Don't Love Me Chapter 3
Taehyung yang berada di
kamar hanya senyum-senyum sendiri mengingat kencan pertamanya dengan Jimin. Ia
menyukai kepribadian yang dimiliki namja mungil itu. “seandainya halbeoji yang
menjodohkanku dengan Jimin, mungkin aku tidak akan menolak. Walaupun aneh, tapi
aku jadi penasaran bagaimana tinggal di atas atap bersama Jimin dalam status
pernikahan” bayangan demi bayangan yang tidak mungkin terjadi difikrikan
Taehyung. Tawa kecil terus terukir, memberikan kesan gila bila seseorang
menyadari tingkahnya kali ini.
******
Jimin membereskan pakaiannya untuk bersiap
kesekolah. Tidak ada firasat buruk yang terlintas pada pikiran namja mungil
itu. hanya saja kehidupannya berubah saat sosok yang tidak menyukainya datang
mengetuk pintu kamar Hotel. Namja itu seperti ikut kaget dengan sesuatu yang
Jimin tidak ketahui. “Kau? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Jimin namun
tidak digubris, sedari tadi Jimin hanya memperhatikan namja dingin itu bolak
balik memeriksa sesuatu dicatatan kertas kecil dalam genggamannya.
Setelah berhenti pada salah satu kertas, Jin
pun bertanya “kau Park Jimin?”
“Nde” Anggukan diberikan Jimin, dan namja itu
pun pergi tanpa sepatah katapun kata pamit. Jimin memiringkan kepala sebentar
heran, lalu mengambil tas sekolahnya dan mengunci pintu kamar dari luar.
.
Jin membanting pintu mobil dengan keras.
Kesialannya bertemu dengan Jimin yang berstatus tunangan semakin menambah
daftar kebencian pada hati Jin. mengapa dari banyaknya namja, harus namja yang
dibenci Jin cucu dari sahabat Hal-beojinya. “Dia seorang namja, dia pembawa
sial, tapi dia cucu dari sahabat Hal-beoji yang harus menikah denganku. Aku
tidak bisa seperti ini. aku harus bicara dengan Hal-beoji” Jin mengambil ponsel
dan segera menghubungi Kim Hanshin.
“Yeoboseyo?”
suara serak Kim Hanshin menggetarkan keinginan Jin untuk menolak perjodohan
yang diberikan untuknya. Selama ini Jin tidak bisa menolak setiap keinginan
dari Hal-beojinya, tapi keinginan yang satu ini bagi Jin sama sekali tidak
masuk akal.
“Hal-beoji. Aku tidak bisa melanjutkan
perjodohan ini! aku tidak bisa menerima seseorang yang kubenci menjadi pasanganku”
“seseorang
yang kau benci? Apa maksudmu?”
“Namja itu! namja bernama Park Jimin sudah
melukai cucu kesayanganmu ini dengan jatuh dari atas pohon dan menimpaku. Lalu
dia menumpahkan makan siang disekolah keseragamku, dengan senyuman diwajah
idiotnya. Hal-beoji aku menerima perjodohan tidak wajar ini. tapi jika Park
Jimin aku akan menolak dengan sangat tegas” yakin Jin pada ucapannya. Selesai
Jin bicara hanya tawa menyertai pendengarannya. “Hal-beoji?”
“itu
hanya kesialanmu, aku yakin kau akan menyukai Jimin nantinya.”
“Apa yang Hal-beoji bicarakan! Aku—”
“Tunggu.
Katakan padaku, kau sudah menjemput Jimin di Hotel?”
“aku meninggalkannya” jawab Jin asal.
“sampai
kau tidak bersama dengan Jimin kesekolah. Aku akan mencoret namamu dari daftar
pewarisku anak sialan!”
