Don't Love Me Chapter 1



Cast : 
.

Park Jimin
Kim Seok Jin
Kim Taehyung
Kim Namjoon
Jung Hoseok
Min Yoongi
Jeon Joon Kook

.Lagu pendukung :
Wendy & Seulgi - I Can Only See You
Hyolyn - Become Each Others Tears
BolBBalgan4 - Dream
Kim Ju Na - Divine Intervention


*****

Sebagai seorang pewaris bagaimana tidak hidup seseorang dapat diatur seseuai kehendak hati? Itu yang dirasakan Kim Seok Jin saat ini. Ia harus mengalami cinta yang diatur kedua orang tuanya. Terlebih lagi ini adalah keinginan Hal-beojinya. Pimpinan Kim Pemegang penuh atas perusahaan Kim yang berada di seluruh Korea. Sejak Jin masih kecil. Ia sudah diberitahu bahwa cintanya telah dipersiapkan untuk dirinya saat dewasa kelak. Namanya Park Jimin. dan yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa orang tuanya menyetujui keinginan bodoh Hal-beojinya yang akan menjodohkan Ia dengan seorang namja? Jin bukanlah putra satu-satunya, ada 2 saudaranya lain bernama Taehyung dan Namjoon. Mereka tidak ikut dalam perjodohan ini karena perjanjian masa lalu Hal-beojinya dengan Hal-beoji Park hanya dilakukan sekali. Dan sialnya Jin mendapatkan kesempatan ini.

“ayolah bagaimana mungkin aku menikah dengan seorang namja? aku masih normal. Bahkan aku masih bisa menghamili seorang yeoja, ini sama sekali tidak masuk akal. Kenapa aku harus mengikuti keinginan bodoh Hal-beoji dimasa mudanya?” itulah curahan hati Jin saat mengurung dirinya dikamar. Menyaksikan saudara sedang pusing berfikir Taehyung datang menghampiri, “Hyung”.

“Yakk! Kenapa kau tidak mengetuk pintu sebelum masuk kekamarku!” marah Jin memuncak saat menemukan Taehyung berbaring mengikuti posisinya dikasur.

“apa aku harus mengulanginya?” Tanyanya bodoh. Jin semakin memijat kepalanya yang semakin pusing akan kehadiran Dongsaengnya. “kau mau apa sebenarnya Taehyungie. Aku sedang tidak ingin bermain dengan permainan bodohmu. Pergilah. Kepalaku semakin sakit semenjak kau datang” Jelas Jin. Tatapan penasaran Taehyung mengintimidasi setiap aktivitas Jin dikamarnya. Karena risih terus diperhatikan, Jin pun mulai menenangkan diri. “baiklah kau ingin permainan seperti apa?” Tanya Jin menyerah.

“Truth or Dare”

“Baiklah kita mainkan, Apa aku harus memulainya?”

“Ani. Aku yang memulainya, Hyung memilih Truth or Dare?” Taehyung membenarkan posisinya yang tak nyaman. Ia duduk manis dengan memeluk bantal tidur Jin. “aku memilih Truth” mendengar pilihan Jin, Ia tersenyum. Tanpa basa-basi Taehyung bertanya tentang alasan mengapa Jin gelisah akhir-akhir ini.

“alasanku gelisah adalah perjodohan. Kau tau sendiri kan perjodohan ku dengan namja bernama Park Jimin itu. cucu dari sahabat lama Hal-beoji. Jika yeoja mungkin aku tidak memikirkan ini semua, yang membuat aku tidak mengerti mengapa janji lama tidak memahami kondisi sekarang yang mustahil untuk mewujudkan itu semua. Namja dengan namja? aku bisa gila” cerita Jin memberikan anggukan berkali-kali pada Taehyung yang Jin sadari, Ia tidak akan memahaminya. “sekarang giliranmu” balas Jin.

“aku pilih Truth”

“mau kau menggantikan posisiku? Jika mendapatkan kesempatan?”

“Aku mau” mata Jin terbelalak mendengar jawaban Taehyung. “aku lihat foto namja itu yang diberikan Hal-beoji padaku. Dia terlihat manis hyung. Kenapa kau tidak melihatnya waktu itu dan aku yakin hyung mau menerimanya jika saat itu tidak langsung pergi. Namjoon hyung juga tidak datang misalkan Ia melihat foto Jimin aku yakin juga mengatakan hal yang sama denganku” tantang Taehyung mengeluarkan aegyonya tanpa sadar. Memandang wajah meledek dongsaengnya mengharuskan Jin melempar Taehyung dengan bantal didekatnya. “tetaplah berada pada mimpimu. Sampai kapanpun aku tidak akan menerima perjodohan gila ini. sekarang giliranku. Aku memilih—” ketukan pintu pada kamar Jin menghentikan permainan. Namjoon datang dengan membawa pesan Hal-beoji ingin bertemu dengan Jin. Yah. Anak tertua memang akan selalu menjadi tumbal dalam keluarga. Merasa tidak nyaman, Jin pun melangkah dengan malas keruangan Hal-beojinya. Appa dan Eommanya yang tidak dapat menentang keputusan Pimpinan teratas kekuasaan perusahaan Kim hanya memandangi Jin dari jauh. Ia mengetuk pintu ruangan Kim Han Shin. Dan tidak lama mengetuk pelayan yang berada didalam membuka pintunya dan memberi hormat.

Jin telah ditunggu Kim Han Shin diruangannya. Secara perlahan pintu itupun tertutup meninggalkan pandangan khawatir kedua orang tua Jin akan nasib putranya menikahi Namja. Namjoon ditemani Taehyung juga hanya bisa menunggu kabar saudara tertuanya itu selamat atau tidak dari perjodohan gila Hal-beoji mereka..

.

