Xiuhan.Lumin Love is WAR Chapter 10
“Minseok-ah”
Luhan kini terjepit. Ia tidak dapat melakukan apa-apa lagi.
**************
Rapmon
memicingkan matanya. Terkesan licik dalam memanfaatkan kehadiran Minseok
diwilayah bangtan. Ini mungkin akan berhasil membunuh Luhan ataupun
menggulingkan Kris sebagai Mafioso Korea. Jimin berusaha mencari cara untuk
menyelamatkan Minseok. “apa kau ingin menyelamatkannya?” Tanya Taehyung
berbisik pada Jimin.
“aku ingin
menyelamatkan Minseok, tapi aku tidak tau harus melakukan apa” jelasnya dengan
tetap berfikir keras. Taehyung mengacak rambut Jimin pelan dan langsung
melayangkan kakinya kearah Yoongi yang perhatiannya masih kepada Luhan.
Pegangan Yoongi pada ikatan Minseok terlepas. Jimin yang menyadari itu langsung
menahan tubuh Minseok agar tidak jatuh kebawah. Menjadi sebuah kejutan bagi
Rapmon dan Hoseok atas perlawanan yang Taehyung berikan pada Yoongi. Bibir
Yoongi yang berdarah degera dihapusnya. Ia mencoba membalas taehyung yang telah
melukai wajahnya. Jimin membantu Minseok melepaskan ikatan.
DOORR!
Suara letupan
senjata api terdengar. Peluru itu menembus pundak taehyung yang masih melawan
Yoongi. “Taehyung!” teriak Jimin ikut menghajar Rapmon yang memegang senjata
api. Hoseok tidak tinggal diam, Ia pun melindungi sang ketua “bukankah ini visi
dan misi yang berbeda. Kenapa hubungan bangtan hanya sampai disini? Kenapa
hanya karena namja itu kalian melupakan wilayah bangtan”
“Jin benar.
Tidak seharusnya kita memanfaatkan orang lain hanya untuk kepentingan bisnis
ayahnya. Jika kita memang ingin menguasai atau mengambil wilayah yang direbut
bukankah sebaiknya kita langsung berhadapan dengan Kris. Akan menjadi hal yang
pengecut kalau memanfaatkan Minseok untuk mengalahkan Mafioso!”
“Mafioso?”
Minseok yang mendengarkan perkataan orang asing yang tidak dikenalinya,
mendapatkan fakta tidak mengenakan. “Ayahku bekerja bisnis haram? Apa itu
alasan kenapa banyak yang membenci ayahku, alasan kenapa aku menjadi incaran
orang jahat?”
Rapmon
tertawa geli mendapatkan kepolosan Minseok yang tidak tau apa-apa. “Nde! Apa kau
sama sekali tidak berfikir betapa jahat ayahmu terhadap bisnis terlarangnya?!
Ayahmu sudah banyak menjual wanita kenegara-negara sebrang! Bahkan mungkin saja
Ibumu telah dijualnya. Karena tidak lah mungkin Ibumu seseorang dari keluarga
baik-baik”
Tubuh Minseok
bergetar hebat. Nafanya tidak beraturan. Asma nya mulai kambuh. Ia
memundurkan langkahnya untuk menyangkal kenyataan yang memberi tau siapa
ayahnya. Luhan terus memperhatikan Minseok yang semakin memojokan tubuhnya
hingga pada ujung pembatas gedung. “Minseeeoookk!” teriakan luhan terdengar
bergema. Minseok tidak merasakan tumpuan lagi, tubuhnya seakan melayang. Luhan
berlari kearah tembok bangunan dan melompat, secepat mungkin Ia berusaha
menangkap tubuh Minseok agar tidak terbentur tanah. Setelah berhasil menangkap
Minseok. Luhan membiarkan tubuhnya jatuh lebih dulu. Nafasnya tersengal-sengal,
Minseok sadari itu. Saat merasakan benturan tubuh Luhan telah mendarat ditanah,
Minseok masih terus mendekapnya. Terdengar tangisan dari Minseok. Luhan yakin
perasaannya sangat ketakutan.
Taehyung yang
terkena tembakan terkulai lemas. Jimin menghampiri keberadaan sahabatnya itu.
