BOY IN LUV S2 Chapter 3 // JIN // JIMIN //
Maaf untuk keterlambatan dalam post BOY IN LUV S2 Chapter 3 nya kebetulan ada sedikit kendala,, tapi semua telah kembali ditangani Author :) Author bekerja sendiri dalam pembuatan naskah serta trailer dibantu ChocoYeppeo dalam design Covernya :3 mungkin untuk selanjutnya tidak akan ada hal yang membuat Rider menunggu lagi :)) #Nosilentrider #kelangsungan hidup Author ada ditangan para Rider ^^ Lupa untuk mengucapkan #HAPPYJEYOPDAY :* 180294 23rd ><
Sojin tersenyum pada Hongbin dan mengajak
Jimin langsung untuk pergi kedapur. Menikmati makanan yang sudah disiapi untuk
mereka berdua. Hongbin sangat senang karena bibi Park membuka hati pada namja
yang memang mirip dengan putranya. Dan jimin juga menikmati kehidupannya yang
sekarang tanpa masa lalunya. Itu lebih baik.
“terimakasih
atas kerja samanya. Sampai jumpa besok”
Taehyung
telah selesai bekerja dan hendak kembali ke Apartemennya. Semenjak hubungan Jin
dan Jimin dimulai, semua berubah. Dan Taehyung memutuskan untuk tinggal
sendirian dibanding tinggal bersama dengan Jimin yang telah menerima Jin
sebagai kekasihnya. Hari ini adalah hari dimana pastinya 2 namja itu telah
bahagia akan pernikahannya di Busan. Bukannya Taehyung tidak berniat untuk
menghadiri pernikahan mereka tetapi rasanya belum bisa untuk menerima ini
semua. Menerima akan Jin yang melamar dongsaeng angkatnya itu. seandainya saja
hidupnya tidak terjebak akan status sebagai hyung Jimin. mungkin dirinya lah
yang akan memenangkan hati Jimin saat ini. Appa dan Eommanya memang tidak
salah, dirinya lah yang menunjuk Jimin saat akan mengadopsi anggota baru untuk
keluarga mereka. Mengingat semuanya membuat sesak dihati Taehyung yang baru
saja lelah akan pekerjaannya disebuah mini market.
Sudah
lama sekali dirinya tidak menghubungi Jin ataupun Jimin. mungkin sekedar untuk
bertanya kabar hatinya tidak akan apa-apa. sekarang Taehyung benar-benar
merindukan namja kecil itu, yang seperti baru kemarin dirinya menggantikan
popok Jimin. sekarang Jimin beranjak dewasa mana mungkin dirinya tidak bisa
temui. Taehyung mengambil ponsel miliknya dari dalam saku dan mencoba
menghubungi nomor Jimin, entah kenapa Taehyung bingung. Mengapa nomor Jimin
tidak aktif. Apakah Jimin menghindari dirinya? Tidak mungkin. Berulang kali
Taehyung menelpon nomor itu tidak aktif-aktif. Karena tidak sabar akhirnya
Taehyung mencari nomor Jin namun sama halnya dengan nomor Jimin. 2 nomor yang
bersamaan tidak aktif, apa ada yang terjadi? Apa ada sesuatu yang tidak dirinya
ketahui.
Taehyung
mencari nomor ponsel Rapmon yang dirinya yakin pasti namja itu datang keacara
pernikahan Jimin dan Jin. Suara itu tersambung tapi belum ada yang
mengangkatnya. Berkali-kali ditelpon dan akhirnya terdengar suara dari sebrang
telpon. “annyeong Rapmon-sshi ini aku Kim Taehyung”
“Taehyung-ah.. jinjya?! yaak kemana saja
kau? Aku sangat bingung harus menghubungimu kemana dari kemarin-kemarin. Dimana
kau sekarang!?”
“ada
apa? apa terjadi sesuatu? Semua baik-baik saja kan? Pernikahan Jimin dan Jin
lancarkan?”
“aniyo.. sedikit ada masalah. Aku sangat
bingung harus mengatakannya darimana tapi...”
“berhenti
bicara omong kosong! Apa yang terjadi”
Taehyung
mendengarkan apa yang diinformasikan Rapmon setelah dirinya menghilang.
