BOY IN LUV JINJIMIN VER. Chapter 10




“nde, aku dari tadi menunggumu pulang. mau tidak kau menemaniku makan siang?” dua bola mata Jimin membulat seperti bulan purnama penuh. Namja dihadapannya mengajak makan siang bersama. Tidak menunggu jawaban Jimin, Rapmon segera mengambil tas sekolah Jimin dan memasukinya kedalam mobil. jimin sebenarnya memberikan sedikit alasan untuk menolak, tapi tidak bisa karena mendapatkan perlakuan memohon dari Rapmon. Dengan terpaksa Jimin pun menuruti kemana Rapmon membawanya.


-

-

Jimin menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Taehyung sebelum berangkat sekolah. Saat semuanya Siap, namja mungil itu membangunkan Taehyung yang masih menikmati tidurnya. Kedua mata itu terbuka melihat namja manis yang selalu membangunkannya membuat senyum terukir diwajah Taehyung. Jimin yang tidak mengerti kejailan apa lagi yang akan dibuat Taehyung pagi ini, Tanpa menunggu lama tubuh mungil itu menjauhi jarak dari tempat tidur.

“kenapa kau mundur kebelakang Jiminnie? Memang aku akan memakanmu?” sindir Taehyung sambil mempoutkan bibirnya ketika melihat Jimin yang menjauhinya.

“aku tau hyung pasti akan mengerjaiku kembali kan?” tanpa memperdulikan namja yang sedang beraegyo ditempat tidur, Jimin lebih memilih keruang makan untuk menyantap sarapannya. 

Taehyung kesal karena tidak diperdulikan dongsaengnya, namja itu pun bangkit dari tempat tidur. 
Berjalan pelan kearah Jimin yang duduk manis dengan sarapannya dan langsung mencium pipi gempil milik Jimin. Lalu pergi kekamar mandi untuk menyembunyikan dirinya dari amukan seorang Park Jimin. “yaak! Dasar yadong!” pintu kamar mandipun tidak luput dari gedoran keras sang pemilik tubuh mungil itu. karena tidak mendapatkan respon apapun dari dalam kamar mandi, Jimin kembali melanjutkan acara santap sarapannya. Selesai sarapan pagi namja itu kembali merapihkan seragamnya didepan cermin.

“hyung aku berangkat duluan, kau jangan terlalu lama didalam kamar mandi kulitmu bisa berkerut” canda Jimin sambil menahan tawa dengan tetap berjalan keluar Apartemen. Taehyung yang mendengar pintu apartemen telah tertutup dari luar langsung keluar dari kamar mandi. Senyumnya kembali terlihat diwajahnya saat mengingat Jimin telah menyetujui pekerjaannya beberapa minggu lalu.


Flashbackon

Setelah Jungkook dan Rapmon meninggalkan Apartemen, Taehyun berbicara secara tenang dengan Jimin. Mereka saling berpandangan mencoba untuk mengerti satu sama lain. Sama seperti dulu ketika mereka bertengkar sewaktu kecil. Appa dan Eomma adalah penengah hubungan mereka yang membuat hubungan mereka menjadi baik kembali. Tapi secara dipikir-pikir mereka sudah tidak memiliki penengah itu lagi seperti dulu. Satu-satunya cara mereka mengakhiri pertengkaran adalah berbicara setenang mungkin. Taehyung mulai mengakhiri keheningan yang terjadi antara dirinya dengan Jimin.

“maafkan hyung jika sebelumnya berteriak padamu, mungkin memang kesalahan hyung yang memulai semuanya secara diam-diam. Tapi sejujurnya hyung memang bekerja sebagai supir pribadi namja tadi. Namanya Jeon Joon Kook”

Jimin mendengarkan dengan baik apa saja yang dijelaskan Taehyung pada dirinya.
“mungkin secara perlahan hyung bisa membuatmu mengerti tentang kehidupan kita yang tidak seperti dulu, ketika Appa dan Eomma masih hidup. Ketika kita tidak perlu bekerja dan hanya tinggal meminta. Aku rasa itu sudah tidak bisa kita lakukan bersama. Dan aku berfikir perjalananmu lebih panjang dibanding hyung”

“hyung kita bisa bekerja bersama? Bolehkan aku membantumu?”

