BOY IN LUV S2 Chapter 19 // JIN // JIMIN // [ END ]
Latar belakang lagu yang membentuk ‘BOY IN LUV SEASON 2’
-
Docter Stranger OST — Promie slow
instrumental
-
Urban Zakap – My Love
-
Drakor – In memory Instrumental
-
Ost Autumn In My HeartEndless Love
Drama Korea
-
Stupid in Love — SoYu x Mad Clown
-
Chen EXO — Best Luck
-
VIXX – ERROR
-
Baekhyun EXO — Beautiful Ost Exo
Next Door
-
Various Artist – In Memories (The
Muster’s Sun OST)
-
Winter Sonata – My Memory (Piano
Instrumental)
-
Winter Sonata – Inside The
Memories
“putra anda sudah melewati masa kritis. Kini dia hanya
tinggal beristirahat, seandainya namja itu tidak membawa putra anda tepat waktu
mungkin anda bisa kehilangan putra anda. Saya harus permisi” Jimin menghentikan
pergerakan sang dokter dengan tenaganya yang masih belum pulih, menggerakan
bibirnya secara bergetar. “namja? siapa?”
“maaf saya tidak mengetahui namanya. Saya izin permisi” kepergian
dokter itu memberi tanda tanya pada kepala Jimin yang tiba-tiba sakit. ada
sesuatu yang dilupakannya, tapi apa? cahaya yang masuk kedalam kamar Jimin
memantulkan sinarnya kebenda asing yang berada di jari manisnya. Jimin mengamati
cincin itu yang terdapat ukiran sebuah nama. “Kim Seok Jin?” beribu memori
memasuki kepala Jimin dari pertama kali Ia mengenal Jin, bertengkar dengan
Taehyung, bertemu Jungkook, menangani Yoongi si psikopat, membuat Rapmon
mencintainya, mengenal Junghoseok yang menyelamatkannya. Semuanya masuk kedalam
ingatan Jimin yang kini sudah terkumpul semua. Memori Jimin sudah tidak kosong
lagi, Ia menarik selang infus dan mendorong Shin Gyu yang mencoba
menghentikannya.
“aku harus bertemu dengan Jin dan minseok. aku merindukannya”
“kau bisa bertemu dengannya nanti, sekarang dengarkan Eomma. Kembali
ketempat tidurmu—”
“berhenti menyebutmu Eommaku!” pandangan benci Jimin terpancar, “kau
meninggalkanku dipanti asuhan waktu itu, sampai ada keluarga asing yang
mengadopsiku! Ia menganggap aku sudah tidak memiliki siapa-siapa. Eomma macam
apa kau!”
“Eomma mengalami kecelakaan saat akan menjemputmu. Eomma berani
bersumpah, itu semua bukan keinginan Eomma meninggalkanmu nak. Eomma mohon
jangan seperti ini”
“aku ingin bertemu dengan Jin, Minseok dan Hyungku! Jangan
mengikutiku!”
“jika kau bersikap seperti ini. eomma tidak akan segan-segan bertindak
kasar terhadapmu Park Jimin!”
Jimin masih terus berjalan tanpa menengok kebelakang sekedar
mendengarkan eommanya bicara. Sojin memberikan aba-aba pada pengawal yang
menjaga ruang rawat Jimin, mereka langsung memulai aksinya dengan menggendong
tuan mudanya pada pundak besar mereka. Jimin meronta namun tidak digubris.
Sampai pada akhirnya Rapmon turun tangan menyelamatkan Jimin. “Nam Joon-sshi”
Jimin kini berada dibelakang Rapmon yang berhasil menjatuhkan para pengawal
Sojin. “kau sudah mengingatku? Syukurlah” Kata Rapmon dengan senyuman pesonanya.
“apa kau masih ingin bertemu dengan Jin? dia masih berada dibawa sedang
menunggu taxi, pergilah”
“lalu bagaimana denganmu?”
“aku akan menahan mereka. Percayakan semua padaku”
Tidak mau ditinggal Jin, Jimin langsung berlari pelan menuju lift. Meninggalkan
Rapmon yang mulai berbincang dengan Sojin. “kenapa kau melakukan ini? aku sudah
meminta baik-baik pada temanmu. Kenapa kau menghalangi kebahagiaan putraku!?”
“kau yang menghalangi kebahagiaan Jimin, tidak bisakah kau membalas
penderitaan Jimin dengan membiarkannya memilih apa yang menjadi keinginannya?