“Taehyung-ah” panggil Jimin khawatir.
“tenanglah
aku tidak akan mati, ini hanya luka ringan”
Rapmon
mengambil pistolnya lalu mengarahkannya pada kepala Jimin. “pengkhianat”.
Taehyung mendorong tubuh Rapmon untuk menyingkirkan pistol yang mengarah pada
Jimin. Pistol itu pun terlempar dan jatuh kebawah. Taehyung mengajak Jimin
pergi meninggalkan kediaman Jin. Rapmon, Hoseok dan Yoongi hanya diam saat
mengetahui Luhan telah membawa Minseok pergi meninggalkan wilayahnya. “Cih!”
kesal Rapmon.
.
.
Minseok
menutup wajahnya dengan jaket milik luhan. Ia tidak bicara sedikitpun pada
luhan. Semua yang luhan tanyakan tidak mendapatkan jawaban apapun.
“apakah kau
ingin terus menutupi perasaanmu itu?” Luhan kembali bertanya. Masih tidak ada
respon baik dari namja mungil yang berada di bangku belakang mobilnya.
“Minseok-ah”
“pembunuh”
suara Minseok menyebut kata sindirian yang sepertinya tertuju untuk luhan. Namun
Ia sadari Luhan mengabaikannya. “apakah itu alasan kau menyuruhku untuk menutup
mata?” lanjut Minseok menyudutkan luhan. Merasa sudah tidak baik bila
diteruskan, Luhan menghentikan kemudinya. Ia pindah ke tempat duduk bagian
belakang mobil. Dan menindih tubuh Minseok. Dengan paksa jaket yang sebelumnya
menutupi wajah Minseok disingkirkan begitu saja. Tampak wajah memerah dengan
air mata yang menggantung dikedua matanya. Kesedihan Minseok sama sekali tidak
bisa disembunyikan. “hiks..hiks” isaknya terdengar.
“maafkan aku”
luhan memeluk tubuh kecil Minseok tapi ditolak. Tatapan Minseok seakan
menyimpan kebencian terdalam kini. “apa kau membenciku?” Luhan bertanya lembut.
“nde! Kau
pembunuh! Kau seorang pembunuh! Dan kau membunuh Jin-sshi” Minseok semakin
mengeraskan tangisannya. Kematian Jin sangat mengoyak hati. Orang yang
menyelamatkan dirinya malah menjadi korban dari seseorang yang disukainya.
Seseorang yang Minseok baru ketahui pembunuh sadis. “kenapa! Kenapa kau
membunuh Jinn-sshi!kenapa harus kau yang membunuh Jin-sshi!! Kenapaaa Luhaaan!”
tubuh Luhan terus dipukul Minseok. Ia ingin sekali menghajar namja didepannya
tapi itu mustahil untuk Minseok lakukan.
“Jin-sshi?”
Luhan mengingat-ingat, tapi Ia tidak tau siapa yang Minseok maksud.
“nde.
Jin-sshi seseorang yang sudah menyelamatkanku dari wilayah bangtan. Dia yang
menyembunyikan aku agar aku tidak menjadi Sandra ketuanya. Tapi kau malah
membunuhnya!! Kau benar-benar—”
Flashback On
“Minseok menceritakan tentang dirimu, Ia ingin bertemu
denganmu karena itu dia kabur dari rumah sakit itu. Awalnya aku tidak mengenali
Minseok tapi saat temanku menyelidiki, ternyata Minseok adalah putra Yifan. Aku
berusaha untuk melindunginya dari tempat yang seharusnya tidak dia datangi. Ini
semua kesalahanku”
“kau melindungi Minseok?”
Jin memandang kearah lain, “bagiku Minseok sudah
seperti adikku”
Flashback Off
“namja itu”
sesal Luhan. Ia kembali mencoba memeluk Minseok tapi penolakan terus diberikan.
