Devil Without You Chapter 2
“apa yang terjadi denganku?”
*****
.
.
[ Chapter 2 ]
.
.
sentuhan Jungkook mengembalikan kesadaran Jin. Kedua namja
yang di depannya tampak khawatir akan sikap Jin yang diam tiba-tiba. Rombongan
sekolah Jin berhamburan keluar karena panggilan seonsaengnim yang mengingatkan
kepulangan mereka. Tangan Jungkook menyentuh kening Jin yang berkeringat,
“Jin-sshi gwenchana?” tanyanya cemas. Jin melepaskan sentuhan itu dan
mengatakan pada Jungkook untuk tidak mengkhawatirkannya. “sepertinya sekolah mu
sudah akan pulang, sebaiknya kau segera kembali ke bus agar tidak tertinggal”
goda namja cantik itu.
“Nde. Aku akan pulang duluan, kabari aku kalau kau telah
memegang ponselmu. Mengerti?”
Anggukan Jungkook berikan sebagai pengganti tanda ‘ya’. Jin
berlari keluar pintu Museum, sedangkan Jimin dan Jungkook melanjutkan aktivitasnya
berkeliling. Belum melewati pintu keluar, Jin berbalik kebelakang untuk melihat
sosok namja yang baru saja dikenalkan Jungkook sebagai temannya. Seperti wajah
yang tidak asing bagi Jin. Tapi mungkin hanya perasaan namja tampan itu. Ia pun melanjutkan perjalanan ke bus.
.
Yoongi yang berada di bus lebih dulu, melihat rekan
kelompoknya itu baru saja keluar dari Museum. Dengan seragam dan rambut yang
basah akibat hujan Ia duduk di samping Yoongi tanpa permisi. Namja cantik itu
mengeluarkan ekspresi kecewa atas hilangnya Jin di Museum. Menyadari hal itu,
Jin meminta maaf karena pergi meninggalkan Yoongi tanpa memberi taunya akan
berkeliling kemana. Rayuan Jin berikan agar rekan kerjanya itu tidak terus
mendiamkan dirinya. Dan berhasil, Yoongi memaafkan atas tindakan Jin yang pergi
sesuka hati. Ia mengecek isi catatan yang ada pada buku Jin. Mereka mulai
merangkum dalam perjalanan pulang ke sekolah Bangtan HighSchool.
.
.
[ Kediaman Kim ]
Jin melemparkan kunci mobil secara asal di kamar. Merebahkan
diri karena sudah terlalu lelah dengan Studytour yang baru saja dilaksanakan.
Setidaknya kini Jin bisa merasakan nikmatnya beristirahat di ranjang yang empuk
tanpa gangguan seseorang yang menyebalkan.
Ia merenungkan pertemuan dengan namja bernama Jimin ketika di Museum.
Mengusap wajah dan menutup kedua mata sejenak. Mencoba menenggelamkan diri pada
dunia mimpi.
On Dream
Jin berjalan di Museum
cleo sendirian. Ia tidak menemukan seluruh rombongan yang tadi bersama dirinya.
Mencari siapapun yang dapat Ia temukan. Dan pertemuan itu berujung pada ruangan
tengah yang terdapat seorang namja berdiri membelakangi Jin. Menghadap kearah
patung besar yang menjadi jantung Museum cleo.
“hello?” suara Jin menggema.
Namja itu secara perlahan berbalik kearah Jin. Menunjukan wajah sedih yang
dapat Jin kenali bahwa dia adalah teman Jungkook. “Park Jimin?” panggilnya.
*hening
salah satu tangan Jimin
bergerak seakan meminta bantuan. Jin ingin mendekati keberadaan Jimin tapi kaki
itu tidak bisa berpindah. Air mata Jimin mengalir hanya di salah satu mata,
yaitu mata kiri. Tampak kesedihan meminta bantuan Jin untuk datang meraih
tangan Jimin. Jin tidak bisa merubah posisi bergerak tubuhnya. Hanya bisa
melihat dengan setiap permintaan Jimin kepada Jin. “ayolah bergerak” pinta Jin.
