BOY IN LUV S2 Chapter 9 // JIN // JIMIN //
https://www.youtube.com/watch?v=xpTXccyb6bs
“hyung ada apa? cerita padaku. Apa hyung
bertemu dengan Eomma tadi? Hyung mengikuti mobil yang mengantar Luhan kan?
Bagaimana dengan keadaan Eommaku. Aku sudah mengikuti saran hyung untuk tidak menceritakan
apa-apa pada Luhan” goyangan tubuh Minseok tertahan akan pelukan Yoongi yang
semakin mengerat. “hyung....katakan padaku! Aku mohon”
Taehyung
pergi kesebuah tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya di Busan. Sebuah
rumah yang begitu dirindukan akan kehangatan masa lalunya saat bersama kedua
orangtuanya dan Jimin. Merasakan perasaan kehilangan untuk kedua kalinya
membuat hidup Taehyung semakin hancur. Sebelumnya Taehyung telah kehilangan
orangtuanya lalu sekarang dirinya harus kehilangan Jimin. bagaimana mungkin
Taehyung dapat berdiri sendiri tanpa dongsaeng kesayangannya itu.
Kediaman
yang sudah tidak terawat lagi tidak mengurungkan niat Taehyung untuk
memasukinya. Halaman yang luas mengingatkan saat dulu dirinya sedang berlari
bersama dengan Jimin. walaupun bukan saudara kandungnya, Taehyung sangat
menyayangi Jimin. bahkan perasaannya berubah ketika dewasa menjadi mencintai
namja manis itu. status yang membuat Taehyung tidak bisa memiliki hati Jimin.
taehyung melangkah melewati gerbang kediaman lamanya yang sangat besar.
Kehidupan mewahnya lenyap tersapu angin begitu saja. persaingan bisnis
menghancurkan Appanya dan menjadikan Taehyung Anak yatim piatu sekarang ini.
Itu semua baru saja Taehyung rasakan saat Jimin tidak bersamanya. Entah kenapa Taehyung
saat ini benar-benar rapuh.
“Jiminnie
kau dimana? Aku merindukanmu. Aku benar-benar merindukanmu” Taehyung duduk
didepan pintu kediaman lamanya. Memeluk kedua lutut kakinya dan menenggelamkan
wajahnya agar dapat menyembunyikan kesedihannya.
Rapmon
yang mengantar Taehyung hanya diam didalam mobil. Dirinya tidak ingin
mengganggu kerinduan Taehyung akan keluarganya dan Jimin. sudah sepantasnya
Rapmon mengerti bagaimana jika dirinya berada diposisi Taehyung yang telah
kehilangan untuk kedua kalinya. Kesempatan mereka menemui Jimin hanya ada
kemungkinan jika mereka berada di Seoul. Rapmon mulai berfikir agar Jin
dipindahkan kerumah sakit diSeoul. Itu semua untuk mempermudah pencariannya akan
hilangnya Jimin.
“sebaiknya
aku menghubungi Jungkook dirumah sakit”
----------------------
Hongbin
berdiam diri didalam kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Memandangi langit
malam dalam keadaan membisu. Hatinya kini sedang merasakan sakit mengingat
Jimin memeluk yeoja dihadapannya secara langsung. Hongbin benci harus melihat
moment itu kembali, tapi sepertinya Jimin membutuhkan kehadiran Kim Shin Gyu.
Lalu apakah Hongbin rela meminta bantuan yeoja yang baru saja menerima
kehangatan namja manis yang dicintainya. “apa yang harus kulakukan agar bisa
membuatmu mendengarkan ucapanku Chimchim. Kau yang sekarang bukanlah kau yang
dulu, kau tidak mau mendengarkan apa yang kukatakan. Apa yang dapat aku lakukan
agar kau mengerti Chimchim” Hongbin bicara pada dirinya sendiri.
Jimin
memasuki kamar Hongbin tanpa mengetuk terlebih dahulu. Namja manis itu dapat
melihat keberadaan Hongbin yang hanya ditemani sinar bulan dari jendela yang
berada didekatnya. Jimin ingin menyalakan lampu kamar, tapi Hongbin
melarangnya. Sepertinya Hongbin benar-benar marah pada Jimin yang menentang
ucapannya.
“Hongbin-sshi
aku...”
“Aku
tidak ingin membicarakan apapun saat ini Chimchim. Apa kau ingin istirahat
dikamar ini? jika kau ingin istirahat dikamar ini aku akan pergi kekamar lain”
Hongbin
berjalan pergi meninggalkan kamar yang sebelumnya digunakan untuk menyendiri.
Meninggalkan Jimin seoarng diri. Ugh, ini bukanlah yang Jimin inginkan. Membuat
kekasihnya cemburu mungkin kesalahan terbesar yang kini dihadapi Jimin. Pintu
yang tertutup dari luar menyadarkan Jimin jika dirinya telah sendirian
diruangan gelap. bulan yang sebelumnya bersinar menemani Hongbin tertutup awan saat kekasihnya memutuskan untuk keluar kamar. Dadanya sesak, kepalanya terasa sakit, Jimin tidak mampu
bernafas secara normal. Untuk berteriak memanggil kembali Hongbin saja Jimin
tidak bisa. Jimin ketakutan sendirian dalam keadaan gelap gulita, apakah
Hongbin tidak tau akan hal itu? jimin berlutut berusaha untuk mengatur nafasnya
yang tersengal-sengal. Meyakinkan dirinya akan Hongbin yang sebentar lagi
datang membuka pintunya kembali. Dalam beberapa menit Jimin tidak bisa menahan
lebih lama, tenaganya terkuras tanpa ada oksigen yang memberikan dirinya
kehidupan. Hongbin tidak kunjung membuka pintu kamarnya.