Didalam ruangan Jin hanya bisa menunduk, tidak dapat berkata apapun jika sudah berhadapan dengan Hal-beojinya. Kursi pimpinan yang diduduki Kim Han Shin berbalik kearah Jin berdiri. Ia menatap tajam kearah Jin yang enggan membalas tatapannya. “Jin-ah apa kau tau alasan mengapa aku membuat perjodohan ini dulu? Awalnya aku juga tidak tau akan menjadi seperti ini tapi tanpa adanya Park Ji Young mungkin kehidupan mewah ini tidak akan bisa kau rasakan” Hal-beoji Jin mulai bercerita akan masalalunya, “saat itu perusahaan Kim dalam masa krisis keuangan. Aku jatuh bangkrut jika tidak mendapatkan pinjaman uang. Aku putus asa saat semua Bank menolak meminjamkan uang kepadaku. Aku fikir tidak akan pernah bisa merasakan kesuksesan lagi saat itu, dan kedatangan Ji young menyelamatkan perusahaan Kim dari krisis yang melanda. Ia meminjamkan uang yang tidak sedikit padaku. Tidak perduli apa aku akan berhasil atau tidak, tapi Ia percaya bahwa aku bisa mengendalikan semua dengan taruhan perusahaan Ji Young juga ikut bangkrut. Kami bersahabat sudah lama. Dan masa itu Ia benar-benar menyelamatkan bisnis perusahaan Kim. Ia mengatakan suatu hari nanti Ia tidak ingin melupakan kejadian itu, masa-masa pertemanan kami. Dengan mengikat janji akan menjodohkan cucunya dengan cucuku. Itu yang ku ingat sampai didetik kematian Ji Young karena serangan jantung, aku tidak berada disana. aku sangat merasa bersalah tidak ada disaat temanku membutuhkan bantuanku. Aku juga tidak tahu bahwa putri Ji young ternyata telah mengalami pengangkatan rahim dan tidak dapat hamil lagi. Aku hanya melihat namja kecil yang sedang menangis disisi Ji Young saat itu. harapanku mewujudkan janji ku dengan Ji Young hanya ada pada namja kecil itu, Jin-ah”

“Hal-beoji tapi jika aku menikah dengan namja aku sama sekali tidak bisa memberikan keturunan pada Eomma dan Appaku. Aku yakin mereka menginginkan itu” Jin memberikan alasan pada Han Shin. Dan alasan itu langsung dibantah, “kau masih memiliki saudara yang bisa memberikan Appa dan Eommamu cucu nanti. Tapi jika keinginanku ini kau tolak, tidak ada sedikitpun warisan aku keluarkan padamu atau saudaramu”

“Hal-beoji bagaimana bisa kau sejahat itu dengan mengorbankan aku?! Kau tau kan janji itu bisa berubah saat kondisi tidak memungkinkan. Dan aku yakin Tuan Park yang berada disurga mengerti atas kondisi ku sekarang ini”

“berhenti mencari alasan terus-menerus. Saat waktunya tiba aku akan mempertemukanmu dengan Jimin. tepat dihari ulang tahunnya yang ke-17 pertunanganmu dan Jimin akan aku umumkan. Kau mengerti?”

“berapa lama lagi itu? setidaknya aku masih bisa menikmati masa lajangku sampai usia namja itu 17” bisiknya sedikit kesal. “13 Oktober nanti Ia sudah 17 tahun Jin-ah, nikmatilah beberapa hari sebelum itu terjadi” senyuman jail Hanshin tercipta mengamati gelagat Jin yang langsung berubah menjadi gemetar. “HEEEE??? Itu terjadi 5 hari dari sekarang Hal-beoji. Kenapa kau begitu tega dan jahat padaku?! Aku mohon batalkan perjodohan ini” Jin bersujud agar Hanshin mau merubah pemikirannya. Namun kursi kepimimpinannya berubah tidak lagi menghadap kearah Jin, dan lebih memilih memandangi pesona luar jendela ruangannya. Yaitu halaman belakang kediaman Kim. Teriakan yang Jin berikan tidak memperngaruhi apapun termasuk keputusan yang diambilnya. Dalam hati Jin Ia pun mengutuk dirinya sendiri ‘matilah aku’. Ia diizinkan keluar ruangan dan bertemu dengan orang tua dan saudaranya di luar. Mereka sudah lama menunggu Jin namun terlihat kekecewaan dari wajahnya yang baru saja keluar dari ruangan pimpinan Hanshin. Appa Jin tidak tega jika harus mendengar putranya akan menikahi seorang namja, Ia mengurungkan dirinya untuk bertanya pada Jin. Dan pergi meninggalkan Kediaman Kim diikuti Istrinya alias Eomma Jin. Berbeda dengan Taehyung dan Namjoon, “Hyung kau terlihat tidak bersemangat, apa perjodohanmu berlanjut?” tanya Taehyung yang tidak dianggap pertanyaannya oleh Jin. Melihat Jin sedang kalut, Namjoon menarik Taehyung untuk segera menjauhi Jin. Jin membanting pintu kamarnya dan membuat kaget 2 saudara yang memandang semakin khawatir pada Jin.

“apa yang terjadi hyung? Aku baru pertama kali melihat Jin hyung sekasar itu” taehyung memandang kearah Namjoon yang tadi menariknya. Namjoon menggeleng tidak tau harus menjelaskan apa, “aku tidak tau. Yang jelas sepertinya Jin hyung membutuhkan waktu sendiri dulu” mendengar itu Taehyung mengerti.

.

[ Keesokan harinya ]

Keluarga Kim berkumpul diruang makan pagi hari, tapi Jin tidak ikut bergabung dan memutuskan untuk berangkat tanpa sarapan. Kondisi ini terjadi sebagai ungkapan peperangan dingin Jin atas perjodohan yang dilakukan Hal-beojinya. Sampai Hal-beojinya tidak mengubah keputusan itu, Jin tidak akan pernah menganggap dirinya bagian dari Keluarga Kim. Hanshin tidak terpengaruh akan hal itu. Ia sarapan masih dengan lahap seperti tidak terjadi apapun. Namjoon dan Taehyung yang sudah selesai menghabiskan sarapan pagi mereka, segera memberi hormat pada orang tua dan Hal-beoji mereka untuk meninggalkan ruang makan. Usai itu mereka pergi kesekolah menyusul Hyung tertua. Dalam perjalanan nya Namjoon yang sedang mengemudi tidak sengaja menjatuhkan ponselnya. Ia meminta bantuan Taehyung untuk mengambil namun tak sampai. Namjoonpun berusaha sendiri menggapai ponselnya yang berada didekat kakinya menginjak pedal gas mobil. berusaha untuk tetap berhati-hati dijalanan, Namjoon terus menggapai ponselnya yang masih tak dapat diraih. Namjoon yang mencuri-curi sedikit ingin tahu dimana keberadaan ponselnya. Menyebabkan tangannya tergelincir dari kemudi yang sedang di imbangkan, mobil itu terbanting stir kearah kanan hingga mengakibatkan sebuah sepeda yang terparkir terpental dari posisinya. Namjoon menginjak rem kaget saat mengetahui ada sesuatu yang ditabraknya. Sama halnya dengan Namjoon, Taehyung ikut kaget dan langsung memandang kearah hyungnya. “hyung bagaimana ini?” tanya Taehyung bingung dengan apa yang terjadi. Namjoon memperhatikan sekeliling untuk menemukan sepeda siapa yang ditabraknya. “sepertinya kita menabrak sebuah sepeda”.

