Xiuhan.Lumin Love is WAR Chapter 9
“aku tidak ingin melihat muka mesummu! Dasar
brengsek” dengan sengaja minseok melemparkan baju yang belum sempat Jungkook
pegang kewajahnya. “yaak! Mana ada wajahku ini mesumnya! Aku adalah namja
terpolos di korea harus kau ketahui itu!” ucapnya teriak balik sambil menendang
pintu kamar minseok yang tertutup rapat.
*************
[ keesokan
pagi ]
layaknya
sosok putri tidur minseok terlelap. Rasa lelah membuat Ia bermimpi kedatangan
luhan yang akan membawa dirinya pergi dari kebingungan yang dirasakan minseok
sekarang. Bayangan luhan sedikit demi sedikit menghilang ketika Minseok mencium
aroma makanan. Kedua matanya tidak terbuka tapi tubuh minseok bergerak
mengikuti darimana aroma manis ini berasal. Ia menuruni tangga, lalu berjalan
perlahan memasuki dapur kediaman Kim. Minseok membuka kedua matanya ketika
merasakan meja makan yang ditabraknya.
“Appo!”
jeritnya sadar. Minseok menemukan berbagai hidangan yang mewah. Rasanya
kelaparannya sudah tidak dapat dirinya tahan. 2 chef datang dan memberikan
hormat kepada minseok seperti di rumahnya.
“silahkan
dinikmati hidangan yang sudah kami siapkan untuk anda tuan, tuan muda jin
berpesan agar anda tidak meninggalkan kediaman ini sebelum dirinya pulang”
jelas sang chef.
“jin pergi?”
“Nde” singkatnya
dengan senyuman ramah. Minseok merasakan sendiri sekarang. Ia fikir bisa menyantap makanan dengan obrolan mengingat kediaman ini bukanlah tempat
tinggalnya. Ternyata sama saja dengan keadaan di kediaman Minseok. “aku
mengerti” minseok duduk, dan memakan hidangan yang sudah disiapkan untuk
menghormati perasaan chef yang sudah membuatkan sarapan untuknya. Walaupun
dengan hati yang tidak enak. Minseok memulai makan dari makanan yang berada
didekatnya.
Berada di
kediaman orang lain seakan mengganggu pikiran minseok. Ia berharap Jin segera
pulang. Minseok tidak keluar dari kamarnya. Ia setia menunggu kedatangan Jin
sampai siang hari di kamar.
Ketukan pintu
kamar terdengar, tampak Jin membuka pintu itu. Wajah minseok terlihat bahagia
mengetahui hal itu, “Jin-sshi kau sudah pulang?” suara itu tenggelam ketika ada
sosok semalam yang ikut berada di belakang Jin. “Kau!” minseok menyerngitkan
dahinya.
“dia temanku
Minseok-ah, dia mengatakan semua yang sudah Ia lakukan padamu, dia menyesal.
Aku harap kau bisa mengerti?”
“aku
mengerti. Dia sebelumnya mengatakan bahwa akan sangat bahaya jika kediaman ini
terganggu dengan antek-antek yang mengejarku di rumah sakit datatng. Benar
bukan?”
“Nde”
jungkook
duduk di samping Minseok yang langsung pergi ke belakang Jin. “yak! Kenapa kau
menjauhiku ketika kau sudah mengerti?!”
“aku tetap
takut padamu” minseok menegaskan. Jin
tertawa kecil memandangi wajah polos Minseok yang tidak ingin berdekatan dyngan Jungkook. Ia menghadap minseok yang berada di belakang punggung. “kau tidak
perlu takut dengannya. Dia tidak akan berani bertindak hal seperti semalam
lagi. Karena aku sudah memarahinya”
Minseok masih
tidak melepaskan pandangannya kepada jungkook. Ia mencoba mendengarkan apa yang
dikatakan Jin tentang Jungkook. “baiklah”
Jungkook
menatap intens kearah minseok yang mulai bersikap biasa, “apa kau tidak punya
kenalan agar kami bisa mengantarmu kepada orang yang akan menjagamu?”
