Don't Love Me Chapter 2
Cast :
.
Park Jimin
Kim Seok Jin
Kim Taehyung
Kim Namjoon
Jung Hoseok
Min Yoongi
Jeon Joon Kook
.Lagu pendukung :
Wendy & Seulgi - I Can Only See You
Hyolyn - Become Each Others Tears
BolBBalgan4 - Dream
Kim Ju Na - Divine Intervention
Wendy & Seulgi - I Can Only See You
Hyolyn - Become Each Others Tears
BolBBalgan4 - Dream
Kim Ju Na - Divine Intervention
“Jimin-ah, aku harap kau
segera baik-baik saja. dan aku harap kau tidak menjauhiku besok” pesannya pada
Jimin yang telah pergi. Wajah Taehyung termenung diam. Ia yakin Jimin tidak
mendengarkan pesannya. Hari ini Ia gagal
untuk pulang bersama dengan Jimin, mungkin lain kali Ia bisa mengajak Jimin
pulang bersama.
*****
[ 09:25 PM ]
Usai mandi malam Jimin menyiapkan diri untuk
belajar. Ia tidak sengaja mengingat hari
yang cukup melelahkan bagi pertemuannya dengan seseorang. Pertama dan mungkin
jadi yang terakhir mendapatkan sikap kasar namja yang tidak Ia kenal.
Setidaknya Ia mengenal sosok yang begitu baik di kelas. Buku pelajaran yang
terbuka kini diabaikan Jimin melamun.
Kegiatan bersama Taehyung di atas atap hari ini memberikan kesan yang aneh.
Seperti Ia bersama seseorang yang dirindukan
saat masih berada di Busan.
Jimin membuka dompet, mengambil selembar foto
yang tersimpan didalam. Ingin Ia kembali ke masa lalu dan mengembalikan keadaan
sebelum meninggalkan kota kelahiran itu. “Jeon Joon kook” bisiknya pelan. Ia
mengambil ponsel, mencari sebuah contact nama Jungkook yang ingin dihubungi. Namun
nomor itu tidak lah aktif lagi. Jimin menghela nafas. Seakan semuanya telah
pasrah Ia jalani. “kau tau Jungkook-ah, aku bertemu dengan seseorang yang baik
sepertimu disini. Menerimaku dan memberikan perhatian lebih sebagai seorang
sahabat. Tatapannya juga begitu tajam sama sepertimu, aku sempat kaget dan
menjauhi dia saat pulang tadi. Aku harap Ia tidak membenciku besok” lanjut
Jimin. Ia mengembalikan kesadaran untuk tidak melamun lagi. Sudah cukup Ia
memikirkan seseorang. Fokus pun kembali kepada buku pelajaran yang sebelumnya
Ia tinggalkan.
.
[ Keesokan ]
Alarm pagi berbunyi membangunkan Jimin yang
masih terlelap. Pagi ini, Ia ingin memulai dengan lebih baik dibandingkan hari
pertama. Menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah dengan perasaan ceria. Mengayuh
sepeda dengan santai, menikmati udara pagi Korea tanpa polusi.
Ketika lampu merah, Taehyung yang berada di
dalam mobil menangkap kebahagiaan wajah Jimin. Sangat manis dan mungkin Ia akan
terkena sakit Obesitas bila terus lama memperhatikan. Mata yang begitu Taehyung
sukai, ingin sekali dimiliki. Tidak sadar Taehyung menimbulkan senyuman kecil.
Namjoon yang berada di samping mencari pandangan yang Taehyung lihat sedari tadi.
Ia ikut tersenyum memperhatikan betapa lucu sikap Jimin kala itu. “apa kau memperhatikan
namja manis itu?” pertanyaan yang langsung Taehyung yakini mengarah kepadanya.
“apa yang hyung katakan?” Taehyung
menyembunyikan wajah yang telah lebih dulu diketahui oleh Namjoon. Perasaan
seseorang yang sedang jatuh cinta kini Taehyung rasakan.
“aku mengenalmu sejak kecil Kim Taehyung, aku
bukanlah seseorang yang mudah kau bohongi” goda Namjoon lagi.
