Don't Love Me Chapter 1
Cast :
.
Park Jimin
Kim Seok Jin
Kim Taehyung
Kim Namjoon
Jung Hoseok
Min Yoongi
Jeon Joon Kook
.Lagu pendukung :
Wendy & Seulgi - I Can Only See You
Hyolyn - Become Each Others Tears
BolBBalgan4 - Dream
Kim Ju Na - Divine Intervention
Wendy & Seulgi - I Can Only See You
Hyolyn - Become Each Others Tears
BolBBalgan4 - Dream
Kim Ju Na - Divine Intervention
*****
Sebagai seorang pewaris bagaimana tidak hidup
seseorang dapat diatur seseuai kehendak hati? Itu yang dirasakan Kim Seok Jin
saat ini. Ia harus mengalami cinta yang diatur kedua orang tuanya. Terlebih
lagi ini adalah keinginan Hal-beojinya. Pimpinan Kim Pemegang penuh atas
perusahaan Kim yang berada di seluruh Korea. Sejak Jin masih kecil. Ia sudah
diberitahu bahwa cintanya telah dipersiapkan untuk dirinya saat dewasa kelak.
Namanya Park Jimin. dan yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa orang tuanya
menyetujui keinginan bodoh Hal-beojinya yang akan menjodohkan Ia dengan seorang
namja? Jin bukanlah putra satu-satunya, ada 2 saudaranya lain bernama Taehyung
dan Namjoon. Mereka tidak ikut dalam perjodohan ini karena perjanjian masa lalu
Hal-beojinya dengan Hal-beoji Park hanya dilakukan sekali. Dan sialnya Jin
mendapatkan kesempatan ini.
“ayolah bagaimana mungkin aku menikah dengan
seorang namja? aku masih normal. Bahkan aku masih bisa menghamili seorang
yeoja, ini sama sekali tidak masuk akal. Kenapa aku harus mengikuti keinginan
bodoh Hal-beoji dimasa mudanya?” itulah curahan hati Jin saat mengurung dirinya
dikamar. Menyaksikan saudara sedang pusing berfikir Taehyung datang menghampiri,
“Hyung”.
“Yakk! Kenapa kau tidak mengetuk pintu sebelum
masuk kekamarku!” marah Jin memuncak saat menemukan Taehyung berbaring
mengikuti posisinya dikasur.
“apa aku harus mengulanginya?” Tanyanya bodoh.
Jin semakin memijat kepalanya yang semakin pusing akan kehadiran Dongsaengnya.
“kau mau apa sebenarnya Taehyungie. Aku sedang tidak ingin bermain dengan
permainan bodohmu. Pergilah. Kepalaku semakin sakit semenjak kau datang” Jelas
Jin. Tatapan penasaran Taehyung mengintimidasi setiap aktivitas Jin dikamarnya.
Karena risih terus diperhatikan, Jin pun mulai menenangkan diri. “baiklah kau
ingin permainan seperti apa?” Tanya Jin menyerah.
“Truth or Dare”
“Baiklah kita mainkan, Apa aku harus
memulainya?”
“Ani. Aku yang memulainya, Hyung memilih Truth
or Dare?” Taehyung membenarkan posisinya yang tak nyaman. Ia duduk manis dengan
memeluk bantal tidur Jin. “aku memilih Truth” mendengar pilihan Jin, Ia
tersenyum. Tanpa basa-basi Taehyung bertanya tentang alasan mengapa Jin gelisah
akhir-akhir ini.
“alasanku gelisah adalah perjodohan. Kau tau
sendiri kan perjodohan ku dengan namja bernama Park Jimin itu. cucu dari
sahabat lama Hal-beoji. Jika yeoja mungkin aku tidak memikirkan ini semua, yang
membuat aku tidak mengerti mengapa janji lama tidak memahami kondisi sekarang
yang mustahil untuk mewujudkan itu semua. Namja dengan namja? aku bisa gila”
cerita Jin memberikan anggukan berkali-kali pada Taehyung yang Jin sadari, Ia
tidak akan memahaminya. “sekarang giliranmu” balas Jin.
“aku pilih Truth”
“mau kau menggantikan posisiku? Jika
mendapatkan kesempatan?”
“Aku mau” mata Jin terbelalak mendengar jawaban
Taehyung. “aku lihat foto namja itu yang diberikan Hal-beoji padaku. Dia
terlihat manis hyung. Kenapa kau tidak melihatnya waktu itu dan aku yakin hyung
mau menerimanya jika saat itu tidak langsung pergi. Namjoon hyung juga tidak
datang misalkan Ia melihat foto Jimin aku yakin juga mengatakan hal yang sama
denganku” tantang Taehyung mengeluarkan aegyonya tanpa sadar. Memandang wajah
meledek dongsaengnya mengharuskan Jin melempar Taehyung dengan bantal
didekatnya. “tetaplah berada pada mimpimu. Sampai kapanpun aku tidak akan
menerima perjodohan gila ini. sekarang giliranku. Aku memilih—” ketukan pintu
pada kamar Jin menghentikan permainan. Namjoon datang dengan membawa pesan
Hal-beoji ingin bertemu dengan Jin. Yah. Anak tertua memang akan selalu menjadi
tumbal dalam keluarga. Merasa tidak nyaman, Jin pun melangkah dengan malas
keruangan Hal-beojinya. Appa dan Eommanya yang tidak dapat menentang keputusan
Pimpinan teratas kekuasaan perusahaan Kim hanya memandangi Jin dari jauh. Ia
mengetuk pintu ruangan Kim Han Shin. Dan tidak lama mengetuk pelayan yang
berada didalam membuka pintunya dan memberi hormat.
Jin telah ditunggu Kim Han Shin diruangannya.
Secara perlahan pintu itupun tertutup meninggalkan pandangan khawatir kedua
orang tua Jin akan nasib putranya menikahi Namja. Namjoon ditemani Taehyung
juga hanya bisa menunggu kabar saudara tertuanya itu selamat atau tidak dari
perjodohan gila Hal-beoji mereka..
.