“siapa
saja...tolong.. tolong aku..” suara Jimin yang pelan tidak terdengar siapapun,
namja manis itupun jatuh pingsan dengan keringat yang membasahi seluruh
pakaiannya. Dinginnya malam semakin membawa Jimin pada keterpurukan. Hatinya
kelam, gelap dan sunyi tidak ada yang mampu mendengar panggilannya kecuali...
----------------------
Taehyung
yang tidak sengaja tertidur di depan pintu kediaman lamanya merasakan akan
Jimin yang memanggilnya. Dirinya berlari untuk mencari darimana suara itu
berasal. Jimin kesakitan, dan Taehyung sampai sekarang tidak berhasil menemui
keberadaan namja manis itu.
“hyung...”
Suara
itu semakin terdengar. Taehyung mendobrak pintu kediaman lamanya yang telah
digembok dan itu berhasil membuat Rapmon segera keluar dari mobilnya. Namja
tinggi itu tidak ingin Taehyung melakukan sesuatu saat emosinya sedang tidak
stabil. Rapmon yang memasuki gerbang menghentikan aksi Taehyung yang menyakiti
dirinya sendiri dengan mendobrak masuk pitnu yang terkunci kuat. Namja itu
menepis pertahanan Rapmon yang mencoba menghentikan Taehyung untuk
menyelamatkan Jimin. dan saat itulah pukulan Rapmon mulai menghentikan kegiatan
Taehyung. keduanya saling terdiam. Rapmon sepertinya sudah kehabisan cara
menghilangkan kegelisahannya terhadap sahabatnya. Darah menetes disela-sela
bibir Taehyung yang telah menerima pukulan keras dari Rapmon.
“Apa
yang kau lakukan! Apa kau gila mendobrak pintu yang digembok seperti ini!
kemana akal sehatmu Kim Taehyung!”
Taehyung
hanya diam. Rapmon mengajak sahabatnya itu untuk kembali kerumah sakit sekedar
mengobati luka yang Rapmon berikan, tapi Taehyung menggeleng. “bukan kau saja
yang kehilangan Jimin, Taehyung-ah. Aku Yoongi juga kehilangan Jimin, lalu
bagaimana namja yang koma dirumah sakit? namja kecil yang memanggilnya Eomma?
Bagaimana dengan mereka?”
“seharusnya
kalian tidak pernah hadir dalam hidup kami, seharusnya aku dan Jimin tidak
pernah berpisah seperti ini!” Perkataan itu seakan menghancurkan hati Rapmon.
“apa
kau menganggap ini kesalahan kami? Hilangnya Jimin apa itu karena kesalahan
kami?”
Rapmon
mencekik pakaian Taehyung dan memojokan namja yang lebih pendek darinya itu
ketembok. “dengarkan baik-baik Kim Taehyung! aku akan menganggap ucapanmu ini
adalah emosimu sesaat, kita tidak seharusnya seperti ini. sekarang kita kembali
untuk mengobati lukamu dan menggantikan Jungkook menjaga Jin. aku sudah meminta namja itu untuk memindahkan rumah sakit Jin ke Seoul. agar mempermudah kita mencari Jimin juga, aku yakin sekarang rumah sakit sudah mengurusnya dan membawa Jin ke Seoul dengan ambulance” Rapmon menarik Taehyung
paksa menuju mobilnya. Taehyung yang masih menatap kediaman lamanya menemukan
bayangan yang mirip dengan Appa dan Eommanya.
Bayangan
yeoja itu menggerakan bibirnya dengan mimik tanpa suara, “—temukan Park Jimin demi kami,
Taehyung-ah” kira-kira seperti itulah yang dapat ditangkap Taehyung dari
setiap gerakan bibir yang Eommanya berikan. Ini seperti sebuah semangat yang
diberikan keluarganya agar Taehyung tidak emosi seperti sekarang yang
dilakukan. Namja kecil berlari dari belakang kedua orang tua Taehyung, itu
adalah Jimin kecil. namja kecil itu tersenyum kearah Taehyung, “—hyung akan menemukanku. Aku yakin”
Taehyung menangis sejadi-jadinya karena kerinduan yang mendalam pada Jimin.
Rapmon yang tadinya menarik Taehyung mulai mengendurkan pegangannya pada kemeja
yang digunakan Taehyung. membiarkan Taehyung meluapkan kesedihan di kediaman
lamanya sebelum mereka pergi. Taehyung terus berteriak menyebut nama Jimin,
berharap pemilik nama itu kembali dan menghentikan tangisannya.
----------------------
Jungkook
memandangi wajah Jin yang masih koma, setelah mengurus kepindahan Jin kerumah
sakit Seoul sesuai permintaan Rapmon. kini Jin tidak lagi dirumah sakit busan
melainkan dirumah sakit Seoul. Sepertinya namja cantik itu mulai lelah dan
hanya bisa tertidur disofa yang telah disiapkan kamar VIP untuk pengunjung
Pasien. Jungkook mengirimkan pesan pada Rapmon sebuah alamat dimana Jin kini
dirawat, dan Dengan selimut seadanya Jungkook merebahkan tubuhnya di Sofa untuk
beristirahat. Kedua matanya yang sudah tergambar lingkaran hitam dipejamkan
sejenak.