“hyung.. berhentilah menggodaku”
Lampu merah berubah menjadi hijau, mobil Taehyung
bergerak. Mendahului sepeda Jimin begitu saja. Pikiran Taehyung mengingat akan
perjodohan yang dialami Jimin terhadap Jin. wajah taehyung yang senang berubah
menjadi cemas. Apalagi kesan pertama yang Jimin berikan kepada Jin tidaklah
beruntung. Sebisa mungkin Taehyung harus bisa melindungi Jimin dari tindakan
kasar Jin.
Sampai pada sekolah, Taehyung keluar tetapi
tidak langsung ke kelas. Menunggu Jimin di depan gerbang karena Ia yakin Jimin
tidak akan lama lagi datang. Suara bel
sepeda terdengar dan Jimin menyapa Taehyung. “Anyeong Taehyungie, kau tidak masuk
kekelas?” ucap Jimin bingung.
“aku menunggumu”
“menungguku?” perasaan aneh Jimin terasa lagi,
tapi langsung ditepis. Ia tidak ingin membuat keanehannya menjauhkan pertemenan
mereka. “kalau begitu ayo kita ke kelas bersama, tapi aku parkirkan sepeda ku
dulu” saat Jimin akan mengayuh, klakson mobil mengagetkannya. Menyebabkan tubuh
mungil itu jatuh pada pelukan Taehyung. Mereka saling menatap satu dengan yang
lain. Tanpa berkedip, tanpa menghitung seberapa banyak jantung Jimin berdetak.
Ini perasaan yang Ia rasakan seharusnya hanya kepada Jungkook. Kekasihnya di
Busan. “gwenchana?” tanya Taehyung khawatir.
Jimin membenarkan posisinya, dan pergi kearah
mobil yang menyebabkan insiden tersebut. “YAK! Bisakah kau tidak memberikan
klakson mendadak!? Hampir saja aku dan teman ku terkena serangan jantung karena
ulahmu—” belum selesai amarah itu diucapkan. Jimin langsung membalikan badan
ketika kaca mobil terbuka. “apa kau sudah lupa dengan janjimu? Untuk tidak
muncul dihadapanku” sindir namja asing itu.
“maafkan aku” Jimin mengambil sepeda, lalu
pergi. Taehyung menatap hal itu sedikit
sedih. Klakson itu kembali terdengar, “sedang apa kau disini taetae..
masuk ke kelas” perintah Jin. Dan mobil itu pergi meninggalkan Taehyung tanpa
kata-kata lagi. Pintu gerbang pun tertutup.
.
Jimin dan Taehyung mendengarkan Seonsaengnim
menjelaskan di depan kelas. Mencatat setiap materi yang di berikan untuk masuk
ke Agency terbaik di Seoul. Menjadi penyanyi dan penari international merupakan
cita-cita Jimin sejak kecil. Dan menjadi bagian dari sekolah Bangtan
Rekomendasi halbeojinya adalah yang terbaik. Tapi entah kenapa semenjak bertemu
dengan namja menyebalkan itu hati Jimin terus gelisah. Taehyung tentu
mengetahui gelagat itu dengan cepat. “ada yang ingin bertanya? Jika tidak ada
maka kita akhiri sampai disini” kalimat terakhir penutup pelajaran sebelum
istirahat. Setelah seonsaengnim keluar kelas, Taehyung mulai mendekati Jimin.
“apa kau membawa bekal lagi?”
“Nde, Aku masak nasi goreng kali ini tetapi
tidak banyak. Setidaknya akan cukup untuk kita berdua” Jimin membuka kotak
makan siang, beberapa teman kelas memandang sinis. “bau apa ini?” sindir salah
satu yeoja. “Aigoo.. bau yang tidak enak, sebaiknya aku keluar” timpal teman
yang lain. Salah satu namja mencoba mengajak Taehyung pergi ke kantin
meninggalkan Jimin. Dengan tegas Taehyung menolak dan meminta seluruh teman
pergi keluar jika tidak menyukai bau makanan yang Jimin bawa.
Taehyung menatap wajah Jimin yang tidak masalah
dengan perkataan teman-temannya yang mungkin menyakitkan. “kau tenang saja
Taehyungie, aku sudah sangat kebal dengan setiap kata-kata orang seperti itu.
Di sekolahku dulu juga sama, jadi mungkin aku tidak akan memikirkan hal itu
lagi. Awalnya sih sempat shock mendapatkan perlakuan yang sama. Tetapi hanya
sebentar sakit hati itu kurasakan” Jimin mulai memakan santapan siang. Tidak
mau kalah Taehyung ikut mengambil bagian pada masakan Jimin yang Ia sukai.