“sepeda?”

Seorang namja dengan seragam yang sama dikenakan Taehyung dengan Namjoon histeris saat mengetahui sepedanya hilang dari tempat Ia memakirkan. Serangga yang ditangkapnya terlepas dari tangannya. Saat mencari-cari sepedanya, Ia melihat bahwa sepedanya sudah berpindah tempat 50 meter dengan baretan akibat tekanan sesuatu. Mobil yang Ia yakini sebagai pelaku kerusakan sepedanya Ia ketuk berkali-kali untuk meminta pertanggung jawabannya.  “Yak! Kau menghancurkan sepedaku! Keluar dan berikan aku beberapa won untuk memeperbaikinya sekarang!” teriaknya kesal. Namjoon sepertinya memang harus menggantinya karena itu semua terjadi akibat kecerobohannya. Ia turun dari mobil tanpa Taehyung. “Apa kau tidak bisa menyetir? Jika tidak bisa sebaiknya jangan membawa mobil dengan merek mewah. Itu sama saja kau menghamburkan uangmu dengan sesuatu yang percuma. Kau akan terus merusak mobilmu dengan menabrak sesuatu dijalanan. Terlebih lagi kau akan membahayakan orang sekitar! Dan sekarang aku lihat sepedaku salah satu korbannya” Namjoon menganga dengan celotehan yang diberikan namja dihadapannya tanpa jeda dalam kalimatnya. “sekarang berikan aku beberapa won untuk memperaiki sepedaku yang sudah kau tabrak”

“baiklah. Kau tenang saja, aku akan mengganti kerusakan yang sudah aku perbuat dengan sepedamu. Untuk sekarang kau mau berangkat bersama kami? Kebetulan kita sekolah di tempat yang sama” tawar namjoon tidak enak dengan apa yang sudah dilakukannya. Tapi dengan sopan namja itu menolak dan lebih memilih pergi dengan sepedanya setelah diperbaiki. Tidak mau memaksa, Namjoon memberikan beberapa won pada namja itu dan meminta maaf berulang kali. setelah urusannya kelar, Ia kembali masuk kedalam mobil. mendapati Taehyung sedang memikirkan sesuatu dengan memperhatikan namja yang sepedanya Ia tabrak. “ada apa Taehyungie?”

“Ani. Aku hanya seperti pernah melihat namja itu disuatu tempat hyung. Tapi dimana ya?”

“mungkin kau pernah bertemu dengannya disekolah, diakan juga bersekolah ditempat kita. Sudah jangan terlalu dipikirkan urusan kita dengannya sudah selesai. Kau tidak usah takut saat bertemu dengannya, dia tidak mengetahuimu ada dimobil” Namjoon mengacak rambut Taehyung manja. Taehyung masih berfikir keras karena apa yang dikatakan Hyungnya itu salah, Ia tidak merasa bertemu  namja itu disekolah. Tapi disuatu tempat. Terus berfikir sampai Ia tidak menyadari telah sampai pada sekolah. Bel masuk pun terdengar dan Gerbang telah ditutup sempurna. Tepat di mobil Namjoon terakhir masuki. “aku akan langsung kekelas hyung” Kata Taehyung pamit. Namjoon mengangguk dan mengunci mobilnya, lalu pergi kekelasnya sendiri. Dalam perjalanannya kekelas. Namjoon mendapati hyung tertuanya tengah tidur bersantai dibawah pohon dengan sapu tangan menutupi wajahnya. Ia mencoba untuk bicara dengan Jin. “Jin hyung” sapanya membangunkan Jin yang sedang tertidur. Jin menolak kehadiran dongsaeng keduanya itu dan memiringkan tubuhnya kearah lain. “maaf aku tidak bisa membantumu meyakinkan Hal-beoji untuk membatalkan perjodohanmu. Tapi aku sudah berusaha, sama halnya dengan Taehyungie” Jin mulai merubah posisinya dengan duduk disamping Namjoon.

“aku sudah tidak tau harus melakukan apa lagi agar aku terbebas dari kutukan Hal-beoji. Aku tidak terlalu minat dengan warisannya. Tapi aku tidak ingin kau dan Taehyung terkena imbasnya dengan tidak mendapatkan warisan juga. Bagaimanapun aku harus bisa menerima kenyataan pahit ini. menikahi seorang namja”

Namjoon merasa menyesal tidak dapat membantu Jin, “hyung tidak ikut pelajaran pertama? Jika Hal-beoji tau pasti Ia akan sangat marah lagi hyung membolos” Ia mencoba mengingatkan. Jin kembali merebahkan tubuhnya dan memasang earphone dikedua telinganya dengan kalimat terakhir untuk menjawab pertanyaan dongsaengnya yang khawatir. “aku akan baik-baik saja. pergilah sebelum kau terkena amarah namja tua itu". namjoon yang tidak ingin mengganggu ketenangan lagi segera pergi meninggalkannya tanpa bertanya lagi. Sebenanya Jin tidak mendengarkan musik apapun, Ia hanya ingin memasang earphone agar Namjoon segera pergi dan tidak mengkhawatirkan keadaannya terus-menerus. Matanya yang terpajam menatap langit biru yang tertiup angin secara perlahan. Burung-burung berterbangan saling mengejar satu sama lain. Sebebas itu lah keinginan Jin. bahkan sekarang ini Jin sulit untuk bernafas. Lupa akan cara bernafas dengan tenang. Fikirannya berantakan tidak karuan. Dan sebuah bayangan entah kenapa menutup pandangannya dari cahaya matahari yang berada diatas kepalanya.

