Devil Without You Chapter 13 [ THE END ]
Chapter
13
Song
Pendukung :
Jang
Jae In Ft. Nashow – Auditory Hallucination
Lyrics
Kim Na Young x Mad Clown - Once Again
My
Love - Lee Hi
.
“apa
yang kau lakukan? Kenapa kau masuk kembali kesini”
.
“Aku
ingin bersamamu, Kim Taehyung”
.
*****
Iblis baru yang menemukan jiwa manusia Jimin kembali masuk,
menyerang dengan sekuat tenaga. Mengikat Taehyung dan menarik Jimin dengan
kegelapan untuk ditebas. Sayangnya, sebuah sihir memasuki wadah yang
diperebutkan dan menghancurkan kekuatan Iblis baru tersebut. Jin telah mencium
bibir Jimin dengan lembut yang berarti pelenyapan pun terjadi.
“bukan dengan suatu alat pelenyapan dilakukan, melainkan
ciuman cinta sejati menghancurkan kekuatan negative yang baru akan terlahir.
Cinta mereka yang tidak ditakdirkan lagi membelenggu iblis, melepas, dan
melenyapkannya. Cerita ini berawal dan berakhir ditangan Jin” Chanyeol membuka
mulut lebar tidak percaya dengan yang dikatakan Khronos. Sebuah buku Musuem Cleo terjatuh dari langit dan
memunculkan halaman terakhir. Shin gyu membaca bagian akhir dari buku tersebut
yang telah berubah isi dan sejarahya. Ia meneteskan air mata saat menatap
kearah Hoseok yang masih setia menjadi penonton perjuangan Lucifer dengan
Jimin.
Tubuh Jimin mengeluarkan sinar yang begitu terang dalam
pelukan Jin yang enggan melepaskan. Perlahan demi perlahan tubuh itu menghilang
seperti butiran kecil mutiara yang begitu cantik. Dan memunculkan jiwa manusia
Jimin untuk bertemu terakhir kali dengan Jin. Didampingi Taehyung, Jimin
tersenyum kearah Jin dan teman-teman manusia. Jimin yang memanggil Jin
diabaikan. Ia mengerti bahwa Jin tidak akan sanggup untuk memandang wajahnya
yang telah memilih untuk dilenyapkan bersama Taehyung. Salah satu tangan Jimin
menggenggam tangan Jin, dan salah satunya lagi menggenggam tangan Taehyung.
“seandainya aku diizinkan untuk tidak memilih salah satu dari kalian, maka aku
akan sangat bahagia memiliki banyak orang yang mencintaiku.” Mendengar itu Jin
mulai menghadapkan diri untuk menatap Jimin. wajahnya telah basah karena air
mata, keringat, dan darah yang tampak terlihat memperjuangkan cintanya.
“aku tidak bisa mendapatkan apapun yang kuinginkan darimu,
aku tidak bisa menjagamu. Mungkin ini alasan mengapa tuhan menghapus takdirmu
denganku, karena tuhan memiliki rencana yang indah untukmu dengan Taehyung. Apa
aku benar?” Ucap Jin terisak-isak.
Jimin menghapus air mata Jin yang terus mengalir, “Jin kau
begitu menjagaku, aku tidak pernah merasakan bahwa takdirmu dengan takdirku
telah terhapus. Karena aku menemukan sebuah takdir lain berjalan mendekatimu.
Aku harap kau mau hidup dengan baik tanpa diriku, dan biarkan teman-teman
menggantikanku menjaga dirimu”
Semakin lama bayangan Jimin dan Taehyung yang telah
dilenyapkan mulai menghilang. Genggaman yang masih diberikan mulai tidak terasa
keberadaannya. Jimin memberikan senyuman terakhir dan angin membawa seluruh
sinar Jimin dan Taehyung kelangit hazama. Semua yang telah berakhir menemukan
akhir yang tidak begitu bahagia, namjoon memeluk Yoongi yang menangis tidak
kuat melepaskan kepergian Jimin.