Pernikahan yang seharusnya terjadi dan membuat dongsaengnya itu bahagia malah
menjadi petaka untuk dirinya. Tubuh Taehyung benar-benar lemas saat mengetahui
mobil Jin mengalami kecelakaan yang menyebabkan Jimin harus menghilang.
“Bagaimana
mungkin Jimin menghilang?! Polisi... polisi...kau laporkan polisi!!”
“kami sudah melaporkan kejadian ini pada
polisi Taehyung-ah, tenangkan dirimu. Jimin pasti akan ditemukan polisi
secepatnya. Bagaimana jika kau kesini sekarang, Jin mengalami koma. Sejak
kecelakaan itu dia tidak sadarkan diri”
“lalu
Minseok-ah? Bagaimana dengan namja kecil itu? apa dia baik-baik saja?”
“kebetulan saat itu Minseok ikut mobilku dan
berniat berangkat dihari kedua saat acara resepsi untuk tidak mengganggu Jimin
dan Jin saat menjelang pernikahan mereka”
“kalau
begitu kirimkan alamat rumah sakit Jin sekarang. Aku akan segera kesana”
Setelah
semua disetujui Taehyung menunggu email yang mengarahkan alamat rumah sakit Jin. Tidak lama ponsel itu berdering dan
tertulislah dipesan email sebuah alamat rumah sakit yang cukup jauh dari tempat
tinggalnya sekarang. Mungkin butuh beberapa jam untuk sampai ditempat tujuan.
Tanpa berfikir lama Taehyung segera beranjak dari posisinya untuk mencari bus
yang mengambil jurusan ke busan. Dalam perjalanan Taehyung tidak mampu untuk
berfikir, dirinya kehilangan Jimin sampai seperti ini. Harus. Bagaimanapun polisi
harus menemukan dongsaeng kesayangannya itu. selama 3 jam perjalanan Taehyung
akhirnya telah sampai dibusan. Mencari Taxi dan segera mengarahkan Taxi itu ke
sebuah alamat rumah sakit. 1 jam dalam Taxi Taehyung sempat tertidur, dengan
mimpi Jimin yang menangis sendirian didalam kegelapan. Sangat menyayat hati
Taehyung ketika tidak mampu menghapus air mata Jimin saat dimimpinya.
Mungkinkah ini perasaan Jimin yang seperti memanggil dirinya untuk meminta
pertolongannya. Suara seorang namja paruh baya membangunkan dirinya untuk
memberi tau Taehyung bahwa dirinya telah sampai. Setelah membayar, Taehyung
langsung pergi memasuki rumah sakit.
“maaf
suster saya ingin bertanya ruang rawat 2015 atas nama Kim Seok Jin” tanyanya
pada suster yang berjaga didepan meja informasi. Yeoja itu memberi tau Taehyung
bahwa kamar itu berada dilantai 2 rumah sakit. “terimakasih” taehyung kembali
berlari melewati tangga darurat, dan mencari ruangan Jin. Akhirnya dirinya
bertemu dengan salah satu namja yang dirinya kenal Jeon Joon Kook.
“Taehyung-sshi”
Jungkook kebingungan akan kehadiran Taehyung yang entah tau dari mana keadaan
Jin.
“tuan
Jungkook, annyeong” sopannya pada mantan majikannya.
“aku
kesini ingin keruangan Jin, aku dengar Jin mengalami kecelakaan dan Jimin...”
jungkook tidak mengerti darimana Taehyung bisa mendapatkan kabar ini. Apakah
Jung Ho Seok yang mengatakan semua pada Kim Taehyung.
“maafkan
aku tidak mengabarimu sebelumnya.. aku tidak bisa mengatakannya sampai
Jimin-sshi benar-benar ditemukan polisi. Kau ingin menjenguk Jin? Dia diruangan
2015, ada Rapmon disana. Maaf aku tidak bisa mengantarmu karena hal-abeoji
menungguku dibawah” jelasnya dan pergi meninggalkan Taehyung setelah mendapatkan
tanda hormat dari namja mantan supirnya itu. taehyung memang sejak kecil
diajarkan untuk selalu hormat pada siapapun. Termasuk pada namja yang dulu
pernah menjadi mantan majikannya. Setelah melihat Jungkook pergi, Taehyung
segera mencari nomor ruang rawat Jin. Dan sampai pada pintu bernomor kan 2015
dengan nama Kim Seok Jin. Taehyung mengetuk pelan, dan membuka pintu itu
setelah diizinkan untuk masuk. Rapmon tersenyum akan kedatangan Taehyung.