TUT! TUT! TUT! Panggilan pun diputuskan. Jin
memukul kemudi, tidak percaya. Tidak lama, Jin melihat Jimin keluar dari
parkiran Hotelnya dengan sepeda. “ aku baru ingat dia menggunakan sepeda ke
sekolah. Bukankah Hotel ini berbintang dan biayanya sangat mahal. Mengapa dia
keluar hanya dengan sepeda?” heran Jin. pikiran jahat terlintas pada otak Jin
untuk mengerjai Jimin dengan sepedanya. Ia menyalakan mesin mobil dan mengikuti
Jimin dari belakang. Klakson diberikan Jin berkali-kali. Jimin hanya menoleh
sejenak dan meminggirkan sepeda. Membiarkan mobil Jin terlebih dahulu
melewatinya. Jimin menangkap wajah yang tidak asing sedang menatapnya penuh
kebencian. Hanya bisa menunduk agar wajahnya tidak lama dilihat. Tapi yang
Jimin bingungkan mobil itu berhenti dan menarik kasar tangan Jimin yang
langsung menjatuhkan sepeda kesayangannya. “YAK! Apa yang kau lakukan?!”
Jin tidak menjawab. Mendorong tubuh mungil
Jimin kasar untuk segera masuk kedalam mobil. Sepeda Jimin ditinggalkan begitu
saja, tanpa ada rasa bersalah Jin telah bersikap tidak sopan Ia hanya
melanjutkan perjalanannya menuju ke Sekolah. “tunggu. Apa yang kau lakukan?!
Kau meninggalkan sepedaku dijalanan! Apa yang kau fikirkan?! Turunkan aku! Aku
bilang turunkan aku!” Jimin memberontak kesal pada Jin yang seenaknya.. mencoba
membuka pintu mobil tanpa ada penurunan kecepatan dari Jin. merasa keadaan
sudah tidak terkendali. Jin mempercepat kecepatannya agar segera tiba di
Sekolah. Pintu gerbang sekolah tertutup tepat saat mobil Jin memasukinya, dan
tanpa basa-basi Jin turun lalu meninggalkan Jimin sendirian didalam mobil.
amarah Jimin pendam sendiri. tidak mengerti dengan perlakuan aneh macam apa
yang dirinya terima pagi ini. menarik nafas pelan-pelan untuk menenangkan
hatinya yang kacau. Berjalan secara
hati-hati dalam keadaan yang tidak enak. Taehyung yang baru saja datang
menemukan Jimin tengah berusaha menaiki tangga. Ingin mengagetkan niat Taehyung
tapi keadaannya berubah ketika tubuh Jimin jatuh pingsan. Taehyung berusaha
menyadarkannya, namun tidak ada respon Jimin sama sekali.
.
[Ruang Kesehatan]
Taehyung yang baru selesai menelpon seseorang,
dipanggil lemah suara Jimin yang baru sadar. “lebih baik kau istirahat saja,
tidak usah memaksakan diri untuk mengikuti kegiatan kelas hari ini. aku sudah
meminta izin untuk mu” tangan Taehyung menghapus keringat dingin yang mengalir
diwajah Jimin. pandangan Jimin mulai jernih setelah istirahat sementara di
Ruang kesehatan. Ia merasa kehadiran Taehyung menyalamatkan perasaan kacaunya
yang diberikan Jin pagi ini. “ada apa denganku?” tanya Jimin.
“kau jatuh pingsan akibat stres berlebihan kata
petugas kesehatan, apa terjadi sesuatu?” Ucap Taehyung yang langsung
mengingatkan Jimin akan tindakan seseorang.
.
5 mobil mewah memasuki Sekolah Bangtan High
School, dan tentunya pemimpin dari Han Group dan Bangtan Group datang. Kim Han
Shin berjalan dengan gagahnya menuju Ruang Kesehatan saat semua murid masih
berada dikelas masing-masing untuk belajar. Informasi mengenai keadaan Jimin
membuatnya khawatir. Taehyung berdiri saat Halbeojinya tiba, “bagaimana Jimin?”
tanyanya langsung.
“Jimin sudah sadar Halbeoji” hormatnya cepat.
Hanshin mendekati ranjang Jimin yang masih terbaring lemas. Kedatangan namja
tua membangunkan istirahat Jimin. “tidak usah bangun, saya bersyukur anda tidak
apa-apa. mendengar anda seperti ini, menyakiti perasaan saya sendiri”
“anda siapa?”