Belum satu langkah Jin
dapatkan, Ia mendapati patung itu menelan tubuh Jimin pelan tapi pasti. “Park
Jimin!” teriakan Jin berhasil melepaskan diri dari tubuh yang tida bisa Ia
gerakan. Berlari menuju ketempat Jimin dan menggenggam tangan mungil itu yang
masih tersisa. Berusaha sekuat tenaga mengeluarkan Jimin dari patung yang
memakannya. Patung itu tidak mau kalah dari usaha Jin, bahkan mencoba memakan
Jin yang akan menyelamatkan Jimin. karena takut setengah tangan Jin tertelan,
Ia pun melepaskan genggamannya pada tangan Jimin. “Park Jimin!”
Off Dream
Jin terbangun dari tidur karena mimpi buruk yang baru di
alami. Ponsel yang diletakan Jin di samping Ia tertidur berdering, sebuah
panggilan dari Contact Jungkook mencoba menghubungi. Tidak menunggu atau
berfikir Jin langsung mengangkat panggilan tersebut. “yeoboseyo” sapa Jin.
(-)“apa kau sudah
sampai rumah?”
“Nde, bagaimana denganmu chagi?”
(-)“aku juga baru saja
sampai dirumah. Apakau sudah akan tidur?”
jin memperbaiki posisinya yang sudah merasa pegal, “Ani. Aku
sedang menunggu seseorang yang kurindukan dan tidak mengabariku”
(-)“haha benarkah? Oh
ya Jin-sshi soal Museum itu.. apa kau menemukan hal aneh?”
pertanyaan Jungkook mengingatkan Jin akan mimpi yang baru
saja Ia dapatkan beberapa menit lalu “hal aneh?”
(-)“hmm”
“Ani. Waeyo?” Jin mulai focus dengan pembicaraan yang
Jungkook berikan.
(-)“kau ingat dengan
teman yang sebelumnya aku kenalkan denganmu? Aku dan dia sebelumnya ketinggalan
rombongan karena hujan mengeluarkan petir yang sangat keras. Tentu aku takut
dan tidak berniat mengikuti kegiatan di Museum tersebut. Saat aku memasuki
kedalam ruangan Musuem, awalnya seperti biasa saja. Tapi ruangan tengah Museum
itu mengerikan sekali, apa kau juga masuk ke ruangan itu? Ruangan yang terdapat
patung besar berwujud manusia dengan sayap mengepak?”
jin mencoba berfikir ulang tentang cerita sang Tour guide,
“Nde. Aku melewati patung itu dan mendapatkan cerita aneh yang tidak masuk di
akal” jelasnya.
(-)“cerita seperti
apa?”
“katanya patung itu
merupakan jelmaan seorang Iblis yang terbelenggu akibat menyalahi aturan
tentang waktu. Kalau tidak salah Ia melakukan perubahan waktu yang
mengakibatkan penjaga waktu marah dan menghukumnya. Bukankah itu terdengar
konyol?”
(-)“….”
“Jungkook-ah?”
(-)“….”
Jin tidak lagi mendengar suara Jungkook yang merespon
ceritanya. Ia pun menutup panggilan tersebut, lalu beristirahat lagi. Gesekan
angin menyadarkan Jin akan jendela kamar yang belum tertutup. Ketika akan
dikunci seekor gagak muncul tiba-tiba dan mencakar wajah Jin tanpa alasan.
Teriakan Jin membangunkan setiap Maid yang baru saja akan beristirahat. Darah
keluar dari bekas cakaran sang burung gagak yang membekas di pipi. Seluruh maid
menutup jendela setelah berhasil mengusir burung gagak itu keluar. Mengobati
sang majikan dengan air hangat agar tidak terjadi infeksi pada luka yang di
dapatkannya.
.