Hingga pada akhirnya keinginan kuat Luhan meluluhkan Minseok untuk mau
ditenangkan. “aku minta maaf. Aku merasa bersalah karena tidak bias berfikir
jernih saat itu. Maafkan aku”
“kenapa harus
kau yang membunuh Jin-sshi!! Kenapa luhan” kalimat itu terus berulang-ulang
terdengar. Menyesakan luhan. Itu bukanlah keinginan luhan, hanya saja emosi
saat Minseok dalam bahaya menghilangkan sebagian perasaan manusianya. Minseok
terus menangis, tidak ada tanda-tanda Ia akan menghentikan kesedihannya. Ketika
merasakan semua sudah tenang. Luhan melanjutkan perjalanannya menuju kediaman
Mafioso Korea. Minseok yang tertidur dibelakang hanya terkejut saat Ia telah
sampai pada halaman rumah. “kau
membawaku pulang?”
“aku tidak
hak apapun membawamu pergi dari tuan Kris”
“tapi luhan,
aku tidak ingin kau meninggalkanku. Bawa aku bersamamu. Aku mohon” pinta
Minseok memelas. Bukannya Luhan tidak menginginkan itu, hanya saja perasaan
bersalah Luhan masih merasuki hati. Tangisan Minseok disebabkan oleh Luhan.
Untuk pertama kalinya air mata Minseok menetes karena ulahnya. “kau tidak bisa
ikut bersamaku, bukankah kau takut padaku? Aku adalah seorang pembunuh” Luhan
mengingatkan. Tapi Minseok menggeleng memberi tanda bahwa dirinya sama sekali
tidak keberatan akan status Luhan.
“aku yakin
kau tidak bermaksud melakukan itu, aku tau kau bukanlah orang seperti itu
luhan. Kau hanya tau bahwa aku dalam bahaya, dan hatimu menyuruhmu untuk
melakukan apapun agar aku selamat” Minseok mengangkat wajah Luhan yang
menundukan kepalanya tak dapat menatap mata Minseok yang tadi menangis,
“Luhan,bawa aku bersamamu. Aku mohon”
Chanyeol
datang membuka pintu mobil dan menarik Minseok keluar. Sedangkan Luhan di kasari
beberapa antek Kris. Mobil yang luhan bawa untuk menyelamatkan Minseok
dihancurkan begitu saja. minseok menggigit tangan Chanyeol yang merengkuhnya,
Ia melindungi Luhan agar tidak ada yang berani memukulinya. “berani maju! Maka
aku akan meminta ayahku untuk memecat kalian semua”
“apa maksudmu
Minseok! Karena dia kau dalam bahaya, kau diculik, terluka dibagian lengan dan
sekarang kau pulang dengan keadaan tidak karuan seperti ini” pandangan Chanyeol
kepada minseok sangat memprihatinkan. Sama sekali tidak terurus. “sekarang
masuk kekamar. Atau ayahmu akan membunuh Luhan!” kasar Chanyeol memerintah.
Minseok
melangkah mendekati Chanyeol dengan pandangan yang tidak terima diperintah,
“kau bukan siapa-siapa. Kau tidak berhak memerintahku” balas Minseok.
Kedatangan seseorang menjadi perhatian Minseok yang tadi sedang berdebat dengan
chanyeol. Ia sangat ingat bahwa namja tinggi yang baru saja keluar dari
kediamannya adalah ayahnya. Walaupun tidak pernah berjumpa, tetapi hati Minseok
percaya akan hal itu. Seluruh pengawal membungkuk memberi hormat kecuali
Minseok yang masih berkesan atas pertemuan kedua kalinya. “Ayah” pelan Minseok
memanggil.
Kris berjalan
menghampiri Luhan. Tepat di hadapan Minseok, sebuah tamparan keras menjatuhkan
Luhan tanpa perlawanan. “Ayaaahhh!” Minseok ingin menghentikan, tapi dicegah
Chanyeol. “lepaskan aku! Chanyeollie! Aku mohon lepaskan!” Minseok meronta.
Teriakan yang Minseok lakukan tidak menghasilkan apa-apa. Luhan masih
mendapatkan hukuman dari ayahnya. “ini
bukan kesalahan luhan Ayah! Aku mohon hentikan menyakiti luhan!”