Kau yang membuat Jimin seperti ini. kau harus menerima kenyataan dari pada
Jimin semakin membencimu nantinya. Maaf jika aku lancang, tapi seorang ibu aku
yakin mengerti apa yang sedang dialami putranya. Jimin sudah memilih, dan
kebahagiaannya ada pada Jin”
Sojin meneteskan air matanya, Shin gyu hanya mengalihkan pandangannya
pasrah. “aku hanya ingin Jimin bahagia. Hanya itu”
Sedangkan dilain sisi.. Jimin masih berjuang mencari keberadaan
kekasihnya yang katanya sedang menunggu taxi. Pandangan Jimin disipitkan untuk
memperjelas penglihatannya, ada sosok yang Ia kenali dari punggung besarnya.
Punggung yang dulu selalu menghangatkan tubuhnya, punggung yang selalu menenanginya,
punggung yang menjadi tempat bersandar baginya. “Jin” panggilnya kencang, sang
pemilik nama tentu saja menoleh. Seakan waktu berhenti ketika kedua matanya
menemukan orang yang dicintainya memanggil namanya setelah sadar dari Koma.
Dengan tertatih Jimin berjalan mendekati Jin yang tidak bergerak dari
posisinya. Air mata Jimin mengalir deras mengikuti lekukan wajahnya, tidak
perduli dengan rasa air yang melewati bibir mungilnya. Yang Jimin inginkan
adalah Jin. minseok membuka kedua matanya dari pelukan Jin. Ia ikut kaget
dengan kehadiran Jimin. “EOMMA!!?” dengan bergegas, Minseok melepaskan pelukan
Jin pada tubuhnya. Dan berlari kencang mendekati Jimin yang sudah membukakan
kedua tangannya agar bisa memeluk Minseok. aroma tubuh Minseok sangat Jimin
rindukan. “Eomma!! Aku merindukanmu! Aku sungguh merindukanmu!” Minseok kembali
menangis, tapi untuk yang ini tangisan bahagia melukiskan perasaannya.
“Eomma juga merindukanmu Minseok-ah, apa kau makan dengan baik? Apa
Appa mu mengurusmu saat Eomma pergi? Appamu apa dia menyakitimu?” Jimin
menghapus air mata Minseok yang masih membasahi pipinya.
“Appa mengurusku dengan baik, bahkan Appa berjuang untuk mengembalikan
ingatan Eomma saat tidak mengingat kami semua. Eomma jangan tinggalkan kami
lagi. Appa benar-benar hancur kehilangan Eomma”
Jimin tersenyum tipis dan memandang kearah Jin lembut, Ia melepaskan
rangkulannya dari Minseok. melanjutkan perjalanannya mendekati Jin. minseok
yang ingin membantu Jimin digendong rapmon yang juga ikut menyaksikan perjuangan
Jimin. “hyung?”
“biarkan Eommamu berusaha, bukankah Appamu sudah berusaha juga
sebelumnya?” mendengar itu, Minseok hanya tertawa jail dan memperhatikan Jimin.
rasa sakit mulai Jimin rasakan, dan tubuhnya yang lemah tidak mampu
dipertahankan Jimin untuk tetap tegak. Keseimbangannya berubah. Tubuh Jimin pun
jatuh namun berhasil ditangkap Jin yang langsung memeluknya erat. Pakaian Jimin
menjadi kusut dengan pelukan Jin yang erat tidak membiarkan Jimin pergi lagi.
Wajah tampan Jin menjadi cengeng saat mendekap kencang tubuh kurus Jimin.
dengan sedikit tenaga Jimin membalas pelukan yang diberikan Jin, “kau sedikit
kurusan, apa makanmu baik?” tanya Jimin menggoda. Jin tidak menjawab dan masih
sibuk menyembunyikan wajahnya yang basah. “hey. Kim seok Jin, aku bertanya
padamu?”
“berhentilah bertanya. Biarkan tetap seperti ini. biarkan aku memeluk
lebih lama”
“kau bisa membunuhku jika memeluk seerat ini” mendengar rintihan Jimin,
melonggarkan pelukan Jin. tepat pada kedua mata Jimin. ia mendapati kekasihnya
yang tampan berubah menjadi cengeng akibat ulahnya. “aku tidak pernah melihatmu
menangis, apa ini Kim Seok Jin ku?”
“berhenti menggodaku”
Jimin tertawa tengil. Sedang asik melepas rindu keduanya, Yoongi datang
dengan berlari kencang. Memeluk Jimin yang masih terduduk diam dilantai bersama
Jin. “Yoongi? Min Yoongi?”
