Devil Without You Chapter 7


“tahan emosimu Lucifer, kau akan menyakiti namja yang kau cintai!” Shin Gyu mengingatkan. Tidak lagi terdengar amarah atau emosi, suara Lucifer menghilang dan kembali menjadi patung biasa. Shin Gyu menyadari air mata Jimin menetes seketika. “dia menangis?” Hoseok menangkap moment itu juga.

Credit  : AceArt
.
.
Chapter 7

.

.
tubuh Jimin ditenggelamkan pada dunia kehampaan yang disembunyikan portal cermin. Shin Gyu menyayangkan namja mungil itu yang harus lebih lama menjadi sebuah boneka kesayangan Lucifer. Di tempat lain, Ia tidak sengaja melihat kepergian Hoseok keluar dari Museum Cleo. “kemana Hoseok Oppa akan pergi?” herannya. Ingin mengikuti tapi keadaan membuat Ia tidak bisa berbuat banyak.

.

.
[Kediaman Jin]
Jin terbangun dipagi hari, dan menemukan dirinya telah berada di kamar. Beberapa hidangan hangat untuk sarapan telah tersaji. Seperti semua telah normal layaknya hanya sebuah mimpi kisah yang terjadi. Hanya saja setelah dipikir-pikir Ia masih ingat tentang Jimin dan Chanyeol, serta Iblis yang bernama ‘Taehyung’. “apakah itu berarti kejadian sebelumnya bukanlah mimpi?” beberapa kali tepukan pada pipinya terasa sakit. Perasaan teradap Jimin yang mati di dunia sebelumnya membuat Jin semakin frustasi. Dosa apa hingga Ia mengalami kejadian tidak masuk akal dalam hidupnya sendiri.

“kau tidak sedang bermimpi, apa perlu aku menjadikan semua yang kau alami hanya mimpi belaka?” ujar Chanyeol yang muncul dari balik tembok.

“Chanyeol”

“sekarang kau tidak bisa berbuat banyak, tujuan kita hanya satu melenyapkan Jimin. kau tidak bisa meyakinkan Lucifer agar tidak menjadikan Jimin Iblis.”

Jin tidak bisa menyangkal, tetapi Ia enggan untuk melakukan apa yang diminta Chanyeol. Sekalipun ingatan tentang Jimin hanya sekilas tidak mungkin Ia mampu memenuhi permintaan konyol itu. Melenyapkan seseorang? “aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, aku tidak bisa mengizinkanmu menyakiti Jimin!” ucapan itu membangkitkan beberapa bayangan Jin dan Jimin di dunia lain.

“kau tidak bisa berfikir lebih lama lagi, kau harus bisa melupakan Jimin. karena aku ataupun kau tidak ada yang bisa menyelamatkan namja itu. Kita bertarung dengan Lucifer, kau harus ingat itu! Biarkan satu manusia mati untuk menjaga system alam dan ketenangan dunia manusia lainnya”

Jin mengeratkan cengkraman pada jubah Chanyeol, “kau tidak boleh menyakitinya! Sekalipun aku harus menyerahkan nyawa ku sendiri. Aku akan tetap menyelamatkan Jimin dan Jungkook!” pukulan diterima Jin untuk menyadarkannya bahwa ini akan sia-sia. Air mata Jin menetes perlahan, “aku tidak ingin membuat kesalahan yang sama didunia sebelumnya, aku tidak ingin Jimin mati didunia ini”. Suara isakan memberikan perhatian Chanyeol untuk segera berfikir cara apa yang baik dilakukan.

“aku akan bicara pada penjaga waktu” Chanyeol berpamitan dan menghilang. Suasana itu berubah menjadi lebih tenang setelah pertengkaran berakhir.