“aku ingin
menemui Luhan, tapi aku tidak tau dimana tempat tinggalnya”
Jin dan
Jungkook berpandangan saat mendengar nama seseorang yang tidak asing dari dunia
kriminal. Jungkook mulai mengatur nafasnya dengan keluar dari kamar tamu yang
ditempati Minseok. Jin yang sedikit berkeringat mulai mengajak minseok
berbicara empat mata. “Luhan itu siapa? Apa dia salah satu bodyguardmu?” Tanya
nya tenang.
“dia memang
bodyguardku tapi dia dipecat Ayahku ketika penjahat berhasil melukaiku. Padahal
itu bukanlah kesalahannya”
“apa
maksudmu? Penjahat?”
minseok
menutup mulutnya karena keceplosan dengan apa yang dikatakan, “Jin-sshi lupakan
apa yang aku katakana. Maaf tidak seharusnya aku mengatakan ini padamu”
jin meraih
tangan minseok yang menutup penuh mulutnya. Ia menggeleng dan memberikan
keyakinan penuh bahwa apa yang dikatakan Minseok tidak akan menakutinya.
Minseok tidak tau apa dia dapat percaya dengan Jin. “aku akan mempertemukanmu
dengan Luhan. Asal kau mengatakan semua tentang dirimu. Kau harus percaya bahwa
aku ada di pihakmu Minseok-ah”. Minseok berfikir sebentar. Ia mulai bercerita
dari alasannya masuk ke rumah sakit hingga pada pemecatan Luhan. Tidak hanya
Jin, Jungkook dari balik pintu juga ikut mendengarkan. Semua terdengar sangat
mengerikan. Dan luhan sama sekali tidak berkutik ketika minseok membuka kedua
matanya saat berkelahi. Jin yakin luhan tidak menginginkan keburukannya
diketahui Minseok. Apakah mungkin malaikat maut itu telah jatuh hati dengan
anak manusia yang polos seperti Minseok?
Selesai
bercerita Minseok mulai harap-harap cemas dengan Jin yang entah nantinya akan
melukai dirinya atau menjadi teman untuknya.
“kalau begitu
aku akan mencari alamat seseorang yang ingin kau temui itu. Bernama Xi Luhan
bukan?”
“benarkah?
Kau dapat melakukan hal semacam itu?”
“jungkook
yang bisa melakukan hal itu. Aku hanya yakin kau akan aman jika bersamanya
dibandingkan terus berlama-lama disini”
Jungkook
berjalan pergi meninggalkan kamar Minseok menuju ruangan kerja Jin. Ia mulai
bermain dengan computer kesayangan Jin. Mencari tau tentang luhan dan
keberadaannya sekarang. Semua bisa di kerjakan jungkook dengan kepintaran yang
dimilikinya. Hanya dalam waktu 25 menit Jungkook telah berhasil melacak
keberadaan luhan. “yosh! Aku berhasil” ucapnya dan langsung pergi menemui Jin.
Minseok yang mendapatkan informasi tentang keberadaan luhan tentu sangat senang.
Ia meminta Jin untuk segera mengantarnya. Tanpa diperundingkan lagi Jin dan
Jungkook pun bersiap-siap untuk mengantar Minseok. Belum sempat menuruni tangga
kedatangan Rapmon mengejutkan Jin dan Jungkook yang langsung reflek
menyembunyikan Minseok. “apa yang terjadi?” Tanya Minseok yang kebingungan.
Jungkook ataupun Jin tidak merespon. Mereka beradu pandangan dan memberikan
isyarat, Jin keluar untuk menemui rapmon. Minseok yang ingin mengikuti Jin
dihalangi Jungkook, “kau mau kemana?!” bisiknya kesal.
“apa yang
terjadi sebenarnya. Kenapa Jin terlihat sangat takut dengan kedatangan beberapa
namja tadi ke kediamannya?”
“tidak semua
masalah harus kau ketahui Minseok-ah!”