Jung
Ho Seok yang sejak tadi sembunyi menemani Jungkook tersadar akan kedatangan Min
Yoongi dibelakangnya. “Apa kau tidak masuk?” tanyanya pada Ho Seok yang berniat
menghindar. Yoongi yang masih menatap kearah ruangan Jin berbicara pada Ho
Seok, “aku mohon jangan lepaskan Jungkook dari hidupmu”
Jung
Ho Seok menoleh kearah Yoongi yang berbicara tanpa melihat kearahnya.
“Namja
itu sepertinya mulai memanfaatkan keadaan untuk kembali pada Jin-sshi. Aku
yakin kau juga merasakan hal yang sama. Maka dari itu aku memintamu agar tidak
melepaskan Jungkook dan membiarkan posisi Jimin direbutnya”
“Jungkook
bukanlah orang yang seperti itu. dia telah melupakan masalalunya, dan
mengikhlaskan hubungan Jin serta Jimin—”
“aku
tidak merasakan itu Jung Ho Seok. Kau hanya mencoba menghibur dirimu sendiri
dengan tidak menatap kenyataan bahwa kekasihmu itu masih memiliki perasaan pada
Jin. aku benar kan?”
Jung
Ho Seok berjalan tidak membalas lagi apa yang menjadi pembicaraannya dengan Yoongi.
Dengan fikiran yang melayang entah kemana, Jung Ho Seok menabrak seseorang yang
baru saja keluar dari lift rumah sakit. suara tubrukan itu menjadi perhatian
Yoongi yang langsung memperhatikan kemana Jung Ho Seok pergi. Rapmon membantu
Taehyung berdiri, sedangkan Ho Seok berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun.
Yoongi menatap kearah Taehyung yang menampilkan wajah yang lusuh dengan luka dibibir
serta sembab yang terlihat sangat jelas diarea matanya.
“Rapmon-sshi
apa yang terjadi dengan Taehyung-ah?” tanya Yoongi yang khawatir dengan keadaan
hyung angkat Jimin. “kenapa Taehyung-ah berdarah seperti ini”
“nanti
aku ceritakan padamu. Untuk sekarang bantu aku membawa Taehyung ke perawat agar
dapat diobati” Yoongi membantu Taehyung yang tubuhnya sedikit lebih tinggi
darinya. Sedangkan Rapmon mengajak Ho Seok untuk kembali keruangan rawat Jin
namun namja itu menolak.
“kau
itu kenapa Ho Seok-sshi, bukankah kekasihmu sedang berada disana. apa kau tidak
berniat menemaninya?”
“aniyo.
Aku dapat panggilan dari hal-abeoji Jungkook untuk menjemput rekan bisnisnya
dibandara. Aku permisi” Rapmon ingin mencegah kepergiannya tapi jika nanti
namja itu dipecat akan menjadi masalah untuknya. Mungkin ini bukan waktu yang
tepat untuk membicarakan hal tentang Jungkook pada Ho Seok. Rapmon pergi
setelah melihat pintu lift rumah sakit tertutup dan membawa Jung Ho Seok
kelantai dasar.
Yoongi
membawa Taehyung keruang perawat untuk menngobati luka bibirnya yang berdarah.
Karena penasaran Yoongi meninggalkan Taehyung yang sedang diobati dan pergi
menuju dimana kekasihnya berada.
Rapmon
yang masuk keruangan baru Jin menemukan Jungkook telah tertidur pulas disofa. Tidak
tega untuk membangunkannya Rapmon hanya merapihkan selimut yang hanya setengah
Jungkook kenakan. Wajah Rapmon sedikit tidak mengerti dengan sikap yang
Jungkook berikan selama Jin dirawat. Ini bukan sikap seorang teman. Seakan
lebih dari teman. Pikiran Rapmon sama seperti Yoongi menganggap bahwa Jungkook
masih menaruh hati pada kekasih Jimin. bunyi suara mesin yang memberi tau
aktivitas jantung Jin masih stabil terdengar. Rapmon mengistirahatkan dirinya
dikursi yang berada disamping tempat tidur Jin. membiarkan Yoongi yang
menangani dan memberi arahan pada Taehyung. hati Rapmon untuk sekarang tidak
tenang hingga berhasil memukul sahabatnya yang sedang sedih. “Teman macam apa
aku ini” sesalnya frustasi.
“kau
sudah kembali?” Rapmon yang mendengar suara Jungkook tiba-tiba terkejut. Namja
cantik itu merapihkan selimut yang ditambahkan Rapmon saat dirinya tertidur.
“kemana Taehyung-ah? Bukankah kau tadi bersama dengannya?”
Rapmon
tidak menjawab.
“Ada
apa? Apa semua baik-baik saja?”
“semua
baik-baik saja. taehyung sedang bersama Yoongi saat ini diruang perawatan, ada
insiden yang membuatku harus memukulnya” jujur Rapmon dengan memalingkan
wajahnya dari Jungkook.