“kau
sudah datang Taehyung-ah” suara Rapmon hanya didengar karena tatapan Taehyung
terfokus pada sosok namja yang tidak sadarkan diri dihadapannya. Jika Jin
separah ini bagaimana Jimin diluar sana.
“Jiminnieku..
bagaimana jiminieku diluar sanaa... jika Jin separah ini ditemukan.. bagaimana
dengan Jiminnie ku Rapmon-sshi” suara Taehyung bergetar hebat, dirinya tidak
dapat berkata-kata lagi. Hatinya seperti tertembak benda tajam saat mengetahui
Jimin menghilang. Rapmon menenangkan tubuh Taehyung dengan membawanya ke sofa
yang berada diruangan VIP Jin. “tenangkan dirimu” perintah Rapmon.
“polisi
masih mencari keberadaan Jimin, aku hanya ingin meminta satu hal padamu saat
ini. Tetap lah tenang dan jangan pernah menunjukan kegelisahan pada Kim
Minseok. karena namja itu masih kecil. aku dan Min yooni mengatakan pada namja kecil
itu bahwa Jimin sedang pergi untuk sebentar” rapmon memandangi Taehyung yang
terlihat sangat shock akibat keadaan yang tiba-tiba saja dialaminya.
“lalu
kemana Minseokie?” tanyanya pelan dengan menutup wajahnya frustasi.
“dia
sedang pergi untuk makan malam bersama Min Yoongi” tepukan kembali diberikan
Rapmon untuk memberikan semangat pada Taehyung.
“bagaimana
bisa ini semua terjadi? Bagaimana bisa mobil Jin mengalami kecelakaan seperti
ini? Mengapa Jimin sama sekali belum dapat ditemukan?” pertanyaan banyak
dilontarkan Taehyung yang tidak terima akan hilangnya Jimin.
“itu
yang menjadi pertanyaan polisi saat ini, kaca depan mobil Jin pecah dan polisi
mengatakan jika Jimin terlempar keluar mobil karena sabuk pengamannya tidak
digunakan. Hampir sekeliling lokasi itu ditelusuri yang ditemukan hanya darah
yang berada di dekat sungai. Terakhir kali aku menerima informasi kemungkinan
Jimin diselamatkan seseorang sekarang ini”
“lalu
kenapa orang itu tidak menghubungi polisi untuk mencari alamat Jimin yang sebenarnya”
“itu
yang menjadi kebingunganku. Aku yakin Jimin menyimpan tanda pengenalnya
didompet miliknya. Yang sekarang kita harapkan Jimin berada ditangan orang
baik” Rapmon duduk disamping Taehyung dengan menyandarkan tubuhnya disofa empuk
rumah sakit.
“bisa
kau memberi tahuku dimana lokasi kecelakaannya?”
“kau
jangan gila, ini sudah malam. Jika kau ingin mencari Jimin besok saja aku beri
tahukan lokasinya dimana”
“aku
ingin sekarang! Aku ingin memastikan sesuatu!”
“aku
tidak izinkan!”
“Rapmon
jangan keras kepala!”
“kau
yang keras kepala! Kau tau lokasi itu hampir setengahnya hutan. Jika
malam-malam kesana kemungkinan ada orang jahat ataupun hal-hal yang
membahayakanmu nantinya. Aku tidak izinkan!” saling diam sesaat, tetapi
Taehyung tetap berusaha untuk pergi. Terpaksa Rapmon bertindak kasar terhadap
Taehyung dengan mencengkarm lengannya. “sudah kukatakan! Itu berbahaya untuk
didatangi tengah malam. Jangan membuat masalah atau membuat kami kehilangan
untuk kedua kalinya” teriak Rapmon sedikit menyadarkan Taehyung. “Minseok
membutuhkanmu sekarang. Kau hyung dari Eommanya” Taehyung kembali duduk dan
berusaha menenangkan dirinya.