“tapi semua
masalahku sudah Jin ketahui!!” ungkap Minseok tidak mau kalah. Jungkook
menghela nafasnya sejenak. Ia tidak yakin mengatakan hal yang dilarang Jin
sebelumnya. Tapi sebaiknya Minseok tau keadaan Jin. Bunyi barang pecah dari
lantai dasar membuat Minseok semakin khawatir kondisi Jin. “aku harus membantu
Jin”
“kau tidak perlu
membantunya. Kau hanya akan membunuhnya Minseok-ah” Jungkook menghentikan
langkah Minseok, “dengan dirinya menyembunyikan dirimu itu sudah menjadi
masalah besar Jin dengan kelompoknya”
“apa
maksudmu?”
“kau berada
di wilayah bangtan. Kebenerannya adalah kami berdua sudah mengetahui tentang
siapa dirimu, Jin melindungimu dari tempat yang tidak seharusnya kau masuki. Ia
sangat menyesal dengan pertolongan yang seharusnya tidak membawamu kedalam
bahaya”
“aku tidak
mengerti”
“kau adalah
putra Kris, Wu Yifan, Mafioso Korea” pernyataan yang mengejutkan Minseok.
.
.
Jimin baru
saja melayangkan pukulan pada Jin kekasihnya. Ia sangat menyayangkan akan
tindakan kekasihnya itu yang mencoba mengkhianati wilayahnya. Bagaimana mungkin
Jin tidak mengatakan apa-apa tentang keberadaan Minseok diwilayah bangtan. Rapmon
memandangi dengan wajah tidak menyenangkan kepada Jin. Pukulan kembali Jin
terima dari tangan kekasihnya. Jimin benar-benar marah pada Jin saat ini.
“karena kesalahanmu tempat kami dihancurkan para antek-antek kris yang mencari
keberadaan putranya! Kau benar-benar seulki!” amuk Jimin yang dihentikan
Taehyung untuk melukai Jin.
“Taehyung-ah
biarkan Jimin meluapkan amarahnya pada namja yang tidak tau diri itu” Rapmon
membantu Jimin terlepas dari rengkuhan taehyung. Lalu memandang kearah kamar
tamu yang berada dilantai 2, “apa namja mungil putra Kris masih berada di
kediamanmu Seok Jin?”
“dia sudah
pulang. Aku sudah mengantarnya ke Luhan”
pandangan
benci Rapmon semakin menusuk, seandainya salah satu tangannya memegang pistol
mungkin kepala Jin sudah meledak tertembus peluru. Jin mencoba berdiri tapi
pukulan Jimin menjatuhkannya lagi. “kau benar-benar sudah melukaiku Kim Seok
Jin” ucapnya terakhir kali dan pergi menuju lantai 2. Jimin memeriksa beberapa
tempat di kediaman Jin sebelum berakhir ada kamar tamu. Saat Jimin membuka, Ia
tidak menemukan siapapun di kamar itu. Sepertinya apa yang Jin katakan benar.
“tidak ada siapa-siapa di kamar tamu, Rapmon hyung”
“benarkah?
Sangat aneh bukan ketika alat pelacak itu mengatakan bahwa keberadaan Minseok masih
berada disini”
kedatangan
Yoongi dengan menggendong seorang namja manis yang pingsan menyenangkan hati
Rapmon. Sedangkan Hoseok membawa satu pengkhianat lagi yang mencoba kabur
membawa mainan kecilnya. Rapmon benar-benar tidak habis fikir apa alasan kedua
bawahannya itu berkhianat melindungi musuh sampai seperti ini. Jungkook tidak
melawan saat Hoseok menangkapnya. Ia hanya akan menambah masalah jika berani
bertindak. “aku tidak akan bertindak lebih karena aku sadar bahwa ini adalah
hal aneh yang membuat kalian mengkhianatiku. Bagaimana mungkin ini terjadi
padaku?” Rapmon mengelus pipi mulus Minseok yang direbahkan Yoongi di sofa.
“dia seperti boneka mannequien yang tidak berdosa” ungkap Rapmon menganggumi keindahan
Minseok.
