BOY IN LUV S2 Chapter 3 // JIN // JIMIN //



Maaf untuk keterlambatan dalam post BOY IN LUV S2 Chapter 3 nya kebetulan ada sedikit kendala,, tapi semua telah kembali ditangani Author :) Author bekerja sendiri dalam pembuatan naskah serta trailer dibantu ChocoYeppeo dalam design Covernya :3 mungkin untuk selanjutnya tidak akan ada hal yang membuat Rider menunggu lagi :)) #Nosilentrider #kelangsungan hidup Author ada ditangan para Rider ^^ Lupa untuk mengucapkan #HAPPYJEYOPDAY :* 180294 23rd ><

Sojin tersenyum pada Hongbin dan mengajak Jimin langsung untuk pergi kedapur. Menikmati makanan yang sudah disiapi untuk mereka berdua. Hongbin sangat senang karena bibi Park membuka hati pada namja yang memang mirip dengan putranya. Dan jimin juga menikmati kehidupannya yang sekarang tanpa masa lalunya. Itu lebih baik.


“terimakasih atas kerja samanya. Sampai jumpa besok”

Taehyung telah selesai bekerja dan hendak kembali ke Apartemennya. Semenjak hubungan Jin dan Jimin dimulai, semua berubah. Dan Taehyung memutuskan untuk tinggal sendirian dibanding tinggal bersama dengan Jimin yang telah menerima Jin sebagai kekasihnya. Hari ini adalah hari dimana pastinya 2 namja itu telah bahagia akan pernikahannya di Busan. Bukannya Taehyung tidak berniat untuk menghadiri pernikahan mereka tetapi rasanya belum bisa untuk menerima ini semua. Menerima akan Jin yang melamar dongsaeng angkatnya itu. seandainya saja hidupnya tidak terjebak akan status sebagai hyung Jimin. mungkin dirinya lah yang akan memenangkan hati Jimin saat ini. Appa dan Eommanya memang tidak salah, dirinya lah yang menunjuk Jimin saat akan mengadopsi anggota baru untuk keluarga mereka. Mengingat semuanya membuat sesak dihati Taehyung yang baru saja lelah akan pekerjaannya disebuah mini market.

Sudah lama sekali dirinya tidak menghubungi Jin ataupun Jimin. mungkin sekedar untuk bertanya kabar hatinya tidak akan apa-apa. sekarang Taehyung benar-benar merindukan namja kecil itu, yang seperti baru kemarin dirinya menggantikan popok Jimin. sekarang Jimin beranjak dewasa mana mungkin dirinya tidak bisa temui. Taehyung mengambil ponsel miliknya dari dalam saku dan mencoba menghubungi nomor Jimin, entah kenapa Taehyung bingung. Mengapa nomor Jimin tidak aktif. Apakah Jimin menghindari dirinya? Tidak mungkin. Berulang kali Taehyung menelpon nomor itu tidak aktif-aktif. Karena tidak sabar akhirnya Taehyung mencari nomor Jin namun sama halnya dengan nomor Jimin. 2 nomor yang bersamaan tidak aktif, apa ada yang terjadi? Apa ada sesuatu yang tidak dirinya ketahui.

Taehyung mencari nomor ponsel Rapmon yang dirinya yakin pasti namja itu datang keacara pernikahan Jimin dan Jin. Suara itu tersambung tapi belum ada yang mengangkatnya. Berkali-kali ditelpon dan akhirnya terdengar suara dari sebrang telpon. “annyeong Rapmon-sshi ini aku Kim Taehyung”

“Taehyung-ah.. jinjya?! yaak kemana saja kau? Aku sangat bingung harus menghubungimu kemana dari kemarin-kemarin. Dimana kau sekarang!?”

“ada apa? apa terjadi sesuatu? Semua baik-baik saja kan? Pernikahan Jimin dan Jin lancarkan?”

“aniyo.. sedikit ada masalah. Aku sangat bingung harus mengatakannya darimana tapi...”

“berhenti bicara omong kosong! Apa yang terjadi”

Taehyung mendengarkan apa yang diinformasikan Rapmon setelah dirinya menghilang. Pernikahan yang seharusnya terjadi dan membuat dongsaengnya itu bahagia malah menjadi petaka untuk dirinya. Tubuh Taehyung benar-benar lemas saat mengetahui mobil Jin mengalami kecelakaan yang menyebabkan Jimin harus menghilang.

