hubungan Jungkook dengan Hoseok.
Jungkook mendekati Jimin dan mencengkram
lehernya kuat, “aku masih mencintai Jin sampai sekarang. Aku ingin kau
meninggalkan Jin-sshi. Aku mohon Jimin. katakan lah pembatalan pernikahanmu dengan
Jin, dan akhiri hubungan kalian. Itu yang bisa membuatku kembali pada Jin lagi.
Aku sudah tidak bisa menyembunyikan ini semua. Aku tidak menyukainya.”
“kalau kau ingin aku membatalkan pernikahan
ini maka aku akan melakukannya Jungkook-ah” senyuman Jimin menyingkirkan tangan
Jungkook yang tadinya mencengkram lehernya. Jimin pergi keluar kamar, dan
kagetnya Jin telah berada didepan kamar sedang menunggunya. Jungkook yang takut
akan ketahuan hanya berusaha mendengarkan secara samar-samar. Jimin yang tadi
akan bicara dihentikan Jin. Ia menarik Jimin untuk berpamitan pada semua
teman-temannya karena mereka akan pergi keresepsi lebih awal. Senyuman Jin
seakan sangat bahagia akan pernikahannya yang sebentar lagi meresmikan hubungan
mereka. Tapi bagaimana dengan Jungkook. Jimin melirik kesalah satu arah dan
menemukan Jungkook sedang menunggu tindakannya. Ia pergi karena merasa Jimin
tidak akan mampu membatalkan pernikahannya sendiri. jimin mengikuti Jungkook
dan meninggalkan Jin dengan teman-temannya. ia mencari Jungkook keluar rumah
dan menemukan Jungkook tengah memutus kabel dimobil yang akan digunakan Jimin.
“apa yang kau lakukan?” Jimin bertanya pada Jungkook yang sudah tidak mempunyai
akal sehat.
“aku memutuskan kabel rem mobil kalian.
Dengan begitu kau memiliki banyak waktu untuk mengatakan pembatalan
pernikahanmu dengan Jin”
“kenapa kau berbuat sampai sejauh ini
Jungkook-ah. Bukankah kita teman? Bukankah dulu kau yang menyerahkan Jin
padaku. Tapi kenapa sekarang—”
“AKU MELAKUKAN KESALAHAN 2 KALI!! DENGAN
MEMBIARKAN JIN TETAP PADA PERASAANNYA. Aku berfikir Jin hanya akan bermain-main
denganmu dan pergi meninggalkanmu setelah ia puas bermain. Tapi nyatanya kalian
malah membiarkan ku sakit terus-menerus!” Jungkook menatap lekat pada kedua
netra Jimin yang tidak kaget sama sekali akan tindakannya. “aku sarankan jangan
menggunakan mobil ini, karna mungkin aku tidak akan membiarkan kalian hidup
bersama. Aku lebih memilih Jin mati dibandingkan harus melihatnya bersama orang
lain” setelah menyampaikan pesan terakhirnya Jungkook pergi meninggalkan Jimin
sendirian. Air mata Jimin menetes. Mobil yang telah Jin hias dengan bunga-bunga
serta embel-embel pernikahan telah dibuat menjadi kendaraan maut yang siap
mencelakai mereka berdua. Jimin mengecek keadaan mobil pada bagian pengamanan
diarea kemudi. Terdapat balon pengembang jika terjadi kecelakaan nantinya dan
itu masih berfungsi. Jimin pergi ketempat duduknya. Ia menarik balon pengembang
di area tempatnya akan duduk nanti. Lalu menyimpannya ditempat garasi kediaman rumah
Jin. ia duduk manis menunggu kedatangan Jin didalam mobil. tidak lama menunggu
dengan kesedihan yang Jimin sembunyikan, Jin datang memasuki mobil. minseok
tertawa saat mengantarkan kepergian Jimin dan Jin yang meninggalkan mereka
semua.
Dan pertengkaran pun terjadi setelah satu
jam lamanya mereka berada di perjalanan. Jin menepis semua keinginan Jimin yang
akan membatalkan pernikahan mereka. Kemarahan Jin mempercepat kendaraan
mobilnya yang Ia tidak ketahui akan kabel rem yang sudah diputuskan Jungkook.