“Jimin-ah! Aku merindukanmu!” Yoongi ikut melepas rindu pada Jimin,
masih berada pada pelukan Yoongi. Ia bertemu dengan Jungkook yang bergandengan
dengan Taehyung tepat dibelakang Yoongi memeluknya. “Jeon Joon Kook” suara
kecil Jimin menyadarkan Yoongi dan langsung pergi meninggalkan posisinya. Jimin
berdiri dibantu Jin untuk menemui Jungkook yang berada disamping Taehyung.
melangkah dengan dituntun lembut Jin, serta diperhatikan banyak mata akan
pertemuannya dengan Jungkook.
“Jimin-ah.. aku...” suara getaran Jungkook terasa tidak tenang. Jimin
melepaskan rangkulannya dari Jin, meminta Jin untuk membiarkannya berdiri
sendiri. “aku.. aku..”
“aku tau kau tidak bermaksud melakukan itu, aku tau perasaanmu pada
Jin. aku mengerti apa yang kau rasakan saat Jin meninggalkan mu. Tapi
Jungkook-ah aku tidak bisa meninggalkan Jin” perkataan Jimin membuat semua
orang terpanah mendengarnya termasuk Jin disampingnya, “aku sangat
mencintainya, dan benar-benar mencintainya. Aku tidak bisa melepaskannya.
Selama perjalanan aku hilang ingatan aku sadar ingatanku pergi entah kemana
tapi hatiku tidak bisa menolak keberadaan Jin. hatiku terus memaksakan agar
menjauhi Jin. tapi takdir terus mempertemukan aku dengan Jin, itu yang aku
percayai bahwa aku sangat mencintainya dan tidak bisa melepaskan Jin untukmu.
Maka dari itu, aku minta maaf telah gagal menjadi sahabat yang baik untukmu”
“aku yang seharusnya minta maaf padamu Jimin-ah” Jungkook memeluk Jimin
yang berada didepannya. Taehyung membiarkan itu semua. “aku telah menghancurkan
kebahagiaanmu dengan Jin. aku yang salah melakukan semua tindakan bodoh pada
sahabatku. Rasanya aku sudah tidak bisa menemuimu lagi. Aku sangat malu
Jimin-ah. Aku malu padamu”
“Jungkook-ah?”
Jungkook menghentikan pelukannya lalu beralih kearah Jin, mengakui
semua perbuatannya yang sudah menjadi penghalang kebahagiaan pernikahannya
dengan Jimin. ingin rasanya Jin menampar dan menyadarkan Jungkook akan
perbuatannya yang mungkin bisa menghilangkan nyawa orang lain. Tapi itu semua
Jung Ho Seok hentikan yang muncul tiba-tiba. “Hoseok?” panggil Jungkook kaget.
Hoseok menunduk hormat pada Jungkook, tapi urusan yang sebenarnya ada
pada Jimin. “Jimin aku mohon semua yang dikatakan tuan muda tidak didengarkan, aku
yang melakukannya jadi biarkan aku meneruskan hukuman ini”
“apa yang kau katakan! Yak! Jung Hoseok!! Berhenti untuk melindungiku!!
Aku sudah tidak membutuhkanmu! aku tidak pernah mencintaimu jadi hentikan semua
pengorbananmuu!!" kesal Jungkook. Hoseok kembali masuk kedalam mobil
polisi yang mengantarnya untuk menemui korban yaitu Jimin. Jungkook tidak
terima dan meminta Hoseok untuk turun dari mobil polisi yang dikuncinya dari
dalam. Jimin tidak mengerti dengan apa yang terjadi, Ia meminta penjelasan pada
Jin. dengan senang hati kekasihnya menceritakan semua yang terjadi saat Jimin
tidak mengingat apapun. Setelah Jin beritahu, Jimin mulai paham dan meminta
polisi untuk membebaskan keduanya. “aku ingin kasus ini ditutup. Aku tidak akan
memperpanjang masalah ini. jadi aku mohon bebaskan mereka”
“kalau begitu kami harus meminta keterangan dari anda tuan Park Jimin,
setelah kesehatan anda pulih sepenuhnya”
“aku siap bersaksi” ungkapnya yakin dengan menggenggam tangan Jin
disampingnya. Jin menemani Jimin bersaksi selama kesehatannya belum sepenuhnya
pulih. Membantu sedikit-sedikit agar dapat membebaskan Jungkook dari masa
hukuman. Sekalipun telah menutup kasus tetap saja Jimin harus dapat memberikan
jaminan kelakuan baik Jungkook untuk tidak mengulangi perkara yang dibuatnya.