“Bagaimana mungkin Jimin menghilang?! Polisi... polisi...kau laporkan polisi!!”

“kami sudah melaporkan kejadian ini pada polisi Taehyung-ah, tenangkan dirimu. Jimin pasti akan ditemukan polisi secepatnya. Bagaimana jika kau kesini sekarang, Jin mengalami koma. Sejak kecelakaan itu dia tidak sadarkan diri”

“lalu Minseok-ah? Bagaimana dengan namja kecil itu? apa dia baik-baik saja?”

“kebetulan saat itu Minseok ikut mobilku dan berniat berangkat dihari kedua saat acara resepsi untuk tidak mengganggu Jimin dan Jin saat menjelang pernikahan mereka”

“kalau begitu kirimkan alamat rumah sakit Jin sekarang. Aku akan segera kesana”

Setelah semua disetujui Taehyung menunggu email yang mengarahkan alamat rumah sakit Jin.  Tidak lama ponsel itu berdering dan tertulislah dipesan email sebuah alamat rumah sakit yang cukup jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Mungkin butuh beberapa jam untuk sampai ditempat tujuan. Tanpa berfikir lama Taehyung segera beranjak dari posisinya untuk mencari bus yang mengambil jurusan ke busan. Dalam perjalanan Taehyung tidak mampu untuk berfikir, dirinya kehilangan Jimin sampai seperti ini. Harus. Bagaimanapun polisi harus menemukan dongsaeng kesayangannya itu. selama 3 jam perjalanan Taehyung akhirnya telah sampai dibusan. Mencari Taxi dan segera mengarahkan Taxi itu ke sebuah alamat rumah sakit. 1 jam dalam Taxi Taehyung sempat tertidur, dengan mimpi Jimin yang menangis sendirian didalam kegelapan. Sangat menyayat hati Taehyung ketika tidak mampu menghapus air mata Jimin saat dimimpinya. Mungkinkah ini perasaan Jimin yang seperti memanggil dirinya untuk meminta pertolongannya. Suara seorang namja paruh baya membangunkan dirinya untuk memberi tau Taehyung bahwa dirinya telah sampai. Setelah membayar, Taehyung langsung pergi memasuki rumah sakit.

“maaf suster saya ingin bertanya ruang rawat 2015 atas nama Kim Seok Jin” tanyanya pada suster yang berjaga didepan meja informasi. Yeoja itu memberi tau Taehyung bahwa kamar itu berada dilantai 2 rumah sakit. “terimakasih” taehyung kembali berlari melewati tangga darurat, dan mencari ruangan Jin. Akhirnya dirinya bertemu dengan salah satu namja yang dirinya kenal Jeon Joon Kook.

“Taehyung-sshi” Jungkook kebingungan akan kehadiran Taehyung yang entah tau dari mana keadaan Jin.

“tuan Jungkook, annyeong” sopannya pada mantan majikannya.

“berhenti memanggilku tuan, kau sudah bukan supirku Taehyung-sshi. Terlebih lagi sedang apa kau disini?”

“aku kesini ingin keruangan Jin, aku dengar Jin mengalami kecelakaan dan Jimin...” jungkook tidak mengerti darimana Taehyung bisa mendapatkan kabar ini. Apakah Jung Ho Seok yang mengatakan semua pada Kim Taehyung.

“maafkan aku tidak mengabarimu sebelumnya.. aku tidak bisa mengatakannya sampai Jimin-sshi benar-benar ditemukan polisi. Kau ingin menjenguk Jin? Dia diruangan 2015, ada Rapmon disana. Maaf aku tidak bisa mengantarmu karena hal-abeoji menungguku dibawah” jelasnya dan pergi meninggalkan Taehyung setelah mendapatkan tanda hormat dari namja mantan supirnya itu. taehyung memang sejak kecil diajarkan untuk selalu hormat pada siapapun. Termasuk pada namja yang dulu pernah menjadi mantan majikannya. Setelah melihat Jungkook pergi, Taehyung segera mencari nomor ruang rawat Jin. Dan sampai pada pintu bernomor kan 2015 dengan nama Kim Seok Jin. Taehyung mengetuk pelan, dan membuka pintu itu setelah diizinkan untuk masuk. Rapmon tersenyum akan kedatangan Taehyung.