Jungkook mendekati Hoseok secara perlahan. Wajah yang begitu
Hoseok rindukan tengah memandangnya dengan senyuman yang cantik. “terimakasih
sudah menyelamatkanku, Hoseokkie” sama seperti Jimin dan Taehyung tubuh
Jungkook mulai menghilang.
“apa yang terjadi?” Yoongi kebingungan saat melihat Namjoon
dan dirinya mulai menghilang juga. “apakah kami juga dilenyapkan?” lanjutnya.
“kalian akan kembali ke dunia manusia, terimakasih atas
pertolongan kalian menghadapi pertempuran ini” Chanyeol membalas. “aku meminta
padamu jaga Min Yoongi untukku” ucapnya kepada Namjoon.
“tanpa kau suruh aku akan melakukannya”
Jungkook menggelengkan kepala tidak menginginkan perpisahan
dengan Hoseok lagi. Ia meraih tangan Hoseok yang dingin, “Hoseok bawa aku
bersamamu, aku mohon. Jung Hoseok!” semakin lama genggaman itu tidak dapat
Jungkook lakukan. Ia tidak dapat menyentuh Hoseok yang sedari tadi hanya diam. “Jung
Hoseok!”
Namun saat benar-benar akan menghilang, Hoseok memberikan
pesan terakhir. Kalimat yang akan terus dikenang Jungkook seumur hidupnya.
“hiduplah
dengan baik, aku akan selalu mencintaimu”
Special Song Pendukung
: Ailee – I will go to you like the first snow
.
Jin, Jungkook, Namjoon, dan Yoongi telah berada disebuah
rumah sakit. Mereka terbangun secara bersamaan saat dokter telah menyatakan
koma panjang untuk mereka berempat. Jin yang tersadar terakhir menoleh kearah
teman-temannya yang masih terbaring lemah. “apa yang terjadi?” suara Yoongi
terdengar bertanya kepada salah satu suster yang memeriksa. Seluruh tubuh itu
mereka rasakan sakit.
“syukurlah kalian berempat sudah sadar, saya akan panggilkan
dokter” sang suster bergerak dengan cepat. Tidak lama suster itu membawa dokter
untuk memeriksa satu-persatu dari Jin dan teman-temannya. “syukurlah mereka
tidak lagi mengalami keadaan buruk, dan berhasil melewati masa kritis” dokter
itu mengabari beberapa keluarga Jin dan teman-temannya yang mulai memasuki
ruang pasien. Keluarga Namjoon, Keluarga Yoongi, Keluarga Jungkook dan terakhir
Keluarga Jin yang selalu absen pun bisa datang untuk melihat keadaan. “Jin-ah
gwenchana?” Eomma Kim begitu khawatir, sedangkan Jin tidak merespon dan hanya
menimbulkan wajah kebingungan.
Suara tv yang sedang menanyangkan berita kecelakaan disebuah
jurang mengingatkan Jin dan teman-temannya akan waktu yang telah kembali kemasa
pengejaran mereka terhadap Hongbin. Namjoon yang berada dekat dengan tv
memperbesar volume agar semua bisa mendengar dengan jelas.
Reporter : “..telah
ditemukan 2 mayat yang sudah 6 bulan terakhir menghilang semenjak penculikan
dilaporkan. Beratas namakan Lee Hongbin yang menjadi pelaku penculikan putra
Park Sojin yaitu Park Jimin dikabarkan tewas ditempat setelah melakukan
lompatan ke jurang. Menurut kabar berita cinta yang tidak terbalas mengharuskan
pelaku melakukan bunuh diri bersama dengan sang kekasih…”
Namjoon melirik kearah Yoongi, “kita kembali kemasa
pengejaran Hongbin, tapi bukankah keberadaan jimin seharusnya tidak ada
mengingat jin telah melenyapkannya”.
“mungkinkah ..” Jungkook sedikit membalas.
Mendengar itu yoongi segera mencari tau reaksi Jin yang juga
menjadi perhatian Jungkook. Tampak keluarga Jin begitu bahagia menemukan Jin
masih bisa bernafas dan berkumpul bersama. Sayangnya, pandangan Jin setia
melihat kelayar tv yang sedang menyiarkan kematian Jimin dan Hongbin. Air mata
itu menetes. “Jimin” bisik Jin pelan.
