Xiuhan.Lumin Love is WAR Chapter 11
Minseok mengambilkan Luhan air putih untuk segera meminum obat. Tapi rasa
sakit itu menyebabkan air minum yang diberikan Minseok jatuh pecah ke lantai.
Minseok semakin khawatir atas rasa sakit yang menyakiti Luhan.
**********
dokter
pribadi Minseok datang untuk memeriksa Luhan kesekian kalinya. Tidak ada yang
berubah atas pemeriksaan yang menyatakan bahwa Luhan baik-baik saja. Minseok
meminta untuk Dokter memeriksa keadaan Luhan lagi dan lagi, namun tetap sama.
Chanyeol mulai bosan dengan kekhawatiran yang Minseok lakukan pada Luhan yang
berstatus hanya pengawalnya. Apakah Minseok sudah menyukai Luhan? Pikirnya.
Chanyeol
merapihkan peralatan dokter itu dan menghentikan pemeriksaan, “sudah cukup.
Dokter mengatakan kalau luhan hanya terkena demam. dia tidak memiliki penyakit
serius Minseok-ah. Jadi biarkan dokter pulang?”
“tapi Luhan
selalu merasa kesakitan Chanyeollie, aku merasa ada yang salah di kepala Luhan.
Dia selalu berteriak ketika merasakan sakit dibagian kepalanya”
“apa itu
mengganggumu? Jika benar aku akan mengatakan pada ayahmu untuk menggantikan
posisi Luhan sampai dia sembuh. Bagaimana?”
minseok
mempoutkan bibirnya merasa janggal dengan keputusan Chanyeol. Tapi ada
benarnya. Mungkin Luhan memang membutuhkan istirahat untuk memulihkan kesehatannya.
Melihat Luhan tidur dengan lelap membuat Minseok enggan untuk mengganggu. Ia
memutuskan untuk keluar dan membiarkan Luhan sendirian. Chanyeol menemani
dokter pribadi Minseok sampai pintu utama. Setelah mengantar, Ia pergi
mendatangi Minseok di dapur. Chanyeol dapat mendengar pesanan pada hidangan
nanti malam untuk Luhan. Begitu perhatiannya namja mungil itu terhadap nyawa
yang tidak penting. Ia pun menghampiri Minseok, “apa yang kau lakukan?”
“aku memesan
makanan pada chef untuk mengobati Luhan, mungkin para chef tau makanan apa yang
pantas saat Luhan sakit.”
“kenapa kau
sampai berbuat sejauh ini?”
“Kenapa?”
“luhan
bukanlah orang yang penting, kau bisa mengganti banyak pengawal. Sekalinya
Luhan sakit seharusnya dia berhenti bekerja, dan membiarkan orang lain
menjagamu. Dia sudah tidak pantas untuk menjadi pengawal. Menjaga dirinya saja
dia tidak mampu bagaimana bisa menjagamu? Pantas saja kau selalu terluka”
minseok
menantang pandangan Chanyeol yang tidak seperti dulu, seakan-akan Chanyeol
menginginkan Luhan segera disingkirkan. “apa kau tidak menyukai luhan? Apa yang
membuatmu sangat membenci luhan? Apa luhan memiliki kesalahan padamu?”
“NDE! Dan
tidak seharusnya luhan berada disini” minseok masih mengontrol emosinya
terhadap chanyeol. Tidak lama obrolan mereka berhenti, Chanyeol mendapatkan
panggilan dari ruangan Kris. Ia diminta untuk menyiapkan tiket keberangkata
Kris menuju China. Minseok yang menguping pastinya akan menebak bahwa ayahnya
akan segera pergi meninggalkan kediaman. Ia pergi keruang kerja ayahnya.
Mengetuk pintu dan membukanya ketika telah diizinkan. Tampak terlihat kris
telah mneyiapkan berkas-berkas yang harus dibawa. “apakah ayah akan pergi
lagi?”
“nde, apa ada
yang kau butuhkan? Aku akan menyiapkan semuanya jika keperluanmu belum
terpenuhi”
“aniyo. Aku
hanya ingin mengatakan. Hati-hatilah dan sebisa mungkin ayah mengabari ku
setibanya di china”
kris tidak
memandang kearah Minseok sedikitpun, ia hanya mendengar kata-kata Minseok yang mengkhawatirkannya.