Mereka tertawa bersama di kelas.
Namjoon yang tadinya ingin mengajak Taehyung ke
kantin mengurungkan niat. Melihat dongsaengnya itu mulai terbuka dengan
seseorang, tidak akan Ia halangi. Apalagi pada seseorang yang sebentar lagi
akan menjadi bagian dari keluarga Kim. Ia pun meninggalkan kelas Taehyung,
pergi menuju kantin sendirian.
.
[ Istirahat ]
Jin pergi ke halaman belakang sekolah bersama
dengan seorang yeoja berparas cantik. Kebanyakan gosip mengatakan bahwa yeoja
ini memiliki hubungan sepcial dengan pewaris pertama perusahaan Kim. Walaupun
Jin tidak mengatakan kebenarannya seperti apa, yang pasti hanya mereka yang
mengetahui tentang hubungan seperti apa yang mereka jalani. “aku tidak terima
kau dijodohkan Jin-sshi, apalagi dengan seorang namja! kau tidak ingat kalau setiap
tahun kita menjadi King&Queen sekolah kita. Dan rumor itu sangat kuat mengatakan
kalau kita kekasih, aku menentang perjodohanmu. Aku yakin kau memiliki perasaan
yang sama denganku. Dan tuan Kim benar-benar sudah gila mendorong cucunya
kejalan tidak benar!” ucap yeoja bernama Kim SoJung.
“aku juga ingin menentang tapi aku tidak bisa
melakukan apa-apa” lelah Jin membahas hal yang Ia malas bicarakan. “Jin-sshi
kau bisa membawaku dan mengatakan kepada halbeoji kalau kau memilikiku. Dengan
begitu kau bisa lolos dari perjodohan gila ini” balas Sojung.
“itu tidak akan berhasil. aku sudah melakukan
semua cara, keinginan halbeojiku terlalu kuat!”
Sojung mendekatkan tubuhnya pada tubuh Jin,
“kau mencintaiku kan? Kalau begitu hamili aku.” Perkataan yang tidak pernah
bisa Jin bayangkan keluar dari mulut seorang yeoja. “kalau aku hamil,
perjodohan sesama namja tidak akan berlangsung. Karena kau akan menikah
denganku”
“Sojung-ah?”
tangan Sojung membelai lembut wajah Jin, tanpa
memberikan aba-aba bibir mereka dipertemukan. Dengan mengemut-emut pelan
berharap Jin dapat membalas perlakuan lidahnya. Namun ternyata Jin malah
menghentikan kegiatan tidak wajar mereka di sekolah. “Jin-sshi” aneh Sojung.
“aku tidak bisa” Jin pergi dari halaman
belakang. Membiarkan Sojung sendirian menatap pundak besar itu meninggalkannya.
Jin berjalan ke arah kantin sekolah dan duduk di meja tempat Namjoon menyantap
makan siang. Raut tidak menyenangkan diberikan Jin pada Namjoon yang hampir
saja menghabiskan makanannya. “wae hyung?” tanya Namjoon datar.
“Ani” singkat Jin. merasa ada yang berbeda Jin
langsung menanyakan keberadaan Taehyung jam istirahat seperti ini. “Taetae?”
“dia makan siang bersama teman baru di
kelasnya” Namjoon mekanjutkan makan siang. “hyung apa kau habis
bersenang-senang dengan seorang yeoaj di sekolah?” lanjut Namjoon bertanya pada
Jin.
“Ani. Wae?”
“ada bekas lipstick di bibirmu”
mendengar itu Jin merasa malu dan pergi berlari
ke kamar mandi terdekat. Ia membasuh wajah berusaha menghilangkan bekas
lipstick yang diciptakan Sojung beberapa waktu lalu. Mencari tisu yang ternyata
telah habis dari kotak. Bagaimana Ia mengeringkan wajah? Sebuah sapu tangan
diberikan pada Jin. seseorang yang tidak menghadap kearah Jin, dan dapat
ditebak namja pembawa sial itu mencoba menolong. “aku tidak butuh” Ucap Jin
mengacuhkan bantuan Jimin.