“mengertilah
Taehyung-ah.. Minseok sangat merindukanmu, tinggalah sementara disini untuk
menemaninya”
“begini..Minseok-ah..
Jimin mungkin sedang pergi sebentar untuk mengurus keperluannya. Mungkin
sebentar lagi dia akan pulang” Min Yoongi tersenyum pada Taehyung yang mencoba
untuk menghibur Minseok walaupun dirinya terluka akan kehilangan Jimin. rapmon
merangkul Min Yoongi untuk keluar
sebentar meninggalkan Taehyung dengan Minseok.
-------------------
Jungkook
yang kembali dari rumah sakit mulai kesal akan kedatangan Taehyung kembali
dirumah sakit. dirinya yang tidak sabar mencari Jung Ho Seok mulai berteriak
agar namja itu segera datang kepadanya. Tidak lama Ho Seok berdiri dan memeluk
Jungkook dari belakang. “kau mencariku?” tanyanya pada Jungkook.
“nde!
Apa maksudmu memberi tau Taehyung akan kondisi Jin ataupun Jimin. apa maksudmu
memberi tau alamat rumah sakit Jin kepadanya?! Kenapa kau tidak memberi tahuku
terlebih dulu!?”
“apa
maksudmu? Aku tidak melakukan apa-apa. aku tidak menghubungi namja itu atau
memberi taunya” Ho Seok melepaskan pelukannya pada Jungkook yang tiba-tiba saja
marah kepada dirinya. “lagi pula jika namja itu tau tentang Jin ataupun Jimin
apa urusannya dengan kita? Dia itu kan Hyungnya Park Jimin”
“aku...aku..”
Jungkook terdiam berfikir. Ho Seok yang mulai tidak mengerti dengan jalan
pikiran kekasihnya mulai memojokan Jungkook kedekat tembok.
“apa
yang kau takutkan? Kenapa kau begitu peduli kepada mantanmu itu chagi..”
semakin mendekat tubuh mereka semakin menyatu “apa kau sesak melihat itu semua?
Apa kau tidak menyukai keberadaan Taehyung disisi mantan kekasihmu? Apa kau
masih mencintai Jin?” tanyanya terus menerus membuat Jungkook harus mendorong
tubuh Ho seok untuk menjauhi darinya.
“aku
hanya tidak ingin Jin nantinya... menjadi lama sadarnya ... jika terlalu banyak
yang menunggunya...kau tau kan kata dokter...dia membutuhkan waktu istirahat
banyak..”
“apa
pedulimu, kau adalah kekasihku..bukan kekasihnya lagi. Bisakah kau menjaga
jarakmu sedikit darinya? Karena disini aku sedikit merasakan sakit.. tidak
sedikit tapi luar biasa sakit”
“kau
tidak ada hak melarangku menjalin hubungan dengan siapapun! Kau memang
kekasihku tapi kau tidak bisa mengatur hidupku! Yaak Jung Ho Seok!”pandangan
Jungkook menajam memperlihatkan emosi yang tidak kalah besar dari namja
dihadapannya. Jung Ho Seok sama sekali tidak mengerti apa yang membuat namja
cantik ini berubah menjadi angkuh sekali. Apa fikiran negativenya benar jika
dirinya akan mengambil kesempatan ketika Jimin menghilang untuk kembali pada
Jin. “aku ingin istirahat. Permisi” tanpa menunggu Jung Ho Seok berfikir,
Jungkook langsung melangkah pergi untuk memasuki kamarnya.
Jung
Ho Seok hanya memandangi kekasihnya dari belakang hingga namja cantik itu
menutup pintu kamarnya, “menyebalkan.. kau berubah seketika Jeon Joon Kook”.