.
[ Keesokan pagi ]
Jin menyantap makanan dengan keadaan muram. Ulah burung gagak
semalam mengakibatkan pipinya harus dibalut dengan perban. Menutupi setengah wajah
tampan yang dimiliki. Sepertinya Ia tidak berselera makan ataupun pergi
kesekolah pagi ini. Tidak lama dalam kondisi bosan, terdengar mobil sedang
diparkirkan di halaman rumah. Ia yakin yang datang bukanlah orang asing yang
tidak Ia kenali, melainkan… seorang namja menyebalkan yang tidak diharapkan
kedatangannya. “Seulki! Apa yang terjadi dengan wajah tampanmu?” Suara itu
terdengar kencang dari pintu masuk Ruang makan. Namjoon memperhatikan wajah
detail Jin yang telah terluka dan tertutupi perban. Dengan menahan tawa, Ia
ikut duduk di meja makan dengan tetap memandang kearah Jin.
“Apa yang kau lakukan disini? Apa kau tidak bekerja?” namja
yang seumuran Jin bernama Namjoon itu tidaklah mengambil pendidikan. Ia lebih
memilih melanjutkan perusahaan Eommanya yang telah bercerai dengan Appa
Namjoon. Kesukaan Namjoon adalah berpesta, minum-minuman keras, bermain dengan yeoja
dan merepotkan Jin. Karena itu saat Ia memiliki waktu mengganggu Jin, Namjoon
akan datang sesuka hati kerumahnya.
“Oh ayolah kawan, aku baru saja sampai dan kau malah bersikap
seperti ini. Aku hanya bercanda dengan membicarakan wajahmu” Namjoon meminum segelas air yang baru
dituangkan Maid. “kudengar kemarin kau pergi Studytour? Apa kau mengalami
masalah dengan itu, sampai membuat wajahmu harus menggunakan perban?”
lanjutnya.
“ini bukan karena Studytour, tapi ulah burung gagak yang
semalam muncul tiba-tiba di jendela kamar”
“burung gagak? Wah itu berarti pertanda sial Jin, kau harus
berhati-hati dengan orang sekitar”
“itu hanya mitos aku tidak percaya akan hal itu” ucap Jin
dengan meminum susu pagi, namjoon memperhatikan lagi Jin yang telah beranjak
dari meja makan. “aku harus berangkat sekolah, jangan menggunakan kamarku untuk
beristirahat. Gunakan kamar tamu, dan minta Kepala pelayan menyiapkan apa yang
kau butuhkan” Jin mengambil tas dan membawa kunci mobilnya keluar.
“Nde. Aku tidak perlu diberitahu maka aku akan melakukannya”
mobil Jin pun meninggalkan halaman rumah untuk pergi ke
sekolah. Dalam perjalanan, ia menghubungi Jungkook dan mengabari bahwa hari ini
Jin akan menjemputnya. Jadi sopir Jungkook tidak perlu menunggu di sekolah.
Setelah disetujui Jungkook, Jin menjalankan aktivitas seperti biasa.
*****
[ Bighit School ]
Seonsaengnim sastra Korea sedang membacakan sebuah puisi
Kuno. Ia menceritakan tentang sejarah takdir dimana cinta tidak dapat
dipersatukan. Mendengar setiap bait demi bait seakan menghancurkan hati Jimin
yang mendengarnya. Tangan mungil itu diletakan ke dada agar dapat merasakan
seberapa keras degupan itu terjadi. Jungkook yang sejak tadi memperhatikan Jimin dari belakang, mulai menggoyangkan
kursi yang temannya itu duduki. “kau kenapa?” Jungkook bertanya penasaran.