.
[ Seminggu berlalu ]
Hampir selama seminggu Jin tidak lagi menemukan kebaradaan Chanyeol di dekatnya. Ia terbangun di pagi hari, dan malasa untuk bergerak atau beranjak dari ranjang. Masih berusaha mendapatkan mimpi indah dengan memejamkan matanya berulang kali. Beberapa ketukan pada pintu kamar, panggilan Maid terus mengganggu Jin. “Tuan muda, apa anda sudah bangun? Tuan Namjoon dan Tuan Yoongi menunggu anda di ruang tamu” kalimat itu terus diputar seperti rekaman suara.



“menyebalkan” cibir Jin dan pergi tanpa membersihkan diri terlebih dulu. Namjoon dan Yoongi yang sejak tadi menunggu mematung sejenak melihat keadaan Jin yang kacau. “Seulki, gwenchana?” Tanya Namjoon.

“Nde. Ada apa kalian datang kerumah ku?”malas Jin.

Yoongi mendekatkan duduknya disamping Jin. “kau tidak terlihat baik Jin, apa ada masalah? Kau bisa mengatakan masalahmu itu pada kami”

“Ani! Aku tidak memiliki masalah apapun, berhenti menanyakan hal aneh-aneh padaku!” muak Jin dengan kehidupannya. Ia telah lelah menjaga Jungkook dirumah sakit seharian dan kedua temannya datang di pagi hari. Semakin rasa lelah itu terasa lengkap.

“apa kau masih ingat alasan kenapa kau dihukum sekolah?” Yoongi menyanyakan hal yang seharusnya Ia ketahui. Tetapi setelah diingat-ingat Jin yakin ingatan Yoongi sama seperti Jungkook dan Namjoon, dihapus dalam waktu singkat. “kau tau kan aku tidak pernah sedikitpun kehilangan berita tentang dirimu, tapi aku tidak tau kenapa melupakan hal satu ini” lanjut Yoongi.

“tidak ada masalah yang serius dengan hukuman yang kuterima. Kalian bisa tenang sekarang” Jin mengalihkan pembicaraan, “kenapa kalian bisa bersama?”

namjoon dan yoongi saling memandang, mereka ragu untuk mengatakan. “aku bertemu dengan Yoongi disekolahmu saat aku mencarimu, seulki. Ia mengatakan kalau kau dihukum tidak dapat mengikuti kegiatan belajar beberapa minggu”

“begitu” Jin mengangguk mengerti. Mereka diam sesaat tanpa percakapan. Yoongi memegang salah satu tangan Jin dan memeriksa keadaan namja itu yang Ia yakin sedang memiliki masalah. Namjoon melirik keakraban mereka, ada percikan api yang sedikit panas terasa di dada. Ia tidak mengerti dengan apa yang dirasakan. Merasa semakin tidak nyaman Ia berdiri dari tempat duduk, Namjoon pamit pulang pada pemilik kediaman. “aku masih memiliki urusan” jelasnya.

Jin dan Yoongi hanya menyampaikan salam perpisahan tanpa mengantar. Dibalik itu Namjoon masih terdiam mematung di dalam mobil. “perasaan apa ini? Kenapa aku merasa cemburu melihat keakraban mereka?” Namjoon memukul kemudi pelan, “aku masih normal kan? Dia seorang namja!” tegas Namjoon mengingatkan. Setelah meyakinkan ada yang salah dengan dirinya Namjoon memutuskan pergi mencari hiburan yang dapat melupakan dirinya akan Yoongi.

.
sedangkan yoongi masih setia berada disamping Jin, “Jin-sshi apa kau ingat dengan Museum Cleo?” pertanyaan yang mulai membangkitkan kegelisahan yang sebelumnya hilang. “aku membaca tentang buku itu tanpa alasan, aku tidak mengerti tapi seperti kau telah memintaku untuk membaca buku itu. Apa aku salah akan hal ini?”

“Ani. Kau tidak salah, apa kau membaca buku itu?” semangat Jin.

“Nde. Aku membaca buku itu, tapi tidak ada yang kutemukan hanya berupa sejarah-sejarah. Tapi seseorang mengatakan padaku alasan buku itu tidak dapat dipinjam karena hanya pemilik buku itu yang bisa membawanya pergi dari tempat awal, apa menurutmu itu aneh? Semacam kekuatan sihir?” asal Yoongi.