Selama berjam-jam Jin dan Jimin diberikan pertanyaan dalam ruang rawat.
Petugaspun mengakhiri semua, lalu mengizinkan Jungkook untuk bebas sementara.
Jimin harus memenuhi kewajibannya sebagai saksi sekaligus korban dengan datang
ke kantor polisi setelah kesehatannya membaik. Petuas itu keluar dari ruang
rawat Jimin dan pergi tanpa menahan Jungkook ataupun Hoseok. Air mata Jungkook
jatuh. Hoseok menghapusnya sama seperti dulu. Ia tersenyum pada Jungkook yang
terlihat cengeng seperti anak bayi. Tanpa basa-basi Jungkook memeluk Hoseok
agar hatinya tenang. Yoongi dan Namjoon ikut memeluk satu sama lain.
Sojin mulai mendekati Taehyung yang berdiri memandangi Jin dan Jimin
diluar ruang rawat. “kau tidak masuk kedalam?” tanya Sojin menghilangkan kesedihan
Taehyung yang langsung menghapus air matanya. “Kim Taehyung maaf atas pertemuan
sebelumnya, dan terimakasih sudah merawat putraku sampai sebesar ini”
“nde. Sudah kukatakan Itu semua
bukan karena aku, orang tua ku lah yang berjasa atas kehidupan Jimin”
pelan-pelan Sojin memeluk Taehyung untuk memberikan ketenangan terhadap
namja yang sejak tadi menyapu wajahnya. “kau menyukai putraku? Apa aku benar?”
Sojin mulai menebak hati Taehyung. Gelengan kepala langsung diberikan, taehyung
melepaskan pelukan yang tidak memberikan dirinya ruangan gerak.
“aku menyukai Park Jimin karena dia adalah dongsaengku”
“aku bukanlah seseorang yang mudah ditipu, tapi aku akan memberikan mu
semangat Taehyungie. Berhubung kau adalah hyung angkat Jimin bisa kan kalau kau
menganggapku Eommamu juga? Bagaimanapun orang tuamu bagian dari penyelamat
kehidupanku” Sojin tersenyum saat Taehyung menyetujuinya. Jimin mendapati
moment terbaik antara Eommanya dan Taehyung sedang berpelukan. Minseok ikut
tersenyum dalam pangkuan Jin.
“apa halmeoni itu Eommanya Eomma? Apa dia jadi halmeoniku juga?”
“nde. dia adalah halmeonimu” kata Jimin. Minseok turun dari pangkuan
Jin dan bergegas keluar ruang rawat. Ia memeluk Sojin dan dibalas dengan
hangat. Taehyung kembali memandangi kearah dalam ruang rawat. Tampak Jimin
tersenyum manis kepadanya. Semua berkumpul di ruang rawat Jimin dengan
bercerita sesuatu yang lucu dan mengenang. Jimin dan Jin tertawa bersama dengan
teman-teman serta keluarga besarnya. Ia berharap dapat merasakan kebahagian ini
selamanya.
Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama...
Dentuman suara bomb terdengar cukup kencang dibagian belakang halaman
rumah sakit. Seluruh petugas rumah sakit mengamankan tempat kejadian,
pengunjung juga ikut penasaran dengan ledakan yang terjadi. Mereka
berbondong-bondong keluar rumah sakit takut jika terjadi ledakan di dalam rumah
sakit. Jin menggendong Jimin, diikuti teman-teman dan Eommanya menuruni tangga.
Secepat mungkin mereka bergerak keluar dari rumah sakit. Alhasil Jimin
diistirahatkan di mobil Yoongi yang terparkir di depan lobby rumah sakit.
“kenapa bisa ada bomb?” aneh Sojin memandangi kegaduhan yang ada. Beberapa
namja berjas hitam datang memukuli Jin, Rapmon, Taehyung, Yoongi, Jungkook dan
Hoseok. Tidak tau dengan alasan apa pemukulan itu terjadi yang pasti mereka
melakukan ini untuk menculik Jimin. Tubuh Jimin yang lemas tidak dapat
memberontak sedikitpun. Mobil Yoongi diambil alih orang-orang asing, dan
membawa Jimin pergi. “Jiminnnnn-aahhh!!” teriak Sojin dengan mengejar
semampunya. Mengetahui mobil sudah diambil alih. Namja berjas itupun pergi
meninggalkan lokasi sebelum polisi datang. Petugas-petugas yang membantu ikut
dipukuli. Mereka kini mengambil penuh Jimin.