Sebentar Kris
menoleh kearah Minseok, “kau kabur karena mencarinya kan? Kau berada diwilayah
bangtan karena ulahnya yang membuatmu mencoba kabur dari rumah sakit”
“itu tidak
benar ayah. Aku mohon mengertilah. Aku kabur dari rumah sakit untuk mengatakan
bahwa luhan tidak bersalah atas penculikan yang terjadi padaku. Aku mlelindungi
luhan karena aku tidak mendengarkan apa yang luhan perintahkan. Dia tidak dapat
bertarung jika aku memandangnya. Dan itu sebabnya mereka berhasil melukai Luhan
ayah” Minseok menangis lagi. Itu mengingatkan Kris akan tangisan Sohee dulu. Ia
tidak ingin mendapatkan moment itu terjadi pada putra satu-satunya. “Ayah,
maafkan aku karena membuatmu khawatir. Tapi aku berjanji tidak akan
mengecewakan ayah lagi asal luhan kembali menjagaku”
kris
memalingkan wajahnya enggan untuk menerima permohonan Minseok. Tapi Minseok
mengatakan sesuatu yang menghentakan hati Kris, “aku tau Ayah menjadi Mafioso,
dan aku tau ayah menjalani bisnis terlarang. Itu sebabnya aku membutuhkan
pengawal sejak kecil. Bahkan ayah tidak menginginkan aku dalam bahaya lalu
menjauh dariku, benar kan? Kini aku mengerti semua, mungkin itu alasan kenapa
ayah tidak mau bertemu denganku. Keselamatanku lebih penting dari apapun”
Chanyeol
mulai merasakan firasat buruk tentang posisinya, Ia sebaiknya mengambil alih
suasana ini. “Tuan, sebaiknya Minseok saya bawa kekamar agar anda—”
“Aniii! Aku
akan berada disini sampai Ayah mengatakan keputusannya”
“kau baru
saja pulang, kau membutuhkan istirahat Minseok-ah. Berhenti untuk memaksakan
dirimu” ucap Chanyeol. Penolakan terus Minseok berikan, Ia menginginkan luhan
berada disampingnya. Mungkin hanya ini yang bias Kris lakukan untuk menebus
rasa bersalah atas kehidupan putranya yang selalu terancam bahaya. Kris
menghela nafas, “baiklah aku akan mengikuti keinginanmu Minseok-ah”. Keputusan
yang dibenci Chanyeol namun disambut bahagia Minseok dan luhan.
“ayah
benarkah?! Ayah tidak bercanda kan?” Tanya Minseok antusias, Kris menganggukan
kepalanya. Pelukan Minseok berikan pada ayahnya yang selama ini sangat sulit Ia
temui. “aku menyayangimu ayah” tangan Kris mencoba untuk membalas pelukan itu.
Tapi terasa berat untuk melakukannya..
“sebelum itu,
luhan harus berjanji padaku. Ia harus menjagamu lebih dari Ia menjaga dirinya”
syarat Kris langsung diberikan. Tentu saja itu akan Luhan sanggupi. Dan saat
itu juga Chanyeol memandang ketus pada kebahagiaan Luhan dan Minseok. Selesai
berdebat dengan Chanyeol dan ayahnya. Sesuai yang Minseok harapkan keputusannyapun
diterima. Rasanya menyenangkan berada di samping Luhan seperti dulu. Karena
lelah dan merasa lengket, Minseok merebahkan dirinya sebelum bershower. Mereka terdiam sesampainya di kamar. Tidak
lama Minseok memulai pembicaraan, “Luhan bagaimana kau bisa tau aku di tempat
itu?”
“ada seseorang
yang mengirimkan pesan padaku tentang keberadaanmu, aku tidak tau siapa. Tapi
saat aku menyelidiki baik-baik. Kau memang berada disana”
“kenapa kau
tidak melaporkan semua pada ayahku? Setidaknya kau mendapatkan bantuan daripada
bertarung sendiri”
“tidak ada
waktu. Karena nyawa mu lebih penting dibandingkan nyawaku”
minseok
menatap lekat netra Luhan yang tidak seperti saat dirinya berkelahi. “kau tau,
kau tidak terlihat seperti luhan yang tadi sedang berkelahi tadi” ucapan yang
langsung mengangkat kepala Luhan. “luhan aku mohon jangan seperti itu lagi, itu
terlihat menakutkan bagiku. Itu bukan dirimu”
“maaf sudah
membunuh seseorang yang menyelamatkanmu” Luhan mengingatkan kematian Jin lagi.
Hati Minseok tidak terima bahwa luhan yang melakukannya. Tapi keadaan Luhan
sekarang sepertinya membutuhkan dukungan dari Minseok.