“Ish. Padahal aku berniat baik pada namja
menyebalkan itu” dengus Jimin kesal. Sekembalinya ke kelas, Taehyung terlihat
bosan menunggu. “lama sekali kau ketoilet Jiminnie, padahal jarak dari kelas
dekat”
“aku ketoilet lantai dasar dekat kantin, toilet
lantai kita sedang diperbaiki” balas Jimin. Taehyung mengangguk-angguk
mengerti, dan lanjut mengobrol dengan Jimin. “sampai mana tadi pembicaraan
kita?” Lupa Jimin.
*****
[ 13:00 PM ]
pelajaran di sekolah pun berakhir. Seluruh
murid berhamburan keluar sama seperti kelas Jimin dan Taehyung. Setelah siap
merapihkan buku-buku kedalam tas, Taehyung langsung meminta Jimin untuk pulang
bersama. “apa kau tidak dijemput?” pertanyaan itu mendapatkan jawaban bohong
dari Taehyung.
“Nde. Hari ini supir ku sedang tidak bisa
mengantarku pulang, boleh kan aku ikut denganmu naik sepeda?” mohon dengan
wajah memelas ala Kim Taehyung. Jimin sendiri tidak tau bagaimana Ia harus
menolak. Dengan terpaksa Jimin mengizinkan Taehyung pulang dengan sepedanya.
Sampai tiba di parkir Jimin menyuruh Taehyung untuk berdiri dibelakang. Ia
belum pernah melakukan hal ini. Keseimbangan Taehyung tidak dapat bertahan lama
berdiri dibelakang. “apa kau tidak pernah menaiki sepeda?” tanya Jimin tidak
percaya.
“aku pernah naik sepeda saat usiaku 3 tahun”
balas Taehyung dengan menggarukan tengkuk yang tidak gatal.
“peganganlah dengan pundakku” jelas Jimin.
Taehyung pun mengikuti perintah Jimin berdiri
dengan memegang pundak kecilnya. Ia tidak percaya bahwa pundak Jimin terlalu
kecil untuk ukuran seorang namja normal. “berapa ukuran bahumu? Aku perhatikan
kecil sekali” Taehyung tidak sadar mengatakan hal yang menyinggung.
“Yak! Turun!”
“aku hanya bercanda Jiminnie”
Jimin mengayuh sepeda dengan sempoyongan karena
beban berat Taehyung yang masih tidak seimbang. Di lain tempat Jin keluar
bersama teman-teman, termasuk Kim Sojung turut serta. Saling berpamitan untuk
pulang kerumah masing-masing. Dan tepatnya mata tajam Jin menangkap sosok
yang Ia kenali sebagai dongsaeng
ketiganya sedang menaiki sebuah sepeda. “Taehyung?” Ia ingin mengejar tetapi
sebuah panggilan dari Kim Hanshin mengurungkan niatnya. “yeoboseyo?”
“dimana
kau?”
“aku? Baru pulang sekolah halbeoji. Wae?”
“temui
aku dikediaman tanpa bermain dengan temanmu siang ini. Aku tunggu”
Nada terputuspun terdengar sebelum Jin sempat
melaporkan sesuatu kepada namja tua yang telah mengubah hidupnya menjadi gila.
“Nde? Halbeoji? Yeoboseyo?! Aisshhh!”.
Jimin memberhentikan sepeda tepat di sebuah
taman sesuai permintaan Taehyung. Ia tidak mengerti dengan keinginan Taehyung
yang tiba-tiba. Menarik tangan Jimin untuk pergi meninggalkan sepedanya dan
masuk ke tengah taman. Menunjuk ke setiap dagangan yang terdapat disana. Banyak
makanan, jajanan anak-anak, balon dan hal lain yang belum pernah Taehyung lihat.
Sepertinya Jimin mulai paham dengan maksud Taehyung berhenti ketempat ini. “apa
ini pertama kali kau ke taman Taehyung-ah?” tanya Jimin.
“Aku selalu pulang lebih cepat dan tidak pernah
berhenti di suatu tempat yang banyak pengunjung seperti ini. Wah. Lihat banyak
sekali jajanan Jiminnie” beberapa lembar won Taehyung keluarkan dari dompetnya
dan berjalan mendekati pedagang balon berada. Membeli 10 balon sekaligus
mengejutkan Jimin tentu saja. Ketika pedagang itu tidak memiliki kembalian pada
won yang Taehyung berikan. Ia mengatakan dengan lembut agar tidak terlalu
memikirkan hal itu. Wajah bahagia pedagang itu sangat terlihat. Jimin tersentuh
dengan kebaikan Taehyung atau bisa dikatakan kepolosan sahabatnya itu.