Didalam ruangan Jin hanya bisa menunduk, tidak
dapat berkata apapun jika sudah berhadapan dengan Hal-beojinya. Kursi pimpinan
yang diduduki Kim Han Shin berbalik kearah Jin berdiri. Ia menatap tajam kearah
Jin yang enggan membalas tatapannya. “Jin-ah apa kau tau alasan mengapa aku
membuat perjodohan ini dulu? Awalnya aku juga tidak tau akan menjadi seperti
ini tapi tanpa adanya Park Ji Young mungkin kehidupan mewah ini tidak akan bisa
kau rasakan” Hal-beoji Jin mulai bercerita akan masalalunya, “saat itu
perusahaan Kim dalam masa krisis keuangan. Aku jatuh bangkrut jika tidak mendapatkan
pinjaman uang. Aku putus asa saat semua Bank menolak meminjamkan uang kepadaku.
Aku fikir tidak akan pernah bisa merasakan kesuksesan lagi saat itu, dan
kedatangan Ji young menyelamatkan perusahaan Kim dari krisis yang melanda. Ia
meminjamkan uang yang tidak sedikit padaku. Tidak perduli apa aku akan berhasil
atau tidak, tapi Ia percaya bahwa aku bisa mengendalikan semua dengan taruhan
perusahaan Ji Young juga ikut bangkrut. Kami bersahabat sudah lama. Dan masa
itu Ia benar-benar menyelamatkan bisnis perusahaan Kim. Ia mengatakan suatu
hari nanti Ia tidak ingin melupakan kejadian itu, masa-masa pertemanan kami.
Dengan mengikat janji akan menjodohkan cucunya dengan cucuku. Itu yang ku ingat
sampai didetik kematian Ji Young karena serangan jantung, aku tidak berada
disana. aku sangat merasa bersalah tidak ada disaat temanku membutuhkan
bantuanku. Aku juga tidak tahu bahwa putri Ji young ternyata telah mengalami
pengangkatan rahim dan tidak dapat hamil lagi. Aku hanya melihat namja kecil
yang sedang menangis disisi Ji Young saat itu. harapanku mewujudkan janji ku
dengan Ji Young hanya ada pada namja kecil itu, Jin-ah”
“Hal-beoji tapi jika aku menikah dengan namja
aku sama sekali tidak bisa memberikan keturunan pada Eomma dan Appaku. Aku
yakin mereka menginginkan itu” Jin memberikan alasan pada Han Shin. Dan alasan
itu langsung dibantah, “kau masih memiliki saudara yang bisa memberikan Appa
dan Eommamu cucu nanti. Tapi jika keinginanku ini kau tolak, tidak ada
sedikitpun warisan aku keluarkan padamu atau saudaramu”
“Hal-beoji bagaimana bisa kau sejahat itu
dengan mengorbankan aku?! Kau tau kan janji itu bisa berubah saat kondisi tidak
memungkinkan. Dan aku yakin Tuan Park yang berada disurga mengerti atas kondisi
ku sekarang ini”
“berhenti mencari alasan terus-menerus. Saat
waktunya tiba aku akan mempertemukanmu dengan Jimin. tepat dihari ulang
tahunnya yang ke-17 pertunanganmu dan Jimin akan aku umumkan. Kau mengerti?”
“berapa lama lagi itu? setidaknya aku masih
bisa menikmati masa lajangku sampai usia namja itu 17” bisiknya sedikit kesal.
“13 Oktober nanti Ia sudah 17 tahun Jin-ah, nikmatilah beberapa hari sebelum
itu terjadi” senyuman jail Hanshin tercipta mengamati gelagat Jin yang langsung
berubah menjadi gemetar. “HEEEE??? Itu terjadi 5 hari dari sekarang Hal-beoji.
Kenapa kau begitu tega dan jahat padaku?! Aku mohon batalkan perjodohan ini”
Jin bersujud agar Hanshin mau merubah pemikirannya. Namun kursi kepimimpinannya
berubah tidak lagi menghadap kearah Jin, dan lebih memilih memandangi pesona
luar jendela ruangannya. Yaitu halaman belakang kediaman Kim. Teriakan yang Jin
berikan tidak memperngaruhi apapun termasuk keputusan yang diambilnya. Dalam
hati Jin Ia pun mengutuk dirinya sendiri ‘matilah aku’. Ia diizinkan keluar
ruangan dan bertemu dengan orang tua dan saudaranya di luar. Mereka sudah lama
menunggu Jin namun terlihat kekecewaan dari wajahnya yang baru saja keluar dari
ruangan pimpinan Hanshin. Appa Jin tidak tega jika harus mendengar putranya
akan menikahi seorang namja, Ia mengurungkan dirinya untuk bertanya pada Jin.
Dan pergi meninggalkan Kediaman Kim diikuti Istrinya alias Eomma Jin. Berbeda
dengan Taehyung dan Namjoon, “Hyung kau terlihat tidak bersemangat, apa
perjodohanmu berlanjut?” tanya Taehyung yang tidak dianggap pertanyaannya oleh Jin.
Melihat Jin sedang kalut, Namjoon menarik Taehyung untuk segera menjauhi Jin.
Jin membanting pintu kamarnya dan membuat kaget 2 saudara yang memandang
semakin khawatir pada Jin.
“apa yang terjadi hyung? Aku baru pertama kali
melihat Jin hyung sekasar itu” taehyung memandang kearah Namjoon yang tadi
menariknya. Namjoon menggeleng tidak tau harus menjelaskan apa, “aku tidak tau.
Yang jelas sepertinya Jin hyung membutuhkan waktu sendiri dulu” mendengar itu
Taehyung mengerti.
.
[ Keesokan harinya ]
Keluarga Kim berkumpul diruang makan pagi hari,
tapi Jin tidak ikut bergabung dan memutuskan untuk berangkat tanpa sarapan.
Kondisi ini terjadi sebagai ungkapan peperangan dingin Jin atas perjodohan yang
dilakukan Hal-beojinya. Sampai Hal-beojinya tidak mengubah keputusan itu, Jin
tidak akan pernah menganggap dirinya bagian dari Keluarga Kim. Hanshin tidak
terpengaruh akan hal itu. Ia sarapan masih dengan lahap seperti tidak terjadi
apapun. Namjoon dan Taehyung yang sudah selesai menghabiskan sarapan pagi mereka,
segera memberi hormat pada orang tua dan Hal-beoji mereka untuk meninggalkan
ruang makan. Usai itu mereka pergi kesekolah menyusul Hyung tertua. Dalam
perjalanan nya Namjoon yang sedang mengemudi tidak sengaja menjatuhkan
ponselnya. Ia meminta bantuan Taehyung untuk mengambil namun tak sampai.