“seseorang?”

“namanya Park Chanyeol, dan anehnya dia bisa membaca isi hatiku yang tidak aku katakan secara lisan”

“chanyeol?” Jin berfikir sejenak dan mulai menganalisis tentang maksud yang Yoongi informasikan. Apa terjadi sesuatu dengan chanyeol serta buku itu. Ia harus menanyakan tentang buku Cleo yang tidak dapat dipinjam itu kepada Chanyeol. Obrolan mereka terhenti dengan kedatangan sosok Hoseok yang tidak bisa dilihat Yoongi dengan kasat mata.
.
apa kita bisa bicara?pinta Hoseok.
.
Jin tidak ingin Yoongi terluka dan meminta namja cantik itu untuk segera pulang menyusul Namjoon. “apa kau mengusirku?” Tanya Yoongi tidak suka dengan perlakuan Jin. “kenapa kau tiba-tiba bersikap aneh, berhenti menyembunyikan masalahmu. Aku mengenal baik tentangmu Kim Seok Jin!”

Jin menutup pintu utama, mengacuhkan setiap teriakan Yoongi yang terus meminta dibukakan. “yak! Kim Seok Jin! Bukakan pintunya!”

.
Pembicaraan antara 2 namja berlangsung tegang. Hoseok masih dengan mata merahnya memeriksa keberadaan Chanyeol yang mungkin tengah bersembunyi. “dimana Chanyeol?” Tanyanya. Jin berusaha untuk menyembunyikan rasa takutnya akan kedatangan Iblis ke tempatnya tanpa di temani Chanyeol.

“dia sedang tidak bersamaku. Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Jungkook”

Jin mengerutkan keningnya tidak paham. “Jungkook? Kau kenal kekasihku”

“tetaplah berada disamping Jungkook. Dan biarkan Jimin bersama Lucifer”

“kenapa Lucifer sampai melakukan ini? Kenapa Lucifer tidak mau mendengarkan Chanyeol yang mengatakan jika manusia menjadi iblis itu akan membahayakan alam semesta. Kenapa? Kenapa Lucifer tidak membiarkan Jimin bahagia menjadi manusia biasa?”

Hoseok membuka portal cermin tempat dimana Jimin kini tertidur abadi. “Jimin yang kau kenal sebagai manusia sudah tidak ada lagi, pahami itu. Dan perkataan chanyeol tentang manusia menjadi iblis akan membahayakan, itu tidaklah benar. Karena Jimin sebenarnya telah menjadi Iblis semenjak kematianya, tidak ada yang aneh selama itu. Ancaman yang Chanyeol katakan hanya untuk menakutimu agar bisa membantunya membalaskan dendam kepada Lucifer”

“membalaskan dendam?”

“Karena Lucifer sudah mengambil pekerjaan mereka dengan mengubah waktu, itu membuat penjaga waktu disalahkan”

Jin memegang kepalanya pusing. Menutup telinga yang terus menerus mendengar kebohongan atau kebenaran yang berbeda. Kemana Jin harus percaya. Setelah mengamati keberadaan Jimin terbaring. Ia menyentuh  portal cermin itu yang memberikan effect seperti sedang menyentuh air. “Jimin” lirih Jin.

“dia bukan manusia lagi Jin. Aku ingin kau menjalani hidupmu seperti biasa dengan Jungkook. Abaikan Chanyeol, hanya itu yang ingin aku bicarakan” Hoseok mencoba meninggalkan tempat Ia berbicara dengan Jin.

“tunggu,” Jin menghentikan kepergian Hoseok, “apa itu artinya kalian—”

“kami hanya melindungi Jimin dari Ckanyeol yang mencoba melenyapkannya. Dan sebenarnya kami membutuhkan bantuanmu, Kim Seok Jin”

pandangan mereka bertemu. Berusaha untuk tidak melewatkan hal penting disetiap detiknya. “membutuhkan bantuanku?” Tanya Jin, Hoseok pun menjelaskan dan setiap kata atau suara Hoseok sebisa mungkin Jin ingat.