.
beberapa hari berlalu, namjoon yang sudah bisa berjalan duduk
diranjang Yoongi yang tertidur. Mengusap lembut wajah putih yang Ia sukai sejak
lama, cinta kedua usai bertepuk sebelah tangan dari Jimin yang telah Namjoon
harapkan masih diizinkan untuk dirinya jaga. “tuhan jaga Yoongi untukku,
izinkan takdirku tetap bersama dengannya selama aku hidup” pinta Namjoon yang
membangunkan Yoongi.
“apa yang kau bicarakan? Tentu aku akan selalu bersamamu”
“aku hanya takut, sesuatu merebutmu dariku. Sungguh aku tidak
bisa membayangkan bagaimana jika aku berada diposisi Jin saat itu” suara
Namjoon membangunkan Jungkook yang sebelumnya beristirahat. “kita kembali
kemasa pengejaran Hongbin, apakah dunia iblis yang kita alami sebelumnya
hanyalah sebuah mimpi yang tidak berarti?” Jungkook menatap kearah Yoongi.
“aku tidak tau. kita masih mengingat semua, bahkan Jimin yang
dilenyapkan tidak dihapus keberadaannya didunia ini. Kita hanya kembali kemasa
sebelum masuk ke dunia iblis. Aku rasa inilah kelanjutan cerita yang seharusnya
terjadi, kita semua tidak bisa menghadapi bawahan Hongbin dirumah sakit saat
itu. Aku dan Namjoon mengalami luka-luka selama perkelahian itu, aku masih
sangat ingat kejadian itu sebelum pandangan menggelap” Yoongi menjelaskan.
“lalu kenapa ingatan kita tidak terhapus tentang dunia Iblis?”
Jungkook bertanya lagi. Namjoon dan Yoongi menggeleng ‘tidak tau’. Jin yang
tidak berada di ranjangnya baru disadari teman-temannya. “kemana Jin?” Namjoon
berjalan keluar ruangan rumah sakit. Ia menemukan namja tampan itu sedang
menikmati udara segar di halaman rumah sakit. Tentu sebagai teman dan saudara,
Namjoon menemani Jin, “gwenchana?”
Jin tidak memberikan tanggapan.
“aku minta maaf tidak bisa membantumu mendapatkan cintamu”
“aku telah merelakannya, sesuai permintaan terakhir yang
diberikan kepadaku.”
Namjoon tersenyum mendengarnya, “kalau begitu aku ingin kau
menjalani hidupmu dengan baik, sama seperti permintaan terakhir Jimin yang aku
dengar.” Anggukan Jin berikan. Dalam obrolan mereka sebuah bola menggelinding
tepat di bawah kaki Jin. Terdengar dorongan kursi roda menghampiri kearah
Namjoon dan Jin. Wajah yang tidak asing, suara yang tidak asing merasuk
keseluruh tubuh Jin untuk membayangkan seseorang yang telah dirinya lenyapkan.
“bisakah aku meminta bolanya?” namja manis yang begitu mirip dengan Jimin
mengulurkan tangan meminta pertolongan.
“Ji..” suara Jin terhenti saat Namjoon menyerahkan bola itu
kepada namja manis tersebut dan menarik Jin pergi. “tadi itu Jimin, Seulki?”
tanya Jin masih setia memperhatikan namja dengan kursi roda dari belakang.
“dia bukan Jimin. kau sudah mengatakan bahwa kau merelakan
Jimin, jadi jangan menganggap namja itu sebagai Jimin, kau mengerti?”
“apa kau tidak mendengar suaranya? Melihat Wajahnya? Bahkan
tingginya?”
“Jin! Aku mohon jangan memulai lagi”
mendengar teriakan Namjoon mengejutkan Yoongi dan Jungkook,
“ada apa?” Jungkook menemukan Jin berjongkok menutupi wajahnya dihadapan
Namjoon yang berdiri tegak.