Yoongi menelpon bantuan pada orang-orang suruhannya, Jungkook
menghubungi halbeoji untuk meminta bantuan. Rapmon Taehyung dan Jin mulai
mencari mobil pengganti, Hoseok menghubungi polisi. Mereka semua bekerja untuk
menyelamatkan Jimin yang mereka sayangi. Setelah berhasil menemukan mobilnya,
Jin menginjak rem sekencang mungkin agar mobil yang membawa Jimin dapat
terkejar.
Hongbin yang menjadi otak dari penculikan ini menunggu para pengawalnya
dipinggir jurang. Memegang selembar foto dan membuang dompet Jimin keudara. Ia
tidak mendengar suara jatuhnya dompet, dan dapat Hongbin pastikan jurang ini begitu
dalam. Senyuman tampan Hongbin berikan saat sebuah mobil mendatanginya.
Terlihat Jimin yang pucat dan kelelahan mungkin karena terlalu banyak melawan.
Angin kencang dapat Jimin rasakan saat pintu terbuka dari luar. Hongbin berdiri
tegak diambang pintu, meletakan tangan Jimin kepundaknya. Lalu menggendongnya
keluar. “Chimchim bukankah ini indah?” tanya Hongbin tidak masuk akal. “tapi
tidaklah indah ketika ingatanmu kembali berkumpul, tidak seharusnya kau
mengingat apa yang tidak pantas kau ingat”
Dalam dekapan Hongbin, Jimin dapat merasakan ketakutan yang luar biasa.
Mungkin kalau Hongbin melepaskan gendongannya. Jimin akan jatuh kejurang karena
tidak dapat berdiri dengan benar. “Hongbin-sshi pulangkan aku, aku mohon”
“Nde? pulangkan? Apa kau bercanda Chimchim?” tatapan Hongbin tidaklah
seperti manusia yang masih memiliki hati. Detak jantung Jimin tidak beraturan
menahan rasa takutnya. Ia ingin menangis tapi Hongbin akan semakin berbuat
seenaknya ketika mengetahui hal itu. “Chimchim dengarkan aku, mungkin Eomma
Park sudah mengetahui bahwa akulah yang melakukan ini semua, tapi aku tidak
perduli kalau Eomma akan membenciku atau tidak. Yang pasti Ia sudah berpihak
kepada meraka”
“tidak ada yang memihak Hongbin-sshi...”
satu langkah Hongbin kini tidak menginjak apapun. Tidak ada tumpuan
yang dapat menyelamatkan Jimin. “kita akan bersama selamanya, hanya kau dan
aku” ucapan Hongbin meneteskan air mata Jimin yang seakan-akan hidupnya akan
berakhir begitu saja. Tiupan angin membuat Jimin mengharuskan matanya terpejam.
Pelukan erat diberikan ketika guncangan hebat mencoba memisahkan tubuhnya
dengan Hongbin.
. dilain tempat
Firasat buruk dapat Jin dan Taehyung rasakan, mereka berteriak
memanggil nama Jimin secara bersamaan. Rapmon kaget mendengar teriakan itu tiba-tiba,
dan mulai memperhatikan kedua namja yang tadinya berteriak kini menangis tanpa
sebab. Jin menangkap tetesan demi tetesan, dan memandangi wajah Taehyung yang
melakukan hal yang sama. Namjoon mulai menebak, “kenapa perasaanku juga menjadi
tidak enak”
Jimin Prov.
.
Bukankah
aku sedang bersama dengan Jin tadi?
.
Kemana
Minseok, Taehyung, dan Eomma?
.
Yoongi,
Jungkook, Rapmon, dan Hoseok?
.
Mereka
meninggalkan ku?
.
Atau
aku yang meninggalkan mereka?
Ingatanku
telah kembali semua, tapi aku harus meninggalkan mereka lagi. Aku tidak ingin
menyakiti hati orang lain. Apakah itu alasannya aku harus berakhir disini?
Jungkook dan Hoseok maafkan aku sudah membuat kalian merasa bersalah, Yoongi
dan Rapmon bantu Jin untuk merawat Minseok, Eomma jaga dirimu baik-baik, Jin
aku mencintaimu tetaplah menjadi Appa terbaik untuk Minseok. Dan ....