Yoongi yang menguping didekat jendela menutup mulut saat mengetahui semua. Air mata mengalir, karena ‘cinta’ semua menjadi tidak pasti. Ia tidak menginginkan Jin melakukan perintah seseorang yang bicara dengannya didalam. Harapan itu pupus ketika Yoongi mendengar ‘persetujuan’ dari mulut Jin sendiri.

.
.
Jungkook membuka kedua matanya setelah lama mengalami masa kritis. Ia melepaskan selang infus, memandang kearah langit biru di luar jendela. Bibir yang pucat tidak lagi terlihat. Dan detak jantung terdengar normal, stabil. Jihyun dengan sekertarisnya ikut bahagia dengan kesembuhan Jungkook. “syukurlah cucuku, kau sudah sadar dari masa kritismu”

“Hoseok?” panggil Jungkook kearah sekertaris Jihyun. Pandangan itu tidak berkedip sedikit pun. “Jung Hoseok”.

Jihyun mengikuti arah mata Jungkook yang memanggil sekertarisnya dengan nama asing. “Siapa Jung Hoseok?”

Flashback On
Jungkook memimpikan kepergian Jin mengejar seseorang, membuat Ia kini sendirian bersama namja bernama ‘Hoseok’. Ia tidak pernah mau berkenalan dengan seseorang yang asing. Hanya saja Jungkook merasa telah lama mengenal Hoseok.

Ia duduk dengan bersenandung, dan sedikit melirik kearah Hoseok. “apa aku pernah mengenalmu?” Jungkook membuka obrolan. “aku rasa, kita pernah menjalani suatu hubungan. Mungkin berteman? Apa kita pernah berteman? Wah aku sangat payah mengenal seseorang selain Jin”

Hoseok hanya membalas dengan senyuman. “siapa namamu?”

“Hoseok. namaku Jung Hoseok”

“Jung Hoseok. tidak asing ditelingaku” pikir Jungkook.

Tidak lama dalam masa obrolan. Jin datang mengajak seseorang. Jungkook pun berdiri dan bertanya ‘siapa dia’.

“aku akan pergi bersamanya” jelas Jin yang terus menggandeng namja tidak kalah manis darinya. “maaf, aku harus pergi sekarang”

“Jin” Jungkook ingin mengejar tapi entah kenapa Ia tidak mau meninggalkan Hoseok yang berwajah sedih. “bagaimana mungkin dia pergi dengan orang lain” hibur dirinya, “aku yakin Jin hanya akan pergi sebentar, karena Ia memiliki urusan penting”

“kau menangis?” Hoseok menangkap air mata itu yang mengalir. “kenapa kau tidak mengejarnya, dan memilih untuk tetap tinggal?”

“aku tidak tau, kenapa aku tidak mengejarnya?! Aku tidak tau, kenapa aku masih berada disini. Kenapa aku masih merasa lebih aman berada disini? Aku tidak tau”

“Jungkook,” suara besar Hoseok mendapatkan perhatian Jungkook yang langsung mengangkat wajahnya. “aku merindukanmu” lanjutnya. Dan rona pink keluar menghiasi wajah Jungkook yang tidak pernah dialami Ia sebelumnya.

“aku..”

….merindukanmu juga…..


Flashback Off
.
Jungkook berhalusinasi bahwa Ia sedang melihat Hoseok datang dan menjenguknya. Ternyata setelah dipastikan, Ia bukanlah namja yang ada di dalam mimpi. “siapa itu Jung Hoseok?”

“dia bukan siapa-siapa halbeoji” lesunya.