Jimin menggeleng, “aku tidak apa-apa Jungkookie”
Suara Seonsaengnim kembali menjadi perhatian Jungkook dan
Jimin yang membicarakan sebuah kutukan pada patung besar di Museum Cleo
kemarin. Mereka mendengarkan seperti murid lain yang tertarik akan salah satu
pahatan yang katanya menjadi jelmaan Iblis. “Cinta yang tidak ditakdirkan
membuat Iblis itu mengatur kehidupan seorang manusia yang Ia cintai. Tidak
perduli akan bernasib baik atau buruk. Karena dalam hasrat seorang Iblis, dosa
adalah makanan sehari-harinya. Hidup ditengah-tengah manusia bukankah itu sudah
menyalahi aturan? Terlebih lagi setelah takdir masih tidak memihak hubungan
mereka Iblis itupun tidak kehabisan akal. Ia mengubah waktu agar kembali ke
awal sebelum bertemu dengan sang manusia. Berniat melupakan semua kenangan
bersama sang manusia. Namun setelah Ia mencoba, hanya ingatannya lah yang tidak
hilang. Iblis adalah makhluk abadi tidak seperti manusia.” Seonsaengnim itu
bercerita sampai habis jam pelajaran, “baiklah Jungkook-ah kumpulkan tugas
teman-teman tentang rangkuman Studytour kemarin, dan tinggalkan di meja
Seonsaengnim. Kau mengerti?” menugaskan Jungkook yang menjadi ketua kelas di
kelasnya.
“Nde” tanpa menunggu lama seluruh tugaspun telah terkumpul di
meja Jungkook. Ponsel namja cantik itu berdering mengabarkan bahwa Jin telah
tiba di pintu gerbang sekolah. Ia tidak bisa menyerahkan tugas ini pada orang
lain. Melihat Jimin masih menyiapkan barang-barangnya. Ia meminta bantuan teman
mungilnya itu untuk pergi ke tempat Jin berada untuk mengatakan bahwa Jungkook
akan sedikit terlambat. “aku akan secepatnya menyusulmu, jadi tolong katakan
pada Jin-sshi untuk tetap menungguku” pinta Jungkook sambil berlari tidak
sabaran.
Jimin tidak bisa menolak permintaan Jungkook, dan berjalan
pergi ke tempat yang dikatakan. Mencari namja yang kemarin Ia temui di Museum.
Terlihat dari jauh seorang namja yang dicari, “Jin-sshi” Jimin memanggil
lembut.
Suara yang merdu dan Indah terdengar dari belakang, Ia pun
memutar balik tubuhnya untuk dapat berbicara dengan namja mungil yang tidak
kalah cantik dari Jungkook. Awalnya Jin canggung mengingat namja didepannya
pernah masuk kedalam mimpi “Jungkook mengatakan kalau dia akan terlambat,
makanya kau harus sabar menunggu” ucapnya sesuai pesan. Mendapatkan kabar itu
memberikan senyuman tampan dari wajah Jin yang mulai tenang menanggapi Jimin
“aku mengerti” balasnya.
Jimin memperhatikan wajah Jin yang tertutupi sebuah perban,
“kenapa dengan wajahmu?” pertama kali diperkenalkan Jungkook wajah Jin tidak
lah seperti ini pikirnya dalam hati.
“Ah? Ini? Tidak apa-apa hanya kecelakaan kecil dan tidak
perlu dikhawatirkan”
“kalau begitu aku pamit duluan” Jimin sedikit membungkuk.
Berjalan melewati Jin yang mengizinkan Ia untuk pulang duluan. Belum setengah
jalan Jimin menoleh kearah Jin dan sebaliknya. Mereka berpandangan cukup lama,
namun tidak berkata apa-apa. Sedikit
menggaruk tengkuk yang tidak gatal akibat rasa penasaran tidak kunjung
menghilang. Gelisah merasuki Jin sebelum pelukan Ia dapatkan dari seseorang
yang sejak tadi di tunggu. “Apa yang kau lihat?” Jungkook terus bergelantungan
di pundak Jin, mengetahui sesuatu berbeda dari wajah Jin. Ia pun memeriksa
dengan seksama, “apa yang terjadi dengan wajahmu? Kau berkelahi?” tuduh
Jungkook.