Hyung?
Taehyung
hyung maafkan aku.. aku sungguh minta maaf karena selalu menyakitimu. Selalu
membuatmu merasa sakit hati terus-menerus. Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku
begitu menyayangimu hyung. Aku ingin bersamamu mengulang semuanya dari masa
kecil.
Waktu..
tidak berhenti.. aku.. akan tetap pergi
.
Author Prov.
Jimin sedang sibuk membersihkan kelasnya, ia cukup jengah saat
mengetahui teman-temannya ada beberapa yang pulang dan tidak mengerjakan
kewajibannya. Tidak sengaja ia mendengar seseorang yang sedang menangis.
Sedikit mengintip sepertinya dari balik jendela kelasnya ada seseorang yang
patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Jimin ingin sekali menasehati
namja tinggi yang tidak tau diri itu. Tapi ... suara menggema terdengar
dikelasnya yang kosong.
“hentikan!”
Jimin memperhatikan keseluruh ruangan, hanya ada dirinya didalam. Saat
Ia melihat keluar tidak ada orang lagi disana. Suara misterius itu menghentikan
tindakannya untuk tidak muncul dari balik jendela dan menjadi sosok pahlawan
seketika. Mungkin itu adalah hati nurani untuk tidak ikut campur kedalam
masalah orang lain. “Jimin-ah aku pulang yah” tegur teman Jimin yang baru saja
selesai membuang sampah. Sama hal dengan dirinya Taehyung memanggil Jimin untuk
pulang. Sepertinya hyungnya itu tidak sabaran dengan kegiatan yang Jimin
lakukan dari tadi. “Jiminnie aku benar-benar lapar. Ayo pulang dan kita masak”
katanya. Ia pun mengangguk dan meletakan sapu kelasnya. Mengambil tas lalu
pergi beriringan dengan langkah Taehyung. Seketika Jimin dan Taehyung
berpapasan dengan Jin yang mereka tidak kenali. Pandangan mereka saling
mempertegas seakan pernah mengenal satu sama lain. Jin memasang earphone dengan
cepat dan Jimin taehyung mengacuhkan keadaan. Mereka melanjutkan perbincangan
tidak penting dan berakhir pada perdebatan. Jin menghentikan langkahnya, Ia
menoleh kebelakang memandangi tubuh mungil Jimin. Berbisik pelan, “namja itu
terlihat bodoh” setelah itu Jin melanjutkan perjalanannya lagi. Jimin yang
penasaran melakukan hal yang sama dengan Jin, menoleh kebelakang untuk
memandangi tubuh besar Jin.
“ada apa Jiminnie?” Taehyung menghentikan langkahnya. “apa kau
mengenalnya?”
“dia namja tinggi yang kulihat di jendela tadi” Jimin menjelaskan.
Pandangan Taehyung fokus pada Jin yang seakan memiliki kenangan bersamanya.
Jin pulang kekediamannya, Ia bertemu dengan Namjoon yang seperti biasa
selalu main saat dia bosan dengan teman wanitanya. Melemparkan tas ke tempat
tidur lalu merebahkan tubuhnya sejenak. Ia sangat lelah sekarang ini, “aku
menyakiti namja lagi” ceritanya pada Namjoon. Masih sibuk dengan playstationnya
Namjoon pun mendapatkan lemparan bantal kewajahnya. Jin benar-benar membutuhkan
perhatian sahabatnya itu kali ini. “aku merindukan Jungkook-ah” Jin melanjutkan
kegalauannya.
“berhentilah mencintai namja itu dan mencoba mencari penggantinya,
lebih baik kau mencari yeoja. Aku mempunyai banyak kenalan yeoja yang cantik
dan kau bisa memilih yang mana yang kau sukai” namjoon menghibur sebentar dan
melanjutkan permainannya lagi. Saat namjoon akan menekan tombol START. Ia
menemukan sebuah cincin yang bertuliskan nama ‘Park Jimin’ didalam
lengkungannya. “hmm.. jadi namja yang kau sakiti itu bernama Park Jimin?
Sudahlah lupakan namja dan mulailah dengan yeoja”
“apa yang kau katakan? Siapa Park Jimin?”
namjoon menyerahkan cincin yang Ia temukan dilantai, “itu punyamu
kan?”. Jin meneliti baik-baik cincin yang tidak kenali. “ini bukan punyaku”
kata Jin mengembalikan cincin itu pada Namjoon. Namjoon yang masih berusaha
memenangkan permainannya mengabaikan cincin yang Jin letakan disampingnya. “aku
tidak pernah mengenal atau mencoba berhubungan dengan seseorang yang bernama
Park Jimin. Tapi bagaimana benda itu ada dikamarku?” Jin mengambil lagi cincin
itu.