Namjoonpun berusaha sendiri menggapai ponselnya yang berada didekat kakinya
menginjak pedal gas mobil. berusaha untuk tetap berhati-hati dijalanan, Namjoon
terus menggapai ponselnya yang masih tak dapat diraih. Namjoon yang
mencuri-curi sedikit ingin tahu dimana keberadaan ponselnya. Menyebabkan
tangannya tergelincir dari kemudi yang sedang di imbangkan, mobil itu
terbanting stir kearah kanan hingga mengakibatkan sebuah sepeda yang terparkir
terpental dari posisinya. Namjoon menginjak rem kaget saat mengetahui ada
sesuatu yang ditabraknya. Sama halnya dengan Namjoon, Taehyung ikut kaget dan
langsung memandang kearah hyungnya. “hyung bagaimana ini?” tanya Taehyung
bingung dengan apa yang terjadi. Namjoon memperhatikan sekeliling untuk
menemukan sepeda siapa yang ditabraknya. “sepertinya kita menabrak sebuah
sepeda”.
“sepeda?”
Seorang namja dengan seragam yang sama
dikenakan Taehyung dengan Namjoon histeris saat mengetahui sepedanya hilang
dari tempat Ia memakirkan. Serangga yang ditangkapnya terlepas dari tangannya. Saat
mencari-cari sepedanya, Ia melihat bahwa sepedanya sudah berpindah tempat 50
meter dengan baretan akibat tekanan sesuatu. Mobil yang Ia yakini sebagai
pelaku kerusakan sepedanya Ia ketuk berkali-kali untuk meminta pertanggung
jawabannya. “Yak! Kau menghancurkan
sepedaku! Keluar dan berikan aku beberapa won untuk memeperbaikinya sekarang!”
teriaknya kesal. Namjoon sepertinya memang harus menggantinya karena itu semua
terjadi akibat kecerobohannya. Ia turun dari mobil tanpa Taehyung. “Apa kau
tidak bisa menyetir? Jika tidak bisa sebaiknya jangan membawa mobil dengan
merek mewah. Itu sama saja kau menghamburkan uangmu dengan sesuatu yang
percuma. Kau akan terus merusak mobilmu dengan menabrak sesuatu dijalanan.
Terlebih lagi kau akan membahayakan orang sekitar! Dan sekarang aku lihat
sepedaku salah satu korbannya” Namjoon menganga dengan celotehan yang diberikan
namja dihadapannya tanpa jeda dalam kalimatnya. “sekarang berikan aku beberapa
won untuk memperaiki sepedaku yang sudah kau tabrak”
“baiklah. Kau tenang saja, aku akan mengganti
kerusakan yang sudah aku perbuat dengan sepedamu. Untuk sekarang kau mau
berangkat bersama kami? Kebetulan kita sekolah di tempat yang sama” tawar
namjoon tidak enak dengan apa yang sudah dilakukannya. Tapi dengan sopan namja
itu menolak dan lebih memilih pergi dengan sepedanya setelah diperbaiki. Tidak
mau memaksa, Namjoon memberikan beberapa won pada namja itu dan meminta maaf
berulang kali. setelah urusannya kelar, Ia kembali masuk kedalam mobil.
mendapati Taehyung sedang memikirkan sesuatu dengan memperhatikan namja yang
sepedanya Ia tabrak. “ada apa Taehyungie?”
“Ani. Aku hanya seperti pernah melihat namja
itu disuatu tempat hyung. Tapi dimana ya?”
“mungkin kau pernah bertemu dengannya
disekolah, diakan juga bersekolah ditempat kita. Sudah jangan terlalu
dipikirkan urusan kita dengannya sudah selesai. Kau tidak usah takut saat
bertemu dengannya, dia tidak mengetahuimu ada dimobil” Namjoon mengacak rambut
Taehyung manja. Taehyung masih berfikir keras karena apa yang dikatakan
Hyungnya itu salah, Ia tidak merasa bertemu
namja itu disekolah. Tapi disuatu tempat. Terus berfikir sampai Ia tidak
menyadari telah sampai pada sekolah. Bel masuk pun terdengar dan Gerbang telah
ditutup sempurna. Tepat di mobil Namjoon terakhir masuki. “aku akan langsung
kekelas hyung” Kata Taehyung pamit. Namjoon mengangguk dan mengunci mobilnya,
lalu pergi kekelasnya sendiri. Dalam perjalanannya kekelas. Namjoon mendapati
hyung tertuanya tengah tidur bersantai dibawah pohon dengan sapu tangan
menutupi wajahnya. Ia mencoba untuk bicara dengan Jin. “Jin hyung” sapanya
membangunkan Jin yang sedang tertidur. Jin menolak kehadiran dongsaeng keduanya
itu dan memiringkan tubuhnya kearah lain. “maaf aku tidak bisa membantumu
meyakinkan Hal-beoji untuk membatalkan perjodohanmu. Tapi aku sudah berusaha,
sama halnya dengan Taehyungie” Jin mulai merubah posisinya dengan duduk
disamping Namjoon.
“aku sudah tidak tau harus melakukan apa lagi
agar aku terbebas dari kutukan Hal-beoji. Aku tidak terlalu minat dengan
warisannya. Tapi aku tidak ingin kau dan Taehyung terkena imbasnya dengan tidak
mendapatkan warisan juga. Bagaimanapun aku harus bisa menerima kenyataan pahit
ini. menikahi seorang namja”
Namjoon merasa menyesal tidak dapat membantu
Jin, “hyung tidak ikut pelajaran pertama? Jika Hal-beoji tau pasti Ia akan
sangat marah lagi hyung membolos” Ia mencoba mengingatkan. Jin kembali
merebahkan tubuhnya dan memasang earphone dikedua telinganya dengan kalimat
terakhir untuk menjawab pertanyaan dongsaengnya yang khawatir. “aku akan
baik-baik saja. pergilah sebelum kau terkena amarah namja tua itu". namjoon yang
tidak ingin mengganggu ketenangan lagi segera pergi meninggalkannya tanpa
bertanya lagi. Sebenanya Jin tidak mendengarkan musik apapun, Ia hanya ingin
memasang earphone agar Namjoon segera pergi dan tidak mengkhawatirkan
keadaannya terus-menerus. Matanya yang terpajam menatap langit biru yang
tertiup angin secara perlahan. Burung-burung berterbangan saling mengejar satu
sama lain. Sebebas itu lah keinginan Jin. bahkan sekarang ini Jin sulit untuk
bernafas. Lupa akan cara bernafas dengan tenang. Fikirannya berantakan tidak karuan. Dan sebuah bayangan entah kenapa menutup pandangannya dari cahaya
matahari yang berada diatas kepalanya.