“hey! Aku tidak pandai berkelahi, bagaimana mungkin itu
terjadi. Malah sebisa mungkin aku menghindari perkelahian”
“lalu apa yang terjadi dengan wajahmu? Diperban seperti ini”
“aku akan menceritakan di perjalanan, sekarang aku ingin
makan siang. Ke restoran yah Chagi” ajak Jin yang langsung membukakan pintu
mobil agar kekasihnya bisa masuk.
.
.
berjalan di kota Seoul sendirian. Pikiran melayang entah
kemana. Siang itu Jimin benar-benar tidak seperti dirinya yang sebenarnya.
Suara berisik kendaran seakan tidak terdengar, kepala terasa pusing seketika.
Ia mengistirahatkan tubuh pada bangku yang terletak di taman kota. Menarik
nafas dan meminum air mineral yang Ia bawa dari rumah, seperti ciri-ciri
seseorang kekurangan darah atau dalam bahasa dokter anemia. Pelan-pelan ingatan
tentang suara yang didengar di Museum Cleo muncul. Pandangan Jimin gelap, bukan
karena Ia akan kehilangan kesadaran. Namun Ia memang seperti berada di dunia
yang berbeda.
.
.
park jimin
.
.
suara itu seakan menghantui Jimin. ia berlari secara asal. Menghindari panggilan yang
ditunjukan pada dirinya. Takut? Jimin benar-benar ketakutan sekarang. Apakah
patung itu mengejar dirinya? Oh ayolah
itu hanya pikiran ketakutan yang mulai menjadikan halusinasi seakan
nyata. Ia berusaha mencari jalan keluar agar terbebas dari kegelapan yang akan
menelan dirinya hidup-hidup. Keringat mulai mengalir, suhu panas kini terasa.
Tanpa sadar Ia sudah berada di hadapan patung besar dengan sayap hitam. “patung itu?” bisik Jimin dengan langkah
mundur.
Ia kembali berlari untuk keluar dari Museum, namun setiap
pintu keluar yang dimasuki akan terus mempertemukan Jimin pada ruangan tengah
itu. Lelah dirasakan. Jimin tidak mampu berjalan lebih jauh lagi dan memilih untuk
berlutut di hadapan patung. Air mata menetes, membasahi setiap pipi Jimin.
.
untuk apa kau menangis? Aku tidak akan
melukaimu jiminnie
.
“kau
.. kau bisa bicara?”
.
hanya untukmu
.
“aku mohon keluarkan aku dari
sini, aku benar-benar tidak ingin berada disini”
.
aku juga tidak ingin berada disini. Aku ingin
bersamamu
.
perlahan-lahan
lantai yang Jimin pijakan menelan dirinya. Ia terperangkap dan tidak bisa
membebaskan diri. Memakan seluruh tubuh Jimin dengan menyisakan salah satu
tangan yang masih berharap bantuan datang. Tidak ingin. Jimin tidak ingin
mengalami ini lebih lama, terlalu menakutkan.
.
.
‘siapa
saja tolong aku’
.
.
“Jiminnie?” goyangan diberikan pada pundak Jimin. kesadaran
namja mungil itu kembali, walaupun nafasnya masih tidak beraturan. Setidaknya
Ia bersyukur karena terbebas dari mimpi buruk itu. “apa yang kau lakukan
disini?” Jungkook menanyakan hal yang membingungkan dirinya.
Seperti orang yang linglung tidak tau arah. Merasa khawatir
dengan teman sekolahnya itu, Jungkook meminta Jin untuk membantu Ia membawa
Jimin pulang. Awalnya penolakan jimin berikan. Tapi Jungkook semakin memaksa.
“kau tidak bisa pulang dalam kondisi kurang sehat, sebaiknya aku dan Jin
mengantarmu pulang” Jungkook mengarahkan tangan Jimin agar dapat merangkulnya.