“kau
memukul Taehyung-ah?” suara Yoongi kembali mengagetkan namja tinggi yang sedang
mengistirahatkan fikirannya sejenak. Selama berhubungan dengan Rapmon, ini lah
Emosi yang akan sulit dikendalikan Yoongi jika kekasihnya sudah mendidih akan
amarahnya. Sudah keputusannya untuk tidak mengatakn tentang keberadaan Jimin
yang berada ditangan namja yang memiliki emosi 11:12 dengan Rapmon.
Rapmon
membalas singkat “nde”.
Jungkook
tidak lagi bertanya dan lebih memilih pergi keluar ruangan rawat Jin.
membiarkan Yoongi dan Rapmon menyelesaikan pembicaraan yang sebaiknya dirinya
tidak ikut campur. Keinginan Jungkook hanya satu, melihat Jin sadar tanpa
menambah masalah baru dengan beberapa namja yang kini hanya bisa saling
berpandangan. Suara pintu terdengar telah tertutup.
“kenapa
kau memukul Kim Taehyung? kenapa kau sama sekali tidak bisa menahan emosimu
disaat-saat seperti ini? jika namja itu melakukan kesalahan ataupun berbuat
sesuatu yang mengesalkanmu seharusnya kau menenangkannya. Kau tau kan namja itu
kehilangan dongsaengnya, dan kau malah memukulnya. Apa yang ada dalam
fikiranmu?”
“aku
sudah menahan emosiku. Tapi Taehyung terus menyakiti dirinya sendiri, aku tidak
bisa membiarkan itu. dan berfikir jika memukulnya, dia akan sadar dengan apa
yang sedang dilakukan. Aku bersumpah, aku tidak berniat buruk saat memukulnya.
Chagi” Menghadapi masalah ini memang sepertinya sangat sulit untuk dapat
menahan emosi satu sama lain. Terlebih lagi Rapmon adalah namja yang mudah
melayangkan pukulannya. Mungkin sudah dibatas kesabaran kekasihnya saat
menghadapi Taehyung. dan seharusnya Yoongi dapat mengerti akan hal itu.
Namja
cantik yang berstatus kekasih Rapmon sekarang penuh dengan rasa kekecewaan pada
dirinya sendiri. menghela nafas berkali-kali dan membuat Rapmon penasaran apa
yang sedang dihadapi kekasihnya itu. Rapmon berjalan mendekati Yoongi lalu
duduk disampingnya. Wajah nya yang pucat tidak dapat Yoongi sembunyikan dari
Rapmon yang memang sudah lama menjaling hubungan dengannya. “kau kenapa Chagi
menghela nafas terus-menerus? Apa kau ingin aku memberikan bantuan nafas?”
ledek Rapmon, menambah kekesalahan pada Yoongi yang kebingungan akan
masalahnya. Yoongi memperhatikan wajah Rapmon yang mengkhawatirkannya, lalu
apakah pantas Yoongi tidak mengatakan apa-apa tentang apa yang diketahuinya.
Ugh, ini benar-benar hal yang sulit jika diputuskan. Yoongi hanya tidak
menginginkan adanya perkelahian yang melukai Rapmon. salah satu tangan Yoongi
mengelus wajah Rapmon, dan Rapmon menikmati itu. “Apa kau merindukan saat kita
berada dikamar?”
Yoongi
memukul pikiran kepala Rapmon agar bersih dari pikiran Yadongnya, “Appoooo!”
rintih Rapmon dengan mengusap kepalanya yang berdenyut.
“kau
itu tidak bisa sedikit saja serius dengan keadaan sekarang? Aishh selalu saja
pikiranmu itu tidak dapat aku tebak”
“lalu
kenapa kau terus menghela nafas dan tiba-tiba mengelus wajahku begitu lembut.
Namja mana yang tidak memikirkan hal—”
“sudah
hentikan! Aku tidak mau mendengarkan ucapanmu yang Yadong!” Rapmon mengambil
salah satu tangan Yoongi yang tadi memukul kepalanya. tangan ini adalah tangan
yang begitu putih dan indah, lembut jika digunakan untuk mengusap pipinya. Dan
Rapmon ingin mengulanginya “lalu apa yang sedang kau fikirkan hingga wajahmu
pucat seperti ini Chagi?” tanyanya dengan menatap Yoongi langsung.
“tidak
apa-apa aku hanya lelah” bohongnya pada Rapmon.
Keheningan
terjadi sesaat dengan lamunan yang Yoongi pandangi keadaan Jin terbaring lemah
ditempat tidurnya. Namja yang begitu kuat dan mampu bertahan sampai seperti
ini. yoongi sangat menyukai sikap Jin yang selalu saja dingin terhadapnya.
Pesonanya, senyuman sinisnya, kesendiriannya, sangat mirip dengan kehidupan
yang Yoongi alami. Keluarga Jin sama sekali tidak datang hanya sekedar
menjenguk putra satu-satunya. Dunia bisnis benar-benar kejam bagi Yoongi yang
memang sudah lama kehilangan hangatnya kebersamaan sebuah keluarga. hingga pada
akhirnya bertemu dengan Jin yang nasibnya sama seperti dirinya. Dan dengan
berjalannya waktu bertemu dengan Jimin dan Taehyung yang membuka mata hati
Yoongi bahwa hidup tidak lah seburuk yang dipikirkannya. Jimin mengajarkan
kebersamaan sahabat bisa menghapus perasaan rindu Yoongi terhadap keluarganya.