.
BRUUKK!
.
Tubuh seorang namja menimpa Jin yang sedang
berbaring dibawah pohon. Kepala mereka berbenturan, dan Jin marah akan kelakuan
yang namja itu lakukan. Ia mendorong tubuh namja diatasnya hingga terguling-guling
menjauhinya. Kening Jin merah dan berdenyut akibat benturan dengan kening namja
yang menimpanya. “apa yang kau lakukan! Aigooo! Kenapa kau bisa berada di atas
pohon!HAH!” teriak Jin marah.
“maafkan aku. Aku tidak sengaja jatuh diatasmu,
gerbang didepan sudah tertutup sedangkan ini hari pertamaku disekolah ini. jadi
aku nekat memanjat tembok dan menemukan hanya pohon ini yang dapat aku gunakan
untuk menuruni tembok. Aku tidak tau ada orang dibawah” Jelasnya tidak
menenangkan kemarahan Jin. “jadi kau murid baru yang terlambat?” sinis Jin.
melihat anggukan namja yang menimpanya Ia menarik seragam namja itu dan siap
melaporkan pada satpam untuk segera mengeluarkan murid yang terlambat
didepannya.
“kau mau bawa aku kemana? Aku kan sudah minta maaf”
namja itu terus meronta agar Jin lepaskan, tapi genggaman Jin semakin mengerat
dan menyakitinya. “aku tidak perduli kau sudah minta maaf atau belum. Seseorang
yang terlambat harus tetap berada diluar bukan didalam. Aku akan melaporkanmu”
“Andwee! Ayolah pengertian sedikit pada murid
baru sepertiku. Aku terlambat bukan karena kesalahanku, seseorang menabrak
sepedaku dan—”
“aku tidak perduli!” bentak Jin memekikan
telinga namja yang diseretnya.
“lalu kenapa kau berada diluar padahal jam
masuk sudah berbunyi!?” namja itu bertanya dan menghentikan perjalanan mereka
sesaat. “aku akan melaporkan kebolosanmu juga jika kau melaporkanku!” Jin
menyeret nya lagi semakin kasar. Karna tidak mendengarkan alasan
keterlambatannya. Namja itu menggigit seragam Jin hingga berbekas basah, dan
gigitan itu dirasakan sakit Jin hingga melepaskan genggaman pada namja yang
tadi menimpanya. Ia kabur dan berlari kencang meninggalkan Jin yang sakit
dipergelangan bahunya yang digigit. “ini menjijikan! Kenapa dia meninggalkan bekas
gigitannya pada seragamku!Aish! YAK!”
Namja asing yang berlari menghindari Jin
akhirnya lolos dan tidak mendapati siapapun mengejar dibelakang. Ia pun
mulai fokus mencari kelas yang bertuliskan Vokal-1A, tempat Ia akan
mempertajam hobby bernyanyi. Seonsaengnim yang berada didalam dikejutkan
akan kehadiran seseorang yang sepertinya datang terlambat. Taehyung ikut kaget saat mengetahui bahwa namja yang sepedanya Ia dan Namjoon tabrak ternyata satu
kelas dengannya. ‘dia murid baru?’ gumamTaehyung dalam hati. “apa kau murid
baru itu? kenapa kau datang terlambat?” tanya seonsaengnim padanya yang berdiri
tidak nyaman.
“maafkan aku. Aku mengalami insiden pada
sepedaku, seseorang menabraknya maka itu aku memperbaikinya sebelum kesini”
mendengar kata-kata sepeda semua murid dikelas mulai berbisik tentang status
sosial yang dimiliki namja baru dikelas mereka. Seonsaengnim menyuruhnya
memperkenalkan diri didepan kelas sebelum Ia duduk dan bergabung dalam
pelajaran. “Annyeonghaseyo. Namaku Park Jimin, aku berasal dari Busan.
Kalian bisa memanggilku Jimin” Ucap Jimin dengan logat busan. Taehyung
berdiri tiba-tiba dengan kursi terbalik kebelakang. Seluruh perhatian kelas
kini terfokus padanya termasuk Jimin. ‘dia Park Jimin?’ bisik Kim Taehyung.
*******
{ Kantin }
“kau yakin? Dia Park Jimin?” tanya Namjoon pada
Taehyung saat Jam istirahat dikantin. Taehyung hanya dapat mengangguk dengan
garukan dikepalanya. “jadi namja yang kutabrak tunangan Jin hyung?” Anggukan
diterima Namjoon lagi. “tapi kenapa Jimin berada disekolah kita? Apa Hal-beoji
yang menyuruhnya pindah?” kini gelengan kepala Taehyung berikan. Sedang dalam
pembicaraan serius Jin dan teman-temannya bergerombolan memasuki kantin. Teman-teman kelas Jin mengajak hyung tertuanya itu untuk makan bersama walau mereka tau Jin sedang malas melakukan sesuatu.
Namjoon ingin memberi tahu akan kedatangan Jimin disekolahnya tapi diurungkan
ketika namja yang sedang dibicarakan muncul dengan wajah ceria. Jin
mengambil hidangan disekolahnya yang tidak ada satupun harga murah tertera pada
setiap makanan. Ia mengambil asal dan berada pada urutan terakhir dalam
pembayaran. Teman-temannya mencari tempat duduk agar bisa mereka duduki sebelum
penuh dengan murid lain. Setelah Jin selesai membayar makan siangnya, Ia pergi
untuk mengambil minuman dimesin kaleng. Tapi ternyata ada seseorang sedang
berjongkok mencari sesuatu di bawah mesin kaleng minuman.. “maaf jika kau
mengalami masalah dengan uangmu bisakah kau membiarkan aku mengambil minuman
dulu?” Kata Jin yang ikut menundukan diri agar orang itu dapat mendengar
permintaan sopannya. Tiba-tiba namja yang tadi berjongkok berdiri dengan
beberapa koin yang sepertinya telah berhasil didapatkan dari bawah mesin kaleng
minuman. Semua makan siang Jin tumpah tepat diseragamn, Itu ulah namja
didepannya. “YAK! Tidak bisakah kau—”
“Nde?” tanya Jimin yang mendapat tarikan pada
pundaknya, “KAU?!” ucap keduanya bersamaan. Mendapati namja yang akan
melaporkan berada dibelakang, Jimin mencoba untuk kabur lagi namun kerah
seragamnya ditarik Jin. “kau sebenarnya punya masalah apa denganku!!?” tanyanya
pelan. Jimin tersenyum manis dengan menatap aneh pada pakaian yang dikenakan
namja yang memiliki masalah dengannya pagi hari. “apa yang terjadi pada
pakaianmu?” tanya nya tidak merasa bersalah, semakin memuakan kekesalan pada
Jin. pukulan melayang tepat pada wajah Jimin namun dilindungi Namjoon.