.
keesokan pagi Jin dan teman-temannya pergi kesebuah
pemakaman, tempat peristirahatan terakhir Jimin. mereka meletakan bunga-bunga
melingkari pemakaman. Berdoa untuk menenangkan dan menyamankan tempat baru
Jimin di dunia yang berbeda. Jin menundukan kepala dan tersenyum, “sesuatu yang
dilenyapkan seharusnya tidak membekas, kau berbeda. Bahkan dihatiku kau masih
membekas. Masih sangat hangat saat pertemuan pertama kita, kau melompat keluar
jendela dan mengatakan bahwa aku begitu dingin terhadap namja asing seperti
dirimu. Tetapi sekarang aku sadar aku begitu lemah sehingga tidak dapat
melindungimu sampai kau dipertemukan kematian begitu cepat. Maafkan aku Jimin,
aku benar-benar meminta maaf.”
Yoongi menambahkan, “kau sahabatku yang menyadarkan ku arti
cinta yang sebenarnya. Kau mempertemukan ku dengan seseorang yang memang
mencintaiku, maka itu aku akan menjaga apa yang telah kau pertemukan” Namjoon
menggenggam tangan Yoongi di hadapan makam Jimin. Jungkook menimpali dalam
hati, “maafkan aku atas dosa yang aku lakukan terhadap kebahagiaanmu Jimin.
tapi aku akan menjaga apa yang kau titipkan tanpa memaksa lagi. Semoga kau mendengar
dan mau memaafkanku Jimin”
Disaat mereka mendoakan Jimin, 2 ekor kupu-kupu berwarna biru
saling kejar mengejar melewati pemakaman Jimin. seperti cahaya yang pernah
mereka lihat disuatu tempat. Tetapi entah dimana. “tanah hazama” Jin
mengucapkan suatu tempat yang terdengar tidak asing.
Seperti sebuah serbuk-serbuk kecil mulai membawa pikiran
mereka melayang terbang. Tangan Jin seakan ingin menggapai kupu-kupu yang
menjauhinya, “Jimin”.
.
.
[ 2 Tahun Kemudian ]
Jin mengukir sebuah patung yang berukuran setinggi manusia.
Diruang kerjanya Ia mengabaikan banyak berkas untuk dipelajari demi patung
tersebut selesai. Seorang yeoja yang merupakan asisten pribadi Jin memasuki
ruangan dengan membawa berkas yang baru. “tuan, banyak berkas yang harus anda
lihat. Bagaimana jika anda menghentikan menyelesaikan patung anda untuk melihat
beberapa berkas yang saya bawakan”.
“aku rasa kau bisa keluar” dingin Jin memberikan respon.
Yeoja itu menundukan kepala dan meminta izin untuk
meninggalkan ruangan. Jin yang mendengar pintu tertutup dari luar menghentikan
jari-jarinya untuk mengukir patung yang sedikit lagi terselesaikan. Wajah yang
begitu dirindukan telah terukir dihadapan Jin sekarang. ‘Patung ini tidak akan
pernah meninggalkanku’ itu pikir Jin. Namjoon yang berkunjung menerobos pintu
ruangan kerja Jin. Ia terkejut menemukan patung yang mirip dengan Jimin berdiri
dengan tegak dihadapan temannya. “apa yang kau lakukan, aku fikir kau sudah
melupakannya”
“siapa yang aku lupakan? Aku tidak mengenal siapapun yang kau
maksudkan”
“Jin!” teriakan itu mengeras. “namja ini.. apa kau
berpura-pura tidak tau tentang namja yang kau jadikan patung?”
“patung ini tidak akan meninggalkanku. Aku hanya ingin
membuat kenangan manis itu tidak terlupakan dengan cepat”
“Ayolah Jin. Kau butuh sedikit minuman segar untuk bercerita”
Namjoon merangkul Jin untuk mengajak temannya berjalan-jalan menghilangkan
beban yang ada. Sebuah restaurant menjadi tempat makan siang mereka berdua
sekaligus beristirahat. “patung yang kau buat untuk mengenang Jimin, aku tidak
akan mempersalahkan hal itu. Aku tau bagaimana perasaanmu, ataupun berada
diposisimu” lanjut Namjoon.