Itu kenyataannya. Yoongi sudah tidak manja seperti dulu, tidak Egois, bahkan
bisa tenang dalam menjalani setiap masalahnya. Dalam lamunannya, Yoongi
disadarkan Rapmon akan suaranya yang mengajak namja cantik itu bicara.
“Jin
kasihan sekali seharusnya namja itu bisa berkumpul dengan keluarganya kemarin,
tapi ternyata ada hal mendadak yang membuat orang tuanya membatalkan
penerbangannya kekorea. Namja ini benar-benar menyedihkan, aku yakin jika
dirinya sadar dia tidak akan mau hidup lebih lama saat mengetahui namja yang
dicintainya menghilang”
Yoongi
menundukan kepalanya, menyembunyikan perasaan bersalah yang mungkin akan
terbaca jika Rapmon memperhatikan gerak-geriknya. Kedua tangan Yoongi mengepal
untuk bertahan terhadap keputusannya.
Malam
itu Minseok dititipkan Maid-maidnya Yoongi dikediamannya sedangkan dirinya
menjenguk kekasihnya yang terus menerus menjaga sahabatnya. Wajah lelah
terlihat dari setiap sudut mata yang telah kendur karena kekurangan untuk
tidur.”kau pasti lelah sepulang kerja harus kesini menjaga Jin-sshi, pulanglah
beristirahat aku akan menggantikanmu disini”
“aniyo..
lebih baik kau yang istirahat Chagi, tidurlah bersama Minseok dirumahmu. Aku
tau kau seharian ini sudah lelah menjaga malaikat kecil itu”
“aku
tidak bisa melakukan itu..aku ingin kau yang bergantian istirahat” mereka
berdebat untuk menyuruh masing-masing istirahat hingga pada akhirnya ada suara
namja yang mengusulkan dirinya untuk menjaga Jin. “biar aku yang menggantikan
kalian berdua, hal-abeoji jungkook membatalkan penjemputan kliennya” Jung Ho
Seok berjalan memasuki ruangan rawat Jin. rapmon dan Yoongi tersenyum akan
kehadiran namja itu yang sudah sangat lama tidak terlihat disamping Jungkook.
“Jung Ho Seok terimakasih sudah datang untuk menjaga Jin, aku dan Yoongi telah
tertolong akan kehadiranmu” Rapmon berdiri ditemani Min Yoongi dan meminta izin
untuk pulang istirahat sebentar. Sepertinya mereka lupa akan kepergian Jungkook
sebelumnya. Jung Ho Seok mengangguk dan segera berjalan ketempat tidur Jin
setelah mendengarkan pintu tertutup dari luar. Wajah Jin dengan bantuan alat
pernapasan masih tidak memberikan tanda-tanda akan kesadaran sahabatnya itu.
Jung
Ho Seok sangat mengaggumi wajah Jin yang terdiam, dengan senyuman sedikit sinis
“kau memang sangat beruntung Kim Seok Jin, memiliki banyak orang yang
menyayangimu. Sahabatmu, kekasihmu, bahkan Jungkook yang sudah menjadi milikku
masih saja mencintaimu” ungkapan perasaannya yang sedang tersakiti diutarakan
pada Jin yang Koma. “Jin aku mohon bangunlah, bangunlah dari komamu. Aku tidak
bisa melihat Jungkook terus menderita akan perasaannya yang memaksakan dirinya
untuk menjalin hubungan denganku. Mantan kekasihmu masih sangat mencintaimu...
jadi aku mohon bangunlah dan sadarkan dia bahwa dirimu telah memiliki namja
lain yang kau cintai” air mata Jung Ho Seok menetes keatas permukaan selimut
Jin yang membaluti tubuhnya. Keadaan seperti inilah yang Jung Ho Seok butuhkan,
menangis tanpa ada orang lain yang mengetahui kesedihannya.
Malam
begitu larut dan Jung Ho Seok tertidur disofa yang sebelumnya digunakan Rapmon
beristirahat. Sebuah gerakan yang dialami Jin mulai dirasakan disalah satu
tangannya. Detak jantung yang normal, memberikan kehidupan terus pada Jin.
Jungkook
yang baru saja kembali dari toilet, menyaksikan keberadaan Jung Ho Seok yang
tertidur dengan posisi duduk di sofa. Mengapa ada Jung Ho Seok dikamar Jin?
bukankah Rapmon dan Yoongi yang tadinya dirinya tinggalkan. Jungkook memandang
namja yang dengan santainya tertidur. Perasaan Jungkook merasa sedikit bersalah
pada Jung Ho Seok karena kini hatinya telah berpaling dan mulai mencintai Jin lagi.
Apa sebaiknya Jungkook mengatakan semua perasaannya malam ini? agar Jung Ho
Seok tidak merasakan sakit hati lebih lama akan cinta yang palsu.
-Dalam
mimpi Jin berjalan disebuah lorong yang dirinya kenali adalah lorong sekolah
SMAnya saat bersama Jimin. banyak kenangan disekolah itu bahkan bertemu dengan
kekasihnya adalah kenangan terindah yang pernah dimilikinya. Bayangan-bayangan
saat bertemu dengan Jimin dekat dengan Jimin serta menjalin hubungan dengan
Jimin kembali terulang seperti dejavu bagi Jin yang berjalan sendirian. Jin
mendekati Jimin yang sendirian berdiri diatap gedung sekolah, entah kenapa Jin
merasa sudah lama sekali tidak melihat wajah manis yang dimiliki kekasihnya
itu. “Jimin” panggil Jin pada namja yang sedang membelakanginya.