“Saya Kim HanShin, kepindahan anda disini
adalah permintaan saya pada Eomma anda. Maka itu jika Eomma anda mendapatkan
kabar anda sakit, itu adalah ketidak bertanggung jawaban saya terhadap anda”
Mendengar itu Jimin mengangguk setengah bingung. “apa yang membuat anda seperti
ini? apakah Anda tidak makan dengan baik di Hotel, apa anda kelelahan atau hal
lainnya. katakan semua kegelisahan anda pada saya” tanya Han Shin untuk
mengetahui penyebab Jimin sakit.
...Mengingat sikap Jin tadi pagi membuat kepala
Jimin terasa berdenyut. “aku tidak apa-apa dan semua baik-baik saja. hanya tadi
pagi ada seseorang yang mengantarku dengan paksa. Aku tidak mengerti” cerita
Jimin membuat Han Shin panas akan Jin. ini semua terjadi atas kesalahannya
menyuruh Jin. “kalau begitu silahkan anda beristirahat. Biar Taehyung yang
menjaga anda, dan jika anda ingin pulang izinkan Taehyung mengantar anda.
Maafkan saya atas kesalahan saya. Saya mohon undur diri” sesal Han Shin dan
meninggalkan ruang kesehatan setelah mendapatkan anggukan dari Jimin. Taehyung
tersenyum kearah Jimin. “kenapa dengan wajah bodohmu Jiminnie?” ledek Taehyung.
“apa yang kau katakan Kim Taehyung, wajah
bodohku? Apa arti dari ungkapan itu” sindir Jimin tidak terima.
“apa kau ingin bertanya padaku. Siapa namja tua
yang baru saja datang menjengukmu? Apa aku benar?”
Jimin memiringkan kepalanya, Taehyung mulai
menjelaskan “namanya kau sudah tau kan? Kim Han Shin dia pemilik sekolah ini.
dia juga pemimpin 2 perusahaan terbesar Korea Han Group dan Bangtan Group. Dia
menjengukmu kau sudah tau alasannya juga kan, karena dia adalah orang yang
bertanggung jawab penuh atas kepindahanmu disini. Lalu.. aku..” Jimin
mendengarkan dengan cukup baik sebelum Taehyung memberikan pengakuan, “aku
adalah cucu ketiga dari pewaris perusahaannya”
“Nde?”
“otomatis aku juga bertanggung jawab penuh
untuk menjagamu”
“apa maksudmu? kenapa aku dispesialkan, bahkan
orang yang lebih tua dariku berbicara se-formal itu terhadapku. Aku tidak
mengerti. Bisa kau jelaskan”
“karena 2 perusahaan yang terbangun sampai
sekarang ini berkat jasa Halbeojimu, seandainya halbeojimu tidak memberikan
pinjaman pada Halbeojiku mungkin kehidupan ku tidak akan seperti ini. dan
sebelum Halbeojimu meninggal mereka memiliki ikatan janji yang akan menikahkan
cucu-cucu mereka saat dewasa. Untuk lebihnya aku tidak bisa mengatakannya, tapi
secepat mungkin kau akan mengetahui alasan kepindahanmu Park Jimin”
“menikahkan?”
.
[Ruangan Khusus]
Jin mendatangi Ruangan dimana biasanya Kim Han
Shin mengunjungi sekolah. Pasti ada masalah lagi yang menyebabkan pemanggilan
atas dirinya. Dengan berat hati Jin masuk dan tepat dugaan Han Shin berdiri
tegak sedang menunggu kedatangannya. Tidak lupa Jin memberi hormat sebelum
tamparan mendarat di pipi Jin.
PLAKKK!
“CUCU TIDAK TAU DIUNTUNG KAU! KAU FIKIR
PAKAIANMU, MAKANANMU, KEMEWAHANMU SELAMA INI BERKAT JASA SIAPA! KARNA SIAPA KAU
BISA SEPERTI INI. KAU MALAH BERBUAT SEENAKNYA. AKU TIDAK PERNAH MEMINTA APAPUN
DARIMU, PERMINTAANKU HANYA SATU KAU MENIKAH DENGAN JIMIN. HANYA ITU!”