-------------------
[
Kediaman Hongbin ]
Sebuah
gelas pecah tiba-tiba. Sojin dan Hongbin memperhatikan Jimin yang baru saja
menjatuhkan gelas dari meja makan. Keduanya tentu saja langsung menghampiri
Jimin yang sepertinya kaget akan sesuatu. Sojin memegang kedua tangan Jimin
menyadarkan akan kehadirannya disamping Jimin. “gwenchanayo? Chimchim? Ayo
bangun biarkan Hongbin yang merapihkannya” ujar Sojin dengan Hongbin yang siap
mebereskan serpihan-serpihan kaca dari pecahnya gelas Jimin. “Chimchimku?”
Sojin mengelap keringat Jimin yang masih saja diam tidak merespon panggilannya.
Hongbin yang sadar akan Sojin yang diacuhkan Jimin mulai membantunya untuk
menyadarkan Jimin dari lamunannya.
“Chimchim!”
teriakan Hongbin berhasil membuat Jimin menoleh kearahnya.
“kau
memanggilku namja bodoh Hongbin-sshi?” Hongbin yang mendapatkan pertanyaan itu
merasa aneh, tidak ada bahkan tidak pernah dirinya mengatakan namja bodoh pada
Jimin. Sojin yang mendengarnya juga merasa aneh. “tidak ada yang memanggilmu
namja bodoh Chimchim. Kau ini kenapa?” tanya Sojin yang masih merapihkan poni
Jimin.
“aku
mendengar seseorang memanggilku namja bodoh Eomma, suara itu sepertinya aku
kenal. Tapi bukan suara Hongbin-sshi ataupun eomma”
“mungkin
kau lelah. Lebih baik Eomma mengantarmu kekamar untuk istirahat. Arraso?” Sojin
mengajak Jimin pergi kekamarnya untuk istirahat. Sedangkan Hongbin hanya diam
menunggu bibi Sojin keluar setelah menidurkan Jimin kekamar. Wajah Hongbin
cukup cemas, saat Jimin mengatakan sesuatu yang tidak dirinya mengerti. Apa itu
bagian dari masa lalunya? Ada seseorang yang mencoba untuk membangun ingatan
Jimin kembali. Tapi siapa? Hongbin berharap ini tidak akan lama terjadi.
15
menit menunggu bibi Park dikamar Jimin, akhirnya yeoja itu keluar dan
menghampiri Hongbin. Mungkin sebaiknya tanda pengenal Jimin harus diberi
tahukan bibi Park karena dirinya telah menerima kehadiran Jimin sebagai
pengganti Chimchim yang hilang. Hongbin mengambil salah satu tanda pengenal dan
memegang erat tanda pengenal Jimin.
“bibi
Park” panggil Hongbin sambil memperhatikan Park Sojin yang kembali ke dapur
untuk membereskan bekas makan malam mereka bertiga.
“bibi
Park..apakah ucapanku itu benar. Tentang namja itu sangat mirip dengan Chimchim
dimasa kecil” Hongbin duduk disalah satu bangku dekat meja makan agar lebih
dekat berbicara dengan bibi Park.
“Hongbin
dengarkan aku. Tidak ada seorang Eomma yang menerima namja lain sebagai
putranya. Termasuk kau yang memaksakan kehadiran namja itu untuk menggantikan
posisi Chimchim yang belum aku temukan sama sekali. Aku menganggapmu sudah
sebagai pengganti Chimchim, karena kau memang sejak awal mencintai Chimchimku.
Tapi entah kenapa sekarang aku kecewa pada dirimu” jelas Sojin dengan
membereskan beberapa piring yang kotor.
“bibi
Park... jadi dari tadi kebersamaan kita..?”
“itu
semua hanya sandiwara yang aku lakukan.. aku tidak menyukai namja itu yang
memang sangat mirip dengan putraku.. dan ini semua karena keinginanmu.. aku
berpura-pura mau menjadi eommanya” mendengar itu semua Hongbin sedikit sedih
karena bibi Park berbohong akan sikapnya pada Jimin. “aku akan pulang hari ini,
jika namja itu mencariku katakan apa saja yang ingin kau katakan.”
Mereka
saling berpandangan tidak berbicara apa-apa. tetapi yang mereka yakini Jimin
telah tertidur pulas saat ini. Mungkin akan bermimpi indah dengan cukup lama.