“Jimin”
kedua kalinya memanggil tidak memberikan jawaban kembali, hingga pada tangannya
menyentuh pundak Jimin tiba-tiba tubuh itu menghilang terhapus hembusan angin.
Jin kebingungan dengan hilangnya tubuh Jimin dihadapannya. Namja tinggi itu
berteriak-teriak memanggil nama Jimin tanpa hentinya. Jin benar-benar sudah
seperti kerasukan karena tidak sabaran mencari namja yang dicintainya dalam
sebuah gedung sekolahnya dulu.
“Jimin...Jimin...Jimin!”
langkahnya terus semakin kencang untuk segera menemukan kekasihnya itu. jin
mendengar sebuah suara kesakitan yang dirinya yakini suara milik Jimin. namja
itu berlari mengikuti sumber suara dan menemukan Jimin sedang kesakitan didalam
ruangan kelas yang berubah menjadi kegelapan malam.
“Jin..sakit..tolong...kepalaku sakit” suara Jimin terasa sangat kesakitan. Dan
Jin mulai mendekati Jimin, “Jimin gwenchana? Apa yang terjadi?”
“Jin-sshi..aku..aku”
Jimin merengkuh tubuh Jin tidak tahan untuk menahan rasa sakitnya sendirian.
Tiba-tiba sosok lain datang mendorong tubuh Jin untuk menjauhinya dari Jimin.
“namja ini milikku, jauhi dia” namja tinggi itu mengambil Tubuh Jimin dalam
gendongannya. Jin yang menconba untuk mengejar mulai kelelahan karena tidak
dapat mengejar Jimin yang telah dibawa lari orang yang tidak dikenalnya. Posisi
Jimin yang menghilang berganti dengan kehadiran Jungkook dihadapan Jin.
Jungkook tersenyum kepada Jin, dan seketika Jin tenggelam dalam air yang cukup
dalam.
“aku
Jeon Joon Kook mencintaimu Jin-sshi. Sangat mencintaimu” suara hati Jin
berbicara sesuatu yang sepertinya pernah Jin rasakan. Jin yang tidak mampu
bernafas didalam air lebih lama mencoba berenang agar sampai pada permukaan dan
genggaman tangan dengan cincin yang dikenakan menyelamatkan Jin untuk bisa
bernafas secara normal.
Dalam
mimpinya yang mengejar Jimin, Jin mulai sadar didunia nyata dari komanya. Jungkook
yang hendak ingin membangunkan Jung Ho Seok mendengar teriakan Jin, dan itu
berhasil mengaggetkan Jungkook dan Ho Seok yang terbangun paksa. Jungkook
mencoba menenangkan Jin sedangkan Jung Ho Seok diminta untuk memanggil dokter
agar Jin segera ditangani secara itensif. Dengan perasaan cemas Ho Seok
sekalian mencoba menghubungi Rapmon ataupun Taehyung agar segera datang kerumah
sakit. namun tidak satupun dari keduanya yang mengangkat panggilannya. Tidak
tau harus dengan cara apa menghubungi 2 namja itu, Jung Ho Seok memutuskan
untuk mengirimkan email agar mereka dapat membacanya dengan segera datang
kerumah sakit. 15 menit menunggu dokter diluar, Jung Ho Seok dan Jungkook
diperbolehkan masuk karena dokter mengatakan Jin telah sadar dari komanya. Itu
membuat senyuman Jungkook terlihat sangat bahagia. Namja cantik itu memasuki
ruangan rawat Jin dan menemukan namja itu sedang duduk dengan tatapan kosong
pada ruangannya. Jin yang menyadari akan kehadiran seseorang menoleh kearah
pintu, dan terdapat namja yang dikenalinya disana. Jin seperti ingin menangis
melihat sosok Jungkook yang mendekatinya secara perlahan. Setelah sampai pada
posisi Jin, Jungkook mendapatkan pelukan dari namja yang baru saja sadar dari
Komanya. “kau kembali Jungkook-ah, kau tidak jadi pergi ke Amerika kan?”
terangnya membingungkan Jungkook akan kejadian yang sudah lama menjadi bahan
pembicaraan Jin lagi.
“Jin-sshi
aku...”
“aku
tidak ingin kau meninggalkanku dan pergi ke Amerika. Aku mohon jangan pergi
Jungkook-ah” pelukan yang diterima Jungkook semakin kencang enggan untuk
dilepaskan. Jung Ho Seok diam diambang pintu menyaksikan kesadaran Jin yang
tidak wajar. Mengapa Jin seolah-olah terlihat masih berhubungan dengan
Jungkook.
----------------------
Park
Sojin mengunjungi kediaman Hongbin dimana putranya sedang menginap. Tidak
sendirian yeoja paruh baya itu yang masih sangat cantik pergi bersama dengan
cucu kesayangan Luhan serta temannya Minseok. ini semua sebenarnya bukanlah
keinginan Luhan ataupun Sojin melainkan keinginan Minseok, yang mengajak Luhan
untuk mengunjungi kedua hyungnya untuk bermain bersama. Tentu saja permintaan
itu tidak akan ditolak Luhan, bukankah kesempatan Luhan untuk menjalin
persahabatan dengan Minseok semakin terbuka. Setelah tiba dikediaman besar
milik Hongbin, Luhan dan Minseok menuruni mobil secara bergantian. Dengan tetap
ceria Luhan dan Minseok berlarian saling mengejar. Memasuki pintu utama yang
sudah dibuka para pelayan. Shin Gyu salah satu pelayan yang sudah mengenal
keluarga Park sebelum kehadiran Jimin. dan dirinya sama sekali tidak menyangka
jika Jimin adalah putra dari Park Sojin yang diselamatkan Hongbin beberapa
bulan ini.