“Apa lagi kesalahanku Halbeoji? Aku sudah
mengikuti keinginanmu untuk menjemput Jimin di Hotel—”
“KAU BUKAN MENJEMPUTNYA TAPI KAU MEMAKSANYA!”
nafas yang tersengal-sengal mempengaruhi kesehatan Han Shin. “kau harus
melanjutkan perjodohan yang sudah ku buat dengan Park Ji Young. Dengan sangat
memohon padamu Kim Seok Jin” Han Shin berlutut didepan Jin agar permohonannya
dapat dikabulkan dengan cara lembut. Jin menarik nafas dalam-dalam. Keluar dari
ruangan Han Shin setelah pembicaraannya usai. Mencari keberadaan Jimin di ruang
kesehatan tapi tidak ditemui. Ia berjalan lagi menuju kelas Jimin. Namjoon yang
ingin ketoilet membatalkan niatnya ketika mendapati Hyung tertuanya itu
tergesa-gesa. Belum sampai pada kelas Jimin, Jin menemukan keberadaan Jimin
yang dituntun pelan-pelan oleh Taehyung. Jin mendekati lalu berjongkok didepan
Jimin dengan bagian belakang tubuhnya menghadap Jimin. “cepat naik” perintah
Jin.
“Nde?”
“aku bilang cepat naik. Kondisimu masih lemas
kan? Biar aku menggendongmu sampai ke Kelas”
“tidak usah. Aku bisa sendiri. dan aku juga
dibantu Taehyung-ah”
“ini semua karena ulahku. Jadi biarkan aku
menebus kesalahanku dengan membantumu sampai pada kelas. Cepat naik”
Jimin menatap kearah Taehyung yang sedari tadi
diam. Jin yang merasa diabaikan mulai tidak dapat menunggu, Ia memilih
menggendong Jimin layaknya seorang putri yang baru saja Ia selamatkan. Jimin
meminta untuk segera diturunkan. Tapi Jin malah terus mengeratkan gendongannya.
Taehyung memandangi terus perhatian Jin pada Jimin pasti permintaan Halbeoji
mereka. Ia menghilangkan rasa irinya terhadap Jin dan mulai mengikuti langkah
Jin ke kelas Jimin yang juga merupakan kelasnya. Namjoon dibelakang
mengurungkan kegiatannya untuk mengikuti Jin lebih dari ini. selesainya jam
sekolah, Taehyung membantu Jimin membereskan peralatan tulisnya. Dan lagi-lagi
Hyung tertuanya itu datang menggantikan kegiatan Taehyung. “kau lagi? Apa yang
kau lakukan!” tolak Jimin pada bantuan yang Jin berikan.
“aku akan mengantarmu pulang”
“aku tidak mau naik mobilmu lagi, kau tidak
perlu mengantarku!” jelas Jimin mengejutkan Taehyung yang baru tau akan
kedatangan Jimin ke Sekolah bersama Jin.
“kali ini aku tidak akan memaksamu. Tapi
bukankah sepedamu telah hilang, jadi untuk sementara waktu biarkan aku
mengantarmu. Kau mengerti?”
“tidak perlu. Aku bisa naik angkutan umum, kau
tidak perlu repot-repot mengantarku” Jimin mengenakan tasnya, Jin sudah tidak
dapat berbuat apa-apa lagi meminta dengan lembut sudah Ia lakukan tapi tetap
Jimin tidak mau pulang bersamanya. Ide bodoh mulai terlintas.
“kalau begitu aku akan mengantarmu dengan
angkutan umum sampai Hotel”
“HEE??? Kenapa kau sampai seperti ini? kau itu
sebenarnya punya alasan apa sampai melakukan ini. bukankah kau yang mengatakan
padaku tidak mau melihat wajahku?”