Jimin tersenyum. Melepaskan sabuk pengamannya. Membiarkan tubuhnya menghantam
kearah kaca mobil depan dan membuat Ia terdampar ditepi sungai.
Flashback Off
Jin,
Rapmon, serta Hongbin yang siap akan dibakar mulai tidak memiliki harapan
apa-apa lagi. Tapi Jimin yang sejak tadi diam mulai bangkit dari ingatannya
yang sebelumnya tidak dapat Ia kenang. Ingatan akan kecelakaan yang dialaminya
mulai tergambar jelas, semakin Jimin berusaha. Ingatan itu semakin
memperlihatkan sosok namja yang berada didalam satu mobil dengannya. panggilan
Jin, Rapmon, ataupun hongbin tidak membangunkan Jimin dari pikirannya yang
sedang bergulat keluar saling mengejar. Dan setelah mendapatkan Jin adalah
orang yang terpenting bagi hidupnya. Ia mulai mengangkat kepalanya dan memukul
orang yang sedang mengunci pergerakannya. Jin, Rapmon, dan Hongbin kaget akan
kesadaran Jimin yang tiba-tiba. Jimin mengatur nafasnya yang tersengal-sengal
dan mencari keberadaan Jin. ia menemukan Jin tengah menatap khawatir padanya.
“Jin-sshi” suara Jimin terdengar memanggilnya.
Beberapa
orang mengepung Jimin dan lagi lagi berhasil dilumpuhkan seorang Jimin. Jin
tertawa menyaksikan kekasihnya telah bangkit menjadi Jimin yang dulu.
“Woohoooo! Itu baru kekasihku Namja Bodoh!” teriak Jin bahagia. Mengingat Jimin
telah bangkit, Rapmon mulai membisikan kata tidak menyenangkan pada telinga
hongbin, “sepertinya kau telah kehilangan Chimchimmu” senyuman itu mengesalkan
Hongbin yang mendengarnya. Rapmon dan Jin mulai membantu Jimin berkelahi, tapi
tidak untuk Hongbin yang merasa kalah akan memperebutkan cinta masa kecilnya.
Jin dan Jimin bertemu setelah mengalahkan banyak namja kekar yang mengepungnya.
Jimin dengan tubuh lemasnya mengacak rambut Jin, “kau sudah pandai berkelahi
ya?” celetuk Jimin.
“aku
ingin melindungimu. Aku ingin menjagamu maka itu aku belajar berkelahi. Namja
bodoh! Kau membuatku kesal!” Jin yang sudah tidak bisa menahan rindu langsung
mencium Jimin tepat dikedua mata Rapmon dan Hongbin. Jimin tidak malu untuk
membalasnya. Ia juga merindukan kekasihnya yang sulit untuk Ia ingat
sebelumnya. “aku mencintaimu Namja Bodoh!” Jin mengangkat tubuh mungil Jimin
dan mencium bibir kecil itu berulang-ulang. Rapmon mengalihkan pandangannya
kearah lain. Kemarahan Hongbin membutakan semua, Ia mengambil pistol yang
tergeletak dan berniat menembak Jin yang sedang memeluk kekasih kecilnya. Ia
tidak terima akan kekalahan yang dirasakannya. Jimin yang melihat itu langsung
memutarkan posisi Jin keposisinya, dan peluru itupun menembus kedalam pundak
Jimin. Rapmon menendang pistol yang dipegang Hongbin agar tidak membahayakan
siapa-siapa lagi. Ia kaget ketika mendengar letusan dan terlambat menyingkirkan
pistol itu yang telah menembus sahabatnya. “Namja bodoh!” Jin lirih terdengar
dengan darah yang tidak berhenti keluar pada pundak kekasihnya. “Park Jimin!”
panggil Rapmon membantu Jin untuk membawa kekasih sahabatnya kedalam mobil agar
segera dibawa kerumah sakit. “apa yang kau fikirkan ayo cepat kerumah
sakit!!” teriak Rapmon menyadarkan Jin.
Hongbin menangis berselingan tawa seperti orang gila. Menyebut nama Chimchim
berulang kali. tapi tidak diperdulikan Jin ataupun rapmon. dalam perjalanan
Jimin terus tersenyum kearah Jin.