“bukan
salahmu. Seandainya aku tidak meminta pertolongannya mungkin dia tidak akan
seperti ini. Kesalahanku yang datang dalam hidupnya, maka dari itu berhenti
menyalahkan dirimu Luhan” minseok memeluk luhan lembut. Berharap luhan tenang
dengan keadaan yang baru saja dialaminya. Minseok yakin Luhan gelisah karena
menyalahkan dirinya. Chanyeol mendatangi ruangan khusus Kris. Ia tidak terima
dengan keputusan yang Kris ambil secara tiba-tiba. Ia berdebat untuk
menyingkirkan Luhan tapi Kris mengabaikannya. Merasa tidak didengarkan,
Chanyeol pun pergi dengan amarah. Ia membanting pintu ruangan Kris tanpa
perduli apapun.
.
.
[ Keesokan
paginya ]
Minseok tiba
di sekolah. Kedatangannya mengejutkan kyungsoo dan baekhyun yang sudah lama
tidak tau kabar tentang temannya itu. Mereka menghampiri Minseok yang sudah
duduk dimejanya. “Minseok-ah kau kemana saja?” Tanya Baekhyun antusias.
Kyungsoo yang biasanya memukul baekhyun karena berisik kini hanya ikut
menimpali banyak pertanyaan pada Minseok. “kau itu sudah lama sekali tidak
sekolah tanpa kabar, lalu apa kau sudah bertemu luhan? Apa kau sudah tidak
apa-apa semenjak kabur dari rumah sakit?”
Minseok
memiringkan alisnya bingung harus menjawab darimana, Ia meletakan masing-masing tangannya ke mulut kyungsoo dan
baekhyun. Saat itulah Minseok mulai
merasakan ketenangannya lagi. “kalian ini pagi-pagi sudah berisik aku bisa
masuk rumah sakit lagi kalau kalian seperti itu”
“kami penasaran”
jawab kyungsoo dan baekhyun bersamaan.
“aku dan
luhan sudah bersama lagi”
kyungsoo
mengembangkan senyumannya,”benarkah? Waah selamat! Apa karena itu kau jadi
cepat sembuh” senggolan Minseok berikan langsung akibat candaan kyungsoo yang
tepat sasaran. “aku hanya bercanda”
“kau
benar-benar menyukai namja bernama Luhan itu? Aisha pa bagusnya sih dia. Lebih
tampan aku, dan lebih cocok aku untuk menjadi namjachingumu” perkataan baekhyun
berhasil mendaratkan pukulan kyungsoo ke kepalanya. “Apppoo!!”
“kau itu!”
ketus kyungsoo. Masih ada rasa penasaran kyungsoo saat kepergian Minseok dari
rumah sakit, Ia memberanikan diri untuk bertanya. “tapi kemana saja kau selama
ini? Kau kabur dari rumah sakit lalu kau tinggal dimana?”
“sangat
panjang bila diceritakan, dan tidak aka nada waktu untuk menceritakannya” bel
pun berbunyi. Menandakan pelajaran pertama akan segera dimulai untuk kelas
Minseok. Luhan menunggu diparkiran mobil. Pikirannya selalu mengarah pada
Minseok, hatinya berdebar kencang ketika nama Minseok keluar dari bibirnya
pelan. Angin yang berhembus menarik ingatan dimasa lalu Luhan. Memaksa luhan
untuk kembali mengingatnya. Kepalanya terasa sakit seketika. Pandangannya
kabur, gelap tak dapat melihat apa-apa. Semua terasa dingin dan menyedihkan.
Flashback On
Luhan tinggal dengan keluarga yang terpandang di China.
Memiliki banyak harta dan tidak kekurangan sedikitpun. Menjadi keluarga yang
dihormati didaerahnya. Orang tuanya adalah panutan bagi masyarakat desa. Selalu
membantu terhadap sesama, dan sangat baik. Tidak memperdulikan diri sendiri
sebelum kebutuhan orang lain terpenuhi. Bukankah itu prinsip yang aneh? Selama
mereka memiliki harta, tidak ada alas an mereka untuk tidak membantu seseorang
yang membutuhkan bantuan. Hingga pada suatu hari kebaikan orang tua luhan
dimanfaatkan. Seseorang dengan pakaian serba hitam datang kerumah bersama
pengawal. Awalnya luhan tidak tau mengapa orang tuanya tidak mengizinkannya
untuk mendengarkan percakapan tapi yang luhan tau. Mereka memiliki sebuah
pembicaraan penting. Pertikaian antara orang tua luhan dan namja berpakaian
hitam terjadi. Luhan dapat melihat sebuah pistol yang mengarah ke orang tuanya.