Ingin sekali memeluk Minseok seperti pertama kali Minseok dilahirkan. Tapi itu
bukanlah kris yang takuti. Ia tidak boleh mengelurkan sisi lembutnya bahkan
kelemahannya. Kris sadar siapa dirinya. Berkas-berkas yang telah dimasukan
kedalam koper diserahkan pada pengawal yang sejak tadi menunggu. Kris melewati
minseok begitu saja tanpa mengucapkan sepatah dua patah kata dalam
perpisahannya. Minseok mengerti tentang sikap ayahnya. Jadi ia tidak ingin
berdebat ataupun membahas sesuatu yang telah Ia ketahui hasilnya. Minseok
berlari kearah jendela untuk melihat kepergian Kris. Melambaikan tangan yang
tidak dibalas sama sekali. Saat mobil ayahnya tidak terlihat lagi Minseok
melanjutkan kegiatannya didapur.
PRANGG!
Minseok yang
mendengar suara pecahan kaca dari kamarnya, segera bergegas pergi untuk melihat
keadaan Luhan. Dapat dilihat kaca jendela pecah dan tidak ada seorang pun
disana. “Luhan?”
Chanyeol juga
ikut datang kekamar luhan dirawat. “apa yang terjadi?” Ia meminta Minseok untuk
tidak masuk kedalam. Banyak kaca yang mungkin nanti akan melukai Minseok.
Chanyeol mencari keberadaan Luhan tapi tidak ditemukan. Sepertinya Luhan memang
pergi dan sengaja menghancurkan jendela kamar. “Luhan sepertinya memang sengaja pergi
meninggalkan kediaman ini”
“tidak
mungkin. Untuk apa dia melakukan itu? Luhan sedang sakit. Dia tidak mungkin
menghancurkan jendela dan pergi dalam kondisi demam” Minseok berteriak mencari
Luhan kesetiap ruangan, memerintahkan semua pengawal untuk mencari luhan. Tapi
tidak ada jejak keberadaan Luhan. Itu semua menyebabkan Minseok tidak dapat
tidur. “kau kemana luhan?” bisiknya tak terdengar. Keesokan harinya posisi
Luhan digantikan Chanyeol. Mengantar Minseok serta mengawal Minseok sampai
selesai sekolah. Rasanya sangat aneh tanpa luhan.
Memandangi
wajah murung Minseok, baekhyun dan kyungsoo akhirnya memberanikan diri
bertanya. “apa yang terjadi dengan wajahmu itu Minseok-ah?” Tanya
baekhyun.
Kyungsoo ikut
menambahkan, “tidak biasanya kau seperti ini. Bukankah luhan sudah bersamamu?”
Minseok
menghela nafas dan menceritakan hal yang baekhyun dan kyungsoo piker itu hal
yang tidak masuk akal. Baekhyun bertanya lagi, “tapi kenapa begitu? Bukankah
luhan menyukaimu?”
Minseok
tertawa sinis.
Kyungsoo
menyenggol baekhyun dan memicingkan salah satu matanya. “tidak seharusnya kau
bertanya hal itu. Itu masalah perasaan”
“tapi..”
baekhyun
menutup mulutnya setelah pukulan diterima lagi lebih keras. Minseok mengikuti
kegiatan belajar seperti biasa. Walau sebenarnya hati Minseok tidak berada
disana, tapi alangkah baiknya tidak ada yang tau kesedihannya lebih dalam. Usai
bel sekolah berakhir, Minseok masuk begitu saja kedalam mobil tanpa berkata
apa-apa pada chanyeol. Perjalanan yang membosankan. Membuat Minseok ingin
segera cepat pulang. Lampu merah menghentikan kendaraan Minseok tapi tidak
perhatiannya. Ia mendapati sosok yang mirip dengan Luhan dari belakang. Tanpa
berfikir lagi, Minseok keluar untuk mengejar namja yang Ia pastikan bahwa itu
Luhan. Chanyeol mengikuti kemana Minseok berlari, tidak perduli akan lampu
merah yang telah berganti hijau.
Minseok
mencari luhan dalam kerumunan rakyat Korea. Suhu dingin pun tak Ia rasakan.
Keinginannya hanya bertemu luhan dan merawatnya lagi. “Luhan!” teriak Minseok
menjadi sorotan setiap orang yang dilewatinya. Hingga pada akhirnya sebuah
genggaman menyentuh lengan Minseok. Ia berharap bahwa itu luhan tapi ternyata
Chanyeol. “apa kau sudah gila?! Kenapa kau sampai seperti ini terhadap namja
itu?!!”
“pulanglah!