.
BRUUKK!
.

Tubuh seorang namja menimpa Jin yang sedang berbaring dibawah pohon. Kepala mereka berbenturan, dan Jin marah akan kelakuan yang namja itu lakukan. Ia mendorong tubuh namja diatasnya hingga terguling-guling menjauhinya. Kening Jin merah dan berdenyut akibat benturan dengan kening namja yang menimpanya. “apa yang kau lakukan! Aigooo! Kenapa kau bisa berada di atas pohon!HAH!” teriak Jin marah.

“maafkan aku. Aku tidak sengaja jatuh diatasmu, gerbang didepan sudah tertutup sedangkan ini hari pertamaku disekolah ini. jadi aku nekat memanjat tembok dan menemukan hanya pohon ini yang dapat aku gunakan untuk menuruni tembok. Aku tidak tau ada orang dibawah” Jelasnya tidak menenangkan kemarahan Jin. “jadi kau murid baru yang terlambat?” sinis Jin. melihat anggukan namja yang menimpanya Ia menarik seragam namja itu dan siap melaporkan pada satpam untuk segera mengeluarkan murid yang terlambat didepannya.

“kau mau bawa aku kemana? Aku kan sudah minta maaf” namja itu terus meronta agar Jin lepaskan, tapi genggaman Jin semakin mengerat dan menyakitinya. “aku tidak perduli kau sudah minta maaf atau belum. Seseorang yang terlambat harus tetap berada diluar bukan didalam. Aku akan melaporkanmu”

“Andwee! Ayolah pengertian sedikit pada murid baru sepertiku. Aku terlambat bukan karena kesalahanku, seseorang menabrak sepedaku dan—”

“aku tidak perduli!” bentak Jin memekikan telinga namja yang diseretnya.

“lalu kenapa kau berada diluar padahal jam masuk sudah berbunyi!?” namja itu bertanya dan menghentikan perjalanan mereka sesaat. “aku akan melaporkan kebolosanmu juga jika kau melaporkanku!” Jin menyeret nya lagi semakin kasar. Karna tidak mendengarkan alasan keterlambatannya. Namja itu menggigit seragam Jin hingga berbekas basah, dan gigitan itu dirasakan sakit Jin hingga melepaskan genggaman pada namja yang tadi menimpanya. Ia kabur dan berlari kencang meninggalkan Jin yang sakit dipergelangan bahunya yang digigit. “ini menjijikan! Kenapa dia meninggalkan bekas gigitannya pada seragamku!Aish! YAK!”

Namja asing yang berlari menghindari Jin akhirnya lolos dan tidak mendapati siapapun mengejar dibelakang. Ia pun mulai fokus mencari kelas yang bertuliskan Vokal-1A, tempat Ia akan mempertajam hobby bernyanyi. Seonsaengnim yang berada didalam dikejutkan akan kehadiran seseorang yang sepertinya datang terlambat. Taehyung ikut kaget saat mengetahui bahwa namja yang sepedanya Ia dan Namjoon tabrak ternyata satu kelas dengannya. ‘dia murid baru?’ gumamTaehyung dalam hati. “apa kau murid baru itu? kenapa kau datang terlambat?” tanya seonsaengnim padanya yang berdiri tidak nyaman.

“maafkan aku. Aku mengalami insiden pada sepedaku, seseorang menabraknya maka itu aku memperbaikinya sebelum kesini” mendengar kata-kata sepeda semua murid dikelas mulai berbisik tentang status sosial yang dimiliki namja baru dikelas mereka. Seonsaengnim menyuruhnya memperkenalkan diri didepan kelas sebelum Ia duduk dan bergabung dalam pelajaran. “Annyeonghaseyo. Namaku Park Jimin, aku berasal dari Busan. Kalian bisa memanggilku Jimin” Ucap Jimin dengan logat busan. Taehyung berdiri tiba-tiba dengan kursi terbalik kebelakang. Seluruh perhatian kelas kini terfokus padanya termasuk Jimin. ‘dia Park Jimin?’ bisik Kim Taehyung.


*******

{ Kantin }

“kau yakin? Dia Park Jimin?” tanya Namjoon pada Taehyung saat Jam istirahat dikantin. Taehyung hanya dapat mengangguk dengan garukan dikepalanya. “jadi namja yang kutabrak tunangan Jin hyung?” Anggukan diterima Namjoon lagi. “tapi kenapa Jimin berada disekolah kita? Apa Hal-beoji yang menyuruhnya pindah?” kini gelengan kepala Taehyung berikan. Sedang dalam pembicaraan serius Jin dan teman-temannya bergerombolan memasuki kantin. Teman-teman kelas Jin mengajak hyung tertuanya itu untuk makan bersama walau mereka  tau Jin sedang malas melakukan sesuatu. Namjoon ingin memberi tahu akan kedatangan Jimin disekolahnya tapi diurungkan ketika namja yang sedang dibicarakan muncul dengan wajah ceria. Jin mengambil hidangan disekolahnya yang tidak ada satupun harga murah tertera pada setiap makanan. Ia mengambil asal dan berada pada urutan terakhir dalam pembayaran. Teman-temannya mencari tempat duduk agar bisa mereka duduki sebelum penuh dengan murid lain. Setelah Jin selesai membayar makan siangnya, Ia pergi untuk mengambil minuman dimesin kaleng. Tapi ternyata ada seseorang sedang berjongkok mencari sesuatu di bawah mesin kaleng minuman.. “maaf jika kau mengalami masalah dengan uangmu bisakah kau membiarkan aku mengambil minuman dulu?” Kata Jin yang ikut menundukan diri agar orang itu dapat mendengar permintaan sopannya. Tiba-tiba namja yang tadi berjongkok berdiri dengan beberapa koin yang sepertinya telah berhasil didapatkan dari bawah mesin kaleng minuman. Semua makan siang Jin tumpah tepat diseragamn, Itu ulah namja didepannya. “YAK! Tidak bisakah kau—”

“Nde?” tanya Jimin yang mendapat tarikan pada pundaknya, “KAU?!” ucap keduanya bersamaan. Mendapati namja yang akan melaporkan berada dibelakang, Jimin mencoba untuk kabur lagi namun kerah seragamnya ditarik Jin. “kau sebenarnya punya masalah apa denganku!!?” tanyanya pelan. Jimin tersenyum manis dengan menatap aneh pada pakaian yang dikenakan namja yang memiliki masalah dengannya pagi hari. “apa yang terjadi pada pakaianmu?” tanya nya tidak merasa bersalah, semakin memuakan kekesalan pada Jin. pukulan melayang tepat pada wajah Jimin namun dilindungi Namjoon.