“apa
Jimin ku sedang berada dikamarnya? Mengapa dikediaman ini sangat sepi sekali”
Sojin melepaskan mantel berbulunya yang digunakan sebagai penghangat untuk
tubuhnya.
“dikediaman
ini hanya ada 2 namja dan beberapa pelayan cuti untuk waktu yang lama. tuan
Jimin sedang berada dikamar tuan Hongbin tapi tuan Hongbin berada di kamar
tamu, nyonya”
“ruang
tamu? Mereka sedang bertengkar?”
“hanya
sedikit kesalah pahaman nyonya” Shin Gyu membalas dengan mengambil mantel
berbulu milik Sojin untuk dapat disimpannya. Luhan dan Minseok berkeliling
kediaman Hongbin, lalu melewati Shin Gyu begitu saja. shin Gyu mengenal Luhan
namun tidak mengenal namja kecil yang bersama dengan Luhan. rasa penasarannya
terjawab ketika Sojin memperhatikan Shin Gyu yang seperti mencari tau kehadiran
namja kecil yang baru saja bersamanya. “namja kecil itu teman sekolah Luhan,
aku berharap kau bisa melayaninya seperti kau melayani Luhan”
“itu
sudah menjadi kewajiban pelayan seperti saya”
Luhan
dan Minseok yang pergi kelantai 2 mencari Jimin dan Hongbin, Minseok sangat
ingin bermain dengan mereka. Maka dari itu Luhan antusias mencari 2 hyung yang
sangat ingin ditemui Minseok. “aku masih sangat ingat kamar mereka disebelah
sana, nanti kita main apa yah Minseok-ah? Apa ada permainan yang sangat ingin
kau mainkan”
“nde,
aku ingin bermain sangat lama dengan Jimin dan Hongbin hyung” senyumannya
diberikan Luhan yang menampilkan mata almondnya hampir tidak terlihat. Kini
mereka telah sampai pada pintu sebuah kamar, Luhan mengetuk berkali-kali. Tidak
ada yang merespon dari dalam. Dengan sengaja tangan kecilnya menggapai gagang
pintu kamar lalu mendorong pintu itu untuk membukanya. Minseok membulatkan
kedua matanya saat sela-sela pintu yang terbuka menampilkan Jimin tergeletak
dilantai kamar. Suara Minseok tidak dapat keluar untuk meneriaki Eommanya, tapi
Luhan dapat meneriaki nama Eomma Minseok dengan panggilan ‘hyung’. Luhan
berusaha menyadarkan Jimin yang tidak sadarkan diri, tubuh hyungnya itu terasa
dingin. Minseok diminta Luhan untuk menjaga Jimin selagi dirinya memanggil
hal-meoninya. Dan saat itulahn Minseok berani memanggil Jimin dengan panggilan
yang sangat ingin disebutkan Minseok “Eomma”.
“Eomma
ireona” panggil Minseok berkali-kali. Tubuh Jimin yang dingin mengharuskan
Minseok memeluknya agar tidak semakin dingin. Tidak lama menunggu, Sojin datang
dengan Luhan serta Shin Gyu yang mengikutinya dibelakang.
“Jimin-ah,
Jimin-ah” panggil Sojin, pelukan Minseok terlepas setelah kedatangan Sojin.
“Shin Gyu panggilkan Hongbin sekarang” perintah Sojin dengan emosi yang
menggebu-gebu. Shin Gyu langsung pergi kekamar tamu untuk memberitahukan
tentang keadaan Jimin.
Ketukan
berkali-kali diterima kamar tamu tapi Hongbin yang berada didalam tidak
menjawab. Hingga akhirnya Shin Gyu mengatakan sesuatu dengan berteriak di luar
pintu kamarnya. “tuan Hongbin, tuan Jimin tidak sadarkan diri. aku mohon
keluarlah jangan seperti ini, mengurung dirimu didalam kamar hanya karena
kesalah pahaman tadi. Tuan Hongbin nyonya Park—” belum selesai berucap, Hongbin
membuka pintu kamarnya kasar dan berlari menuju kamar dimana Jimin ditinggalkan
semalaman. Hongbin mengambil alih tubuh mungil Jimin dari dekapan Eomma
kandungnya.
“apa
yang terjadi sebenarnya!! Kau meninggalkan putraku sendirian dikamar?” tegas
Sojin yang mengikuti setiap langkah Hongbin yang membawa Jimin menuju mobilnya.
Hongbin tidak tau harus mengatakan apa tapi sepertinya, memang ini semua adalah
kesalahannya. Tubuh Jimin diletakan dikursi belakang mobil. Sojin meminta Shin
Gyu untuk menjaga Luhan serta Minseok selagi mereka pergi kerumah sakit. dan
mobil merekapun meninggalkan kediaman, menyisakan kesedihan pada wajah Minseok
yang cemas dengan keadaan Eommanya.