Dikamar Jimin, angin bertiup cukup kencang hingga kaca jendela sedikit
mengeluarkan suara berdenyit. Gesekan angin serta pepohonan yang dekat dengan
kaca jendela membuat suara itu terdengar jelas oleh Jimin dalam tidurnya.
Walaupun dirinya mendengar jelas sepertinya Jimin tidak berniat sedikit pun
untuk bangun dari tidurnya.
On Dream
“namja
bodoh? Kau lupa pada diriku?” suara itu terdengar, suara seseoarng yang sering
kali memanggilnya. Tapi kenapa dirinya tidak bisa melihat wajahnya dengan
jelas. “namja bodoh..aku butuh dirimu.. aku mohon.. namja bodoh” suara itu
meringis kesakitan. Tapi apa yang harus dirinya lakukan.
“kau
itu siapa? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” genggaman tangan itu menghilang
digantikan dengan sosok namja kecil yang menghampirinya. Wajah namja kecil itu
begitu lucu menggemaskan.
“anak
kecil?” namja kecil itu diam diam memandangi dirinya.
“kau
harus memanggilku hyung... kau itu dongsaengku..! jangan memanggilku anak
kecil. arraso.. ----nie?”
“nie?
Maksudnya?”
“kau
itu kan ----nieku.. dan selamanya akan menjadi ----nieku. Ayo pulang, akan aku
masakan makanan kesukaanmu” tidak lama
suara anak kecil lain mendatangi dirinya dan anak kecil dihadapan Jimin.
“---hyung-nim..
kau sedang bersama orang asing lagi. Nanti kau akan diculik looh” namja kecil
dihadapan Jimin mulai kebingungan sambil memandangi dirinya dengan namja kecil
yang terlihat sebaya dengan dirinya. “kenapa ---nie ku ada 2?”
“aku
yang asli. Dia ---nie yang palsu. Buktinya dia tidak mengenalimu” karena merasa
aneh, namja kecil dihadapan Jimin mulai menjauh darinya karena takut. Lalu
mengajak namja kecil yang sebaya dengannya pergi menjauh dari dirinya. Jimin
kebingungan karena tidak mengerti dengan maksud akan tempat ini. “tunggu...
kalian mau kemana.. tunggu” jimin terus mengejar 2 namja kecil yang
meninggalkan dirinya. “tungguu....” teriaknya terus menerus..
Off Dream
“Aku
mohon tunggu akuuuuu!” Jimin berteriak hingga Hongbin berlari untuk dapat
membangunkan namja manis yang tertidur dikamarnya. Belum selesai Hongbin bicara
pada bibi Sojin namja itu lebih mengutamakan Jimin yang sedang kesakitan akibat
masa lalunya yang selalu saja masuk kedalam mimpinya.
“Chimchim...sadarlaaah”
tepuk demi tepukan diberikan Hongbin dan itu berhasil membangunkan Jimin dengan
keringat disekujur tubuhnya. Lagi dan lagi Jimin tidak mengerti mengapa begitu
sakit setiap kali dirinya memimpikan sesuatu yang dirinya tidak tau apa itu.
“gwenchana?” Hongbin memberikan air putih yang tersedia di meja samping tidur
Jimin. jimin mengangguk memberi tau Hongbin bahwa dirinya akan baik-baik saja.
tidak percaya dengan ucapan namja manis itu. Honbin mengambil sebuah obat yang
sebelumnya diberikan dokter sebagai obat penenang untuk Jimin.
“minumlah..
dan kau bisa istirahat kembali” perintahnya pada Jimin, tetapi gelengan diterima Hongbin
dari respon penolakan Jimin.
“aku
tidak bisa tidur kembali. Kepalaku terasa sakit, kemana Eommaku? Bukankah dia
tidur disampingku sebelumnya?”
“Eommamu
punya urusan lain dikantornya. Dia memintaku untuk menjagamu sementara waktu
ini. Aku mohon dengarkan perkataanku. Minum ini maka kau akan beristirahat
dengan tenang, ini akan membuatmu lebih baik Chimchim”
Tidak
dapat menolak lagi, Jimin meraih obat dari tangan Hongbin dan langsung meminum
obat yang diberikannya. Jangka waktu dekat reaksi obat itu sangat cepat.