Ia ingin keluar untuk menghentikan tapi kakinya kelu. Tidak bisa bergerak. Luhan
berdoa untuk keselamatan orang tuanya. Hingga pada akhirnya…
DOORR!
Suara tembakan mengakhiri pertikaian yang terjadi.
Tubuh orang tua luhan berlumuran darah dan terkulai kelantai. Air mata luhan
menetes dengan cepat. Berlari keluar kamar untuk memeluk kedua orang tuanya.
Tidak ada yang merespon panggilan luhan, orang tuanya mati ditempat dengan
cepat. Luhan menggenggam pakaian orang tuanya dengan kuat. Rasa sakit dan
amarah menumbuhkan kebencian luhan akan namja asing yang telah membunuh kedua
orang tuanya. Pistol yang tadi telah menewaskan orang tuanya, kini mengarah
kepada luhan. Tapi namja satunya menghentikan penembakan yang akan dilakukan
luhan.
“pergilah. Kau terlalu kecil untuk kubunuh. Aku
melakukan ini hanya menginginkan wilayah yang tidak diberikan orang tuamu. Jadi
jangan menghalangiku dengan bertindak bodoh, kau hanya bisa berlari mencari
perlindungan sekarang. Maka pergilah” kata namja berpakaian hitam itu kepada
luhan yang masih merengek layaknya anak kecil. Luhan memukul namja yang tinggi
2 kali lipat dari tubuhnya. Ia berusaha untuk menjatuhkan namun tamparan keras
membekas dipipi luhan. Keningnya terbentur pinggir meja. Menciptakan luka dalam
yang tidak akan pernah hilang. Karena merasa percuma, Luhan hanya pergi
meninggalkan kedua orang tuanya yang sudah mati dengan namja yang pembunuh.
Di pelariannya Luhan menabrak seseorang yang dirinya
kenal. Salah satu penduduk yang menghormati keluarga Luhan. Huang zhi Tao. Bagi
Luhan Zhi tao teman, guru, serta orang tua kedua untuknya. Mengetahui akan
ancaman yang ditunjukan pada keluarga luhan, Zhi tao pun mendatanginya. Tapi
sepertinya kedatangannya sudah terlambat. Luhan menangis sekencang mungkin
dalam pelukan Zhi tao. Ia membayangkan sakitnya Luhan kecil saat menghadapi
kenyataan bahwa orang tuanya mati tepat di depan kedua matanya.
Flashback Off
bel sekolah
Minseok menyadarkan luhan akan mimpi yang mengingatkan masalalunya. Ia
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melirik arloji yang berada di tangan
kirinya. Memperbaiki wajahnya yang kusut agar tidak membuat Minseok khawatir.
Sepertinya sakit kepala luhan tidak kunjung hilang. Ini akibat ingatan masa
lalu luhan mulai bangkit lagi masuk ke dalam mimpi. Ketukan kaca mobil
mendapatkan reaksi dari luhan yang langsung membukakan kunci pintu mobil. “kau
kenapa membawa tas?” bingung luhan. “apa kau ingin cabut?”
“apa kau
mengigau? Ini sudah jam pulang sekolah. Bagaimana aku tidak membawa tasku?”
balas Minseok yang melemparkan tasnya ke kursi belakang mobil. Melihat kondisi
Luhan terdapat sesuatu yang berbeda, “Luhan kau baik-baik saja?”
luhan
mencengkram kepalanya yang terus-menerus sakit. Tapi itu tidak diperlihatkan
kepada Minseok lebih lama. Ia merubah rasa sakitnya menjadi sesuatu hal biasa.
Mengabaikan pertanyaan Minseok, dan melajukan mobilnya keluar gerbang sekolah.