Aku akan mencari luhan”
“sudah cukup
kau tidak mendengarkanku Minseok-ah!” tegas Chanyeol yang langsung menggendong
tubuh Minseok kepundaknya. Minseok meronta tidak terima, Ia berusaha meminta
bantuan pada orang. Namun tidak ada yang berani. Sesampainya pada mobil,
Minseok diberikan ancaman, “aku akan melaporkan kejadian ini pada Ayahmu,
karena Luhan otakmu mulai rusak!” Chanyeol mengunci pintu mobil dan melesatkan
kecepatan agar segera sampai pada kediaman Minseok. Setibanya Minseok mengurung
diri di kamar. Chanyeol semakin kasar terhadapnya. Bahkan masalah Minseok
semakin bertambah dengan kepergian Luhan. “kenapa kau meninggalkanku sendirian
Rusa Bodoh! Kau menyebalkan” Minseok mengacak selimut yang sebelumnya digunakan
Luhan ketika sakit. Chanyeol yang berada di luar mengurungkan diri untuk
mendekati Minseok yang masih tersulut emosi.
.
Luhan membuka
kedua matanya saat kondisi tubuhnya sudah lebih segar. Ia memandang
kesekeliling ruangan yang Ia ingat adalah kamar sahabatnya Yixing dari China.
Kepergian dari kamar Minseok mungkin akan membuat namja mungil itu khawatir.
Tapi Luhan tidak bisa berbuat apa-apa. Semenjak kesalahan atas terbunuhnya Jin
membangkitkan ingatan Luhan pada masa lalunya yang memang Ia lupakan semenjak
bertemu Minseok. Kaki luhan yang telah bisa berdiri sempurna beranjak dari
tempat tidur. Mencari keberadaan sahabatnya itu yang sepertinya sudah pergi
bekerja ke rumah sakit. Terdapat sebuah pesan tertempel yang memberi tau luhan
bahwa sarapan telah siap di meja makan. Luhan merasa sangat terbantu dengan
kebaikan Yixing.
Ia pergi
ketempat kerja Yixing dimana terdapat Komputer. Mencari tau tentang Kris a.k.a
Wu Yifan dari beberapa website terlarang. Mengetik kejadian dimana wilayah-wilayah
direbut Mafioso Korea. Luhan berharap bahwa perkiraannya adalah kesalahan
besar. Saat profile Kris muncul, Ia membaca seluruh Informasi dari website
terlarang tersebut. Salah satu wilayah yang di kuasainya adalah kampung halaman
Luhan. Dan benar dugaan, pemimpin dari perebutan wilayah kampung halaman Luhan
merupakan bawahan dari Kris. Alasan Kris tidak mengenal Luhan seorang namja
kecil yang dulu ingin dibunuh, itu semua disebabkan bawahannya tidak mengatakan
nama lengkap Luhan. Kris hanya diberitahu putra dari orang tua yang dibunuh
bagian China mencoba untuk membalaskan dendam. Dan disinilah kini Luhan berada.
Sangat dekat dengan apa yang dia inginkan. Membunuh Kris dengan kedua tangannya
untuk membalaskan dendam kedua orang tuanya, merebut kembali wilayah China,
serta menyelamatkan Huang Yi yang mungkin telah dijual Kris. Namun ingatan
Luhan tentang Minseok… Ia sepertinya akan memanfaatkan perasaan Minseok yang
mulai jatuh hati padanya.
.
Jimin
menuntun Taehyung dengan darah mengalir sangat banyak. Ia menghubungi seseorang
yang bertuliskan ‘hyung’ di ponsel. Saat hubungan itu berhasil Jimin meminta
bantuan pada hyungnya untuk menerima keberadaannya dengan Taehyung sementara
waktu di kediaman tempat bekerja hyung Jimin. Setibanya Jimin dan Taehyung
masuk lewat pintu belakang dimana penjaga sedang disuruh berkumpul digerbang
utama. “kau benar-benar nekat datang kesini meminta bantuan padaku, padahal
bosmu itu sudah mencoba mencelakai Minseok” chanyeol membawa Jimin dan Taehyung
ke ruang bawah tanah secara mengendap-endap.
“Chanyeol
hyung. Jangan bawa hal pekerjaan, aku datang hanya untuk sekedar membantu
temanku. Dia kehabisan banyak darah”
Chanyeol
mengambil perlengkapan obat dan melemparkannya kearah Jimin yang telah merobek
pakaiannya hanya untuk menghentikan pendarahan Taehyung. Senyuman terukir saat
mengetahui bahwa Chanyeol masih peduli padanya walau tidak satu jalan dalam
system pekerjaan. “bagaimana dengan Minseok-ah hyung?” Tanya Jimin yang masih
sibuk dengan operasi kecil Taehyung. Chanyeol tidak membalas. “aku berharap dia
baik-baik saja saat mengetahui bahwa Ayahnya seorang Mafioso” lanjut Jimin.