“kau sudah datang Taehyung-ah” suara Rapmon hanya didengar karena tatapan Taehyung terfokus pada sosok namja yang tidak sadarkan diri dihadapannya. Jika Jin separah ini bagaimana Jimin diluar sana.

“Jiminnieku.. bagaimana jiminieku diluar sanaa... jika Jin separah ini ditemukan.. bagaimana dengan Jiminnie ku Rapmon-sshi” suara Taehyung bergetar hebat, dirinya tidak dapat berkata-kata lagi. Hatinya seperti tertembak benda tajam saat mengetahui Jimin menghilang. Rapmon menenangkan tubuh Taehyung dengan membawanya ke sofa yang berada diruangan VIP Jin. “tenangkan dirimu” perintah Rapmon.

“polisi masih mencari keberadaan Jimin, aku hanya ingin meminta satu hal padamu saat ini. Tetap lah tenang dan jangan pernah menunjukan kegelisahan pada Kim Minseok. karena namja itu masih kecil. aku dan Min yooni mengatakan pada namja kecil itu bahwa Jimin sedang pergi untuk sebentar” rapmon memandangi Taehyung yang terlihat sangat shock akibat keadaan yang tiba-tiba saja dialaminya.

“lalu kemana Minseokie?” tanyanya pelan dengan menutup wajahnya frustasi.

“dia sedang pergi untuk makan malam bersama Min Yoongi” tepukan kembali diberikan Rapmon untuk memberikan semangat pada Taehyung.

“bagaimana bisa ini semua terjadi? Bagaimana bisa mobil Jin mengalami kecelakaan seperti ini? Mengapa Jimin sama sekali belum dapat ditemukan?” pertanyaan banyak dilontarkan Taehyung yang tidak terima akan hilangnya Jimin.

“itu yang menjadi pertanyaan polisi saat ini, kaca depan mobil Jin pecah dan polisi mengatakan jika Jimin terlempar keluar mobil karena sabuk pengamannya tidak digunakan. Hampir sekeliling lokasi itu ditelusuri yang ditemukan hanya darah yang berada di dekat sungai. Terakhir kali aku menerima informasi kemungkinan Jimin diselamatkan seseorang sekarang ini”

“lalu kenapa orang itu tidak menghubungi polisi untuk mencari alamat Jimin yang sebenarnya”

“itu yang menjadi kebingunganku. Aku yakin Jimin menyimpan tanda pengenalnya didompet miliknya. Yang sekarang kita harapkan Jimin berada ditangan orang baik” Rapmon duduk disamping Taehyung dengan menyandarkan tubuhnya disofa empuk rumah sakit.

“bisa kau memberi tahuku dimana lokasi kecelakaannya?”

“kau jangan gila, ini sudah malam. Jika kau ingin mencari Jimin besok saja aku beri tahukan lokasinya dimana”

“aku ingin sekarang! Aku ingin memastikan sesuatu!”

“aku tidak izinkan!”

“Rapmon jangan keras kepala!”

“kau yang keras kepala! Kau tau lokasi itu hampir setengahnya hutan. Jika malam-malam kesana kemungkinan ada orang jahat ataupun hal-hal yang membahayakanmu nantinya. Aku tidak izinkan!” saling diam sesaat, tetapi Taehyung tetap berusaha untuk pergi. Terpaksa Rapmon bertindak kasar terhadap Taehyung dengan mencengkarm lengannya. “sudah kukatakan! Itu berbahaya untuk didatangi tengah malam. Jangan membuat masalah atau membuat kami kehilangan untuk kedua kalinya” teriak Rapmon sedikit menyadarkan Taehyung. “Minseok membutuhkanmu sekarang. Kau hyung dari Eommanya” Taehyung kembali duduk dan berusaha menenangkan dirinya.