“hentikan
Rapmon, bukankah Minseok tidak ada hubungannya dengan Ayahnya. Kau tidak
seharusnya menggunakan Minseok dalam urusan bisnis” Jin mencoba beragumen pada
sang ketua.
“jadi itu
alasanmu mengkhianatiku? Kau tidak ingin aku memanfaatkan namja manis ini? Apa
kau jangan-jangan…” Rapmon melirik kearah Jimin. “menyukainya?” Jimin
menundukan kepalanya menahan rasa sakit hati. Taehyung memandang kearah Jimin
mencoba menenangkan temannya itu.
“jangan
berbicara hal yang tidak benar. Aku mencintai Park Jimin, aku hanya berfikir
kalau tidak boleh memanfaatkan namja sepolosnya hanya untuk kepentingan
persaiangan bisnis Ayahnya. Mengertilah bahwa dia tidak tau apa-apa tentang
pekerjaan Ayahnya”
“benarkan?
Bisnis haram yang dilakukan Ayahnya tidak Ia ketahui? Sepertinya kau mengetahui
banyak tentang Minseok. Sudah berapa lama dia berada di kediamanmu?”
sedang asik
berbincang, tamu tak diundang menghancurkan pintu gerbang milik kediaman Jin.
Hoseok diminta untuk menyelidiki siapa yang menerobos pintu gerbang itu, belum
Rapmon bernafas sekarang ada masalah lagi dating. “mungkin itu antek-antek
kris” tebak Rapmon yang duduk disamping Minseok pingsan. Ia mengambil pisau
yang tergeletak di meja tamu dengan beberapa buah-buahan. Kepergian Hoseok yang
tidak sebentar mengejutkan semuanya. Tubuh Hoseok terlempar menabrak pintu
utama kediaman Jin. Dengan berlumur darah sepertinya Hoseok tidak mampu
menghadapi seseorang yang datang. Yoongi membantu Hoseok berdiri. “siapa yang
datang?” tanyanya.
“lu.. luhan..
xi luhan” ucapnya dengan gemetar dan tak sadarkan diri. Rapmon hanya tersenyum
kecil, menatap kearah Jin. “sepertinya kau yang harus menghadapi serigala marah
itu Kim seok Jin”
“tidak boleh.
Aku yang akan—” Jimin menolak, Ia tau akan menjadi apa Jin nanti jika
berhadapan dengan Luhan. Tapi Jin menggenggam tangan Jimin. Menenangkan
kekasihnya itu, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. “luhan bukan orang
sembarangan. Kau menerima pukulanku saja sudah tidak mampu berdiri Jin-sshi.
Biarkan aku yang—”
jin menutup
mulut Jimin yang sejak tadi mengoceh, telunjuknya berhasil menghentikan suara
yang membelanya. “aku yang seharusnya melindugimu Jimin, percayalah aku tidak
akan apa-apa” Jin keluar melepaskan lengan Jimin yang memintanya untuk tidak
keluar. Taehyung menahan tubuh Jimin agar tidak mengikuti kepergian kekasihnya
itu. Jin bertemu dengan luhan untuk pertama kalinya. Kedua mata Luhan seakan
tidak memberikan tatapan belas kasihan pada siapapun yang menghalanginya. Luhan
merenggangkan otot lehernya yang pegal lalu berjalan ketempat Jin berada.
Pukulan Luhan mengenai bagian dalam perut yang intim. Jantungnya seakan
berhenti berdetak ketika mendapatkan pukulan dari Luhan. “Argghh!” sesak Jin.
“dimana
Minseok-ah”
“dia di
dalam” balas Jin dengan menahan rasa sakit, Luhan berjalan melewati Jin begitu
saja. “jika kau masuk sama saja kau mencari masalah dengan anggota bangtan, kau
tidak akan selamat berada di wilayah yang tidak seharusnya kau masuki. Mungkin
nama mu hanya akan menjadi legenda nantinya” Jin meludah di depan Luhan yang
menatapnya tajam.