“Namjoon?” Jin terkejut saat dongsaeng keduanya
melindungi namja asing yang Ia tidak kenali, “apa yang kau lakukan?!”
“hyung.. tidak baik memukul murid baru, aku
dengar dia murid baru dikelas Taehyungie” Namjoon mencari alasan, tanpa
mengatakan apapun tentang siapa sebenarnya seseorang yang akan dipukulnya. “aku
yakin Hal-beoji akan menghukummu jika nanti kau berbuat keributan, jadi lebih
baik hyung berganti pakaian saja. biar aku antar” namjoon menggandeng tangan
Jin tapi ditepis. “aku bisa sendiri” ucapnya singkat. Tatapan sinis masih
menggantung kesal pada pandangannya terhadap namja yang berada dalam
perlindungan Namjoon.
Jimin lemas ingin menangis, tapi sepertinya Ia
membuat masalah kedua kali pada namja yang sama. Saat mengetahui namja asing
yang menolongnya adalah seseorang yang merusakan sepedanya, Ia pun tersenyum
dan mengucapkan terimakasih. “gwenchana?” tanya namja itu khawatir. Jimin mengangguk
dan pergi dengan sorotan setiap orang dikantin yang tidak menyukai akan
kehadirannya.
Berjalan sendirian menuju atap sekolah yang mungkin bisa menenangkan perasaannya. Kebiasaan Jimin disekolah lama, bersembunyi di atap sekolah ketika hatinya merasa gelisah. Dan sekarang jimin melakukan kesalahan yang tidak menyenangkan 2 kali pada orang yang sama. “bagaimana ini, aku tidak akan tenang jika terus membuat kesalahan disekolah baru. Hal-beoji apa yang harus aku lakukan?” Jimin menyandarkan kepalanya pada kawat-kawat yang menjadi pembatas atap sekolah pengganti tembok. Ia mengeluarkan bekal makanan tanpa minuman yang tidak sempat dibeli. Ponsel Jimin berbunyi dibalik kantong seragam, tertera nama contact Eommanya mencoba menghubungi. Jimin tidak akan menceritakan kejadian ini, Ia yakin Eommanya akan khawatir dan mengirimkan banyak pengawal untuk menjaganya nanti. Tidak boleh. Eommanya tidak boleh mengetahui hal ini. akan sangat rumit jika ada banyak penjaga mengawal setiap aktivitasnya. jimin menarik nafasnya, “Yeoboseyo?”
Berjalan sendirian menuju atap sekolah yang mungkin bisa menenangkan perasaannya. Kebiasaan Jimin disekolah lama, bersembunyi di atap sekolah ketika hatinya merasa gelisah. Dan sekarang jimin melakukan kesalahan yang tidak menyenangkan 2 kali pada orang yang sama. “bagaimana ini, aku tidak akan tenang jika terus membuat kesalahan disekolah baru. Hal-beoji apa yang harus aku lakukan?” Jimin menyandarkan kepalanya pada kawat-kawat yang menjadi pembatas atap sekolah pengganti tembok. Ia mengeluarkan bekal makanan tanpa minuman yang tidak sempat dibeli. Ponsel Jimin berbunyi dibalik kantong seragam, tertera nama contact Eommanya mencoba menghubungi. Jimin tidak akan menceritakan kejadian ini, Ia yakin Eommanya akan khawatir dan mengirimkan banyak pengawal untuk menjaganya nanti. Tidak boleh. Eommanya tidak boleh mengetahui hal ini. akan sangat rumit jika ada banyak penjaga mengawal setiap aktivitasnya. jimin menarik nafasnya, “Yeoboseyo?”
“Jimin-ah,
bagaimana keadaan disekolah barumu? Apa kau bertemu dengan teman-teman baru?
Apa terjadi sesuatu yang menyenangkan?”
Jimin menggigit bibirnya sedikit, lalu
tersenyum ceria “Nde Eomma. Sekolah baruku begitu besar dan menyenangkan. Aku
menyukai sekolah rekomendasi pilihan Hal-beoji. Seandainya aku tidak pindah
kesini pasti aku akan sangat menyesal. Eomma, bagaimana dengan kabar Eomma
dibusan? Apa Eomma masih sibuk Meeting? Kapan Eomma menyusul ku ke Seoul?”
“secepatnya
Eomma akan menyusulmu. Karna ada hal yang harus Eomma katakan dan itu keinginan
Hal-beojimu sebelum meninggal Jimin-ah”
“apa itu?”
“akan
sebaiknya Eomma mengatakannya saat sudah berada didekatmu, kau mengerti?”
“Nde Eomma”
“lalu apa
kau masih membuat bekal sendiri dihotel? Eomma sudah mentransfer won
kerekeningmu, belajarlah terus memasak. Eomma suka melihatmu memasak”
“Nde. aku memang suka memasak, dan suka sekali
membuat bekal. Karena Eomma juga memujiku ketika membawakan bekal untuk Eomma
saat Meeting. Eomma jangan makan sesuatu yang tidak sehat ya, aku akan marah
jika Eomma makan sembarangan”
“kalau
begitu Eomma akan mengabarimu lagi. Kau belajarlah yang rajin. Eomma
menyayangimu”
“aku menyayangi Eomma” sambungan itupun
terputus, dan Jimin kembali mengingat masalahnya. Ia memakan sedikit bekalnya
dan entah kenapa langsung ada yang mengganjel dalam tenggorokan. Tapi Ia
tidak mempunyai air untuk diminumnya. Saat Jimin sudah sangat kesakitan karena
tersedak, seseorang melemparkan kaleng minuman kearahnya. Ia langsung menangkap
minuman itu dan mencari tahu siapa yang melemparkan. Seorang namja tersenyum
kearahnya dan ikut bergabung duduk diatas atap bersama Jimin. “kenapa makan
sendirian disini?” tanya namja itu yang memandang manis kearahnya.
“aku memang sedang ingin sendirian, terimakasih
sudah memberikan minuman disaat yang tepat”
Taehyung tertawa kecil saat Jimin tidak sabaran
membuka kaleng minumannya, “apa itu bekal buatanmu? Kelihatannya enak?”