----------------------
Rapmon,
Yoongi, dan Taehyung bertemu dirumah sakit Jin dirawat, mereka menemui Jung Ho
Seok yang berada di luar. Rapmon membuyarkan lamunan yang Jung Ho Seok sendiri
tidak tau sedang melamunkan apa. “kenapa kau diluar? Apa dokter sedang memeriksa
Jin?”
Ho
Seok mengalihkan pandangannya kearah lain, Yoongi berjalan kearah pintu rawat
dan mengintip dari balik kaca pintu ruangan Jin. diruagan itu terdapat Jungkook
yang sedang bergenggaman tangan dengan Jin. Yoongi memaksa masuk dan Rapmon
serta Taehyung mengikuti akan tindakan Yoongi. “apa-apaan ini?” Yoongi
memberikan tatapan tidak suka pada Jungkook yang duduk diranjang rawat Jin
dengan wajah penuh dengan rona merah.
“kau
itu siapa? Kenapa masuk kekamar orang yang tidak kau kenali dengan menerobos?”
Jin membentak Yoongi, dan respon yang namja cantik itu tunjukan hanya membuka
bibirnya lebar-lebar. Rapmon yang berada dibelakang Yoongi menyadarkan
perhatian Jin akan kawan lamanya yang sudah lama tidak ditemuinya. “Nam Joon?”
Rapmon
mengurungkan niatnya untuk memeluk Jin yang baru saja sadarkan diri karena
namja itu memberikan tanggapan aneh pada kehadiran Yoongi. Suara Jin kembali
terdengar “yaak Seulki! Kenapa kau berdiri disana dan membawa banyak orang? Kau
tidak tau jika aku sedang kurang sehat”
“Jin..
kau”
“Oh
ya Seulki, Kookie ku tidak jadi pergi ke Amerika. Dia akan selamanya bersamaku,
kau tau kan aku sangat senang. Ah Jinjya” Rambut Jungkook dielus Jin dengan
sangat lembut. Melihat itu semua membuat Taehyung jengah dan merasa gerah.
Namja itupun mendekat dan mencekik pakaian rumah sakit yang Jin kenakan “apa
kau gila?! Dongsaengku hilang dan kau ingin kembali dengan Jungkook? Kau fikir
Jimin itu apa!!?”
“kau
itu siapa!!?” Jin menepis cekikan Taehyung hingga terlepas, “jangan seenaknya
menyentuhku!”
Rapmon
memundurkan dirinya dan berbisik pada Jung Ho Seok “aku akan menemui dokter,
ada kejanggalan disini. Jin sama sekali tidak mengingat Yoongi ataupun
Taehyung, tapi masih mengingatku dengan Jungkook. Tolong tahan emosi Taehyung
selagi aku memanggil kembali dokter”
“araso”
balas Ho Seok dengan membiarkan Rapmon berlari mencari dokter. Taehyung yang
terus menerus tidak terima mendapatkan perlawanan dari Jin, Ho Seokpun tidak
bisa membiarkan itu lebih lama terjadi. “Taehyung tenangkan dirimu” perintah Ho
Seok yang menggeser tubuh Taehyung untuk menjauhi Jin.
“bagaimana
bisa kau melupakan Jimin!! bagaimana bisa kau tidak mengingat dongsaengku!!
Yaak Seulki! Aku sudah merestui hubunganmu dengan Jimin tapi yang aku terima
hanya rasa kehilangan yang sudah kau lakukan pada dongsaengku! Kau Seulki
sialan!” umpat Taehyung yang menghilang setelah Jung Ho Seok menutup pintu
kamar rawat Jin. Jin mengeratkan genggamannya pada Jungkook, “jangan percaya
apa yang namja itu katakan, aku saja tidak mengenalnya bagaimana mungkin aku
memiliki hubungan dengan orang lain selain dirimu...ah Jinjya orang itu aneh
sekali..kau percaya padaku kan Kookie, aku bersumpah Chagi. Aku tidak menjalin
hubungan dengan orang lain selain dirimu” pandangan Jungkook melirik kearah
Yoongi yang masih bengong dengan posisinya tidak berubah.
“Jungkook-ah kau
percaya padaku kan, aku hanya mencintaimu. Aku berani bersumpah” Jin memeluk
Jungkook tidak perduli dengan orang asing dalam ruangannya melihat.
Yoongi
merasakan tubuhnya lemas, dan kepala yang sakit tiba-tiba. Kejadian pilu Jimin
apakah terulang pada Jin yang baru saja selamat dari Komanya?
Part ini terinspirasi dari instrumental Promise dalam sebuah drama korea :) jika kalian ingin merasakan lebih akan suasana dari Part ini dengarkanlah ketika kalian membacanya^^
https://www.youtube.com/watch?v=xpTXccyb6bs


huweee ottokae .. keduanya lupa ingatan ottokae ... ottokae ..
ReplyDeletehuks thor kok jungkook jahat ihh...
oh ya thor itu bisa gak sshinya diilangin jujur saya kurang nyaman apalagi kan mereka udh jadi temen deket jadi seperti kurang pantas pake sshi ... oh .. ya mereka juga kan udh punya hubungan jadi klo bisa di ganti aja jadi *ah* atau *ya*
Hai KhArmy^^ gomawo atas jejak mu di blog ku.. nanti aku akan perbaiki dichapter selanjutnya tentang penggunaan sshi... soalnya aku sendiri taunya sshi itu buat menghormati org hehe mianhe tp makasih sarannya{}>\\\<
Delete