“Namjoon?” Jin terkejut saat dongsaeng keduanya melindungi namja asing yang Ia tidak kenali, “apa yang kau lakukan?!”

“hyung.. tidak baik memukul murid baru, aku dengar dia murid baru dikelas Taehyungie” Namjoon mencari alasan, tanpa mengatakan apapun tentang siapa sebenarnya seseorang yang akan dipukulnya. “aku yakin Hal-beoji akan menghukummu jika nanti kau berbuat keributan, jadi lebih baik hyung berganti pakaian saja. biar aku antar” namjoon menggandeng tangan Jin tapi ditepis. “aku bisa sendiri” ucapnya singkat. Tatapan sinis masih menggantung kesal pada pandangannya terhadap namja yang berada dalam perlindungan Namjoon.


Jimin lemas ingin menangis, tapi sepertinya Ia membuat masalah kedua kali pada namja yang sama. Saat mengetahui namja asing yang menolongnya adalah seseorang yang merusakan sepedanya, Ia pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih. “gwenchana?” tanya namja itu khawatir. Jimin mengangguk dan pergi dengan sorotan setiap orang dikantin yang tidak menyukai akan kehadirannya. 

Berjalan sendirian menuju atap sekolah yang mungkin bisa menenangkan perasaannya. Kebiasaan Jimin disekolah lama, bersembunyi di atap sekolah ketika hatinya merasa gelisah. Dan sekarang jimin melakukan kesalahan yang tidak menyenangkan 2 kali pada orang yang sama. “bagaimana ini, aku tidak akan tenang jika terus membuat kesalahan disekolah baru. Hal-beoji apa yang harus aku lakukan?” Jimin menyandarkan kepalanya pada kawat-kawat yang menjadi pembatas atap sekolah pengganti tembok. Ia mengeluarkan bekal makanan tanpa minuman yang tidak sempat dibeli. Ponsel Jimin berbunyi dibalik kantong seragam, tertera nama contact Eommanya mencoba menghubungi. Jimin tidak akan menceritakan kejadian ini, Ia yakin Eommanya akan khawatir dan mengirimkan banyak pengawal untuk menjaganya nanti. Tidak boleh. Eommanya tidak boleh mengetahui hal ini. akan sangat rumit jika ada banyak penjaga mengawal setiap aktivitasnya. jimin menarik nafasnya, “Yeoboseyo?”

“Jimin-ah, bagaimana keadaan disekolah barumu? Apa kau bertemu dengan teman-teman baru? Apa terjadi sesuatu yang menyenangkan?”

Jimin menggigit bibirnya sedikit, lalu tersenyum ceria “Nde Eomma. Sekolah baruku begitu besar dan menyenangkan. Aku menyukai sekolah rekomendasi pilihan Hal-beoji. Seandainya aku tidak pindah kesini pasti aku akan sangat menyesal. Eomma, bagaimana dengan kabar Eomma dibusan? Apa Eomma masih sibuk Meeting? Kapan Eomma menyusul ku ke Seoul?”

“secepatnya Eomma akan menyusulmu. Karna ada hal yang harus Eomma katakan dan itu keinginan Hal-beojimu sebelum meninggal Jimin-ah”

“apa itu?”

“akan sebaiknya Eomma mengatakannya saat sudah berada didekatmu, kau mengerti?”

“Nde Eomma”

“lalu apa kau masih membuat bekal sendiri dihotel? Eomma sudah mentransfer won kerekeningmu, belajarlah terus memasak. Eomma suka melihatmu memasak”

“Nde. aku memang suka memasak, dan suka sekali membuat bekal. Karena Eomma juga memujiku ketika membawakan bekal untuk Eomma saat Meeting. Eomma jangan makan sesuatu yang tidak sehat ya, aku akan marah jika Eomma makan sembarangan”

“kalau begitu Eomma akan mengabarimu lagi. Kau belajarlah yang rajin. Eomma menyayangimu”

“aku menyayangi Eomma” sambungan itupun terputus, dan Jimin kembali mengingat masalahnya. Ia memakan sedikit bekalnya dan entah kenapa langsung ada yang mengganjel dalam tenggorokan. Tapi Ia tidak mempunyai air untuk diminumnya. Saat Jimin sudah sangat kesakitan karena tersedak, seseorang melemparkan kaleng minuman kearahnya. Ia langsung menangkap minuman itu dan mencari tahu siapa yang melemparkan. Seorang namja tersenyum kearahnya dan ikut bergabung duduk diatas atap bersama Jimin. “kenapa makan sendirian disini?” tanya namja itu yang memandang manis kearahnya.

“aku memang sedang ingin sendirian, terimakasih sudah memberikan minuman disaat yang tepat”

Taehyung tertawa kecil saat Jimin tidak sabaran membuka kaleng minumannya, “apa itu bekal buatanmu? Kelihatannya enak?”

“kau mau coba?” Jimin mengambil sesendok makanan buatannya dan menyuapi namja disampingnya, Ia mengunyah dengan wajah yang sepertinya tidak menyukai masakannya. “bagaimana? Apa tidak enak?”

“ini enak sekali, kau jago masak ya?”