“aku telah merelakan, jangan membahasnya”
“kau tidak benar-benar merelakan kejadian 2 tahun yang lalu.
Apa kau membuatnya selama itu juga? Patung yang kau ciptakan begitu mirip
dengan Jimin yang asli. Aku rasa Jimin pasti menyukainya”
Dari obrolan yang dilakukan namjoon dengan Jin, terdengar pintu
restaurant berbunyi menandakan masuknya seseorang. Sebuah teriakan menarik perhatian
pengunjung lain termasuk Namjoon dan Jin yang segera menoleh kesumber suara.
“SUNGWOONN-AH!” panggilnya. Namja dengan salah satu kaki yang
tidak normal terjatuh di dekat pintu restaurant. “gwenchana?” tanya namja lain
yang lebih tinggi mengangatkan tubuh mungil tersebut untuk dapat berdiri lagi.
“gwenchana hyung” senyuman yang mengharuskan Jin berdiri dari
tempat duduknya, ia melangkah mendekati namja mungil yang terjatuh lalu
memeluknya tanpa permisi. “Jimin” suara itu memantul terdengar Namjoon. Namja
yang memiliki nama Sungwoon tidak mencoba melepaskan diri dari pelukan Jin. Ia
mendengar suara tangisan dari telinganya menyebut nama seseorang yang tidak
Sungwoon kenal. Saat pelukan itu dilepaskan Jin, mata mereka bertemu dan Jin
menyadari tatapan itu bukanlah milik Jimin yang dirindukan.
“maaf. Maafkan aku”
wajah, suara, dan tubuhnya memang mirip dengan Jimin. tetapi
jika diperhatikan dari tatapan Jimin, Jin akan mengenali Jimin yang dicintai
tidak akan memiliki pandangan keraguan. “gwenchana” suara itu terdengar lembut
dan khas. “aku yakin kau salah mengenali seseorang” ucap Sungwoon. “namaku Ha
Sungwoon” Sungwoon mengulurkan tangan. Tanpa menanggapi uluran tangan
perkenalan itu Jin segera pergi meninggalkan restaurant diikuti Namjoon. Mobil
Jin berhenti dipemakaman yang tidak pernah Jin mau datangi lagi selama 2 tahun
lamanya. Sedangkan Namjoon hanya memperhatikan dari jarak yang jauh. Jin
menangis keras meminta Jimin untuk dikembalikan, “aku mohon sekali lagi.. aku
ingin bertemu denganmu sekali lagi.. tidak bisakah kau mendengar permintaanku?!”
Jin menggenggam sedikit tanah yang telah menutupi peti mati Jimin. isakan itu
Namjoon dengarkan menjadi siksaan dirinya yang tidak bisa berbuat banyak.
“aku rasa kau tidak bisa merelakannya” suara Hoseok terdengar
dari belakang. “ketika buku Cleo ataupun bloody book telah terutup sempurna,
siapa sangka aku dapat mendengarkan jeritan seorang namja seperti mu di
pemakaman ini”
“Jung Hoseok, kau ..”
“aku baru saja menyelesaikan tugas membawa roh pemuda disana
ke neraka karena dosa yang dilakukan selama hidup. Sekarang aku menjadi Lucifer
pemimpin neraka yang tidak akan mencintai manusia seperti Lucifer sebelumnya”
“..” Jin menghapus air matanya dan menenangkan diri.
“kau tidak akan bertemu dengannya lagi Jin, karena Jimin
ataupun Taehyung itu dilenyapkan. Tidak akan ada roh mereka disurga ataupun
dineraka lagi, sebanyak apapun air matamu menetes. Suaramu tidak akan terdengar
Jimin yang kau cintai itu” lanjut Hoseok. “aku juga ingin menyampaikan suatu
pesan yang mungkin tidak pernah Jimin sampaikan padamu. Bahwa Ia begitu takut
dilenyapkan, ketakutan yang ia alami karena Ia tau akan hal ini. Tidak akan
bisa bertemu dan melihatmu walaupun hanya sebagai roh yang tersesat didunia
manusia. Dilenyapkan artinya keberadaannya dihilangkan, tidak diakui saat
diciptakan tuhan. Dan jimin sangat ketakutan akan hal itu namun jika ia
mengatakan ketakutannya, kau tidak akan melakukan pelenyapan terhadap dirinya.