.
Hoseok telah kembali ke museum, dan berlutut menghadap kepada Lucifer. “semua telah sesuai rencana, sebentar lagi anda akan bebas.Lucifer” mata itu menyalah merah layaknya Iblis dalam film. Shin Gyu ikut tersenyum bahagia saat Hoseok berhasil meyakinkan Jin agar bisa berada dipihak Lucifer. “Ia akan datang besok ke Museum ini, untuk menyerahkan diri menggantikan mu terbelenggu” lanjut Hoseok.

Lucifer tidak mengatakan apa-apa. Keheningan tercipta semenjak Jimin bangkit, lalu mematahkan hati Lucifer dengan terus menyebut nama Jin. Shin gyu berjalan mendekati Hoseok yang telah merubah posisinya berdiri mengambil sikap sempurna. “Oppa, apa kau yakin Jin akan mau menggantikan posisi Lucifer terbelenggu?”

“kita lihat saja nanti, karena di dalam buku belahan jiwa Jimin lah yang bisa mematahkan belenggu tersebut dengan suatu ‘pengorbanan’. Sedangkan aku tidak terlalu mengerti akan arti itu.”

“apa yang kau katakan sampai Jin mau mengorbankan diri?”

“aku mengatakan semua ingatan Jin tentang Jimin akan kembali normal, dan Jimin akan tetap hidup walau sebagai Iblis. Setidaknya Ia mau menggantikan Taehyung terbelenggu”

Shin gyu menggelengkan kepalanya kurang paham, “apa artinya Jin akan terbelenggu seperti Lucifer dalam wujud patung?” yeoja cantik itu menunggu jawaban Hoseok.

“aku menjamin Ia tidak akan pernah menjadi patung, tetapi aku mengatakan suatu kebohongan bahwa Ia akan ikut bersama kita menjadi Iblis dan bisa bertarung dengan Lucifer untuk merebutkan hati Jimin yang bukan lagi manusia”

“apa maksudmu?!” Shin Gyu mendorong Hoseok tidak suka, “kau akan mempermainkan Lucifer?”

“kau tidak perlu meragukan kesetiaan ku terhadap Lucifer. Karena itu hanya sebuah kebohongan, dengan kenyataan yang akan terjadi Jin akan hancur bila berdekatan dengan Jimin. itulah yang terjadi bila belahan jiwa Jimin menyerahkan diri untuk menggantikan belenggu pada Lucifer. Yang artinya Jin merelakan kebebasan Taehyung dengan kebebasannya yang tidak akan bisa bersatu dengan Jimin lagi. Namja itulah yang akan menerima hukuman dari penjaga waktu setelah ini, karena penjaga waktu melakukan belenggu pada Lucifer semua untuk Jin (korban) yang hidupnya telah dipermainkan.” Hoseok tersenyum kecil kearah Shin gyu yang mengikutinya pergi meninggalkan ruangan tengah museum. Mendengar itu membuat Shin gyu berdecak kagum pada Hoseok yang begitu hebat dalam mengambil tindakan. “Karena mereka bergerak di dunia manusia itu semua sesuai izin Tuhan agar dapat mengembalikan kehidupan normal Jin yang dipermainkan Lucifer. Jin atau bisa dikatakan Sang ‘Korban’ akan menghancurkan penjaga waktu itu sendiri. Kita akan kembali ke neraka setelah membuat Jimin menjadi Iblis sempurna dan melepaskan belenggu Lucifer”

.
[ Kediaman Min ]
Malam hari melamun sendirian dikamar, Yoongi memutar kembali ingatannya tentang percakapan Jin dengan seseorang siang tadi. Menghela nafas yang sedikit terasa berat. Ia tidak tau kenapa Jin menyembunyikan hal semacam ini yang menjadi sesuatu hal diluar akal manusia. Jin bukanlah seseorang yang bisa menutupi diri dari orang-orang terdekat. “Park Jimin? kenapa Jin harus menyerahkan diri untuk namja itu? Apa yang sebenarnya terjadi?”