“aniyo aku tidak izinkan” taehyung memegang tangan lembut Jimin yang sedang membutuhkan pengertian darinya. “hyung ingin kau tetap sekolah seperti biasa tanpa memikirkan apapun. Karena hyung menyayangimu melebihi apapun, sama halnya dengan Appa dan Eomma. Aku adalah Taehyung kau ingat itu”

Rasa khawatir disetiap langkah yang Taehyung ambil membuat air mata Jimin selalu ingin menetes. Jimin sudah tidak tahu harus mengajukan penolakan seperti apa lagi. Tapi sepertinya tatapan Taehyung membuktikan bahwa dirinya sudah membulatkan tekadnya cukup lama. Jimin harus mengerti setiap keinginannya tidak bisa sepenuhnya dikabulkan oleh hyungnya. Taehyung memiliki keinginan dan jalan sendiri, dirinya harus mengerti itu mulai sekarang.

“aku mengerti” bibir kecil itu berucap membuat Taehyung menatap sang pemilik suara. Pelukan diberikan ketubuh mungil itu yang telah menyetujui setiap jalannya yang diambil. “tapi hyung..” suara itu kembali terdengar, membuat Taehyung melepaskan pelukan yang diberikannya.

“waeyo?” tanya Taehyung dan memegang erat tangan mungil itu kembali.

“aku ingin kau selalu tetap jaga kesehatanmu, jaga pola makanmu, dan jangan memaksakan diri. 
bekerjalah dengan baik, dan aku berjanji padamu juga akan memberikan hasil yang baik untukmu”
Senyuman itu membuat Taehyung membalasnya dengan kecupan kecil di bibir mungil Jimin. Jimin yang menerimanya langsung berteriak dan pastinya memukul Taehyung yang sudah lama memiliki sifat yadong padanya.

Flashbackoff


Taehyung yang tersenyum terus mengingat kejadian manis itu rasanya ingin memeluk Jimin mungilnya kembali. Makanan yang telah disediakan untuknya, membuat dirinya kembali merasakan perasaan aneh yang tidak seharusnya dirasakan. “seperti seorang istri yang menyiapkan untuk suaminya” bisiknya kecil.

-

Jimin berjalan menuju sekolahnya selama 15 menit, menghirup setiap udara sejuk yang dimiliki negaranya di pagi hari. Kota Seoul. Gerbang sekolah namja mungil itu sepertinya akan segera tertutup. Jimin mencoba untuk mengejar sedikit waktu yang dimilikinya dan.... berhasil. Namja kecil itu memberikan senyum bangganya pada penjaga sekolah yang telah menutup gerbang itu dengan sempurna.

“kekuatan kakiku ternyata masih bisa diandalkan, benarkan ahjusshi?” sindirnya sambil menepuk-nepuk kakinya pada ahjusshi yang memandang Jimin hanya sebagai namja bodoh yang selalu terlambat. Tapi sepertinya kebanggaan Jimin hanya besifat semenetara saat melihat sebuah mobil yang dikenalnya milik Jin diperbolehkan masuk. Jimin yang tidak terima mencoba berkomentar pada sang ahjusshi.

“ahjusshi dia kan telambat kenapa kau bukakan gerbang untuknya! Aku tidak pernah kau perlakukan seperti itu”

“diamlah dan pergilah masuk, kau tidak tahu siapa pemilik mobil itu”

“ehh? Kau fikir aku tidak kenal? Dia itu....” melihat mobil itu telah terparkir sempurna, Jimin sebaiknya menghampiri namja menyebalkan itu yang bertindak seenaknya. Mungkin Jin telah menyogok si ahjusshi pikirnya. Jimin memberikan dengusan kecil pada ahjusshi yang pilih kasih dan langsung menghampiri sang pemilik mobil. tapi langkah Jimin terhenti ketika melihat Jin sedang membantu Jungkook turun dari mobilnya. Yang semakin membuat Jimin tidak percaya Jungkook telah mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya dan Jin. Kedua namja itu beriringan memasuki gedung sekolahnya.

Bunyi bell menyadarkan Jimin dari fokusnya pada kedua namja yang membuat hatinya sedikit sesak. Sepertinya perasaan ini bertanda buruk untuknya. Sambil menarik nafas panjang Jimin mulai memasuki gedung sekolah yang sebelumnya dilewati Jin dan Jungkook.
Setelah memasuki ruangan kelasnya tidak ada Seongsaenim yang mengajar di jam pelajaran pertama. Tidak heran bagi Jimin jika kelasnya ramai sekali. Tidak lama Jimin membereskan meja belajarnya, Lee hyun Seongsaenim datang membawa namja cantik yang Jimin kenal. Semua murid pun kembali tenang, dan mulai berbisik membicarakan sesuatu yang rahasia. Mungkin berkaitan tentang murid baru.