Ia bahagia sekarang, dan ingin kau juga bahagia mencari akhir yang indah.
Lepaskan dan relakan, ia memohon kepadamu. Ia memintaku dan khronos lewat
bisikan terakhir kali untuk tidak menghapuskan ingatan tentang pelenyapan
dirinya dalam ingatanmu. Karena itu akan menjadi ingatan terakhir yang
membuatmu tidak akan bisa melupakannya. Sekalipun itu menyakitimu, Jimin ingin
mengujimu untuk mencari kebahagiaan takdir baru yang telah diciptakan tuhan
untukmu tanpa melupakannya. Hanya itu yang ingin aku sampaikan”
“aku berdosa kepada Jimin. aku mengerti kesalahanku terus terulang
sampai tidak menemukan jalan terbaik selain melakukan pelenyapan” Jin kembali
menangis dengan menutup setengah wajahnya dengan salah satu tangan.
“tidak ada cara lain Jin. Kau sudah benar menyelamatkan alam
semesta dari tangan iblis baru yang terlahir dari dosa manusia” mengingat hari
semakin sore, Hoseok pun berpamitan. “aku harus segera pergi. Aku tidak akan
mengatakan apapun padamu lagi dan muncul dihadapanmu lagi. Terimakasih untuk
semua” Hoseok merubah wujud menjadi sosok gagak yang terbang dengan bebas
kelangit lepas.
Jin berlari kesuatu tempat yang menjadi tempat bertemu
dirinya dengan sungwoon. Restaurant yang ditinggalkan tidak mempertemukan Jin
dengan sungwoon lagi. Beberapa ingatan Jin putar 2 tahun lalu tentang pertemuan
pertamanya dengan sungwoon disebuah rumah sakit. Ia pun segera pergi kerumah
sakit tersebut untuk menanyakan pasien bersama Ha Sungwoon.
Suster itu memberikan informasi, “pasien bernama Ha Sungwoon
masih tinggal di rumah sakit ini, ia berada dikamar 3005 lantai 3. Sebuah
kecelakaan merenggut salah satu kakinya sehingga Ia menjadi cacat dan tidak
mampu berjalan normal . Jadi ia masih melaksanakan terapi selama 2 tahun ini
sampai kakinya kembali sembuh” mendengar itu Jin segera pergi kekamar yang
diberi tahu sang suster. Ia menemukan namja mungil yang sedang berusaha berdiri
tanpa bantuan siapapun. Saat akan terjatuh, Jin menangkap tubuh itu dengan
sigap.
“kau?” sungwoon kaget saat seseorang menangkap tubuhnya yang
terjatuh. “namja yang memelukku direstauran kan? Apa kau salah mengenali lagi?”
“Ani.. aku tidak sengaja melihatmu ingin berdiri tetapi saat
kau terjatuh, aku jadi kaget dan segera menangkap mu”
diselingan obrolan merka 2 kupu-kupu berwarna biru melewati
kamar sungwoon. “kupu-kupu berwarna biru yang sangat cantik, aku harap
kedatangan mereka kekamarku dapat membawa keberuntungan yaitu menyembuhkan
kakiku”
“aku harus segera pergi, kau sebaiknya tidak berdiri jika
tidak ada orang lain yang membantu. Kakimu masih membutuhkan terapi untuk
sembuh”
“apa kau akan datang lagi untuk melihat perkembanganku? Uhm..