“aku fikir
kau mengenalku. Sepertinya kau ingin mengenalku lebih jauh?”
“aku
mengenalmu sebagai pengawal Minseok”
luhan
memiringkan kepalanya. Membalikan badannya dan kembali mendekati Jin. “apa kau
sedang mengajakku bicara sebagai teman?”
“Minseok
menceritakan tentang dirimu, Ia ingin bertemu denganmu karena itu dia kabur
dari rumah sakit itu. Awalnya aku tidak mengenali Minseok tapi saat temanku
menyelidiki, ternyata Minseok adalah putra Yifan. Aku berusaha untuk
melindunginya dari tempat yang seharusnya tidak dia datangi. Ini semua
kesalahanku”
“kau
melindungi Minseok?”
Jin memandang
kearah lain, “bagiku Minseok sudah seperti adikku”
Luhan mengembalikan
jiwa manusianya, mengeluarkan pandangan lembut pada Jin. Ia sadari bahwa hati
luhan sedikit melunak. Kedatangannya hanya untuk membawa Minseok ketempat aman.
“Yooo
Luhan~!” teriak Rapmon dari atap gedung kediaman Jin. Luhan menemukan Minseok
yang tidak sadarkan diri dalam gendongan seseorang. Ia melirik kearah Jin yang
membohonginya. Dengan sepenuh kekuatan pukulan demi pukulan Luhan berikan pada
Jin. Jimin mengambil pistol untuk menghentikan pukulan Luhan, tapi meleset.
Tubuh Jin digunakan untuk tameng melindungi Luhan dari peluru yang ditunjukan
untuknya. Jimin shock akan tindakan Luhan, “Andweee!! Seok Jin!!” teriak Jimin
yang langsung bergegas pergi menuju lantai dasar. Taehyung mengikuti Jimin dari
belakang. Rapmon hanya tertawa geli dengan keadaan yang dialami pengkhianat
bernama Jin. Ia menghubungi seseorang dengan ponselnya. Beberapa pasukan telah
bersiap mengepung kediaman rumah Jin. “apa kau bisa menghadapi ribuan antekku
sendirian?”
Luhan pun
memulai pertempuran tanpa ampun pada antek-antek Rapmon yang menghalanginya
membawa Minseok. Satu-per-satu antek Rapmon berjatuhan, itu semakin membuat
Rapmon tertarik untuk bermain dengan Luhan. Sesampainya di lantai dasar, Jimin
meminta bantuan Taehyung untuk membawa Jin masuk kedalam. “Jin-sshi sadarlah”
lumuran darah berusaha untuk Jimin hentikan namun nihil. “Jin-sshi maafkan aku!
Aku sungguh minta maaf” Jimin berusaha menghentikan pendarahan Jin, tapi tidak
berhasil. “Andwee! Andwee!” darah itu semakin menakutkan bagi Jimin.
Jin
menggenggam tangan Jimin yang berada pada luka tembakan ditubunya, senyuman
kecil menghiasi wajah Jin untuk menenangkan Jimin. “kau tidak pernah menangis
karena ku, ini sangat aneh ketika aku melihat kau menangis Jimin”
“salahku. Ini
semua salahku! Kenapa kau sampai seperti ini berusaha melindungi namja itu?”
“sudah
kukatakan. Bahwa Minseok tidak mengetahui apa-apa. Dia tidak bisa dimanfaatkan,
mengertilah” Jin semakin memelankan suaranya, mengharuskan Jimin mendekatkan
telinganya pada bibir Jin. “luhan hanya berniat menjalankan tugasnya, ini bukan
kesalahannya. Dan kau mencoba melindungiku, aku sangat bersyukur mendapatkan
kekasih seperti itu”
“kita akan
kerumah sakit, kita.. kita..—”
Jin
mengeratkan genggamannya pada tangan Jimin, pandangan semakin gelap. Jin tidak
dapat menahan rasa sakit lebih lama. “selamatkan.. Minseok-ah, aku tau kau
masih memiliki hati Jimin-ah” itu lah kalimat terakhir yang dapat Jin sampaikan
pada Jimin. Jeritan dan tangisan Jimin terdengar luhan yang masih sibuk dengan
antek-antek Rapmon. Kepungan terus bertambah namun belum ada satupun yang
berhasil melukai Luhan.