Bunyi ponsel Yoongi menghancurkan pikiran seriusnya, tampak nomor asing mencoba menghubungi. “Yeoboseyo? Hello, Yeoboseyo?” tidak ada balasan atas panggilan yang Yoongi berikan. Namun saat akan menutupnya, suara itu membalas.

“Nde, yeoboseyo. Min Yoongi-sshi. Ini aku Kim Namjoon..”

Yoongi mengambil posisi duduk santai, “Nde? Namjoon-sshi, ada apa kau menghubungiku malam-malam?”

“bisa kita bertemu?”

“bertemu? Sekarang?”

“aku sudah berada didepan rumahmu” jelas Namjoon yang sudah menutup telpon. Yoongi yang merasa aneh segera pergi mengintip keluar jendela. Ia bingung darimana Namjoon mengetahui tempat tinggalnya. Dengan jaket seadanya, Yoongi keluar menemui Namjoon. “kau? Bagaimana bisa tau tempat tinggalku disini?”

“aku tau dari Jin” Namjoon menjelaskan agar semua lebih Yoongi mengerti. Mereka mengalami kecanggungan untuk sekarang ini. Yoongi tidak merasa nyaman mengapa ada sinyal aneh pada hatinya yang tidak terkesan biasa. ‘aku menyukai Kim Seok Jin tapi ada apa dengan namja ini, kenapa aku selalu ingin memeluk Namjoon-sshi’ batin itu berbicara. “Yoongi-sshi” panggil namjoon.

“nde?”

“apa kita pernah bertemu sebelumnya, maksudku ini sangat aneh. Aku.. ada perasaan padamu. Bukankah itu terkesan….hm? Aku tidak mengenalmu dan lebih tepatnya aku baru mengenal beberapa waktu lalu. Dan sejak siang aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, apakah itu tidak aneh?” Namjoon menarik nafas serta menyembunyikan wajahnya yang kini merah padam dengan salah satu tangannya. “Aku… Aku..”

“Namjoon-sshi” suara lembut itu menyadarkan Namjoon. “apa menurutmu kita memiliki kehidupan lain sebelumnya?”

“Nde?” Namjoon meminta pengulangan.

‘apakah kita memiliki kehidupan di masalalu sama seperti Jin yang tidak memiliki ingatan tentang dunia sebelumnya? Apakah perubahan waktu juga kita alami. Karena aku juga merasakan hal yang sama dengan mu Namjoon-sshi’ batin itu tidak bisa Yoongi utarakan. “aku sepertinya sedang asal bicara” Yoongi mengacuhkan perasaan hati yang mungkin Namjoon sulit percaya nanti.

“katakan apa kau merasakan hal yang sama denganku?” Namjoon memegang tangan Yoongi yang kecil. “biarkan aku tenang, dengan mengetahui isi hatimu apakah sama sepertiku”

Yoongi menggelengkan kepala. “aku tidak merasakan apapun tentang dirimu, aku hanya bicara asal dengan mengatakan hal tentang dunia sebelumnya. Apa kau akan masuk kerumah? Diluar sangat dingin, aku tidak kuat untuk lebih lama disini”

“aku akan langsung pergi, terimakasih” kecewa sangat jelas Yoongi lihat saat kepulangan Namjoon. Dengan semua yang Ia dengar dari rumah Jin tentang ‘perubahan waktu’ Ia tidak ingin siapapun mengusik dirinya. Apalagi harus mempercayai bahwa seseorang telah mengubah waktu, serta meghapus ingatan beberapa manusia hanya karena ‘Park Jimin’. “maafkan aku Namjoon-sshi. Aku tidak bisa membiarkan mu mengikutiku nanti dengan kondisiku sekarang. Aku harus mengetahui tentang rahasia Musuem Cleo, Park Jimin, serta Lucifer itu sendiri” mobil Namjoon perlahan demi perlahan menghilang dari pandangan Yoongi yang masih berdiam diri di luar. “aku tidak ingin membuat mu dalam bahaya hanya karena ingin melindungiku nanti”




To be Continue..


Comments

Popular Posts