“mengertilah Taehyung-ah.. Minseok sangat merindukanmu, tinggalah sementara disini untuk menemaninya”

“TaeTae Hyung-nim” suara Minseok terdengar dibalik pintu kamar Jin, namja kecil itu langsung melompat kedalam pelukan Taehyung. “TaeTae Hyung-nim Eommaku...Eommaku sedang tidak disini.. apa Hyung-nim bersama dengan Eomma ku?” tanyanya polos menatap kedua mata Taehyung yang terlihat bingung harus menjelaskan apa.

“begini..Minseok-ah.. Jimin mungkin sedang pergi sebentar untuk mengurus keperluannya. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang” Min Yoongi tersenyum pada Taehyung yang mencoba untuk menghibur Minseok walaupun dirinya terluka akan kehilangan Jimin. rapmon merangkul Min  Yoongi untuk keluar sebentar meninggalkan Taehyung dengan Minseok.


-------------------


Jungkook yang kembali dari rumah sakit mulai kesal akan kedatangan Taehyung kembali dirumah sakit. dirinya yang tidak sabar mencari Jung Ho Seok mulai berteriak agar namja itu segera datang kepadanya. Tidak lama Ho Seok berdiri dan memeluk Jungkook dari belakang. “kau mencariku?” tanyanya pada Jungkook.

“nde! Apa maksudmu memberi tau Taehyung akan kondisi Jin ataupun Jimin. apa maksudmu memberi tau alamat rumah sakit Jin kepadanya?! Kenapa kau tidak memberi tahuku terlebih dulu!?”

“apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa-apa. aku tidak menghubungi namja itu atau memberi taunya” Ho Seok melepaskan pelukannya pada Jungkook yang tiba-tiba saja marah kepada dirinya. “lagi pula jika namja itu tau tentang Jin ataupun Jimin apa urusannya dengan kita? Dia itu kan Hyungnya Park Jimin”

“aku...aku..” Jungkook terdiam berfikir. Ho Seok yang mulai tidak mengerti dengan jalan pikiran kekasihnya mulai memojokan Jungkook kedekat tembok.

“apa yang kau takutkan? Kenapa kau begitu peduli kepada mantanmu itu chagi..” semakin mendekat tubuh mereka semakin menyatu “apa kau sesak melihat itu semua? Apa kau tidak menyukai keberadaan Taehyung disisi mantan kekasihmu? Apa kau masih mencintai Jin?” tanyanya terus menerus membuat Jungkook harus mendorong tubuh Ho seok untuk menjauhi darinya.

“aku hanya tidak ingin Jin nantinya... menjadi lama sadarnya ... jika terlalu banyak yang menunggunya...kau tau kan kata dokter...dia membutuhkan waktu istirahat banyak..”

“apa pedulimu, kau adalah kekasihku..bukan kekasihnya lagi. Bisakah kau menjaga jarakmu sedikit darinya? Karena disini aku sedikit merasakan sakit.. tidak sedikit tapi luar biasa sakit”

“kau tidak ada hak melarangku menjalin hubungan dengan siapapun! Kau memang kekasihku tapi kau tidak bisa mengatur hidupku! Yaak Jung Ho Seok!”pandangan Jungkook menajam memperlihatkan emosi yang tidak kalah besar dari namja dihadapannya. Jung Ho Seok sama sekali tidak mengerti apa yang membuat namja cantik ini berubah menjadi angkuh sekali. Apa fikiran negativenya benar jika dirinya akan mengambil kesempatan ketika Jimin menghilang untuk kembali pada Jin. “aku ingin istirahat. Permisi” tanpa menunggu Jung Ho Seok berfikir, Jungkook langsung melangkah pergi untuk memasuki kamarnya.

Jung Ho Seok hanya memandangi kekasihnya dari belakang hingga namja cantik itu menutup pintu kamarnya, “menyebalkan.. kau berubah seketika Jeon Joon Kook”.



-------------------


[ Kediaman Hongbin ]


Sebuah gelas pecah tiba-tiba. Sojin dan Hongbin memperhatikan Jimin yang baru saja menjatuhkan gelas dari meja makan. Keduanya tentu saja langsung menghampiri Jimin yang sepertinya kaget akan sesuatu. Sojin memegang kedua tangan Jimin menyadarkan akan kehadirannya disamping Jimin. “gwenchanayo? Chimchim? Ayo bangun biarkan Hongbin yang merapihkannya” ujar Sojin dengan Hongbin yang siap mebereskan serpihan-serpihan kaca dari pecahnya gelas Jimin. “Chimchimku?” Sojin mengelap keringat Jimin yang masih saja diam tidak merespon panggilannya. Hongbin yang sadar akan Sojin yang diacuhkan Jimin mulai membantunya untuk menyadarkan Jimin dari lamunannya.