Minseok
yang berada di mobil kaget saat Jimin masuk dalam keadaan berlumuran darah “Appa!
Eomma kenapa? Appa?” pertanyaan Minseok tidak digubris. Jin meminta Minseok
untuk duduk disamping kemudi Rapmon dan tidak lupa mengingatkan namja kecil itu
untuk memasang sabuk pengaman. “Rapmon cepat!! Jimin sudah kehilangan banyak
darah!! Kim Namjoon! Cepatlaahhh!!” ucap Jin tidak tenang. Mendengar
kekhawatiran Jin, Jimin tertawa geli. Ia menangkap air mata kekasihnya itu yang
sepertinya tidak kuat melihatnya terus mengeluarkan darah. Secara perlahan suara
Jimin terdengar menenangkan. “semua...ba..ik..baik..sa..ja Jin-sshi..”
“nde
semua akan baik-baik saja Chagiya”
Jimin
mendadak menutup matanya, “namja bodoh!! Namja bodoh jangan tidurr! Buka
matamu! Park jiminnn! Park Jiminnn!! Aku mohon buka matamuu!!” kata-kata itu
membuat Rapmon semakin kencang menginjak pedal gas pada kemudinya. Ia melanggar
dan tidak perduli akan peraturan dalam lalu lintas. Dalam perjalanan mereka.
Polisi ikut serta mendampingi. “sial. Kita diikuti polisi”
“biarkan
saja! tetap fokus pada kemudimu Rapmon!”
“Nde
aku mengerti!” rapmon semakin mempercepat mobilnya dan meninggalkan polisi yang
mengejarnya. Sesampainya dirumah sakit, Jin menggendong Jimin dan membawa
kekasihnya keruang UGD. Dengan cemas Ia menunggu kabar dari dokter yang sedang
menanganinya. Tapi Rapmon tidak bisa menemani Jin karna Ia harus berurusan
dengan polisi diluar. Rapmon menjelaskan kepada polisi alasan dirinya menerobos
semua peraturan, dan akhirnya polisi itu mengerti. Kelengkapan berkendara
Rapmon lengkap. Ia hanya memenuhi tugasnya untuk menyelamatkan seseorang. selesai
berurusan dengan polisi, Rapmon mengambil ponselnya. Menghubungi Yoongi yang
berada di rumah Jungkook.
Jin
berputar-putar tidak tenang, membuat kepala Rapmon pusing melihat tingkahnya. “tenanglah.
Jimin sudah berada ditangan dokter” seluruh tubuh Jin yang dipenuhi darah Jimin
mengingatkan Rapmon akan tembakan Hongbin yang mengarah ke Jin namun
diselamatkan Jimin. sudah lama Rapmon mengenal Jimin menjadi namja yang sangat
kuat. Tidak heran jika suatu hari Ia mengorbankan dirinya demi melindungi Jin.
dan itu semua terbukti sekarang. Rapmon yakin Jimin bisa melewati semua ini.
dokter keluar dengan perawat yang langsung menutup ruang operasi. Jin
menghampiri sang dokter dan bertanya-tanya tidak ada hentinya. “bagaiman dok,
bagaimana kekasihku? Apa dia selamat?”
“kekasih?”
tanya sang dokter yang langsung melirik kearah perawat disebelahnya. “dia
baik-baik saja. kau jangan cemas. Dia sudah melewati masa kritisnya, dan peluru
yang berada dipundaknya sudah kami keluarkan” jelasnya dengan tenang dan bijak.
Mendapatkan kabar gembira itu Jin melompat kegirangan dan langsung memeluk
Rapmon. kebahagiaan Jin tidak berhenti disitu. Ia menggendong Minseok dan
menerbangkan Minseok layaknya sebuah pesawat yang siap akan terbang.
“Minseok-ah kau tau? Eommamu sudah mengingat kita semua. Eommamu sudah
mengingatmu”
“benarkah
Appa? Eomma sudah mengingatku?!”