“selamat pagi semua” Lee Hyun Seongsaenim menyapa para murid dikelas. Dengan serentak seluru murid membalas “Selamat pagi”.

“baiklah kali ini saya akan langsung saja memberitahukan tentang murid baru yang akan menjadi keluarga kelas ini, silahkan perkenalkan dirimu” ucapnya membantu namja baru itu berinteraksi.

“annyeong, Jeon Joon Kook imnida. Kalian bisa memanggilku Jungkook”

“baiklah, saya beritahu kalian bahwa Jungkook sebelumnya tinggal di Amerika selama 6 bulan, mungkin dirinya butuh berinteraksi lagi dengan kalian. Jadi bantu dirinya terus”

“nde, Seongsaenim” semua berteriak antusia, berbeda dengan satu namja yang sepertinya terlihat murung disudut kelas. Jungkook yang melihat namja yang dikenalnya berada satu kelas dengan dirinya langsung melambaikan satu tangannya. Seluruh penghuni kelas langsung memandang Jimin yang mendapatkan respon dari namja baru. Tidak beda dengan murid, Seongsaenim memandang kearah Jimin juga. “apa kau kenal dengan Park Jimin” tanyanya membuat Jungkook mengangguk manis.

“dia dongsaeng dari temanku, mungkin nanti kami akan berteman juga” senyum ceria itu kembali terlihat membuat Jimin sedikit bergidik tidak tenang.

“kalau begitu kau bisa duduk didepan Jimin yang sepertinya kosong, dan Jimin...” namja yang dipanggilnya mengangkat kepalanya, “nde, Seonhsaenim?”

“tolong bantu Jungkook untuk berinteraksi” mendapatkan perintah itu, Jimin mengangguk mengerti. Dan jungkook pun segera menempati tempat duduknya. Jungkook tersenyum ceria ketika menghadap kebelakang yang menemukan sosok Jimin disana. Secara terpaksa Jimin tersenyum kecil.


-

2 mata pelajaran telah dilewati dan Jimin tidak mengerti sama sekali karena konsentrasi yang hilang begitu saja. Jungkook yang berada didepannya langsung memberikan memo kecil pada Jimin yang sedang mengeluh. “apa ini?” tanyanya tidak mengerti.

“aku yakin kau kurang mengerti. Semua yang tadi dijelaskan ada di memo ini, kupijamkan catatanku untukmu Jimin-sshi”

“tidak usah, aku tidak apa-apa. lagipula kau kan murid baru aku yakin kau lebih membutuhkannya dibanding diriku” tolaknya Jimin halus, sebenarnya dia memang tidak suka dibantu terlebih lagi dengan namja dihadapannya.

“ohayolah.. aku sudah sangat mengerti dengan apa yang dijelaskan Seongsaenim barusan. Jadi kupijamkan ini untukmu” paksa Jungkook dengan mengambil salah satu tangan Jimin, dan meletakan memo itu kedalam genggamannya. Tidak bisa menolak lagi Jimin tersenyum manis “terimakasih”. Setelah memberikan catatannya wajah Jungkook terlihat muram seketika. Membuat Jimin harus bertanya.

“kau kenapa? Kenapa wajahmu tiba-tiba muram Jungkook?”

“aku ingin berkeliling sekolah ini tapi sepertinya jadwalku dengan Jin-sshi bentrok sehingga dia tidak bisa mengantarku hari ini mengelilingi sekolah” nafas nya terdengar berat, tapi Jimin tidak tahu harus berbuat apa. kembali memutar otaknya Jungkook sepertinya memiliki ide bagus. Lirikannya terlihat sedikit mengintimidasi Jimin. “waeyo?” Jimin kebingungan.