“dia
baik-baik saja tapi otaknya tidak baik. Aku rasa Minseok membutuhkan perbaikan
di kepalanya”
“apa yang
terjadi memang dengan namja itu?”
“dia jatuh
cinta pada Luhan. Membuatku—”
“kau
menyukainya hyung? Apa itu alasan kau tidak mau bergabung dengan bangtan dan
lebih memilih menjadi pengasuh namja mungil itu? Padahal sejak kecil kau tau
bahwa Ayah mati karena melindunginya dan sekarang kekasihku mati juga karena
melindunginya” Jimin mengingat kematian Jin. Dan sentuhan Taehyung menyadarkan
akan keberadaannya. “Taehyung-ah”
“jangan
menyesali sesuatu. Aku yakin Jin akan sedih kalau kekasihnya menangisi sebuah
kematian” Taehyung menasehati tentang resiko masuk kedalam sebuah elemen
penguasaan wilayah.
“Nde” Jimin
tersenyum kearah Taehyung, yang menimbulkan kecemburuan Chanyeol.
“bisakah
kalian tidak melakukan hal yang berbau dengan keromantisan. Itu menjijikan”
Chanyeol meninggalkan Jimin dan Taehyung di ruang bawah tanah, “Oh iya. Aku
akan membawa makanan, dan bila kalian ingin sesuatu hubungi aku. Jangan keluar
dan jangan ada yang mengetahui keberadaan kalian. Mengerti?”
“Nde” Jimin
dan Taehyung menjawab serempak. Chanyeol
yang baru saja keluar dari ruang bawah tanah pergi ke dapur untuk mengambil
beberapa makanan. Tidak sengaja Ia bertemu dengan Minseok yang sedang mengambil
minuman. “Minseok-ah” panggil Chanyeol senang saat Minseok mau keluar dari
kamar walaupun dengan wajah masih terlihat sedih. “maafkan aku atas ancaman
yang kuberikan. Tapi mengertilah aku tidak tau harus mengatakan apa lagi agar
membuatmu mengerti bahwa Luhan telah memilih jalannya untuk meninggalkan
kediaman. Jadi berhentilah memikirkannya”
minseok
mengabaikan Chanyeol dan melewati namja tinggi itu seperti tidak melihat
siapa-siapa. “benar-benar keras kepala” Chanyeol muak dengan sikap Minseok.
.
malam hari
Luhan menyiapkan perlengkapan untuk memulai misinya. Yixing yang baru saja
pulang dari rumah sakit, cukup kaget atas barang-barang bersenjata yang Luhan
siapkan entah darimana. “apa-apaan ini? Kau mendapatkan semua ini darimana?”
Yixing mendekatkan diri ketempat Luhan berdiri. “apa kau masih ingin meneruskan
balas dendammu? Aku fikir kau menyukai Minseok”
“awalnya”
“awalnya?
Lalu sekarang kau tidak menyukainya?”
luhan terdiam
tidak menjawab dan masih sibuk dengan senjata api untuk menembak kepala Kris.
Keinginan Luhan saat ini adalah mengeluarkan isi otak Kris lalu memberikannya
kepada anjing liar. Yixing masih berusaha menasehati Luhan yang tidak mau
mendengarkan setiap kata-kata baik keluar, “kau tidak akan berhasil akan hal
ini, tanpa kau menggunakan senjata api kau bisa membunuh puluhan ribu
antek-antek kris dengan tangan kosong. Apa kau ingin membuat Minseok membencimu
terlebih dulu?”
“aku tidak
perduli dia akan membenciku atau tidak”
“aku pastikan
kau akan menyesal dengan pilihanmu sekarang, maka hentikan sebelum kau berakhir
pada penyesalahanmu”
Luhan
menyudutkan Yixing ketembok. Membuat sahabatnya itu kesulitan mengambil oksigen
yang berada disekelilingnya karena sebuah cekikan Luhan. “aku tidak membutuhkan
saranmu pak dokter”
“Min..seok..
Men..cin..taimu”
mata luhan
terbuka lebar. Tapi tidak mengurungkan niatnya dalam misi membunuh Kris.