“lupakan itu semua. Aku mulai sekarang yang
akan bertanggung jawab terhadapmu”
Perkataan yang tadinya Taehyung ucapkan
diucapkan lagi oleh Jin. merasa perkataan Jin tidak asing, Jimin mulai menoleh
kearah Taehyung yang mengalihkan pandangannya kearah lain. Lalu memohon izin
pergi duluan meninggalkan Jin dan Jimin di Kelas. Ini adalah pertama kalinya
Jin menaiki angkutan umum yang dinamakan Bus. Berhubung banyak orang yang naik,
Jin dan Jimin pun tidak mendapatkan tempat duduk. Selama Se-jam dalam posisi berdiri.
Membuat Jin sakit pinggang. Diam-diam Ia memberikan won pada orang yang duduk
agar mau menyerahkan tempat duduk untuk dirinya. Jimin yang tidak tau apa-apa
hanya kaget saat Jin sudah duduk dan sepertinya Ia tidak terbiasa dengan
keadaan ini. pakaian Jin yang tadi rapih dikenakan berubah menjadi berantakan
karena panas yang dirasakan akibat banyak orang yang berdesakan. Sesampainya
pada Halte tepat di depan Hotel Jimin, mereka turun. Jin sudah tidak punya
tenaga untuk berjalan jauh atau memenuhi keinginan Jimin yang sederhana. “aku
sudah sampai di Hotel. Apa kau mau masuk dulu untuk minum? Tapi biasanya aku
menaiki tangga sampai pada lantai kamarku” ledek Jimin pada Jin.
“lantai berapa kamarmu?”
“lantai 13”
Jin menelan ludah sejenak, “sepertinya aku masih
punya urusan lain. Setidaknya aku sudah mengantarmu sampai pada Hotel. Aku
pamit”
“Jin-sshi” panggilan Jimin menghentikan
kepergiaan Jin, “terima kasih” ucap nya dengan senyuman singkat. Jin mulai
memikirkan atas tindakannya yang tidak wajar, dia mungkin benar-benar akan
menjadi orang yang tidak normal karena keinginan Halbeojinya sendiri.
Meyakinkan Jimin sudah masuk ke Hotel. Jin mulai mencari taxi. Walaupun sudah
mennaiki taxi pandangan Jin tidak lepas dari Hotel yang di tinggali Jimin.
Dalam perjalanan pulang, pikiran Jin tidaklah
kosong. Ia seperti menikmati kegiatan mengantar Jimin. Pertama kali menaiki bus
yang ramai, menjadi hal unik yang Jin pernah lakukan. Supir taxi yang sedari
tadi memperhatikan Jin dari spion tengah mobil kebingungan mendapati
pelanggannya senyum tidak jelas. Sampai pada kediaman Kim, Jin membayar sang
supir dan meminta penjaga rumah untuk kesekolah. “tolong ambil mobilku di
sekolah” perintah Jin.
Taehyung yang duduk di samping kolam ikan
menyadari kepulangan Jin. Namun malas untuk menyapa. Ia hanya membiarkan Jin
lewat dengan berpura-pura sibuk memberi makan ikan.
Flashback
On
“aku
bilang cepat naik. Kondisimu masih lemas kan? Biar aku menggendongmu sampai ke
Kelas”
“tidak
usah. Aku bisa sendiri. dan aku juga dibantu Taehyung-ah”
“ini
semua karena ulahku. Jadi biarkan aku menebus kesalahanku dengan membantumu
sampai pada kelas. Cepat naik”
Flashback
Off
Namjoon datang mengejutkan Taehyung yang sedari
tadi melamunkan Jimin. “ikan itu akan gemuk jika kau memberikan makanan terus”
sindirnya. “apa yang sedang kau fikirkan?” tanya Namjoon dengan menyenggol
pundak Taehyung.
“Ani.”
“bagaimana kalau kita memainkan permainan Truth
or Dare? Kau suka kan permainan itu?” ajak Namjoon.