“Nde.
nanti kau bisa bertemu dengannya setelah sadar. Kau mengerti?” mendengar itu,
Minseok mengangguk antusias. Pandangan Jin menembus dinding kaca yang
memperlihatkan keadaan didalam ruangan operasi kekasihnya. Ia sedang tertidur
tenang. Wajahnya terlihat sangat lelah. Mungkin Jin hanya bisa menunggu sampai
Jimin sadar dan memintanya untuk menemani. “namja bodoh. Cepatlah sadar. Aku
telah berhasil mengembalikan ingatanmu” tangan Jin menyentuh lapisan kaca yang
memisahkan areanya dengan Jimin. senyuman Jin terukir sejenak.
Rapmon
usai memberikan pengertian pada polisi mencoba menghubungi Yoongi. Kini semua
menjadi lebih baik, Ia lega setelah mendapatkan kabar mereka berhasil menghentikan
kegilaan Jeon Jungkook. minseok yang duduk manis di ruang tunggu menggoyangkan
kakinya dengan wajah bahagia. Rapmon mengerti jelas kebahagiaan itu terpancar
karena ingatan Jimin telah kembali. “malaikat kecil momon hyung sepertinya
tengah bahagia” Rapmon mengangkat tubuh kecil Minseok dan membuatnya duduk
dipangkuannya.
“Nde
momon hyung. Itu semua karena Appa mengatakan ingatan Eomma telah kembali. Aku
sangat bahagia”
“setelah
Eomma mu sadar. Jaga mereka ya. Karena kau adalah malaikat kecil mereka. Kau
memperkuat hubungan cinta mereka”
“aku
akan menjaga keluargaku. Aku janji padamu hyung. Aku tidak akan membiarkan
kejadian ini menimpa Jin Appa dan Jimin Eomma lagi”
.
.
Yoongi
memutuskan sambungan telponnya dengan Rapmon. Ia kaget dengan kedatangan
Jungkook dan Taehyung yang baru saja keluar dari kamar. Jinhyun tersenyum dan
langsung memeluk cucu kesayangannya itu. air mata tidak berhenti menelusuri
wajah tuanya. Taehyung dan Yoongi ikut tersenyum kecil memandangi kebahagiaan
yang terjadi pada kehidupan mereka. Yang secara perlahan mulai kembali seperti
dulu.
.
.
[ Rumah sakit Jimin ]
Seluruh
petugas rumah sakit tidak berkutik saat beberapa pengawal Eomma Jimin datang
dari pintu depan. Dengan pakaiannya yang mewah ditemani Shin Gyu, Ia memasuki rumah
sakit dan mencari keberadaan kamar Jimin. setelah mendapatkan informasi tanpa
mau berlama lagi Ia pergi menuju pintu lift dan menekan tombol lantai dimana
putranya dirawat. Jin serta kawan-kawan terdiam mendapati itu semua. Wajah
benci Eomma Jimin terlihat sangat jelas saat keluar dari lift yang membawanya
dari lantai dasar. Sojin berdiri tegak tepat dihadapan Jin yang sebelumnya
menghadap kekaca kamar Jimin. “kau Kim Seok Jin?” tanya Sojin tenang. Dengan
sedikit isyarat Ia meminta Shin gyu memasuki ruangan Jimin terlebih dahulu.
“aku sudah mendengar banyak tentang kau dengan putraku.. aku tidak kecewa
dengan perasaan putraku sampai mampu mengembalikan ingatannya sendiri hanya
untuk bersamamu. Aku berfikir kenangan kalian yang kuat? Atau memang Hongbin
yang lemah?” mata Sojin melirik sedikit kearah Minseok yang digendong namja
tinggi yang tidak dikenalinya. “Minseok. apa dia putramu dengan anakku? Kalian
mengadopsinya seakan kalian adalah keluarga yang sesungguhnya. Kalian
memaksakan kenyataan bahwa kalian tidak akan pernah bisa memiliki keturunan.
Itu sangat menggelikan”
“aku..”
belum sempat Jin berucap. Kalimat terakhir mengejutkan hati Jin, “tinggalkan
putraku. Biarkan dia bahagia dengan wanita yang sedang berada didalam sekarang”
“ANDWEE!”
teriak Minseok yang tidak terima dengan apa yang didengarnya, “EOMMA PUNYA JIN
APPA! DIA TIDAK BOLEH MENINGGALKAN JIN APPA ATAUPUN AKU!! APPA KATAKAN PADANYA,
EOMMA TIDAK AKAN MENINGGALKAN KITA!! APPA!!” teriakan Minseok tidak menggerakan
tubuh Jin yang shock.