Membuat Jimin mengantuk dan langsung tertidur berseling 5 menit setelah meminum
obat yang dirinya berikan. Park Sojin yang tidak mendengar suara apa-apa lagi,
hendak bersiap untuk kembali kekediamannya. Namun langkahnya untuk keluar
terhenti ketika menemukan sebuah tanda pengenal yang bertuliskan nama Park
Jimin dengan foto dari namja yang ditolong Hongbin. Wajah Sojin berubah menjadi
pucat. Mematung hingga tidak mampu melangkahkan kakinya lebih jauh lagi dari
posisinya. Takdir mengatakan bahwa dirinya lah yang dicari selama ini. Namja
yang ditolong Hongbin adalah Chimchim yang sebenarnya. Selama ini Hongbin sama
sekali tidak mengetahui nama asli Chimchim, dan selalu suka memanggil Jimin
dengan sebutan Chimchim. Dan selama 20 tahun itu juga Hongbin hanya mengenal
Chimchim sebagai nama asli dari namja yang dicintainya. Suara kaki Hongbin yang
menuruni tangga sama sekali tidak terdengar Sojin.
Hongbin
yang melihat bibi Park masih berada dikediamannya melangkah perlahan dan
mendekati yeoja cantik itu. “bibi Park
kau tidak pu—” Hongbin menatap sebuah tanda pengenal yang dirinya dari awal
sembunyikan. Akibat kecerobohannya dirinya akan kehilangan namja yang sangat
mirip dengan Chimchim sekarang. Dirinya yakin bibi Park akan segera
mengembalikan Chimchimnya pada keluarganya yang sebenarnya. Jika nama asli
Chimchim bukanlah Park Jimin. Tetapi mata Sojin mengeluarkan air mata itu
membuat Hongbin harus menunggu responnya. Apakah dirinya sangat kecewa pada Hongbin
karena tidak menceritakan ini semua sejak awal.
“bibi
aku bisa jelaskan—” belum Hongbin menyelesaikan kalimatnya, Sojin langsung
berlari kekamar Jimin diikuti Hongbin dari belakang. yeoja itu memeluk Jimin
sangat erat sama halnya dengan pertama kali dirinya temui. Apakah ini juga
drama yang dirinya lakukan agar Hongbin tidak marah.
“bibi
aku tau kau kecewa padaku, tapi aku akan mengembalikan namja itu pada
keluarganya. Aku janji bibi Park” Sojin tidak mendengarkan apa yang Hongbin
ucapkan. Yeoja itu terus menjerit tapi tidak bisa membangunkan Jimin yang
tertidur dengan obat penenang dari sang dokter sebelum waktunya. Hongbin yang
kebingungan mulai mendekati Sojin yang terus menjerit memanggil nama Chimchim
putranya. “bibi... sungguh maafkan akuuu...”
“Hongbin...namja
ini...namjaa iniii....adalah Chimchim yang kau cari selama ini.. dia Park Jimin
putrakuuu yang asli”
Pernyataan
Sojin membuat Hongbin terduduk lemas dihadapan yeoja yang sedang meringis tidak
tertahankan lagi saat menemukan anak kandungnya. Perasaan bercampur kaget dan
senang dirasakan Hongbin yang menatap sendu pada wajah manis yang dimiliki
Jimin, “bagaimana
bisa...feelingku...sejak awal benar?” tanyanya lagi dan mendapatkan anggukan
dari Sojin yang mulai tersenyum bahagia.
“di
tanda pengenal tertera nama asli Chimchim yaitu Park Jimin putra dari Park
Chanyeol, kau saat itu masih kecil dan selalu menyukai panggilan kecil Jimin..
aku tidak bisa berbuat apa-apa. karena kau sangat menyukai nama itu ketika
memanggil Jimin” Sojin mencium kening
Jimin yang sedang tertidur pulas. “kau tau kan, aku dan Appa Chimchim tidak
pernah akur karena perjodohan yang dilakukan antar kedua keluarga. dan sejak
kehadiran Chimchim dalam kandunganku namja itu semakin keras pada sikapnya..