“kau mau antar aku berkelilingkan Jimin-sshi? Sekalian mengobrol agar mengenal satu dengan yang lain. Aku sangat ingin berteman denganmu Jimin-sshi” ucapan Jungkook terdengar tulus ketika berbicara tentang pertemanan. Tapi bagaimana mungkin Jimin bisa berteman dengan namja yang tengah menjalin hubungan bersama..... tunggu apa yang dirinya fikirkan sebenarnya. Jimin tidak boleh merasakan apapun jika bersama Jin. Mereka hanya memiliki status teman, dan Jungkook adalah kekasih Jin yang sebenarnya. Mungkin mengenal Jungkook lebih jauh tidak ada salahnya. Dan semoga setelah berbicara dengan Jungkook dirinya bisa melupakan perasaannya pada kekasih Jungkook. Jimin mengangguk setuju untuk mengajak Jungkook berkeliling. Karena sangat senang namja cantik itu langsung menarik Jimin keluar kelas. Jimin memberi tahu Jungkook tentang lokasi-lokasi lapangan, perpustakaan, kantin, bank, halaman belakang, laboratorium, dan yang terakhir Jungkook meminta ketempat favorite dimana Jimin biasanya berada.


Namja cantik itu berputar-putar seperti ditaman bunga saat menginjakan kaki keatap sekolah. Tempat dimana biasanya Jimin dan Jin saling bercanda. Jimin menikmati suasana atap sekolah seperti biasa, merasakan angin segar yang menerpa seluruh tubuhnya, suara burung-burung yang melewati sekolahnya, serta pemandangan indah dari atas. Seperti dilangit Jimin rasakan. Tapi semua perasaannya berubah ketika namja cantik itu membuka percakapan dengan Jimin.

“apa kau dengan Kim Taehyung menjalin hubungan?” pertanyaan bodoh itu terdengar dari bibir seorang namja yang Jimin sedikit hindari. “apa maksudmu berbicara seperti itu? aku dan Taehyung adalah saudara, bagaimana mungkin kami menjalin hubungan? Apa jangan-jangan hyung mengatakan sesuatu padamu?” tanya Jimin menegaskan.

“aniyo Jimin-sshi. Aku hanya sedikit berfikir nama marga kalian berbeda Kim dan Park, dan kesimpulanku kalian saudara tapi beda ayah atau beda ibu atau bahkan memang beda keduanya. Dan sepertinya Taehyung terlihat menyu—”

“hentikan!” jimin menutup kedua kupingnya agar tidak mendengar sesuatu yang tidak ingin didengarnya. Jungkook khawatir melihat sikap berlebihan namja dihadapannya itu “kau tidak apa-apa Jimin-sshi? Maafkan aku, bukan maksudku untuk ikut campur dalam hubungan kalian. Sungguh. Aku hanya ingin kita menjalin pertemanan dengan saling bercanda. Tapi sepertinya aku salah” wajah sendu Jungkook membuat Jimin bertahan dengan obrolan yang masih akan berlanjut selama istirahat berlangsung.

“ohiyaa apa kau sudah mengenal Jin-sshi lama?” pertanyaan yang Jungkook lontarkan kembali menampar hati Jimin yang sudah sesak. Jimin menggeleng. “ternyata kau baru-baru ini mengenal Jin-sshi. Kufikir karena kau satu sekolah dengan Jin-sshi kau berteman akrab dengannya” lanjutnya.
“dia sepertinya sedikit menutup dirinya” suara Jimin mulai merespon apa yang sedang Jungkook bahas.

“benarkah? Ternyata dari dulu hingga sekarang namja itu tidak pernah berubah ya?” tawa lebar itu terdengar sangat bahagia. Seolah-olah tidak ada orang lain yang melihat itu semua. “maafkan aku...sudah lama aku tidak tertawa seperti tadi, aku sangat menyukai sifat menyebalkannya” mendengar perkataan Jungkook, Jimin menyerngitkan kedua alisnya. “rasanya hanya diriku yang mampu membuat dirinya bersikap lain, membuat sisi lembut Jin keluar hanya untuk diriku. Kau tau dulu Jin itu selalu mengejar-ngejar aku dan sifatnya saat mendekatiku  sangat konyol. Semua orang mengaggap aku dan Jin pasangan aneh” Jimin termenung mendengarkan cerita yang Jungkook ceritakan.