Setelah semuanya siap, Ia pergi meminjam mobil Yixing menuju rumah Kris. Kepala
luhan terasa sakit lagi dengan ingatan dan teriakan orang tuanya ketika
ditembak mati bawahan Kris yang mengambil wilayah China. Dengan kecepatan
maksimal Luhan menginjak pedal gas hingga pada 180km/jam. Dapat terlihat dari
kejauhan gerbang besar kini telah berada tepat di kedua mata luhan. Tidak
mengurangi kecepatan Gerbang itupun ditembus Luhan sampai hancur. Penjaga
mengangkat senjata api, tapi kalah cepat dengan pergerakan Luhan yang menebak
secara brutal. Ia masuk ke dalam kediaman dan membunuh seluruh Maid yang dulu
bekerjasama dengannya merawat Minseok. Chanyeol yang berada di gudang bawah
tanah mendengar keributan, Ia pun meninggalkan Jimin dan Taehyung untuk melihat
kondisi. Suara pistol terus terdengar. Dan chanyeol menangkap pandangannya pada
seseorang yang Ia kenali, “Xi Luhan?” Ia diam-diam pergi kekamar Minseok lewat
jalan rahasia. Itu semua terlambat saat Chanyeol menemukan Minseok telah keluar
dari kamarnya.
“Luhan” suara
Minseok tidak percaya dengan apa yang Ia lihat. Orang yang dicintainya
menghancurkan seisi kediaman. Membunuh seluruh penghuni kediaman. Membiarkan
darah mengotori tempat tinggal Minseok. Minseok merasakan sesak pada bagian
pernafasan, dan kini pistol Luhan mengarah kepada Minseok yang kesulitan
bernafas. Satu kali tembakan mengarah kepada Minseok dan berhasil digagalkan
Chanyeol yang menarik Minseok. Air mata Luhan mengalir ketika pistol itu hampir
saja melukai Minseok. Chanyeol mengunci pintu kamar Minseok. Mencari obat Asma
agar Minseok dapat bernafas dengan normal lagi. “aku tidak percaya Luhan
melakukan hal ini”
“dia bukan
Luhan! Dia bukan luhan uhuk..uhuk..” suara Minseok mulai hilang, beberapa obat
Chanyeol berikan pada Minseok untuk segera diminum.
Dilain tempat
Luhan membuka pintu ruang kerja Kris. Ia tidak menemukan keberadaan namja yang
menjadi incarannya. Saat menggeledah ruangan, Luhan menemukan sebuah jadwal
keberangkatan menuju China. Dengan cepat Luhan mengatur jadwal untuk pergi ke
China. Kepergian Luhan dihentikan Minseok yang berteriak memanggilnya. “Luhan!”
Luhan diam
tanpa menoleh kearah sumber suara.
“apa yang
terjadi? Kenapa kau melakukan ini? Kau bukan Luhan kan?” Minseok terus menarik
pakaian Luhan dari belakang.
pistol
kembali diarahkan tepat pada kepala Minseok. Air mata Minseok mengalir tidak
takut akan apa yang terjadi setelah Luhan menekan pelatuk pada senjata api yang
berada tepat didepan keningnya. “katakan padaku kau bukan Luhan kan?” Minseok
bertanya lagi.
“Aku Xi
Luhan”
“kau
bercanda, kenapa kau berpura-pura menjadi Luhan? Kenapa kau mengatakan bahwa
kau Luhan. Yang aku tau Luhan adalah pengawalku” Minseok mengingatkan. Keraguan
Minseok rasakan saat Luhan memegang pistol yang mengarah kepadanya. “jika kau
luhan apa alasan kau melakukan ini?”
chanyeol
keluar dari kamar Minseok, “Minseok-ah!” teriakan penuh ketakutan saat pistol
sudah berada dikening Minseok membuat Chanyeol mengeluarkan pistol miliknya.
Dan nihil. Tanpa melihat apa yang Chanyeol lakukan. Luhan sudah lebih
mengetahui dan langsung menembak Chanyeol pada tangan yang memegang senjata api
seperti dirinya. Minseok berteriak kaget menghampiri Chanyeol.
“Chanyeollie…Chanyeollie” Minseok mengkhawatirkan kondisi Chanyeol yang sengaja
ditembak Luhan. Ketika akan memaki Luhan, Ia sudah tidak mendapati keberadaan
namja yang dicintainya itu.
To be
continue…


tidak sabar untuk menunggu kelanjutannya,,fighting..ceritanya keren bangettt:))
ReplyDeleteterimakasih atas jejaknya ^^ secepatnyaaa di post ('v')
DeleteApakah luhan beneran akan manfaatin minseok? Terus gimana ttg perasaannya ke minseok? Aduhhh ditunggu kelanjutannya yaa😊👍👍
ReplyDeleteSeru bgt
ReplyDelete