Disisi lain
Minseok mulai sadar, Ia memfokuskan pandangannya pada seseorang yang sedang
berkelahi di halaman. Tangannya terikat dan gerakan Minseok menjadi perhatian
bagi Rapmon. “kau sudah sadar tuan putri? Kufikir kau benar-benar sangat manis
kali ini” celoteh Rapmon. Tangan Rapmon menggerakan kepala Minseok secara kasar
untuk menatap kebawah. Senyuman Minseok terukir akan kedatangan Luhan yang
menjemputnya. “apa kau senang kedatangan pengawalmu di kediaman Jin?”
pertanyaan itu tidak direspon. Rapmon kembali mengendalikan pandangan Minseok
yang sekarang menemukan Jin berlumuran darah didekapan seseorang. “apa kau
lihat? Dan tau siapa yang menyebabkan Jin mati?”
“Jin-sshi.. ma..mati?”
kaget Minseok membuka matanya lebar-lebar.
“pengawalmu
yang gila itulah yang menyebabkan kematian penyelamatmu”
“Ani. Ani.
Ani. Ani. Ani. Ani.!! Bukan luhan pelakunya! Aku yakin luhan bukan pembunuh!!”
Minseok memperhatikan perkelahian yang Luhan lakukan kepada tiap orang yang
mengepungnya. Seakan hanya berhadapan dengan beberapa hewan kecil. Jika
dkatakan manusia mungkin tidak akan ada yang seperti Luhan, pandangannya
seperti bukan Luhan. Itu yang Minseok pikirkan. “Luhan” bisik Minseok tidak
menghentikan pergerakan luhan. Saat luhan masih sibuk dengan antek-antek Rapmon
dan Rapmon sibuk menyaksikan. Jimin
mengendap-endap mendekati Rapmon berdiri. Melepaskan ikatan Minseok tanpa
sepengetahuan Rapmon. Tapi semua diketahui Yoongi. “apa yang kau lakukan?” tanyanya
sinis. Rapmon dan Hoseok menoleh kearah suara Yoongi yang mencurigakan.
“sebaiknya
kita tidak main-main dengan Luhan, kita serahkan saja namja ini pada
pengawalnya.. jika seperti ini terus kau akan kehilangan banyak antek-antekmu—”
PLAKKK!
Tamparan
Rapmon diterima Jimin sangat keras. Tubuhnya terlempar kesamping akibat tekanan
dari tenaga Rapmon. “apa kau mencoba untuk menjadi seperti Jin?” tatapannya
tajam seperti pisau yang siap mencabik Jimin kapanpun. “kau benar-benar mencoba
kurang ajar padaku” Rapmon melayangkan tangannya, siap untuk memukul kedua kali
wajah Jimin. Kedatangan Taehyung yang tepat waktu menghentikan amarah sang
ketua. Hoseok mulai tidak menyukai akan tindakan teman-temannya yang membela musuh.
“apa yang sebenarnya menjadi alasan kalian mengkhianati wilayah bangtan, hanya
karena Jin dan Jungkook berbeda pemikiran itu membuat kalian melakukan hal yang
sama”
Yoongi ikut
menimpali, “Luhan bukanlah alasan untuk kau takut, kita memiliki kelemahan
Luhan disini” ikatan yang membelit tubuh Minseok dilonggarkan. Yoongi mendorong
Minseok untuk mencapai ujung gedung. Teriakan Minseok menyadarkan Luhan akan
keselamatan Minseok yang terancam. Ia menghentikan kegiatannya, dan
mendengarkan seseorang yang memanggil namanya. “apa kau ingin aku membunuh
Minseok didepan matamu?”
“Minseok-ah”
Luhan kini terjepit. Ia tidak dapat melakukan apa-apa lagi.
To
becontinue….


Comments
Post a Comment