“aku sangat menginginkan Jin yang dulu kembali, yang bersikap aneh dan konyol hanya untuk diriku. Tapi sepertinya dirinya yang dulu sudah tidak ada. Yang ada hanya seorang Kim Seok Jin bersuhu Es dan tampan. Sifat dinginnya itu tidak bisa diubah siapapun selain aku. Kau tau selama 4 tahun menjalin hubungan dengan Jin, namja itu selalu tersenyum ceria, aktif, semangat dan selalu berkumpul dengan orang lain. Tapi salah diriku yang meninggalkannya begitu saja membuat sifat menyebalkannya harus kembali di cairkan” Jungkook terlihat seperti menahan air matanya. “dan saat aku kembali menjalin hubungan dengan Jin. Sepertinya suhu Es sudah dicairkan orang lain, dan sekarang aku bersekolah ditempat ini hanya ingin memantau siapa namja yang berhasil membuat hati Jin yang membeku mencair sempurna. Aku tidak akan menyerahkan Jin pada siapapun” tatapan Jungkook berubah seperti mengancam, sangat tajam terlihat. Dada Jimin yang sesak sedikit melega ketika mendengar bahwa hati Jin yang beku Jungkook rasakan karena namja lain yang mencairkannya. Mungkinkah pertemuannya dengan Jin yang membuat hati Jin mencair?

-

Aku tidak akan menyerahkan Jin pada siapapun
Aku tidak akan menyerahkan Jin pada siapapun
Aku tidak akan menyerahkan Jin pada siapapun


Bell berbunyi menyadarkan Jimin bahwa pelajaran telah usai. Tunggu mengapa dirinya sama sekali tidak ingat ketika menuruni tangga bahkan ketika kembali kekelas. Fikirannya dihantui oleh kata-kata Jungkook yang tidak bisa dihilangkan. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dan wajah Jungkook kembali membuat Jimin tidak bisa bernafas teratur. “Jimin-sshi apa kau sakit?”

“aniyo, aku hanya kurang sehat saja” ketukan pintu kelas mereka membuat 2 namja manis ini memandang kearah sumber suara. Benar adanya tubuh tinggi itu sedang berdiri di ambang pintu. 

“Jin-sshi” teriak sang kekasih yang berlari kearahnya. Jimin hanya memandang mereka dari jauh. Obrolan mereka cukup terdengar ditelinga Jimin.

“kau sudah siap pulang?” suara Jin terdengar.

“nde, ayo kita pulang. nanti aku akan ceritakan padamu apa-apa saja yang Jimin-sshi tunjukan padaku” suara Jungkook juga terdengar jelas. Sangat jelas bahagia. Jimin yang menyibukan dirinya dengan buku-buku miliknya mulai terganggu ketika Jungkook berpamitan. “jimin-sshi, aku dan Jin mohon pamit duluan ya. Annyeong” ucapnya dan langsung pergi meninggalkan Jimin yang tengah membalas lambaian tangannya.

Dadanya sangat sesak hari ini, sampai kapan Jimin harus merasakan sakit hati terus-menerus. Ini salahnya menggunakan hati dalam pertemanannya dengan Jin. Karena kesal jimin hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menenggelamkan seluruh wajahnya yang ingin menangis.


-

Jungkook dan Jin yang telah keluar dari gedung sekolah bertemu dengan Rapmon. Pandangan Jin sangat kesal mengapa sahabatnya ini selalu saja menjemput Jimin. Jungkook tersenyum senang saat melihat Rapmon kembali.

“Rapmon-sshi? AnnyeongJ Apa yang kau lakukan disini?” Rapmon tersenyum pada namja yang sedang menyapanya.

“aku sedang menunggu seseorang” pandangan Rapmon melirik kearah Jin yang sedang mengalihkan pandangannya kearah lain. “kau sekarang bersekolah disini?” tanyanya balik.

“nde, aku dan Jin ingin kembali seperti dulu. Dan jadilah keputusan kami seperti ini”

“keputusan kalian seperti dulu?” Rapmon tersenyum tipis yang diarahkan ke sahabatnya berdiri. “aku selalu berdoa kebahagiaan kalian Jungkook dan Jin” jelasnya menyudahi percakapan.

Jungkook yang tidak mengerti akan setiap lirikan Rapmon pada kekasihnya tidak mencoba untuk mencari tahu. Karena itu mungkin adalah masalahnya dengan sahabatnya. Melihat Rapmon akan segera pergi membuat Jungkook menghentikan langkahnya kembali. “tunggu.. Rapmon-sshi kau menunggu siapa disekolah ini? Apa kau mengerjai yeoja SMA? Aissh sikapmu itu tidak pernah berubah bahkan sekarang anak SMA yang kau incar?”