“kalau
kau masih meneruskan hubungan ini, Jimin tidak akan pernah bisa bahagia dengan
keluarganya. Termasuk aku. Eomma yang sudah kehilangan Jimin selama
bertahun-tahun. Kebingungan mencari Jiminku yang sudah diadopsi keluarga Kim.
Aku sangat menyesal. Dan aku ingin menebus semuanya, membuat putraku bahagia
dengan wanita dan memiliki keluarga yang sebenarnya. Aku mohon. Sebelum aku
mati kabulkan permintaanku untuk meninggalkan putraku” secara perlahan tubuh
Sojin dibungkukan dan Ia mulai meletakan kedua lututnya diatas lantai. Berlutut
memohon pada Jin untuk mengabulkan keinginannya.
“APPA
AKU MOHON JANGAN TINGGALKAN EOMMA!! AKU MOHON APPA!” rapmon memeluk minseok
yang masih menjerit menentang permintaan Sojin. “AKU TIDAK MAU KEHILANGAN
EOMMAKU! APPA! JINJYAA! APPA!!” selama berjam-jam menunggu diruang tunggu,
jeritan Minseok mulai mereda. Hanya terdengar isakan-isakan lelah dari tangisan
yang dilakukannya dengan tenaga ekstra sebelumnya. bisikan Minseok melukai hati
rapmon yang mendengarnya sangat jelas, kini rapmon tidak dapat membantu
apa-apa. Jin memandangi kamar Jimin yang didalamnya sudah ada orang lain yang
tengah menjaga kekasihnya. Cincin pernikahan mereka masih setia Jin
kenakan. “aku mohon sadarlah chagiya”
lirihnya.
“Jin,
Minseok sudah tidur” panggil Rapmon pada Jin.
Jin
mengambil alih tubuh kecil Minseok dan pergi meninggalkan ruangan rawat Jimin,
tapi Rapmon mencoba meyakinkan kembali apa yang telah menjadi keputusan
temannya itu. “apa kau yakin dengan ini semua? Setidaknya apa kau tidak ingin
mendengarkan pendapat Jimin nanti setelah sadar? Aku yakin orang pertama yang
ingin Jimin lihat adalah dirimu. Kau tidak bisa pergi dengan cara seperti ini”
“aku
bisa” Jin melanjutkan langkahnya dan memasuki pintu lift lalu menutupnya.
Rapmon mengusap rambutnya kasar.
.
Gerakan
pada jari Jimin mulai disadari Shin Gyu, “Eomma. Jimin sudah sadar” ucapnya
senang. Perlahan-lahan mata Jimin berkedip dan membuka kedua matanya. Koma yang
dialaminya sudah berakhir dengan kondisi Jimin yang mulai stabil. Jimin mulai memandangi
sekitar ruangan rumah sakit. tampak sangat jelas ada sosok yeoja tua yang
dirinya masih sangat ingat Eommanya. Lalu siapa yeoja disampingnya?
“Eomma?”
“Jimin-ah.
Syukurlah kau sudah sadar. Eomma sangat khawatir, mengingat kau koma sudah
sangat lama. Apa kau tidak apa-apa nak? Biar Eomma panggilkan dokter untuk
memeriksamu” Sojin bergegas memanggil dokter, yang tidak lama dokter itupun
memeriksa keadaan Jimin yang baru saja sadar. “bagaimana dokter?” tanya Sojin pada sang
dokter.
“putra
anda sudah melewati masa kritis. Kini dia hanya tinggal beristirahat,
seandainya namja itu tidak membawa putra anda tepat waktu mungkin anda bisa
kehilangan putra anda. Saya harus permisi” Jimin menghentikan pergerakan sang
dokter dengan tenaganya yang masih belum pulih, menggerakan bibirnya secara
bergetar. “namja? siapa?”


Comments
Post a Comment