“aku tidak jago. Tapi aku hanya menyukai makan jadi belajar sedikit memasak”

“benarkah? Kalau begitu lain kali kau mau tidak membuatkan aku bekal juga? Aku ingin mencicipi makanan buatanmu secara penuh Jimin-ah” mendengar namanya disebut sepertinya namja disampingnya tidak memandang status sosial Jimin, apa mungkin Ia mau berteman dengannya. “kau mengingatku?” tanya Jimin penasaran.

“tentu saja aku mengingatmu, kau kan Park Jimin yang berasal dari busan. Kenalkan namaku Kim Taehyung. kau bisa memanggilku Taehyung” merasa senang telah memiliki teman, Jimin bercerita tentang banyak hal. Mereka tertawa sampai lupa akan setiap pelajaran yang sudah dilewati. Rasanya taehyung bisa menjadi teman pertamanya di Seoul. Melihat senyuman Jimin sepertinya Taehyung menyukai akan namja manis yang dijodohkan untuk hyungnya ini. Selesai belajar Taehyung menyiapkan buku-bukunya kedalam tas, Ia menghampiri Jimin yang duduk didepannya. “Jimin-ah apa kau langsung pulang?”

“Nde. aku langsung pulang, bagaimana kau Taehyung-ah?”

“aku pulang dengan hyungku. Kalau begitu aku duluan yah. Lainkali aku ingin pulang bersamamu, bolehkan?”

“tentu saja. tapi aku menaiki sepeda, apa tidak apa-apa? nanti teman-temanmu malah menjauhimu” takut Jimin membuat masalah lagi dengan orang lain.

“tidak apa-apa. aku tidak terlalu dekat dengan teman kelasku, aku bebas berteman dengan siapa saja. kau mengerti? Sampai bertemu besok Jimin-ah” jimin tersenyum pada Taehyung yang melambaikan tangan kearahnya. Walau hanya satu Ia merasa senang mendapatkan pertemanan yang sangat tulus dari Taehyung. Mengingat jam les menarinya sebentar lagi akan dimulai. Jimin mempercepat gerakan membereskan barang-barangnya, setelah semua siap Jiminpun meninggalkan kelas. Ia tidak sengaja bertemu lagi dengan Jin saat ingin menuruni tangga. Mereka berpapasan dengan Jin yang akan menaiki tangga untuk mengambil tasnya dikelas. Untuk memperbaiki hubungannya dengan namja yang memiliki masalah dengan Jimin. Ia memberanikan diri untuk bicara dengan Jin, “tunggu..” Jin tidak mau mendengar dan terus menaiki tangga. “Tunggu..Tunggu sebentar” karena merasa tidak didengarkan Jimin pun mengejarnya dan menghentikan langkah Jin dengan berdiri didepannya.

“Minggir” suara Jin terdengar berat.

“aku akan menyingkir setelah mengatakan bahwa aku sangat merasa bersalah menimpamu tadi pagi, menggigit bahumu, dan yang terakhir aku tidak sadar mengotori pakaianmu. Maafkan aku. Ini hari pertamaku yang sudah memberikan kesan tidak menyenangkan denganmu. kau mau kan memaafkanku” tangan yang diulurkan Jimin hanya Jin perhatikan sebentar, Ia pun melewati Jimin tanpa mengatakan apa-apa. Jimin mengejar Jin sampai pada kelasnya tapi Ia tak berani masuk karena wilayah itu adalah Sunbaenimnya. Dan Ia hanya dapat menunggu Jin keluar lagi dari kelas.

Jung Ho Seok bertanya pada Jin, “siapa namja itu?”. Jin tidak menjawab dan hanya membereskan tasnya mengacuhkan. Karna penasaran Hoseok pergi keluar dan bertemu dengan Jimin yang masih setia menunggu Jin keluar. “Annyeong. Apa kau mencari seseorang?”

“namja itu..” ragunya menjawab.

“namja itu??” bingung Hoseok.

Jin yang dimaksud Jimin keluar meninggalkan ruang kelasnya. “Tunggu.. Tunggu” teriakan Jimin memberikan perhatian Hoseok dengan seseorang yang dikejarnya. Jimin menuruni tangga sekolah mengikuti Jin. “kau serius tidak mau memaafkan aku? Aku janji setelah kau memaafkanku. Aku tidak akan mengganggumu seperti ini lagi. Aku akan menjaga jarakku denganmu beberapa km, agar aku tidak membuat masalah lagi denganmu. bagaimana?” Jin masih saja diam tidak mendengarkan. Masuk kedalam mobil dan siap pergi meninggalkan sekolahnya. Tanpa menyerah Jimin mengikuti mobil Jin dengan sepeda. Jin fokus pada kemudinya namun Ia tak menyangka bahwa namja yang meminta maaf padanya terus saja mengikuti. “namja bodoh itu, dia benar-benar sudah gila” ucap Jin didalam mobil. merasa akan mendapatkan kesialan terus jika terus diikuti, Jin menghentikan mobil dan mulai bicara pada namja yang mengikutinya dengan sedikit senyuman. “kenapa kau sampai sejauh ini mengikutiku. Kau ingin aku memaafkanmu? Aku akan memaafkanmu dengan syarat kau tidak boleh muncul lagi dihadapanku. Apa kau mengerti?”

“Nde. terimakasih sudah memaafkanku. Aku tidak akan muncul lagi dihadapanmu”

“baiklah. Sekarang cepat pergi dan jangan mengikuti ku lagi” senyuman itupun memudar dari wajah Jin. ia melanjutkan perjalanan kerumah tanpa diikuti lagi Jimin. karena merasa masalahnya sudah selesai, Jimin pun mengingat akan les menari yang sudah terlambat diikutinya. Sudah tidak ada waktu lagi mengikuti les. Jimin memilih beristirahat di Hotel.