“aku lihat cincin itu dari ukirannya dibuatkan khusus, dan dapat aku
nilai itu mahal. Tidak mungkin jika maidmu yang memilikinya. Dan aku pastikan
itu punyamu, ayolah katakan saja padaku namja mana yang akan kau nikahi”
“Sial kau!” Jin melempari Namjoon bantal berkali-kali, namjoon tidak
mau kalah. Ia membalas serangan yang diberikan Jin padanya.
.
[ Apartemen Taehyung ]
Taehyung meniupkan Mie ramyun sebelum masuk kedalam mulutnya.
Menghilangkan panas yang mungkin akan membakar lidahnya. Jimin ikut memakan
santapan makan malam bersama Taehyung. “hyung apa kau mengenal namja tinggi
tadi?”
“Ani. Dia sepertinya satu kelas denganku, tapi dia bukan sosok yang mau
bergaul sepertiku. Mungkin itu alasan mengapa aku tidak mengenalnya”
“tapi kenapa aku seperti pernah bertemu dengannya ya?” Jimin
membayangkan namja yang baru ditemuinya tadi siang, hembusan angin panas yang
berasal dari ramyun menghancurkan semuanya. “Hyung!! Panas!” kesal Jimin dengan
jailan Taehyung.
“kau tidak perlu memikirkan namja lain! Bukankah hyungmu ada disini!
Aisshh! Kau semakin remaja semakin genit.”
Jimin mengangkat wajan dan berniat menuangkan air panas kewajah
Taehyung. Tapi tingkah hyungnya itu meminta maaf mendapatkan ampunan dari sang
dongsaeng. Taehyung menggeser duduknya dan menghilangkan jarak jauh antara
dirinya dengan Jimin. Genggaman tangan Taehyung berikan untuk merasakan suhu
dingin yang masuk kedalam apartemennya. Saat merasakan tangan Jimin dingin, Ia
pun mengetahui bahwa suhu di apartemennya kurang mendapatkan penghangatan. Ia
menutup tirai jendela, dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh mungil Jimin
agar mengusir dingin. Seusai makan malam Taehyung membereskan peralatan makan
dan membiarkan Jimin untuk beristirahat setelah selesai mengerjakan tugasnya.
Tepat di rak bukunya, Jimin menemukan cincin kecil yang bertuliskan ‘Kim Seok
Jin’ dilengkungan dalamnya. “punya siapa ini?” bingung Jimin.
“ada apa Jiminnie?” Taehyung datang dengan busa ditangannya, Jimin
memperlihatkan barang yang ditemukannya. Sebuah cincin yang Taehyung pikir
sangat mahal, “punya siapa itu?”
“aku tidak tau, aku menemukan di rak buku hyung tapi ada nama
seseorang”
“Kim Seok Jin?” Taehyung berfikir nama yang tidak Ia ketahui. “bagaimana
mungkin ada benda itu di Apartemen kita?lebih baik kau letakan ditempat kau
menemukannya. Kau tetap fokus pada tugasmu jika tidak ingin dihukum
seonsaengnim besok. Kau mengerti?”
“Nde hyung”
taehyung kembali pada dapur untuk membersihkan wajan yang sebelumnya
digunakan makan malam. Jimin masih sibuk memperhatikan cincin kecil yang sangat
pas dikenakan di jari manisnya. Senyuman manis terukir pada wajah Jimin ketika
cincin itu bersinar dijari. Pukul 10 malam Jimin telah menyelesaikan tugas
sekolah ditemani Taehyung. Mereka menyiapkan diri untuk tidur. Taehyung
mematikan lampu Apartemen dan menyelimuti Jimin dengan benar. Menepuk-nepuk
selimut itu untuk mengusir suhu dingin dari Jimin. Wajah manis Jimin dapat
Taehyung lihat secara dekat ketika tidur. Ia mencium kening Jimin, “selamat
tidur Jiminnie. Aku mencintaimu”
“aku mencintaimu juga hyung”
taehyung tersenyum dan mendekap erat tubuh mungil dongsaengnya. Ia
tidak ingin Jimin merasakan dingin sediktpun. Cincin yang dikenakan di jari
manis Jimin jatuh kelantai lalu lenyap begitu saja. Jin yang akan tidur
meletakan cincin yang Namjoon temukan dimeja samping kasurnya. Tidak lama ia
tinggalkan ke kamar mandi, cincin itu lenyap. Jin mencari kepergian cincin itu
atau mungkin Ia lupa meletakannya. Namjoon yang sedang tidur pulas dibangunkan
hanya untuk menanyakan cincin yang tadi Ia temukan. “kau melihat cincin yang
kuletakan dimeja?”