“kau mau coba?” Jimin mengambil sesendok
makanan buatannya dan menyuapi namja disampingnya, Ia mengunyah dengan wajah
yang sepertinya tidak menyukai masakannya. “bagaimana? Apa tidak enak?”
“ini enak sekali, kau jago masak ya?”
“aku tidak jago. Tapi aku hanya menyukai makan
jadi belajar sedikit memasak”
“benarkah? Kalau begitu lain kali kau mau tidak
membuatkan aku bekal juga? Aku ingin mencicipi makanan buatanmu secara penuh
Jimin-ah” mendengar namanya disebut sepertinya namja disampingnya tidak
memandang status sosial Jimin, apa mungkin Ia mau berteman dengannya. “kau
mengingatku?” tanya Jimin penasaran.
“tentu saja aku mengingatmu, kau kan Park Jimin
yang berasal dari busan. Kenalkan namaku Kim Taehyung. kau bisa memanggilku
Taehyung” merasa senang telah memiliki teman, Jimin bercerita tentang banyak
hal. Mereka tertawa sampai lupa akan setiap pelajaran yang sudah dilewati. Rasanya
taehyung bisa menjadi teman pertamanya di Seoul. Melihat senyuman Jimin
sepertinya Taehyung menyukai akan namja manis yang dijodohkan untuk hyungnya
ini. Selesai belajar Taehyung menyiapkan buku-bukunya kedalam tas, Ia
menghampiri Jimin yang duduk didepannya. “Jimin-ah apa kau langsung pulang?”
“Nde. aku langsung pulang, bagaimana kau
Taehyung-ah?”
“aku pulang dengan hyungku. Kalau begitu aku
duluan yah. Lainkali aku ingin pulang bersamamu, bolehkan?”
“tentu saja. tapi aku menaiki sepeda, apa tidak
apa-apa? nanti teman-temanmu malah menjauhimu” takut Jimin membuat masalah lagi
dengan orang lain.
“tidak apa-apa. aku tidak terlalu dekat dengan
teman kelasku, aku bebas berteman dengan siapa saja. kau mengerti? Sampai
bertemu besok Jimin-ah” jimin tersenyum pada Taehyung yang melambaikan tangan
kearahnya. Walau hanya satu Ia merasa senang mendapatkan pertemanan yang sangat
tulus dari Taehyung. Mengingat jam les menarinya sebentar lagi akan dimulai.
Jimin mempercepat gerakan membereskan barang-barangnya, setelah semua siap
Jiminpun meninggalkan kelas. Ia tidak sengaja bertemu lagi dengan Jin saat
ingin menuruni tangga. Mereka berpapasan dengan Jin yang akan menaiki tangga
untuk mengambil tasnya dikelas. Untuk memperbaiki hubungannya dengan namja yang
memiliki masalah dengan Jimin. Ia memberanikan diri untuk bicara dengan Jin,
“tunggu..” Jin tidak mau mendengar dan terus menaiki tangga. “Tunggu..Tunggu
sebentar” karena merasa tidak didengarkan Jimin pun mengejarnya dan
menghentikan langkah Jin dengan berdiri didepannya.
“Minggir” suara Jin terdengar berat.
“aku akan menyingkir setelah mengatakan bahwa
aku sangat merasa bersalah menimpamu tadi pagi, menggigit bahumu, dan yang
terakhir aku tidak sadar mengotori pakaianmu. Maafkan aku. Ini hari pertamaku
yang sudah memberikan kesan tidak menyenangkan denganmu. kau mau kan
memaafkanku” tangan yang diulurkan Jimin hanya Jin perhatikan sebentar, Ia pun
melewati Jimin tanpa mengatakan apa-apa. Jimin mengejar Jin sampai pada
kelasnya tapi Ia tak berani masuk karena wilayah itu adalah Sunbaenimnya. Dan
Ia hanya dapat menunggu Jin keluar lagi dari kelas.
Jung Ho Seok bertanya pada Jin, “siapa namja
itu?”. Jin tidak menjawab dan hanya membereskan tasnya mengacuhkan. Karna
penasaran Hoseok pergi keluar dan bertemu dengan Jimin yang masih setia
menunggu Jin keluar. “Annyeong. Apa kau mencari seseorang?”
“namja itu..” ragunya menjawab.
“namja itu??” bingung Hoseok.
Jin yang dimaksud Jimin keluar meninggalkan
ruang kelasnya. “Tunggu.. Tunggu” teriakan Jimin memberikan perhatian Hoseok
dengan seseorang yang dikejarnya. Jimin menuruni tangga sekolah mengikuti
Jin. “kau serius tidak mau memaafkan aku? Aku janji setelah kau memaafkanku.
Aku tidak akan mengganggumu seperti ini lagi. Aku akan menjaga jarakku denganmu
beberapa km, agar aku tidak membuat masalah lagi denganmu. bagaimana?” Jin
masih saja diam tidak mendengarkan. Masuk kedalam mobil dan siap pergi
meninggalkan sekolahnya. Tanpa menyerah Jimin mengikuti mobil Jin dengan
sepeda. Jin fokus pada kemudinya namun Ia tak menyangka bahwa namja yang
meminta maaf padanya terus saja mengikuti. “namja bodoh itu, dia benar-benar
sudah gila” ucap Jin didalam mobil. merasa akan mendapatkan kesialan terus jika
terus diikuti, Jin menghentikan mobil dan mulai bicara pada namja yang
mengikutinya dengan sedikit senyuman. “kenapa kau sampai sejauh ini
mengikutiku. Kau ingin aku memaafkanmu? Aku akan memaafkanmu dengan syarat kau
tidak boleh muncul lagi dihadapanku. Apa kau mengerti?”
“Nde. terimakasih sudah memaafkanku. Aku tidak
akan muncul lagi dihadapanmu”
“baiklah. Sekarang cepat pergi dan jangan
mengikuti ku lagi” senyuman itupun memudar dari wajah Jin. ia melanjutkan
perjalanan kerumah tanpa diikuti lagi Jimin. karena merasa masalahnya sudah
selesai, Jimin pun mengingat akan les menari yang sudah terlambat diikutinya.
Sudah tidak ada waktu lagi mengikuti les. Jimin memilih beristirahat di Hotel.