dia mengatakan jika dirinya lepas kontrol dan menyalahkanku akan kandunganku
sendiri. sikap kasarnya tidak ditunjukan padaku saja, itu semua tetap terjadi
hingga Chimchim berusia 5 tahun, aku
tidak sanggup melihat itu semua. Aku pergi dari kediaman dan menyerahkan
Chimchim pada panti asuhan yang paling aman. Bodohnya mobilku malah menabrak
hingga aku tidak bisa menjemput putraku lagi disana” Hongbin mendengarkan
cerita yang dulunya tidak diketahui sepenuhnya dari kejadian hilangnya namja
yang sejak kecil dicintainya.
“aku
menitipkan Chimchim selama sebulan namun ketika aku kembali putra ku sudah
tidak lagi disana, putraku sudah mendapatkan keluarga baru yang menyayanginya.
Keluarga panti mengatakan jika keluarga itu bermarga Kim dan mereka berjanji
untuk tidak menggantikan nama putraku. Karena hanya itulah yang aku berikan
padanya, mereka yakin suatu hari nanti aku akan menjemput Chimchim”
“bibi
Park..”
“sekarang
aku sudah mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak Chimchim. Bukan tapi
Park Jimin, aku akan berterimakasih pada keluarga Kim karena sudah merawat
putraku hingga sampai tumbuh sebesar ini” bibi Park meletakan tubuh Jimin yang
sebelumnya dalam dekapan dirinya, dan mencium pipi Jimin. “dan dia sangat manis
tidak berbeda dengan Chimchimku yang dulu, benar bukan Hongbin” matanya melekat
memperhatikan tiap lekuk wajah Jimin yang sedang tidur.
“bibi
mau kemana? Aku harap bibi tidak mencari keluarga Jimin yang sudah merawat
dirinya”
“waeyo
Hongbin? Bukankah seharusnya aku berterimasih pada keluarga yang sudah mengurus putraku sejak kecil.
terlebih lagi keluarga itu sudah memenuhi janjinya dengan tidak mengganti nama
Park Jimin agar aku bisa mengenalinya. Bukankah aku—”
“jika
bibi pergi kekeluarga angkat Jimin, bagaimana bibi bisa menjelaskan pada Jimin.
bahwa bibi sempat meninggalkan dirinya di panti asuhan? Dan bagaimana jika
nanti dirinya membenci bibi yang tega meninggalkan dirinya dipanti asuhan?
Sekarang ini Jimin tidak dapat mengingat masalalunya. Bagaimana jika nanti
dirinya ingat semua?” Hongbin menahan kepergian Sojin, dan itu berhasil. Yeoja
itu tidak berfikir sampai saat itu, bagaimana jika nantinya Jimin bertanya
hal-hal yang dirinya tidak tau harus jawab apa. sekarang Sojin mulai terdiam
menunggu Hongbin menghampiri dirinya. “bibi tenang saja. aku akan mencari
keluarga angkat Jimin dan mengatakan rasa terimakasih bibi pada mereka. Jadi
bibi tenang saja, yang harus dilakukan Jimin tidak boleh mengetahui tentang
keluarga angkatnya. Nanti bibi yang akan sulit harus menjelaskan apa pada
Jimin” Hongbin memeluk Sojin yang masih terfokus akan pandangannya mengawasi
Jimin.
Jimin
berbisik kecil dalam mimpinya dengan air mata yang sedikit berlinang ketika
tertidur “hyung” gumamnya kecil. suara kecil itu tidak membuat Hongbin ataupun
Sojin menoleh kearah Jimin. memang Jimin tidak sadar dalam mengatakan hyung tetapi rasa rindunya ingin sekali
mengingat masa lalunya. Lalu bagaimana bisa Jimin mengingat masa lalunya jika
tidak ada yang membantunya.
To becontinue...


nah lo bner kan itu chimchim mrk.. oh jd gtu knp chim bsa msuk panti
ReplyDeleteah ksihan tae psti strez bgt dy
jungkook kmu berubah jd smkin egois, chim ksihan dy diboongin
terimakasih telah mengikuti jalan ceritanya^^
Deletesenangnya punya rider setia /makin semangat \^o^/