“aniyo.. aku tidak menunggu yeoja SMA tapi..”ucapan Rapmon terpotong ketika namja itu telah menangkap pandangan pada seseorang yang sedang ditunggunya. Jungkook yang sadar akan pandangan Rapmon segera menoleh kebalakan dan mendapati Jimin sedang menatap jelas posisi Rapmon. Tidak beda dengan Jungkook, Jin juga melakukan hal yang sama. “kalian berkencan?” tanya Jungkook penasaran. Jimin yang tidak mengerti apa-apa hanya terbengong ketika kata berkencan terdengar dalam kalimat yang mengarahkan pada dirinya. Jin menelan ludahnya ketika ucapan Jungkook sedikit menyinggung perasaannya. Rapmon sadar akan sikap Jin yang mulai kesal dan menahan emosinya. Semakin ingin menyiksa sahabatnya itu Rapmon segera mendekati Jimin dan menggenggam tangan namja mungil itu. lalu membawanya pergi meninggalkan Jungkook dan Jin yang masih tidak percaya.

“waaah Jin-sshi aku tidak percaya Rapmon menyukai namja? Dan itu Jimin-sshi?”

“tidak perduli” Jin bersikap ketus pada kekasihnya, membuat Jungkook yang mendengarnya sedikit kaget. Bagaimana bisa kekasihnya memberi perlakuan ketus pada dirinya. Ada apa dengan sikap dingin Jin yang secara tiba-tiba dirasakannya. Jin meninggalkan posisinya menuju mobil diparkiran sekolah. Dan jungkook hanya mengejarnya dari belakang.

-

Jimin meronta meminta untuk dilepaskannya, dirinya tidak percaya Rapmon menggenggam tangannya dihadapan Jin. “yaak apa yang kau lakukan tadi Rapmon-sshi? Mereka nanti berfikiran macam-macam tentang kita” tangan yang telah dilepaskan Rapmon mulai diusapkan secara lembut.
“maafkan aku, aku sadar aku salah melakukan itu padamu. Tapi apakah kau siap melihat mereka berdua bersama terus-menerus disekolah nantinya. Biarkan saja mereka menganggap kita berkencan atau apapun. Sehingga mereka tidak berbuat seenaknya pada hatimu”

“aku tidak mengerti apa maksudmu...lagipula kenapa aku harus siap atau tidak..memang aku kenapa?” kebohongan itu membuat Rapmon ingin semakin menjaga Jimin dari 2 namja menyebalkan itu. rapmon yakin namja dihadapannya ini sedang sakit hati luar biasa. Rapmon pun memeluk Jimin ditempat umum, membuat Jimin tidak nyaman. Jimin terus mendorong tubuh Rapmon “yaak, lepaskan aku Rapmon-sshi”. Rapmon yang masih terus memeluk Jimin mendengar suara yang dirinya kenali sebagai Hyungnya namja mungil yang sedang dipeluknya.

“apa yang kau lakukan” Taehyung menarik tubuh Jimin untuk segera menjauhi Rapmon. Tatapan mereka bertemu, membuat Jimin ketakutan sendirian. Apa yang akan terjadi setelah ini.


To becontinue....

Comments

  1. whoaaaa lanjuuuut lanjuuuuut aku suka ini sama ceritanya dari awal ngikutin teruuus

    ReplyDelete
  2. terimakasih sudah baca dari awal chinguXD makin semangat lanjutinnya hehe >///<

    ReplyDelete
  3. wah udah update aja ya author-nim :D . maaf baru bisa ngereview. dan aku tunggu lanjutannya . sangat ^^ hwaiting !!

    ReplyDelete
  4. hwaiting!! baru di post chapter 11 nya, semoga ga membuat lama menunggu XD

    ReplyDelete
  5. wah wah jungkook ternyata g ngerelain hayoloh mkin runyam
    “seperti seorang istri yang menyiapkan untuk suaminya”
    kyaaa aq jg berfikiran sprti itu taee, duh mkin sweet ja. yakin firstkissnya chim diambil ma tae
    nah tae ma rapmon keknya bkal saingan

    ReplyDelete
    Replies
    1. XD cinta pertaamaa,, dari kecil udah kissing kok merekanya :V~

      Delete

Post a Comment

Popular Posts