“Chimchim!” teriakan Hongbin berhasil membuat Jimin menoleh kearahnya.

“kau memanggilku namja bodoh Hongbin-sshi?” Hongbin yang mendapatkan pertanyaan itu merasa aneh, tidak ada bahkan tidak pernah dirinya mengatakan namja bodoh pada Jimin. Sojin yang mendengarnya juga merasa aneh. “tidak ada yang memanggilmu namja bodoh Chimchim. Kau ini kenapa?” tanya Sojin yang masih merapihkan poni Jimin.

“aku mendengar seseorang memanggilku namja bodoh Eomma, suara itu sepertinya aku kenal. Tapi bukan suara Hongbin-sshi ataupun eomma”

“mungkin kau lelah. Lebih baik Eomma mengantarmu kekamar untuk istirahat. Arraso?” Sojin mengajak Jimin pergi kekamarnya untuk istirahat. Sedangkan Hongbin hanya diam menunggu bibi Sojin keluar setelah menidurkan Jimin kekamar. Wajah Hongbin cukup cemas, saat Jimin mengatakan sesuatu yang tidak dirinya mengerti. Apa itu bagian dari masa lalunya? Ada seseorang yang mencoba untuk membangun ingatan Jimin kembali. Tapi siapa? Hongbin berharap ini tidak akan lama terjadi.

15 menit menunggu bibi Park dikamar Jimin, akhirnya yeoja itu keluar dan menghampiri Hongbin. Mungkin sebaiknya tanda pengenal Jimin harus diberi tahukan bibi Park karena dirinya telah menerima kehadiran Jimin sebagai pengganti Chimchim yang hilang. Hongbin mengambil salah satu tanda pengenal dan memegang erat tanda pengenal Jimin.

“bibi Park” panggil Hongbin sambil memperhatikan Park Sojin yang kembali ke dapur untuk membereskan bekas makan malam mereka bertiga. 

“waeyo Hongbin? Apa ada yang kau khawatirkan, namja itu baik-baik saja. dan sekarang dirinya sudah tertidur”

“bibi Park..apakah ucapanku itu benar. Tentang namja itu sangat mirip dengan Chimchim dimasa kecil” Hongbin duduk disalah satu bangku dekat meja makan agar lebih dekat berbicara dengan bibi Park.

“Hongbin dengarkan aku. Tidak ada seorang Eomma yang menerima namja lain sebagai putranya. Termasuk kau yang memaksakan kehadiran namja itu untuk menggantikan posisi Chimchim yang belum aku temukan sama sekali. Aku menganggapmu sudah sebagai pengganti Chimchim, karena kau memang sejak awal mencintai Chimchimku. Tapi entah kenapa sekarang aku kecewa pada dirimu” jelas Sojin dengan membereskan beberapa piring yang kotor.

“bibi Park... jadi dari tadi kebersamaan kita..?”

“itu semua hanya sandiwara yang aku lakukan.. aku tidak menyukai namja itu yang memang sangat mirip dengan putraku.. dan ini semua karena keinginanmu.. aku berpura-pura mau menjadi eommanya” mendengar itu semua Hongbin sedikit sedih karena bibi Park berbohong akan sikapnya pada Jimin. “aku akan pulang hari ini, jika namja itu mencariku katakan apa saja yang ingin kau katakan.”

Mereka saling berpandangan tidak berbicara apa-apa. tetapi yang mereka yakini Jimin telah tertidur pulas saat ini. Mungkin akan bermimpi indah dengan cukup lama. Dikamar Jimin, angin bertiup cukup kencang hingga kaca jendela sedikit mengeluarkan suara berdenyit. Gesekan angin serta pepohonan yang dekat dengan kaca jendela membuat suara itu terdengar jelas oleh Jimin dalam tidurnya. Walaupun dirinya mendengar jelas sepertinya Jimin tidak berniat sedikit pun untuk bangun dari tidurnya.


On Dream

Jimin sedang asik bermain dengan Hongbin dan Eommanya yang baru tadi makan bersama dengannya. tiba-tiba seseorang datang dengan membanting pintu mengajak dirinya untuk segera pergi dari kebahagiaannya sekarang ini.

“lepaskan aku.. kau itu siapa?” tanya Jimin namun namja yang menariknya tidak menjawab apa-apa. itu membuat Jimin semakin takut dan meronta untuk lepas dari tangan yang memegangnya sangat erat. Jimin takut sangat takut hingga tidak tau harus bagaimana. Dirinya berharap Hongbin membantu untuk melepaskan genggaman yang menyakitkannya. Dalam pandangan Jimin, Hongbin hanya diam tidak membantu dirinya.

“namja bodoh? Kau lupa pada diriku?” suara itu terdengar, suara seseoarng yang sering kali memanggilnya. Tapi kenapa dirinya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. “namja bodoh..aku butuh dirimu.. aku mohon.. namja bodoh” suara itu meringis kesakitan. Tapi apa yang harus dirinya lakukan.

“kau itu siapa? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” genggaman tangan itu menghilang digantikan dengan sosok namja kecil yang menghampirinya. Wajah namja kecil itu begitu lucu menggemaskan.

“anak kecil?” namja kecil itu diam diam memandangi dirinya.

“kau harus memanggilku hyung... kau itu dongsaengku..! jangan memanggilku anak kecil. arraso.. ----nie?”

“nie? Maksudnya?”

“kau itu kan ----nieku.. dan selamanya akan menjadi ----nieku. Ayo pulang, akan aku masakan makanan kesukaanmu”  tidak lama suara anak kecil lain mendatangi dirinya dan anak kecil dihadapan Jimin.

“---hyung-nim.. kau sedang bersama orang asing lagi. Nanti kau akan diculik looh” namja kecil dihadapan Jimin mulai kebingungan sambil memandangi dirinya dengan namja kecil yang terlihat sebaya dengan dirinya. “kenapa ---nie ku ada 2?”

“aku yang asli. Dia ---nie yang palsu. Buktinya dia tidak mengenalimu” karena merasa aneh, namja kecil dihadapan Jimin mulai menjauh darinya karena takut. Lalu mengajak namja kecil yang sebaya dengannya pergi menjauh dari dirinya. Jimin kebingungan karena tidak mengerti dengan maksud akan tempat ini. “tunggu... kalian mau kemana.. tunggu” jimin terus mengejar 2 namja kecil yang meninggalkan dirinya. “tungguu....” teriaknya terus menerus..

Off Dream

“Aku mohon tunggu akuuuuu!” Jimin berteriak hingga Hongbin berlari untuk dapat membangunkan namja manis yang tertidur dikamarnya. Belum selesai Hongbin bicara pada bibi Sojin namja itu lebih mengutamakan Jimin yang sedang kesakitan akibat masa lalunya yang selalu saja masuk kedalam mimpinya.

“Chimchim...sadarlaaah” tepuk demi tepukan diberikan Hongbin dan itu berhasil membangunkan Jimin dengan keringat disekujur tubuhnya. Lagi dan lagi Jimin tidak mengerti mengapa begitu sakit setiap kali dirinya memimpikan sesuatu yang dirinya tidak tau apa itu. “gwenchana?” Hongbin memberikan air putih yang tersedia di meja samping tidur Jimin. jimin mengangguk memberi tau Hongbin bahwa dirinya akan baik-baik saja. tidak percaya dengan ucapan namja manis itu. Honbin mengambil sebuah obat yang sebelumnya diberikan dokter sebagai obat penenang untuk Jimin.

“minumlah.. dan kau bisa istirahat kembali” perintahnya pada Jimin, tetapi gelengan diterima Hongbin dari respon penolakan Jimin.

“aku tidak bisa tidur kembali. Kepalaku terasa sakit, kemana Eommaku? Bukankah dia tidur disampingku sebelumnya?”

“Eommamu punya urusan lain dikantornya. Dia memintaku untuk menjagamu sementara waktu ini. Aku mohon dengarkan perkataanku. Minum ini maka kau akan beristirahat dengan tenang, ini akan membuatmu lebih baik Chimchim”


Tidak dapat menolak lagi, Jimin meraih obat dari tangan Hongbin dan langsung meminum obat yang diberikannya. Jangka waktu dekat reaksi obat itu sangat cepat. Membuat Jimin mengantuk dan langsung tertidur berseling 5 menit setelah meminum obat yang dirinya berikan. Park Sojin yang tidak mendengar suara apa-apa lagi, hendak bersiap untuk kembali kekediamannya. Namun langkahnya untuk keluar terhenti ketika menemukan sebuah tanda pengenal yang bertuliskan nama Park Jimin dengan foto dari namja yang ditolong Hongbin. Wajah Sojin berubah menjadi pucat. Mematung hingga tidak mampu melangkahkan kakinya lebih jauh lagi dari posisinya. Takdir mengatakan bahwa dirinya lah yang dicari selama ini. Namja yang ditolong Hongbin adalah Chimchim yang sebenarnya. Selama ini Hongbin sama sekali tidak mengetahui nama asli Chimchim, dan selalu suka memanggil Jimin dengan sebutan Chimchim. Dan selama 20 tahun itu juga Hongbin hanya mengenal Chimchim sebagai nama asli dari namja yang dicintainya. Suara kaki Hongbin yang menuruni tangga sama sekali tidak terdengar Sojin.


Hongbin yang melihat bibi Park masih berada dikediamannya melangkah perlahan dan mendekati  yeoja cantik itu. “bibi Park kau tidak pu—” Hongbin menatap sebuah tanda pengenal yang dirinya dari awal sembunyikan. Akibat kecerobohannya dirinya akan kehilangan namja yang sangat mirip dengan Chimchim sekarang. Dirinya yakin bibi Park akan segera mengembalikan Chimchimnya pada keluarganya yang sebenarnya. Jika nama asli Chimchim bukanlah Park Jimin. Tetapi mata Sojin mengeluarkan air mata itu membuat Hongbin harus menunggu responnya. Apakah dirinya sangat kecewa pada Hongbin karena tidak menceritakan ini semua sejak awal.

“bibi aku bisa jelaskan—” belum Hongbin menyelesaikan kalimatnya, Sojin langsung berlari kekamar Jimin diikuti Hongbin dari belakang. yeoja itu memeluk Jimin sangat erat sama halnya dengan pertama kali dirinya temui. Apakah ini juga drama yang dirinya lakukan agar Hongbin tidak marah.

“bibi aku tau kau kecewa padaku, tapi aku akan mengembalikan namja itu pada keluarganya. Aku janji bibi Park” Sojin tidak mendengarkan apa yang Hongbin ucapkan. Yeoja itu terus menjerit tapi tidak bisa membangunkan Jimin yang tertidur dengan obat penenang dari sang dokter sebelum waktunya. Hongbin yang kebingungan mulai mendekati Sojin yang terus menjerit memanggil nama Chimchim putranya. “bibi... sungguh maafkan akuuu...”

“Hongbin...namja ini...namjaa iniii....adalah Chimchim yang kau cari selama ini.. dia Park Jimin putrakuuu yang asli”

Pernyataan Sojin membuat Hongbin terduduk lemas dihadapan yeoja yang sedang meringis tidak tertahankan lagi saat menemukan anak kandungnya. Perasaan bercampur kaget dan senang dirasakan Hongbin yang menatap sendu pada wajah manis yang dimiliki Jimin,  “bagaimana bisa...feelingku...sejak awal benar?” tanyanya lagi dan mendapatkan anggukan dari Sojin yang mulai tersenyum bahagia.

“di tanda pengenal tertera nama asli Chimchim yaitu Park Jimin putra dari Park Chanyeol, kau saat itu masih kecil dan selalu menyukai panggilan kecil Jimin.. aku tidak bisa berbuat apa-apa. karena kau sangat menyukai nama itu ketika memanggil Jimin”  Sojin mencium kening Jimin yang sedang tertidur pulas. “kau tau kan, aku dan Appa Chimchim tidak pernah akur karena perjodohan yang dilakukan antar kedua keluarga. dan sejak kehadiran Chimchim dalam kandunganku namja itu semakin keras pada sikapnya.. dia mengatakan jika dirinya lepas kontrol dan menyalahkanku akan kandunganku sendiri. sikap kasarnya tidak ditunjukan padaku saja, itu semua tetap terjadi hingga Chimchim berusia  5 tahun, aku tidak sanggup melihat itu semua. Aku pergi dari kediaman dan menyerahkan Chimchim pada panti asuhan yang paling aman. Bodohnya mobilku malah menabrak hingga aku tidak bisa menjemput putraku lagi disana” Hongbin mendengarkan cerita yang dulunya tidak diketahui sepenuhnya dari kejadian hilangnya namja yang sejak kecil dicintainya.


“aku menitipkan Chimchim selama sebulan namun ketika aku kembali putra ku sudah tidak lagi disana, putraku sudah mendapatkan keluarga baru yang menyayanginya. Keluarga panti mengatakan jika keluarga itu bermarga Kim dan mereka berjanji untuk tidak menggantikan nama putraku. Karena hanya itulah yang aku berikan padanya, mereka yakin suatu hari nanti aku akan menjemput Chimchim”

“bibi Park..”

“sekarang aku sudah mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak Chimchim. Bukan tapi Park Jimin, aku akan berterimakasih pada keluarga Kim karena sudah merawat putraku hingga sampai tumbuh sebesar ini” bibi Park meletakan tubuh Jimin yang sebelumnya dalam dekapan dirinya, dan mencium pipi Jimin. “dan dia sangat manis tidak berbeda dengan Chimchimku yang dulu, benar bukan Hongbin” matanya melekat memperhatikan tiap lekuk wajah Jimin yang sedang tidur.

“bibi mau kemana? Aku harap bibi tidak mencari keluarga Jimin yang sudah merawat dirinya”

“waeyo Hongbin? Bukankah seharusnya aku berterimasih pada keluarga  yang sudah mengurus putraku sejak kecil. terlebih lagi keluarga itu sudah memenuhi janjinya dengan tidak mengganti nama Park Jimin agar aku bisa mengenalinya. Bukankah aku—”

“jika bibi pergi kekeluarga angkat Jimin, bagaimana bibi bisa menjelaskan pada Jimin. bahwa bibi sempat meninggalkan dirinya di panti asuhan? Dan bagaimana jika nanti dirinya membenci bibi yang tega meninggalkan dirinya dipanti asuhan? Sekarang ini Jimin tidak dapat mengingat masalalunya. Bagaimana jika nanti dirinya ingat semua?” Hongbin menahan kepergian Sojin, dan itu berhasil. Yeoja itu tidak berfikir sampai saat itu, bagaimana jika nantinya Jimin bertanya hal-hal yang dirinya tidak tau harus jawab apa. sekarang Sojin mulai terdiam menunggu Hongbin menghampiri dirinya. “bibi tenang saja. aku akan mencari keluarga angkat Jimin dan mengatakan rasa terimakasih bibi pada mereka. Jadi bibi tenang saja, yang harus dilakukan Jimin tidak boleh mengetahui tentang keluarga angkatnya. Nanti bibi yang akan sulit harus menjelaskan apa pada Jimin” Hongbin memeluk Sojin yang masih terfokus akan pandangannya mengawasi Jimin.

Jimin berbisik kecil dalam mimpinya dengan air mata yang sedikit berlinang ketika tertidur “hyung” gumamnya kecil. suara kecil itu tidak membuat Hongbin ataupun Sojin menoleh kearah Jimin. memang Jimin tidak sadar dalam mengatakan hyung tetapi rasa rindunya ingin sekali mengingat masa lalunya. Lalu bagaimana bisa Jimin mengingat masa lalunya jika tidak ada yang membantunya. 



To becontinue...





Comments

  1. nah lo bner kan itu chimchim mrk.. oh jd gtu knp chim bsa msuk panti
    ah ksihan tae psti strez bgt dy
    jungkook kmu berubah jd smkin egois, chim ksihan dy diboongin

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih telah mengikuti jalan ceritanya^^
      senangnya punya rider setia /makin semangat \^o^/

      Delete

Post a Comment

Popular Posts