**********


Jin telah sampai pada Kediaman. Ia sangat lelah dengan hari berat yang dialami. Tidak menyenangkan malah menambah kekesalan dengan bertemu namja aneh menimpa tubuhnya. Tapi kini Ia bernafas lega karena namja yang sedari tadi mengikutinya telah berjanji untuk tidak muncul dan mengganggu Jin. setelah memakirkan mobil Jin melemparkan kunci secara asal pada pelayan yang membukakan pintu mobil. Maid membukakan pintu utama untuk dilewati Jin, dan seluruh pelayan dirumah membungkukan tubuhnya memberikan hormat. Jin berlari kearah kamar untuk membersihkan diri. Beberapa menit Jin masuk kamar. Namjoon dan Taehyung juga telah sampai pada kediaman. Mereka diperlakukan sama dengan Jin. bagi para pelayan kediaman Kim. Cucu dari Kim Hanshin adalah pangeran tampan. Bagian dari calon pewaris perusahaan Kim yang ternama di Seoul. Saat mendapati Namjoon masuk kekamar, Taehyung mengurungkan niatnya untuk mengikuti kegiatan hyungnya itu. Ada kegiatan lain yang harus dilakukan Taehyung. Ia berjalan santai keruang kerja Hal-beojinya. Dan merebahkan diri di sofa dalam ruangan tersebut. Kim Hanshin menutup berkas-berkas penting yang diteliti saat melihat wajah tidak sabaran Taehyung menunggu kegiatannya segera berakhir. “Taetae ada apa? apa ada masalah?” Kim Hanshin melipat kedua tangan untuk menopang dagunya.

“Jimin sudah ada dikelasku. Apa kepindahannya atas perintah Hal-beoji?”

Kim Hanshin tersenyum, “Nde. Hal-beoji meminta keluarga Park untuk datang ke Seoul dan merencanakan kepindahan Jimin sekaligus. Apa Jin dan Jimin sudah bertemu”. Pertanyaan itu mengingatkan Taehyung akan pertengkaran yang dilakukan Jin terhadap Jimin saat dikantin. Memandangi Taehyung yang ragu untuk menceritakan sesuatu mengharuskan Kim Hanshi mengulangi pertanyaan. “Taetae? Apa terjadi sesuatu?”

“Ani Hal-beoji. Aku hanya berfikir mereka sepertinya belum bertemu. Tapi aku sudah menjadi teman Jimin-ah. Dia anak yang baik dan menyenangkan, dia suka serangga, dan mengumpulkannya, dia menaiki sepeda ke sekolah. Banyak yang tidak suka dan menganggap status sosial Jimin rendah. Tapi aku rasa dia hanya orang yang sederhana. Apa aku benar Hal-beoji?”

“kau mengetahuinya se-detail itu. Hal-beoji yakin kau akan menjadi sahabat baik untuknya”

“lalu soal perjodohan itu bagaimana? Apa Hal-beoji tidak bisa membatalkannya”

“sekalipun itu kau yang meminta, Hal-beoji tidak akan melakukannya. Pembicaraan kita selesai sampai disini jika kau masih meminta pembatalan atas perjodohan hyungmu itu”

Taehyung terdiam sejenak, “Hal-beoji apa tidak aku saja yang melakukan perjodohan ini? aku rasa Jin hyung tidak mau melakukannya. Bahkan perasaanku mengatakan mereka tidak akan cocok”. Kim Hanshin memiringkan kepalanya tidak mengerti. Merasa salah bicara Taehyung tidak melanjutkan kata-katanya lagi lalu berpamitan untuk meninggalkan ruangannya. Dalam kursi kepemimpinannya Hanshin berfikir ada yang aneh dengan cucu ketiganya itu. Ia mengangkat telpon dan mencoba menghubungi seseorang di luar Kediaman, “Park Sojin?” panggilnya ditelpon.

.

 Didalam kamar Jin mengeringkan rambutnya yang basah. Hari ini Ia tidak melakukan hal yang berat seingatnya. Hanya saja Ia bingung apa yang membuat dirinya selelah ini. bertemu dengan makhluk yang menyebalkan disekolahnya sudah berakhir. Ia sudah berjanji tidak akan menampakan wajahnya dihadapan Jin sesuai janji. Seandainya pertemuan itu terjadi lagi, mungkin Jin akan mengabaikannya. Dan berpura-pura tidak mengenalinya disekolah. Hal yang baik harus melupakan sesuatu yang buruk.

Ketukan pintu kamar Jin terdengar. Ia malas membuka dan menyuruh seseorang yang berada di luar langsung masuk dengan suara lantang. Taehyung membuka pintu kamar hyung tertuanya itu. merebahkan diri diranjang empuk milik Jin. “kau lagi Taetae.. apa kau ingin bermain sesuatu?”

“hyung kali ini aku tidak akan mengajakmu bermain. Aku hanya ingin disini menemanimu, aku tidak bisa tidur”

“apa kau sedang ada masalah? Apa terjadi sesuatu sampai membuatmu tidak dapat tidur taetae?”

Taehyung menggigit kecil bibirnya. Ia membalikan tubuhnya berlawanan arah dari Jin yang menghadapnya. Hati Taehyung merasakan kecemburuan terhadap Jin yang dijodohkan dengan Jimin. walaupun taehyung pertama kali bertemu dengan jimin. sepertinya ada perasaan yang mengikat taehyung untuk memiliki Jimin. Jin yang pertanyaannya diabaikan mulai khawatir pada Taehyung yang diam tak bersuara lagi. “Taetae..” panggil Jin dengan tarikan pada pundak Taehyung agar kembali menghadap kearahnya. Alasan kenapa Taehyung tidak bersuara lagi ternyata karena Ia telah tertidur lelap. Jin mengendus kesal dibuat nya khawatir. ia pun beranjak dari ranjang untuk membenarkan posisi tidur Taehyung yang berantakan. Memasukan kedua kaki taehyung pada selimut tempat tidurnya, dan mematikan lampur kamar. Jin yang juga lelah langsung menyusul Taehyung tidur. Lampu yang terasa sudah dipadamkan, membangkitkan Taehyung kembali. Ia memandangi wajah Jin hyung yang masih mencoba untuk tidur. ‘aku sangat ingin menggantikanmu Jin hyung’—ucapnya dalam hati.

.
[ Keesokan paginya ]

Taehyung menemani Jimin makan siang diatas atap lagi. Mereka kini semakin dekat. Taehyung menyukai kehidupan sederhana Jimin yang tidak perduli akan seperti apa orang yang memandangnya. Yang Jimin inginkan hanya kebersamaan seseorang yang tulus ingin bersamanya. Dan tidak sadar Jimin menjatuhkan dompet miliknya. “apa bekalmu hari ini Jimin-ah?” tanya Taehyung tidak sabaran.