Mereka pun mengantarkan Jimin sebelum pergi makan siang.
Tok Tok..
Jin dan Jungkook masih merangkul Jimin yang tidak sehat. Mereka
menunggu seseorang membukakan pintu setibanya dirumah Jimin. Beberapa kali di
ketuk masih tidak memberikan respon. Namun ketika Jin mencoba menerobos masuk,
pintu itu tiba-tiba terbuka. Tampak seorang namja yang setinggi dengan Jin,
terkesan dingin keluar. Ia mengambil alih tubuh Jimin dengan langsung
menggendong tubuh mungil itu. “apa yang terjadi?” namja itu bertanya dengan
nada datar.
Jungkook menjelaskan, “kami tidak tau tapi sepertinya Jimin
tidak sehat, kami tidak sengaja bertemu dengan Jimin dijalan dalam kondisi
seperti kurang sehat. Jadi kami mengantarkan Jimin pulang” tanpa balasan dari
namja dingin itu, pintu itu langsung tertutup. Jungkook dan Jin saling
berpandangan. Mereka merasa namja itu tidak lah sopan dalam menanggapi tamu,
bahkan yang telah membantu.
.
.
namja itu merebahkan Jimin pada tempat tidur dengan perlahan.
Ia duduk di pinggir ranjang, dan mengusap lembut wajah manis itu. Lalu
melangkah kearah jendela untuk memperhatikan mobil kedua namja yang telah
mengantar Jimin. kedua matanya menajam sempurna. Tidak suka dengan kehadiran
mereka yang tidak seharusnya berada di kehidupan Jimin lagi. Suara Jimin
mengigau terdengar, “Jimin-ah” sentuhan pada pipinya, kini berhasil membuka
kedua mata boneka itu.
“Hoseok hyung” kedua mata itu mencari keberadaan dimana
dirinya berada. “aku dirumah?” jimin memegang kepala yang terasa pusing.
“Nde. Kau sudah dirumah, tenanglah” hoseok menggenggam tangan
kecil Jimin. sekilas mata Hoseok berubah menjadi merah untuk memulihkan
kesehatan namja mungil didepannya. Menghilangkan rasa takut yang Jimin rasakan.
Salah satu tangan Hoseok diletakan tepat diwajah Jimin. menenggelamkan namja
mungil itu pada mimpi indah. “seperti boneka, kau akan selalu seperti boneka.
Tidak seharusnya kau bertemu dengan dua namja itu lagi” kekuatan Hoseok
menghilang saat meyakinkan kondisi Jimin telah lebih baik. Ia yakin pertemuan
ini terjadi terlalu cepat.
To be Continue…
Nb : sebenarnya 'suara' Iblis di Devil Without You menggunakan Font Blood devil tapi ternyata ketika di cek tidak bisa berfungsi di browser hape ataupun chrome. Maafkan aku :)) semoga kalian masih bisa menikmati Devil Withou You XD


Ahh..semakin menarik nie..adakah hobi pon devil?kyaaa...hwaiting for next chapter authornim
ReplyDeleteyes ^^ hobi is devil.. i wish you can be patient to read the next chapter. thanks for your support :*
DeleteYeahh..i will wait..thanks a lot for updating..hwaiting~~(ノ*>∀<)ノ♡
ReplyDeleteP/s:dont worry,there are a lot of readers who read n loves your stories..they just doesnt comment just like my friends..ahaha..and hwaiting again~~
yes i know from my views♡ really i need support* ahaha xD and now i have that. thanks a lot.
Deletethor~ kalau kmu tau. I'm nai reader + viewer mu dlm bbrapa ff mu yg semuanya mmg jjang. OK keep it up
ReplyDeletesorry bru cek lg;)) aku tdk berfikir akan ada yang memberikan kusupport lg selain di fb.. im glad for this. terimakasih banyak atas pujiannya nai. ^^
Deletethor~ notice ku x?
ReplyDelete