“aniyo! Carinya besok saja seulki, aku ngantuk sekali” katanya dengan
asal. Jin merenungkan kepergian cincin yang ditemukan tiba-tiba dan menghilang
tiba-tiba. “Park Jimin?” suara Jin yang memanggil dapat Jimin rasakan. Jimin
terbangun ditengah malam, Taehyung masih memeluknya. “Kim Seok Jin?” Jimin
menyadari cincin yang dikenakannya menghilang.
“aku seperti pernah mengenal seseorang” Jin dan Jimin mengatakan hal yang sama walau pada tempat yang berbeda.
TAMAT
. bisakah kita menghentikan cerita ini sampai disini? Aku Author yang
mempermainkan cerita. Aku tidak tau akan seperti apa, tapi inilah Ending dari
BOYINLUV SEASON 2. Waaahh aku tidak tau kenapa bisa menghasilkan cerita rewind,
tapi Endingnya terinspirasi dari lagu Park Seo Joon ‘Letting you go’.
Terimakasih sudah mengikuti cerita BIL S2 ini. Perjuangan ku tidak sampai
disini, doa kan aku untuk bisa melanjutkan dan mengembangkan Fanfic yang
lainnya. DEVIL WITHOUT YOU mungkin akan terpending sebentar. Maafkan aku:’((
semoga kalian tidak kecewa dengan ending yang kuambil. Silahkan tunggu karyaku
selanjutnya di Xiu99Han7.blogspot.com // Jimin Diary Youtube Channel // Dan aku
mencintai kalian semua ^^
BEHIND THE SCENCE
.
Jimin : Annyeong aku Park Jimin yang diperebutkan banyak seme, aku
tidak tau kenapa mereka memperebutkanku.
Taehyung : bukankah karena dia banyak hutang? (ledek Taehyung)
Rapmon : Nde kau mempunyai banyak hutang makanya aku pantang menyerah
mengejarmu! (bantu Rapmon dengan ledekan Taehyung)
Jimin diam. Dan dirangkul Jin, : menyingkirlah dia milikku!
Hongbin tidak mau kalah dan merangkul Jimin dari sisi lain : Yak! Kau
menyingkir.
Jungkook dan Yoongi menarik Jimin untuk keluar dari rangkulan seme
bertubuh tinggi. Mereka tertawa saat mengetahui Jimin lah yang paling kecil
jika disandingkan dengan Jin ataupun Hongbin.
Jungkook : aku tidak menyangka Jimin-ah kau begitu kecil di antara
mereka.
Yoongi : bukankah itu alasannya kenapa Author memilih dia jadi peran
utama?! Lihat saja tangannya dia paling kecil diantara pemain lain.
Hoseok : aku fikir kau lebih manis dibandingkan jimin tuan mudaa{}
jungkook dan yoongi meneriaki hoseok yang masih pada perannya.
Sojin : apa aku tidak terlalu muda untuk menjadi Eomma Jimin?
jungkook dan yoongi meneriaki hoseok yang masih pada perannya.
Sojin : apa aku tidak terlalu muda untuk menjadi Eomma Jimin?
Minseok : aku menyukai karakter Jimin hyung yang diperebutkan, dia
terkesan lemah tapi ada seseorang yang siap melindunginya.
Luhan : bukankah kau juga memiliki ku yang akan mendampingimu?
Jihyun : aku merasa jantungku sudah tidak mampu bermain dalam fanfic bil3 (?) nono :p
Shin Gyu : Annyeong. Gunakan aku terus dalam Fanficmu Author *Lol
Shin Gyu : Annyeong. Gunakan aku terus dalam Fanficmu Author *Lol
.
Author : sampai Jumpa lagi semua ^^// terimakasih atas kerja kerasnya
wkwk :’v JINMIN, VMIN, JIKOOK, HOPEMIN, NAMMIN, YOONMIN


Baru selesai baca, dan bagus sumpah :")) tapi sedih di tamat nya :"(( emg sedih atau feeling aku aja yg begitu :")
ReplyDelete