Entahlah. “apa yang ingin kau lakukan dengan balon sebanyak itu?” Ucap Jimin.
Taehyung menyerahkan seluruh balon itu kepada
Jimin tanpa mengatakan apa-apa. Ia pergi lagi membeli makanan kecil dengan won
yang tidak lagi memiliki kembalian. “kau akan cepat bangkrut jika membeli
sesuatu dengan uang besar terus” ledek namja mungil itu pada Taehyung.
“uang tidak akan bisa membelikan kebahagiaan
Jiminnie, apa aku benar? Bukankah itu alasan mengapa kau hidup sederhana tanpa
memikirkan orang sekelilingmu mengatakan hal yang menyakitkan kepadamu?”
Jimin mengedipkan kedua bola matanya secara
berulang-ulang. Tarikan diterima Jimin lagi, kini Taehyung mengajak namja itu
membeli makanan kapas yang digemari anak-anak. Saat mengantri seorang anak
kecil memegang kemeja Jimin dan bertanya apakah Ia boleh meminta salah satu
balon. Jimin melirik kearah Taehyung yang mengizinkan sebelum Jimin bertanya.
Ia memberikan salah satu balon itu, dan tidak beberapa lama datang lagi anak
lain bersama teman-temannya. Mereka menginginkan hal yang sama yaitu balon
Jimin yang Taehyung berikan. Sampai pada 1 balon sisa terakhir, Jimin
melepaskan hingga balon itu terbang tinggi dari mereka. Jimin tertawa geli
dengan senyuman manis menampilkan gigi
yang tidak terlihat rapih namun tetap cantik. “kenapa kau
menerbangkannya?” bingung Taehyung.
“aku takut jika diminta lagi, itu akan menjadi
harapanku agar tidak diminta lagi.”
“harapanmu?”
“Nde. Harapanku agar tetap bisa terbang bebas
seperti balon yang terbawa angin” harapan itu mengingatkan Taehyung lagi akan
perjodohan yang akan Jimin alami bersama Jin. Mereka memandang ke balon yang
semakin terbang tinggi dan tidak dapat digapai seorang pun. Waktu terus
berlalu, Jimin memandang kearah arloji yang menandakan sudah jam sore. Ia
mengajak Taehyung agar pulang, dengan sedikit kecewa Taehyung menurut. “apa
kita akan kesini lagi berdua?” Taehyung masih menatap kearah tengah taman yang
masih ramai.
“kita akan kesini lagi saat pulang sekolah
nanti, lagipula kau bisa mengajak orangtuamu kesini”
“mereka tidak akan menyukainya, hanya aku dan
halbeoji yang mungkin akan menyukai tempat semacam ini” wajah sedih Taehyung
tidak lagi terlihat saat Jimin menggenggam tangan Taehyung yang menggantung.
“kalau begitu aku akan menemani mu ketempat ini lagi” Ucap Jimin.
Taehyung dan Jimin akhirnya meninggalkan taman
dengan canda-tawa.
.
[ Ruangan Kim Hanshin ]
Jin tiba diruangan sesuai perintah Tuan Kim. Ia
duduk dengan tenang menunggu Tuan Kim yang mungkin sedang berada di kamar
kecil. “kau sudah datang?” suara itu terdengar dari balik pintu kamar kecil
yang terbuka.
“Nde”
Tuan Kim duduk di kursi kepemimpinannya,
menunjukan sebuah berkas yang terdapat tulisan ‘Warisan’. “aku sudah menuliskan
namamu dan saudaramu dalam warisan ku, silahkan kau periksa agar lebih percaya”
Tuan Kim menyerahkan berkas tersebut pada Jin yang langsung membaca isi di
dalam. “Jimin sudah berada di Seoul, aku ingin kau mengantar jemput namja itu kesekolah
yang sama denganmu, berikan kesan yang baik pada Jimin” sebuah kartu nama hotel
Tuan Kim berikan.