“aku sedang malas hyung” balas Taehyung yang
langsung meninggalkan Namjoon pergi ke kamar. Namjoon sepertinya bisa menebak
apa yang dongsaeng mudanya itu rasakan. Ketika makan malam seluruh keluarga Kim
berkumpul di ruang makan. Beberapa hidangan mewah tersaji karena Tuan Kim cukup
senang mendengar Jin telah bisa mengantar Jimin pulang dengan angkutan umum.
Sembari tertawa geli, Tuan Kim meminum sedikit teh hangat bercampur obat
tuanya. Orang tua Jin tentu kaget mengetahui hal itu. “Appa! Apa anak ku benar
menggunakan angkutan umum? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Jin!” teriak
Eomma Jin pada Tuan Kim selaku Appa kandung. “aku tidak mengizinkan Jin
mengikuti kegiatan aneh yang namja sederhana itu lakukan!” lanjutnya.
Appa Jin hanya bisa mengusap-usap pundak
Istrinya itu yang seakan kebakaran jenggot akibat mertuanya, “tenangkan dirimu”
“aku sudah tidak bisa tenang! Appa, perjodohan
ini sudah membuatku gila! Jadi jangan menambah kegilaan ku hanya karena
perilaku Jin yang nanti berubah liar karena namja sederhana itu!” tambah Eomma
Jin lagi.
Masih dengan sikap santai Tuan Kim membalas,
“jangankan Jin menaiki angkutan umum, bahkan Taehyung juga pernah naik sepeda
dengan Jimin. Benar bukan?” pertanyaan itu mendapatkan perhatian kedua orang
tua Taehyung yang tatapannya langsung mengarah tajam. “itu tidaklah buruk.
Halbeoji akan mendukung kalian menjadi seseorang yang sederhana seperti Jimin”
kata Tuan Kim dengan sedikit tertawa. Ketiga saudara Kim hanya bisa
mendengarkan pertengkaran antara halbeoji dengan orang tua mereka. Tidak ada
yang berani ikut campur.
Usai memakan makan malam, seluruh kelurga
kembali ke kamar masing-masing. Orang tua Kim pergi ke kamar Taehyung yang
merupakan anak ketiga mereka. Wajah cemas dari sang Eomma diberikan agar
Taehyung tidak melakukan hal aneh lagi. “apa kau tau kalau naik sepeda itu
sangat berbahaya, eomma tidak ingin kau cacat nanti jika terjatuh, jadi jangan
membuat Eomma khawatir Kim Taehyung” jelas Eomma Kim.
Appa Kim ikut memberikan nasehat, “sebisa
mungkin kau jangan ikut campur terhadap hubungan Jimin dengan hyungmu.
Perjodohan ini menyakiti kami, karena harapan kami memiliki keturunan dari Jin
tidak akan terpenuhi. Jadi Taehyungie Appa dan Eomma tidak mau mengambil resiko
kau dekat dengan namja bernama Jimin itu. Kau mengerti?”
“Nde” singkat Taehyung.
Kedua orang tua Kim menutup pintu kamar
Taehyung dari luar. Pandangan Taehyung menatap atap kamar dan sekeliling kamar
yang sangat luas, ia tidak membayangkan bila halbeoji Jimin tidak membantu
halbeojinya. Mungkin kemewahan ini tidak pernah mereka bisa rasakan. Hanya saja
kenapa Orang tuanya seperti tidak ada terimakasih kepada Jimin ataupun
keluarganya. Hanya halbeoji yang memenuhi balas budi kemewahan yang telah
didapati.
To be continue...
Nb: BTS telah siap ke Indonesia. Apakah aku akan menonton? tentu. Aku akan membuat Vlog sedikit untuk kalian para pembaca setia MCAMB atau Jimin Diary Youtube Channel yang mungkin belum sempat ikut konser. ;)) maaf ya lama untuk update Jinmin Hard Shipper? Part 11, serta fanfic lainnya. Mohon di tunggu terus karya-karya ku yang lain di Blog kesayangan ini. ^^


Thank you for the update authornim..i hope you enjoy your concert. .(´ ▽`).。o♡
ReplyDeleteoh really you make me happy ;) thanks always for your support.
Delete