Panggilan Minseok tidak terdengar. Hanya
tepukan kasar bisa mengembalikan kesadaran Luhan. “apa terjadi sesuatu?”
“aku tidak
apa-apa” Luhan yang mulai memperlambat kecepatan pada kemudinya, menjadi
pertanyaan Minseok atas kondisi luhan.
“aku.. aku..” suara luhan semakin lama tidak terdengar Minseok.
Pandangannya berubah menjadi gelap gulita. Panggilan Minseok tidak berhasil
menyelamatkan Luhan akan mimpi yang memanggilnya. Luhan pun tidak sadarkan diri
dalam perjalanan pulang.
Flashback On
Luhan diajak kerumah Zhi Tao yang sederhana. Tidak
megah seperti rumah milik Luhan dan orang tuanya. Tapi yang luhan rasakan
setidaknya Ia memiliki tempat beristirahat dan dapat menenangkan diri. Segelas
Teh hangat Zhi Tao berikan pada Luhan. Selimut tebal telah menutupi seluruh
tubuhnya yang gemetar. Wajahnya penuh dengan ketakutan dan kesedihan. Zhi tao
berharap ini tidak akan berlangsung lama.
Beberapa bulan kemudian wilayah China tempat tinggal
Luhan dikuasai para bangsawan Korea. Mereka memperbudak, menjual gadis, dan
menjadi salah satu tempat penjualan barang haram. Luhan tinggal dengan Zhi Tao
dan adik perempuannya Huang Li dengan kemiskinan. Sangat sulit untuk
mendapatkan makanan. Tapi Zhi Tao setidaknya masih dapat mencari uang dengan
membuka pelatihan bela diri di wilayah lain. Luhan ingin membantu namun tidak
memiliki keahlian. Hingga pada suatu hari ketika Luhan sedang memandangi rumah
lamanya. Ia menemukan penduduk yang dulu menghormati orang tuanya, kini
diperlakukan kasar. Kebencian seakan menguasai diri luhan. Memantapkan diri
untuk mempelajari bela diri dari Zhi tao di pelatihannya. Awalnya alasan Luhan
sama sekali tidak diterima, “aku tidak ingin kau mempelajari bela diri untuk
balas dendam, sebaiknya kau mencari guru lain jika menginginkan itu”
“tapi Zhi Tao-gege aku tidak bisa melihat orang-orang
china diperlakukan seenaknya seperti budak. Aku lihat orang-orang yang dulu
menghormati orang tuaku dan diriku kini berada di bawah kaki orang lain. Aku
ingin mengembalikan keadilan”
Zhi Tao menarik nafas, semua alasan telah Luhan
berikan. Dan Zhi Tao pun mau mengajari Luhan dengan syarat “lakukan bela diri
untuk menolong orang bukan sebaliknya”
“baiklah”
tahun demi tahun Luhan belajar banyak dari Zhi Tao
tentang bela diri. Ia menjadi seseorang yang ahli kali ini. Tepat saat Luhan
beranjak dewasa dengan kepandaian menguasai bela diri dan dapat menyeimbangkan
kemampuan Zhi Tao, Huang Yi diculik. Luhan tidak tau apa-apa akan itu. Hanya
saja perubahakn sikap Zhi Tao sangat terasa berbeda. Ia mulai menjauhi, tidak
bicara dan selalu menghindari luhan.
Dan pada suatu hari saat Luhan sedang sendiri berlatih
di tempat pelatihan. Ia berhadapan dengan seseorang bertopeng yang mencoba
membunuhnya. Tidak ada Zhi Tao yang dapat membantunya. Untuk mempertahankan
diri sepertinya Luhan harus melawan dan tidak hanya menghindarinya. Beberapa
pukulan mengenai Luhan. Namun tetap Luhan lebih gesit. Jika dilihat mereka
sangat seimbang dalam keahlian bela diri. Luhan pun tidak ingin berlama-lama,
Ia mengatur nafas dan mengeluarkan kemampuan Zhi Tao dengan menggabungkan
keahlian bela dirinya. Sekali tendangan seakan mematahkan tulang namja asing
yang mengenakan topeng itu. Ia bersungut kesakitan dan mencoba untuk lari.