**********
Jin telah sampai pada Kediaman. Ia sangat
lelah dengan hari berat yang dialami. Tidak menyenangkan malah menambah kekesalan dengan bertemu namja aneh menimpa tubuhnya. Tapi kini Ia bernafas lega karena
namja yang sedari tadi mengikutinya telah berjanji untuk tidak muncul dan
mengganggu Jin. setelah memakirkan mobil Jin melemparkan kunci secara asal
pada pelayan yang membukakan pintu mobil. Maid membukakan pintu utama untuk
dilewati Jin, dan seluruh pelayan dirumah membungkukan tubuhnya memberikan
hormat. Jin berlari kearah kamar untuk membersihkan diri. Beberapa menit Jin
masuk kamar. Namjoon dan Taehyung juga telah sampai pada kediaman. Mereka diperlakukan
sama dengan Jin. bagi para pelayan kediaman Kim. Cucu dari Kim Hanshin adalah
pangeran tampan. Bagian dari calon pewaris perusahaan Kim yang ternama di
Seoul. Saat mendapati Namjoon masuk kekamar, Taehyung mengurungkan niatnya
untuk mengikuti kegiatan hyungnya itu. Ada kegiatan lain yang harus dilakukan
Taehyung. Ia berjalan santai keruang kerja Hal-beojinya. Dan merebahkan diri di
sofa dalam ruangan tersebut. Kim Hanshin menutup berkas-berkas penting yang
diteliti saat melihat wajah tidak sabaran Taehyung menunggu kegiatannya
segera berakhir. “Taetae ada apa? apa ada masalah?” Kim Hanshin melipat kedua
tangan untuk menopang dagunya.
“Jimin sudah ada dikelasku. Apa kepindahannya
atas perintah Hal-beoji?”
Kim Hanshin tersenyum, “Nde. Hal-beoji meminta
keluarga Park untuk datang ke Seoul dan merencanakan kepindahan Jimin
sekaligus. Apa Jin dan Jimin sudah bertemu”. Pertanyaan itu mengingatkan
Taehyung akan pertengkaran yang dilakukan Jin terhadap Jimin saat dikantin.
Memandangi Taehyung yang ragu untuk menceritakan sesuatu mengharuskan Kim
Hanshi mengulangi pertanyaan. “Taetae? Apa terjadi sesuatu?”
“Ani Hal-beoji. Aku hanya berfikir mereka
sepertinya belum bertemu. Tapi aku sudah menjadi teman Jimin-ah. Dia anak yang
baik dan menyenangkan, dia suka serangga, dan mengumpulkannya, dia menaiki
sepeda ke sekolah. Banyak yang tidak suka dan menganggap status sosial Jimin rendah.
Tapi aku rasa dia hanya orang yang sederhana. Apa aku benar Hal-beoji?”
“kau mengetahuinya se-detail itu. Hal-beoji
yakin kau akan menjadi sahabat baik untuknya”
“lalu soal perjodohan itu bagaimana? Apa
Hal-beoji tidak bisa membatalkannya”
“sekalipun itu kau yang meminta, Hal-beoji
tidak akan melakukannya. Pembicaraan kita selesai sampai disini jika kau masih
meminta pembatalan atas perjodohan hyungmu itu”
Taehyung terdiam sejenak, “Hal-beoji apa tidak
aku saja yang melakukan perjodohan ini? aku rasa Jin hyung tidak mau
melakukannya. Bahkan perasaanku mengatakan mereka tidak akan cocok”. Kim
Hanshin memiringkan kepalanya tidak mengerti. Merasa salah bicara Taehyung
tidak melanjutkan kata-katanya lagi lalu berpamitan untuk meninggalkan
ruangannya. Dalam kursi kepemimpinannya Hanshin berfikir ada yang aneh dengan
cucu ketiganya itu. Ia mengangkat telpon dan mencoba menghubungi seseorang di
luar Kediaman, “Park Sojin?” panggilnya ditelpon.
.
Didalam
kamar Jin mengeringkan rambutnya yang basah. Hari ini Ia tidak melakukan hal
yang berat seingatnya. Hanya saja Ia bingung apa yang membuat dirinya selelah
ini. bertemu dengan makhluk yang menyebalkan disekolahnya sudah berakhir. Ia
sudah berjanji tidak akan menampakan wajahnya dihadapan Jin sesuai janji.
Seandainya pertemuan itu terjadi lagi, mungkin Jin akan mengabaikannya. Dan
berpura-pura tidak mengenalinya disekolah. Hal yang baik harus melupakan
sesuatu yang buruk.
Ketukan pintu kamar Jin terdengar. Ia malas
membuka dan menyuruh seseorang yang berada di luar langsung masuk dengan
suara lantang. Taehyung membuka pintu kamar hyung tertuanya itu. merebahkan diri
diranjang empuk milik Jin. “kau lagi Taetae.. apa kau ingin bermain sesuatu?”
“hyung kali ini aku tidak akan mengajakmu
bermain. Aku hanya ingin disini menemanimu, aku tidak bisa tidur”
“apa kau sedang ada masalah? Apa terjadi
sesuatu sampai membuatmu tidak dapat tidur taetae?”
Taehyung menggigit kecil bibirnya. Ia
membalikan tubuhnya berlawanan arah dari Jin yang menghadapnya. Hati Taehyung merasakan
kecemburuan terhadap Jin yang dijodohkan dengan Jimin. walaupun taehyung
pertama kali bertemu dengan jimin. sepertinya ada perasaan yang mengikat
taehyung untuk memiliki Jimin. Jin yang pertanyaannya diabaikan mulai khawatir
pada Taehyung yang diam tak bersuara lagi. “Taetae..” panggil Jin dengan
tarikan pada pundak Taehyung agar kembali menghadap kearahnya. Alasan kenapa
Taehyung tidak bersuara lagi ternyata karena Ia telah tertidur lelap. Jin
mengendus kesal dibuat nya khawatir. ia pun beranjak dari ranjang untuk
membenarkan posisi tidur Taehyung yang berantakan. Memasukan kedua kaki
taehyung pada selimut tempat tidurnya, dan mematikan lampur kamar. Jin yang
juga lelah langsung menyusul Taehyung tidur. Lampu yang terasa sudah
dipadamkan, membangkitkan Taehyung kembali. Ia memandangi wajah Jin hyung yang
masih mencoba untuk tidur. ‘aku sangat
ingin menggantikanmu Jin hyung’—ucapnya dalam hati.
.
[ Keesokan paginya ]
Taehyung menemani Jimin makan siang diatas atap
lagi. Mereka kini semakin dekat. Taehyung menyukai kehidupan sederhana Jimin
yang tidak perduli akan seperti apa orang yang memandangnya. Yang Jimin
inginkan hanya kebersamaan seseorang yang tulus ingin bersamanya. Dan tidak sadar Jimin menjatuhkan dompet miliknya. “apa bekalmu hari ini Jimin-ah?”
tanya Taehyung tidak sabaran.
“aku membuat Jokbal yang direbus dan aku
asinkan, tidak lupa untuk menyiapkan sangchu.. nikmatilah. Aku membuat extra
hari ini karena kemarin kau mengatakan ingin mencoba masakanku”
“uhmm.. kelihatanya sangat lezat Jimin-ah. Aku
akan mencicipinya” Taehyung mengambil selembar sangchu dan membungkus jokbal
setelah menyelupkannya kedalam ssamjang. Ia menyantapnya dengan lahap. Hingga
pada gigitan terakhir Ia mengkhayati masakan yang dibuatkan untuknya. “ini
sangat enak” Taehyung mengambil selembar lagi dan mengulangi kegiatannya
memakan masakan buatan Jimin lagi dan lagi. Pada jokbal terakhir mereka saling
melirik untuk memasang wajah polos masing-masing. “siapa yang akan memakan
masakan terakhir ini?”
“kau sudah makan terlalu banyak, jadi aku yang
akan memakannya” Jimin mengambil selembar Sangchu namun tertahan tangan
Taehyung yang menolak atas keputusan Jimin. “yak! Park Jimin, kau kan bisa
membuatnya sesuka hati sedangkan aku tidak bisa memakannya lagi. Jadi jokbal
terakhir aku yang akan memakannya”
“Taehyung-ah.. tapi kau sudah makan terlalu
banyak. Jadi biarkan aku memakan ini yang terakhir”
Mereka saling berebut hingga pada akhirnya
jokbal terakhir yang sudah Jimin siapkan untuk dimasukan kedalam mulutnya,
beralih kemulut Taehyung yang sengaja membelokan tangan Jimin. Taehyung
mengunyah dengan senang hati sekaligus mendapati wajah Jimin yang memerah
seketika. Tangan yang Taehyung genggam dilepaskan Jimin sedikit kasar.
“gwenchana Jimin-ah?”
“Nde” perasaan Jimin serasa berubah. Tidak
tenang dan malu untuk menatap mata intens Taehyung yang memandanginya. Bel
berbunyi seakan menyelamatkan Jimin dari aktivitas berduanya dengan Taehyung.
“sudah bel. Ayo pergi kekelas” Jimin yang beranjak tidak sabaran tersandung dan
menimpa Taehyung tidak sengaja. Mereka saling menindih, Taehyung menajamkan
pandangannya dan Jimin mengedipkan kedua bola mungil dimata sipitnya berulang
kali. ia meninggalkan Taehyung dalam posisinya yang tertindih tubuhnya. Jimin
sama sekali tidak menyangka bahwa dompetnya tertinggal dan dipungut Taehyung
yang masih berada diatas atap. dompet itu terjatuh dalam keadaan terbuka.
Didalamnya terdapat foto seorang namja yang tersenyum manis bersama Jimin.
apakah Jimin memang penyuka namja? fikir Taehyung.
Jam pelajaran mereka berakhir dan Taehyung
menghampiri keberadaan Jimin dimejanya. “Jimin-ah bisakah aku pulang bersamamu?
Aku akan turun di tikungan yang berbeda dengan tempat tinggalmu. Bolehkan?”
“aku tidak bisa mengantarmu Taehyung-ah. Maaf
aku harus pergi” Jimin berlari meninggalkan ruangan kelas. Taehyung
mengambil dompet Jimin yang berada didalam sakunya dan mengejar Jimin yang
sepertinya mulai menjauh darinya. Mencari Jimin yang berlari kearah parkiran
sepeda, setelah menemukan namja mungil itu. taehyung menghentikan perjalanan
pulang Jimin “kau itu kenapa Jimin-ah? Apa aku melakukan kesalahan? Maafkan aku
jika aku memang melakukan kesalahan padamu. Tapi jangan menjauhiku seperti ini”
“aku tidak menjauhimu Taehyung-ah. Perasaanku
sedang tidak enak saja. sungguh” Jimin mengayunkan sepedanya dan dihentikan
lagi, “Ini dompetmu terjatuh” Taehyung memberikan dompet milik Jimin. tidak
perlu menunggu lama, Jimin menyambar apa yang menjadi miliknya. “maafkan aku.
Aku harus pergi” ucapnya singkat pergi meninggalkan Taehyung yang terus
menatapnya.
“Jimin-ah, aku harap kau segera baik-baik saja.
dan aku harap kau tidak menjauhiku besok” pesannya pada Jimin yang telah pergi.
Wajah Taehyung termenung diam. Ia yakin Jimin tidak mendengarkan pesannya. Hari ini Ia gagal untuk pulang bersama dengan
Jimin, mungkin lain kali Ia bisa mengajak Jimin pulang bersama.
To be continue...
Ini Fanfiction yang sudah lama belum bisa ku Update, Mohon bantuan untuk Respon kalian. :) Aku tidak akan melanjutkan jika kurang banyak peminat Fanfic ini ^^


Ahhh...i reallyyyy love these..i hope u can update soon..i love your stories soo much..im fan of yours π
ReplyDeleteAh really? you can read this in 'bahasa' wow ^^ Im impression.
DeleteThis comment has been removed by the author.
DeleteHaha..im Malaysian actually..but there are still some word that i didnt understand but i still read it becoz it soo interesting n soooo amazing *grin*.im jimin bias btw.i read all your stories..ah,im sorry i reply in english..i doesnt know how to reply in bahasa π
DeleteAhh I see ^^well thanks so much for read all of my stories:)) im so glad if someone enjoy it.because i never imagine someone will read and like it also Haha.. *happy
DeleteNah..u deserve it..i love it..hwaiting for next chap Jin92Min95 shi..just know that,there are people support u *grin*..btw,i sure u will hav a lot more fan if u publish these in english..all your fanfic are amazing..just a suggestion tho..hope u dont mind π
ReplyDeleteI can english language just little bit, because of that i can't publish these in english, even thought i want^^ really im glad to meet you :)
DeleteAhh..its okay..i also glad too meet these blog too..hwaiting~~(οΎ*>∀<)οΎ♡
ReplyDelete