“aku membuat Jokbal yang direbus dan aku asinkan, tidak lupa untuk menyiapkan sangchu.. nikmatilah. Aku membuat extra hari ini karena kemarin kau mengatakan ingin mencoba masakanku”

“uhmm.. kelihatanya sangat lezat Jimin-ah. Aku akan mencicipinya” Taehyung mengambil selembar sangchu dan membungkus jokbal setelah menyelupkannya kedalam ssamjang. Ia menyantapnya dengan lahap. Hingga pada gigitan terakhir Ia mengkhayati masakan yang dibuatkan untuknya. “ini sangat enak” Taehyung mengambil selembar lagi dan mengulangi kegiatannya memakan masakan buatan Jimin lagi dan lagi. Pada jokbal terakhir mereka saling melirik untuk memasang wajah polos masing-masing. “siapa yang akan memakan masakan terakhir ini?”

“kau sudah makan terlalu banyak, jadi aku yang akan memakannya” Jimin mengambil selembar Sangchu namun tertahan tangan Taehyung yang menolak atas keputusan Jimin. “yak! Park Jimin, kau kan bisa membuatnya sesuka hati sedangkan aku tidak bisa memakannya lagi. Jadi jokbal terakhir aku yang akan memakannya”

“Taehyung-ah.. tapi kau sudah makan terlalu banyak. Jadi biarkan aku memakan ini yang terakhir”

Mereka saling berebut hingga pada akhirnya jokbal terakhir yang sudah Jimin siapkan untuk dimasukan kedalam mulutnya, beralih kemulut Taehyung yang sengaja membelokan tangan Jimin. Taehyung mengunyah dengan senang hati sekaligus mendapati wajah Jimin yang memerah seketika. Tangan yang Taehyung genggam dilepaskan Jimin sedikit kasar. “gwenchana Jimin-ah?”

“Nde” perasaan Jimin serasa berubah. Tidak tenang dan malu untuk menatap mata intens Taehyung yang memandanginya. Bel berbunyi seakan menyelamatkan Jimin dari aktivitas berduanya dengan Taehyung. “sudah bel. Ayo pergi kekelas” Jimin yang beranjak tidak sabaran tersandung dan menimpa Taehyung tidak sengaja. Mereka saling menindih, Taehyung menajamkan pandangannya dan Jimin mengedipkan kedua bola mungil dimata sipitnya berulang kali. ia meninggalkan Taehyung dalam posisinya yang tertindih tubuhnya. Jimin sama sekali tidak menyangka bahwa dompetnya tertinggal dan dipungut Taehyung yang masih berada diatas atap. dompet itu terjatuh dalam keadaan terbuka. Didalamnya terdapat foto seorang namja yang tersenyum manis bersama Jimin. apakah Jimin memang penyuka namja? fikir Taehyung.

Jam pelajaran mereka berakhir dan Taehyung menghampiri keberadaan Jimin dimejanya. “Jimin-ah bisakah aku pulang bersamamu? Aku akan turun di tikungan yang berbeda dengan tempat tinggalmu. Bolehkan?”

“aku tidak bisa mengantarmu Taehyung-ah. Maaf aku harus pergi” Jimin berlari meninggalkan ruangan kelas. Taehyung mengambil dompet Jimin yang berada didalam sakunya dan mengejar Jimin yang sepertinya mulai menjauh darinya. Mencari Jimin yang berlari kearah parkiran sepeda, setelah menemukan namja mungil itu. taehyung menghentikan perjalanan pulang Jimin “kau itu kenapa Jimin-ah? Apa aku melakukan kesalahan? Maafkan aku jika aku memang melakukan kesalahan padamu. Tapi jangan menjauhiku seperti ini”

“aku tidak menjauhimu Taehyung-ah. Perasaanku sedang tidak enak saja. sungguh” Jimin mengayunkan sepedanya dan dihentikan lagi, “Ini dompetmu terjatuh” Taehyung memberikan dompet milik Jimin. tidak perlu menunggu lama, Jimin menyambar apa yang menjadi miliknya. “maafkan aku. Aku harus pergi” ucapnya singkat pergi meninggalkan Taehyung yang terus menatapnya.


“Jimin-ah, aku harap kau segera baik-baik saja. dan aku harap kau tidak menjauhiku besok” pesannya pada Jimin yang telah pergi. Wajah Taehyung termenung diam. Ia yakin Jimin tidak mendengarkan pesannya.  Hari ini Ia gagal untuk pulang bersama dengan Jimin, mungkin lain kali Ia bisa mengajak Jimin pulang bersama.


To be continue...

Ini Fanfiction yang sudah lama belum bisa ku Update, Mohon bantuan untuk Respon kalian. :) Aku tidak akan melanjutkan jika kurang banyak peminat Fanfic ini ^^

Comments

  1. Ahhh...i reallyyyy love these..i hope u can update soon..i love your stories soo much..im fan of yours 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah really? you can read this in 'bahasa' wow ^^ Im impression.

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. Haha..im Malaysian actually..but there are still some word that i didnt understand but i still read it becoz it soo interesting n soooo amazing *grin*.im jimin bias btw.i read all your stories..ah,im sorry i reply in english..i doesnt know how to reply in bahasa πŸ˜…

      Delete
    4. Ahh I see ^^well thanks so much for read all of my stories:)) im so glad if someone enjoy it.because i never imagine someone will read and like it also Haha.. *happy

      Delete
  2. Nah..u deserve it..i love it..hwaiting for next chap Jin92Min95 shi..just know that,there are people support u *grin*..btw,i sure u will hav a lot more fan if u publish these in english..all your fanfic are amazing..just a suggestion tho..hope u dont mind 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. I can english language just little bit, because of that i can't publish these in english, even thought i want^^ really im glad to meet you :)

      Delete
  3. Ahh..its okay..i also glad too meet these blog too..hwaiting~~(οΎ‰*>∀<)οΎ‰♡

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts