BOY IN LUV S2 Chapter 9 // JIN // JIMIN //



Part ini terinspirasi dari instrumental Promise dalam sebuah drama korea :) jika kalian ingin merasakan lebih akan suasana dari Part ini dengarkanlah ketika kalian membacanya^^

https://www.youtube.com/watch?v=xpTXccyb6bs

“hyung ada apa? cerita padaku. Apa hyung bertemu dengan Eomma tadi? Hyung mengikuti mobil yang mengantar Luhan kan? Bagaimana dengan keadaan Eommaku. Aku sudah mengikuti saran hyung untuk tidak menceritakan apa-apa pada Luhan” goyangan tubuh Minseok tertahan akan pelukan Yoongi yang semakin mengerat. “hyung....katakan padaku! Aku mohon”

Taehyung pergi kesebuah tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya di Busan. Sebuah rumah yang begitu dirindukan akan kehangatan masa lalunya saat bersama kedua orangtuanya dan Jimin. Merasakan perasaan kehilangan untuk kedua kalinya membuat hidup Taehyung semakin hancur. Sebelumnya Taehyung telah kehilangan orangtuanya lalu sekarang dirinya harus kehilangan Jimin. bagaimana mungkin Taehyung dapat berdiri sendiri tanpa dongsaeng kesayangannya itu.

Kediaman yang sudah tidak terawat lagi tidak mengurungkan niat Taehyung untuk memasukinya. Halaman yang luas mengingatkan saat dulu dirinya sedang berlari bersama dengan Jimin. walaupun bukan saudara kandungnya, Taehyung sangat menyayangi Jimin. bahkan perasaannya berubah ketika dewasa menjadi mencintai namja manis itu. status yang membuat Taehyung tidak bisa memiliki hati Jimin. taehyung melangkah melewati gerbang kediaman lamanya yang sangat besar. Kehidupan mewahnya lenyap tersapu angin begitu saja. persaingan bisnis menghancurkan Appanya dan menjadikan Taehyung Anak yatim piatu sekarang ini. Itu semua baru saja Taehyung rasakan saat Jimin tidak bersamanya. Entah kenapa Taehyung saat ini benar-benar rapuh.

“Jiminnie kau dimana? Aku merindukanmu. Aku benar-benar merindukanmu” Taehyung duduk didepan pintu kediaman lamanya. Memeluk kedua lutut kakinya dan menenggelamkan wajahnya agar dapat menyembunyikan kesedihannya.

Rapmon yang mengantar Taehyung hanya diam didalam mobil. Dirinya tidak ingin mengganggu kerinduan Taehyung akan keluarganya dan Jimin. sudah sepantasnya Rapmon mengerti bagaimana jika dirinya berada diposisi Taehyung yang telah kehilangan untuk kedua kalinya. Kesempatan mereka menemui Jimin hanya ada kemungkinan jika mereka berada di Seoul. Rapmon mulai berfikir agar Jin dipindahkan kerumah sakit diSeoul. Itu semua untuk mempermudah pencariannya akan hilangnya Jimin.

“sebaiknya aku menghubungi Jungkook dirumah sakit”



----------------------


Hongbin berdiam diri didalam kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Memandangi langit malam dalam keadaan membisu. Hatinya kini sedang merasakan sakit mengingat Jimin memeluk yeoja dihadapannya secara langsung. Hongbin benci harus melihat moment itu kembali, tapi sepertinya Jimin membutuhkan kehadiran Kim Shin Gyu. Lalu apakah Hongbin rela meminta bantuan yeoja yang baru saja menerima kehangatan namja manis yang dicintainya. “apa yang harus kulakukan agar bisa membuatmu mendengarkan ucapanku Chimchim. Kau yang sekarang bukanlah kau yang dulu, kau tidak mau mendengarkan apa yang kukatakan. Apa yang dapat aku lakukan agar kau mengerti Chimchim” Hongbin bicara pada dirinya sendiri.

Jimin memasuki kamar Hongbin tanpa mengetuk terlebih dahulu. Namja manis itu dapat melihat keberadaan Hongbin yang hanya ditemani sinar bulan dari jendela yang berada didekatnya. Jimin ingin menyalakan lampu kamar, tapi Hongbin melarangnya. Sepertinya Hongbin benar-benar marah pada Jimin yang menentang ucapannya.

“Hongbin-sshi aku...”

“Aku tidak ingin membicarakan apapun saat ini Chimchim. Apa kau ingin istirahat dikamar ini? jika kau ingin istirahat dikamar ini aku akan pergi kekamar lain”

Hongbin berjalan pergi meninggalkan kamar yang sebelumnya digunakan untuk menyendiri. Meninggalkan Jimin seoarng diri. Ugh, ini bukanlah yang Jimin inginkan. Membuat kekasihnya cemburu mungkin kesalahan terbesar yang kini dihadapi Jimin. Pintu yang tertutup dari luar menyadarkan Jimin jika dirinya telah sendirian diruangan gelap. bulan yang sebelumnya bersinar menemani Hongbin tertutup awan saat kekasihnya memutuskan untuk keluar kamar. Dadanya sesak, kepalanya terasa sakit, Jimin tidak mampu bernafas secara normal. Untuk berteriak memanggil kembali Hongbin saja Jimin tidak bisa. Jimin ketakutan sendirian dalam keadaan gelap gulita, apakah Hongbin tidak tau akan hal itu? jimin berlutut berusaha untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Meyakinkan dirinya akan Hongbin yang sebentar lagi datang membuka pintunya kembali. Dalam beberapa menit Jimin tidak bisa menahan lebih lama, tenaganya terkuras tanpa ada oksigen yang memberikan dirinya kehidupan. Hongbin tidak kunjung membuka pintu kamarnya.

“siapa saja...tolong.. tolong aku..” suara Jimin yang pelan tidak terdengar siapapun, namja manis itupun jatuh pingsan dengan keringat yang membasahi seluruh pakaiannya. Dinginnya malam semakin membawa Jimin pada keterpurukan. Hatinya kelam, gelap dan sunyi tidak ada yang mampu mendengar panggilannya kecuali...


----------------------


Taehyung yang tidak sengaja tertidur di depan pintu kediaman lamanya merasakan akan Jimin yang memanggilnya. Dirinya berlari untuk mencari darimana suara itu berasal. Jimin kesakitan, dan Taehyung sampai sekarang tidak berhasil menemui keberadaan namja manis itu.

“hyung...”

Suara itu semakin terdengar. Taehyung mendobrak pintu kediaman lamanya yang telah digembok dan itu berhasil membuat Rapmon segera keluar dari mobilnya. Namja tinggi itu tidak ingin Taehyung melakukan sesuatu saat emosinya sedang tidak stabil. Rapmon yang memasuki gerbang menghentikan aksi Taehyung yang menyakiti dirinya sendiri dengan mendobrak masuk pitnu yang terkunci kuat. Namja itu menepis pertahanan Rapmon yang mencoba menghentikan Taehyung untuk menyelamatkan Jimin. dan saat itulah pukulan Rapmon mulai menghentikan kegiatan Taehyung. keduanya saling terdiam. Rapmon sepertinya sudah kehabisan cara menghilangkan kegelisahannya terhadap sahabatnya. Darah menetes disela-sela bibir Taehyung yang telah menerima pukulan keras dari Rapmon.

“Apa yang kau lakukan! Apa kau gila mendobrak pintu yang digembok seperti ini! kemana akal sehatmu Kim Taehyung!”

Taehyung hanya diam. Rapmon mengajak sahabatnya itu untuk kembali kerumah sakit sekedar mengobati luka yang Rapmon berikan, tapi Taehyung menggeleng. “bukan kau saja yang kehilangan Jimin, Taehyung-ah. Aku Yoongi juga kehilangan Jimin, lalu bagaimana namja yang koma dirumah sakit? namja kecil yang memanggilnya Eomma? Bagaimana dengan mereka?”

“seharusnya kalian tidak pernah hadir dalam hidup kami, seharusnya aku dan Jimin tidak pernah berpisah seperti ini!” Perkataan itu seakan menghancurkan hati Rapmon.

“apa kau menganggap ini kesalahan kami? Hilangnya Jimin apa itu karena kesalahan kami?”

Rapmon mencekik pakaian Taehyung dan memojokan namja yang lebih pendek darinya itu ketembok. “dengarkan baik-baik Kim Taehyung! aku akan menganggap ucapanmu ini adalah emosimu sesaat, kita tidak seharusnya seperti ini. sekarang kita kembali untuk mengobati lukamu dan menggantikan Jungkook menjaga Jin. aku sudah meminta namja itu untuk memindahkan rumah sakit Jin ke Seoul. agar mempermudah kita mencari Jimin juga, aku yakin sekarang rumah sakit sudah mengurusnya dan membawa Jin ke Seoul dengan ambulance” Rapmon menarik Taehyung paksa menuju mobilnya. Taehyung yang masih menatap kediaman lamanya menemukan bayangan yang mirip dengan Appa dan Eommanya.

Bayangan yeoja itu menggerakan bibirnya dengan mimik tanpa suara, “—temukan Park Jimin demi kami, Taehyung-ah” kira-kira seperti itulah yang dapat ditangkap Taehyung dari setiap gerakan bibir yang Eommanya berikan. Ini seperti sebuah semangat yang diberikan keluarganya agar Taehyung tidak emosi seperti sekarang yang dilakukan. Namja kecil berlari dari belakang kedua orang tua Taehyung, itu adalah Jimin kecil. namja kecil itu tersenyum kearah Taehyung, “—hyung akan menemukanku. Aku yakin” Taehyung menangis sejadi-jadinya karena kerinduan yang mendalam pada Jimin. Rapmon yang tadinya menarik Taehyung mulai mengendurkan pegangannya pada kemeja yang digunakan Taehyung. membiarkan Taehyung meluapkan kesedihan di kediaman lamanya sebelum mereka pergi. Taehyung terus berteriak menyebut nama Jimin, berharap pemilik nama itu kembali dan menghentikan tangisannya.


----------------------


Jungkook memandangi wajah Jin yang masih koma, setelah mengurus kepindahan Jin kerumah sakit Seoul sesuai permintaan Rapmon. kini Jin tidak lagi dirumah sakit busan melainkan dirumah sakit Seoul. Sepertinya namja cantik itu mulai lelah dan hanya bisa tertidur disofa yang telah disiapkan kamar VIP untuk pengunjung Pasien. Jungkook mengirimkan pesan pada Rapmon sebuah alamat dimana Jin kini dirawat, dan Dengan selimut seadanya Jungkook merebahkan tubuhnya di Sofa untuk beristirahat. Kedua matanya yang sudah tergambar lingkaran hitam dipejamkan sejenak.

Jung Ho Seok yang sejak tadi sembunyi menemani Jungkook tersadar akan kedatangan Min Yoongi dibelakangnya. “Apa kau tidak masuk?” tanyanya pada Ho Seok yang berniat menghindar. Yoongi yang masih menatap kearah ruangan Jin berbicara pada Ho Seok, “aku mohon jangan lepaskan Jungkook dari hidupmu”

Jung Ho Seok menoleh kearah Yoongi yang berbicara tanpa melihat kearahnya.

“Namja itu sepertinya mulai memanfaatkan keadaan untuk kembali pada Jin-sshi. Aku yakin kau juga merasakan hal yang sama. Maka dari itu aku memintamu agar tidak melepaskan Jungkook dan membiarkan posisi Jimin direbutnya”

“Jungkook bukanlah orang yang seperti itu. dia telah melupakan masalalunya, dan mengikhlaskan hubungan Jin serta Jimin—”

“aku tidak merasakan itu Jung Ho Seok. Kau hanya mencoba menghibur dirimu sendiri dengan tidak menatap kenyataan bahwa kekasihmu itu masih memiliki perasaan pada Jin. aku benar kan?”

Jung Ho Seok berjalan tidak membalas lagi apa yang menjadi pembicaraannya dengan Yoongi. Dengan fikiran yang melayang entah kemana, Jung Ho Seok menabrak seseorang yang baru saja keluar dari lift rumah sakit. suara tubrukan itu menjadi perhatian Yoongi yang langsung memperhatikan kemana Jung Ho Seok pergi. Rapmon membantu Taehyung berdiri, sedangkan Ho Seok berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun. Yoongi menatap kearah Taehyung yang menampilkan wajah yang lusuh dengan luka dibibir serta sembab yang terlihat sangat jelas diarea matanya.

“Rapmon-sshi apa yang terjadi dengan Taehyung-ah?” tanya Yoongi yang khawatir dengan keadaan hyung angkat Jimin. “kenapa Taehyung-ah berdarah seperti ini”

“nanti aku ceritakan padamu. Untuk sekarang bantu aku membawa Taehyung ke perawat agar dapat diobati” Yoongi membantu Taehyung yang tubuhnya sedikit lebih tinggi darinya. Sedangkan Rapmon mengajak Ho Seok untuk kembali keruangan rawat Jin namun namja itu menolak.

“kau itu kenapa Ho Seok-sshi, bukankah kekasihmu sedang berada disana. apa kau tidak berniat menemaninya?”

“aniyo. Aku dapat panggilan dari hal-abeoji Jungkook untuk menjemput rekan bisnisnya dibandara. Aku permisi” Rapmon ingin mencegah kepergiannya tapi jika nanti namja itu dipecat akan menjadi masalah untuknya. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal tentang Jungkook pada Ho Seok. Rapmon pergi setelah melihat pintu lift rumah sakit tertutup dan membawa Jung Ho Seok kelantai dasar.

Yoongi membawa Taehyung keruang perawat untuk menngobati luka bibirnya yang berdarah. Karena penasaran Yoongi meninggalkan Taehyung yang sedang diobati dan pergi menuju dimana kekasihnya berada.

Rapmon yang masuk keruangan baru Jin menemukan Jungkook telah tertidur pulas disofa. Tidak tega untuk membangunkannya Rapmon hanya merapihkan selimut yang hanya setengah Jungkook kenakan. Wajah Rapmon sedikit tidak mengerti dengan sikap yang Jungkook berikan selama Jin dirawat. Ini bukan sikap seorang teman. Seakan lebih dari teman. Pikiran Rapmon sama seperti Yoongi menganggap bahwa Jungkook masih menaruh hati pada kekasih Jimin. bunyi suara mesin yang memberi tau aktivitas jantung Jin masih stabil terdengar. Rapmon mengistirahatkan dirinya dikursi yang berada disamping tempat tidur Jin. membiarkan Yoongi yang menangani dan memberi arahan pada Taehyung. hati Rapmon untuk sekarang tidak tenang hingga berhasil memukul sahabatnya yang sedang sedih. “Teman macam apa aku ini” sesalnya frustasi.

“kau sudah kembali?” Rapmon yang mendengar suara Jungkook tiba-tiba terkejut. Namja cantik itu merapihkan selimut yang ditambahkan Rapmon saat dirinya tertidur. “kemana Taehyung-ah? Bukankah kau tadi bersama dengannya?”

Rapmon tidak menjawab.

“Ada apa? Apa semua baik-baik saja?”

“semua baik-baik saja. taehyung sedang bersama Yoongi saat ini diruang perawatan, ada insiden yang membuatku harus memukulnya” jujur Rapmon dengan memalingkan wajahnya dari Jungkook.

“kau memukul Taehyung-ah?” suara Yoongi kembali mengagetkan namja tinggi yang sedang mengistirahatkan fikirannya sejenak. Selama berhubungan dengan Rapmon, ini lah Emosi yang akan sulit dikendalikan Yoongi jika kekasihnya sudah mendidih akan amarahnya. Sudah keputusannya untuk tidak mengatakn tentang keberadaan Jimin yang berada ditangan namja yang memiliki emosi 11:12 dengan Rapmon.

Rapmon membalas singkat “nde”.

Jungkook tidak lagi bertanya dan lebih memilih pergi keluar ruangan rawat Jin. membiarkan Yoongi dan Rapmon menyelesaikan pembicaraan yang sebaiknya dirinya tidak ikut campur. Keinginan Jungkook hanya satu, melihat Jin sadar tanpa menambah masalah baru dengan beberapa namja yang kini hanya bisa saling berpandangan. Suara pintu terdengar telah tertutup.

“kenapa kau memukul Kim Taehyung? kenapa kau sama sekali tidak bisa menahan emosimu disaat-saat seperti ini? jika namja itu melakukan kesalahan ataupun berbuat sesuatu yang mengesalkanmu seharusnya kau menenangkannya. Kau tau kan namja itu kehilangan dongsaengnya, dan kau malah memukulnya. Apa yang ada dalam fikiranmu?”

“aku sudah menahan emosiku. Tapi Taehyung terus menyakiti dirinya sendiri, aku tidak bisa membiarkan itu. dan berfikir jika memukulnya, dia akan sadar dengan apa yang sedang dilakukan. Aku bersumpah, aku tidak berniat buruk saat memukulnya. Chagi” Menghadapi masalah ini memang sepertinya sangat sulit untuk dapat menahan emosi satu sama lain. Terlebih lagi Rapmon adalah namja yang mudah melayangkan pukulannya. Mungkin sudah dibatas kesabaran kekasihnya saat menghadapi Taehyung. dan seharusnya Yoongi dapat mengerti akan hal itu.

Namja cantik yang berstatus kekasih Rapmon sekarang penuh dengan rasa kekecewaan pada dirinya sendiri. menghela nafas berkali-kali dan membuat Rapmon penasaran apa yang sedang dihadapi kekasihnya itu. Rapmon berjalan mendekati Yoongi lalu duduk disampingnya. Wajah nya yang pucat tidak dapat Yoongi sembunyikan dari Rapmon yang memang sudah lama menjaling hubungan dengannya. “kau kenapa Chagi menghela nafas terus-menerus? Apa kau ingin aku memberikan bantuan nafas?” ledek Rapmon, menambah kekesalahan pada Yoongi yang kebingungan akan masalahnya. Yoongi memperhatikan wajah Rapmon yang mengkhawatirkannya, lalu apakah pantas Yoongi tidak mengatakan apa-apa tentang apa yang diketahuinya. Ugh, ini benar-benar hal yang sulit jika diputuskan. Yoongi hanya tidak menginginkan adanya perkelahian yang melukai Rapmon. salah satu tangan Yoongi mengelus wajah Rapmon, dan Rapmon menikmati itu. “Apa kau merindukan saat kita berada dikamar?”

Yoongi memukul pikiran kepala Rapmon agar bersih dari pikiran Yadongnya, “Appoooo!” rintih Rapmon dengan mengusap kepalanya yang berdenyut.

“kau itu tidak bisa sedikit saja serius dengan keadaan sekarang? Aishh selalu saja pikiranmu itu tidak dapat aku tebak”

“lalu kenapa kau terus menghela nafas dan tiba-tiba mengelus wajahku begitu lembut. Namja mana yang tidak memikirkan hal—”

“sudah hentikan! Aku tidak mau mendengarkan ucapanmu yang Yadong!” Rapmon mengambil salah satu tangan Yoongi yang tadi memukul kepalanya. tangan ini adalah tangan yang begitu putih dan indah, lembut jika digunakan untuk mengusap pipinya. Dan Rapmon ingin mengulanginya “lalu apa yang sedang kau fikirkan hingga wajahmu pucat seperti ini Chagi?” tanyanya dengan menatap Yoongi langsung.

“tidak apa-apa aku hanya lelah” bohongnya pada Rapmon.

Keheningan terjadi sesaat dengan lamunan yang Yoongi pandangi keadaan Jin terbaring lemah ditempat tidurnya. Namja yang begitu kuat dan mampu bertahan sampai seperti ini. yoongi sangat menyukai sikap Jin yang selalu saja dingin terhadapnya. Pesonanya, senyuman sinisnya, kesendiriannya, sangat mirip dengan kehidupan yang Yoongi alami. Keluarga Jin sama sekali tidak datang hanya sekedar menjenguk putra satu-satunya. Dunia bisnis benar-benar kejam bagi Yoongi yang memang sudah lama kehilangan hangatnya kebersamaan sebuah keluarga. hingga pada akhirnya bertemu dengan Jin yang nasibnya sama seperti dirinya. Dan dengan berjalannya waktu bertemu dengan Jimin dan Taehyung yang membuka mata hati Yoongi bahwa hidup tidak lah seburuk yang dipikirkannya. Jimin mengajarkan kebersamaan sahabat bisa menghapus perasaan rindu Yoongi terhadap keluarganya. Itu kenyataannya. Yoongi sudah tidak manja seperti dulu, tidak Egois, bahkan bisa tenang dalam menjalani setiap masalahnya. Dalam lamunannya, Yoongi disadarkan Rapmon akan suaranya yang mengajak namja cantik itu bicara.

“Jin kasihan sekali seharusnya namja itu bisa berkumpul dengan keluarganya kemarin, tapi ternyata ada hal mendadak yang membuat orang tuanya membatalkan penerbangannya kekorea. Namja ini benar-benar menyedihkan, aku yakin jika dirinya sadar dia tidak akan mau hidup lebih lama saat mengetahui namja yang dicintainya menghilang”

Yoongi menundukan kepalanya, menyembunyikan perasaan bersalah yang mungkin akan terbaca jika Rapmon memperhatikan gerak-geriknya. Kedua tangan Yoongi mengepal untuk bertahan terhadap keputusannya.

Malam itu Minseok dititipkan Maid-maidnya Yoongi dikediamannya sedangkan dirinya menjenguk kekasihnya yang terus menerus menjaga sahabatnya. Wajah lelah terlihat dari setiap sudut mata yang telah kendur karena kekurangan untuk tidur.”kau pasti lelah sepulang kerja harus kesini menjaga Jin-sshi, pulanglah beristirahat aku akan menggantikanmu disini”

“aniyo.. lebih baik kau yang istirahat Chagi, tidurlah bersama Minseok dirumahmu. Aku tau kau seharian ini sudah lelah menjaga malaikat kecil itu”

“aku tidak bisa melakukan itu..aku ingin kau yang bergantian istirahat” mereka berdebat untuk menyuruh masing-masing istirahat hingga pada akhirnya ada suara namja yang mengusulkan dirinya untuk menjaga Jin. “biar aku yang menggantikan kalian berdua, hal-abeoji jungkook membatalkan penjemputan kliennya” Jung Ho Seok berjalan memasuki ruangan rawat Jin. rapmon dan Yoongi tersenyum akan kehadiran namja itu yang sudah sangat lama tidak terlihat disamping Jungkook. “Jung Ho Seok terimakasih sudah datang untuk menjaga Jin, aku dan Yoongi telah tertolong akan kehadiranmu” Rapmon berdiri ditemani Min Yoongi dan meminta izin untuk pulang istirahat sebentar. Sepertinya mereka lupa akan kepergian Jungkook sebelumnya. Jung Ho Seok mengangguk dan segera berjalan ketempat tidur Jin setelah mendengarkan pintu tertutup dari luar. Wajah Jin dengan bantuan alat pernapasan masih tidak memberikan tanda-tanda akan kesadaran sahabatnya itu.
Jung Ho Seok sangat mengaggumi wajah Jin yang terdiam, dengan senyuman sedikit sinis “kau memang sangat beruntung Kim Seok Jin, memiliki banyak orang yang menyayangimu. Sahabatmu, kekasihmu, bahkan Jungkook yang sudah menjadi milikku masih saja mencintaimu” ungkapan perasaannya yang sedang tersakiti diutarakan pada Jin yang Koma. “Jin aku mohon bangunlah, bangunlah dari komamu. Aku tidak bisa melihat Jungkook terus menderita akan perasaannya yang memaksakan dirinya untuk menjalin hubungan denganku. Mantan kekasihmu masih sangat mencintaimu... jadi aku mohon bangunlah dan sadarkan dia bahwa dirimu telah memiliki namja lain yang kau cintai” air mata Jung Ho Seok menetes keatas permukaan selimut Jin yang membaluti tubuhnya. Keadaan seperti inilah yang Jung Ho Seok butuhkan, menangis tanpa ada orang lain yang mengetahui kesedihannya.

Malam begitu larut dan Jung Ho Seok tertidur disofa yang sebelumnya digunakan Rapmon beristirahat. Sebuah gerakan yang dialami Jin mulai dirasakan disalah satu tangannya. Detak jantung yang normal, memberikan kehidupan terus pada Jin.

Jungkook yang baru saja kembali dari toilet, menyaksikan keberadaan Jung Ho Seok yang tertidur dengan posisi duduk di sofa. Mengapa ada Jung Ho Seok dikamar Jin? bukankah Rapmon dan Yoongi yang tadinya dirinya tinggalkan. Jungkook memandang namja yang dengan santainya tertidur. Perasaan Jungkook merasa sedikit bersalah pada Jung Ho Seok karena kini hatinya telah berpaling dan mulai mencintai Jin lagi. Apa sebaiknya Jungkook mengatakan semua perasaannya malam ini? agar Jung Ho Seok tidak merasakan sakit hati lebih lama akan cinta yang palsu.

-Dalam mimpi Jin berjalan disebuah lorong yang dirinya kenali adalah lorong sekolah SMAnya saat bersama Jimin. banyak kenangan disekolah itu bahkan bertemu dengan kekasihnya adalah kenangan terindah yang pernah dimilikinya. Bayangan-bayangan saat bertemu dengan Jimin dekat dengan Jimin serta menjalin hubungan dengan Jimin kembali terulang seperti dejavu bagi Jin yang berjalan sendirian. Jin mendekati Jimin yang sendirian berdiri diatap gedung sekolah, entah kenapa Jin merasa sudah lama sekali tidak melihat wajah manis yang dimiliki kekasihnya itu. “Jimin” panggil Jin pada namja yang sedang membelakanginya.

“Jimin” kedua kalinya memanggil tidak memberikan jawaban kembali, hingga pada tangannya menyentuh pundak Jimin tiba-tiba tubuh itu menghilang terhapus hembusan angin. Jin kebingungan dengan hilangnya tubuh Jimin dihadapannya. Namja tinggi itu berteriak-teriak memanggil nama Jimin tanpa hentinya. Jin benar-benar sudah seperti kerasukan karena tidak sabaran mencari namja yang dicintainya dalam sebuah gedung sekolahnya dulu.

“Jimin...Jimin...Jimin!” langkahnya terus semakin kencang untuk segera menemukan kekasihnya itu. jin mendengar sebuah suara kesakitan yang dirinya yakini suara milik Jimin. namja itu berlari mengikuti sumber suara dan menemukan Jimin sedang kesakitan didalam ruangan kelas yang berubah menjadi kegelapan malam. “Jin..sakit..tolong...kepalaku sakit” suara Jimin terasa sangat kesakitan. Dan Jin mulai mendekati Jimin, “Jimin gwenchana? Apa yang terjadi?”

“Jin-sshi..aku..aku” Jimin merengkuh tubuh Jin tidak tahan untuk menahan rasa sakitnya sendirian. Tiba-tiba sosok lain datang mendorong tubuh Jin untuk menjauhinya dari Jimin. “namja ini milikku, jauhi dia” namja tinggi itu mengambil Tubuh Jimin dalam gendongannya. Jin yang menconba untuk mengejar mulai kelelahan karena tidak dapat mengejar Jimin yang telah dibawa lari orang yang tidak dikenalnya. Posisi Jimin yang menghilang berganti dengan kehadiran Jungkook dihadapan Jin. Jungkook tersenyum kepada Jin, dan seketika Jin tenggelam dalam air yang cukup dalam.

“aku Jeon Joon Kook mencintaimu Jin-sshi. Sangat mencintaimu” suara hati Jin berbicara sesuatu yang sepertinya pernah Jin rasakan. Jin yang tidak mampu bernafas didalam air lebih lama mencoba berenang agar sampai pada permukaan dan genggaman tangan dengan cincin yang dikenakan menyelamatkan Jin untuk bisa bernafas secara normal.

Dalam mimpinya yang mengejar Jimin, Jin mulai sadar didunia nyata dari komanya. Jungkook yang hendak ingin membangunkan Jung Ho Seok mendengar teriakan Jin, dan itu berhasil mengaggetkan Jungkook dan Ho Seok yang terbangun paksa. Jungkook mencoba menenangkan Jin sedangkan Jung Ho Seok diminta untuk memanggil dokter agar Jin segera ditangani secara itensif. Dengan perasaan cemas Ho Seok sekalian mencoba menghubungi Rapmon ataupun Taehyung agar segera datang kerumah sakit. namun tidak satupun dari keduanya yang mengangkat panggilannya. Tidak tau harus dengan cara apa menghubungi 2 namja itu, Jung Ho Seok memutuskan untuk mengirimkan email agar mereka dapat membacanya dengan segera datang kerumah sakit. 15 menit menunggu dokter diluar, Jung Ho Seok dan Jungkook diperbolehkan masuk karena dokter mengatakan Jin telah sadar dari komanya. Itu membuat senyuman Jungkook terlihat sangat bahagia. Namja cantik itu memasuki ruangan rawat Jin dan menemukan namja itu sedang duduk dengan tatapan kosong pada ruangannya. Jin yang menyadari akan kehadiran seseorang menoleh kearah pintu, dan terdapat namja yang dikenalinya disana. Jin seperti ingin menangis melihat sosok Jungkook yang mendekatinya secara perlahan. Setelah sampai pada posisi Jin, Jungkook mendapatkan pelukan dari namja yang baru saja sadar dari Komanya. “kau kembali Jungkook-ah, kau tidak jadi pergi ke Amerika kan?” terangnya membingungkan Jungkook akan kejadian yang sudah lama menjadi bahan pembicaraan Jin lagi.

“Jin-sshi aku...”

“aku tidak ingin kau meninggalkanku dan pergi ke Amerika. Aku mohon jangan pergi Jungkook-ah” pelukan yang diterima Jungkook semakin kencang enggan untuk dilepaskan. Jung Ho Seok diam diambang pintu menyaksikan kesadaran Jin yang tidak wajar. Mengapa Jin seolah-olah terlihat masih berhubungan dengan Jungkook.


----------------------



Park Sojin mengunjungi kediaman Hongbin dimana putranya sedang menginap. Tidak sendirian yeoja paruh baya itu yang masih sangat cantik pergi bersama dengan cucu kesayangan Luhan serta temannya Minseok. ini semua sebenarnya bukanlah keinginan Luhan ataupun Sojin melainkan keinginan Minseok, yang mengajak Luhan untuk mengunjungi kedua hyungnya untuk bermain bersama. Tentu saja permintaan itu tidak akan ditolak Luhan, bukankah kesempatan Luhan untuk menjalin persahabatan dengan Minseok semakin terbuka. Setelah tiba dikediaman besar milik Hongbin, Luhan dan Minseok menuruni mobil secara bergantian. Dengan tetap ceria Luhan dan Minseok berlarian saling mengejar. Memasuki pintu utama yang sudah dibuka para pelayan. Shin Gyu salah satu pelayan yang sudah mengenal keluarga Park sebelum kehadiran Jimin. dan dirinya sama sekali tidak menyangka jika Jimin adalah putra dari Park Sojin yang diselamatkan Hongbin beberapa bulan ini.

“apa Jimin ku sedang berada dikamarnya? Mengapa dikediaman ini sangat sepi sekali” Sojin melepaskan mantel berbulunya yang digunakan sebagai penghangat untuk tubuhnya.

“dikediaman ini hanya ada 2 namja dan beberapa pelayan cuti untuk waktu yang lama. tuan Jimin sedang berada dikamar tuan Hongbin tapi tuan Hongbin berada di kamar tamu, nyonya”

“ruang tamu? Mereka sedang bertengkar?”

“hanya sedikit kesalah pahaman nyonya” Shin Gyu membalas dengan mengambil mantel berbulu milik Sojin untuk dapat disimpannya. Luhan dan Minseok berkeliling kediaman Hongbin, lalu melewati Shin Gyu begitu saja. shin Gyu mengenal Luhan namun tidak mengenal namja kecil yang bersama dengan Luhan. rasa penasarannya terjawab ketika Sojin memperhatikan Shin Gyu yang seperti mencari tau kehadiran namja kecil yang baru saja bersamanya. “namja kecil itu teman sekolah Luhan, aku berharap kau bisa melayaninya seperti kau melayani Luhan”

“itu sudah menjadi kewajiban pelayan seperti saya”

Luhan dan Minseok yang pergi kelantai 2 mencari Jimin dan Hongbin, Minseok sangat ingin bermain dengan mereka. Maka dari itu Luhan antusias mencari 2 hyung yang sangat ingin ditemui Minseok. “aku masih sangat ingat kamar mereka disebelah sana, nanti kita main apa yah Minseok-ah? Apa ada permainan yang sangat ingin kau mainkan”

“nde, aku ingin bermain sangat lama dengan Jimin dan Hongbin hyung” senyumannya diberikan Luhan yang menampilkan mata almondnya hampir tidak terlihat. Kini mereka telah sampai pada pintu sebuah kamar, Luhan mengetuk berkali-kali. Tidak ada yang merespon dari dalam. Dengan sengaja tangan kecilnya menggapai gagang pintu kamar lalu mendorong pintu itu untuk membukanya. Minseok membulatkan kedua matanya saat sela-sela pintu yang terbuka menampilkan Jimin tergeletak dilantai kamar. Suara Minseok tidak dapat keluar untuk meneriaki Eommanya, tapi Luhan dapat meneriaki nama Eomma Minseok dengan panggilan ‘hyung’. Luhan berusaha menyadarkan Jimin yang tidak sadarkan diri, tubuh hyungnya itu terasa dingin. Minseok diminta Luhan untuk menjaga Jimin selagi dirinya memanggil hal-meoninya. Dan saat itulahn Minseok berani memanggil Jimin dengan panggilan yang sangat ingin disebutkan Minseok “Eomma”.

“Eomma ireona” panggil Minseok berkali-kali. Tubuh Jimin yang dingin mengharuskan Minseok memeluknya agar tidak semakin dingin. Tidak lama menunggu, Sojin datang dengan Luhan serta Shin Gyu yang mengikutinya dibelakang.

“Jimin-ah, Jimin-ah” panggil Sojin, pelukan Minseok terlepas setelah kedatangan Sojin. “Shin Gyu panggilkan Hongbin sekarang” perintah Sojin dengan emosi yang menggebu-gebu. Shin Gyu langsung pergi kekamar tamu untuk memberitahukan tentang keadaan Jimin.

Ketukan berkali-kali diterima kamar tamu tapi Hongbin yang berada didalam tidak menjawab. Hingga akhirnya Shin Gyu mengatakan sesuatu dengan berteriak di luar pintu kamarnya. “tuan Hongbin, tuan Jimin tidak sadarkan diri. aku mohon keluarlah jangan seperti ini, mengurung dirimu didalam kamar hanya karena kesalah pahaman tadi. Tuan Hongbin nyonya Park—” belum selesai berucap, Hongbin membuka pintu kamarnya kasar dan berlari menuju kamar dimana Jimin ditinggalkan semalaman. Hongbin mengambil alih tubuh mungil Jimin dari dekapan Eomma kandungnya.

“apa yang terjadi sebenarnya!! Kau meninggalkan putraku sendirian dikamar?” tegas Sojin yang mengikuti setiap langkah Hongbin yang membawa Jimin menuju mobilnya. Hongbin tidak tau harus mengatakan apa tapi sepertinya, memang ini semua adalah kesalahannya. Tubuh Jimin diletakan dikursi belakang mobil. Sojin meminta Shin Gyu untuk menjaga Luhan serta Minseok selagi mereka pergi kerumah sakit. dan mobil merekapun meninggalkan kediaman, menyisakan kesedihan pada wajah Minseok yang cemas dengan keadaan Eommanya.



----------------------


Rapmon, Yoongi, dan Taehyung bertemu dirumah sakit Jin dirawat, mereka menemui Jung Ho Seok yang berada di luar. Rapmon membuyarkan lamunan yang Jung Ho Seok sendiri tidak tau sedang melamunkan apa. “kenapa kau diluar? Apa dokter sedang memeriksa Jin?”

Ho Seok mengalihkan pandangannya kearah lain, Yoongi berjalan kearah pintu rawat dan mengintip dari balik kaca pintu ruangan Jin. diruagan itu terdapat Jungkook yang sedang bergenggaman tangan dengan Jin. Yoongi memaksa masuk dan Rapmon serta Taehyung mengikuti akan tindakan Yoongi. “apa-apaan ini?” Yoongi memberikan tatapan tidak suka pada Jungkook yang duduk diranjang rawat Jin dengan wajah penuh dengan rona merah.

“kau itu siapa? Kenapa masuk kekamar orang yang tidak kau kenali dengan menerobos?” Jin membentak Yoongi, dan respon yang namja cantik itu tunjukan hanya membuka bibirnya lebar-lebar. Rapmon yang berada dibelakang Yoongi menyadarkan perhatian Jin akan kawan lamanya yang sudah lama tidak ditemuinya. “Nam Joon?”

Rapmon mengurungkan niatnya untuk memeluk Jin yang baru saja sadarkan diri karena namja itu memberikan tanggapan aneh pada kehadiran Yoongi. Suara Jin kembali terdengar “yaak Seulki! Kenapa kau berdiri disana dan membawa banyak orang? Kau tidak tau jika aku sedang kurang sehat”

“Jin.. kau”

“Oh ya Seulki, Kookie ku tidak jadi pergi ke Amerika. Dia akan selamanya bersamaku, kau tau kan aku sangat senang. Ah Jinjya” Rambut Jungkook dielus Jin dengan sangat lembut. Melihat itu semua membuat Taehyung jengah dan merasa gerah. Namja itupun mendekat dan mencekik pakaian rumah sakit yang Jin kenakan “apa kau gila?! Dongsaengku hilang dan kau ingin kembali dengan Jungkook? Kau fikir Jimin itu apa!!?”

“kau itu siapa!!?” Jin menepis cekikan Taehyung hingga terlepas, “jangan seenaknya menyentuhku!”

Rapmon memundurkan dirinya dan berbisik pada Jung Ho Seok “aku akan menemui dokter, ada kejanggalan disini. Jin sama sekali tidak mengingat Yoongi ataupun Taehyung, tapi masih mengingatku dengan Jungkook. Tolong tahan emosi Taehyung selagi aku memanggil kembali dokter”

“araso” balas Ho Seok dengan membiarkan Rapmon berlari mencari dokter. Taehyung yang terus menerus tidak terima mendapatkan perlawanan dari Jin, Ho Seokpun tidak bisa membiarkan itu lebih lama terjadi. “Taehyung tenangkan dirimu” perintah Ho Seok yang menggeser tubuh Taehyung untuk menjauhi Jin.

“bagaimana bisa kau melupakan Jimin!! bagaimana bisa kau tidak mengingat dongsaengku!! Yaak Seulki! Aku sudah merestui hubunganmu dengan Jimin tapi yang aku terima hanya rasa kehilangan yang sudah kau lakukan pada dongsaengku! Kau Seulki sialan!” umpat Taehyung yang menghilang setelah Jung Ho Seok menutup pintu kamar rawat Jin. Jin mengeratkan genggamannya pada Jungkook, “jangan percaya apa yang namja itu katakan, aku saja tidak mengenalnya bagaimana mungkin aku memiliki hubungan dengan orang lain selain dirimu...ah Jinjya orang itu aneh sekali..kau percaya padaku kan Kookie, aku bersumpah Chagi. Aku tidak menjalin hubungan dengan orang lain selain dirimu” pandangan Jungkook melirik kearah Yoongi yang masih bengong dengan posisinya tidak berubah. 

“Jungkook-ah kau percaya padaku kan, aku hanya mencintaimu. Aku berani bersumpah” Jin memeluk Jungkook tidak perduli dengan orang asing dalam ruangannya melihat.

Yoongi merasakan tubuhnya lemas, dan kepala yang sakit tiba-tiba. Kejadian pilu Jimin apakah terulang pada Jin yang baru saja selamat dari Komanya?



To becontinue..

Part ini terinspirasi dari instrumental Promise dalam sebuah drama korea :) jika kalian ingin merasakan lebih akan suasana dari Part ini dengarkanlah ketika kalian membacanya^^

https://www.youtube.com/watch?v=xpTXccyb6bs

Comments

  1. huweee ottokae .. keduanya lupa ingatan ottokae ... ottokae ..
    huks thor kok jungkook jahat ihh...
    oh ya thor itu bisa gak sshinya diilangin jujur saya kurang nyaman apalagi kan mereka udh jadi temen deket jadi seperti kurang pantas pake sshi ... oh .. ya mereka juga kan udh punya hubungan jadi klo bisa di ganti aja jadi *ah* atau *ya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai KhArmy^^ gomawo atas jejak mu di blog ku.. nanti aku akan perbaiki dichapter selanjutnya tentang penggunaan sshi... soalnya aku sendiri taunya sshi itu buat menghormati org hehe mianhe tp makasih sarannya{}>\\\<

      Delete

Post a Comment

Popular Posts