namamu ..” Namja mungil itu menunggu jawaban Jin yang cukup lama termenung
memperhatikan dirinya. Setelah lama menanti,
“Kim Seok Jin”
“Jin” saat suara itu menyebut namanya mengingatkan Ia dengan
Jimin. “aku harap bisa bertemu denganmu lagi” Jin mengangguk dan pergi
meninggalkan kamar sungwoon. Ada perasaan tidak nyaman sungwoon saat Jin pergi,
ia ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak ingin terjatuh lagi. Sungwoon mencoba
menginjakan kakinya ke lantai dan sebuah keajaiban kaki itu tidaklah terasa
sakit dan mau berdiri tegak. Beberapa langkah Sungwoon lakukan ia tidak
merasakan apapun dari kakinya yang cacat. “Jin” nama itu sungwoon kembali sebut
dan langkah kakinya semakin dipercepat.
Jin yang berdiri di lobby rumah sakit mendengar namanya
disebutkan. Ternyata sungwoon berlari kearahnya dengan begitu cepat. Ia mulai
memeluk Jin yang belum siap memberikan pegangan “Jin aku bisa berjalan bahkan
berlari.. aku mampu melakukan semua saat kedatanganmu mengunjungiku. Jin
sungguh aku bahagia” sungwoon memeluk Jin erat. Dan dibalas dengan pelukan yang
sama oleh Jin, “syukurlah”.
‘apakah
ini yang kau maksudkan Jimin? takdirku yang baru telah dipertemukan dengan
seseorang yang membutuhkan kebaradaanku.
Aku
yakin sembuhnya kaki itu bukanlah karena diriku tetapi memang takdir yang
menyiapkan kesembuhan kaki itu saat bertemu denganku. Itu hanya sebuah
kebetulan, atau memang sudah dipersiapkan.
Jimin
aku akan menjaga sesuatu yang rapuh seperti seseorang yang kau titipkan
sekarang kepadaku. Ha Sungwoon bukanlah dirimu, tetapi aku akan menjaga dirinya
sama seperti aku menjagamu. Lupakan segalanya dan mulai dari awal lagi, aku
tidak akan pernah lupa saat senyuman pertama itu kutemukan.
Selamat
tinggal Park Jimin’
THE
END.
Cerita ini benar-benar Tamat ya, Kalian yang sudah membaca
dari Season 1 BOY IN LUV JINMIN VER, Season 2 BOY IN LUV S2, dan terakhir
Season 3 Devil Without You terima kasih banyak. Memang tidak diperuntungkan
takdir JinMin bersatu dengan cerita sepanjang ini ~><~ aku pun menyesal mengapa membuat cerita seperti
ini, maybe saat itu aku merasa sedih dan ingin membuat sesuatu yang sedih
menjadi sebuah tulisan indah perjalanan cinta mereka. Ailee – I will go to you like
first snow menambah suasana semakin nyaman untuk membuat cerita menyedihkan
takdir yang tidak dipersatukan Tuhan. Cek Library Link untuk mempermudah kalian mencari cerita https://xiu99han7.blogspot.co.id/2017/03/library-link-mcamb.html Season 1 dan 2 Boy In Luv JinMin..
[ Boy In Luv Jinmin Ver. ]
[ Boy In Luv S2 ]
.
.
Tetap setia pada Pairing JinMin guys, aku berharap bisa menghidupkan Jimin Channel untuk moment Jinmin lagi (tapi aku rasa sudah banyak yang membuat channel Jinmin wkwk) dan mengembalikan imajinasi ku menulis lagi Next time ketemu lagi dengan cerita yang JinMin yang berbeda XD






😭😭😭 baper mode on
ReplyDeleteAi lup yu pull min 😘
Ini ff yg paling2 kena di hati 😂
Btw ini sungwoon yg mana ya? 😂
lup yuu tuuh~😘 makasiih udah temenin ff ini😂
ReplyDelete😨sungwoon anak wanna one yang mukanya mirip bgt sma Jimin (mnurut aku sihh), coba kmu cek~ :v -gig-
Kakak buat lagi karyanya. Aku suka :"" tapi jangan pisahin mereka hiksss
ReplyDeleteHahaha.. maafkan author yang memisahkan mereka ~ :( 😂 Yayay!
ReplyDelete