“Halbeoji! Apa kau tidak berfikir lagi? Ini
didikan yang tidak benar”
Tuan Kim melirik sedikit kearah Jin yang lesu,
“jika kau tidak ingin melakukan apa yang perintahkan, maka aku akan membatalkan
berkas warisan itu. Kini terserahku, kau akan membuat hidupmu dan saudaramu
menjadi gelandangan tanpa sedikitpun warisanku” lanjut Tuan Kim bekerja
menandatangain setiap berkas penting yang ada di meja. Usai pembicaraan mereka
Jin diizinkan keluar. Dan saat itu juga Ia mendapati Taehyung baru saja pulang
dengan taxi.
Jin menunggu Taehyung untuk menegur
dongsaengnya itu, “darimana saja kau? Taetae ini sudah sore, kenapa kau baru
pulang?” cemas Jin.
“aku habis pergi dengan temanku hyung” wajah
dengan senyuman idiot itu tampak terlihat. Pertanyaan Jin menghentikan
kepergian Taehyung yang bergegas menuju kamar, “apa kau pergi dengan teman baru
di kelas mu itu?”
“Nde hyung” Taehyung kembali menghadap ke arah
Jin.
“dia berpengaruh buruk padamu, tidak seharusnya kau menaiki sepeda pulang
sekolah. jika Eomma dan Appa tau mereka akan memarahimu Taetae! Terlebih lagi
arah rumah dia dan rumah mu berlawanan arah! Sekarang kau malah pulang sore
hari, kau tidak tau bahaya dunia luar. Kau mungkin bisa dimanfaatkan
orang-orang yang tidak tau diri diluar sana”
“hyung! Aku bukan anak kecil yang bisa
dimanfaatkan atau yang perlu kau lindungi lagi. Aku bebas memilih berteman
dengan siapapun yang menurut ku itu baik. Pandangan hyung terhadap namja itu
salah”
Jin menatap tajam dan melangkah mendekati
Taehyung, “kau lihat sekarang? Kau bahkan berani berteriak padaku”
“Miane” singkat Taehyung. Ia pun meninggalkan
Jin tanpa kata-kata lagi. Namjoon yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran
dari lantai 2 hanya diam. Tidak ingin membantu Jin ataupun Taehyung dalam
perdebatan mereka. Namjoon mengerti alasan mengapa Jin begitu melindungi
Taaehyung, itu karena Ia memegang penuh posisinya sebagai anak pertama. Apapun
yang dongsaeng lakukan itu semua tergantung akan seorang hyung dalam mendidik.
Terlebih lagi orang tua mereka sibuk dengan urusan, dan yang lebih bisa Namjoon
pahami. Jin harus menikah dengan seorang namja untuk perjodohan gila yang Tuan
Kim janjikan dengan sahabat lamanya.
Jin masuk kedalam kamar, merenungkan diri
dengan langkah apa yang akan Ia alami. Ada seorang yeoja yang rela Ia hamili
agar perjodohan ini tidak berlangsung. Tapi tetap saja Jin merasa itu bukanlah
cara yang bagus untuk menyelesaikan sebuah masalah. Kartu nama hotel Ia
pandangi lalu membacanya, “sebuah hotel berbintang”. Jin menidurkan diri dan
berharap besok bisa lebih baik.
.
Taehyung yang berada di kamar hanya
senyum-senyum sendiri mengingat kencan pertamanya dengan Jimin. Ia menyukai
kepribadian yang dimiliki namja mungil itu. “seandainya halbeoji yang
menjodohkanku dengan Jimin, mungkin aku tidak akan menolak. Walaupun aneh, tapi
aku jadi penasaran bagaimana tinggal di atas atap bersama Jimin dalam status
pernikahan” bayangan demi bayangan yang tidak mungkin terjadi difikrikan
Taehyung. Tawa kecil terus terukir, memberikan kesan gila bila seseorang
menyadari tingkahnya kali ini.
To be continue...


Cannot wait for jinmin moments..please fall in love quickly~~ahaha..hwaiting authornim
ReplyDeletehehehe xp ill try. really love you*
DeleteTerima kasih kerana update..i really love u too..๐๐..hehe
ReplyDeleteare you jinmin hard shipper ♡๐sangat sulit menemukan seseorang yang menyukai jinmin xD
ReplyDeleteYeah..jiminie is my bias๐๐..memang begitu,susah nak jumpa jinmin shipper..i glad,i found you..hee
Delete