Hanya tinggal satu cara membunuh Luhan, sentaja Api dikeluarkan lalu diarahkan
ke Luhan. Itu semua tak berarti saat Luhan mempercepat gerakannya untuk
mematahkan tangannya yang menggenggam pistol. Dengan tulang yang patah di tubuh
dan tangannya. Namja bertopeng itu tidak dapat menghentikan Luhan ketika akan
membuka topeng yang digunakannya. Tampak wajah seseorang yang dikenal Luhan,
seseorang yang dihormati, seseorang yang mengajarkan bela diri, Huang Zhi Tao.
“apa maksudnya?” Luhan terduduk lemas tidak mengerti,
Zhi tao hanya tersenyum dengan darah dipinggir bibir. Pukulan luhan yang
mengenai bagian dalam tubuhnya benar-benar fatal. Ia sudah lebih professional
dibandingkan Zhi Tao. “kenapa kau!! Kenapa kau mencoba membunuhku!! GEGE!! Kau
mengatakan bahwa bela diri hanya untuk melindungi orang. Lalu kenapa?!!! Kenapa
kauuuu—”
“aku ingin melindungi adikku yang diculik, Luhan”
pelannya terdengar, namun suara itu tidak berhenti sampai disitu. “kau sudah
sangat hebat… mungkin kau bisa mengambil wilayah orang tuamu lagi dari mereka”
Luhan menutup kupingnya tidak mau mendengar. “Luhan” panggilan Zhi Tao ditepis
Luhan. “berjanjilah selamatkan Huang Yi”
“kenapa!! Kau bisa mengatakan hal itu dari awal!!
Kenapa kau harus mencoba membunuhku seperti ini gege?!! Apa kau membencikuu?!!
Kau tidak mengatakan hal apapun kaannn????!! Kenapa harus kau yang mencoba
membunuhku”
“namja itu.. namja korea itu sudah mengetahui tentang
niatmu berlatih bela diri untuk merebut wilayahnya. Maka itu mungkin akan
banyak kesulitan yang datang dalam hidupmu nanti”
Luhan menggeser duduknya untuk merapat ketempat Zhi
tao terbaring kesakitan. “Gege” suara luhan berseling dengan tangisan. “maafkan
aku.. maafkan aku” pelukan Luhan berikan saat Ia tidak merasakan hembusan nafas
pada Zhi Tao. “GEGEEEEE!!”
Flashback Off
Luhan tersadar
dari pingsannya. Ia memandangi atap kamar yang Ia kenali sebagai kamar Minseok.
Handuk hangat berada di keningnya. Sepertinya Ia berada pada masa perawatan
Minseok saat ini. Luhan mencari kebaradaan Minseok di sekitar kamar tapi tidak
ditemukan. Tubuhnya masih sangat lemah, suhu tubuh yang panas masih membutuhkan
perawatan. Minseok masuk membawakan susu hangat ke dalam kamar. Ia bersyukur
ketika Luhan telah sadar. “bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah baik? Kau tau aku
sangat khawatir”
Tangan
Minseok yang mencoba menyentuh kening Luhan dihalangi, “aku baik-baik saja”
“kau itu
tidak pandai berbohong dariku, lihat wajahmu begitu merah seakan ingin meledak”
minseok memerintahkan Luhan untuk duduk, tapi di abaikan. Sampai pada penekanan
kalimat Minseok dengan tatapan marah. Luhan pun mulai mendengarkan untuk duduk.
“ini obat yang harus kau minum, tadi ayahku memanggilkan dokter keluarga. Jadi
kau harus menghargai usaha ayahku untuk menyembuhkanmu”
luhan
termenung mengingat mimpi yang dialaminya membangkitkan masa lalu. Pandangannya
memang menatap Minseok yang merawat tapi pikirannya melayang entah kemana.
Minseok menggoyangkan tubuh luhan untuk mengembalikan kesadarannya. Luhan
merasakan kepalanya sakit lagi, Ia berusaha memijat keningnya untuk menghilangkan
rasa sakitnya. Minseok mengambilkan Luhan air putih untuk segera meminum obat.
Tapi rasa sakit itu menyebabkan air minum yang diberikan Minseok jatuh pecah ke
lantai. Minseok semakin khawatir atas rasa sakit yang menyakiti Luhan.
To
be continue…


Comments
Post a Comment